• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini, kita telah menuju abad ke-21. Pada abad ke-21, sains dan teknologi (Saintek) mengalami perkembangan yang begitu cepat. Perkembangan IPTEK sangat berguna untuk kehidupan manusia. Pemutahiran IPTEK dapat mengubah mentalitas masyarakat dalam pencarian dan mendapatkan informasi (Amri, 2015:

26). Pengembangan IPTEK memiliki pengaruh pada dunia pendidikan.

Penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia pendidikan akan mempermudah guru untuk memberikan materi dan memfasilitasi peserta didik dalam memahami materi pelajaran (Wulansari et al., 2018: 1). Paradigma pembelajaran abad ke-21 menyiratkan bahwa seorang guru harus menggunakan teknologi digital, sarana atau jaringan yang memadai untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, mengembangkan, dan menciptakan informasi untuk aktivitas pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan Permendikbud No. 22, 2016 dalam standar proses pendidikan dasar dan menengah. Dalam standar proses disampikan bahwa penggunaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan hal yang penting untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran (Solihudin JH, 2018: 52).

Salah satu pendekatan utama ke tujuan pendidikan nasional di sekolah, khususnya di sekolah menengah atas (SMA) adalah untuk mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menyelesaikan masalah dalam sains serta bidang yang lain. Terkait aspek pemecahan masalah tersebut maka peserta didik dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis (Fitria Reza Amalia, 2019: 465).

Kemampuan berpikir kritis adalah proses yang diarahkan dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental, seperti pemecahan masalah, pengambilan keputusan, analisis asumsi dan realisasi kajian ilmiah (M. Rahmad Syalehin, S Hartini, 2015: 53). Maka didefinisikan berpikir kritis adalah suatu gaya berpikir mengenai suatu masalah dimana sipemikir dapat meningkatkan kemampuannya dalam berpikir (Din Azwar Uswatun, 2015: 141).

(2)

Kemampuan berfikir kritis termasuk salah satu dari kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thingking) yaitu, keterampilan yang harus dikuasai peserta didik untuk menyelesaikan masalah (Asmawati et al., 2018: 129). Peserta didik harus siap untuk mengatasi perkembangan ini, guru harus mulai memahami keterampilan berpikir tingkat tinggi. Pemikiran kritis yang merupakan bagian dari pemikiran tingkat tinggi dapat dibentuk dalam pembelajaran fisika. Kemampuan berpikir kritis memungkinkan peserta didik untuk secara efektif menangani masalah sosial, ilmiah dan praktis (Permadi et al., 2020 : 66). Sesuai teori Piaget, pada usia 7 hingga 15 tahun manusia dapat berpikir secara abstrak, idealis dan logis. Keterampilan berpikir seperti ini disebut hypothetical-deductive-reasoning, yaitu untuk mengembangkan hipotesis untuk menyelesaikan masalah dan secara sistematis menarik kesimpulan (Nur Khasanah, Ellianawati Ellianawati, 2019:

273).

Kemampuan berfikir kritis membantu peserta didik dalam melatih mengutarakan pendapat secara sistematis untuk menyelesaikan berbagai masalah.

Peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat dilatih dengan membaca secara kritis, mengamati atau observasi dan menyediakan contoh untuk memicu peserta didik untuk bertanya. Berpikir kritis terjadi ketika peserta didik berusaha memahami penjelasan orang lain, ketika mereka bertanya, dan ketika menjelaskan kebenaran dari ide-ide mereka sendiri (Turnip, 2014: 29). Pada dasarnya, apa yang sering terjadi adalah kurangnya peserta didik yang tertarik untuk memperhatikan proses pembelajaran. Aktivitas pembelajaran yang membuat peserta didik aktif untuk mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan, menemukan solusi untuk masalah, memberikan alasaan masih relatif kurang. Ini mengakibatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik menjadi sangat rendah.

Faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan pembelajaran peserta didik adalah implementasi model pembelajaran yang mampu membuat mereka tertarik untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Dengan membuat peserta didik senang belajar maka mereka akan menciptakan peserta didik yang aktif sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat dicapai. Pembelajaran berbasis masalah

(3)

adalah model pembelajaran yang menggunakan masalah global yang kontekstual untuk melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam penyelesaian masalah dan memperoleh pengetahuan dan konsep penting yang harus dikuasi (Wachrodin, 2017: 87). Sehingga, dapat dikatakan bahwa salah satu model pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kemampuan berfikir kritis peserta didik adalah model pembelajaran berdasarkan masalah atau yang dikenal dengan Problem-Based Learning (PBL). Model pembelajaran ini akan mampu membuat peserta didik membentuk pengetahuan mereka secara mandiri, mengembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan meningkatkan keyakinan diri mereka sendiri.

Menurut teori konstruktivis, kemampuan berfikir kritis dan penyelesaian masalah dapat dikembangkan jika peserta didik mampu melakuan sendiri, mencari dan memindahkan kompleksitas pengetahuan yang ada (Sri Diana Putri, 2017: 126).

Model PBL seharusnya mampu membuat peserta didik meningkatkan kemampuan profesional saintifik mereka (Diani et al., 2018: 107). PBL adalah pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah global yang otentik sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar berfikir secara kritis dan keterampilan untuk menyelesaikan masalah (Putranta & Kuswanto, 2018 : 78) dan memperoleh pengetahuan penting dan konsep-konsep materi. Dalam Problem-Based Learning siswa diharapkan bisa mempunyai kemampuan untuk menerima pembelajaran di kelas. Upaya untuk mengimplementasikan pembelajaran melalui model Problem- Based Learning, harus didukung oleh perangkat pembelajaran yang sesuai dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik. Perangkat pembelajaran berupa modul elektronik dapat menjadi sebuah alternatif dalam menciptakan pembelajaran yang menarik (Wulansari et al., 2018: 2).

Seperti yang dirasakan oleh sebagian besar peserta didik di tingkat sekolah menengah, mata pelajaran fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang digemari. Mata pelajaran fisika sering kali hanya ditekankan untuk menghafal rumus-rumus tertentu dan hal tersebut mengakibatkan peserta didik menjadi tidak tertarik untuk belajar dan sekaligus membuat mereka tidak memahami esensi dari materi yang dipelajari. Berbagai cara telah dilakukan oleh pendidik guna memecahkan permasalahan tersebut. Salah satu contohnya adalah

(4)

dengan memanfaatkan berbagai metode pembelajaran dan bantuan multimedia (Amalia & Kustijono, 2019: 466). Berkembangnya IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) telah menghasilkan modifikasi model pembelajaran yang signifikan saat ini. Kemajuan Sains dan Teknologi menciptakan model pembelajaran yang memanfaatkan gambar dan model pembelajaran tanpa kertas seperti e-learning, konferensi video, e-book, dll. Situasi ini mendorong seseorang untuk memiliki alat (gadget) seperti komputer, laptop, smartphone, dll (Wirasasmita., R. Hardi.,

& Uska, 2017: 11–12). Pemanfaatan komputer, laptop, ponsel pintar dan lain-lain sebagai media pembelajaran memiliki tujuan membantu peserta didik dalam hal memudahkan mereka untuk belajar(Muqarrobin & Kuswanto, 2016: 224).

Kemajuan teknologi yang begitu cepat menjadikan semua keinginan manusia bisa diwujudkan dengan lebih gampang, begitupula halnya dengan kebutuhan mereka di dunia pendidikan (Maharani et al., 2015: 25). Meski demikian, sejauh ini, kebanyakan modul yang dipakai di sekolah belum berbentuk modul elektronik, yakni masih dalam wujud modul yang dicetak. Kelemahan dari modul dalam bentuk cetak adalah kemonotonnya. Hal ini cenderung tidak mampu meningkatkan minat peserta didik untuk mempelajarinya. Untuk menjadikan modul lebih menarik minat peserta didik bisa dilakukan dengan membuat modul menjadi modul elektronik yang bersifat interaktif, kerana dalam modul elektronik dapat disertakan gambar, animasi, audio dan video. Di samping itu, seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat sekarang, hampir semua peserta didik, terutamanya peserta didik sekolah menengah atas sudah menguasai komputer serta alat elektronik lainnya (Herawati & Muhtadi, 2018: 182). Telebih lagi, tuntutan kurikulum 2013 yang mewajibkan guru untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran dan modul elektronik mampu mewujudkan hal tersebut. Sehingga, dapat dikatakan bahwa keberadaan modul elektronik nantinya akan menjadi penunjang perwujudan tujuan kurikulum 2013 (Perdana et al., 2017: 64).

Modul Elektonik ini bisa ditanam dalam teknologi multimedia sehingga dapat menjadi sumber pembelajaran yang lebih baik dan menarik daripada modul media cetak biasa. Ini sesuai dengan pendapat Cecep Kustandi yang menerangkan

(5)

bahwa Multimedia adalah alat untuk menyampaikan informasi yang memadukan dua atau lebih elemen media, termasuk teks, gambar, grafik, foto, suara, film dan animasi. Manfaat pengimplementasian multimedia bagi peserta didik yakni, proses pembelajaran akan menjadi lebih menarik, interaktif, efisien, mutu pembelajaran dapat ditingkatkan, dan pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja (Solihudin JH, 2018: 54).

Modul Elektonik ini mampu memasukkan media seperti audio, video, dan animasi flash dalam bentuk buku digital. Diharapkan dengan implementasi modul elektronik berbentuk electronic publication (EPUB) mampu mengoptimalkan minat dan motivasi peserta didik dalam memahami bahan ajar. Keberadaan modul elektronik untuk mata pelajaran fisika ini akan dapat memfasilitasi peserta didik untuk belajar secara mandiri. Untuk itu, dalam pembuatannya, modul elektronik ini dirancang sedemikian rupa sehingga siapa pun dapat mengakses modul mereka sendiri secara gratis dan mudah. Salah satu aplikasi untuk membuat modul elektronik secara gratis dan legal adalah kodular (Wirasasmita., R. Hardi., &

Uska, 2017: 12). Pertimbangan yang dipakai dalam memilih kodular sebagai aplikasi untuk membuat modul elektronik ini adalah: (1) ketersediaan perangkat pendukung; (2) Mudah digunakan; (3) Formatnya kompatibel secara luas dan sudah berisi fitur audio, video dan gambar yang dibutuhkan dalam pembuatan modul elektronik (SEAMOLEC, 2014).

Modul elektronik ini juga didasarkan pada langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah untuk memicu dan mengasah pemikiran peserta didik guna mengatasi masalah tertentu. Selain itu, modul elektronik ini dibuat untuk mengoptimalkan pengetahuan peerta didik mengenai materi momentum dan impuls. Selanjutnya, modul elektronik ini dikaitkan dengan perkara-perkara kontekstual yang berlaku dalam keseharian peserta didik. Konsep momentum dan impuls adalah konsep yang cenderung sulit untuk dipahami dengan mudah oleh peserta didik. Untuk itu diperlukan suatu upaya yang mampu membantu peserta didik untuk tidak hanya memahami konsep material dalam teori yang harus dipelajari mereka, tetapi juga berkaitan dengan peristiwa otentik yang sering berlaku dalam keseharian mereka (Nidyasafitri et al., 2017: 52). Selain itu, untuk

(6)

memastikan bahwa modul elektronik ini memiliki keungulan yang lebih dibandingkan dengan modul yang sudah ada sebelumnya, maka dilakukan uji ekfektivitas. Tingkat pemahaman peserta didik mengenai materi yang diajarkan dalam modul diukur sebelum dan sesudah penerapan modul elektronik ini.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa modul elektronik ini memiliki efektivitas yang lebih baik daripada modul yang sudah tersedia. Modul elektronik ini, yang dapat diakses di ponsel pintar masing-masing peserta didik akan menjadi bahan ajar yang sangat bermanfaat bagi peserta didik. Ketika peserta didik-peserta didik ini memerlukan modul pembelajaran yang diinginkan, mereka dapat mencari sumber belajar dengan mudah. Dengan modul elektronik, peserta didik tidak perlu membawa buku kemanapun mereka pergi karena mereka dapat mengakses modul atau pengetahuan gratis langsung dari gengaman mereka (Maharani et al., 2015: 25–26).

Setelah dilakukan kegiatan observasi awal di SMA Islam Diponegoro Surakarta didapatkan data Dari wawancara guru dan penyebaran kuesioner bahwa pembelajaran modul elektronik belum ada, meskipun sekolah memiliki fasilitas pendidikan yang baik dan lengkap. 57% guru telah menggunakan media pembelajaran selama kegiatan belajar, tetapi media yang digunakan oleh guru kurang bervariasi. 55% guru masih menggunakan metode ceramah dan kadang- kadang hanya menggunakan slide power point pada saat kegiatan belajar. Hal tersebut sangat disayangkan, karena teknologi dalam pendidikan, jika dikembangkan dengan benar kualitas dan mutu pendidikan akan menjadi lebih baik. Kurangnya media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran menyebakan peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi secara kontekstual dan kurang aktifnya peserta didik dalam pembelajaran.

Sesuai hasil mengenai analisis kebutuhan peserta didik dalam mata pelajaran fisika yang diberikan ke kelas X peserta didik di SMA yang menjadi lokasi penelitian. Ditemukan bahwa permasalahan terbesar dalam mempelajari fisika bagi pelajar disebabkan oleh susahnya memahami bahan ajar fisika yang diberikan oleh guru, faktor berpengaruh cukup signifikan yakni 78%. Hasil kuesioner juga menunjukkan 87% peserta didik memerlukan bahan pengajaran

(7)

alternatif yang untuk membantu mereka menguasai konsep fisika dengan lebih menarik. Selain itu, 83% sepakat bahwa materi yang akan dikembangkan, berbentuk modul elektronik menggunakan perangkat lunak kodular dengan model problem-based learning, sehingga konsep fisika akan menjadi mudah dipahami.

Peserta didik juga setuju bahwa perlu dikembangkan bahan ajar mengenai pokok bahasan Momentum dan Impuls dengan persentase sebesar 83%. Perkembangan IPTEK mendorong kemajuan dalam pendidikan salah satunya dengan Pembelajaran inovasi media yang menarik bagi peserta didik untuk menjadi lebih antusias dan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Modul elektronik dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran alternatif bagi peserta didik agar tidak bosan dalam proses pembelajaran. Modul elektronik dibuat mencakup materi, latihan, rangkuman, test online, dan proses pembelajaran dapat dilakukan di mana pun dan kapan antara guru dan peserta didik.

Studi analisis kebutuhan e-modul yang sudah dilakukan peneliti pada 3 SMA di Surakarta, Bandar Lampung dan Lampung Barat, yaitu Guru SMA Islam Diponegoro Surakarta, Guru SMA Negeri 12 Bandar Lampung dan MA Al- Furqon Lampung Barat dengan observasi awal dan penyebaran angket kepada guru menggunakan Google Form. Berdasarkan hasil temuan dilapangan dan penyebaran angket tersebut menjelaskan bahwa, Pembelajaran Fisika di sekolah oleh guru masih menggunakan metode ceramah dan guru jarang menggunakan media pembelajaran karena keterbatasan waktu dalam pembelajaran. Guru belum menggunakan bahan pengajaran dalam bentuk modul elektronik dan bahan pengajaran yang digunakan diperoleh membeli dari penerbit. Mereka menyatakan bahwa bahan pengajaran yang ada belum memenuhi kebutuhan belajar fisika yang sesuai dengan kurikulum 2013. Pada analisa awal terhadap modul yang sudah ada didapatkan kesimpulan bahwa modul yang ada saat ini belum secara untuh mengadopsi langkah-langkah Problem-Based Learning, belum dominannya menggunakan bahasa atau kalimat interaktif dan terbatasnya tampilan atau layout.

Oleh karena itu, e-modul pembelajaran dikembangkan untuk digunakan sebagai media pembelajaran pendukung dengan asumsi meningkatkan kualitas proses belajar peserta didik.

(8)

Hasil dari observasi yang dilakukan, masalah yang ditemui di sekolah secara umum adalah bahwa modul elektronik belum diproduksi sebagai media pembelajaran, bahkan jika fasilitas sekolah memungkinkan pembelajaran menggunakan e-modul. Sekolah tersebut telah memiliki fasilitas infrastruktur jarigan wifi disekolah tersebut yang dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Peserta didik juga bergantung pada materi yang disampaikan oleh guru di kelas dan kurang termotivasi untuk mencari materi dari sumber lain. Oleh karena itu, perlu dikembangkan e-modul Sebagai sarana pembelajaran online peserta didik dan kebutuhan akan bahan pembelajaran yang andal sebagi sumber belajar sehingga dapat menambah waktu diskusi dalam belajar agar tidak lagi terbatas hanya dikelas.

Berdasarkan latar belakang sasaran penelitian ini yaitu kelayakan penggunaan e-modul fisika menggunakan kodular dengan model Problem-Based Learning pada materi momentum dan impuls berdasarkan penilaian validitas, kepraktisan, dan keefektifan e-modul fisika menggunakan software kodular yang diujicobakan pada siswa SMA. Metode pengumpulanIdata yang digunakan adalah penyebaran angket, dokumentasi,Iobservasi, angket validitas, dan test tertulis berupa posttest keterampilan berpikir kritis siswa. Maka dari itu, penelitian ini menggunakan judul, Pengembangan E-Modul Berbasis Elektronic Publication (EPUB) Menggunakan Software Kodular dengan Model Problem Bassed Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Siswa SMA Pada Materi Momentum dan Implus.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah maka dirumuskan masalahnya sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik e-modul berbasis elektronic publication (EPUB) menggunakan software kodular dengan model problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa ?

(9)

2. Bagaimana kelayakan e-modul berbasis elektronic publication (EPUB) menggunakan software kodular dengan model problem-based learning untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa ?

3. Bagaimana keefektifan penggunaan e-modul berbasis elektronic publication (EPUB) menggunakan software kodular dengan model problem- based learning untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengembangkan e-modul berbasis elektronic publication (EPUB) menggunakan software kodular dengan karakteristik model problem-based learning untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa.

2. Megukur kelayakan e-modul berbasis elektronic publication (EPUB) menggunakan software kodular dengan model problem-based learning yang dihasilkan.

3. Mengetahui keefektifan e-modul berbasis elektronic publication (EPUB) menggunakan software kodular dengan model problem-based learning dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan ajar yang menarik dan variatif bagi siswa dan bagi guru sebagai bahan ajar yang dapat digunakan secara mandiri atau bersama untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru

Hasil dari penelitian ini dapat menjadi alternatif untuk guru sebagai reverensi sumber belajar untuk pembelajaran fisika.

(10)

b. Bagi siswa

Hasil dari penelitian ini dapat menjadi alternatif untuk siswa dalam mencari sumber belajar untuk pembelajaran fisika.

E. Asumsi dan Keterbatasan Produk Pengembangan 1. Asumsi

Guru dalam proses pembelajaran perlu menggunakan e-modul berbasis elektronic publication (EPUB) menggunakan software kodular dengan model Problem Bassed learning untuk mengukur kemampuan berpikir kritis. Hal ini dikarenakan e-modul tersebut mampu mengevaluasi kemampuan berpikir kritis siswa yang didapatkan melalui kegiatan pembelajaran yang ada di dalam e-modul.

2. Keterbatasan

a. Pelaksanaan uji coba produk pengembangan dibatasi hanya untuk 1 sekolah.

b. Soal yang dikembangkan dibatasi hanya untuk satu pokok bahasan yakni terkait momentum dan Implus.

F. Definisi Istilah

Untuk menghindari salah penafsiran yang berkaitan dengan judul penelitian ini dijelaskan beberapa istilah, yaitu :

1. E-modul merupakan kata dasar dari kata e - dan modul. e- berarti electronik yang pada kaitan ini mengacu pada e-learning. Menurut Jean-Eric Pelet “e- learning is defined as the use of information technology and communication (ICT)”, online media and web technology for learning”. E-learning didefinisikan sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), media online dan teknologi web untuk belajar. Sedangkan modul ialah bahan belajar yang dirancang secara sistematis berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu. E- modul adalah alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode,

(11)

batasan-batasan meteri pembelajaran, petunjuk kegiatan belajar, latihan, dan cara mengevaluasi yang dirancan secara sistematis dan bahasa yang komunikatif dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan dan dapat digunakan secara mandiri.

2. Berpikir kritis dapat diartikan sebagai proses juga sebagai suatu kemampuan. Proses dan kemampuan tersebut digunakan untuk memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi yang didapat atau informasi yang dihasilkan. Kemampuan berpikir kritis terdiri dari 4 indikator yakni klarifikasi, penilaian, inferensi dan strategi.

3. Electronic publication (EPUB) merupakan salah satu format buku digital yang disepakati oleh International Digital Publishing Forum (IDPF) pada Oktober 2011. Epub menggantikan peran Open eBook sebagai format buku terbuka. Epub terdiri atas file multimedia, html5, css, xhtml, xml yang dikemas dalam satu file. (Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC, 2014 : 5).

EPUB dapat dibaca di berbagai perangkat elektronik seperti komputer, laptop, dan android smartphone.

Referensi

Dokumen terkait

Apakah Pendekatan Problem Based Learning (PBL) atau pendekatan konvensional yang lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa kelas III SD

Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang bercirikan permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memecahkan permasalahan yang dialami guru dalam proses belajar mengajar melalui penerapan pendekatan

Dari pemaparan masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah bahwa peserta didik belum mandiri dalam pembelajaran dikelas dan masih beranggapan bahwa guru

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau

a) Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran. b) Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan

Diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurazizah dkk (2015: 197) yang menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik masih berkategori rendah

Rumusan Masalah Terlihat dari masalah yang ada menunjukkan bahwa minat berwirausaha peserta didik SMK Kartikatama 1 Metro masih rendah dan berdasarkan latar belakang masalah yang