28 ISSN:
Penguatan Kapasitas Pemuda Hindu Melalui Pendidikan Entrepreneurship (Perspektif Peluang dan Tantangan)
Oleh.
Wayan Supada
Prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja email : [email protected]
ABSTRACT :
This study is the result of the implementation of community service programs based on the increasing needs of the Hindu younger generation, while the number of jobs is also decreasing. In addition, more and more people are graduating from college and also want to find work to make ends meet. Entrepreneurship is the development of innovation or new ideas into a business. The desire to develop an entrepreneurial spirit among the younger generation, especially Hindu youth, is because they want to change their mindset so that they can make new ideas or innovations and then develop them into a business. The expected impact of this program, the young Hindu generation will get positive benefits in developing ideas, improving the economy, creating jobs and recruiting workers, and becoming a source of income for the community. Based on the results of the implementation of activities, the opportunities and challenges faced by the young Hindu generation can be seen from observations during the activity which show that the level of interest / intention related to entrepreneurship is 8% indicating no interest in becoming entrepreneurs, then 58% shows an interested response and 34% who gave a response that he was very interested in becoming an entrepreneur. Structured entrepreneurship education is an effective solution in order to increase and develop the capacity of Hindu youth in Bali so that entrepreneurial activity can be maximally achieved.
Keywords : Entrepreneurship Education, Entrepreneurial Activity.
ABSTRAK :
Kajian ini merupakan hasil pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat yang dilatarbelakangi oleh kebutuhan generasi muda hindu yang semakin hari semakin bertambah, sedangkan lapangan pekerjaan juga semakin sedikit. Selain itu, semakin banyak orang yang lulus dari perguruan tinggi dan juga ingin mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Wirausaha merupakan pengembangan inovasi atau ide baru menjadi sebuah usaha. Keinginan untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda khususnya pemuda hindu dikarenakan ingin mengubah mindset mereka agar bisa membuat ide atau inovasi baru dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah usaha. Dampak yang diharapkan dari program ini, generasi muda hindu memperoleh manfaat positif dalam mengembangkan ide, meningkatkan perekonomian, menciptakan lapangan pekerjaan dan merekrut pekerja, dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan, peluang dan tantangan yang dihadapi oleh generasi muda hindu dapat dilihat dari observasi saat kegiatan yang menunjukkan bahwa tingkat minat/intensi terkait dengan entrepreneurship sebesar 8% menunjukkan tidak berminat untuk menjadi wirausaha, selanjutnya 58%
29 ISSN:
menunjukkan respon berminat dan sebesar 34% yang memberikan respon sangat berminat menjadi seorang wirausaha. Pendidikan kewirausahaan yang terstruktur menjadi solusi efektif dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan kapasitas pemuda hindu di Bali sehingga entrepreneurial activity dapat tercapai secara maksimal.
Kata Kunci : Pendidikan Kewirausahaan, Entrepreneurial Activity.
I. Pendahuluan
Data statistik memperkirakan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, bangsa Indonesia akan mendapat bonus demografi. Bonus Demografi merupakan gejala kependudukan di mana jumlah usia produktif lebih banyak dari pada usia tidak produktif (Mustaqim, 2017). Menurut Sensus Penduduk Antar Sensus (Supas 2015) jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada 2020. Jumlah tersebut terdiri atas kategori usia belum produkftif (0-14 tahun) sebanyak 66,07 juta jiwa, usia produktif (15-64 tahun) 185,34 juta jiwa, dan usia sudah tidak produktif (65+ tahun) 18,2 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan terus bertambah menjadi 318,96 juta pada 2045 (https://databoks.katadata.co.id/).
Berdasarkan data tersebut, Indonesia akan mengalami masa bonus demografi hingga 2045. Dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan penduduk tidak produkif (belum produktif dan sudah tidak produktif). Jumlah usia produktif pada 2020 mencapai 68,75% dari total populasi. Melimpahnya sumber daya manusia usia produktif ini hendaknya dapat dimanfaatkan dengan peningkatan kualitas, baik pendidikan maupun ketrampilan guna menyongsong era industri 4.0. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang lebih besar tersebut maka angka ketergantungan penduduk (dependency ratio) Indonesia sebesar 45,46.
Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif memiliki tanggungan 46 jiwa penduduk usia tidak produktif. Fenomena bonus demografi, harus dipahami sebagai sebuah potensi besar dalam peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan Sumber daya manusia (SDM) yang produktif harus diupayakan, dalam rangka mengelola potensi tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan potensi SDM adalah pengembangan jiwa wirausaha di kalangan remaja dan generasi muda. Wirausaha, yang menjadi tulang punggung bagi penyerapan tenaga kerja, yang pada akhirnya berkonstribusi pada pertumbuhan ekonomi harus menjadi strategi praktis bagi pelaku kebijakan (Mustaqim, 2017).
Paling tidak ada tiga alasan yang mendasari pentingnya mengelola potensi generasi muda. Pertama, anak muda adalah sumber penting tenaga kerja produktif.
Kedua, karakter anak muda yang suka mencoba hal baru dan kreatif merupakan sumber inovasi. Ketiga, anak muda merupakan salah satu pasar yang konsumtif terutama untuk industri hiburan dan makanan, perilaku anak muda yang gemar nongkrong menjadikan cafe dan restourant menjamur tidak hanya di kota besar tapi juga kota-kota kedua Indonesia (https://alvara-strategic.com/). Dengan besarnya potensi SDM yang produktif, salah satu tantangan terbesar adalah meningkatkan niat generasi muda untuk menjadi entrepreneur. Beberapa studi mengenai intensi
30 ISSN:
menjadi wirausaha bagi mahasiswa di beberapa suku bangsa daerah di Indonesia menggambarkan relatif rendah (Dharmawati, 2017). Intensi dapat diartikan dengan seberapa keras seseorang berani mencoba dan upaya yang direncanakan seseorang untuk dilakukannya (Wijaya, 2008). Intensi Berwirausaha merupakan suatu proses pencarian informasi untuk mencapai tujuan usaha, Katz dan Gartner (1988) dalam Muhar (2013). Semakin besar intensi beriwirausaha seseorang maka semakin besar kemungkinan untuk mencapai tujuan usahanya (Wibowo dan Pramudana, 2016).
Pendidikan kewirausahaan secara umum adalah proses pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada pesertadidiknya melalui kurikulum terintegrasi yang dikembangkan di sekolah (Wibowo dan Pramudana, 2016). Sikap kewirausahaan pada siswa dapat ditanamkan melalui pendidikan kewirausahaan berdasarkan nilai -nilai kewirausahaan (Suryana, 2013:32). Menurut penelitian Furi (2013) terdapat pengaruh pendidikan & pelatihan kewirausahaan terhadap sikap kewirausahaan. Menurut Fatoki (2014) melalui pendidikan kewirausahaan dapat menciptakan atau meningkatkan sikap kewirausahaan, semangat dan budaya diantara individu dan masyarakat umum. Siswoyo (2009) berpandangan bahwa kewirausahaan dapat dipelajari oleh setiap individu yang mempunyai keinginan untuk mempelajarinya karena berwirausaha bukanlah dominasi dari individu yang berbakat saja.Penelitian yang dilakukan oleh Hussain et al.(2015) dalam (Wibowo dan Pramudana, 2016) menyimpulkan bahwa pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha pada siswa di Pakistan. Hasil senada juga ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan Siswoyo (2011), Aprilianti (2012), Hendriyani (2013), Nursito (2013), Zegeye (2013), Fatoki (2014), Malebana (2014).
Peradah Bali sebagai organisasi hindu yang fokus terhadap pembinaan dan pendidikan pemuda hindu di Bali melihat kondisi yang dipaparkan di atas sebagai sebuah momentum untuk berperan aktif dalam meningkatkan peran pemuda Hindu di Bali dalam menyonsong era yang kompetitif. Dalam rangka mencapai sasaran ideal tersebut, salah satu program yang dilaksanakan adalah Dialog Penguatan Kapasitas Pemuda Hindu, bekerjasama dengan prodi penerangan agama hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja sebagai wujud program pengabdian kepada masyarakat. Salah satu topik yang diangkat dalam program tersebut adalah Menjadi Entrepreneur Muda (perspektif peluang dan tantangan) . Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Provinsi Bali mencatat rasio kewirausahaan hingga akhir Desember 2018 sebesar 8,38 persen atau berada di atas rata-rata nasional 5 persen (https://www.beritasatu.com/). Jumlah ini meningkat sebanyak 13.042 atau sebesar 4 persen dibandingkan data Desember tahun 2017, yang saat itu jumlah UMKM Bali sebanyak 312.967. Bentuk kegiatan penumbuhkembangan UMKM salah satunya dilakukan melalui bimtek kewirausahaan di masing-masing kabupaten/kota.
Sasaran yang ingin dicapai dalam program pengabdian ini adalah untuk mengetahui tingkat intensi pemuda hindu menjadi entrepreneur melalui pelatihan pendidikan kewirausahaan. Pelatihan kewirausahaan bagi generasi muda bertujuan untuk pengembangan usaha ekonomi yang dilakukan oleh pemuda berdasarkan pada kreativitas, ketrampilan dan bakat individu dengan memanfaatkan potensi-
31 ISSN:
potensi lokal yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat setempat.
II. Metode Pengabdian
Program pengabdian msayarakat ini dilaksanakan di Wantilan Pura Gede Sakti, Lingkungan Kebon Sari, Kelurahan Kampung Baru, Kabupaten Buleleng.
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2020. Peserta berasal dari para pemuda hindu di lingkungan Kebon Sari, Kelurahan Kampung Baru. Sistem pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan pemberian materi pendidikan kewirausahaan serta diskusi. Tujuan yang ingin dicapai dengan sistem ini adalah :
1. Menumbuhkan motivasi berinovasi dan kemauan mandiri di kalangan pemuda hindu di Bali, khususnya pemuda hindu di lingkungan Kebon Sari, Kelurahan Kampung Baru .
2. Membangun sikap mental wirausaha yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil resiko dengan perhitungan, berprilaku pemimpin dan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan keterampilan sosial.
3. Meningkatan kecakapan dan ketrampilan para pemuda khususnya sense of business.
4. Menumbuh kembangkan wirausaha-wirausaha baru yang dikalangan pemuda hindu.
Kajian ini menggunakan metode literasi. Penggunaan metode ini adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Konsep literasi dipahami sebagai seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan menganalisa dan memahami bahan bacaan. Secara konkritnya dapat menganalisis dan menjabarkan informasi-informasi tersebut, sehingga menjadi sebuah penelitian yang akurat sesuai fakta yang ada.
III. Hasil dan Pembahasan
1. Deskripsi Entrepreneurial Activity Pemuda Hindu
Pemerintah sangat mendukung sekali jika jiwa kewirausahaan dapat diterapkan dalam diri generasi muda. Tidak hanya pemerintah, namun beberapa instansi seperti Kemenpora turut mendukung. Kemenpora telah melakukan Pelatihan Penumbuhan Minat Kewirausahaan di Kalangan Pemuda untuk mengenalkan bisnis, kemudian membuat ide kreatif dan mengubah mindset kalangan pemuda untuk bisa menciptakan suatu usaha. Menjadi wirausahawan merupakan jalan bagi seseorang yang memang mempunyai ide kreatif dan memang mempunyai niat untuk mencukupi kebutuhan. Diharapkan dengan adanya jiwa kewirausahaan yang tertanam, kalangan muda bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri dan oranglain. Selain itu, juga dengan kewirausahaan kesejahteraan akan semakin bertambah, perekonomian Indonesia juga semakin maju, dan mampu mengejar ketertinggalan. Dengan besarnya potensi dan peluang yang bisa dikembangkan, fakta dilapangan menunjukkan kenyataan bahwa sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja
32 ISSN:
(job seeker) dari pada pencipta lapangan kerja (job creator). Hal ini bisa jadi disebabkan karena sistem pembelajaran yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi saat ini lebih terfokus pada bagaimana menyiapkan para mahasiswa yang cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, bukannya lulusan yang siap menciptakan perkerjaan.
Disamping itu, aktivitas kewirahusaan (entrepreneurial activity) yang relatif masih rendah. Entrepreneurial activity diterjemahkan sebagai individu aktif dalam memulai bisnis baru dan dinyatakan dalam persen total penduduk aktif bekerja. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan kepada para pemuda peserta kegiatan dengan penyebaran kuesioner berkaitan dengan entrepreneurial activity, berikut dapat disajikan hasil peluang dan tantangan dalam dua pendekatan yaitu tingkat minat dan tingkat kesiapan.
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada peserta program pengabdian masyarakat yaitu generasi muda hindu setelah diberikan pemahaman tentang pendidikan kewirausahaan dapat dilihat sebaran tingkat minat pada gambar berikut.
Gambar 01
Tingkat Minat Menjadi Entrepreneur Sumber : Data Primer (diolah)
Gambar 01 menunjukkan tingkat minat/intensi terkait dengan entrepreneurship, dimana sebesar 8% menunjukkan tidak berminat untuk menjadi wirausaha, selanjutnya 58% menunjukkan respon berminat dan sebesar 34% yang memberikan respon sangat berminat menjadi seorang wirausaha. Untuk tingkat minat, digunakan 3 indikator pengukuran yaitu : 1) tahu dan paham tentang entrepreneurship, 2) entrepreneurship adalah profesi yang menarik dan 3) memiliki cita-cita menjadi entrepreneur. Sebaran secara parsial untuk respon masing-masing indikator tersebut dapat dilihat pada grafik berikut.
Tidak Berminat 8%
Berminat 58%
Sangat Berminat 34%
33 ISSN:
Gambar 02
Entrepreneurial activity Pemuda Hindu Sumber : Data Primer (diolah)
Hasil jawaban peserta kegiatan yang disajikan pada gambar 02 diatas, menunjukkan bahwa untuk pertanyaan “Anda tahu dan paham tentang entrepreneurship” sebesar 43,30% tidak tahu tentang entrepreneurship, 53,30%
mengetahui dan sebesar 3,30% memberikan jawaban sangat tahu. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya pemahaman pengetahuan tentang kewirausahaan dikalangan pemuda hindu. Dalam artian, pengetahuan yang komprehensif tentang skill kewirausahaan baik strategi maupun peluang yang bisa dikembangkan oleh setiap generasi muda. Selanjutnya untuk pertanyan yang berkaitan dengan “entrepreneurship adalah profesi yang sangat menarik”
menunjukkan sebesar 20% menjawab tidak menarik, kemudian 66,70% memberikan respon jawaban menrik dan sebesar 13,30% memberikan jawaban sangat menarik.
Artinya, masih diperlukan upaya-upaya untuk memberikan pemahaman serta learning experience kewirausahaan bagi generasi muda hindu. Berkaitan dengan pertanyaan “anda memiliki cita-cita untuk menjadi entrepreneur” menunjukkan 40%
tidak berminat, 53,30% berminat dan 6,70% sangat berminat. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa budaya untuk mencari kerja masih cukup dominan setelah mereka selesai menempuh pendidikan.
Berkaitan dengan tingkat kesiapan, respon jawaban peserta kegiatan dapat dilihat pada gambar berikut.
Pengetahuan Interest Tujuan
Tidak Tahu 43.30%
Tidak Menarik 20%
Tidak Berminat 40%
Tahu 53.30%
Menarik 66.70%
Berminat 53.30%
Sangat Tahu 3.30%
Sangat Menarik
13.30% Sangat Berminat
6.70%
34 ISSN:
Gambar 03
Tingkat Kesiapan Pemuda Hindu Menjadi Entrepreneur Sumber : Data Primer (diolah)
Gambar 03 menunjukkan tingkat kesiapan para pemuda hindu untuk menjadi seorang entrepreneur dengan hasil sebesar 15% tidak siap, 44% menyatakan mungkin dan sebesar 44% menyatakan siap. Porsi kesiapan dibawah 50% yang disajikan dalam deskripsi diatas membutuhkan stimulus extra dalam rangka meningkatkan kapasitas pemuda hindu Bali dalam berkontribusi menjadi wirausaha.
Intensi atau minat merupakan kecenderungan terhadap suatu hal yang disenangi (Mustaqim, 2017). Selanjutnya, Riyanti (2008) mengatakan bahwa intensi merupakan posisi seseorang dalam dimensi probabilitas subjektif yang melibatkan suatu hubungan antara dirinya dengan beberapa tindakan. Intensi, menurut Sanjaya (2007) yakni menghubungkan antara pertimbangan yang mendalam yang diyakini dan diinginkan oleh seseorang dengan tindakan tertentu. Selanjutnya intensi adalah kesungguhan niat seseorang untuk melakukan perbuatan atau memunculkan suatu perilaku tertentu (Mustaqim, 2017). Maka intensi kewirausahaan dapat diartikan sebagai niat atau keinginan yang ada pada diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan wirausaha (Wijaya, 2007). Menurut Indarti &Kristiansen (2003) dalam Mustaqim (2017) intensi wirausaha seseorang terbentuk melalui tiga tahap yaitu motivasi (motivation), kepercayaandiri (belief) serta ketrampilan dan kompetensi (skill
& competence). Setiap individu mempunyai keinginan (motivasi) untuk sukses.
Individuyang memiliki need for achievement yang tinggi akan mempunyai usaha yang lebih untuk mewujudkan apa yang diinginkannya (Mustaqim, 2017).
Kebutuhan akan pencapaian membentuk kepercayaan diri (belief) dan pengendalian diri yang tinggi (locus of control). Pengendalian diri yang tinggi terhadap lingkungan memberikan individu keberanian dalam mengambil keputusan dan risiko yang ada (Wijaya; 2007).
2. Pendidikan Kewirausahaan
Askun dan Yildirim (2011), Simon (2013) , dan Thurik dan Wennekers (2004) antara lain mengemukakan bahwa kewirausahaan merupakan suatu jenis perilaku yang berpusat pada peluang dan sumber daya ekonomi. Menurut Linan (2004:10-12) pendidikan kewirausahaan dewasa ini dapat diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) kategori, yaitu :
Tidak Siap 15%
Mungkin 41%
Siap 44%
35 ISSN:
a) Entrepreneurial awareness education.
Tujuannya adalah meningkatkan jumlah orang yang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kewirausahaan, sehingga mereka mem-pertimbangkan alternatif itu sebagai pilihan yang rasional dan dapat dilakukan. Oleh karena itu, kategori pendidikan ini tidak secara langsung bertujuan untuk menciptakan pewirausaha. Pendidikan ini mengarah kepada satu atau lebih elemen yang menentukan minat seperti pengetahuan kewirausahaan, keinginan atau kemungkinan melakukannya. Salah satu contoh dari tipe pendidikan ini adalah mata kuliah kewirausahaan yang ada di perguruan tinggi. Dosen tidak mencoba untuk mengubah mahasiswanya untuk menjadi pewirausaha, tetapi hanya membuat mereka melihat pilihan karir profesionalnya di masa yang akan datang dalam perspektif yang lebih luas. Kenyataannya, pendidikan kewirausahaan kategori ini sering berhasil sebagai program penyadaran mahasiswa untuk menjadi seorang wirausaha.
b) Education for start-up.
Pendidikan ini terdiri dari persiapan sebagai pemilik sebuah bisnis konvensional kecil, seperti mayoritas perusahaan baru. Pendidikan ini dapat difokuskan terhadap aspek praktik yang spesifik berkaitan dengan tahap permulaan;
bagaimana mendapatkan pembiayaan; peraturan legal; perpajakan dan lain-lain.
Partisipan pada tipe pendidikan ini biasaya memiliki motivasi yang tinggi akan keberhasilan usahanya, sehingga mereka cenderung menunjukkan minat besar terhadap program ini. Berdasarkan hal itu, pendidikan ini mencoba membentuk minat berwirausaha mahasiswa.
c) Education for entrepreneurial dynamism.
Pendidikan ini mencoba mempromosikan perilaku kewirausahaan yang dinamis setelah tahapan menjadi pebisnis pemula. Oleh karena itu, tujuannya bukan hanya meningkatkan minat untuk menjadi pewirausaha, tetapi juga minat untuk mengembangkan perilaku yang dinamis untuk memajukan perusahaan yang telah beroperasi.
d) Continuing education for entrepreneurs.
Pendidikan ini merupakan versi spesial dari pendidikan orang dewasa secara umum, dirancang untuk meningkatkan kemampuan wirausaha yang telah ada.
Biasanya, sulit untuk menarik para pewirausaha untuk ikut dalam program semacam ini, karena mereka cenderung menilai pendidikan ini sebagai hal yang terlalu umum untuk kebutuhan tertentu dari perusahaannya. Salah satu cara yang mungkin dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengaitkan kategori pendidikan ini dengan pendidikan ynag telah disebutkan sebelumnya.
IV. Simpulan dan Rekomendasi
Dalam menciptakan suatu usaha tentu diperlukan beberapa strategi untuk menghasil usaha yang maju. Beberapa usulan strategi dalam meningkatkan minat wirausaha terdiri dari menentukan ide bisnis, mengetahui kebutuhan masyarakat, dan mengetahui kondisi pasar. Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa peluang untuk mencetak SDM yang produktif dan inovatif melalui program kewirausahaan sangat besar. Disisi lain, muncul tantangan yang
36 ISSN:
harus dilakukan solusi-solusi efektif dalam hal minat dan kesiapan para pemuda hindu untuk menjadi bagian sebagai generasi produktif. Program pelatihan dan pendidikan kewirausahaan merupakan salah satu pendekatan solutif dalam rangka meningkatkan penguatan kapasitas pemuda hindu. Masih minimnya tingkat pengetahuan pemuda hindu akan pendidikan kewirausahaan menjadi isu penting untuk dilakukan upaya-upaya penyebarluasan pengetahuan dan motivasi untuk menjadi job creator.
Berdasarkan hasil kajian yang sudah dipaparkan diatas, beberapa rekomendasi yang disarankan yaitu :
1. Melakukan pemetaan program kegiatan pengabdian masyarakat yang terstruktur untuk program pendidikan kewirausahaan bagi pemuda hindu.
2. Merancang Program Pemuda Wirausaha (PPW) khususnya bagi generasi muda hindu melalui program seleksi dengan bantuan modal.
3. Mengajak stakeholder dalam hal ini mitra bisnis saat pelaksanaan program kegiatan untk memberikan wawasan inspiratif kisah sukses para wirausaha 4. Membentuk forum komunitas wirausaha bagi generasi muda hindu sehingga
ada wadah untuk mengakses berbagai informasi dan pengetahuan tentang kewirausahaan
Daftar Pustaka
Aprilianti, Eka (2012). Pengaruh Kepribadian Wirausaha, Pengetahuan Kewirausahaan, dan Lingkungan Terhadap Minat Berwirausaha Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 2(3), h: 311-324.
Askun, B., dan Yildirim, N. (2011). Insights on entrepreneurship education in public universities, in turkey : creating entrepreneurs or not? proccedia-social and behavioral sciencies, 24, 663e676.
Dharmawati, M. D. (2017). Kewirausahaan.Depok : PT. Rajagrafindo Persada.
Fatoki, Olawale (2014). The Entrepreneurial Intention of Undergraduate Students in South Africa: The Influences of Entrepreneurship Education and Previous Work Experience. Mediterranean Journal of Social Sciences, 5(7), pp: 294- 299.
Furi (2013). Pengaruh Pendidikan & Pelatihan, Prestasi Belajar Kewirausahaan Terhadap Sikap Kewirausahaan Peserta Didik SMK N 1 Cerme. Jurnal Pengembangan dan Pengembangan Pendidikan. Vol 1 (2), pp. 173-184.
Muhar, A.M (2013). Faktor Penentu Intensi berwirausaha di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri, Jurnal Keuangan dan Bisnis, Vol. 5 No. 1, pp.
15-29.
Mustaqim, Muhamad (2017). Membangun Intensi Wirausaha Mahasiswa : Studi Pada Mahasiswa Prodi MBS dan ES STAIN Kudus. EQUILIBRIUM : Jurnal Ekonomi Syariah Volume 5, Nomor 1, 2017, 134–149.
journal.stainkudus.ac.id/index.php/equilibrium
Nursito, Sarwono dan Arif Julianto Sri Nugroho (2013). Analisis Pengaruh Interaksi Pengetahuan Kewirausahaan dan Efikasi Diri Terhadap Intensi Kewirausahaan. Kiat Bisnis. Vol.5 (2), pp: 148-158.
Sanjaya (2007). Manajemenprilaku organisasi. Jakarta: Pustaka Binaan Prossindo
37 ISSN:
Suryana (2013). Kewirausahaan: kiat dan proses menuju sukses. Jakarta: Salemba Wibowo, Satriyanto dan Pramudana, Komang Agus Satria (2016). Pengaruh
Pendidikan Kewirausahaan Terhadap Intensi Berwirausaha Yang Dimediasi Oleh Sikap Berwirausaha. E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 5, No. 12, 2016: 8167-8198
Wijaya, T (2007). Hubungan Adversity Intelligence dengan Intensi Berwirausaha (Studi Empiris Pada Siswa SMKN 7 Yogyakarta), Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.9 No. 2, Pp. 117-127
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/09/berapa-jumlah- penduduk-usia-produktif-indonesia
https://alvara-strategic.com/pergeseran-demografi-indonesia-dan-implikasinya-2/
https://www.beritasatu.com/ekonomi/541035/jumlah-wirausahawan-di-bali- meningkat-jadi-326000-umkm