Tahun 3 Buku 4
Buku Pegangan Guru
R E M A J A
Berjaga-jaga dan Berdoa
April/Mei/Juni)
Berjaga-jaga dan berdoa!
Sungguh sebuah gagasan yang luar biasa!
Kita perlu memulai setiap hari dengan memohon Allah
menolong kita untuk melihat taktik tipu muslihat Iblis,
sekaligus dapat melihat jelas akibat-akibat dari dosa.
Kita perlu memohon Allah untuk membuat kita peka
terhadap dosa dan membencinya,
sehingga akan menemukan jalan untuk menjauhinya.
Mohonlah pertolongan dari Allah pada saat-saat pencobaan!
“Berjaga-jagalah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan;
roh memang penurut, tetapi daging lemah.”
(Matius 26:41)
Diterbitkan oleh Majelis Pusat
Gereja Yesus Sejati Indonesia
Tahun 3 Buku 4
Buku Pegangan Guru
R E M A J A
Judul
Surat-Surat Paulus
Surat-Surat Paulus
Surat-surat Paulus memainkan peranan yang sangat penting dalam menguatkan iman dari banyak gereja dan jemaat mula-mula. Ketiga belas surat ini dapat dibagi menjadi tiga kategori:
A. Enam surat perjalanan penginjilan
Surat Galatia (perjalanan penginjilan yang
pertama, tahun 40-49 M); surat 1 dan 2 Tesalonika (perjalanan penginjilan yang kedua, tahun 50-59 M); surat 1 dan 2 Korintus, surat Roma (perjalanan penginjilan yang ketiga, tahun 50-59 M) B. Empat surat penjara (ditulis di Roma, tahun 60-62 M) Surat Efesus Surat Filipi Surat Kolose Surat Filemon C. Tiga surat penggembalaan
Surat 1 Timotius (ditulis di Makedonia, tahun
63-Surat 2 Timotius (ditulis di Roma, tahun 67 M) Surat Titus (ditulis di Makedonia, tahun 63-66 M)
Di Alkitab, surat-surat itu tidaklah disusun menurut aturan kronologis, tetapi menurut panjang suratnya. Surat yang lebih panjang ditujukan kepada gereja-gereja dan yang lebih pendek ditujukan kepada perorangan. Surat-surat awal Paulus ditulis kira-kira 25 tahun setelah kematian Tuhan Yesus, sementara surat-surat terakhir Paulus mungkin ditulis sebelum penulisan keempat kitab Injil.
Profil pribadi:
Paulus adalah seorang rasul bagi bangsa-bangsa non-Yahudi. Dikenal pula dengan Saulus, nama Yahudinya. Keluarga Paulus dan dirinya berasal dari suku Benyamin, tetapi setelah bertobat, dia dikenal dengan nama Paulus.
Tempat tinggal:
Paulus tinggal di Antiokhia, Siria (Kis. 13:1), tetapi menempuh perjalanan ke seluruh
menetap paling lama di Korintus dan Efesus.
Pekerjaan:
Pekerjaan Paulus adalah tukang kemah (Kis. 18:1-3) Pengalaman perubahan hidup: Melihat sebuah penglihatan di jalan menuju Damsyik, yang membawanya kepada pertobatan dan dipanggil menjadi seorang rasul (Kis. 9:1-32; Gal. 1:1-24).
Pada mulanya, Paulus memandang dirinya sebagai seorang pemimpin Kristen yang penting, tetapi kemudian, memandang dirinya sebagai seorang “yang
paling hina dari semua rasul” (1 Kor. 15:9).
Lalu, Paulus menyadari bahwa “di dalam aku
sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik” (Rm. 7:18) dan dirinya
adalah seorang “yang
paling hina di antara segala orang kudus” (Ef. 3:8). Akhirnya, Paulus
menempatkan dirinya sebagai seorang “yang
paling berdosa” (1 Tim. 1:15).
Daftar Isi
Selamat Datang di Kurikulum Remaja i-ii Memahami
Para Remaja Anda iii Beberapa Keinginan Para Remaja (1-2) iv-v Bagaimana Saya
Berkomunikasi Secara Tepat Guna kepada Murid-Murid? vi Membangun
Persahabatan Bersama dengan Murid-Murid vii Bagaimana Membuat Murid-Murid Tetap Termotivasi
dan Tertarik? viii Lomba Ayat Hafalan dan Bacaan Kitab
untuk Minggu ini ix Ayat Hafalan untuk Kwartal ini x-xi
Surat-Surat Paulus
Sasaran dan Renungan Bagi Para Guru xiii
1. Surat Roma 1 2. Surat 1 Korintus 11 3. Surat 2 Korintus 25 4 Surat Galatia 37 5. Surat Efesus 45 6. Surat Filipi 61 7. Surat Kolose 69 8. Surat 1 Tesalonika 79 9. Surat 2 Tesalonika 89 10. Surat 1 Timotius 99 11. Surat 2 Timotius 107
12. Surat Titus dan Filemon 115 13. Ulasan 123
Selamat Datang di Kurikulum Remaja
Buku ini telah dirancang untuk membantu para Guru Pendidikan Agama untuk merencanakan dan menjadikan suasana belajar dan mengajar menjadi lebih terarah kepada murid-murid.Karena pengaruh firman Allah yang dahsyat, para Guru Pendidikan Agama memohon agar dapat menyaksikan sendiri setiap langkah perubahan dari murid-murid dalam memahami dan menerapkan Alkitab di dalam kehidupan mereka. Di sini, Anda akan menemukan berbagai bahan yang diperlukan untuk mengajar kebenaran firman Allah yang tidak berubah selamanya.
Kurikulum ini
meliputi:
Judul Pelajaran
Ringkasan dari
Lima Kitab Taurat
Bacaan Kitab
Mat. 24-25; 22:31-32; Yoh. 5:39; Kel. 20-23; Im. 17-26;
Ul. 5:12-26
Sasaran Pelajaran
1. Memahami pentingnya mempelajari Perjanjian Lama dan mengenal pengajaran utama dari Lima Kitab Taurat
2. Menjadi termotivasi untuk mempelajari Alkitab dan beroleh pemahaman bagaimana menjalankan hidup mereka
Ayat Alkitab
Karena Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Mat. 5:18)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini
Kejadian 1-10
Semua pelajaran ini didasarkan pada:
(Tidak tertera di dalam Buku Aktivitas Murid)
Latar Belakang Alkitab
Sumber tambahan yang berkaitan dengan pelajaran untuk diketahui bagi para guru dan murid.
Pemanasan
Sesuatu yang menawan perhatian murid-murid, agar mereka dapat memulainya.
Pemahaman Alkitab
Bimbinglah murid-murid di dalam menemukan kebenaran firman Allah yang tidak berubah selamanyamelalui penerapan pemahaman Alkitab di dalam kehidupan nyata.
(Lembar Kerja Murid hanya dalam bentuk yang sederhana)
Menguji Pemahaman
Ujilah pemahaman keseluruhan dari murid murid. Anda dapat melakukannya dengan berbagai cara yang berbeda. Salah satunya adalah menanyakan suatu pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang mereka telah pelajari.
Penerapan Kehidupan
Bantulah setiap murid untuk menerapkan firman Allah di dalam kehidupan mereka sama seperti Roh Kudus memimpin mereka. Motivasilah murid-murid melakukan tindakan untuk melatih apa yang mereka telah pelajari. Bagaimana mereka melakukan tindakan itu? Kapankah mereka melakukannya?
Renungan dan Doa
Mintalah murid-murid untuk berbagi apa yang mereka masih ingat setelah pelajaran berlangsung dan akhirilah di dalam doa.
Ingatlah!!!
Sasaran dan pengajaran guru ada tertulis pada setiap pendahuluan pelajaran. Bacaan Kitab untuk Minggu ini dan Ayat Hafalan ada tertulis pada setiap pelajaran. Pastikan membacanya sebelum mempersiapkan dan mengajar murid-murid.Memahami Para Remaja
Adalah penting mengajarkan dan memperlengkapi para remaja dengan dasar kekuatan yang kokoh, yaitu iman yang teguh. Sekarang ini, kita bersama dengan angkatan yang sedang mencari jawaban yang benar. Sekalipun mungkin telah mengalami suka maupun duka di dalam kehidupan atau kemerosotan rohani, mereka tetap ingin mengetahui siapa yang membuat suatu perbedaan di dalam dunia ini.
Para remaja yang menjadi percaya kepada Allah akan dianggap tidak masuk akal, karena mereka pun hidup di dunia yang penuh dengan kekerasan terhadap hukum-hukum Allah. Sebagai akibat dari hal ini adalah timbulnya wabah penyakit, kerusaksan lingkungan dan kekerasan rumah tangga. Oleh karena itu, mereka diperhadapkan dengan keputusan-keputusan penting setiap harinya. Apa yang mereka putuskan dapat mempengaruhi nilai-nilai Kehidupan, iman, pendidikan, pilihan dalam berteman, pekerjaan, pernikahan dan kehidupan bergereja. Selain itu, para remaja mungkin berjuang menghadapi tekanan dari teman sebaya, gaya hidup, penyalahgunaan, persoalan keluarga, sebagaimana pula dengan jati diri. Dengan kata lain, mereka diombang-ambingkan oleh perubahan, entahkah secara rohani, perasaan, sosial maupun
Para remaja membutuhkan sesuatu dan seseorang bagi mereka untuk disandari, apapun yang dianggap layak untuk menjadi pegangan hidup mereka. Lalu, tugas kita adalah membimbing para remaja untuk menyaksikan kuasa Allah di dalam dunia yang selalu berubah ini. Sangat mengherankan, para remaja ingin menjadi ‘rohani’. sekalipun seluruh masyarakat berada di sekitar mereka. Oleh karena itu, mereka perlu mendengarkan banyak kesaksian pribadi dan kebenaran Alkitab mengenai bagaimana kasih Allah telah menyentuh kehidupan orang lain serta pengharapan apa saja yang dimiliki, sekalipun kita hidup di dunia yang sering kali tidak berperikemanusiaan. Bagaimana kita dapat meneguhkan iman mereka di dalam Tuhan, yang mengasihi dan peduli kepada mereka lebih daripada siapapun juga?
Beberapa Keinginan Para Remaja (1)
1. Mengasihi dan Diterima
Para remaja memiliki suatu keinginan yang besar untuk diterima oleh teman-teman sebayanya dan memperhatikan apa yang orang lain pikirkan mengenai diri mereka. Mereka kuatir mengenai bagaimana orang lain memperhatikan mereka secara jasmani (penampilan: terlalu tinggi, terlalu pendek, terlalu gemuk, terlalu kurus, pemahaman mengenai seks) dan secara mental (kepandaian: terlalu pandai atau terlalu bodoh). Mereka pun memperhatikan para teman, guru, olahragawan, personal media sebagai contoh bagi diri mereka. Oleh karena itu, cara guru menyatakan iman dan keyakinan akan menjadi saksi yang positif bagi diri mereka.
2. Menjalin hubungan dengan Allah atau Mencari Keyakinan Iman
Pada usia seperti ini, para remaja tidak lagi akan datang ke gereja hanya disebabkan orangtua menyuruh mereka melakukannya. Mereka mulai mengembangkan hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Sekalipun kemampuan berpikir para remaja akan menyebabkan mereka mempertanyakan apa peranan Allah dan Alkitab di dalam kehidupan sehari-hari, tetapi penting bagi Guru Pendidikan Agama senantiasa menantang mereka untuk menyediakan waktu dalam berdoa dan beribadah di luar kelas dan gereja, sehingga dapat membangun iman mereka sendiri. Sasaran kerohanian mereka adalah menemukan makna dan tujuan hidup mereka melalui Yesus Kristus.
3. Merasakan Pengalaman Pribadi Bersama dengan Allah
Dalam kehidupan mereka sampai saat ini, para remaja mungkin masih belum memiliki banyak pengalaman pribadi bersama dengan Allah. Kehidupan ibadah mereka sepertinya telah teratur berjalan dengan menghadiri kebaktian di gereja ataupun di kelas dan berdoa sebelum tidur. Sekalipun keteraturan ini baik, tetapi masih belum cukup. Sekarang, saatnya memotivasi mereka untuk berdoa secara tekun, sehingga dapat menyadari peran Allah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bagikan beberapa kesaksian pribadi yang akan menyentuh hati mereka. Dengan demikian, mereka akan mulai melihat Allah sebagai sahabat, penghibur dan penasihat pribadi bagi diri mereka.
4.
4. Memahami Tujuan Hidup yang Sesungguhnya
Para remaja ingin mengetahui siapa sesungguhnya diri mereka. Pada usia kritis seperti ini, mereka mulai bertan-ya kepada diri sendiri, “Apakah tujuan hidup saya?” dan “Apakah maksud dari semuanya ini?” Seorang remaja perlu memandang diri sendiri sebagai ses-eorang yang berbeda dan yang layak untuk mencapai keberhasilan dari masa transisi menuju masa dewasa. Keya-kinan diri mereka begitu kuat, hingga merasa perlu membuktikan diri sebagai seseorang yang berkemampuan un-tuk itu. Beberapa orangtua tidak ingin membiarkan anak-anak mereka pergi seorang diri hingga menjadi berlebihan, karena merasa kuatir akan adanya an-caman perkembangan diri dari anak-anak mereka. Sebagai akibatnya, para remaja akhirnya memberontak kepada orangtua. Sebagai Guru Pendidikan Agama, kita perlu menunjukkan dukun-gan dan motivasi serta memberikan nasihat yang membantu mereka. Kita
kemampuan untuk membiarkan mer-eka mengetahui kelayakan diri mermer-eka. Para remaja menghormati orangtua dan orang dewasa lainnya secara konsisiten. Ketika mereka membuat keputusan sendiri dan belajar dari kesalahan, hal itu akan membuat mereka menemukan jati dirinya sendiri dan apa yang diyakin-inya. Ketika melakukannya, mereka pun dapat menjadi setia terhadap keyakinan dan nilai-nilai kehidupan mereka.
5. Kemurnian dan Kekudusan
Mungkin karena usia yang masih muda dan kurang begitu berpengalaman di dalam dunia yang nyata ini, para remaja sering kali merasa bahwa mereka da-pat mengatasi segala sesuatunya, bila berusaha dengan cukup keras. “Saya dapat mengatasinya,” demikianlah pikir mereka. “Itu boleh saja terjadi kepada diri mereka, tetapi tidak akan terjadi ke-pada diri saya!” Di satu sisi adalah positif memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Bagaimanapun, ketika menghadapi banyak perncobaan yang sesungguh-nya, mereka mungkin belum siap untuk menghadapi semuanya dengan ‘kepala dingin’. Sekalipun tidak perlu memberi-tahukan mereka dengan cerita-cerita dari banyak orang yang telah gagal un-tuk tetap murni dan kudus, kita tetap perlu membiarkan mereka memahami kenyataan dan kesulitan-kesulitan itu. Tantanglah mereka untuk berpikir men-genai apa yang penting bagi diri mereka dan motivasilah agar tetap teguh kepada apa yang mereka yakini.
Bagaimana Saya Berkomunikasi
Secara Tepat Guna kepada Murid-Murid?
1. Sambutlah setiap murid pada tiap-tiap bagian pelajaran
Sambutan yang bersahabat dan yang ramah menyatakan perhatian yang sepenuhnya. Ungkapan seperti “bagaimana keadaan kamu?” dapat menyatakan perhatian yang tulus. Ungkapan seperti “luar biasa bertemu dengan kamu!” dapat mengubah hari-hari dari seseorang. Sambutan kita hanya memerlukan waktu sekitar 30-40 detik, tetapi murid-murid akan begitu merasakan bahwa kita benar-benar peduli kepada mereka.
2. Kirimlah sebuah kartu/email atauhubungilah melalui telepon untuk menge-tahui seseorang sedang melakukan hal apa
Dengan mengatakan, “Saya takjub bagaimana kamu dapat melakukannya”, akan membuat suatu perbedaan yang menonjol di dalam kehidupan seseorang. Sekalipun perbuatan ini hanya memerlukan waktu 4-5 menit dan harga yang tidak seberapa dari selembar kartu, tetapi akan membuat hari-hari para remaja bersemangat kembali.
3. Undanglah setiap murid ke ru- mah dalam acara persekutuan atau kejadian istimewa lainnya
Kenangan terindah kita dari melayani Tuhan dihasilkan melalui persekutuan atau kejadian istimewa lainnya. Setiap persekutuan akan memberikan suatu kesempatan yang baru untuk menunjukkan rasa simpati dan empati kepada seseorang.
4. Berdoalah bersama dengan mereka
Para remaja perlu mengetahui bahwa para guru ternyata mendoakan mereka dengan tekun. Sekalipun mereka mungkin begitu sibuk dengan aktivitas belajar, kita hendaknya senantiasa mengingatkan bahwa berdoa bersama pada saat-saat tertentu itu merupakan satu-satunya cara untuk memohon hikmat dan kekuatan dari Allah.
Pada abad 21 ini, hampir semua remaja berkomunikasi melalui email setiap harinya. Dengan bantuan internet, banyak orang menemukan cara yang luar biasa untuk tetap dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar mereka yang tidak dapat berbicara langsung dan dengan orang-orang yang tinggalnya berjauhan.
Sebagai Guru Pendidikan Agama, penggunaan email untuk menjangkau murid-murid merupakan cara yang indah di dalam membangun persahabatan.
Sejak mengetahui murid-murid dapat mengirimkan email yang sedikit lebih mendalam daripada sekedar kata-kata sambutan atau pujian, Anda mungkin dapat ajukan pertanyaan yang merangsang pikiran murid-murid mengenai apa yang sedang terjadi di dunia saat ini, apa yang mereka yakini, bagaimana hubungan mereka dengan keluarga atau mungkin mulailah dengan suatu pertanyaan yang pribadi mengenai hubungan mereka dengan Allah.
Fakta menunjukkan bahwa murid-murid merasa senang bila menemukan email di mailbox mereka, sekalipun Anda dan mereka jarang berkomunikasi. Setidaknya, pikirkan
email apa yang dapat memotivasi murid-murid agar mengetahui bahwa mereka berada di dalam pikiran Anda atau mengetahui bahwa Anda mengharapkan mereka berhasil di dalam ujian atau aktivitas olahraga. Bahkan Anda dapat membuat hari-hari mereka penuh semangat dengan memberikan pujian atau motivasi tertulis di dalamnya.
Untuk menjangkau murid-murid secara tepat guna melalui email, tulislah pesan Anda secara singkat (cukup satu paragraf atau satu kalimat). Hidup di dalam masyarakat yang serba cepat ini, tidak banyak dari antara kita yang ingin memeriksa sebuah email yang panjang isinya. Begitu pula penting untuk menjawab pesan dalam waktu 1-2 hari. Murid-murid mencari Anda untuk memperoleh dukungan dan bimbingan. Anda akan segera kehilangan kepercayaan dari mereka, bila tidak ada balasan dari Anda selama satu minggu ke depan.
Tetap usahakan menggunakan nada kalimat yang ramah di dalam menulis email Anda. Biarkan mereka mengetahui bahwa Anda selalu berada di dekat mereka, terutama ketika salah seorang murid sedang sakit jasmani atau lemah rohani. Kutiplah sebagian ayat Alkitab dan gunakan humor secara bebas. Para remaja tidak akan menanggapi secara positif kepada guru-guru yang selalu menyalahkan. Tetaplah berada di sana dan jadilah teladan.
Email adalah alat komunikasi yang luar biasa dengan murid-murid. Kiranya Allah meneguhkan iman murid-murid dan menanamkan pemahaman akan firman-Nya kepada mereka.
Membangun Persahabatan Bersama
Bagaimana Membuat Murid-Murid
Tetap Termotivasi dan Tertarik?
Kamu dapat menggunakan...
1. Permainan 2. Video klip
3. Diskusi untuk menemukan solusi atau gagasan lainnya
4. Poster
5. Pertanyaan yang menarik atau topik-topik yang hangat 6. Kesaksian atau pujian yang
menyentuh hati
7. Saat-saat perenungan untuk mengintrospeksi diri 8. Kesetiaan dan kerajinan
Ketika membawakan pelajaran, kamu dapat menggunakan...
1. Suatu gaya dari seorang guru ketika mengajar murid-murid 2. Suatu penggalian Alkitab yang mendalam
3. Suatu tulisan singkat yang menarik perhatian murid-murid
4. suatu film yang bermakna dalam dan yang berkaitan dengan topik pelajaran
Guru dapat menguji pemahaman murid-murid dengan...
1. Meminta murid-murid untuk berbagi apa yang mereka telah pelajari 2. Menanyakan beberapa pertanyaan mengenai pemahaman Alkitab
3. Meminta murid-murid untuk menemukan moral yang baik selama pelajaran 4. Menanyakan siapa tokoh yang murid-murid ingin jadikan bagian dari kehidupan
mereka
5. Meminta murid-murid untuk menerapkan pemahaman Alkitab di dalam kehidu-pan sehari-hari
Apakah Anda mengetahui bahwa dengan bersama-sama menghafal Ayat Hafalan di dalam kelas, dapat memberikan saat yang paling baik dalam mengajarkan firman Allah? Kebanyakan orang beranggapan bahwa murid-murid kelas Remaja telah mengetahui banyak mengenai ayat-ayat dalam Alkitab. Bagaimanapun, anggapan itu tidaklah benar. Oleh karena itu, kita sebagai Guru Pendidikan Agama haruslah lebih menekankan bagian pelajaran ini daripada yang lainnya. Mengapa? Karena dengan mengingat ayat Alkitab dapat membantu murid-murid bertahan menghadapi pencobaan dan membangun iman yang lebih teguh.
Pastikan bahwa ini merupakan hal yang melibatkan para guru dan murid. Tantanglah murid-murid untuk
dapat mengingat Ayat Hafalan bersama dengan Anda setiap minggunya. Adalah gagasan yang positif, bila Anda dan murid-murid dapat mengucapkan ketiga belas Ayat Hafalan pada akhir kwartal. Ini merupakan cara yang luar biasa untuk memotivasi Anda dan murid-murid. Mungkin Anda dapat menantang murid-murid dengan sebuah lomba. Buatlah lomba itu sebagai tantangan yang nyata dan lihatlah siapa yang dapat mengucapkan Ayat Hafalan paling banyak pada perlombaan itu. Anda dapat memberikan apapun macam penghargaan kepada murid-murid yang menang.
Karena perlu mengulang Ayat Hafalan dari minggu ke minggu, Anda dapat menghabiskan waktu lebih banyak untuk membicarakannya bersama murid-murid. Biarkan firman Allah itu mempengaruhi kehidupan
pribadi murid-murid dan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Setelah suatu periode waktu tertentu, Anda pasti akan melihat kehidupan murid-murid bertumbuh seperti yang Allah kehendaki. Intinya adalah bila murid-murid mendapati Anda sedang serius dalam menghafal Ayat Alkitab, mereka pun akan melihatnya sebagai suatu cara yang penting untuk bertumbuh lebih menyerupai Yesus Kristus.
Kiranya Allah senantiasa meneguhkan semangat pelayanan kita kepada murid-murid.
Bacaan Kitab untuk Minggu ini
Lomba Ayat Hafalan
1. Roma 1-16 2. 1 Korintus 1-16 3. 2 Korintus 1-13 4. Galatia 1-6 5. Efesus 1-6 6. Filipi 1-4 7. Kolose 1-4 8. 1 Tesalonika 1-5 9. 2 Tesalonika 1-3 10. 1 Timotius 1-6 11. 2 Timotius 1-4 12. Titus 1-3 dan Filemon
x
Ayat Hafalan untuk
Bulan April, Mei dan Juni
1. “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus. Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah.” (Rm. 2:16-17)
2. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor. 6:19-20)
3. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17)
4. “…bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…” (Gal. 2:16)
5. “Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” (Ef. 4:4-6)
6. “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah, aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:8)
7. “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu, hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kol. 2:6-7)
8. “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Tes. 5:23)
9. “Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu.” (2 Tes. 1:11)
10. “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Tim. 4:12)
11. “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” (2 Tim. 2:22)
12. “Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.”
(Tit. 3:8)
Ayat Hafalan untuk
Bulan April, Mei dan Juni
xii
Surat-Surat Paulus
Surat-surat Paulus memainkan peranan yang sangat penting dalam menguatkan iman dari banyak gereja dan jemaat mula-mula. Ketiga belas surat ini dapat dibagi menjadi tiga kategori:
A. Enam surat perjalanan penginjilan
Surat Galatia (perjalanan penginjilan yang pertama, tahun 40-49 M);
surat 1 dan 2 Tesalonika (perjalanan penginjilan yang kedua, tahun 50-59 M); surat 1 dan 2 Korintus, surat Roma (perjalanan penginjilan yang ketiga, tahun 50-59 M)
B. Empat surat penjara (ditulis di Roma, tahun 60-62 M)
Surat Efesus Surat Filipi Surat Kolose Surat Filemon
C. Tiga surat penggembalaan
Surat 1 Timotius (ditulis di Makedonia, tahun 63-66 M) Surat 2 Timotius (ditulis di Roma, tahun 67 M)
Surat Titus (ditulis di Makedonia, tahun 63-66 M)
Firman Allah adalah peta harta karun rohani bagi kita dan Roh Kudus adalah penuntun kehidupan bagi kita. Membaca surat-surat Paulus, dapat menggerakkan semangat hingga bernyala-nyala dalam diri kita. Kehidupan Paulus memberikan kita kekuatan untuk berjalan dan melayani Allah, karena Dia telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Ketika tetap berjalan, tetap berpaut padanya, maka seperti yang dikatakan dalam kitab Yesaya, kita akan seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
Sesungguhnya, begitu berhenti hidup bagi Kristus, kita akan mulai mati secara rohani. Hidup dalam hadirat Allah merupakan inti dari kehidupan umat Kristen.
Larilah dalam Perlombaanmu “Sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan
tidak percuma bersusah-susah.” (Filipi 2:16)
Sasaran
Surat-Surat Paulus
1
pelajaran
Bacaan Kitab
Rm. 12:1-2; Dan. 1:1-21; 2:14-49; 6:1-28
Sasaran Pelajaran
1. Memperkenalkan struktur dan pengajaran dari kitab Roma
2. Mengajarkan bagaimana murid-murid memperkenalkan Injil keselamatan
kepada orang lain
3. Memotivasi murid-murid untuk menjalani hidup kudus, sehingga
memuliakan Allah
Ayat Alkitab
“Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang
kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam
hati manusia, oleh Kristus Yesus. Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang
Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah.”
(Rm. 2:16-17)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini
(bagi para guru dan murid)
Roma 1-16
Surat Roma
L a t a r B e l a k a n g A l k i t a b
Surat-Surat Paulus
Dua puluh tujuh kitab yang terdapat dalam Perjanjian Baru dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1. Kitab-kitab Sejarah (empat kitab Injil dan Kisah Para Rasul) 2. Surat-surat (tiga belas surat Paulus dan delapan surat umum) 3. Penglihatan (kitab Wahyu)
Surat-surat Paulus memainkan peranan yang begitu penting dalam menguatkan beberapa gereja mula-mula maupun iman jemaat mula-mula. Ketiga belas surat ini dapat dibagi menjadi tiga kategori:
A. Surat-surat Perjalanan
Surat Galatia (perjalanan penginjilan pertama, tahun 40-49 M)
Surat 1 dan 2 Tesalonika (perjalanan penginjilan kedua, tahun 50-59 M)
Surat 1 dan 2 Korintus, surat Roma (perjalanan penginjilan ketiga, tahun 50-59 M)
B. Empat Surat Penjara (ditulis di Roma, tahun 60-62 M)
Surat Efesus Surat Filipi Surat Kolose Surat Filemon
C. Tiga Surat Penggembalaan
Surat 1 Timotius (ditulis di Makedonia, tahun 63-66 M) Surat 2 Timotius (ditulis di Roma, tahun 67 M) Surat Titus (ditulis di Makedonia, tahun 63-66 M)
Di Alkitab, surat-surat itu tidaklah disusun menurut aturan kronologis, tetapi menurut panjang suratnya. Surat yang lebih panjang ditujukan kepada gereja-gereja dan yang lebih pendek ditujukan kepada perorangan. Surat-surat awal Paulus ditulis kira-kira 25 tahun setelah kematian Tuhan Yesus, sementara surat-surat terakhir Paulus mungkin ditulis sebelum penulisan keempat kitab Injil.
Latar Belakang Surat Roma
A. Setelah Kerajaan Selatan, Yehuda, dihancurkan (tahun 586 Sebelum Masehi), orang-orang Yahudi menjadi pengembara. Dari cerita mengenai kehidupan Akwila dan Priskila, kita mengetahui bahwa orang-orang Kristen Yahudi tinggal di Roma pada awal tahun 49 M ketika Klaudius mengeluarkan maklumat untuk mengusir orang-orang Yahudi dari kota itu (Kis. 18:2).
B. Surat kepada jemaat Roma ditulis di Korintus saat-saat akhir dari perjalanan penginjilan Paulus yang ketiga pada tahun 57-58 M (Kis. 19:21; 20:2; 18:1,11). Paulus tidak menulis surat ini seorang diri, tetapi dia mendiktekannya kepada Tertius (Rm. 16:22).
C. Paulus tidak mendirikan gereja di Roma. Sesungguhnya, dia belum pernah melihat bangunan gereja di Roma saat surat itu ditulis.
D. Saat surat itu ditulis, jemaat Roma berada dalam konflik seorang dengan yang lainnya mengenai persoalan sunat dan apakah itu penting untuk keselamatan atau tidak sama sekali.
Kata-kata Kunci
A. Injil berarti kabar baik, berkaitan dengan hidup, mati dan kebangkitan Yesus Kristus.
B. Pembenaran berarti membebaskan atau menunjukkan keadilan. Dalam bahasa Yunani, istilah ini resmi dipakai untuk keputusan yang menguntungkan di ruang pengadilan dan Allahlah sebagai Hakim yang memimpin penghakiman itu. C. Pengudusan berarti menjadi kudus, suci dan dipakai khusus untuk
P e m a h a m a n A l k i t a b
Bagian # 1 – Ikhtisar Umum
Surat Roma secara sistematis menjelaskan mengenai Injil Keselamatan dengan konsep ‘pembenaran oleh iman.’ Konsep ini dapat ditemukan dalam 1:16-17, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan
memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: Orang benar akan hidup oleh iman.”
Untuk mempertahankan konsep ini, Paulus membuktikan bahwa semua orang adalah berdosa, baik orang Yahudi maupun orang Yahudi. Orang-orang non-Yahudi berbuat dosa kepada Allah setiap harinya dalam hidup mereka; orang-orang Yahudi berbuat dosa kepada Tuhan, karena mereka tidak memegang hukum Taurat. Oleh karena itu, semua orang dihukum. Satu-satunya pilihan untuk menanggung penghukuman itu adalah Yesus Kristus, yang telah mati bagi dosa-dosa kita, melalui penumpahan darah-Nya. Ketika menerima Kristus melalui iman, kita dibenarkan atau dijadikan benar di hadapan Allah. Dalam baptisan air, kita mati dan bangkit bersama dengan Yesus Kristus dan dikuduskan oleh darah-Nya. Kemudian, barulah kita dapat hidup berkemenangan oleh kuasa Roh Kudus dan berjalan bersama dengan-Nya. Struktur surat Roma dapat diuraikan sebagai berikut:
A. Pendahuluan (1:1-17) B. Pengajaran (1:18-15:13)
1. Dosa/Penghukuman (1:18-3:20) 2. Pembenaran (3:21-5:21) 3. Pengudusan (6:1-8:39)
4. Keselamatan umat pilihan Allah (9-11)
5. Penerapan kehidupan dari Iman Kristen (12:1-15:13) C. Penutup (15:14-16:29)
Bagian # 2 – Pemahaman Alkitab dari Surat Roma A. Pendahuluan (1:1-17)
Setelah memberi salam kepada orang-orang percaya, Paulus mengemukakan alasannya menulis surat Roma, yaitu:
P e m a n a s a n
Apakah makna ‘Injil Keselamatan’ bagi kalian? Mintalah murid-murid menuliskan jawaban mereka di sehelai kertas dan bagikan jawababnya kepada yang lainnya. (Batasilah waktu hingga lima menit)
a. Memenuhi kerinduannya secara rohani untuk bergabung dengan orang-orang percaya itu (1:8-10)
b. Membagikan karunia rohaninya (1:11-12)
c. Menghasilkan buah di antara orang-orang percaya (1:13) d. Membayar hutangnya terhadap Injil (1:14-15)
Lalu, dia memperkenalkan tema dari surat Roma, yang disampaikan dengan kata-katanya sendiri sebagai Injil adalah Kebenaran Allah. Kebenaran ini dimulai dengan iman dan diakhiri pula dengan iman, “seperti ada tertulis: Orang benar akan
hidup oleh iman” (1:17).
B. Injil Keselamatan (1:18-15:3) 1. Dosa/Penghukuman
Pada mulanya, Injil keselamatan menolong banyak orang dalam mengendalikan dosa mereka.
a. Dosa orang-orang non-Yahudi (1:18-32)
Orang-orang non Yahudi seharusnya mengakui keberadaan Allah, karena hati nurani mereka (1:19) dan bukti dari penciptaan (1:20). “Sebab sekalipun mereka
mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia da hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Oleh karena itu, Allah menyerahkan mereka kepada
keinginan hati mereka dan membiarkan mereka hidup dalam homoseksualitas dan segala macam dosa (1:28-32).
b. Dosa orang-orang Yahudi (2:1-29)
Orang-orang Yahudi memegahkan iman mereka kepada Allah dan menghakimi kehidupan dari orang-orang non-Yahudi. Bagaimana, mereka sendiri bukannya tidak memiliki dosa. Bahkan dengan perjanjian sunatpun, mereka ternyata tidak lebih baik daripada orang-orang non-Yahudi, karena tidak menjalankan hukum dan perintah-perintah yang mereka telah sangat ketahui.
c. Dosa semua umat manusia (3:1-20)
Tidak peduli orang Yahudi atau orang non-Yahudi, semuanya telah kehilangan kemuliaan Allah. Tidak seorangpun dapat berdiri di hadapan penghakiman Allah dan dinyatakan benar melalui hukum Taurat. Satu-satunya hanya dapat dibenarkan melalui iman (bandingkan dengan Gal. 3:12).
2. Pembenaran (3:21-5:21)
Pembenaran (Rm. 4:2,5; 5:1) berarti membebaskan atau menunjukkan keadilan. Dalam bahasa Yunani, istilah ini resmi dipakai untuk keputusan yang menguntungkan di ruang pengadilan dan Allahlah sebagai Hakim yang memimpin penghakiman itu.
Sekalipun kita semua adalah orang-orang yang berdosa, Allah telah memberikan kita kesempatan untuk dibenarkan, sehingga dapat luput dari penghukuman yang seharusnya kita terima. Keselamatan kita diberikan melalui anugerah Allah dan penebusan dari kematian Kristus.
a. Pembenaran hanya melalui iman (3:21-31)
i. Manusia tidak dapat dibenarkan melalui perbuatan baik (3:27), melakukan hukum Taurat (3:28) atau tradisi sunat (4:11). Pembenaran ini adalah melalui anugerah Allah, darah Kristus dan iman dari seseorang, yang membuat dirinya dibenarkan di hadapan Allah (3:24-25; 4:25; 5:9).
ii. Pembenaran oleh Allah bukanlah sebuah izin untuk bebas berbuat dosa lagi. Ketika percaya Kristus, kita dibenarkan dari dosa-dosa yang telah diperbuat dahulu (3:25). Ketika menerima anugerah ini, kita seharusnya secara sadar berusaha untuk berjalan di jalan Tuhan.
b. Contoh dari pembenaran oleh iman, yaitu Abraham (4:1-25)
i. Abraham adalah bapa iman kita. Allah memanggil, memberkati dan memperbanyak keturunannya (Yes. 51:2).
ii. Abraham tidak dibenarkan oleh sebab perbuatan-perbuatannya (4:1-8), sunat (4:9-10) atau hukum Taurat (4:13); dia dinyatakan benar oleh Allah, karena imannya yang tidak goyah.
– Abraham terkenal oleh sebab perbuatannya. Dia mengikuti perintah Allah, bahkan sampai mengorbankan putranya, Ishak, di atas mezbah. Bagaimanapun, Abraham dinyatakan benar sebelum dia memiliki anak, ketika Allah menjanjikannya banyak keturunan (Kej. 15:5-6).
– Abraham tidak mengandalkan sunat, agar dibenarkan (Rm. 4:10-11). – Pada zaman Abraham, belum ada hukum seperti hukum Taurat Musa. iii. Ciri khas dari iman Abraham:
– Dia percaya kepada janji Allah (4:13-16).
– Dia percaya bahwa kuasa Allah dapat membangkitkan orang mati (Ibr. 11:17-19)
– Dia percaya bahwa Allah dapat mengubah yang tidak ada menjadi ada (Rm. 4:17).
c. Keuntungan orang yang dibenarkan oleh sebab iman (5:1-21):
i. Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita, Yesus Kristus (5:1).
ii. Beroleh jalan masuk kepada kasih karunia Allah (5:2). iii. Bermegah dalam kesengsaraan (5:3).
iv. Dipenuhi dengan kasih Kristus (5:5).
v. Beroleh hidup (5:18). Pada mulanya, kita terbelenggu oleh dosa yang masuk ke dalam dunia melalui Adam dan dikutuk untuk mati (5:12). Karena dibenarkan melalui rencana keselamatan Kristus, kita dapat menerima hidup.
3. Jalan Menuju Pengudusan (6:1-8:39)
a. Melalui baptisan air, kita memakukan diri yang lama di kayu salib (6:1-9). i. Kita mati, dikuburkan dan bangkit bersama dengan Kristus (Rm. 6:3-8). ii. Baptisan air merupakan saat penting dalam hidup, karena kita keluar dari
kuasa Iblis dan masuk ke dalam perlindungan Allah. Status kita diubah dari seorang hamba dosa menjadi anak Allah. Kita diberikan kesempatan untuk hidup baru (6:4) dan menjadi senjata-senjata kebenaran (6:13).
b. Pergumulan kita terhadap dosa belumlah berakhir dengan baptisan air
i. Kita masih akan mengalami saat-saat lemah, karena ada dua hukum yang berperang di dalam diri kita – hukum Allah dan hukum dosa (7:18-25). ii. Oleh sebab sifat dosa kita yang alami dan tinggal di dalam dunia yang
penuh dosa, yang dikendalikan oleh Iblis, kita seringkali ditaklukkan oleh dosa (7:21).
c. Kita harus mengandalkan Roh Kudus untuk ‘mati terhadap dosa’ dan menemukan kebebasan di dalam Kristus (6:4)
i. Roh Kudus membebaskan seseorang dari hukum dosa dan maut (8:1-2). ii. Selama berada di dunia, dosa akan berusaha menarik kita untuk menjauh
dari Allah. Hanya Roh Kuduslah yang akan memberikan kita kuasa untuk memandang bahwa diri sendiri telah mati bagi dosa (6:11). Ketika kita mati bagi dosa, kita dengan sendirinya akan membenci segala hal yang berdosa dan menjauhi kejahatan.
iii. Bila orang Kristen tidak berdoa, dia tidak dapat memiliki kepenuhan kuasa Roh Kudus. Akan sulit baginya untuk menanggung pencobaan dan akan sangat mudah dikalahkan oleh keinginan-keinginan dosa.
4. Keselamatan umat pilihan Allah (9:1-11:36)
a. Memahami hak pilih dari Allah yang berdaulat
i. Allah memilih seseorang sesuai dengan janji-Nya (9:6-9), bukan oleh sebab perbuatan atau tindakan kita (9:10-13).
ii. Allah memiliki kebebasan mutlak dalam memutuskan siapa yang akan diselamatkan. Dia memilih seseorang berdasarkan pilihan-Nya (9:11-13), kemurahan-Nya (9:15) dan otoritas-Nya (9:20-21).
iii. Kita tidak berhak mempertanyakan keadilan Allah, karena kita semua diselamatkan oleh kemurahan-Nya (9:15).
b. Status pilihan dari keturunan Yahudi
i. Status khusus ‘pilihan’ dari keturunan Yahudi merupakan bukti dari otoritas Allah yang mutlak.
ii. Orang-orang Yahudi mengejar kebenaran melalui perbuatan dan bukannya melalui iman (9:32). Mereka tidak memahami kebenaran Allah dan mendirikan kebenaran mereka sendiri (10:3). Oleh karena itu, mereka tidak percaya atau mengakui Kristus dan keselamatan yang diberikan kepada orang-orang non-Yahudi (10:9-21).
iii. Keturunan Yahudi akhirnya akan diselamatkan karena janji Allah kepada Abraham (11:1-36).
5. Pembaruan – Penerapan Hidup dari Iman Kristen (12:1-15:13)
Bagian akhir dari menerima Injil Keselamatan adalah menjalankannya. Kita membalas kasih Allah dengan memelihara diri tetap kudus dan menyatakan Kristus kepada orang-orang di sekitar kita.
a. Terhadap Allah, kita... (12:1-2):
– ...mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah (12:1).
– ...janganlah menjadi serupa dengan dunia, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi kita (12:2)
b. Di gereja, kita bertujuan untuk... (12:3-8):
– ...menjadi rendah hati dan berpikirlah dengan tenang (12:3).
– ...tetap bersatu dan bekerja sama untuk membangun tubuh Kristus (4-8; Ef. 4:11-16; 1 Kor. 12).
c. Di masyarakat, kita... (13:1-14):
– ...tunduk terhadap otoritas pemerintah (13:1-14).
– ...melakukan kewajiban kita sebagai warga negara (13:6-7). d. Terhadap sesama, kita... (14:1-22):
– ...menerima kelemahan sesama dengan iman dan tidak menghakiminya (14:1-13).
– ...melakukan segala sesuatu berdasarkan kasih (14:5-12).
– ...berhati-hati, agar tidak menyebabkan saudara-saudara seiman jatuh tersandung, bahkan jika itu berarti mengabaikan kebebasan kita (14:13-18).
– ...mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun (14:19).
C. Penutup (15:14-16:28)
Paulus mengakhiri dengan menyatakan amanat dirinya sebagai seorang pemberita Injil bagi orang-orang non-Yahudi, membagikan rencananya untuk mengunjungi Roma dan menyampaikan salam kepada jemaat di sana.
M e n g u j i P e m a h a m a n
1. Apakah pesan penting dari surat Roma?2. Apakah lima hal utama yang Paulus gunakan untuk menjelaskan Injil Keselamatan?
3. Menurut surat Roma, mengapa orang-orang non-Yahudi dihukum? Mengapa orang-orang Yahudi dihukum? Mengapa semua manusia dihukum?
4. Apakah makna dari pembenaran? Mengapa kita harus dibenarkan?
5. Mengapa penting bagi kita untuk dibaptis? Apakah setelah dibaptis, kita bebas dari dosa?
6. Apakah yang diajarkan surat Roma kepada kita mengenai hak pilih dari Allah yang berdaulat mengenai keselamatan?
P e n e r a p a n K e h i d u p a n
“Apakah yang Kalian Akan Perbuat?”
Kadang, sangatlah sulit untuk menjalani sebuah kehidupan yang berkorban. Bacalah skenario dan saran berikut berdasarkan pengajaran dari surat Roma.
Skenario 1
Johnny adalah seorang siswa tingkat 10 (setara dengan SMU kelas 1 di Indonesia), sekaligus merupakan jemaat Gereja Yesus Sejati dari angkatan kedua, yang dibaptis ketika dia masih bayi. Sekalipun menjadi dewasa di gereja, tetapi tidak pernah ada anak yang sebaya dengannya. Sebagai akibatnya, kebanyakan dari teman-temannya adalah bukanlah jemaat. Suatu hari, Johnny dan James sedang berdiri dekat lockers (lemari penyimpan barang untuk murid) di sekolah. Segerombolan gadis sedang lewat dan salah seorang dari antara mereka tersenyum kepada Johnny. Setelah mereka lewat, Jamespun memberi sikutan kepada Johnny.
James: “Hei, menurutku dia menyukaimu. Apakah kamu akan mengajaknya pergi?”
Johnny: “Tidak, aku rasa aku belum siap untuk berpacaran.”
James: “Apakah kamu bercanda? Kamu sungguh pemalu. Kamu adalah satu-satunya pria di kelas kita yang tidak pernah memiliki kekasih. Apakah ada masalah denganmu?”
Johnny (dengan muka merah padam): “Tidak, hentikanlah!”
Pertanyaan – pergumulan apakah menurut kalian yang sedang dihadapi Johnny? Saran apakah yang kalian akan berikan kepada Johnny berdasarkan Roma 12:1-2? (Johnny sedang bergumul dengan tekanan dari seorang teman dan godaan untuk penyesuaian dirinya. Roma 12:1-2 memberitahukan untuk “persembahkan tubuhmu
(kita) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Ini adalah ibadahmu (kita) yang sejati. Janganlah kamu (kita) menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu (kita) dapat membedakan manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Oleh karena itu, merupakan kehendak Allah bagi
kita untuk memelihara tubuh tetap kudus. Pula, seseorang seharusnya stabil dalam emosi, mental dan rohani sebelum seseorang berpacaran.
Skenario 2
Keluarga Sasha percaya kepada Tuhan ketika dia bersekolah pada tingkat 4 (setara dengan SD kelas 4 di Indonesia). Dia menjadi dewasa di gereja dengan sukacita dan tidak pernah melewatkan hari Sabat sejak saat itu. Saat remaja, Koordinator Guru Pendidikan Agama merekomendasikan dirinya untuk mengikuti Persekutuan Guru Pendidikan Agama dan menjadi guru bantu di kelas Madya. Dengan sukacita, Sasha menerima tanggung jawab itu.
Bagaimanapun, ketika mulai membantu di kelas Madya, dia menyadari bahwa guru-guru Pendidikan Agama di kelas itu tidaklah mempersiapkan diri seperti yang seharusnya diperkirakannya. Beberapa di antara mereka adalah ibu-ibu yang tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan fasih. Yang lainnya, mengajar
dengan kaku dari buku tanpa alat bantu visual apapun. Sesungguhnya, dia pun menduga bahwa mereka hanyalah membaca pelajaran sesaat sebelum pelajaran dimulai.
“Sungguh mengecewakan,” pikir Sasha. “Aku yakin bahwa diriku dapat berbuat lebih baik, sekiranya mereka mengizinkanku mengajarkan pelajaran itu daripada hanya menjadikanku seorang guru bantu.”
Pertanyaan – Apakah ada yang salah dengan sikap Sasha? Saran apakah yang kalian akan berikan kepadanya dari Roma 12:3? (Sikap Sasha menunjukkan kesombongan. Roma 12:3 memberitahukan: “Janganlah kamu memikirkan hal-hal
yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”
Skenario 3
Jennifer adalah putri seorang diaken. Seumur hidupnya, dia merasa bahwa dirinya seolah-olah berada di dalam akuarium; orang-orang selalu memperhatikan dan mengevaluasi tindakannya.
Pada suatu hari Sabat, saat makan siang, Jane menemukan Jennifer sedang menangis di kamar mandi. “Apakah yang terjadi?” tanya Jane. “Aku tidak tahan lagi! Sungguh tidak adil! Mengapa orang-orang selalu mengatakan hal yang menakutkan mengenai diriku?” isak Jennifer. “Aku tidak dapat melakukan apa-apa!”
Dia memberitahu Jane bahwa ibunya telah memarahinya, karena mengenakan pakaian berwarna merah muda yang agak transparan ke gereja. Beberapa ibu merasa bahwa pakaian itu terlalu ketat dan terbuka, terutama untuk putri seorang diaken. “Aku benci itu! Aku ingin mereka mati!” tangis Jennifer.
Pertanyaan – Apakah ada yang salah dengan sikap atau perbuatan Jennifer? Bila kalian adalah Jane, apakah yang kalian akan katakan kepada Jennifer berdasarkan Roma 12:17-18; 14:13 dan 14:21? (Jennifer tidak menyadari bahwa pakaian yang dipilihnya dapat menyebabkan orang lain tersandung. Dia sangat pendendam, kita haruslah menasihatinya dengan:
1. Roma 12:17-18, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah
apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”
2. Roma 14:13, “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik
kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!”
3. Rom 14:21, “Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur atau
R e n u n g a n d a n D o a
Tuhan Yesus yang terkasih,
Terima kasih atas pengorbanan-Mu. Karena Engkau telah mati di kayu salib menggantikan kami, sehingga kami dapat dibenarkan dan luput dari hukuman atas dosa-dosa kami. Sungguh, anugerah-Mu luar biasa dan mengherankan. Ketika kami melanjutkan perjalanan hidup, tolonglah kuatkan iman kami, sehingga dapat memepercayai-Mu seperti Abraham. Penuhilah kami dengan Roh KudusMu dan tolonglah kami dalam mengalahkan pencobaan-pencobaan pada masa muda. Tolonglah kami, agar dapat menjadi kudus dan murni sebagai persembahan yang hidup, sehingga dapat menunjukkan kasih-Mu kepada semua orang yang berada di sekitar kami dan menarik mereka kepada Injil Keselamatan. Dalam nama-Mu yang kudus, kami berdoa. Amin.
2
pelajaran
Bacaan Kitab
1 Korintus 1-16
Sasaran Pelajaran
1. Memotivasi murid-murid untuk memuliakan Allah dengan menjalani
hidup yang kudus
2. Mengajarkan murid-murid pentingnya memiliki kesatuan di dalam
gereja
3. Mengajarkan murid-murid untuk mengandalkan hikmat rohani dan kasih
ketika menangani konflik-konflik yang ada di dalam gereja.
Ayat Alkitab
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang
diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah dan bahwa
kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah
lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
(1 Kor. 6:19-20)
Bacaan Kitab untuk Minggu ini
(bagi para guru dan murid)
1 Korintus 1-16
Surat 1 Korintus
L a t a r B e l a k a n g A l k i t a b
Kota Korintus hampir dimusnahkan oleh bangsa Romawi pada tahun 146 SM (Sebelum Masehi) dan dibangun kembali pada tahun 44 SM sebagai koloni bagi tempat tinggal para budak Romawi yang telah dibebaskan dan rakyat jelata yang terlantar. Karena letaknya yang strategis di Yunani selatan, kota Korintus dengan segera menjadi pusat perdagangan dan sebagai salah satu kota termakmur di Kerajaan Romawi. Sekalipun Korintus dikenal oleh sebab pengejarannya akan pengetahuan dan filsafat, tetapi dikenal pula oleh sebab percabulannya. Kelonggaran standar moral itu sangat dipengaruhi oleh penyembahan kepada Aprodite, dewi cinta dan praktek prostitusi agama.P e m a n a s a n
Apakah yang kita akan lakukan ketika menjumpai pertanyaan-pertanyaan rohani atau alkitabiah dalam hidup sehari-hari? Sekalipun teman-teman dapat memberikan beberapa jawaban, kita biasanya lebih suka bertanya kepada orangtua, guru Pendidikan Agama yang dapat dipercaya atau pendeta yang memiliki lebih banyak hikmat rohani dan dapat membedakan. Bagaimanapun, apakah yang kita lakukan ketika mereka tidak berada di sekitar kita? Kita dapat menelepon atau mengirimkan email kepada mereka.
Gereja Korintus pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan karunia-karunia rohani dan kebangkitan. Sebagai gereja yang masih baru, mereka merasa cara terbaik untuk berhubungan adalah dengan menulis surat kepada rasul mereka. Sebagai balasannya, Paulus menuliskan surat 1 Korintus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Dia pun menggunakan kesempatan itu untuk memberikan petunjuk tambahan berdasarkan berita yang mereka dengar dari keluarga Kloe (1:11). Melalui surat itu, kita dapat belajar mengenai beberapa persoalan yang mungkin kita hadapi sekarang dan bagaimana cara menanganinya dengan cara yang saleh.
P e m a h a m a n A l k i t a b
Surat 1 Korintus
Surat 1 Korintus seperti biasanya dimulai dengan tujuan, salam dan ucapan syukur Paulus. Kemudian, isi dari surat ini ditujukan kepada serangkaian persoalan utama seputar jemaat Korintus.
Korintus adalah sebuah daerah perkotaan utama (selain di Anthiokia), yang mendapat pemberitaan Injil dari Paulus. Bersama dengan rekan-rekan kerja seperti Timotius, Silas, Akwila, Priskila dan Febe, Paulus mengadakan berbagai pertemuan rumah tangga dan mengajar selama 18 bulan. Pertemuan-pertemuan rumah tangga di Korintus akan berkumpul bersama secara periodik untuk mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan (Perjamuan Kudus). Setelah Paulus menyeberang ke Laut Tengah untuk memberitakan Injil di Efesus, Apolos pun menggembalakan jemaat Korintus. Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus ditulis sekitar tahun 57 M (1 Kor. 16:8-9), sekaligus merupakan tanggapan pribadi Paulus dalam wujud surat atas pertanyaan-pertanyaan dari jemaat Korintus dan berita-berita konflik yang berkembang di dalam gereja saat itu. Surat ini ditulis di Efesus dan diantarkan oleh Timotius.
Persoalan-persoalan utama itu meliputi: A. Perpecahan gereja (pasal 1-4) B. Persoalan-persoalan moral (pasal 5-6) C. Perkawinan (pasal 7)
D. Makanan yang dipersembahkan kepada berhala (pasal 8-10) E. Ketidaktertiban dalam gereja (pasal 11)
F. Karunia-karunia rohani (pasal 12-14) G. Kebangkitan (pasal 15)
A. Perpecahan Gereja (pasal 1-4)
Sekalipun gereja Korintus diberkati dengan karunia-karunia dengan limpahnya (1:7), banyak perpecahan dan perselisihan yang terjadi di kalangan jemaat:
a. Salah mengira hikmat rohani sebagai hikmat duniawi (pasal 1-2)
Kebudayaan Yunani yang dominan pada saat itu menyebabkan pengejaran akan pengetahuan dan sering dimasukkan ke dalam diskusi-diskusi filsafat (Kis. 17:21). Beberapa jemaat menganggap Injil sebagai hikmat duniawi yang harus dikejar, dibanggakan dan diperdebatkan. Di sini, Paulus mengingatkan mereka bahwa “supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1 Kor. 2:5). Hanya orang-orang yang mengejar hikmat rohanilah yang dapat memahami rahasia dan anugerah Allah.
b. Mengikuti pemimpin palsu (pasal 3)
Jemaat Korintus menyalahpahami peran dari para pembawa pesan Injil seperti Paulus, Apolos dan Petrus. Mereka menyetarakan diri dengan para hamba Allah itu dan memperdebatkan di antara mereka sendiri mengenai siapa ‘pemimpin rohani’ yang terbaik. Sebagai rekan sekerja Allah, seharusnya tidak ada yang harus diperdebatkan atau dimegahkan. Siapapun yang menanam atau menyiram, Allahlah yang memberi pertumbuhan. Yesus Kristus, Tuhan kita adalah satu-satunya Pemimpin kita. Kita hanya bekerja sama dengan Dia untuk mencapai tujuan yang sama (3:7).
c. Yang berhikmat menurut pandangan mereka (pasal 4)
Beberapa jemaat menganggap diri mereka berhikmat dan memegahkan talenta dan karunia rohani yang mereka miliki (4:7-8). Bahkan kekayaan rohani dari jemaat Korintus menyebabkan mereka menjadi sombong dan memandang rendah orang lain. Untuk mengingatkan keparahan kekeliruan mereka ini, Paulus menggunakan banyak perbandingan untuk menunjukkan bagaimana hamba-hamba Allah yang benar tidak akan mengejar kehormatan atau kemuliaan duniawi. Mereka bekerja, berjerih lelah, memberkati dan bertahan demi Kristus, tetapi dipandang sebagai orang bodoh dan menjadi tontonan (4:9-10). Oleh karena itu, kita seharusnya meneladani para hamba Allah dan memperlakukan mereka dengan rasa hormat.
B. Persoalan-Persoalan Moral (pasal 5-6)
a. Percabulan – inses/berhubungan seks antar saudara (pasal 5-6) 1. Membuang kecemaran demi kemurnian
Gereja adalah sebuah lembaga kudus yang tidak dapat mentolerir percabulan, ketamakan, penyembahan berhala, fitnah, kemabukan dan penipuan (5:9-11). Ketika dikatakan bahwa ada seorang jemaat sedang berzinah dengan ibu tirinya, Paulus menggunakan perumpamaan ragi. Untuk mencegah gereja menjadi cemar dan sombong, para jemaat disarankan untuk ‘membuang ragi yang lama’ (5:7) dan ‘orang itu harus diserahkan kepada Iblis, agar tubuhnya binasa’ (5:5). 2. Memuliakan Allah dengan tubuh kita (6:12-20)
Beberapa jemaat Korintus memandang tubuh mereka sebatas tubuh jasmani saja bahwa seks diciptakan untuk tubuh dan tubuh diciptakan untuk seks. Kaum Hedonis (sekelompok orang yang hanya mencari kesenangan dunia) pada masa itu, bahkan meyakini bahwa untuk melenyapkan keinginan daging, seseorang haruslah berusaha dengan berbagai cara untuk memuaskannya. Untuk mengoreksi pandangan keliru ini, Paulus mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan jasmani pun dapat mempengaruhi kehidupan rohani seseorang. Setelah rohani seseorang bersatu dengan Allah, tubuh kita menjadi Bait Roh Kudus. Tubuh jasmani bukan lagi milik kita, karena diri kita telah dibeli dengan suatu harga. Oleh karena itu, kita haruslah memuliakan Allah, baik dengan tubuh maupun roh kita (6:19-20).
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: “Sesuatu yang benar di tempat yang salah dan waktu yang salah merupakan sesuatu yang salah.“ Seks adalah hal baik yang diciptakan Allah untuk kenikmatan suami isteri di dalam ikatan pernikahan. Namun, ketika sesuatu yang baik digunakan di luar tujuan sebenarnya dan dipergunakan secara tidak sah, seks menjadi tidak bermoral dan keliru. Istilah ‘percabulan’ (5:1) berasal dari kata Yunani ‘porneia’ yang berarti perilaku seksual yang tidak sah, yaitu dari seks pranikah sampai perzinahan. Kata ini merupakan akar kata Yunani yang kita serap dari kata bahasa Inggris – pornografi. Cara terbaik untuk menghindari ketidakbenaran seperti ini adalah menjauhkan diri dari percabulan (6:18).
b. Perkara hukum dalam gereja (6:1-8) 1. Menyelesaikan perselisihan di dalam gereja
Para jemaat Korintus tidak dapat saling mengampuni, bahkan menyeret saudara-saudara seiman mereka ke pengadilan untuk dihakimi di hadapan orang-orang yang tidak percaya. Perbuatan seperti ini bukan hanya melukai jemaat, tetapi mempermalukan pula nama Allah. Paulus menyarankan di 1 Korintus 6:1-6 bahwa orang-orang Kristen seharusnya jangan menuntut saudara-saudara mereka, tetapi kembali ke gereja untuk menyelesaikan perkara-perkara kecil yang ada.
2. Pengampunan adalah kuncinya
Sebagai jemaat Kristus, kita harus memperlakukan seorang dengan yang lainnya dengan kasih dan pengampunan. Perpecahan dan perselisihan dapat dihindari, bila setiap orang mau saling mengampuni ketika melakukan kesalahan
(6:7). Bila Allah dapat membersihkan dan mengampuni orang-orang berdosa – orang cabul, penyembah berhala, pezinah, banci, pemburit, pencuri, orang kikir, pembauk, pemfitnah dan penipu (6:9-10) – dan menguduskan mereka melalui baptisan air, bukankah betapa kita harus lebih lagi mengampuni pelanggaran seorang saudara?
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Melatih ‘kewaspadaan terhadap keluhan.’ Hari ini, kita pun haruslah berhati-hati apabila mengeluh kepada teman-teman yang belum percaya mengenai persoalan-persoalan di dalam gereja kita. Lagipula, siapakah yang mau bergabung dengan sebuah kelompok yang selalu bertengkar dan berselisih? Sebaliknya, kita haruslah berusaha berdamai seorang dengan yang lainnya dan menarik orang-orang ke gereja dengan kasih kita.
C. Perkawinan (pasal 7)
a. Suami dan istri (7:1-5)
Sementara percabulan mendominasi latar belakang suatu kebudayaan, ada beberapa jemaat yang beranggapan bahwa hubungan intim itu menjijikkan, bahkan di dalam perkawinan sekalipun. Paulus menanggapi hal ini dengan pengajaran bahwa perkawinan merupakan lembaga suci yang didirikan oleh Allah. Hubungan intim dalam perkawinan merupakan hal yang berkenan kepada Allah, sekaligus merupakan berkat bagi pria dan wanita yang dipersatukan di dalam Tuhan. Setiap pasangan di dalam perkawinan haruslah memperlakukan pasangannya dengan rasa hormat. Setelah menikah, seseorang haruslah memberikan dirinya bagi pasangannya, kecuali untuk berdoa dan untuk waktu yang singkat.
b. Hidup Melajang (7:6-9)
Para pria dan wanita lajang dapat berkonsentrasi dalam melayani Tuhan, sementara itu, orang-orang yang menikah sibuk dengan tanggung jawab keluarga. Bagaimanapun, Paulus tidak menuntut orang lain mengikuti teladannya untuk hidup melajang dan justru menekankan bahwa karunia hidup melajang itu pastilah diberikan oleh Allah (bandingkan dengan Mat. 19:10-11).
c. Perceraian (7:10-24)
Bila seseorang memiliki pasangan yang bukan orang percaya, jemaat itu tidak boleh meninggalkannya. Sebaliknya, dia justru harus dengan kasih membawa pasangannya kepada Tuhan. Jemaat hanya dapat menceraikan pasangannya, bila dia berbuat zinah. Tetapi, adalah lebih baik untuk hidup bersama demi anak-anak. Bila terjadi perceraian, wanita tidak dapat menikah lagi sampai mantan suaminya meninggal.
d. Menikah Lagi (7:25-40)
Menurut Paulus, adalah sah bagi para janda untuk menikah lagi selama mereka menikah di dalam Tuhan. Tetapi, lebih berbahagia, apabila tetap menjadi seorang janda.
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Persiapan untuk perkawinan – murid-murid kelas Remaja dapat mulai mempersiapkan diri untuk menikah dalam sebuah pernikahan kudus dengan mengumpulkan konsep-konsep alkitabiah atau
kebenaran mengenai pernikahan, memelihara diri tetap kudus secara seksual terhadap pasangan mereka kelak dan mempersembahkan waktu yang berharga dari kehidupan lajang mereka bagi pekerjaan Allah.
D. Makanan yang Dipersembahkan kepada Berhala (pasal 8-10)
a. Tidak mengambil bagian dengan roh-roh jahat
Penyembahan berhala merajalela di kota Korintus dan banyak binatang dipersembahkan sebagai korban di dalam kuil-kuil berhala. Bagian yang tidak terpakai dari daging binatang itu dijual ke pasar atau dihidangkan pada perayaan umum atau di restoran yang letaknya dekat dengan kuil. Beberapa jemaat Korintus yang memegahkan diri karena memiliki pengetahuan (8:1), mengira bahwa itu tidaklah berdosa untuk memakan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala, karena: 1) mereka tidak percaya kepada berhala dan 2) Paulus pun menyetujui bahwa berhala bukanlah Allah yang sesungguhnya (8:4). Bagaimanapun, menyantap makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala dapat menyebabkan kita bersekutu dengan roh-roh jahat (10:20), kita haruslah menghindarinya, apapun resikonya.
b. Mempertimbangkan jemaat yang lebih lemah imannya
Gereja mula-mula telah memerintahkan orang-orang percaya untuk menahan diri terhadap hal-hal yang telah dipersembahkan kepada berhala (Kis. 15:29). Bila jemaat yang lebih lemah imannya melihat orang percaya yang lebih kuat imannya makan di kuil-kuil berhala, jemaat yang imannya lebih lemah dapat menodai hati nurani mereka. Oleh karena itu, Paulus meminta jemaat Korintus untuk tetap belajar mengasihi dalam pengejaran mereka akan hak dan kebebasan.
E. Ketidaktertiban di dalam gereja (pasal 11)
a. Penutup kepala (11:1-16)
Etika seorang wanita pada masa surat 1 Korintus ditulis adalah kebiasaan orang Yunani, yaitu seorang wanita terhormat haruslah menutup kepala mereka (perempuan sundal ditandai dengan penggundulan rambutnya). Oleh karena itu, Paulus menyarankan kepada para wanita untuk memelihara rambut panjang sebagai kemuliaan mereka. Sekalipun saat sekarang ini tidak perlu memelihara rambut panjang secara literal, tetapi saudari-saudari seiman masih harus memegang semangat kesetiaan, kerendahan hati dan ketaatan yang sama, baik di gereja maupun di rumah.
b. Perjamuan Tuhan – pembagian dan penghormatan (pasal 11:17-34) i. Berbicara pada waktu makan
Pada masa gereja mula-mula, orang-orang Kristen berkumpul untuk bersekutu dalam perjamuan malam yang akan diakhiri dengan Perjamuan Kudus. Persoalan yang terjadi di Korintus adalah tidak meratanya pembagian makanan selama perjamuan malam. Beberapa orang makan dengan rakusnya, sementara yang lain kelaparan (21). Tidak ada orang yang mau menantikan jemaat lainnya (22). Paulus tidak suka dengan perbuatan seperti itu dan mengingatkan mereka bahwa tujuan dari perjamuan malam adalah untuk menunjukkan kasih persaudaraan.
ii. Ketidakkhidmatan selama Perjamuan Kudus
Perjamuan Kudus pun dilaksanakan dengan tidak khidmat dan kacau. Oleh karena itu, Paulus memperingatkan orang-orang percaya untuk memperhatikan keberadaan tiap-tiap jemaat selama perjamuan malam dan dengan hormat, mengambil bagian dari tubuh dan darah Kristus. Bila tidak demikian, mereka sesungguhnya, makan dan minum dosa sendiri.
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Lebih dari sekedar yang dikenakan orang-orang pada zaman para rasul, para wanita akan memelihara rambut panjang mereka dan menutupinya sebagai tanda kehormatan. Bahkan bila seorang wanita melakukan perbuatan yang membangun seperti berdoa dan bernubuat (berkhotbah) dengan kepala yang tidak ditutup akan membuat dia merasa malu (11:6). Ini mengajarkan kepada kita pentingnya berdandan yang benar ketika beribadah di Rumah Allah. Sekalipun rasa hormat yang berasal dari dalam hati paling penting, tetapi kita pun haruslah menjaga penampilan luar kita. Kita tidak ingin rambut/pakaian/aksesoris menarik perhatian dan menyebabkan orang melirik kita untuk kedua kalinya. Sebaliknya, kita haruslah menjaga, agar pakaian tetap rapi, bersih dan pantas, sehingga dapat memuliakan Allah dari dalam hati maupun penampilan luar.
F. Karunia-karunia Rohani (pasal 12-14)
a. Banyak karunia untuk satu tubuh (pasal 12)
Gereja Korintus diberkati dengan banyak karunia rohani – hikmat, pengetahuan, iman, kesembuhan, mujizat, nubuat, membedakan roh dan bahasa roh (pasal 14-16). Sayangnya, beberapa jemaat berusaha untuk saling membandingkan dan merasa lebih unggul dalam karunia-karunia mereka. Paulus mengoreksi hal itu dengan menggunakan perumpamaan tubuh. Dalam satu tubuh, tidak ada bagian tubuh yang lebih penting atau kurang penting. Karena semua anggota tubuh saling bergantung yang satu terhadap lainnya dalam fungsinya. Demikian pula, tidak ada karunia rohani yang lebih unggul atau kurang unggul. Kita perlu menggunakan karunia-karunia yang telah diberikan Roh Kudus untuk bekerja bersama-sama, sehingga jemaat Kristus dapat saling memberi kesejahteraan dan dimuliakan.
b. Karunia yang terbesar adalah kasih (pasal 13)
Gereja Korintus diberikan karunia rohani dengan limpahnya, namun kekurangan kasih, sehingga menyebabkan jemaat terbagi-bagi ke dalam golongan-golongan. Di sini, Paulus mengingatkan mereka bahwa kasih merupakan karunia yang terbesar. Kasih lebih besar daripada pengetahuan, iman, perbuatan. Kasih mau berkorban dan sempurna. Kasih dapat mengalahkan keirihatian, kesombongan dan kemegahan diri yang disebabkan oleh pembagian talenta yang tidak sama. Hanya melalui kasihlah, semua karunia rohani, perbuatan dan tanggung jawab jemaat dapat bernilai.
c. Membangun dengan karunia-karunia rohani (pasal 14)
i. Paulus menyebutkan dua macam bahasa roh, yaitu berbahasa roh (14:2), yang menjadi bukti dari menerima Roh Kudus dan bernubuat dalam bahasa roh (14:3), yang merupakan karunia untuk menyampaikan khotbah dalam bahasa roh.
ii. Banyak orang percaya di gereja Korintus diberkati dengan karunia bernubuat dalam bahasa roh. Beberapa di antaranya dapat memberitakan Injil dalam bahasa roh dan melakukannya tanpa dapat mengendalikannya atau menafsirkannya. Ini menyebabkan terjadi kekacauan selama kebaktian. iii. Kita seharusnya menyembah Alalh dengan hati yang tenang. Baik
menyanyikan himne maupun memberikan kesaksian, semuanya haruslah dilakukan dengan tertib dan untuk kemajuan bersama.
G. Kebangkitan (pasal 15)
Dalam gereja Korintus, ada banyak ajaran bidat dan kultur kepercayaan yang bertentangan dengan kebenaran kebangkitan Kristus.
Pembelaan Paulus:
a. Kebangkitan Yesus Kristus merupakan suatu kejadian yang dapat dibuktikan dan disaksikan.
b. Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dasar dari iman kita, pengajaran utama dari Injil dan dasar dari keselamatan kita.
c. Bila menyangkal realita mengenai kebangkitan Kristus, kita akan menjadi sia-sia.
Setelah menyampaikan tujuh kategori utamanya, Paulus memberikan nasihat dan perintahnya yang akhir. Dia mendesak orang-orang percaya di Korintus untuk terikat dalam persekutuan, saling mengasihi dan peduli terhadap para hamba Allah. Akhirnya, dia menasihati, agar mereka senantiasa “berjaga-jagalah! Berdirilah
dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” (16:13)
dan melakukan segala sesuatu dalam kasih.
Catatan untuk Guru Pendidikan Agama: Kebangkitan adalah penting bagi kita untuk memahami bahwa Yesus Kristus adalah manusia pertama yang pernah dibangkitkan dari kematian dan hidup selamanya. Lazarus dan beberapa orang lainnya dalam Perjanjian Lama memang pernah dihidupkan kembali dari kematian, tetapi tidak seorang pun yang pernah bangkit dan hidup selamanya, kecuali Yesus Kristus. Saat Kristus bangkit, Dia tidak lagi berada pada kehidupan yang sama dan dengan cara yang sama seperti keadaan sebelumnya. Tetapi, tubuh-Nya diubah menjadi tubuh rohani, tidak lagi menjadi milik dunia ini. Ketika Alkitab menggunakan istilah ‘kebangkitan,’ itu selalu merujuk pada kebangkitan Kristus dan kebangkitan itu sedang menanti kita kelak ketika Kristus datang kembali yang kedua kalinya.
M e n g u j i P e m a h a m a n
1. Dua hal apakah yang memotivasi Paulus untuk menulis suratnya yang pertamakepada gereja Korintus?