Statistical Quality Control Produk Sepatu Olahraga PT. XYZ
1M Habibie Urfa Wibowo, 2Aditya Rahadian Fachrur
1,2 Jurusan Teknik Industri, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Indonesia
1[email protected], 2[email protected]
Abstrak— Pola kebiasaan hidup baru atau yang lebih dikenal sebagai era new normal memaksa semua orang untuk dapat terus menjaga kesehatannya dimasa pandemik corona virus disease 2019 (COVID-19) salah satunya dengan cara berolahraga, yang diduga menyebabkan peningkatan permintan alat-alat olahraga. PT. XYZ adalah salah satu produsen footwear dan apparel olahraga. Kualitas produk menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan oleh industri dalam menjaga eksistensinya dalam persaingan industri yang ketat. Adanya produk nonconforming tentunya menjadi kerugian bagi PT. XYZ, sehingga perlu adanya suatu metode untuk memonitoring kualitas. Hasil pengendalian kualitas dengan peta kendali p menunjukkan bahwa variabilitas proporsi produk nonconforming sepatu olah raga PT.XYZ belum terkendali dan diketahui bahwa ketidaksesuaian dengan jenis cleanliness merupakan jenis ketidak sesuaian yang paling banyak terjadi dengan persentase sebesar 44,5% yang diduga menjadi penyebab terjadinya jenis- jenis ketidaksesuaian yang lain berdasarkan prinsip pareto. Penyebab terjadinya ketidaksesuaian cleanliness adalah material dengan penjelasan penyebabnya adalah palet material yang kotor dan material sepatu olahraga belum kering secara sempurna, selain faktor material diketahui pula faktor lainnya adalah men atau personil produksi yang melakukan pengeleman melebihi batas atau marking yang ditentukan serta tidak membersihkan alat yang digunakan terlebih dahulu. Terakhir adalah faktor measurement yang menjelaskan bahwa penyebab terjadinya ketidaksesuaian cleanliness yaitu karena adanya kesalahan dalam penggambaran marking.
Kata Kunci—Kualitas, Statistical quality control, peta kendali p, analisis pareto, diagram sebab akibat
I. PENDAHULUAN
Perkembangan era industri yang saat ini telah memasuki era industri 4.0 menjadi suatu tantangan baru bagi industri untuk dapat terus bertahan ditengah ketatnya persaingan yang terjadi saat ini, sehingga perlu adanya suatu strategi bagi industri agar dapat terus bertahan pada era persaingan yang ketat ini [1]. Kualitas merupakan salah satu aspek terpenting dari suatu produk [2], karena kualitas dapat didefinisikan sebgai kesesuaian dari suatu produk terhadap kegunaannya yang didasari oleh keinginan konsumen [3]. Pengendalian kualitas menjadi salah satu alternatif strategi yang dapat dilakukan oleh industri untuk dapat mempertahankan eksistensinya dalam persaingan [4], dimana pada saat ini persaingan sudah berfokus bukan hanya permasalahan biaya, namun juga pada nilai tambah dari suatu produk [5].
Pengendalian kualitas dapat dilakukan dengan menerapkan statistical quality control (SQC). SQC merupakaan suatu metode yang digunakan dengan tujuan untuk memonitor, menganalisis, dan meningkatkan kualitas produk [6]. SQC memiliki tujuh alat statistik yang biasa dikenal sebagai seven tools of quality yaitu lembar pengecekan, histogram atau stem and leaf plot, peta kendali, diagram pareto, diagram sebab akibat, scatter plot dan defect concentration diagram, dimana peta kendali merupakan alat yang paling populer dari seven tools [7].
PT. XYZ adalah salah satu industri yang memproduksi berbagai apparel untuk olahraga. Produk sepatu olahraga merupakan salah satu produk unggulan dari PT. XYZ, sehingga produk tersebut menjadi perhatian utama dari PT. XYZ untuk dapat dijaga kualitasnya. Penerapan kebiasaan hidup baru pada masa pandemik corona virus disease 2019 (COVID-19) saat ini juga mengharuskan setiap orang dapat menjaga daya tahan tubuhnya salah satunya dengan cara berolahraga, sehingga hal tersebut diduga akan berdampak pada peningkatan jumlah permintaan peralatan olahraga dimana salah satunya adalah sepatu olahraga.
Meningkatnya permintaan sepatu olah raga membuat PT. XYZ harus terus menjaga kualitas produk unggulannya agar dapat terus bersaing dalam persaingan ketat yang terjadi saat ini. PT. XYZ sudah menerapkan standar kualitas yang ketat terhadap produk- produknya, namun masih sering ditemukan adanya produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan (nonconforming product) oleh PT. XYZ, sehingga perlu dilakukan langkah preventif untuk mencegah terjadinya kejadian produk nonconforming yang akan berakibat pada kualitas produk yang dihasilkan.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu adanya suatu metode untuk melakukan pengendalian kualitas produk PT. XYZ.
Pengendalian kualitas produk sepatu olahraga PT. XYZ dilakukan dengan menggunakan peta kendali p untuk memonitoring
variabilitas proporsi produk nonconforming, diagram pareto untuk mengetahui jenis ketidaksesuaian yang paling utama dan diagram sebab akibat dengan tujuan untuk mengetahui penyebab umum jenis ketidaksesuaian yang paling sering terjadi.
Pengendalian kualitas menggunakan SQC dilakukan dalam rangka pencegahan dan mengendalikan kualitas agar tidak terjadi penurunan kualitas produk sepatu olahraga di PT. XYZ.
II. METODEPENELITIAN
Secara umum metode penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan penelitian mulai dari studi lapangan dan literatur hingga melakukan penarikan kesimpulan. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada penelitian ini secara ringkas dapat dilihat dalam diagram alir pada Gambar 1.
.Gambar 1. Tahapan Penelitian
Penjelasan untuk setiap tahapan yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
A. Studi Lapangan dan Studi Literatur
Studi lapangan dilakukan untuk dapat mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada proses produksi sepatu olahraga dengan cara melakukan observasi. Observasi adalah salah satu landasan utama dari beberapa metode untuk melakukan pengumpulan data dengan melakukan pencatatan suatu gejala untuk suatu tujuan ilmiah yang ditentukan [8]. Studi literatur atau studi kepustakaan merupakan langkah untuk mengumpulkan data berdasarkan sumber yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan [9].
B. Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan check sheet pengamatan yang dilakukan oleh Quality Control (QC) inspector. Data yang digunakan adalah data sekunder hasil pencatatan pada check sheet untuk produk sepatu olahraga yang masuk kedalam kategori nonconforming di PT. XYZ yang dikelompokkan berdasarkan jenis ketidaksesuaian yang terjadi. Data yang dikumpulkan adalah jumlah produk yang diinspeksi, jumlah produk nonconforming dan jenis ketidaksesuaian yang terjadi, pengamatan yang dilakukan oleh QC inspector dilakukan per hari.
C. Pengolahan Data
Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa metode analisis yang berujuan untuk melakukan pengendalian kualitas. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Statistik Deskriptif
Mulai
Studi lapangan Studi literatur
Pengumpulan data
Analisis peta kendali p
Analisis penyebab ketidaksesuaian
Menarik kesimpulan
Selesai Analisis Pareto Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan metode yang digunakan dalam proses pengumpulan hingga penyajian data untuk memberikan informasi yang berguna [10]. Statistik desktiptif dilakukan untuk dapat mengetahui proporsi produk noncorfoming yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk pembentukan batas-batas kendali dari peta kendali p yang akan digunakan pada penelitian ini.
2) Peta Kendali p
Peta kendali p merupakan peta yang menggambarkan proporsi produk nonconforming. Proses dengan jumlah pengamatan sebanyak k serta jumlah sampel sebanyak n dan banyaknya produk nonconforming adalah D maka proporsi produk noncorforming untuk setiap pengamatan yang dilakukan dapat diketahui dengan menggunakan persmaan [7]:
/ ; 1, 2,...,
i i i
p =D n i= k (1)
Setelah mengetahui proporsi produk nonconforming pada setiap pengamatan atas-batas kendali dari peta kendali p dapat dihitung menggunakan persamaan [7]:
3 (1 ) /
UCL= +p p −p n (2)
1
/
k i i
CL p p k
=
= =
(3)
3 (1 ) /
LCL= −p p −p n (4)
Setelah dapat ditentukan batas-batas kendali untuk peta kendali p yang digunakan maka selanjutnya dilakukan analisis untuk dapat mengetahui variabilitas proporsi produk sepatu olahraga yang masuk kedalam kategori produk nonconforming di PT.XYZ untuk kemudian diidentifikasi jenis ketidaksesuaian yang paling sering terjadi menggunakna diagram pareto.
3) Analisis Pareto
Diagram pareto merupakan diagram yang menggambarkan distribusi frekuensi secara sederhana dari data yang bersifat atribut yang dikelompokan berdasarkan kategorinya [7]. Diagram pareto umumnya berfungsi sebagai alat untuk mengidentifikasi masalah atau jenis ketidaksesuaian utama dari suatu proses atau produk sehingga penyelesaian masalah dapat berfokus kepada permasalahan tersebut [11]. Prinsip yang terkenal dari pareto adalah bahwa sejumlah kecil atau 20% penyebab adalah sumber dari 80% akibat yang terjadi [12], artinya 20% ketidaksesuaian yang terjadi akan menyebabkan 80% ketidaksesuaian lainnya ikut terjadi. Diagram pareto digunakan untuk mencari 20% jenis ketidaksesuaian utama dari produk sepatu olahraga PT. XYZ yang termasuk kedalam kategori produk nonconforming yang diduga menyebabkan terjadinya 80% jenis ketidaksesuaian lainnya.
4) Diagram Sebab Akibat
Diagram sebab akibat atau yang juga dikenal sebagai diagram ishikawa, memiliki fungsi untuk mengetahui penyebab- penyebab terjadinya suatu akibat yang diketgorikan kedalam enam kategori yaitu men, methods, material, machine, measurement dan environment atau lebih dikenal sebagai faktor 5M+1E [7].
III. HASILDANPEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif
Hasil analisis data dengan menggunakan statistik deskriptif bertujuan untuk dapat mengetahui gambaran umum data yang digunakan pada penelitian ini. Data yang ingin didapatkan adalah proporsi produk nonconforming pada setiap pengamatan yang dihitung menggunakan persamaan (1) seperti yang dapat dilihat pada TABEL I.
TABEL I. PROPOSI PRODUK NONCONFORMING
Pengamatan Ke-
Total inspeksi (dalam satuan pair)
Total produk nonconforming (dalam satuan pair)
Proporsi produk nonconfoming (pi)
1 218 10 0,05
2 840 22 0,03
3 682 28 0,04
4 … 2391 … 38 … 0,02 …
15 4170 101 0,02
Berdasarkan hasil penghitungan seperti pada TABEL I, dapat diketahui proposi nonconforming (pi) dari setiap pengamatan yang telah dilakukan yaitu dengan jumlah 15 pengamatan yang dilakukan per hari. Nilai pi tersebut kemudian yang akan dibuat menjadi dasar penghitungan untuk menentukan batas-batas kendali dari peta kendali p.
B. Peta Kendali p
Pembuatan peta kendali p dilakukan untuk mengetahui varibilitas dari proporsi produk nonconforming (pi) dengan langkah awal menghitung batas kendali untuk masing-masing pengamatan dan kemudian memplotkan proporsi produk nonconforming (pi) kedalam peta kendalinya.
Penghitungan batas-batas kendali dilakukan menggunakan persamaan (2), (3) dan (4) dengan nilai pi didapatkan dari TABEL I, sehingga dengan menggunakan hasil penghitungan menggunakan tersebut didapatkan hasil batas-batas kendali untuk peta kendali p produk sepatu olah raga PT. XYZ. Adapun hasil penghitungan batas kendali untuk pembentukan peta kendali p pada penelitian ini dapat dilihat pada TABEL II.
TABEL II. BATAS-BATASKENDALIPETAKENDALIP Pengamatan Ke- UCL CL LCL
1 0,000 0,026 0,059
2 0,010 0,026 0,043
3 0,008 0,026 0,045
4 0,016 0,026 0,036
5 0,020 0,026 0,033
6 0,012 0,026 0,040
7 0,000 0,026 0,056
8 0,012 0,026 0,040
9 0,000 0,026 0,053
10 0,016 0,026 0,037
11 0,005 0,026 0,048
12 0,012 0,026 0,041
13 0,005 0,026 0,047
14 0,013 0,026 0,040
15 0,019 0,026 0,034
Bedasarkan analisis batas-batas kendali yang telah dilakukan dengan hasil seperti pada TABEL II kemudian dilakukan analisis menggunakan peta kendali p dengan memplotkan proposi produk nonconforming pada TABEL I kedalam batas-batas kendalinya masing-masing sehingga didapatkan hasil peta kendali p seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Peta Kendali p Produk Sepatu Olahraga PT. XYZ
Berdasarkan Gambar 2 diketahui bahwa masih ada proporsi produk nonconforming (pi) yang masih berada diluar batas kendali yaitu pada pengamatan pada hari ke 4, 5, 6, 8, 9, 11, 12, 13 dan 14. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabilitas proporsi produk nonconforming masih belum terkendali atau dengan kata lain proposi produk nonconforming memiliki varibilitas yang tinggi
juga dapat diketahui pada pengamatan hari ke 4, 5, 6 dan 8 menunjukkan adanya penurunan proporsi produk nonconforming sepatu olahraga PT. XYZ, sedangkan pada pengamatan hari ke 9, 11, 12, 13 dan 14 terjadi peningkatan proposi produk nonconforming sepatu olahraga PT XYZ.
Tingginya variabilitas porporsi produk nonconforming merupakan indikasi produk nonconforming sepatu oleharga PT. XYZ tidak terkendali atau dapat diduga bahwa proses produksi sepatu olahraga PT. YXZ belum stabil. Hal tersebut tentunya harus menjadi perhatian khusus PT. XYZ dalam upaya mengendalikan kualitas produk unggulannya yaitu sepatu olahraga, sehingga perlu diketahui frekuensi jenis-jenis ketidaksesuaian yang paling sering terjadi yang diduga menjadi penyebab utama dari tingginya variabilitas proporsi produk nonconforming dengan menggunakan analisis pareto.
C. Analisis Pareto
Setelah mengetahui bahwa proses belum terkendali pada analisis dengan menggunakan peta kendali p maka selanjutnya perlu dicari tahu jenis ketidaksesuaian yang diguda menjadi penyebab tidak terkenddalinya proporsi produk nonconforming sepatu olahraga PT. XYZ dengan menggunakan analisis pareto untuk dapat menentukan ketidaksesuaian utama berdasarkan prinsip pareto atau prinsip 20/80 yang menyatakan bahwa 80% kejadian disebabkan oleh 20% penyebabnya. Adapun frekuensi kejadian untuk setiap jenis ketidaksesuaian pada produk sepatu olahraga yang diproduksi oleh PT. XYZ dapat dilihat pada TABEL III.
TABEL III. FREKUENSIJENIS-JENISKETIDAKSESUAINPRODUKSEPATUOLAHRAGAPT.XYZ
Jenis Ketidaksesuaian Frekuensi
Materials - Leathers / Synthetics 3
Materials – Textiles 2
Materials – Components 3
Material – Soleunit 13
Color Variation 14
Cutting 4
Skiving/ Folding / Trimming 11
Embroidery / Embossing / Printing / No Sew / 3d Printing 22 Stitching - Open / Tension / Trimming 16 Stitching - Margin / Stitches / Needle Holes 39 Upper / Lining Lumps / Wrinkles / Crooks 52
Tip/Vamp/Window/Tongue/Eyestay 28
Toe / Side / Heel Lasting 33
Toe Spring / Quarter Height / Back Height 23
Roughing / Priming / Cementing 34
Upper / Outsole Adhesion / Little Way Stitching 1
Inserts 256
Cleanliness 9
Aligment 12
Other Type Of Defect 3
Berdasarkan TABEL III diketahui jenis-jenis ketidaksesuaian yang terjadi pada produk sepatu olahraga PT. XYZ dengan ketidaksesuaian yang paling sering muncul adalah ketidaksesuaian cleanliness dengan frekuensi 256 kali kejadian, sedangkan jenis ketidaksesuaian yang paling sedikit terjadi adalah Upper / Outsole Adhesion / Little Way Stitching dengan frekuensi hanya 1 kali kejadian. Informasi dari TABEL III kemudian dibentuk kedalam diagram pareto seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Diagram Pareto
Berdasarkan Gambar 3 diketahui bahwa persentase ketidaksesuain cleanliness mencapai 44,5%, persentase tersebut terbilang sangat tinggi bahkan melebihi dari 20% hanya pada satu jenis ketidaksesuaian, artinya jika dengan menggunakan prinsip pareto maka diduga 55,5% ketidaksesuaian lain yang terjadi disebabkan oleh ketidaksesuaian cleanliness. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian serius bagi PT.XYZ untuk dapat menanggulangi dan menekan jumlah ketidaksesuaian cleanliness sebagai upaya peningkatan kualitas agar dapat terus bersaing dengan kompetior yang memiliki produk serupa, sehingga perlu dicaritahu penyebab terjadinya ketidaksesuain tersebut dengan menggunakan diagram sebab akibat.
D. Analisis Penyebab Ketidaksesuaian
Ketidaksesuaian utama yang terjadi pada produk sepatu olahraga PT. XYZ berdsasarkan hasil analisis pareto telah diketahui yaitu ketidaksesuaian dengan jenis cleanliness, selanjutnya perlu dicari tahu penyebab umum terjadinya ketidaksesuaian cleanliness tersebut. Penyebab terjadinya ketidaksesuaian cleanliness didapatkan berdasarkan hasil wawancara dengan bagian penjamin kualitas PT. XYZ yang kemudian dikategorikan kedalam kategori yang sesuai dengan 5M+1E dan digambarkan kedalam diagram sebab akibat seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Diagram Sebab Akibat Ketidaksesuaian Cleanliness
Berdasarkan Gambar 4 diketahui ada tiga faktor utama penyebab terjadinya ketidaksesuaian cleanliness yaitu material dengan penjelasan penyebabnya adalah palet material yang kotor dan material sepatu olahraga belum kering secara sempurna, selain faktor material diketahui pula faktor lainnya adalah men atau personil produksi yang melakukan pengeleman melebihi batas atau marking yang ditentukan serta tidak membersihkan alat yang digunakan terlebih dahulu. Terakhir adalah faktor measurement yang menjelaskan bahwa penyebab terjadinya ketidaksesuaian cleanliness yaitu karena adanya kesalahan dalam penggambaran marking.
Penyebab umum terjadinya ketidaksesuaian cleanliness yang telah diketahui diharapkan dapat menjadi perhatian utama dari
dengan jenis cleanliness. Upaya menekan atau mengurangi jumlah ketidaksesuaian cleanliness dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya penyebab-penyebab umum yang menyebabkan terjadinya ketidak sesuaian cleanliness pada produk sepatu olahraga PT.
XYZ, sehingga diharapkan dengan menekan jumlah ketidaksesuaian cleanliness maka proporsi produk nonconforming sepatu olahraga PT. XYZ dapat menurun dan variabilitas dari proporsi produk nonconforming dapat lebih terkendali.
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa variabilitas dari proporsi produk nonconforming dalam hal ini sepatu olahraga hasil produksi PT. XYZ belum terkendali atau dengan kata lain variabilitasnya masih tinggi, sehingga perlu untuk dilakukan monitoring lebih lanjut dalam upaya menekan variablitas tersebut. Selain itu diketahui pula bahwa jenis ketidaksesuaian yang paling sering terjadi adalah ketidaksesuaian cleanliness dengan jumlah 256 kali kejadian atau 44,5% dari total kejadian produk nonconforming dan jenis ketidaksesuaian yang terjadi sehingga diduga ketidaksesuaian cleanliness menjadi penyebab terjadinya ketidaksesuaian lainnya jika berdasarkan kepada prinsip pareto.
Penyebab terjadinya ketidaksesuaian cleanliness diduga disebabkan oleh tiga faktor yaitu material atau bahan baku, men atau personil produksi dan measurement atau pengukuran. PT. XYZ diharapkan dapat melakukan tindak lanjut terhadap identifikasi awal terhadap jenis ketidaksesuaian utama yang terjadi yaitu cleanliness dalam upaya untuk dapat menekan jumlah produk nonconforming yang terjadi.
Keterbatasan pada penelitian ini menyebabkan penelitian ini hanya dapat mengidentifikasi penyebab umum terjadinya ketidaksesuaian, sehingga untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan dengan menganalisis lebih dalam terkait permasalahan yang terjadi pada penelitian ini dengan menggunakan metode yang lebih komprehensif seperti menggunakan six sigma. penelitian lanjutan diharapkan dapat menghasilkan usulan perbaikan yang lebih tepat sarsaran bagi PT. XYZ dan memberikan gambaran hasil perbaikan proses produksi sepatu olahraga di PT. XYZ dalam upaya menekan jumlah produk nonconforming.
UCAPANTERIMAKASIH
Kepada PT. XYZ yang telah menyediakan waktu dan tempat untuk melakukan penelitian sehingga penelitian ini dapat terlaksana, serta kepada rekan-rekan Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang telah memberikan banyak bantuan dan masukan terhadap penelitian ini, terima kasih.
DAFTARPUSTAKA
[1] N. H. M. Zaidin, M. N. M. Diah, dan S. Sorooshian, “Quality management in industry 4.0 era,” J. Manag. Sci., vol. 8, no. 2, hal. 182–191, 2018, doi:
10.26524/jms.2018.17.
[2] M. K. Pradhan dan A. Tiwari, “Modelling and optimisation of end milling parameters on Ti-6Al-4V titanium alloy using TLBO algorithm and TOPSIS algorithm,” Int. J. Mach. Mach. Mater., vol. 20, no. 6, hal. 513–535, 2018, doi: 10.1504/IJMMM.2018.096379.
[3] J. A. Defeo dan J. M. Juran, Juran’s Quality Handbook: The Complete Guide to Performance Excellence 6/e. McGraw-Hill Education, 2010.
[4] E. Bottani, R. Montanari, A. Volpi, L. Tebaldi, dan G. Di Maria, “Statistical Process Control of assembly lines in a manufacturing plant: Process Capability assessment,” Procedia Comput. Sci., vol. 180, no. 2019, hal. 1024–1033, 2021, doi: 10.1016/j.procs.2021.01.353.
[5] K. Siregar, K. Syahputri, R. M. Sari, I. R. Tarigan, F. Ariani, dan N. Andri, “Usulan Perbaikan Kualitas Baja dengan Metode Statistical Quality Control ( SQC ) dan Failure Mode Effect Analysis ( FMEA ) di PT . Growth Sumatra Industry,” in Seminar Nasional Teknik Industri Universitas Gajah Mada 2018, 2018, hal. 135–143.
[6] R. Alfatiyah, S. Bastuti, dan D. Kurnia, “Implementation of statistical quality control to reduce defects in Mabell Nugget products (case study at Pt. Petra Sejahtera Abadi),” IOP Conf. Ser. Mater. Sci. Eng., vol. 852, no. 1, 2020, doi: 10.1088/1757-899X/852/1/012107.
[7] D. C. Montgomery, Introduction To Statistical Quality Control., 6 ed. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc., 2009.
[8] H. Hasanah, “Teknik-teknik observasi,” J. at-Taqaddum, vol. 8, no. 1, hal. 21–46, 2016.
[9] B. A. Habsy, “Seni Memehami Penelitian Kuliatatif Dalam Bimbingan Dan Konseling : Studi Literatur,” J. Konseling Andi Matappa, vol. 1, no. 2, hal.
90–100, 2017, doi: 10.235678/25271987.
[10] R. E. Walpole, R. H. Myers, S. L. Myers, dan K. Ye, Probability and Statistics for Engineers and Scientists. New York: Pearson, 2017.
[11] N. Hairiyah, R. R. Amalia, dan E. Luliyanti, “Analisis Statistical Quality Control (SQC) pada Produksi Roti di Aremania Bakery,” Ind. J. Teknol. dan Manaj. Agroindustri, vol. 8, no. 1, hal. 41–48, 2019, doi: 10.21776/ub.industria.2019.008.01.5.
[12] S. Lipovetsky, “Pareto 80/20 law: Derivation via random partitioning,” Int. J. Math. Educ. Sci. Technol., vol. 40, no. 2, hal. 271–277, 2009, doi:
10.1080/00207390802213609.