• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu melakukan proses komunikasi terhadap sesama manusia untuk mendapatkan tujuannya. Pengertian komunikasi menurut Berelson dan Steiner adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol, seperti kata-kata, gambar, angka, dan lain-lain (dalam Suryanto,2015).

Berdasarkan pengertian tersebut, Berelson dan Steiner mengartikan bahwa proses komunikasi dilakukan untuk menyampaikan pesan dari satu individu ke individu lain berupa kata, gambar, angka. Dalam berkomunikasi tentu saja tidak hanya dapat melibatkan satu manusia dengan satu manusia lain, namun juga bisa melibatkan satu manusia dengan beberapa manusia lain ataupun beberapa manusia yang berkumpul saling mengkomunikasikan pesan satu sama lain, atau bisa dinamakan dengan komunikasi massa, dan komunikasi kelompok.

Michael Burgoon mendefinisikan bahwa komunikasi kelompok adalah interaksi yang dilakukan secara tatap muka tiga orang lebih, dengan tujuan yang sudah diketahui, layaknya berbagi informasi, menjaga diri, memecahkan masalah, yang anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi antar anggota secara tepat (Wiryanto, 2005). Komunikasi kelompok dapat dilakukan ketika para pelaku komunikasi berkumpul pada satu tempat yang sama saling tatap muka dan saling mengkomunikasikan pesannya antara satu sama lain. Sedikit berbeda dengan komunikasi kelompok, komunikasi massa mempunyai pengertian yang berbeda pula.

Bittner menjelaskan bahwa komunikasi massa adalah pesan yang dikirimkan melalui media massa pada sejumlah besar orang (dalam Ardianto, 2017). Jadi, proses komunikasi massa memerlukan sebuah media massa dalam penyebaran pesannya dan ditujukan kepada banyak orang. Proses komunikasi kelompok dan komunikasi massa tersebut dilakukan pastinya dengan adanya beberapa tujuan para komunikannya. Selain untuk menyampaikan pesan, proses komunikasi juga diharapkan salah satunya dapat mempengaruhi para komunikan yang mendapatkan informasi dari komunikan.

Untuk kelancaran dari tujuan komunikasi tersebut dilakukan, perlu juga diperhatikan bagaimanakah Strategi Komunikasi yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Middleton

(2)

mengatakan bahwa Strategi Komunikasi sendiri adalah semua komponen komunikasi yang telah dipadukan dan dikombinasikan serta dirancang demi tercapainya tujuan komunikasi berjalan maksimal (dalam Cangara, 2014). Maka dari itu, suatu kelompok memerlukan rencana dan rancangan untuk memaksimalkan komunikasi mereka demi mencapai dari tujuan kelompok tersebut.

Sabre Squad Salatiga adalah sebuah kelompok atau komunitas yang terbentuk atas dasar hobi yang sama yaitu airsoft gun. Dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga, dijelaskan bahwa airsoft gun adalah “benda yang bentuk, sistem kerja dan atau fungsinya menyerupai senjata api yang terbuat dari bahan plastik dan atau campuran yang dapat melontarkan Ball Bullet (BB)” (Pasal 1 angka 25 Perkapolri 8/2012). Dijelaskan pula pada pasal 5 ayat (3) Perkapolri 8/2012, airsoft gun hanya boleh digunakan di lokasi pertandingan dan latihan. Menurut perundang-undangan tersebut sudah dijelaskan bahwa airsoft gun merupakan sebuah alat atau bisa dikatakan mainan yang digunakan untuk berlatih,

dan tidak untuk disalahgunakan sebagai senjata yang merugikan orang lain.

Sabre Squad sebagai sebuah komunitas yang menggemari airsoft gun, mempunyai suatu tujuan untuk memperkenalkan dan mengedukasi masyarakat Salatiga, bahwa airsoft gun berbeda dengan senjata api ataupun senjata angin. Selain itu, komunitas ini ingin mengedukasi masyarakat untuk tidak menyalahgunakan airsoft gun untuk hal kejahatan dan hal yang tidak semestinya airsoft gun digunakan, sebagaimana yang telah diatur dalam perundang-undangan. Komunitas ini telah terbentuk sejak 23 Mei 2016 dan tetap aktif sampai penelitian ini dibuat. Selain bertujuan untuk memperkenalkan dan mengedukasi kepada masyarakat apa sebenarnya itu airsoft gun, komunitas ini juga dibentuk untuk menjadi wadah bagi para peminat atau pelaku olahraga airsoft gun, sehingga airsoft gun tidak disalahgunakan. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, Sabre Squad mempunyai Strategi Komunikasi yang dilakukan oleh komunitas internal agar tujuan komunitas dapat diterima oleh kalangan masyarakat Salatiga, dan para anggotanya sendiri. Upaya komunitas sendiri yaitu untuk mengajak dan mengundang para peminat airsoft gun untuk bergabung kedalam komunitas sehingga, masyarakat yang memiliki bakat dan minat pada airsoft gun dapat dipantau dan mendapatkan media untuk meng ekspresikan hobi yang dimilikinya. Selain itu, agar masyarakat yang tergabung dapat memahami dan tidak menyalahgunakan dari fungsi airsoft gun sendiri.

(3)

Dalam kehidupan bersosial, banyak permasalahan yang dialami oleh masyarakat, salah satunya adalah kejahatan. Kejahatan seringkali dilakukan dengan penyalahgunaan suatu benda. Penyalahgunaan alat atau benda, kerap kali dijadikan senjata untuk mengancam, dan bahkan melukai sesama manusia. Contoh dari penyalahgunaan suatu benda untuk kejahatan seperti yang dilansir pada berita detik.com yang berjudul “Tembak Temannya pakai Airsoft gun, Roland Diciduk Polisi di Denpasar”. Pada berita tertulis bahwa pelaku, menembak temannya sendiri menggunakan airsoft gun dibagian paha korban. Ketika pelaku diperiksa oleh pihak berwajib, pelaku mengaku bahwa apa yang ia lakukan terhadap temannya itu adalah sebuah candaan. Pada tempat kejadian, ditemukan barang bukti berupa satu unit airsoft gun beserta selongsong kosong 4 butir dan selongsong isi 2 butir. Di lain tempat, kejadian serupa terjadi di kota Magelang, 2 pria ditangkap polisi karena melakukan penyalahgunaan airsoft gun. Polisi menemukan barang bukti berupa sebuah unit airsoft gun berwarna hitam beserta peluru 12 butir yang digunakan untuk menembak korban. Pelaku melakukan penembakan kepada korban sebanyak 3 kali yang mengenai tengkuk, pelipis korban namun satu tembakan lain meleset. Polisi telah mengkonfirmasi bahwa luka pada korban adalah bekas tembakan dari airsoft gun.

Semakin banyak anggota peminat yang masuk dalam komunitas, maka makin merata pula pengertian yang dapat disebarkan kepada masyarakat Salatiga tentang kepemilikan dan penggunaan airsoft gun dan bertambah pula rasa kekeluargaan kepada sesama peminat airsoft gun di kota Salatiga. Penelitian ini perlu untuk dilakukan untuk mengetahui bagaimanakah Strategi Komunikasi yang dilakukan oleh komunitas ini, ditengah maraknya kejahatan dengan penyalahgunaan benda tertentu khususnya airsoft gun untuk melukai orang lain.

Komunitas ini penting untuk diteliti karena komunitas ini merupakan satu-satunya komunitas yang mewadahi para pengguna atau pemilik airsoft gun di kota Salatiga, dan komunitas ini mengalami peningkatan dalam jumlah anggota dari tahun ke tahun. Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan kepada ketua dan pengurus komunitas, Sabre Squad pada awal memiliki anggota sebanyak 15 orang pada tahun periode pertama komunitas dibentuk, hingga penelitian ini dibuat komunitas sudah memiliki anggota yang tergabung dalam group facebook mencapai 310 anggota.

Penelitian ini perlu untuk dilakukan karena, penelitian ini dapat membantu pembaca dan komunitas lain mendapatkan referensi bagaimanakah Upaya yang dapat dilakukan dalam menarik minat masyarakat untuk bergabung ke dalam komunitas ditengah penyalahgunaan hobi komunitas tersebut oleh oknum tertentu. Peneliti telah melakukan penelitian sejak 23

(4)

Agustus 2020 di Salatiga dengan judul penelitian “Upaya Kelompok Sabre Squad Salatiga Dalam Menarik Minat Masyarakat Salatiga Untuk Bergabung Dalam Komunitas”. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif eksplanatif.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah upaya kelompok Sabre Squad Salatiga guna menarik minat masyarakat Salatiga untuk bergabung dalam komunitas.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah menjelaskan upaya Sabre Squad dalam menarik minat masyarakat salatiga untuk bergabung dalam komunitas.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan oleh peneliti adalah : 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan bisa menambah dan memperluas pengetahuan pada bidang ilmu komunikasi terutama mengenai teori Strategi Komunikasi yang telah diimplementasikan dan dilakukan oleh para pelaku komunikasi dalam lingkup komunitas. Penelitian ini juga diharapkan dapat memperluas ilmu dalam teori komunikasi kelompok. Selain Strategi Komunikasi, penulis juga berharap penelitian ini dapat menambahkan pengetahuan mengenai bagaimana komunikasi kelompok apabila diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimanakah upaya yang dilakukan oleh komunitas airsoft gun Sabre Squad dalam menarik minat masyarakat salatiga untuk bergabung dalam komunitas serta menjadi wadah para penggemar airsoft gun dan mengedukasi tentang airsoft gun kepada masyarakat luas sehingga dapat dijadikan referensi atau pengetahuan oleh pembaca untuk diterapkan

(5)

pada komunitas lain. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat membantu masyarakat untuk mengenal airsoft gun agar tidak disalahgunakan.

1.5 Konsep Yang Digunakan

Berikut adalah konsep yang digunakan:

1. Strategi Komunikasi

Pengertian dari Strategi Komunikasi bisa dipahami sebagai segala aktifitas yang akan dilakukan oleh seorang komunikator dalam mengirimkan pesan kepada audience dengan tujuan tertentu yang telah digariskan sebelumnya, menggunakan media apa, perumusan pesan yang bagaimana serta efek yang akan dicapai, pada akhirnya tercapai apa yang diinginkan sesuai dengan rumusan tujuan itu (Mudjiono, 2007:126).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model konsep Strategi Komunikasi yang dikemukakan oleh Wilbur Schramm. Dalam konsep Strategi Komunikasi, Wilbur mengemukakan bahwa terjadi 5 tahapan yang terjadi, yaitu Awareness merupakan kesadaran penerima terhadap pesan, Interest merupakan perhatian atau ketertarikan terhadap pesan, Desire merupakan keinginan terhadap pesan, Decision merupakan keputusan penerima terhadap pesan, dan Action merupakan aksi atau tindakan penerima terhadap pesan (Cangara, 2014).

2. Sabre Squad Salatiga

Sabre Squad sebagai sebuah komunitas yang menggemari airsoft gun, mempunyai suatu tujuan untuk memperkenalkan dan mengedukasi masyarakat Salatiga, bahwa airsoft gun berbeda dengan senjata api ataupun senjata angin. Selain itu, komunitas ini ingin mengedukasi masyarakat untuk tidak menyalahgunakan airsoft gun untuk hal kejahatan dan hal yang tidak semestinya airsoft gun digunakan, sebagaimana yang telah diatur dalam perundang-undangan. Komunitas ini telah terbentuk sejak 23 Mei 2016 dan tetap aktif sampai penelitian ini dibuat. Selain bertujuan untuk memperkenalkan dan mengedukasi kepada masyarakat apa sebenarnya itu airsoft gun, komunitas ini juga dibentuk untuk menjadi wadah bagi para peminat atau pelaku olahraga airsoft gun, sehingga airsoft gun tidak disalahgunakan.

(6)

1.6 Batasan Penelitian

Batasan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah upaya yang digunakan oleh komunitas Sabre Squad dalam menarik minat masyarakat Salatiga untuk bergabung kedalam komunitas dan dianalisis dengan teori Strategi Komunikasi yaitu dilihat konsep yang telah dipilih peneliti yaitu konsep model Strategi Komunkasi milik Wilbur Schramm yang meliputi Awareness, Interest, Desire, Decision, Action dan diperkuat dengan metode apa yang digunakan oleh Sabre Squad dalam melakukan Strategi Komunikasi.

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan pola asuh yang tepat dirasa masih jarang digunakan terutama bagi masyarakat desa Ngliron, sehingga sangat menarik untuk dilakukan penelitian dengan judul

Padahal dengan adanya fasilitas- fasilitas yang mendukung pembelajaran multimedia ini, dapat digunakan sebagai variasi dalam mengajar sehingga dapat menarik minat

Maksud dari Perancangan Interior Pusat Kreasi Aquascape Di Bandung yaitu sebagai sarana rekreasi edukasi untuk menarik minat, perhatian dan motivasi masyarakat dalam

Artikel jurnal ini digunakan sebagai bentuk sudut pandang bagaimana upaya suatu negara yang memiliki potensi dalam menarik perdagangan narkobanya dan membawa

Transformasi konflik merupakan pendekatan yang digunakan dalam proses rekonsiliasi sebagai upaya untuk memperbaiki pola hubungan dua komunitas agama di Kota Ambon pasca konflik..

Dalam batasan masalah pada penelitian ini penulis hanya membatasi masalah pada upaya pengelola Museum Sultan Mahmud Badarudin II Palembang dalam menyampaikan pesan

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai upaya untuk mengungkap dan mendokumentasikan khasanah budaya di masyarakat Kampung Naga terkait matematika yang dapat digunakan sebagai

Para gamers dalam mengatasi perbedaan skill tidak hanya melalui latihan tetapi juga bergabung pada kelompok atau komunitas, seperti terbentuknya komunitas INA TOXIC ini berawal dari