• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Kota Serang, Agustus Walikota Serang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Kota Serang, Agustus Walikota Serang"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, pada akhirnya kami dapat menyusun Rencana Induk Kelitbangan Daerah (RIKDA) Kota Serang 2019-2023.

Dokumen RIKDA merupakan kerangka kebijakan kelitbangan pemerintah dalam negeri dan pemerintah daerah yang mengakomodir berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan dalam suatu konsep rencana kelitbangan secara komprehensif dan sinergis.

Hal ini sesuai dengan perubahan kelembagaan Kota Serang menurut PP No. 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah terutama Pasal 46 ayat (3) PP No. 18 Tahun 2016 bahwa “Badan Daerah Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas membantu bupati/wali kota dalam melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah Kabupaten/kota”. Pada ayat (5) disebutkan bahwa “Unsur penunjang Urusan Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a) perencanaan, b) keuangan, c) kepegawaian serta pendidikan dan pelatihan, d) penelitian dan pengembangan, dan e) fungsi penunjang lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Penyusunan RIKDA Kota Serang merupakan amanat Permendagri No. 17 Tahun 2016 tentang Pedoman Penelitian dan Pengembangan di Kementrian Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah. Khusus untuk kelembagaan litbang yang merupakan bagian dari Bappeda (Bidang Litbang) maka penyusunan outline RIKDA mengacu pada Permendagri No. 5 Tahun 2017 tentang Pedoman Nomenklatur Perangkat Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota Yang Melaksanakan Fungsi Penunjang Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan.

RIKDA Kota Serang Tahun 2019-2023 ini diharapkan tidak hanya memiliki fungsi strategis terkait penyelenggaraan Kelitbangan dalam menghasilkan berbagai rekomendasi kebijakan lingkup Pemerintah Kota Serang, namun juga diharapkan mampu memfasilitasi Inovasi Daerah, serta melakukan koordinasi, sinkronisasi, harmonisasi dan sinergi pelaksanaan Kelitbangan/Inovasi Daerah.

Kami menyadari bahwa dokumen ini tidak mungkin memenuhi harapan semua pihak, namun kami yakin bahwa dengan koordinasi yang memadai maka penyelenggaran kelitbangan di Serang akan dapat terlaksana dengan baik, yang selanjutnya akan berimplikasi pada meningkatnya kinerja pemerintah daerah. Atas nama pimpinan Kota Serang, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan dokumen RIKDA ini.

Kota Serang, Agustus 2018

Walikota Serang

(3)

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... ii

Daftar Tabel ... iv

Daftar Gambar ... v

Lampiran ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Dasar Hukum ... 6

1.3. Tujuan dan Sasaran ... 9

1.4. Sistematika Penulisan ... 9

BAB II GAMBARAN UMUM KELITBANGAN ... 10

2.1. Gambaran Umum Wilayah ... 10

2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah ... 10

2.1.2. Program Prioritas Pembangunan Daerah ... 13

2.2. Kondisi Sumber Daya Kelitbangan ... 24

2.2.1. Kelembagaan ... 24

2.2.2. Sumber Daya Manusia Kelitbangan... 25

2.2.3. Pendanaan Kelitbangan ... 26

2.2.4. Kerjasama Kelitbangan ... 26

2.3. Potensi dan Permasalahan ... 26

2.3.1. Identifikasi Potensi Kelitbangan ... 26

2.3.2. Identifikasi Permasalahan Kelitbangan... 27

2.4. Peluang dan Tantangan ... 28

2.4.1. Peluang ... 28

2.4.2. Tantangan ... 29

BAB III ARAH KEBIJAKAN KELITBANGAN ... 30

3.1. Arah Kebijakan Pembangunan Daerah ... 30

3.1.1. Arah Kebijakan dan Strategi Jangka Panjang Pembangunan Daerah ... 30

3.1.2. Arah Kebijakan dan Strategi Jangka Menengah Pembangunan Daerah ... 31

3.2. Arah Kebijakan dan Strategi Kelitbangan Daerah ... 33

3.2.1. Arah Kebijakan ... 33

3.2.2. Strategi ... 33

(4)

iii

3.3. Program Indikatif Kelitbangan Kota Serang ... 34

BAB IV STRATEGI PELAKSANAAN RIKDA ... 52

4.1. Kelembagaan ... 52

4.2. Evaluasi Pelaksanaan ... 70

BAB V PENUTUP ... 71

5.1. Kesimpulan ... 71

5.2. Rekomendasi ... 71

Daftar Pustaka ... 74

Lampiran ... 75

(5)

iv

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman

Tabel 2.1. Luas Wilayah Kota Serang Berdasarkan Kecamatan 11 Tabel 3.1. Program/Kegiatan Indikatif Sosial Pemerintahan 35 Tabel 3.2 Program/Kegiatan Indikatif Ekonomi Pembangunan 43 Tabel 3.3. Program/Kegiatan Indikatif Inovasi dan Pengembangan

IPTEK

49

Tabel 4.1. Uraian Tugas Tim Pengendali Mutu (TPM) 54

Tabel 4.2. Uraian Tugas Unsur Pelaksana 58

Tabel 4.3. Uraian Tugas Unsur Penunjang 62

(6)

v

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Gambar Halaman

Gambar 1.1. Keterkaitan RPJMD dengan RIKDA 5

Gambar 4.1. Alur Mekanisme Usulan Kajian 25

(7)

vi

LAMPIRAN

Nomor Judul Gambar Halaman

Lampiran 1 Standar Biaya Penelitian 75

Lampiran 2 Standard Operating Procedure Rancangan Induk Kelitbangan Daerah (RIKDA)

79

(8)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan daerah merupakan bagian dari upaya pembangunan berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Seiring dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, maka lahirlah paradigma baru perencanaan pembangunan yang lebih memberikan keleluasaan dan kewenangan kepada daerah untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan daerah sesuai dengan tantangan, kebutuhan, potensi, karakteristik wilayah, dan aspirasi publik guna meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Salah satu simpul penting yang mampu mendukung perencanaan daerah yang baik adalah kedudukan dan peran lembaga litbang dalam menghasilkan temuan-temuan penting yang selanjutnya dijadikan sebagai bahan rekomendasi kebijakan daerah.

Di dalam Pasal 219 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 diamanatkan bahwa fungsi penelitian dan pengembangan menjadi salah satu fungsi penunjang dalam pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 46 ayat (3) PP No. 18 Tahun 2016 bahwa “Badan Daerah Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas membantu bupati/wali kota dalam melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah Kabupaten/kota”. Selanjutnya pada ayat (5) disebutkan bahwa “Unsur penunjang Urusan Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a) perencanaan, b) keuangan, c) kepegawaian serta

(9)

2 pendidikan dan pelatihan, d) penelitian dan pengembangan, dan e) fungsi penunjang lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Fungsi kelitbangan diperlukan untuk menjawab tantangan dan dinamika dalam penyelenggaraan pemerintahan guna mendukung peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. Peran kelitbangan diharapkan mampu menghasilkan berbagai terobosan baru dalam mendukung optimalisasi kinerja pemerintah daerah dalam rangka percepatan pembangunan daerah secara tepat sasaran dan berdaya saing.

Terminologi penelitian ini sering dipertukarkan penggunaannya dengan kajian, dalam arti dianggap memiliki makna yang sama atau hampir sama. Dalam dokumen ini istilah yang digunakan dalam RIKDA adalah penelitian dan pengembangan, yang bertujuan untuk menghasilkan rekomendasi yang selanjutnya menjadi dasar bagi perumusan kebijakan, menunjang implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan daerah.

Penyelenggaraan pemerintahan daerah menuntut hadirnya kebijakan berbasis bukti empiris yang dapat dipertanggungjawabkan (evidence based policy) dan penggunaan konsep ilmu pengetahuan. Bukti ilmiah berupa data dan informasi dapat digunakan dalam pengambilan keputusan baik pada level perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi. Oleh sebab itu, dibutuhkan data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan agar perencanaan pembangunan yang dilaksanakan menjadi lebih efisien, optimal dan tepat sasaran. Salah satu sumber data dan informasi yang akurat dan faktual adalah melalui kegiatan penelitian dan pengembangan.

Penelitian adalah upaya menemukan kebenaran ilmiah dengan cara memeriksa, menyelidiki, menguji, dan menelaah obyek penelitian berdasarkan metodologi tertentu.

Dalam perjalanannya, dinamika dan kompleksitas tantangan kelitbangan daerah mengalami berbagai pergeseran yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi dukungan SDM (peneliti atau ASN yang ditugaskan sebagai ‘peneliti’), dukungan sarana prasarana, dukungan alokasi anggaran yang memadai, dan seterusnya. Adapun faktor eksternal meliputi kebijakan kelitbangan, teknologi penelitian, lembaga sejenis dan sebagainya.

Menurut Lakitan (2012), kelemahan lembaga litbang pemerintah—termasuk pemerintah daerah—selama ini meliputi: 1) lemahnya kemampuan menjalin hubungan

(10)

3 kemitraan, sumber pembiayan dan informasi kebutuhan teknologi (sourcing capacity);

2) lemahnya kemampuan melaksanakan riset dan pengembangan teknologi (R&D capacity), dan; 3) lemahnya kemampuan untuk menyebarluaskan hasil riset dan memasarkan teknologi yang dihasilkan (disseminating capacity). Kritik senada juga tertuang dalam dokumen Kemenristek (2011), yang menyatakan keterbatasan lembaga litbang/kajian saat ini, oleh karenanya penguatan kapasitas perlu ditujukan bagi ketiga kelemahan dimaksud.

Dalam lampiran Permendagri No. 17 Tahun 2016 disebutkan bahwa Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten/Kota atau lembaga dengan sebutan lainnya memiliki tugas untuk menyusun Rencana Induk Kelitbangan (RIKDA) Kabupaten/Kota.

RIKDA ini merupakan kerangka kebijakan kelitbangan pemerintah dalam negeri dan pemerintah daerah yang mengakomodir berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan dalam suatu konsep rencana kelitbangan secara komprehensif dan sinergis. RIKDA merupakan dokumen arah kebijakan kelitbangan yang memuat strategi pentahapan dan rincian indikasi program di bidang kelitbangan yang akan dilaksanakan jangka menengah dalam kurun waktu 5 (lima) tahun.

Rencana Induk Kelitbangan Kota Serang ini ditetapkan oleh Walikota melalui Peraturan Walikota dan wajib dimasukkan menjadi bagian dari RPJMD (Permendagri No. 17 Tahun 2016 Pasal 10 ayat 3). Pada pelaksanaannya RIKDA Kabupaten/Kota melibatkan berbagai unsur, yaitu Pemerintah daerah; Instansi vertikal atau Unit Pelaksana Teknis (UPT) kementerian/lembaga di daerah; Perguruan tinggi; Lembaga Kelitbangan lainnya; el usaha; dan kelompok masyarakat. Pelaksanaan Rencana Induk Kelitbangan ini dikoordinasikan oleh Badan Litbang Provinsi dan Kabupaten/Kota atau lembaga dengan sebutan lainnya yang melaksanakan fungsi kelitbangan.

Oleh karena itu, dalam rangka menunjang pencapaian visi Kota Serang dan optimalisasi pelaksanaan misi tersebut, Penyusunan Rencana Induk Kelitbangan Kota Serang melibatkan seluruh unsur di Pemerintah Kota Serang, unsur perguruan tinggi, pakar/praktisi dan dunia usaha. RIKDA ini akan menunjang pelaksanaan urusan pemerintah daerah di Kota Serang dengan menjawab atau mencari solusi atas segala permasalahan dan tantangan pembangunan daerah serta menghasilkan inovasi baru

(11)

4 dalam mendukung kinerja Pemerintah Kota Serang dalam rangka percepatan pembangunan daerah

Visi Kota Serang 2019 – 2023 adalah “MENUJU KOTA SERANG MADANI MELALUI PEMBANGUNAN KOTA PERADABAN YANG BERDAYA DAN BERBUDAYA”.

Pemerintah Kota Serang memiliki misi dalam mencapai visi tersebut, yaitu: 1) Menguatkan peradaban yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan. 2). Pemberdayaan masyarakat yang diperkuat melalui semangat gotong royong, inovatif dan kreatif. 3) Meningkatkan sarana prasarana daerah. 4). Peningkatan tata kelola yang berfokus pada reformasi birokrasi

Mencermati Arah Kebijakan dan Program Pembangunan Daerah Tahun 2019- 2023, Bidang Litbang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang memiliki peran strategis untuk mendukung pencapaian Prioritas Pembangun yang ada di Kota Serang. Berkenaan dengan penjabaran terhadap Arah Kebijakan dan Program Pembangunan Daerah Tahun 2019-2023 yang menjadi penugasan kepada Balitbangda, telah diterjemahkan lebih lanjut ke dalam Rencana Induk Kelitbangan (RIKDA) yang memuat Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis, serta Arah Kebijakan dan Program Jangka Menengah Balitbangda Tahun 2019-2023.

Rencana Induk Kelitbangan Kota Serang Tahun 2019-2023 dimaksudkan tidak hanya memiliki fungsi strategis terkait penyelenggaraan Kelitbangan dalam menghasilkan berbagai rekomendasi kebijakan lingkup Pemerintah Kota Serang, namun juga diharapkan mampu memfasilitasi inovasi daerah, serta melakukan koordinasi, sinkronisasi, harmonisasi dan sinergi pelaksanaan Kelitbangan/Inovasi Daerah. Selanjutnya, Rencana Induk Kelitbangan Kota Serang Tahun 2019-2023 disusun sebagai komitmen Perencanaan Jangka Menengah, yang menjabarkan secara sistematis dan komprehensif tugas dan fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ke dalam Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis, serta Arah Kebijakan dan Program dalam periode 5 (Lima) Tahun ke depan. Rencana Induk Kelitbangan Kota Serang ini menjadi pedoman dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan Kelitbangan/Inovasi Daerah di Lingkungan Kota Serang dalam kurun waktu Tahun 2019-2023.

(12)

5 Gambaran Umum Keterkaitan Antara Rencana Induk Kelitbangan Dengan RPJMD dapat dilihat pada Gambar 1.1 di bawah ini.

Gambar 1.1. Keterkaitan RPJMD dengan RIKDA

Sumber: BAPPEDA 2018 dan Permendagri 17 Tahun 2016.

Mekanisme dalam penyusunan Rencana Induk Kelitbangan Kota Serang mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pedoman Penelitian dan Pengembangan di Kementrian Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah. Agenda Program Kelitbangan/Inovasi Daerah mempunyai keterkaitan dengan RPJMD Kota Serang karena merupakan satu kesatuan yang utuh dalam manajemen pembangunan di lingkungan Pemerintah Kota Serang, dimana dalam dokumen RIKDA

(13)

6 tersebut mengacu pada Visi, Misi dan Program Prioritas selama periode Tahun 2019- 2023.

Turunan Rencana Induk Kelitbangan tersebut kemudian dituangkan dalam Rencana Kerja (Renja) Tahunan yang lebih terfokus dan mudah diimplementasikan sesuai skala prioritas yang ditetapkan pada tahun tersebut. Bidang Fokus Kelitbangan yang akan dilakukan Pemerintah Kota Serang selama jangka waktu 4 (empat) tahun terdiri atas 3 (Tiga) Program Prioritas, yang meliputi: 1) Bidang Sosial dan Pemerintahan, 2) Bidang Ekonomi dan Pembangunan, dan 3) Bidang Inovasi dan Teknologi (Permendagri No. 5 Tahun 2017).

Sebagai salah satu upaya mengurangi keterbatasan dan kelemahan khususnya dalam pelaksanaan kelitbangan tersebut, Bidang Litbang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Serang memandang perlu untuk menerbitkan Rencana Induk Kelitbangan Kota Serang periode 2019-2023. Melalui upaya ini diharapkan hasil kelitbangan Kota Serang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholders) di lingkup Kota Serang.

1.2. Dasar Hukum

Dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Kelitbangan Kota Serang adalah sebagai berikut:

a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);

c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219);

(14)

7 d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

e. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

f. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

g. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

h. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Serang di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4748);

i. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

j. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- Undangan

k. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

l. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran

(15)

8 Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

m. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor5601);

n. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578)

o. Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25);

p. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Kepala Daerah kepada DPRD, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4693);

q. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pedoman Penelitian dan Pengembangan di Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah ;

r. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pedoman Nomenklatur Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang Melaksanakan Fungsi Penunjang Penyelenggaraa Urusan Pemerintahan;

s. Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Serang Tahun 2008-2025 (Lembaran Daerah Kota Serang Tahun 2009 Nomor 2);

t. Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Serang tahun 2010-2030 (Lembaran Daerah Kota Serang Tahun 2011 Nomor 6);

u. Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 8 tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka

(16)

9 Menengah Daerah Kota Serang Tahun 2014-2018 (Lembaran Daerah Kota Serang Tahun 2016 Nomor 1);

v. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah

w. Peraturan Walikota Serang Nomor 29 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, serta Tata Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

1.3. Tujuan dan Sasaran

Tujuan RIKDA adalah untuk memberikan masukan dalam penyusunan dokumen perencanaan jangka menengah (RPJMD), sehingga mampu mengakomodir kebutuhan program Kelitbangan dalam lingkup Pemerintahan Daerah agar pelaksanaan kegiatan kelitbangan di Kota Serang lebih terkoordinasi baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasinya. Selanjutnya RIKDA ini akan dijadikan sebagai payung dan panduan bagi rencana dan pelaksanaan penelitian, pengkajian, dan pengembangan di lingkungan Pemerintah Kota Serang. RIKDA juga dimaksudkan untuk merumuskan suatu arahan kebijakan kelitbangan Kota Serang dan arahan pengembangan kapasitas kelembagaan kelitbangan Kota Serang di masa mendatang.

Adapun sasaran RIKDA adalah untuk: 1) Untuk memberikan arah pelaksanaan program kelitbangan Pemerintah Kota Serang guna peningkatan kualitas kebijakan/regulasi berbasis kelitbangan, 2) Teridentifikasinya topik dan tema kegiatan kelitbangan yang mampu mendukung program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Serang, 3) Teridentifikasinya tahapan kegiatan dan mekanisme oleh SKPD yang ada, 4) Tersusunnya Standar Biaya Litbang Kota Serang; dan 5) Terumuskannya arahan pengembangan kapasitas kelitbangan Kota Serang di masa yang akan datang.

1.4. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dokumen RIKDA terdiri dari 5 Bab, yakni Bab I Pendahuluan, Bab II Gambaran Umum Kelitbangan, Bab III Arah Kebijakan Kelitbangan, Bab IV Strategi Pelaksanaan, dan Bab V Penutup.

(17)

10

BAB II

GAMBARAN UMUM KELITBANGAN

2.1. Gambaran Umum Wilayah

Bagian ini memuat gambaran dan hasil analisis terhadap kondisi geografis dan wilayah Kota Serang yang mencakup luas wilayah menurut batas administrasi pemerintahan kota, karakteristik dan potensi pengembangan wilayah, kerentanan wilayah terhadap bencana, serta beberapa data/ informasi lainnya.

2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah

Kota Serang merupakan daerah otonom yang terbentuk dari pemekaran Kota Serang pada tanggal 10 Agustus 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Serang. Berdasarkan penjelasan undang-undang tersebut dijelaskan bahwa Kota Serang memiliki luas wilayah keseluruhan ± 266,71km2. Sedangkan hasil inventarisasi luas wilayah di 6 (enam) kecamatan secara faktual luas wilayah Kota Serang seluruhnya mencapai 266,74 km2 atau sekitar 3,08% dari luas wilayah Provinsi Banten. Kecamatan Kasemen merupakan kecamatan dengan wilayah terluas yaitu sekitar 63,36 km2atau sekitar 23,75% dari luas wilayah Kota Serang. Sementara kecamatan dengan luas wilayah paling kecil adalah Kecamatan Serang yang hanya sekitar 9,7% dari luas wilayah Kota Serang, atau sekitar 25,88 km2. Tabel berikut ini memberikan gambaran tentang rincian jumlah wilayah serta persentase luas wilayah masing-masing kecamatan tersebut.

(18)

11 Tabel 2.1

Luas Wilayah Kota Serang Berdasarkan Kecamatan

No Kecamatan Luas (km2) %

1 Curug 49,6 18,59

2 Walantaka 48,48 18,18

3 Cipocok Jaya 31,54 11,82

4 Serang 25,88 9,70

5 Taktakan 47,88 17,95

6 Kasemen 63,36 23,75

266,74 100,00

Sumber: BPS Kota Serang, 2014

Sesuai dengan pasal 5 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007, Kota Serang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

1) Sebelah Utara berbatasan dengan Teluk Banten, yang terletak di Kelurahan Banten dan Kelurahan Sawah Luhur;

2) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pontang di Kelurahan Sawah Luhur, Kecamatan Ciruas, dan Kecamatan Kragilan Kota Serang;

3) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Cikeusal, Kecamatan Petir, Kecamatan Baros Kota Serang; dan

4) Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Pabuaran, Kecamatan Waringin Kurung, Kecamatan Kramat Watu Kota Serang.

Saat ini, Kota Serang terdiri dari 6 kecamatan, 46 desa dan 21 kelurahan.

Perkembangan kota yang cukup pesat serta tuntutan pelayanan publik yang lebih baik mendorong perubahan status 16 (enam belas) desa menjadi kelurahan pada tahun 2011 melalui Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 10 Tahun 2011, sehingga jumlah kelurahan bertambah menjadi 36 (tiga puluh enam) kelurahan dan 30 (tiga puluh) desa. Pada tahun 2012 dilakukan kembali perubahan status 15 (lima belas) desa menjadi kelurahan melalui Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2012, sehingga jumlah kelurahan bertambah menjadi 51 (lima puluh satu) kelurahan dan 15 (lima belas) desa.

(19)

12 Selanjutnya setahun kemudian, kelima belas desa yang tersisa juga mengalami perubahan status menjadi kelurahan melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2013 sehingga sejak saat itu jumlah kelurahan di Kota Serang hingga kini adalah sebanyak 66 (enam puluh enam) kelurahan.

Posisi Kota Serang secara astronomis terletak pada koordinat 599’ - 622’

Lintang Selatan dan 10607’ - 10625’ Bujur Timur. Posisi ini apabila diukur dengan menggunakan koordinat sistem Universal Transfer Mercator (UTM) Zone 48E, maka wilayah Kota Serang melintang sepanjang 20.600 m dari koordinat 618.000m di ujung Baratnya hingga 638.600 m di ujung batas wilayah di sebelah Timur; serta membujur sepanjang 25.250 m dari koordinat 9.337.725 m di ujung Utaranya sampai dengan 9.312.475 m di batas wilayah sebelah Selatan.

Sebagai Ibukota Provinsi Banten, Kota Serang memiliki posisi strategis untuk menunjang pertumbuhan perekonomian daerah karena didukung oleh infrastruktur perhubungan darat berupa bentangan Jalan Tol Jakarta-Merak dengan dua pintu keluar di bagian Timur dan Barat Kota Serang, serta posisinya yang berbatasan langsung dengan padatnya lalu lintas perdagangan internasional di Laut Jawa yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pengembangan perekonomian daerah di masa depan.

Geostrategis wilayah Kota Serang ini ditunjukkan dengan kedudukannya sebagai salah satu Pusat Kegiatan Nasional (PKN) menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional dan RTRW Provinsi Banten.

Disamping itu, kedudukan Kota Serang sebagai Ibukota Provinsi Banten menempatkannya sebagai wilayah yang tidak hanya memiliki posisi strategis dalam konteks lokal melainkan juga peran dan fungsinya yang strategis secara regional dalam mendukung peran dan fungsi Provinsi Banten baik dalam perspektif politik, ekonomi, sosial budaya, bahkan pertahanan dan keamanan.

Terkait dengan hal tersebut, wilayah Kota Serang memiliki 3 (tiga) kawasan strategis sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 6 Tahun 2011 tentang RTRW Kota Serang Tahun 2010–2030, yang ditetapkan dalam rangka memberikan arah pemanfaatan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna,

(20)

13 serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kota Serang. Adapun 3 kawasan strategis sebagaimana dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Kawasan Strategis Ekonomi, yang dipusatkan di 3 (tiga) titik pertumbuhan yaitu:

- Pelabuhan Karangantu sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara - Kawasan Pusat Perdagangan Kota

- Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) dan Kawasan Cepat Tumbuh Cipocok Jaya dan Curug

b. Kawasan Strategis Sosial dan Budaya yang berlokasi di kawasan situs sejarah dan purbakala Banten Lama

c. Kawasan Strategis Fungsi Daya Dukung Lingkungan yang terletak di Kawasan Cagar Alam Pulau Dua seluas ± 30 hektar.

Di samping ketiga kawasan tersebut, berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 2 Tahun 2011, Kota Serang juga memiliki kawasan strategis dari sudut pertahanan dan keamanan, yaitu kawasan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) Markas Grup I Korps Pasukan Khusus (KOPASUS) yang terletak di Kecamatan Taktakan Kota Serang, serta kawasan strategis provinsi yaitu: Kawasan Banten Water Front City di Kecamatan Kasemen, Kawasan Sport Centre di Kecamatan Curug, serta Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten di Kecamatan Curug.

2.1.2. Program Prioritas Pembangunan Daerah

Program Prioritas Pembangunan Kota Serang dapat di klasifikasikan pada dua aspek yaitu Aspek Sumber Daya dan Kelembagaan Pemerintah Daerah dan Aspek Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah.

a. Sumber Daya dan Kelembagaan Pemerintah Daerah

1. Kelembagaan Pemerintah Daerah yang Efektif dan Efisien

Seiring dengan dampak politik yang menguat sejak berlakunya Pemilukada langsung pada tahun 2005, maka kelembagaan pemerintah daerah seringkali disusun guna mengakomodasi kepentingan politik yang

(21)

14 tak terhindarkan. Akibatnya struktur organisasi membengkak di satu sisi, sementara minim fungsi di sisi lain. Dan hal ini tentu berkonsekuensi pada makin besarnya alokasi anggaran untuk memenuhi kebutuhan struktur organisasi yang gemuk tersebut. Dengan kata lain, terdapat gejala atau kecenderungan bahwa penyusunan kelembagaan Pemerintah Daerah belum mencerminkan kebutuhan riil dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan publik, serta mempertimbangkan kapasitas keuangan daerah yang muncul sebagai dampak dari pengaruh politik yang terlalu kental dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.

2. Sumber Daya Aparatur yang Profesional, Berkinerja Tinggi dan Sejahtera.

Kehadiran SDM aparatur yang berkualitas merupakan sebuah keniscayaan guna menampilkan kinerja terbaik pemerintah daerah pada satu sisi, dan di sisi lain berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Karenanya dibutuhkan upaya yang sistematis dan terus menerus untuk melakukan pembinaan terhadap SDM aparatur melalui penciptaan sistem seleksi yang obyektif, iklim kompetisi yang fair dan kondusif dalam promosi jabatan, disertai dengan mekanisme stimulasi yang efektif (rewards) dan mekanisme pemberian sanksi (punishment) yang tegas namun tetap mendidik dan manusiawi. Pengukuran kinerja yang rasional dan obyektif juga penting untuk dilakukan guna mengevaluasi kinerja individu dan kelembagaan dari waktu ke waktu sehingga diperoleh data yang memadai untuk pengambilan keputusan yang terkait dengan kebijakan kepegawaian daerah secara obyektif. Di sisi lain, kesejahteraan aparatur tampaknya perlu terus disesuaikan dengan tuntutan profesionalismenya, sehingga faktor kesejahteraan tidak lagi menjadi variabel yang berkontribusi terhadap tingginya distorsi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

(22)

15 3. Pengelolaan Keuangan Daerah yang Transparan dan Akuntabel.

Transparansi dan akuntabilitas merupakan dua kata kunci yang dibutuhkan dalam pengelolaan keuangan daerah yang akhir-akhir ini sangat menyita perhatian publik dewasa ini. Tindak pidana korupsi di pusat dan daerah yang banyak melibatkan aparatur dan pejabat pemerintah banyak berkaitan erat dengan persoalan transparansi dan akuntabilitas. Secara filosofis, pentingnya pengelolaan keuangan daerah yang transparan dan akuntabel ini menjadi keniscayaan mengingat bahwa keuangan daerah pada dasarnya bersumber dari pajak dan retribusi daerah yang dibayarkan oleh masyarakat, sehingga harusnya digunakan kembali oleh pemerintah selaku pemegang mandat untuk menggunakannya bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

b. Aspek Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah 1. Infrastruktur wilayah

Sebagai sebuah kota yang berusia sangat muda, maka kebutuhan akan infrastruktur wilayah guna memenuhi fungsi kota yang makin kompleks dan berkembang sangat dinamis menjadi permasalahan yang masih akan dihadapi pada kurun waktu lima tahun mendatang. Data pada tahun 2014 menunjukkan bahwa dari sektiar 208,16 km jalan di Kota Serang (termasuk jalan nasional dan provinsi) yang dalam keadaan baik baru mencapai sekitar 55,50%; 6,97% dalam keadaan rusak sedang, dan sekitar 0,70% dalam keadaan rusak berat. Kondisi drainase yang kurang berfungsi dengan baik merupakan penyebab utama kerusakan jalan di samping tonase angkutan barang yang seringkali tidak terkendali. Pasca puncak musim penghujan pada bulan Desember dan Januari diperkirakan persentase kerusakan jalan akan makin tinggi, dimana jalan yang dalam kondisi sedang diperkirakan akan menjadi rusak sedang, sementara jalan yang dalam keadaan rusak sedang berpotensi menjadi rusak berat. Di samping itu, kondisi jalan lingkungan juga patut mendapat perhatian

(23)

16 mengingat kondisinya yang secara umum masih memprihatinkan.

Inventarisasi jalan lingkungan, termasuk jalan poros desa dan kecamatan patut dilakukan sebagai basis data perencanaan di masa depan.

Karenanya, infrastruktur jalan masih akan menjadi perhatian penting untuk diatasi pada lima tahun mendatang, termasuk di dalamnya adalah upaya membangun prasarana penunjang yang memungkinkan terpeliharanya kualitas jalan tersebut.

Di samping itu, pembenahan terhadap terminal-terminal yang ada di Kota Serang juga relevan untuk menjadi prioritas mengingat kondisi terminal yang ada saat ini dinilai masih jauh dari kelayakan. Terminal tipe A di Pakupatan misalnya, tampaknya harus mendapat perhatian besar karena peran pentingnya sebagai terminal angkutan orang Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang menjadi pintu gerbang Kota sekaligus mencerminkan wajah dan karakter Kota Serang. Relokasi terminal Pakupatan bahkan juga relevan untuk direncanakan mengingat kapasitas terminal yang makin tidak lagi mampu menampung arus lalu lintas kendaraan transit yang makin meningkat dari tahun ke tahun. Data dinas terkait membuktikan bahwa rata-rata dalam lima tahun terakhir jumlah kendaraan AKAP yang masuk terminal Pakupatan mencapai 444 kendaraan per hari, belum termasuk kendaraan AKDP sebanyak 220 kendaraan, dan kendaraan angkutan kota yang mencapai 28 kendaraan.

Angka ini diperkirakan akan makin meningkat mengingat karakteristik wilayah Kota Serang dan sekitarnya yang menjadi kawasan permukiman bagi kaum urban commuter yang bekerja di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Dan antisipasi terhadap hal ini tampaknya harus mulai dilakukan pada waktu lima tahun mendatang.

2. Aksesibilitas dan Kualitas Layanan Pendidikan dan Kesehatan Meski jumlah sekolah pada seluruh jenjang pendidikan di Kota Serang telah cukup memadai, namun persoalan aksesibilitas layanan

(24)

17 pendidikan masih perlu mendapatkan perhatian serius mengingat fakta angka rata-rata lama sekolah di Kota Serang yang baru mencapai 8,9 tahun (2014) dengan APM khususnya pada jenjang SMA/SMK/sederajat yang baru mencapai 76,66% pada tahun 2014. Sementara bila dilihat dari Angka Partisipasi Sekolah menurut kelompok umur, masalah aksesibilitas pendidikan sangat tampak pada kelompok umur 16-18 tahun atau setara dengan jenjang pendidikan SMA/sederajat yang APS-nya pada tahun 2014 rata-rata hanya berkisar 76,66%. Namun demikian tidak berarti bahwa pada jenjang pendidikan dasar masalah aksesibilitas sudah tidak relevan mengingat bahwa APS pada jenjang SD dan SMP masih sangat rentan dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, sosial dan budaya masyarakatnya.

Berbeda dengan karakteristik daerah lainnya, aksesibilitas layanan pendidikan di Kota Serang lebih banyak disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi dibanding faktor fisiologis wilayah maupun infrastruktur. Namun demikian perhatian terhadap kondisi infrastruktur pendidikan masih tetap perlu diberikan mengingat fakta masih adanya sekitar 7,6% gedung SD dalam keadaan rusak baik ringan maupun rusak berat; 11,3% gedung SMP; dan sekitar 4,8% gedung SMA/SMK dalam keadaan rusak. Perhatian terhadap aksesibilitas ini juga terkait dengan upaya mengatasi angka putus sekolah yang rata-rata selama lima tahun terakhir mencapai 131 orang per tahun untuk jenjang pendidikan SMA/sederajat, 92 orang per tahun untuk jenjang pendidikan SMP/sederajat, dan 70 per tahun untuk jenjang SD/sederajat.

Terkait urusan pada jenjang pendidikan menengah atas, Pemerintah Kota perlu secara antisipatif mempersiapkan skenario pelimpahan urusan pendidikan menengah atas kepada Pemerintah Provinsi sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Skenario ini harus disusun dan dikoordinasikan bersama dengan pemerintah provinsi agar pada saat

(25)

18 keseluruhan urusan tersebut dilimpahkan, kualitas pelayanan publik pada urusan yang dilimpahkan tersebut tidak mengalami gangguan yang berarti. Di samping itu, skenario dimaksud diharapkan dapat meneruskan kebijakan dan perencanaan yang telah ada agar luaran pendidikan menengah atas di Kota Serang memiliki daya saing yang kompetitif sehingga dapat berkontribusi terhadpa upaya pemerintah kota dalam mengurangi angka pengangguran. Dalam kaitan dengan itu, upaya mengarahkan lulusan pendidikan menengah agar menjadi tenaga yang siap bersaing di pasaran kerja perlu juga mendapat perhatian meski perbandingan jumlah SMA dan SMK di Kota Serang sudah mendekati ideal, yakni 52,89% SMA dan 47,11% SMK. Artinya pada urusan pendidikan, kebijakan untuk memperluas layanan pendidikan kejuruan harus diperluas guna lebih mengefektifkan upaya menciptakan tenaga kerja yang siap kerja tersebut.

3. Kemiskinan dan Kesempatan Kerja

Kemiskinan tampaknya masih akan menjadi pekerjaan rumah yang harus dientaskan mengingat penetrasi perekonomian nasional dan regional yang berdampak pada berkurangnya daya beli masyarakat telah menyebabkan tekanan terhadap meningkatnya jumlah penduduk miskin.

Gambaran tentang hal ini dapat dengan jelas terlihat dari laju peningkatan garis kemiskinan yang cukup tinggi, dari sebesar Rp.185.597,- pada tahun 2009 meningkat menjadi Rp.236.039,- pada tahun 2013. Artinya, dengan asumsi kenaikan pendapatan pada kelompok penduduk tertentu yang hanya sebanding dengan tingkat inflasi yang mencapai 9,16% pada tahun 2013.

Masalah kemiskinan masih menjadi tema yang harus mendapatkan prioritas untuk dientaskan mengingat fakta-fakta di atas. Di masa depan kemiskinan bisa jadi akan menjadi masalah kota yang patologis sebagai dampak dari ketidakmampuan sebagian masyarakat yang mengandalkan

(26)

19 penghidupannya pada sektor agraris untuk beradaptasi dengan transformasi Kota Serang dari daerah agraris menjadi daerah yang benar- benar berciri kota dengan sektor perdagangan dan jasa sebagai mata pencaharian utama penduduknya. Karenanya, penanganan dan antisipasi terhadap masalah kemiskinan di masa depan harus dilakukan secara sistemik dan terpadu, dengan mengedepankan pendekatan lintas sektoral yang lebih komprehensif.

4. Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Isu Kelestarian Lingkungan Hidup dalam Pemanfaatan Potensi SDA

Makin kompleksnya kebutuhan dan dinamika masyarakat Kota di masa depan akan menghadapkan sejumah dilema dalam pemanfaatan ruang di Kota Serang, yaitu dilema antara kebutuhan untuk meningkatkan pendapatan daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah di satu sisi, dan kebutuhan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan hidup di sisi lainnya. Masalah ini telah banyak dialami oleh berbagai daerah di Indonesia di masa lalu, sehingga belajar dari pengalaman berbagai daerah tersebut tampaknya menjadi keniscayaan guna mengantisipasi masalah laten yang sama di masa depan.

Dalam konteks Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kota Serang berdekatan dengan rencana pengembangan Kawasan Strategis Nasional di Provinsi Banten sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional, yaitu Kawasan Strategis Nasional Selat Sunda.

Sementara dalam konteks Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Kota Serang memiliki peluang besar di masa depan untuk dapat memanfaatkan dampak ekonomi dari rencana pembangunan ekonomi Provinsi Banten yangditetapkan sebagai wilayah yang menempati Koridor II bersama dengan Jawa Barat, DKI Jakarta, Semarang, Jogja, dan Surabaya. Salah satu peran penting yang dapat diambil oleh Kota Serang adalah memberikan dukungan kepada

(27)

20 Provinsi Banten yang akan menjadi wilayah utama yang berfungsi menyatukan Koridor II dan Koridor I di Pulau Sumatera sehingga akan menimbulkan dampak ekonomi signifikan terhadap seluruh wilayah Banten, termasuk bagi Kota Serang sebagai wilayah penyangganya.

Sementara dalam konteks RPJMN 2015-2019 Kota Serang dapat mengambil peran dalam mengoptimalkan rencana Pengembangan Sistem Transit dan Semi Bus Rapid Transit (BRT) dalam rencana kegiatan strategis pembangunan infrasrukur nasional di Kota Serang. Peluang ini dapat dimanfaatkan pada tahap awal guna memfasilitasi kebutuhan transportasi massal bagi kalangan pelajar dan mahasiswauntuk menunjang visi Kota Pendidikan, serta untuk melayani masyarakat luas pada tahap selanjutnya guna mengantisipasi kemacetan yang gejalanya sudah mulai tampak dalam lima tahun terakhir. Di samping itu, peluang pengembangan sistem dan jaringan drainase kota dalam rangka pengendalian banjir yang potensinya cukup tinggi di Kota Serang juga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya, yang diintegrasikan dengan sistem irigasi guna menunjang visi pertanian sebagai penopang fungsi Kota, serta mendukung target swasembada pangan nasional.

5. Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat, serta Kualitas dan Stabilitas Kehidupan Politik

Ketentraman dan ketertiban masyarakat merupakan hasil dari bekerjanya faktor-faktor ekonomi, sosial, dan politik secara seimbang sehingga menciptakan ketenteraman dalam dimensi kehidupan pribadi dan keluarga yang berdampak pada terciptanya ketentraman dan ketertiban masyarakat secara luas. Namun demikian, di luar konteks itu tetap diperlukan upaya terstruktur dan sistematis guna tetap menjaga kohesifitas sosial guna menghindari terjadinya konflik sosial yang dapat berdampak luas pada terusiknya kondusifitas dan stabilitas ekonomi, sosial dan politik daerah dalam jangka panjang.

(28)

21 Kemitraan yang sehat antarpemangku kepentingan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat perlu terus dibina guna mencegah terjadinya kebuntuan komunikasi yang seringkali menjadi pangkal terjadinya konflik.

Kemitraan ini menjadi penting untuk dibangun dan dipelihara mengingat bahwa perlahan tapi pasti wajah Kota Serang akan berubah menjadi wilayah dengan penduduk yang heterogen, sehingga pembinaan terhadap kehidupan masyarakat kota yang toleran dan berpikiran terbuka harus menjadi agenda pembangunan daerah di masa depan.

Dalam konteks kehidupan politik lokal, meski penyelenggaraan Pemilu, Pemilihan Presiden, dan Pemilihan Kepala Daerah berjalan dengan sukses disertai dengan partisipasi politik yang cukup tinggi, namun kualitas kehidupan politik dan demokrasi masih harus ditingkatkan agar proses politik dan demokrasi yang berbiaya mahal tersebut sebanding dengan tingkat representasi politik pemimpin dan wakil rakyat yang terpilih, serta berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.

6. Revitalisasi budaya dan kearifan lokal dalam memantapkan jatidiri kota dan masyarakatnya

Kota yang berkarakter adalah kota dengan kekhasan budaya yang hidup di tengah masyarakatnya sehari-hari. Karenanya, membangun dan memantapkan jatidiri kota harus dimulai dengan merevitalisasi budaya masyarakatnya serta sekaligus merevitalisasi kearifan lokal masyarakatnya agar hidup nyata dalam keseharian dan menjadi ruh bagi kotanya tersebut. Oleh karena itu, menjadikan Kota Serang sebagai kota yang bertumpu pada potensi budaya merupakan pilihan strategis yang rasional dan realistis mengingat bahwa hal ini dapat berdampak positif bagi pertumbuhan kota di masa depan, yang menjadikan nilai-nilai historis Kesultanan Islam Banten sebagai karakter utamanya.

Hal ini sejalan dengan motto Kota Serang Madani yang bermakna sebuah cita-cita untuk menjadikan Kota Serang yang memiliki ciri

(29)

22 sebagaimana masyarakat Madinah di masa Rasulullah SAW., yaitu kota yang tammadun sehingga menjadi negeri yang baldhatun thoyibatun warobbun ghofur. Dalam konteks historis, cita-cita ini bukanlah sesuatu yang tak membumi mengingat bahwa karakter madani ini ternyata pernah terbangun di era Kesultanan Islam Banten, sehingga cita-cita ini menemukan benang merahnya dengan jejak sejarah Kota Serang di masa lalu yang pada satu sisi merupakan kekayaan historis dan kultural dan di sisi lain dapat direvitalisasi sebagai karakter yang akan dihidupkan kembali sebagai wajah Kota Serang di masa depan.

Salah satu ciri Kota yang tammadun di atas adalah berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi pusat pengembangan dan pelembagaan peradaban di masa lalu. Ratusan pondok pesantren yang ada di Kota Serang saat ini merupakan warisan dari peradaban masa lalu yang menempatkan pondok pesantren sebagai kawah candradimuka bagi generasi penerus yang berkarakter. Dalam kaitan dengan ini maka menjadikan Kota Serang sebagai Kota Pendidikan juga menemukan relevansinya dengan fakta historis dimaksud mengingat bahwa pendidikan telah menjadi bagian dari budaya dan kearifan lokal masyarakat Kota Serang.

Realitas ini dikonfirmasi oleh fakta historis Kota Serang di masa lalu yang pernah menjadi centre of excellent dalam bidang pendidikan, dengan menjadi pusat lembaga pendidikan bermutu di era sebelum kolonialisme Belanda, era kolonialisme, serta setelahnya. Menjamurnya pondok pesantren yang berkembang seiring dengan tradisi masyarakat Serang yang lebih mempercayakan pendidikan anaknya di pondok pesantren, merupakan manifestasi kearifan lokal dimaksud. Termasuk didalamnya adalah tradisi ngaji gerabadan yang biasa dilakukan setiap keluarga di masyarakat Serang setiap sehabis menunaikan shalat maghrib hingga menjelang waktu isya. Demikian pula berkembangnya sekolah-sekolah formal berkualitas di era kolonial dan setelahnya, yang menjadi pusat

(30)

23 keunggulan pendidikan formal di wilayah karesidenan Serang dan sekitarnya saat ini.

Saat ini secara faktual Kota Serang dapat disebut sebagai Kota Santri mengingat paling tidak terdapat sekira 136 pondok pesantren salafiyah (tradisional) maupun pondok pesantren khalafiyah (modern) yang menampung sekira 8.353 santri dan 592 guru; serta yang menampung sekira 2.420 santri dan 193 guru. Angka ini belum termasuk sekolah-sekolah umum berbasis agama seperti Madrasah Aliyah yang berjumlah sekira 16 dengan siswa sebanyak 3.279 dan guru sebanyak 330 orang. Demikian pula dengan Madrasah Tsanawiyah yang mencapai 40 sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 8.418 siswa serta guru sebanyak 423 guru; Madrasah Ibtidaiyah sekira 17 sekolah yang menampung murid sebanyak 3.155 murid dan guru sekira 185 guru; serta Raudhatul Athfal sekira 318 sekolah yang menampung siswa sebanyak 2.523 siswa dan guru sebanyak 544 orang. Melalui pemberdayaan pondok-pondok pesantren inilah tradisi dan kearifan lokal masyarakat Kota Serang yang bersumber dan bahkan inheren dengan nilai-nilai ajaran Agama Islam dapat tetap terpelihara, dikembangkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya.

Demikian pula dengan upaya revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal tersebut, yang akan diinisiasi implementasinya melalui kontekstualisasi dan komodifikasi nilai kearifan lokal dalam rangka membangun jatidiri Kota, yang akan diwujudkan melalui sejumlah inisiasi, seperti: rencana komodifikasi ragam bentuk situs budaya dan sejarah yang dapat menjadi ikon Kota Serang yang diadopsi pada seluruh gedung-gedung pemerintahan, pagar-pagar bangunan di sepanjang jalan utama dan, gerbang batas kota, papan-papan reklame, dan lain-lain. Demikian pula dengan komodifikasi ragam artefak, kuliner, pakaian khas, dan lain-lain, guna menunjang pengembangan pariwisata daerah; serta pengembangan dan revitalisasi penggunaan Bahasa Jawa Dialek Banten (Bahasa Jawa

(31)

24 Serang) sebagai bahasa daerah yang akan direvitalisasi penggunaannya pada papan nama jalan, iklan layanan masyarakat, dan lain-lain. Termasuk juga adalah komodifikasi ragam kesenian daerah sehingga dapat direvitalisasi sebagai pembangun karakter kota sekaligus dikomodifikasi guna dapat memiliki nilai tambah secara ekonomis dalam rangka menunjang pengembangan pariwisata daerah.

2.2. Kondisi Sumber Daya Kelitbangan

Bidang Penelitian dan Pengembangan Daerah untuk selanjutnya disebut Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang adalah penyelenggara fungsi perencanaan dan kelitbangan daerah yang memiliki tugas dan fungsi menyelenggarakan penelitian, pengkajian, pengembangan, perekayasaan, penerapan, pengoperasian, evaluasi kebijakan, dan diseminasi serta administrasi dan manajemen kelitbangan di Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kota Serang.

2.2.1. Kelembagaan

Bidang Penelitian dan Pengembangan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang adalah unit kerja yang menyelenggarakan fungsi kelitbangan. Di dalam Peraturan Walikota Serang Nomor 29 Tahun 2016 telah ditetapkan Kedudukan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Perangkat Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang. Di dalam susunan organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang terdapat Bidang Penelitian dan Pengembangan yang tugasnya adalah membantu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dalam melaksanakan tugas.

Susunan Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, terdiri dari : Kepala Badan ;

Sekretariat, membawahkan :

 Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

 Sub Bagian Keuangan;

(32)

25

 Sub Bagian Program, Evaluasi dan Pelaporan.

Bidang Penelitian dan Pengembangan, membawahkan:

 Sub Bidang Litbang Pemsosbud;

 Sub Bidang Litbang Ekonomi dan Pembangunan;

 Sub Bidang Inovasi dan Teknologi.

Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan, membawahkan:

 Sub Bidang Perencanaan Sarana Prasarana dan Wilayah;

 Sub Bidang PerencanaanPerumahan dan Pemukiman;

 Sub Bidang Perencanaan Tata Ruang dan Lingkungan.

Bidang Perekonomian dan SDA, membawahkan:

 Sub Bidang Perencanaan UMKM dan Ekonomi Kreatif;

 Sub Bidang Pengembangan SDA dan Pariwisata;

 Sub Bidang Kerjasama Ekonomi dan Investasi.

Bidang Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, membawahkan:

 Sub Bidang Perencanaan Pembangunan;

 Sub Bidang Perencanaan Penganggaran Pembangunan;

 Sub Bidang Pengendalian, Evaluasi Data dan Informasi.

Bidang Pemerintahan Pembangunan Manusia, membawahkan:

 Sub Bidang Pemerintahan;

 Sub Bidang Sosial Kemasyarakatan;

 Sub Bidang Perencanaan SDM.

Unit Pelaksana Teknis;

Kelompok jabatan fungsional.

2.2.2. Sumber Daya Manusia Kelitbangan

Saat ini, Sumber Daya Manusia Bappeda Kota Serang yang berstatus sebagai tenaga fungsional peneliti hanya 1 (Satu) orang saja. Hal ini menunjukkan kondisi

(33)

26 tenaga kelitbangan di lingkungan Bappeda Kota Serang masih jauh dari kondisi ideal yang menjadi tantangan ke depan.

2.2.3. Pendanaan Kelitbangan

Biaya penyelenggaraan Kelitbangan di Pemerintahan Daerah (Bidang Penelitian dan Pengembangan Daerah) Kota Serang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Serang, serta sumber lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (APBD Provinsi Banten dan APBN).

Dalam menentukan anggaran Penelitian, pemerintah daerah Kota/kabupaten dapat menyesuaikan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 86/PMK. 02/2017 Tentang Standar Biaya Keluaran Tahun Anggaran 2018 pada Sub Keluaran Penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat di lampiran laporan ini.

2.2.4. Kerjasama Kelitbangan

Dalam melaksanakan fungsi kelitbangan, Bappeda atau OPD terkait tentunya tidak melakukannya secara sendiri-sendiri. Namun, kegitan kelitbangan dapat dilakukan dengan cara membangaun kerjasama dengan instansi lain yang relevan, seperti Lembaga Perguruan Tinggi/Universitas, Kementrian/Lembaga Pemerintah atau Lembaga Penelitian Independen.

2.3. Potensi dan Permasalahan

2.3.1. Identifikasi Potensi Kelitbangan

Sebagai Kota yang secara geografis berada di wilayah barat Pulau Jawa kedudukan Kota Serang memiliki nilai geostrategis yang sangat penting baik dalam konstelasi lokal, regional maupun nasional. Kota Serang dilintasi jalan negara dan jalan tol lintas Jakarta-Merak dan menjadi salah satu penyangga ibu kota negara.

Peran penting Kota Serang terkait pengembangan wilayah antara lain meliputi:

(34)

27 1. Potensi pengembangan industri,

2. Potensi pengembangan perumahan,

3. Potensi pengembangan perdagangan dan jasa,

4. Potensi pengembangan pemerintahan dan bagian umum, 5. Potensi pengembangan pariwisata,

6. Potensi kawasan peruntukan lainnya.

2.3.2. Identifikasi Permasalahan Kelitbangan

Berdasarkan data dan informasi yang berhasil dihimpun melalui beberapa kali kegiatan diskusi terkait kondisi objektif kelitbangan, maka dalam merancang kebijakan strategisnya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Serang dihadapkan pada berbagai permasalahan, antara lain:

1) Kurangnya Pejabat Fungsional Tertentu (Peneliti Jumlahnya 1), sesuai bidang kepakaran untuk mendukung kegiatan Kelitbangan;

2) Belum optimalnya pemanfaatan hasil kelitbangan sebagai bahan perumusan kebijakan Pemerintahan Daerah;

3) Kurangnya sarana dan prasarana untuk mendukung kelitbangan;

4) Belum terbangunnya koordinasi pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan di antara SOPD. Penelitian dan pengembangan masih menyebar di sejumlah SOPD, namun masing belum terkoordinir dengan maksimal.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut dan analisis terhadap isu-isu strategis yang terjadi pada tingkat global, nasional, regional maupun lokal dengan pendekatan analisis keterkaitan, maka isu strategis yang harus ditangani dalam 5 (lima) tahun ke depan oleh Pemerintah Kota Serang meliputi hal-hal sebagai berikut:

1) Peningkatan kualitas dan daya saing perekonomian;

2) Penataan ruang, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup;

3) Peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kesejahteraan sosial;

4) Peningkatan daya dukung dan kualitas pelayanan prasarana, sarana dan fasilitas kota; dan

(35)

28 5) Peningkatan kinerja pemerintahan dan pelayanan publik serta kualitas

ketenteraman, ketertiban, demokrasi dan hukum.

2.4. Peluang dan Tantangan 2.4.1. Peluang

Implementasi kebijakan dan program/kegiatan kelitbangan di Bidang Litbang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang pada dasarnya memiliki peluang yang cukup besar dalam memberikan dukungan pencapaian visi misi Kepala Daerah. Beberapa peluang yang diidentifikasi antara lain:

1. Adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah yang menempatkan urusan penelitian dan pengembangan sebagai penunjang urusan pemerintahan, muncul sebagai sub urusan sendiri, sehingga dapat diwadahi dalam perangkat daerah, meskipun hanya setingkat eselon III di lingkup Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

2. Peran strategis Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (yang di dalamnya terdapat bidang litbang), tidak terbatas pada penyediaan rekomendasi kebijakan berdasarkan kaidah keilmiahan, tetapi juga sebagai inisiator dan penyedia alternatif kebijakan yang implementatif untuk memberikan solusi permasalahan bagi pemerintahan daerah;

3. Dukungan pengawasan yang dilaksanakan secara berkala oleh Inspektorat dan BPK guna mendorong peningkatan akuntabilitas, tertib administrasi, dan capaian kinerja Program Kelitbangan Daerah;

4. Adanya kesediaan lembaga atau pihak lain untuk bekerjasama, baik dari aspek kelembagaan, aspek SDM aparatur, maupun aspek Program Kelitbangan Daerah.

5. Optimalisasi peran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang dalam inovasi kebijakan publik membutuhkan adanya koordinasi dan sinkronisasi serta sinergi antara Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dengan Perangkat Daerah lainnya.

(36)

29 2.4.2. Tantangan

Terkait dengan penyusunan dan pelaksanaan rencana induk kelitbangan Kota Serang, beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:

1. Kelembagaan Litbang yang hanya diwadahi dalam nomenklatur bidang. Sesuai Perwako No. 29 Tahun 2016, urusan penelitian dan pengembangan dibentuk dalam nomenklatur bidang dan berkedudukan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang. Hal ini sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru, karena sejak dahulu pun fungsi kelitbangan berada di bawah dan men-support tugas dan fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagai ‘think thank’ pemerintah daerah. Namun dengan dibentuknya bidang yang secara khusus menangani kelitbangan ini akan memberikan tantangan tersediri bagi Bidang Litbang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang dalam berinteraksi dengan mitra kerjanya di dalam maupun di luar Kota Serang.

2. SDM kelitbangan yang sangat minim.

Sebagaimana disampaikan pada bagian sebelumnya, jumlah SDM kelitbangan di Bidang Litbang khususnya dan di Kota Serang pada umumnya masih kurang. Khusus di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang saat ini baru terdapat sebanyak 1 peneliti.

3. Tantangan mewujudkan daya saing daerah. Ke depan tantangan yang dihadapi Kota Serang makin berat terutama dalam upaya mewujudkan daya saing daerah. Indikator daya saing daerah meliputi (1) Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah, (2) Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur, (3) Fokus Iklim Berinvestasi, (4) Fokus Sumber Daya Manusia.

(37)

30

BAB III

ARAH KEBIJAKAN KELITBANGAN

3.1. Arah Kebijakan Pembangunan Daerah

3.1.1. Arah Kebijakan dan Strategi Jangka Panjang Pembangunan Daerah

Dalam Dokumen RPJPD Kota Serang 2005- 2025 dinyatakan Pembangunan RPJMD ke-3 (tahun 2018-2022) ditujukan dalam rangka persiapan menuju kondisi Kota Serang “SMART”, dengan berbekal kemantapan kekuatan dan kemampuan potensi dan sumberdaya daerah yang menjadi orientasi pada tahapan pembangunan sebelumnya.

Menekankan pada upaya peningkatan daya saing perekonomian kompetitif;

pembentukan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat; peningkatan daya dukung dan pelayanan infrastruktur perkotaan; pengendalian penggunaan lahan; pengendalian dan pemulihan kerusakan lingkungan; serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Dalam dokumen RPJPD Kota Serang 2005- 2025 juga bahwa dinyatakan visi pembangunan Kota Serang tahun 2008- 2025 adalah sebagai berikut :

”TERDEPAN SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN, JASA, DAN PERDAGANGAN MENUJU KOTA SERANG SMART 2025”

Dengan visi tersebut, dirumuskan “Misi Pembangunan Kota Serang tahun 2008-2025”

adalah sebagai berikut :

1. MEWUJUDKAN MASYARAKAT YANG BERAKHLAK MULIA, BERBUDAYA, BEKUALITAS DAN BERDAYA SAING;

2. MEWUJUDKAN PEREKONOMIAN YANG MANDIRI, UNGGUL DAN BERDAYA SAING;

3. MEWUJUDKAN PELAYANAN SARANA DAN PRASARANA KOTA YANG BERKUALITAS;

4. MEWUJUDKAN KESERASIAN TATA RUANG, SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN YANG ASRI;

5. MEWUJUDKAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN YANG BERSIH, BAIK, TRANSPARAN DAN BERWIBAWA

(38)

31 Adapun prioritas pembangunan RPJPD 2008-2025 sebagai berikut

1. Penanggulangan Kemiskinan dan Peningkatan Kesejahteraan Sosial 2. Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia

3. Peningkatan Kualitas, Pemerataan dan Daya Saing Perekonomian

4. Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Pelayanan Prasarana, Sarana dan Fasilitas Kota 5. Pengelolaan Tata Ruang, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

6. Penyelenggaraan Pemerintahan yang Baik dan Bersih

3.1.2. Arah Kebijakan dan Strategi Jangka Menengah Pembangunan Daerah

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2016, dengan berpijak pada kondisi saat ini, permasalahan dan tantangan yang dihadapi sampai dengan Tahun 2018 serta mempertimbangkan potensi dan harapan masyarakat Kota Serang, visi pembangunan Kota Serang Tahun 2019-2023” adalah sebagai berikut: MENUJU KOTA SERANG MADANI MELALUI PEMBANGUNAN KOTA PERADABAN YANG BERDAYA DAN BERBUDAYA.

Kota Serang Madani Melalui Pembangunan Kota Peradaban Yang Berdaya Dan Berbudaya, merupakan manifestasi dari komitmen dan upaya untuk: (1) membina dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kebudayaan daerah untuk direvitalisasi sebagai jatidiri kota dan masyarakat Kota Serang sehingga dapat mewarnai segenap aktivitas dan kehidupan masyarakat sehari-hari, serta mewarnai kehidupan pemerintahan daerah; (2) merevitalisasi nilai-nilai historis Kesultanan Islam Banten yang situsnya berada di wilayah Kota Serang. Upaya revitalisasi itu ditransformasikan pada aktivitas ekonomi kreatif di sektor pariwisata sehingga memiliki dampak ekonomi yang tinggi terhadap kesejahteraan masyarakat Kota Serang.

Eksistensi Kota Serang saat ini sebagai destinasi wisata religi berskala nasional merupakan potensi yang dapat terus dikembangkan di masa depan; (3) memelihara dan mengembangkan potensi seni dan budaya daerah untuk didayagunakan nilai

(39)

32 ekonominya bagi kesejahteraan masyarakat, baik melalui peningkatan ekonomi kreatif maupun pengembangan potensi pariwisata sejarah, seni budaya, dan religi yang telah mulai tumbuh saat ini.

Upaya merevitalisasi budaya dan kearifan lokal sebagai salah satu tumpuan Kota Serang dalam membangun jatidirinya merupakan isu strategis yang relevan dengan agenda ke-8 dan ke-9 dalam Nawa Cita Kabinet Kerja Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, yaitu: melakukan revolusi karakter bangsa, serta memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Dalam konteks lokal, agenda ini dilakukan melalui upaya merevitalisasi jatidiri masyarakat Kota Serang yang madani sebagaimana dijelaskan di atas, yang memiliki ciri sebagai masyarakat modern, multikultur, dan religius. Di samping itu, revitalisasi juga dilakukan guna mewujudkan restorasi sosial masyarakat Kota Serang, yaitu kembalinya masyarakat Kota Serang pada tatanan sosial dan kearifan lokal yang bertumpu pada keluhuran nilai-nilai budaya lokal yang bersendikan pada nilai-nilai Agama Islam yang universal, yang rahmatan lil

‘alamin.

Untuk menjalankan visi tersebut maka ditetapkan Misi Pembangunan Kota Serang sebagai berikut:

Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, misi merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Oleh karena itu, misi pada dasarnya merupakan operasionalisasi dari visi yang dirumuskan dalam bentuk aktivitas yang menggambarkan upaya mewujudkan visi tersebut. Misi yang akan dirumuskan dibangun berdasarkan 5 (lima) pilar pembangunan, yaitu:

1. Penguatan Kearifan Lokal;

2. Pembangunan Berkeadaban;

3. Pembangunan Ekonomi;

4. Integritas Aparatur Sipil Negara (ASN);

5. Pembangunan Infrastruktur.

(40)

33 Berdasarkan lima pilar pembangunan tersebut, kepala daerah terpilih menawarkan 4 (Empat) misi yang akan diusung guna mewujudkan visi yang telah menjadi kontrak politik dalam Pemilihan Kepala Daerah. Adapun ke-4 misi walikota terpilih sebagaimana dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Menguatkan peradaban yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan

2. Pemberdayaan masyarakat yang diperkuat melalui semangat gotong royong, inovatif dan kreatif

3. Meningkatkan sarana prasarana daerah

4. Peningkatan tata kelola yang berfokus pada reformasi birokrasi

3.2. Arah Kebijakan dan Strategi Kelitbangan Daerah 3.2.1. Arah Kebijakan

Untuk mencapai tujuan organisasi biasanya diakukan dengan menggunakan sasaran yang ditetapkan, maka arah kebijakan kelitbangan selama kurun waktu 5 (Lima) tahun ke depan adalah:

1. Melaksanakan Program Kelitbangan yang berkaitan dengan isu-isu aktual program strategis Pemerintah Daerah.

2. Membangun jejaring kerjasama kelembagaan dengan para pihak terkait (stakeholders) untuk meningkatkan pemahaman dan menciptakan sinergi dalam program kelitbangan.

3. Meningkatkan kapasitas pejabat fungsional peneliti dan pejabat struktural dalam rangka mendukung Program Kelitbangan.

3.2.2. Strategi

Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan di atas maka diperlukan suatu strategi agar tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif dan efisien sesuai dengan sumber daya internal dan dukungan eksternal yang tersedia. Strategi tersebut meliputi:

1. Mendorong Pemantapan Kemandirian Perekonomian Daerah dengan perluasan kesempatan kerja, pengembangan koperasi dan usaha mikro kecil, serta ketahanan pangan yang bersumber dari hasil kelitbangan yang berkualitas.

(41)

34 2. Mendorong pemantapan Tata Ruang Kota yang Berwawasan Lingkungan

berdasarkan hasil kelitbangan yang berkualitas.

3. Mendorong pemantapan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan kesejahteraan sosial berdasarkan hasil kelitbangan yang berkualitas.

4. Mendorong pemantapan pelayanan sarana prasarana kota berdasarkan hasil kelitbangan yang berkualitas.

5. Mendorong pemantapan tata kelola pemerintahan berdasarkan hasil kelitbangan yang berkualitas.

3.3. Program Indikatif Kelitbangan Kota Serang

Indikator Kinerja Kelitbangan Kota Serang dapat ditinjau dari misi yang diemban, sehingga dalam pelaksanaan program dapat menghasilkan suatu tolok ukur dari masing-masing kegiatan yang dilaksanakan selama kurun waktu 5 (lima) tahun, yaitu Periode Tahun 2019-2023. Dalam pelaksanaan Kegiatan selama 1 (satu) tahun akan memberikan suatu gambaran dari hasil masing-masing Kegiatan sesuai dengan Sasaran, Indikator Kinerja, Capaian Kinerja, Kelompok Sasaran dan Rencana Pendanaan.

Program adalah kumpulan kegiatan yang sistematis dan terpadu untuk mendapatkan hasil yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa instansi pemerintah maupun dalam rangka kerjasama dengan masyarakat guna mencapai sasaran tertentu.

Disamping itu sesuai dengan perkembangan dan tuntutan ke depan, maka untuk RIKDA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Serang Tahun 2019-2023, yang akan dilaksanakan diarahkan pada visi pembangunan Kota Serang yaitu menuju “Serang Madani”, “Serang Berdaya”, dan “Serang Berbudaya” yang selanjutnya dikelompokkan menjadi 5 (lima) Bidang Fokus yang disesuaikan dengan misi pembangunan Kota Serang, yaitu:

1. Kesejahteraan sosial

2. Sarana dan Prasarana Wilayah 3. Kemandirian Ekonomi

4. Tata Kelola Pemerintahan, dan 5. Sosial kultural.

Gambar

Tabel 2.1.  Luas Wilayah Kota Serang Berdasarkan Kecamatan  11  Tabel 3.1.  Program/Kegiatan Indikatif Sosial Pemerintahan  35  Tabel 3.2  Program/Kegiatan Indikatif Ekonomi Pembangunan  43  Tabel 3.3
Gambar 1.1.  Keterkaitan RPJMD dengan RIKDA  5
Gambar 1.1. Keterkaitan RPJMD dengan RIKDA
Tabel 3.1. Program/Kegiatan Indikatif Sosial Pemerintahan 2019-2023  ISU SRATEGIS  PROGRAM/KEGATAN INDIKATIF  TAHUN  INSTANSI
+4

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan sumber data sekunder yang penulis ambil adalah dokumen-dokumen/arsip yang berkenaan dengan implementasi strategi information search terhadap peningkatan

[r]

Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa antara anak angkat dengan orang tua angkatnya tidak ada hubungan kewarisan, tetapi sebagai pengakuan mengenai baiknya

Kemajuan demi kemajuan yang dicapai oleh teori bahasa memiliki dampak yang secara langsung maupun tidak langsung terhadap teori pengajaran bahasa, bahkan

Pada tahap ini hasil yang di dapat dikumpulkan dan dianalisis secara kualitatif.Dari hasil tersebut guru dapat merefleksikan diri dengan melihat langsung hasil

Aplikasi Komputer I (Aplikom I) merupakan mata kuliah wajib universitas yang diberikan bagi mahasiswa semester I semua program studi pada Universitas Mercu Buana

Membicarakan demokrasi Indonesia, bagaimanapun juga tidak terlepas dari periodesasi sejarah politik di Indonesia, yaitu apa yang disebut sebagai periode

Kebijakan moneter adalah suatu kebijaksanaan yang dilakukan untuk mengontrol penawaran dan permintaan uang (uang yang beredar di masyarakat), persediaan uang yang ada,