KETAHANAN PANGAN VS
KEDAULATAN PANGAN
FOOD SECURITY :
The availability at all times of adequate world food supplies of basic foodstuffs to sustain
a steady expansion of food consumption and to offset fluctuations in production and
prices. (United Nations 1975 cited in FAO 2003)
Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.
Food security [is]
a situation that exists when all people, at all times, have physical,
social and economic access to sufficient, safe and nutritious food that meets their dietary
needs and food preferences for an active and healthy life. (FAO 2001 cited in FAO 2003)
‘food security’
Food security, at the individual, household, national, regional and global levels [is
achieved] when all people, at all times, have physical and economic access to sufficient, safe and nutritious food to meet their dietary
needs and food preferences for an active and healthy life. (FAO 1996 cited in FAO 2003)
Long-term food security depends on those who produce food and care for the natural environment.
As the stewards of food producing resources we hold the following principles as the necessary foundation
for achieving food security. Food is a basic human right. This right can only be realized in a system where
food sovereignty is guaranteed. Food sovereignty is the right of each nation to maintain and develop its own capacity to produce its basic foods respecting cultural and productive diversity. We have the right to
produce our own food in our own territory. Food sovereignty is a precondition to genuine food security.
(Via Campesina 1996; emphasis added)
Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem Pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal.
Food sovereignty is
the right of peoples to define their own food and agriculture; to protect and regulate domestic
agricultural production and trade in order to achieve sustainable development objectives; to
determine the extent to which they want to be self reliant; to restrict the dumping of products in their markets; and to provide local fisheries-based
communities the priority in managing the use of and the rights to aquatic resources.
Food sovereignty
Food sovereignty does not negate trade, but rather, it promotes the formulation of trade policies and practices that serve the rights of
peoples to safe, healthy and ecologically
sustainable production. (Peoples Food Sovereignty Network 2002)
Food sovereignty is
the right of peoples to healthy and culturally appropriate food produced through ecologically sound and sustainable methods, and their right to define their own food and agriculture systems. It puts
those who produce, distribute and consume food at the heart of food systems and policies rather than the
demands of markets and corporations. It defends the interests and inclusion of the next generation.
It offers a strategy to resist and dismantle the current corporate trade and food regime, and directions for
food, farming, pastoral and fisheries systems determined by local producers
Food sovereignty is
Food sovereignty prioritises local and national economies and markets and empowers peasant and family farmer- driven agriculture, artisanal fishing, pastoralistled grazing, and food production, distribution and consumption based on environmental, social and economic sustainability. Food
sovereignty promotes transparent trade that guarantees just income to all peoples and the rights of consumers to control their food and nutrition. It ensures that the rights to
use and manage our lands, territories, waters, seeds, livestock and biodiversity are in the hands of those of us
who produce food. Food sovereignty implies new social relations free of oppression and inequality between men
and women, peoples, racial groups, social classes and generations. (Via Campesina 2007)
Pendekatan ketahanan pangan berasisasi msh muncul bencana kelaparan dan gizi buruk
perlunya kedaulatan pangan
HAK ATAS PANGAN:
Konsep kedaulatan pangan sejak 1996 untuk
merespons ancaman WTO kpd negara2 miskin dlm menyediakan makanan pokok bg penduduknya
Pendekatan ketahanan pangan berasisasi msh muncul bencana kelaparan dan gizi buruk
perlunya kedaulatan pangan
HAK ATAS PANGAN:
Konsep kedaulatan pangan sejak 1996 untuk
merespons ancaman WTO kpd negara2 miskin dlm menyediakan makanan pokok bg penduduknya
La Via Campesina
Organisasi petani internasional, deklarasi Tlaxcala Mexico, KP mengacu kpd aspek pengambilan keputusan scr berdaulat di tingkat nasional (lokal)
dalam soal ketahanan pangan, BUKAN pada WTO or lainnya.
DEKLARASI AKHIR WORLD FORUM ON FOOD SOVEREIGNTY DI HAVANA KUBA, (2004)
KP= instrumen menghapus kelaparan, kurang gizi, serta menjamin ketahanan pangan yg
berkelanjutan bg semua orang
KP = hak rakyat untuk mnentukan kebijakan dan dan strategi sendiri atas produksi, distribusi, konsumsi yg
berkelanjutan yg menjamin hak atas pangan bg seluruh pnduduk bumi brdasarkan produksi berskala
kecil dan menengah, menghargai kebudayaan lokal dan keberagaman kaum tani dan nelayan.
LA VIA Campesina :
Merumuskan hak rakyat sebuah negeri atau negara dlm menetapkan kebijakan pertanian dan pangannya
Kasus NTT beras
Protein dan Kalori < standar
Kacang2an tidak ada.. Protein cukup tinggi sbg pemasok protein
Perlunya dukungan politik anggaran untuk pembardayaan masyarakat aksesibilitas
masyarakat meningkat
WTO “Paket Juli”:
WTO ingin agar pasar dlm negeri bebasdimasuki siapa pun, bebas menjual dimana pun, dan hrs dijamin oleh
aturan global.
Pasar domestik dikendalikan Perusahaan raksasa ? Kebangkrutan usaaha tani kecil?
Keberhasilan KP :
Kita tdk didekte oleh fluktuasi produksi dan harga pangan, internasional, tdk bergantung benih (transgenik, hibrida, dan benih unggul) yg sebagian besar dikuasaai perusahaan
multinasional, petani berdaulat atas tanah dan produknya terlindungi, dan tidak mmbiarkannya berjuang sendirian di
kancah persaingan global.
“perlunya kepekaan perubahan alam”: banjir, hujan dst
Kedaulatan Pangan
Pada tahun 1996 ketika FAO mengadakan World Food Summit dan mengeluarkan Deklarasi Roma mengenai
Ketahanan Pangan (food security), organisasi dunia buruh tani dan petani dunia La Via Campesina
mengeluarkan konsep alternatif yang disebut kedaulatan pangan (food sovereignty). Kedaulatan pangan didefinisikan sebagai hak sebuah negara dan
petani untuk menentukan kebijakan pangannya
dengan memprioritaskan produksi pangan lokal untuk kebutuhan sendiri, menjamin ketersediaan tanah subur, air, benih, termasuk pembiayaan untuk para
buruh tani dan petani kecil serta melarang adanya praktek perdagangan pangan dengan cara dumping.
Kekurangan produksi
Kekurangan produksi kedelai, juga gandum. Gandum, bahan baku terigu, adalah tanaman yang hingga kini belum
berhasil dibudidayakan di kawasan tropika seperti
Indonesia. Dilema bangsa agraris makin beranak pinak. Di satu sisi, konsumsi beras telah mencapai klimaksnya setara 139 kg/kapita/tahun sehingga upaya meningkatkan produksi
dengan teknologi dan pencetakan sawah baru berapa pun kontribusinya tidaklah sanggup mengejar kebutuhan.
Tetapi di sisi lain, kita dihadapkan pada diversifikasi pangan berbasis impor. Keduanya sama-sama memiliki konsekuensi sosial-politik amat besar yang bila tidak dapat dipenuhi akan
menjadikan bangsa ini tanpa kedaulatan pangan.
Secara teoretis, kalau konsumsi beras Indonesia dapat direduksi hingga 110 kg saja, kita sudah berkemampuan
mengekspor.
Saat ini, sekitar 70 persen negara sedang berkembang merupakan pengimpor pangan. Sementara jumlah penduduk kelaparan lebih dari 850 juta orang, dan
ironisnya 80% dari mereka adalah petani kecil.
Mengingat besarnya jumlah penduduk, Indonesia perlu berusaha semaksimal mungkin mencukupi kebutuhan pangannya secara mandiri dalam waktu
yang tidak terlalu lama (-/+ 10 tahun).Hal ini sepatutnya menjadi keputusan politik
negara.Diperlukan upaya khusus untuk sampai pada keputusan politik ini.
Konsumsi produk dalam negeri
Tempe SEMPAT menghilang dari peredaran akibat ketergantungan Indonesia pada kedelai, yang 60
persen dari Amerika Serikat yg 85 persennya
berasal dari transgenik. Akibatnya, ketika Amerika Serikat memprioritaskan pertaniannya untuk pemenuhan bahan bakar biofuel, yang terjadi
adalah kerentanan di Indonesia. Sebuah
konsekuensi logis atas ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan impor.