BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Informasi 2.1.1 Pengertian Sistem
Menurut Malabay (2008, p305), sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu “systema” yang mempunyai arti serangkaian dari objek-objek yang digabungkan oleh suatu kerangka interaksi atau saling bergantungan.
Berdasarkan pengertian sistem seperti yang telah diuraikan maka sistem yang merupakan sesuatu yang terdiri dari berbagai komponen atau elemen yang saling terkait dan mempunyai tujuan atau peranan yang sama.
Suatu sistem memiliki karakteristik agar tidak menyimpang dari tujuan dan fungsinya. Karakteristik sistem adalah :
1. Komponen
Sistem terdiri dari sejumlah komponen berupa subsistem atau elemen sistem yang melakukan fungsi tertentu. Komponen-komponen tersebut berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan sistem.
2. Batas Sistem
Sistem dibatasi oleh suatu area untuk membatasinya dengan sistem lainnya. Batasan sistem menunjukan ruang lingkup sistem itu sendiri.
3. Lingkungan Luar Sistem
Lingkungan luar sistem meliputi segala sesuatu yang berada di luar sistem yang mempengaruhi kerja sistem.
4. Penghubung Sistem
Penghubung sistem adalah suatu media yang menghubungkan antar elemen atau subsistem dalam sistem. Melalui media ini memungkinakan pengiriman masukan dan keluaran dari suatu sistem ke sistem lain.
5. Masukan Sistem
Masukan sistem atau input sistem adalah segala sesuatu yang diperlukan sistem untuk diproses sehingga sistem dapat mencapai hasil yang diharapkan.
6. Pengolahan Sistem
Suatu unit yang mengolah masukan ke sistem menjadi keluaran melalui proses atau prosedur tertentu.
7. Keluaran Sistem
Hasil yang diharapkan berasal dari masukan yang diproses. Hasil tersebut bisa menjadi hasil akhir atau masukan bagi sistem lainnya.
8. Sasaran dan Tujuan
Memberikan laporan kepada pihak manajemen dalam pengambilan keputusan secara efektif dan efisien dan dapat menerima umpan balik dan kontrol dari arus informasi tertentu.
2.1.2 Pengertian Data
Menurut Budi (2008, p214), data adalah objek-objek dalam pengertian yang lebih luas, terstruktur dan tidak terstruktur, grafik, suara dan sebagainya.
Himpunan data memiliki sifat yang unik antara lain:
1. Saling berkaitan (interrelated)
Data-data tersebut akan saling berkaitan/terintegrasi dan tersimpan secara terorganisir didalam suatu media penyimpanan.
2. Kebersamaan (shared)
Data yang terintegrasi tersebut dapat diakses oleh berbagai macam pengguna/orang tetapi hanya satu yang dapat merubahnya yaitu Database Administrator (DBA).
2.1.3 Pengertian Informasi
Menurut Indrajani (2008, p351), Informasi adalah salah satu jenis sumber daya yang tersedia bagi manajer, yang dapat dikelola seperti halnya sumber daya lain.
Informasi adalah data yang sudah diolah sehingga menjadi sesuatu yang dapat membantu dalam pemecahan masalah maupun pengambilan keputusan.
Sumber daya dari Informasi seperti : 1. Hardware
2. Software
3. Spesialis informasi 4. Pemakai
5. Fasilitas 6. Database 7. Informasi
A. Kualitas Informasi
Kualitas informasi ditentukan oleh beberapa hal berikut:
1. Relevan 2. Akurat 3. Tepat waktu 4. Ekonomis 5. Efisien
6. Dapat dipercaya
B. Dimensi Informasi
Dimensi dari informasi dapat dikategorikan menjadi empat dimensi yaitu:
1. Dimensi Fisikal
Lebih terkait dengan fasilitas fisik yang mendukung perwujudan dari informasi.
2. Dimensi Sintatik
Memandang informasi sebagai dari kacamata calligraphy.
3. Dimensi Semantik
Dapat diartikan “arti” dari informasi 4. Dimensi Pragmatis
Informasi yang terkait dengan tindakan tertentu.
2.1.4 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Ariyanti(2008, p310), sistem informasi merupakan berbagai macam kombinasi dari orang, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi dan sumber data yang menyimpan, memilah, mengubah bentuk dan mengeliminasi informasi didalam organisasi.
Untuk memanfaatkan sistem informasi dengan efektif, maka kita harus mengetahui dengan pasti tentang organisasi, manajemen dan teknologi informasi yang membentuk sistem.
− Elemen pertama yaitu organisasi meliputi manusia, struktur dan prosedur operasi.
− Elemen kedua yaitu manajemen, mengamati kesempatan, membuat strategi untuk menjawab kebutuhan, mengatur penempatan kepada orang dan sumber untuk mendukung strategi tersebut.
− Elemen ketiga yaitu teknologi informasi, merupakan alat yang dapat digunakan oleh manajemen untuk membantu melakukan kontrol dan membuat suatu kegiatan yang baru. Teknologi mempunyai 3 komponen, perangkat lunak, perangkat keras dan user.
2.1.5 Pengertian Geografi
Geografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu geos dan graphien.
Geos berarti bumi atau permukaan bumi, sedangkan graphien berarti mencitrakan atau melukiskan. Berdasarkan asal katanya, geografi dapat diartikan pencitraan bumi.
Dalam arti luas, geografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang permukaan bumi, penduduk serta hubungan timbal balik antara keduanya.
Menurut Richthoffen, geografi adalah ilmu yang mempelajari permukaan bumi sesuai dengan referensinya, atau studi mengenai area- area yang berbeda di permukaan bumi (Prahasta,2005,p12).
2.2 Sistem Informasi Geografis dan Pemetaan 2.2.1 Pengertian Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis (SIG) pada dasarnya merupakan gabungan tiga unsur pokok yaitu sistem, informasi dan geografis. Dengan melihat unsur-unsur pokoknya, maka jelas sistem informasi geografis merupakan salah satu sistem informasi dengan tambahan unsur geografis.
Sistem Informasi Geografis menurut Wahyu (2008, p116) diartikan sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospatial, untuk mendukung keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan pengunaan lahan. Sumber daya alam, lingkungan transportasi, fasilitas kota dan pelayanan umum lainnya.
Dari pernyataan diatas, SIG adalah sejenis perangkat lunak yang dapat digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanipulasi dan menampilkan keluaran informasi geografis berikut dengan data-data atributnya.
A. Kemampuan Sistem Informasi Geografis o Dapat mengumpulkan data geografi.
o Dapat mengintegrasikan data geografi (spasial dan attribute).
o Dapat memeriksa dan memperbaharui data geografi.
o Dapat menyimpan dan memanggil kembali data geografi.
o Dapat memanipulasi data geografi.
o Dapat menganalisa data geografi.
o Dapat menghasilkan output.
B. Cara Kerja Sitem Informasi Geografis
Gambar 2.1. Cara Kerja Sistem Informasi Geografis
Menurut Prahasta (2005, p65), SIG dapat merepresentasikan real world di atas monitor komputer sebagaimana lembaran peta dapat merepresentasikan dunia nyata di atas kertas. SIG menyimpan semua informasi sebagai atribut-atribut didalam basis data. Kemudian, SIG membentuk dan menyimpannya didalam tabel-tabel (relasional). Setelah itu,
Data Spasial Basis Data Atribut Relasi
Basis Data SIG
Layer Tabel
Disimpan
SIG menghubungkan unsur-unsur di atas dengan tabel-tabel yang bersangkutan.
Dengan demikian, atribut-atribut ini dapat diakses melalui lokasi- lokasi unsur-unsur peta, dan sebaliknya. SIG menghubungkan sekumpulan unsur-unsur peta dengan atribut-atributnya didalam satuan-satuan yang disebut layer. Kumpulan dari layer-layer ini akan membentuk basis data SIG.
Dengan demikian, perancangan basis data merupakan hal yang esensial didalam SIG. Rancangan basis data akan menentukan efektivitas dan efisiensi proses-proses masukan, pengelolaan, dan keluaran SIG.
2.2.2 Komponen Sistem Informasi Geografis 1. Perangkat Keras
Berbagai platform perangkat keras SIG mulai dari Personal Computer (PC), desktop, workstation hingga multi user host yang dapat digunakan dalam suatu jaringan. Adapun contoh perangkat keras yang sering digunakan, yaitu PC, mouse, digitizer, printer, plotter dan scanner.
2. Perangkat Lunak
Bila dipandang dari sisi lain, SIG juga merupakan sistem perangkat lunak yang tersusun secara modular sebagaimana basis data mempunyai peranan dalam pemegang kunci. Setiap subsistem diimplementasikan menggunakan perangkat lunak yang terdiri dari beberapa modul, jadi tidak mengherankan jika ada perangkat SIG
yang mempunyai modul program (.exe) yang masing-masing dapat dieksekusi sendiri.
3. Data dan Informasi Geografi
SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara meng-import-nya dari perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara medigitasi data spasial yang ada dan memasukkannya ke tabel- tabel.
2.2.3 Representasi Grafis Suatu Objek Pada SIG
Informasi grafis suatu objek dapat dimasukkan dalam bentuk:
1. Titik
Titik adalah representasi paling sederhana untuk suatu objek. Pada skala besar suatu bangunan ditampilkan dengan polygon, tetapi dalam skala kecil ditampilkan menggunakan titik.
Gambar 2.2. Representasi Objek Titik CIBINONG
CITEUREUP KEDUNG
HALANG
2. Garis
Garis adalah bentuk linier yang akan menghubungkan paling sedikit dua titik dan digunakan untuk merepresentasikan objek-objek satu dimensi.
Gambar 2.3. Representasi Objek Garis 3. Polygon
Digunakan untuk merepresentasikan objek-objek dua dimensi. Misal danau, batas propinsi dan lain-lain.
Gambar 2.4. Representasi Objek Polygon
1 2
3
5 4
6
2.2.4 Jenis Data Masukan untuk Sistem Informasi Geografis
Jenis data yang ada didalam SIG dikelompokkan menjadi dua jenis data, yaitu:
1. Data Non Spasial / Data atribut.
Merupakan data yang berhubungan dengan tema atau topik tertentu, seperti tanah, geologi, geomorfologi, penggunaan lahan, populasi dan transportasi.
2. Data Spasial
Merupakan jenis data yang merepresentasikan aspek-aspek keruangan (titik koordinat) dari fenomena atau keadaan yang terdapat didunia nyata. Terdapat 2 konsep representasi entity spasial, yaitu : - Raster (Model Data Raster)
Menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan struktur matriks atau pixel-pixel yang membentuk grids. Akurasi model data ini sangat tergantung pada resolusi atau ukuran pixelnya di permukaan bumi.
Entity spasial raster disimpan dalam layer secara fungsionalitas direlasikan dengan unsur-unsur petanya. Contoh sumber entity spasial raster adalah citra satelit, citra radar dan model ketinggian (Prahasta, 2005,p146).
Kelebihan format raster adalah :
- Data dalam bentuk raster lebih mudah.
- Metode untuk mendapatkan citra raster lebih mudah melalui scanning.
- Gambar didapat lebih detail dari radar atau satelit.
Kekurangan format raster adalah :
- Membutuhkan memory yang besar.
- Akurasi posisinya bergantung dari ukuran pixelnya.
- Penggunaan sel atau ukuran grid yang lebih besar untuk menghemat ruang penyimpanan akan menyebabkan kehilangan informasi dan ketelitian.
− Vektor (Model Data Vektor)
Menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik-titik, garis-garis atau kurva atau poligon beserta atribut-atributnya.
Bentuk-bentuk dasar representasi data spasial dalam format vektor didefinisikan oleh sistem koordinat kartesius dua dimensi (Prahasta,2005,p159).
Dalam format vektor, garis merupakan sekumpulan titik- titik terurut yang dihubungkan. Sedangkan poligon disimpan sebagai sekumpulan titik-titik tetapi titik awal dan titik akhir poligon memiliki koordinat yang sama.
Format ini memiliki kelebihan :
- Memerlukan tempat penyimpanan yang sedikit.
- Memiliki resolusi spasial yang tinggi.
- Memiliki batas-batas yang teliti, tegas dan jelas.
Format ini memiliki kekurangan :
- Memiliki struktur data yang kompleks.
- Tidak kompatibel dengan data citra satelit penginderaan jauh.
- Memerlukan perangkat lunak dan perangkat keras yang mahal.
a. Mengintegrasikan data – map overlay
Kemampuan mengintegrasikan data dari dua sumber menggunakan overlay map (map overlay) adalah fungsi kunci dari analisis SIG. SIG memungkinkan dua buah layer peta tematik berbeda dari area yang sama saling di overlay untuk membentuk suatu layer baru.
Dengan kemajuan teknologi dalam SIG, maka terdapat perbedaan di dunia raster dan vektor. Dalam sistem yang berbasiskan vektor, map overlay lebih banyak menghabiskan waktu, lebih kompleks dan sedikit mahal. Sebaliknya dalam raster dapat dilakukan cepat, langsung dan efisien.
b. Sumber Sistem Informasi Geografis
Sumber informasi geografis selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu (bersifat dinamis), sejalan dengan perubahan gejala alam dan gejala sosial. Dalam geografis, informasi yang diperlukan harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki ilmu lain, yaitu :
1. Merupakan pengetahuan (knowledge) hasil pengalaman.
2. Tersusun secara sistematis, artinya merupakan satu kesatuan yang tersusun secara berurut dan teratur.
3. Logis, artinya masuk akal dan menunjukkan sebab akibat.
4. Objektif, artinya berlaku umum dan mempunyai sasaran yang jelas dan teruji
Selain memiliki ciri-ciri tersebut di atas, geografis juga harus menunjukkan ciri spasial (keruangan) dan regional (kewilayahan). Aspek spasial dan regional merupakan ciri khas geografi, yang membedakannya dengan ilmu-ilmu lain.
2.2.5 Analisis Data Sistem Informasi Geografis
Kemampuan SIG dapat juga dikenali dari fungsi-fungsi analisis yang dapat dilakukannya (Prahasta,2005,p73). Secara umum terdapat dua jenis fungsi analisis :
1. Fungsi analisis spasial 2. Fungsi analisis atribut
Fungsi analisis atribut terdiri dari operasi dasar sistem pengelolaan basis data dan perluasannya.
Fungsi analisis spasial terdiri dari :
• Klasifikasi
Fungsi ini mengklasifikasikan kembali suatu data spasial menjadi data spasial yang baru dengan menggunakan kriteria tertentu.
• Network
Fungsi ini merupakan data spasial titik-titik (point) atau garis- garis (line) sebagai suatu jaringan yang tidak terpisahkan.
• Overlay
Fungsi ini menghasilkan data spasial baru dari minimal dua data spasial yang menjadi suatu input.
• Buffering
Fungsi ini akan menghasilkan data spasial baru yang berbentuk polygon atau zone dengan jarak tertentu dari data spasial yang menjadi input.
• 3D analysis
Fungsi ini terdiri dari sub-sub fungsi yang berhubungan dengan presentasi data spasial dalam ruang tiga dimensi.
• Digital image processing
Fungsi ini dimiliki oleh perangkat SIG yang berbasis raster.
2.2.6 Subsistem Sistem Informasi Geografis
Gambar 2.5. Subsistem-Subsistem SIG
Untuk membangun atau membuat suatu SIG, ada beberapa subsistem yang menjadi pendukung. Subsistem ini saling berhubungan.
Subsistem tersebut antara lain :
1. Data Input : Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan data dan mempersiapkan data spasial dan attribut dari berbagai sumber dan mengkonversi atau mentransformasikan format-format data- data aslinya ke dalam format yang digunakan oleh SIG.
2. Data Output : Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data dalam bentuk softcopy maupun dalam bentuk hardcopy seperti : tabel, grafik, peta dan lain-lain.
3. Data Management : Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun attribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, diupdate dan diedit.
4. Data Manipulasi dan Analisis : subsistem ini menentukan informasi – informasi yang dihasilkan oleh SIG.
2.2.7 Pengertian Peta
Menurut Prahasta (2005,p12), peta adalah suatu alat peraga untuk menyampaikan suatu ide berupa sebuah gambar mengenai tinggi rendahnya suatu daerah (topografi), penyebaran penduduk, jaringan jalan dan hal lainnya yang berhubungan dengan kedudukan dalam ruang. Peta dilukiskan dengan skala tertentu, dengan tulisan atau symbol sebagai keterangan yang dapat dilihat dari atas. Peta dapat meliputi wilayah yang
luas, dapat juga hanya mencakup wilayah yang sempit. Peta dalam bahasa Inggris yang berarti map, dan dalam bahasa Yunani berupa mappa. Ilmu pengetahuan yang mempelajari peta disebut kartografi.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, peta adalah gambaran atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung dan sebagainya; representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat-sifat seperti batas daerah, sifat permukaan.
a. Jenis Peta
Ada beberapa jenis peta menurut kegunaanya yang terdapat dalam The World Encyclopedia (1991):
1. General Reference Map (Peta Referensi Umum)
Peta ini digunakan untuk mengidentifikasi dan verifikasi macam- macam bentuk geografis termasuk fitur tanah, badan air, perkotaan, jalan dan lain sebagainya.
2. Mobility Map
Peta ini bermanfaat dalam membantu masyarakat dalam menetukan jalur dari satu tempat ke tempat lainnya, digunakan untuk perjalanan di darat, laut dan udara.
3. Thematic map (Peta tematik)
Peta ini menunjukkan penyebaran dari objek tertentu seperti populasi, curah hujan dan sumber daya alam.
4. Inventory Map (Peta inventaris)
Peta ini menunjukan lokasi dari fitur khusus misalnya : posisi semua gedung di wilayah Jakarta Barat.
Jenis-Jenis Peta berdasarkan isi : 1. Peta Umum
Melukiskan semua kenampakan pada suatu wilayah secara umum, kenampakan adalah keadaan alam atau daerah dengan berbagai bentuk permukaan bumi, yaitu gunung, dataran, lembah, sungai, dan sebagainya yang merupakan satu kesatuan. Contoh : Peta Indonesia, Peta Asia, Peta Dunia.
2. Peta Tematik atau Peta Khusus
Melukiskan kenampakan tertentu atau menonjolkan satu macam data saja pada wilayah yang dipetakan. Contoh : Peta Iklim, Peta perhubungan.
Jenis – jenis peta berdasarkan skala :
1. Peta kadaster / teknik : Berskala antara 1 : 100 – 1 : 5.000 2. Peta berskala besar : Berskala antara 1 : 5000 – 1 : 250.000 3. Peta skala sedang: Berskala antara 1 : 250.000 – 1 : 500.000 4. Peta skala kecil: Berskala antara 1 : 500.000 – 1 : 1000.000 5. Peta geografis: Berskala antara 1 : 1000.000
Jenis-jenis peta berdasarkan keadaan objek ; 1. Peta stasioner
Menggambarkan keadaan atau objek yang dipetakan tetap atau stabil.
Contoh : Peta persebaran gunung berapi.
2. Peta dinamis
Menggambarkan keadaan atau objek yang dipetakan mudah berubah.
Contoh : Peta urbanisasi, Peta arah angin, Peta ketinggian aliran sungai.
2.2.8 Penggunaan Peta
Pada umumnya peta dapat digunakan untuk mengetahui berbagai kenampakan pada suatu wilayah yang dipetakan, yakni:
1. Memperlihatkan posisi suatu tempat di permukaan bumi
2. Mengukur luas dan jarak suatu daerah di permukaan bumi berdasarkan skala dan ukuran peta.
3. Memperlihatkan bentuk suatu daerah yang sesungguhnya dengan skala tertentu.
4. Menghimpun data suatu daerah yang disajikan dalam bentuk peta.
Adapun peta khusus digunakan untuk tujuan tertentu yang menonjolkan satu jenis data saja. Misalnya peta iklim, peta curah hujan, peta penyebaran penduduk dan sebagainya.
2.2.9 Syarat-Syarat Peta
Peta yang ideal mempunyai luas, bentuk, arah dan jarak yang benar. Peta yang baik dan lengkap harus mencantumkan judul peta, tahun
pembuatan, skala, petunjuk arah, legenda dan garis astronomis, dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Judul Peta
Judul suatu peta harus memuat jenis peta dan daerah yang dipetakan.
Termasuk jenis peta, misalnya, peta pertambangan, peta iklim, peta perhubungan. Daerah yang akan dipetakan misalnya peta Indonesia, peta dunia. Contohnya : Peta hasil pertambangan di Indonesia. Judul peta diletakkan di atas tengah.
2. Tahun Pembuatan
Tahun pembuatan diletakkan di kanan bawah atau kiri bawah.
Pencantuman tahun pembuatan ini sangat penting karena dapat dipakai untuk memastikan bahwa peta tersebut masih baik digunakan saat itu.
3. Skala Peta
Skala ialah perbandingan jarak pada peta dengan jarak sesungguhnya di permukaan bumi. Ada tiga macam skala, yaitu skala angka, skala inci, dan skala garis.
Skala angka adalah skala pada peta yang dinyatakan dengan angka numerik. Contohnya: 1:500.000. Artinya 1 cm dipeta = 500.000 cm di permukaan bumi.
Skala inci adalah skala pada peta yang dinyatakan dalam suatu inci (biasa digunakan di luar negeri). Satuan inci = 2,539 cm.
Skala garis adalah skala pada peta berupa garis yang menunjukkan jarak sesungguhnya pada permukaan bumi.
4. Petunjuk arah (Orientasi)
Pada setiap pembuatan peta perlu dicantumkan orientasi atau mata angin sebagai petunjuk arah dari daerah atau wilayah yang dipetakan.
Pembuatan orientasi atau petunjuk arah perlu memperhatikan pedoman berikut :
a. Indonesia menggunakan orientasi utara.
b. Petunjuk arah ditempatkan pada bagian kosong agar tidak mengganggu peta induk.
5. Legenda
Peta memuat informasi yang padat, namun tidak mungkin semua data diberi keterangan rinci. Oleh karena itu, keterangan dibuat beberapa simbol-simbol. Keterangan tentang simbol-simbol pada suatu peta disebut legenda. Ada dua macam simbol dalam peta, yaitu simbol kualitatif dan simbol kuantitatif. Simbol kualitatif digunakan untuk melukiskan bentuk-bentuk di permukaan bumi, simbol kualitatif meliputi simbol titik, simbol garis, dan simbol warna.
Simbol kuantitatif digunakan untuk menunjukan jumlah data yang diwakili, misalnya untuk menggambarkan jumlah penduduk di daerah tertentu
6. Garis Astronomis
Setiap peta harus mencantumkan garis astronomis, yaitu garis lintang dan garis bujur. Garis lintang adalah garis khayal yang melintangi permukaan bumi. Sedangkan garis bujur adalah garis khayal yang menghubungkan Kutub Utara dan Kutub Selatan, serta digambarkan
membujur. Karena merupakan garis khayal, kedua garis itu sesungguhnya tidak ada dan hanya dalam peta. Garis-garis itu berfungsi memperjelas kita dalam membaca peta.
Ditinjau dari sifat-sifat asli yang dipertahankan, penggambaran peta ke bidang datar atau proyeksi harus mengikuti hal-hal sebagi berikut :
a. Peta harus konform, artinya bentuk peta yang tergambar meskipun kecil harus sebangun dengan senyatanya, tidak boleh mengubah bangun-bangun kenampakan yang ada.
b. Peta harus ekuidistan, artinya jarak-jarak yang tergambar pada peta harus sesuai dengan keadaan senyatanya. Contoh : jarak dari kota P ke Kota G di peta 10 cm.
Skala peta 1:100.000
Jarak sesungguhnya adalah 10 x 100.000 = 1.000.000 cm atau 10 km.
c. Peta harus ekuivalen, artinya sesuai dengan skala yang sudah dicantumkan.
Sistem, informasi dan geografis membentuk suatu hubungan yang disebut dengan SIG. Dimana SIG merupakan suatu aplikasi, dalam proses pembuatannya membutuhkan beberapa peta, guna mendukung pembuatan SIG agar lebih optimal.
2.3 Basis Data
2.3.1 Pengertian Data
Menurut Bambang (2008, p15), kata data berasal dari kata datum yang berasal dari bahasa latin yang artinya fakta.
Bagi manusia dapat berupa segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra manusia, menurut komputer segala sesuatu yang dapat dilambangkan, dikodekan, atau digitalisasi ke dalam lambang-lambang atau kode-kode yang dimengerti oleh komputer.
2.3.2 Pengertian Basis Data
Menurut Connoly(2005, p15) basis data adalah penggunaan bersama dari data yang berhubung secara logis dan deskripsi dari data, yang dirancang untuk keperluan informasi dari suatu perusahaan atau organisasi.
Ada dua tujuan utama konsep database adalah : - Mengurangi redudancy data
- Indepedensi data.
2.3.3 Basis Data Terelasi (Relational Database)
Konsep basis data dimana tabel-tabel di dalam basis data saling berhubungan satu sama lain.
2.3.4 Entity Relationship
Menurut Bambang, ER (Entity Relationship) pada awalnya disampaikan oleh Peter di tahun 1976 sebagai suatu cara untuk menyatukan jaringan dan menggambarkan Relational Database.
Singkatnya, ER adalah sebuah model konseptual dari data yang menggambarkan keadaan sebenarnya dari entities dan relationships.
Entity adalah sebutan lain dari record dan entities. Entity adalah sebuah objek yang unik yang bisa dibedakan antara satu objek dengan objek lainnya (discrete object). (2008,p201).
Menurut Ladjamudin (2005, p152), Relationship adalah ketergantungan atau keterkaitan antara satu entity dengan satu atau lebih entity lainnya.
Jenis-jenis Mapping Cardinalities :
1. One to One : sebuah entity di A hanya bisa diasosiasikan dengan paling banyak satu entity di B dan sebaliknya.
Gambar 2.6. One to One Relationship
2. One to Many : sebuah entity di A hanya bisa diasosiasikan dengan nol atau lebih entity di B, namun entity di B hanya bisa di asosiasikan dengan paling banyak satu entity di A
MsContoh 1 MsContoh 2
MsContoh 1 MsContoh 2
Gambar 2.7. One to Many Relationship
3. Many to One : Sebuah entity di A hanya bisa diasosiasikan dengan paling banyak satu entity di B, namun entity di B hanya bisa si asosiasikan dengan nol atau lebih entity di A.
Gambar 2.8. Many to One Relationship
4. Many to Many : sebuah entity di A bisa diasosiasikan dengan nol atau lebih entity di B dan sebuah entity di B bisa diasosiasikan dengan nol atau lebih entity di A. (korth,1991)
Gambar 2.9. Many to Many Relationship
2.3.5 Diagram Hubungan Entitas (ERD)
Diagram Hubungan Entitas (ERD) adalah diagram yang digunakan untuk menggambarkan struktur logical dari database secara keseluruhan.
MsContoh 1 MsContoh 2
MsContoh 1 MsContoh 2
2.3.6 Flowchart
Flowchart adalah penggambaran secara grafik dari langkah- langkah dan urutan prosedur dari suatu program. Flowchart menolong analis dan programmer untuk memecahkan masalah kedalam segmen-
segmen yang lebih kecil dan menolong dalam menganalisis alternatif- alternatif lain dalam pengoperasian.
Flowchart sistem merupakan bagan yang menunjukkan alur kerja atau apa yang sedang dikerjakan di dalam sistem secara keseluruhan dan menjelaskan urutan dari prosedur-prosedur yang ada di dalam sistem.
Dengan kata lain, flowchart ini merupakan deskripsi secara grafik dari urutan prosedur-prosedur yang terkombinasi yang membentuk suatu sistem. Flowchart sistem terdiri dari data yang mengalir melalui sistem
dan proses yang mentransformasikan data itu.
Tabel 2.1. Tabel Fungsi Simbol Flow Chart
No. Simbol Fungsi
1 Terminal, untuk memulai dan mengakhiri
suatu program.
2 Proses, suatu simbol yang menunjukkan
setiap pengolahan yang dilakukan oleh komputer.
3 Input-Output, untuk memasukkan data
maupun menunjukkan hasil dari suatu proses.
4 Decision, suatu kondisi yang akan menghasilkan beberapa kemungkinan jawaban atau pilihan.
5 Predefined Process, suatu simbol untuk menyediakan tempat-tempat pengolahan data di storage.
6 Connector, suatu prosedur akan masuk dan keluar melalui simbol ini dalam lembar yang sama.
7 Off Line Connector, merupakan simbol
untuk masuk dan keluarnya suatu prosedur pada lembar kertas yang lain.
8 Arus atau Flow, prosedur yang dapat
dilakukan dari atas kebawah, bawah keatas, dari kiri kekanan, atau dari kanan kekiri.
9 Document, merupakan simbol untuk data
yang berbentuk informasi.
10 Untuk menyatakan sekumpulan langkah
proses yang ditulis sebagai prosedur.
11 Simbol untuk output yang ditujukan suatu alat seperti printer, plotter.
12 Simbol untuk data storage.
2.3.7 Data Flow Diagram (DFD)
Data Flow Diagram merupakan teknik grafik yang digunakan untuk menjelaskan aliran informasi mulai dari proses pemasukan hingga mendapatkan suatu output dari pengolahan informasi tersebut. DFD digunakan untuk merepresentasikan suatu sistem yang otomatis maupun manual melalui gambaran yang berebentuk jaringan grafik. Dengan menggunakan DFD, sistem analis dapat memahami aliran data dalam sebauh sistem.
Tingkat dalam DFD, yaitu : 1. Context Diagram
Adalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem.
2. Diagram Nol
Diagram yang menggambarkan proses dari dataflow diagram.
Diagram nol memberikan pandangan secara menyeluruh mengenai sistem yang ditangani, menunjukan tentang fungsi-fungsi utama atau proses yang ada, aliran data dan external entity.
3. Diagram Rinci
Diagram yang menguraikan proses apa yang ada di diagram nol atau diagram level di atasnya.
Notasi DFD
Simbol-simbol yang digunakan dalam DFD terdiri dari 4 macam, yaitu:
process, data flow, data store dan external entity. Berikut uraian singkat mengenai 4 simbol tersebut.
1. Process adalah simbol yang mengubah suatu data dari suatu bentuk menjadi bentuk yang lain. Dengan kata lain, proses menerima masukan data dan mengeluarkan keluaran data lain yang telah diproses. Simbol process dapat dilihat pada gambar 2.10.
Gambar 2.10. Simbol Process
2. Data flow atau aliran data adalah aliran yang menunjukkan perpindahan data dari satu bagian ke bagian lain dalam suatu sistem.
Data flow dalam DFD digambarkan dengan tanda panah dan diberi keterangan di sampingnya yang menunjukkan data yang mengalir.
Simbol dapat dilihat pada gambar 2.11.
Gambar 2.11. Simbol Data Flow
3. Data Store adalah tempat penyimpanan data dalam suatu sistem, baik secara manual maupun secara elektronik. Simpanan data digunakan jika suatu proses perlu menggunakan lagi data tersebut. Simbol dapat dilihat pada gambar 2.12.
Gambar 2.12. Simbol Data Store
4. Data source adalah sumber data menunjukkan suatu organisasi atau perseorangan yang memasukkan data ke sistem. Sedangkan tujuan data menunjukkan suatu organisasi atau perseorangan yang menerima data yang dihasilkan oleh sistem. Sumber dan tujuan data mempunyai satu simbol yang sama. Dalam DFD, data source disimbolkan dalam gambar 2.13.
Gambar 2.13. Simbol Data Source
Ada tiga keuntungan menggunakan DFD, yaitu :
1. Terhindar dari usaha untuk mengimplementasikan sistem yang terlalu dini. Analis sistem perlu memikirkan secara cermat aliran-aliran data sebelum mengambil keputusan untuk merealisasikannya secara teknis.
2. Dapat mengerti lebih dalam hubungan sistem dengan sub sistemnya.
Analisis sistem dapat membedakan sistem dari lingkungan beserta batasan-batasannya.
3. Dapat menginformasikan sistem yang berlaku kepada pengguna. DFD dapat digunakan sebagai alat untuk berinteraksi dengan pengguna dalam bentuk representasi simbol-simbol yang digunakan.
2.4 Minimarket
Menurut Hendri (2005, p76) yang disebut minimarket biasanya luas ruangnya adalah 50m² sampai 200m² serta berada pada lokasi yang mudah dijangkau konsumen.
Sedangkan dalam artikel dalam majalah menurut Halomoan Tamba.
(2005). Bisnis Ritel Modern. Infokop, volume 26, 57, minimarket adalah sistem pertokoan yang menggunakan manajemen modern yang didukung dengan teknologi modern, mengutamakan kenyamanan pelayanan berbelanja.
Berdasarkan Perda DKI No.2/2002, tanggal 18 Maret 2002, minimarket adalah sarana atau tempat usaha untuk melakukan penjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari secara eceran dan langsung kepada konsumen akhir dengan cara swalayan yang luas lantai usahanya maksimal 4000m²
2.5 Ritel
2.5.1 Pengertian Ritel
Dalam buku Sopiah dan Syihabudhin (2008, p7) penjualan eceran disebut dengan istilah “retailing”. Semula, retailing berarti memotong kembali menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Perdagangan eceran bisa didefinisikan sebagai suatu kegiatan menjual barang dan jasa kepada konsumen akhir. Perdagangan eceran adalah mata rantai terakhir dalam penyaluran barang dari produsen sampai kepada konsumen. Sementara itu, pedagang eceran adalah orang-orang atau toko yang pekerjaan utamanya adalah mengecerkan barang.
Kata ritel berasal dari bahasa Perancis, ritellier, yang berarti memotong atau memecah sesuatu. Usaha ritel atau eceran (retailing) dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk pengunaan pribadi dan penggunaan bisnis.
Dalam buku Whidya (2006, p4) ritel merupakan perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada para konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga. Seringkali orang-orang beranggapan bahwa ritel hanya menjual produk-produk di toko. Tetapi, ritel juga melibatkan layanan jasa, seperti jasa layanan antar (delivery service) ke rumah-rumah. Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk, jasa, atau keduanya, kepada konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama. Para
peritel berupaya memuaskan kebutuhan konsumen dengan mencari kesesuaian antara barang-barang yang dimilikinya dengan harga, tempat dan waktu yang diinginkan pelanggan. Ritel juga menyediakan pasar bagi para produsen untuk menjual produk-produk mereka.
Menurut Hendri (2005, p71) peritel atau pengecer adalah pengusaha yang menjual barang atau jasa secara eceran kepada masyarakat sebagai konsumen. Peritel perorangan atau peritel kecil memiliki jumlah gerai bervariasi, mulai dari satu gerai hingga beberapa gerai. Gerai dalam segala bentuknya berfungsi sebagai tempat pembelian barang dan jasa, yaitu dalam arti konsumen datang ke gerai untuk melakukan transaksi berbelanja dan membawa pulang barang atau menikmati jasa. Gerai-gerai dari peritel kecil terdiri atas dua macam, yaitu gerai modern dan gerai tradisional. Peritel besar adalah peritel berbentuk perusahaan yang melakukan kegiatan perdagangan ritel dalam skala besar, baik dalam arti gerai besar maupun dalam arti mempunyai gerai besar dan sekaligus gerai kecil. Perusahaan perdagangan ritel besar dapat memiliki format bervariasi dari yang terbesar hingga yang terkecil atau minimarket.
Dengan demikian ritel adalah kegiatan terakhir dalam jalur distribusi yang menghubungkan produsen dengan konsumen. Jalur distribusi adalah sekumpulan atau beberapa perusahaan yang memudahkan penjualan kepada konsumen sebagai tujuan akhir.
2.6 Lokasi
Lokasi adalah faktor yang sangat penting dalam bauran pemasaran ritel (ritail marketing mix), pada lokasi yang tepat, sebuah gerai akan lebih sukses di banding gerai lainnya yang berlokasi kurang strategis, meskipun keduanya menjual produk yang sama, oleh pramuniaga yang sama banyak dan terampil, dan sama-sama punya setting atau ambience yang bagus.
1. Analisis area perdagangan (trading area analysis)
Sebelum suatu toko atau pusat perbelanjaan didirikan, langkah pertama adalah mempelajari suatu area agar investasi yang di tanamkan dapat menguntungkan. Area perdagangan adalah suatu wilayah dimana beberapa perusahaan menjual barang atau jasa secara menguntungkan, luas suatu trading area dapat bervariasi pada jenis gerai.
Keputusan mendirikan gerai besar atau kecil tergantung pada keadaan trading area yang dilayani. Suatu wilayah yang berpenduduk banyak yang berpenghasilan cukup besar adalah trading area yang menarik banyak pengecer. Sebaliknya, wilayah lain yang berpenghuni sedikit yang berpenghasilan tidak banyak adalah trading area yang kurang menarik karena hanya akan menunjukkan satu atau dua gerai ritel saja, wilayah yang dijadikan sebagai ajang penjualan oleh suatu toko dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu wilayah perdagangan utama, wilayah perdagangan sekunder, dan wilayah tambahan jika di gambarkan akan terlihat pada gambar berikut:
Gambar 2.14. Analisis Area Perdagangan (Hendry Ma’aruf, 2005, p117)
Informasi itu dipakai untuk memberi gambaran batas geografis tentang wilayah utama, sekunder dan wilayah tambahan. Informasi itu pula yang memberi gambaran seperti (Hendri Ma’aruf, 2005, p117):
a. Frekuensi orang-orang dari wilayah geografis yang berbeda melakukan belanja mereka.
b. Besar belanja rata-rata pada toko oleh orang-orang yang berasal dari suatu wilayah tertentu dalam area perdagangan dimaksud.
c. Konsentrasi kepemilikan kartu belanja
Sedangkan bagi toko berukuran menengah, wilayah perdagangan primer akan lebih kecil daripada wilayah perdagangan primer gerai besar.
Toko kecil akan lebih terbatas lagi wilayah perdagangan primernya.
Untuk membuka gerai di suatu lokasi baru, daftar berikut ini dapat dimanfaatkan untuk mengetahui potensi yang tersedia (James F Engel, 1995, p243):
a. Besarnya populasi dan karateristiknya
Jumlah penduduk dan kepadatan pada suatu wilayah menjadi faktor dalam mempertimbangkan suatu area perdagangan ritel.
b. Kedekatan dengan sumber pemasok
Pemasok mempunyai pengaruh pada peritel dalam hal kecepatan penyediaan, kualitas produk yang terjaga, biaya pengiriman, dan lain- lain.
c. Basis ekonomi
Industri daerah setempat, potensi pertumbuhan, fluktuasi karena faktor musiman, dan fasilitas keuangan di daerah sekitar yang harus diperhatikan peritel.
d. Ketersediaan tenaga kerja
Tenaga kerja yang perlu diperhatikan adalah pada semua tingkat, yaitu tingkat administrative dan lapangan hingga manajemen trainee dan manajerial.
e. Situasi persaingan
Penting mengenali jumlah dan ukuran pada peritel di suatu wilayah.
f. Fasilitas promosi
Adanya media massa seperti surat kabar dan radio akan memfasilitasi kegiatan promosi peritel.
g. Ketersediaan lokasi toko
Faktor bagi suatu area perdagangan dan hal-hal yang terkait dengan lokasi adalah: jumlah lokasi dan jenisnya, akses pada masing-masing lokasi, peluang kepemilikan, pembatasan zona, perdagangan,dan biaya-biaya terkait.
h. Hukum dan peraturan
Hukum dan peraturan perlu di perhatikan khususnya jika terdapat perda atau peraturan daerah yang tidak terdapat di daerah lain
2. Beberapa faktor yang harus di pertimbangkan dalam letak atau tempat gerai yang akan di dirikan atau dibuka.
a. Lalu lintas pejalan kaki
Untuk mendapatkan informasi:
− Jumlah pria dan wanita yang melintas (anak-anak usia tertentu kebawah tidak dihitung).
− Jumlah orang yang melintas pada pagi, siang, sore, dan malam atau menurut jam
− Proporsi potensi konsumen (prentase pembelanjaan dari orang yang melintas).
− Proporsi orang yang berkunjung dari total yang melintas b. Lalu lintas kendaraan
Informasi tentang jumlah dan karakteristik mobil-mobil yang melintas, faktor lebar jalan, kondisi jalan, dan kemacetan akan menjadi nilai tambah atau nilai kurang bagi pelanggan itu menjadi perhatian penting seorang pemasar.
c. Fasilitas parkir
Untuk kota-kota besar, pertokoan atau pusat perbelanjaaan yang memiliki fasilitas parkir yang memadai dapat menjadi pilihan yang lebih baik bagi peritel dibandingkan dengan pertokoan dan pusat belanja yang fasilitas perbelanjaan yang fasilitasnya tidak memadai.
d. Trasportasi umum
Transportasi umum yang banyak melintas di depan pusat perbelanjaan atau pertokoan akan memberi daya tarik yang lebih tinggi karena bentuk konsumen dengan mudah langsung masuk ke area perbelanjaan
e. Komposisi toko
Seorang peritel hendaknya jika ingin membuka toko harus mempelajari lebih dulu toko-toko apa saja yang ada disekitarnya, karena toko yang saling melengkapi akan menimbulkan sinergi.
f. Letak berdirinya gerai
Letak berdirinya gerai sering kali dikaitkan dengan visibility (keterlihatan), yaitu mudah terlihatnya toko dan plang namanya oleh pejalan kaki dan pengendara mobil yang melintas di jalan.
g. Penilaian keseluruhan
Penilaian keseluruhan atau overall rating perlu dilakukan berdasarkan faktor-faktor diatas agar dapat menentukan pilihan lokasi lebih tepat.
Untuk mendapatkan perkiraan potensi yang lebih akurat, diperlukan rumusan perhitungan yang spesifik (Hendri Ma’ruf, 2005,p132).
Gambar 2.15. Tiga tingkat analisis spasial dan menyeleksi lokasi pengecer (James F Engel, 1995,p239)
2.7 Waralaba
2.7.1 Pengertian Waralaba
Franchise adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Perancis, yaitu “Affranchais” yang berarti bebas atau bebas dari perhambatan atau perbudakan (free from servitude), karena sebenarnya hakikat dari pola franchise ini adalah bebas atau mandiri. Bebas disini maksudnya adalah setiap perusahaan dimiliki dan dikendalikan sendiri oleh pemiliknya. Bila
dihubungkan dengan konteks usaha, franchise berarti kebebasan yang diperoleh seseorang untuk menjalankan sendiri suatu usaha tertentu di wilayah tertentu. Sedangkan pewaralabaan (franchising) adalah suatu aktivitas dengan sistem waralaba (franchise), yaitu suatu sistem keterkaitan usaha yang saling menguntungkan antara pemberi waralaba (franchisor) dan penerima waralaba (franchisee). Waralaba sebagai salah satu bentuk kesepakatan, yaitu pemilik dari suatu produk atau jasa mengizinkan orang lain untuk membeli hak distribusi produk atau jasa tersebut dan mengoperasikannya dengan bantuan pemilik.
Franchising mengombinasikan kekuatan, determinasi dan pengalaman dari “mata rantai” atau “jaringan” dari organisasi besar dengan keterampilan kewirausahaan dan komitmen dari unit-unit bisnis yang kecil.
Sedangkan dalam buku Lindawaty (2004, p10-11) upaya memaknai konsep waralaba agar lebih mencerminkan realitas yang terjadi di lapangan, yang dilakukan oleh para akademisi maupun praktisi.
Dalam pertemuan ilmiah yang dilaksanakan di Jakarta oleh IPPM pada tanggal 25 Juni 1991 mengenai konsep perdagangan waralaba (franchising) yang merupakan sistem pemasaran vertikal, dikemukakan beberapa definisi franchise, sebagai berikut :
1. Franchise adalah sistem pemasaran atau distribusi barang dan jasa dimana sebuah perusahaan induk (franchisor) yang memberikan kepada individu atau perusahaan lain (franchisee) yang berskala
kecil dan hak istimewa untuk melakukan suatu sistem usaha tertentu dengan cara tertentu, waktu tertentu, dan di suatu tempat tertentu.
2. Franchise adalah sebuah metode pendistribusian barang dan jasa kepada masyarakat konsumen, yang dijual kepada pihak lain yang berminat. Pemilik dari metode yang dijual ini disebut franchisor sedang pembeli hak untuk menggunakan metode ini disebut franchisee.
3. Franchising adalah suatu hubungan berdasarkan kontrak antara franchisor dan franchisee.Franchisor menawarkan dan berkewajiban menyediakan perhatian terus-menerus pada bisnis dari franchisee melalui penyediaan pengetahuan dan pelayanan.Franchise beroperasi dengan menggunakan nama dagang, format, atau prosedur yang dipunyai, serta dikendalikan oleh franchisor.
2.7.2 Elemen-Elemen Pokok
Dalam buku Lindawaty (2004, p13-14) menunjukkan bahwa franchise pada dasarnya mengandung elemen-elemen pokok sebagai berikut:
• Franchisor yaitu pihak pemilik atau produsen dari barang atau jasa yang telah memiliki merek tertentu serta memberikan atau melisensikan hak eksklusif tertentu untuk pemasaran dari barang atau jasa itu.
• Franchisee yaitu pihak yang menerima hak eksklusif itu dari franchisor.
• Adanya penyerahan hak-hak secara eksklusif (dalam praktik meliputi berbagai macam hak milik intelektual atau hak milik perindustrian) dari franchisor kepada franchisee.
• Adanya penetapan wilayah tertentu, franchisee area dimana franchisee diberikan hak untuk beroperasi di wilayah tertentu.
• Adanya imbal-prestasi dari franchisee kepada franchisor yang berupa Initial Fee dan Royalties serta biaya-biaya lain yang disepakati oleh kedua belah pihak.
• Adanya standar mutu yang ditetapkan oleh franchisor bagi franchisee, serta supervisi secara berkala dalam rangka mempertahankan mutu.
• Adanya pelatihan awal,pelatihan yang bersifat berkesinambungan, yang diselenggarakan oleh franchisor guna peningkatan keterampilan.
2.7.3 Jenis Waralaba
Berdasarkan pendapat Leon, Mary dan William (2003) dalam buku Hakim (2008, p21) sistem kewaralabaan dibedakan menjadi dua kategori besar, yaitu waralaba produk dan merek dagang serta waralaba format bisnis. Dua tipe sistem perwaralabaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Product and Trademark Franchising (Waralaba Produk dan
Merek Dagang)
Dalam format ini, franchisor memberikan kepada franchisee hak untuk menjual secara luas suatu produk atau brand tertentu.
Dalam Product and Trade-Name Franchise (atau sering disingkat product franchise), pemberi waralaba menghasilkan produk dan penerima waralaba menyediakan outlet untuk produk yang
dihasilkan pemberi waralaba.
2. Business Format Franchising (Waralaba Format Bisnis) Franchisor memberikan kepada franchisee hak untuk memasarkan suatu produk atau merek dagang tertentu serta
menggunakan sistem operasi lengkap dari franchisor. Dalam Business Format Franchises (atau disebut operating system franchises), penerima waralaba diberi lisensi untuk melakukan
usaha dengan menggunakan paket bisnis dan merek dagang yang telah dikembangkan oleh pemberi waralaba.
Dalam buku Jackie, Miranty dan Yanti (2006, p71-72) mengkategorikan waralaba menjadi empat tipe sebagai berikut : 1. Product Franchising (Trade-Name Franchising)
Franchisor menghasilkan produk dan franchisee menyediakan outlet untuk produk yang dihasilkan pemberi franchisee.
Contohnya : pompa bensin Pertamina
2. Manufacturing Franchising (Product-Distribution Franchising)
Bentuk ini sering digunakan dalam industri makanan dan minuman ringan. Contohnya : usaha franchise Pepsi Cola,
Coca-Cola. Dimana si franchisor memberi hak eksklusif untuk memproduksi secara lokal dan kepada dealer untuk mendistribusikan usahanya ke daerah tertentu.
3. Business-Format Franchising (Pure/Comprehensive Franchising)
Suatu pengaturan dimana franchisor menawarkan serangkaian jasa yang luas kepada franchisee, mencakup pemasaran advertensi (iklan), perencanaan strategik, pelatihan produksi dari manual dan standar operasi, pedoman pengendalian mutu dan lain-lain.
4. Franchise Pribadi
Usaha bisnis jaringan franchise yang dimiliki dan dikembangkan oleh satu orang dan biasanya dengan menjual nama orang yang bersangkutan.
2.8 Pola Waralaba Indomaret
2.8.1 Pola Kerjasama Waralaba
1. Tidak Memiliki Tempat Usaha
Jika tidak memiliki tempat usaha, Indomaret menawarkan 2 opsi kerja sama.
a. Usulan Lokasi Toko Baru
Indomaret menawarkan lokasi yang telah disurvey disertai perencanaan matang, mulai dari desain layout toko, estimasi investasi, pendapatan, pengeluaran dan payback period.
b. Take Over Kepemilikan
Indomaret menawarkan toko milik sendiri, yang sudah teruji dan menguntungkan. Sistem ini relatif lebih safe namun nilai investasinya lebih tinggi dibanding dengan membuka toko baru karena ada biaya toko, sejak dibuka hingga mencapai kondisi mapan.
Unsur biaya yang merupakan satu paket harga tersebut yaitu:
• Franchisee fee untuk 5 tahun.
• Peralatan toko dan gudang.
• Sewa tempat selama 5 tahun.
• Perijinan.
• Goodwill.
Penjualan toko Indomaret memiliki kriteria yang bertujuan
memberikan nilai keuntungan dan kepastian berinvestasi dengan mudah.
Kriteria toko Take over adalah :
• Track record telah teruji.
• Eksistensi toko diterima.
• Perijinan toko telah lengkap.
2. Memiliki Tempat Usaha
Apabila telah memiliki lokasi usaha, Indomaret menawarkan kerja sama sebagai berikut :
1. Ruang usaha/rumah/tanah
Prosedur kerjanya sama dengan “Usulan lokasi toko baru”.
Indomaret terlebih dulu melakukan survey kelayakan lokasi yang anda usulkan, mulai dari potensi wilayah, peruntukan bangunan dan perijinan, perencanaan layout toko sampai dengan estimasi payback period-nya. Jika semua dinilai layak, kerja sama dapat dilakukan. Akan tetapi jika tidak atau ada kendala lain, Indomaret akan menyarankan untuk mencari lokasi yang lain.
2. Minimarket existing
Bila anda memiliki toko yang kurang berkembang dan ingin mengembangkannya dapat bergabung dengan Indomaret.
Prosedur standarnya sama, mulai dari survey kelayakan lokasi sampai dengan estimasi payback period. Perlakuan yang membedakannya adalah dalam menghitung investasi perlengkapan toko. Jika perlengkapan toko tersebut sesuai dengan standar Indomaret maka investasinya lebih murah. Namun jika tidak sesuai dengan standar Indomaret, perlengkapan tersebut harus diganti baru.
BIAYA FRANCHISE Rp 36.000.000 (+PPN) BIAYA INVESTASI
Rp 300.000.000 – Rp 350.000.000
(Franchise Fee, Perijinan, Pembelian, Peralatan Elektronik dan Non elektronik).
BIAYA ROLATI
Persentase Penjualan Bersih Rp 0 – Rp. 175.000.000 -> 0 % Rp 175.000.000 – 200.000.000 -> 2%
Rp 200.000.000 – 225.000.000 -> 3%
Rp 225.000.000 -> 4%
2.8.2 Persyaratan Terwaralaba Indomaret Langkah awal yang harus dipenuhi adalah:
1. Warga negara Indonesia.
2. Menyediakan ruang usaha ukuran 120-150 m2 (milik sendiri/sewa).
3. Memiliki NPWP dan PKP, serta kelengkapan perijinan lainnya.
4. Investasi peralatan toko dan biaya waralaba.
Indomaret akan membantu dalam menyiapkan pengelolaan toko dalam hal :
1. Survey kelayakan tempat usaha dan bantuan mencari lokasi.
2. Perencanaan anggaran biaya.
3. Studi kelayakan investasi.
4. Tata ruang dan perencanaan toko.
5. Pengurusan ijin usaha dan NPWP
6. Renovasi ruang usaha.
7. Pembelian peralatan toko.
8. Seleksi dan pelatihan karyawan.
9. Standard kerja dan sistem penggajian karyawan.
10. Paket sistem operasional toko dan administrasi keuangan.
11. Seleksi dan kredit barang dagangan tanpa bunga dan tanpa jaminan.
12. Program promosi penjualan.