EVALUASI DAN USULAN PERBAIKAN SISTEM DRAINASE JALAN RYACUDU KELURAHAN KORPRI RAYA KECAMATAN SUKARAME
KOTA BANDAR LAMPUNG
Andre Atmadestra1, Prof. Dr. Ir. Sri Legowo2, Dr. Ir. Endang Setiawati, M.T.3
1Mahasiswa Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sumatera
2Dosen Teknik Sipil, Insitut Teknologi Bandung
3Dosen Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sumatera Email: [email protected]
Abstrak: Korpri Raya merupakan kawasan pemukiman relatif padat penduduk di Kecamatan Sukarame. Kurang optimalnya saluran drainase di kawasan tersebut menyebabkan beberapa titik khususnya dijalan Ryacudu terdapat genangan jika terjadi hujan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi saluran drainase, mengevaluasi saluran drainase dan memberikan usulan perbaikan pada saluran drainase di jalan Ryacudu. Analisis hidrologi menggunakan data curah hujan selama 10 tahun terakhir dan menggunakan distribusi Log Pearson III dengan kala ulang 2, 5, 10, dan 25 tahun. Intensitas hujan menggunakan persamaan Mononobe. Saluran drainase mengalami luapan dibeberapa saluran. Diperlukan usulan perbaikan normalisasi dan perencanaan ulang saluran drainase. Normalisasi saja tidak bisa mengatasi luapan perlunya perencanaan ulang. Didapat dimensi saluran pada kanan jalan dengan lebar 0,92, kedalaman 1,07 m dan kiri jalan dengan lebar 0,95 m, kedalaman 1,10 m.
Kata Kunci : Korpri Raya, Genangan, Drainase, Curah Hujan, Normalisasi
Abstract : Korpri Raya is a relatively densely populated residential area in Sukarame
District. The less than optimal drainage channels in the area cause some spots, especially on the Ryacudu road, to have puddles when it rains. The purpose of this study is to identify drainage channels, evaluate drainage channels and provide suggestions for improvements to the drainage channels on Jalan Ryacudu. Hydrological analysis uses rainfall data for the last 10 years and uses the Log Pearson III distribution with return times of 2, 5, 10, and 25 years.
Rain intensity uses the Mononobe equation. Drainage channels overflow in several channels.
It is necessary to recommend repair of normalization and redesign of drainage channels.
Normalization alone cannot overcome the need for re-planning. There is a channel dimension on the right of the road with a width of 0.92, a depth of 1.07 m and a left of the road with a width of 0.95 m, a depth of 1.10 m.
Keywords: Korpri Raya, Puddle, Drainage, Rainfall, Normalization
PENDAHULUAN
Pertumbuhan kota yang meningkat menyebabkan padatnya pemukiman dimana lahan terbuka hijau di area pemukiman yang awalnya merupakan daerah resapan air sekarang tidak dapat lagi menampung dan meresapkan air hujan. Sehingga aliran air hujan mengalir kedaerah yang lebih rendah dan masuk saluran eksisting sebagai air permukaan (run off). Berkurangnya lahan terbuka hijau menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan. Dampak yang ditimbulkan adalah kelebihan air ketika hujan berupa genangan air (Simanjuntak, 2009).
Aliran air hujan yang jatuh di pemukiman menimbulkan dampak yang berpengaruh pada lingkungan yang ada yaitu timbulnya banjir dan genangan. Hal ini dikarenakan debit air hujan yang mengalir lebih besar dari kapasitas eksisting sehingga tidak dapat ditampung saluran eksisting yang ada. (Simanjuntak, 2009).
Jalan Ryacudu berada di kelurahan Korpri Raya merupakan kawasan yang cukup berkembang. Dapat dilihat banyaknya fasilitas disekitar daerah tersebut seperti sekolah, universitas, rumah kos, rumah makan, tempat rekreasi, bahkan daerah tesebut merupakan salah satu jalur utama menuju pintu Tol Kota Baru. Kurang optimalnya saluran drainase di kawasan
tersebut menyebabkan beberapa titik khususnya di Jalan Ryacudu terdapat genangan akibat hujan deras yang turun pada kawasan tersebut. Hal ini diakibatkan karena saluran yang tertutup oleh sedimen, sampah dan bangunan sehingga tidak mampu menampung air hujan. (Febri, 2020).
Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu kajian untuk mengevaluasi saluran eksisting drainase yang ada. Penelitian ini akan melakukan evaluasi drainase dengan metode Gumbel dan Log Pearson III agar sistem drainase di Jalan Ryacudu menjadi zero run off. Dari hasil evaluasi dapat dilihat apakah saluran drainse perlu dilakukan perbaikan atau hanya dilakukan normalisasi saja. Jika normalisasi tidak mengatasi masalah yang ada perlunya perbaikan sesuai dengan PERMEN PU RI No 12 Tahun 2014 pasal 27 ayat 5.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi eksisting saluran drainase Jalan Ryacudu,mengevaluasi saluran drainase serta memberikan usulan perbaikan saluran drainase.
TINJAUAN PUSTAKA
Banjir muncul dari aliran yang mengalir melalui sungai atau menjadi genangan.
Sedangkan limpasan adalah aliran yang mengalir pada permukaan tanah yang
ditimbulkan akibat curah hujan setelah mengalami infiltrasi (Hadisusanto, 2010).
Menurut Suripin (2004) banjir adalah suatu kondisi dimana tidak tertampungnya air dalam saluran pembuang. Menurut Kodoatie, dan Sugiyanto (2002) penyebab banjir biasanya diakibat oleh curah hujan yang tinggi, pengaruh akibat erosi dan sedimentasi, kapasitas drainase tidak memadai sehingga tidak bisa menampung air hujan.
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 Tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan, drainase adalah prasarana yang berfungsi untuk mengalirkan air yang berlebih dari suatu kawasan ke badan air penerima. Menurut Hasmar (2011) drainase adalah ilmu yang mempelajari mengalirkan air dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu. Drainase merupakan prasarana berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air atau ke bangunan resapan buatan (Nuryanto, 2017). Drainase juga didefisinikan upaya mengontrol kualitas air tanah. Kegunaannya mengalirkan air agar tidak terjadi genangan.
Sistem drainase di Indonesia mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Republik Indonesia Nomor
12/PRT/M/2014. Dalam peraturan tersebut berisikan bahwa perlu dibuat suatu sistem
pengeringan dan pengaliran air yang baik dengan mengalirkan air berasal dari air hujan agar tidak terjadi genangan yang berlebihan. Sebelum membuat rancangan sistem drainase yang baru diperlukan evaluasi untuk memutuskan menyusun rancangan yang baru. Bertujuan agar rancangan yang baru tidak mengalami kegagalan dalam hal perencanaan. Sistem drainase secara teknis meliputi mengarahkan run off permukaan semaksimal mungkin, membatasi kecepatan aliran dalam sistem drainase.
Lalu mengusahakan pematusan air tanah lereng agar tidak menimbulkan pori berlebih.
Hidrologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari kejadian distribusi air secara alami di bumi. Unsur didalam analisis hidrologi terdapat curah hujan, oleh karena itu data curah hujan merupakan data utaman untuk menentukan debit limpasan maupun intensitas hujan. Metode dalam menganalisis curah hujan terdapat beberapa metode seperti metode gumbel ataupun metode log pearson III.
Berdasarkan Kamiana (2010) Analisis ini bertujuan mencari hubungan antara besarnya kejadian ekstrim terhadap frekuensi kejadian dengan menggunakan distribusi probabilitas. Digunakan beberapa metode dalam analisis curah
hujan maksimum. Dalam analisis perlu juga dicari beberapa hal sebagai berikut:
1. Standar deviasi (S)
Besar perbedaan dari nilai sampel terhadap nilai rata-rata.
S = √∑ ̅
dengan:
S = standar deviasi
Ri = nilai varian ke i (mm/hari)
̅ = nilai rata-rata varian (mm/hari) n = jumlah data
2. Koefisien kemencengan (Cs) Suatu nilai menunjukan derajat ketidaksimetrisan.
Cs =
∑ ̅
dengan:
Cs = koefisien kemencengan Ri = nilai varian ke i (mm) n = jumlah data
S = standar deviasi 3. Koefisien kurtosis (Ck)
Untuk mengukur keruncingan dari bentuk kurva distribusi.
Ck = ∑ ̅ dengan:
Ck = koefisien kurtosis
Ri = nilai varian ke i (mm/hari)
̅ = nilai rata-rata varian (mm/hari) n = jumlah data
Menurut Kamiana (2010) untuk menghitung analisis ini dapat menggunakan beberapa metode yaitu sebagai berikut:
1. Distribusi Log Pearson III
Metode ini menggunakan nilai logaritma dipengaruhi oleh nilai k.
Seperti yang disajikan dalam Lampiran 3 Tabel Nilai K untuk Log Pearson.
Rumus yang biasa digunakan untuk mencari nilai metode ini adalah:
log RT = log ( ̅) +KxS (2.6)
dengan:
RT = curah hujan periode ulang (mm/hari) ̅ = nilai hujan maksimum rata-rata (mm/hari) S = simpangan baku
Kx = faktor frekuensi 2. Distribusi Gumbel
Metode ini dipengaruhi oleh banyak variable yaitu reduced variable.
Reduced mean, reduced standar deviasi.
Hubungan N dan Yn/Sn dan hubungan periode ulang dan Yt disajikan dalam Lampiran 4. Berikut rumus untuk mengghitung dalam metode Gumbel:
RT = ̅ +
dengan:
RT = curah hujan periode ulang (mm),
̅ = nilai hujan maksimum rata-rata (mm),
S = simpangan baku, Yt = reduced variable, Yn = reduced ,
Sn = Reduced standar deviasi
Besarnya curah hujan maksimum dalam suatu desain disebut juga intensitas curah hujan (Sosrodarsono dan Takeda, 1987).
Intensitas hujan digunakan untuk mengetahui debit rencana hujan yang akan digunakan. Untuk menghitung dapat digunakan beberapa metode sebagai berikut:
1. Metode Monobe
Untuk mendapat intesitas digunakan rumus:
dimana:
I = intensitas hujan (mm/jam) R24= curah hujan harian maksimum (mm/24 jam)
T = periode ulang hujan
Perhitungan debit limpasan dilakukan untuk mengetahui debit rencana yang akan datang. Nilai debit berdasarkan PUH yang akan digunakan. Perhitungan debit menggunakkan rumus metode rasional.
Untuk nilai C dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Rumus rasional yang digunakan adalah:
Q = C. I. A dimana:
Q = debit puncak limpasan (m3/det) C = angka pengaliran (dapat dilihat pada Tabel 2.1)
A = luas daerah pengaliran
I = Intensitas curah hujan (mm/jam0 Metode Penelitian
Kajian pustaka berfungsi untuk menunjang dalam penulisan Tugas Akhir. Kajian pustaka pada Tugas Akhir ini meliputi drainase, analisis hidrologi, analisis hidrolika, aspek lingkungan, aspek struktur dan lainnya. Pustaka yang diperoleh dari pengumpulan pustaka berupa buku, jurnal, dan perencanaan terdahulu.
Dalam menunjang perencanaan diperlukan pengumpulan data terlebih dahulu untuk menyelesaikan suatu masalah didasari oleh teori yang valid. Dalam perencanaan dibutuhkan beberapa data seperti data primer dan data sekunder.
a. Pengumpulan Data Primer
Data yang diperolah dengan cara survei langsung di lapangan. Data primer yang digunakan adalah data dokumentasi, titik genangan atau drainase yang bermasalah dan eksisting penampang drainase.
b. Pengumpulan Data Sekunder
Data yang diperlukan dari kajian pustaka dan mencari data dari lembaga
yang terkait. Pada perencanaan data- data sekunder yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1) Data curah hujan yang diperoleh dari BBWS Way Sekampung 10 tahun terakhir dari tahun 2010 sampai 2019 dengan 3 stasiun hujan yaitu:
Stasiun PH.001 Teluk Betung Utara
Stasiun PH 003 Sukabumi
Stasiun PH 004 Sumur Putri
2) Peta tata guna lahan berfungsi untuk melihat guna lahan kawasan yang akan mempengaruhi koefisien dan besarnya debit limpasan.
Analisis Hidrologi a. Analisis data hujan:
Data curah hujan yang sudah ada diolah untuk mencari pengaruh stasiun hujan terhadap daerah lokasi studi dengan metode aritmatika karena cocok digunakan untuk stasiun yang tidak diketui koordinatnya.
b. Analisis curah hujan harian maksimum:
Analisis dilakukan dengan menggunakan distribusi Gumbel dan Log Perason III. Digunakan distribusi Gumbel karena pada penelitian terdahulu banyak yang hasil analisisnya menggunakan distribusi Gumbel dan Log Pearson III dibandingkan dengan distribusi yang lainnya.. Cara untuk memilih dsitribusi menggunanakan
nilai Ck dan Cs. Nilai tersebut dibandingkan dengan nilai dari teoritis sehingga yang mana sesuai dengan syarat.
c. Uji kesuaian distribusi
Untuk uji kesesuian dilakukan perhitungan dengan uji chi kuadrat.
Hasil analisis dibandingkan dengan nilai chi kuadrat teoritis.
Xh2 = ∑
(3.1) Dengan:
Xh2 = Parameter chi kuadrat terhitung
Oi = Jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok
Ei = Jumlah nilai teoritis pada sub kelompok
d. Analisis intensitas hujan
Untuk menghitung intensitas hujan digunakan persamaan Mononobe.
Dipilih persamaan Mononobe karena cocok untuk wilayah di Indonesia dan data curah hujan yang didapat hanya ada curah hujan harian saja.
Perhitungan kapasitas eksisting dilakukan untuk mengetahui berapa daya tampung saluran yang ada dilapangan. Hasil perhitungan kapasitas eksisting nantinya akan di bandingkan dengan debit limpasan.
Evaluasi kondisi eksisting dilakukan dengan membandingan hasil perhitungan debit eksisting dan debit limpasan air hujan. Kedua nilai tersebut dibandingkan untuk mendapatkan hasil apakah eksisting masih baik untuk digunakan. Dan juga untuk mengavaluasi apakah saluran masih bisa untuk dinormalisasi atau membutuhkan perbaikan.
Perencanaan Usulan Perbaikan Sistem Drainase
a. Perencanaan Teknis:
1) Penentuan usulan yang digunakan Dari hasil evaluasi yang sudah didapatkan hasil bahwa drainase bisa dinormalisasi atau diperlukan perbaikan. Jika diperlukan perbaikan maka dibuat usulan perbaikan yang mampu untuk mengatasi permasalahan drainase dikawasan tersebut.
2) Usulan rancangan perbaikan dan perhitungan dimensi .
Setelah mentukan usalan apa yang digunakan, dilanjutkan dengan mengerjakan perhitungan dimensi yang akan digunakan. Perhitungan dilakukan jika drainase membutuhkan perbaikan.
3) Desain dan detail gambar
Setelah dapat dimensi dari hasil perhitungan lalu membuat gambar dan
detail gambar. Desain gambar yang akan dibuat sesuai dengan hasil perhitungan sebelumnya. Desain dibuat menggunakan aplikasi Autocad versi 2019.
b. Perhitungan BOQ dan RAB
Setelah desain gambar selesai, selanjutnya membuat estimasi biaya untuk rancangan tersebut dalam bentuk Bill Of Quantity (BOQ) dan Rancangan Anggaran Biaya (RAB). BOQ dan RAB berisikan deskripsikan pekerjaan, kuantitas unit dan harga satuan pekerjaan.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil identifikasi yang diperoleh secara langsung dari hasil observasi didapatkan data eksisting saluran drainase jalan Ryacudu didapatkan bahwa saluran memiliki ukuran yang berbeda dan memiliki jenis penampang yang berbeda.
Dari data didapatkan bahwa adanya saluran yang tertutup sampah ataupun sedimen yang cukup banyak. Akibat dari hal ini menyebabkan air hujan yang melimpah dari saluran drainase tersebut.
Selain itu ada adanya pedagang kaki lima yang berjualan di atas saluran drainase.
Hal ini menyebabkan saluran drainase tertutup dan menyebabkan air susah untuk mengalir menuju saluran yang ada.
Analisis hidrologi dilakukan dengan periode pengamatan selama 10 tahun mulai dari tahun 2010 sampai tahun 2019.
Data yang diperoleh berasal dari BBWS Way Sekampung. Untuk data curah hujan maksimum setiap tahun yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini:
Tabel 4. 1 Data Curah Hujan Maksimum
No. Tahun
Curah Hujan (R) (mm)
PH.001 Teluk Betung Utara
PH.003 Sukarame
PH.005 Kemiling
1 2010 240 304 166
2 2011 56 283 112
3 2012 58 80 60
4 2013 152 125 120
5 2014 104 63,6 97
6 2015 85 62 75
7 2016 64 62 103
8 2017 127 78 140
9 2018 75 105 76
10 2019 76 111 130
1. Rata-rata ( ̅)
Untuk menghitung nilai rerata menggunakan rumus persamaan 3.8.
Hasil perhitungan rata-rata setiap tahun disajikan pada Tabel 4.2 dibawah ini . Contoh perhitungan besar nilai rata-rata stasiun hujan Teluk Betung Utara yaitu:
̅ = ∑
=
̅=
= 112,98 2. Standar Deviasi (S)
Setiap stasiun hujan dicari nilai standar deviasi dengan menggunakan rumus pada persamaan 2.2 hasil perhitungan setiap stasiun hujan dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Nilai Besaran Statistik
No. Tahun
Curah Hujan (R) (mm)
Rata-rata PH.001
Teluk Betung
Utara
PH.003 Sukarame
PH.005 Kemiling
1 2010 240 304 166 236,67
2 2011 56 283 112 150,33
3 2012 58 80 60 66,00
4 2013 152 125 120 132,33
5 2014 104 63,6 97 88,20
6 2015 85 62 75 74,00
7 2016 64 62 103 76,33
8 2017 127 78 140 115,00
9 2018 75 105 76 85,33
10 2019 76 111 130 105,67
Jumlah 1129,87
Rata-Rata 112,98
S 11,2
Dalam perhitungan curah hujan harian maksimum dilakukan dengan 2 metode yaitu metode Gumbel dan metode Log Pearson Type III. Dari hasil perhitungan kedua metode tersebut diambil nilai terbesarnya.
1. Distribusi Gumbel
Pada distribusi Gumbel mententukan nilai Cs dan Ck. Penentuan Yn dan Sn dapat dilihat pada Lampiran 4 Tabel Yn dan Sn bernilai Yn = 0,4952 ; Sn = 0,9496. Penentuan hujan harian maksimum dilakukan setiap PUH.
Contoh perhitungan besarnya curah hujan dengan PUH 2 tahun adalah:
RT = ̅ +
(Yt – Yn) RT = 112,98 +
(0,3365 – 0,4952)
= 111,11
Koefisien Kemencengan (Cs) Cs = ∑ ̅
=
= 1,85
Koefisien Kurtosis (Ck) Ck = ∑ ̅
= 0,66
Hasil perhitungan curah hujan untuk periode ulang hujan 2 tahun, 10 tahun, dan 25 dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan pada Gambar 4.2.
Tabel 4. 2 Curah Hujan PUH Pada Stasiun Teluk Betung Utara
T ̅ S Sn YT Yn HMM
2 112,98 11,2 0,9496 0,3365 0,4952 111,11
5 112,98 11,2 0,9496 1,4999 0,4952 124,84
10 112,98 11,2 0,9496 2,2502 0,4952 133,69
25 112,98 11,2 0,9496 3,1985 0,4952 144,88
Gambar 4. 1 Curah Hujan Distribusi Gumbel Dengan PUH
2. Metode Log Pearson III
Pada metode ini didasarkan pada perubahan data yang ada ke dalam bentuk logaritma. Berikut parameter statistik untuk menghitung data curah hujan sebelum perhitungan dalam bentuk logaritma dengan Metode Log Pearson Type III. Data yang sudah diubah menjadi logaritma dapat dilihat pada Tabel 4.4. Hasil perhitungan distribusi Log Pearson III disajikan pada Tabel 4.5 dan digambarkan pada Gambar 4.3.
No R Log R (log R-
̅)
(log R- ̅)2
(log R- ̅)3
1 236,67 2,374 0,321 0,103 0,033
2 150,33 2,177 0,124 0,015 0,002
3 66,00 1,820 -0,233 0,055 -0,013
4 132,33 2,122 0,069 0,005 0,000
5 88,20 1,945 -0,108 0,012 -0,001
6 74,00 1,869 -0,184 0,034 -0,006
7 76,33 1,883 -0,170 0,029 -0,005
8 115,00 2,061 -0,044 0,0019 -0,0001
9 85,33 1,931 0,008 0,000 0,000
0 50 100 150 200
2 5 10 25
HHM Gumbel
Curah hujan (mm)
Periode Ulang Hujan (Tahun)
10 105,67 2,024 -0,122 0,015 -0,002
Jumlah 1129,87 -0,325 0,268 0,008
Rata-rata( ̅ 112,98 Log ̅ = 2,053
Berikut langkah perhitungan analisis hujan metode Log Pearson Type III
Mengubah data ke dalam bentuk logaritma
log R = Log 236,67
= 2,374
Menghitung nilai rata-rata log ( ̅ ) = log 112,98
= 2,053
Menghitung standar deviasi S = √∑ ̅
= √ = 0,173
Berdasarkan Cs maka dapat ditentukan nilai Kx didapat dari Lampiran 3 Tabel Nilai K untuk Log Pearson. Dari data tersebut dihitung hujan harian maksimum dengan rumus:
Menghitung koefisien kemencengan Cs = ∑ ̅
=
= 0,2
Untuk Cs = 0,2 nilai Kx yang dipakai pada PUH 2 tahun adalah -0,033
Menghitung log hujan dengan periode ulang T dan anti log dari RT
Contoh perhitungan untuk PUH 5 tahun:
log RT = log ( ̅) +KxS
log R2 = 2,053 + (0,830 x 0,173) = 2,197
R2 = 102,197
= 157,25 mm/hari
Tabel 4. 3 Hasil Perhitungan Metode Log Pearson Type III
PUH Kx KxS log
( ̅)
Log
RT RT
2 -
0,033 -
0,006 2,053
2,047 111,50
5 0,830 0,144 2,053 2,197 157,25
10 1,301 0,225 2,053 2,278 189,70
25 1,751 0,303 2,053 2,356 226,95
Berdasarkan Tabel kesimpulan distribui yang memenuhi syarat hanya Log Pearson III dan akan digunakan. Data distribusi Log Pearson PUH 5 tahun akan digunakan untuk perhitungan selanjutnya mengacu pada standar perencanaan.
0 50 100 150 200 250
2 5 10 25
HHM Log Pearson III
Periode Ulang Hujan (Tahun)
Curah hujan (mm)
Untuk perhitungan nilai tc dibagi menjadi dua yaitu kanan jalan dan kiri jalan yang terdiri dari kawasan pemukiman dan jalan. Nilai tc akan berpengaruh pada lamanya air mengalir.
Tabel 4. 4 Nilai tc kanan jalan Ryacudu
Blo k
tof (menit
)
tdf (menit
)
tc (menit
)
tc (jalan
) 1 4,32 20,62 24,94 0,416 3 4,32 13,46 17,78 0,296 5 4,32 10,96 15,28 0,255 7 4,32 8,18 12,50 0,208 9 4,32 5,78 10,10 0,168
Tabel 4. 5 Nilai tc kiri jalan Ryacudu
Blo k
tof (menit
)
tdf (menit
)
tc (menit
)
tc (jam)
2 4,32 20,62 24,94 0,41 6 4 4,32 13,46 17,78 0,29
6 6 4,32 10,96 15,28 0,25
5 8 4,32 8,18 12,50 0,20
8 10 4,32 5,78 10,10 0,16
8
Tabel 4. 6 Intensitas Hujan Kanan Jalan Ryacudu
Blok tc (jam) (mm)
I
(mm/jam) I (m/s) 1 0,416 157,25 97,87 2,72 x 10-5 3 0,296 157,25 122,67 3,41 x
10-5 5 0,255 157,25 135,71 3,77 x
10-5 7 0,208 157,25 155,14 4,31 x
10-5 9 0,168 157,25 178,84 4, 97 x
10-5
Tabel 4. 7 Intensitas Hujan Kiri Jalan Ryacudu Blok tc (jam)
(mm)
I
(mm/jam) I (m/s) 1 0,416 157,25 97,87 2,72 x 10-5 3 0,296 157,25 122,67 3,41 x
10-5 5 0,255 157,25 135,71 3,77 x
10-5 7 0,208 157,25 155,14 4,31 x
10-5 9 0,168 157,25 178,84 4, 97 x
10-5
Tabel 4. 8 Debit Limpasan Kanan Jalan
Blok Qlimpasan (m3/s)
1 0,266
3 0,198
5 0,227
7 0,256
9 0,813
Tabel 4. 9 Debit Limpasan Kiri Jalan
Blok Qlimpasan (m3/s)
1 0,415
3 0,206
5 0,234
7 0,258
9 0,866
Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 didapatkan nilai debit limpasan yang berbeda. Nilai yang berbeda disebabkan dengan luas area cakupan yang berbeda setiap blok nya sehingga memperoleh nilai yang berbeda. Nilai debit limpasan nantinya akan dibandingkan dengan nilai
kapasitas eksisting untuk menentukan apakah saluran masih layak atau tidak.
Analisis Saluran Eksisting
Perhitungan dilakukan untuk mengetahui berapa besaran kapasitas yang terdapat dilapangan. Untuk tinggi muka air terhitung dengan adanya Sedimen di dalam saluran.
Tabel 4. 10 Analisis Kapasitas Saluran Eksisting jalan Ryacudu
Saluran Q (m3/s) Blok 1 0,12942 Blok 3 1,123494 Blok 5 1,024449 Blok 7 0,099414 Blok 9 0,684195 Blok 2 0,117309 Blok 4 1,03073 Blok 6 0,56351 Blok 8 0,107939 Blok 10 0,768733
Berdasarkan Tabel 4.19 didapatkan hasil kapasitas setiap blok yang bervariasi tergantung pada lebar dan kedalaman saluran serta kekasaran dasar saluran juga mempengaruhi nilai kapasitas eksisting yang ada.. Nilai kapasitas eksisting nantinya akan dibandingan dengan debit limpasan. Hasil perbandingan kedua nilai tersebut yang akan nantinya menjadi evaluasi untuk saluran drainase yang ada di Jalan Ryacudu.
Evaluasi Kondisi Eksisting
Hasil perhitungan kapasitan eksisting dan debit limpasan digunakan untuk menganalisis kemampuan saluran untuk mengalirkan air. Apabila nilai debit limpasan lebih besar maka saluran tersebut
akan meluap dan dinyatakan tidak mampu mengaliran limpasan air atau tidak aman.
Perbandingan debit limpasan dan kapasitas eksisting bisa diliat pada Tabel 4.20.
Tabel 4. 11 Perbandingan Debit Limpasan dan Debit Eksisiting Jalan Ryacudu
Saluran Q Limpasan (m3/detik)
Q Eksisting (m3/detik)
QLuapan
(m3/detik) Kondisi Saluran Sebelah Kanan
Blok 1 0,266 0,12942 0,137 Meluap
Blok 3 0,198 1,123494 -0,925 Tidak Meluap Blok 5 0,227 1,024449 -0,797 Tidak Meluap
Blok 7 0,256 0,099414 0,157 Meluap
Blok 9 0,813 0,684195 0,129 Meluap
Sebelah Kiri
Blok 2 0,415 0,117309 0,298 Meluap
Blok 4 0,206 1,03073 -0,825 Tidak Meluap
Blok 6 0,234 0,56351 -0,330 Tidak Meluap
Blok 8 0,258 0,107939 0,150 Meluap
Blok 10 0,866 0,768733 0,097 Meluap
Berdasarkan hasil perbandingan ada beberapa titik yang debit limpasan melebihi debit eksisting seperti pada blok 1, blok 7, blok 9, blok 2, blok 8, dan blok 10. Sedangkan pada blok 2, blok 3, blok 4, dan blok 5 saluran masih aman dan tidak mengalami luapan. Seperti hal pada penelitian Muliawati (2015) ada beberapa saluran yang masih aman dan tidak meluap akan tetapi ada juga saluran yang sudah tidak aman dan meluap melebihi kapastias eksisting yang ada. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya luapan pada saluran drainase yaitu kapasitas saluran yang tidak mencukup pada beberapa saluran yang ada sehingga diperlukan perbaikan pada saluran drainase. Lalu adanya Sedimen ataupun sampah pada
saluran menyebabkan air meluap. Hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi sampah atau Sedimen adalah normalisasi saluran dengan melakukan pembersihan saluran yang tertutupi sampah atau Sedimen. Selain itu ada juga terdapat bangunan diatas saluran akibatnya air tidak dapat mengalir kedalam saluran.
Dalam mengatasi permasalahan yang terjadi dibutuhkan sebuah usulan perbaikan. Usulan perbaikan memiliki beberapa alternatif seperti normalisasi, perencanaan ulang, pembuatan sumur resapan ataupun kolam retensi. Untuk penanggulangan debit luapan yang terjadi di Jalan Ryacudu dapat dilakukan dengan memilih alternatif sebagai berikut:
1. Normalisasi saluran eksisting
Genangan yang terjadi dikarenakan ada saluran yang mengalami pendangkalan akibat adanya sampah dan sedimen pada saluran drainase. Hasil evaluasi kapasitas eksisting terhadap debit limpasan diketahui bahwa ada saluran yang perlu perbaikan salah satunya dengan melakukan normalisasi.
Normalisasi dilakukan agar eksisting mampu menampung debit limpasan sesuai dengan periode yang telah ditentukan. Normalisasi dilakukan dengan pembersihan saluran dari sampan dan sedimen.
2. Perencanaan saluran drainase
Normalisasi dilakukan untuk perbaikan jangka pendek. Untuk jangka panjang diperlukan perencanaan ulang saluran drainase dengan menghitung dimensi kapasitas eksisting yang baru. Peningkatan kapasitas dilakukan agar debit air hujan dapat dialirkan secara optimal dan tidak lagi ada debit luapan yang terjadi.
Peningkatan saluran dilakukan pada saluran-saluran yang memiliki kapasitas yang kurang dari debit limpasan. Alternatif ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan genangan dilahan.
Perencaaan saluran akan berbentuk persegi. Berikut rencana peningkatan saluran di Jalan Ryacudu bisa dilihat pada Tabel 4.23.
Tabel 4. 12 Rencana peningkatan kapasitas saluran
No Saluran
Rencana
B (m) D (m)
1 Blok 1 0,58 0,73 2 Blok 7 0,92 1,07 3 Blok 9 0,76 0,91 4 Blok 2 0,72 0,87 5 Blok 8 0,95 1,10 6 Blok 10 0,80 0,95
Perencanan ulang saluran drainase berbentuk persegi dengan lebar dasar B dan kedalaman air h. Dengan persamaan 2.29, maka dapat dihitung nilai luas penampang menggunakan debit limpasan.
Perhitungan luas penampang pada blok 1 kanan jalan sebagai berikut:
A = A =
= 0,68 m2
Pada saluran persegi kedalaman air h dan lebar dasar sama. Maka kedalaman air dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
h = √ h = √ = 0,82 m
Lebar dasar saluran bernilai sama dengan nilai h, maka nilai B pada area blok 1 kanan jalan Ryacudu adalah 0,82 m.
Perhitungan untuk nilai P pada area blok 1 kanan jalan sebagai berikut:
P = B+2h = h+2h = 3h = 3x0,82 = 2,47 m
Perhitungan jari-jari hidrualis (R) pada blok 1 ruas kanan jalan sebagai berikut:
R = = = 0,27 m, free board 0,15 m Total kedalaman saluran dengan freeboard
= 0,15 m dengan rumus D = F + h.
Perhitungan kedalaman total saluran drainase pada blok 1 sebagai berikut:
D = F + h = 0,97
Hasil perhitungan luas penampang (A), kedalaman (h), lebar saluran (B), keliling basah (P), jari-jari hidrolis (R), dan kedalaman total dilakukan pada setiap blok
yang meluap. Hasil perhitungan terdapat pada Tabel 4.24.
Tabel 4. 13 Perencanaan Ulang Saluran Draianse Jalan Ryacudu
Blok Q
(m3/s) h (m) B (m) D(m) 1 0,266 0,58 0,58 0,73 7 0,256 0,92 0,92 1,07 9 0,813 0,76 0,76 0,91 2 0,415 0,72 0,72 0,87 8 0,258 0,95 0,95 1,10 10 0,866 0,80 0,80 0,95
Dari hasil perhitungan nilai D, dapat diambil nilai D yang mewakili untuk ruas kanan jalan dan ruas kiri jalan untuk dibikin gambar rencana desain saluran drainasenya. Karakteristik saluran yang mewakili dapat dilihat pada Tabel 4.25.
Tabel 4. 14 Saluran Drainase yang mewakili
Ruas h (m) B (m) D(m)
Kanan Jalan Ryacudu 0,92 0,92 1,07 Kiri Jalan Ryacudu 0,95 0,95 1,10
Bill Of Quantity (BOQ)
Pembersihan Lahan Kuantitas Total Kanan
Jalan
0,92 m x 1865 m
1715,8
m2 3487,55 m2 Kiri
Jalan
0,95 m x 1865 m
1771,75 m2 Pemasangan
Bouwplank Kanan
Jalan
1715,8 m2 x 2
3431,6
m2 6975,1 m2 Kiri
Jalan
1771,75 m2 x 2
3543,5 m2 Pekerjaan Galian
Kanan Jalan
0,92 m x 1,07 m x 1865 m
1835,91 m3
3784,84 m3
Kiri Jalan
0,95 m x 1,10 m x 1865 m
1948,93 m3
Pengakutan Tanah Kuantitas Total
Kanan Jalan
0,92 m x 1,07 m x 1865 m
1835,91 m3
3784,84 m3 Kiri
Jalan
0,95 m x 1,10 m x 1865 m
1948,93 m3
Pemasangan Bekisting
Kanan Jalan
(1,07 m x 2 ) x 1865
m
3991,1 m2
8094,2 m2 Kiri
Jalan
(1,1 m x 2 ) x 1865
m
4103 m2
Pekerjaan Pasangan Batu
Kanan Jalan
((1,07m x 0,10m x 2)+(0,92m
x 0,10m)) x 1865m
570,69 m3
1158,165 m3
Kiri Jalan
((1,10m x 0,10m x 2)+(0,95m
x 0,10m)) x 1865m
587,475 m3
Plesteran dan aci
Kanan Jalan
(0,92 x 1865) + (1,07 x 1865 x 2)
5706,9 m2
11469,75 m2 Kiri
Jalan
(0,95 x 1865) + (1,10 x 1865 x 2)
5762,85 m2
Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan menghubungkan harga satuan pekerjaan dengan volume pekerjaan. Perhitungan detail dapat dilihat pada Tabel 4.27.
Tabel 4. 15 Rencana Anggaran Biaya (RAB)
No Uraian
Pekerjaan Volume Satuan Harga Satuan (Rp)
Jumlah Harga (Rp)
1 Persiapan Pekerjaan
1.1 Mobilitas
peralatan 1 Ls 15.000.000 15.000.000
1.2 Pembersihan 3487,55 m2 4.473,97 15.603.194,08
1.3 Pemasangan
bouwplank 6975,1 m2 10.127,91 70.643.185,04
2 Pekerjaan Galian
2.1 Galian Tanah 3784,84 m3 50.332,12 190.499.021,06 2.2 Pengangkutan 3784,84 m3 24.506,48 92.753.105,76
3
Pekerjaan Pasangan
Batu
3.1 1 m3 pasangan
batu belah 1:4 1158,165 m3 1.155.127,28 1.337.827.986,241 4 Finishing
4.1
1 m2 plesteran 1:4 tebal 20 mm
11469,75
m2 m2 60.498,62 693.904.046,75
4.2 1 m2acian 11469,75
m2 m2 28.781,86 330.120.738,74 4.3 Demobilisasi 1 Ls 15.000.000 15.000.000
Total Harga Pekerjaan 2.761.351.277,671
PPN (10%) 276.135.127,767
Total Harga 3.037.486.405,438
Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan perencanaan, maka kesimpulan yang didapat sebagai berikut:
1. Saluran drainase memiliki ukuran yang berbeda-beda. Saluran drainase memiliki beberapa masalah seperti adanya sedimen dan sampah didalam saluran dan adanya bangunan diatas saluran.
2. Berdasarkan analisis dan hasil perhitungan debit limpasan, masih terdapat debit luapan pada saluran di Jalan Ryacudu. Penyebab genangan pada saluran di Jalan Ryacudu adalah kapasitas eksisting yang tidak bisa menerima debit limpasan. Total debit yang meluap dari saluran eksisting adalah 1,856 m3/s. Faktor lain adalah adanya sampah dan sedimen yang tertumpuk didalam saluran.
3. Alternatif yang digunakan adalah normalisasi dan perencanaan ulang saluran drainase. Normalisasi yang dilakukan tidak dapat menyelesaikan masalah luapan sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang saluran drainase. Didapat dimensi saluran pada kanan jalan dengan lebar 0,92, kedalaman 1,07 m dan kiri jalan dengan lebar 0,95 m, kedalaman 1,10 m.
Saran
1. Perlu dilakukan normalisasi setiap 1 tahun sekali untuk menjaga saluran drainase tetap bisa berfungsi secara optimal.
2. Perlu dibuat sistem drainase yang berwawasan lingkungan seperti sumur resapan, kolam retensi dan sebagainya agar bisa mengurangi kelebihan air permukaan akibat saluran tidak bisa menampung hujan.
Daftar Pustaka
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Bandar Lampung Badan Pusat Statistik Bandar Lampung.
2019. Sukarame Dalam Angka 2019.
Bandar Lampung: Badan Pusat Statistik.
Badan Standarisasi Nasional. 1994. SNI 03-34240-1994. Tata Cara Desain Drainase.
Departemen Pekerjaan Umum. 1994.
Urban Drainage Guidelines and Technical Design Standards. Jakarta Kementrian Pekerjaan Umum.
Departemen Pekerjaan Umum & Tenaga Listrik. 1972. Pedoman Perencanaan Saluran Terbuka.
Han, Dawei. 2010. Concise Hydrology.
Ventus Publishing ApS.
Hartini, Eko. 2017. Hidrologi & Hidrolika Terapan. Semarang: Universitas Dian Nuswatoro.
Hasmar, H.A. Halim. 2011. Drainase Terapan. Yoyakarta: UII Press.
http://portal-ina-sdi.or.id diakses pada September 2020
https://www.google.com/earth/ diakses tanggal 22 Januari 2021.
Kamiana, I Made. 2010. Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Kodoatie, R.J. 2010. Tata Ruang Air.
Yogyakarta: Andi.
Kodoatie,R. J., dan Sugiyanto. 2002.
Banjir Beberapa Penyebab dan Metode Pengendaliannya Dalam Perspektif Lingkungan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Kodoatie,R. J., dan Roestam,S. 2005.
Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Yogyakarta: Andi
Konsultan. 2018. Review Master Plan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta. Jakarta: PT. Maxitech Utama Indonesia.
Kurniawan, Dwi Riswadha dkk. 2017.
Mengisi Data Hujan Yang Hilang Dengan Metode Autoregressive Dan Metode Reciprocal Dengan Pengujian Debit Kala Ulang (Studi Kasus Di DAS Bakalan). E-Jurnal Matriks Teknik Sipil.
Masduki, H.S. 1988. Drainase Permukiman (Hand Book).
Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Mawardi. Erman. 2010. Desain Hidraulik Bangunan Irigasi. Bandung:
Alfabeta.
Muliawati, Dea N. 2015. Perencanaan Penerapan Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan (Ekos- Drainase) Menggunakan Sumur Resapan Di Kawasan Rungkut.
Surabaya: Institut Tekonologi Sepuluh November.
Mulyanto, H.R. 2013. Penataan Drainase Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Nuryanto. 2017. Pemodelan dan Perencanaan Drainase. Universitas Gunadarma: Fakultas TeknikSipil &
Perencanaan.
Pandebesie. 2012. Pengelolaan Sistem Drainase dan Penyaluran Air Limbah. Bandung: ITS.
Prawaka, Fanny dkk. 2016. Analisis Data Curah Hujan yang Hilang Dengan Menggunakan Metode Normal Ratio, Inversed Square Distance, dan Rata-Rata Aljabar (Studi Kasus Curah Hujan Beberapa Stasiun Hujan Daerah Bandar Lampung).
JRSDD. Vol.4. No3. Hal 397-406.
Republik Indonesia. Permen PU Nomor 12
Tahun 2014 tentang
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.
Sadhu, M. 2017. Evaluasi Sistem Drainse Saluran Sekunder Gayung Kebonsari Kota Surabaya. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November
Satriawansyah, Tri. 2015. Perencanaan Resapan Air Sebagai Alternatif Penanggulangan Banir di MAN 1 Sumbawa. Sumbawa: Universita Samawa
Setiawan dan Permana. 2016. Evaluasi Sistem Drainase Di Kelurahan
Paminggir Garut. Jurnal Tugas Akhir. ISSN: 2302-7312. Vol. 14.
No. 1. (diakses tanggal 25 Januari 2021)
Soewarno. 1995. Hidrologi Operasional.
Bandung: Citra Aditya Bandung.
Subagyo, Sentot. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Suripin. 2004. Sistem Drainse Perkotaan Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi.
Syarifudin, Achmad. 2017. Drainase Perkotaan Berwawasan Lingkungan.
Yogyakarta: ANDI.
Wahyudi, Rendy. 2016. Perencanaan Dan Perhitungan Ulang Saluran Drainase Kali Pucungan, Kota Sidoarjo, Jawa Timur. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November.
Wesli. 2008. Drainase Perkotaan.
Yogyakarta: Graha Ilmu.