• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI TENTANG PEMAHAMAN ILMU TAJWID DAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TEORI TENTANG PEMAHAMAN ILMU TAJWID DAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

13 A. Pemahaman Ilmu Tajwid

1. Pengertian Pemahaman

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata pemahaman berasal dari kata dasar paham yang berarti pengertian, pengetahuan, pendapat, dan pikiran.

Sedangkan kata pemahaman sendiri berarti proses, perbuatan, dan cara memahami atau menanamkan (Suharso dan Retnoningsih, 2005: 350).

Definisi pemahaman menurut Sudjana (2017: 24) adalah tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan.

Pemahaman termasuk dalam ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual (Sudjana, 2017: 22).

Dari uraian pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa pemahaman adalah proses memahami sesuatu dengan dibuktikan oleh tindakan setelah mengetahui sesuatu itu dengan proses waktu yang lama.

2. Pengertian Ilmu Tajwid

Menurut Rauf (2011:17) lafazh tajwid menurut bahasa artinya membaguskan. Sedangkan menurut istilah adalah mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya dengan memberi hak dan mustahaknya. Yang dimaksud dengan hak huruf adalah sifat asli yang selalu bersama dengan huruf tersebut, seperti Al- Jahr, Isti‟la, Istifal, dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan mustahak huruf adalah sifat yang nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa, dan lain sebaginya.

Ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf, baik hak-hak huruf (haqqul huruf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf (mustahaqqul huruf) dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-

(2)

hukum madd, dan sebagainya. Sebagai contoh adalah tarqiq, tafkhim, dan semisalnya (Wahyudi, 2008: 1).”

Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang harus dipedomani dalam pengucapan huruf-huruf dari makhrojnya di samping harus pula diperhatikan hubungan setiap huruf dengan yang sebelum dan sesudahnya dalam cara pengucapannya. Oleh karena itu ia tidak dapat diperoleh hanya sekadar dipelajari namun juga harus melalui latihan, praktik dan menirukan orang yang baik bacaannya.

Dari pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa pemahaman ilmu tajwid adalah cara memahami hak-hak huruf (sifat asli yang selalu nampak pada huruf hijaiyah) dan mustahak huruf (sifat yang sewaktu-waktu nampak pada huruf hijaiyah) dengan membutuhkan waktu yang lama.

3. Hukum dan Tujuan Mempelajari Ilmu Tajwid a. Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Hukum mempelajari ilmu tajwid secara teori adalah fardhu kifayah, sedangkan hukum membaca Alquran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid adalah fardhu „ain (Rauf, 2011:17).

Hukum mempelajari tajwid sebagai disiplin ilmu adalah fardlu kifayah atau merupakan kewajiban kolektif. Artinya mempelajari ilmu tajwid secara mendalam tidak diharuskan bagi setiap orang, tetapi cukup diwakili oleh beberapa orang saja. Namun, jika dalam suatu kaum tidak ada seorangpun yang mempelajari ilmu tajwid, maka berdosalah kaum itu (Wahyudi, 2005: 6). Kalau ada dalam suatu daerah ada seseorang yang menguasai ilmu tajwid maka bagi yang lainnya tidak menanggung dosa, kalau sampai tidak ada maka seluruh kaum muslimin di daerah tersebut menanggung dosa.

Adapun hukum membaca Alquran dengan menggunakan aturan tajwid adalah Fardhu „ain atau merupakan kewajiban pribadi, karenanya apabila seseorang membaca Alquran tidak menggunakan ilmu tajwid, hukumnya berdosa.

Artinya bagi seorang yang mukalaf baik laki-laki atau perempuan harus membaca Alquran dengan tajwid, kalau tidak maka dia berdosa.

(3)

Syekh Ibnu jazariy dalam syairannya mengatakan:

َىكٍَاَ

ٍَخ ىل

َيذَ

ًَب

َ تلا

ٍَجًَ

وٍَيًَد

َىحٍَت َ

َهمَ

ًزَهـَ َىلَ

َىمَ#

ٍَنَ

ٍَىلَ

َىييٍَّو

ٍَاَيقل ًَدَ

ٍَرَىفا

َهًث ََىا

َىًلَ ن

َيوًََب

ًَوََ

ٍاًَل

َىلَيوَ

َىاٍَػنَىز

َىكَ#َ َىل

ََىى

َىذ َىك

ًَمَا

ٍَنَيوَ

َىاَىلٍَػيَىن

َىكَا

َىص

َىل

“Membaca Alquran dengan tajwid hukumnya wajib. Siapa saja yang membaca Alquran tanpa memakai ilmu tajwid, hukumnya dosa. Karena sesungguhnya Allah menurunkan Alquran berikut tajwidnya. Demikianlah yang sampai kepada kita dari-Nya” (Wahyudi, 2008: 6).

Senada dengan bapak Amir, dkk (2014: 20-21) yang tercantum dalam bukunya Panduan Pembelajaran Al-Quran bahwa hukum mempelajari ilmu tajwid sebagai disiplin ilmu adalah fardhu kifayah (kewajiban kolektif).

Sedangkan hukum membaca Alquran dengan memakai aturan-aturan tajwid adalah fardhu „ain (kewajiban perseorangan). Penggunaan tajwid di dalam membaca Alquran ini dimaksudkan agar pembaca tidak terjatuh pada kesalahan (lahn) yang dapat menimbulkan kekeliruan pemahaman.

Dari uraian di atas sudah jelas bahwa hukum mempelajari ilmu tajwid adalah Fardhu Kifayah, sedang hukum membaca Alquran dengan memakai ilmu tajwid adalah Fadhu „Ain.

b. Tujuan Mempelajari Ilmu Tajwid

Tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah agar dapat membaca ayat-ayat Alquran secara baik dan benar sesuai dengan yang diajarkan Nabi Saw atau dengan kata lain, agar dapat memelihara lisan dari kesalahan (lahn) ketika membaca kitab Allah Swt (Wahyudi: 2008: 3).

Menurut Rauf (2011: 21) tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah untuk mengaja lidah agar terhindar dari kesalahan dalam membaca Alquran. Kesalahan dalam Alquran disebut dengan istilah

َينٍح لىلا. َينٍح لىلا

dibagi menjadi dua yaitu

َ يًلىلجاَينٍح لىلا

dan

َ يًفىلخاَينٍح لىلا.

(4)

1)

َ يًلىلجاَ ينٍح لىلا

yaitu kesalahan yang nyata pada lafadz sehinggga kesalahan tersebut dapat diketahui baik oleh ulama Qiraat maupun kebanyakan. Lahn jaliy ini ada yang dapat mengubah makna dan ada yang tidak mengubah makna.

Lahn jaliy yang dapat mengubah makna ialah:

a) Bergantinya suatu huruf dengan huruf lain (

َوؼٍرىًبَِ وؼٍرىحَيؿاىدٍبًا

)

Contoh:

َنْوُرُكْشَت ْمُكَّلَعَلَو . ..

“...dan mudah-mudahan kamu bersyukur.”(QS. Al-Jatsiyah: 12)

Apabila lafadz

َنْوُرُكْشَت

dibaca

َنْوُرُك ْس َت

huruf Syin berubah menjadi sin, maka artinya menjadi; ... dan mudah-mudahan kamu mabuk.

b) Bergantinya sutau harakat dengan harakat lain

(َوةىكٍرًبَنةىكٍرىحَيؿاىدٍبًا)

Contoh:

ٍَاَىطاىرًص

ٍَمًهٍيىلىعَىتٍمىعٍػنىاَىنٍيًذل

“(Yaitu) jalan orang-oang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka...” (QS. Al-Fatihah: 7)

Apabila lafadz َ

َىتٍمىعٍػن

َ ا َ dibaca

َيتٍمىعٍػنىا

, maka dhamirnya berubah menjadi (aku), sehingga artinya menjadi: (yaitu) orang –orang yang telah aku anugerahkan nikmat kepada mereka.

c) Bertambah atau berkurangnya huruf (

ًَؼٍكير َيلٍاَيف اىص ٍَقيػنٍَكىاَيةىداىيًز

)

(5)

Contoh:

َىتٍمىعٍػنىا

dibaca

َىتٍىنَىا

َىتٍمىعٍػنىا

dibaca

ٍَوىتٍمىعٍػنىا

Adapun Lahn Jaliy yang tidak mengubah makna contohnya ialah lafadz “ “ yang dibaca “

ًَوىلًليدٍمىٍلىا

“ atau lafadz “

َيوىلًليدٍمىٍلىا

“ dibaca “

ٍَىل َىك ٍَدًلىيٍَىل

ٍَدىلٍويػي

“. Walaupu tidak mengubah makna, keduanya tergolong Lahn Jaliy yang haram hukumnya dilakukan.

2)

َ يًفىلخاَ ينٍح لىلا

yaitu kesalahan yang tersembunyi pada lafadz. Kesalahan ini hanya dapat diketahui oleh para ulama Qiraat atau kalangan tertentu yang mendalami Qiraat. Para Ulama‟ (pengajar Alquran) ini biasanya menghafal berbagai lafadz dalam Alquran dan menerimanya secara talaqiy (langsung) dari ulama lain.

Diantara kesalahan yang tergolong sebagai lahn Khofiy adalah:

a) Membaca dhomah dengan suara antara dhommah dan fathah, seperti membaca dhomahnya lafadz

ٍَميتٍػنىا

dan

ٍَم َيك َىعَىلٍَي

dengan suara antara dhommah dan fathah.

b) Membaca kasroh dengan suara antara Kasroh dan fathah, seperti membaca kasrohnya lafadz

“ًَوًب”

dan

ٍَمًهٍيىلىع

dengan suara antara Kasrah dan Fathah.

c) Menghilangkan dengung lafadz yang seharusnya dibaca dengung atau sebaliknya, termasuk juga menambah atau mengurangi ukuran dengung suatu bacaan.

d) Menghilangkan gunah lafadz yang seharusnya dibaca gunnah, menambah atau mengurangi ukuran gunnah suatu bacaan.

e) Menggetarkan (takrir) huruf Ra‟ ( ر) secara berlebihan atau sebaliknya.

(6)

f) Menebalkan (taglizh) suatu huruf lam ( ل) tidak pada tempatnya.

g) Menambah atau mengurangi ukuran Mad suatu bacaan.

4. Pokok Bahasan Tajwid

Adapun tajwid secara garis besar meliputi lima bagian pokok, yaitu:

a. Ahkam al-Huruf b. Ahkam at-Tajwid c. Al-Madd wa al-Qoshr

d. Al-Washlu, Al-Waqfu wa al-Ibtda‟

e. Al-Ghorib wa al-Musykilat (Amir, dkk, 2014:21)

Dalam penelitian ini, penulis membatasi pokok bahasan tajwid pada santri putri. Dikarenakan faktor waktuَ penelitian yang terbatas. Penulis hanya membahas tentang Ahkam Al-Huruf (hukum-hukum huruf) dan Ahkam At-Tajwid (hukum-hukum tajwid).

a. Ahkam Al-Huruf

Ahkam Al-Huruf meliputi: asma‟ al-huruf (nama-nama huruf), alqob al- huruf (sebutan-sebutan huruf), makhorij al-huruf (tempat-tempat keluarnya huruf) dan sifat al-huruf (sifat-sifat huruf) itu sendiri.

1) Asma’ al-huruf

Asma‟ al-huruf ini berkenaan dengna huruf-huruf hijaiyah, yaitu kumpulan huruf-huruf Arab yang berjumlah 30 huruf. Huruf-huruf inilah yang terpakai dalam Al-Quran dan dikenal pada masa sekarang. Ketiga puluh huruf tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Asma’ al-huruf

No Huruf Arab Nama Huruf

1.

ا

Alif

2.

ب

Ba‟

3.

ت

Ta‟

(7)

4.

ث

Tsa‟

5.

ج

Jim

6.

ح

Ha‟

7.

خ

Kho‟

8.

د

Dal

9.

ذ

Dzal

10.

ر

Ro‟

11.

ز

Zay

12.

س

Sin

13.

ش

Syin

14.

ص

Shod

15.

ض

Dhod

16.

ط

Tho‟

17.

ظ

Zho‟

18.

ع

„Ain

19.

غ

Ghoin

20.

ؼ

Fa‟

21.

ؽ

Qof

22.

ؾ

Kaf

23.

ؿ

Lam

24.

ـ

Mim

(8)

25.

ف

Nun

26.

ك

Waw

27.

ق

Ha‟

28.

ل

Lam Alif

29.

ء

Hamzah

30.

م

Ya‟

2) Alqob Al-Huruf

Alqob Al-Huruf adalah sebutan-sebutan huruf hijaiyah. Terbagi menjadi sepuluh bagian yaitu:

a) Huruf hawaiyah/jaufiyah, yaitu huruf yang dinisbatkan kepada hawa (udara) karena pada saat diucapkan terdapat udara, dan disebut jaufiyah yang dinisbatkan kepada jauf (rongga mulut) sebagai makhrojnya (tempat keluarnya). Huruf-hurufnya yaitu ََ

مَكَا

yang sukun.

b) Huruf Halqiyah, yaitu huruf yang dinisbatkan kepada halq (tenggorokan) sebagai tempat keluarnya. Huruf-hurufnya yaitu:

َخَغَعَحَقَء

c) Huruf lahwiyyah, yaitu huruf yang dinisbatkkan kepada lahat (anak lidah, daging yang menggantung di mulut lubang tenggorokan) karena kedekatan makhrojnya kepada lahat. Huruf-hrufnya yaitu

َؾَؽ

d) Huruf Syajriyyah, yaitu huruf yang keluar drai hamparan lidah di antara dua tulang rahang. Adapun sebutannya dinisbatkan kepada syajar (hamparan lidah).

Huruf-hurufnya yaitu َ

مَشَج

(9)

e) Huruf Jambiyyah, yaitu huruf yang keluar dari hamparan lidah ke samping.

Hurufnya yaitu

َض

f) Huruf Litsawiyyah, yaitu huruf yang dinisbatkan kepada makhrojnya yang dekat dengan litsah (gusi). Huruf-hurufnya yaitu

َثَذَظ

g) Huruf Nith‟iyyah, yaitu huruf yang dinisbatkannya kepada nith‟un (bagian depan dari langit-langit atas) sebagai asal makhrojnya. Huruf-hurufnya yaitu

َطَدَت

h) Huruf Asaliyyah, yaitu huruf yang dinisbatkan kepada makhrojnya yaitu asalah (ujung lidah). Huruf-hurufnya yaitu

َصَزَس

i) Huruf Dzalqiyyah, yaitu huruf yang dinisbatkan dengan makhrojnya huruf yaitu ujung lidah. Huruf-hurufnya yaitu

َرَفَؿ

j) Huruf Syafahiyyah atau Syafawiyyah, yaitu huruf yang dinisbatkan dengan makhrojnya huruf

َبَـَك

3) Makhorijul Huruf

Makhroj ditinjau dari morfologi berasal dari fi‟il madly

َىجىرىخ َ

yang berarti keluar. Kemudian diikutkkan wazan

َهلىعٍفىم

yang bersighot Isim Makan, maka menjadi

َهجىرٍىمَ

yang berarti tempat keluar. Bentuk jamaknya adalah

َيجًراىىمَ

ًَؼٍكيريلٍا

yang berarti tempat-tempat keluar (Wahyudi, 2008: 27).

(10)

Secara bahasa makhroj artinya

ًَجٍك َيريلخٍاَيعًضٍوىم

yang berarti tempat keluar.

Sedangkan menurut istilah makhorijul huruf adalah:

َ لىىمَ

َ ًؼٍرىٍلاًَجٍكيريخ َ –

َيهيرٍويهيظٍَمىا َ –

ٍَمٍّذلا َ

ًَوًبَ ًقٍط نلاَيتٍوىصَيهىدٍنًعَيعًطىقٍػنىػي َ

َ ػيىمىتىػف

ًَهًٍيْىغٍَنىعًَوًبَيز

“Tempat keluarnya huruf yang padanya berhenti suara dari sebuah lafazh (pengucapan) yang dengannya dibedakan suatu huruf dengan huruf lainnnya”

(Kurnaedi, 2013:114).

Yang dimaksud Makhorijul Huruf adalah tempat keluarnya huruf dari mulut, tenggorokan atau lainnya (Amir, dkk, 2014: 37). Makhorijul Huruf adalah tempat keluarnya huruf atau letak pengucapan huruf (Nur, 2009: 50).

Dari beberapa pengertian di atas, penulis menyimpukan bahwa yang dimaksud “Makhorijul Huruf” adalah tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyah dari mulut ataupun tempat keluar huruf yang lain dari seseorang.

Para ulama berbeda pendapat tentang pembagian makhorijul huruf. Imam Syibawaih dan Asy-Syathibiy berebda pendapat bahwa makhroj huruf terbagi atas 16 makhroj, sementara menurut imam al-Fara‟ terbagi atas 14 makhroj. Namun pendapat yang paling masyhur dalam hal ini adalah yang menyatakan bahwa makhorijul huruf terbagi atas 17 makhroj. Imam Kholil bin Ahmad menjelaskan bahwa pendapat inilah yang banyak dipegang oleh qori‟ termasuk Imam Ibnu Jazariy seta ahli Nahwu (Wahyudi, 2008: 28).

Selanjutnya, ke tujuh belas Makhroj ini diklasifikasikan ke dalam lima tempat. Lima tempat yang dimaksud dalam makhorijul Huruf ialah:

a) Al- jauf ( فْو جْل ا ), artinya rongga tenggorokan dan mulut. Dari rongga tenggorokan dan mulut ini muncul satu makhroj yang dikenal dengan Makhroj Al-Jauf. Makhroj Al-Jauf ini keluar tiga huruf mad, yaitu Alif ( ا ), Wawu ( َو ), dan Ya‟ ( ًََ ) yang bersukun. Dalam Nazham dijelaskan:

َىفَىاًَل

َيف

َىلجٍَو ٍََا

ََىكَيا ًَؼ

ٍَخَىػت

َىكَا َىه

ٍَيَ ًََى

َيحَ#

َيرٍَك

ََىم َيؼ

ًَلٍَل َ دَ

َىهَىو

ًَءاَ

َىػتٍَنَىت

ٍَي ًَه

(11)

“Huruf Alif makhrojnya dari Al-Jauf, begitu kedua kwannya (huruf Wawu dan Ya‟), sama semua hrurf Mad, yang pengucapannnya menekan pada udara”

(Kurnaedi, 2013:121).

b) Al-Halq (كْل حْل ا) artinya tenggorokan. Maksudnya, tempat keluarnya huruf yang terletak pada tenggorokan. Dari Al-Halq ini keluar tiga Makhroj, yang digunakan unutk tempat keluarnya 6 (enam) huruf. Ketiga makhroj tersebut anatara lain:

(1) Aqsol Halq (َكلحلاَيصْل ا) adalah pangkal tenggorokan atau tenggorokan bagian dalam. Dari makhroj ini keluar huruf hamzah (ء) dan Ha‟ (ق)

(2) Wasthul Halq ( َ كْل حلْاَُطْس و ) adalah tenggorokan bagian tengah. Dari makhroj ini keluar huruf „Ain ( ع ) dan Ha‟ ( ح )

(3) Adnal Halq ( َ كْل حلْاَ ي وْد ا ) adalah tenggorokan bagian luar atau ujung tenggorokan. Dari makhroj ini keluar huruf Kho‟ ( َخ ) dan Ghoin ( غ ).

c) Al-Lisan ( َُنا سلِّل ا), artinya Lidah.َMaksudnya tempat keluar huruf yang terletak pada lidah. Jumlah hijaiyyah keluar dari makhroj ini berjumlah 18 huruf terbagi atas 10 makhroj. Kesepuluh makhroj tersebut adalah sebagai berikut:

(1) Pangkal lidah dekat anak lidah dengan langit-langit yang lurus di atasnya. Dari makhroj ini keluar huruf Qof ( َ ق ). Dalam istilah lain, makhroj ini disebut aqshol Lisan Fauqo ( ي لْو فَ نا سِّللاَي صْل ا ) artinya pangkal lidah sebelah atas.

(2) Pangkal lidah, tepatnya sebelah bawah (atau kedepan) sedikit dari makhrojnya Qof, bertemu dengan langit-langit bagian atas. Dari makhroj ini keluar huruf Kaf (ن). Dalam istilah lain, makhroj ini disebut juga Aqshol Lisan Asfal ( َي صْل ا

َِّللا

َ ل فْس اَ نا س ) artinya pangkal lidah sebelah bawah.

(3) Pertengahan lidah bertemu dengan langit-langit atas. Pertengahan lidah tersebut dimantapkan (tidak menempel) pada langit-langit atas. Dari makhroj ini keluar jim ( ج ), sin (َش ), dan Ya‟ (ًَ ). Dalam istilah lain, makhroj ini َ disebut dengan “ َ نا سِّللاَُطْس و “ yang artinya tengah lidah.

(4) Salah satu tepi lidah atau keduanya dengan gigi geraham yang atas. Ada juga yang mengatakan tepi pangkal lidah dengan geraham atas kanan atau kiri memanjang kedepan. Dari makhroj ini keluar huruf Dlod (ض). Menggunakan tepi lidah sebelah kanan adalah agak sukar, menggunakan tepi lidah kiri dan

(12)

kanan adalah paling sukar. Yang ketiga inilah cara yang selalu digunakan Rasulullah Saw dan Sahabat Umar.

(5) Kedua tepi lidah secara bersama-sama sesudah makhroj Dlod hingga ujung lidah dengan gusi gigi yang atas, yakni gusinya gigi seri (اياىثلا) gusinya gigi antara gigi taring dan gigi seri ( ت اّيعَ ات ُّرلا), gusinya gigi taring (ب ايْولأا), dan gusinya gigi antara gigi taring dan gigi geraham (َُسا ر ْضلاا). Dari makhroj ini keluar huruf Lam (َل ). Huruf lam ini juga bisa keluar dari slaah satu tepi lidah dengan gusi yang atas, menggunakan tepi lidah sebelah kanan adalah lebih mudah.

(6) Ujung lidah dengan gusi dua buah gigi seri yang atas agak kedepan sedikit dari makhrojnya. Dari makhroj ini keluar huruf Nun ( ن ) izhar, bukan Nun yang dibaca idghom atau ihkfa‟. Karena Nun yang dibaca idghom atau ikhfa‟ adalah Khoisyum.

(7) Ujung lidah bagian atas dengan gusi dua gigi seri yang atas. Lidah tidak sampai menyentuh gusi. Dari makhroj ini keluar huruf Ro‟ ( ر). Ro‟ lebih ke dalam daripada Nun, sedang Ro‟ da Nun lebih keluar daipada Lam.

(8) Bagian atas dari ujung lidah dengan pangkal dua buah gigi seri yang atas. Dari makhroj ini keluar huruf (ت), Dal (د), dan Tho‟ (ط). Ketiga huruf ini (ت, د,َط) disebut juga huruf َُةَّي عْط و yang artinya ujung langit-langit.

(9) Antara ujung lidah dengan ujung dua buah gigi seri. Dari makhroj ini keluar huruf Zai‟ ( َز ), Sin (س ), Shod (ص ). Antara ujung lidah dengan dua buah gigi seri tidak sampai menempel, tetapi keduanya berada pada jarak yang sangat dekat sekali.

(10) Bagian atas dari ujung lidah dengan dua buah gigi seri yang atas, berurutan mulai dari ujung, tengah gigi, dan persambungan gusi dengan dua buah gigi seri yang atas. Dari makhroj ini keluar huruf Tsa (ث), Dzal (ر), dan Zho (ظ)

d) Asy-Syafatan (َُنا ت فَّشلا ) artinya dua bibir. Maksudnya, tempat keluarnya yang terletak pada dua bibir. Bibir atas dan bibir bawah Asy-Syafatan ini terbagi atas dua makhroj, yaitu:

(13)

(1) Perut (bagian dalam) bibir bawah atau bagian tengah bibir bawah dengan ujung dua buah gigi seri yang atas. Makhroj ini keluar huruf Fa (ف).

(2) Kedua bibir atas dan bawah bersama-sama, jika kedua bibir tersebut tertutup rapat, keluarlah huruf Mim ( َم ) dan Ba‟ (ب). Ba‟ lebih rapat daripada Mim e) Al-Khoisyum (َ ُم ْوُشْي خلْا ) artinya Aqshol Anfi (pangkal hidung). Dari Al-

Khoisyum ini keluar satu makhroj, yaitu Al-Gunnah (sengau/dengung), sehingga dari makhroj inilah keluar segala bunyi dengung/sengau ini terjadi pada:

(1) Nun sakinah (َْن ) atau tanwin ketika dibaca Idghom Bighunnah, Ikha‟ dan ketika Nun itu bertasydid

(2) Mim sakinah َََْم ketika dibaca idghom (Mitslain) Ikha‟ (Syafawiy) dan ketika Mim itu ditasydid

Dalam bukunya Tajwidul Quran Karim, ustadz Isma‟il tekan memberikan catatan yang bagus tentang Makhroj Al-Khoisyum ini, beliau menjelaskan:

“Al-Khoisyum sebenarnya bukan tempat keluar huruf (makhroj), hanya karena dengung itu ada hubungannya dengan huruf maka ia disebut juga sebagai makhroj. Harus diketahui bahwa semua huruf itu tidak boleh dikeluarkan dari/melalui hidung, seperti halnya orang yang sengau.

Demikianlah penjelasan tentang Makhorijul Huruf dan pembagiannya untuk memperjelas dan merangkum seluruh pembahasan Makhorij Huruf, maka penulis tampilkan skema dan gambar makhroj serta gambaran sederhana mengenai posisi masing-masing huruf dalam makhroj-makhrojnya.

(14)

Tabel 2. 2 Makharijul Huruf

No Makhorijul

Huruf Keterangan Huruf

1.

ؼٍوىٍلجىا

(Rongga Mulut)

Suara keluar dari rongga mulut

menekan pada udara

مَكََا

2.

َيقٍلىٍلىا

(Tenggorokan)

Bagian dalam

ءَق

Bagian tengah

عَح

Bagian luar

غَخ

3.

َيفاىسٍّلل َىا

(Lidah)

Pangkal lidah dengan langit-langit

atas

ؽ

Pangkal lidah, ke depan sedikit dari makhroj qaf, dengan langit-langit atas

ؾ

Pertengahan lidah dimantapkan

dengan langit-langit atas

مَجَش

Tepi lidah dengan geraham kiri atau

kanan

ض

Ujung lidah dengan langit-langit di

hadapannya

ؿ

Bergeser ke bawah sedikit dari makhroj lam, dengan langit-langit di hadapannya

ف

Dekat makhroj nun, tapi masuk pada

punggung lidah

ر

Ujung lidah dengan pangkal gigi seri

atas

طَدَت

Ujung lidah dengan ujung gigi seri

atas

ثَظَذ

Ujung lidah dengan ujung gigi seri

bawah

سَزَص

4.

ٍَيىػتىف شلىا

(Dua Bibir)

Bibir bawah bagian tengah dengan

ujung gigi atas

ؼ

Paduan bibir atas dan bbir bawah

بَـَك

5.

َيـٍويشٍيىٍلخىا

(Pangkal Hidung)

Pangkal hidung dengan memakai

dengung

فَـ

(15)

4) Sifatul Huruf

Sifat-sifat huruf adalah karakteristik yang melekat pada suatu huruf hijaiyah mempunyai sifat tersendiri yang bisa jadi sama atau berbeda dengan huruf lain. Sifat ini muncul setelah suatu huruf diucapkan secara tepat dari makhrojnya. (Wahyudi, 2008: 57).

Adapun tujuan mempelajari sifat-sifat huruf adalah agar huruf yang keluar dari mulut seseorang semakin sesuai dengan keaslian huruf-huruf Al-Quran itu sendiri. (Rauf, 2011: 34).

Secara umum sifat terbagi menjadi dua jenis yaitu, sifat dzatiyah dan sifat

„aradiyah. Sifat dzatiyah adalah sifat asli yang selalu ada (melekat) pada huruf, tidak akan berpisah dalam keadaan apa pun. Di antara yang termasuk sifat asli adalah: jahr, hams, syiddah, ithbaq, istifal, idzlaq, dan qolqolah. Sifat „aradiyah adalah sifat bukan asli yang tidak selalu ada (melekat) pada huruf, kadang-kadang ada dan kadang-kadang tdiak ada. Sifat ini ada 11 bentuknya: tafkhim, tarqiq, izhar, idgham, iqlab, ikhfa, mad, qashr, tahrik, sukun, dan saktah (Kurnaedi, 2013: 144).

Sifat dzatiyah terbagi menjadi dua, yaitu: sifat dzatiyah yang memiliki lawan dan sifat dzatiyah yang tidak memiliki lawan. Sifat dzatiyah yang memiliki lawan ada 5 sifat, dan beserta 5 sifat lawannya sehingga berjumlah 10 sifat. Secara global jelasnya perhatikan tabel berikut ini.

Tabel 2. 3

Sifat Dzatiyah yang Memiliki Lawan

No

Sifat Dzatiyah Yang Memiliki

Lawan

Lawannya No

Sifat Dzatiyah Yang Memiliki

Lawan

1. Hams 2. Jahr

3. Syiddah 4. Rokhowah

5. Isti‟la‟ 6. Istifal

7. Ithbaq 8. Infitah

9. Idzlaq 10. Ishmat

(16)

Berdasarkan tabel di atas, dapat penulis pahami bahwa setiap huruf hijaiyyah dapat dipastikan mempunyai sekurang-kurangnya lima sifat yang melekat dan lima sifat yang menjadi lawan. Penjelasan sifat-sifat Dzatiyah yang Memiliki Lawan sebagai berikut.

a) Hams /

َيسٍمىٍلْىا

. Hams menurut bahasa adalah Hissul Khofiy

(يًفىلخٍاَ سًح),

artinya perasaan halus. Sedang menurut istilah adalah Keluarnya (berembusnya) nafas ketika mengucapkan huruf karena lemahnya tekanan terhadap makhroj huruf tersebut. Huruf-huruf Hams dirumuskan dalam:

َيو ثىحىف

ٍَتىكىسَ هصٍخىش

. Lawan dari sifat Hams adalah sifat Jahr yang memiliki karakteristik yang bertolak belakang dengan sifat hams.

b) Jahr /

َيرٍهىلجا

. Jahr menurut bahasa adalah Al-I‟lan wal izh-har

(َ يفىلٍعًلىا

َيراىهٍظًلٍاىك)

artinya berkumandang dan jelas. Sedang menurut istilah, jahr adalah tertahannya aliran (hembusan) nafas ketika mengucapkan huruf, karena kuatnya tekanan terhadap makhroj huruf tersebut. Jumlah huruf ada 15 yang terkumpul dalam:َ

َيفٍزىكَىميظىع

َىبىلىطَ دىجَ ضىغَلًذَوئًراىق َ

c) Syiddah /

َية دٍّشلىا

. Syiddah menurut bahasa adalah Al-Quwwah artinya kuat, sedang menurut istilah syiddah adalah tertahannya suara ketika mengucapkan huruf, karena makhroj huruf tersebut ditekan dengan sempurna. Huruf-huruf syiddah jumlahnya ada 8 yang terkumpul dalam:

َ ٍتىكىبَ طىقٍَد ًجىا

(17)

d) Rakhawah /

َيةىو َىخٍّرلىا

. Rakhawah menurut bahasa adalah Al-Lin artinya lunak atau lembut. Sedang menurut istilah adalah berjalannya (tidak tertahannya) suara ketika mengucapkan huruf karena lemahnya tekanan terhadap makhroj huruf tersebut. Huruf-huruf Rakhawah ada 16 yang terkumpul dalam:

َ ظىحَ ثىغٍَذيخ

َوهاىسٍَّلًزَىصٍوىشَ ضيف

e) Isti‟la /

َيءىلٍعًتٍسًلىا

. Isti‟la menurut bahasa dalah Al-Irtifa‟

( َ َيعاىفًتٍرًلىا َ ),

artinya

terangkat. Sedang menurut istilah adalah terangkatnya lidah ke langit-langit atas ketika mengucapkan huruf. Huruf-huruf isti‟la ada 7 huruf, terkumpul dalam kalimat:

ٍَظًقَ وطٍغىضَ صيخ

f) Istifal /َ

َيؿاىفًتٍسًلىا

َ. Istifal menurut bahasa adalah Al-Inhifadh (

َيضاىفًٍنًْلىا

)

artinya merendahkan, sedang menurut istilah istifal adalah terhamparnya lidah dari langit-langit atas sampai ke pelataran mulut saat mengucapkan huruf.

Huruf-huruf istifal ada 22 huruf, terkumpul dalam kalimat:

َىسٍَذًاَيوىفٍرىحَيدٍّوىييٍَنىمٌَّزًعَىتىبىػث اىكىشَ ل

g) Ithbaq /

َ َيؽاىبٍطًلىا

. Ithbaq menurut bahasa ialah Al-ilshoq (

َيؽاىصٍلًلا

) artinya menempel, sedang menurut istilah ithbaq adalah merapatnya lidah pada atap langit-langit ketika mengucapkan huruf. Huruf-huruf ithbaq ada 4 yaitu: َصَ–

َض –

َ

َط –

َ

َظ

h) Inftah /

َيحاىتًفٍنًلىا

ََ. Infitah menurut bahasa adalah Al-Iftiraq (

َيؽاىًتٍِفًلىا

), artinya terpisah atau terbuka, sedang menurut istilah adalah terbukanya apa yang ada

(18)

diantara lidah dan langit-langit atas, sehingga keluar angin dari antara keduanya. Huruf-huruf infitah adalah huruf selain huruf isti‟la, berjumlah 28 hururf, terkumpul dalam:

َنةىعىسَىدٍجىكَىذىخىاٍَنىم

َوثٍيىغَيبٍريشَيوىلَ قىحَاىكىزىػف

i) Idzlaq /

َ يؽىلٍذًلىا.

Idzlaq menurut bahasa adalah hiddatul lisan wa balaghatuhu (batas lidah dan ujungnya). Sedang menurut istilah adalah bersandarnya huruf ketika pengucapa pada ujung lidah atau bibir.Huruf-huruf idzlaq berjumlah 6 huruf, terkumpul dalam:

َوبيلٍَنًم َ رًفَ

j) Ishmat /

َيتاىمٍصًلا

. Ishmat menurut bahasa adalah Al-Imtinaa‟u (tercegah).

Sedang menurut istilah adalah tercegahnya kesendirian huruf-huruf ishmat dari susunan sebuah kata yang huruf-huruf aslinya lebih dari tiga huruf tanpa ada minimal satu huruf idzlaq padanya, yakni karena ringannya huruf idzlaq untuk megimbangi beratnya huruf ishmat. Huruf-hurufnya berjumlah 28 huruf, yaitu

َا

َشَسَزَرَذَدَخَحَجَثَت

َقَكَفَـَؿَؾَؽَؼَغَعَظَطَضَص مَء

Adapun sifat dzatiyah yang tidak memiliki lawan ada 8 sifat. Secara global yaitu sebagai berikut:

(19)

Tabel 2.4

Sifat Dzatiyah yang Tidak Memiliki Lawan

No Sifat Dzatiyah yang Tidak Memiliki Lawan

1. Shafir

2. Qalqalah

3. Lin

4. Inhiraf

5. Takrir

6. Tafasyi

7. Istithalah

8. Guhnnah

Berdasarkan tabel di atas, dapat penulis pahami bahwa terdapat huruf hijaiyyah yang sifat dzatiyahnya tidak memiliki lawan. Jumlah sifat tersebut ada 8. Penjelasan sifat-sifat dzatiyah yang tidak memiliki lawan sebagai berikut a) Sifat Shafir

Menurut bahasa, shafir ( َُرْي فَّصلا ) adalah biddatush shaut (ketajaman suara).

Adapun menurut istilah adalah ketajaman suara dari huruf yang muncul karena melewati tempat yang sempit. Jumlah huruf shafir ada 3, yaitu (ص ) shad, (ز ) zay,َ(س ) sin

b) Sifat Qalqalah

Menurut bahasa, qalqalah adalah al idhthirah (bergetar atau guncang).

Adapun menurut istilah adalah mengeluarkan huruf yang diqalqalahkan ketika sukun dengan menjauhkan dua sisi anggota (alat) ucap tanpa dipengaruhi salah satu dari harokat yang tiga. Jumlah qalqalah ada lima, yaitu: Qaf ( ق) , tha (ط ) , ba (ب ), jim (ج ), dal (د )

c) Sifat Lin

Menurut bahasa, lin ( َُهْيِّللا) adalah as suhulah (mudah). Adapun menurut istilah adalah sifat yang dimutlakkan untuk huruf wau dan ya sukun yang sebelumnya berharakat fathah sebab kemudahannya (tidak berat) pada makhroj.

Jumlah huruf lin ada 2, yaitu: Wau ( و) dan ya ( ً) yakni dengan syarat kedua huruf terebut sukun dan sebelumnya berharakat fathah.

(20)

d) Sifat Inhiraf

Menurut bahasa Inhiraf (

َيؼاىرًٍنًْلا

) adalah al mail wal uduul (condong dan menyimpang ).َ Adapun menurut istilah adalah menyimpangnya suara huruf karena mengalirnya tidak sempurna dengan sebab jalannya terhalangi oleh lidah.

Jumlah huruf inhiraf ada 2: Lam ( ل) dan Ra ( ر). Perlu diketahui bahwa inhiraf lam ) ل) dan ra (ر) berbeda. Perbedaan antara inhiraf lam ) ل) dan ra (ر) sebagai berikut.

(1) Inhiraf suara lam kepada dua sisi ujung lisan karena ujung (Lidah) menghalangi jalannya.

(2) Inhiraf suara ra adalah sebaiknya,suara keluar dari dua sisi ujung lisan mengarah ketengah(lidah).

e) Sifat Takrir

Menurut bahasa,takrir adalah sesuatu lebih dari sekali.Adapun menurut istilah bergetarnya ujumg lidah ketika mengucapkan huruf ra dengan getaran yang lembut akibat sempitya makhraj. Jumlah huruf takrir ada satu yaitu: Ra (ر).

f) Sifat Tafasysyi

Menurut bahasa tafasysyi bermakna al ittisa‟(meluas).Adapun menirit istilah adalah tersebarnya suara syin dari makhrajnya sehingga menabrak dinding dalam gigi-gigi atas dan bawah. Jumlah huruf tafasysyi ada 1, yaitu huruf syin ( ش).

g) Sifat Istithalah

Menurut bahasa istithalah adalah al imtidad (memanjang). Adapun menurut istilah terdorongnya lidah sedikit ke depan setelah bertabrakan dengan makhraj dhad sehingga ujumg lidah menyentuh pangkal gigi seri atas, dan hal tersebut di bawah pengaruh udara yang tertekan di belakang lidah. Jumlah huruf istithalah ada 1 yaitu huruf dhad (ض).

h) Sifat Ghunnah

Ghunnah adalah suara yang keluar dari rongga hidung,َ yang menyertai huruf nun dan mim. Bahasan ghunnah disini bukanlah tentang pokoknya,َtetapi yang

(21)

dimaksud adalah ghunnah muthawwalah (yang dipanjangkan lebih dari pokok ghunnah). Dengan ghunnah yang panjang ini maka ia (ghunnah) merupakan sifat bagi huruf nun dan mim pada sebagian keadaan.

b. Ahkam At - Tajwid

Ahkam At-Tajwid (hukum-hukum tajwid) meliputi Ahkam Qiro‟ah at- Ta‟awudz wa al-basmalah wa as-Suroh, Qowa‟id Qiro‟ah at-Ta‟awudz wa al- Basmalah wa as-Suroh, Ahkam Alif Lam, Ahkam Lam Jalalah, Ahkam Nun as- Sakinah wa at-Tanwin, Ahkam Mim as-Sakinah, Ahkam al-Idghom, Ahkam Ar- ro‟, Ahkam Nun wa al-Mim al-Musyaddatain, Ahkam al-Qolqolah, dan Ahkqm Ha‟ al-Kinayah (Amir, dkk, 2014: 79).

1) Ahkam Qiro‟ah at-Ta‟awudz wa al-basmalah wa as-Suroh

Menurut bahasa At-ta‟awudz / isti‟adzah (

َيةىذاىعًتٍسًلا

) adalah meminta perlindungan. Adapun menurut istilah adalah sebuah lafazh yang diguakan untuk

meminta perlindungan kepada Allah serta pembentengan diri dari syaitan (Kurnaedi, 2013:85).

Sedang menurut istilah ilmu tajwid, isti‟adzah adalah Lafazh yang dimaksudkan seorang qori‟ (pemabaca Al-Quran) untuk memoho pemeliharaan dan perlindungan Allah Swt. dari kejahatan setan.”(Amir, dkk, 2014: 52).

Di antara bentuk isti‟adzah adalah (Kurnaedi, 2013: 85):

ًَمٍي ًج رلاًَفاىطٍي شلاَىنًمًَو للاًبَيذٍويعىا

ًَمٍيًج رلاًَفاىطٍي شلاَىنًمًَمٍيًلىعٍلاًَعٍيًم سلاًَو للاًبَيذٍويعىا

Hukum membaca isti‟adzah sebelum memulai tilawah (membaca Al- Quran) adalah Sunnah. Allah Swt berfirman (An-Nahl [16]: 98):

َىرىػقَاىذًإىف

َ للاًبٍَذًعىتٍساىفَىفآٍريقٍلاَىتٍأ

ًَمي ًج رلاًَفاىطٍي شلاَىنًمًَو

(22)

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Alquran, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (Kementerian Agama RI, 2010: 278).

Ayat ini memeritahkan untuk membaca dan mempelajari Alquran. Tetapi karean setan selalu menghalangi manusia dari jalan kebajikan, termasuk membaca dan mempelajarai Alquran, maka ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw dan tentu lebih-lebih lagi umatnya, agar membacanya sambil memohon perlindungan Allah dari godaan setan. Ayat ini seakan-akan menyatakan demikianlah Alquran memberi bimbingan menuju kebenaran.

Memang setan selalu berusaha menjauhkan manusia dari tuntunan Alquran, maka jika demikian apabila engkau membaca Alquran, maka berta‟awudzlah, yakni memohonlah dengan tulus perlindungan kepada Allah dengan berkata: “A‟udzu billahi min asy-syaithan ar-rajiim” baik dengan suara nyaring maupun berbisik, kiranya engkau dihindarkan dari rayuan dan bisiskan setan yang terkutuk, yakni yang dijauhkan dari rahmat Allah (Shihab, 2002: 344: 345).

Dari uraian di atas, dapat penulis katakan bahwa sebelum membaca Alquran hendaklah memohon perlindungan kepada Allah Swt agar terhindar dari godaan setan yang terkutuk yaitu dengan membaca ta‟awudz.

Adapun membaca basmallah sangat dianjurkan (mustahabbah), baik di awal surat atau pertengahan surat, kecuali pada surat at-taubah baik dilakukan dengan suara keras atau pelan. Sebagian ulama qira‟at memberinya hukum wajib sina‟i, artinya kewajiban yang apabila ditinggalkan tidak berdosa (Rauf, 2011:

23).

Menurut Rauf (2011: 23-24), Cara membaca isti‟adzah, basmallah, dan awal surat, ada empat cara:

a) َ عْم جْلاَ ُعْط ل artinya membaca isti‟adzah, basmallah, dan surat secara terpisahَ , misalnya:

ًَمٍي ًج رلاًَفاىطٍي شلاَىنًمًَو للاًبَيذٍويعىا

*ًمٍيًح رلاًَنىٍحْ رٍلاًَو للاًَمٍسًبَ*

*هدىحىاَيو للاَىويىٍَليق َ

(23)

b) َ عْم جلاَ ُل ْص و, artinya membaca isti‟adzah, basmallah, dan surat secara bersambung, misalnya:

ًَمٍي ًج رلاًَفاىطٍي شلاَىنًمًَو للاًبَيذٍويعىا

ًَمٍيًح رلاًَنىٍحْ رٍلاًَو للاًَمٍسًب َ

*هدىحىاَيو للاَىويىٍَليق

c)

ًَثًل ث ل اًبَ ًنِا ثلاَيلٍصىكىكًَؿ كىلأاَيعٍطىق ,

membaca isti‟adzah secara terpisah dengan basmallah dan surat, mislanya:

ًَمٍي ًج رلاًَفاىطٍي شلاَىنًمًَو للاًبَيذٍويعىا

ًَمٍيًح رلاًَنىٍحْ رٍلاًَو للاًَمٍسًبَ*

*هدىحىاَيو للاَىويىٍَليق

d)

ًَنِا ثلاًبَ ًؿ كىلأاَيلٍصىك,

menyambung isti‟adzah dan basmallah sementara surat dibaca secara terpisah, misalnya:

ًَمٍي ًج رلاًَفاىطٍي شلاَىنًمًَو للاًبَيذٍويعىا

*ًمٍيًح رلاًَنىٍحْ رٍلاًَو للاًَمٍسًب َ

*هدىحىاَيو للاَىويىٍَليق َ

2) Ahkam Alif Lam

Lam sukun pada Alif Lam disebut lam Ta‟rif. Lam Ta‟rif adalah lam sukun zaidah (sebagai huruf tambahan) dari asal kata yang diketahui hamzah washal yang difathahkan ketika memulai (bacaan) dengannya, yang (lafazh) berikutnya adalah isim.

Hukum lam sukun pada lam ta‟rif ada dua, yaitu izhar atau yang disebut izhar qomari, dan idghom atau yang disebut dengan idghom syamsi (Kurnaedi, 2013: 268).

(24)

a) Izhar Qomari

Izhar lam sukun pada hukum pertama dinamai dengan izhar qamari, sedangkan lam nya disebut lam qamariyah. Huruf izhar qamari ada 14 huruf, terkumpul dalam ungkapan

َيوىمٍيًقىعٍَفىخىكَىك جىحًَغٍبًا

Huruf-huruf tersebut ialah huruf-huruf halq (tenggorokan), syafatain (2 bibir), aqshol lisan (pangkal lidah) dan tengahnya selain dari huruf syin (ش) (Kurnaedi, 2016: 20).

b) Idghom Syamsi

Idgham lam sukun pada hukum kedua dinamai dengan idgham syamsi, sedangkan lam nya disebut lam syamsiyah. Huruf syamsiyah berjumlah 14 huruf, terkumpul dalam ungkapan:

ًَـىرىكٍلًلَانفٍػيًرىشٍَريزَ نىظَىءٍويسٍَعىدَ*ٍَمىعًنَاىذٍَفًضٍَزيفىػتَانٍحْىرٍَلًصَ يثٍَبًط

3) Ahhkam Lam Jalalah

Lam al-Jalalah ada dua macam: taghlizh (tebal) dan takhfif (ringan) (Amir, dkk, 2014: 58).

a) Taghlizh, secara bahasa berarti tebal. Sedangkan menurut istilah berarti mengucapkan huruf dengan tebal sampai memenuhi mulut ketika mengucapkannya. Lam jalalah dibaca tebal manakala didahului fathah atau dhimah, seperti:

َيو للاَيبًرٍضىيَ,يو للاَىقىلىخ

b) Takhfif , artinya ringan, sedangkan menurut istilah berarti mengucapkan huruf dengan ringan (tipis) sehingga tidak sampai memenuhi mulut ketika mengucapkannya. Lam Jalalah dibaca ringan apabila harokat huruf sebelumnya berupa kasroh, seperti:

َيو للاًَليقَ,ًو للاًَمٍسًب

(25)

4) Ahkam Nun as-Sakinah wa at-Tanwin

Nun sukun adalah nun yang kosong dari harakat, dan tandanya adalah tetapnya kedua bibir ketika mengucapkannya. Ia tetap dalam pengucapan dan tulisan daam keadaan washal (yakni ketika menyambung bacaan) atau waqaf (yakni ketika berhenti). Contoh:

ٍَفًاَ,ٍَنيكىيَ,ًَسيدٍنيس

Tanwin adalah nun sukun tambahan yang terdapat pada akhir isim pada pengucapan ketika washa, dan ketika ada dalam tulisan juga ketika waqaf.

Contoh:

ٍَػيًزىع

َهةىعًشىخَوذًئىمٍوىػيَ,َانرٍويفىغَ,َانمٍيًكىحَانز

Hukum nun sukun atau tanwin َketika bertemu dengan huruf hijaiyah ada empat hukum, sebagaimana dinyatakan oleh (Kurnaedi, 2016: 4).

ٍَبىػتٍَذيخىفَوـاىكٍحىأَيعىبٍرىأَ*ًَنٍيًوٍن ػتلًلىكٍَنيكٍسىتٍَفًاًَفٍو ػنلًل

ًٍَنٍيًي

Bagi nun sukun dan tanwin * terdapat empat hukum, maka ambillah penjelasanku

Keempat hukum yang dimaksud adalah izhar halqi, idghom yakni idgham bighunnah dan idgham bilaghunnah, qalb atau iqlab, dan ikhfa hakiki (Kurnaedi, 2013: 214). Perhatikan tabel berikut.

(26)

Tabel 2. 5

Hukum Nun Sukun dan Tanwin

a) Izhar Halqi

Menurut bahasa, Izhar Halqi adalah huruf yang dibaca jelas. Adapun menurut istilah adalah mengeluarkan (mengucapkan) setiap huruf dari makhrajnya tanpa ada tambahan ghunnah pada huruf yang diizharkan. Huruf izhar ada 6 huruf, yaituََ

غَعَأ

َ حَخَق

Tabel 2. 6

Contoh nun sukun ( ْ ن ) bertemu dengan huruf-huruf izhar

Huruf Dalam Satu Kata Dalam Dua Kata

ء َىفٍوىعٍػنىػيىك ىىطٍعىاٍَنىم

ق َىفٍوىهٍػنىػي َىرىجاىىٍَنىم

ح َىفٍويػتًحٍنىػي َىو للاَ دآىحٍَنىم

خ َيةىقًنىخٍنيمٍلاىك َىيًشىخٍَنىم

(27)

ع َىـا َىعٍػنىٍلاَىك َوقىلىعٍَنًم

غ َىفٍويضًغٍنيػيىسىف َوٍيًلٍسًغٍَنًم

Tabel 2. 7

contoh tanwin (ْ

ً ً

) bertemu dengan huruf-huruf izhar

Huruf Dalam Dua Kata

ء َيهاىنٍلىزٍػنىأَهباىتًك

ق َوراىىَ وؼيريج

ح َهمٍيًكىحَهزٍػيًزىع

خ َهرٍػيًبىخَهفٍيًطىل

ع َهم ٍَيًلىعَهعيًساىك

غ َىرٍػيىغَنلٍوىػق

b) Idgham

Menurut bahasa idgham adalah memasukkan. Adapu menurut istilah adalah menggabungkan huruf yang sukun dengan huruf yang berharakat, sehingga keduanya menjadi satu huruf yang bertasydid seperti huruf yang kedua, dan makhraj keduanya terucap secara bersamaan” (Kurnaedi, 2013: 219).

Jumlah hurufnya ada 6 huruf, tetapi ia terbagi menjadi dua bagian, 4 darinya diidghamkan dengan ghunnah, yaitu Ya‟, Nun, Mim, Wawu dan dua hurufnya diidghamkan tanpa ghunah, yaitu Lam dan Ra‟ (Kurnaedi, 2016: 6-7).

(28)

Tabel 2. 8

Contoh Diidhgamkan dengan ghunnah (idgham bighunnah)

Huruf Lafadz

م َيؿٍويقىػيٍَنىم

ف ٍَرًفٍغ ػنَهة طًح

ـ ًَؿاىمٍَنًم

ك ٍَميىلْىكَهةىوىشًغ

Tabel 2. 9

Contoh diidghamkan tanpa ghunnah (idgham bilaghunnah)

Huruf Lafadz

ؿ ٍَميك لٌَّرىش

ر ٍَمًٍّبِّ رٍَنًم

Catatan:

Apabila terkumpul huruf nun dan ya atau waw pada satu kata seperti:

َََهفاىوٍػنًصَ,هفاىوٍػنًقَ,هفاىيٍػنيػبَ,اىيٍػن دلا

maka hukumnya izhar mutlak.

c) Iqlab/qalb

Menurut bahasa adalah mengubah sesuatu dari letaknya yang thabi‟i (yang asli) (Al-Jamzury, 2016:8). Adapun menurut istilah adalah mengubah nun sukun atau tanwin menjadi mim yang tersembunyi pada ba‟ disertai dengan ghunnah (dengung) (Kurnaedi, 2013: 226).

Illat (sebab) qalb adalah ketika tidak bisa idgham pada huruf Ba‟, idgham (memasukan) nun pada Ba‟. Karena jauhnya 2 makhraj tersebut, dengan susahnya

(29)

mendatangkan ghunnah pada ba‟, maka ia diganti menjadi mim. Iqlab ditandai dalam mushaf dengan meletakkan mim yang kecil di atas nun. Contoh

َاىىًدٍَعىػب

ـ

ٍََنًَم

. Sedangkan pada tanwin dengan meletakkan mim tersebut di atas fathah, di depan dhamah, dan di bawah kasrah, contoh:

اىهًتىيًصاىنًبَهذًخآَىويىَ لًإ

d) Ikhfa hakiki

Menurut bahasa ikhfa‟ adalah ikhfa yang samar atau tertutup. Adapun menurut istilah adalah mengucapkan huruf yang diikhfakan (disamarkan) dengan sifat antara izhar dan idgham tanpa tasydid dengan tetap disertai ghunnah pada huruf pertama (Kurnaedi, 2013: 230).

Huruf ikhfa‟ hakiki ada 15 huruf, terkumpul dalam ungkapan

َىػثاىذَ ٍفًص

َهصٍخىشَىداىجٍَمىكَاىن اىمًلاىظٍَعىضَىنقيػتَ ًفٍَِدًزَانبٍّيىطٍَـيدَ*َاىىسٍََدىق

Ditandai dalam mushaf dengan mengosongkan nun dari tanda sukun, dan pada tanwin ditulis dengan (mutatabi‟ain). Sebab ikhfa ini adalah pertengahan huruf-hurufnya pada makhraj terkait (tempat keluar huruf-huruf tersebut) (Kurnaedi, 2016: 11):

Tabel 2. 10 Contoh Ikhfa Hakiki

Huruf Ikhfa Bersama َ ْن dalam satu kata

Bersama َْن dalam dua kata

Bersama tanwin

َص َيميكريصٍنىػي َ وؿاىصٍلىصٍَنًم انراىصٍرىصَانٍيًْر

ذ َهرًذٍنيم َمًذ َ لاَاىذٍَن م َىكًلاىذ

َج

َانعاىرًس

ث َانرٍويػثٍن م ٍَتىليقىػثٍَنىمَا مىأىف َ ىثَوءاىط م

(30)

ؾ َىفٍويػثيكٍنىػي َىف ا َىكٍَنىمىف َىٍيًبًتاىكَانمَاىرًك

ج ٍَميكاىنٍػيىٍنْىأ ٍَميكىءآىجٍَفًا َهلٍيًىجََهرٍػبىصىف

ش َيهىرىشٍنىأ َيو للاَىءآىشٍَفًا اندٍيًهىشَنلٍويسىر

ؽ َىف ٍَويػبًلىقٍػنىػي ٍَميكٍويلىػتاىقٍَفًاىف َهةىمٍّيىػقَهبيتيك

س ٍَخىسٍنىػناىم َوةىلىليسٍَنًم َوتاىحًئآ َىسَوتاىدًباىع

د َانداىدٍنىأ َيوىلىخىدٍَنىمىك َهةىيًناىدَهفاىوٍػنًق

ط َىفٍويقًطٍنىػي ًَتاىبٍّيىطٍَنًم َانرٍويهىطانباىرىش

ز َيهاىنٍلىزٍػنىأ اىىا كىزٍَنىم َانقلىزَاندٍيًعىص

ؼ َاٍكير ًَفٍناىف ًَو للاَ ًلٍضىفٍَنًم اًّيًرىفَانئٍيىش َ

ت َىفٍويهىػتٍن م اٍكيًبٍِص َىتٍَفًاىك َاىهنػنٍويسىبٍلىػتَنةىيٍلًح

ض َودٍويضٍن م َوعٍيًرىضٍَنًم َىٍيٍّلآىضَانمٍوىػق

ظ ٍَريظٍناىف َىمًليظٍَنىم َنةىرًىاىظَلنريػق

5) Ahkam Mim as-Sakinah

Apabila terdapat mim sakinah (mim mati), maka hukum bacaannya ada tiga macam (Rauf, 2011: 89), yaitu:

a) Ikhfa Syafawi, yaitu apabila mim mati bertemu dengan ba‟. Cara pengucapannya, yakni mim tampak samar disertai dengan ghunnah. Contoh:

َوةىراىجًًبٍَِمًهٍيًمٍرىػت

b) Idgham Mitslain (Idgham Mimi), yaitu apabila mim mati bertemu dengan mim.

Cara pengucapannya harus disertai dengan ghunnah. Contoh:

َهةىدىصٍؤيمٍَمًهٍيىلىعَاىه ػنًا

(31)

c) Izhar Syafawi, yaitu apabila mim mati bertemu dengan selain huruf mim dan ba‟. Cara pengucapannya adalah mim harus tampak jelas tanpa ghunnah, terutama ketika bertemu dengan fa‟ dan wawu. Sedikit pun mim tidak boleh terpengaruh makhraj fa‟ dan wawu walaupun makhrajnya berdekatan atau sama. Contoh:

ٍَحىرٍشىنٍَىلىأ

6) Ahkam al-Idghom

Berdasarkan tempat keluarnya huruf dari sifat-sifat yang dimilikinya, idgham dibagi menjadi tiga macam (Rauf, 2011: 141-142), yaitu:

a) Idgham Mutamatsilain (

ًٍَيىلًثاىمىتيمَيـاىغٍدًا

), yaitu pertemuan dua huruf yang sama makhraj dan sifatnya. Contoh:

ٍَميهيػتىراىٍّتٍَِّتىًبِىرَاىمىف –

َيتٍوىمٍلاَيم كٍكًرٍديي َ

ًَمٍيًتىيلاَىفٍويمًرٍكيتَ لٍَلىب

َرىجىٍلاَىؾاىصىعٍّػبٍَبًرٍضًا -َ

َ

َاٍويلىخ دٍَدىقىك

Pada kata

َ لٍَلىب

tidak perlu ditahan, sehingga seakan terdengar ghunnah. Pada kata

َىؾاىصىعٍّػبٍَبًرٍضًا

tidak perlu menambahkan qalqalah.

b) Idgham Mutajanisain (

ًٍَيىسًناىجىتيمَيـاىغٍدًا

)َ yaitu pertemuan dua huruf yang sama makhraj, namun sifatnya berlainan. Di dalam Al Quran, pertemuan huruf- huruf yang memiliki kesamaan makhraj namun berlainan sifat tersebut terjadi pada huruf-huruf berikut:

(1)

َت َ – َد َ – َط

(2)

َث َ – َذ َ – َظ

(3)

َـ – َب

(32)

Contoh:

َى يىػب ػتٍَدىق,

(dibaca langsung masuk ke huruf ta)

َىو للاَىوىع دٍَتىلىقٍػثىأ

(dibaca langsung masuk ke huruf dal)

ٍَميتٍمىل ظٍذًا

(dibaca langsung masuk ke huruf zha‟)

َهةىفًئا طٍَت ىهَ

(dibaca langsung masuk ke huruf tha‟)

َىكًلا ذٍَثىهٍلىػي

(dibaca langsung masuk ke huruf dzal)

اىنىع مٍَبىكٍرًا

(dibaca langsung masuk ke huruf mim dan disertai dengan ghunnah atau dengung)

َىتٍطىسىب

(dibaca langsung masuk ke huruf ta dengan menampakkan sifat isti‟la huruf tha‟)

c) Idgham Mutaqaribain (

ًٍَيىػبًراىقىػتيمَ يـاىغٍدًا

), yaitu pertemuan dua huruf yang makhraj dan sifatnya berdekatan (hampir sama), huruf-huruf lainnya yaitu

َؽ ؾ

dan

رَؿ

Contoh:

ٍَميكٍقيلٍىنٍََىلىأ

(dibaca langsung masuk ke huruf kaf, tanpa meng-qalqalah-kan qaf )

ٍَّب رٍَليقىك

(dibaca langsung masuk ke huruf ro‟)

(33)

7) Ahkam Ar-ro’

Dalam buku Panduan Pembelajaran Al-Quran (Amir, dkk, 2014: 72) hukum bacaan Ro‟ terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a) Tafkhim b) Tarqiq

c) Jawazul Wajhain (boleh dibaca tafkhim atau tarqiq) Tabel 2. 11

Hukum Ar-Ro’

No Hukum

Bacaan Ciri-ciri Contoh

1. Tafkhim

- Ro‟ fathah - Ro‟ dhommah

- Ro‟ sukun setelah dhammah - Ro‟ sukun setelah huruf sukun dan

sebelumnya fathah/ dhammah - Ro‟ sukun jatuh setelah kasrah

yang datang kemudian yang didahului hamzah washal

- Ro‟ sukun jatuh setelah kasrah ashly dan setelahnya berupa huruf isti‟la yang bersambung

َىٍيًمىلاىعٍلاٍَّبىر

َيفٍويػنٍىمََيرٍػيىغَهرٍجىأ

ٍَمًهٍيىلىعَىلىسٍرىأىك

ًَـىأ اٍويػباىتٍرا َ

َهساىطٍرًق

2. Tarqiq

- Ro‟ berharakat kasrah

- Ro‟ sukun jatuh setelah kasrah ashly

- Ro‟ sukun di akhir setelah huruf sukun dan sebelumnya kasrah - Ro‟ sukun setelah kasrah ashly,

setelahnya huruf isti‟la

مًرٍىتِّ

َىفٍوىعٍرًف

َهرٍػيًصىتٍن مَهعٍيًىجَ

َوؽٍرًف

3.

Jawazul wajhain (boleh dibaca tafkhim

atau tarqiq)

- Ro‟ sukun sebelum berharakat kasrah dan sesudahnya huruf isti‟la berharakat kasrah

- Ro‟ sukun karena waqaf, sebelumnya huruf isti‟la sukun yang diawali dengan huruf berharakat kasrah

- Ra‟ sukun karena waqaf dan setelahnya terdapat ya‟ terbuang

َوؽٍرًف

ًَرٍطًقٍلاَىٍيىع

ًَرٍسىيَاىذًاًَلٍي للاىك

(34)

8) Ahkam Nun wa al-Mim al-Musyaddatain

Huruf nun dan huruf mim yang bertanda tasydid ( َّنَ-َ ّم ) memiliki hukum bacaan tersendiri. Di dalam ilmu tajwid, para ulama qira‟ah menyebutnya dengan bacaan ghunnah.

Menurut bahasa, ghunnah adalah gema atau dengung. Adapaun menurut istilah adalah suara yang keluar dari rongga hidung, yang menyertai huruf nun dan mim.

Hukum membaca huruf nun dan mim yang bertanda tasydid ( َّنَ-َ ّم ) dengna ghunnah adalah wajib. Huruf ghunnah ada 2, yaitu huruf nun ( َن ) dan huruf mim (َم ) (Kurnaedi, 2013: 239). Lama bacaannya kira-kira 2 harakat (Amir, dkk, 2014: 74).

Contoh:

َىفٍويلىءآسىتىػيَ مىع –

َىفاىسٍنًٍلاَاىنٍقىلىخَا نًا َ

9) Ahkam al-Qolqolah

Menurut Amir, dkk (2014: 76) arti qalqalah menurut bahasa adalah goncangana, sedangkan menurut istilah qalqalah berrtai goncangan lidah ketika menyembunyikan hurufnya dalam keadaan sukun/mati.

Huruf qalqalah itu ada 5, yaitu َذجَةطل, sedangkan hukumnya ada 3:

a) Qolqolah Shugro‟, yaitu apabila huruf Qalqalahnya sukun ashky atau di tengah bacaan seperti:

َ َوةىبًذاىكَاىهًتىعٍَػقَىوًلَىسٍيىل

b) Qolqolah Wustho‟, yang terjadi karena diwaqofkan dan huruf Qalqalahnya tidka bertasydid, seperti:

ََهدَىحىأَيو للاَىويىٍَليق

َ

c) Qalqalah Kubro‟, yaitu apabila huruf Qalqalah menjadi sukun karena waqof dan huruf Qalqalahnya bertasydid, seperti:

ََ بَىتَىكَ وبىىلًٍَْبِىأَآىدىيٍَت بىػت

10) Ahkqm Ha’ al-Kinayah

Ha‟ kinayah adalah ha‟ yang menunjukkan mufrad mudzakkar gho‟ib (orang ketiga tunggal). Biasa juga disebut dengan ha‟ dhomir. Adapun hukum-

(35)

hukumnya menurut riwayat Imam Hafsh adalah sebagai berikut (Amir, dkk, 2014:

78-79):

(a) Apabila ha‟ kinayah berada di antara dua huruf yang berharakat, maka dishilahkan (disambungkan) dengan wawu jika ha‟ tersebut dhommah, dengan dikira-kira panjang (madd)nya 2 harakat. Contoh:

َيويبًحاىصَيو َىلَىؿاىق

b) Apabila ha‟ kinayah berada di antara dua huruf yang berharakat, maka dishilahkan (disambungkan) dengan ya‟ jika ha‟ tersebut kasrah. Dengan dikira-kira panjang (madd)nya 2 harakat.

Contoh:

ٍَيٍّلآ ضلاَىنًمىلًَوًلٍبىػقٍَنًمٍَميتٍنيكٍَفًاىك

Selanjutnya, jika setelah ha‟ kinayah tidak terdapat hamzah, maka disebut

“madd shilah qoshiroh”

.

Contoh:

َيرٍػيًصىبٍلاَيعٍيًم سلاَىويىَيو نًا

Sedagkan jika setelah ha‟ kinayah terdapat hamzah maka disebut “madd shilah thowilah”, panjang bacaan sama dengan madd jaiz munfashil. Contoh:

َاىذٍَنىم

ًَوًنٍذًاًب لًاَيهىدٍنًعَيعىفٍشىيٍَمًذ لا

Kecuali pada beberapa ayat berikut:

(1) (

ٍَو ًجٍرىأ

) pada surat al-a‟raf dan surat al-Syu‟ara, ha‟ dibaca sukun (2) (

وًقٍلىاىف

) pada surat an-naml, ha‟ juga dengan sukun

(3)

ٍَميكىلَيو َىضٍرىػي

pada surat al-zumar, ًى dibaca pendek (qoshr)

(4) Apabila ha‟ kinayah berada di antara dua sukun, seperti pada ayat:

َيهٍكيرٍذىت

ًَحاىيٍّرلا –

َيرٍػيًصىمٍلاًَوٍيىلًا َ

, maka َُي dan ًىdibaca pendek

(36)

(5) Apabila sebelum ha‟ kinayah huruf berharakat dan setelahnya sukun, seperti:

َيكٍليمٍلاَيوىل

dibaca pendek

(6) Apabila sbelum ha‟ kinayah sukun dan setelahnya huruf yang berharakat, seperti; ىًذٌََُ ًْي ف , ًى dan ًى dibaca pendek

(7) Kecuali pada satu tempat di dalam surat al-furqon pada ayat:

انناىهيمًَوٍيًفٍَديلٍىيَ

dibaca panjang (2 harakat). Dan disebut mad shilah mubalaghoh, karena tidak memenuhi syarat madd shilah tapi tetap dibaca madd atau panjang.

B. Kemampuan Membaca Al-Quran

1. Pengertian Kemampuan Membaca Al-Quran

Kemampuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata

“mampu” yang mendapatkan awalan ke dan akhiran an yang berarti kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan untuk melakukan sesuatu (Suharso dan Retnoningsih, 2005: 308).

Menurut R.M. Guion dalam (Uno, 2008: 129) mendefinisikan kemampuan sebagai karakteristik yang menonjol bagi seseorang dan mengindikasikan cara- cara berperilaku atau berpikir dalam segala situasi, dan berlangsung terus dalam periode waktu yang lama.

Jadi, kemampuan merupakan kecakapan atau potensi seorang individu untuk menguasai keahlian dalam melakukan beragam tugas, dalam suatu pelajaran, dan membutuhkan jangka waktu yang cukup lama.

Membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan (Dalman, 2017:

5).

Membaca adalah jembatan menuju pemahaman, pengalaman dan penerapan Alquran dalam kehidupan sehari-hari (Syarifuddin, 2004: 49).

Membaca bagi seorang Muslim dinilai sebagai ibadah. Oleh karenanya, mempelajari Alquran pun hukumnya ibadah. Bahkan sebagian ulama berpendapat

(37)

bahwa mempelajari Alquran adalah wajib. Sebab Alquran pedoman pokok bagi setiap Muslim.

Kemampuan membaca ini merupakan kemampuan yang tidak perlu diusahakan oleh setiap orang kecuali dengan berulang-ulang dan membiasakan, sebagaimana yang terjadi pada keumuman manusia, maka Allah menempatkan pengulangan perintah Allah sebagai pengganti pengulangan kalimat yang dibaca dalam fungsinya menjadikan Nabi Saw memiliki kemampuan membaca (Abduh, 2000: 230).

Adapun yang penulis maksud dari kemampuan membaca Alquran di sini adalah potensi santri dalam menguasai, memahami, dan menerapkan ilmu tajwid pada bacaan Alquran. Dalam penelitian ini yang dimaksud membaca adalah membaca Alquran dengan suara nyaring atau dilisankan.

Alquran secara etimologi berasal dari kata qara‟a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun; dan qira‟ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih.

Qur‟an pada mulanya seperti qira‟ah, yaitu masdar (infinitif) dari kata qara‟a, qira‟atan, qur‟anan (AS, 2012: 16).

Sedangkan Alquran secara terminologi adalah:

َىعىػتًَو للاَيـ ىلىك

ًَبٍنىٍلاًَىتَاىخَىىلىعَيؿ زىػنلماَيزًجٍعيمٍلاَ ىلَ ا

ًَدًيىسَىٍيًلىسٍريمٍلاىكًَءاىي اىنَ

َيو للاَىىلىصَود مىيمَ

َىلىع َ

َىلاًَةىطًساىوًبَىم لىسىكًَوٍي

َ سلاًَوٍيىلىعَىلٍيًٍبًِجًٍَيًم

ًٍَفَِيبٍويػتٍكىمٍلاَيـ ىل

َىمٍلا

ًَةىًتِاىفٍلاًَةىرٍويسًبَيءٍكيدٍبىمٍلاًَوًتىك ىلًتًبَيد بىعىػتيمٍلاًَريتاىو ػتلاًبَاىنٍػيىلًاَيؿٍويقٍػنىمٍلاَ ًفًحاىص

ًَةىرٍويسًبَيـٍويػتٍخىمٍلا

َ

ًَسا نلا

“Kalam Allah Swt, sebagai mu‟jizat, yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad Saw dengan perantara Jibril „alaihissalam yang termaktub dalam mushaf-mushaf, yang dinukil sampai kepada kita secara mutawatir, membacanya sebagai ibadah, yang dimulai dengan surah Al-Fatihah yang ditutup dengan surah An-Nas” (Kurnaedi, 2013: 3).

(38)

Adapun pengertian Alquran menurut para ulama yang tertulis dalam buku sukses menghafal Alquran Meski Sibuk Kuliah yang ditulis oleh Rofi‟ul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, pengertian tersebut yaitu sebagai berikut. Al-Lihyani, ia berpendpat bahwa Al-Quran merupakan akar kata dari qara‟a yang berarti membaca. Kemudian kata ini dijadikan sebagai nama firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Penamaan ini termasuk dalam kategori penamaan isim maf‟ul dengan isim masdar. Ia merujuk (Qs. Al-Qiyamah: 17-18) berikut:

﴿َيوىنآٍريػقىكَيوىعٍىجََاىنٍػيىلىعَ فًإ

﴿َيوىنآٍريػقٍَعًب تاىفَيهاىنٍأىرىػقَاىذًإىفَ﴾ ُ١

ُ١

“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”

(Kementerian Agama RI, 2010: 577).

Berbeda dengan Az-Zauji, ia berpendapat bahwa kata Al-Quran merupakan kata sifat yang berasal dari kata dasar “al-qar‟u” ( أرملا ) yang artinya menghimpun (Wahyudi dan Wahidi, 2016: 2). Menurut Dr. A. Yusuf Al-Qasim dalam (Wahyudi dan Wahidi, 2016: 3) mendefinisikan Al-Quran sebagai kalam mu‟jiz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw tertulis dalam mushaf yang diriwayatkan secara mutawatir, dan membacanya adalah ibadah.

Dari uraian pengertian di atas dapat penulis katakan bahwa, pengertian Alquran adalah Firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui pelantaraan malaikat Jibril untuk diajarkan kepada umat Islam, yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas, dan menjadi sutau nilai ibadah bila orang membacanya (Alquran).

Dengan demikian kesimpulan dari pengertian kemampuan membaca Alquran dapat diartikan bisa dan mampu mengucapkan atau melafalkan beberapa huruf yang terangkai dalam beberapa kata atau ungkapan kalimat yang teradapat di dalam firman Allah (Alquran) yang disesuaikan dengan kaidah bacaan tajwidnya.

(39)

2. Keutamaan Membaca Alquran

Alquran sebagai petunjuk dan pedoman bagi kehidupan manusia mempunyai beberapa keutamaan bagi orang yang membaca dan mempelajarinya.

Ash-Shiddieqy (2005: 131-132) memberikan beberapa point keutamaan membaca Alquran, diantaranya:

a. Ditempatkan dalam barisan orang-orang besar yang utama

b. Memperoleh beberapa kebijakan dari tiap-tiap huruf yang dibacanya dan bertambah derajatnya disisi Allah SWT

c. Dinaungi dengan payung rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan diturunkan Allah kepadanya ketenangan dan kewaspadaan

d. Diterangi hatinya oleh Allah dan dipelihara dari kegelapan

e. Diharumkan baunya, disegani dan dicintai oleh orang-orang shalih

f. Tiada gundah hati di hari kiamat karena senantiasa dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah

g. Terlepas dari kesusahan akhirat

Adapun menurut Kurnaedi (2013: 7-9) membaca Alquran adalah ibadah yang mempunyai banyak keutamaan, diantaranya yaitu:

a. Perniagaan yang tidak pernah merugi, seperti dalam firman-Nya (Qs. Fathir:

29-30)

اويقىفنىأىكَىة ىل صلاَاويماىقىأىكًَو للاَىباىتًكَىفويلٍػتىػيَىنيًذ لاَ فًإ

َنةىيًن ىلىعىكَناٌرًسٍَميىاىنٍػقىزىرَا ًمَ َ

﴿َىرويبىػتَن لَنةىراىًتَِّىفويجٍرىػي

َهرويفىغَيو نًإًَوًلٍضىفَنٍّمَميىىديًزىيىكٍَميىىرويجيأٍَميهىػيٍّػفىويػيًلَ﴾ ِ٢

﴿َهرويكىش

َّ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Alquran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya.

Gambar

Tabel 2.1  Asma’ al-huruf
Tabel 2. 2  Makharijul Huruf
Tabel 2. 10  Contoh Ikhfa Hakiki

Referensi

Dokumen terkait

ilmu tajwid yang siswa dapatkan dari pembelajaran Al- Qur‟an yang menjadi bekal untuk dapat membaca Al- Qur‟an dengan baik dan benar, maka penulis ingin

Dalam hal ini penulis telah mempelajari penelitian dengan judul “ Studi Komparasi Kemampuan Membaca Al-Qur’an siswa Kelas VIII antara yang berasal dari MI dan yang

Adapun tujuan ilmu tajwid adalah untuk memelihara bacaan Al- Qur’an dari kesalahan membaca. 14 Aquami, Korelasi Antara Kemampuan Membaca Al-Qur’an Dengan

Hal inilah yang sangat mempengaruhi siswa dalam pembelajaran lebih khususnya membaca Alquran.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan siswa membaca Alquran

Sesuai dengan pendapat di atas maka dapatlah dikemukakan hipotesis dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut : Ha : Ada hubungan yang signifikan antara penguasaan ilmu tajwid dengan

Pada pengabdian ini menghasilkan media Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Dengan Ilmu Tajwid Bagi Pemula Berbasis Android serta melakukan pendampingan terhadap penggunaan aplikasi yang

Berdasarkan analisa yang penulis dapatkan dari penelitian, metode yang biasa digunakan guru pendidikan agama islam dalam meningkatkan kemampuan membaca Alquran siswa di SMP Muhammadiyah

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Berikut ini uraian hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk sosialisasi, pendidikan dan pendampingan pembelajaran Alquran menggunakan buku