• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA SEMIOTIK LAGU-LAGU IWAN FALS VOL. 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAKNA SEMIOTIK LAGU-LAGU IWAN FALS VOL. 1"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi salah satu Syarat guna Mendapatkan Gelar Sarjana Pada Jurusan Pendidikan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia

OLEH DIANA CODING NIM. 10533 7071 12

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2016

(2)

i

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhana waa taala., atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga proposal yang berjudul “Interpretasi Makna Leksikal dalam Teks Lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1” ini dapat dirampungkan.

Proposal ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dengan selesainya proposal ini tidaklah berarti bahwa proposal ini sudah dalam bentuk yang sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritikan sangat diharapkan dari pembaca demi kesempurnaan proposal ini.

Penulis menyadari bahwa selama dalam penyusunan proposal ini, banyak pihak yang telah membantu dan memberikan dukungannya baik secara material maupun moril. Demikian pula segala bantuan yang penulis peroleh selama di bangku perkuliahan sehingga penulis merasa sangat bersyukur dan mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu penulis.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Dr.

Salam, M.Pd., sebagai pembimbing I yang dengan penuh . keikhlasan dan ketelitian membimbing, mengarahkan, memberikan ide-ide, dan saran, serta memberikan masukan sampai penulis menyelesaikan proposal ini

i

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhana waa taala., atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga proposal yang berjudul “Interpretasi Makna Leksikal dalam Teks Lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1” ini dapat dirampungkan.

Proposal ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dengan selesainya proposal ini tidaklah berarti bahwa proposal ini sudah dalam bentuk yang sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritikan sangat diharapkan dari pembaca demi kesempurnaan proposal ini.

Penulis menyadari bahwa selama dalam penyusunan proposal ini, banyak pihak yang telah membantu dan memberikan dukungannya baik secara material maupun moril. Demikian pula segala bantuan yang penulis peroleh selama di bangku perkuliahan sehingga penulis merasa sangat bersyukur dan mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu penulis.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Dr.

Salam, M.Pd., sebagai pembimbing I yang dengan penuh . keikhlasan dan ketelitian membimbing, mengarahkan, memberikan ide-ide, dan saran, serta memberikan masukan sampai penulis menyelesaikan proposal ini

i

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhana waa taala., atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga proposal yang berjudul “Interpretasi Makna Leksikal dalam Teks Lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1” ini dapat dirampungkan.

Proposal ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dengan selesainya proposal ini tidaklah berarti bahwa proposal ini sudah dalam bentuk yang sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritikan sangat diharapkan dari pembaca demi kesempurnaan proposal ini.

Penulis menyadari bahwa selama dalam penyusunan proposal ini, banyak pihak yang telah membantu dan memberikan dukungannya baik secara material maupun moril. Demikian pula segala bantuan yang penulis peroleh selama di bangku perkuliahan sehingga penulis merasa sangat bersyukur dan mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu penulis.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Dr.

Salam, M.Pd., sebagai pembimbing I yang dengan penuh . keikhlasan dan ketelitian membimbing, mengarahkan, memberikan ide-ide, dan saran, serta memberikan masukan sampai penulis menyelesaikan proposal ini

(3)

ii

petunjuk kepada penulis hingga pada tahap penyelesaian skripsi ini.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus, penulis sampaikan kepada Dr. Munirah, M. Pd., sebagai Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah memberikan saran selama penulis menempuh pendidikan, seluruh dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah membekali penulis berbagai ilmu pengetahuan selama menempuh kuliah sampai pada penyusunan proposal ini.

Segenap cinta dan hormat penulis ucapkan kepada kedua orang tua, dan keluarga yang menjadi kebanggaanku sepanjang zaman Ayahanda Alm. Co’ding dan Ibunda Basse Dg Ngona. atas ketulusan doa, curahan cinta, dukungan, semangat, dan kasih sayangnya kepada penulis yang tak mungkin terbalaskan dalam bentuk apapun. Demikian pula penulis ucapkan terima kasih kepada saudara-saudaraku yang selalu memberikan dorongan dan doa.

Dari semua bantuan dan bimbingan yang telah diberikan, penulis tentunya tidak akan dapat membalasnya kecuali berdoa semoga Allah Subhanahu wa taala melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-Nya yang telah membantu sesamanya.

Makassar, Juni 2016

DIANA CODING

(4)

iii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL

PERSETUJUAN PEMBIMBING KARTU KONTROL

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS ... 8

A. Kajian Pustaka ... 8

B. Kerangka Pikir ... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

A. Desain Penelitian... 25

B. Data dan Sumber Data ... 25

C. Defenisi Operasional Istilah ... 26

D. Teknik Pengumpulan Data... 27

E. Teknik Analisis data... 28 DAFTAR PUSTAKA

(5)

A. Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai bagian dari masyarakatt dan pemakai bahasa dalam kehidupan kesehariannya perlu berinteraksi karena tanpa interaksi manusia dapat kesulitan menyatu dengan lingkungannya. Dalam berinteraksi, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi, menyampaikan ide, gagasan, dan keinginan kepada orang lain. Kita menyadari bahwa tanpa bahasa sebagai alat komunikasi, kegiatan kemasyarakatan atau sosial tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap

Ada kecenderungan bahwa pilihan kata seorang pencipta lagu berbeda dengan pilihan kata orang yang bukan pencipta lagu, dalam artian pemakaian bahasa sehari-hari. Sebagaiman diketahui bahwa lagu adalah salah satu karya yang dalam penciptannya dipandang perlu untuk mengetahui pemilihan kata yang tepat agar untaian kata dalm lagu tersebut dapat dimengerti dan dinikmati dengan baik oleh pendengarnya. Dalam menghasilkan suatu lagu yang baik dan brrkualitas, seseorang pencipta lagu harus memahami bahasa dan kaidah- kaidahnya, yaitu dengn mengenal kelemahan dan kekuatan bahasa yang dipakainya sebagai media ekpresi dan membangun karya itu. Seorang pencipta lagu senantiasa berhadapan dengan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh bahasa dan situasi kebahasaan yang dipecahkan sendiri melalui pertimbangn-

(6)

pertimbangan, termaksud seleksi kata dan bahasa yang ingin digunakan dalam penyaringan bahasa dan pengalaman, serta sebagai alternatif dalam proses kreatif seorang pencipta atau pengarang lagu.

Pencipta lagu juga dituntut untuk menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan dipahami oleh pendengarannya. Biasanya ide-ide atau gagasan seorang pencipta lagu timbul dari imajinasi mengenai apa yang dirasakan, dilihat, dan yang dialami oleh pencipta lagu itu sendiri sehingga lagu tersebut dapat dinikmati dan dapat dimengerti maknanya, serta dapat menggugah perasaan pendengarannya. Melalui untaian lagu yang berasal dari pengolahan kata demi kata, maka pendengar dapat mengasosiasiakan lagu tersebut.

Ketepatan pilihan kata mempersoalkan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh penulis atau pembaca. Persoalan ketepatan pilihan kata berkaitan dengan persoalan makna dan kosa kata seseorang. Ketepatan makna kata menuntut pula kesadaran penulis atau pembaca untuk mengetahui bagaimna hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referensinya sehingga kata yang dipilih dianggap dapat mendukung maksud penulis atau pencipta.

Demikian pula menyangkut masalah makna kata yang meminta perhatian penulis atau pembicara. Makna sebuah kata pada dasarnya diperoleh karena persetujuan informal (konvensi) antara sekelompok orang untuk menyatakan hal atau tertentu melalui rangkaian bunyi-bunyi tertentu. Dengan kata lain, arti kata adalah konvensi umum tentang interaksi antara sebuah kata dengan referensinya.

(7)

tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan adalah sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut benda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, setangkai bunga, rambut uban, sikap diam membisu, dan warna, semuanya itu dianggap sebagai tanda. Dari uraian diatas tentunya semiotika dapat dijadikan referensi untuk mengkaji sebuah lagu.

Menganalisis lagu itu bertujuan memahami makna lagu. Menganalisis lagu adalah usaha menanggap dan memberi makna kepada teks lagu. Karya sastra ini merupakan struktur yang bermakna. Karya sastra ini merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa. Bahasa merupakan medium karya sastra yang merupakan sistemsemiotik atau ketandaan yang mempunyai arti, medium karya satra bukanlah bahan yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni musim atau warna pada lukisan

Warna cat yang digunakan dala lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa, sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum digunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvenssi masyarakat.

Sistem ketandaan ini disebut semiotik.

Hal yang penting dalam lapangan semiotik atau lapangan sistem tanda, adalah pengertian tanda-tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip

(8)

yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan penanda ( signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan pertanda., ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks,dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya, gambar kuda menandai kuda yang nyata.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan penanda yang bersifat klausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya asap menandai api. Simbol adalah tanda yang tidak yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan keduanya bersifat arbitrer dan berdasarkan konvensi ( perjanjian masyarakat). Misalnya kata ibu, berarti orang yang melahirkan kita.

Ilmu atau semiotik (parade, 2001: 58), arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama itu di sebut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkankonvensi masyarakat (sastra) karena sastra (kasya sastra) merupakan sistem tanda yang lebih tinggi (atas) kedudukannya dari bahasa, maka disebut sistem semiotik tingkat kedua. Dalam karya sastra, arti kata- kata (bahasa) ditentukan oleh konvensi sastra.

Warna cat sebelum digunakan dalam lukisan bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa, sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum digunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat sistem ketandaan itu disebut semiotik.

(9)

yaitu penanda (signifier) atau yang menndai, yang merupakan bentuk tanda, dan pertanda (signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya, gambar kuda menandai kuda yang nyata.

Kajian Semiotik

a. Bahasa Sebagai Sistem Semiotik

Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol- simbol. Ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia harus diberikan makna tertentu, yaitu mengacu pada suatu yang dapat di tangkap oleh pancaindera. Menurut Pradopo (1995: 121) pengertian bahasa dapat dijelaskan bahwa bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti, medium karya sastra bukanlah bahasa yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik atau warna pada lukisan. Warna cat sebelum dipergunakan dalam lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa. Sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian masyarakat (bahasa) atau diperunakan oleh konvensi masyarakat

(10)

Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaann itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakansistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat, sistem ketandaan itu disebut simiotik.

Menurut bahasa adalah bahasa tutur Poepoprodjo (dalam Sobur, 2004:272). Senada dengan hal diatas, dalam pengertiann yang populer, bahasa adalah percakapan hidayat sementara dalam wacana linguistik bahasa diartikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat albitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat ukur berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran(Wibowo, dalam Sobur, 2004: 272)

Bahasa dalam pemakaiannya bersifat bidimensional. Disebut demikian, karena keberadaanmakna selain ditentukan oleh kehadiran dan hubungan antar lambang kebahasaan itu sendiri, juga ditentukan oleh pemerasan serta konteks sosial dan situasional. Dihubungkan dengann fungsi yang dimiliki bahasa juga memiliki fungsi eksternal dan fungsi internal. Oleh sebab itu selain dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan menciptakan komunikasi, juga untuk mengolah informasi dan dialog antar diri sendiri.

Ditinjau dari sudut pemakaian telah diketahui bahwa alat komunikasi manusia dapat dibedakan antara media berupa bahasa atau media verbal dengan media non- bahasa atau non-verbal. Sementara media kebahasaan itu, ditinjau dari alat pemunculannya atau channel dibedakan pula antara media lisan dengan media tulis. Dalam media lisan misalnya, wujud kalimat perintah dan kalimat tanya

(11)

Kaidah penataan kalimat selalu berdasarkan pada tendensi semantik tertentu.

Dengan kata lain, sistem kaidah penataan lambang secara gramatis selalu berkaitan dengan sastra makna dalam suatu bahasa.

Semiotik Sastra

Semiotik atau ada yang menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semion yang berarti “tanda” istilah semieon tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostic inferensial (Sobur, 2004: 95). Tanda pada masa itu masih bermakna pada sesuatu hal yang menuju pada adanya hal lain.

Secara terminology, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda.

Semiotik adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.

Selain pengertian semiotik di atas, Jobrohim mencoba membedakan pengertian semiotik menurut para ahli. Uraian pendapat para ahli tersebut sebagai berikut.

Peirce (dalam Jabrohim, 1994: 119). Mengemukakan teori segitiga makna atau triagle meaning yang terdiri dari tiga elemen utam, yakni tanda (sign), objek dan interpretant.

(12)

Tanda adalah suatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari simbol (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat) sedangkan acuan tanda itu disebut objek

Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda. Interpretant atau penggunaan tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurungkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. Hal yang terpenting dalam proses semiotik adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi. Contuh: saat seseorang gadis mengenakan rok mini, maka gadis itu sedang mengomunikasikan mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol keseksian. Begitu pula ketika Nadia Sapira muncul di film Coklat Strowbery dengan akting dan penampilan fisiknya yang memikat, para penonton bisa saja memaknainya sebagai ikon wanita muda cantik dan menggairahkan.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah, Bagaimanakah bentuk semiotik dalam lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1

(13)

patokan untuk mencapai target yang diharapkan. Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk makna semiotik dalam lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini nantinya dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan teori dalam memahami makna semiotik khususnya lagu.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan bekal pengetahuan kepada peneliti khususnya dan kepada pembaca pada umumnya tentang makna semiotik dalam karya sastra;

b. Memberikan sumbangan pikiran atau informasi bagi peminat sastra dan guru bahasa dan sastra Indonesia tentang makna semiotik dalam karya khususnya lagu;

c. Sebagai bahan perbandingan bagi pihak lain yang ingin melakukan penelitian yang sejenis;

d. Sebagai bahan masukan berkenaan dengan pembelajaran sastra khususnya pembelajaran semiotika.

(14)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai bagian dari masyarakatt dan pemakai bahasa dalam kehidupan kesehariannya perlu berinteraksi karena tanpa interaksi manusia dapat kesulitan menyatu dengan lingkungannya. Dalam berinteraksi, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi, menyampaikan ide, gagasan, dan keinginan kepada orang lain. Kita menyadari bahwa tanpa bahasa sebagai alat komunikasi, kegiatan kemasyarakatan atau sosial tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap

Ada kecenderungan bahwa pilihan kata seorang pencipta lagu berbeda dengan pilihan kata orang yang bukan pencipta lagu, dalam artian pemakaian bahasa sehari-hari. Sebagaiman diketahui bahwa lagu adalah salah satu karya yang dalam penciptannya dipandang perlu untuk mengetahui pemilihan kata yang tepat agar untaian kata dalm lagu tersebut dapat dimengerti dan dinikmati dengan baik oleh pendengarnya. Dalam menghasilkan suatu lagu yang baik dan brrkualitas, seseorang pencipta lagu harus memahami bahasa dan kaidah- kaidahnya, yaitu dengn mengenal kelemahan dan kekuatan bahasa yang dipakainya sebagai media ekpresi dan membangun karya itu. Seorang pencipta lagu senantiasa berhadapan dengan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh bahasa dan situasi kebahasaan yang dipecahkan sendiri melalui pertimbangn-

(15)

pertimbangan, termaksud seleksi kata dan bahasa yang ingin digunakan dalam penyaringan bahasa dan pengalaman, serta sebagai alternatif dalam proses kreatif seorang pencipta atau pengarang lagu.

Pencipta lagu juga dituntut untuk menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan dipahami oleh pendengarannya. Biasanya ide-ide atau gagasan seorang pencipta lagu timbul dari imajinasi mengenai apa yang dirasakan, dilihat, dan yang dialami oleh pencipta lagu itu sendiri sehingga lagu tersebut dapat dinikmati dan dapat dimengerti maknanya, serta dapat menggugah perasaan pendengarannya. Melalui untaian lagu yang berasal dari pengolahan kata demi kata, maka pendengar dapat mengasosiasiakan lagu tersebut.

Ketepatan pilihan kata mempersoalkan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh penulis atau pembaca. Persoalan ketepatan pilihan kata berkaitan dengan persoalan makna dan kosa kata seseorang. Ketepatan makna kata menuntut pula kesadaran penulis atau pembaca untuk mengetahui bagaimna hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referensinya sehingga kata yang dipilih dianggap dapat mendukung maksud penulis atau pencipta.

Demikian pula menyangkut masalah makna kata yang meminta perhatian penulis atau pembicara. Makna sebuah kata pada dasarnya diperoleh karena persetujuan informal (konvensi) antara sekelompok orang untuk menyatakan hal atau tertentu melalui rangkaian bunyi-bunyi tertentu. Dengan kata lain, arti kata adalah konvensi umum tentang interaksi antara sebuah kata dengan referensinya.

(16)

3

Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain.

Segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda.

Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan adalah sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut benda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, setangkai bunga, rambut uban, sikap diam membisu, dan warna, semuanya itu dianggap sebagai tanda. Dari uraian diatas tentunya semiotika dapat dijadikan referensi untuk mengkaji sebuah lagu.

Menganalisis lagu itu bertujuan memahami makna lagu. Menganalisis lagu adalah usaha menanggap dan memberi makna kepada teks lagu. Karya sastra ini merupakan struktur yang bermakna. Karya sastra ini merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa. Bahasa merupakan medium karya sastra yang merupakan sistem semiotik atau ketandaan yang mempunyai arti, medium karya satra bukanlah bahan yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik atau warna pada lukisan

Hal yang penting dalam lapangan semiotik atau lapangan sistem tanda, adalah pengertian tanda-tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan penanda ( signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan pertanda., ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks,dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya, gambar kuda menandai kuda yang nyata.

(17)

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan penanda yang bersifat klausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya asap menandai api. Simbol adalah tanda yang tidak yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan keduanya bersifat arbitrer dan berdasarkan konvensi (perjanjian masyarakat). Misalnya kata ibu, berarti orang yang melahirkan kita.

Ilmu atau semiotik (parade, 2001: 58), arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama itu di sebut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat (sastra) karena sastra (kasya sastra) merupakan sistem tanda yang lebih tinggi (atas) kedudukannya dari bahasa, maka disebut sistem semiotik tingkat kedua. Dalam karya sastra, arti kata- kata (bahasa) ditentukan oleh konvensi sastra.

Semiotik adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.

Tanda adalah suatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari simbol (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat) sedangkan acuan tanda itu disebut objek

Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda. Interpretant atau penggunaan tanda adalah

(18)

5

konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurungkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. Hal yang terpenting dalam proses semiotik adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi. Contoh: saat seseorang gadis mengenakan rok mini, maka gadis itu sedang mengomunikasikan mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol keseksian. Begitu pula ketika Nadia Sapira muncul di film Coklat Strowbery dengan akting dan penampilan fisiknya yang memikat, para penonton bisa saja memaknainya sebagai ikon wanita muda cantik dan menggairahkan.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah, Bagaimanakah bentuk semiotik dalam lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1

C. TUJUAN PENELITIAN

Sesuatu kegiatan ilmiah, tentunya mempunyai tujuan yang menjadi patokan untuk mencapai target yang diharapkan. Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk makna semiotik dalam lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1

(19)

D. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini nantinya dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan teori dalam memahami makna semiotik khususnya lagu.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan bekal pengetahuan kepada peneliti khususnya dan kepada pembaca pada umumnya tentang makna semiotik dalam karya sastra;

b. Memberikan sumbangan pikiran atau informasi bagi peminat sastra dan guru bahasa dan sastra Indonesia tentang makna semiotik dalam karya khususnya lagu;

c. Sebagai bahan perbandingan bagi pihak lain yang ingin melakukan penelitian yang sejenis;

d. Sebagai bahan masukan berkenaan dengan pembelajaran sastra khususnya pembelajaran semiotika.

(20)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

Manusia sebagai bagian dari masyarakatt dan pemakai bahasa dalam kehidupan kesehariannya perlu berinteraksi karena tanpa interaksi manusia dapat kesulitan menyatu dengan lingkungannya. Dalam berinteraksi, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi, menyampaikan ide, gagasan, dan keinginan kepada orang lain. Kita menyadari bahwa tanpa bahasa sebagai alat komunikasi, kegiatan kemasyarakatan atau sosial tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap

Ada kecenderungan bahwa pilihan kata seorang pencipta lagu berbeda dengan pilihan kata orang yang bukan pencipta lagu, dalam artian pemakaian bahasa sehari-hari. Sebagaiman diketahui bahwa lagu adalah salah satu karya yang dalam penciptannya dipandang perlu untuk mengetahui pemilihan kata yang tepat agar untaian kata dalm lagu tersebut dapat dimengerti dan dinikmati dengan baik oleh pendengarnya. Dalam menghasilkan suatu lagu yang baik dan brrkualitas, seseorang pencipta lagu harus memahami bahasa dan kaidah- kaidahnya, yaitu dengn mengenal kelemahan dan kekuatan bahasa yang dipakainya sebagai media ekpresi dan membangun karya itu. Seorang pencipta lagu senantiasa berhadapan dengan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh bahasa dan situasi kebahasaan yang dipecahkan sendiri melalui pertimbangn-

(21)

pertimbangan, termaksud seleksi kata dan bahasa yang ingin digunakan dalam penyaringan bahasa dan pengalaman, serta sebagai alternatif dalam proses kreatif seorang pencipta atau pengarang lagu.

Pencipta lagu juga dituntut untuk menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan dipahami oleh pendengarannya. Biasanya ide-ide atau gagasan seorang pencipta lagu timbul dari imajinasi mengenai apa yang dirasakan, dilihat, dan yang dialami oleh pencipta lagu itu sendiri sehingga lagu tersebut dapat dinikmati dan dapat dimengerti maknanya, serta dapat menggugah perasaan pendengarannya. Melalui untaian lagu yang berasal dari pengolahan kata demi kata, maka pendengar dapat mengasosiasiakan lagu tersebut.

Teori sesungguhnya merupakan landasan suatu penelitian. Oleh karena itu keberhasilan sebuah penelitian bergantung pada teori yang mendasarinya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini tersebar di berbagai pustaka yang erat kaitannya dengan masalah yang dibahas. Usaha yang dilakukan dalam proses penggarapan penelitian ini sekitarnya perlu mempelajari pustaka yang erat kaitannya dengan penelitian ini.

Seni merupakan subuah usaha mengekspresikan keterampilan teknik menjadi sebuah pencarian terhadap makna kehidupan. Untuk melahirkan sebuah karya seni dibutuhkan prasyarat keterampilan teknik. Karya seni tidak akan mungkin lahir tanpa adanya keterampilan khusus dan proses imajinasi yang kreatif.

(22)

9

1. Apresiasi Seni dan Sastra

Istilah apresiasi berasal dari bahasa latin apreciatioyang berarti

“mengindahkan “. Dalam konteks yang lebih luas istilah apresiasi menurut Gove (dalam Aminuddin, 1987 :34) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire dan Taba (dalam Aminuddin, 1987 : 35) berkesimpulan bahwa suatu proses apresiasi melibatkan tiga unsur inti yaitu (1) aspek kognitif, berkaitan dengan keterlibatan unsur pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur yang bersifat objektif. (2) aspek emotif, berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pendengar dalam upayah menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks (3) aspek evaluatif, berhubungan dengan kegiatan pemberian nilai baik dan buruk, indah tidak indah, sesuai tidak sesuai serta jumlah ragam penilaian lain yang tidak hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pendengar.

Sejalan dengan rumusan pengertian apresiasi di atas, bahwa apresiasi seni adalah kegiatan menggali karya seni secara bersungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan pikiran yang baik terhadap karya seni.Sebuah karya seni syair lagu yang dapatdi dengarkan sekaligus dapat dibaca liriknya dapat digolongkan dalam sebuah karya mempunyai hubungan dengan karya sastra seperti halnya puisi, sajak, dan syair lagu.

(23)

Sehubungan dengan masalah di atas. Bahwa tingkat penerimaan seseorang terhadap karya dalam bentuk teks/tulisan ada empat yaitu; (1) tingkat reseptif adalah tahap penerimaan karya menurut apa adanya, (2) tingkat reaktif adalah tahap pemberian reaksi terhadap kehadiran sebuah karya, (3) tingkat produktif adalah tahap pemberian reaksi terhadap karya yang dinikmati sekaligus dapat memproduksi dan menelaah karya tersebut, (4) tingkat implementatifadalah tahap memahami, mengevaluasi, dan memproduksi serta dapa tmewujudkan kebenaran yang diperoleh dari tulisan sang penulis dari kehidupan sehari-hari.

Apresiasi sastra merupakan interpretasi yang benar terhadap karya sastra.

apabila pernyataan-pernyataan tentang makna sebuah karya sastra merupakan pernyataan-pernyataan yang obyektik, apabila interpretasi karya sastra harus menjadi ilmu pengetahuuan atau disiplin ilmu dan bukan sekadar arena bagi gagasan, khayalan, pilihan pribadi, yang tonggaknya bukanlah pengetahuan, tetapi apa yang disebut nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi sehingga diperlukan standar penilaian yang memperkenankan, sedikit-sedikitnya secara prinsip, satu dan hanya satu interpretasi sebuah karya untuk dinilai betul atau salah

2. Ragam dan Hakikat Sastra

Pengertian ragam disini mengacu pada konteks keanekaragaman perwujudan suatu karya sastra yang tertulis. Novel, puisi, cerpen, lagu adalah ragam sastra yang banyak kita jumpai dikalangan masyarakat. Sebagai karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai alatnya, maka ragam sastra yang ada dalam suatu masyarakat hadir dengan jati dirinya yang unik.

(24)

11

Dengan demikian tiap ragam sastra sepenuhnya terlempar kedalam wewenang anggota masyarakat untuk dihargai atau tidak, untuk dinilai atau ditelantarkan begitu saja. untuk menjelmakan secara yang dirasakan, yang dipikirkan, yang dikhayalkan sastrawan, maka sastrawan menggunakan bahasa yang berisi kemungkinan banyak tafsir, penuh hominim, kategori yang arbitrer dan irrasional; bahasa yang digunakan sastrawan diserapi peristiwa-peristiwa sejarah, kenangan, dan pembayangan. Dengan demikian bahasa sastra tidak hanya bersifat menunduk satu hal, atau hanya berhubungan dengan satu hal yang ditunduk, atau bahasa yang denotatif.

Hakikat sebuah seni tulis adalah dikotomi: menghadirkan dua kutub yang berlawanan, namun berada pada satu tegangan dinamis. Penggerak utama dinamikanya adalah nilai yang terkandung dalam sebuah karya. Secara umum dapat dikatakan bahwa tema suatu karya dalam bentuk syair lagu mengcakup tiga segi hakiki kehidupan manusia, yaitu yang bersifat agama, sosial politik, dan personal, keterpaduan dan keeratan hubungan unsur-unsurmakro yang melandasi eksistensi tulisan, yaitu pengarang, karya, dan pembaca atau pendengar. Setiap unsur tersebut memiliki kekhasan pengarang tercermin dalam karyanya, sehingga karya itu juga menunjukkan keunikan tersendiri, disebabkan kekhasan dalam kemampuan mengapresiasi karya tersebut.

(25)

Kondisi ideal untuk mengapresiasi karya secara matang adalah keserasian antara keunikan setiap komponen yang memungkinkan terwujudnya jalinan yang dinamis dengan karya sastra sebagai titik temunya. Menelaah ataupun menikmati syair lagu hanyalah mungkin bilamana ketiga unsur tersebut dipertimbangkan sebagai suatu kesatuan yang padu.

3. Pengertian Makna

Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984:19).

Kata-kata yang bersal dari dasar yang sama sering menjadi sumber kesulitan atau kesalahan berbahasa, maka pilihan dan penggunaannya harus sesuai dengan makna yang terkandung dalam sebuah kata. Agar bahasa yang dipergunakan mudah dipahami, dimengerti, dan tidak salah penafsirannya, dari segi makna yang dapat menumbuhkan resksi dalam pikiran pembaca atau pendengar karena rangsangan aspek bentuk kata tertentu.

Menurut Mansoer Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda 2001:82) mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian.Menurut Ferdinand De Saussure pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistic(dalam buku Abdul Chaer,1994:286) mengungkapkan bahwa pengertian makna sebagai.

(26)

13

4. Kajian semiotik

Warna cat sebelum digunakan dalam lukisan bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa, sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum digunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat sistem ketandaan itu disebut semiotik.

Hal yang penting dalam dalam lapang semiotik atau lapangan sistem tanda, adalah pengertian tanda-tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menndai, yang merupakan bentuk tanda, dan pertanda (signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya, gambar kuda menandai kuda yang nyata.

a. Semiotik

a. Bahasa Sebagai Sistem Semiotik

Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol- simbol. Ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia harus diberikan makna tertentu, yaitu mengacu pada suatu yang dapat di tangkap oleh pancaindera. Menurut Pradopo (1995: 121) pengertian bahasa dapat dijelaskan bahwa bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti, medium karya sastra bukanlah bahasa yang bebas (netral) seperti

(27)

bunyi pada seni musik atau warna pada lukisan. Warna cat sebelum dipergunakan dalam lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa. Sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian masyarakat (bahasa) atau diperunakan oleh konvensi masyarakat

Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaann itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakansistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat, sistem ketandaan itu disebut simiotik.

Menurut bahasa adalah bahasa tutur Poepoprodjo (dalam Sobur, 2004:272). Senada dengan hal diatas, dalam pengertiann yang populer, bahasa adalah percakapan hidayat sementara dalam wacana linguistik bahasa diartikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat albitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat ukur berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran(Wibowo, dalam Sobur, 2004: 272)

Bahasa dalam pemakaiannya bersifat bidimensional. Disebut demikian, karena keberadaanmakna selain ditentukan oleh kehadiran dan hubungan antar lambang kebahasaan itu sendiri, juga ditentukan oleh pemerasan serta konteks sosial dan situasional. Dihubungkan dengann fungsi yang dimiliki bahasa juga memiliki fungsi eksternal dan fungsi internal. Oleh sebab itu selain dapat

(28)

15

digunakan untuk menyampaikan informasi dan menciptakan komunikasi, juga untuk mengolah informasi dan dialog antar diri sendiri.

Ditinjau dari sudut pemakaian telah diketahui bahwa alat komunikasi manusia dapat dibedakan antara media berupa bahasa atau media verbal dengan media non- bahasa atau non-verbal. Sementara media kebahasaan itu, ditinjau dari alat pemunculannya atau channel dibedakan pula antara media lisan dengan media tulis. Dalam media lisan misalnya, wujud kalimat perintah dan kalimat tanya dengan mudah dapat dibedakan lewat pemakaian bunyi suprasegmental atau pemunculan kinesik, yaitu gerak bagian tubuh yang menuansakan makna tertentu.

Kaidah penataan kalimat selalu berdasarkan pada tendensi semantik tertentu.

Dengan kata lain, sistem kaidah penataan lambang secara gramatis selalu berkaitan dengan sastra makna dalam suatu bahasa.

B. Semiotik Sastra

Semiotik atau ada yang menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semion yang berarti “tanda” istilah semieon tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostic inferensial (Sobur, 2004: 95). Tanda pada masa itu masih bermakna pada sesuatu hal yang menuju pada adanya hal lain.

Secara terminology, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda.

(29)

Semiotik adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya: cara berfungsinya, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.

C. Macam-Macam Semiotik

Sampai saat ini, sekurang-kurangnya terdapat sembilan makna semiotik yang kita kenal sekarang. Jenis-jenis semiotik ini antara lain semiotik analitik, deskriptif, faunal zoosemiotik, naratif, natural, normatif, sosial, stuktural ( sudjiman, 1996: 6) sebagai berikut:

1) Semiotik analitik adalah semiotik yang menganalisis sistem tanda. Pierce mengatakan bahwa semiotik mengobjekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah benda yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada objek tertentu.

2) Semiotik deskriptif adalah semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang.

3) Semiotik Faunal adalah semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan.misalnya aungan srigala menandakan adanya serigala di tempat aungan terdengar.

4) Semiotik kultural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu.

(30)

17

5) Semiotik Naratif adalah semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan (Folkkore)

6) Semiotik natural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Misalnya cuaca yang mendung menandakan akan terjadinya hujan.

7) Semiotik normatif adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang di buat oleh manusia yang berwujud norma-norma, misalnya rambu-rambu lalu lintas.

8) Semiotik sosial adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berupa lambang rangkaian kata berupa kalimat.

9) Semiotik struktural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.

5. Hakikat lirik Lagu a. Pengertian lirik lagu

Semi (1993: 106) mengungkapkan bahwa lirik adalah puisi yang sangat pendek yang mengekspresikan emosi. Lirik dapat juga diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, karena itu ia disusun dalam susunan yang sederhana dan mengungkapkan sesuatu yang sederhana pula. Ragam bahasa lagu atau lirik lagu termasuk dalam kategori ragam bahasa tidak resmi atau disebut juga ragam non formal/tidak baku. Ragam bahasa ini merupakan ragam santai dan akrab. Ragam santai digunakan dalam keadaan santai, misalnya pada saat berbincang-bincang dengan teman, rekreasi, berolahraga, dan lain-lain. Di dalam penulisan lagu seorang pencipta lagu tidak terlalu mempersoalkan

(31)

tentang kebakuan bahasa yang dipakainya. Pemakaian bahasa yang ditulis bersifat longgar seperti bahasa yang digunakan dalam situasi santai namun tentu tidak terlepas dari proses kreatif, seleksi kata dan bahasa.

Lirik lagu yang dihasilkan haruslah merupakan bahasa yang mampu memberikan kenikmatan estetik bagi pendengarnya. Kenikmatan estetik dalam bahasa adalah perasaan senang yang ditimbulkan oleh pemakaian bahasa yang indah, halus, melodius, yang mencerminkan selera dan citarasa artistik pengarang atau penyairnya yang tinggi.

Keindahan bahasa dibuat melalui pemilihan kata yang akurat, yang memperlihatkan nilai rasa, keselarasan bunyi, irama yang teratur atau bergelombang, serta penggunaan idiom yang tepat. Hal ini menjadikan pemakaian bahasa pada lirk lagu memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan dengan pemakaian bahasa lainnya.

Seorang pencipta lagu dalam menulis lirik lagu mementingkan faktor liguistik untuk mewujudkan hasil karyanya, antara lain: pilhan kata dan gaya bahasa. Faktor diksi dalam syair lagu merupakan faktor penting karena pemilihan kata yang tepat dan sesuai dengan musik merupakan daya tarik dari suatu lagu. Demikian juga dengan gaya bahasa, merupakan faktor yang membentuk suatu keindahan lagu. Sehubungan dengan pemilihan kata, kesesuaian kata meliputi bentuk dan arti. Bentuk merupakan wujud ujaran yang diucapkan manusia, sedangkan arti mengacu pada pesan yang disampaikan.

Arti memiliki tipe-tipe sesuai dengan kedudukan pemakai bahasa dalam suatu

(32)

19

kalimat. Dengan pemilihan kata yang tepat, suatu karya akan memberi kesan kepada para pembaca atau pendengar.

Dalam lagu, penyair atau pengarang harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya dan keddudukan kata dalam keseluruhan lagu itu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Keraf (2004: 24) bahwa diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa lirik lagu adalahsalah satu cabang seni yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Bahkan sejak kita masih bayi, mugkin kita sudah dikenalkan dengan seni musik oleh ibu kita, yaitu lewat nyanyian-nyanyian sederhana misalnya: lagu Nina Bobo, Pelangi, Pak Pos, dan banyak lagi. Nyanyian-nyanyian itu juga menyemarakkan hidup kita hingga memasuki masa pendidikan prasekolah maupun awal-awal sekolah. Selama pendidikan sekolah formal maupun di lingkungan kita masing-masing, kita pun selalu dikenalkan nyanyian-nyanyian yang makin lama makin rumit seiring dengan makin bertambahnya tingkat pendidikan kita. Lagu yang kita kenal pun bukan lagi hanya sekedar musik vokal, tapi lebih dari itu kita pun mengenal instrumen-instrumen lagu baik itu instrumen ritmis maupun melodis. Dan lagu akan selalu mengiringi hidup kita hingga kita dewasa bahkan hinggga kita kembali kepangkuan-Nya.

(33)

b. Fungsi lirik lagu

Lagu secara umum sangat penting bagi kehidupan masyarakat, tanpa lagu masyarakat tidak akan pernah merasakan suatu kenyamanan di dalam menjalankan suatu aktifitas, berikut ini fungsi lagu antara lain sebagai berikut :

1. Media hiburan

Masyarakat secara umum memahami lagu sebagai media hiburan. Radio, musik rekaman, film, telivisi dan internet memberikan arah yang jelas terhadap citra lagu sebagai media hiburan.

2. Media pengobatan

Beberapa tabib muslim pada abad ke-9 dan ke-10 telah menggunakan lagu sebagai sarana penyembuh penyakit, baik jasmani maupun rohani. Seorang filusuf Al-farabi, telah menulis risalah tentang pengobatan melalui lagu.

Beethoven, tanpa disadarinya juga membuktikan bahwa lagunya telah menjadi alat penyembuh penyakit jiwa.

3. Media peningkatan kecerdasan

Otak manusia terbagi menjadi otak kanan dan otak kiri. Keseimbangan dua bagian otak tersebut dapat mempengaruhi kecerdasan manusia. Otak kiri merupakan pengendali fungsi intelektual, sedangkan otak kanan pengendali fungsi spontanitas dan mental. Lagu dapat dijadikan sebagai alat penyeimbangan otak kiri. Daya estetis lagu dapat dimanfaatkan sebagai penambah intelegensi.

(34)

21

4. Suasana upacara keagamaan

Lagu keagamaan dapat mengilhami penganut suatu agama untuk selalu mengingatnya, baik dalam upacara adat, upacara pernikahan, maupun upacara kematian.

c. Musik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602)Musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu).

Menurut Hamzah (1988) yang menyatakan bahwa perkembangan musik melayu dapat diklasifikasikan kepada sembilan bentuk, berdasarkan bentuknya yaitu (1) musik tradisional melayu, (2) musik pengaruh India, Persia, dan Thailand atau Siam seperti : nobat, menhora, makyong, dan rodat, (3) musik pengaruh Arab seperti : gambus, kasidah, ghazal, zapin, dan hadrah, (4) nyanyian anak-anak, (5) musik vokal (lagu) yang berirama lembut seperti tudung periuk, damak, dondang sayang, dan ronggeng atau joget, (6) keroncong dan stambul yang tumbuh dan berkembang awalnya di Indonesia, (7) lagu-lagu langgam, (8) lagu-lagu patriotik tentang tanah air, kegagahan, dan keberanian, (9) lagu-lagu ultramodern yang kuat dipengaruhi budaya barat.

(35)

Berdasarkan pendapat diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwasanya musik dapat juga disebut sebagai media seni, dimana pada umumnya orang mengungkapkan kreativitas dan ekspresi seninya melalui bunyi-bunyian atau suara. Oleh karena itulah pengertian musik sangat Universal, tergantung bagaimana orang memainkannya serta menikmatinya.

Seni musik adalah cetusan ekspresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi. Bisa dikatakan, bunyi (suara) adalah elemen musik paling dasar. Suara musik yang baik adalah hasil interaksi dari tiga elemen, yaitu: irama, melodi, dan harmoni. Irama adalah pengaturan suara dalam suatu waktu, panjang, pendek dan temponya, dan ini memberikan karakter tersendiri pada setiap musik. Kombinasi beberapa tinggi nada dan irama akan menghasilkan melodi tertentu. Selanjutnya, kombinasi yang baik antara irama dan melodi melahirkan bunyi yang harmoni. Musik termasuk seni manusia yang paling tua.

Bahkan bisa dikatakan, tidak ada sejarah peradaban manusia dilalui tanpa musik, termasuk sejarah peradaban Melayu. Dalam masyarakat Melayu, seni musik ini terbagi menjadi musik vokal, instrument dan gabungan keduanya. Dalam musik gabungan, suara alat musik berfungsi sebagai pengiring suara vokal atau tarian.

Alat-alat musik yang berkembang di kalangan masyarakat Melayu di antaranya:

canang, tetawak, nobat, nafiri, lengkara, kompang, gambus, marwas, gendang, rebana, serunai, rebab, beduk, gong, seruling, kecapi, biola dan akordeon. Alat- alat musik di atas menghasilkan irama dan melodi tersendiri yang berbeda dengan alat musik lainnya.

(36)

23

D. Kerangka Pikir

Dengan memperhatikan uraian pada tinjauan pustaka, maka pada bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang dijadikan penulis sebagai landasan berpikir selanjutnya. Landasan berpikir yang dimaksud tersebut akan mengarahkan penulis untuk menemukan data dan informasi dalam penelitian ini guna memecahkan masalah yang telah dipaparkan untuk itu akan menguraikan secara rinci landasan berpikir yang dijadikan pegangan dalam penelitian ini.

Dalam lagu, penyair atau pengarang harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya dan keddudukan kata dalam keseluruhan lagu itu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Keraf Goris (2004: 24) bahwa diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar

Dalam penelitian ini penulis mencoba menganalisis sejumlah data berupa lagu Iwan Fals yang menjadi objek kajian berdasarkan rumusan masalah yang ada. Selanjutnya, sejumlah data tersebut akan dianalisis untuk mengetahui bagaimana penggunaan makna leksikal yang digunakan Iwan Fals dalam lirik lagunya.

(37)

Bagan Karangka Pikir Lirik Lagu Iwan Fals Vol.1

Makna Semiotika

Analisis

Temuan

Hasil

(38)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian untuk menganalisis lirik lagu Iwan Fals Vol. 1 adalah dengan menggunakan desain deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti membaca berulang ulang lirik lagu Iwan Fals. Setelah membaca peneliti kemudian memberi kode kata-kata simbol, lambang atau kode, selanjutnya peneliti menerjemahkan atau menganalisis makna di balik simbol, lambang atau kode tersebut. Hasil pemaknaan tersebut kemudian dijabarkan secara deskriptif.

Pendekatan yang digunakan peneliti dalam mengapresiasiakan/

menganalisis lagu Iwan Fals Vol. 1 adalah pendekatan analitis. pendekatan analitis dapat digunakan oleh seseorang apresiator untuk memahami unsur yang membangun karya sastra sebagai totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.

B. Data dan Sumber Data 1. Data

Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keterangan atau buah karya nyata yang dapat dijadikan kajian (analisis atau simpulan ). Data yang dimaksud adalah interpretasi makna semiotik yang terdapat pada syair lagu Iwan Fals.Kemudian data yang dijadikan sebagai objek penelitian terdiri dari tiga buah lagu dengan masing-masing judul antara lain; (1) Ibu, (2) Manusia setengah dewa, (3) surat untuk wakil rakyat

25

(39)

2. Sumber Data

Dengan demikian data dalam penelitian ini adalah syair lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1 yang mulai diciptakan pada tahun 1970-an dan diloncingkan oleh Iwan Fals Manejemen (IFM).

C. Definisi Operasional Istilah

Istilah dalam penelitian ini akan didefinisikan secara operasional. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut:.

1. Makna adalah hubungan antara lambang bunyi dan acuan

2. Pengertian semiotic adalah teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi-produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi.

3. Lagu-lagu Iwan Fals Vol. 1 adalah kumpulan lagu-lagu Iwan Fals pada Vol.

1yang mulai diciptakan pada tahun 1970-an dan diloncingkan oleh Iwan Fals Manejemen (IFM)

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian dalam rangka penulisan proposal ini, diporoleh dalam melakukan penelitian pustaka (library research). Yakni mengumpulkan data referensi yang dianggap relevan dengan orientasi penelitian.

Berikut ikhtisar pengumpulan data yang dimaksud:

a. Mengumpulkan data melalui sumber tertulis, b. Mengumpulkan data melalui penelitian pustaka

c. Membaca sejumlah buku dan tujuan dengan objek kajian;

(40)

27

d. Mencatat bagian yang dianggap relevan sebagai data ( yang dianggap sebagai nilai).

E. Teknik Analis Data

Teknik analisis data sesuai dengan judul “Interpretasi Makna Leksikal Kumpulan Lagu Iwan Fals Vol. 1” penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Mengumpulkan data yaitu kumpulan lagu Iwan Fals

b. Menyeleksi data, yaitu memilih dan memilah data yang perlu dianalisis

c. Mengorganisasi dan mengurutkan data

d. Mendeskripsikan data, yaitu menguraikan data disertai penjelasan dan pembahasannya.

(41)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Penyajian Hasil Analisis Data

Sebagaimana yang telah diuraikan pada bagian terdahulu bahwa yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini adalah lagu Iwan Fals Vol. 1. Lagu ini dianalisis dengan mengunakan pendekatan analitik yaitu salah satu pendekatan yang digunakan dalam menganalisis karya sastra dengan melihat makna dari karya sastra itu. Pendekatan ini dianggap tepat digunakan karena yang akan dianalisis dalam lagu Iwan Fals Vol 1 tersebut adalah makna semiotik yang terdapat di dalamnya sebagaimana yang tercantum dalam rumusan masalah dalam penelitian ini.

Dalam penyajian hasil analisis data penelitian ini, maka berikut akan digambarkan secarah utuh lagu Iwan Fals.

Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh Lewati rintang untuk aku anakmu Ibuku sayang masih terus berjalan Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan Tak mampu ku membalas...ibu...ibu Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu

26

(42)

29

Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas...ibu...ibu....

Seperti udara... kasih yang engkau berikan Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

“ Ribuan kilo jalan yang kauh tempuh “

“ Lewati rintang untuk aku anakmu “

Memiliki makna seperti apapun rintangan serta kesulitan yang dihadapi oleh orang tua lebih khususnya lagi seorang Ibu maka ia akan berjuang demi kebahagian seorang serta kalimat lebih mengarah kepada tanggung jawab orang tua/Ibu kepada pertumbuhan serta masa depan anak-anaknya.

“ Ibuku sayang masih terus berjuang “

“ Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah “

“ Seperti udara… kasih yang engkau berikan “

Ketiga kalimat tersebut memberikan sebuah inspirasi besar, karena dari kata “ walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah” sudah dapat diketahuin betapa besar serta tulusnya pengorbanan orang tua/Ibu bentuk arahnya, sehingga ketulusannya tersebut digambarkan dengan replica kata “ tapak kaki penuh darah… penuh nanah”.

Kemudian kalimat “ seperti udara, kasih yang engkau berikan. Dari kalimat tersebut dapat kita makna sebagai manifestasi kasih sayang yang tulus dan

(43)

tak mengharap balas jasa dari anak dengan apa yang telah dilakukannya hanya demi untuk melihat anaknya berhasil serta sukses.

Kalimat “ seperti udara, kasih yang engkau berikan ” memberikan sebuah informasi bahwasanya kata udara “bermakna” atau memiliki padanan kata dengan kata “ sejuk atau menyejukkan “ dari kata tersebut dapatr kita telaah bahwasanya kasih sayang yang diberikan oleh seorang ibu “ menyejukkan” serta memberikan kenyamanan melebihi segala sesuatu dan hal apapun.

“ Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu “

“ Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu “

Kalimat tersebut sebenarnya hampir memiliki makna yang serupa dengan dua kalimat sebelumnya, akan tetapi kalimat ini lebih kepada makna keindahan seorang anak ingin merasakan kembali kehangatan serta kemurnian kasih sayang seorang ibu.

“ Dengan apa membalas… ibu… ibu…”

Kalimat tersebut memiliki makna bahwa saya karena saling tidak ternilainya apa yang telah diberikan oleh kedua orang tua kita lebih khususnya lagi seorang ibu maka tak ada satu pun yang dapat dijadikan balasan dan tak ada satu pun yang dapat setara dengan apa yang telah diberikan serta apa yang dipersembahkan kedua orang tua/Ibu untuk anak-anaknya

(44)

31

Manusia Setengah Dewa

Wahai presiden kami yang baru Kamu harus dengar suara ini Suara yang keluar dari dalam goa Goa yang penuh lumut kebosanan Walau hidup adalah permainan

Walau hidup adalah hiburan Tetapi kami tidak mau dipermainkan

Dan kami juga bukan hiburan Turunkan harga secepatnya

berikan kami pekerjaan pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa

masalah moral masalah akhlak biar kami cari sendiri

urus saja moralmu urus saja akhlakmu peraturan yang sehat yang kami mau

tegakkan hukum setegak-tegaknya adil dan tegas tak pandang bulu

pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa

(45)

“Wahai presiden kami yang baru, Kamu harus dengar suara ini”

“Suara yang keluar dari dalam goa, Goa yang penuh lumut kebosanan”

Kalimat “presiden yang baru” pada lirik di atas sebenarnya belum secara pasti dan tegas ditujukan kepada tokoh / orang yang jelas.Karena lagu “Manusia Setengah Dewa” ini sudah terlebih dahulu dirilis menjelang Pemilihan Umum (PEMILU) presiden dan wakil presiden pada 5 Juli 2004.Penulis nyatakan secara gamblang bahwa lagu ini ditujukan kepada semua calon presiden yang nantinya akan terpilih dan menjabat Presiden. (Tempo, 9 Mei 2004).Dalam kenyataannya presiden yang akhirnya terpilih pada PEMILU 5 Juli 2004 adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang pada saat itu berpasangan dengan Yusuf Kalla.

Pengibaratan “suara yang keluar dari goa” suara tersebut bisa terdengar namun hanya sebatas sayup – sayup yang tidak terdengar jelas dan sulit untuk dipahami.Sehingga goa tersebut pun berubah menjadi goa yang dipenuhi lumut karena tidak jua didengar suaranya yang akhirnya membosankan dan ditinggalkan.

“Walau hidup adalah permainan, Walau hidup adalah hiburan”

“Tetapi kami tak mau dipermainkan, Dan kami juga bukan hiburan”

Di dalam lirik walaupun Iwan Fals mengibaratkan hidup sebagai permainan dan sebagai hiburan. Namun, ia tetap tidak ingin kehidupan rakyat Indonesia dipermainkan dan dijadikan hiburan bagi presdien, khususnya.“Walau

(46)

33

hidup adalah permainan” merujuk pada bahwa Iwan Fals mengibaratkan hidup di dunia adalah permainan.

“Turunkan harga secepatnya, Berikan kami pekerjaan”

“Pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa”

Kategori kata mahal memang berbeda – beda pada setiap orang. Namun, kata mahal bisa digeneralisasikan apabila dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan bagi sebagian besar rakyat Indonesia sudah sulit untuk dipenuhi, maka dapat dikatakan “harga mahal”.Dan kata “secepatnya”

menunjukkan betapa penurunan harga tersebut sangat – sangat diharapkan dan dibutuhkan oleh rakyat.

“Masalah moral masalah akhlak, Biar kami cari sendiri”

“Urus saja moralmu urus saja akhlakmu”

Lirik ini meletakkan jelas batas bahwa tugas presiden tidak termasuk megurusi masalah akhlak dan moral rakyat. Apabila moral presiden itu sendiri sudah bagus maka moral rakyat pun akan bagus.

Telah dijelaskan juga di atas bahwa lirik ini menggambarkan kebebasan pada masing – masing pribadi, baik itu rakyat ataupun presiden dalam mengurus hal akhlak dan moral.

“Peraturan yang sehat yang kami mau, Tegakkan hukum setegak tegaknya”

(47)

“Adil dan tegas tak pandang bulu, pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa”

Hukum di Indonesia harus ditegakkan dan harus dijalankan secara adil.Itulah kunci agar kemakmuran rakyat Indonesia tercapai.Lirik “tak pandang bulu” berarti hukum dilaksanakan dan dijalankan tanpa melihat siapa dan latar belakang seseorang saat proses penegakan hukum. Di dalam kehidupan politik Indonesia, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono sempat diuji rasa keadilan, ketegasan dan tidak pandang bulunya dalam kasus korupsi yang dilakukan oleh besannya sendiri, yaitu Aulia Pohan. Namun, Presiden menegaskan lagi, yaitu ketika acara buka puasa bersama di Istana Negara, Minggu (28/9). ”Saya tidak pernah dan tidak akan menghalang-halangi pemeriksaan kepada siapa pun, termasuk kemungkinan ada menteri yang terlibat. Saudara ketahui, besan saya, Aulia Pohan, juga menjalani pemeriksaan hukum.Selaku kepala pemerintahan, saya ingin KPK bisa menuntaskan semuanya itu, seadil- adilnya agar rakyat juga mendapat keadilan yang sejati.

Manusia setengah dewa merupakan makhluk khayalan di dalam mitos yang memiliki kehebatan dan kekuatan di dalam dirinya yang dapat digunakan untuk menolong orang disekelilingnya.Hal ini lah yang dimaksud oleh Iwan Fals dengan ide “manusia setengah dewa”.Apabila presiden dapat memenuhi semua permintaan rakyat pada lirik lagu manusia setengah dewa ini past presiden tersebut memiliki kekuatan seperti makhluk khayalan pada cerita mitos.

(48)

35

Surat Buat Wakil Rakyat

Untukmu yang duduk sambil diskusi Untukmu yang biasa bersafari

Di sana, di gedung DPR Wakil rakyat kumpulan orang hebat Bukan kumpulan teman-teman dekat

Apalagi sanak family Di hati dan lidahmu kami berharap Suara kami tolong dengar lalu sampaikan Jangan ragu jangan takut karang menghadang

Bicaralah yang lantang jangan hanya diam Di kantong safarimu kami titipkan

Masa depan kami dan negeri ini Dari sabang sampai marauke Saudara dipilih bukan dilotre Meski kami tak kenal siapa saudara

Kami tak sudi memilih para juara Juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha…..

(49)

“Untukmu yang duduk sambil diskusi, Untukmu yang biasa bersafari”

“Disana di gedung DPR”

Pada awal lirik bait lagu ini jelas sekali berisi petunjuk – petunjuk atau ciri – ciri kepada siapa lagu ini ditujukan. Pada baris lirik ini berisikan petunjuk bahwa orang yang dituju adalah orang “yang duduk sambil berdiskusi”.Kata bersafari memiliki makna lain dimana, kata safari sering juga dipadankan dengan kata “baju safari”. Baju safari bermakna baju (pria) model jas berlengan pendek, bersaku empat, dibuat dr bahan yg tebal (dril, katun). Maka dengan kata lain

selain ditujukan kepada orang yang sering melakukan perjalanan (bersafari) di gedung DPR, juga menjelaskan ciri – ciri fisik orang tersebut, yaitu memakai baju safari.

“Wakil rakyat kumpulan orang hebat, Bukan kumpulan teman teman dekat”

“Apalagi sanak famili”

Sudah dijelaskan bahwa wakil rakyat dapat menjabat setelah melalui proses pemilihan yang sah, bukan hasil nepotisme yang merupakan jalan tidak sah. Banyak rumor yang beredar bahwa para anggota DPR merupakan kumpulan dari teman – teman dekat. Apabila satu orang menjadi anggota DPR maka temannya pun berminat juga menjadi anggota DPR dengan bantuan dari temannya yang angggota DPR, begitu seterusnya sehingga gedung DPR menjadi kumpulan dari teman – teman dekat

(50)

37

“Dihati dan lidahmu kami berharap,Suara kami tolong dengar lalu sampaikan”“Jangan ragu jangan takut karang menghadang, Bicaralah yang lantang jangan hanya diam”

“Dihati dan lidahmu kami berharap”, dengan kata lain, baris lirik ini menggambarkan pengharapan rakyat kepada wakil rakyat melalui hati dan lidah.

Dengan hati, rakyat berharap wakil rakyat dapat merasakan penderitaan, kesenangan, kesedihan serta emosi – emosi lainnya rakyat. Namun, bagaimana mungkin rakyat bisa berharap kepada hati dan lidah para wakil rakyat, apabila wakil rakyat tersebut tidak bisa diharapkan? Bagaimana mungkin wakil rakyat yang menggunakan ijazah palsu agar dapat menjabat anggota DPRD dapat diharapkan dalam mengaspirasi keinginan rakyat.

“Dikantong safarimu kami titipkan, Masa depan kami dan negeri ini”

“Dari Sabang sampai Merauke”

Yang perlu digaris bawahi adalah baju safari hanyalah baju dengan empat buah kantong. Bagaimana bisa empat buah kantong tersebut mampu dan sanggup menanggung beban dari masa depan rakyat dan negeri Indonesia. Maka secara tersirat bahwa pekerjaan sebagai wakil rakyat adalah pekerjaan yang berat dengan beban tanggung jawab. Itu makanya pada bait ke dua baris pertama lagu ini mengatakan bahwa “wakil rakyat kumpulan orang hebat” karena hanya kumpulan orang hebat lah yang mampu mengemban tugas berat untuk menyampaikan suara rakyat.Beban itu adalah rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Referensi

Dokumen terkait

Bagi Keraf (2004:142) majas hipalase adalah semacam gaya bahasa dengan menggunakan sebuah kata tertentu untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan

7. Metode informal adalah perumusan dengan menggunakan kata-kata biasa, termasuk penggunaan termininologi yang bersifat teknis... Dengan menggunakan metode di atas, peneliti

Warna, gambar, dan lukisan yang lain yang terdapat dalam lambang perguruan telah menjadi bahasa isyarat khusus pada perguruan yang bersangkutan, dimana yang lebih tahu akan

Karya sastra yang digunakan sebagai simbol merupakan bentuk yang berbeda dengan arti kata di dalam sebuah kalimat, karena simbol pada kalimat tersebut menandai adanya

Bahasa sastra bersifat konotatif karena banyak digunakan makna kias dan makna lambang (majas), dibandingkan dengan bentuk karya sastra yang lain, puisi lebih bersifat

Sastra sebagai karya seni bersifat kreatif, artinya sebagai hasil ciptaan manusia yang berupa karya bahasa yang bersifat estetik (dalam arti seni), hasilnya

Konjungsi (kata sambung) adalah partikel yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau

Banyak sekali lagu yang bisa mengundang minat pendengar, mulai dari pop, rock, dangdut, gambus, religi, dan lain sebagainya.1 Lagu merupakan salah satu karya sastra yang menggunakan