• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA. 14 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA. 14 Universitas Kristen Petra"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Fotografi Jurnalistik sebagai Saluran dalam Media Massa

Gambar menjadi daya tarik yang sangat kuat dan mampu memberikan makna bagi pembaca untuk mengingat pemberitaan tersebut, tanpa perlu membaca teks berita di dalamnya (Rolnicki et. al., 2008, p. 321). Menurut Dickman dan Kinghorn (2009, p. 9), foto yang baik merupakan foto yang terdiri dari beberapa elemen kunci, yaitu: komposisi, pencahayaan, dan momen yang hebat.

Foto jurnalistik adalah foto yang bernilai berita atau foto yang menarik bagi pembaca tertentu, dan informasi tersebut disampaikan dengan sesingkat mungkin.

(Wijaya, 2014, p. 17). Keunggulan foto jurnalistik dibandingkan dengan media penyampai pesan lainnya adalah, ia mampu mengatasi keterbatasan manusia pada huruf dan kata. Aspek mutlak dalam sebuah fotografi jurnalistik ialah foto mampu mengandung unsur-unsur fakta dan mampu bercerita. Hal ini yang membedakan foto-foto umum yang mengandalkan grafis serta warna (Wijaya, 2014, p.24).

Sugiarto menyampaikan, salah satu aspek yang harus ada di dalam sebuah foto jurnalistik adalah jujur. Ibarat sebuah foto, kejujuran dalam menyampaikan sebuah berita sesuai dengan apa yang ada di lapangan, akan menghasilkan foto yang baik, setidaknya lebih baik daripada sebuah foto yang terlihat direkayasa ataupun dimanipulasi, dengan mengurangi bagian tertentu di dalam sebuah gambar (Sugiarto, 2011, p.167).

2.1.1. Saluran Fotografi jurnalistik

Menurut Wijaya (2014, p. 26-31), terdapat beberapa saluran fotografi jurnalistik yang dapat dikonsumsi oleh pembaca, antara lain:

a. Surat kabar

Surat kabar merupakan saluran hasil kerja wartawan foto pertama, dan saat ini masih menjadi yang utama. Surat kabar harian dengan oplah kecil mungkin hanya mengaryakan dua jurnalis foto tetap. Selebihnya adalah jurnalis tulis yang merangkap tugas memotret. Dengan berlangganan foto, media harian kecil bisa memperoleh banyak foto internasional maupun dalam negeri tanpa harus menggaji banyak karyawan. Sedangkan harian

(2)

yang memiliki opladan pemasukan iklan memperkerjakan beberapa jurnalis foto secara penuh, staf fotografi yang mengelola foto, dan redaktur. Sistem kerja dalam surat kabar besar menempatkan jurnalis foto dalam pos-pos tertentu kemudian menampung hasil karya wartawan dalam sebuah server.

Redatur akan menyaring foto pada sore atau malam untuk dan menentukan goto jurnalistik yang akan digunakan untuk edisi esoknya. Media harian

besar memiliki banyak jurnalis foto yang ditempatkan di ibu kota, dan beberapa lainnya tersebar di daerah. Mereka juga turut berlangganan foto

pada kantor berita.

b. Majalah

Media ini merupakan media yang menggunakan foto jurnalistik sebagai elemen pentingnya. Seperti majalah National Geographic yang intens dalam menampilkan foto-foto terbaik dari seluruh penjuru dunia. Beberapa di antaranya adalah karya fotografer dengan sistem kontrak, dan sebagian lagi dikerjakan oleh staf.

c. Kantor Berita

Di Indonesia, terdapat kantor berita Antara yang menyediakan foto-foto jurnalistik. Media dan majalah merupakan klien penting bagi kantor berita.

Klien tersebut berlangganan untuk mendapatkan izin sah memuat foto jurnalistik dari hasil kerja staf/kontributor. Surat kabar maupun majala bergantung pada kantor berita untuk memperoleh pasokan foto dari tempat yang tidak terjangkau jurnalis fotonya.

d. Agensi foto

Agensi mengerjakan stok foto yang dikerjakan oleh staf maupun kontributor sesuai pesanan klien. Tidak hanya media cetak, tetapi juga humas, perusahaan iklan, dan institusi lain

e. Media daring

Ini merupakan satu saluran termuda foto jurnalistik. Situs berita dan semacamnya memajang foto jurnalistik dengan kecepatan yang mendekati siaran berita televisi. Internet melakukan update gambar lebih cepat dibandingkan media cetak. Beberapa situs berita adalah bentuk lain dari media yang tercetak, seperti Tempo dengan www.tempointeraktif .com.

(3)

f. Buku

Foto jurnalistik juga intens ditampilkan dalam bentuk buku fotografi. Buku fotografi merupakan kumpulan beberapa jurnalis foto yang tergabung dalam satu institusi atau dalam satu tema tertentu. Dalam pembuatan buku fotografi jurnalistik, juga dapat berisi karya-karya milik individu. Salah satu contoh buku fotografi jurnalistik individu adalah buku karya Julian Sihombing, dengan judul Split Moment, Split Second (Wijaya, 2014, p. 27- 31).

2.1.2. Caption dalam foto jurnalistik

Caption merupakan teks yang menyertai dalam foto jurnalistik.

Parrish dalam Wijaya mengungkapkan, caption membantu mengarahkan perspektif seuah foto dan menjelaskan detail informasi yang tidak ada di dalam sebuah gambar, membingungkan, atau tidak memiliki kejelasan.

(Wijaya, 2014, p. 53). Caption yang lengkap merupakan keterangan foto yang memuat semua informasi cerita di dalam foto. Pada umumnya, caption dilengkapi dengan data pada 5W+1H. Gaya penulisan caption merupakan gaya penulisan berita dimana dapat menjawab semua pertanyaan terkait foto.

Published Caption merupakan keterangan foto yang dibuat untuk disiarkan atau dimuat pada media massa. Penyajian published caption lebih ringkas karena tidak semua informasi yang kita miliki dicantumkan dalam penulisannya. Biasanya hal ini memuat:

a. Judul Caption, yang fungsinya sama dengan judul berita. Gunanya ialah untuk menarik perhatian, memperkuat pengaruh dari keterangan foto, dan secara umum menjadi pengikat antara teks dan foto. Biasanya judul foto terdiri dari 2 hingga 3 kata, diletakkan di bawah foto dan dipisah dengan tanda strip dengan keterangan.

b. Keterangan foto, adalah berita foto. Keterangan pendek ini setidaknya berupa satu kalimat yang berisi data pokok, yaitu kejadian/peristiwa, nama, lokasi, dan waktu pemotretan. Untuk menerangkan sesuatu yang dapat berhubungan dengan foto, latar belakang, dan hal yang dapat memperkuat isi foto, berada pada kalimat kedua.

(4)

2.2. Buku

Buku merupakan media massa yang memiliki jangkauan audiens paling sedikit di antara media-media lainnya. Penerbit buku yang besar maupun kecil menghasilkan judul buku yang ditunjukan secara sempit maupun luas untuk pembaca, yang membeli buku secara satuan. Hubungan yang lebih langsung antara penerbit dan pembaca ini membuat media buku tidak memiliki kebergantungan yang langsung dengan media-media massa lainnya dalam menarik audiensnya sebanyak mungkin. Buku lebih mampu dan memiliki kemungkinan yang lebih besar dalam hal menumbuhkan konsep dan ide-ide baru yang lebih menantang atau tidak populer di khalayak luas. Sebagai media yang paling tidak bergantung pada dukungan pengiklan, buku dapat diperuntukkan pada kelompok pembaca yang kecil (Pavlik, 2013, p. 60).

Buku membuat para pembaca tertantang di dalam imajinasi mereka dengan cara yang menurut pengiklan tidak dapat diterima dalam media massa berbasis iklan. Karena buku diproduksi dan dijual sebagai unit per individu, dimana hal ini tentu bertentangan dengan program televisi tunggal yang secara bersamaan didistribusikan ke jutaan pemirsa atau dalam satu edisi surat kabar dengan sirkulasi secara massal yang lebih banyak “suara” masuk dan bertahan dalam dunia industri (p. 61). Meskipun semua media melayani fungsi budaya berikut sampai taraf tertentu (misalnya, orang menggunakan video swadaya untuk pengembangan pribadi dan musik populer yang terkadang merupakan agen perubahan sosial), buku-buku secara tradisional telah dilihat sebagai kekuatan budaya yang kuat karena alasan-alasan berikut:

(5)

a. Buku adalah Agen Perubahan Sosial

Buku memiliki kebebasan dari kebutuhan untuk terbebas dari pengiklan, tidak terkalahkan, dalam pemilihan topik yang kontroversial, bahkan ide-ide revolusioner dapat menjangkau publik. misalnya, buku harian Turner Andrew Macdonalds adalah ideologis dan bagaimana cara gerakan milisi anti pemerintahan di AS. Meskipun demikian, buku revolusioner yang radikal ini diterbitkan, dibeli, dan dibahas secara terbuka. untuk melihat peran buku-buku lain dalam gerakan sosial.

b. Buku adalah Gudang Informasi yang Penting

Ingin mendapatkan sebuah dokumen secara valid? Buku dalam hal ini menjadi rujukan mengenai kebenaran tentang dunia tempat kita hidup mengenai informasi yang ingin kita ketahui.

c. Buku adalah Jendela Kita di Masa Lalu

Seseorang apabila ingin mengetahui mengenai peradaban sejarah di dalam dunia, tentu akan mencari referensi terkait data-data yang ditulis pada waktu mereka mencerminkan. Buku-buku ini adalah representasi yang lebih akurat dan awet daripada yang tersedia di media elektronik modern.

d. Buku adalah Sumber Penting dalam Pengembangan Pribadi.

Buku menjadi satu media yang membantu diri sendiri dalam melakukan peningkatan perkembangan pribadi. Tetapi buku juga dapat memberi informasi dengan lebih personal dibandingkan media yang didukung pengiklan, karena kecilnya target pasar mereka.

e. Buku adalah Sumber Hiburan, Pelarian, dan Refleksi Pribadi

Buku-buku seperti jenis novel, akan menjadi sangat menghibur dan memainkan pola pikir imajinatif dari para pembaca. Kenikmatan yang ditemukan seperti dalam karya penulis Joyce Carol Oates tidak dapat disangkal keindahannya.

f. Pembelian dan Membaca Buku adalah Aktivitas Pribadi yang Jauh Lebih Individual daripada Mengkonsumsi Media yang Didukung Pengiklan (Televisi, Radio, Koran, dll).

(6)

Dengan demikian, buku cenderung mendorong refleksi pribadi ke tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan media lain. Misteri dan keajaiban buku ditemukan pada fakta bahwa hal itu dapat menembus dan melampaui ruang dan waktu, dimana buku-buku tersebut dapat dibaca di masa yang akan datang. Buku merupakan jalan yang baik yang dapat membawa kita masuk ke dalam dunia yang imajinatif. Buku dapat membawa kita merasakan bagaimana rasanya menjadi orang lain.

Melalui media ini, kita dapat merasakan menjadi sesuatu yang lain.

Melalui buku kita bisa memahami siapa diri kita sebenarnya dan akan menjadi apa nantinya. Buku juga mengundang kita ke dunia jiwa dengan meminta kita untuk membayangkan diri kita menjadi seseorang yang bukan diri kita. Buku mengharuskan kita untuk meletakkan sementara ego kita di dalam kotak dan membawa semangat yang kepada orang lain.

Inilah yang buku, buku apapun, tawarkan pada kita yakni sebuah kesempatan yang dilakukan: mengakui dan mengenali diri kita sendiri.

g. Buku adalah Cermin dari Kebudayaan Buku

Bersama dengan media masa, merefleksikan budaya yang memproduksi dan mengonsumsi mereka (p.61).

2.3. Kekerasan

Galtung mengungkapkan, kekerasan terwujud karena manusia dipengaruhi oleh beragam faktor, sehingga apa yang seseorang harapkan (cita-cita, mimpi, gagasan-gagasan, daya kreasi) tidak terealisasi secara nyata sebagaimana yang dirasakan oleh jasmani maupun mentalnya (Windhu, 2000, p. 13). Dalam definisi tersebut, Galtung menjabarkan bahwa kekerasan tidak hanya berbicara terkait dengan tindakan memukul, melukai, menganiaya, sampai membunuh, tetapi lebih luas daripada itu. Sebagai penggambaran, negara menelantarkan rakyat sehingga banyak penderita kelaparan hingga mati, hal itu juga tercakup dalam kekerasan (p.

13). Galtung menjelaskan terkait beberapa ukuran dari kekerasan dalam jenis berikut:

a. Kekerasan fisik dan psikologis

Orang yang dilukai jelas merupakan tindak kekerasan. Orang tersebut merasakan sakit secara fisik dan juga perasaan dan batinnya yang turut

(7)

terluka. Dan juga sebaliknya, seseorang yang tidak dipukul secara fisik, tetapi menghina, mengancam, memfitnah, meneror termasuk dalam kekerasan. Hal ini dikarenakan yang “dilukai” merupakan batin, perasaan, atau mentalnya. Hal ini juga dapat memberikan dampak yang mempengaruhi fisik seseorang, sehingga fisiknya menjadi lemah atau sakit. Sehingga kedua dimensi ini saling mempengaruhi.

b. Pengaruh positif dan negatif

Hukuman jika bersalah dalam melakukan suatu hal dapat termasuk dalam kekerasan. Selain hal itu, mendapatkan hadiah ataupun suatu hal dapat dikategorikan sebagai kekerasan apabila pemberian tersebut tidak dengan maksud secara tulus dan murni. Hal ini berlangsung seperti contohnya ialah kasus suap. Seseorang yang diberi hadiah tidak dapat secara bebas menentukan pilihannya dan desakan maupun ancaman yang menyertai dari perbuatan tersebut.

c. Adanya objek kekerasan maupun tidak

Jika seseorang melakukan ancaman, entah adanya sasaran atau tidak secara membabi buta di sebuah tempat, hal tersebut termasuk dalam kekerasan. Tindakan itu berdampak bagi yang tidak dikenakan ancaman, seperti orang-orang di sekitar terjadinya ancaman. Pada situasi tersebut, orang sekitar terasa terancam baik jiwa maupun harta bendanya akibat mengetahui di dekatnya terjadi ancaman.

d. Adanya subjek kekerasan maupun tidak

Apabila tidak adanya pelaku kekerasan, terlebih lagi pelaku kongkrit yang secara jelas melakukan kekerasan, hal ini dapat tetap dikategorikan sebagai kekerasan. Sebagai contoh, apabila adanya kasus busung lapar, kemiskinan, penyakit, bencana alam, yang melanda wilayah tertentu. Hal ini tidak secara jelas terlihat pelaku dari kekerasan. Situasi tersebut dikategorikan sebagai kekerasan sebab ada yang bermasalah dalam sistem kehidupan bersama. Ketimpangan, ketidakadilan, kolusi, korupsi, dan nepotisme menyatu di dalam struktur kekuasaan. Patokan dari poin ini adalah, apakah ada dalam

(8)

bagian dari masyarakat yang sengaja maupun tidak, menjadi korban atau dikorbankan, sehingga terkategorikan sebagai kekerasan.

e. Sengaja maupun tidak

Pandangan kesengajaan atau tidak dapat dianalisis dari perspektif korban kekerasan pada manusia di pihak tertentu. Apalagi jika adanya ketidaksengajaan ini mengenai korban yang bukan sebagai target sesungguhnya.

f. Nyata dan tersembunyi

Kekerasan secara personal maupun struktural, dapat berlangsung secara tersembunyi. Hal ini dapat terjadi apabila terjadi seperti di daerah konflik yang bisa mengancam adanya tindak kekerasan sewaktu-waktu untuk menjadi kekerasan yang nyata kapanpun.

g. Kekerasan personal ataupun kekerasan langsung.

Kekerasan ini berlangsung apabila pelaku kongkret dapat dilihat maupun ditemukan. Contohnya adalah pencuri yang dihajar massa, pengeroyokan massa, dan tawuran-tawuran. Disebut sebagai kekerasan personal karena dilakukan secara individu atau kelompok massa yang kongkret, dan teridentifikasi jelas siapa mereka. Kekerasan ini dapat disebut kekerasan langsung karena kita dapat menemukan hubungan pelaku dan manusia yang menjadi korban.

h. Kekerasan struktural atau kekerasan tidak langsung

Jenis kekerasan ini hanya dapat ditemukan apabila orang yang melihat situasi secara menyeluruh dan mencari adakah unsur ketimpangan, ketidakadilan, kecurangan, KKN, terror, pemerasan, dan sebagainya.

(p. 14-18)

2.3.1. Penyebab dari kekerasan

Khisbiyah (2000, p. 4-5), menuturkan, dalam ilmu psikologi, perilaku kekerasan terjadi dalam beberapa faktor penyebab, antara lain:

a. Teori insting

Dalam teori ini, kekerasan berasal dari dorongan alami biologis manusia untuk bertindak merusak dan menghancurkan. Sigmund Freud dalam Khisbiyah mengemukakan bahwa kekerasan berasal dari insting

(9)

keinginan untuk mati yang dimiliki oleh setiap manusia secara alamiah.

Sedangkan Konrad Lorenz dalam Khisbiyah menyatakan bahwa kekerasan bersumber dari semangat bertempur yang dimiliki manusia seperti juga spesies-spesies binatang lainnya.

b. Teori dorongan

Dalam teori ini, kekerasan disebabkan karena kondisi-kondisi eksternal seperti: frustasi, kehilangan muka, dan malu, yang membuat seseorang memiliki motif yang kuat melakukan tindakan menyakiti orang lain.

Dollard dalam Khisbiyah menyatakan bahwa hipotesis frustasi dan kekerasan yang berarti frustasi adalah perasaan tidak menyenangkan yang menimbulkan tindakan kekerasan. Hal ini menjadikan adanya hubungan erat antara perasaan negatif akibat frustasi dengan perilaku kekerasan.

c. Teori neo-asosiasi kognitif

Dalam teori ini, mengemukakan bahwa kekerasan berasal daru reaksi negatif terhadap pengalaman, ingatan, dan pikiran yang tidak menyenangkan. Menurut Berkowitz dalam Khisbiyah, jika mengalami perasaan tak menyenangkan, orang akan cenderung melakukan tindakan kekerasan atau tindakan melarikan diri dari keadaan tak menyenangkan

d. Teori pembelajaran sosial

Teori ini menyatakan bahwa kekerasan terbentuk karena pembelajaran dari lingkungan sekitarnya melalui pengalaman langsung atau mengamati perilaku orang lain. Kecenderungan kekerasa dipengaruhi dari penguatan/hadiah atau hukuman dari lingkungan terhadap perilaku kekerasan. Albert Bandura dalam Khisbiyah mengatakan, seseorang melakukan tindak kekerasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti masa lalunya, penguatan atau hukuman terhadap kekerasan yang ia lakukan, persepsi orang yang bersangkutan terhadap tepat tidaknya kekerasan yang ia lakukan, dan antisipasinya terhadap potensi akibat yang akan ditimbulkan oleh tindak kekerasan yang dilakukan.

(10)

2.3.2. Kekerasan di dalam media

Kekerasan verbal lebih mudah ditiru daripada kekerasan fisik. Hal ini berpengaruh dikarenakan adanya lebih sedikit sanksi hukum dan sosial terhadap kekerasan verbal daripada ada terhadap kekerasan fisik.

Kekerasan secara fisik akan mudah untuk ditangani secara hukum, sedangkan kekerasan secara verbal, penerima pesan akan langsung terpapar kekerasan jika tidak ada yang menyelaraskan atau membatasi akan terpaan kekerasan yang didapatkan oleh seseorang. Dengan pertimbangan itulah akan lebih memungkinan besar konsumen media akan meniru kekerasan verbal daripada kekerasan fisik. Apabila seseorang telah mendapatkan terpaan secara terus-menerus terkait dengan kekerasan, maka kekerasan verbal berpotensi menyebabkan kerusakan psikologis dan emosional (Chory, 2010, p. 177).

Jehel dalam Haryatmoko (2007, p. 124), betapa merusak pengaruh presentasi kekerasan dalam media, khususnya pada anak. Meskipun ada ekspresi senang, puas, atau tertarik terhadap kekerasan dalam media, sering tanpa disadari anak mengalami kegelisahan dan bergumul dengan beragam pertanyaan. Pada masa-masa pertumbuhan, gambar kekerasan dapat mempengaruhi perilaku dan persepsi anak tentang dunia (p. 125).

2.4. Representasi

Hall mengungkapkan bahwa representasi adalah bentuk dari makna konsep- konsep yang ada di dalam pikiran kita melalui bahasa. Hal ini menghubungkan konsep dan bahasa yang memungkinkan kita untuk mengarahkan pemikiran kita ke dalam makna sebenarnya dari hal-hal seperti: benda, orang atau peristiwa, atau memang ke dunia imajiner benda fiksi, orang dan peristiwa (Hall, 2013, p.17).

Representasi adalah produk dari proses penggambaran sosial. Oleh karena itu, istilah tersebut merujuk pada proses dan produk dari membuat sebuah tanda berdiri sesuai dengan maknanya yang sebenarnya. Representasi menjadi proses menempatkan ke dalam bentuk konkret yaitu, gambaran yang berbeda dari konsep ideologis abstrak, sehingga seseorang dapat melihat seperti penggambaran

(11)

perempuan, pekerja, perang dan lain sebagainya secara jelas. (O’Sulvian, 1994, p.

265).

Dalam melihat sesuatu, representasi dimaknai sebagai melihat sikap-sikap dalam satu hal tertentu. Hal-hal itu dikonstruksi dengan karakteristik-karakteristik tertentu dan dipresentasikan dengan cara yang beragam dalam makna yang memiliki keterkaitan. Pengguna media diberi tampilan terhadap aspek-aspek tertentu secara tidak langsung apa yang harus kita pikirkan tentang sikap-sikap tersebut. Pada hal ini, seseorang mendapatkan seperangkat pertimbangan nilai dikarenakan kita memproses dalam pola pikir berbagai pesan tentang nilai di belakang representasi permukaan. Semua fenomena membawa semacam makna yang dapat bersifat kritis atau merendahkan terhadap kategori orang yang diciptakan dan direpresentasikan dengan cara tersebut (Burton, 2008, p. 120-121).

Representasi berarti menggunakan bahasa untuk memberitahukan sesuatu yang bermakna, atau untuk mewakili, dunia secara bermakna, kepada orang lain.

2.5. Semiotika

Kriyantono mengungkapkan bahwa semiotika ialah ilmu yang mempelajari mengenai tanda-tanda. Studi ini memiliki keterkaitan dengan tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirim dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya (Kriyantono, 2008, p. 263). Pregminger dalam Kriyantono, ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau di dalam lapisan masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda (p. 263). Analisis semiotika memiliki tujuan dimana untuk menemukan makna tanda termasuk hal-hal yang dianggap tersembunyi dalam sebuah tanda (teks, iklan, dan berita). Hal ini dikarenakan adanya sistem tanda yang sifatnya amat kontekstual dan bergantung pada pengguna tanda tersebut. Pemikiran pengguna tannda merupakan hasil pengaruh dari berbagai konstruksi sosial, di mana pengguna tanda tersebut berada.

Pierce dalam Kriyantono membedakan tanda atas lambang, ikon, dan indeks sebagai berikut:

(12)

a. Lambang

Lambang merupakan suatu tanda dengan memiliki hubungan antara tanda dan acuannya, merupakan hubungan yang telah terbentuk secara konvensional. Lambang merupakan tanda yang dibentuk karena adanya kesepakatan bersama dari para pengguna tanda.

b. Ikon

Ialah satu tanda dimana hubungan antara tanda dan acuannya berupa hubungan berbentuk kemiripan. Sehingga ikon merupakan bentuk tanda yang dalam berbagai bentuk menyerupai dari objek pada tanda tersebut c. Indeks

Indeks adalah satu tanda yang mana antara tanda dengan acuannya timbul sebab adanya kedekatan eksistensi. Hal ini menjadikan indeks adalah suatu tanda yang mempunyai hubungan langsung dengan objeknya. (p. 264).

Semiotik merupakan suatu model dari ilmu pengetahuan sosial yang memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan tanda (Sobur, 2004, p. 87). Watson dalam Sobur mengungkapkan konsep kebenaran yang dianut di dalam media massa bukanlah kebenaran sejati, tetapi sesuatu yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran. Ringkasnya, kebenaran itu sendiri ditentukan oleh media massa (p.87). Pekerjaan media sejatinya ialah mengkonstruksikan realitas/membangun realitas. Isi media adalah hasil para pekerja media mengkonstruksikan berbagai realitas yang dipilihnya, gi antaranya ialah realitas politik. Disebabkan sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan. Pembuatan berita di media pada dasarnya tak lebih dari penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah “cerita” (p. 88).

2.5.1. Analisis Semiotika Roland Barthes

Roland Barthes merupakan penerus dari pemikiran semiotika milik Saussure. Saussure memiliki ketertarikan kepada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk tidak hanya yang menentukan makna, tetapi juga tidak adanya ketertarikan pada kenyataan bahwa kalimat yang sama dapat menjadi menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya. Dalam model ini meneruskan pemikiran tersebut dengan

(13)

menekankan interaksi antara teks dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konteks di dalam teks, dengan konteks yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya (p. 270).

Barthes dalam Sobur mengemukakan signifikansi melalui dua tahap. Dalam tahap pertama, merupakan hubungan antara signifier dengan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutkan sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari sebuah tanda. Konotasi adalah istilah yang merujuk kepada signifikansi di tahap kedua. Hal ini menggambarkan kepada interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya (Sobur, 2004, p. 128).

Tabel 2.1. Model Semiotika Roland Barthez (Sumber: Olahan Peneliti)

Konotasi bekerja dalam tingkat subjektif, sehingga kehadirannya tidak disadari. Pembaca mudah sekali membaca makna konotatif sebagai fakta denotatif.

Karena itu, salah satu tujuan analisis seniotika adalah untuk menyediakan metode analisis dan kerangka berpikir untuk mengatasi salah persepsi (p. 128). Selain

First Order

Reality Signs

Second Order

Signs

Signifier Signified Denotasi

Konotasi

Mitos

(14)

makna konotatif, terdapat pula signifikansi dalam memaknai sebuah tanda yang sebenarnya

Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dominasi. Mitos-mitos yang terdapat di tengah- tengah masyarakat berlangusung seperti hidup dan mati, manusia dan dewa, feminitas, maskulinitas, ilmu pengetahuan, dan kesuksesan (Fiske dalam Sobur, p.

128). Susilo dalam Sobur mengungkapkan bahwa suatu teknik yang menarik dan memberikan hasil yang baik untuk masuk ke dalam titik tolak berpikir ideologis ialah melalui mitos. Mitos dalam pandangannya menjabarkan bahwa suatu wahana di mana suatu ideologi berwujud. Mitos dapat berangkai menjadi mitologi yang memainkan peranan penting dalam kesatuan-kesatuan budaya. Seseorang dapat menemukan ideologi dalam teks dengan melakukan penelitian konotasi-konotasi yang terdapat di dalamnya.salah satu cata adalah mencari mitologi dalam teks-teks semacam itu. Ideologi ialah sesuatu yang abstrak. Mitologi/kesatuan mitos-mitos yang berhubungan menyajikan wujud makna-makna yang mempunyai wadah di dalam ideologi. Ideologi harus dapat diceritakan. Cerita itulah yang disebut mitos.

2.6. Elemen Fotografi Roland Barthez

Barthez mengungkapkan bahwa terdapat enam tatanan dalam analisis semiotika dalam fotografi, yaitu:

1. Trict Effect

Trict effect merupakan elemen yang terkait dengan bagaimana sebuah gambar memiliki penambahan, pengurangan, penggantian sehingga mengurangi makna keaslian dari sebuah foto

2. Pose

Pose merupakan posisi, ekspresi, dan peletakan objek di dalam sebuah foto.

Adanya perbedaan posisi dan letak objek memiliki makna tersendiri dalam sebuah foto. Dalam pengambilan gambar objek, terdapat beberapa teknik pengambilan gambar, yaitu:

a. Extreme wide shot, dimana fotografer menggambarkan keseluruhan area yang didokumentasikan (http://www.thewildclassroom.com/)

(15)

b. Sudut pandang long shot dimana memungkinkan seseorang untuk melihat tidak hanya subjek, tetapi juga lingkungan objek yang diambil (Artis, 2014, p. 226).

c. Teknik medium shot dimana foto medium mungkin mirip dengan banyak foto pada umumnya. Subjek ditangkap dari lutut atau pinggang hingga bagian atas kepala. Pemotret tidak dapat melihat seluruh tubuhnya, tetapi dapat cukup dekat untuk membuat koneksi utama dengan objek.

Pemotret bisa melihat latar belakang yang diizinkan muncul di bingkai.

(Artis, 2014, p. 226).

d. Close up merupakan pada pengambilan ini memungkinkan pengambil gambar untuk mengambil gambar secara detail pada bagian tubuh objek yang diharapkan (Artis, 2014, p.226).

e. Teknik high angle dimana mengambil dengan sudut lebih tinggi daripada objek utama. Sudut ini dapat digunakan untuk membuat subjek memiliki kesan kecil dan memunculkan gambaran bahwa objek kehilangan dominasi, lemah, serta terlihat tidak berdaya (Ilonka, 2010, p.5).

f. Teknik low angle, dimana pengambilan sudut pandang rendah membuat subjek lebih besar daripada ukuran aslinya. Sebuah foto yang diambil dari sudut rendah dapat membantu membuat kesan membangun dominasi atau kekuatan dari objek yang didokumentasikan (Ilonka, 2010, p.5).

3. Object

Objek merupakan titik utama yang menjadi fokus dalam sebuah foto. Objek menjadi elemen yang signifikan untuk memberikan pemaknaan dalam sebuah foto.

4. Photogenia

Dalam elemen ini, photogenia mencakup keterkaitan antara bagaimana pemotret menggunakan teknik pengambilan sebuah gambar, pencahayaan yang digunakan, serta depth of field (ketajaman dalam pengambilan objek pada satu foto).

(16)

5. Aesthetism

Pada elemen aesthethism, mengungkapkan bahwa dalam pengambilan gambar juga turut memperhatikan nilai keindahan yang diimplementasikan pada komposisi suatu foto. Nilai ‘seni’ menjadi hal yang ditekankan pada elemen aesthetism.

6. Syntax

Di elemen ini, adanya hubungan terkait dengan konteks peristiwa yang ada di dalam sebuah foto. Barthez mengungkapkan adanya cerita yang tersampaikan di dalam sebuah foto saat sesorang memotret gambar tersebut.

2.7. Nisbah Antar Konsep

Media massa menjadi salah satu garda terdepan dalam menyebarkan peristiwa penting yang ada di tengah-tengah masyarakat. Salah satu media yang ada ialah buku. Foto jurnalistik merupakan foto yang memiliki nilai berita. Keunggulan foto jurnalistik ialah ia mampu mengatasi keterbatasan dari kata-kata dan menampakkan secara langsung peristiwa yang terjadi. Foto jurnalistik tidak hanya dipublikasikan melalui saluran berupa koran maupun media daring. Saluran fotografi jurnalistik juga dapat dimuat pada media buku, yaitu buku kumpulan fotografi jurnalistik. Dalam foto jurnalistik, peristiwa kekerasan dapat tergambarkan secara langsung maupun secara tersirat. Representasi menjadi sistem penggambaran dari realitas yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Buku menjadi salah satu media massa dimana memiliki audiens yang eksklusif dan tidak bergantung kepada iklan seperti media-media massa yang lainnya. Hal ini menjadikan buku memiliki kemampuan untuk menyajikan konsep maupun ide-ide baru yang lebih segar dan bebas dibandingkan dengan media lainnya. Karya-karya buku tentunya memiliki bermacam-macam kategori yang beredar di masyarakat. Salah satu kategori buku yang ada ialah buku yang memuat konten foto jurnalistik.

Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat konteks kekerasan yang ada dalam foto-foto di buku tersebut melalui analisis semiotika. Adanya keterkaitan antara dua media massa, menjadikan peneliti tertarik untuk menaganalisis tanda dan lambang semakin dalam melalui pemaknaan pada foto-foto di buku fotografi

(17)

jurnalistik tersebut pada teori dari Roland Barthez dan bentuk kekerasan dari Johan Galtung.

(18)

2.8. Kerangka Pemikiran

Bagan 2.1. Sistematika penelitian yang dilakukan oleh peneliti Sumber: Olahan Peneliti

Sedikitnya jumlah foto yang dipublikasikan dan beragamnya sudut pandang lain yang memiliki ketertarikan tersendiri, menjadikan foto-foto yang tidak

terpublikasikan di media koran, dimuat dalam buku kumpulan fotografi jurnalistik “Unpublished”.

Wartawan foto memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memotret peristiwa untuk dipublikasikan di dalam sebuah media.

Harian Kompas memiliki beragam kebijakan dalam pemilihan foto yang dipublikasikan setiap harinya di koran.

Bentuk kekerasan menjadi salah satu aspek dalam tidak dipublikasikannya foto di Harian Kompas

Representasi menurut Stuart Hall dan Analisis Semiotika Roland Barthez

Representasi Kekerasan dalam Foto-Foto di Buku Kumpulan Fotografi Jurnalistik “Unpublished”.

Foto di dalam sebuah buku menjadi media yang dapat mengembangkan ide- ide baru dan menantang, dalam aspek ini tidak terpaku pada aturan/kode etik

jurnalistik

Gambar

Tabel 2.1. Model Semiotika Roland Barthez  (Sumber: Olahan Peneliti)
Foto di dalam sebuah buku menjadi media yang dapat mengembangkan ide- ide-ide baru dan menantang, dalam aspek ini tidak terpaku pada aturan/kode etik

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada rencana perbaikan jaringan, perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan software ETAP 12.6.0 diperoleh persentase jatuh tegangan hanya berkisar antara 1,81% -

Persentase kebutuhan dosen akan aplikasi yang dapat membantu merancang dan mengelola content dari situs web pribadinya Persentase dosen yang memerlukan aplikasi untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil daya psikologis siswa dan implikasinya terhadap program bimbingan dan konseling pribadi.. Metode penelitian

(2) Merancang Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dengan model blok tanam , yakni 30 KK (responden) berasal dari sejumlah RT yang masih satu RW di kelurahan

[r]

Bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan kimia alami atau sintetis, yang mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang ditambahkan dalam makanan pada waktu pengolahan..

Hasil studi dokumentasi terhadap 10 sampel berkas rekam medis rawat jalan yang dikode oleh petugas kesehatan, ditemukan 60% kode tidak akurat dan 80% terminologi

Tidak Tahun Lulus Lama (Bln) Rank Tempat Pendidikan4. DATA