4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Keadaan Umum Kabupaten Minahasa Selatan
Kabupaten Minahasa Selatan merupakan salah satu daerah otonom baru yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003 yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Secara de facto dan de jure pemerintah kabupaten Minahasa Selatan berjalan sejak tanggal 4 Agustus 2003, yaitu dengan dilantiknya Pejabat Bupati oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia.
Secara administratif Kabupaten Minahasa Selatan berbatasan dengan Kabupaten Minahasa (batas utara), Laut Maluku (batas timur), Kabupaten Bolaang Mangondow (batas selatan) dan Laut Sulawesi (batas Barat). Jadi, secara geografis letak wilayah ini tepat berada di tengah-tengah jazirah Provinsi Sulawesi Utara.
Dalam perspektif regional, Kabupaten Minahasa Selatan berada pada posisi strategis, karena berada pada jalur lintas darat yang menghubungkan jalur jalan seluruh provinsi di Pulau Sulawesi. Demikian pula jalur laut untuk bagian utara, merupakan daerah perlintasan sekaligus stop over arus penumpang, barang dan jasa pada kawasan Indonesia tengah dan kawasan Indonesia timur, bahkan untuk kawasan asia pasifik. Sementara untuk jalur laut bagian selatan, sangat strategis untuk pengembangan produksi perikanan di kawasan timur Indonesia.
Kabupaten Minahasa Selatan mempunyai topografi wilayah berupa bukit- bukit/pegunungan dan sebagian kecil adalah dataran rendah bergelombang dan memiliki sungai-sungai besar dengan posisi dari daerah pantai sampai ketinggian 1.300 meter dari permukaan laut. Luas Wilayah Kabupaten Minahasa Selatan adalah 2.120,80 km2, yang terdiri dari 20 kecamatan.
Pada awal pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan, secara administratif sesuai dengan Undang Undang Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon di Provinsi Sulawesi Utara terdiri dari 13 Kecamatan, namun perkembangan selanjutnya dengan memperhatikan berbagai tuntutan masyarakat yang telah direspons secara positif oleh Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Minahasa serta sejalan dengan
salah satu kewenangan yang dimiliki oleh kabupaten/kota maka terbentuklah Kecamatan Ratatotok hasil dari pemekaran Kecamatan Belang berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2003 dan Kecamatan Kumelembuai hasil pemekaran dari Kecamatan Motoling berdasarkan Perda Nomor 8 Tahun 2003, sehingga jumlah Kecamatan di Kabupaten Minahasa Selatan dari 13 kecamatan menjadi 15 kecamatan (Luntungan, 2006).
Pada akhir tahun 2005, Pemerintah Daerah bersama DPRD Kabupaten Minahasa Selatan merespon secara positif aspirasi masyarakat untuk pembentukan 5 kecamatan baru dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Minahasa Selatan Nomor 18 Tahun 2005 tentang Pembentukan Kecamatan Tatapaan (hasil pemekaran Kecamatan Tumpaan), Amurang Barat (hasil pemekaran Kecamatan Tombasian dan Tenga), Amurang Timur (hasil pemekaran Kecamatan Tombasian), Maesaan (hasil pemekaran Kecamatan Tompaso Baru) dan Pusomaen (hasil pemekaran Kecamatan Belang). Selanjutnya Kecamatan Tombasian berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 172 Tahun 2005 berubah nama menjadi Kecamatan Amurang. Tabel 3 menunjukan, dengan bertambahnya 5 kecamatan baru, maka jumlah kecamatan di Kabupaten Minahasa Selatan menjadi 20 kecamatan, 200 desa dan kelurahan dengan jumlah penduduk 304.808 jiwa.
Tabel 3 Nama kecamatan, jumlah desa/kelurahan, luas wilayah dan jumlah penduduk Kabupaten Minahasa Selatan.
No Kecamatan Luas (Km2) J u m l a h
Penduduk Desa Kelurahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Modoinding Tompaso Baru Ranoyapo Motoling Tenga Sinonsayang Amurang Tareran Tumpaan Kumelembuai Amurang Timur Amurang Barat Tatapaan Maesaan Tombatu Touluaan Belang Ratahan Ratatotok Pusomaen
66,40 141,47 134,40 125,93 196,31 108,36 170,09 98,20 128,40 97,24 53,09 122,13 55,20 94,43 111,60 207,80 169,73 161,20 11,73 48,77
14.158 11.776 15.745 16.176 17.287 15.323 15.454 21.899 15.260 12.530 11.975 12.664 8.739 10.851 24.031 15.580 12.247 23.961 12.220 9.378
8 10 11 16 10 10 2 13 7 11 6 6 9 8 12 14 8 9 9 7
- - - - - - - - 6 - 2 2 - - - - - 4 - -
J u m l a h 2.120,80 304.808 186 14
Sumber: Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, 2006.
4.1.1 Sumberdaya alam
Sumberdaya alam berdasarkan wujudnya dapat dibagi menjadi sumberdaya lahan, sumberdaya hutan, sumberdaya air, dan sumberdaya mineral/tambang. Potensi sumberdaya lahan dapat diketahui apabila dilakukan identifikasi dan evaluasi potensi lahan, terutama untuk berbagai penggunaan lahan yang ditentukan. Kabupaten Minahasa Selatan memiliki sumberdaya lahan yang cukup potensial untuk dimanfaatkan dan didayagunakan terutama untuk lahan pertanian. Berkenaan dengan itu, maka mata pencarian penduduk Minahasa Selatan bergerak di sektor pertanian, sehingga penduduk Minahasa Selatan masih tergolong sebagai masyarakat agraris. Latar belakang mata pencarian seperti ini pada satu sisi sangat mendukung pemenuhan kebutuhan internal (konsumsi keluarga/daerah), sedangkan di sisi lain dan sangat memungkinkan untuk dikembangkan sebagai produk unggulan yang kompetitif dan memiliki daya saing yang tinggi. Di samping itu, potensi sumber daya perairan (laut, danau, sungai) Minahasa Selatan dengan sumberdaya hayati perikanan yang sangat besar memberi harapan bagi peningkatan kemakmuran masyarakat di masa depan.
Penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan, yang sangat potensial adalah lahan sawah dan pertanian ladang, tanah perkebunan rakyat dan perkebunan besar. Penggunaan tanah perkebunan besar (dalam hal ini hak guna usaha) telah lama keberadaannya di wilayah ini. Salah satu keuntungannya adalah dapat menyerap tenaga kerja yang banyak, baik untuk perkebunan kelapa maupun pabrik pengelolaannya sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah.
Revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan merupakan salah satu prioritas pembangunan daerah untuk mendukung penciptaan lapangan kerja terutama, di perdesaan dan pertumbuhan ekonomi nasional yang sekaligus dapat mengurangi kemiskinan, serta peningkatan daya saing hasil-hasil pertanian.
Sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan juga memiliki peran besar dalam penyediaan pangan, sehingga stabilitas ketersediaan pangan sangat penting untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Permasalahan yang dihadapi di sektor pertanian, perikanan dan kehutanan untuk dapat mewujudkan sasaran tersebut adalah: (1) Kesejahteraan petani/nelayan masih rendah dan tingkat kemiskinan yang tinggi di sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan; (2) Kelembagaan
petani/nelayan dan penyuluhan yang masih lemah; (3) Lahan pengusahaan petani semakin sempit; (4) Akses petani dan nelayan ke sumberdaya produktif termasuk permodalan dan usaha masih sangat terbatas; (5) Masih rendahnya sistem alih teknologi dan diseminasi teknologi pengolahan produk pertanian, perikanan, dan kehutanan; (6) Masih tingginya ketergantungan konsumsi pangan pada beras dan rentannya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga yang ditandai dengan masih adanya kasus busung lapar dan gizi buruk; (7) Budidaya dan pemanfaatan perikanan dan kehutanan yang belum optimal dan masih tingginya illegal fishing dan illegal logging; (8) Ketidakseimbangan pemanfaatan stok ikan antarkawasan perairan laut dan terjadinya kerusakan lingkungan ekosistem laut dan pesisir; (9) rendahnya nilai hasil hutan non-kayu yang sebenarnya berpotensi untuk meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat sekitar kawasan hutan; dan (10) pemanfaatan hutan yang melebihi daya dukung sehingga membahayakan pasokan air yang menopang keberlanjutan produksi hasil pertanian.
4.1.1.1 Perikanan
Sumberdaya perikanan yang merupakan salah satu penyokong pertumbuhan ekonomi, sumber devisa dan penyedia bahan pangan protein hewani bagi masyarakat, menghadapi berbagai permasalahan, antara lain (1) Kondisi nelayan yang pada umumnya miskin dan masih merupakan nelayan tradisional;
(2) Masih tingginya ketidakseimbangan pemanfaatan stok perikanan tangkap antarkawasan/wilayah dan antar spesies; (3) Banyaknya praktik illegal unreported and unregulated (IUU) fishing yang menyebabkan kerugian negara; dan (4) Pengusahaan perikanan budi daya yang masih belum efisien. Di samping itu, masalah-masalah lain yang menyertai adalah sarana dan prasarana perikanan yang belum memadai, dan input lainnya, seperti masalah benih, pakan, kesehatan ikan, dukungan permodalan, riset, dan iptek perikanan. Sementara itu, masalah penanganan dan proses pengolahan produk-produk perikanan juga belum berkembang dengan baik, sehingga produk perikanan bermutu rendah dengan nilai jual yang rendah pula. Di pasar global, produk perikanan juga menghadapi kendala oleh adanya hambatan tarif dan nontarif, yang dikaitkan pula dengan isu- isu lingkungan dan kesehatan. Apabila permasalahan itu dapat ditangani, sumber
daya kelautan dan perikanan mempunyai prospek besar untuk dikembangkan peranannya dalam mendukung pembangunan nasional.
Sumber daya air yang ada di Kabupaten Minahasa Selatan berupa sungai- sungai disamping danau/tasik, rawa, waduk dan bendungan yang dimanfaatkan selain sebagai sumber air bersih juga untuk sektor pertanian dan perikanan. Oleh karena itu, sub sektor perikanan cukup potensial di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan. Namun potensi perikanan ini, baik perikanan laut maupun darat belum digarap secara intensif. Sebagian besar nelayan masih menggunakan perahu tradisional dan hasil tangkapannya digunakan untuk konsumsi lokal, disamping itu pula terdapat rumput laut. Pembudidayaan ikan air tawar pengembangannya dilakukan dalam karamba ataupun jaring apung. Tabel 4 menunjukan variasi hasil produksi perikanan perairan tawar samapai dengan perairan laut dengan kisaran dari 21 ton sampai 7.621,7 ton .
Tabel 4 Jenis komoditi dan produksi perikanan di Kabupaten Minahasa Selatan.
No Jenis Komoditi Produksi (ton)
1.
2.
3.
4.
5.
Laut Tambak Kolam Karamba
Perairan Umum (danau)
7.621,7 215 1.115
550 21 Sumber : Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, 2006.
Kabupaten Minahasa Selatan memiliki panjang garis pantai 220 km dan daratan Pulau Sulawesi sepanjang 210 km dengan 10 kecamatan pesisir (Tabel 5).
Tabel 5 Nama pulau-pulau kecil di Kabupaten Minahasa Selatan.
No Nama Pulau Lokasi Luas (Ha)
1 P. Bentenan Kec. Pusomaen 17,9
2 P. Bahoi Besar Kec. Pusomaen 9,5
3 P. Bahoi Kecil Kec. Pusomaen 4,3
4 P. Babi Kec. Ratatotok 9,8
5 P. Hagow Kec. Ratatotok 4,5
6 P. Salimburung Kec. Belang 4,2
7 P. Putus-putus Kec. Belang 3,6
8 P. Punten Kec. Belang -
9 P. Tatapaan Kec. Tatapaan -
10 P. Kelapa Kec. Tumpaan -
T o t a l 53,8
Sumber : Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, 2006.
Kecamatan wilayah pesisir pantai memiliki potensi untuk pengembangan sumberdaya perikanan, yaitu Kecamatan Ratatotok, Belang, Sinonsayang, Tenga,
Amurang, Tumpaan, Amurang Barat, Amurang Timur, Tatapaan dan Pusomaen.
Tabel 6 menunjukan variasi data potensi perikanan darat, perikanan laut, serta potensi ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang di Kabupaten Minahasa Selatan.
Tabel 6 Potensi perikanan di Kabupaten Minahasa Selatan.
J e n i s Areal (Ha)
Potensi Realisasi
1. Perikanan Darat (Budidaya)
• Kolam
• Sawah/Mina Padi
• Jaring Apung/Karamba
• Tambak
1.000 1.500 500 Unit
200
450 425 100 Unit
20 2. Perikanan Laut (Budidaya)
• Rumput Laut
• Kerang Mutiara
• Jaring Apung
1.500 200 150 Ha
500 5 1,5 Ha / 30 Unit
3. Mangrove (Hutan Bakau) 936 -
4. Padang Lamun 1.100 -
5. Terumbu Karang 5.000 -
6. Danau :
• D. Wungangaan
• D. Bulilin
• D. Kawelon
• D. Mokobang
30 22 8 3
- - - - Sumber : Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, 2006.
Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan laut, maka di Kabupaten Minahasa Selatan terdapat desa-desa pesisir, yakni Desa Mangkit, Borgo, Belang, Buku, Molompar, Minanga Satu, Tumbak, Bentenan, Ratatotok Timur, Basaan, Basaan Satu, Tatengesan, Arakan, Sondaken, Wawontulap, Popareng, Bajo, Paslaten, Matani, Tumpaan I, Tumpaan, Kelurahan Lopana, Pondang, Ranomea, Bitung, Uwuran I, Ranoiapo, Kawangkoan Bawah, Desa Kapitu, Teep, Radey, Sapa, Blongko, Aergale, Boyong Pante, Ongkaw, Tanamon dan Poigar.
Tabel 7 menunjukan mata pencaharian penduduk Kabupaten Minahasa selatan sebagai nelayan laut berjumlah 6.800 orang dengan penggunaan alat dan armada penangkapan ikan andalan adalah perahu tanpa motor (1.522 unit) dan perahu motor katinting (1.200 unit). Sarana penunjang yang sudah ada antara lain pabrik es berkapasitas 210 ton sebanyak 4 (empat) unit, 3 (tiga) industri perikanan dan 1 (satu) tempat pelelangan ikan yang terletak di Amurang dan Tumpaan masing-masing 1 (satu) unit.
Tabel 7 Fasilitas sektor perikanan di Kabupaten Minahasa Selatan.
Fasilitas Jumlah (Unit)
1. Armada Perikanan
• Perahu Tanpa Motor
• Perahu Motor Tempel
• Perahu Motor Katinting
• Kapal Motor
• Pajeko (Purseseine)
• Funae (Pole & Line)
• Payang
• Jaring Insang Tetap (Gillnet)
• Jaring Insang Hanyut
• Pancing Tonda
• Pancing Line
• Bagan/Sero
• Rumpon
1.522 822 1.200 2 80 37 85 226 103 2.530 5.215 30 200 1.550 2. Jumlah Nelayan Petani/Pedagang Ikan
• Perairan Umum
• Perairan Laut
• Pedagang Ikan
380 Orang 6.800 Orang 2.473 Orang
3. Rumah Tangga Perikanan (RTP)
• RTP BD
• RTP BL
1.180 2.186
4. Sarana Penunjang
• Pabrik es/Cold Storage (210 Ton)
• Industri Perikanan di Amurang
• PPI/Dermaga di Belang
• TPI di Amurang dan Tumpaan
• BBI di Tompaso Baru
4 unit 3 unit 1 unit 2 unit 2 unit 60 Unit Sumber : Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, 2006.
4.1.1.2 Kehutanan
Kabupaten Minahasa Selatan memiliki potensi hutan yang sangat besar, tetapi potensi hutan yang besar tersebut belum dikelola secara optimal karena beberapa sebab, yaitu penataan kawasan hutan (termasuk tata ruang hutan) yang belum mantap, belum terbentuknya unit pengelolaan hutan pada seluruh kawasan hutan, pemanfaatan hutan yang belum berpihak kepada masyarakat, pemanfaatan hutan yang masih bertumpu pada hasil hutan kayu, pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran dan pengelolaan hutan yang masih lemah, upaya konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis belum mendapat perhatian yang memadai.
Upaya-upaya untuk memperbaiki pengelolaan hutan telah dilakukan, tetapi secara umum hasilnya belum seperti yang diharapkan. Beberapa permasalahan yang masih memerlukan perhatian adalah pemanfaatan hutan yang telah melebihi kemampuannya sebagai sumber daya alam yang dapat diperbarui sehingga
menimbulkan tidak saja kerugian ekonomi, tetapi juga ekologi, seperti musnahnya plasma nutfah, lahan kritis, tanah longsor, banjir, dan kekeringan. Berkurangnya kawasan hutan juga menyebabkan terjadinya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan bahan baku industri. Sementara itu, potensi hasil hutan bukan kayu belum berkembang secara optimal. Hal ini terkait dengan masih rendahnya pendapatan dan kualitas hidup masyarakat di dan sekitar kawasan hutan yang umumnya mengusahakan hasil hutan bukan kayu secara tradisional dan terbatas.
Potensi hutan di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan merupakan sumberdaya yang cukup besar, baik dalam rangka menjaga stabilitas ekosistem alam maupun untuk dikelola menjadi hutan produksi. Hutan produksi yaitu hutan yang dapat dimanfaatkan material (kayu maupun hasil lainnya) dengan tetap memperhatikan fungsi konservasinya juga terdapat di semua Kecamatan di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan.
Berdasarkan data luas hutan di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan cenderung mengalami pengurangan/penyempitan dari tahun ke tahun. Hal ini karena antara lain adanya penebangan dan perambahan hutan untuk dijadikan lahan pertanian oleh masyarakat. Untuk menanggulangi fenomena tersebut telah diupayakan menggalakkan kegiatan penghijauan dan reboisasi. Luas hutan menurut fungsinya di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan, diantaranya untuk hutan lindung dengan luas 17.030,82 ha (Tabel 8).
Tabel 8 Luas hutan berdasarkan penggunaannya.
No. Fungsi Hutan Luas Hutan ( Ha )
1.
2.
3. 4.
5.
6.
Lindung
Produksi Terbatas Suaka Marga Satwa Suaka Alam Bakau Produksi
17.030,82 28.243,65 3.414 3.862 962 16.597
J u m l a h 70.109,88
Sumber : Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, 2006.
4.1.1.3 Pertambangan
Salah satu sumberdaya alam berupa deposit benda tambang dan endapan atau sedimentasi yang ada di daerah adalah pertambangan emas (dikelola oleh PT.
Newmont Minahasa Raya), di wilayah Kecamatan Ratatotok, yang sekarang ini
dalam tahap proses pasca tambang), dan pertambangan galian C seperti : Batu, Pasir, Kaolin dan lain-lain.
Tabel 9 menunjukan lokasi dan jenis potensi pertambangan yang ada di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan dengan kisaran luas lokasi bahan galian antara 50 sampai 4.000 hektar.
Tabel 9 Potensi pertambangan di Kabupaten Minahasa Selatan.
No Jenis Bahan Galian L o k a s i Luas (Ha)
1 Bahan Galian Emas WPR Alason-Ratatotok 466,80
2 Bahan Galian Emas WPR Ranoyapo - Picuan Lama
Tokin, Karimbow Liandok 1.336 3 Bahan Galian Emas Nona Hoa, Pasolo-Ratatotok 200
4 Bahan Galian Emas Limpoga-Ratatotok 250
5 Bahan Galian C Poigar 225
6 Bahan Galian C C.Ranoyapo-Pontak,Poopo, Torout, Rumoong Bawah, Buyungon, Ranoyapo
1.800
7 Bahan Galian C Tenga, Radey 250
8 Bahan Galian C Kilometer 3, Uwuran II, Lewet,
Buyungon 200
9 Bahan Galian C Lelema, Popontolen, Sulu,
Paslaten
750 10 Bahan Galian C S. Pentu-Lopana, Tumpaan II 50
11 Bahan Galian C S. Buyat-Ratatotok 750
12 Bahan Galian Lempung Radey 250
13 Bahan Galian Lempung Tokin, Karimbow 50
14 Bahan Galian Lempung Mangkit, Basaan, Ratatotok 750 15 Batu Gamping Mangkit, Basaan, Ratatotok 4.000
16 Tras Basaan, Borgo, Tababo
Kuyanga Tangkuney
500 750 50
17 Batu Kapur Blongko 50
Sumber : Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, 2006.
Kegiatan pertambangan perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan salah satu kegiatan yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lahan, maupun terhadap kehidupan mahkluk hidup. Kegiatan ini seringkali menyebabkan ketidakteraturan topografi (lubang-lubang bekas galian), hilangnya lapisan humus, hilangnya vegetasi penutup yang menyebabkan erosi dan lahan sukar diolah kembali.
Saat ini tercatat beberapa perusahan pertambangan yang beroperasi di Kabupaten Minahasa Selatan (Tabel 10) diantaranya adalah PT. Newmont Minahasa Raya yang berlokasikan di Desa Mesel Kecamatan Ratatotok.
Tabel 10 Pengelola/pemegang ijin pertambangan di Kabupaten Minahasa Selatan.
No. Perusahaan Luas
(Ha)
Lokasi Jenis Tambang
1. PT. Newmont Minahasa
Raya 448 Mesel - Ratatotok Galian “B” Emas
(Pasca Tambang Tahun 2006/2007) 2. PT. Ratok Mining 100 Nona Hoa, Pasolo –
Ratatotok Galian “B” Emas (Eksploitasi) 3. CV. Aer Mas 5 Nona Hoa - Ratatotok Galian “B” Emas 4. PT. Manembo Mineral 20 Nona Hoa - Ratatotok Galian “B” Emas
(Eksplorasi) 5. PT. Hakian Wellem
Rumansi 100 Lobongan - Ratatotok Galian “B” Emas (Eksploitasi) Sumber : Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, 2006.
4.2 Taman Nasional Bunaken
Taman Nasional Bunaken merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan/pesisir. Pada bagian Utara terdiri dari Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua, Pulau Montehage, Pulau Siladen, Pulau Nain, Pulau Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sedangkan pada bagian Selatan meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.
Potensi daratan pulau-pulau taman nasional ini kaya dengan jenis palem, sagu, woka, silar dan kelapa. Jenis satwa yang ada di daratan dan pesisir antara lain kera hitam Sulawesi (Macaca nigra nigra), rusa (Cervus timorensis russa), dan kuskus (Ailurops ursinus ursinus).
Jenis tumbuhan di hutan bakau Taman Nasional Bunaken yaitu Rhizophora sp., Sonneratia sp., Lumnitzera sp., dan Bruguiera sp. Hutan ini kaya dengan berbagai jenis kepiting, udang, moluska dan berbagai jenis burung laut seperti camar, bangau, dara laut, dan cangak laut.
Jenis ganggang yang terdapat di taman nasional ini meliputi jenis Caulerpa sp., Halimeda sp., dan Padina sp. Padang lamun yang mendominasi terutama di pulau Montehage, dan pulau Nain yaitu Thalassia hemprichii, Enhallus acoroides, dan Thalassodendron ciliatum. Tercatat 13 genera karang hidup di perairan Taman Nasional Bunaken, didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. Yang paling menarik adalah tebing karang vertikal sampai sejauh 25-50 meter. Sekitar 91 jenis ikan terdapat di perairan
Taman Nasional Bunaken, diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), goropa (Ephinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi (Scolopsis bilineatus), dan lain-lain. Jenis molusca seperti kima raksasa (Tridacna gigas), kepala kambing (Cassis cornuta), nautilus berongga (Nautilus pompillius), dan tunikates/ascidian ( Departemen Kelautan dan Perikanan, 2001).
Taman Nasional Bunaken ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.730/Kpts-II/1991 dan No. 6186/Kpts-II/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasonal. Luas Taman Nasional Bunaken adalah 89.065 Ha, meliputi Kabupaten Minahasa dan Kotamadya Manado, Provinsi Sulawesi Utara.
Wilayah ini memiliki temperatur udara 26°-31° C dengan curah hujan 2.500–
3.500 mm/tahun, ketinggian tempat 0–800 meter dpl dengan salinitas 33-35o/oo, kecerahan 10 - 30 m, pasang surut 2,5 meter, musim barat November s/d Februari, musim timur Maret s/d Oktober dan letak geografis 1°35’ - 1°49’ LU, 124°39’ - 124°35’ BT (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2001).
4.2.1 Wilayah pengelolaan Taman Nasional Bunaken
Status Taman Nasional Bunaken ditetapkan pada bulan oktober tahun 1991 luas totalnya sebesar 89.056 ha terdiri dari sekitar 3.452 ha berupa hutan mangrove, tersebar sekitar 1.435 ha di Pulau Mantehage, 267 ha di Molas - Wori, dan sisanya sekitar 931 ha di pantai selatan (Rap-rap, Sondaken dan Wawontulap) (Pemprov. Sulawesi Utara, 2002). Berdasarkan data dari pengelola Taman Nasinal Bunaken tahun 2004 luas kawasan TN Bunaken adalah 89.065 ha, meliputi bagian utara seluas 75.265 ha dan bagian selatan seluas 13.800 ha.
Bagian utara terdiri dari 5 (lima) buah pulau: Bunaken, Manado Tua, Siladen, pesisir Tanjung Pisok (Kecamatan Bunaken, Kota Manado), Pulau Mantehage, Pulau Nain; dan Desa Tiwoho di daratan Sulawesi (Kec. Wori, Kab. Minahasa Utara). Sedang bagian selatan terdiri dari pesisir Tanjung Kalapa (mulai dari pesisir Desa Poopoh, Kec. Tombariri, Kab. Minahasa sampai Desa Popareng, Kec. Tumpaan, Kab. Minahasa Selatan).
TN Bunaken termasuk tipe B, yang dalam pengelolaannya terbagi menjadi tiga Seksi Konservasi Wilayah (SKW), yaitu SKW 1 (Pulau Mantehage, Pulau
Nain, dan pesisir Desa Tiwoho), SKW 2 (pesisir Desa Poopoh, Teling, Kumu, Pinasungkulan, Rap-Rap, Sondaken, Wawontulap, dan Popareng), dan SKW 3 (Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua, dan pesisir Desa Molas, Meras, dan Tongkeina).
Pengelolaan TN Bunaken berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 yaitu, melalui pembagian wilayah-wilayah fungsional yang disebut zonasi (mintakat).
Pengusulan zonasi TN Bunaken memperhatikan pola pemanfaatan ekstraktif oleh masyarakat setempat, dan pemanfaatan estetika bagi pariwisata alam (terutama pariwisata selam). Sesuai dengan penilaian dan kriteria dasar, zonasi TN Bunaken terdiri atas zona-zona yang berbeda untuk penggunaan yang berbeda pula sesuai dengan aktivitas spesifik dalam setiap zona. Menurut Rencana Pengelolaan TN Bunaken tahun 2004 dibagi atas 4 (empat) zone, yaitu:
1) Zona inti ( Core Zone)
2) Zona pemanfaatan pariwisata (tourism use zone) 3) Zona pemanfaatan ruang (community use zone ) 4) Zona pendukung umum ( public support zone )
Pengkajian pengaruh biofisik lingkungan seperti aktivitas pariwisata, perikanan dan budidaya laut terhadap kesinambungan pengelolaan pesisir terpadu di Taman nasional Bunaken telah dilakukan oleh Christie et al. ( 2003).
Pola dan sifat pengelolaan TN Bunaken didukung dan dikoordinasikan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kantor Balai Taman Nasional Bunaken, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan.
Kemampuan teknis pengelolaan sangat diperlukan agar Balai TN Bunaken mampu memegang peranan sebagai koordinator bagi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan potensi kawasan TN Bunaken. Usaha pengelolaan ini dibantu oleh Natural Resources Management Project (NRMP), yang merupakan proyek bantuan luar negeri kerjasama antara USAID-BAPPENAS dan Departemen Kehutanan. Proyek NRMP berakhir pada pertengahan tahun 1997 dan kemudian dilanjutkan dengan Proyek NRMP fase ke-II. Kajian terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberlanjutan proyek pengelolaan wilayah pesisir (ICMP) di Sulawesi Utara dilakukan (Pollnac et al., 2003).
4.2.2 Visi pengelolaan Taman Nasional Bunaken
Visi pengelolaan TN Bunaken adalah terwujudnya TN Bunaken yang lestari dengan pengelolaan berbasis masyarakat secara berkelanjutan. Misi pengelolaan TN Bunaken adalah melestarikan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat, dan mengembangkan pariwisata alam di dalam kawasan. Pengelolaan TN Bunaken memiliki 3 (tiga) fungsi sekaligus, yaitu sebagai tempat kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati, mendukung kehidupan penduduk dalam kawasan melalui pemanfaatan ekstraktif terbatas, dan pengembangan pariwisata khusus penyelaman.
4.2.3 Potensi sumberdaya alam Taman Nasional Bunaken
Taman Nasional Bunaken memiliki potensi-potensi yang spesifik, sebagai berikut: (1) Potensi biologis daratan. Kaya dengan berbagai jenis flora kelapa, palma, sagu, silar, dan woka, dengan fauna spesifik, yaki (kera hitam Sulawesi) dan kuskus. (2) Habitat mangrove dan padang lamun. Pencegah erosi garis pantai; kaya dengan berbagai jenis kepiting, umang, mollusca dan ikan-ikan muda; sebagai tempat ikan bertelur dan berkembang, juga merupakan habitat bagi jenis duyung, penyu laut dan burung laut. (3) Habitat pantai pasir. Dengan pantai pasir putih yang bertopografi landai; kaya dengan kehidupan berbagai jenis umang, kepiting dan udang. (4) Habitat terumbu karang. Hamparan terumbu karang ini, terutama yang terletak di perairan Pulau Bunaken, lebarnya dapat mencapai 2,5 km. Yang sangat spesifik adalah formasinya yang dimulai dengan karang datar di kedalaman +5 meter, kemudian membentuk bukit-bukit di bawah air, sampai ke tebing vertikal ke bawah (drop off) yang ratusan meter (underwater greatwalls). Di habitat ini, terutama pada tebing bawah air, memiliki banyak sekali gua, ceruk dan rekahan yang tertutup sponge beraneka warna, dan dihuni berbagai jenis vertebrata dan invertebrata laut. Selain karang, terdapat pula biota laut lainnya seperti akar bahar, karang kipas, karang lunak, hydroid penyengat, cacing laut, bintang laut, teripang. Habitat ini dihuni oleh beraneka macam ikan yang jumlahnya mencapai lebih dari 2.000 jenis seperti jenis ikan Napoleon, dan jenis ikan purba yaitu Ikan Raja Laut (Coellacanth) yang diperkirakan sudah
punah, dan sejauh ini diketahui habitatnya hanya ada di perairan Kepulauan Grande Comorro dan Anjou di lepas pantai Afrika. Habitat terumbu karang merupakan zona wisata yang paling atraktif dan menarik. (5) Habitat laut dalam.
Salah satu keunikan lain Taman Nasional Bunaken adalah kedalaman laut yang memisahkannya dengan dataran Sulawesi yang kedalamnya dapat mencapai 1.000 meter. Kedalaman ini menjadi semacam barrier yang mengurangi tingkat kerusakan Taman Nasional Bunaken sebagai akibat pengotoran yang berasal dari daratan Kota Manado.
Dukungan positif potensi sumberdaya ekosistem pesisir terhadap pengelolaan Taman Nasional Bunaken dikemukakan berdasarkan hasil pengamatan dan analisis yang dilakukan oleh Mitra Pesisir tahun 1995 di perairan desa-desa sekitar Taman Nasional Bunaken seperti Desa Popareng, Rap-Rap, Kumu, Poopo, Tongkaina, Manado Tua Satu, Manado Tua Dua, Bunaken, Buhias dan Tinongko terhadap tutupan karang keras ternyata di perairan tersebut memiliki tutupan karang hidup yang relatif masih bagus yaitu berkisar 51-75%
(Gambar 6). Sedangkan untuk Desa Wawontulap, Pinasungkulan, Meras, Alungbanua, dan Bango mempunyai tutupan karang katagori sedang yaitu 31-50
%, sehingga menjadi andalan untuk aktifitas penyelaman bawah laut.
Catatan Median Katagori :
5 : tutupan 76-100 % (sangat bagus) 2 : tutupan 11-30 % (buruk) 4 : tutupan 51-75 % (bagus) 1 : tutupan 0-11 % (sangat buruk) 3 : tutupan 31-50 % (sedang)
Sumber : Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara et al. (2002)
Gambar 6 Tutupan karang di desa-desa sekitar TN Bunaken.
Gambar 7 menunjukkan sebaran ekosistem mangrove di desa-desa sekitar Taman Nasional Bunaken berdasarkan kesehatan persentase rata-rata tutupan kanopi yaitu Desa Bango (74 %), Wawontulap (64 %), Tangkasi dan Alungbanua (62 %), Sondaken (57%) dan Pungkol (55 %).
Sumber : Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara et al. (2002)
Gambar 7 Rata-rata persentase penutupan kanopi mangrove di desa-desa sekitar TN Bunaken.
4.3 Daerah Perlindungan Laut Blongko 4.3.1 Kondisi umum
Blongko merupakan satu dari 27 desa di Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, terbentang satu kilometer sepanjang jalan Trans Sulawesi.
Desa ini terletak 115 km sebelah barat daya Manado, dan 32 km dari Amurang.
Kawasan Blongko dikelilingi pegunungan hijau yang subur, didominasi tanaman kelapa dan buah-buahan. Wilayah pesisirnya sebelah barat berhadapan dengan Laut Sulawesi. Pantai sepanjang desa memiliki hutan mangrove yang dilindungi dengan baik oleh penduduk setempat sekaligus melindungi desa dari angin barat selama musim hujan dari bulan November hingga Januari. Beberapa terumbu karang di depan desa rusak parah akibat penambangan untuk pembuatan konstruksi jalan dan sebagai bahan bangunan. Kerusakan ini juga disebabkan kebiasaan berjalan menginjak karang dan penangkapan ikan dengan alat yang merusak seperti bom ikan. Masyarakat telah menetapkan daerah tertentu yang masih bagus dari kawasan terumbu karang ini sebagai daerah perlindungan laut (DPL).
Di Sulawesi Utara, Desa Blongko merupakan salah satu dari empat desa yang menjadi proyek percontohan pelaksanaan Proyek Pesisir Sulawesi Utara.
Tiga desa lainnya adalah Talise, Bentenan, dan Tumbak. Keempat desa terpilih dari 109 desa di pesisir Minahasa (Proyek Pesisir dan Bappeda Provinsi Sulut, 1999). Desa Blongko yang dapat dicapai selama lebih kurang 2,5 jam perjalanan lewat darat dari Manado, pantainya berupa teluk dengan tanaman pohon kelapa sebagai tumbuhan khas wilayah pesisir. Sesuai dengan namanya, Blongko, yang berarti belanga, garis pantainya memang menjorok ke darat, menyerupai wadah untuk memasak (Kompas, Rabu, 16 April 2003) .
Mayoritas penduduk Blongko adalah nelayan sekaligus petani. Sejumlah kecil menjadi pengrajin, pedagang, dan pegawai perusahaan swasta. Penduduk setempat amat bergantung pada produksi laut (ikan), dan kebanyakan mereka menangkap ikan dengan alat pajeko (jaring pukat cincin dengan 10-15 nelayan per kelompok), soma dampar (jaring pukat pantai), soma rarape (jaring yang pemakaiannya dipasang di karang dan bongkahan karang digunakan sebagai beban), soma paka-paka (nelayan menggebah ikan dari karang sehingga lari menuju jaring), dan panah atau jubi. Kegiatan menangkap (mengambil langsung) juga dilakukan, seperti menangkap lobster, teripang dan abalone. Penduduk juga memanen tahunan tanaman dan palawija seperti kelapa, jagung, kacang ijo, padi, dan rempah-rempah.
4.3.2 Isu pengelolaan perikanan
Isu pengelolaan pesisir utama yang terdapat di Blongko antara lain penanggulangan bahaya banjir, penyaluran air bersih, degradasi hutan, perusakan hutan dan hutan mangrove, erosi pantai, buruknya pemasaran produksi ikan, tingkat pendidikan rendah, sanitasi dan kebersihan desa rendah, penangkapan biota laut yang dilindungi, serta praktik penangkapan ikan yang menggunakan bahan bahan kimia beracun dan bahan peledak.