• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Kristen Satya Wacana.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Universitas Kristen Satya Wacana."

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

1

Tinjauan Teologis terhadap Pemilihan Penatua dan Diaken di Gereja Protestan Indonesia Luwu Jemaat Ebenhaezer Pakatan

Arine Grasellia Ndelawa, Tony Tampake, Imanuel Teguh Harisantoso Universitas Kristen Satya Wacana

[email protected], [email protected], [email protected]

Pendahuluan

Pada hakikatnya gereja berasal dari bahasa Portugis “Igreya” yang berarti jemaat yang berkumpul menjadi satu, dipanggil dari dunia menjadi milik Tuhan.1 Dalam Perjanjian Baru digunakan istilah “Ekklesia”, berasal dari bahasa Yunani yang berarti perkumpulan.2 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gereja adalah sebuah perkumpulan orang-orang percaya yang dipersatukan oleh Allah untuk menyampaikan keselamatan kepada seluruh dunia.

Menurut Yohanes Calvin gereja dibedakan menjadi dua, yaitu gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan.3 Gereja yang kelihatan adalah semua orang di seluruh dunia yang mengaku dan berbakti kepada satu Allah dan Kristus. Gereja yang tidak kelihatan sendiri adalah gereja yang berada di hadirat Allah. Dalam gereja ini yang diterima hanyalah dia yang oleh rahmat Allah diangkat menjadi anak-Nya dan oleh penyucian karya Roh Kudus menjadi anggota Kristus.4 Kesatuan dari kedua pengertian ini terletak dalam Kristus yaitu Kepala Gereja yang kemudian menghubungkan anggota-anggota Gereja dalam satu tubuh.5

Sebagai kepala Gereja semestinya Kristus tinggal bersama dengan umat-Nya yang berdosa untuk memerintah dan berkuasa. Akan tetapi, karena keilahian-Nya sehingga Ia tidak dapat melakukannya. Akibatnya eksistensi sebagai kepala Gereja tidak dapat dilihat dan didengar oleh umat-Nya. Oleh karena itu, Ia memakai manusia sebagai wakil-Nya untuk menyatakan Firman kepada umat-Nya. Dalam tugas pelayanan tersebut, manusia

1 Ricardo Freedom Nanuru, Gereja Sosial Menurut Konsep Rasionalitas Komunikatif Jurgen Habermas (Yogyakarta: Deepublish, 2020), 41.

2 J.L. Ch. Abineno, Jemaat (Jakarta: Gunung Mulia, 1983), 18.

3 J.L. Ch. Abineno, Pembangunan Jemaat, Tata Gereja dan Jabatan Gerejawi (Jakarta: Gunung Mulia, 1992), 43.

4 Yohanes Calvin, Institutio: Pengajaran Agama Kristen (Jakarta: Gunung Mulia, 2005), 231.

5 Abineno, Pembangunan…, 44.

(2)

2

melaksanakan karya-Nya melalui bibir mereka.6 Wakil-wakil inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan pejabat gerejawi.

Ada empat macam jabatan yang ditetapkan Tuhan untuk Gereja, yaitu pendeta, pengajar, penatua dan diaken.7 Para ahli yang masih berpegang teguh pada ajaran Calvin menautkan keempat jabatan tersebut dengan jabatan Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja yang kemudian diamanatkan kepada gereja.8 Demikian juga Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL) mengakui tiga jabatan gerejawi yang yang terdapat dalam Tata Rumah Tangga GPIL tahun 2014 yaitu pendeta, penatua dan diaken atau syamas.9

Perjanjian Baru terdapat kata yang menggambarkan istilah pendeta, penatua dan diaken. Pendeta atau gembala yang kemudian mempunyai tugas untuk memberitakan injil, melayani sakramen dan mengajar melalui khotbah dan penggembalaan.10 Penatua berasal dari kata “Presbyteros” dan “episkopos” yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti orang yang tua, pemimpin agama Yahudi atau pemimpin jemaat11 yang kemudian berkembang menjadi imam, uskup atau penilik.12 Diaken berasal dari kata “diakonein”

yang berarti melayani dan “diakonos” yang berarti pelayanan.13 Diaken pada dasarnya memperhatikan kesejahteraan umat.14 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa diaken adalah orang yang bersedia memberi diri sendiri untuk melayani orang lain. Secara khusus dalam tulisan ini penulis akan memfokuskan pada persoalan-persoalan penatua dan diaken.

Menjadi seorang penatua dan diaken mempunyai beberapa tugas. Pertama, penatua dan diaken mempunyai tugas untuk melayani jemaat secara pastoral. Selain itu, para penatua dan diaken harus menilik jemaat dalam arti mempedulikan, memperhatikan atau melakukan penggembalaan kepada jemaat.15 Kedua, para penatua dan diaken harus mengepalai dan memimpin jemaat serta mengatur rumah Allah. Ketiga, para penatua dan diaken harus menjaga kemurnian ajaran melalui khotbah dan mengajar. Oleh karena itu,

6 Calvin, Institutio…, 239.

7 Abineno, Pembangunan…, 51.

8 Abineno, Pembangunan…, 53.

9 Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL Hasil Keputusan Sidang Sinode XV, Lampiran Keputusan Sidang Sinode Nomor: 08/SK/SS-GPIL_15/XI/2014, (Palopo, 2014), 89.

10 Abineno, Pembangunan…, 48.

11 Barclay M. Newman Jr., Kamus Yunani-Indonesia untuk Perjanjian Baru (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2015), 139.

12 J. L. Ch. Abineno, Penatua Jabatannya dan Pekerjaannya (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2005), 15.

13 J. L. Ch.Abineno, Diaken (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2003), 2-3.

14 Alexander Strauch, Diaken dalam Gereja: Penguasa atau Pelayan? (Yogyakarta: ANDI, 2008), 69.

15 A.N. Hendriks, Pengatur Rumah Allah (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1981), 8-9.

(3)

3

seorang penatua dan diaken harus terpelajar yang dapat memberikan dirinya secara penuh untuk setia kepada Firman Tuhan baik pemberitaan maupun dalam penerapannya.16

Dengan berbagai tugas tersebut maka sangat penting untuk menetapkan kriteria sebagai penatua dan diaken. Calvin mensyaratkan seorang pelayan harus memiliki ajaran yang sehat dan mempunyai hidup yang suci (1 Timotius 3:1-13). Selain itu,ia tidak boleh mencederai wibawanya sehingga pelayanannya dirugikan dan membuat jabatan gerejawi menjadi terhina17, dan mempunyai karunia dan kemampuan yang perlu untuk menunaikan tugasnya.18

GPIL menetapkan beberapa syarat-syarat menjadi penatua dan diaken sebagaimana tertulis dalam Tata Rumah Tangga yaitu, pertama, anggota sidi atau baptis dewasa yang tidak dalam penggembalaan khusus. Kedua, memiliki sikap hidup berdasarkan iman dan perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah. Ketiga, memahami, menyetujui dan menaati Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL. Keempat, bersedia dan mampu memegang rahasia jabatan. Kelima, bersedia melayani Tuhan dengan sukacita dan bertanggung jawab.19 Selain persyaratan yang harus dipenuhi bagi para pelayan jemaat, penetapan seseorang menjadi penatua dan diaken dilakukan melalui proses pemilihan yang sudah ditetapkan oleh majelis sinode sebagaimana yang tertulis dalam Tata Rumah Tangga GPIL pasal 8 ayat 7.

Proses pemilihan penatua dan diaken diawali dengan menetapkan jumlah penatua dan diaken yang akan diteguhkan, setelah itu nama calon disebutkan melalui warta jemaat.

Kedua, jemaat mendoakan rencana pemilihan penatua dan diaken tersebut dan jemaat dapat mengusulkan nama calon.Ketiga, “majelis jemaat mengunjungi calon atau calon-calon tersebut, meminta kesediaan dan mempersiapkan mereka untuk tugas panggilan penatua dan diaken atau syamas”. Keempat, rencana peneguhan penatua dan diaken baru serta nama dan alamat para calon diwartakan kepada jemaat selama dua kali hari Minggu berturut- turut. Kelima, akan dilakukan pemilihan jika jumlah calon melebihi dari jumlah yang telah ditetapkan. Setelah itu, pada proses yang keenam, pemilihan baru dapat dilakukan dan dinyatakan sah apabila dihadiri setengah dari jumlah anggota yang mempunyai hak suara.

Ketujuh, calon yang terpilih akan diwartakan kepada jemaat selama dua kali hari Minggu berturut-turut, jika tidak ada yang keberatan maka calon tersebut dapat diteguhkan.

16 Hendriks, Pengatur…, 10-11.

17 Calvin, Institutio…, 246.

18 Abineno, Pembangunan…, 49.

19 Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL, 93.

(4)

4

Kedelapan, anggota jemaat yang tidak hadir harus menerima hasil dari proses pemilihan.

Kesembilan, peneguhan penatua dan diaken dalam ibadah minggu oleh pendeta.20

Secara faktual Jemaat Ebenhaezer Pakatan tidak menjalankan urutan proses atau tahapan pemilihan penatua dan diaken sebagaimana yang ditetapkan oleh Majelis Sinode GPIL secara penuh. Salah satu tahap yang tidak dilaksanakan yaitu tahap ketiga. Secara normatif tekstual aturan pemilihan penatua dan diaken yang ditetapkan sinode mestinya diikuti oleh seluruh jemaat dibawah naungan GPIL, mengingat tahapan-tahapan yang ada merupakan hasil perumusan sinode melalui kajian dan penelitian jemaat.21

Dari hasil pra-penelitian, tahap ketiga ini menjadi sangat penting dalam proses pemilihan, mengingat di dalamnya terdapat unsur “pemantapan” dan “kesediaan” warga jemaat terpilih menjadi pelayan gereja. Pada tahap inilah terjadi percakapan yang sangat serius dan bersifat pribadi perihal kesungguhan hati calon penatua dan diaken dalam mengungkapkan keyakinan keterpanggilannya dalam pelayanan.22 Butir ketiga ini baru akan dijalankan apabila terdapat calon yang tidak bersedia mengemban tugas pelayanan.23 Pertanyaannya mengapa majelis jemaat tidak menjalankan “perkunjungan” terhadap semua calon penatua dan diaken? Adakah pertimbangan teologis yang membuat majelis jemaat tidak menempatkan butir tiga sebagaimana ketetapan

Melalui pra-penelitian yang dilakukan oleh penulis terdapat hipotesa yang mengatakan bahwa pemilihan penatua dan diaken yang tidak sesuai tata cara yang berlaku memberikan dampak bagi seorang pelayan dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Pertama yang terjadi adalah kurangnya integritas dari seorang pelayan. Kedua, penatua dan diaken kurang memahami tugas dari jabatan masing-masing yang mengakibatkan penatua menjalankan tugas dari diaken, diaken mangambil alih tugas penatua, kemudian pendeta yang mengambil alih tugas penatua dan diaken.24 Ketiga,kurangnya rasa tanggung jawab.

Hal ini dibuktikan ketika menghadapi suatu masalah baik itu keluarga atau pun dengan jemaat, penatua atau diaken dengan mudahnya mengundurkan diri dari jabatan mereka.25

Penelitian ini menjadi penting, mengingat belum ada kajian serupa yang pernah dilakukan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yosafat Parulian Devinaldo menulis tentang Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Majelis Jemaat Gereja Protestan Di

20 Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL.

21 Wawancara via Telepon dengan L. L, 05 Februari 2021.

22 Wawancara via Telepon dengan D.M, 31 Oktober 2020.

23 Wawancara via Telepon dengan H.L, 21 Oktober 2020.

24 Wawancara via WA dengan I.L, 20 September 2020.

25 Wawancara via Telepon dengan L. L, 05 Februari 2021.

(5)

5

Indonesia Bagian Barat “Getsemani” Jember Menggunakan Metode Simple Multi Attribute Rating Technique (SMART).26 Selanjutnya, DJ Maindoka, menulis tentang Komitmen Pelayanan Penatua dan Syamas dan Pekerjaan Sekuler.27 Kemudian, Alon Mandimpu Nainggolan, menulis tentang Jabatan Gerejawi: Kajian Biblis 1 Timotius 3:1-7 terhadap Kualitas Pemimpin Kristen.28 Berikutnya, Roy D. Tamaweol, menulis tentang Jabatan Gerejawi menurut Calvin dan Implikasinya bagi Organisasi dan Tata Gereja di Masa Kini.29 Terakhir, Samuel Winston Ngantung, yang menulis tentang Kewibawaan Pelayan Khusus Penatua dan Syamas atas Jabatan Gerejawi di GMIM “Kalvari” Talaitad Wilayah Tareran Dua.30 Dari penjelasan diatas maka dapat dilihat bahwa penelitian penulis berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai penatua dan diaken. Metodologi penelitian yang digunakan dalam tulisan-tulisan tersebut juga berbeda dengan yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini.

Berdasarkan hasil uraian diatas maka penulis akan melakukan penelitian dengan judul Tinjauan teologis terhadap proses pemilihan penatua dan diaken di GPIL Jemaat Ebenhaezer Pakatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kajian teologis terhadap pemahaman dan praktek pemilihan penatua dan diaken di GPIL Jemaat Ebenhaezer Pakatan? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kajian teologis terhadap pemahaman dan praktek pemilihan penatua dan diaken di GPIL Jemaat Ebenhaezer Pakatan.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca terkhususnya majelis dan jemaat Ebenhaezer Pakatan mengenai proses pemilihan penatua dan diaken sesuai dengan tata cara yang ditetapkan dalam Tata Rumah Tangga GPIL. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi Jemaat Ebenhaezer Pakatan bahwa dalam pelaksanaan pemilihan penatua dan diaken harus mengikuti tata cara yang telah ditetapkan dalam Tata

26 Yosafat Parulian Devinaldo, Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Majelis Jemaat Gereja Protestan Di Indonesia Bagian Barat “Getsemani” Jember Menggunakan Metode Simpel Multi Attribute Rating Technique (SMART), 2019.

27 DJ Maindoka, Komitmen Pelayanan Penatua dan Syamas dan Pekerjaan Sekuler, Vol 1 No 2 (2020):

Juni 2020.

28 Alon Mandimpu Nainggolan, Jabatan Gerejawi: Kajian Biblis 1 Timotius 3:1-7 terhadap Kualitas Pemimpin Kristen. Vol. 1, No, 1, 2020.

29 Roy D. Tamaweol, Jabatan Gerejawi Menurut Calvin dan Implikasinya Bagi Organisasi dan Tata Gereja di Masa Kini, Education Christi. 2020 1 (1), 17-24, 2020.

30 Samuel Winston Ngantung, Kewibawaan Pelayan Khusus Penatua dan Syamas atas Jabatan Gerejawi di GMIM “Kalvari” Talaitad Wilayah Tareran Dua. 2020 1 (2), 62-78, 2020.

(6)

6

Rumah Tangga GPIL. Selain dapat bermanfaat bagi Jemaat Ebenhaezer Pakatan, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi acuan bagi Sinode GPIL agar lebih memperhatikan jemaat-jemaat yang ada dalam lingkup GPIL.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-tema khusus ke tema-tema umum dan menafsirkan makna data.31 Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Pendekatan deskriptif memusatkan perhatian kepada pemecahan masalah-masalah aktual. Penelitian berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya, kemudian menggambarkan sebagaimana adanya.32

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Dalam teknik pengumpulan data observasi, penulis akan melakukan pengamatan terhadap proses pemilihan penatua dan diaken di Jemaat Ebenhaezer Pakatan. Observasi adalah peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian.33 Selain observasi, salah satu teknik pengumpulan data yang juga memainkan peran yang sangat penting adalah wawancara. Wawancara adalah percakapan antara dua orang yang salah satunya bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi untuk suatu tujuan tertentu.34 Peneliti akan mewawancarai Majelis (pendeta, penatua dan diaken) dan juga anggota jemaat yang terlibat langsung dalam proses pemilihan penatua dan diaken dan juga beberapa anggota jemaat yang memiliki pengaruh dalam kehidupan

31 John W. Creswell, Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif dan Campuran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), 4-5.

32 Tjutju Soendari, Metode Penelitian Deskriptif, Jurnal UPI: Volume 17, 2012, 1-3, diakses pada 17 Januari 2020. https://scholar.google.co.id/.

33 Creswell, Research Design…, 254.

34 Muh. Fitrah dan Luthfiyah, Metode Penelitian; Penelitian Kualitatif, tindakan kelas dan studi kasus (Jawa Barat; CV Jejak, 2017), 118.

(7)

7

berjemaat. Tujuan utamanya adalah untuk mendeskripsikan makna dari fenomena tersebut bagi sejumlah individu yang mengalaminya.35

Analisis data dalam penelitian kualitatif adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara, kemudian dikategorikan, sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain. Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh sehingga dikembangkan menjadi hipotesis.36 Langkah-langkah dalam menganalisis data sebagai berikut. Pertama, reduksi data. Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok memfokuskan data yang ada, sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti dalam melakukan pengumpulan data. Kedua, sajian data. Sajian data adalah menyajikan dan mengorganisir data dalam bentuk naratif, tabel, grafik dan sejenisnya secara terpola dan terorganisasikan, sehingga semakin mudah di pahami.37 Ketiga, menyimpulkan data. Menyimpulkan data adalah mengambil intisari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pernyataan kalimat yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas.38

Landasan Teori Pejabat Gerejawi

Keselamatan umat manusia hanya dapat diperoleh melalui Iman kepada Kristus.

Iman tidak hanya berbicara pada tataran pengertian akan tetapi lebih daripada itu yaitu mengetahui; mengetahui Allah dan kehendak-Nya. Namun untuk sampai pada hakikat tersebut, manusia harus bersedia menerima apa yang telah ditetapkan oleh Kristus melalui persekutuan orang-orang percaya sehingga dapat mengetahui, memahami serta mengalami Allah dalam kehidupan umat percaya. 39

Kepada Gereja Allah mempercayakan suatu harta yaitu Firman dan Sakramen untuk mengasuh dan menguatkan kepercayaan serta iman kepada Allah.40 Oleh karena itu, dengan anugerah-Nya Allah telah menganugerahkan tugas pelayanan tersebut kepada jemaatnya

35 John W. Creswell, Penelitian Kualitatif dan Desain Riset Memilih diantara Lima Pendekatan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 224.

36 Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method) (Bandung: Alfabeta, 2017), 333.

37 Dr. Sugiyono, Metode Penelitian & Pengembangan Research and Development Untuk Bidang:

Pendidikan Manajemen Sosial Teknik (Bandung: Alfabeta, 2019 ), 370-373.

38 Pinton Setya Mustafa et al., Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Tindakan Kelas dalam Pendidikan Olahraga (Malang: Universitas Negeri Malang, 2020), 129.

39 Calvin, Institutio…, 131-133.

40 Calvin, Institutio…, 234.

(8)

8

baik laki-laki maupun perempuan sebagai sarana untuk menolong manusia yang lemah dalam menumbuhkan kepercayaan dan iman kepada Allah. Dengan demikian, seperti yang terdapat dalam kitab Efesus 4: 11, Allah telah memperlengkapi rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar. Akan tetapi bagi Calvin, kedua jabatan terakhir yang mempunyai jabatan tetap dalam gereja. Ketiga jabatan lain atau jabatan luar biasa yang dipakai oleh Allah pada permulaan Kerajaan-Nya dan masih bisa diadakan jika diperlukan.41

Kehadiran rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar dalam kehidupan orang percaya untuk memperlengkapi serta mendidik umat-Nya. Inilah yang disebut dengan pelayan-pelayan gereja. Kehadirannya di tengah-tengah dunia untuk menjadi alat perpanjangan tangan Kristus kepada umat-Nya. Selain itu, pelayan gereja dijadikan alat untuk seberapa besar ketulusan dan kesungguhan hati umat pilihan Allah untuk mau diajar oleh pelayan-Nya. Pelayan gereja juga tersebut diperlukan untuk memelihara kesatuan gereja. Oleh karena itu, susunan pelayan-pelayan gereja yang telah ditetapkan oleh Allah tidak boleh ditiadakan. Jika demikian maka hal ini dianggap sebagai upaya untuk menghancurkan gereja.

Rasul adalah orang yang terpilih untuk memberitakan Injil ke semua makhluk.

Tujuannya adalah supaya seluruh dunia dapat mengenal Kristus dan patuh kepada-Nya.

Selain itu, dengan kehadirannya Kerajaan Allah dapat didirikan di tengah-tengah dunia.

Dengan kata lain, Rasul menjadi dasar sebuah persekutuan umat Allah dimulai. Nabi adalah orang-orang yang bisa menafsirkan kehendak Allah. Akan tetapi, tidak semua orang dapat melakukannya dan mendapatkan julukan seorang nabi. Hanya orang-orang yang mempunyai karunia dan mendapat suatu penyataan khusus. Pemberita Injil adalah jabatan yang berada di bawah rasul tetapi paling dekat dengan rasul seperti Lukas, Timotius, Titus dan mungkin ketujuh puluh murid. Pemberita Injil dibutuhkan untuk membawa kembali umat pilihan Allah dari ketidaksetiaan mereka. Gembala dan pengajar adalah dua jabatan yang selalu ada dalam Gereja. Pengajar mempunyai tugas untuk menafsirkan Alkitab.

Sedangkan gembala mempunyai tugas untuk memberitakan Injil, memegang pimpinan dalam hal disiplin Gereja, melayani sakramen dan mengajar melalui khotbah dan penggembalaan. Jabatan pengajar hampir sama dengan jabatan Nabi sedangkan Gembala sama dengan Rasul. 42

41 Calvin, Institutio…, 241.

42 Calvin, Institutio…, 241.

(9)

9

Pada mulanya jemaat di Yerusalem dipimpin atau dilayani oleh para rasul yang memegang semua jabatan dalam berjemaat. Mereka mempunyai tugas untuk menyampaikan firman, berdoa di depan umum, memelihara orang miskin, menjaga disiplin gerejawi termasuk dalam mengambil keputusan dalan hal iman serta membimbing jemaat.

Semuanya ini terdapat dalam kitab Kisah Para Rasul. Pada pasal 14 dan 23 dijelaskan disana bahwa pada saat itu Paulus dan Barnabas mengangkat penatua-penatua dalam setiap jemaat yang ada. Dengan demikian, Kisah Para Rasul ini mau menegaskan bahwa jabatan rasul pertama-tama memecahkan diri dalam jabatan penatua43 atau regenerasi dari para rasul untuk meneruskan tugasnya.

Terdapat dua kata yang menggambarkan istilah penatua yaitu “presbyteros” dan

“episkopos”. Kedua kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti orang tua, pemimpin agama Yahudi atau pemimpin jemaat44, kemudian berkembang menjadi imam, uskup atau penilik.45 Kata penilik sendiri bukanlah kata yang menggambarkan sebuah derajat seseorang dalam suatu perkumpulan, tetapi berbicara mengenai tugas yang harus dilaksanakan yaitu mengawasi hidup dan ajaran jemaat.46

Presbyteros atau tua-tua memiliki latar belakang Yahudi, dalam Perjanjian Lama dikenal dengan istilah tua-tua Israel. Ada tiga macam tua-tua dalam tradisi Yahudi.

Pertama, tua-tua Israel yang bertindak selaku wakil-wakil seluruh bangsa, kemudian tua- tua suatu suku menjadi wakil-wakil suku dan tua-tua suatu kota menjadi pemuka-pemuka kota tersebut. Para tua-tua yang ada dalam sinagoge jemaat Yahudi mempunyai tugas untuk menjaga ketertiban dan disiplin di dalam jemaat. Selain itu, penatua juga menjatuhkan hukuman bagi anggota jemaat yang yang melanggar aturan gerejawi seperti pengesahan dan pengucilan. Mereka adalah wakil rakyat yang sangat dihormati dan berwibawa sehingga cukup berperan untuk menentukan berbagai hal dalam kehidupan jemaat.47

Selain itu, tua-tua juga biasa dikaitkan dengan usia. Pada dasarnya, usia adalah sebuah kriteria untuk menetapkan tua-tua menjadi seorang penatua. Dengan pemahaman bahwa mereka yang tergolong dalam kalangan tua-tua sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk menjalankan kepemimpinan di dalam gereja.48 Bagi

43 Hendriks, Jemaat…, 6-7.

44 Barclay M. Newman Jr., Kamus Yunani-Indonesia untuk Perjanjian Baru (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2015), 139.

45 Abineno, Penatua…, 15.

46 Abineno, Pelayanan …, 44.

47 Hendriks, Pengatur…, 7-8.

48 Roy D. Tamaweol, “Jabatan Gerejawi Menurut Calvin dan Implikasinya bagi Organisasi dan Tata Gereja Masa Kini,” Educatio Christi. 2020 1 (1), 17-24. Diakases Juli 8, 2021.

(10)

10

kehidupan komunitas Kristen awal, penatua adalah kelompok pemimpin dalam gereja yang sistem kepemimpinannya diadopsi secara natural dari kepemimpinan di Sinagoge. Hal ini dilakukan melihat konteks yang terjadi pada saat itu orang-orang yang sebelumnya beribadah dan melayani di Sinagoge kemudian menjadi pengikut Kristus.49

Salah satu pelayanan yang tidak boleh dilupakan adalah pelayanan kepada orang miskin. Tugas-tugas itu diberikan kepada para diaken. Diaken berasal dari kata diakonein”

yang berarti melayani dan “diakonos” yang berarti pelayanan. Kata ”diaken” muncul hanya dalam Filipi 1:1 dan 1 Timotius 3; tetapi kata Yunani (diakonos) diterjemahkan ”pelayan”

atau ”hamba” dalam TBI) muncul kira-kira 30 kali dalam Perjanjian Baru, dan kata-kata serumpunnya diakoneo (melayani) dan diakonia (pelayan) muncul kira-kira 70 kali.

Meskipun di dalam sekian banyak pemakaian tersebut, tidak selalu menunjuk pada arti teknisnya, yang berhubungan dengan tugas khusus dalam gereja; tetapi dalam beberapa ayat kata-kata ini menuntut pengertian yang demikian.50

Dalam kitab Kisah Para Rasul, digunakkan kata “diakonos” untuk menggambarkan ketujuh orang pelayan. Mereka diangkat untuk melayani meja perjamuan dan persekutuan.51 Selain itu ada juga diaken untuk mengurus pemberian sedekah dan melayani orang-orang miskin yang sakit. Seperti apa yang dilakukan Marta dalam mengisi meja makan (Lukas 10:40), pelayanan hamba kepada tuanya (Lukas 17:8) dan pelayanan mertua Petrus (Markus 1:31) adalah diakonia.52

Pelayanan menghendaki kesediaan untuk memberikan diri sendiri kepada orang lain. Oleh karena itu, diakonia dalam Perjanjian Baru juga mengandung aksen keterarahan kepada diri orang lain. Seperti yang diteladankan oleh Yesus. Dia tidak hanya mengajar dan menyembuhkan tetapi juga memberikan makan kepada mereka yang lapar karena manusia yang diciptakan utuh adanya. Tidak hanya jiwa tetapi juga tubuh sehingga keduanya adalah satu. Itulah sebabnya dalam doa yang diajarkan oleh Yesus kepada murid- muridnya memohon supaya nama Allah dikuduskan jadilah di bumi seperti di sorga.

Memohon supaya dicukupkan dalam menjalani kehidupan di dunia dengan roti atau juga makanan setiap hari. Berdasarkan hal tersebut, Dia menugaskan murid-muridnya untuk saling melayani dan bermurah hati sama seperti Bapa yang ada di Sorga.53

49 Bakhoh Jatmiko, “Optimalkan Fungsi-fungsi Jabatan Kepemimpinan Gerejawi sebagai salah satu Perwujudan Pelayanan yang Holistik,” Jurnal Teologi SANCTUM DOMINE… Diakses Juli 8, 2021.

50 Jatmiko, “Optimalkan Fungsi-fungsi …., Diakses Juli 8, 2021.

51 Abineno, Diaken…, 16.

52 Jatmiko, “Optimalkan Fungsi-fungsi …., Diakses Juli 8, 2021.

53 Abineno, Diaken…, 2-5.

(11)

11

Tugas diaken adalah melayani orang-orang yang hidup dalam kesusahan. Bukan pekerjaan amal tetapi pelayanan kasih. Bukan pelayanan kasih dari gereja kepada manusia tetapi pelayanan kasih dari Allah kepada manusia. Sama seperti pelayanan yang lain diakonia dalam gereja hanya berfungsi sebagai alat perpanjangan tangan Allah. Oleh karena itu, pelayanan kasih yang dilakukan harus menginterpretasi Allah yang sesungguhnya. Kasih Allah yang berlaku secara universal dan tanpa batas begitu juga pelayanan yang dilakukan kepada semua anggota jemaat dan yang bukan anggota jemaat, orang-orang yang kita kasihi dan orang-orang yang memusuhi kita.54

Prosedur Pemilihan Pejabat Gerejawi Kriteria Pejabat Gerejawi

Menjadi seorang pejabat gerejawi perlu memiliki beberapa kriteria. Dalam suratnya, secara sistematis Paulus menuliskan dalam kitab Titus 1: 7 dan 1 Timotius 3.

Mulai dari persyaratan pribadi, persyaratan menyangkut keluarga, sikap terhadap jemaat dan mengenai hubungan dengan dunia di luar Kekristenan. Persyaratan di antara lain: tidak boleh bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, mampu memimpin dan mendidik anggota keluarganya, bukan orang yang baru saja menjadi Kristen dan terakhir mempunyai nama baik di tengah masyarakat. Inti dari semuanya adalah seseorang yang menjadi seorang penilik jemaat harus memiliki ajaran yang sehat dan hidup yang suci. Juga tidak mempunyai citra yang buruk dalam masyarakat karena akan dapat menghancurkan wibawa dan jabatan gerejawi yang dipercayakan menjadi terhina.55

Tata Cara Pemilihan Pejabat Gerejawi

Bagi sebagian orang, Allah menganugerahkan keselamatan. Keselamatan tersebut ditujukan kepada mereka yang dengan kehendak-Nya, Allah menyatakan pilihan-Nya.

Allah telah mengangkat dan memanggil mereka untuk menjadi anak-anak-Nya. Inti dari panggilan tersebut adalah belas kasihan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma. Mereka yang terpilih dipercayakan Allah untuk memberitakan firman dan mengundang semua orang untuk datang kepada-Nya.56

54 Abineno, Diaken…, 64-65.

55Calvin, Institutio…, 246.

56 Calvin, Institutio…, 204-207.

(12)

12

Proses pemilihan orang-orang yang telah dipilih oleh Allah harus dijalankan dengan teliti dan hormat maka diadakan puasa dan doa. Tidak menekankan pada bentuk pemilihannya melainkan pada kesakralan dari proses pemilihan tersebut. Pemilihan para rasul mempunyai sifat yang khusus dan hanya terjadi atas perintah Allah dan Kristus, sedangkan penilik-penilik jemaat ditunjuk oleh manusia. Oleh karena itu, suatu panggilan yang sah, kalau disetujui oleh seluruh jemaat. Pemilihan harus dipimpin oleh gembala- gembala, sehingga tidak terjadi kecurangan atau perkelahian yang dapat menyebabkan jemaat berbuat dosa. Setelah pemilihan, selanjutnya dilakukan acara peneguhan.

Peneguhan para rasul dilakukan dengan satu cara yaitu penumpangan tangan.

Penumpangan tangan memeteraikan bahwa seseorang yang telah diteguhkan telah menjadi hamba Allah dan bersedia untuk melayani gereja-Nya.57

Hasil Penelitian

Sejarah Singkat GPIL Ebenhaezer Pakatan

GPIL Ebenhaezer Pakatan terletak di dusun Kondemekar, Desa Maleku, kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan.Perjalanan GPIL Jemaat Ebenhaezer Pakatan dimulai pada saat Pdt. Gasong (pendeta GPIL) datang menginjili di wilayah Pakatan dan bertemu dengan Bapak Y. Lasampa. Bapak Y. Lasampa adalah anggota jemaat GKST yang berada di Pakatan, tetapi kemudian memisahkan diri dan ingin mendirikan Gereja Luwu di Pakatan. Bersama dengan empat orang lainnya yaitu Bapak Maliku Pasande, alm. Bapak Tariando, Bapak Story Ntahu dan alm. Bapak Pdt. Sabuu mulai melaksanakan pelayanan. Pada tanggal 5 Desember 1971 diresmikan menjadi GPIL Jemaat Pakatan. Kemudian pada masa pelayanan Pdt. Elias Sambri At’o, salah seorang anggota jemaat yaitu Bapak Yepdisten Montalili, mengusulkan untuk menambah kata Ebenhaezer yang artinya sampai di sini Tuhan menolong Jemaat Pakatan. Seluruh anggota jemaat menyetujui sehingga nama Jemaat Pakatan menjadi GPIL Jemaat Ebenhaezer Pakatan.

Sebelum adanya pelayan jemaat (pendeta), jemaat yang ada bersepakat mengangkat Alm. Bapak Y. Lasampa untuk menjadi ketua jemaat dibantu oleh Alm. Pdt. Sabuu. Alm.

Bapak Y. Lasampa menjabat sebagai ketua jemaat selama 30 tahun yaitu pada tahun 1966- 1996 didampingi oleh dua orang majelis jemaat yaitu Bapak Story Ntahu dan Bapak Yunus Riba. Setelah pelayanan Alm. Bapak Y. Lasampa berakhir, diangkatlah alm. Bapak Abi

57Calvin, Institutio…, 247.

(13)

13

Gume menjadi ketua jemaat pada tahun 1996-1998. Jumlah jemaat semakin bertambah maka untuk membantu pelayanan yang ada, diangkatlah empat orang majelis jemaat.

Berakhirnya pelayanan Bapak Abi Gume maka posisi ketua jemaat digantikan oleh alm.

Bapak T. Laenus pada tahun 1998 dan dilanjutkan oleh Bapak Hidan Yesker Lasampa pada tahun 2000-2002.

Pada tahun 2002-2012, Jemaat Ebenhaezer Pakatan mempunyai seorang pendeta sekaligus menjadi ketua jemaat yaitu Pdt. Elias Sambri At’o S. Th. Pelayanan dilakukan bersama dengan enam orang majelis. Tahun 2012-2017 pelayanan dilanjutkan oleh Pdt.

Dorkas Megaria Tolly S. Th bersama dengan delapan orang majelis. Selesai masa pelayanan Pdt. Dorkas Megaria Tolly S. Th, jemaat tidak memiliki pendeta selama dua tahun. Berdasarkan kesepakatan majelis periode 2017-2022 maka diangkatlah Bapak Harun Ridwan sebagai ketua majelis jemaat. Menjelang akhir tahun 2019, jemaat mendapatkan pendeta yaitu Pdt. L. Lande M. Th yang melakukan pelayanan bersama dengan lima orang majelis jemaat.

Adapun pelayanan yang ada di Jemaat Ebenhaezer Pakatan antara lain, pelayanan rumah tangga, pelayanan kaum perempuan, kaum bapak, sekolah minggu, pemuda dan remaja dan ibadah pelayan. Pelayanan dipimpin oleh satu orang pendeta yang menjabat sebagai ketua jemaat, empat orang penatua dan seorang diaken. Jemaat Pakatan membagi wilayah pelayanan menjadi tiga kelompok yang masing-masing layani oleh dua orang majelis jemaat. Saat ini jumlah anggota jemaat yang ada di GPIL Ebenhaezer Pakatan berjumlah 56 KK dengan pembagian 104 jiwa laki-laki dan 117 jiwa perempuan. Anggota baptis berjumlah 42 orang, anggota sidi 137 orang, kaum bapak 53 orang, kaum ibu 53 orang, kaum pemuda dan remaja 66 orang dan sekolah Minggu 52 orang.58

Struktur Organisasi GPIL

GPIL menganut sistem pemerintahan gereja presbiterial sinodal dengan struktur sinode, klasis dan jemaat. Jemaat, klasis dan sinode dapat memperlengkapi diri dengan memanggil anggota jemaat untuk menjabat sebagai pekerja gereja (pendeta, vikaris, guru injil, pegawai administrasi, koster). Masa bakti semua kepengurusan, lima tahun sesuai tata dasar dan tata rumah tangga GPIL.

GPIL memaknai Sinode sebagai wujud persekutuan jemaat-jemaat GPIL sebagai tubuh Kristus yang melaksanakan tugas panggilannya di wilayah Tanah Luwu dan wilayah-

58 Wawancara dengan I. L, 15 Januari 2022.

(14)

14

wilayah Indonesia lainnya. Pelayanan di tingkat sinode dipimpin dan dilayani oleh Majelis Pekerja Sinode atau yang disingkat MPS. Struktur MPS berjumlah tujuh orang yang dipilih dan diangkat di Sidang Sinode. MPS terdiri dari satu ketua, tiga orang wakil ketua, satu sekretaris dan wakilnya, satu bendahara dan wakilnya.

Klasis adalah wadah kebersamaan jemaat-jemaat sekurang-kurangnya tiga jemaat dan sebanyak-banyaknya sepuluh jemaat untuk melakukan tugas panggilan di suatu wilayah tertentu. Pelayanan di klasis dipimpin dan dilayani oleh Majelis Pekerja Klasis atau yang disingkat MPK. Struktur MPK terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.

Jabatan ketua adalah pendeta. Bagi klasis yang belum memiliki pendeta, jabatan ketua akan diserahkan kepada penatua atau diaken.

Struktur di jemaat dipimpin oleh majelis jemaat. Di dalam majelis jemaat terdiri dari pendeta, penatua dan diaken atau syamas yang dipilih dan diteguhkan di jemaat setempat. Ketua majelis jemaat adalah pendeta. Bagi jemaat-jemaat yang tidak memiliki pendeta, ketua majelis jemaat dijabatkan kepada penatua atau diaken. Tugas majelis jemaat adalah melengkapi, memimpin dan melayani jemaat untuk melaksanakan panggilan gereja.

Di bawah majelis jemaat terdapat badan pengurus yang bertanggung jawab melakukan pelayanan pada semua persekutuan-persekutuan yang ada di jemaat.

Di GPIL terdapat Organisasi Intra Gerejawi (OIG). OIG adalah persekutuan kategorial perempuan, laki-laki, pemuda, Sekolah Minggu atau yang lainnya sesuai dengan kebutuhan di jemaat, klasis dan sinode. OIG adalah bagian integral yang membantu majelis jemaat, MPK dan MPS. OIG berhak membuat tata kerja dengan ketentuan tidak bertentangan dengan Tata Gereja dan peraturan lain yang berlaku di GPIL.59

Peraturan dan Proses Pemilihan Penatua-Diaken di GPIL

Peraturan pemilihan penatua dan diaken diatur dalam tata dasar dan tata rumah tangga GPIL Bab III Pasal 8. Mulai dari syarat-syarat sampai pada proses pemilihan dilakukan. Untuk menjadi penatua dan diaken harus memenuhi beberapa syarat. Pertama, anggota jemaat yang sudah sidi atau baptis dewasa dan tidak sedang dalam penggembalaan khusus. Kedua, menampakkan sikap hidup atas dasar iman dan perilaku yang baik sesuai dengan kehendak Allah, terutama yang tertulis dalam 1 Petrus 4:7-11, 5:3, 1 Timotius 3:1- 13. Ketiga, memahami, menyetujui dan menaati Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL.

Keempat, bersedia dan mampu memegang rahasia jabatan. Kelima, bersedia melayani

59 Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL.

(15)

15

Tuhan dengan sukacita dan bertanggung jawab dan sudah menampakan pengalaman- pengalamannya.60

Proses pemilihan dan peneguhan penatua dan diaken diawali dengan majelis jemaat menetapkan jumlah majelis baru yang akan diteguhkan, yaitu jumlah penatua baru dan diaken atau syamas baru. Menetapkan nama calon atau calon-calon penatua dan diaken atau syamas. Majelis jemaat mewartakan hal itu kepada anggota. Kedua, anggota jemaat mendoakan rencana tersebut dan dapat mengusulkan secara tertulis kepada majelis jemaat nama calon atau calon-calon penatua dan diaken atau syamas. Ketiga, majelis jemaat mengunjungi calon atau calon-calon tersebut, meminta kesediaan dan mempersiapkan mereka untuk tugas panggilan penatua dan diaken atau syamas. Keempat, selama dua kali hari Minggu berturut-turut majelis jemaat mewartakan kepada anggota mengenai rencana peneguhan majelis baru, dengan menyebutkan nama dan alamat yang jelas dan kedudukan calon majelis tersebut. Anggota jemaat mendoakan dan mempertimbangkannya. Kelima, bila jumlah calon melebihi dari jumlah yang akan diteguhkan, diadakan pilihan. Pilihan dilakukan dengan dipimpin oleh majelis jemaat, acara dimulai dan ditutup dengan doa. 61

Setelah itu pada proses yang keenam, pilihan baru dapat dilakukan dan dinyatakan sah, bila dihadiri oleh sekurang-kurangnya satu per dua lebih dari jumlah anggota yang mempunyai hak pilih. Ketujuh, calon atau calon-calon terpilih diwartakan kepada anggota dua kali hari Minggu berturut-turut. Bila tidak ada keberatan yang sah pada warta terakhir, calon terpilih dapat diteguhkan menjadi majelis jemaat sesuai dengan kedudukan masing- masing. Kedelapan, anggota yang tidak hadir dalam pemilihan tidak dapat menolak hasil pilihan. Kesembilan, kebaktian peneguhan penatua atau diaken atau syamas dilaksanakan oleh majelis jemaat dalam kebaktian Minggu dan dilayani oleh pendeta dengan menggunakan formulir yang ditetapkan oleh sinode GPIL.62

Proses Pemilihan Penatua dan Diaken di GPIL Ebenhaezer Pakatan

Proses pemilihan penatua dan diaken yang terjadi di Jemaat Ebenhaezer Pakatan dilakukan sesuai dengan tata dasar dan tata rumah tangga GPIL. Dalam tata dasar dan tata rumah tangga GPIL, terdapat sembilan tahapan mengenai proses pemilihan tersebut.63 Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber didapati bahwa dari sembilan tahapan

60 Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL.

61 Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL.

62 Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GPIL.

63 Penjelasan terdapat dalam pendahuluan, paragraf ke 2, hal ke 3.

(16)

16

yang ada, tidak dijelaskan secara keseluruhan, hanya beberapa tahapan saja. Tahapan- tahapan inilah yang kemudian pada setiap proses pemilihan penatua dan diaken selalu dilakukan. Seperti sebuah tradisi empat tahun sekali.64

Langkah awal yang dilakukan sebelum masuk dalam tahapan-tahapan pemilihan adalah pembentukan panitia pemilihan. Panitia yang dibentuk terdiri dari anggota jemaat termasuk di dalamnya tua-tua jemaat (orang yang dituakan dalam jemaat). Panitia dapat menetapkan aturan-aturan tambahan tetapi tidak boleh menyimpang dari tata dasar dan tata rumah tangga GPIL. Seperti calon penatua dan diaken tidak boleh memiliki pekerjaan atau menetap di daerah yang jauh dari wilayah pelayanan jemaat Ebenhaezer Pakatan.65 Beberapa minggu sebelum pencalonan, panitia melakukan sosialisasi terkait proses pemilihan, syarat-syarat dan tugas menjadi seorang penatua dan diaken. Selain itu, panitia menghimbau kepada anggota jemaat yang akan mencalonkan agar mempersiapkan diri dengan baik.66

Pemilihan penatua dan diaken dimulai dengan menetapkan jumlah yang akan diteguhkan dan memasukan nama calon.67 Menurut Bapak Hidan ini adalah tahapan pencalonan.68 Tahapan ini berlangsung selama dua minggu berturut-turut. Setelah dua Minggu berakhir, nama-nama bakal calon yang terdaftar diumumkan kepada jemaat.69 Jika terdapat bakal calon yang keberatan maka dapat memberikan surat pernyataan pengunduran diri sebagai calon peserta dan menyampaikan alasan pengunduran diri tersebut kepada jemaat. Jika anggota jemaat bakal calon bersedia maka akan melanjutkan pada proses yang selanjutnya. Setelah dua minggu kemudian nama-nama calon penatua dan diaken yang telah bersedia akan lanjut pada proses pemilihan.70

Pemilihan dilakukan menggunakan kertas dan menulis nama calon yang dipilih.

Calon yang terpilih adalah calon yang memiliki suara terbanyak. Selama dua Minggu nama-nama calon yang terpilih disampaikan kepada jemaat. Jika tidak ada anggota jemaat yang keberatan terhadap calon yang terpilih maka akan dilakukan peneguhan. Dua minggu

64 Wawancara dengan I. L dan H. Y. L, 15 Januari 2022, H. R, 18 Januari 2022, E. P dan F. H. M, 19 Januari 2022, S. N, 20 Januari 2022.

65 Wawancara dengan H. R, 18 Januari 2022.

66 Wawancara dengan E. P, 19 Januari 2022.

67 Wawancara dengan I. L, 15 Januari 2022.

68 Wawancara dengan H. Y. L, 15 Januari 2022.

69 Wawancara dengan H. R, 18 Januari 2022.

70 Wawancara dengan I. L dan H. Y. L, 15 Januari 2022, H. R, 18 Januari 2022, E. P dan F. H. M, 19 Januari 2022, S. N, 20 Januari 2022.

(17)

17

setelah itu, calon yang terpilih diteguhkan menjadi penatua dan diaken Jemaat Ebenhaezer Pakatan yang dilayani oleh Pendeta.71

(Bagan yang dibuat oleh penulis untuk menggambarkan perbedaan proses pemilihan

penatua dan diaken sesuai tata dasar dan tata rumah tangga dengan yang terjadi di Jemaat Ebenhaezer Pakatan )

Pemahaman Majelis Jemaat terhadap Proses Pemilihan Penatua dan Diaken

71 Wawancara dengan I. L dan H. Y. L, 15 Januari 2022, H. R, 18 Januari 2022, E. P dan F. H. M, 19 Januari 2022, S. N, 20 Januari 2022.

(18)

18

Penatua dan diaken adalah jabatan gerejawi. Oleh karena jabatan tersebut maka prosedur dan persyaratan dalam pemilihannya harus diatur dalam aturan gereja yang bersangkutan dalam hal ini GPIL. Setiap jabatan ini mempunya tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Oleh karena itu, proses pemilihan yang dilakukan bukan hanya sekedar mengikuti proses pemilihan dan dipilih akan tetapi lebih daripada itu ada tugas dan tanggung jawab yang harus dipahami dan dilaksanakan.72

Berdasarkan hasil wawancara, pemilihan penatua dan diaken Jemaat Ebenhaezer Pakatan dilakukan sesuai dengan tata dasar dan tata rumah tangga GPIL. Proses pemilihan ini juga dilakukan bebas, jujur dan rahasia seperti demokrasi.73 Dalam pemahaman narasumber, tata dasar dan tata rumah tangga adalah acuan dalam menjalankan tugas pelayanan. Semua pelayanan yang dilakukan tidak boleh keluar dari tata dasar dan tata rumah tangga itu sendiri.74 Tata dasar adalah kunci dari sebuah organisasi karena semua hal diatur di dalam tata dasar dan tata rumah tangga yang berisi aturan yang harus dilakukan sebagai bagian dari GPIL termasuk proses pemilihan majelis jemaat.75

Berdasarkan hasil wawancara beberapa majelis menyampaikan bahwa sosialisasi terkait tata dasar dan tata rumah tangga, secara khusus proses pemilihan tidak dilakukan, sehingga majelis dan jemaat tidak mengetahui tahapan-tahapan proses pemilihan secara terperinci. Hal ini bisa berdampak pada ketidaksesuaian dengan tata dasar dan tata rumah tangga karena tahapan-tahapan tersebut tidak dilakukan secara bertahap. Kecenderungan lainnya jika tidak diadakan sosialisasi adalah majelis atau jemaat tidak memahami dengan lengkap bagaimana proses pemilihan dilakukan.76

Seperti yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya bahwa kurangnya sosialisasi tata dasar dan tata rumah mengakibatkan kurangnya pemahaman jemaat terkait proses pemilihan ini mengakibatkan ada tahapan yang tidak dijalankan. Dari sembilan tahapan pemilihan yang ada dalam tata gereja terdapat satu tahapan yang tidak dilakukan yaitu tahap ketiga tentang mengunjungi calon, meminta kesediaan dan mempersiapkan untuk tugas panggilan sebagai penatua dan diaken.77

72 Wawancara dengan L. L, 17 Januari 2022.

73 Wawancara dengan F. H. M, 19 Januari 2022.

74 Wawancara dengan H. Y. L, 15 Januari 2022, H. R, 18 Januari 2022, F. H. M, 19 Januari 2022.

75 Wawancara dengan F. H. M, 19 Januari 2022.

76 Wawancara dengan H. R, 18 Januari 2022, F. H. M, 19 Januari 2022, S. N, 20 Januari 2022.

77 Wawancara dengan I. L dan H. Y. L, 15 Januari 2022, H. R, 18 Januari 2022, E. P dan F. H. M, 19 Januari 2022, S. N, 20 Januari 2022.

(19)

19

Tahapan ketiga ini berisi perkunjungan untuk menyampaikan bahwa jemaat tersebut dicalonkan sebagai penatua atau diaken. Jemaat yang dicalonkan menyadari dengan sungguh dan diharapkan mampu untuk melaksanakan panggilan pelayanan tersebut. Setelah itu menanyakan kepada jemaat tersebut bersedia atau tidak untuk dicalonkan. Selanjutnya, ketika semua calon sudah bersedia untuk dicalonkan maka akan dilakukan pembinaan untuk mempersiapkan mereka dalam mengemban tugas pelayanan sebagai penatua atau diaken.78

Tahapan ini tidak dilakukan karena beberapa alasan. Pertama, perkunjungan tidak dilakukan karena calon-calon sudah bersedia dan siap untuk menerima tugas panggilan pelayanan sebagai penatua dan diaken. Kedua, perkunjungan itu dilakukan jika calon mengeluarkan surat pengunduran diri. Ketiga, perkunjungan terkesan mencari-cari kesalahan, menimbulkan ketersinggungan dan terkesan meragukan kemampuan jemaat.

Keempat, perkunjungan tidak dilakukan karena anggota jemaat tidak mengetahui aturan yang ada terkait proses pemilihan.79

Tahapan yang tidak dilakukan ini dapat mengakibatkan beberapa hal. Pertama, pengunduran diri sebelum pencalonan dan setelah terpilih. Kedua, pelayan tidak maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai penatua dan diaken. Ketiga, kurangnya kesadaran dan pemahaman jemaat terkait syarat-syarat penatua dan diaken.

Narasumber mengatakan bahwa ketiga hal ini terjadi di dalam jemaat dan menjadi sebuah persoalan yang perlu untuk mendapatkan perhatian.80

Pengunduran diri sebelum pencalonan dan setelah terpilih terjadi karena menurut Jemaat Ebenhaezer Pakatan memiliki pemahaman bahwa untuk menjadi seorang pelayan secara khusus penatua dan diaken mempunyai tanggung jawab yang berat sehingga dibutuhkan orang-orang yang kompeten. Selain itu mereka tidak bersedia karena merasa tidak layak atau tidak pantas menjadi seorang penatua dan diaken. Faktor lain sehingga penatua dan diaken mengundurkan diri adalah faktor usia lanjut, kesehatan yang menurun, pekerjaan, ikut suami dan karena perselisihan diantara majelis jemaat.81

Kecenderungan lainnya adalah penatua dan diaken tidak maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab pelayanannya. Dari hasil wawancara, penatua dan

78 Wawancara dengan L. L, 17 Januari 2022.

79 Wawancara dengan I. L dan H. Y. L, 15 Januari 2022, H. R, 18 Januari 2022, E. P dan F. H. M, 19 Januari 2022, S. N, 20 Januari 2022.

80 Wawancara dengan H. R, 18 Januari 2022.

81 Wawancara dengan I. L dan H. Y. L, 15 Januari 2022, E. P, 19 Januari 2022.

(20)

20

diaken beberapa kali menolak dan membatalkan pelayanan secara mendadak. Mereka memiliki pemahaman bahwa tanggung jawab penatua dan diaken hanya sebatas memimpin khotbah pada ibadah kelompok dan melakukan perkunjungan. Akan tetapi, didapati bahwa perkunjungan pun tidak dijalankan secara rutin dan tidak merata hanya kepada orang-orang tertentu saja. Selain itu, beberapa penatua dan diaken cenderung tidak profesional dalam menjalankan tanggung jawab pelayanannya. Seperti penatua dan diaken tidak melakukan pelayan kepada jemaat yang memiliki masalah pribadi dengannya.82 Selain itu, berdasarkan hasil wawancara, didapati juga bahwa penatua dan diaken tidak diberikan pembinaan atau pembekalan secara mendalam terkait tugas dan tanggung jawab pelayan yang akan dijalankannya selama menjabat sebagai seorang majelis jemaat.83

Terakhir, dampak dari tidak dilakukannya tahapan ini adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran anggota jemaat terkait syarat-syarat menjadi seorang penatua dan diaken. Hal ini mengakibatkan beberapa anggota jemaat mencalonkan diri dan terpilih menjadi penatua dan diaken padahal sedang mendapat siasat gerejawi.84 Selain itu, berpengaruh terhadap etika seorang majelis dalam bertutur kata, bertindak dan berpenampilan.85

Analisis

Kajian Teologis terhadap Pemahaman Majelis Jemaat mengenai Proses Pemilihan Majelis jemaat memiliki pemahaman bahwa penatua dan diaken adalah pejabat gerejawi. Mereka yang menduduki kedua jabatan ini adalah orang-orang khusus yang terpilih untuk menjalankan tugas pelayanan. Kedua jabatan ini memiliki peranan penting dalam menjalankan misi kerajaan Allah kepada Gereja-Nya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Calvin dalam teorinya yang berkaitan dengan penatua dan diaken. Bagi Calvin, gereja membutuhkan penatua dan diaken untuk melayani jemaat, memberitakan Injil, melakukan pengajaran melalui khotbah dan penggembalaan, memelihara orang miskin serta menjaga kesatuan dalam gereja. Inilah juga yang dipahami oleh majelis jemaat terkait kedua jabatan tersebut.

82 Wawancara dengan H. R, 18 Januari 2022, S. N, 20 Januari 2022.

83 Wawancara dengan I. L dan H. Y. L, 15 Januari 2022, H. R, 18 Januari 2022, E. P dan F. H. M, 19 Januari 2022, S. N, 20 Januari 2022.

84 Wawancara dengan H. R, 18 Januari 2022.

85 Wawancara dengan H. R, 18 Januari 2022, F. H. M, 19 Januari 2022.

(21)

21

Bagi majelis, proses pemilihan penatua dan diaken harus dilakukan sungguh- sungguh dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Aturan tersebut terdapat dalam tata dasar dan tata rumah tangga GPIL, mulai dari proses pencalonan sampai pada peneguhan menjadi penatua dan diaken. Aturan ini dipersiapkan agar proses pemilihan tersebut berjalan dengan baik dan teratur. Hal ini bertujuan agar mereka yang terpilih adalah orang-orang yang tepat untuk menjalankan tugas pelayanan tersebut. Sejalan dengan pemikiran Calvin terkait proses pemilihan pejabat gerejawi yang harus berlangsung dengan sopan dan teratur.86 Dengan demikian, mereka yang terpilih sebagai pelayan merasakan keterpanggilan mereka, bersedia memikul salib dan melaksanakan semua tugas pelayanan yang diberikan kepadanya.

Dari sembilan tahapan yang terdapat dalam tata dasar dan tata rumah tangga terkait proses pemilihan penatua dan diaken, majelis jemaat hanya dapat menyebutkan sebagian saja. Berarti ada ketidaksesuaian antara pengetahuan dan pemahaman majelis selama ini dengan aturan yang tercantum dalam tata dasar dan tata rumah tangga. Penulis juga melihat ada perbedaan pandangan terkait tahapan-tahapan pemilihan yang ada dalam tata dasar dan tata rumah tangga. Hal ini dikarenakan sebagian besar dari majelis jemaat tidak memahami tata dasar dan tata rumah tangga tersebut. Selain itu, tidak ada penjelasan lebih lanjut dalam tata dasar dan tata rumah tangga GPIL terkait proses pemilihan penatua dan diaken sehingga mengakibatkan penafsiran yang berbeda-beda terhadap setiap tahapan. Dengan demikian, proses pemilihan penatua dan diaken tidak diketahui dan dipahami secara lengkap.

Majelis jemaat mengatakan bahwa tata dasar dan tata rumah tangga merupakan aturan, landasan atau acuan untuk menjalankan tugas. Akan tetapi, sebagian besar majelis jemaat tidak memiliki tata dasar dan tata rumah tangga itu sendiri. Ada dua pernyataan yang kontradiktif dari penjelasan yang disampaikan oleh majelis jemaat dengan keadaan nyata yang terjadi. Jika tata dasar dan tata rumah tangga itu diyakini sebagai aturan, seharusnya setiap majelis jemaat memiliki aturan tersebut. Ketika aturan tersebut tidak disediakan oleh sinode dan klasis, seharusnya setiap majelis jemaat mempunyai inisiatif untuk mencari tata dasar dan tata rumah tangga tersebut. Tata dasar dan tata rumah tangga ini sangatlah penting untuk dimiliki karena tidak hanya berisi soal proses pemilihan penatua dan diaken tetapi di dalamnya juga terdapat tugas-tugas, syarat-syarat dan lain sebagainya yang mengatur kehidupan berjemaat.

86 Calvin, Institutio…, 245.

(22)

22

Kajian Teologis terhadap Praktik Pemilihan Penatua dan Diaken

Dalam pengangkatan dan peneguhan para pelayan gereja, Calvin mengutarakan empat hal yang perlu untuk diperhatikan. Pertama, sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pelayan. Kedua, bagaimana cara mengangkat pelayan. Ketiga, oleh siapa seharusnya mereka diangkat. Keempat, cara dan upacara pelantikan pelayan tersebut. Teori ini yang kemudian diturunkan oleh GPIL dalam tata dasar dan tata rumah tangga, mulai dari tugas- tugas, syarat-syarat sampai pada proses pemilihan dan peneguhan.

Bagian pertama berkaitan dengan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pelayan. Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh anggota jemaat untuk menjadi penatua dan diaken sudah tercantum dalam tata dasar dan tata rumah tangga GPIL Bab III pasal 8 ayat 6. Sifat juga menjadi salah satu syarat atau kriteria yang harus dipenuhi agar dapat mengikuti proses pemilihan tersebut.

Akan tetapi, dalam pelaksanaannya di Jemaat Ebenhaezer Pakatan masih ada penatua dan diaken yang dipilih tidak memenuhi beberapa kriteria yang telah ditetapkan.

Tidak dipenuhinya kriteria tersebut dengan berbagai pertimbangan misalnya orang tersebut mempunyai pelayanan yang baik, mempunyai status sosial di masyarakat dan terakhir karena pengaruh suku.87 Hal ini berdampak pada bergesernya pemahaman jemaat terhadap kesakralan kedua jabatan gerejawi tersebut. Anggota jemaat dapat menjadi seorang penatua dan diaken jika keluarganya berantakan, berselingkuh dan lain sebagainya. Pemahaman ini kemudian mencederai wibawa seorang penatua dan diaken. Hal ini tidak sesuai dengan teori Calvin mengenai syarat atau kriteria untuk menjadi seorang penatua dan diaken.

Didasarkan pada kitab 1 Timotius 3:1-7, Calvin mengutarakan bahwa penatua dan diaken adalah mereka yang memiliki ajaran sehat, mempunyai hidup yang suci serta dapat menjaga wibawanya dalam kehidupan berjemaat sehingga tidak mencederai jabatan gerejawi tersebut.

Pada tahapan kedua proses pemilihan penatua dan diaken di Jemaat Pakatan jemaat secara bersama-sama mendoakan rencana pemilihan tersebut. Hal ini sejalan dengan teori pemilihan pelayan yang disampaikan oleh Calvin. Bagi Calvin proses pemilihan para pelayan gereja menekankan pada makna religiusnya sehingga harus dilakukan dengan sangat hormat dan hati-hati serta doa dan puasa. Penulis melihat bahwa dalam pelaksanaannya Jemaat Pakatan juga menyadari bahwa jemaat dalam menentukan pilihan-

87 Hasil Wawancara dengan I. L dan N. N, 15 Januari 2022.

(23)

23

pilihan mereka sangatlah terbatas. Selain itu jemaat juga menyadari betapa pentingnya proses pemilihan tersebut. Oleh karena itu, dalam keterbatasan tersebut jemaat meminta penyertaan, hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan.

Semua anggota jemaat berhak untuk dipilih dan memilih. Anggota jemaat yang memilih adalah mereka yang sudah menyatakan kedewasaan imannya dihadapan Tuhan dan jemaat atau sudah di sidi. Jika dilihat, tahapan yang dilakukan ini sesuai dengan penjelasan Calvin bahwa pemilihan seorang pelayan ditunjuk oleh umat berdasarkan mufakat dan persetujuan banyak orang.

Pada bagian akhir dari seluruh rangkaian proses pemilihan penatua dan diaken akan ada penabisan bagi anggota jemaat yang terpilih. Ini menunjukan bahwa Yesus Kristus telah memilih mereka dan memberikan karunia secara khusus untuk memegang tanggung jawab pelayanan tersebut. Pentahbisan seorang pelayan memiliki makna bahwa pelayan tersebut bertanggung jawab untuk menunjukan ketergantungan fundamental gereja kepada Yesus Kristus. Pelayan yang telah ditahbiskan juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kesatuan gereja. Bagian terakhir adalah setiap pelayan yang ditahbiskan punya otoritas untuk membangun jemaat dan menjadi pemimpin yang penuh kasih kepada umat yang beriman. Dengan demikian, mereka yang ditahbiskan mempunyai peran untuk mewartakan Injil, pemimpin persekutuan, guru-guru dan gembala.

Dari hasil penelitian, penulis juga menemukan ada dua pernyataan kontradiktif yang perlu untuk ditinjau lebih dalam. Majelis mengatakan bahwa proses pemilihan penatua dan diaken selama ini dilakukan sesuai dengan proses pemilihan yang tetapkan dalam tata dasar dan tata rumah tangga GPIL. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya menunjukan bahwa proses pemilihan dilakukan hanya sebagai rutinitas setiap empat tahun sekali yang diyakini sesuai dengan tata dasar dan tata rumah tangga. Tanpa disadari ternyata proses yang selama ini dilakukan tidak sesuai aturan. Ada tahapan yang dilewatkan yaitu tahapan ketiga. Tahapan ini berisi perkunjungan, meminta kesediaan dan mempersiapkan untuk tugas panggilan sebagai seorang pelayan.

Jika ditelusuri lebih dalam, tahapan yang tidak dijalankan ini memberikan pengaruh yang besar terhadap pelayanan yang akan dilakukan oleh penatua dan diaken. Ketika dijalankan calon penatua dan diaken akan dipersiapkan untuk menjalankan tugasnya. Akan tetapi karena tidak dilakukan, memberikan dampak negatif terhadap kesiapan dan pelayanan yang dilakukan. Hal ini dapat dibuktikan dari periode 2002-2012 sampai periode 2017-2022 di setiap periodenya terdapat anggota majelis yang mengundurkan diri. Selain

(24)

24

itu, banyak tugas-tugas pelayanan yang dilakukan tidak maksimal. Ini menunjukan seolah- olah majelis tidak memaknai dengan sungguh jabatan yang mereka terima.

Pemaknaan terkait jabatan sebagai seorang penatua dan diaken perlu dimaknai dengan sungguh oleh semua majelis jemaat yang terpilih. Mencalonkan diri atau dicalonkan sebagai penatua dan diaken bukan hanya sekedar untuk mencari status sosial dalam jemaat atau karena ada kepentingan individu dan kelompok yang ada di dalamnya.

Tidak hanya menekankan pada bentuk pemilihannya tetapi kesakralan dari seluruh rangkaian proses pemilihan tersebut. Ada makna lebih dalam yaitu menyadari panggilan Tuhan untuk setiap orang yang dipilih-Nya sehingga mereka yang terpilih dapat mengikuti setiap proses pemilihan tersebut dengan penuh hikmat. Hal ini sesuai dengan penjelasan Calvin bahwa Tuhan dengan kehendak mutlaknya memilih seseorang untuk menerima keselamatan, dipilih untuk menjadi wakil dan alat perpanjangan tangan Tuhan kepada umat-Nya. Dengan demikian, mereka yang terpilih memiliki tanggung jawab iman kepada Tuhan dan kepada umat-Nya. Selain itu, dengan jabatan tersebut mereka yang terpilih dituntut agar mengesampingkan kepentingan diri sendiri bahkan memberikan diri untuk melayani orang lain.

Dari hasil penelitian ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan sehingga proses pemilihan tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Pertama, karena calon-calon sudah bersedia dan siap untuk menerima tugas panggilan pelayanan. Kedua, perkunjungan itu dilakukan jika calon mengeluarkan surat pengunduran diri. Ketiga, perkunjungan terkesan mencari-cari kesalahan, menimbulkan ketersinggungan dan terkesan meragukan kemampuan jemaat. Terakhir, karena anggota jemaat tidak mengetahui aturan yang ada terkait proses pemilihan. Faktor utamanya adalah karena anggota jemaat tidak pernah membaca tata dasar dan tata rumah tangga GPIL terkait proses pemilihan penatua dan diaken. Selain itu, sosialisasi terkait proses pemilihan hanya dilakukan satu kali saja. Hal inilah yang kemudian berdampak pada kurangnya pengetahuan dan pemahaman anggota jemaat terkait proses tersebut sehingga menimbulkan perbedaan penafsiran terhadap tahapan yang tidak dijalankan tersebut. Sosialisasi terkait proses pemilihan seharusnya dilakukan rutin sehingga semua anggota jemaat dapat mengetahui dan memahami setiap proses yang ada.

Kesimpulan

Jabatan gerejawi seperti penatua dan diaken harus dimaknai dengan sungguh oleh setiap anggota jemaat terlebih lagi majelis jemaat. Mengemban kedua jabatan tersebut

(25)

25

bukan semata-mata untuk mencari status sosial atau kepentingan pribadi dan kelompok.

Akan tetapi, ada tanggung jawab moral dan iman yang harus dikerjakan kepada Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, dalam menjalankan proses pemilihannya harus dilakukan dengan teratur, teliti dan hormat seperti dilakukan doa dan puasa.

Proses pemilihan penatua dan diaken yang terjadi di Jemaat Ebenhaezer Pakatan tidak mengikuti semua tahapan yang tertera dalam tata dasar dan tata rumah tangga GPIL.

Ada tahapan yang tidak dilakukan yaitu tahapan ketiga. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan, pemahaman dan pemaknaan terhadap proses pemilihan penatua dan diaken sehingga memberikan pengaruh terhadap proses pemilihan, pelayanan yang tidak dijalankan dengan maksimal dan bertanggung jawab oleh penatua dan diaken. Selain itu, jemaat juga kurang memiliki pemahaman dan kesadaran terkait syarat-syarat penatua dan diaken.

Jemaat harus memiliki pengetahuan, pemahaman serta pemaknaan yang benar dan sungguh-sungguh terkait proses pemilihan penatua dan diaken. Dengan demikian, proses pemilihan dilakukan dengan teratur dan sungguh-sungguh. Tidak hanya berbicara mengenai ritual pemilihan tetapi berbicara juga mengenai makna dari proses pemilihan tersebut bahwa mereka adalah orang-orang terpilih untuk melayani Tuhan dan umat-Nya.

Saran

Jemaat harus menyadari dan memaknai betapa penting dan sakralnya proses pemilihan penatua dan diaken. Dalam praktiknya, harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh GPIL dalam tata dasar dan tata rumah tangga. Selain itu, setiap anggota jemaat, tidak hanya ditekankan kepada majelis jemaat harus memiliki tata dasar dan tata rumah tangga. Dengan demikian, setiap anggota jemaat dapat mengetahui aturan-aturan yang menjadi dasar kehidupan berjemaat yang ada di GPIL secara khusus. Pendistribusian tata dasar dan tata rumah tangga bisa dilakukan dengan memanfaatkan media komunikasi yang semakin berkembang ini misalkan melalui WhatsApp.

Saran kepada sinode, tata dasar dan tata rumah tangga seharusnya diberikan penjelasan lebih lanjut untuk setiap poin-poin yang ada di dalamnya. Hal ini dapat meminimalisir perbedaan pandangan dalam menafsirkan setiap poin-poin yang ada di dalam tata dasar dan tata rumah tangga tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Peneguhan Diaken dan Penatua terpilih dilaksanakan dalam Ibadah Hari Minggu di Jemaat dan dilayani oleh Pelayan Firman dan Sakramen GPIB yang diberikan wewenang oleh Majelis

Anggota Jemaat status Sidi dapat mengambil bagian dalam memilih pelayan-pelayan Tuhan yang terpanggil dengan mendoakan dan mengisi link aplikasi Pemilihan Calon Penatua

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Apriyani dkk (2017) menyatakan bahwa model pembelajaran PBL dapat membuat siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembe lajaran

Melalui sinergi antara pejabat gerejawi, yaitu penatua dan diaken, dan pemimpin dari warga jemaat biasa, yaitu ketua kelompok, pelayanan jemaat menjadi sebuah shared

Mengingat bahwa akan dilaksanakan Peneguhan Diaken-Penatua GPIB Jemaat Bukit Benuas periode 2017-2022 yang akan dilanjutkan dengan Sidang Majelis Jemaat Khusus Pemilihan PHMJ

Peneguhan Diaken dan Penatua terpilih dilaksanakan oleh Pelayan Firman dan Sakramen GPIB yang diberikan wewenang oleh Majelis Sinode GPIB dalam Ibadah Hari Minggu

Persyaratan untuk menjadi seorang penatua atau diaken mungkin tampak merupakan pemikiran yang sangat jauh, tetapi semua persyaratan itu membuat orang yang lebih tua, yang

Hal ini sudah dilakukan oleh Mansar kepada warga jemaat yang pada saat itu memerlukan hadirnya sebuah gereja di tengah-tengah kampung Babrinbo agar mereka tidak perlu jauh-jauh untuk