BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Peran Ustad 1. Pengertian Peran
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005: 854), istilah peran mempunyai arti seperangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh seseorang yang berkedudukan dimasyarakat.
Sementara Sarlito Wirawan Sarwono (dalam bukunya yang berjudul Teori-Teori Psikologi Sosial,2015: 215) Biddle dan Thomas membagi istilah dalam teori peran dalam empat golongan, yaitu istilah-istilah yang menyangkut adalah :
a. Orang-orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial.
b. Perilaku yang muncul dalam interaksi tersebut.
c. Kedudukan orang-orang dan perilaku.
d. Kaitan antara orang dan perilaku.
Menurut Soerjono Soekanto (2003: 242-244) menerangkan bahwa peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dan perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu. Suatu peranan paling sedikit mencakup tiga hal, yaitu :
a. Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.
b. Peran adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
Sedangkan menurut Grooss Masson dan Mc Eachem yang dikutip oleh David Berry mendefinisikan peranan sebagai seperangkat harapan-harapanyang dikenakan kepada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu (Yunus Namsa, 2000:
87).
J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2007: 158-159) dalam buku yang berjudul “Sosiologi: Teks Pengantar Dan Terapan” bahwa Peranan (role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status) artinya, apabila seseorang telah menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka orang tersebut telah melaksanakan suatu peran. Perbedaan antara kedudukan dengan peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Keduanya tidak dapat dipisahkan karena satu dengan yang lain saling tergantung, artinya tidak ada peran tanpa status dan tidak ada status tanpa peran. Peran sangat penting karena dapat mengatur perilaku seseorang., disamping itu peran menyebabkan seseorang dapat meramalkan perbuatan orang lain pada batas-batas tertentu, sehingga seseorang dapat menyesuaikan perilakunya sendiri dengan perilaku orang-orang sekelompoknya.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa peran adalah seperangkat tindakan, perbuatan dan tingkah laku seseorang yang berkedudukan dimasyarakat. Seseorang dapat dikatakan berperan jika telah memiliki status dimasyarakatnya atau diperankan bukan hanya memiliki status saja tetapi terdapat pula tugas-tugas yang sebelumnya disusun berdasarkan harapan masyarakat. Peran seseorang dapat menjadi bagian dari interaksi sosial, hal tersebut dapat memunculkan suatu tingkah laku yang diharapkan.
2. Pengertian Ustad
Dalam konteks pendidikan islam “pendidik” sering disebut dengan “murobbi, mu”allim, mu”addib” yang ketiga nama tersebut mempunyai arti penggunaan
tersendiri menurut peristilahan yang dipakai dalam “pendidikan dalam konteks islam”. Di samping itu, istilah pendidik kadang kala disebut melalui gelarnya, seperti istilah “Al-Ustadz dan Asy-Syaikh” (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993:
167).
Guru/ustadz merupakan jabatan atau profesi yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus mendidik secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, mengasuh bagi ustadz dan ustadzah, menilai dan mengevaluasi peserta didik (Khoiriyah, 2012: 140).
Ustadz Guru agama Islam laki-laki adalah seseorang yang mengajar dan mendidik agama Islam dengan membimbing, menuntun, memberi tauladan dan membantu mengantarkan anak didiknya ke arah kedewasaan jasmani dan rokhani(Zuhairini, 2009; 45).
Dalam literatur kependidikan Islam, seorang guru/ustad disebut dengan beberapa sebutan yang populer, di antaranya:
a. Mu’alim (Pengajar).
Kata ini berasal dari kata ilm’ yang berarti menangkap hakikat sesuatu.Lafal mu'allim merupakan isim fa'il dari masdar t'alim.
Menurut Al-'Athos sebagaimana dikutip Hasan Langgulung berpendapat taklim hanya berarti pengajaran, jadi lebih sempit dari pada pendidikan. Dalam terjadinya proses pengajaran menempatkan peserta didik pasif adanya. Lafal taklim ini dalam al-Qur'an disebut banyak sekali, tetapi ayat yang dijadikan rujukan (dasar) proses pengajaran (pendidikan) diantaranya Q.S Al-alaq : 5 :
ىَهإعَي إىَن اَي ٍَ ََٰسَِ إلْٱ َىَّهَع
Artinya : Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lafad 'allama pada ayat di atas cenderung pada aspek pemberianinformasi kepada obyek didik sebagai makhluk yang berakal. Tugas dari mu'allim adalah mengajar dan memberikan pendidikan yang tidak bertentangan dengan tatanan moral kemanusiaan. Pengajaran sendiri berarti pendidikan dengan caramemberikan pengetahuan dankecakapan. Karena pengetahuan yang dimiliki semata-mata akibat pemberitahuan, maka dalam istilah mu'allim sebagaipentransfer ilmu, sementara peserta didik dalam keadaan pasif.
b. Murabby(Pendidik/Pemerhati/Pengawas)
Kata ini berasal dari kata dasar Rabb. Tuhan adalah Rabbul’alamin dan Rabbunnas, yakni yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam seisinya termasuk manusia.
Lafad murobby berasal dari masdar lafad tarbiyah. Menurut Abdurrahman Al- Bani sebagaimana dikutip Ahmad Tafsir lafadtarbiyah terdiri dari empat unsur, yaitu: menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa, mengembangkan seluruh potensi, mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan dan melaksanakan secara bertahap. Pendapat ini sejalan dengan penafsiran pada lafad Nurobbyka yang terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Syu'ro ayat 18 :
ٍَيُِِس َكِزًُُع إٍِي اَُيِف َتإثِبَنَٔ اًديِنَٔ اَُيِف َكِّبَزَُ إىَنَأ َلاَق
﴿ ١٨
﴾
(keluarga) Fir’aun menjawab :” Bukankah kami telah mengasuhmu diantara bersama kami,waktu kamu masih kanak- kanak dankamu tinggal beberapa tahun dari umurmu.
Jadi tugas dari murobby adalah mendidik, mengasuh dari kecil sampai dewasa, menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit sehingga sempurna. Pendidikan yang dilakukan murobby mencakup aspek kognitif berupa pengetahuan keagamaan, akhlak, berbuat baik pada orang tua, aspek afektif yang mengajarkan
caramenghormati orang tua dan psikomotorik, tindakan berbakti dan mendoakan kedua orang tua.
c. Mursyid
Kata ini biasa digunakan untuk guru dalam thariqah (tasauf). Seorang mursyid adalah seorang guru yang berusaha menularkan penghayatan akhlak dan/atau kepribadiannya kepada peserta didiknya, baik yang berupa etos ibadahnya, etos kerjanya, etos belajarnya, maupun dedikasinya yang serba “Lillahi Ta’ala” (karena mengharapkan ridha Allah semata).
d. Mudarris
Kata ini berasal dari darasa-yudarisu-darsan-durusan- dirasatan, yang artinya terhapus, hilang bekasnya, menghapus, menjadikan usang, melatih, dan mempelajari.
e. Muaddib(Penanam Nilai)
Kata ini berasal dari kata adab, yang berarti moral, etika, dan adab atau kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir dan batin. Tugas muaddib tidak sebatas mengajar, mengawasi, memperhatikan, tetapi pada penanaman nilai-nilai akhlak dan budi pekerti serta pembentukan moral bagi anak(Hamdani Bakran Adz-Dzakie, 2006: 642-644).
Berdasarkan uraian singkatdi atas dapat disimpulkan bahwa tugas dari seorang ustadz adalah memberikan pendidikan kepada peserta didik (santri) dalam mengayomi, mengajarkan, mendidik, membina, membimbing, mengarahkan, melatih, mengasuh, menilai dan mengevaluasi peserta didik (santrinya).
3. Karakteristik Ustadz
Seseorang yang mengajar di institusi pendidikannya harus memiliki banyak pengetahuan tentang ilmu agama Islam, di antaranya ilmu fiqh, tauhid, dan akhlak.
Seperti yang dikatakan oleh Soleh RM bahwa guru di perguruan Al-Syafi‟iyah sangat dianjurkan untuk menguasai banyak bidang ilmu agama Islam. Seorang guru adalah seseorang yang memiliki keikhlasan dalam mengemban tugasnya (Hasbi Indra, 2005: 196-197).
Karakteristik ustadz/ustadzah yang dapat dicontoh dari Lukmanul Hakim sebagai guru atau ustadz/ustadzah yaitu:
a. Bersyukur, yaitu seorang ustadz/ustadzah harus selalu bersyukur kepada Allah Swt atas semua nikmat yang telah diberikan, karena jabatan sebagai ustadz/ustadzah merupakan karunia Allah yang sangat besar.
b. Menyatukan diri dengan santri, ustadz/ustadzah harus mampu menyatukan diri dengan santri dan harus lebih rendah hati dan tawadhu’ sehingga bisa diterima oleh santri dengan senang hati.
c. Menjadi Teladan, yaitu ustadz/ustadzah harus senantiasa mengedepankan kemuliaan akhlak, penuh kasih sayang sebagaimana seorang ibu terhadap anaknya. Dengan demikian ustadz/ustadzah harus bisa menjadi teladan bagi santri.
d. Pengayom, yaitu mempunyai toleransi yang tinggi, sebagai bagian dari jiwa pengayom dan pembimbing.
e. Bijaksana, yaitu mengenal dirinya dengan baik, dan kemudian mengenal diri santri dengan baik pula.
f. Apresiatif, ustadz-ustadzah harus menjadi pemicu semangat bagi santri untuk berkarya lebih baik.
g. Rendah hati, harus selalu siap meruntuhkan kesombongan dirinya di hadapan santri (Hamka Abdul Aziz, 2012: 41).
Dari beberapa karakteristik ustadz-ustadzah di atas dapat disimpulkan bahwa ustadz/ustadzah merupakan seorang yang memiliki banyak pengetahuan tentang ilmu agama Islam, dan bijaksana dalam mengatasi problema yang dihadapi siswa.
Ustadz/ustadzah dapat menjaga dan meningkatkan mutu layanan atas suatu bidang yang dilakukan dengan baik.
4. Tugas dan Tanggung Jawab Ustadz (Guru)
Tanggung jawab pendidik atau ustadz adalah membina dan memberikan bimbingan kepada peserta didik agar memiliki kepribadian yang baik dan bisa memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, dan makhluk sosial. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Jummuah ayat 2 :
َةًَإكِحإنٱَٔ َبََٰتِكإنٱ ُىًُُِّٓهَعُئَ إىِٓيِّكَشُئَ ۦِِّتََٰياَء إىِٓإيَهَع ۟إُهإتَي إىُٓإُِّي ًلًُٕسَر ٌَۦِّيِّيُ إلْٱ ِٗف َثَعَب ِٖذَّنٱ َُْٕ
لٍٍيِبمُّي لٍمََٰهَ ِٗ َن ُمإبَق ٍِي ۟إَُاَك ٌِ َٔ
﴿ ٢
﴾
Artinya: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Q.S.
Al- Jumuah : 2).
Ayat tersebut menjelaskan tentang seorang rasul yang menjadi pendidik, diutus oleh Allah untuk memberikan pengajaran kepada suatu kaumnya.
Dalam hal tersebut berarti seorang guru/ustadz mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap santri atau anak didiknya, adapun tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut:
a. Mengajar, yaitu suatu usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan santri dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar.
b. Membimbing dan mengarahkan anak didiknya agar dapat senantiasa berkeyakinan, berpikir, beremosi, bersikap dan berprilaku positif yang berparadigma pada wahyu ketuhanan, sabda, dan keteladanan kenabian.
c. Membina, yaitu berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjadikan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya (Hamka Abdul Aziz, 2012: 31).
Sebagaimana Hamdani Bakran menyebutkan ada beberapa hal yang mendasar dari tugas dan tanggung jawab seorang ustadz, khususnya dalam proses pendidikan dan pelatihan, yakni antara lain:
a. Sebelum melakukan proses pendidikan dan pelatihan ini, seorang guru/ustad harus benar-benar telah memahami kondisi mental, spiritual dan moral, atau bakat, minat dan intelegensi anak didiknya, sehingga proses aktivitas ini akan benar-benar dapat terfokus secara tepat dan terarah.
b. Membangun dan mengembangkan motivasi anak didiknya secara terus-menerus tanpa ada rasa putus asa. Apabila motivasi ini selalu hidup, maka proses aktivitas pendidikan dan pelatihan ini akan dapat berjalan dengan baik dan lancar.
c. Memberikan pemahaman secara mendalam dan luas tentang materi pelajaran sebagai dasar pemahaman teoritis yang objektif, sistematis, metodologis, dan argumentative
d. Memberikan keteladanan yang baik dan benar bagaimana cara berpikir, berkeyakinan, beremosi, bersikap, dan berprilaku yang benar, baik dan terpuji baik di hadapan Tuhannya maupun lingkungan kehidupannya sehari-hari.
e. Menjaga, mengontrol, dan melindungi diri anak didik secara lahiriah maupun bathiniah selama proses pendidikan dan pelatihan agar dalam proses ini mereka akan terhindar dari gangguan, bisikan, dan tipu daya setan, iblis, jin, dan manusia (Hamdani Bakran Adz-Dzakie, 2006: 647).
Dari beberapa tugas dan tanggung jawab seorang ustadz di atas dapat dipahami bahwa seorang ustadz juga harus membimbing dan memberi keteladanan kepada santri, menjaga, melindungi dan mengontrol para santri secara lahir maupun bathin selama masih dalam pendidikan para ustadz/ustadzah maupun guru.
B. Kedisiplinan Santri
1. Pengertian Kedisiplinan Santri
Kedisiplinan berasal dari kata disiplin yang mendapat awalan ke dan akhiran – an menurut bahasa Inggris lainnya istilah disiplin berasal dari kata “discipline”
yang berarti: 1) tertib, taat atau mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri, kendali diri; 2) latihan membentuk, meluruskan, atau menyempurnakan sesuatu sebagai kemampuan mental atau karakter moral; 3) hukuman yang diberikan untuk melatih atau memperbaiki; 4) kumpulan atau sistem peraturan-peraturan bagi tingkah laku (MacMillan Dictionary, 1979: 289 dalam Tulus Tu’u, 2004: 31).
Sejalan dengan hal itu, menurut Elizabeth B. Hurlock (1978: 82) Disiplin berasal dari kata yang sama dengan “disciple”, yakni seorang yang belajar dari atau secara suka rela mengikuti seorang pemimpin. Orang tua dan guru merupakan murid yang belajar dari mereka hidup yang berguna dan bahagia. Jadi disiplin merupakan cara masyarakat mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok.
Sedangkan dalam Bahasa Indonesia istilah disiplin kerapkali terkait dan menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban. Istilah ketertiban mempunyai arti kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong atau disebabkan oleh sesuatu yang datang dari luar dirinya. Sebaliknya, istilah disiplin sebagai kepatuhan dan ketaatan yang muncul karena adanya kesadaran dan dorongan dari dalam diri orang itu. Istilah tata tertib berarti perangkat peraturan yang berlaku untuk menciptakan kondisi yang tertib dan teratur.
Sementara menurut Soegeng Prijodarminto, S.H, (1994: 23) dalam buku Disiplin, Kiat Menuju Sukses, memberi arti atau pengenalan dan keteladanan lingkungannya: Disiplin sebagai kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, atau ketertiban. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian
perilaku dalam kehidupannya. Perilaku itu tercipta melalui peoses binaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman.
Berdasarkan pendapat itu, maka dapat kita pahami bahwa displin merupakan sesuatu yang menyatu di dalam diri seseorang. Bahkan, disiplin itu sesuatu yang menjadi bagian dalam hidup seseorang, yang muncul dalam pola tingkah lakunya sehari-hari. Disiplin terjadi dan terbentuk sebagai hasil dan dampak proses pembinaan cukup panjang yang dilakukan sejak dari dalam keluarga dan berlanjut dalam pendidikan di sekolah. Keluarga dan sekolah menjadi tempat penting bagi pengembangan disiplin seseorang.
Tim Kelompok Gerakan Disiplin Nasional 1995, merumuskan pengertian disiplin, sebagai berikut.
Disiplin sebagai ketaatan terhadap peraturan dan norma kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang berlaku, yang dilakukan secara sadar dan ikhlas lahir batin, sehingga timbul rasa malu terkena sanksi dan rasa takut terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Perilaku tersebut diikuti berdasarkan dan keyakinan bahwa hal itulah yang benar, dan keinsyafan bahwa hal itu bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Pada sisi lain, disiplin sebagai alat untuk menciptakan perilaku dan tata tertib manusia sebagai pribadi maupun sebagai kelompok masyarakat. Oleh sebab itu, disiplin disini berarti hukuman dan sanksi yang berbobot mengatur dan mengendalikan perilaku. (GDN, 1996: 29-30)
Menurut Maman Rachman (1999: 168) dalam buku Manajemen Kelas, mengartikan disiplin sebagai upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam hatinya. (Tulus Tu’us, 2004: 30-32)
Menurut Ariesandi (2008: 230-231) arti disiplin adalah proses melatih pikiran dan karakter anak secara bertahap, sehingga menjadi seseorang yang memiliki kontrol diri dan berguna bagi masyarakat. Kepatuhan disini bukan hanya patuh karena adanya tekanan-tekanan dari luar, melainkan kepatuhan yang didasari oleh adanya kesadaran tentang nilai dan pentingnya peraturan-peraturan dan larangan yang diberlakukan dalam suatu lingkungan tersebut.
Kedisiplinan adalah kunci sukses, sebab dalam disiplin akan tumbuh sifat yang teguh dalam memegang prinsip, dalam usaha maupun belajar, pantang mundur dalam kebenaran, dan rela berkorban untuk kepentingan agama dan jauh dari sifat putus asa. Perlu kita sadari bahwa betapa pentingnya disiplin dan betapa besar pengaruh dalam menerapkan sikap kedisiplinan di kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi, berbangsa, maupun kehidupan bernegara.
Dari beberapa pengertian diatas bahwa kedisiplinan santri adalah ketaatan dan ketertiban seseorang untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan, nilai-nilai, dan hukum yang berlaku dalam suatu lingkungan pesantren dengan tujuan agar menjadikan kehidupan yang teratur dan terarah, sikap disiplin ini muncul atas kesadaran diri sendiri.
2. Kedisiplinan Dalam Konsep Islam
Kedisiplinan dalam Islam merupakan aplikasi seorang muslim terhadap peraturan dan tata tertib yang berlaku. Dalam Islam, disiplin adalah kunci sukses, sebab dalam disiplin akan tumbuh sifat yang teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha maupun belajar, pantang mundur dalam kebenaran, dan rela berkorban untuk kepentingan agama dan jauh dari sifat putus asa. Perlu kita sadari bahwa betapa pentingnya disiplin dan betapa besar pengaruh kedisiplinan dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa maupun kehidupan bernegara.
Sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an yang merupakan kumpulan dari perintah-perintah dan larangan-larangan (peraturan), dimana dalam suatu peraturan ini harus ditaati bagi umat-Nya agar benar-benar memperhatikan dan mengaplikasikan serta menerapkan nilai-nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari- hari untuk membangun kualitas kehidupan masyarakat yang baik dan berdisiplin.
Seperti halnya yang ada pada Al-Qur’an surah an-Nisa ayat 59 yang memerintahkan seseorang untuk berlaku disiplin dalam arti ketaatan pada peraturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan-Nya. Ayat tersebutyang berbunyi :
ُِٔمُّدُزَف لٍءإيَش يِف إىُتإعَساََُت إٌِإَف ۖ إىُكإُِي ِزإيَ إلْا يِنُٔأَٔ َلُٕسَّزنا إُعيِطَأَٔ َ َّاللَّ إُعيِطَأ إَُُيآ ٍَيِذَّنا آَمُّيَأ اَي ًيئِإ َت ٍَُسإ َأَٔ رٌزإيَ َكِن ََٰ ۚ ِزِ إاا ِوإَٕيإنأَ ِ َّااِب ٌَُُِٕيإ ُت إىُتإُُك إٌِ ِلُٕسَّزنأَ ِ َّاللَّ َٗنِ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah-Nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa [4]: 59)
Dari ayat tersebut mengandung arti taat dan patuh pada peraturan yang sudah ditentukan, hal ini berkaitan dengan makna disiplin yang berarti bahwa kedisiplinan adalahkepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, kedisiplinan adalah sikap menaati terhadap peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih. Kedisiplinan juga mengandung arti kepatuhan kepada perintah pemimpin, perhatian dan kontrol yang kuat terhadap penggunaan waktu, tanggung jawab atas tugas yang diamanahkan serta kesungguhan terhadap bidang keahlian yang ditekuni. [Online]
http://googleweblight.com/i?=http://lenteradankehidupan.blogspot.com/2013/06/dal am-islam-mengajarkan-kedisiplinan.html?m%3Dl&hl=id-ID) Diakses pada tanggal 20 maret 2018 pukul 15.20 WIB.
Dari penggalan ayat tersebut menerangkan tentang bentuk kedisiplinan berupa patuh pada aturan-aturan dari Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan atau kepatuhan dalam menjalankan tata tertib atau peraturan kehidupan sehari-hari.Selain itu ayat-ayat yang mengisyaratkan agar umat manusia taat, patuh dan tunduk (disiplin) pada peraturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan-Nya seperti halnya kisah Nabi Ibrahim agar patuh dan tunduk terhadap Tuhan-Nya sebagaimana yang tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 131:
ٍَيًَِناَعإنا ِّ َزِن ُتإًَهإسَأ َلاَق ۖ إىِهإسَأ ُّمُّبَر َُّن َلاَق إ ِ
Artinya: Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta alam.”
Di samping itu Islam juga mengajarkan kita agar memperhatikan dan mengaplikasikan nilai-nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari untuk membagun kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik. Seperti perintah untuk memperhatikan dan mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Hal ini sebagaimana yang terdapat pada Q.S. An-Ashr [103] Ayat 1-3:
ِرْصَعْلا َو
﴿ ١ ٍرْسُخ يِفَل َناَسنِ ْلْا َّنِإ ﴾
﴿ ٢ ِّق َحْلاِب ا ْوَصا َوَت َو ِتاَحِلاَّصلا اوُلِمَع َو اوُنَمآ َنيِذَّلا َّلَِّإ ﴾
ِرْبَّصلاِب ا ْوَصا َوَت َو
﴿ ٣
﴾
Artinya: “Demi masa, seseungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Q.S. An- Ashr [103] Ayat 1-3)
Berdasarkan dari berbagai penjelasan ayat Al-Qur’an diatas, maka penulis dapat memahami bahwa kedisiplinan adalah suatu sikap yang muncul atas dasar kesadaran diri untuk menegakkan peraturan-peraturan, nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan, ketertiban dan norma-norma yang berlakudalam suatu lingkungan tertentu agar terciptanya tujuan tersebut. Dengan kata lain disiplin ialah
suatu sistem yang mengharuskan seseorang untuk tunduk kepada keputusan, perintah, peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan-Nya baik disiplin dalam arti ketaatan pada peraturan maupun disiplin dalam mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. (KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjanidalam https://qalammag.wordpress.com/2010/05/11/kedisiplinan-islam/ di akses pada tanggal 08 Mei 2018 Pukul.10.20 AM).
Di dalam ajaran agama Islam mengajarkan dan menganjurkan bagi pemeluknya untuk berlaku disiplin yakni taat terhadap peraturan maupun ketentuan Allah SWT, karena Islam sangat menjunjung tinggi kedisiplinan. Ayat Al-Qur’an yang memerintahkan umatnya agar selalu konsisten terhadap peraturan Allah yang telah di tetapkan yakni firman Allah pada QS. Huud [11] ayat 112 :
رٌزيِ َب ٌَُٕهًَإعَت اًَِب ََُِّّ اإَٕ إ َت َلًَٔ َكَعَي َ اَت إٍَئَ َ إزِيُأ اًََك إىِ َتإساَف
Artinya: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (Alquran dan terjemahannya, 2007: 38).
Dalam ayat tersebut menunjukkan disiplin bukan hanya tepat waktu saja,tetapi juga patuh pada peraturan-peraturan yang ada, yaitu melaksanakan apayang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Disamping itu juga melakukan perbuatan tersebut secara teratur dan terus menerus walaupun hanya sedikit, karena selain bermanfaat pada diri kita sendiri kontinuitas suatu perbuatan yang dikerjakan secara teratur sangatdicintai Allah SWT walaupun hanya sedikit.
Apabila seseorang atau segolongan tidak mempunyai sikap disiplin maka akan merugikan dirinya sendiri atau kelompoknya. Disiplin pribadi dibutuhkan sebagai sifat dan sikap terpuji yang menyertai kesabaran, ketekunan, kesetiaan dan sebagainya.
Orang yang tidak mempunyaidisiplin pribadi sangat sulit untuk mencapai tujuan, maka setiap pribadi mempunyai kewajiban untuk membina disiplin diri melalui latihan mawas diri dan pengendalian diri,misalnya di rumah atau di masyarakat. Maka dalam hal ini seorang siswa harus memiliki dalam belajarnya supaya dapat berhasil.
Maka dengan demikian, setiap anak harus memiliki sikap disiplin pribadi yang baik itu disiplin belajar di sekolah, disiplin belajar di rumah maupun di lingkungan masyarakat di mana anak tersebut tinggal. Jadi, sikap disiplin pribadi seorang anak di dalam belajar akan tercermin dalam kedisiplinan menggunakan waktu, baik waktu dalam belajar ataupun waktu dalam mengerjakan tugas, serta menaati peraturan-peraturan atau yang lainnya.
Dalam hal ini seseorang hendaknya memiliki self-discipline dalam kehidupannya,apabila seorang anak dan sebagai orang Islam hal ini akanberhasil didapatkan dengan cara memindahkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam rukun iman.Iman berfungsi bukan hanya sebagai penggerak tingkah laku bila berhadapan dengan nilai-nilai positif yang membawa kepada nilai keharmonisan dan kebahagiaan.Iman juga berfungsi sebagai pencegah dan pengawas bila berhadapan dengan nilai-nilai yang menyimpang, sehingga segala perbuatan seolah- olah ada yang mengawasi. Jadi, kita akan dapat bertindak secara hati-hati. Karena itulah, hal yang paling krusial dari disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin ini merupakan sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih (Nikmah Rahmawati, 2016: 275-276).
Selain ayat di atas, terdapat salah satu hadits yangmenjelaskan agar dalam menjalani hidup ini kita senantiasa bersikap disiplin. Hadits tersebut adalah :
َلاَ َف يِبِكإًَُِب َىَّهَسَٔ ِّإيَهَع ُ َّاللَّ َّٗهَص ِ َّاللَّ ُلُٕسَر َذَ َأ َلاَق آًَُإَُع ُ َّاللَّ َيِ َر َزًَُع ٍِإب ِ َّاللَّ ِدإبَع إٍَع َحاَبَّ نا إزِظَتإَُت َيَف َتإيَسإيَأ اَ ِ ُلُٕ َي َزًَُع ٍُإبا ٌَاَكَٔ لٍميِبَس ُزِباَع إَٔأ رٌبيِزَغ َكَََّ َك اَيإَمُّدنا يِف إٍُك َكِتإًَِٕن َكِتاَيَ إٍِئَ َكِ َزًَِن َكِتَّحِص إٍِي إذُ َٔ َءاَسًَإنا إزِظَتإَُت َيَف َتإحَبإصَأ اَ ِ َٔ
Dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memegang pundakku, lalu bersabda: Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma berkata: “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati”. (HR. Bukhari, Kitab Ar Riqaq)
Hadits di atas mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup ini kita harus
menjadi manusia-manusia yang disiplin. [Online]
http://irmamunafidah.blogspot.com/2014/11/hadist-tentang-kedisiplinan.html (Diakses pada tanggal 23 Maret 2018 pukul 11.25 WIB).
Dari uraian di atas sudah jelas bahwa kedisiplinan itu sangat pentingterhadap perkembangan kepribadian anak dan masyarakat disekitarnya.
3. Fungsi Kedisiplinan Santri
Disiplin sangat penting dan dibutuhkan bagi siapapun, karena disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata kehidupan dalam berdisiplin.
Berikut beberapa fungsi kedisiplinan menurut Tulus Tu’u (2004: 38-44) adalah : a. Menata Kehidupan Bersama
Manusia adalah makhluk unik yang memiliki ciri, sifat, kepribadian, latar belakang dan pola pikir yang berbeda-beda. Sselain sebagai suatu individu, juga sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial selalu terikat dan berhubungan dengan orang lain.
Dalam hubungan tersebut, diperlukan norma, nilai, peraturan unttuk mengatur agar kehidupan dan kegiatannya dapat berjalan baik dan lancar. Maka dari itu, kedisiplinan berguna untuk menyadarkan seseorang bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku. Ketaatan dan kepatuhan itu membatasi dirinya merugikan pihak lain, namun hubungan dengan sesama akan menjadi baik dan lancar.
Jadi fungsi disiplin adalah mengatur tata kehidupan manusia, dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat. Dengan begitu, hubungan antar individu satu dengan yang lain menjadi baik dan lancar.
b. Membangun Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan sifat, tingkah laku dan pola hidup seseorang yang tercermin dalam penampilan, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.
Sehingga pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, lingkungan masyarakat, dan lingkungan pendidikan. Disiplin yang diterapkan dimasing-masing lingkungan tersebut akan memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Oleh karena itu, dengan disiplin, seseorang dibiasakan mengikuti, mematuhi, menaati aturan-aturn yang berlaku. Kebiasaan itu lama-kelamaan masuk ke dalam kesadaran dirinya sehingga akhirnya akan membentuk kepribadian yang memiliki kedisiplinan yang baik.
Karena disiplin telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari, maka berkaitan dengan hal tersebut, Wardiman Djojonegoro mengatakan: Penerapan disiplin yang mantap dalam kehidupan sehari-hari berawal dari disiplin pribadi. Disiplin pribadi dipengaruhi dari dua faktor, yakni faktor dari dalam dan faktor dari luar (GDN, 1996: 262). Faktor luar berupa lingkungan, sedangkan faktor dalam berupa kesadaran diri.
Jadi, lingkungan yang berdisiplin baik, sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang dan berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
c. Melatih Kepribadian
Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin tidak berbentuk serta-merta dalam waktu yang singkat. Namun, terbentuk melalui satu proses yang membutuhkan waktu panjang. Salah satu proses untuk membentuk kepribadian tersebut dilakukan melalui latihan.Demikian juga dengan kepribadian yang tertib, teratur, taat, patuh, perlu dibiasakan dan dilatih.
Sejalan dengan itu, Soegong Prijodarminto (1994: 17-18) mengatakan hal yang serupa, sebagai berikut: Sikap, perilaku seseorang tidak dibentuk dalam sekejap. Diperlukan pembinaan, tempaaan yang terus-menerus sejak dini.
Melalui tempaan manusia akan menjadi kuat. Melalui tempaaan mental dan moral seorang dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dengan penuh ketabahan dan kegigihan. Melalui tempaan pula mereka memperoleh nilai tambah. Maka, disiplin tersebut akan terwujud melalui pembinaan sejak dini, sejak usia muda, dimulai dari lingkungan keluarga, melalui proses pendidikan yang tertanam sejak usia muda yang semakin lama semakin menyatu kuat dalam dirinya dengan bertambahnya usia.
d. Pemaksaan
Kedisiplinan dapat pula terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar. Disiplin seperti ini masih dangkal. Akan tetapi dengan dilakukan oleh pendampingan guru pembimbing, pemaksaan, pembiasaan dan latihan disiplin seperti itu akan dapat menyadarkan individu bahwa disiplin sangat penting baginya untuk diterapkan.
e. Hukuman
Tata tertib biasanya berisi hal-hal positif yang harus dilakukan. Sisi lainnya berisi sanksi dan hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut. Ancaman sanski/hukuman sangat penting karena dapat memberi dorongan dan kekuatan untuk menaati dan mematuhinya.
Dorothy Irene Marx (1982: 29) mengatakan: hukuman mengandung empat fungsi, yakni 1) Sebagai pembalasan atas perbuatan salah yang telah dilakukan. 2) Sebagai pencegahan dan adanya rasa takut orang untuk melakukan pelanggaran. 3) Sebagai koreksi terhadap perbuatan yang salah. 4) Sebagai pendidikan, yakni menyadarkan orang untuk meninggalkan perbuatan yang tidak baik lalu mulai melakukan yang baik.
Dalam hal ini, sanksi disiplin berupa hukuman seharusnya sebagai alat pendidikan dan mengandung unsur pendidikan. Karena tanpa unsur itu, hukuman akan kurang bermanfaat.
f. Menciptakan Lingkungan yang Kondusif
Kedisiplinan berfungsi untuk mendukung terlaksananya proses dan kegiatan pendidikan agar berjalan lancar. Hal ini dicapai dengan merancang peraturan dan kemudian diimplementasikan dengan baik secara konsisten dan konsekuen.
Agar terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran.
Sejalan dengan hal tersebut, dalam bukunya Elizabeth B. Hurlock (1978: 97) menyatakan bahwa fungsi disiplin ada dua macam yakni :
1) Fungsi yang Bermanfaat
a. Untuk mengajar anak bahwa perilaku tertentu selalu akan di ikuti dengan hukuman, namun yang lain akan di ikuti dengan pujian
b. Untuk mengajar anak suatu tingkatan penyesuaian yang wajar, tanpa menuntut konformitas yang berlebihan
c. Untuk membantu anak mengembangkan pengendalian diri dan pengarahan diri dan pengarahan diri sehingga mereka dapat mengembangkan hati nurani untuk membimbing tindakan mereka.
2) Fungsi yang tidak Bermanfaat a. Untuk menakut-nakuti
b. Sebagai pelampiasan agresi orang yang mendisiplin.
4. Pembentukan kedisiplinan Santri
Menurut Tulus Tu’u (2004: 48-51) ada empat hal yang dapat mempengaruhi dan membentuk disiplin (individu) yakni: memgikuti dan menaati aturan, kesadaran diri, alat pendidikan dan hukuman. Keempat faktor ini merupakan faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk disiplin. Alasannya sebagai berikut:
a. Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa disiplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain itu, kesadaran diri menjadi motif sangat kuat dalam terwujudnya disiplin
b. Pengikutan dan ketaatan sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan- peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan diri yang kuat. Tekanan dari luar dirinya sebagai upaya mendorong, menekan, dan memaksa agar disiplin diterapkan dalam diri seseorang sehingga peraturan- peraturan diikuti dan dipraktikkan
c. Alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan.
d. Hukuman sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan.
Selain keempat faktor tersebut, masih ada beberapa faktor lain lagi yang dapat berpengaruh pada pembentukan disiplin individu, antara lain: teladan, lingkungan berdisiplin, dan latihan berdisiplin.
1. Teladan
Perbuatan dan tindakan kerap kali lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan kata-kata. Karena itu, contoh dan teladan disiplin sangat penting bagi pembentukan disiplin siswa (santri).
2. Lingkungan berdisiplin
Seseorang dapat juga dipengaruhi oleh lingkungan. Bila berada dilingkungan berdisiplin, seseorang dapat terbawa oleh lingkungan tersebut. Salah satunya adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan. Dengan potensi adaptasi ini, ia dapat mempertahankan hidupnya.
3. Latihan berdisiplin
Disiplin dapat dicapai dan dibentuk melalai proses latihan dan kebiasaan.
Artinya, melakukan disiplin secara berulang-ulang dan membiasakannya dalam praktik-praktik disiplin sehari-hari. Dengan latihan dan membiasakan diri, disiplin akan terbentuk dalam diri siswa (santri). Disiplin telah menjadi kebiasaannya (habit).
Jadi, pembentukan disiplin ternyata harus melalui proses panjang, dimulai sejak dini dalam lingkungan keluarga dan dilanjutkan sekolah. Hal-hal penting dalam pembentukan itu terdiri dari kesadaran diri, kepatuhan, tekanan, sanksi, teladan, lingkungan disiplin, dan latihan-latihan.
Sementara menurut Prajudi Atmosudirjo (1976: 64) untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kedisiplinan meliputi tiga aspek yakni sebagai berikut : a) Sikap mental (state of mind, mental attitude) tertentu yang merupakan sikap dan tata tertib sebagai hasil atau pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak.
b) Suatu pengetahuan (knowledge) tentang sistem aturan-aturan perilaku, sistem atau norma-norma kriteria standar yang menumbuhkan insight dan kesadaran (consciousness).
c) Suatu sikap yang secara wajar menunjukan kesanggupan hati, pengertian dan kesadaran hati untuk mentaati segala apa yang diketahui itu secara cermat dan tertib.
5. Macam-macam Kedisiplinan Santri
Dalam membangun tradisi disiplin pada anak harus dilakukan mulai dari kecil karena perilaku dan sikap disiplin seseorang terbentuk tidak secara otomatis, namun melalui proses yang panjang dan tidak bisa dibentuk dalam waktu yang singkat.
Oleh karena itu dalam menerapkan disiplin pada anak harus adanya suatu perbuatan yang dapat mendorong kearah perilaku dan sikap yang lebih baik. Perbuatan tersebut yang diarahkan untuk tercapainya kesadaran diri pada anak, agar bisa menerapkan disiplin dalam kehidupan sehari-hari maka diperlukan sebuah pendekatan yang baik dalam menanankan sikap kedisiplinan.
Menurut Hadisubrata (1988: 58-62) teknik disiplin dapat dibagi menjadi tiga macam, yakni disiplin Otoritarian, disiplin premisif, dan disiplin demokratis. Ketiga hal itu dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Disiplin Otoritarian
Dalam disiplin otoritarian, peraturan ini dibuat sangat ketat dan rinci. Orang yang berada dalam lingkungan disiplin ini diminta mematuhi dan menaati pereturan yang telah disusun dan berlaku ditempat itu. Apabila gagal menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, akan menerima sanksi atau hukuman berat. Sebaliknya, bila berhasil mematuhi peraturan, kurang mendapat penghargaan karena hal itu sudah dianggap sebagai kewajiban. Jadi tidak perlu mendapat penghargaan lagi.
Disiplin otoritarian selalu berarti pengendalian tingkah laku berdasarkan tekanan, dorongan, pemaksaan dari luar diri seseorang. hukuman dan ancaman
kerapkali dipakai untuk memaksa, menekan, mendorong seseorang mematuhi dan menaati peraturan. Disini tidak diberi kesempatan bertanya mengapa disiplin itu harus dilakukan dan apa tujuan disiplin itu. Orang hanya berfikir kalau harus dan wajib mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku kepatuhan dan ketaatan dianggap baik dan perlu bagi diri, institusi atau keluarga. Apabila disiplin dilanggar, wibawa dan otoritas institusi atau keluarga menjadi menjadi terganggu. Karena itu, setiap pelanggaran perlu diberi sanksi, ada sesuatu yang harus ditanggung sebagai akibat dari pelanggarannya. Disiplin ini dapat terjadi orang patuh dan taat pada aturan yang berlaku, tetapi tidak merasa bahagia, tertekan, dan tidak aman (Tulus Tu’u, 2004: 44-45).
Disiplin otoriter ini dapat berkisar antara pengendalian perilaku anak yang wajar hingga yang kaku yang tidak memberi kebebasan bertindak, kecuali yang sesuai dengan standar yang ditentukan. Disiplin otoriter selalu berarti mengendalikan melalui kekuatan eksternal dalam bentuk hukuman (Elizabeth B. Hurlock, 1978:
93).
b. Disiplin Premisif
Dalam disiplin ini seseorang dibiarkan bertindak menurut keinginannya.
Kemudian dibebaskan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambilnya. Seseorang yang berbuat sesuatu dan ternyata membawa akibat melanggar norma atau aturan yang berlaku, tidak diberi sanksi atau hukuman. Dampak teknik permisif ini berupa kebingungan dan kebimbangan.
Penyebabnya karena tidak tahu mana yang tidak dilarang dan mana yang dilarang.
Atau bahkan menjadi takut, cemas, dan dapat juga menjadi agresif serta liar tanpa kendali
c. Disiplin Demokratis
Pendekatan disiplin demokratis dilakukan dengan memberi penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak memahami mengapa diharapkan mematuhi
dan menaati peraturan yang ada. Teknik ini menekankan aspek edukatif bukan aspek hukuman. Sanksi atau hukuman dapat diberikan kepada yang menolak atau melanggar tata tertib. Akan tetapi, hukuman dimaksud sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan mendidik.
Teknik disiplin demokratis berusaha mengembangkan disiplin yang muncul atas kesadaran diri sehingga individu memiliki disiplin diri yang kuat dan mantap. Oleh karena itu, bagi yang berhasil mematuhi dan menaati disiplin, maka akan diberikan pujian dan penghargaan. Dalam disiplin demokratis kemandirian dan tanggung jawab dapat berkembang. Individi akan patuh dan taat karena didasari oleh kesadaran dirinya. Mengikuti peraturan-peraturan yang ada bukan karena terpaksa, melainkan atas kesadaran bahwa hal itu baik dan bermanfaat (Tulus Tu’u, 2004: 45- 46).
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat kita pahami bahwa apabila disiplin diterapkan pada anak atau santri maka akan menghasilkan sifat dan tingkah laku yang berbeda. Disiplin ototarian menekankan pada kepatuhan dan ketaatan serta sanksi atau hukuman bagi yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan bersama.
Sedangkan disiplin permisif memberikan kebebasan bagi yang melanggar peraturan untuk mengambil keputusan dan tindakan. Sementara disiplin demokratis menekankan pada kesadaran diri dan tanggung jawab.
6. Unsur-unsur Kedisiplinan
Bila disiplin diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan standar, maka harus mempunyai empat unsur pokok, carauntuk mendisiplin yang digunakan yaitu:
a) Peraturan
Pokok pertama disiplin adalah peraturan. Peraturan, sebagaimana diterangkan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola tersebut mungkin ditetapkan
orang tua, guru, atau teman bermain. Tujuannya ialah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu.
Dalam hal ini peraturan mempunyai dua fungsi yang sangat penting dalam membantu anak menjadi manusia yang memiliki perilaku ke arah yang baik.
Pertama, peraturan mempunyai nilai pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui anggota kelompok tersebut.Kedua, peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Agar peraturan dapat memenuhi kedua fungsi penting diatas, peraturan itu harus dimengerti, diingat, dan diterima oleh si anak. Bila peraturan diberikan dalam bentuk kata-kata yang tidak dimengerti atau hanya hanya sebagaian dimengerti, maka peraturan itu tidak berharga sebagai pedoman perilaku dan gagal mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
b) Hukuman
Pokok kedua disiplin ialah hukuman. Hukuman berasal dari kata kerja Latin, punier dan berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalaha, perlawanan, atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. Hukuman mempunyai tiga peran penting dalam perkembangan moral. Fungsi pertama, ialah menghalangi.
Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidaak di inginkan oleh masyarakat. Fungsi kedua dari hukuman ialah, mendidik. Sebelum mengerti tentang peraturan, individu dapat belajar untuk membedakan tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapatkan hukuman karena melakukan tindakan yang salah dan tidak menerima hukuman bila melakukan tindakan yang diperbolehkan.
Selain itu fungsi hukuman yang ketiga adalah memberikan motivasi untuk menhindari perilaku yang tidak diterima masyarakat.
c) Pengahargaan
Pokok ketiga dari ialah penggunaan penghargaan. Istilah “penghargaan” berarti tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan di punggung.
Penghargaan mempunyai tiga peranan penting dalam mengajar anak berperilaku sesuai dengan cara yang direstui masyarakat. Pertama, penghargaan mempunyai nilai mendidik. Bila suatu tindakan disetujui, maka anak akan merasa bahwa hal itu baik. Kedua, penghargaan berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial. Dan ketiga, penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial.
d) Konsistensi
Pokok keempat disiplin ialah konsistensi. Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Ia tidak sama dengan ketetapan, yang berarti tidak adanya perubahan. Sebaliknya, artinya ialah suatu kecenderungan menuju kesamaan.
Konsistensi harus menjadi ciri semua aspek disiplin. Harus ada konsistensi dalam peraturanyang digunakan sebebagai pedoman berperilaku., konsistensi dalam cara peraturan ini diajarkan dan dipaksakan, dalam dalam mhukuman yang diberikan yang tidak menyesuaikan pada standar, dan dalam penghargaan bagi mereka yang menyesuaikan.
Konsistensi dalam disiplin mempunyai tiga peran yang penting. Pertama, ia mempunyai nilai mendidik yang besar. Bila peraturan dilakukan secara konsisten, maka ia akan memacu proses belajar. Ini disebabkan nilai pendorongnya. Kedua, konsistensi mempunyai nilai motivasi yang kuat. Anak yang menyadari bahwa penghargaan selalu mengikuti perilaku yang disetujui dan hukuman selalu
mengikuti perilaku yang dilarang. Ketiga, konsistensi mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa (Elizabeth B. Hurlock, 1978: 84-92).
7. Indikator Kedisiplinan Santri
Beberapa indikator yang dapat dikemukakan agar disiplin dapat dibina dan dilaksanakan dalam proses pendidikan sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan adalahsebagai berikut:
a. Melaksanakan tata tertib dengan baik, baik bagi guru maupun baik bagi siswa, karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dalam ketentuan yang harus ditaati oleh siapa pun demi kelancaran proses pendidikan itu, yaitu:
1) Patuh terhadap aturan sekolah atau lembaga pendidikan.
2) Mengindahkan petunjuk-petunjuk yang berlaku disekolah atau lembaga pendidikan tertentu. Contohnya menggunakan kurikulum yang berlaku atau membuat satuan pelajaran.
3) Tidak membangkang pada peraturan yang berlaku, baik bagi para pendidik maupun bagi peserta didik. Contohnya membuat PR bagi peserta didik.
4) Tidak suka membohong.
5) Bertingkah laku yang menyenangkan.
6) Rajin dalam belajar mengajar
7) Tidak suka malas dalam belajar mengajar.
8) Tidak menyuruh orang untuk bekerja demi sendiri.
9) Tepat waktu dalam belajar mengajar.
10) Tidak pernah keluar saat belajar mengajar.
11) Tidak pernah membolos saat belajar mengajar.
b. Taat terhadap kebijakan dan kebijaksanaan yang berlaku, meliputi : a. Menerima, menganalisa dan mengkaji berbagai pembaruan pendidik.
b. Berusaha menyesuaikan dengan situai dan kondisi pendidikan yang ada.
c. Tidak membuat keributan didalam kelas.
d. Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
e. Membantu kelancaran proses belajar mengajar.
f. Menguasai diri dan intropeksi
Dengan melaksanakan indikator-indikator yang dikemukakan diatas sudah tentu disiplin dalam proses pendidikan dapat terlaksana dan kedisiplinan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif dapat terlaksana dan kedisiplinan siswa (santri) dapat ditingkatkan(Cece Wijaya A. Tabrani Rusyam, 2003: 19).
Selain beberapa indikator supaya disiplin dapat terlaksana, menurut Aim Abdul Karim dalam buku PPKN 2 SMU kelas 2 adapun hal yang perlu diperhatikan yakni langkah-langkah untuk menanamkan kedisiplinan dalam kehidupan yang meliputi : a) Pembiasaan
Merupakan sebuah penerapan yang dilakukan untuk membiasakan dalam hal bertindak dan bersikap sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Pembiasaan ini dilakukan dengan cara memberikan menerapkan suatu kebiasaan melalui pengulangan sehingga akan tercipta suatu kebiasaan
b) Pengawasan
Ialah memberikan kontrol atau kendali atas segala perilaku yang dilakukan c) Perintah
Adalah petunjuk dalam memberikan peraturan atau aturan yang harus ditaati dan dipatuhi
d) Larangan
Yang bertujuan untuk memberikan batasan antara yang baik dan kurang baik e) Ganjajan/hukuman
Ialah memberikan sanksi bagi yang melanggar dan tidak mematuhi peraturan yang berlaku sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan atas kesepakatan bersama.
Langkah-langkah tersebut umumnya dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran. Sehubungan dengan itu dikemukakan alat pendidikan represif. Alat pendidikan represif diadakan bila terjadi sesuatu perbuatan yang dianggap bertentangan dengan peraturan-peraturan.
Cara yang ditempuh adalah dengan melakukan langkah-langkah seperti berikut:
a. Pemberitahuan
Pemberitahuan disini adalah pemberitahuan bagi yang telah melanggar peraturan tata tertib yang berlaku. Tata tertib merupakan aturan dan ketentuan yang harus ditaati oleh siapapun demi kelancaran dan kenyamanan bersama b. Teguran
Teguran ialah berupa nasehat yang diberikan bagi yang baru satu dua kali melakukan pelanggaran atau tidak melakukan tugas atau tanggung jawabnya sesuai dengan tata tertib yang ada.
c. Peringatan
Peringatan diberikan bagi yang telah beberapa kali melakukan pelanggaran dan telah diberikan teguran pula atas pelanggarannya. Dalam memberikan peringatan ini biasanya disertai dengan ancaman akan sanksinya, bilamana terjadi pelanggaran lagi.Ini bertujuan untuk memberikan kebijakan yang berlaku atas peraturan yang telah ditetapkan agar terciptanya keteraturan dan ketertiban.
d. Hukuman
Hukuman ialah tindakan yang paling akhir diambil apabila teguran dan peringatan belum mampu untuk dicegah dalam mengarahkan kepada sikap disiplin.
e. Ganjaran
Ganjaran ialah tindakan yang bertujuan untuk memberikan efek jera atas pelanggaran-pelangaran yang dilakukan sekaligus untuk menerapkan perilaku dan kepribadian yang disiplin. [Online] (Aim Abdul Karim, 1995: 26-28) dalam
http://starawaji.wordpress.com/2009/04/19/pengertian-kedisiplinan/ (diakses pada tanggal 30 maret 2018 pukul 10.55 WIB)
Beberapa indikator tersebut sangat perlu untuk diperhatikan supaya kedisiplinan dapat tumbuh dan berkembang. Sehingga tujuan dari pada pendidikan itu dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Karena tercapainya suatu tujuan dalam pendidikan merupakansalah satu penentuan keberhasilan dalam pencapaian tujuan.Disiplin merupakan salah satu alat penentuan keberhasilan dalam pencapaian tujuan dari pendidikan tersebut.