• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA MOTIVASI PADA LIRIK LAGU ZONA NYAMAN KARYA FOURTWNTY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA MOTIVASI PADA LIRIK LAGU ZONA NYAMAN KARYA FOURTWNTY"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH :

LARASATI NURINDAHSARI G.331.14.0057

PROGRAM STUDI S1 – ILMU KOMUNIKASI JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS SEMARANG

2019

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

MOTTO

“Tetap semangat dan terus berjuang, Kau adalah bagian dari

doa seseorang.”

(7)

vii

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah, atas rahmat dam hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini penulis persembahkan untuk:

 Allah S.W.T dan junjungan nabi besar Muhammad SAW yang tidak

berhenti-berhentinya memberikan kemudahan dan rahmat-Nya kepada penulis,

 Untuk para dosen FTIK khususnya jurusan Ilmu Komunikasi tercinta yang telah membimbing saya dan memberikan ilmu serta pengalamannya,

 Untuk Alm Bapak, Ayah, Ibu, Uti, Mbak Ririn, Mbak Puput, Nindi, Mas Adit, Madun yang selalu memberikan dukungan moril bagi saya,

 Untuk teman-teman ilmu komunikasi angkatan 2014 baik kelas pagi maupun kelas sore yang telah menemani dan menjadi teman seperjuangan selama perkulihan,

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan sykur kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat, dan hidayah-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis, sehingga bisa menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Semiotika Makna Motivasi Pada Lirik Lagu Zona Nyaman Karya Fourtwnty” sebagai syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Teknologi dan Informasi di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Semarang.

Dalam menyusun skripsi ini banyak hambatan serta rintangan yang penulis hadapi namun pada akhrinya dapat melaluinya karena adanya bimbingan dan bantuan dari bebragai pihak baik secara moral maupun spiritual. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada :

1. Bapak Susanto, S.Kom.,M.Kom. selaku Dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang.

2. Ibu Errika Dwi Setya Watie, S.Sos, M.I.Kom. selaku dosen pembimbing utama dan Bapak Yuliyanto Budi Setiawan, S.Sos, M.Si.

selalu dosen pembimbing pendamping yang telah memberikan banyak masukan, saran, dan telah mengeluarkan waktu untuk membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

(9)

ix

3. Bapak/Ibu dosen pengajar serta staff (Pak Galih TU) di program studi Ilmu Komunikasi atas bantuan yang sudah diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan sarjana.

4. Alm. Bapak yang sangat saya sayangi dan rindukan atas doa dan kasih sayang yang tulus yang telah diberikan sehingga penulis bersemangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Keluarga tercinta, Ayah, Ibu, Uti, Mbak Puput, Nindi, dan Mas Adit yang telah memerikan dukungan serta kasih sayang yang luar biasa sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

6. Sahabat seperjuangan, Ilmu Komunikasi 2014 maupun Fakultas Lain baik kelas pagi maupun kelas sore. Khususnya sahabatku Nirma Aulia, (Madun, Niken, Intan, Senja, Mbak Mel, Bayu, Hans, Bait, Pipin, Latip, WS, Luki) dan teman seangkatan Ilkom 2014 serta kakak dan adik tingkat yang telah memberikan semangat dan menjadi sahabat baik untuk bertukar pikiran selama di kampus.

7. Sahabat di rumah Ucek, Merry, Sule, Ci, Isyana, Tayo, Luluk, Ucup, Koneng, Taya, Ical, Alim, Zoro, Eci, Imot, Inul, yang telah betahun- tahun menjadi teman yang sangat baik.

8. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu kelancaran dalam menyusun skripsi ini.

(10)

x

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu semua kritik dan saran dari seluruh pihak akan bermanfaat demi menyempurnakan kesempurnaan skripsi ini.

Dengan segala kerendahan hati, semoga skripsi yang telah disusun ini dapat bermanfaat bagi penulis pribadi, para pembaca dan masyarakat semuanya serta berguna pula bagi perkembangan dunia pendidikan dan ilmu komunikasi khususnya bagi mahasiswa Universitas Semarang.

Semarang, 11 Februari 2019

Larasati Nurindahsari

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN... ii

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI ... iv

LEMBAR PERYATAAN ... v

MOTTO ... vi

PESEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 11

1.3 Tujuan Penelitian ... 11

1.4 Manfaat Penelitian ... 11

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Teori Semiotika Ferdinand De Saussure ... 12

2.2 Lirik Lagu... 24

2.3 Makna ... 27

2.4 Motivasi ... 29

Kerangka Berfikir... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 31

3.2 Bentuk dan Strategi Penelitian ... 32

(12)

xii

3.3 Data dan Sumber Data ... 33

3.3.1 Data Primer ... 33

3.3.2 Data Sekunder ... 34

3.4 Teknik Sampling ... 37

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 37

3.5.1 Observasi Non Partisipan ... 37

3.5.2 Studi Pustaka ... 37

3.6 Validitas Data ... 38

3.7 Teknik Analisis Data ... 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 41

4.1.1 Lirik Lagu Zona Nyaman ... 41

4.1.2 Sejarah Fourtwnty ... 43

4.2 Temuan penelitian ... 45

4.2.1 Analisis Bait I “Zona Nyaman” ... 46

4.2.2 Analisis Bait II “Zona Nyaman” ... 48

4.2.3 Analisis Bait III “Zona Nyaman” ... 52

4.2.4 Analisis Bait IV “Zona Nyaman” ... 55

4.3 Pembahasan ... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 64

5.2 Implikasi ... 64

5.3 Saran ... 67 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

xiii

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Analisis Semiotika Makna Motivasi Pada Lirik Lagu Zona Nyaman Karya Fourtwnty”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pesan motivasi yang ingin disampaikan lewat lirik lagu tersebut.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penlitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sementara teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis semiotika Ferdinand de Saussure. Teori semiotika Ferdinand de Saussure fokus pada petanda dan penanda serta hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

Pada setiap lirik lagu ini menggunakan perumpaan sehingga bisa dianalisis dengan teori semitika Ferdinand de Saussure. Penelitian ini menemukan kesimpulan bahwa makna yang terkandung dalam lagu Zona Nyaman ini adalah sebuah pesan motivasi untuk lebih berani keluar dari zona nyaman demi kehidupan yang lebih baik.

(14)

xiv ABSTRACT

This thesis is entitled "Semiotic Analysis of the Meaning of Motivation in the Lyrics of Fourtwnty's Works of Comfortable Zone". This study aims to find out the message of motivation to be conveyed through the lyrics of the song.

The research method used is a qualitative research method with a qualitative descriptive approach. While the analysis technique used is the semiotic analysis technique Ferdinand de Saussure. Ferdinand de Saussure's semiotic theory focuses on markers and markers and syntagmatic and paradigmatic relationships.

Each song lyrics uses illustrations so that it can be analyzed with the semitic theory of Ferdinand de Saussure. This study found the conclusion that the meaning contained in the song Comfortable Zone is a message of motivation to be more courageous to get out of the comfort zone for a better life.

(15)

1 1.1 Latar Belakang

Musik merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan komunikasi. Musik dapat berupa instrumental, vokal, atau gabungan dari keduanya. Musik mengharmonisasikan olahan vokal, harmoni melodi, ritme, dan tempo yang seringkali digunakan sebagai salah satu sarana pengungkapan emosi seseorang. Lantunan musik biasanya diciptakan untuk menggambarkan keadaan tertentu, baik itu susah,senang, tentang alam atau kehidupan, sehingga jika kita bisa menikmati musik sesuai yang kita senangi, maka dapat memberikan suatu ketenangan, inspirasi dan juga sebagai motivasi (Djohan, 2005 : 9).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602), musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu). Musik termasuk salah satu media komunikasi audio.

Musik merupakan salah satu cara dalam melakukan kegiatan komunikasi melalui suara yang diharapkan mampu menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda. Musik adalah bagian dari sebuah karya seni. Seni adalah bagian penting dalam sistem peradaban manusia yang terus bergerak sesuai dengan

(16)

2

perkembangan budaya, teknologi dan ilmu pengetahuan. Sebagai bagian dari sebuah karya seni, musik mampu menjadi media bagi seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Salah satu tujuan dari musik adalah untuk media berkomunikasi. Tidak banyak orang yang menyanyikan sebuah lagu hanya untuk menyenangkan diri sendiri, kebanyakan orang menyanyikan sebuah lagu karena ingin didengar oleh orang lain. Melalui musik musisi ingin menjelaskan, menghibur, mengungkapkan pengalaman kepada orang lain. Musik adalah sarana bagi para musisi, seperti kata-kata yang merupakan sarana bagi penulis lagu untuk mengungkap apa yang diinginkan. Musik tercipta karena ada pesan yang hendak disampaikan oleh pemusik.

Pemusik atau pencipta lagu mempunyai ide, gagasan, atau pengalaman yang ingin disampaikan kepada orang lain. Selain itu musik juga sebagai alat untuk mengekspresikan diri atau mengungkapkan pengalaman. Pengalaman dapat berupa pengalaman fisik, maupun emosional. Maka dari itu tidak mengherankan jika sangat banyak pemusik yang menggunakan tema-tema yang beragam sesuai dengan realitas kehidupan yang sedang terjadi saat itu.

Musik juga sering digunakan sebagai sarana untuk mengajak bersimpati tentang realitas yang sedang terjadi. Dengan demikian, musik juga dapat menjadi inspirasi orang yang mendengarkannya, karena melalui musik yang dialunkan memacu seseorang untuk bertindak, bersikap, bahkan dapat mengubah pola hidupnya. Salah satu hal terpenting dalam sebuah musik adalah keberadaan lirik lagunya, melalui lirik lagu pencipta lagu ingin

(17)

menyampaikan sebuah pesan yang merupakan pengekspresian dirinya. Lirik lagu memiliki bentuk pesan berupa tulisan kata-kata dan kalimat yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana dan gambaran imajinasi tertentu kepada pendengarnya sehingga dapat pula menciptakan makna-makna yang beragam.

Melalui lirik yang ditulis oleh pencipta lagu pendengar juga diajak untuk menginterpretasikan melalui otak yang menyimpan pengalaman dan pengetahuan serta mengolahnya sebagai landasan dasar dalam mencerna lirik lagu. Dalam pengertian lainnya sebuah lagu yang diciptakan secara cerdas bisa membawa pendengar untuk menghayati dan meresapi makna positif dari sebuah lirik, terlepas dari genre yang ada saat ini. Maka tidak heran bahwa kebanyakan musisi tanah air menggunakan tema percintaan dalam pembuatan musiknya. Karena dengan tema ini penyampaian maknanya mudah untuk diterima masyarakat Indonesia.

Namun ditengah maraknya fenomena lagu dengan tema cinta, muncul band indie asal Jakarta yaitu Fortwnty dengan lagu berjudul “Zona Nyaman”

yang mengandung unsur motivasi dan bisa merubah pola berpikir pada umumnya. Fourtwnty ini sebenarnya bukanlah band pendatang baru, band ini sudah lama terbentuk dari 20 April 2010. Band ini adalah bentukan dari Roby Satria alias Roby Geisha yang sekaligus menjadi produser, musik director, dan composer dari Fourtwnty. Robby merupakan gitaris dari band Geisha.

Disini terlihat bahwa Robby ingin memberikan warna baru dalam industri musik dengan membentuk band indie Fourtwnty.

(18)

4

Fourtwnty ini memang bisa dikatakan berbeda dari band indie lainnya karena mereka merupakan musisi multi-intstrumentalis yang mendedikasikan dirinya untuk menyebarkan pesan toleransi, kedamaian, dan pluralisme melalui musik dan konsep yang matang. Genre musiknya yaitu pop acoustik folk. Musik folk adalah musik yang penuh dengan kesederhanaan dan keseharian dalam lagunya. Selain Fourtwenty yang bergenre folk pop ada juga band-band indie lainnya yaitu seperti Payung Teduh, Stars and Rabbit, Danila Riyadi, Banda Neira, dan Silampukau.

Pada Desember 2014, Fourtwenty mengeluarkan mini album yang berjudul “Setengah Dulu”. Album ini hanya awal dari upaya mereka untuk menyebarkan pesan. Mereka telah memanjakan pendengar mereka dengan nyaman dan lagu yang santai. Kemudian pada tanggal 17 Mei 2015 mereka merilis album pertamanya yang berjudul “Lelaku”. Lelaku merupakan cara seseorang dalam mendefinisikan perdamaian toleransi dan keragaman. Lelaku dijadikan album pertama karena didefinisikan sebagai upaya seseorang untuk menemukan pencerahan dalam menjalani hidup secara sederhana.

Pada tanggal 20 April 2017 lalu, tepat di hari jadi Fourtwnty ke 7 dirilis lagu “Zona Nyaman”. Di mana lagu ini dipercaya untuk menjadi salah satu soundtrack film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Lagu ini dirilis bersama dengan mini album kedua yang berjudul “Jangan Minta Nambah”. Film Filosofi Kopi 2 ini merupakan season kedua. Dalam film ini menceritakan tentang apa yang terjadi setelah mimpi mereka berdua (Ben & Jody ) difilm season pertama terwujud yaitu berkeliling Indonesia untuk mencari “kopi terbaik”. Tapi

(19)

layaknya jalanan yang mereka lalui, mimpi tak selamanya lurus dan mulus.

Suatu hari di Bali, anggota pendiri Filosofi Kopi masing-masing memilih untuk mengundurkan diri karena alasan mereka sendiri-sendiri. Yang tersisa hanya Ben & Jody untuk menelusuri apakah mimpi mereka harus tetap begini, atau berubah mengikuti situasi. Dengan hanya sisa mereka berdua, Ben &

Jody memutuskan untuk membuat sebuah mimpi baru—lebih tepatnya, mencoba mewujudkan mimpi lama mereka dengan cara yang berbeda yaitu kembali ke Jakarta dan membuat Filosofi Kopi kembali menjadi kopi nomor satu di kota tempat mimpi mereka pertama tercipta.

Dengan latar belakang film itulah dipilih lagu “Zona Nyaman” untuk mengisi soundstrack film ini karena sesuai dengan alur cerita yang mengkisahkan untuk terus mencari ide dan memanfaatkan peluang yang ada, jangan sampai hanya berada di zona nyaman. Tetapi keluarlah dan hadapi masalah itu. Film Filosofi Kopi 2 ini pun bisa dikatakan cukup sukses karena bisa mencapai 105.900 penonton. Walaupun tidak mencapai target 800.000 penonton, film filosofi kopi 2 ini bisa dikatakan salah satu film yang membawa pesan yang sangat menarik, terutama untuk perihal persahabatan.

Melalui film tersebut Fourtwnty saat ini menjadi band yang familiar dikalangan anak muda jaman sekarang. Hampir disetiap acara pensi (pentas seni) menjadikan Fourtwnty sebagai guest starnya. Bahkan di Semarang sendiri sering mengundang Fourtwnty untuk meramaikan sebuah acara pensi baik itu acara kampus atau SMA. Viewers untuk lagu “Zona Nyaman” sendiri di Youtube sudah mencapai hampir 77.089.800.000 penonton terhitung dari

(20)

6

tanggal 20 April 2017 sampai saat ini, untuk subscribernya pun sudah mencapai 552.024.000 subscribers, untuk sosial media instagramnya sudah mencapai 406.000 followers dan 665 postingan. Belum lagi tour-tour manggung Fourtwnty diberbagai daerah di Indonesia. Ditambah dengan prestasi yang diraih Fourtwenty diantaranya :

- Mendapatkan ICA (Indonesian Choice Award) dalam kategori breakthrought artist of the year pada tahun 2018

Ini membuktikan bahwa Fourtwnty berhasil menjadi warna baru industri musik di Indonesia. Dan melalui penghargaan ini Fourtwnty menjadi pendongkrak band indie bergenre musik folk yang berkualitas sehingga kehadirannya saat ini sangat di akui oleh masyarakat Indonesia khususnya pada generasi muda saat ini.

Musik dan lagu sebagai sebuah pesan komunikasi dapat menyampaikan pesan motivasi dalam konteks kehidupan untuk mendorong dan menyemangati individu (dalam kasus lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty ini adalah para generasi muda khususnya) untuk tidak mau dimanjakan oleh zona nyamannya demi tercapainya suatu tujuan yang lebih baik dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Motivasi di sini dapat diartikan sebagai tujuan jiwa yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas- aktivitas tertentu dan untuk tujuan tertentu terhadap situasi disekitarnya.

Adapun motivasi itu sendiri merupakan suatu kekuatan potensial dalam diri seorang manusia, yang dapat dikembangkannya sendiri, atau oleh

(21)

sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter, dan imbalan non moneter, yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif. Sedangkan menurut Robbins (2003 : 208), motivasi dapat didefinisikan sebagai satu proses yang menghasilkan suatu intensitas, arah, dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai satu tujuan. Intensitas menyangkut seberapa kerasnya orang berusaha di mana intensitas yang tinggi tidak akan membawakan hasil yang diinginkan kecuali kalau upaya itu diarahkan ke suatu tujuan yang menguntungkan organisasi. Dari dua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa makna motivasi secara umum adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak atau berperilaku tertentu dengan tujuan tertentu.

Motivasi dapat efektif (Armstrong, 1988 : 69) apabila:

1. Memahami proses motivasi, model kebutuhan, sasaran tindakan dan pengaruh pengalaman dan harapan.

2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi, pola kebutuhan yang mendorong ke arah sasaran dan keadaan dimana kebutuhan tersebut ke arah sasaran dan keadaan dimana kebutuhan tersebut terpenuhi atau tidak terpenuhi.

3. Mengetahui bahwa motivasi tidak dapat dicapai hanya dengan menciptakan perasaan puas, karena banyak perasaan puas dapat menimbulkan rasa cepat berpuas diri dan kelambanan.

4. Memahami bahwa di samping semua faktor di atas ada hubungan yang kompleks antara motivasi dan prestasi kerja.

(22)

8

Diciptakannya lagu “Zona Nyaman” ini karena Fourtwnty ingin lebih signifikan dalam mengartikan zona nyaman. Khususnya disini adalah perihal pekerjaan (profesi). Zona nyaman itu sendiri adalah keadaan dimana kita berada pada satu titik yang membuat kita seakan sudah memiliki semuanya akan tetapi keadaan tersebutlah yang membuat kita tidak berkembang. Apabila zona nyaman bisa diatur secara dinamis maka akan banyak pengalaman baru yang didapatkan. Suatu pengalaman yang mungkin tidak didapatkan kecuali keluar dari zona nyaman itu.

Lagu “Zona Nyaman” ini ditunjukan kepada orang-orang yang terjebak dalam suatu pekerjaan yang membuatnya merasa seperti budak sehingga dia tidak menjadi dirinya yang seutuhnya dan tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Penggalan lirik lagu dari “Zona Nyaman” :

Sembilu yang dulu biarlah berlalu Bekerja bersama hati Kita ini insan bukan seekor sapi Sembilu yang dulu biarlah membiru

Berkarya bersama hati

Di dalam lirik tersebut mengandung makna motivasi bahwa kita diciptakan sebagai manusia yang dikarunai pikiran dan akal sehat untuk kita berpikir agar bisa menciptakan sesuatu yang kreatif dan bisa memanfaatkan peluang yang ada, kita harus bekerja sesuai dengan passion yang kita miliki. Jangan sampai kita hanya diperbudak oleh suatu

(23)

pekerjaan yang kita kerjakan selama hidup kita. Sehingga lagu ini dibuat untuk memotivasi para generasi muda yang mempunyai banyak mimpi jangan mau berada pada zona nyaman yang hanya memberikan kejenuhan tetapi beranilah untuk keluar dari zona nyaman dan berkarya dengan hati.

Kenapa penulis lebih memilih lagu Zona Nyaman dibandingkan lagu-lagu lain yang mengandung makna motivasi, karena pada lagu ini pesan komunikasi dalam konteks kehidupan untuk mendorong dan menyemangati individu cukup kuat (dalam kasus lagu zona nyaman) dengan melihat realitas kehidupan sekarang ini. Untuk merasakan kebahagian dalam hidup sesungguhnya kita harus berkerja dengan hati sesuai apa yang kita inginkan jangan terbuai dengan zona nyaman yang membuat kita menjadi seperti budak dan tidak berkembang. Dan jarang sekali musisi di Indonesia mengambil inspirasi untuk lagunya dengan tema zona nyaman ini. Lirik dalam lagu Zona Nyaman ini pun juga diharapkan dapat memberikan inspirasi dan kepada khalayak, khususnya para penggemar Fourtwnty.

Untuk menganalisis makna motivasi pada lirik lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty, penulis menggunakan teori Semiotika dari Ferdinand de Saussure. Teori semiotika ini menganggap bahwa makna tidak bisa dilihat secara atomistik atau secara individual. Saussure juga menegaskan bahwa bahasa adalah fenomena sosial, bahasa itu bersifat otonom: struktur bahasa bukan merupakan cerminan dari struktur pikiran atau cerminan dari fakta-fakta. Dalam teori Saussure dijelaskan bahwa

(24)

10

tanda memiliki 3 unsur yang saling berhubungan yaitu penanda (signifier), petanda (signified) dan signifikansi.

Dalam penelitian lirik lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty dapat dipisahkan menjadi bait-bait, kemudian tiap bait akan dianalisis dengan teori semiotika dari Sausure, terdapat tiga unsur, yaitu penanda (lirik zona nyaman), petanda (pemaknaan lirik zona nyaman) dan signifikansi (makna motivasi). Proses ini menghubungkan antara lirik lagu dengan realitas kehidupan yang sesungguhnya.

Adapun penelitian sejenis yang pernah dilakukan terdahulu sehingga dapat menjadi bahan referensi penulis yaitu berjudul

“Pemaknaan Lirik Lagu „Hamil Duluan‟ (Studi Semiotika Pemaknaan Lirik Lagu “Hamil Duluan”) dari Rr. Tika Lesiana mahasiwi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Surabaya Jawa Timur pada tahun 2012 dan “Analisis Semiotika Pada Lirik Lagu „Jangan Menyerah‟ Karya Group Band D‟Masiv”. Dari Kadek Dyah Intansari Puteri Surahardja mahasiswi Universitas Katolik Widya Mandira.

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, penulis tertarik umtuk mengetahui pemaknaan lirik lagu “Zona Nyaman” karya group band Fourtwnty, maka penulis melakukan penelitian dengan judul Analisis Semiotika Makna Motivasi Pada Lirik Lagu “Zona Nyaman”

Karya Fourtwnty.

(25)

1.2 Perumusan Masalah

Melihat dari latar belakang diatas, dapat disimpulkan menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana Makna Motivasi pada Lirik Lagu “Zona Nyaman” Karya Fourtwnty?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Makna Motivasi pada Lirik Lagu “Zona Nyaman” Karya Fourtwnty.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam penelitian-penelitian selanjutnya sehingga penelitian yang disajikan dapat dikembangkan berdasarkan perkembangan jaman.

Selain itu diharapkan memberikan kontribusi bagi disiplin Ilmu Komunikasi dalam menelaah analisis semiotika pada lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty.

b. Manfaat Praktis, penelitian ini diharapkan dapat membeikan gambaran kepada masyarakat khususnya penggemar mengenai makna yang terkandung dalam analisis semiotika pada lirik lagu “Zona Nyaman”

karya Fourtwnty. Dan yang penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan bacaan bagi jurusan Ilmu Komunikasi di Univesitas Semarang.

(26)

12 BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Teori Semiotika Ferdinand De Saussure

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang suatu tanda (sign). Dalam ilmu komunikasi “tanda” merupakan sebuah interaksi makna yang disampaikan kepada orang lain melalui tanda-tanda. Dalam berkomunikasi tidak hanya dengan bahasa lisan saja namun dengan tanda tersebut kita juga dapat berkomunikasi. Sebuah bendera, sebuah lirik lagu, sebuah kata, suatu keheningan, gerakan syaraf, peristiwa memerahnya wajah, rambut uban, lirikan mata, semua itu dianggap suatu tanda. Supaya tanda dapat di pahami secara benar membutuhkan konsep yang sama agar tidak terjadi salah pengertian. Namun sering kali masyarakat mempunyai pemahaman sendiri- sendiri tentang makna suatu tanda dengan berbagai alasan yang melatar belakanginya

Ferdinand de Saussure (1857-1913) memaparkan semiotika didalam Course in General Lingustics sebagai “ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial”. Implisit dari definisi tersebut adalah sebuah relasi, bahwa jika tanda merupakan bagian kehidupan sosial yang berlaku. Ada sistem tanda (sign system) dan ada sistem sosial (social system) yang keduanya saling berkaitan.

Dalam hal ini, Saussure berbicara mengenai konvesi sosial (social konvenction) yang mengatur penggunaan tanda secara sosial, yaitu pemilihan pengkombinasian dan penggunaan tanda-tanda dengan cara

(27)

tertentu sehingga ia mempunyai makna dan nilai sosial (Alex Sobur, 2016:7).

Pembahasan pokok pada teori Saussure yang terpenting adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yaitu signifier (penanda) dan signified (petanda). Tanda merupakan kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifer) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna”

atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa : apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep (Bertens, 2001:180, dalam Sobur, 2013:46).

Dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Tanda terdiri dari dua elemen tanda (signifier, dan signified). Signifier (penanda) adalah elemen fisik dari tanda dapat berupa tanda, kata, image, atau suara. Sedangkan signified (petanda) adalah menunjukkan konsep mutlak yang mendekat pada tanda fisik yang ada. Sementara proses signifikasi menunjukkan antara tanda dengan realitas aksternal yang disebut referent. Saussure memaknai “objek” sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut

(28)

14

kata “anjing” (signifier) dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified).

Bahasa di mata Saussure tak ubahnya sebuah karya musik.

Untuk memahami sebuah simponi, harus memperhatikan keutuhan karya musik secara keseluruhan dan bukan kepada permainan individual dari setiap pemain musik. Untuk memahami bahasa, harus dilihat secara “sinkronis”, sebagai sebuah jaringan hubungan antara bunyi dan makna. Kita tidak boleh melihatnya secara atomistik, secara individual ( Sobur, 2016:44).

Menurut Saussure tanda-tanda kebahasaan, setidak-tidaknya memiliki dua buah karakteristik primordial, yaitu bersifat linier dan arbitrer (Budiman, 1999 : 38). Tanda dalam pendekatan Saussure merupakan manifestasi konkret dari citra bunyi dan sering diidentifikasi dengan citra bunyi sebagai penanda. Jadi penanda (signifier) dan petanda (signified) merupakan unsur mentalistik. Dengan kata lain, di dalam tanda terungkap citra bunyi ataupun konsep sebagai dua komponen yang tak terpisahkan. Hubungan antara penanda dan petanda bersifat bebas (arbiter), baik secara kebetulan maupun ditetapkan.

Arbiter dalam pengertian penanda tidak memiliki hubungan alamiah dengan petanda.

Prinsip-prinsip linguistik Saussure dapat disederhanakan ke dalam butir-butir pemahaman sebagai sebagai berikut :

1. Bahasa adalah sebuaha fakta sosial.

(29)

2. Sebagai fakta sosial, bahasa bersifat laten, bahasa bukanlah gejala- gejala permukaan melainkan sebagai kaidah-kaidah yang menentukan gejala-gejala permukaan, yang disebut sengai langue . Langue tersebut termanifestasikan sebagai parole, yakni tindakan berbahasa atau tuturan secara individual.

3. Bahasa adalah suatu sistem atau struktul tanda-tanda. Karena itu, bahasa mempunyai satuan-satuan yang bertingkat-tingkat, mulai dari fonem, morfem, klimat, hingga wacana.

4. Unsur-unsur dalam setiap tingkatan tersebut saling menjalin melalui cara tertentu yang disebut dengan hubungan paradigmatik dan sintagmatik.

5. Relasi atau hubungan-hubungan antara unsur dan tingkatan itulah yang sesungguhnya membangun suatu bahasa. Relasi menentuka nilai, makna, pengertian dari setiap unsur dalam bangunan bahasa secara keseluruhan.

6. Untuk memperoleh pengetahuan tentang bahasa yang prinsip- prinsipnya yang telah disebut diatas, bahasa dapat dikaji melalui suatu pendekatan sikronik, yakni pengkajian bahasa yang membatasi fenomena bahasa pada satu waktu tertentu, tidak meninjau bahasa dalam perkembangan dari waktu ke waktu (diakronis).

Dalam hal ini terdapat lima pandangan dari Saussure yang kemudian menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss,

(30)

16

yaitu pandangan tentang (1) signifier (penanda) dan signified (petanda); (2) form (bentuk) dan content (isi); (3) languge (bahasa) dan parole (tuturan/ajaran); (4) synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik); dan (5) syntagmatic (sintakmatik) dan associative (paradigmatik).

Signifier dan signified, Yang cukup penting dalam upaya menangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yakni signifier (penanda) dan signified (petanda).

Menurut Saussure, bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Suara-suara, baik suara manusia, binatang, atau bunyi- bunyian, hana bisa dikatakan sebagai bahasa atau berfungsi sebagai bahasa bilamana suara atau bunyi tersebut mengekspresikan, menyatakan, atau menampaikan ide-ide, pengetian-pengertian tertentu. Untuk itu, suara-suaa tersebut harus merupakan bagian dari sebuah sistem konvensi, sistem kesepakatan dan merupakan bagian dari sebuah sistem tanda.

Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain penanda adalah „bunyi-bunyi yang bermakna‟ atau „coretan yang bermakna‟.jadi penanda adalah aspek material dari bahasa: apa

(31)

yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.

Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bartens, 2001 : 180).

Yang harus diperhatikan adalah bahwa dalam tanda bahasa yang selalu mempunyai dua segi; penanda atau petanda; signifier atau signified; signifiant atau signifie. Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistis. “penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” kata Saussure.

Jadi, meskipun antara penanda dan petanda tampak sebagai entitas yang terpisah-pisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen tanda. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa. Maka itu, setiap upaya untuk memaparkan teori Saussure mengenai bahasa pertama-tama harus membicarakan pandangan Saussure mengenai hakikat tanda tersebut.

Setiap tanda kebahasaan, menurut Saussure, pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image), bukan menyatakan sesuatu dengan sebuah nama. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda

(32)

18

(signifier), sedang konsepnya adalah petanda (signified). Duaunsur ini tidak bisa dipisahkan sama sekali. Pemisahan hanya akan menghancurkan „kata‟ tersebut. Ambil saja, misalnya, sebuah kata apa saja, maka kata tersebut pasti menunjukan tidak hanya suatu konsep yang berbeda (distinct concept), namun juga suara yang berbeda (distinct sound).

Berlawanan dengan tradisi yang membesarkannya, Saussure tidak menerima pendapat yang menyatakan bahwa ikatan mendasar yang ada dalam bahasa adalah antara kata dan benda. Namun, konsep Saussure tentang tanda menunjuk ke otonomi relatif bahasa dalam kaitannya dengan realitas. Meski demikian, bahkan secara lebih mendasar Saussure mengungkap suatu hal yang bagi kebanyakan orang modern menjadi prinsip yang paling berpengaruh dalam teori lingustknya: bahwa hubungan antara penanda dan yang ditandakan (petanda) bersifat sebarang atau berubah-ubah. Berdasarkan prinsip ini, struktur bahasa tidak lagi dianggap muncul dalam etimologi dan filologi, tetapi bisa ditangkap dengan sangat baik melalui cara bagaimana bahasa itu mengutarakan (yaitu konfigurasi linguistik tertentu atau totalitas) perubahan. Karena itu, pandangan “nomeklaturis” menjadi landasan linguistik yang sama sekali tidak mencukupi.

Sebagai seorang ahli linguistik, Saussure amat tertarik pada bahasa. Dia lebih memperhatikan cara tanda-tanda lain dan

(33)

bukannya cara tanda-tanda (atau dalam hal ini kata-kata) terkait dengan tanda-tanda lain dan bukannya cara tanda-tanda terkait dengan objeknya. Model dasar Saussure lebih fokus perhatiannya langsung pada tanda itu sendiri. Bagi Saussure, tanda merupakan objek fisik dengan sebuah makna; atau untuk menggunakann istilahnya, sebuah tanda terdiri atas penanda dan pertanda. Penanda adalah citra tanda; seperti yang kita persepsikan, tulisan diatas kertas atau tulisan di udara; pertanda adalah konsep mental yang diacukan pertanda. Konsep mental ini secara luas sama pada semua anggota kebudayaan yang sama yang menggunakan bahasa yang sama (John Fiske, 2007 : 65).

Form dan Content, dalam istilah form (bentuk dan content (materi isi) ini oleh Gleason diistilahkan dengan expression dan content, satu berwujud bunyi danyang lain berwujud idea. Jadi, bahasa berisi sistem nilai, bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaanya.

Langue dan Parole, langue merupakan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, dan sifatnya abstrak, menurut Saussure langue adalah totalitas dari sekumpulan fakta satu bahasa, yang disimpulkan dari ingatan para pemakai bahasa dan merupakan gudang kebahasaan yang ada dalam setiap individu. Langue ada dalam otal, bukan hanya abstraksi- abstraksi saja dan merupakan

(34)

20

gejala sosial. dengan adanya langue itulah, maka terbentuklah masyarakat ujar, yaitu masyarakat yang menyepakati aturan-aturan gramatikal, kosakata, dan pengucapan.

Sedangkan yang dimaksud parole merupakan pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota bahasa; sifatnya konkrit karena parole tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Parole sifatnya pribadi, dinamis, lincah, sosial terjadi pada waktu, tempat, dan suasana tertentu. Dalam hal ini, yang menjadi objek telaah linguistik adalah langue yang tentu saja dilakukan melalui parole, karena parole itulah wujud bahasa yang konkret, yang dapat diamati dan diteliti.

Synchronic dan diachronic, linguistik sinkronik merupakan subdisiplin ilmu yang mempelajari atau mengkaji struktur suatu bahasa atau bahasa-bahasa dalam kurun waktu tertentu/masa tertentu dan kajiannya lebih difokuskan kepada struktur bahasanya bukan perkembangannya. Studi sinkronik bersifat horizontal dan mendatar, karena tidak ada perbandingan bahasa dari masa ke masa serta bersifat deskriptif karena adanya penggambaran bahasa pada masa tertentu. Linguistik sinkronik ini mengkaji bahasa pada masa tertentu dengan menitikberatkan pengkajian bahasa pada strukturnya. Tujuan adanya linguistik sinkronik ini untuk mengetahui bentuk atau struktur bahasa pada masa tertentu.

(35)

Linguistik diakronik merupakan subdisiplin linguistik yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa, mengkaji sejarh atau evolusi bahasa (historis) seiring berlalunya waktu. Studi diakronik besifat vertikal dan historis serta didalamnya terdapat konsep perbandingan. Linguistik diakronik ini mengkaji bahasa dengan berlalunya masa yang menitikberatkan pengkajian bahasa pada sejarahnya. Selain itu linguistik ini memiliki ciri evolusi dan cakupan kajiannya lebih luas sehingga dapat menelaah hubungan-hubungan dianara unsur-unsur yang berurutan. Tujuan adanya linguistik diakronik ini untuk mengetahui keterkaitan yang mencakup perkembangan suatu bahasa (sejarah bahasa) dari masa ke masa.

Syntamatic dan Associative. Konsep semiologi Saussure yang terakhir adalah konsep mengenai hubungan antar unsur yang dibagi menjadi syntagmatic dan associative.

Syntagmatic menjelaskan hubungan antar unsur dalam konsep linguistik yang bersifat teratur dan tersusun dengan beraturan.

Sedangkan, associativa menjelaskan hubungan antar unsur dalam suatu tuturan yang tidak terdapat pada tuturan lain yang bersangkutan, yang mana terlihat nampak dalam bahasa namun tidak muncul dalam susunan kalimat.

Hubungan syntagmatic dan paradigmatic ini dapat terlihat pada susunan bahasa di kalimat yang kita gunakan sehari-hari,

(36)

22

termasuk kalimat bahasa Indonesia. Jika kalimat tersebut memiliki hubungan syntagmatic, maka terlihat adanya kesatuan makna dan hubungan pada kalimat yang sama pada setiap kata di dalamnya.

Sedangkan hubungan paradigmatic memperlihatkan kesatuan makna dan hubungan pada satu kalimat dengan kalimat lainnya, yang mana hubungan tersebut belum terlihat jika melihat satu kalimat saja. Kita tentu sudah sering mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia yang membahas unsur-unsur dalam kalimat berupa subjek, predikat, objek, dan keterangan (SPOK); Kajian semiologi menyatakan jika sebuah kalimat memiliki unsur SPOK yang lengkap dan memiliki kesatuan arti dari gabungan unsur tersebut sehingga tidak bisa digantikan dengan unsur lain karena dapat merubah makna, maka kalimat tersebut memiliki hubungan syntagmatig. Dan sebaliknya, jika sebuah kalimat tidak memiliki susunan SPOK lengkap dan salah satu unsurnya dapat diganti dengan kata lain tanpa merubah makna, maka kalimat tersebut memiliki hubungan paradigmatic.

Dalam melakukan penelitian analisis semiotika makna motivasi pada lirik lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty, peneliti akan menggunakan teori dari Saussure dari salah satu pandangannya yaitu Signifier dan Signified. Yang cukup penting dalam upaya menangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem

(37)

tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yakni signifier (penanda) dan signified (petanda).

Menurut Saussure, bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Suara-suara, baik suara manusia, binatang, atau bunyi- bunyian, hana bisa dikatakan sebagai bahasa atau berfungsi sebagai bahasa bilamana suara atau bunyi tersebut mengekspresikan, menyatakan, atau menampaikan ide-ide, pengetian-pengertian tertentu. Untuk itu, suara-suaa tersebut harus merupakan bagian dari sebuah sistem konvensi, sistem kesepakatan dan merupakan bagian dari sebuah sistem tanda.

Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain penanda adalah „bunyi-bunyi yang bermakna‟ atau „coretan yang bermakna‟.jadi penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.

Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bartens, 2001 : 180).

Yang harus diperhatikan adalah bahwa dalam tanda bahasa yang selalu mempunyai dua segi; penanda atau petanda; signifier atau signified; signifiant atau signifie. Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau

(38)

24

ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistis. “penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” kata Saussure.

Konsep Saussure tentang tanda menunjuk ke otonomi relatif bahasa dalam kaitannya dengan realitas. Meski demikian, bahkan secara lebih mendasar Saussure mengungkap suatu hal yang bagi kebanyakan orang modern menjadi prinsip yang paling berpengaruh dalam teori lingustknya: bahwa hubungan antara penanda dan yang ditandakan (petanda) bersifat sebarang atau berubah-ubah. Berdasarkan prinsip ini, struktur bahasa tidak lagi dianggap muncul dalam etimologi dan filologi, tetapi bisa ditangkap dengan sangat baik melalui cara bagaimana bahasa itu mengutarakan (yaitu konfigurasi linguistik tertentu atau totalitas) perubahan. Karena itu, pandangan “nomeklaturis” menjadi landasan linguistik yang sama sekali tidak mencukupi.

2.2 Lirik Lagu

Lirik lagu merupakan ekspresi seseorang tentang suatu hal yang sudah dilihat, didengar, maupun yang dialaminya. Dalam mengekspresikan pengalamannya, penyair atau pencipta lagu melakukan permainan kata-kata dan bahasa untuk menciptakan daya tarik dan kekhasan terhadap lirik atau syairnya. Menurut Noor (2004: 24) mengatakan bahwa “lirik adalah ungkapan perasaan

(39)

pengarang, lirik inilah yang sekarang dikenal sebagai puisi atau sajak, yakni karya sastra yang berisi ekspresi (curahan) perasaan pribadi yang lebih mengutamakan cara mengekspresikannya”.

Definisi lirik atau syair lagu dapat dianggap sebagai puisi begitu pula sebaliknya. Hal serupa juga dikatakan oleh Jan van Luxemburg (1989) yaitu definisi mengenai teks-teks puisi tidak hanya mencakup jenis-jenis sastra melainkan juga ungkapan yang bersifat pepatah, pesan iklan, semboyan-semboyan politik, syair- syair lagu pop dan doa-doa. Dari definisi diatas, sebuah karya sastra merupakan karya imajinatif yang menggunakan bahasa sastra. Maksudnya bahasa yang digunakan harus dibedakan dengan bahasa sehari-hari atau bahkan bahasa ilmiah, (Awe,2003:49).

Bahasa sastra merupakan bahasa yang penuh ambiguitas dan memiliki segi ekspresif yang justru dihindari oleh ragam bahasa ilmiah dan bahasa sehari-hari.

Lagu yang terbentuk dari hubungan antara unsur musik dengan unsur lirik lagu merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Pada kondisi ini, lagu sekaligus merupakan media penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dalam jumlah yang besar melalui media massa.

Lirik lagu memiliki bentuk pesan berupa tulisan kata-kata dan kalimat yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana dan

(40)

26

gambaran imajinasi tertentu kepada pendengarnya sehingga dapat pula menciptakan makna-makna yang beragam.

Dalam fungsinya sebagai media komunikasi, lagu juga sering digunakan sebagai sarana untuk mengajak bersimpati tentang realitas yang sedang terjadi maupun atas cerita-cerita imajinatif.

Dengan demikian melalui lagu juga dapat digunakan untuk bebagai tujuan, misalnya menyatukan perbedaan, pengobar semangat seperti pada masa perjuangan, bahkan lagu dapat digunakan untuk memprovokasi atau sarana propaganda untuk mendapatkan dukungan serta mempermainkan emosi dan perasaan seseorang dengan tujuan menanamkan sikap atau nilai yang kemudian dapat dirasakan orang sebagai hal yang wajar, benar dan tepat.

Oleh karena bahasa dalam hal ini kata-kata, khususnya yang digunakan dalam lirik lagu tidak seperti bahasa sehari-hari dan memiliki sifat yang ambigu dan penuh ekspresi ini menyebabkan bahasa cenderung untuk mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca. Maka untuk menemukan makna dari pesan yang ada pada lirik lagu, digunakanlah metode semiotika yang notabene merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang sistem tanda. Mulai dari bagaimana tanda itu diartikan,dipengaruhi oleh persepsi dan budaya, serta bagaimana tanda membantu manusia memaknai keadaan sekitarnya. Tanda

(41)

atau sign menurut Littlejohn adalah basisdari seluruh komunikasi, (Kurniawan, 2001:53).

2.3 Makna

Upaya memahami makna, sesungguhnya merupakan salah satu masalah filsafat yang tertua dalam umur manusia. Konsep makna telah menarik perhatian disiplin komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan lingustik. Itu sebabnya, beberapa pakar komunikasi sering menyebut kata makna ketika mereka merumuskan definisi komunikasi.

Selama lebih dari 2000 tahun, kata Fisher (1986), konsep makna telah memukau para filsuf dan sarjana-sarjana sosial.

“Makna,” ujar Spredly (1997), “Menyampaikan pengalaman sebagian besar umat manusia disemua masyarakat”. Tetapi, “apa makna dari makna-makna itu sendiri?” “Bagaimana kata-kata dan tingkah laku serta objek-objek menjadi bermakna?” pertanyaan ini merupakan salah satu problem besar dalam filsafat bahasa dan semantik general.

Dalam penjelasan Umberto Eco (Budiman, 1999 : 7), makna dari sebuah wahana tanda (sign-vechicle) adalah satuan kultural yang diperagakan oleh wahana-wahana tanda yang lainnya serta, dengan begitu, secara semantik mempertunjukan pula ketidaktergantungannya pada wahana tanda yang sebelumnya.

(42)

28

Ada tiga hal yang coba dijelaskan oleh para filsuf dan linguis sehubungan dengan usaha menjelaskan istilah makna. Ketiga hal itu yakni :(1)menjelaskan makna kata secara alamiah,(2)mendeskripsikan kalimat secara alamiah, dan (3)menjelaskan makna dalam proses komunikasi (Kempson, 1977:11). Dalam kaitan ini Kempson berpendapat untuk menjelaskan istilah makna harus dilihat dari segi : (1) kata; (2) kalimat; dan (3) apa yang dibutuhkan pembicara untuk berkomunikasi.

Brown mendefinisikan makna sebagai kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau bereaksi terhadap suatu bentuk bahasa. Terdapat banyak komponen dalam makna yang dibangkitkan suatu makna atau kalimat. Dengan kata-kata Brown,

“seseorang mungkin menghabiskan tahun-tahunnya yang produktif untuk menguraikan suatu kalimat tunggal dan akhirnya tidak menyelesaikan tugas itu” (Mulyana, 2000: 256).

Tampaknya, perlu terlebih dahulu membedakan pemaknaan secara lebih tajam tentang istilah-istilah yang nyaris berimpit antara apa yang disebut (1) terjemah atau translation, (2) tafsir atau interprestasi, (3) ekstrapolasi, dan (4) makna atau meaning.

(43)

2.4 Motivasi

Motivasi dapat diartikan sebagai suatu tujuan atau pendorong, dengan tujuan sebenarnya tersebut yang menjadi daya penggerak utama bagi seseorang dalam berupaya dalam mendapatkan atau mencapai apa yang diinginkannya baik itu secara positif ataupun negatif.

Adapun istilah dalam pengertian motivasi berasal dari perkataan bahasa Inggris yakni motivation. Namun perkataan asalnya adalah motive yang juga telah digunakan dalam bahasa Melayu yakni kata motif yang berarti tujuan atau segala upaya untuk mendorong seseorang dalam melakukan sesuatu. Secara ringkas, pengertian motivasi merupakan suatu perubahan yang terjadi pada diri seseorang yang muncul adanya gejala perasaan, kejiwaan dan emosi sehingga mendorong individu untuk melakukan atau bertindak sesuatu yang disebabkan karena kebutuhan, keinginan dan tujuan.

Menurut Winardi (2002) motivasi merupakan suatu kekuatan potensial dalam diri seorang manusia, yang dapat dikembangkannya sendiri atau oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter, dan imbalan non moneter, yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif. Sedangkan menurut menurut Robbins (2003 : 208), motivasi dapat didefinisikan sebagai satu proses yang

(44)

30

menghasilkan suatu intensitas, arah, dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai satu tujuan. Intensitas menyangkut seberapa kerasnya orang berusaha dimana intensitas yang tinggi tidak akan membawakan hasil yang diinginkan kecuali kalau upaya itu diarahkan ke suatu tujuan yang menguntungkan organisasi.

(45)

Kerangka Berfikir

Pola pikir penelitian ini berawal dari lirik lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty yang akan dianalisis menggunakan teori Semiotika Ferdinand de Saussure kemudian menghasilkan hubungan sintagmatik (kesatuan makna dan hubungan pada satu kalimat yang sama pada setiap kata di dalamnya) dan paradigmatik (kesatuan makna dan hubungan pada satu kalimat dengan kalimat lainnya. Dimana petandanya adalah lirik lagu Zona Nyaman, dan penandannya adalah pemaknaan dari lirik lagu Zona Nyaman. Sehingga setelah bagi perkata antara hubungan sintagmatik dan paradigmatik akan membentuk makna motivasi dalam lirik lagu “Zona Nyaman”.

Lirik Lagu

“Zona Nyaman”

Analisis Semiotika

Saussure

Sintagmatik Paradigmatik

Makna Motivasi

(46)

32 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian yang telah dilakukan pada lirik lagu “Zona Nyaman”

yang dipopulerkan oleh Fourtwnty dan peneliti terlibat langsung dalam penelitian untuk memaknainya dalam lirik lagu tersebut, karena penelitian ini merupakan penelitian semiotika maka lokasi penelitian tidak seperti yang dilakukan peneliti lapangan. Analisis semiotik merupakan analisis tanda-tanda yang merupakan analisis tanda-tanda yang terdapat dalam tanda tanya, sekaligus mencari tahu mengenai hubungan sintagmatik dan paradigmatik dalam lirik tersebut, yang mana penelitian ini dilakukan di Kota Semarang.

3.2 Bentuk dan Strategi Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan bentuk penelitian deskriptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah. Penelitian kualitatif dilakukan pada objek alamiah yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika pada objek tersebut.

Sebagai bentuk dalam mempermudah penulis melaksanakan penelitian maka diperlukan strategi penelitian yang akan difokuskan.

(47)

Fokus penelitian yang diambil oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Untuk menganalisis makna motivasi pada lirik lagu Fourtwnty dengan menggunakan teori semiotika Saussure yaitu penanda dan petanda, dan juga hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Fokus dalam penelitian ini adalah lirik lagu yang dipopulerkan Fourtwnty.

Jadi, dalam penelitian ini yang menjadi penanda adalah lirik lagu, petandanya adalah hasil dari pemaknaan lirik lagu tersebut.

3.3 Data dan Sumber Data

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan sumber data primer dan sekunder. Adapun sumber data primer dan sekunder sebagai berikut

3.3.1 Data Primer

Data Primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (Sangadji E.M

& Sopiah, 2010 : 171). Data dari penelitian ini bersumber dari data utama, yaitu dengan memilih salah satu lirik lagu yang dipopulerkan oleh Fourtwnty mulai tahun 2010 hingga 2019, sampai saat ini Fourtwnty telah memiliki 17 lagu, 1 mini album (Setengah Dulu), 2 album (Lelaku dan Ego & Fungsi). Peneliti akan fokus melakukan pemaknaan pada lirik lagu “Zona Nyaman” yang di populerkan oleh Fourtwnty.

(48)

34

3.3.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari catatan-catatan dokumen dan juga suumber kepustakaan (Sangadji. E. M & Sopiah, 2010 : 172). Peneliti akan memilih referensi dari beberapa buku dan website sebagai rujukan dan penguat data, melalui penelitian kepustakaan dengan mengumpulkan berbagai literatur dan bacaan yang relevan mendukung penelitian ini, serta referensi lain terkait dengan penelitian.

3.4 Teknik Sampling

Teknik sampling adalah kumpulan obyek penelitian yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengamati sebagian dari kumpulan tersebut. Agar sampel yang diambil representatif, maka diperlukan teknik pengambilan sampel. (Sugiyono, 2014: 62).

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh. Teknik ini merupakan teknik dimana peneliti menentukan sampel bila semua objek penelitian akan digunakan sebagai sampel.

Hal ini dilakukan karena penelitiannya yang relatif kecil atau sedikit (Sugiyono, 2001:61). Berdasarkan hal tersebut populasi dalam penelitian lirik lagu “Zona Nyaman”, sebagai berikut :

Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi

Seperti orang-orang berdasi yang gila materi

Rasa bosan membukakan jalan mencari peran, keluarlah dari zona nyaman.

(49)

Sembilu yang dulu biarlah berlalu

Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi Sembilu yang dulu biarlah membiru

Berkarya bersama hati.

Waktu ke waktu perlahan ku rakit egoku Merangkul orang-orang yang mulai sejiwa denganku

Ke-BM-an membukakan jalan mencari teman Bergeraklah dari zona nyaman.

Diam dan mati, milik dia yang tak bisa berdiri, berdiri

Diam dan mati, milik dia yang tak bisa berdiri, berdiri di kakinya sendiri.

Berdasarkan lirik lagu diatas pada bait yang diambil penulis dalam teknik sampling adalah sebagai berikut :

Aspek Penanda Aspek Petanda

Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi

Seperti orang-orang berdasi yang gila materi Rasa bosan membukakan jalan mencari peran, keluarlah dari zona nyaman

Situasi yang sering terjadi di kota besar khususnya dimana setiap pagi hari semua orang sibuk bekerja dan terburu-buru agar tidak terlambat datang ke kantor. Penulis juga menyidir orang-orang yang selalu

mementingkan waktu sehingga bisa diartikan lebih dalam kehilangan waktu sama saja kehilangan uang. Ditambah dengan kalimat

“seperti orang-orang berdasi yang gila materi”

(50)

36

menunjukkan bahwa fenomena orang yang mengalami rutinitas tersebut sama saja berlebihan dalam mendapatkan uang atau mendewakan uang. Dan keluarlah kalimat

“keluarlah dari zona nyaman” ini untuk mengingatkan bahwa orang yang terbelenggu dalam rutinitas tersebut agar keluar dan membebaskan diri, hal ini ditunjukkan dalam lirik bait pertama.

Berdasarkan tanda dari hubungan sintagmatik dan paradigmatik pada judul “Zona Nyaman” mempunyai makna yaitu zona yang digambarakan seperti situasi atau keadaan yang membuat seseorang merasa nyaman karena kita telah terbiasa melakukan suatu aktifitas pekerjaan secara berulang-ulang tanpa merasakan kesulitan. Namun dalam perkembangannya pekerjaan itulah yang menimbulkan rasa bosan serta merasa tidak berkembang sehingga termotivasi untuk berani keluar dari pekerjaan itu dan mencari pekerjaan sesuai dengan apa yang diinginkan dan bekerja dengan hati.

(51)

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam melakukan pengumpulan data, teknik yang digunakan penulis adalah sebagai berikut:

3.5.1 Observasi non partisipan

Merupakan suatu “proses pengamatan observer tanpa ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah bekedudukan sebagai pengamat” (Margono, 2005 : 161-162).

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi non participan karena peneliti tidak ikut berpartisipasi didalam kehidupan penelitian, penulis hanya mengamati lirik lagu yang telah dilihat oleh penulis.

3.5.2 Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan suatu pembahasan yang berdasarkan pada buku referensi yang bertujuan untuk memperkuat materi pembahasan maupun sebagai dasar untuk menggunakan rumus-rumus tertentu dalam menganalisa dan mendesain suatu struktur.

Sehubungan dengan tersebut, pengumpulan data dilakukan peneliti dengan metode pengumpulan data yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen- dokumen, baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar, tulisan, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam

(52)

38

proses penulisan. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Mengumpulkan seluruh single, album, dan cover song yang dihasilkan oleh Fourtwnty,

b. Memilih lirik lagu yang akan dianalisis, c. Melakukan analisis

3.6 Validitas Data

Berdasarkan penelitian ini penulis menggunakan pengembangan validitas triangulasi data. Triangulasi merupakan cara pemeriksaan keabsahan data yang paling umum digunakan.

Cara ini dilakukan dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.

Dalam kaitan ini Patton (dalam Sutopo, 2006 : 92) menjelaskan teknik triangulasi yang dapat digunakan. Teknik triangulasi yang dapat digunakan menurut Patton meliputi :

- Triangulasi Data - Triangulasi Peneliti - Triangulasi Metodologis - Triangulasi Teoritis

Dalam penelitian ini, untuk mengecek hasil penelitian dan menguatkannya, peneliti menggunakan Teknik Trianggulasi Data, Teknik triangulasi data dapat disebut juga triangulasi sumber. Cara ini mengarahkan peneliti agar di dalam mengumpulkan data, ia

(53)

berusaha mengumpulkan data, ia berusaha menggunakan berbagai sumber yang ada (Sutopo, 2006 : 93), dengan sumber teks dan dokumen literatur dari berbagai sumber perpustakaan yang menguatkan tentang Analisis Semiotika Makna Motivasi dalam Lirik Lagu “Zona Nyaman” Karya Fourtwnty.

3.7 Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini merujuk pada usaha pencarian makna dalam tanda-tanda yang terkandung dalam lirik lagu yang dipopulerkan Fourtwnty dengan menggunakan pendekatan semiotika dari Saussure yang berguna untuk melihat makna motivasi dari lirik tersebut.

Selanjutnya analisis data ini akan dilakukan dengan membagi keseluruhan lirik lagu menjadi bebeapa bait. Dengan menggunakan teori semiotika Saussure yang lebih memperhatikan atau tefokus kepada cara tanda-tanda (dalam hal ini kata-kata) berhubungan dengan objek penelitian. Model teori dari Saussure lebih memfokuskan perhatian langsung kepada tanda itu sendiri.

Dalam penelitian terhadap lirik lagu yang dipopulerkan oleh Fourtwnty ini, peneliti membuat interpretasi dengan memnbagi keseluruhan lirik lagu menjadi beberapa bait dan selanjutnya perbait akan dianalisis dengan menggunakan teori semiotika dari Saussure, dimana terdapat unsur yaitu penanda (signifier), petanda (signified). Unsur tersebut akan dipisahkan dan

(54)

40

mempermudah peneliti melakukan interpretasi terhadap lirik lagu yang dipopulerkan oleh Fourtwnty yang dikaitkan dengan realitas sosial pada saat sang pencipta menciptakan lagu tersebut. Serta menguraikan analisis hubungan sintagmatik dan paradigmatik dan memaknainya.

(55)

41 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab hasil dan pembahasan kali ini peneliti akan menguraikan dari proses menganalisis data dan hasil dari penelitian yang dilakukan tentang “Analisis Semiotika Makna Motivasi Pada Lirik Lagu “Zona Nyaman” Karya Fourtwnty.

Hasil dari penelitian yang peneliti peroleh melalui proses analisis tanda-tanda serta sintagmatik dan paradigmatik yang terdapat dalam lirik lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty dalam makna motivasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika Ferdinand de Saussure yang merupakan bagian dari metode analisis data dalam penelitian kualitatif.

4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian

4.1.1 Lirik Lagu “Zona Nyaman”

Peneliti memfokuskan penelitian ini pada tanda-tanda serta sintagmatik dan paradigmatik yang dianalisis secara semiotik dari Ferdinand de Saussure dalam teks lirik lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty. Untuk kemudian di analisis sesuai dengan yang peneliti sajikan.

(56)

42

Berikut ini adalah lirik lagu “Zona Nyaman” karya Fourtwnty :

Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi Seperti orang-orang berdasi yang gila materi

Rasa bosan membukakan jalan mencari peran, keluarlah dari zona nyaman.

Sembilu yang dulu biarlah berlalu

Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi Sembilu yang dulu biarlah membiru

Berkarya bersama hati.

Waktu ke waktu perlahan ku rakit egoku Merangkul orang-orang yang mulai sejiwa denganku

Ke-BM-an membukakan jalan mencari teman Bergeraklah dari zona nyaman.

Diam dan mati, milik dia yang tak bisa berdiri, berdiri Diam dan mati, milik dia yang tak bisa berdiri, berdiri di kakinya

sendiri

Dari sinilah peneliti akan memulai menguraikan analisisnya dalam tabel analisis Semiotika Ferdinand de Saussure dan membahasnya sesuai penafsiran peneliti dalam melakukan analisis melalui tanda-tanda dan sintagmatik serta paradigmatik.

(57)

4.1.2 Sejarah Fourtwnty

Fourtwnty terbentuk sejak 20 April 2010, band yang berdomisili di Jakarta ini merupakan sebuah band bentukan Roby Satria alias Roby Geisha. Fourtwnty beranggotakan 3 personil :

1. Ari Lesmana sebagai vokalis 2. Nuwi sebagai gitaris

3. Roots

Namun sosok Roots selama ini menjadi personil misterius yang tidak pernah tampil. Banyak pengguna dunia maya menyebut Roby Geisha yang merupakan produser Fourtwnty ini adalah sosok dibalik nama Roots namun Roby membantah dugaan itu.

Untuk genre, Fourtwnty tentu berbeda dengan Geisha, dan jauh dengan unsur komersil. Untuk 4.20, Roby tidak membuat tema tentang percintaan. Dia lebih senang dengan tema tentang toleransi yang menjadi misi untuk ia sebarkan dalam musiknya.

Keinginan Fourtwnty dalam menciptakan kembali sudut pandang positif di dunia musik telah membuat mereka menciptakan suatu karya yang segar. Hal ini direalisasikan melalui mini album Fourtwnty yang bertajuk “Setengah Dulu” ( 2014 ) yang dirilis secara independen pada tanggal 5 desember 2014 dalam acara JakCloth Year End Sale.

Fourtwnty memilih "Puisi Alam" sebagai track perkenalan. Menurut vokalis Ari Lesmana, "Puisi Alam" adalah lagu yang memuat pesan tolerasi di dalamnya.

(58)

44

Kemudian Fourtwnty merilis album perdana "Lelaku"

(2015) yang dirilis secara independen pada 17 Mei 2015. Lelaku merupakan cara seseorang dalam mendefinisikan perdamaian toleransi dan keragaman. Lelaku akan dijadikan album pertama mereka yang didefinisikan sebagai upaya seseorang untuk menemukan pencerahan dalam menjalani hidup secara sederhana. Berdasarkan data dari manajemen Fourtwnty, penjualan rilis fisik album "Lelaku" yang awalnya hanya dirilis sebanyak 500 keping cakram, kini sudah mencapai 35 ribu di Indonesia.

Fourtwnty mengusung musik cerdas instrumennya mengalir tanpa kebisingan dan lirik-liriknya menyuguhkan kebahasaan yang efektif dan cerdas. Dan yang terpenting adalah mereka mampu mengugah pendengarnya. Contoh yang melekat adalah pada lagu Zona Nyaman. Ini jelas menampar keras bagi kita yang disibukan dengan segudang aktivitas untuk mengejar dunia semata. Dan rutinitas itu melahirkan zona nyaman yang sulit sekali diubah. Namun, lagu ini mampu memberikan satu arahan yang jelas yakni keluarlah dari zona nyaman dengan menyinggung sisi manusiawi yang terkandung dalam kata.

Kecerdasan bermusik memang sangat jarang dilakukan oleh musisi Indonesia yang kebanyakan mengejar materi dan popularitas semata.

Kesahajaan Fourtwnty dalam bermusik jelas mengarah pada upaya pendewasaan pendengarnya. Selain lagu Zona Nyaman, lagu berjudul Aku Tenang juga mampu melenakan kuping dan hati saat mendengarkannya.

(59)

Lagu ini mengandung pesan, memiliki hati yang tenang adalah berkah tersendiri. Tidak mengejar dunia namun memiliki mimpi-mimpi berbeda tentu akan membuat seseorang benar-benar "hidup".

Foutwnty merupakan salah satu musisi yang telah banyak dikenal oleh pendengarnya sebagai musisi yang selalu menciptakan lagu yang berkonsep multi-instrumentalis serta selalu menciptakan lagu yang berisikan tentang pesan kedamaian, pluralisme, dan toleransi.

Pada tanggal 20 April 2017 lalu, tepat di hari jadi Fourtwnty ke 7 dirilis lagu “Zona Nyaman”. Di mana lagu ini dipercaya untuk menjadi salah satu soundtrack film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Lagu ini dirilis bersama dengan mini album kedua yang berjudul “Jangan Minta Nambah”.

4.2 Temuan Penelitian

Pada penelitian kali ini lagu yang akan diteliti adalah lirik lagu yang berjudul “Zona Nyaman” yang dipopulerkan oleh Fourtwnty. Lagu

“Zona Nyaman” menjadi lagu pembuka untuk mini-album kedua mereka yang berjudul “Jangan Minta Nambah”.

(60)

46

4.2.1 Analisis Bait I “Zona Nyaman”

Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi

Seperti orang-orang berdasi yang gila materi

Rasa bosan membukakan jalan mencari peran

Keluarlah dari zona nyaman.

Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik Bait I :

Sintagmatik

Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi

Pagi ke pagi = rutinitas yang dilakukan untuk mengawali hari

Terjebak = tidak bisa bergerak

Ambisi = keinginan yang kuat

Seperti orang-orang berdasi yang gila materi

Orang-orang berdasi = orang yang bekerja di kantor/ karyawan

Gila materi = gila harta (mengejar kekayaan)

Rasa bosan membukakan jalan mencari peran

Bosan = jenuh

Mencari peran = mencari suasana baru

Referensi

Dokumen terkait

terdapat kata jatuh dalam lirik di atas, dan apabila kata jatuh tersbut dikaitkan dengan tambahan kata lain dakan dapat dimaknai sebagai tanda yang memiliki sifat yang

Studi analisis yang dilakukan oleh peneliti mengacu pada semiotika Roland Barthes, dimana mengupas makna dibalik tanda setiap lirik dalam lagu tersebut dengan peta tanda

Berdasarkan uraian di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk medeskripsikan dan menjelaskan (1) makna lirik lagu-lagu grup musik Efek Rumah Kaca dalam album

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana makna motivasi kehidupan

Inilah yang melatarbelakangi ketertarikan penulis untuk mengkaji lebih dalam makna dan pesan yang terkandung di dalam lagu ini Penulis menggunakan teori Riffaterre untuk menganalisis

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pemba- hasan mengenai analisis ragam makna dan pesan yang terkandung dari lirik lagu yang berjudul Desember karya Band Efek Rumah Kaca, dapat

Makna Kehidupan dalam Lirik Lagu pada Album “Manusia” Karya Tulus: Kajian Semiotika Ferdinan De Saussure 204 Pada bait ketiga baris pertama menggunakan makna denotatif pada kalimat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna motivasi yang terkandung dalam lirik lagu “Bangun Pemuda Pemudi” karya Alfred