(STUDI DI KOTA MEDAN)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Oleh:
HARYATI 130200247
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
NIM : 130200247
Departemen : Hukum Keperdataan
Judul Skripsi : Perlindungan Hukum Bagi Penumpang Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 (Studi di Kota Medan)
Dengan ini menyatakan :
1. Bahwa isi skripsi yang saya tulis tersebut di atas adalah benar tidak merupakan jiplakan dari skripsi atau karya ilmiah orang lain.
2. Apabila terbukti dikemudian hari skripsi tersebut adalah jiplakan, maka segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung jawab saya.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun.
Medan, 31 Januari 2019
Haryati NIM : 130200247
Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh munculnya angkutan umum berbasis teknologi informasi di bidang transportasi Indonesia yang dilaksanakan di Kota Medan, mengingat selama ini proses pengangkutan angkutan umum berbasis teknologi informasi sering diperdebatkan perlindungan hukum bagi penumpangnya. Adapun judul skripsi ini adalah Perlindungan Hukum Bagi Penumpang Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 (Studi Di Kota Medan), yang menjadi objek penyusunan skripsi ini adalah perlindungan hukum bagi penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi. Permasalahan adalah bagaimana kedudukan hukum penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi, faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan penumpang menggunakan angkutan umum berbasis teknologi informasi dan bagaimana perlindungan hukum terhadap penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi.
Adapun metode penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah dengan menggunakan jenis penelitian Yuridis Normatif dan jenis penelitian Yuridis Empiris. Jenis penelitian Yuridis Normatif dengan mengumpulkan bahan-bahan data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, dan pendapat para sarjana.
Sedangkan jenis penelitian Yuridis Empiris disini dengan menyebarkan kuisioner kepada pihak pengemudi dan penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi di Kota Medan.
Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa terdapat hak dan kewajiban di dalam kedudukan hukum penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi. Penumpang lebih memilih angkutan umum online karena banyak memberikan kemudahan seperti dari segi biaya maupun pelayanan yang diberikan sehingga para penumpang merasa lebih nyaman, efektif, dan efisien.
Penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi mendapat perlindungan hukum seperti penumpang angkutan umum lainnya. Perusahaan wajib mengganti kerugian penumpang selama perjalanan sampai tujuan dengan selamat.
Kata Kunci : Perlindungan Hukum, Penumpang, Transportasi Online
__________________________________
*Mahasiswa Fakultas Hukum USU Departemen Hukum Keperdataan
**Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum USU Departemen Hukum Keperdataan
***Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum USU Departemen Hukum Keperdataan
mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun agar memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Departemen Hukum Keperdataan Program Kekhususan Perdata BW di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulisan skripsi ini berjudul “Perlindungan Hukum Bagi Penumpang Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 (Studi di Kota Medan)”. Skripsi ini berisi tentang bagaimana perlindungan hukum bagi penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi ditinjau dari Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang sangat penulis sayangi yang selalu memberi dukungan, motivasi serta doa kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Saidin, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Puspa Melati, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Prof. Dr. H. Hasim Purba, S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan banyak waktu untuk membantu dalam penyempurnaan skripsi ini dan memberikan banyak masukan serta bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Ibu Aflah, S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan banyak waktu untuk membantu dalam penyempurnaan skripsi ini dan memberikan banyak masukan serta bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Kepada orang tua, saudara-saudara saya yang selalu memberi dukungan, motivasi serta doa kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Kepada responden para pengemudi dan penumpang transportasi online di Sumatera Utara yang telah meluangkan waktu untuk mengisi kuisioner yang dibuat oleh penulis.
10. Kepada teman-teman stambuk 013 yang tidak bisa disebutkan penulis satu persatu, terima kasih atas dukungan dan motivasinya sehingga terselesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini terdapat kekurangan dan kesalahan baik isi maupun kalimat yang disebabkan oleh keterbatasan dan kekurangan pengetahuan penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun untuk menyempurnakan penulisan skripsi ini.
Penulis berharap agar penulisan skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan pembaca. Demikianlah yang dapat penulis sampaiakan semoga apa yang telah kita lakukan mendapat rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.
Medan, 11 Januari 2019 Penulis,
Haryati 130200247
DAFTAR ISI
Halaman
Abstrak ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... v
Daftar Tabel ... vii
Daftar Istilah ... viii
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 11
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 12
E. Keaslian Penulisan ... 13
F. Metode Penelitian ... 14
G. Sistematika Penulisan ... 18
BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN PENGANKUTAN A. Perjanjian Secara Umum Menurut KUHPerdata ... 21
B. Pengangkutan Pada Umumnya ... 44
C. Perjanjian Pengangkutan ... 56
BAB III : ANGKUTAN UMUM BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN RUANG LINGKUPNYA A. Pengertian Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi ... 72
B. Jenis-Jenis Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi ... 75
C. Pengaturan Mengenai Pemberian Izin Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi Di Indonesia ... 78 D. Hak Dan Kewajiban Penumpang Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi ... 81 E. Masalah-Masalah Yang Dihadapi Dalam Penyelenggaraan Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi ... 83
BAB IV : PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENUMPANG ANGKUTAN
UMUM BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI
BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 (STUDI DI KOTA MEDAN)
A. Kedudukan Hukum Penumpang Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi ... 87 B. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Penumpang Menggunakan Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi ... 88 C. Perlindungan Hukum Bagi Penumpang Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi ... 91
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ... 97 B. Saran ... 98
DAFTAR PUSTAKA ... xiii LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Pengemudi transportasi online menjalankan sebagai pekerjaan tetap atau pekerjaan sampingan ... 84 Tabel 2.Kerugian yang dialami penumpang transportasi online selama menggunakannya ... 85 Tabel 3. Alasan penumpang menggunakan transportasi online ... 90 Tabel 4. Pengemudi transportasi online mendapatkan santunan kesehatan dan kecelakaan ... 94 Tabel 5. Penumpang transportasi online ikut mendapatkan santunan kesehatan dan kecelakaan selama perjalanan ... 95
DAFTAR ISTILAH
Absolute liability : Tanggung jawab mutlak, pengangkut harus bertanggung jawab atas setiap kerugian yang timbul dalam pengangkutan yang diselenggarakannya tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut
Absolute/strict liability
: Prinsip tanggung jawab mutlak
Accidential : merupakan sifat yang melekat pada perjanjian secara tegas diperjanjikan oleh para pihak
Agency agreement : Perjanjian pemberian kuasa
Based on fault : Prinsip tanggung jawab berdasar atas kesalahan Bargaining : Tawar-menawar antara pihak pembeli dan pihak
penjual
Bilateral contract : Perjanjian timbal balik, perjanjian yang memberikan hak dan kewajiban kepada kedua belah pihak
Bedrog : Penipuan ketika melaksanakan kesepakatan
Benoemde : Perjanjian bernama, yaitu perjanjian-perjanjian yang dikenal dengan nama tertentu dan mempunyai pengaturan secara khusus dalam undang-undang Breakable limit : Sifat yang dapat dilampaui dan tidak bersifat mutlak,
dimana ganti rugi yang diberikan oleh pengangkut masih dapat dimungkinkan untuk dibayarkan melebihi jumlah yang dinyatakan
BW (Burgerlijk Wetboek)
: Kitab Undang-Undang Hukum Perdata/Sipil
Canceling : Membatalkan, dimana salah satu pihak mempunyai hak untuk meminta perjanjian itu dibatalkan
Cash on delivery : Layanan transaksi jual beli dimana pihak pembeli bersedia untuk membayar barang jika pihak penjual mengantarkannya sampai ke alamat pembeli
Charter party : Perjanjian carter, yaitu perjanjian pengangkutan dapat juga dibuat tertulis
Compulsory security insurance
: Asuransi kecelakaan, dimana pengangkutan penumpang harus disertai dengan asuransi kecelakaan dan/atau asuransi kerugian lainnya Consensus : Sepakat, sebuah kesepakatan yang disetujui secara
bersama-sama antarkelompok atau individu setelah adanya perdebatan dan penelitian yang dilakukan secara kolektif intelijen untuk mendapatkan consensus pengambilan keputusan
Consigner : Pengirim
Constructive oordeel : sifat yang menentukan atau menyebabkan perjanjian itu tercipta
Download : Suatu proses transmisi sebuah file atau data dari sebuah sistem komputer ke sistem komputer yang lainnya
Dwaling : Kekhilafan dalam membuat kesepakatan Dwang : Paksaan dalam membuat kesepakatan
Fault liability : prinsipntanggung jawab karena kesalahan, setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar segala kerugian yang timbul akibat kesalahannya itu
Field research : Studi lapangan yaitu penelitian kualitatif dimana peneliti mengamati dan berpartisipasi secara langsung dalam penelitian skala social kecil dan mengamati budaya setempat
General rule : Aturan umum
Good faith : Itikad baik, dimana perjanjian itu harus berlandaskan itikad baik
Gross negligence : Kelalaian berat
Handphone Android : Handphone yang sistem operasionalnya menggunakan Android
Hardware : Perangkat keras
Hotline : Nomor telepon yang dapat memanggil orang-orang
untuk informasi, sering dalam keadaan darurat Illegal act : Perbuatan melawan hukum
Leasing : Suatu kegiatan pembiayaan lewat penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan (debitur atau lessee) untuk suatu jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran secara berkala yang disertai atau tanpa disertai dengan hak pilih (hak opsi) dari perusahaan (debitur atau lessee) untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan di akhir masa leasing atau memperpanjang jangka waktu leasing tersebut berdasarkan nilai sisa yang disepakati bersama Liability : Tanggung jawab ganti rugi
Liberatoir : Perjanjian yang menghapuskan perikatan, adalah perjanjian antara dua pihak yang isinya adalah untuk menghapuskan perikatan yang ada di antara mereka.
misalnya, pembebasan utang
Library research : Studi kepustakaan yaitu suatu cara memperoleh data dengan mempelajari buku-buku di perpustakaan yang merupakan hasil dari para peneliti terdahulu Limitation of liability : Prinsip pembatasan tanggung jawab
Locus standi : Kedudukan hukum
Naturalia : merupakan sifat bawaan dari perjanjian itu, sehingga secara diam-diam melekat pada perjanjian itu
Nonwezenlijk oordeel : Bukan bagian inti dalam perjanjian
Null and void : Batal demi hukum, dimana syarat objektif tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum Obligatoir : Suatu perjanjian yang hanya menyoalkan
kesepakatan para pihak untuk melakukan penyerahan suatu benda kepada pihak lain.
OED (Oxford English Dictionary)
: Kamus lengkap bahasa inggris
Onbenoemde : Perjanjian tidak bernama, yaitu perjanjian-perjanjian yang tidak diberi nama dan pengaturan secara khusus
dalam undang-undang
Online : Terhubung ke jaringan internet sehingga dapat mengakses internet atau browsing, mencari informasi-informasi di internet
Overeenkomst : Setuju atau sepakat dimana seseorang berjanji kepada seseorang yang lain atau dimana 2 (dua) orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal
Overeenkomatenrecht : Hukum perjanjian, adalah aturan yang mengatur hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.
Passenger : Penumpang
Presumption liability : Tanggung jawab karena praduga, pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab atas setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya
Presumption of liability
: Prinsip tanggung jawab atas dasar praduga
Presumption of non liability
: Prinsip praduga bahwa pengangkut selalu tidak bertanggung jawab
Rechtperson : Subjek hukum
Responsibility : Tanggung jawab yang bersifat kewajiban
Schenking : Hibah
Shipper : Perairan pengangkut
Smartphone : Telepon genggam yang mempunyai kemampuan dengan penggunaan dan fungsi yang menyerupai komputer
Software : Perangkat lunak
Unbreakable limit : Sifat yang tidak dapat dilampaui dengan alasan apapun dimana tanggung jawab pengangkut dan ganti rugi yang harus dibayarkan tidak boleh
melebihi jumlah yang dinyatakan
Verbintenis : Ikat atau mengikat yaitu suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.
Verbintenissenrecht : Hukum perikatan, adalah aturan yang mengatur hubungan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua orang atau lebih, yang memberi hak pada salah satu pihak dan meberi kewajiban pada pihak yang lain atas sesuatu prestasi
Virtual : Ketiadaan atau sesuatu yang semu dan maya
Virtual company : Perusahaan virtual yang mengandalkan hubungan dengan berbagai pemasok untuk menyediakan layanan saat dibutuhkan
Virtual store : Toko online dimana tempat terjadinya aktifitas perdagangan atau jual beli barang yang terhubung ke dalam suatu jaringan dalam hal ini jaringan internet Vrijwaring : Jaminan benda
Wezenlijk oordeel : Bagian inti atau essensial dalam perjanjian, merupakan sifat yang harus ada di dalam perjanjian Willful misconduct : Perbuatan sengaja
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas beribu-ribu pulau besar dan kecil berupa daratan dan sebagian besar perairan yang terdiri atas perairan laut, sungai dan danau.1 Sehingga, Indonesia mempunyai posisi ataupun lokasi yang berperan penting dan strategis dalam rangka hubungan antar bangsa serta perdagangan dunia.
Melihat strategisnya letak ataupun posisi dari Negara Indonesia dalam rangka perdagangan dunia dan dalam rangka hubungan antar bangsa, maka transportasi merupakan sarana yang penting untuk memperlancar roda perekonomian. Transportasi berperan sebagai penunjang, pendorong dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang berpotensi namun belum berkembang, dalam rangka upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan dan hasil- hasilnya.
Untuk terjalinnya hubungan antardaerah yang luas tersebut, Indonesia membutuhkan sarana angkutan, baik di darat (jalan, kereta api dan sungai), di laut maupun di udara. Tanpa adanya sarana angkutan tersebut pembangunan di Indonesia pasti akan menghadapi kendala, oleh karena itu perlu adanya sistem angkutan yang lancar, efektif, efisien, aman dan nyaman.2 Hal ini dijelaskan dalam konsiderans huruf b dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang
1Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, Bandung, PT Citra Aditya Bakti, 2013, hlm.30
2Siti Nurbaiti, Hukum Pengangkutan Darat (Jalan dan Kereta Api), Jakarta, Universitas Trisakti, 2009, hlm.1-2
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahwa Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran berlalu lintas dan angkutan jalan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan wilayah.
Seiring dengan perkembangan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat di zaman modern seperti sekarang ini. Perubahan yang terjadi di masyarakat diikuti oleh perjalanan peradaban suatu bangsa, sebagai akibat dari teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat. Tak dapat disangkal bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikian pesat ikut mengubah sikap dan perilaku masyarakat dalam komunikasi dan interaksi.
Hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat yang selalu bersentuhan langsung dengan teknologi dan terbukti mendatangkan manfaat bagi perkembangan dan peradaban manusia. Kemajuan teknologi menghasilkan sejumlah situasi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh manusia.3
Berkembangnya teknologi di Indonesia menyebabkan meningkat pula kebutuhan manusia akan gaya hidup, di antaranya adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam bidang transportasi, khususnya angkutan umum yang aman, nyaman, dan efisiensi waktu untuk berpergian. Hal ini dijelaskan dalam konsiderans huruf c dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahwa perkembangan lingkungan strategis
3Diaz Gwijangge, “Peran TIK Dalam Pembangunan Karakter Bangsa,” makalah disampaikan dalam Workshop, “Pemanfaatan Jejaring E-Pendidikan” yang diselenggarakan
nasional dan internasional menurut penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, otonomi daerah, serta akuntabilitas penyelenggaraan negara.
Penggunaan internet untuk keperluan bisnis dan perdagangan mulai dikenal beberapa tahun belakangan ini dan dengan cepat meluas, terutama di negara-negara maju. Dengan perdagangan lewat internet ini berkembang pula sistem bisnis virtual, seperti virtual store dan virtual company di mana pelaku bisnis menjalankan bisnis dan perdagangan melalui media internet dan tidak lagi mengandalkan basis perusahaan yang konvensional yang nyata.4
Saat ini dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi telah membuat proses dan strategis bisnis transportasi umum berubah dengan cepat.
Tidak ada lagi manajemen perusahaan yang tidak peduli dengan persaingan produk dari rival bisnisnya. Penggunaan perangkat teknologi informasi sudah menjadi keharusan bagi perusahaan transportasi umum, yang dapat dilihat dari anggaran belanja sampai dengan implementasi teknologi informasi di sebuah perusahaan. Teknologi informasi sudah dipandang sebagai salah satu senjata untuk bersaing di kompetisi global, kecenderungan ini terlihat dari tidak digunakannya lagi teknologi informasi sebagai pelengkap dari proses bisnis perusahaan transportasi umum online, namun teknologi informasi dijadikan sebagai bagian dari proses bisnisnya.5
4Asril Sitompul, Pengenalan Mengenai Masalah Hukum Di Cyberspace, Bandung, PT Citra Adity Bakti, 2001, hlm.13
5 Ibid, hlm.15
Transportasi adalah alat yang sangat penting untuk membantu kita dalam kehidupan sehari-hari, baik itu secara pribadi ataupun angkutan umum. Karena keterbatasan kemampuan dalam membeli sebuah alat transportasi maka muncul sebuah terobosan baru dalam transportasi yaitu angkutan umum berbasis teknologi informasi.
Dengan kehadiran angkutan umum berbasis teknologi informasi sangatlah membantu kita, jadi kapanpun kita memerlukan angkutan umum hanya dengan mendownload aplikasinya dan memesan mobil tumpangan melalui jaringan internet serta mengaktifkan signal lokasi di dalam handphone android kita.
Dengan pemesanan online seperti ini dapat memenuhi kebutuhan transportasi dengan cepat. Munculnya moda transportasi berbasis aplikasi online adalah pertemuan antara perkembangan zaman, kebutuhan masyarakat dan inovasi.6
Beberapa contoh aplikasi angkutan umum online di Indonesia adalah:7 1 Go-Jek: terdapat layanan pengantaran orang, layanan pengantaran makanan,
kurir, pengantaran belanja pengantaran barang berukuran besar, pembersih rumah, pijat, kecantikan, dan pendeteksi lokasi Busway dengan tarif per kilometer.
2 Grabbike: secara teknis operasi sama seperti pola yang digunakan dalam Gtransportasi yaitu pemesanan kendaraan dengan menggunakan aplikasi.
Tetapi Grabbike hanya melayani layanan transportasi taxi dan mobil dengan tarif yang beragam berdasarkan hari dan waktu pada saat pemesanan kendaraan.
6 Harian Analisa, Soal Taksi Online, KPPU: Boleh Diatur Tapi Bukan Dibatasi, Sabtu, 1
3 BluJek: BluJek bergerak di bidang aplikasi yang menjembatani antara para pengemudi transportasi dengan para penumpangnya dengan tarif setiap 5 km sebesar 25 ribu rupiah dan setiap kilometer seterusnya cukup membayar 4 ribu rupiah. BluJek memiliki layanan antar jemput penumpang atau barang, layanan belanja, dan layanan antar jemput makanan.
4 LadyJek: LadyJek hadir untuk memberikan pelayanan khusus untuk wanita karena pengemudi LadyJek adalah wanita dan tarif yang dikenakan sama seperti metode yang digunakan BluJek serta waktu pengoperasian hanya sampai jam 19.00 yang pemesanannya melalui aplikasi.
5 Top-Jek: sebuah penyedia jasa layanan transportasi online seperti Gtransportasi, Grabbike dan BluJek. Pelayanan Top-Jek yaitu mengantar dan menjemput penumpang dan layanan kurir yang memberikan jasa mengantar barang dengan aplikasi.
6 Ojesy: kepanjangan Ojesy adalah Transportasi Syar‟i dimana para pengemudinya hanya khusus untuk pengendara wanita berjilbab dimana pemesanannya melalui telepon. Ojesy hanya mempunyai layanan antar dan jemput penumpang.
7 SmartJek: SmartJek menghubungkan jasa transportasi, bajaj dan taksi dengan memberikan layanan transportasi transportasi, pembelian dan pengantaran barang dan makanan, layanan belanja di supermarket, kurir, cash on delivery dan antar barang tertinggal melalui aplikasi.
8 BangJek: BangJek sebuah layanan transportasi dengan menggunakan aplikasi yang ada di smartphone seperti line, WhatsApp, BBM dan medsos.
9 Jeger Taksi: Jeger Taksi berbentuk taksi roda dua dengan argometer yang identik dengan warna kuning seperti transportasi argo dan kurir yang memberikan pelayanan mengantar pelanggan, layanan pembelian tiket untuk lebih gampang, mengantar pesanan pelanggan, pengiriman barang yang lebih mudah dengan pemesanan melalui hotline.
Seiring dengan munculnya angkutan umum online banyak memberikan kemudahan seperti dari segi biaya maupun pelayanan yang diberikan sehingga para penumpang lebih memilih alternatif angkutan umum lainnya yang dirasa lebih nyaman, efektif, dan efisien. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas dalam pelayanan transportasi di Indonesia. Peningkatan kualitas ini juga harus dibarengi dengan pembangunan aspek hukum transportasi itu sendiri.
Pembangunan hukum tidak hanya menambah dan/atau mengubah peraturan lama menjadi yang baru tetapi juga harus dapat memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi semua pihak yang terkait sistem transportasi itu sendiri terutama para penumpang.
Adapun peraturan perundang-undangan terkait transportasi tidak terlepas dari Hukum Pengangkutan di Indonesia yang diatur dalam KUHPerdata pada Buku Ketiga tentang Perikatan, kemudian dalam KUHDagang pada Buku II title ke V. Selain itu pemerintah telah mengeluarkan kebijakan di bidang transportasi darat yaitu dengan dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai Pengganti UU No. 14 Tahun 1992, serta Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2014 tentang Angkutan Jalan sebagai Pengganti Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 1993 dan Peraturan Menteri Perhubungan
Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek sebagai Pengganti Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2017 dan Pengganti Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2016.
Asas penyelenggaraan lalu lintas yaitu:8 a. Asas transparan
b. Asas akuntabel c. Asas berkelanjutan d. Asas partisipatif e. Asas bermanfaat f. Asas efisien dan efektif g. Asas seimbang
h. Asas terpadu i. Asas mandiri.
Tujuan dari Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yaitu:9
a. Terwujudnya pelayanan lalu lintas dan pengangkutan jalan yang aman, selamat, tertib, lancar dan terpadu dengan moda pengangkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan umum, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta mampu menjunjung tinggi martabat bangsa;
b. Terwujudnya etika berlalu lintas dan budaya bangsa; dan
8 Lihat Pasal 2 UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
9 Lihat Pasal 3 UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
c. Terwujudnya penegakan hukum dan kepastian hukum bagi masyarakat.
Adapun pengertian Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek adalah angkutan yang dilayani dengan mobil penumpang umum atau mobil bus umum dalam wilayah perkotaan dan/atau kawasan tertentu atau dari suatu tempat ke tempat lain, mempunyai asal dan tujuan tetapi tidak mempunyai lintasan dan waktu tetap.10
Maksud dan tujuan pengaturan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek yaitu:11
a. Terwujudnya pelayanan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek yang memanfaatkan penggunaan aplikasi berbasis teknologi informasi untuk mengakomodasi kemudahan aksesibilitas bagi masyarakat;
b. Terwujudnya pelayanan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek yang selamat, aman, nyaman, tertib, lancar, dan terjangkau;
c. Terwujudnya usaha yang mendorong pertumbuhan perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan dan prinsip pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah;
d. Terwujudnya kepastian hukum terhadap aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, kesetaraan, keterjangkauan, dan keteraturan serta menampung
10 Lihat Pasal 1 angka 3 Peraturan Menteri Perhubungan No. 108 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek
11
perkembangan kebutuhan masyarakat dalam penyelenggaraan angkutan umum; dan
e. Terwujudnya perlindungan dan penegakan hukum bagi masyarakat.
Ruang lingkup Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek meliputi:12
a. Jenis pelayanan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek;
b. Pengusahaan Angkutan;
c. Penyelengaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek dengan aplikasi berbasis teknologi informasi;
d. Pengawasan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek;
e. Peran Serta Masyarakat; dan f. Sanksi Administratif.
Perusahaan Angkutan Umum yang menyelenggarakan Angkutan orang dan/atau barang wajib memiliki:13
a. Izin penyelenggaraan Angkutan orang dalam Trayek;
b. Izin penyelenggaraan Angkutan orang tidak dalam Trayek; dan/atau c. Izin penyelenggaraan Angkutan barang khusus.
Dengan berlakunya Permenhub 108 Tahun 2017 ini diharapkan dapat membantu mewujudkan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terkait dengan
12 Lihat Pasal 3 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek
13 Lihat Pasal 78 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Angkutan Jalan
penyelenggaraan jasa angkutan umum online, baik pengusaha angkutan, pekerja (supir/pengemudi) serta penumpang. Secara operasional kegiatan penyelenggaraan pengangkutan umum online dilakukan oleh dilakukan oleh pengemudi atau supir angkutan dimana para pengemudi pengangkutan umum online mengikatkan diri untuk melakukan kegiatan pengangkutan atas nama pengusaha angkutan yang berbadan hukum Indonesia. Pengemudi angkutan umum online dalam menjalankan tugasnya mempunyai tanggung jawab yaitu mengangkut penumpang sampai pada tempat tujuan yang telah disepakati dengan selamat, artinya dalam proses pemindahan tersebut dari satu tempat ke tempat tujuan berlangsung tanpa hambatan dan penumpang dalam keadaan sehat, tidak mengalami bahaya, luka, sakit maupun meninggal dunia. Sehingga tujuan pengangkutan dapat terlaksana dengan lancar dan sesuai dengan nilai guna masyarakat.
Dalam kenyataannya masih sering pengemudi angkutan melakukan tindakan yang dinilai dapat menimbulkan kerugian bagi penumpang, baik itu kerugian yang secara nyata dialami oleh penumpang (kerugian materiil), maupun kerugian yang secara immaterial seperti kekecewaan dan ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang seperti tindakan pengemudi yang mengemudi secara tidak wajar dalam arti saat menjalani tugasnya pengemudi dipengaruhi oleh keadaan sakit, lelah, meminum sesuatu yang dapat mempengaruhi kemampuannya mengenudikan kendaraan secara ugal-ugalan sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan dan penumpang yang menjadi korban.
Tindakan lainnya yaitu pengemudi kurang mengetahui daerah sekitar penumpang sehingga terlambat menjemput penumpang tersebut serta masih terjadi simpang siur antara pengemudi angkutan umum konvensional dengan pengemudi angkutan umum online sehingga menimbulkan keresahan masyarakat dalam menggunakan angkutan umum online.
Berdasarkan hal yang diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk mempelajari, memahami, dan meneliti secara lebih mendalam mengenai bentuk perlindungan hukum bagi penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi, dan juga kerugian yang dialami akibat ulah angkutan umum berbasis teknologi informasi yang tidak bertanggung jawab sehingga menimbulkan kerugian bagi penumpang. Selanjutnya penulis menyusunnya dalam suatu penulisan hukum yang berjudul: “PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENUMPANG ANGKUTAN UMUM BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 (STUDI DI KOTA MEDAN)”
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini, antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana kedudukan hukum penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi?
2. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan penumpang menggunakan angkutan umum berbasis teknologi informasi?
3. Bagaimana perlindungan hukum terhadap penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam skripsi ini, antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kedudukan hukum penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan penumpang menggunakan angkutan umum berbasis teknologi informasi.
3. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi.
D. Manfaat Penelitian a. Manfaat praktis
1. Skripsi ini bermanfaat untuk para penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi supaya mengetahui perlindungan konsumen yang dimilikinya sebagai penumpang.
2. Dan bermanfaat juga untuk masyarakat supaya dapat menyadari bahwa angkutan umum berbasis teknologi informasi diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan
Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek dan hal tersebut merupakan payung hukum angkutan umum berbasis teknologi informasi.
b. Manfaat Teoritis
1. Skripsi ini diharapkan berguna sebagai bahan untuk pengembangan wawasan dan kajian lebih lanjut bagi yang ingin mengetahui dan memperdalam tentang masalah pengaturan perlindungan hukum bagi penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi.
2. Skripsi ini bermanfaat untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syaratnya untuk mencapai gelar sarjana hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
E. Keaslian Penulisan
Penulisan tentang Perlindungan hukum bagi penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 (Studi di Kota Medan) belum pernah ada diteliti sebelumnya. Keaslian penulisan skripsi ini benar merupakan hasil pemikiran dari penulis dengan mengambil panduan dari buku-buku, dan sumber lain yang berkaitan dengan judul skripsi penulis, ditambah dengan sumber riset dari lapangan.
Dalam penulisan ini yang dikaji oleh penulis adalah Perlindungan hukum bagi penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2008. Penulisan ini disusun berdasarkan literatur-literatur yang berkaitan dengan Hukum Perdata, Hukum Dagang, Hukum Pengangkutan serta Peraturan Perundang-undangan yang membahas mengenai perlindungan hukum bagi penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi. Oleh karena itu tulisan ini merupakan sebuah karya asli dan sesuai dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional, objektif dan terbuka. Semua ini merupakan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran ilmiah, sehingga tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
F. Metode Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.14 Menurut Soerjono Soekanto, penelitian dimulai ketika seseorang berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi secara sistematis dengan metode dan teknik tertentu yang bersifat ilmiah, artinya bahwa metode atau teknik yang digunakan tersebut bertujuan untuk satu atau beberapa gejala dengan jalan menganalisanya dan dengan mengadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas masalah-masalah yang ditimbulkan faktor tersebut.15
14 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung, Alfabeta, 2004, hlm.2
15
Metode penelitian hukum adalah prosedur atau cara yang dilakukan dalam melakukan penelitian hukum.16 Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari suatu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya, serta dilakukan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalah-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.17
Dalam pengumpulan data dan informasi untuk penulisan skripsi ini,penulis telah mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk dapat mendukung penulisan skripsi ini dan hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Untuk memperkuat argumentasi dari penulisan skripsi ini, perlu didukung oleh data-data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena data-data ini merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mendukung kebenaran ilmiah dari skripsi ini.
Dalam upaya pengumpulan data yang diperlukan, maka penulis menerapkan metode pengumpulan data sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk kategori yang bersifat Yuridis Normatif dan Yuridis Empiris. Pada penelitian hukum Normatif dilakukan dengan menggunakan kajian terhadap peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan hukum yang berhubungan dengan skripsi. Peraturan perundang-undangan yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
16 M.Syamsudin, Operasionalisasi Penelitian Hukum, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 2007, hlm. 22
17 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI Press, 2008, hlm.21
Transaksi Elektronik, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Angkutan Jalan, dan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2017 Tentang Penyelenggraaan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek dan peraturan lainnya yang berkaitan, serta bahan-bahan hukum lainnya yang berkaitan dengan skripsi ini.
Sedangkan penelitian Empiris merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data primer, yaitu dengan menyebarkan kuisioner kepada para penumpang dan pengemudi angkutan umum berbasis teknologi informasi di Kota Medan.
2. Jenis Data dan Sumber Data
Data penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer yaitu sumber data yang diperoleh dengan menyebarkan kuisioner kepada para penumpang dan pengemudi angkutan umum berbasis teknologi informasi. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari studi kepustakaan yang mencakup berbagai buku, peraturan perundang-undangan, bahan-bahan kepustakaan lain serta internet yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti serta didukung oleh data yang diperoleh dari studi lapangan di Kota Medan.
Adapun sumber data sekunder dari penelitian ini yang dilakukan dengan menghimpun bahan-bahan berupa:
a. Bahan Hukum Primer yaitu berupa Undang-Undang dan peraturan-peraturan yang terkait dengan objek penelitian.
b. Bahan Hukum Sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer antara lain: tulisan atau pendapat para pakar hukum, buku-buku hasil karangan ilmiah dari kalangan-kalangan hukum, artikel dari internet, doktrin serta hal-hal yang berkaitan dengan pokok bahasan skripsi ini.
c. Bahan Hukum Tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus Bahasa Indonesia dan kamus hukum.
3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan yang digunakan dalam mengumpulkan data-data dari skripsi ini adalah sebagai berikut:
c. Dalam penelitian Hukum Normatif dilakukan dengan Library Research (studi kepustakaan) yaitu penelitian yang dilaksanakan melalui tinjauan kepustakaan untuk memperoleh informasi dan data yang dapat dipergunakan sebagai dasar dalam penelitian dan analisa terhadap masalah yang akan dibahas. Adapun data-data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini antara lain berasal dari buku-buku baik koleksi pribadi maupun dari perpustakaan, artikel-artikel baik yang diambil dari media cetak maupun media elektronik, dokumen-dokumen pemerintah, termasuk peraturan perundang-undangan
d. Dalam penelitian Hukum Empiris dilakukan dengan Field Research (studi lapangan), yaitu penelitian yang dilakukan langsung dilaksanakan di lapangan, yaitu dengan memperoleh data dari para penumpang dan pengemudi angkutan umum berbasis teknologi informasi melalui kuisioner.
4. Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan. Metode penelitian kepustakaan dilakukan dengan mengambil data dari berbagai buku, sumber bacaan yang berhubungan dengan judul pembahasan, majalah maupun media massa dan perundang-undangan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan metode analisis kualitatif, yaitu dengan memperhatikan fakta-fakta yang ada di lapangan, kemudian dikelompokkan, dihubungkan dan dibandingkan dengan ketentuan yang berkaitan dengan Hukum Pengangkutan. Penelitian dilakukan dengan menganalisis terhadap data-data. Analisa data dilakukan setelah diperoleh data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier sehingga memberikan jawaban yang jelas atas permasalahan dan tujuan penelitian.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini terbagi ke dalam bab-bab yang menguraikan permasalahannya secara tersendiri, di dalam suatu konteks yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Penulis membuat sistematika dengan membagi pembahasan seluruhnya kedalam lima bab terperinci. Adapun bagian- bagiannya adalah:
BAB I : Pendahuluan
Pada bab ini penulis akan membahas mengenai Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Pengangkutan
Pada bab ini akan membahas tentang perjanjian secara umum menurut KUHPerdata, pengangkutan pada umumnya, dan perjanjian pengangkutan.
BAB III: Angkutan Umum Berbasis Tenologi Informasi Dan Ruang Lingkupnya
Pada bab ini akan membahas tentang pengertian angkutan umum berbasis teknologi informasi, jenis-jenis angkutan umum berbasis teknologi informasi, pengaturan mengenai pemberian izin angkutan umum berbasis teknologi informasi di Indonesia, hak dan kewajiban penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi dan masalah-masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan angkutan umum berbasis teknologi informasi.
BAB IV: Perlindungan Hukum Bagi Angkutan Umum Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008
Pada bab ini akan dibahas tentang pengaturan perlindungan hukum bagi penumpang angkutan umum berbasis teknologi informasi di Kota Medan, faktor- faktor yang menyebabkan penumpang menggunakan angkutan umum berbasis teknologi informasi dan perlindungan hukum bagi angkutan umum berbasis teknologi informasi.
BAB V: Kesimpulan dan Saran
Bab ini merupakan bab terakhir dari skripsi ini, dan merupakan penutup dari rangkaian bab-bab sebelumnya dimana dalam bab ini penulis membuat suatu kesimpulan atas pembahasan skripsi ini yang kemudian dilanjutkan dengan
member saran-saran atas masalah-masalah yang tidak terpecahkan yang diharapkan akan berguna dalam kehidupan masyarakat dan praktek perkembangan dalam ilmu pengetahuan dalam bidang pengangkutan.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN PENGANGKUTAN
A. Perjanjian Secara Umum Menurut KUHPerdata 1. Pengertian dan Dasar Hukum Perjanjian
Perjanjian merupakan sumber perikatan selain undang-undang. Perikatan merupakan pengertian yang masih abstrak karena pihak-pihak dikatakan melaksanakan sesuatu hal, sedangkan perjanjian sudah merupakan suatu pengertian yang konkret, karena pihak-pihak dikatakan melaksanakan suatu peristiwa tertentu18. Perikatan yang lahir dari perjanjian memang dikehendaki oleh 2 (dua) pihak yang membuat suatu perjanjian, sedangkan perikatan yang lahir dari undang-undang diadakan oleh undang-undang diluar kemauan para pihak yang bersangkutan.19
Istilah perjanjian dalam bahasa belanda dikenal dua istilah yaitu verbintenis dan overeeinskomst, sedangkan hukum perjanjian adalah verbintenissenrecht dan overeenkomstenrecht.20 Istilah verbintenis berasal dari kata binden artinya ikat atau mengikat sedangkan overeenkomst berasal dari kata kerja overeenkomen yang artinya setuju atau sepakat. Jadi overeenkomst mengandung kata sepakat sesuai dengan asas konsensualisme yang dianut oleh BW (Burgerlijk WetBoek).
18I Ketut Oka Setiawan, Hukum Perikatan, Jakarta, Sinar Grafika, 2015, hlm. 43
19Subekti, Hukum Perjanjian Cetakan kesembilanbelas, Jakarta, Intermasa, 2002, hlm.3
20C.S.T. Kansil, Modul Hukum Perdata Termasuk Asas-Asas Hukum Perdata, Jakarta, PT.Pradnya Paramita, 2006.
Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seseorang yang lain atau dimana 2 (dua) orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Berdasarkan definisi-definisi tersebut diperoleh kesimpulan bahwa dari suatu perjanjian timbullah suatu hubungan antara 2 (dua) orang yang dinamakan perikatan. Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan diantara 2 (dua) orang yang membuatnya.
Suatu perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.21
Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hukum perjanjian diatur dalam Buku III BW (KUHPerdata). Bagian dari BW yang terdiri dari IV Buku yaitu sebagai berikut:
1. Buku I mengenai Hukum Perorangan;
2. Buku II mengenai Hukum Kebendaan;
3. Buku III mengenai Hukum Perjanjian;
4. Buku IV mengatur Pembuktian dan Kadaluarsa.
Menurut ketentuan Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, perjanjian didefinisikan sebagai: “Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.”
Para Sarjana Hukum Perdata umumnya berpendapat bahwa definisi perjanjian yang terdapat di dalam ketentuan diatas adalah tidak lengkap dan juga terlalu luas. Beberapa definisi perjanjian menurut para ahli yaitu sebagai berikut:
a. Menurut R.Subekti, perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.22
b. Menurut Wirjono Projodikoro, perjanjian adalah sebagai suatu hubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau tidak melakukan sesuatu hal, sedangkan pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.23
c. Menurut M.Yahya Harahap mengemukakan perjanjian atau verbintenis mengandung suatu hubungan hukum kekayaan atau harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi.24
d. Menurut Tirtodiningrat, perjanjian adalah suatu perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat diantara dua orang atau lebih untuk menimbulkan akibat-akibat hukum yang diperkenankan oleh undang-undang.25
e. Menurut Abdul Kadir Muhammad, perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk melaksanakan sesuatu dalam lapangan harta kekayaan.26
22 Ibid
23Wirjono Projodikoro, Asas-Asas Hukum Perjanjian, Bandung, Sumur, 1981, hlm. 9
24M.Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Bandung, Alumni, 1986, hlm.6
25Tirtodiningrat, Ikhtisar Hukum Perdata Dan Hukum Dagang, Jakarta, PT.
Pembangunan, 1986, hlm.83
26 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perjanjian (Buku II), Bandung, Citra Aditya Bakti, 1990, hlm.78
f. Menurut Sudikno Mertokusumo, perjanjian adalah hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.27
Dasar hukum perjanjian diatur dalam Buku III BW (KUHPerdata).
2. Subjek dan Objek Perjanjian
Menurut R. Subekti, yang termasuk dalam subjek perjanjian antara lain:28 a. Orang yang membuat perjanjian harus cakap atau mampu melakukan
perbuatan hukum tersebut, siapapun yang menjadi para pihak dalam suatu perjanjian harus memenuhi syarat bahwa mereka adalah cakap untuk melakukan perbuatan hukum.
b. Ada kesepakatan yang menjadi dasar perjanjian yang harus dicapai atas dasar kebebasan menentukan kehendaknya (tidak ada paksaan, kekhilafan, atau penipuan), dengan adanya kesepakatan diantara kedua belah pihak yang membuat perjanjian, maka perjanjian itu mengikat mereka yang membuatnya.
Sedangkan untuk objek perjanjian, dinyatakan bahwa suatu perjanjian haruslah mempunyai objek tertentu, sekurang-kurangnya objek tersebut dapat ditentukan. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi objek perjanjian antara lain:
1. Barang-barang yang dapat diperdagangkan (Pasal 1332 KUHPerdata)
27Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Yogyakarta, Liberty,
2. Suatu barang yang sedikitnya dapat ditentukan jenisnya (Pasal 1333 KUHPerdata). Tidak menjadi halangan bahwa jumlahnya tidak tentu, asal saja jumlah itu di kemudian hari dapat ditentukan atau dihitung.
3. Barang-barang yang akan ada di kemudian hari (Pasal 1334 ayat (2) KUHPerdata)
Adapun barang-barang yang tidak boleh dijadikan objek perjanjian yaitu antara lain:29
1. Barang-barang di luar perdagangan, misalnya senjata resmi yang dipakai negara;
2. Barang-barang yang dilarang oleh undang-undang, misalnya narkotika;
3. Warisan yang belum terbuka.
Menurut Subekti mengenai objek perjanjian ditentukan bahwa:30
1. Apa yang dijanjikan oleh masing-masing pihak harus cukup jelas untuk menetapkan kewajiban masing-masing.
2. Apa yang dijanjikan oleh masing-masing pihak tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum atau kesusilaan.
3. Syarat sahnya perjanjian
Dalam kaitan syarat sahnya suatu perjanjian , Asser (dalam Badrulzaman, 1996: 99) menyatakan bahwa perjanjian terdiri atas dua bagian, yaitu bagian inti (wezenlijk oordeel) disebut juga essensial, merupakan sifat yang harus ada di
29 Marian Darus Badrulzaman, Hukum Perdata Tentang Perikatan (Buku II), Medan, Penerbit Fakultas Hukum USU, 1974, hlm. 166
30 R.Subekti, Hukum Perjanjian Buku II, Op.Cit.
dalam perjanjian, sifat yang menentukan atau menyebabkan perjanjian itu tercipta (constructive oordeel), seperti perjanjian antara para pihak dan objek perjanjian.31 Bagian bukan inti disebut non wezenlijk oordeel dan bagian ini dibagi lagi menjadi naturalia dan accidential. Bagian naturalia merupakan sifat bawaan dari perjanjian itu, sehingga secara diam-diam melekat pada perjanjian itu, seperti menjamin tidak ada cacat dalam benda yang dijual (vrijwaring). Adapun accidential, merupakan sifat yang melekat pada perjanjian secara tegas diperjanjikan oleh para pihak, seperti domisili para pihak.32
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, syarat-syarat sahnya perjanjian diatur dalam ketentuan Pasal 1320 yang menyatakan bahwa : “Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat yakni :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, dimana para pihak sepakat untuk mengikatkan diri dalam perjanjian (Pasal 1321-1328 KUHPerdata);
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan, dalam melakukan perjanjian para pihak dianggap cakap dalam melakukan perbuatan hukum (Pasal 1329-1331 KUHPerdata);
3. Suatu hal tertentu, dalam perjanjian ditentukan hal yang akan diperjanjikan (Pasal 1332-1334 KUHPerdata);
4. Suatu sebab yang halal, dalam perjanjian diatur hal-hal yang tidak melanggar hukum atau kesusilaan (Pasal 1335-1337 KUHPerdata).
31
Dari ke empat syarat diatas, dalam doktrin ilmu hukum yang berkembang, digolongkan ke dalam:
1. Dua syarat pertama disebut syarat subjektif, karena mengenai orang-orangnya atau subjek (pihak) yang mengadakan perjanjian, dan
2. Dua syarat terakhir disebut syarat objektif, karena mengenai perjanjiannya sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu.33
Sepakat atau juga dinamakan perizinan dimaksudkan bahwa kedua subjek yang mengadakan perjanjian itu harus bersepakat atau setuju mengenai hal-hal pokok dari perjanjian yang diadakan.34 Persetujuan kedua belah pihak merupakan kesepakatan harus diberikan secara bebas. Sesuai dalam Pasal 1321 KUHPerdata yang menyebutkan bahwa tiada kesepakatan sah apabila kesepakatan itu diberikan secara kekhilafan (dwaling) atau diperoleh dengan paksaan (dwang) atau penipuan (bedrog).
Yang dimaksudkan dengan paksaan, adalah paksaan rohani atau paksaan jiwa (psikis) jadi bukan paksaan badan (fisik). Misalnya salah satu pihak karena diancam atau ditakut-takuti terpaksa menyetujui suatu perjanjian. Kekhilafan atau kekeliruan terjadi, apabila salah satu pihak khilaf tentang hal-hal yang pokok dari apa yang diperjanjikan atau tentang sifat-sifat yang penting dari barang yang menjadi objek perjanjian, ataupun mengenai orang dengan siapa diadakan perjanjian itu. Kekhilafan itu harus diketahui oleh lawan, atau paling sedikit harus sedemikian rupa sehingga pihak lawan mengetahui bahwa ia berhadapan dengan seorang yang berada dalam kekhilafan. Penipuan terjadi, apabila satu pihak
33 Subekti, Hukum Perjanjian Buku II, Op.Cit, hlm. 17
34 Ibid
dengan sengaja memberikan keterangan-keterangan yang palsu atau tidak benar disertai dengan tipu muslihat untuk membujuk pihak lawannya memberikan perizinannya.35
Orang yang membuat perjanjian harus cakap menurut hukum. Pasal 1330 KUHPerdata menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak cakap antara lain : 1. Orang-orang yang belum dewasa;
2. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan;
Menurut pasal 433 KUHPerdata, orang-orang yang diletakkan di bawah pengampuan adalah setiap orang dewasa yang berada dalam keadaan dungu, sakit otak atau mata gelap dan boros. Apabila seseorang yang belum dewasa dan mereka yang diletakkan dibawah pengampuan itu mengadakan perjanjian, maka yang mewakilinya masing-masing adalah orang tua dan pengampunya.
3. Perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan dalm undang-undang dan semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian- perjanjian tertentu. Ketentuan ini dihapus oleh Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 1963 jo. Pasal 31 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 sehingga perempuan menikah dianggap cakap dalam membuat perjanjian.36
Suatu perjanjian harus mengenai hal tertentu, artinya apa yang diperjanjikan hak-hak dan kewajiban kedua belah pihak harus jelas untuk mencegah timbulnya suatu perselisihan. Barang yang dimaksudkan dalam perjanjian paling sedikit harus ditentukan jenisnya sedangkan mengenai sebab
35
yang halal dimaksudkan terhadap isi perjanjian itu sendiri.37 Isi perjanjian dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu: 38
1. Perjanjian untuk memberikan sesuatu atau menyerahkan suatu barang, misalnya jual beli dan sewa menyewa ;
2. Perjanjian untuk berbuat sesuatu, misalnya perjanjian untuk membuat suatu lukisan, perjanjian perburuhan ;
3. Perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu, misalnya perjanjian untuk tidak mendirikan pagar, tidak mendirikan perusahaan yang sejenis dengan perusahaan orang lain.
Dalam hal syarat subjektif tidak terpenuhi, perjanjiannya bukan batal demi hukum tetapi salah satu pihak mempunyai hak untuk meminta perjanjian itu dibatalkan (canceling). Sedangkan dalam hal syarat objektif tidak terpenuhi, maka perjanjian itu batal demi hukum (null and void). Artinya, dari semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah ada suatu perikatan.39
Menurut Abdulkadir Muhammad unsur-unsur dalam suatu perjanjian yaitu sebagai berikut :40
1. Ada pihak-pihak, minimal dua orang yang terdiri dari subjek hukum berupa manusia kodrati dan badan hukum (rechtperson).
2. Ada persetujuan antara pihak berdasarkan keabsahan untuk mengadakan tawar-menawar (bargaining) atau consensus dalam suatu perjanjian.
37 Ibid
38 Ibid, hlm. 36
39 Ibid, hlm. 20
40 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, Bandung, PT.Citra Aditya Bakti, 2008, hlm.78
3. Ada satu atau beberapa tujuan tertentu yang ingin dicapai, yang tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang, ketertiban umum, kebiasaan yang diakui masyarakat dan kesusilaan.
4. Ada prestasi yang harus dilaksanakan oleh suatu pihak dan dapat dituntut oleh pihak lainnya, begitu juga sebaliknya.
5. Ada bentuk tertentu, yang harus dibuat secara tertulis dalam suatu akta, baik autentik maupun dibawah tangan, bahkan secara lisan.
6. Ada syarat-syarat tertentu menurut Undang-Undang, agar suatu kontrak yang dibuat menjadi sah.
Suatu asas penting dalam hukum perjanjian adalah asas kebebasan berkontrak yang ditentukan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yaitu “ Semua perjanjian yang sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.” Dengan menekankan pada perkataan semua, maka pasal tersebut seolah-olah berisikan suatu pernyataan kepada masyarakat bahwa kita diperbolehkan membuat perjanjian yang berupa dan berisi apa aja (atau tentang apa saja) dan perjanjian itu akan mengikat mereka yang membuatnya seperti undang-undang. Oleh karena itu sistem hukum perjanjian dinamakan sistem terbuka.
Dalam pasal 1338 ayat (2) dinyatakan bahwa persetujuan-persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang dibenarkan oleh undang-undang. Sedangkan dalam pasal 1338 ayat (3) dinyatakan bahwa persetujuan-persetujuan harus dilaksanakan
dengan itikad baik. Dalam hal ini dapat terlihat bahwa perjanjian itu harus berlandaskan itikad baik (good faith).
Dalam hukum perjanjian berlaku suatu asas yaitu Asas Konsensualisme, yang berasal dari bahasa latin consensus yang berarti sepakat. Asas konsensualisme adalah bersifat mutlak dalam perjanjian. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, berarti kedua belah pihak sudah setuju atau bersepakat mengenai suatu hal. Arti asas konsensualisme ialah perjanjian atau perikatan sudah timbul atau sudah dilahirkan sejak detik tercapainya kesepakatan.
4. Jenis-Jenis Perjanjian
Jenis-jenis perjanjian dapat dibedakan menjadi 5 golongan berdasarkan bentuk-bentuk perjanjian itu sendiri yaitu sebagai berikut:41
a. Bentuk perjanjian Berdasarkan Hak dan Kewajiban. Penggolongan ini dilihat dari hak dan kewajiban para pihak. Adapun perjanjian-perjanjian yang dilakukan para pihak menimbulkan hak dan kewajiban-kewajiban pokok seperti jual beli dan sewa menyewa.
1. Perjanjian Sepihak
Perjanjian sepihak adalah suatu perjanjian yang dinyatakan oleh salah satu pihak saja, tetapi mempunyai akibat dua pihak, yaitu pihak yang memiliki hak tagih yang dalam bahasa bisnis disebut pihak kreditur, dan pihak yang dibebani kewajiban yang disebut debitur. Contoh perjanjian sepihak yaitu
41 I Ketut Oka Setiawan, Opcit. hlm. 49-59.
hibah (yang diatur dalam Pasal 1666 KUHPerdata) dan wasiat (yang diatur dalam Pasal 875 KUHPerdata).42
2. Perjanjian Timbal Balik
Perjanjian timbal balik adalah perjanjian yang memuat hak pada salah satu pihak, dan hak tersebut sekaligus menjadi kewajiban bagi pihak lawannya. Contoh perjanjian timbal balik adalah perjanjian jual beli (yang diatur dalam Pasal 1457 KUHPerdata).43
b. Bentuk perjanjian berdasarkan Keuntungan Yang Diperoleh. Penggolongan ini didasarkan pada keuntungan salah satu pihak dan adanya prestasi dari pihak lainnya.44
1. Perjanjian Cuma-Cuma
Perjanjian Cuma-Cuma adalah perjanjian yang memberikan keuntungan bagi salah satu pihak. Misalnya, perjanjian hibah dan perjanjian pinjam pakai.
2. Perjanjian Atas Beban
Perjanjian atas Beban adalah suatu persetujuan yang mewajibkan masing-masing pihak memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, misalnya, jual beli, tukar-menukar, dan lain sebagainya.
Kedua jenis perjanjian ini diatur dalam Pasal 1314 KUHPerdata.
c. Bentuk perjanjian berdasarkan Nama dan Pengaturan. Penggolongan ini didasarkan pada nama perjanjian yang tercantum di dalam Pasal 1319
42 Ibid
43
KUHPerdata. Di dalam pasal 1319 KUHPerdata hanya disebutkan tiga macam perjanjian menurut namanya, yaitu:
1. Perjanjian Bernama
Perjanjian bernama (benoemde) adalah perjanjian-perjanjian yang dikenal dengan nama tertentu dan mempunyai pengaturan secara khusus dalam undang-undang. Contoh perjanjian bernama adalah perjanjian jual-beli, sewa-menyewa, tukar-menukar, perjanjian kerja, dan lain sebagainya.
2. Perjanjian Tidak Bernama
Perjanjian tidak bernama (onbenoemde) adalah perjanjian-perjanjian yang tidak diberi nama dan pengaturan secara khusus dalam undang-undang.
Contoh perjanjian tidak bernama adalah perjanjian sewa beli.
Kedua jenis perjanjian ini diatur dalam Pasal 1319 KUHPerdata 3. Perjanjian Campuran
Perjanjian Campuran adalah perjanjian yang mempunyai ciri-ciri dari dua atau lebih perjanjian bernama.
d. Bentuk perjanjian berdasarkan Tujuan Perjanjian. Penggolongan ini didasarkan pada unsur-unsur perjanjian yang terdapat di dalam perjanjian tersebut.45
1. Perjanjian Kebendaan
Perjanjian Kebendaan adalah suatu perjanjian dengan mana seseorang mnyerahkan haknya atas suatu benda kepada pihak lain, atau suatu perjanjian
45 Ibid
yang membebankan kewajiban pihak, untuk menyerahkan benda tersebut kepada pihak lain.
2. Perjanjian Obligatoir
Perjanjian Obligatoir adalah perjanjian yang hanya menyoalkan kesepakatan para pihak untuk melakukan penyerahan suatu benda kepada pihak lain.
3. Perjanjian Liberatoir
Perjanjian Liberatoir atau perjanjian yang menghapuskan perikatan adalah perjanjian antara dua pihak yang isinya adalah untuk menghapuskan perikatan yang ada di antara mereka. misalnya, pembebasan utang (Pasal 1438 KUHPerdata).
e. Bentuk perjanjian berdasarkan Cara Terbentuknya Atau Lahirnya Perjanjian.
Penggolongan perjanjian ini didasarkan pada terbentuknya perjanjian itu.
Perjanjian itu sendiri terbentuk karena adanya kesepakatan kedua belah pihak pada saat melakukan perjanjian.46
1. Perjanjian Konsensual
Perjanjian konsensual adalah perjanjian yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih, dimana bila mereka telah mencapai persesuaian (persetujuan) kehendak untuk mengadakan perikatan. Misalnya, jual beli, sewa menyewa.
2. Perjanjian Riil
Perjanjian riil adalah perjanjian antara dua orang atau lebih, dimana keterikatan mereka ditentukan, bukan karena konsensus (kesepakatan), tetapi