• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 45 menyatakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 45 menyatakan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

Bab pendahuluan ini akan membahas tentang A) latar belakang, B) rumusan masalah, C) tujuan penelitian, D) fokus penelitian, E) manfaat penelitian, F) penegasan istilah. Berikut uraian penjelasan yang berkaitan dengan pendahuluan.

A. Latar Belakang

Ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang sangat pesat dan berdampak pada dunia pendidikan. Baik atau tidaknya kualitas pendidikan dapat disebabkan oleh adanya sarana dan prasarana yang menunjang. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 45 menyatakan bahwa “Setiap satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan siswa”. Sarana pendidikan mencakup semua fasilitas yang dipergunakan untuk menunjang proses pendidikan, seperti: gedung, kelas, alat-alat atau media pembelajaran, perpustakaan, dan salah satunya adalah sudut baca.

Sudut baca adalah salah satu sarana penunjang yang membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sudut baca adalah sebuah tempat yang terletak di sudut ruangan yang dilengkapi dengan koleksi buku. Kemendikbud (2016:17) menyatakan bahwa sudut baca merupakan sebuah ruangan yang terletak di sudut kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku dan berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan. Melalui sudut baca siswa dilatih untuk membaca, sehingga menumbuhkan gemar membaca terhadap siswa. Sudut baca juga membantu dan

(2)

mempermudah sekolah dalam mengimplementasikan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk meningkatkan budaya literasi pada siswa.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti terhadap siswa melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah upaya yang melibatkan seluruh warga sekolah (guru, siswa, orang tua) dan masyarakat sebagai bagian ekosistem pendidikan. Menurut Abidin (2017: 279) Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif dari berbagai elemen.

Salah satu kegiatan dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kegiatan membaca buku akademik dan non akademik selama 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

Berdasarkan hasil observasi awal di SDN Punten 01 Batu yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2018, SDN Punten 01 Batu sudah memiliki sarana dan prasarana yang memadai, salah satunya adalah sudut baca. Di SDN Punten 01 Batu dalam tiga tahun terakhir ini sudah membiasakan budaya literasi, salah satunya dengan adanya sudut baca di setiap kelas agar siswa dapat mengakses sumber literasi yang dibutuhkan. Sudut baca di SDN Punten 01 Batu dikelola langsung oleh guru kelas dan dibantu dengan siswa. Berdasarkan hal tersebut menunjukan bahwa SDN Punten 01 Batu sudah menerapkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai upaya meningkatkan budaya literasi di sekolah.

Berdasarkan wawancara dengan guru kelas III pada tanggal 09 Januari 2019, sejak tahun 2015 setiap kelas sudah memiliki sudut baca. Sudut baca di kelas III memiliki koleksi buku fiksi, non fiksi, dan pengayaan. Setiap hari Rabu, untuk seluruh kelas terdapat kegiatan pembiasaan membaca buku selama 15 menit

(3)

sebelum pembelajaran dimulai yang mendukung siswa untuk menumbuhkan budaya literasi. Teknis pelaksanaan kegiatan pembiasaan membaca buku ini adalah meminta setiap siswa untuk membaca buku yang dipilih akan tetapi tema sudah ditentukan oleh guru kelas, setelah itu siswa diminta untuk menceritakan hasil atau yang mereka dapat dari bacaan tersebut kepada guru kelas. Selain pada hari Rabu, siswa kelas III juga setiap harinya diminta untuk membaca buku selama 15 menit.

Kegiatan membaca ini terbagi menjadi membaca bersama, terbimbing, senyap, dan mandiri.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, Pamungkas (2018:4) telah melakukan penelitian yang berjudul “Optimalisasi Pojok Baca di Kelas I SD Muhammadiyah Pangkalpinang Sebagai Penumbuhkenalkan Budaya Membaca”. Hasil dari penelitian tersebut adalah fungsi pojok baca yaitu menumbuhkenalkan budaya membaca pada siswa, menjadikan siswa senang membaca dengan bimbingan guru, dan diarahkan agar menjadikan membaca sebagai kegemaran serta dapat menumbuhkenalkan budaya membaca meskipun tidak harus di perpustakaan.

Selain itu, Batubara dan Ariani (2018:19) juga telah melakukan penelitian yang berjudul “Implementasi Program Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Gugus Sungai Miai Banjarmasin”. Hasil dari penelitian tersebut yaitu upaya yang dilakukan oleh sekolah dalam mengimplementasikan program gerakan literasi sekolah adalah menambah buku pengayaan di sekolah, mendekatkan buku ke warga sekolah dengan cara membuat area baca, melaksanakan berbagai macam kegiatan literasi, dan melibatkan publik dalam pelaksanaan gerakan literasi.

Berdasarkan penelitian yang telah dijabarkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui pengelolaan sudut baca yang baik memiliki peran untuk

(4)

membantu menerapkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada siswa di sekolah.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas dan penelitian terdahulu mengenai sudut baca sebagai Gerakan Literasi Sekolah (GLS), maka penelitian berjudul “Analisis Pengelolaan Sudut Baca Sebagai Gerakan Literasi Sekolah pada Siswa Kelas III di SDN Punten 01 Batu” baru dan penting untuk dilakukan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dituliskan, rumusan masalahnya sebagai berikut:

1. Bagaimana pengelolaan sudut baca sebagai gerakan literasi sekolah pada siswa kelas III di SDN Punten 01 Batu?

2. Apa kendala pengelolaan sudut baca sebagai gerakan literasi sekolah pada siswa kelas III di SDN Punten 01 Batu?

3. Bagaimana solusi terhadap kendala dalam pengelolaan sudut baca sebagai gerakan literasi sekolah pada siswa kelas III di SDN Punten 01 Batu?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dituliskan, tujuan penelitiannya sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan pengelolaan sudut baca sebagai gerakan literasi sekolah pada siswa kelas III di SDN Punten 01 Batu.

2. Mendeskripsikan kendala pengelolaan sudut baca sebagai gerakan literasi sekolah pada siswa kelas III di SDN Punten 01 Batu.

3. Mendeskripsikan solusi terhadap kendala dalam pengelolaan sudut baca sebagai gerakan literasi sekolah pada siswa kelas III di SDN Punten 01 Batu.

(5)

D. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas agar penelitian yang akan dilakukan dapat lebih terarah maka diperlukan batasan penelitian, untuk itu penelitian ini hanya dibatasi pada masalah berikut:

1. Penelitian ini akan dibatasi pada pengelolaan sudut baca, kendala, dan solusi terhadap kendala dalam pengelolaan sudut baca sebagai gerakan literasi sekolah.

2. Penelitian ini dilaksanakan di kelas III SDN Punten 01 Batu.

E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Melalui penelitian ini dapat memberikan informasi, menambah wawasan, dan pengetahuan mengenai pengelolaan sudut baca sebagai Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Hasil dari penelitian juga dapat digunakan sebagai dasar kegiatan penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti, melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan bahwa melalui pengelolaan sudut baca dapat menunjang Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

b. Bagi sekolah, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi dan panduan bagi pengelolaan sudut baca di sekolah sehingga tujuan dari program ini dapat tercapai secara maksimal.

c. Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan siswa dalam mengelola sudut baca di sekolah.

(6)

F. Penegasan Istilah 1. Pengelolaan

Pengelolaan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi merencanakan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan mengawasi agar tercapainya suatu tujuan.

Menurut Adisasmita (2011:22) pengelolaan yaitu menggerakkan, mengorganisasikan, dan mengarahkan usaha manusia untuk memanfaatkan secara efektif material dan fasilitas untuk mencapai suatu tujuan.

2. Sudut Baca

Sudut baca adalah ruang yang menyediakan berbagai sumber bacaan yang menunjang kegiatan belajar mengajar. Kemendikbud (2016:17) menjelaskan bahwa sudut baca merupakan sebuah ruangan yang terletak di sudut kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku dan berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan.

3. Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah memiliki kemampuan dalam mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu dengan cerdas melalui berbagai kegiatan, yaitu membaca, menulis, dan berbicara. Menurut Utama dkk (2016:2) literasi sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Referensi

Dokumen terkait

Data sekunder yang dikumpulkan yaitu data mengenai satwa yang terdapat di alam hasil inventarisasi BKSDA Sumatera Selatan, sarana prasarana wisata, kebijakan-kebijakan

Salah satu faktor produksi yang tidak kalah pentingnya adalah modal, sebab didalam suatu usaha masalah modal mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan berhasil

Verifikasi perilaku daya berkecambah benih pepaya selama penyimpanan secara deskriptif menunjukkan adanya kesesuaian data hasil aktual dan dugaan (Gambar 2). Dari

Hal ini karena permukaan strands kayu ekaliptus bertekstur lebih kasar jika dibandingkan kayu akasia dan gmelina berdasarkan hasil pemotretan fotomikroskop yang dilakukan,

Invocatio : “Kerna IA me katangku asum ningku, ‘Pudin IA reh asa aku, tapi belinen IA asa aku, sabap ope denga aku tubuh pe IA enggo lit” (Johanes 1 :

Pada umumnya anggaran kos perbelanjaan tanaman cili boleh dibahagikan kepada kos tetap, kos bahan-bahan dan kos tenaga kerja. Kos tetap merangkumi perbelanjaan dan alat-alat

Data pada tabel 4.6 menunjukan bahwa jawaban Responden tentang guru memberikan media nyata berupa contoh produk pada pembelajaran mulok pengolahan kue dan roti,

Perbedaan proses bisnis ini disesuaikan dengan pelaksana dari masing-masing wilayah pemasaran (Plasa Telkom atau PK) atau dengan kata lain TELKOM belum mempunyai proses