B A D A N P E N G E M B A N G A N S U M B E R D A Y A M A N U S I A P U S A T P E N D I D I K A N D A N P E L A T I H A N J A L A N , P E R U M A H A N , PERMUKIMAN DAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH
MODUL 4
RODUKSI DAN PENGANGKUTAN CAMPURAN BETON
DIKLAT PERKERASAN KAKU |2017
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 i
KATA PENGANTAR
Kurikulum merupakan program pendidikan yang perlu disusun secara sistematis dan sistemik yang berorientasi pada pembentukan kompetensi peserta didik. Untuk mendukung keberhasilan program pendidikan tersebut perlu adanya komponen- komponen lain yang standar seperti widyaiswara, sarana/alat, sumber belajar dan modul. Modul merupakan salah satu bahan ajar yang harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pembentukan kompetensi peserta didik.
Diklat Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) merupakan salah satu upaya yang dianggap strategis dalam peningkatan profesionalisme Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkungam Kementerian PUPR. Untuk mengefektifkan Diklat Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) selain ada tatap muka juga ada pembelajaran melalui penggunaan modul sebagai bahan ajar yang akan membantu pembelajaran peserta didik. Dalam modul ini diuraikan mengenai teori produksi campuran di batching plant dan pengangkutan beton ke lapangan. untuk perkerasan kaku.
Bandung, Oktober 2017
Pusdiklat Jalan, Perumahan, Permukiman, dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR GAMBAR ... iii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ... iv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. DESKRIPSI SINGKAT ... 1
C. TUJUAN PEMBELAJARAN ... 2
D. MATERI POKOK DAN SUB MATERI POKOK ... 2
E. ESTIMASI WAKTU ... 2
BAB 2 PRODUKSI DAN PENGANGKUTAN CAMPURAN BETON... 3
A. PENDAHULUAN ... 3
B. PERALATAN PENCAMPUR ... 3
C. PENAKARAN ... 9
D. PENGADUKAN CAMPURAN BETON ... 9
E. PENGANGKUTAN ... 11
BAB 3 PENUTUP ... 17
A. EVALUASI KEGIATAN BELAJAR ... 17
B. UMPAN BALIK DAN TINGKAT LANJUT ... 17
C. KUNCI JAWABAN ... 18
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 - Batching Plant 4
Gambar 2 - Contoh gambar batching plant dry mix 4
Gambar 3 - Contoh gambar batching plant wet mix 5
Gambar 4 - Skema bagian-bagian dari Batching Plant 6
Gambar 5 - Gambar Dump Truck 7
Gambar 6 - Wheel Loader 7
Gambar 7 - Cement Truck 7
Gambar 8 - Truk Mixer 8
Gambar 9 - Skema prinsip kerja Truk Mixer 8
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 iv
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Petunjuk penggunaan modul ini dimaksudkan untuk mempermudah peserta pelatihan. Oleh karena itu, sebaiknya peserta pelatihan memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini.
1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan ini, sampai Anda mempunyai gambaran kompetensi yang harus dicapai, dan ruang lingkup modul ini.
2. Baca dengan cermat bagian demi bagian, dan tandailah konsep-konsep pentingnya.
3. Segeralah membuat Ringkasan Materi tentang hal-hal esensial yang terkandung dalam modul ini
4. Untuk meningkatkan pemahaman Anda tentang isi modul ini, tangkaplah konsep-konsep penting dengan cara membuat pemetaan keterhubungan antara konsep yang satu dengan konsep lainnya.
5. Untuk memperluas wawasan Anda, bacalah sumber-sumber lain yang relevan baik berupa kebijakan maupun subtansi bahan ajar dari media cetak maupun dari media elektronik.
6. Untuk mengetahui sampai sejauh mana pemahaman Anda tentang isi modul ini, cobalah untuk menjawab soal-soal latihan secara mandiri, kemudian lihat kunci jawabannya.
7. Apabila ada hal-hal yang kurang dipahami, diskusikanlah dengan teman sejawat atau catat untuk bahan diskusi pada saat tutorial.
8. Peserta membaca dengan seksama setiap Sub Materi dan bandingkan dengan pengalaman Anda yang dialami di lapangan.
9. Jawablah pertanyaan dan latihan, apabila belum dapat menjawab dengan sempurna, hendaknya Anda latihan mengulang kembali materi yang belum dikuasai.
10. Buatlah Ringkasan Materi, buatlah latihan dan diskusikan dengan sesama peserta untuk memperdalam materi.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 1
BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Batching plant merupakan alat yang berfungsi untuk mencampur atau memproduksi beton siap pakai dalam skala besar. Batching Plant digunakan dalam produksi beton skala besar agar kualitas, kinerja dan kontinyuitas produksi dapat dijaga dengan baik sesuai standar yang ditetapkan.
Penakaran bahan baku pada pekerjaan beton dapat dilakukan secara konvensional maupun masinal. Penakaran yang baik akan menghasilkan kualitas beton yang seragam di keseluruhan volume pekerjaan. Penakaran bahan-bahan campuran beton yang dihasilkan dari hasil rancangan campuran dapat dilakukan berdasarkan penakaran berat atau berdasarkan penakaran volume.
Alat penakar harus dibuat dengan mengetahui secara pasti volumenya dan harus disesuaikan dengan kapasitas alat pencampur. Batching plant merupakan alat yang berfungsi untuk mencampur atau memproduksi beton siap pakai dalam skala besar.
Batching Plant digunakan dalam produksi beton skala besar agar kualitas, kinerja dan kontinyuitas produksi dapat dijaga dengan baik sesuai standar yang ditetapkan.
B. DESKRIPSI SINGKAT
Mata Diklat ini membekali peserta diklat tentang pengetahuan mengenai Produksi dan Pengangkutan campuran beton yang meliputi peralatan pencampur, penakaran, pengadukan campuran beton, serta pengangkutan campuran beton ke lokasi hamparan.
Mata diklat ini disajikan melalui metode ceramah dan diskusi interaktif serta kunjungan lapangan tempat produksi campuran beton. Keberhasilan peserta dinilai dari kemampuannya dalam menganalisis proses produksi dan pengangkutan campuran beton.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 2
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran terdiri dari hasil belajar dan indikator hasil belajar sebagai berikut:
1. Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran ini para peserta diharapkan dapat menganalisis proses produksi dan pengangkutan campuran beton
2. Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta mampu:
a. Menjelaskan peralatan pencampur produksi beton b. Menjelaskan penakaran campuran beton
c. Menganalisis proses pengadukan campuran beton d. Menganalisis proses pengangkutan campuran beton
D. MATERI POKOK DAN SUB MATERI POKOK
Dalam modul Konsep dasar konsruksi perkerasan kaku ini terdapat satu materi yang akan dibahas, yaitu:
BAB 1 – Produksi dan Pengangkutan Campuran Beton, meliputi:
a. Peralatan pencampur campuran beton b. Penakaran campuran beton
c. Pengadukan campuran beton d. Pengangkutan campuran beton
E. ESTIMASI WAKTU
Untuk melaksanakan Diklat Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) mata diklat yang keempat yang harus diikuti adalah Mata DiklatProduksi dan Pengangkutan Campuran Beton. Mata Diklat ini akan dilaksanakan selama 4 jam pelatihan, @ 45 menit.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 3
BAB 2 PRODUKSI DAN PENGANGKUTAN CAMPURAN BETON
Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti pembelajaran ini para peserta diharapkan dapat menganalisis proses produksi dan pengangkutan campuran beton
A. PENDAHULUAN
Campuran beton direncanakan berdasarkan suatu asumsi bahwa sifat-sifat beton setelah mengeras sangat bergantung pada sifat-sifat komposisi campurannya. Agar beton dapat mencapai sifat-sifat keras yang dikehendaki, maka beton harus dipadatkan dengan keseragaman yang baik. Apakah suatu campuran beton dapat dipadatkan dengan baik atau tidak, sangat bergantung pada sifat-sifat beton segar itu sendiri Campuran beton segar dapat dikatakan mempunyai sifat yang baik bila memenuhi persyaratan utama campuran yaitu mampu memberikan kemudahan pengerjaan (workability), yaitu bila campuran tersebut tetap bertahan seragam ketika berlangsung proses pengangkutan, pengecoran dan pemadatan.
Sifat kemudahan pengerjaan merupakan permasalahan yang kompleks, karena di dalamnya bergabung pengaruh sifat alami dan faktor-faktor lain yang secara kebetulan terjadi pada saat pengerjaan. Sebagai contoh, campuran beton yang memberi kemudahan untuk pekerjaan lantai belum tentu akan mudah bila digunakan untuk mengerjakan pengecoran balok dengan penampang yang sempit serta mempunyai penulangan yang rapat.
B. PERALATAN PENCAMPUR 1. Batching Plant
Batching plant merupakan alat yang berfungsi untuk mencampur atau memproduksi beton siap pakai dalam skala besar. Batching Plant digunakan dalam produksi beton skala besar agar kualitas, kinerja dan kontinyuitas produksi dapat dijaga dengan baik sesuai standar yang ditetapkan, seperti ditunjukkan pada gambar 1.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 4 Gambar 1 - Batching Plant
Terdapat dua tipe system pencampuran di batching plant yaitu tipe dry mix dan wet mixed. Tipe dry mixed yaitu batching plant hanya berfungsi untuk menimbang material dan bahan lainnya, sedangkan pencampuran dan pengadukan menjadi beton siap pakai di truk mixerseperti ditunjukkan pada gambar 2. Semua material termasuk bahan additive yang akan diaduk ditimbang terlebih dahulu sesuai job mix dengan memperhitungkan kadar air dalam agregat kasar ataupun agregat halus. Kelemahan plant dry mix adalah tidak bisa menggaduk slump max 5 (biasa digunakan untuk rigid), dan jika sedang produksi suara truck mixer berisik dan cenderung berdebu dari material semen saat masuk ke dalam truck mixer
Gambar 2 - Contoh gambar batching plant dry mix
Tipe wet mix (adukan basah/jadi) yaitu batching plant yang setelah semua material di timbang (sesuai mutu yg di inginkan) material akan di aduk dlm PAN MIXER (tempat
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 5 pengadukan) sampai mencapai slump (tingkat keenceran/kekentalan yg di harapkan) dan akan di masukkan ke dalam truck mixer (mobil molen) dan siap di kirim ke lokasi pengecoran, ditunjukkan pada gambar 3. Keunggulan pada plant jenis wet mix bisa menggaduk untuk beton slump rendah, cenderung tidak berdebu dari semen dan tidak berisik.
Gambar 3 - Contoh gambar batching plant wet mix
Bagian-bagian penting dari batching plant adalah sebagai berikut: (Lihat Gambar 4) a. Cement silo, berfungsi untuk penyimpanan semen atau fly ash dan menjaganya
agar tetap baik.
b. Belt conveyor, berfungsi untuk menarik material (agregat kasar dan halus) ke atas dari bin ke storage bin.
c. Bin, berfungsi sebagai tempat pengumpulan bahan (agregat kasar dan halus) yang berasal dari penumpukan bahan di base camp dengan bantuan loader untuk ditarik ke atas (storage bin).
d. Storage bin digunakan untuk pemisah fraksi agregat. Storage bin dibagi menjadi 4 (empat) fraksi yaitu agregat butir kasar (split), butir menengah (screening), butir halus (pasir).
e. Timbangan pada alat batching plant dibagi menjadi 4 (empat) macam yaitu
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 6 untuk agregat, semen, fly ash dan air.
f. Dosage pump digunakan untuk penambahan bahan admixture seperti retarder, superplasticizer dan lain-lain.
g. Tempat penampungan air yang berfungsi sebagai suplai kebutuhan air pada ready mix.
Gambar 4 - Skema bagian-bagian dari Batching Plant
2. Alat Bantu pada Batching Plant
Alat berat yang sering digunakan dalam proses pembuatan beton di batching plant adalah sebagai berikut:
a. Dump Truk
Dump truk berfungsi untuk mengangkut material agregat kasar dan halus dari quarry menuju batching plant. Lihat gambar 5.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 7 Gambar 5 - Gambar Dump Truck
b. Wheel Loader
Wheel loader berfungsi untuk mengangkut material dari tempat penumpukan ke bin. Wheel loader memiliki bucket untuk membawa material dan bergerak dengan roda karet, sehingga mobilitasnya tergolong lincah, seperti tampak pada gambar 5.
Gambar 6 - Wheel Loader c. Cement Truck
Cement truck berfungsi sebagai pengangkutan semen curah atau fly ash ke base camp. Lihat gambar 7 di bawah ini.
Gambar 7 - Cement Truck
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 8 d. Concrete mixer Truck
Concrete mixer truck atau truk mixer adalah suatu kendaraan truk khusus yang dilengkapi dengan concrete mixer yang berfungsi mengaduk atau mencampur campuran beton (berfungsi sama seperti alat molen). Truk mixer digunakan untuk mengangkut adukan beton dari tempat pencampuran beton ke lokasi proyek. Selama pengangkutan, mixer terus berputar dengan kecepatan 8-12 rpm agar beton tetap homogen dan beton tidak mengeras. Lihat Gambar 8.
Gambar 8 - Truk Mixer
Prinsip kerja truk mixer ini secara sederhana adalah sebagai berikut:
Dalam drum terdapat bilah-bilah baja, ketika dalam perjalanan menuju lokasi proyek, drum ini berputar perlahan-lahan berlawanan dengan putaran jarum jam sehingga adukan mengarah ke dalam. Perputaran di dalam ini bertujuan agar tidak terjadi segregasi sehingga adukan tetap homogen. Dengan demikian mutu beton akan tetap terjaga sesuai dengan perencanaan. Gambar 9.
Gambar 9 - Skema prinsip kerja Truk Mixer
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 9 Ketika sampai di lokasi proyek dan pengecoran berlangsung, arah putaran drum dibalikkan searah putaran jarum jam dan percepatan putaran diperbesar sehingga adukan beton keluar. Proses pengiriman beton ready mix diatur dengan memperhatikan jarak, kondisi lalu lintas, cuaca, dan suhu, karena hal- hal tersebut dapat mempengaruhi waktu dalam pelaksanaan pekerjaan pengecoran. Pada umumnya, pengadaan concrete mixer truck menjadi tanggung jawab penyedia ready mix.
C. PENAKARAN
Penakaran bahan baku pada pekerjaan beton dapat dilakukan secara konvensional maupun masinal. Penakaran yang baik akan menghasilkan kualitas beton yang seragam di keseluruhan volume pekerjaan. Penakaran bahan-bahan campuran beton yang dihasilkan dari hasil rancangan campuran dapat dilakukan berdasarkan penakaran berat atau berdasarkan penakaran volume. Menurut besarnya volume pekerjaan, untuk pekerjaan kecil sekitar 500 m3 biasanya penakaran dilakukan berdasarkan volume karena jika dilakukan secara masinal menjadi tidak ekonomis. Tetapi jika pertimbangannya adalah mutu, untuk beton yang mempunyai kekuatan fc’ > 20 MPa proporsi penakarannya harus didasarkan atas penakaran berat. Penakaran berdasarkan volume boleh dilakukan untuk produksi beton dengan mutu fc’ < 20 MPa dengan teknik mengkonversikan takaran berat ke takaran volume.
Alat penakar harus dibuat dengan mengetahui secara pasti volumenya dan harus disesuaikan dengan kapasitas alat pencampur. Khusus untuk semen, penakaran tidak dapat dilakukan berdasarkan volume, karena semen sangat peka terhadap getaran atau benturan serta tinggi jatuh selama proses penakaran.
D. PENGADUKAN CAMPURAN BETON
Secara umum, tujuan pengadukan bahan-bahan beton adalah menghasilkan adukan beton segar yang plastis dengan indikasi merata secara visual, konsistensinya cukup, dan homogen.
Metode pengadukan dapat dibedakan atas metode manual dan metode dengan masinal. Pengadukan manual dilakukan dengan tangan, sedangkan pengadukan masinal dengan memanfaatkan bantuan alat aduk seperti pengaduk beton (concrete
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 10 mixer) atau batching plant. Pengadukan dengan tangan tidak dapat menghasilkan campuran yang benar-benar seragam sehingga kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan beton yang dicampur dengan mesin. Pengadukan dengan tangan biasanya dilakukan untuk pekerjaan beton dengan volume kecil (< 10 m3) dalam suatu periode yang pendek.
Alat pencampur secara masinal dapat dibagi menjadi dua macam yaitu, mesin konvensional dan mesin otomatis. Pencampuran dan pengadukan dengan mesin konvensional dilakukan dengan cara mengaduk bahan agregat dan semen secara kering hingga merata, kemudian dilanjutkan pemberian air secara bertahap sampai menghasilkan beton segar yang plastis. Pencampuran dengan mesin otomatis dilakukan dengan cara memasukkan semua bahan secara bersamaan sesuai dengan proporsinya hingga dicapai hasil adukan yang merata.
Mutu beton hasil pengadukan juga dipengaruhi oleh waktu pencampuran (mixing time). Waktu pencampuran yang terlalu sebentar akan menyebabkan pencampuran bahan kurang merata sehingga pengikatan antar bahan menjadi berkurang. Sebaliknya, pengadukan yang terlalu lama akan menyebabkan naiknya suhu beton, keausan pada agregat, kehilangan sebagian air, perubahan nilai slump, yang pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap kekuatan.
Umumnya waktu pengadukan antara 1 – 1 ½ menit dianggap memadai. Pada beberapa tempat pengaduk yang kecepatan putarnya lebih tinggi, waktu 35 detik sudah cukup untuk hampir semua jenis beton. ASTM C 94 dan ACI 318 merekomendasikan waktu pengadukan beton sebagai berikut :
Kapasitas mesin pengaduk (m3) Waktu pengadukan 0,8 – 3,1 1 menit
3,8 – 4,6 2 menit 7,6 3 menit
Prinsip umum penggunaan alat pencampur beton :
a. Pemasukan semen, pasir, dan agregat ke dalam alat pencampur secara simultan sehingga curahan dari tiap-tiap bahan berlangsung pada periode yang sama b. Air harus diisikan ke dalam alat pencampur pada waktu yang bersamaan;
c. Pencampuran harus berlangsung terus sampai beton menunjukkan keseragaman konsistensi dan warnanya.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 11 d. Alat pencampur tidak boleh diisi melebihi kapasitasnya.
e. Alat pencampur harus disetel dengan teliti sehingga sumbu putar wadah pencampur berada dalam posisi horizontal.
f. Alat pencampur harus berputar pada kecepatan yang benar sebagaimana yang dinyatakan oleh pabrik pembuatnya;
g. Pada setiap akhir dari siklus pencampuran harus dilakukan pembersihan dari beton yang melekat pada pisau putar atau permukaan dalam wadah putar untuk mencegah beton melekat dan mengeras.
E. PENGANGKUTAN
Beton segar harus diangkut dari tempat pencampuran ke tempat penuangannya atau ke lokasi dimana konstruksi akan dibuat, maka pengangkutan harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya pemisahan atau kehilangan material serta keterlambatan yang akan menyebabkan hilangnya plastisitas sebelum beton segar dituangkan. Alat angkut yang digunakan, apapun jenisnya apakah manual atau dengan mesin harus mampu menyediakan beton segar di tempat pengecoran tetap memiliki sifat kemudahan pengerjaan, tanpa segregasi dan belum terjadi pengikatan.
Untuk pengangkutan dengan jarak cukup jauh atau untuk pengangkutan dalam kemacetan lalu lintas di perkotaan, biasanya memerlukan waktu tempuh cukup lama.
Untuk kondisi seperti itu sebaiknya menggunakan bahan tambahan (admixture) yang dapat menunda waktu pengikatan. Mengingat besarnya resiko kegagalan akibat kesalahan cara mengangkut beton segar, kiranya perlu diperhatikan cara mengangkut adukan beton dengan benar.
Pada saat pengangkutan juga perlu diperhatikan segregasi agar terhindar dari beton yang tak seragam. Adukan beton yang dibuat dengan tangan maupun dengan mesin harus diangkut ke tempat penuangan sebelum semen mulai behidrasi (bereaksi dengan air). Selama pengangkutan harus selalu dijaga agar tidak ada bahan-bahan yang tumpah/keluar atau yang memisahkan diri dari campuran. Cara pengangkutan adukan beton ini tergantung jumlah adukan yang dibuat dan keadaan tempat penuangan. Pengangkutan adukan beton dapat dilakukan menempatkan di dalam ember, gerobak dorong, truk aduk beton, ban berjalan atau pompa. Umumnya pengadukan beton dilakukan di dekat lokasi penuangan, dan pengangkutan dengan ember atau gerobak cukup memuaskan.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 12 Bila tempat pengadukan beton cukup jauh dari tempat penuangannya, pengangkutan dilakukan dengan truk beton. Pengangkutan dengan pompa dilakukan bila antara tempat pengadukan beton dan tempat penuangan cukup ramai sehingga tidak dapat dilakukan dengan ember atau gerobak. Pengangkutan dengan ban berjalan dipilih bika pengangkutan berlangsung secara terus menerus dan ditujukan ke tempat yang lebih tinggi. Menurut SNI – 03 – 2847 – 2002 pengangkutan adukan meliputi :
a. Beton harus diantarkan dari tempat pencampuran ke lokasi pengecoran dengan cara yang dapat mencegah terjadinya pemisahan (segresi) atau hilangnya bahan.
b. Peralatan pengantar harus mampu menghantarkan beton ke tempat pengecoran tanpa pemisahan bahan dan tanpa sela yang dapat mengakibatkan hilangnya plastisitas campuran.
Untuk menghindari panas yang tinggi dan penguapan pada siang hari maka pengangkutan dapat dilaksanakan pada malam hari. Pengangkutan akan sangat berpengaruh jika antara letak proyek dengan lokasi pembuatan campuran beton berjauhan. Masalah yang akan timbul saat kondisi tersebut adalah :
Segregasi, pemisahan agregat diameter besar dari diameter yang lebih halus
Berkurangnya air karena penguapan atau kebocoran
Pemadatan karena pengangkutan terlalu lama
Alat angkut disesuaikan dengan jenis beton :
a. Beton yang dipompa adalah beton yang memenuhi persyaratan beton pompa b. Beton pavement dan beton dengan permukan tekstur estetika tidak dapat
dipompa
c. Beton dengan slump rendah tidak dapat diangkut dengan bucket, karena akan melekat pada dinding
d. Beton mengalir tidak dapat diangkut dengan bucket, karena air dan pasta akan bocor
e. Penggunaan kereta dorong terbuka harus dihindari bila cuaca panas.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 13 Macam-macam alat angkut :
a. Gerobak dorong
b. Ember
ember alumunium ember plastik c. Talang (kemiringan min. 1 : 3 dan maks. 1 : 2 )
d. Pompa
e. Bucket dan tower crane
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 14 f. Truck Mixer
Truk mixer atau biasa juga disebut dengan truk molen memiliki beragam jenis dengan fungsi sama, yaitu mengangkut beton dari batching plant ke lokasi kontruksi sambil menjaga konsistensi beton agar tetap cair dan tidak mengeras dalam perjalanan. Truk jenis ini adalah Alat transportasi khusus untuk beton cor curah siap pakai (Ready mix concrete) yang digunakan dalam sebuah proyek besar.
Didalam Truk Molen diisi dengan bahan material kering dan air yang proses pengadukan (pencampuran) bahan material tersebut terjadi selama waktu transportasi ke lokasi pengecoran. Untuk mempertahankan stabilitas kekentalan Beton cor yang berada di dalam truk mixer ini melalui proses agitasi atau memutar drum (Tangki yang berada diatas truk mixer) yang bagian dalam drum tersebut dilengkapi dengan spiral pisau satu arah rotasi putaran, sebagai pengaduk material beton cor selama waktu transportasi ke lokasi pengecoran. Jika Truk Mixer Pengangkut Beton Cor atau Truk Molen tidak bisa menjangkau area pengecoran, beton cor dapat disalurkan melalui pipa pompa beton (concrete pump) yang dapat diperpanjang beberapa meter (biasanya sepuluh meter atau lebih). Dengan mesin pompa ini proses pemindahan beton cor ke area pengecoran menjadi cepat dan tepat.
Truk Mixer Pengangkut Beton Cor atau Truk Molen umumnya tidak melakukan perjalanan lebih dari 2 jam. Banyak kontraktor mengharuskan Truk mixer berada di lokasi pengecoran dalam waktu 90 menit setelah pemuatan material yang
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 15 dimaksudkan untuk menghindari beton cor di dalam truk mengeras. Umumnya truk mixer pengangkut beton cor atau truk molen mempunyai kecepatan jalan yang terbatas, yaitu antara 56 mil per/h ( 90 km/jam).
Jenis truk mixer:
- Truk mixer mini, mini memiliki volume muat cor beton per satu kali jalan 3 m³.
Tipe truk ini lebih fleksibel untuk semua medan jalan, sempit ataupun menanjak
- Truk mixer Standar, digunakan untuk mengangkut beton cor dari Pabrik Beton (Batching Plant) ke lokasi pengecoran dengan daya angkut per truknya untuk satu kali jalan 7 m³. Memuat lebih banyak 4 m³ dari tipe Truk Mini. Kekurangan dari truk ini tidak bisa mengakses jalan sempit dan menanjak.
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 16 F. RANGKUMAN
Campuran beton direncanakan berdasarkan suatu asumsi bahwa sifat-sifat beton setelah mengeras sangat bergantung pada sifat-sifat komposisi campurannya.
Semua material termasuk bahan additive yang akan diaduk ditimbang terlebih dahulu sesuai job mix dengan memperhitungkan kadar air dalam agregat kasar ataupun agregat halus
Campuran beton segar dapat dikatakan mempunyai sifat yang baik bila memenuhi persyaratan utama campuran yaitu mampu memberikan kemudahan pengerjaan (workability), yaitu bila campuran tersebut tetap bertahan seragam ketika berlangsung proses pengangkutan, pengecoran dan pemadatan.
Beton yang mempunyai kekuatan fc’ > 20 MPa proporsi penakarannya harus didasarkan atas penakaran berat. Penakaran berdasarkan volume boleh dilakukan untuk produksi beton dengan mutu fc’ < 20 MPa dengan teknik mengkonversikan takaran berat ke takaran volume.
Batching plant merupakan alat yang berfungsi untuk mencampur atau memproduksi beton siap pakai dalam skala besar.
Beton segar harus diangkut dari tempat pencampuran ke tempat penuangannya atau ke lokasi dimana konstruksi akan dibuat, maka pengangkutan harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya pemisahan atau kehilangan material serta keterlambatan yang akan menyebabkan hilangnya plastisitas sebelum beton segar dituangkan.
G. LATIHAN
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jelas dan tepat!
1. Sebutkan peralatan pencampur beton!
2. Jelaskan system kerja truk mixer!
3. Sebutkan metoda penakaran yang digunakan dalam pekerjaan beton dan jelaskan !
4. Apa tujuan pengadukan campuran beton dan sebutkan metoda pengadukan beton tersebut!
5. Apa pengaruh waktu pengadukan terhadap campuran beton, dan berapa wakti pengadukan yang sarankan?
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 17
BAB 3 PENUTUP
A.
EVALUASI KEGIATAN BELAJARDalam evaluasi kegiatan belajar, perlu dilakukan evaluasi kegiatan kediklatan, yaitu evaluasi hasil pembelajaran modul ini dan isi materi pokok tersebut kepada para peserta, pengajar maupun pengamat materi atau Narasumber, berupa soal/kuisioner tertulis :
1. Untuk evaluasi bagi peserta, maka pengajar/widyaiswara melakukan evaluasi berupa orientasi proses belajar dan tanya jawab maupun diskusi perorangan/kelompok dan/atau membuat pertanyaan ujian yang terkait dengan isi dari materi modul tersebut.
2. Untuk evaluasi untuk pengajar/widyaiswara diakukan oleh para peserta dengan melakukan penilaian yang terkait penyajian, penyampaian materi, kerapihan pakaian, kedisiplinan, penguasaan materi, metoda pengajaran, ketepatan waktu dan penjelasan dalam menjawab pertanyaan, dan lain-lain.
3. Demikian juga untuk evaluasi penyelenggaraan Diklat, yaitu peserta dan pengajar/widyaiswara akan mengevaluasi Panitia/Penyelenggara Diklat terkait dengan penyiapan perlengkapan diklat, sarana dan prasarana untuk belajar, fasilitas penginapan, makanan dll.
4. Evaluasi materi dan bahan tayang yang disampaikan pengajar kepada peserta, dilakukan oleh peserta, pengajar/widyaiswara maupun pengamat materi/Narasumber untuk pengkayaan materi.
B.
UMPAN BALIK DAN TINGKAT LANJUTSetelah dari perencanaan diketahui proporsi setiap bahan untuk campuran beton, kemudian beton tersebut akan diproduksi di batching plant berdasarkan penakaran yang sudah ditentukan. Selanjutnya pengangkutan beton segar harus diangkut dari tempat pencampuran ke tempat penuangannya atau ke lokasi dimana konstruksi akan dibuat, maka pengangkutan harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya pemisahan atau kehilangan material serta keterlambatan yang akan menyebabkan hilangnya plastisitas sebelum beton segar dituangkan. Tahapan selanjutnya adalah bagaimana campuran beton tersebut digunakan dalam konstruksi perkerasan kaku
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 18
C.
KUNCI JAWABAN1. Sebutkan peralatan pencampur beton!
Batching Plant digunakan dalam produksi beton skala besar agar kualitas, kinerja dan kontinyuitas produksi dapat dijaga dengan baik sesuai standar yang ditetapkan. Terdapat dua tipe system pencampuran di batching plant yaitu tipe dry mix dan wet mixed
Bagian-bagian penting dari batching plant adalah sebagai berikut: (Lihat Gambar 2)
Cement silo, berfungsi untuk penyimpanan semen atau fly ash dan menjaganya agar tetap baik.
Belt conveyor, berfungsi untuk menarik material (agregat kasar dan halus) ke atas dari bin ke storage bin.
Bin, berfungsi sebagai tempat pengumpulan bahan (agregat kasar dan halus) yang berasal dari penumpukan bahan di base camp dengan bantuan loader untuk ditarik ke atas (storage bin).
Storage bin digunakan untuk pemisah fraksi agregat. Storage bin dibagi menjadi 4 (empat) fraksi yaitu agregat butir kasar (split), butir menengah (screening), butir halus (pasir).
Timbangan pada alat batching plant dibagi menjadi 4 (empat) macam yaitu untuk agregat, semen, fly ash dan air.
Dosage pump digunakan untuk penambahan bahan admixture seperti retarder, superplasticizer dan lain-lain.
Tempat penampungan air yang berfungsi sebagai suplai kebutuhan air pada ready mix.
Concrete mixer truck atau truk mixer adalah suatu kendaraan truk khusus yang dilengkapi dengan concrete mixer yang berfungsi mengaduk atau mencampur campuran beton (berfungsi sama seperti alat molen).
2. Jelaskan system kerja truk mixer!
Dalam drum terdapat bilah-bilah baja, ketika dalam perjalanan menuju lokasi proyek, drum ini berputar perlahan-lahan berlawanan dengan putaran jarum jam sehingga adukan mengarah ke dalam. Perputaran di dalam ini bertujuan agar tidak terjadi segregasi sehingga adukan tetap homogen. Dengan demikian mutu beton akan tetap terjaga sesuai dengan perencanaan
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 19 3. Sebutkan metoda penakaran yang digunakan dalam pekerjaan beton dan
jelaskan !
Penakaran bahan baku pada pekerjaan beton dapat dilakukan secara konvensional maupun masinal. Penakaran yang baik akan menghasilkan kualitas beton yang seragam di keseluruhan volume pekerjaan. Penakaran bahan-bahan campuran beton yang dihasilkan dari hasil rancangan campuran dapat dilakukan berdasarkan penakaran berat atau berdasarkan penakaran volume.
untuk beton yang mempunyai kekuatan fc’ 20 MPa proporsi penakarannya harus didasarkan atas penakaran berat. Penakaran berdasarkan volume boleh dilakukan untuk produksi beton dengan mutu fc’ < 20 MPa dengan teknik mengkonversikan takaran berat ke takaran volume
4. Apa tujuan pengadukan campuran beton dan sebutkan metoda pengadukan beton tersebut!
tujuan pengadukan bahan-bahan beton adalah menghasilkan adukan beton segar yang plastis dengan indikasi merata secara visual, konsistensinya cukup, dan homogen.
Metode pengadukan dapat dibedakan atas metode manual dan metode dengan masinal. Pengadukan manual dilakukan dengan tangan, sedangkan pengadukan masinal dengan memanfaatkan bantuan alat aduk seperti pengaduk beton (concrete mixer) atau batching plant
5. Apa pengaruh waktu pengadukan terhadap campuran beton, dan berapa wakti pengadukan yang sarankan?
Mutu beton hasil pengadukan juga dipengaruhi oleh waktu pencampuran (mixing time). Waktu pencampuran yang terlalu sebentar akan menyebabkan pencampuran bahan kurang merata sehingga pengikatan antar bahan menjadi berkurang. Sebaliknya, pengadukan yang terlalu lama akan menyebabkan naiknya suhu beton, keausan pada agregat, kehilangan sebagian air, perubahan nilai slump, yang pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap kekuatan.
Umumnya waktu pengadukan antara 1 – 1 ½ menit dianggap memadai. Pada beberapa tempat pengaduk yang kecepatan putarnya lebih tinggi, waktu 35 detik sudah cukup untuk hampir semua jenis beton
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 20
DAFTAR PUSTAKA
1. Young, J., Mindess, S., “Concrete”, Prentice-Hall, Inc., 1981
2. Delatte, Norbert, “Concrete Pavement Design, Construction and Performance”, New York, 2008
Diklat Perkerasan Kaku - 2017 21
GLOSARIUM
batching plant
alat yang berfungsi untuk mencampur atau memproduksi beton siap pakai dalam skala besar agar kualitas, kinerja dan kontinyuitas produksi dapat dijaga dengan baik sesuai standar yang ditetapkan
tipe dry mix
hanya berfungsi untuk menimbang material dan bahan lainnya setelah semua material di timbang (sesuai mutu yg di inginkan) material akan di aduk di dlm TRUCK MIXER (mobil molen),sampai mencapai target SLUMP yg di inginkan
Tipe wet mixed
setelah semua material di timbang (sesuai mutu yg di inginkan) material akan di aduk dlm PAN MIXER (tempat pengadukan) sampai mencapai SLUMP (tingkat keenceran/kekentalan yg di harapkan) dan akan di turunkan ke dlm TRUCK MIXER (mobil molen) dan siap di kirim ke lokasi pengecoran
Dump Truk
kendaraan untuk mengangkut material agregat kasar dan halus dari quarry menuju batching plant
Wheel Loader
alat yang digunakan untuk mengangkat material yang akan dimuat kedalamdumptruck atau memindahkan material ke tempat lain
Cement truck
kendaraan pengangkutan semen curah atau fly ash ke base camp Concrete mixer Truck
kendaraan truk khusus yang dilengkapi dengan concrete mixer yang berfungsi mengaduk atau mencampur campuran beton (berfungsi sama seperti alat molen)