14
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Asuransi
A. Pengertian Asuransi
Asuransi dalam Bahasa Belanda disebut “Verzekering” yang artinya adalah pertanggungan. Ada dua pihak yang terlibat dalam asuransi, yaitu satu pihak yang sanggup menanggung atau menjamin bahwa pihak yang lainnya akan mendapat penggantian suatu kerugian, yang mungkin akan ia derita sebagai akibat dari suatu peristiwa yang semula belum tentu akan terjadi atau semula belum tentu dapat ditentukan saat akan terjadinya. (Danarti, 2011). Sementara definisi otentik tentang asuransi yang saat ini berlaku adalah yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia no 2 Tahun1992 Tentang usaha perasuransian Bab I pasal 1 yang berbunyi sebagai berikut : “Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian Antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung meningkatkan diri terhadap tertanggung, dengan menerima premi Asuransi, memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan, keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.“
Dari segi ekonomi asuransi berarti suatu pengumpulan dana yang dapat dipakai untuk menutup atau memberi ganti rugi kepada orang yang mengalami
kerugian. Berdasarkan definisi definisi tersebut, maka dapat diambil suatu pengertian yang mencakup semua sudut pandang diatas, yaitu: Asuransi adalah suatu alat untuk mengurangi risiko yang melekat pada perekonomian, dengan cara menggabungkan sejumlah unit-unit yang terkena risiko yang sama atau hampir sama, dalam jumlah yang cukup besar, agar probabilitas kerugiannya dapat diramalkan terjadi, akan dibagi secara proporsional oleh semua pihak dalam gabungan itu.
Sifat bisnis asuransi membutuhkan investasi uang yang besar. Sumber dana- dana perusahaan asuransi untuk membayar kerugian-kerugian adalah dari modal yang telah disetor, surplus, dan premi yang telah dibayar dimuka untuk jasa- jasa yang diberikan. Pengelolaan bisnis yang baik menghendaki dana-dana itu di investasikan dengan aman dan menguntungkan. Orang-orang yang ahli dalam analisis investasi sangat penting bagi operasi perusahaan asuransi. Asuransi adalah lembaga keuangan yang sangat penting dan dengan demikian mempunyai pengaruh besar dalam perekonomian (Alamsyah & Wiratno, 2017).
Prinsip dasar di dalam dunia Asuransi ada enam yang harus dipenuhi diantaranya (Danarti, 2011) :
1. Insurable interest yaitu hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan, Antara tertanggung dengan penanggung dan diakui secara hukum.
2. Utmost good faith yaitu suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan lengkap, semua data material (material fact) mengenai sesuatu yang akan diasuransikan, baik diminta maupun tidak. Artinya si penanggung harus dengan jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu tentang
luasnya syarat atau kondisi dari asuransi dan si tertanggung juga harus memberikan keterangan yang jelas dan benar atas objek atau kepentingan yang dipertanggungkan.
3. Proximate cause suatu penyebab aktif dan efisien yang mengakibatkan rangkaian kejadian yang menimbulkan suatu akibat tanpa adanya intervensi suatu yang mulai dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen.
4. Indemnity suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan kompensasi finansial dalam upayanya menempatkan tertanggung dalam posisi keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD pasal 252, 253, dan dipertegas dalam pasal 278).
5. Subrogation merupakan pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada penanggung setelah klaim dibayar.
6. Contribution yaitu hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya yang sama-sama menanggung, tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap tertanggung untuk ikut memberikan indeminity.
Seiring dengan perkembangan zaman kebutuhan manusia akan perlindungan semakin kompleks. Inilah mengapa kemudian berbagai macam asuransi dibuat dan ditawarkan kepada masyarakat. Asuransi dari segi sifatnya terbagi menjadi dua yaitu :
1. Asuransi sosial yang merupaan asuransi wajib dimana keikutsertaannya adalah paksaan bagi warga Negara. Asuransi sosial adalah program asuransi wajib yang diselenggarakan pemerintah berdasarkan UU. Maksud dan tujuan asuransi sosial adalah menyediakan jaminan dasar bagi masyarakat dan tidak bertujuan untuk mendapatkan keuntungan komersial.
2. Asuransi sukarela dalam asuransi ini tidak ada paksaan bagi siapapun untuk menjadi anggota. Jadi, setiap orang bebas memilih untuk menjadi anggota atau tidak.
Sedangkan menurut objek dan bidang usahanya asuransi terdiri dari : 1. Asuransi kehidupan, yang meliputi asuransi jiwa, asuransi kecelakaan,
asuransi kesehatan, asuransi beasiswa, asuransi hari tua dll.
2. Asuransi umum atau asuransi kerugian terdiri dari asuransi untuk harta benda (property, dan kendaraan) kepentingan keuangan (pecuniary) dan tanggung jawab hukum (liability). Misalnya asuransi kebakaran, pengangkutan barang, kendaraan bermotor, penerbangan, asuransi rangka kapal (marine hull) dll. Objek pertanggungan asuransi ini adalah harta atau milik kepentingan seseorang.
3. perusahaan reasuransi umum adalah perusahaan asuransi yang bidang usahanya menanggung risiko yang benar-benar terjadi dari pertanggungan yang telah ditutup oleh perusahaan asuransi jiwa atau asuransi kerugian.
4. Perusahaan asuransi sosial, yaitu perusahaan asuransi yang bidang usahanya menanggung risiko finansial masyarakat kecil yang kurang mampu.
Perusahaan ini diselenggarakan oleh pemerintah.
B. Manfaat Asuransi
Usaha asuransi memiliki manfaat untuk masyarakat, pembangunan Negara dan pihak perusahaan itu sendiri. Manfaat asuransi menurut (Nurfadila, 2015) diantaranya :
1. Asuransi melindungi risiko investasi artinya dengan adanya jaminan perlindungan risiko investasi, maka pengusaha-pengusaha tertentu akan merasa lebih terjamin dan bias lebih mengeluarkan ide-ide kreatif dan inovasinya untuk mengembangkan perusahaannya tanpa takut akan adanya risiko karena ada asuransi yang menanggungnya.
2. Asuransi sebagai sumber dana investasi yang berarti perusahaan perasuransian adalah suatu lembaga keuangan non bank yang bekerja menghimpun dana dari masyarakat yang sebenarnya adalah sumber dana investasi yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi sehingga pembangunan ekonomi dapat dilakukan.
3. Asuransi untuk melengkapi syarat kredit ketika sebuah perusahaan mengasuransikan usahanya, maka ini akan lebih menambah daya Tarik kreditor memberi kreditnya pada perusahaan ini , karena kreditor baik secara langsung maupun tidak langsung merasa terjamin jika perusahaan tersebut terjadi kerugian yang tidak diinginkan maka kreditor pun masih mendapat haknya karena adanya asuransi tersebut.
4. Asuransi dapat mengurangi kekhawatiran dengan adanya asuransi, seorang bisa lebih terjamin jika suatu saat mereka mengalami kerugian yang tidak diinginkan. Karena dengan membayar uang premi asuransi, mereka secara otomatis telah terbebas dari rasa kekhawatiran karena jika mereka mengalami suatu kerugian, maka kerugian itu akan ditanggung bersama dengan kelompok yang terlibat didalamnya, jadi bias dikatakan saling membantu Antara sesama yang termasuk dalam kelompoknya.
5. Asuransi mengurangi biaya modal dengan adanya asuransi, maka biaya modal yang terlalu tinggi pun dapat dikurangi karena asuransi itu sendiri mempunyai kemampuan mengurangi biaya modal yang tinggi.
6. Asuransi menjamin kestabilan perusahaan, di zaman sekarang perusahaan- perusahaan sudah menyediakan polis untuk karyawan-karyawan tertentu dengan cara perusahaan membayar premi yang telah ditetapkan oleh perusahaan asuransi secara berangsur maupun sekaligus. Dengan ini, kestabilan perusahaan akan lebih terjamin karena adanya jaminan dari perusahaan asuransi kepada karyawan perusahaan tersebut.
7. Asuransi dapat meratakan keuntungan, dengan menentukan biaya-biaya
“Kebetulan” yang mungkin akan dialami pada masa yang akan datang melalui program asuransi, pihak perusahaan tentunya akan melakukan pertimbangan atau perhitungan dari biaya tersebut sebagai salah satu elemen dari total biaya yang akan dikalkulasikan pada biaya produk yang akan dijual oleh perusahaan tersebut. Dengan demikian, asuransi dapat dikatakan mampu meratakan jumlah keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan tersebut dari tahun ke tahun.
8. Asuransi dapat menyediakan layanan professional, dengan adanya perkembangan pesat dalam dunia perteknologian, ini juga berdampak kepada layanan yang diberikan oleh perusahaan asuransi sehingga layanan mereka bisa lebih professional dan lebih bisa menjalankan operasinya dengan baik dan efisien.
9. Asuransi mendorong usaha pencegahan kerugian, perusahaan-perusahaan asuransi banyak melakukan usaha yang bersifat mendorong perusahaan
tertanggung untuk melindungi usaha mereka dari bahaya yang dapat menyebabkan kerugian yang sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa diprediksi.
Oleh sebab itu, perusahaan pun lebih termotivasi untuk menghilangkan atau meminimalisasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat menimbulkan kerugian dari masa yang akan datang.
10. Asuransi membantu pemeliharaan kesehatan , dengan adanya kampanye yang dilakukan oleh perusahaan asuransi jiwa kepada masyarakat pemegang polis bisa lebih menyadarkan mengenai pentingnya kesehatan sehingga masyarakatpun akan lebih memelihara kesehatannya.
Produk asuransi masuk dalam kategori klasifikasi barang unsought goods, yang artinya merupakan barang-barang yang tidak diketahui konsumen dan kalaupun sudah diketahui tetapi pada umumnya belum terpikir untuk membelinya.
Dalam hal ini peran tenaga penjual sangat dibutuhkan dalam memberikan informasi kepada konsumen mengenai kegunaan asuransi di masa depan sehingga tingkat penetrasi asuransi dapat berkembang seiring kegunaan asuransi yang semakin dibutuhkan (Suparwo, 2017).
2.1.2 Pendapatan Premi
A. Pengertian Pendapatan Premi
Premi adalah biaya yang dibebankan suatu perusahaan asuransi untuk jumlah uang pertanggungan tertentu. Aktuaris perusahaan asuransi mempertimbangkan banyak faktor ketika melakukan perhitungan- perhitungan yang diperlukan untuk menetapkan tarif premi yang memadai dan wajar. Tarif premi harus adequate (memadai) agar perusahaan mempunyai cukup dana untuk
membayar manfaat polis. Premi harus pula equitable (wajar) sehingga setiaap pemegang polis dikenakan premi yang mencerminkan tingkat risiko yang ditanggung oleh perusahaan asuransi dalam memberikan pertanggungan berikut faktor-faktor yang turut dipertimbangkan oleh perusahaan asuransi saat menentukan tarif premi diantaranya :
1. Investment earnings atau Pendapatan investasi
Yaitu dana yang diperoleh perusahaan asuransi melalui pendapatan premi yang diterimanya. Pendapatan investasi perusahaan asuransi diperoleh melalui penanaman modal dengan melakukan difersifikasi portofolio untuk mendapatkan perolehan bunga atau bagi hasil yang optimal.
2. Expense atau biaya
Semua biaya yang timbul dari penerbitan polis asuransi dan pengoprasian perusahaan asuransi . pendapatan perusahaan asuransi umum sebagian besar diperoleh dari pendapatan premi dan pendapatan investasi. Pendapatan premi perusahaan asuransi diperoleh dari penjualan polis dari perusahaan kepada tertanggung (Khotimah, 2014).
Sedangkan menurut (Alamsyah & Wiratno, 2017) pendapatan premi adalah besarnya premi bruto yang dihasilkan oleh suatu perusahaan asuransi yang diukur berdasarkan skala nominal.
Premi merupakan kewajiban seorang nasabah atau pemegang polis dalam membayarkan sejumlah biaya kepada perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati seperti yang telah dibuat dalam perjanjian.
Dengan tujuan untuk menanggung atau mengganti suatu kerugian, kehilangan
keuntungan yang terjadi pada nasabah atau pemegang polis (Feby, 2014).
Pendapatan premi sebagai salah satu sumber pendapatan perusahaan, perusahaan juga melakukan investasi yang mana hasilnya untuk modal perusahaan dimasa yang akan datang. Berbagai perusahaan asuransi berlomba-lomba menawarkan program asuransi baik bagi masyarakat maupun perusahaan, diharapkan dengan semakin berkembangnya perusahaan asuransi di Indonesia yang juga akan meningkatkan pendapatan premi secara nasional, maka akan semakin berkembang pula pertumbuhan ekonomi nasional setiap tahunnya. (Marwansyah & Utami, 2017).
Pendapatan premi adalah jumlah pendapatan dari penjualan polis asuransi yang biasanya diukur dalam periode satu tahun. Pendapatan premi merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi laba perusahaa asuransi. Oleh karenanya penetapan premi mempunyai peranan penting dalan strategi perusahaan asuransi. Tarif premi yang ditetapkan oleh perusahaan asuransi sebagian besar didasari oleh jumlah risiko yang akan ditanggung oleh perusahaan asuransi tersebut untuk polis yang diterbitkan. Jika perusahaan asuransi secara konsisten salah menilai risiko yang akan ditanggung, maka preminya tidak akan cukup untuk membayar klaim dan manfaat yang dijanjikan. Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan premi adalah sejumlah nominal yang diterima oleh perusahaan asuransi dari masyarakat yang berfungsi sebagai pelancar kegiatan operasional perusahaan asuransi. (Khotimah, 2014).
Berikut jenis-jenis premi asuransi : 1. Premi Bruto
Adalah pendapatan premi yang didapat tergantung dari berapa lamanya perhitungan ketika closing. Ada perusahaan asuransi yang per triwulan ada yang
per 6 bulan. Tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan asuransi.
Apabila di PT.Asuransi Aspan monthly review dilakukan setiap 3 bulan sekali untuk melihat pencapaian pendapatan premi dan dilaporkan kepada kantor pusat.
2. Premi Netto
Adalah pendapatan premi yang diperoleh dari penjualan polis, perhitungannya tidak selalu per bulan atau per triwulan, premi netto dapat diketahui ketika masuk calon tertanggung, menerbitkan placing atau surat penawaran kepada perusahaan asuransi baik secara langsung atau melalui agen dan broker yang telah bekerjasama dengan perusahaan asuransi tersebut. Setiap perusahaan memiliki metode hitung premi yang berbeda-beda tergantung kebutuhan. Namun di PT.
Asuransi Aspan diperoleh perhitungan premi netto per placing sebagai berikut :
Keterangan : Total sum Insured adalah nilai objek yang dipertanggungkan biasanya dalam bentuk mata uang.
Rate adalah nominal keikutsertaan penggantian (biasanya bisnis dibagikan lebih ke satu perusahaan asuransi jadi nilai klaim atau penggantian dapat di minimalisir)
B. Rasio Pertumbuhan premi
Menurut (Nurfadila, 2015) rasio pertumbuhan premi adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar kenaikan pendapatan premi pada tahun berjalan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Batas normal untuk pertumbuhan premi adalah 23%. Apabilapeningkatannya terlalu rendah dan tidak mencapai batas
Premi = Total Sum Insured × Rate
normal atau negative dimasukan kedalam kelompok “diluar batas normal”.
Perhitungan rasio pertumbuhan premi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Sumber : PSAK no 28
Hasil perhitungan rasio-rasio stabilitas premi dapat diubah kedalam bentuk presentase sehingga dapat terlihat jelas perbandingannya dari tahun ke tahun(Nurfadila, 2015).
2.1.3 Pertumbuhan Modal
A. Pengertian pertumbuhan modal
Modal adalah sejumlah uang yang disetor oleh pendiri perusahaan maupun anggota yang terlibat didalamnya dalam bahasa teknis organisasi perusahaan biasanya disebut sebagai awal dasar pendirian suatu perusahaan (Ganitri, Suwendra, & Yulianthini, 2014). Modal perusahaan juga dapat diperoleh melalui investor, tentunya perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan persepsi yang baik menurut investor agar mau menanamkan modal di perusahaannya hal ini melandasi munculnya persepsi Pecking order theory yang membahas preferensi manajer dalam menentukan sumber pendanaan perusahaan. Perusahaan memilih dana internal terlebih dahulu untuk membayar deviden dan investasi. Jika dana eksternal dibutuhkan, perusahaan memilih berhutang dibandingkan dengan sumber dana eksternal yang lain (Kirmizi Agus, 2011).
Komitmen pemerintah untuk terus menata dan menjadikan industri asuransi Indonesia sehat dapat diandalkan dan mampu bersaing dibuktikan kembali dengan
Pertumbuhan premi = Kenaikan/penurunan premi netto Premi Netto Tahun lalu
mengeluarkan Peraturan Pemerintah no 39 tahun 2008 (Bulan Mei 2008). Banyak hal yang diatur dalam PP ini namun ada 4 (empat) hal yang menjadi tujuan utama regulator yaitu :
1. Agar pelaku bisnis asuransi di Indonesia lebih serius dalam menjalankan bisnisnya. Diperkirakan bila modal yang diinvestasikan cukup besar, maka pemilik perusahaan mau tidak mau akan lebih serius dalam mengelola perusahaannya.
2. Menaikan kapasitas retensi sendiri nasional guna meningkatkan pendapatan nasional (mengulangi aliran uang premi keluar negeri).
3. Agar industri asuransi mempunyai sumber daya manusia yang terbaik.
4. Agar Infrastruktur industri asuransi lebih baik dan dapat diandalkan dalam berbisnis serta memperoleh kepercayaan publik.
PP No. 39/2008 tersebut sangat menarik perhatian para pelaku bisnis asuransi karena dianggap sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan perusahaan perasuransian di Indonesia. Yang paling banyak menjadi perhatian adalah mengenai persyaratan modal minimum dan tenggat waktu pengadaannya.
Namun berdasarkan masukan-masukan dari berbagai kalangan dan pertimbangan yang mendalam dengan memperhatikan kondisi perekonomian Indonesia saat itu, akhirnya jadwal peningkatan/pemenuhan modal perusahaan asuransi ditunda pemberlakukannya menjadi tahun 2010 dengan ditandai terbitnya Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 2008. Besarnya modal sendiri minimum ditetapkan nilainya paling sedikit sebesar modal disetor.
Tabel II.1
Jadwal pengadaan modal disetor dan modal sendiri minimum perusahaan asuransi umum dan asuransi syariah
Sumber : PP no 81 tahun 2008
Sedangkan menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan POJK Tahun 2015 tentang perizinan usaha dan kelembagaan perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi dan perusahaan asuransi syariah pasal 6 menyatakan bahwa perusahaan asuransi harus memiliki modal disetor pada saat pendirian paling sedikit Rp.150.000.000.000,- (seratus lima puluh milyar rupiah) kemudian perusahaan reasuransi harus memiliki modal disetor pada saat pendirian paling sedikit Rp.300.000.000.000,- (Tiga Ratus Milyar Rupiah) sedangkan perusahaan asuransi syariah harus memiliki modal disetor paling sedikit Rp.100.000.000.000,- (seratus milyar rupiah) pada saat pendiriannya kemudian perusahaan reasuransi syariah harus memiliki jumlah modal disetor paling sedikit Rp.175.000.000.000,- (Seratus Tujuh Puluh Lima milyar Rupiah). Jumlah modal disetor sebagai mana yang disebutkan pada ayat 1-4 wajib disetor secara tunai dan penuh dalam waktu deposito berjangka dan atau rekening giro atas nama perusahaan pada salah satu bank umum atau bank syariah yang ada di Indonesia. Berdasarkan seluruh pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan modal perusahaan asuransi adalah kenaikan jumlah modal sebuah perusahaan asuransi berdasarkan
Jenis Perusahaan
31 Desember 2010 31 Desember 2011 31 Desember 2012
Asuransi Umum Rp.40 Milyar Rp.70 Milyar Rp.100 Milyar Asuransi Syariah Rp. 5 Milyar Rp.12,5 Milyar Rp.25 Milyar
periode saat ini yang dibandingkan dengan jumlah setoran modal awal saat berdirinya perusahaan asuransi tersebut.
2.1.4 Risk Based Capital
Pemerintah selaku regulator dalam rangka menjaga stabilitas kondisi perkembangan yang terjadi dalam industri perasuransian nasional, melakukan penyesuaian secara menyeluruh terhadap ketentuan mengenai kesehatan keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.10/2012. Dan dalam rangka lebih menjamin stabilitas kondisi keuangan perusahaan asuransi, maka pengaturan mengenai kesehatan keuangan perusahaan asuransi dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.10/2012. Dan untuk mengatur tentang solvabilitas perusahaan asuransi dikeluarkan Peraturan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor PER-08/BL/2012 tentang Pedoman Perhitungan Batas Tingkat Solvabilitas Minimum (Risk Based Capital) bagi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.(Alamsyah & Wiratno, 2017). Risk Based Capital merupakan alat penilaian kesehatan keuangan perusahaan asuransi yang dilihat dari aspek permodalannya dalam rasio tingkat solvabilitas perusahaan asuransi itu sendiri. Sebagai upaya agar Industri asuransi di Indonesia kuat dan mengikuti perkembanagan internasional. pemerintah RI melalui SK. Menteri Keuangan Nomor 481/KMK.071/1999 menetapkan standar tingkat solvabilitas perusahaan asuransi berdasarkan perhitungan Risk Based Capital (RBC) atau rasio antara risiko yang ditanggung dan modal sebesar 120% (seratus dua puluh persen).
Artinya adalah : Modal minimum perusahaan asuransi adalah 120% x total risiko
portofolio usaha yang dihadapi, yaitu risiko portofolio aset, risiko valas dan risiko operasional. Modal dalam hal ini adalah bukan ekuitas yang dicatat di neraca perusahaan, oleh karena tidak semua aset diakui dalam perhitungan RBC, sementara kewajiban 100% diakui. Sebenarnya dengan batasan ini, seluruh perusahaan asuransi tentunya otomatis akan menyesuaikan portofolio usahanya sesuai dengan kapasitas permodalannya.(Kirmizi Agus, 2011). Metode perhitungan RBC adalah sebagai berikut :
A. Metode Asset Default
Digunakan untuk menghitung besarnya dana atau modal yang harus tersedia dalam rangka mengantisipasi terjadinya risiko penurunan nilai kekayaan dan atau kehilangan pendapatan yang berasal dari kekayaan tersebut :
B. Currenty Missmatch
Digunakan untuk menghitung besarnya dana/modal yang tersedia dalam rangka mengantisipasi terjadinya resiko fluktuas dalam setiap jenis mata uang yang dapat menyebabkan meningkatnya jumlah kewajiban yang harus ditanggung perusahaan
Schedule ini dihitung hanya apabila perusahaan memiliki kekayaan (yang diperkenankan) dan atau kewajiban dalam mata uang asing selain kekayaan dan kewajiban dalam mata uang rupiah.
Schedule A = Kekayaan yang diperkenankan (Adminted Asset) x Faktor diasumsikan
Currenty Missmatch = Jumlah kewajiban
Jumlah kekayaan yang diperkenankan (Adminted asset)
C. Rasio Pencapaian RBC
Merupakan hasil akhir perhitungan solvabilitas perusahaan asuransi guna mengetahui tingkat kesehatan keuangan perusahaan asuransi.
2.1.5 Keterkaitan antar variabel
A. Keterkaitan Pendapatan Premi terhadap Risk Based Capital
Premi merupakan sejumlah dana yang diperoleh sebuah perusahaan asuransi dari masyarakat pemegang polis yang berfungsi untuk kelancaran operasional sebuah perusahaan asuransi, dimana didalamnya terdapat jumlah yang harus dicadangkan ketika tertanggung mengalami peristiwa yang ditanggungkan untuk mendapatkan hak klaim sebagaimana tertulis dalam polis perjanjian asuransi antara penanggung dengan tertanggung. Penelitian oleh Richard Alamsyah dan Adi Wiratno (2017) Menguji pendapatan premi terhadap Risk Based Capital. Hasil yang diperoleh penelitian tersebut adalah pendapatan premi tidak berpengaruh signifikan terhadap Risk Based Capital pada perusahaan asuransi yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 dikarenakan pendapatan premi juga memiliki hubungan positif terhadap Risk Based Capital sehingga dapat disimpulkan hasil dalam penelitian ini besar kecilnya pendapatan premi perusahaan yang didapat tidak mempengaruhi perolehan Risk based Capital perusahaan asuransi.
RBC = _______________Solvency Margin______________
Batas Tingkat Solvabilitas Minimum
B. Keterkaitan Pertumbuhan Modal Terhadap Risk Based Capital
Modal merupakan komponen penting ketika mendirikan suatu perusahaan . termasuk perusahaan asuransi yang sudah diatur ketentuannya melalui peraturan yang diterbitkan oleh OJK tahun 2015. Tingkat kemandirian modal sendiri merupakan bagian penting pada saat perhitungan hasil akhir persentase RBC perusahaan asuransi. Penelitian (Kirmizi Agus, 2011) yang meneliti tentang pengaruh pertumbuhan modal terhadap risk based capital memperoleh simpulan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pertumbuhan modal terhadap Risk Based Capital hal ini disebabkan oleh faktor modal sendiri dimana modal sendiri hanya merupakan salah satu komponen dalam rumusan RBC dibandingakn dengan beberapa komponen penting lainnya termasuk kewajiban serta aspek risiko porfolio keuangan, dan risiko operasional lainnya. Faktor bencana alam, kerusuhan, terorisme dapat memberi pengaruh yang besar terhadap besarnya pembayaran klaim/kewajiban dan tentunya secara langsung mempengaruhi rasio RBC. Jika rasio RBC terlalu besar maka tentu tidak efisien bagi perusahaan karena modal yang diinvestasikan tidak produktif. Penentuan batasan, kriteria serta penilaiannya pun didasarkan pada aturan yang berlaku.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pendapatan premi perusahaan asuransi telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya dan digunakan oleh penulis sebagai rujukan atau acuan dalam melakukan penelitian ini. Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Pendapatan Premi dan Rasio Pertumbuhan Modal, Terhadap Risk Based capital
pada PT.Asuransi Purna Artanugraha (Aspan) Tahun 2014-2018.” Berikut adalah ringkasan penelitian terdahulu.
Tabel II.2 Penelitian Terdahulu
No Peneliti/Tahun Judul Metode Hasil Persamaan Perbedan
1. Richard Alamsyah, Adi Wiratno / 2017
Pendapatan Premi, Rasio Hasil Investasi, Laba, Klaim dan Risk Based Capital Perusahaan Asuransi Kerugian di Indonesia
Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda
Pendapatan Premi tidak berpengaruh terhadap Risk based capital dikarenakan pendapatan premi memiliki hubungan yang positif terhadap RBC
Penulis dan Richard Alamsyah menggunakan pendapatan premi sebagai Variabel independen dan Risk Based Capital sebagai Variabel dependen
Penulis tidak menggunakan variabel rasio hasil investasi, laba dan klaim sebagai variabel independen terhadap variabel dependen
2. Kirmizi, Susi Surya Agus / 2011
Pengaruh pertumbuhan modal dan aset terhadap Rasio Risk Based Capital ,
pertumbuhan premi netto dan profitabilitas perusahaan asuransi
umum di
indonesia
Metode statistik analisis jalur
Tidak terdapat pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan Modal Sendiri
penulis dan kirmizi
menggunakan pertumbuhan modal sebagai variabel independen dan Risk Based Capital sebagai Variabel dependen
Penulis tidak menggunakan variabel Aset sebagai variabel independen
3. Lili Sarce Joi Sapari /2017
Analisis rasio keuangan dan risk based capital pada perusahaan asuransi bina arta
metode deskriptif kuantitatif
tingkat risk based capital pt asuransi bina arta memenuhi angka yang telah ditetapkan oleh pemerintah
penulis dan lili menggunakan risk based capital sebagai variabel dependen
penulis tidak mengambil variabel rasio keuangan sebagai variabel independen
4. Sindi Nurfadila, Raden Rustam Hidayat, Sri Sulasmiyati/
2015
Analisis Rasio Keuangan dan Risk Based Capital Untuk menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Asuransi
Metode deskriptif kuantitatif
Melalui analisis rasio keuangan dan Risk Based Capital maka dapat diambil kesimpulan kinerja keuangan PT Asei reasuransi dalam keadaan sangat baik
Penulis dan sindi
sama sama
menilai angka risk based capital pada perusahaan asuransi
Penulis tidak menggunakan Risk based capital sebagai variabel independen
Sumber : Berbagai data yang dikumpulkan peneliti (2019)
2.3 Kerangka Pemikiran
Pendapatan premi adalah besarnya premi bruto yang diukur berdasarkan skala nominal (Alamsyah & Wiratno, 2017). Pendapatan premi setiap perusahaan asuransi ditunjukkan oleh berapa banyak total penjualan polis asuransi dalam periode tertentu berdasarkan peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan asuransi. Pendapatan premi asuransi di PT.Asuransi Aspan Cabang Bandung
menunjukkan angka yang dinamis hal ini menyebabkan tingkat solvabilitas di perhitungan laporan keuangan kantor pusat PT.Asuransi Aspan mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Untuk meningkatkan penjualan polis di PT.Asuransi aspan cabang Bandung para marketing officer melakukan Direct Selling terhadap calon nasabah, yang terbaru di Kantor pusat menerapkan peraturan untuk penambahan jumlah agen resmi yang membantu penerimaan bisnis asuransi di setiap kantor cabang perusahaan Asuransi Aspan dan marketing officer bergabung dengan komunitas AAUI (Asosiasi Asuransi Umum Indonesia) secara formal sedangkan secara tidak formal para marketing officer bergabung dengan komunitas diluar pekerjaan seperti club motor para peasuransi, dll. guna mendapatkan bisnis baru untuk meningkatkan penjualan polis di PT.Asuransi Aspan Cabang Bandung.
Pertumbuhan modal perusahaan asuransi adalah kenaikan jumlah modal sebuah perusahaan asuransi berdasarkan periode saat ini yang dibandingkan dengan jumlah setoran modal di tahun yang akan diukur perbandingannya. Modal suatu perusahaan asuransi dikatakan naik apabila pendapatan agio saham dan laba di perusahaannya menunjukkan angka naik yang dinamis setiap periodenya , agio saham merupakan kekayaan bersih perusahaan yang diperoleh melalui penjualan saham. Sedangkan laba adalah keuntungan bersih yang diperoleh oleh perusahaan yang tercatat didalam laporan keuangan tergantung dari periode tertentu (Kirmizi Agus, 2011).
Nasabah asuransi dapat dikatakan sebagai investor, dimana premi yang mereka bayarkan setiap bulannya berguna demi kelancaran operasional sebuah perusahaan asuransi, apabila semakin banyak nasabah yang percaya dan membeli polis di
PT.Asuransi Aspan Cabang Bandung. Maka akan berpengaruh terhadap jumlah kenaikan modal yang diperoleh di PT.Asuransi Aspan Cabang Bandung, namun perusahaan juga harus mencadangkan sebagian dari modal yang diperoleh tidak dipakai semu untuk operasional perusahaan dikarenakan PT.Asuransi Aspan Cabang Bandung merupakan perusahaan asuransi dimana perusahaan menanggung risiko yang sudah ditetapkan di setiap polis asuransi yang dijual kepada nasabah.
Jumlah kenaikan modal yang diperoleh melalui pendapatan premi yang terus menerus mengalami kenaikan di PT.Asuransi Aspan Cabang Bandung turut mempengaruhi pada tingkat solvabilitas perusahaan PT.Asuransi Aspan Cabang Bandung yang mempengaruhi tingkat perolehan angka Risk Based Capital pada perhitungan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Risk Based Capital adalah suatu jumlah minimum tingkat solvabilitas yang ditetapkan, sebesar jumlah dana yang dibutuhkan untuk menutup kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasi dalam pengelolaan kekayaan kewajiban (Nurfadila, 2015). Sedangkan menurut (Permata Sari, Ida Ayu Ita 2017) Risk Based Capital adalah rasio kecukupan modal terhadap risiko yang ditanggung dan menjadi salah satu indikator utama dalam menilai perusahaan asuransi, khususnya yang terkait dengan solvabilitas atau kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya.
Tingkat Risk Based Capital pada perusahaan PT Asuransi Aspan pun turut dipengaruhi berdasarkan tingkat solvabilitas perusahaan, dan modal minimum berbasis risiko. Tingkat solvabilitas perusahaan asuransi di PT.Asuransi aspan mengalami kenaikan setiap tahunnya hal ini dapat dilihat dari laporan keuangan yang menunjukkan bahwa tahun 2014 PT.Asuransi Aspan angka pencapaian rasio
pencapaian solvabilitas sebesar 131,57% sedangkan angka yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu sebesar 120%. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sampai tahun 2018 tingkat solvabilitas PT.Asuransi Aspan mencapai angka tertinggi di tahun 2015 yaitu sebesar 153,24%.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian (Alamsyah, Wiratno 2017);
(Kirmizi, Agus 2011); (Joi Sapari, 2017); dan (Nurfadila,2015). Yaitu penelitian ini tidak menggunakan variabel Rasio hasil investasi, laba, klaim, pertumbuhan asset, analisis rasio keuangan dan kinerja keuangan. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, berikut kerangka penelitian yang digambarkan sebagai berikut:
H1 (+)
H2 (+)
Gambar II.1 Kerangka Pemikiran Keterangan
= Pengaruh Secara Parsial
= Pengaruh Secara Simultan
Pendapatan Premi (X1) Indikator : 1.Premi Bruto 2.Premi Reasuransi Sumber : Alamsyah wiratno 2017
Pertumbuhan modal (X2) Indikator : 1.Agio Saham
2.Saldo Laba Sumber : Kirmizi 2011
Risk Based Capital
(Y) Indikator : 1.Tingkat Solvabilitas 2.Modal Minimum berbasis Risiko
Sumber : Sindi Nurfadila 2015
2.4 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan harus didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat diartikan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban empiris (Ika Aprilia, 2018).
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dibuat oleh peneliti, ditemukan hipotesis sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh secara signifikan antara pendapatan premi terhadap Risk Based Capital di PT Asuransi Aspan.
2. Terdapat pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan modal terhadap Risk Based Capital di PT Asuransi Aspan.
3. Adanya pengaruh Pendapatan Premi, Pertumbuhan modal secara simultan terhadap Risk Based Capital di PT Asuransi Aspan.