• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK A: Literatur Riview

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK A: Literatur Riview"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK A: Literatur Riview

Sinta Wulandari 1*), Rahmadhani Fitri 2), Syamsurizal

1,2,3,Universitas Negeri Padang,

*)[email protected].

Proses pembelajaran dikelas saat ini berlansung secara pasif karena siswa hanya menyimak penjelasan dari guru tanpa adanya interaksi tanya jawab, siswa belum memiliki keterampilan berpikir kritis untuk mengembangkan potensi diri.

Keterampilan berpikir kritis adalah keterampilan berpikir dengan level tinggi yang perlu dikembangkan disekolah.

Keterampilan tersebut perlu dilatih melalui penggunaan model pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan keadaan lingkungan sekitar untuk mendapatkan pengalaman yang nyata sehingga mampu meningkatkan rasa ingin tahu dan menggali pemahaman dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model pembelajaran Discovery Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode literature riview yang mana artikel riview dengan menelusuri artikel-artikel yang memiliki kaitan dengan topic Dicovery Learning. Hasil analisis yang dilakukan didapatkan menunjukkan bahwa model pembelajaran Discovery Learning memiliki pengaruh terhadap ketermpilan berpikir kritis peserta didik.

Kata Kunci: Discovery Learning, Kemampuan berpikir kritis

THE INFLUENCE OF DISCOVERY LEARNING MODEL ON CRITICAL THINKING SKILLS OF STUDENT A: Literature Review

ABSTRACT

The learning process in the classroom currently takes place passively because students only listen to the teacher's explanation without any question and answer interaction, students do not yet have critical thinking skills to develop their potential. Critical thinking skills are high-level thinking skills that need to be developed in schools. These skills need to be trained through the use of learning models that bring students closer to the surrounding environment to get real experiences so as to increase curiosity and explore understanding by applying the Discovery Learning learning model. This study aims to determine whether there is an influence of the Discovery Learning learning model on students' critical thinking skills. The type of research used is the literature review method in which articles are reviewed by tracing articles that are related to the topic of Discovery Learning. The results of the analysis carried out show that the Discovery Learning learning model has an influence on students' critical thinking skills.

Keywords: Discovery Learning, Critical thinking skills

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang angat mendasar yang dibutuhkan dalam kehidupan. Pendidikan berfungsi dalam memperoleh suatu ilmu pengetahuan, keterampilan serta kebiasaan suatu kelompok. Pendidikan program strategis jangka Panjang yang pada penyelenggaraannya harus mampu menjawab kebutuhan serta tantangan secara nasional ( Fuja Siti Fujiawati 2016 : 17 ) Sejalan dengan pernyataan Undang-undang republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tantang sistem Pendidikan nasional pada bab 1 pasal 1 menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, keceradasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Tantangan Pendidikan yang harus dihadapi pada abad 21 adalah peerta didik dituntut untuk mampu menguasai berbagai keterampilan. Secara umum keterampilan-keterampilan penting di abad 21 terdapat empat pilar kehidupan yang mencakup learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Sejalan dengan pendapat (Reta, 2012) menyatakan bahwa Abad ke-21 membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki berbagai kemampuan salah satunya yaitu

(2)

kemampuan berpikir kritis-kreatif, hal ini didukung oleh pendapat Rofiah, Aminah & Ekawati (2013) yang berpendapat bahwa siswa mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis kreatif melalui penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis. Hal tersebut relevan dengan isi Kurikulum 2013 dimana pada kurikulum 201 menuntut pembelajaran harus mampu mendorong siswa dalam mencari tahu serta menekankan berpikir logis, sistematis, dan kreatif (Kemendikbud, 2013). Kurikulum saat ini menganut pandangam bahwa pengetahuan tidak lanung dipindahkan begitu saja oleh guru kepada peserta didiknya, melainkan peserta didik sebagai objek belajar haru memiliki kemampuan aktif mencari, mengolah dan mampu menggunakan pengetahuannya. Hal ini mengharuskan pendidik harus mampu memberi kesempatan kepada peserta didikinya agar mampu menemukan sendiri pengetahuan dalam proses belajarnya. Peserta didik perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya dan berusaha mewujudkan idenya. Hal ini didukung oleh pendapat (Zubaedah et al., 2014) yang menyatkan bahwa seorang Pendidik harus mampu mengembangkan kesempatan belajar kepada peserta didik ke pemahaman yang lebih tinggi, sehingga peserta didik semakin mandiri.

Kemampuan berpikir kritis merupakan suatu potensi intelektual dimana kemampuan terebut mampu dikembangkan melalui tahapan-tahapan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran hendaknya bia menerapkan kegiatan yang melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik serta memberikan kesempatan peserta didik dalam mengasah kemampuan berpikir peerta didik, artinya dengan menciptakan suasana belajar yang kondusif akan mampu meransang peserta didik untuk berpikir dan meningkatkan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, maka pendidik diharapkan mampu menerapkan metode dan stategi pembelajaran sesuai dan memiliki dampak dalam meningkatkan kemempuan berpikir tingkat tinggi siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Azizah, dkk (2018:62) menyatakan bahwa keterampilan berpikir kritis adalah uatu proses kognitif siswa dalam menganalisis secara sistematis dan spesifik masalah yang dihadapi oleh peerta didik, membedakan masalah tersebut secara cermat dan teliti, serta mengidentifikasi dan mengkaji informasi guna merencanakan strategi pemecahan masalah. Pendapat tersebut didukung dengan pernyataan Syah (2015: 123) menurutnya kemampuan berpikir rasional dan kritis merupakan perwujudan perilaku belajar dengan pemecahan masalah. Untuk memecahkan masalah berpikir kritis peserta didik diperlukan model pembelajaran yang sesuai dengan materi sehingga dalam penerapannya mudah dipahami oleh peserta didik. Pendapat tersebut diperkuat oleh Iskandar (2012: 87) menurutnya berpikir secara kritis merujuk pada pemikiran seseorang dalam menilai kevaliditan, kebaikan suatu ide atau pendapat, buah fikiran, serta pandangan yang berdasarkan pada bukti dan sebab akibat”.

hal ini sejalan dengan pendapat Syah (2015: 123) yang menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah.

Model pembelajaran dapat dijadikan oleh guru sebagai pola pilihan dimana dalam penerapannya guru diperbolehkan memilih model pembelajaran yang akan diterapkan yang memiliki kesesuaian dan efisien untuk mencapai tujuan dalam pembelajarannya. Model pembelajaran yang tepat ialah yang disesuaikan dengan materi yang akan di sampaikan, kondisi siswa dan sarana yang tersedia, sehingga dapat menarik perhatian belajar, menumbuhkan motivasi belajar dan mencengah kebosanan siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat (Harsono, Soessanto, & Samsudi, 2009) yang berpendapat bahwa penggunaan metode yang kurang tepat mengakibatkan pelatihan kemampuan berpikir kritis pessserta didik menjadi kurang optimal. Konsep model pembelajaran didukung oleh pendapat trianto (2010: 51), menyebutkan bahwa model pembelajaran suatu perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Hal ini sejalan dengan pendapat Djamarah,SB.

(2006: 46) menyatakan bahwa suatu cara yang digubakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini penulis menawarkan sebuah model pembelajaran yakni model pembelajaran Discovery Learning sebagai salah satu pendekatan yang memungkin untuk mengasah kemampuan berpikir siswa. Pembelajaran Discovery Learning merupakan model pembelajaran dengan tahapan proses pembelajaran yang melatih peserta didik dengan cara mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menganalisis, mengevaluasi serta menciptakan.

Discovery learning merupakan model pembelajaran yang dalam pelaksanannya mengarahkan peserta didik mampu menemukan konsep melalui berbagai sumber informasi yang diperoleh melalui percobaan dan pengamatan peserta didik. Dalam model pembelajaran Discovery Leraning tersebut menuntuk guru agar lebih kreatif dan dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dan mendorong peserta didik mampu menarik pengetahuannya sendiri dan menyelesaikan sendiri masalah-masalah pembelajaran disini guru merupakan fasilitatornya. Hal ini sejalan dengan pendapat Firosalia Kristin (2016:91) yang menyatakan bahwa Ciri utama dari model Discovery Learning adalah; 1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; 2) berpusat pada siswa; 3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada. Model Discovery Learning juga memiliki manfaat dalam meningkatkan berpikir kritis peserta didik, pendapat terebut didukung oleh (Wicaksono, dkk, 2015: 190) yang menyatakan dalam model Discovery learning bermanfaat dalam; 1) peningkatan potensi intelektual siswa; 2) perpindahan dari pemberian reward ekstrinsik ke intrinsik; 3) pembelajaran menyeluruh melalui proses menemukan; 4) alat untuk melatih memori”.

Model pembelajaran Discovery Learning adalah model yang mengembangkan cara belajar siswa agar aktif dan mampu menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, sehingga hasil yang diperoleh mampu bertahan alam dalam ingatan siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Lefudin (2017:108) menyebutkan bahwa langkah-langkah model Discovery Learning yaitu sebagai berikut: 1. Siswa dihadapkan dengan problem-problem yang menimbulkan perasaan gagal dalam dirinya ini dimulai dengan

(3)

proses inquiry, 2. Siswa mulai menyelidiki problem secara individual, 3. Siswa berusaha untuk memecahkan problem dengan menggunakan pengetahuan sebelumnya, 4. Siswa menunjukkan pengertian dari generalisasi itu, dan 5. Siswa menyatakan konsepnya atau prinsip-prinsip dimana generalisasi itu didasarkan.

Kelebihan Discovery Learning yaitu model pembelajaran yang mengacu pada penguasaan pengetahuan yang diperoleh melalui proses mencari, menelusuri, serta menyelidiki suatu permasalahan pembelajaran, dalam hal ini model pembelajaran Discovery Learning dapat dikatakan sesuai dengan pendekatan pembelajaran yang disarankan pada penerapan kurikulum 2013 karena dalam penerapannya berdasarkan pengamatan, pertanyaan, pengumpulan data, penalaran serta penyajian hasil yang diperoleh melalui pemanfaatan sumber belajar. Hal ini Didukung oleh pendapat Roestiyah (2001:80) metode eskprimen adalah suatu cara mengajar, dimana siswa melakukan suatu percobaan tentang suatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelad an dievaluasi oleh guru. Hal ini sejalan dengan pendapat (kosasih, 2015) yang menyatakan bahwa Salah satu model pembelajaran yang berpotensi meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik yaitu model pembelajaran berbasis penemuan atau discovery learning. sehingga guru hanya bertugas sebagai motivator, fasilitator, dan sebagai pengarah dalam proses pembelajaran. hal ini sejalan dengan pendapat Desmita (2006) yang berpendapat bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat ditingkatkan dengan menerapkan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengambil peran aktif dalam proses belajar dan berpusat pada peserta didik (student-centered) yang memberikan kebebasan berpikir dan keleluasaan bertindak kepada peserta didik dalam memahami pengetahuan dan pemecahan masalah.

Keterampilan berpikir kritis peserta didik dapat ditingkatkan dengan penerapan model pembelajaran Discovery learning yang mana model pembelajaran discovery learning mendorong peerta didik dalam memecahkan permasalahan serta mampu mengemukakan ide-ide dalam proe pembelajarnnya sehingga peserta didik berperan aktif dalam proses pembelajaran.

METODOLOGY

A. Metode

Metode yang digunakan adalah Literature Riview yang mana menelusuri serta menganalisis artikel yang relevan yang memiliki kaitan dengan memfokukan pada model pembelajaran Discovery Learning yang memiliki pengaruh terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Adapun artikel yang digunakan pada literature riview ini diperoleh dengan menggunakan Google Scholar dengan memasukkan kata kunci “model pembelajaran Discovery Learning”, “berpikir kritis” dan “Biologi”. Artikel yang digunakan sebanyak 20 artikel dan buku atau Texbook

Populasi dan Sampel 1) Populasi

Populasi merupakan seluruh jumlah dari subjek,variabel,fenomena yang akan diteliti dalam artikel riview kali ini subjek Serta variabel dan fenomena diperoleh dar hasil penelusuran beberapa artikel yang dijadikan sebagai sumber referensi.

2) Sampel

Sampel dalam penelitian didapatkan dari hasil analisis beberapa artikel yang relevan yang dijadikan sebagai sumber referensi.

B. Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian ini diperoleh dengan menelusuri beberapa artikel yang memiliki keterkaitan dengan judul yang dijadikan sebagai sumber referensi.

C. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan membandingkan hasil dari beberapa artikel tujuan yang dijadikan sumber referensi

HASIL DAN PEMBAHASAN

Model pembelajaran Discovery Learning merupakan salah satu model pembalajaran yang menuntut keterlibatan siswa agar aktif dalam proe pembelajaran melalui penemuan dan pengembangan ide-ide peserta didik. Model pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan cara belajar peesrta didik dalam menemukan sendiri agar hasil yang didaptkan mampu bertahan lama dan tidak mudah di lupakan. Hal ini sejalan dengan pendapat kosasih 2015) menyatakan bahwa model pembelajaran discovery Learning berbagai penemuan sehingga menuntut peserta didik mencari sendiri pemecahan masalah yang dikaitkan dengan proses mental yang mengahsilkan suatu pengetahuan yang tertanam dan memiliki makna kuat dalam ingatan siswa. Hal tersebut didukung oleh pendapat Wicakono dkk, 2015: 190) yang menyebutkan dalam model Discovery learning memiliki manfaat dalam proses peningkatan potensi intelektual siswa, berperan dalam perpindahan dari pemberian reward serta pembelajaran yang menyeluruh melalui proses menemukan sendiri serta alat untuk melatih memori peserta didik.

(4)

Rizka Rakhmahwati Nurjanah (2019) pada artikel P21 menyatakan bahwa pada kegiatan pembelajaran berbagai ide, argumen serta diskusi yang berguna untuk menemukan berbagai informasi yang menjadi faktor dalam peningkatan kemampuan berppikir kritis peserta didik. Kegiatan merumuskan masalah kesimpulan mampu melatih kemempuan peserta didik dalam mengemukakan penjelasan nya sehingga keputuan akhir didapatkan pada argumen serta penjelasan dari peserta didik tersebut.

Keterampilan berpikir kritis mendorong seseorang memiliki kecenderungan untuk melakukan penilaian terhadap kesimpulan yang didasarkan pada bukti dan metode yang disertakan dengan penyelesaian yang logis dalam mencari solusi.

Almiah (2019) pada artikel p15 menyatakan bahwa belajar dengan penemuan memfokukan kepada berpikir tingkat tinggi karena belajar dengan proses penemuan memfasilitasi peserta didik mengembangkan daya pikir melalui induksi logika yang mana menggunakan konsep berpikir dari fakta ke konsep.

Merry Agutina (2015) pada artikel P12 menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik meningkat menggunakan model pembelajaran Discovery Learning yang ditunjukkan dari hassil penelitiannya menunjukkan terdapat pengaruh model pembelajaran Discovery Learning terhadap pengingkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan mengamati nilai rata-rata persentase kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas ekperimen lebih tinggi dan terkriteria baik sedangkan pada kelas kontrol ter kriteria cukup. Dalam hal ini dapat di artikan bahwa pada kelas ekperimen siswa dapat melakukan apek-apek kemampuan bepikir kritis yaitu mampu memberikan argumen, melakukan induksi dan deduksi serta mampu mengevaluasi setiap proses pembelajaran.

Fittriyana ari (2020) pada Artikel P22 menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengklaifikasian rata-rata nilai diketahui bahwa hail posstet pada kelas ekperimen berada pada kriteria penilaian baik sehingga dapat diartikan sebagian besar siswa udah mampu memahami materi dengan baik saat menggunakan model Discovery Learning.

Mufidah sestu Kinasih pada Artikel P24 menyatakan bahwa aktivitas belajar kelas ekperimen lebih lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol hasil tersebut didapatkan dari hasil observasi mengenai tanggapan siswa terhadap model Discovery Learning dan metode dikusi dalam pembelajaran biologi, Adapun hasil observasi menyatakan bahwa hampir seluruh siswa merasakan adanya peningkatan keterampilan berpikir kritis mereka dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning yang menyebabkan peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran serta meningkatkan ketertarikan peserta didik dalam suatu pembelajaran sehingga peserta didik lebih mudah memahami materi pembelajaran.

Berdasarkan analisis artikel yang dilakukan diketahui bahwa terdapat hubungan atau korelasi antara penerapan model pembelajaran Discovery Learning dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hal tersebut dapat dilihat pada indikator-indikator kemampuan berpikir kritis yang harus di capai oleh peserta didik lebih di anjurkan pengaplikaiannya dalam proses pembelajaran dengan penerapkan model pembelajaran Discovery Learning dibandingkan model pembelajarn konvenional hal ini dikarenakan proses pembelajaran Discovery Learning terdapat kegiatan yang dimulai dengan pengamatan, mengajukan pertanyaan dari rumuan masalah, mengumpulkan data-data yang diperoleh kemudian menganalisis data tersebut selanjutnya memverifikasi data untuk menarik kesimpulan yang akan di komunikasikan sebagai hasil kerja kelompok jika di bandingkan dengan model konvensional yang dalam penerapannya hanya melakukan kegiatan berkomunikasi.

Discovery Learning merupakan model pembelajaran yang melatih peserta didik untuk menalar serta berpikir kritis, dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada peserta didik belajar secara aktif dalam berasumsi sendiri untuk memecahkan Problem dengan mengembangkan kemampuan menganalisa dan mengelola informasi yang didapatkan, kemudian peserta didik mendikusikan hasil temuannya secara berkelompok untuk menyimpulkan suatu konsep. Penelitian ini didukung oleh penelitian pratiwi (2014:1) yang menyatakan bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik meningkat menggunakan model Dicovery Learning.

Model pembelajaran Discovery Learning memiliki beberapa Langkah-langkah sebagai berikut pertama Siswa dihadapkan pada problem-problem yang menimbulkan suatu perasaan gagal di dalam dirinya ini dimulai proses inquiry selanjutnya Siswa mulai menyelidiki problem itu secara individual, kemudian Siswa berusaha memecahkan problem dengan menggunakan pengetahuan yang sebelumnya setelah itu Siswa menunjukkan pengertian dari generalisasi itu, akhirnya Siswa menyatakan konsepnya atau prinsip-prinsip dimana generalisasi itu didasarkan. Dengan demikian kemampuan berikir kritis peserta didik meningkat. Berdasarkan pembahasan yang ada dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Discovery Learning terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Azizah Mira, D. (2018). Analisi ketrampilan berfikir kritis siswa sekolah dasar pada pembelajaran Mata pelajaran IPA Kurikulum 2013. jurnal penelitian pendidikan, 35.

Desmita. (2066). Psikologi Perkembangan . Bandung .

Djamarah, S. B. (2008). Strategi belajar Mengajar . Bandung : Rineka Cipta . Feldan, A. d. (2010). Berpikir Kritis . Jakarta: Indeks .

(5)

Fujiawati, F. S. (2016, april ). PEMAHAMAN KONSEP KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN DENGAN PETA KONSEP BAGI MAHASISWA PENDIDIKAN SENI. Jurnal Pendidikan Dan Kajian Seni, 1.

Harsono, B. &. (2009). Perbedaan Hasil Belajar antar Metode Ceramah Konvensional dengan ceramah berbantuan media animasi pada pembelajaran kompetensi sistem Rem. Jurnal PTM, 9.

Iskandar. (2012). Psikologi Pendidikan Sebuah Orientasi Baru . Jakarta : Referensi . KEMENDIKBUD. (2013). PENGEMBANGAN KURIKULUM .

Khoirunnisa. (2015). Pengaruh Model Discovery Learning Terhadap Kemempuan Berpikir Kritis Dan Hasil Belajar Siswa.

Jurnal FKIP.

Kosasih. (2016). Strategi Belajar Dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013. Bandung : Yrama.

Kristin, F. (2016). Analisis Model Pembelajaran Discovery Laerning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SD. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa, 2.

Reta, I. K. (2012). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Di Tinjau Dari Gaya Kognitif Siswa . Universitas Pendidikan Ganesha .

Rofiah, E. A. (2013). Penyusun Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika Pada Siswa SMP . Jurnal Pendidikan Fisika .

Rostiyak. (1991). Metodik Ditakdik . Jakarta : Bina Aksara .

Suprijono. (2009). Cooperative Learning " Teori dan Aplikasi Paikem ". Surabaya : Pustaka Pelajar . Syah, M. (2015). Psikologi Belajar . Jakarta : PT. Raja Gravindo Persada .

Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progesif. Jakarta: Bumi Aksara .

Wicaksono, d. (2015). Teori Pembelajaran Bahasa ( suatu catatan singkat ) . Yogyakarta : Garudha Waca.

Wijanarko, Y. (2017). Model Pembelajaran Make Match Untuk Pembelajaran IPA yang Menyenangkan. Jurnal Taman Cendekia, 1.

Referensi

Dokumen terkait

Langkah yang dilakukan dalam membangun sistem baru ini yaitu dengan melakukan analisis kebutuhan data, mengumpulkan data, meran- cang dengan menggunakan pemodelan terstruktur,

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Francis, Lori, Yoona, dan Leann terhadap remaja perempuan di Australia bahwa lama menonton tv merupakan faktor

Hasil daripada kajian ini, para usahawan dapat menilai semula tahap kerjasama sesama mereka dalam membantu memperluaskan lagi pasaran perniagaan dan melahirkan

Memperhatikan data curah hujan (Gambar 3) dan penyebaran lapisan akuifer yang meliputi hampir seluruh wilayah kota dan juga jenis akuifer yang terdiri atas lapisan

Tujuan dalam penelitian ini yaitu suhu, pH dan berbagai variasi jarak dengan kadar Pb pada badan air Sungai Rompang dan air sumur gali disekitar industri

Prinsip tauhid ini juga menghendaki dan memposisikan untuk menetapkan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah (Al- 4XU·DQ dan As-Sunah). Barang siapa yang

Penyampaian informasi produk/properti dapat menggunakan media multimedia visualisasi 3 dimensi namun media tersebut juga perlu sesuai dengan keperluan dari sebuah sistem untuk

menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dari pada tanaman terong hijau ( Solanum melongena L) yang tidak diberikan perlakuan kompos ampas tebu; (2) terdapat pengaruh yang