http://ojs.uho.ac.id/index.php/JIA doi: http://dx.doi.org/10.33772/jia.v3i6.7891 ISSN: 2527-273X (Online)
ANALISIS EFISIENSI PERSEDIAAN BERAS DI KOTA KENDARI DENGAN MENGGUNAKAN METODE ECONOMY ORDER QUANTITY
Andi Muhammad Rusyaid1), Sitti Aida Adha Taridala1), Muhammad Aswar Limi1)
1Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian UHO
ABSTRACT
This research aims to: (1) Knowing the flow of rice procurement BULOG Divre Sultra; (2) Analyze and describe the efficiency of rice supply in Kendari City using Economic Order Quantity (EOQ) method at BULOG Divre Sultra. The study was designed as a case study using primary data and secondary data, variables in this study include Total Inventory Cost, Ordering Cost, and Carrying Cost. Based on the research indicates that the flow of rice procurement done by BULOG begins from BULOG Center will ask Kadivre/Kasubdivre/Kakansilog to make rice procurement. After that, BULOG will negotiate with MKP and Satker. Subsequently, MKP and Task Force will send the rice to the warehouse under an approved contract. After receiving the rice, KDP will check the quality, then issue LHPK to MKP as a condition of payment request to Kadivre/Kasubdivre/Kakansilog. The efficiency of rice supply costs that can be done by BULOG when applying the EOQ method of Rp 31,455,951. The use of the EOQ method can be recommended as an alternative to rice stock control. However, it should be adjusted to the policies and conditions of the company, in this case, BULOG Divre Sultra.
Keyword: Economy Order Quantity; Efficiency Rice; Procurement,.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara agraris, memiliki sumberdaya yang melimpah dan sekitar 46 persen penduduknya adalah petani. Sebagai negara yang tanahnya subur, saat ini Indonesia bukan saja tidak mampu berswasembada pangan tetapi sebaliknya justru mengalami krisis pangan.
Sebagian kebutuhan pangan Indonesia telah tergantung kepada impor yang harganya berfluktuasi dimana untuk komoditi beras, rata-rata impor beras Indonesia pada tahun 2010 - 2013 dibandingkan dengan 2004 meningkat sebesar 48,6 persen (Hakam, 2014).
Pangan strategis merupakan kebutuhan dasar komsumsi masyarakat Indonesia. Kurangnya ketersediaan pangan strategis dan gejolak harga yang tidak wajar sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa ketersediaan dan harga seringkali bergejolak akibat berbagai faktor dari dalam dan luar negeri, seperti fenomena iklim, kegagalan pasar sampai kepada permasalahan kelancaran distribusi (Kemdagri, 2012).
Tugas pokok Badan Urusan Logistik (BULOG) adalah melaksanakan tugas pemerintah dibidang manajemen logistik melalui kegiatan pengadaan, pengelolaan persediaan, distribusi dan pengendalian harga beras, serta usaha jasa logistik. BULOG mempunyai peran strategis dalam pengadaan beras demi mengupayakan pelayanan dalam menghasilkan beras yang berkualitas baik.
Kecukupan pangan (terutama beras) dengan harga yang terjangkau telah menjadi tujuan utama kebijakan pembangunan pertanian
Ketersediaan akan kebutuhan beras bagi daerah perkotaan lebih tingg. Oleh sebab itu, ketersediaan beras harus selalu ada di Gudang BULOG. Informasi persediaan beras Kota Kendari di BULOG pada tahun 2016 ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Persediaan Beras yang Ada di Bulog Tahun 2016
No Bulan Stok Beras Beras Masuk Beras Keluar
1 Januari 2.092.390 - 344.347 2 Februari 1.748.043 - 504.543
3 Maret 1.243.500 2.774.630 2.404.863
4 April 1.613.268 854.128 1.258.991
5 Mei 1.208.405 4.044.157 1.288.734
6 Juni 3.963.829 2.171.490 3.949.917
7 Juli 2.185.402 2.858.430 1.545.263
No Bulan Stok Beras Beras Masuk Beras Keluar 8 Agustus 3.498.570 345.000 805.885 9 September 3.037.685 71.755 691.717 10 Oktober 2.417.723 20.010 915.978 11 November 1.521.755 315.990 525.350 12 Desember 1.312.395 48.765 418.800 Jumlah 25.842.965 13.504.355 14.654.385 Sumber: BULOG Divre Sultra, 2017
Adanya perbedaan jumlah pengadaan yang besar yang tidak disertai dengan pengeluaran dari gudang BULOG, menandakan belum adanya penentuan jumlah pembelian beras yang ekonomis dalam setiap kali pengadaan sehingga biaya persediaan tidak efisien. Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian efisiensi persediaan beras pada BULOG Divre Sultra dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.Berdasarkan latar belakang maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alur pengadaan beras pada BULOG Divre Sultra dan efisiensi persediaan beras di Kota Kendari menggunakan metode EOQ pada BULOG Divre Sultra.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 sampai dengan Maret 2018 Penelitian ini bertempat di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Lokasi penelitian ini ditentukan secara Purposive dengan pertimbangan bahwa Badan Urusan Logistik Divisi Regional Sulawesi Tenggara berada di Kota Kendari. Obyek dalam penelitian ini adalah Kantor Badan Urusan Logistik Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara yang berfungsi dibidang logistik, distribusi dan pengadaan gabah/beras sehingga mendukung dalam penelitian ini untuk menganalisa manajemen persediaan beras di Kota Kendari.
Analisis data yaitu :
1) Economic Order Quantity (EOQ)
Slamet (2007), Economic Order Quantity (EOQ) dapat diformulasikan sebagai berikut;
I P
S R
. . .
EOQ 2
Keterangan : R = Kuantitas yang diperlukan selama periode tertentu
S = Biaya pemesanan setiap kali pesan disebut Procurement Cost/Ordering Cost atau Setup Cost.
P = Harga bahan per unit
I = Biaya penyimpanan bahan baku digudang dinyatakan dalam persentase dari nilai persediaan rata-rata dalam satuanmata uang yang disebut Carrying Cost atau Storage Cost atau Holding Cost.
2) Frekuensi Pembelian
Deanta dalam Rifqi (2012) dapat diformulasikan sebagai berikut:
EOQ I D
Keterangan : I = Frekuensi pemesanan dalam satu tahun D = Jumlah kebutuhan bahan selama setahun EOQ = Jumlah pembelian bahan sekali pesan 3) Persedian Pengaman (Safety Stock)
Besarnya Safety Stock seusai yang diungkapkan Slamet (2007) ditentukan dengan rumus:
Safety Stock = (Pemakaian Maksimum - Pemakaian Rata-rata) x Lead Time 4) Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point)
Formulasi Reorder Point dalam Slamet (2007), adalah sebagai berikut:
Reorder Point = (LD x AU) + SS
Keterangan ; LD = Lead Time atau waktu tunggu
AU = Average Unit atau pemakaian rata-rata selama waktu tunggu SS = Safety Stock atau persediaan pengaman
5) Biaya Total Persediaan (Total Inventory Cost)
Total Inventory Cost (TIC) sesuai yang diutarakan Buffa (1991) dapat diformulasikan sebagai berikut:
h S D TIC 2 . . .
Keterangan : D = jumlah kebutuhan barang dalam unit S = biaya pemesanan setiap kali pesan h = biaya penyimpanan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Alur Pengadaan Beras BULOG
Pengadaan beras dilakukan oleh BULOG Divre Sultra dapat melalui dua saluran dalam penyerapan produksi petani, yaitu SATKER, dan Mitra Kerja. Kedua saluran tersebut membeli gabah langsung pada petani dengan patokan HPP dan SOP. Alur pengadaan beras dimulai petani menyediakan bahah/beras yang akan dibeli BULOG selanjutnya kantor pusat BULOG meminta Divre untuk melakukan pengadaan beras. Setelah Divre menerima Pemerintah Pusat, kemudian Divre melakukan negosiasi kontrak dengan mitra kerja. Jika kontrak disetujui, maka Divre akan mengirim Surat Perintah Terima Barang (SPTB) kepada gudang. Selanjutnya, Mitra Kerja akan mengirim beras ke gudang berdasarkan kontrak yang telah disetujui. Sebelum menerima beras, petugas survei digudang akan mengecek kelayakan beras (survei kualitas) tersebut. Setelah itu, gudang akan menerima beras tersebut dan membuat laporan Penerimaan Barang.
Analisis Efiseinsi Persediaan Beras di BULOG
Menentukan Jumlah Pemesanan Ekonomis (EOQ) Biaya Pemesanan
Rincian biaya pemesanan ditunjukkan pada Tabel 7.
Tabel 2. Rincian Biaya Pesanan BULOG Divre Sultra Tahun 2016
No Jenis Biaya Satuan Biaya (Rp) Jumlah
(Rp/Bulan)
Jumlah Total (Rp/bulan)
1 Buruh angkut Rp/kg 25 1.125.363 28.134.075
2 Solar Rp/muatan 150.000 150 22.500.000
3 Sopir/bulan Rp/orang 1.000.000 2.000.000 2.000.000
4 Biaya
Pencatatan/hari Rp/hari 15.000 450.000 450.000
Jumlah 53.084.075 Biaya Pemesanan setiap kali pesan (S) yaitu:
(S) =
Pemesanan Frekuensi
Pemesanan Total
Biaya
= Rp 4.423.673
Biaya setiap kali pesan (S) yang harus dikeluarkan BULOG sebesar Rp 4.423.673 sampai beras datang kegudang setiap setiap pemesanan.
Biaya Penyimpanan
Biaya penyimpanan yang dikeluarkan oleh BULOG dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rincian Biaya Penyimpanan BULOG Divre Sultra Tahun 2016
No Jenis Biaya Satuan Biaya (Rp) Jumlah (Rp/bulan)
1 Upah buruh gudang Rp/Kg 30 33.760.888
2 Sewa Gudang Rp/bulan 9.583.000 9.583.000
3 Karyawan gudang Rp/bulan 1.800.000 5.400.000
4 Security Rp/bulan 1.200.000 2.400.000
5 ATK Rp/hari 15.000 450.000
6 Listrik Rp/bulan 400.000 400.000
7 Air Rp/bulan 200.000 200.000
8 Makanan Rp/hari 20.000 2.000.000
9 Spraying Rp/m2 322 589.214
10 Fumigan Rp/ton 6.340 7.132.500
Jumlah 61.915.602
Biaya penyimpanan per kilogram(H)
(H) =
Beras Kebutuhan Total
n Penyimpana Total
Biaya
= Rp 5/Kg
Biaya penyimpanan perkilogram (H) sebesar Rp 5/Kg dari jumlah beras yang dipesan dalam kurung waktu satu tahun. Biaya ini bisa saja bertambah apabila beras semakin banyak tersimpan digudang BULOG.
Pembelian beras yang ekonomis (Q) ini didasarkan pada :
- Total kebutuhan beras (D) = 13.504.355 Kg.
- Biaya pemesanan sekali pesan (S) = Rp 4.423.673,- - Biaya penyimpanan perkilogram (H) = Rp 5,-/Kg
Setelah diketahui hal tersebut, maka dapat ditentukan besarnya pembelian beras yang ekonomis menggunakan metode EOQ adalah sebagai berikut :
Q =
I P
S D
. . .
2
=4.888.306 Kg
Pembeliaan beras yang optimal dengan menggunakan metode EOQ yaitu sebesar 4.888.306Kg
Menentukan Frekuensi Pemesanan Beras I =
Q D
I = 3 kali pemesanan beras dalam setahun
Jadi menurut metode EOQ, frekuensi pemesanan beras yang harus diterapkan oleh BULOG adalah 3 kali dalam setahun.
Penentuan Safety Stock
Safety Stock Z σ = Z X SD
= 1,65 X 1.375.245,79
= 2.269.155,554
Rata-rata jumlah persediaan pengaman yang sebaiknya harus disediakan oleh BULOG adalah sebesar 2.269.155,5 Kg
Penentuan Reorder Point ROP = d x L
= 45.014,5 Kg x 7
= 301.101,5 Kg.
Jadi, 301.101,5 Kg merupakan batas minimal persediaan dimana itulah pada saat yang tepat bagi BULOG untuk melakukan pemesanan kembali.
Menentukan Efisiensi Persediaan
Agar dapat menghitung biaya persediaan maka terlebih dahulu diketahui :
- Total kebutuhan beras (D) = 13.504.355 Kg.
- Biaya pemesanan sekali pesan (S) = Rp 4.423.673 - Biaya penyimpanan per kilogram (H) = Rp 5,-/ Kg - Pembelian beras yang ekonomis (Q) = 4.888.306 Kg Biaya total persediaan sebagai berikut:
TIC Kebijakan BULOG =
S Q
D Q H
2
= Rp 55.897.483Biaya total persediaan yang harus dikeluarkan oleh BULOG adalah sebesar Rp 55.897.483 dalam persediaan dalam kurung waktu satu bulan.
TIC berdasarkan EOQ =
Q D
S +2
Q
H = Rp 24.441.532Biaya Total persediaan beras pengawasan yang optimal yaitu sebesar Rp.24.441.532, sedangkan biaya persediaan sesungguhnya yang dikeluarkan oleh BULOG sebesar Rp 55.897.483.
Maka jumlah yang harus ditanggung oleh BULOG sekali pemesanan sebesar Rp 55.897.483. maka diketahui efisiensi biaya persediaan beras yang bisa dilakukan oleh BULOG sebesar Rp 31.455.951.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Alur pengadaan yang dilakukan oleh BULOG berawal dari BULOG Pusat akan meminta kepada Kadivre/Kasubdivre/Kakansilog untuk melakukan pengadaan beras. Setelah itu, BULOG akan melakukan negosiasi dengan MKP dan Satker. Selanjutnya MKP dan Satker akan mengirim beras ke gudang berdasarkan kontrak yang telah disetujui. Setelah menerima beras, PPK akan memeriksa kualitas, kemudian mengeluarkan LHPK untuk MKP sebagai syarat permintaan pembayaran ke Kadivre/Kasubdivre/Kakansilog. Efisiensi biaya persediaan beras yang bisa dilakukan oleh BULOG apabila menerapkan metode EOQ sebesar Rp 31.455.951.
Saran
BULOG dapat mencoba menerapkan metode Economic Order Quantity sebagai metode untuk mengendalikan persediaan beras sehingga mendapatkan kuantitas dan biaya persediaan yang optimal dengan tetap mempertimbangkan penyimpanan beras, baik tempat penyimpanan serta biaya menghasilkan Total Cost yang lebih kecil dibandingkan dengan metode perusahaan yang diterapkan selama ini. Perusahaan perlu mengkaji kembali pengelolaan persediaan beras, dikarenakan setelah dilakukan penelitian, biaya total persediaan masih bisa diminimalkan. Apabila menggunakan metode EOQ dalam melakukan persediaan, BULOG akan mendapatkan kuantitas pemesanan beras yang optimal dengan biaya yang minimum.
REFERENSI
Amrillah, Azmi Fahma, et al. 2016. Analisis Metode Economic Order Quantity (EOQ) Sebagai Dasar Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pembantu (Studi pada PG. Ngadirejo Kediri - PT.
Perkebunan Nusantara X). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB). Vol. 33 No. 1: 35-45.
Badan Urusan Logistik (BULOG). Annual Report 2015. Diakses dari http:/www.bulog.co.id/. diakses pada tanggal 01 Maret 2017.
Darmawan, G.A., et al. 2015. Penerapan Economic Order Quantity (EOQ) dalam Pengelolaan Persediaan Bahan Baku Tepung pada Usaha Pia Ariawan di Desa Banyuning Tahun 2013.
E-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Manajemen. Vol. 3.
Fajrin, Eldwidho Hanarista. 2015. Analisis Manajemen Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan Menggunakan Metode Economic Order Quantity (EOQ) pada Perusahaan Roti Bonansa.
Skripsi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Hakam. 2014. Indek Ketahanan Pangan Indonesia masih rendah. Ekuatorial, Tanggal 14 Agustus 2014. http//:ekuatorial.com/food-agriculture/english-indonesia-food-security-index-still- low#/story=post-8334. Diakses pada tanggal 22 Desember 2017.
Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. 2012. Kebutuhan Pangan Negara Indonesia.http;//Randy.blogspot.com. Diakses pada tanggal 07 Maret 2018.
Rangkuti, Freddy. 2004. Manajemen Persediaan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Rifqi, Latif Hanafi. 2012. Efisiensi Biaya Pengendalian Bahan Baku Menggunakan Metode Economic Order Quantity (EOQ) pada PT. Sari Warna Asli V Kudus. Skripsi. Fakultas Ekonomi UNNES, Semarang.
Slamet, Achmad. 2007. Penganggaran Perencanaan dan Pengendalian Usaha. UNNES PRESS, Semarang.