• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

49 BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan hasil wawancara dari narasumber serta observasi langsung terhadap desa wisata Gebangharjo, kecamatan Pracimantoro, Wonogiri terkait dua perumusan masalah tentang bentuk hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah Kecamatan terhadap Pemerintah Desa dalam pengelolaan Desa Wisata kawasan Karst di Desa Gebangharjo serta mencari hambatan dan solusi atas hambatan dalam pelaksanaan hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah Kecamatan terhadap Pemerintah Desa dalam pengelolaan Desa Wisata Gebangharjo, peneliti uraikan berdasarkan metode penelitian dengan sifat deskriptif dan pendekatan kualitatif, seperti peneliti deskripsikan sebagai berikut.

1. Hubungan Kerja dan Koordinasi Antara Pemerintah Kecamatan Pracimantoro dengan Pemerintah Desa Gebangharjo dalam Pengelolaan Desa Wisata Kawasan Karst

a. Hubungan kerja dan koordinasi secara langsung antara Pemerintah Kecamatan Pracimantoro dengan Pemerintah Desa Gebangharjo

1) Hasil Penelitian

Pemerintah Kecamatan dipimpin oleh Camat dalam tugasnya dibantu perangkat kecamatan dan bertanggungjawab kepada Bupati/Walikota melalui sekretaris daerah Kabupaten/Kota. Menurut bapak Warsito selaku camat Pracimantoro, Kecamatan memiliki kekhususan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya untuk mendukung pelaksanaan asas desentralisasi. Kekhususan tersebut yaitu adanya kewajiban mengintegrasikan nilai-nilai sosio kultural, menciptakan stabilitas dalam dinamika politik, ekonomi dan commit to user commit to user

(2)

budaya, mengupayakan terwujudnya ketentraman dan ketertiban wilayah sebagai perwujudan kesejahteraan rakyat serta masyarakat dalam kerangka membangun integritas kesatuan wilayah. Fungsi utama Pemerintah Kecamatan selain memberikan pelayanan kepada masyarakatm juga melakukan tugas-tugas pembinaan wilayah.

Tugas pembinaan wilayah menjadi tugas Pemerintah Kecamatan terhadap masyarakat secara khusus. Desa Gebangharjo yang merupakan desa di Pracimantoro dengan fokus pembangunan desa wisata berbeda dibandingkan desa lain yang memiliki fokus pembangunan yang berbeda. Fokus pembangunan desa wisata Gebangharjo menurut bapak Warsito membutuhkan aspek-aspek khusus, antara lain:

a) Pembangunan infrastruktur;

b) Pembentukan sistem organsisasi;

c) Peran serta masyarakat desa.

Keberadaan tiga aspek tersebut pada saat ini sudah mulai dijalankan berkat kerjasama antara Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa.

a) Pembangunan infrastruktur

Pembangunan infrastruktur direncanakan melalui musyawarah antara Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa di desa wisata Gebangharjo saat ini menghasilkan pembangunan ulang jalan di desa wisata dengan arah mulai dari jalan utama (Jalan Pracimantoro-Wonosari) menuju ke masing-masing obyek wisata goa karst. Pembangunan jalan tersebut kemudian disusul dengan pembangunan homestay yang terdapat dibelakang goa Tembus sebagai salah satu daya tarik. Pembangunan homestay yang berada di commit to user commit to user

(3)

desa Gebangharjo merupakan kerjasama antara pihak Pemerintah dengan pihak Swasta. Permasalahan utama dalam kehidupan masyarakat maupun pengunjung di desa Gebangharjo adalah masalah kurangnya sumber air, yang kemudian melalui Rapat Koordinasi (Rapkor) disetujui bahwa akan dibangun embung atau telaga (buatan) untuk menampung air hujan dengan biaya APBD Provinsi.

b) Pembentukan sistem organisasi

Sistem organisasi yang ada di desa wisata Gebangharjo pada saat ini belum sepenuhnya dapat mendukung pengembangan desa wisata karena hanya terdapat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gebangharjo dalam mengelola desa wisata. Menurut bapak Bogiyono, selaku kepala desa Gebangharjo, dibutuhkan Badan Usaha Milik Desa guna memperlancar pengembangan desa wisata. Menurut beliau, Badan Usaha Milik Desa saat ini terkendala dengan masyarakat yang pada umumnya memilih untuk merantau daripada mengembangkan daerah kelahirannya sendiri.

c) Peran serta masyarakat desa

Bapak Warsito berpendapat sama dengan bapak Bogiyono dalam hal kurangnya peran serta masyarakat desa terkait pengelolaan desa Wisata. Masyarakat kabupaten Wonogiri di daerah selatan seperti di kecamatan Pracimantoro dan Paranggupito dikenal sebagai masyarakat yang lebih memilih untuk merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor, hingga Semarang. Solusi sebagai permasalahan tersebut kemudian dilakukan dengan membuka lahan-commit to user commit to user

(4)

lahan usaha dan pekerjaan melalui desa wisata serta peluang bekerja di Pemerintah Desa dengan melalui serangkaian tes.

Hubungan kerja serta koordinasi antara Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa ada pula dalam bentuk fasilitasi penyusunan peraturan desa dan peraturan kepala desa terkait BUMDES yang sedang dilakukan penyusunan dan perumusan peraturannya. Fasilitasi administrasi tata pemerintahan desa, pengelolaan keuangan desa, dan pendayagunaan aset desa oleh Pemerintah Kecamatan terhadap Pemerintah Desa dilakukan pula dalam hal hubungan kerja serta koordinasi. Fasilitasi terhadap Pemerintah Desa menghasilkan beberapa hal seperti embung, revitalisasi tempat wisata, pembanguan homestay, pembangunan Pura hingga pembangunan jalan di desa wisata. Pembangunan dilakukan dengan disertai adanya koordinasi guna dilakukannya fasilitasi untuk menarik partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan pemeliharaan serta pengembangan dan pelestarian pembangunan lokasi desa wisata.

Kegiatan fasilitasi dalam pelaksanaan tugas, wewenang, fungsi, hak dan kewajiban kepala desa, BPD, tokoh masyarakat, dan perangkat desa diperlukan guna memaksimalkan perangkat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan wisatawan desa wisata. Pemerintah Kecamatan berperan penting dalam membantu pembangunan desa wisata Gebangharjo mengingat adanya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Desa, yang mengharuskan jabatan Sekretaris Desa (Sekdes) tidak boleh lagi dipegang oleh PNS dan harus diisi oleh sekdes yang diangkat oleh kepala desa. commit to user commit to user

(5)

Sekdes dengan status sebagai PNS harus ditarik ke lingkungan Pemerintah Kabupaten membuat kepala desa yang seharusnya dibantu oleh PNS memiliki beban lebih berat, disamping memberikan efek positif terbukanya lowongan pekerjaan di Pemerintahan Desa. Menurut bapak Bogiyono, keberadaan sekdes dengan status sebagai PNS sangat membantu dalam melakukan koordinasi dengan pihak Pemerintah Kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten terkait pembangunan desa.

Perolehan data selain dari hasil wawancara adalah adanya surat-surat hubungan kerja dan catatan buku tamu Desa Gebangharjo, antara lain:

a) Surat Nomor 900/998 Perihal pencairan dana bantuan keuangan pembangunan infrastruktur Pedesaan (lampiran 1.1);

b) Surat Nomor 045.2/002 Perihal fasilitasi pengantar lembaran peraturan perundang-undangan kepada Desa (lampiran 1.2);

c) Surat Nomor 414.2/047 Perihal laporan perkembangan lembaga ekonomi masyarakat berdasarkan Surat Bupati Wonogiri Nomor 414.2/576 dan Peraturan Menteri Desa, Pembanguan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa (Bab IV Pembinaan dan Pengawasan (lampiran 1.3);

d) Surat Nomor 414.4/514 Perihal empat prioritas program unggulan Kementerian Desa, PDTT, yaitu Produk Unggulan Desa dan Kawasan Perdesaan (PRUKADES), BUMDes, Pembanguan Embung, dan

commit to user commit to user

(6)

pembangunan Sara Olahraga Desa (SORGA) (lampiran 1.4);

e) Surat Nomor 412.5/512 Perihal semiloka pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Wonogiri (lampiran 1.5);

f) Tanggal 15/03/2017 Pemerintah Kecamatan melakukan ecaluasi perkembangan pembangunan Desa Gebangharjo (lampiran 1.6).

2) Pembahasan

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten harus melakukan identifikasi dan inventarisasi kewenangan berdasakan hak asal usul, yang dalam hal ini kewenangan dilimpahkan kepada Pemerintah Kecamatan untuk melakukan koordinasi dengan semua Pemerintah Desa untuk mendapatkan materi kewenangan lokal skala desa. Tugas Pemerintah Desa berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah menjelaskan bahwa Pemerintah Desa bertugas membantu Pemerintah Kecamatan dalam hal pelayanan, pemerintahan, serta melakukan pemberdayaan masyarakat.

Hubungan kerja dan koordinasi antara Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa terealisasikan melalui program dan pembanguan infrastruktur terhadap desa wisata.

Pemerintah Desa Gebangharjo berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Pracimantoro melakukan hubungan kerja dalam sektor pembangunan infrastruktur terhadap desa wisata sesuai Pasal 60 ayat (4) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014. Pembangunan infrastruktur di desa wisata Gebangharjo bertujuan guna meningkatkan pengembangan ekonomi berskala produktif. commit to user commit to user

(7)

b. Hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah selain Pemerintah Kecamatan terhadap Pemerintah Desa Gebangharjo

1) Hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah Desa dengan Pemerintah Pusat

a) Hasil Penelitian

Pemerintah Pusat melakukan hubungan kerja dan koordinasi dengan Pemerintah Desa Gebangharjo melalui kegiatan bimbingan, supervisi dan kosultasi pelaksanaan Pemerintahan Desa. Kegiatan terkait pengembangan desa wisata dilakukan melalui hubungan kerja dalam upaya percepatan, atau akselerasi pembangunan desa dalam bidang ekonomi keluarga, penanganan bencana, penanggulangan bencana, penanganan kemiskinan, percepatan kebedayaan masyarakat, peningkatan sarana dam prasarana desa wisata, pemanfaatan sumber daya alam, dan teknologi tepat guna, pengembangan sosial budaya masyarakat di desa dengan dibiayai oleh APBN.

Menurut bapak Bogiyono, Pemerintah Pusat memberikan pedoman-pedoman dalam pelaksanaan urusan Pemerintahan Desa sebagai bentuk pelaksanaan asas desentralisasi dan otonomi desa juga telah dibantu oleh Pemerintah Kecamatan, yang dalam hal ini Pemerintah Kecamatan mendapat pelimpahan dalam membimbing Pemerintah Desa. Dana Desa yang selalu meningkat setiap tahunnya memberikan kekuatan Desa Gebangharjo untuk membangun infrastruktur dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan maupun acara-acara di sekitar kawasan desa wisata Gebangharjo. Setiap kegiatan maupun acara yang diadakan oleh Pemerintah commit to user commit to user

(8)

Desa dengan bimbingan Pemerintah Kecamatan selalu dapat menarik wisatawan, baik secara nasional maupun internasional yang kemudian memberikan pemasukan untuk dana infrastruktur.

Perolehan data selain dari hasil wawancara adalah adanya surat Kementerian Dalam Negeri sebagai bentuk hubungan kerja dan koordinasi, yaitu:

(1) Surat Pemerintah Pusat atas Nama Kementerian Dalam Negeri (Nomor p.713/PAN-BT/PUSTAKA-

PEMDA/VII/2017) Perihal bimbingan teknis peningkatan kapasitas Aparatur Desa dalam mewujudkan pengelolaan keuangan, aset, dan BUMDes yang akuntabel (lampiran 2.1).

b) Pembahasan

Kewenangan Pemerintah Pusat dalam melakukan hubungan kerja dan koordinasi dengan Pemerintah Desa diatur dalam Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa Pemerintah Pusat dapat menyelenggarakan dan melaksanakan urusan pemerintah secara langsung atau dengan melimpahkan wewenang kepada Instansi Vertikal yang ada di daerah atau gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat berdasarkan asas Dekonsentrasi.

Keterangan bapak Bogiyono dalam menjelaskan hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Desa sudah sesuai dengan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menunjukkan bahwa Pemerintah Pusat dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan berwenang untuk menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria commit to user commit to user

(9)

dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan.

Pedoman yang diturunkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Desa telah mencangkup penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria guna menyelenggarakan urusan pemerintahan.

2) Hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah Desa dengan Pemerintah Provinsi

a) Hasil Penelitian

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan hubungan kerja dengan Pemerintah Desa Gebangharjo terkait dengan kegiatan penyediaan sarana dan prasarana desa dengan menggunakan APBD Provinsi yang masuk ke desa. Menurut bapak Bogiyono, hubungan kerja dalam penyediaan ini lebih banyak mengarah ke bantuan dalam penyediaan air bersih di desa Gebangharjo, mengingat kawasan Geopark di kecamatan Pracimantoro merupakan kawasan yang rawan dengan bencana kekurangan air bersih sebagai dampak dari kemarau yang panjang dan kondisi tanah yang berongga.

Kegiatan Pemerintah Provinsi dalam mengembangkan desa dilakukan pula dengan pengembangan Sosial Budaya masyarakat disertai dengan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dan pengembangan teknologi dengan bantuan biaya ABPD Provinsi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pernah pula memberikan sanksi atas penyimpangan yang dilakukan oleh perangkat desa Gebangharjo, dalam hal ini bapak Bogiyono enggan memberikan keterangan lebih lanjut terkait kasus dan nama perangkat desa yang telah melakukan penyimpangan.

commit to user commit to user

(10)

Perolehan data selain dari hasil wawancara, yaitu:

(1) Surat Nomor 005/120 Perihal sosialisasi perbaikan dan pengembangan prasara dan sara air baku Embung Gebangharjo dan Embung Bowong, Kabupaten Wonogiri (lampiran 3.1).

b) Pembahasan

Pemerintah Provinsi membantu Pemerintah Desa melalui APBD provinsi diatur dalam pasal 99 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menjelaskan bahwa APBD Provinsi yang diajukan oleh gubernur diwujudkan melalui pembahasan untuk kemudian disetujui bersama dengan DPRD.

Bantuan dana APBD provinsi disamping APBN diperkuat dengan pasal 282 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang dijelaskan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai melalui dana APBD. Air sebagai kebutuhan yang tidak tergantikan menjadi hal darurat bagi masyarakat desa Gebangharjo kemudian dapat mengalokasikan pada Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Pusat ketika Pemerintah Kabupaten tidak mampu menanggulangi kebutuhan (Pasal 296 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah).

3) Hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah Desa dengan Pemerintah Kabupaten

a) Hasil Penelitian

Pemerintah Kabupaten Kabupaten bekerjasama dengan commit to user commit to user Pemerintah Desa Gebangharjo dalam

(11)

meningkatkan pendidikan dan pelatihan tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada masyarakat dan perangkat desa. Pelatihan tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa dilakukan dengan tujuan meningkatkan kinerja perangkat desa dalam pengelolaan desa wisata, serta memberikan pemahaman bagi masyarakat terkait penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

Pengelolaan uang di desa Gebangharjo dilakukan dengan bantuan pembinaan dan pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten Wonogiri. Berkat bantuan pembinaan dan pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Desa dapat membuat anggaran, pendayagunaan aset Pemerintah Desa, dan sumber pendapatan secara efektif mengingat perlu adanya perawatan dalam infrastruktur desa wisata. Bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten sering diterima bersamaan dengan bantuan air bersih dari Pemerintah Provinsi oleh bapak Bogiyono dalam memenuhi kebutuhan air di desa Gebangharjo. Menurut beliau, bantuan air bersih dari pihak Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi merupakan bantuan yang paling dibutuhkan oleh masyarakat desa. Pengelolaan desa wisata Gebangharjo dapat berjalan hingga saat ini salah satu faktor adalah berkat adanya bantuan air bersih kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat melanjutkan berkarya untuk kemudian dijual di area berjualan desa wisata Gebangharjo.

Perolehan data selain dari hasil wawancara adalah:

(1) Surat Nomor 413.4/1503 Perihal bantuan keuangan kepada Desa berdasarkan surat Gubernut Jawa Tengah Nomor 900/0001440 commit to user

commit to user

(12)

tentang Penyampaian alokasi belanja bantuan keuangan kepada kabupaten/kota dan Pemerintah Desa, dan hasil koordinasi dengan Dispermadesdukcapil Provinsi Jawa Tengah (lampiran 4.1)

b) Pembahasan

Pemerintah Desa dan Pemerintah Kabupaten disamping memiliki hubugnan dalam penyaluran dana APBN untuk dibagi menjadi dana Desa (APBDes), terdapat hubungan kerja dan koordinasi dalam hal pembinaan. Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dijleaskan bahwa Pemerintah Kabupaten melakukankan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa disebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten memberdayakan masyarakat Desa guna meningkatkan potensi desa dengan cara:

(1) Menetapkan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;

(2) Meningkatkan kualitas pendidikan, pelatihan, penyuluhan;

(3) Mengakui dan memfungsikan institusi asli yang sudah ada di masyarakat Desa.

Pemerintah Kabupaten membina Pemerintah Desa dalam hal pengelolaan keuangan sesuai Pasal 115 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten melakukan penetapan pembiayaan alokasi dana perimbangan dan mengawasi pengelolaan keuangan desa pendayagunaan aset Pemerintah Desa, serta commit to user commit to user

(13)

melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

4) Hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah Desa dengan Dinas atau Kementerian terkait desa wisata

a) Hasil Penelitian

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Wonogiri dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merupakan dinas dan kementerian yang ikut serta dalam masalah pengelolaan desa wisata, namun memiliki wilayah otoritasnya sendiri. Jelas bapak Bogiyono, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada awalnya ikut membantu dalam pengelolaan lahan parkir dan infrastruktur obyek wisata, yang kemudian dikelola oleh desa sendiri meskipun belum memilki BUMDes.

Pengelolaan secara langsung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dianggap tidak menguntungkan oleh Pemerintah Desa karena tidak cukup banyak melibatkan masyarakat Desa. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hingga saat ini memiliki pembatasan dalam pengelolaan desa wisata, yaitu dalam masalah pengelolaan lahan parkir, retribusi dan sebagian obyek wisata. Lanjut bapak Bogiyono, walaupun demikian akan tetapi pendapatan dari desa wisata setiap tahunnya selalui dibagi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berada di desa wisata sebagai penambah obyek wisata, yaitu obyek wisata pendidikan. Kementerian telah membangun museum karst yang di dalamnya terdapat berbagai informasi terkait ilmu pengetahuan Geologi dan juga melakukan penelitan terhadap goa-goa yang berada di desa wisata. Kerjasama Pemerintah Desa commit to user commit to user

(14)

dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sudah berjalan sejak awal mula ditemukannya goa-goa di desa wisata Gebangharjo. Pengembangan desa wisata Gebangharjo tidak hanya terfokus dalam obyek wisata alam, akan tetapi juga wisata pendidikan. Perpaduan antara obyek wisata alam dan wisata pendidikan, menurut bapak Bogiyono, menjadi langkah awal dalam inovasi obyek wisata yang menyenangkan dan juga mendidik.

Perolehan data selain dari hasil wawancara adalah catatan buku tamu, antara lain:

(1) Tertanggal 20/02/2014 Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) melakukan koordinasi sosialisasi tentang Geopark Gunung Sewu (Pegunungan Seribu) (lampiran 5.1);

(2) Tertanggal 23/07/2014 Dinas ESDM melakukan serah terima peralatan wisata kepada Desa Wisata Gebangharjo (lampiran 5.2);

(3) Tertanggal 25/04/2016 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melakukan koordinasi dengan Pokdarwis Gebangharjo (lampiran 5.3).

b) Pembahasan

Kementerian disamping keberadaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memiliki hubungan kerja dengan Pemerintah Desa terkait pengembangan wilayah otonomi dengan pelimpahan dari Presiden sesuai Bagian Umum Penjelasan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 yang menjelaskan bahwa:

commit to user commit to user

(15)

“Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan dibantu oleh menteri negara dan setiap menteri bertanggung atas Urusan Pemerintahan tertentu dalam pemerintahan.

Sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi tanggungjawab menteri tersebut yang sesungguhnya diotonomikan ke Daerah.”

Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.26/UM.001/MKP/2010 tentang Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata melalui Desa Wisata menyebutkan bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terlibat sebagai pelaku PNPM Pariwisata baik ditingkat Kabupaten, Provinsi, maupun Pusat. Keterlibatan Dinas Pariwisata sesuai Peraturan Menteri merupakan bentuk pembinaan terhadap masyarakat terkait pemberdayaan masyarakat.

c. Hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah Kecamatan Pracimantoro dan Pemerintah Desa Gebangharjo terhadap Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gebangharjo

1) Hasil Penelitian

Kelompok Sadar Wisata atau biasa disebut Pokdarwis merupakan kelompok yang beranggotakan masyarakat desa Gebangharjo dengan tujuan meningkatkan partisipasi masyarakat desa dalam pengelolaan desa wisata Gebangharjo. Pokdarwis yang dibentuk oleh Pemerintah Desa Gebangharjo dan Pemerintah Kecamatan Pracimantoro melalui Musyawarah Desa dapat menambah pemasukan dalam kas Desa Gebangharjo untuk kemudian dapat dimanfaatkan membuat event atau acara-acara khusus.

commit to user commit to user

(16)

Kawasan desa wisata Gebangharjo pada awalnya dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, yang kemudian diminta hak pengelolaannya oleh Pemerintah Desa Gebangharjo untuk kemudian dilimpahkan kepada masyarakat desa melalui Pokdarwis. Selain bertujuan memberikan pemasukan dalam kas desa, menurut bapak Bogiyono, Pokdarwis juga memberikan kesempatan bagi masyarakat desa untuk ikut berpartisipasi dalam mengembangkan desa wisatanya sendiri.

Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa dalam hal ini selalu memberikan masukan dan bimbingan terhadap Pokdarwis Gebangharjo sebagai upaya pencegahan adanya penyimpangan yang terjadi dalam penglolaan desa wisata.

Pembimbingan yang dilakukan oleh Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa menurut bapak Bogiyono dilakukan dengan metode non-formal, sehingga mencipatakn suasana yang lebih akrab antara pemerintah dan kelompk masyarakat. Metode non-formal dianggap tepat diterapkan dan membuat kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah lebih baik, tanpa menghilangkan nilai-nilai etika masyarakat Jawa yang dipegang. Bagi bapak Sutarmin selaku ketua Pokdarwis Gebangharjo, bapak Camat dan bapak Kepala Desa sudah seperti orang tua sendiri yang selalu membimbing masyarakat (khususnya Pokdarwis) Gebangharjo.

2) Pembahasan

Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa Gebangharjo melakukan hubungan kerja dan koordinasi terkait pembinaan dan pengarahan terhadap Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gebangharjo melalui musyawarah dan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Desa commit to user commit to user

(17)

Gebangharjo. Pembinaan Pokdarwis dilakukan sebagai dampak dari belum terbentuknya BUMDes Gebangharjo yang bertujuan untuk melakukan pengelolaan desa wisata terkait perawatan sarana dan prasarana, retribusi, dan kebersihan lingkungan desa wisata. Pokdarwis Gebangharjo terbentuk setelah Pemerintah Desa Gebangharjo memilih untuk mengambil alih pengelolaan desa wisata yang sebelumnya dikelola oleh Dinas Pariwisata kabupaten Wonogiri dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Pengelolaan yang dilakukan pada saat ini tetap masih meliatkan Dinas Pariwisata dan Kementerian untuk memaksimalkan pengembangan desa wisata, mengingat kurangnya pengetahuan masyarakat desa dan Pemerintah Desa terkait bidang pengetahuan geologi dan potensi desa wisata Gebangharjo.

d. Hubungan kerja dan koordinasi Pemerintah Desa Gebangharjo dan Pemerintah Kecamatan Pracimantoro dengan pihak swasta

1) Hasil Penelitian

Kerjasama antara Pemerintah dengan Swasta di desa Gebangharjo terdapat dua kerjasama, yaitu kerjasama pelaksanaan event dan kerjasama dalam sektor pembangunan. Kerjasama antara pihak Pemerintah dengan pihak Swasta dilakukan dengan musyawarah rembug desa oleh Pemerintah Desa, masyarakat desa, dan Pemerintah Kecamatan. Pelaksanaan event membutuhkan persetujuan dan perizinan dengan Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa.

Kerjasama dalam sektor pembangunan yang terjadi di desa Gebangharjo adalah pembangunan homestay yang dilakukan atas kerjasama antara Pemerintah Desa dan commit to user commit to user

(18)

Swasta melalui perizinan Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa. Pembangunan homestay dilakukan dengan sistem sewa lahan, sehingga memberikan pemasukan tetap terhadap desa wisata. Homestay di desa wisata Gebangharjo yang dimiliki oleh bapak Tejo, selaku pihak swasta, memberikan pemasukan dalam kas desa setiap tahunnya memberikan keringanan dalam pengeluaran desa yang kemudian dapat digunakan untuk membeli air bersih maupun melakukan pembangunan dan perawatan terhadap obyek di desa wisata. Hal menarik yang terdapat di desa wisata Gebangharjo adalah keberadaan Pura atau tempat beribadah masyarakat Hindu. Pada saat-saat tertentu dilakukan ibadat di Pura Puncak Jagad Spiritual tersebut dengan menghadirkan umat Hindu Bali. Pura yang berada di sebelah barat museum karst Pracimantoro tersebut dibuat dengan kerjasama antara Pemerintah dengan Komunitas Koperasi Adil Bali. Sumber dana dari pembangunan tersebut pada dasarnya berasal dari Komunitas tersebut dibawah pimpinan bapak Dewa Nauba.

Pelaksanaan event sering pula dilakukan antara Pemerintah dengan pihak swasta. Acara rutin dilaksanakan di desa wisata adalah peringatan Odolan atau Piodolan yang menurut bapak Ari Winanto, selaku penjaga keamanan museum Karst, merupakan acara peringatan atau ulang tahun Pura. Acara Odolan dilakukan oleh kurang lebih 2.000 umat Hindu dari berbagai kelompok dengan mengadakan upacara keagamaan dengan berdoa bersama. Upacara umat Hindu dilakukan rutin setiap tahun antara bulan Juni-Juli yang dihadiri oleh umat Hindu dari Bali, DIY dan Jawa Tengah.

Event yang sering dilaksanakan selain upacara Odolan menurut bapak Bogiyono merupakan event yang biasanya commit to user commit to user

(19)

diadakan di lokasi yang tidak menentu seperti acara klub- klub motor Honda CB atau yang paling sering adalah acara Gowess yang dilaksanakan oleh komunitas Pracimantoro Gowes Community (PGC) atau Wonogiri Mountain Bike (WMTB) dengan disertai lomba-lomba atau hiburan-hiburan seperti konser dangdut.

2) Pembahasan

Pemerintah Desa bersama dengan Pemerintah Kecamatan melakukan koordinasi terkait kerjasama dengan pihak swasta telah diatur melalui Pasal 278 ayat (1) Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang melibatkan peran serta masayarakat dan sektor sawasta dalam pembanguan Daerah.

Koordinasi antara Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah desa menghasilkan beberapa kerjasama terkait dengan usaha untuk meningkatan perkembangan desa wisata.

Pasal 278 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menjelasakan bahwa penyelenggara Pemerintahan Daerah dapat memeberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan, yang dapat ditengarai dengan adanya kerjasama antara Pemerintah dengan kelompok-kelompok atau pihak swasta tertentu guna meningkatkan produktifitas desa wisata. Insentif dan kemudahan dalam membawa pihak swasta terlibat pengembangan desa wisata dilakukan dengan mempermudah izin pembangunan infrastruktur Pura Puncak Jagad Spiritual dan Homestay.

Pembangunan Pura dan homestay dapat dilaksanakan dengan berdasarkan pada Pasal 45 ayat (4) Peraturan Daerah commit to user commit to user

(20)

Kabupaten Wonogiri Nomor 9 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Wonogiri yang menjelaskan bahwa indikasi sumber pendanaan dalam pemanfaatan ruang wilayah kabupaten dapat berasal dari sumber dana swasta dan masyarakat. Lahan yang dibangun Pura dan homestay dapat dikatakan sebagai lahan yang kurang produktif dan cukup sulit untuk dilakukan penanaman ataupun pemanenan sehingga dapat dimanfaatkan untuk tujuan lain sesuai Pasal 68 ayat (9) tentang RTRW Kabupaten Wonogiri dalam ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkebunan memperbolehkan alih fungsi lahan perkebunan terlantar untuk kegiatan non perkebunan.

Pendapatan dan pemasukan dari desa wisata dapat dibagi dengan swasta sesuai Pasal 71 ayat (1) huruf b tentang RTRW Kabupaten Wonogiri yang menjelaskan bahwa insentif yang diberikan kepada pengusaha dan swasta dalam pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang. Ayat (3) mengharuskan insentif diberikan kepada swasta melalui:

a) Kemudahan prosedur perizinan;

b) Pemberian penghargaan;

c) Pembangunan serta pengadaan infrastruktur.

2. Hambatan dan Solusi dalam Hubungan Kerja dan Koordinasi Antara Pemerintah Kecamatan Pracimantoro dengan Pemerintah Desa dalam Pengelolaan Desa Wisata Kawasan Karst

a. Hambatan dan solusi perihal belum berjalannya Badan Usaha Milik Desa Gebangharjo

1) Hasil Penelitian

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gebangharjo menurut bapak Bogiyono belum dapat berjalan sepenuhnya karena kurangnya commit to user commit to user keterlibatan masyarakat dalam

(21)

mendukung berdirinya BUMDes. Sosialisasi tentang BUMDes kerap kali dilakukan namun belum memberikan hasil yang cukup baik. Keberadaan BUMDes sangat dibutuhkan oleh desa Gebangharjo, hal ini berbanding terbalik dengan desa Wonodadi yang telah dapat menjalankan desa wisata berkat keberadaan BUMDes yang telah berjalan.

Menurut bapak Warsito, keterlambatan dalam pembentukan BUMDes sangat disayangkan mengingat potensi dari desa Gebangharjo dalam hal pariwisata sangat besar. Keberadaan Pokdarwis desa Gebangharjo oleh karenanya berperan penting dalam pengelolaan desa wisata, dan sudah dapat menanggulangi kekosongan BUMDes.

2) Pembahasan

Pengelolaan desa wisata Gebangharjo membutuhkan keberadaan BUMDes guna memperlancar perkembangan desa wisata. Pasal 12 huruf m Peraturan Menteri Desa Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengatur tentang pendirian dan pengelolaan desa. Eksistensi BUMDes wajib direkognisi oleh Kementerian Desa melalui peraturan dan kebijakan terkait dengan keberadaan faktual BUMDes sebagai bagian dari Kewenangan Lokal Berskala Desa bidang pengembangan ekonomi lokal.

Pemerintah Desa Gebangharjo bersama Pemerintah Kecamatan Pracimantoro meningkatkan minat masyarakat dengan mengambil jalan melakukan kerjasama bersama masyarakat yang berasal dari desa lain untuk mengisi kios yang sudah dibuat di sekitar area desa wisata. Masyarakat yang berasal dari desa lain tersebut memiliki keahlian dalam bidang pembuatan kerajinan tangan dan kesenian, untuk commit to user commit to user

(22)

kemudian dapat dipersiapkan BUMDes yang siap menampung hasil karya masyarakat. Kepala Desa Gebangharjo, bapak Bogiyono, saat ini mengusahakan untuk mendapatkan pengurus dan pembentukan Peraturan Desa terkait pembentukan BUMDes. Seleksi dilakukan oleh bapak Bogiyono dalam mencari pengurus yang kompeten dan dapat bertanggungjawab guna menjalankan BUMDes Gebangharjo.

b. Hambatan dan solusi perihal kurangnya keterlibatan dan kesadaran masyarakat desa Gebangharjo dalam pengembangan Desa Wisata

1) Hasil Penelitan

Bapak Warsito selaku camat Pracimantoro menjelaskan bahwa kurangnya partisipasi dan kesadaran masyarakat desa Gebangharjo dalam pengembangan desa wisata sangatlah kurang. Minat masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi dalam bisnis dan pariwisata menghambat perkembangan desa wisata, yang kemudian berdampak pada hubungan kerja. Kurangnya minat masyarakat tersebut kemudian membuat setiap program yang diusahakan Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa tidak berjalan dengan baik, karena masyarakat memilih untuk tidak ikut dalam program yang telah disosialisasikan.

Program Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa yang pada dasarnya dapat terlaksana dalam kurun waktu satu tahun tidak dapat terlaksana dengan baik, dan menyebabkan beberapa infrasrtruktur yang dibuat untuk menunjang keterlibatan masyarakat menjadi terbengakalai.

Kios-kios yang telah dibangun di sekitar area desa wisata lebih banyak terlihat kosong penjual daripada terisi, dan penjual yang mengisi kios-kios tersebut mayoritas adalah commit to user commit to user

(23)

penjual makanan dan minuman, bukan hasil kerajinan tangan seperti yang diharapkan oleh Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa.

2) Pembahasan

Pemerintah Kecamatan menerima pelimpahan guna membantu Pemerintah Desa dalam melakukan kegiatan sosialisasi sekaligus melakukan pembinaan terhadap Pemerintah Desa. Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjelasakan tentang urusan pemerintahan umum oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten, yang kemudian dilimpahkan kepada Pemerintah Kecamatan seseuai Pasal 25 ayat (6) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Pembinaan terhadap masyarakat bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta pemeberdayaan masyarakat desa.

Sosialisasi oleh Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) (Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor. PM.26/UM.001/MKP2010) dilakukan di desa wisata Gebangharjo terhadap masyarakat desa Gebangharjo. Bab IV huruf D dalam Peraturan Menteri

Kebudayaan dan Pariwisata Nomor.

PM.26/UM.001/MKP2010 dijelaskan bahwa Camat selaku kepala Pemerintah Kecamatan merupakan pelaku PNPM Mandiri Pariwisata sebagai pembina pelaksanaan PNPM Mandiri Pariwisata pada desa-desa terpilih dengan dibantu Kepala Desa selaku kepala Pemerintah Desa yang membina atas kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan PNPM Mandiri Pariwisata di desa.

Hubungan kerja dan koordinasi oleh Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa dilakukan sosialisasi commit to user commit to user

(24)

dan pembinaan dengan tujuan meningkatkan produktifitas dan kreatifitas masyarakat desa Gebangharjo. Pemberian sosialiasi diharapkan dapat memberikan peluang bagi masyarakat desa untuk meningkatkan perekonomian setiap individu masyarakat. Salah satu bentuk solusi selain sosialisasi adalah Pelatihan peningkatan dan pengembangan keterampilan UKM industri makanan olahan yang dilakukan di area museum Karst Pracimantoro yang bekerjasama dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perinsustrian dan Perdagangan (KUKM dan Perindag) Kabupaten Wonogiri. Pelatihan dan sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah bertujuan guna meningkatkan minat masyarakat ikut serta dalam memajukan dan mengembangkan desa wisata Gebangharjo.

c. Hambatan kurangnya dukungan infrastruktur dalam mengatasi kondisi geografis wilayah Kecamatan Pracimantoro, khususnya Desa Gebangharjo

1) Hasil Penelitian

Kondisi geografis di wilayah Kecamatan Pracimantoro merupakan kondisi geografis pegunungan (termasuk kawasan pegunungan seribu), hal ini menurut bapak Warsito cukup mempersulit dalam melakukan hubungan ke desa-desa di wilayah Kecamatan Pracimantoro mengingat minimnya dukungan infrastrukur. Hubungan kerja antara Pemerintah Kecamatan dengan Pemerintah Desa tidak dapat dilakukan dalam kurun waktu satu minggu untuk mencapai semua desa. Pemerintah kecamatan membutuhkan waktu satu hari atau lebih dalam melakukan tinjauan ke desa- desa di Kecamatan Pracimantoro yang terbagi menjadi 18 desa/kelurahan. Wilayah Kecamatan Pracimantoro dengan

commit to user commit to user

(25)

luas 14.214 Ha, bagian 10.296 Ha wilayahnya merupakan Tegalan dan bukan merupakan pemukiman.

2) Pembahasan

Kondisi geografis Kecamatan Pracimantoro yang merupakan lokasi geopark memilik kelebihan dan kekurangan baik bagi Pemerintah Kecamtan maupun Pemerintah Desa. Lokasi pegunungan seribu dan keberadaan Bengawan Solo Purba menjadikan akses ke setiap desa menjadi tantangan tersendiri, bahkan bagi masyarakat.

Kondisi geografis yang demikian unik membuat Pemerintah Kecamatan harus mencari solusi ketika membutuhkan koordinasi dengan semua Pemerintah Desa, yaitu memaksimalkan pengembangan dan pemerataan infrastruktur jalan.

Pembanguan infrastruktur jalan menjadi prioritas utama yang dibahas dalam setiap Rapat Koordinasi (Rapkor) maupun Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) guna memperlancar mobilitas antar desa sekaligus meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Penarikan Sekretaris Desa ke dalam lingkup kerja Pemerintah Kabupaten menjadi keuntungan bagi Pemerintah Kecamatan, yang kemudian membuat Sekretaris Desa dapat dengan cepat melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa.

commit to user commit to user

Referensi

Dokumen terkait

juga merancang kuesioner mengenai permasalahan dunia (Lihat Tabel 1) untuk diuji kepada responden sebagai pre-test sebelum penelitian dimulai yang mana akan diuji

Kondisi tersebut perlu dipertahankan dan tetap untuk berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sarana prasarana serta mendorong untuk lebih aktif lagi

Persentase (%) MI/PPS Ula/Paket A Di Pesantren Swasta PeneriMA BOS yang masih Memungut Lebih Besar Dari Unit Cost BOS Per

bahwa sesuai ketentuan Pasal 12 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, pendapatan asli Desa terdiri dari hasil

bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 33 dan Pasal 34 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa menetapkan

Mengetahui seberapa besar minat berwirausaha siswa kelas XI Tata Busana di SMK Negeri 1 Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Hipotesis penelitian terdapat hubungan yang positif

Hal ini juga mengindikasikan bahwa persepsi kualitas berpengaruh positif terhadap Persepsi konsumen yang berarti semakin baik persepsi kualitas akan berdampak pada

Dalam penelitian ini, diusulkan implementasi dari suatu konsep tools berbasis komputer untuk menangani perancangan arsitektur dan analisis sistem informasi pegawai