• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fachrizal David E211 13 317

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Fachrizal David E211 13 317"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) DI RUMAH SAKIT INCO SOROAKO

Fachrizal David E211 13 317

PROGAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA JURUSAN ILMU ADMINISTRASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

2018

(2)

ii UNIVERSITAS HASANUDDIN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA

ABSTRAK

Fachrizal David (E21113317), Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Rumah Sakit Inco Soroako, xiii + 92 halaman + 1 Tabel + 6 gambar + 13 Pustaka (2002-2016) + 7 lampiran + Dibimbing oleh Dr. Moh.

Thahir Haning, M.Si dan Dr. Suryadi Lambali, M.A

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Tahap dalam teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di rumah sakit Inco Soroako belum sepenuhnya terlaksana dengan baik.

Sosialisasi telah dilakukan sejak diberlakukannya kebijakan kawasan tanpa rokok. Namun, belum ada tim khusus untuk mendukung dan mengontrol aktivitas merokok di lingkungan rumah sakit. Penganggaran dan peralatan pihak rumah sakit sudah memasang tanda larangan merokok tapi belum membuat tempat khusus untuk merokok. Kesiapan pelaksana belum sepenuhnya menunjukkan sikap yang mendukung kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah sakit Inco Soroako, masih ada beberapa karyawan yang acuh tak acuh terhadap pengunjung yang merokok di lingkungan rumah sakit, namun sebagian juga sudah ada karyawan yang acuh. Pihak rumah sakit belum menyiapkan pedoman yang jelas terkait kawasan tanpa rokok.

Kata Kunci: Implementasi, Kawasan Tanpa Rokok, Kualitatif

(3)

iii UNIVERSITAS HASANUDDIN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA

ABSTRACT

Fachrizal David (E21113317), Implementation of Policy Areas Without Smoking in the Inco Soroako Hospital, xiii + 92 pages + 1 Table + 6 image + 13 Library (2002-2016) + 7 appendix + Guided by Dr. Moh. Thahir Haning, M.Si dan Dr. Suryadi Lambali, M.A

The purpose of this study was to describe the factors that influence the implementation of policy areas without smoking in Inco Soroako hospitals. This study used a qualitative approach to the types of descriptive research. Method of data collection through interviews, observation and study of documentation.

Stage in the data analysis techniques used for data reduction, namely the presentation of data, and the withdrawal of the conclusion.

The results showed the implementation of Policy Areas Without Smoking in Inco Soroako hospitals has not been fully accomplished mine well.

Socialization has been done since the enactment of policy areas without smoking. However, there has not been a special team to support and control the activity of smoking in a hospital environment. Budgeting and equipment the hospital already put up a sign smoking ban but have not made any special places for smoking. The readiness of the executor has not fully demonstrated the attitude that supports policy areas without smoking in Inco Soroako hospitals, still there are some employees who are indifferent to visitors who smoke in the hospital environment, but some have also been there are employees who are indifferent. The hospital has not yet set up clear guidelines related areas without smoking.

Keywords: Implementation, Area With No Smoking, Qualitative

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur yang tiada hentinya penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu dengan judul “Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Rumah Sakit Inco Soroako”. Salam dan shalawat atas junjungan Nabi besar Muhammad SAW sebagai sang revolusioner sejati.

Skripsi ini merupakan salah satu karya ilmiah yang diperlukan untuk melengkapi persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana sebagai wahana untuk melatih diri dan mengembangkan wawasan berpikir.

Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini tentunya tidak lepas dari hambatan-hambatan, namun dengan adanya bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak sehingga hambatan yang ada dapat dilalui dengan baik. Dalam penyusunan skripsi ini tentunya tidak terlepas dari doa-doa yang selama ini telah dipanjatkan untuk ananda, serta jasa-jasa yang tidak terhingga, terutama terima kasih kepada keluarga dan kedua orang tua penulis, ayahanda tercinta M.

David Lecku yang menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dalam kehidupan saya dan ibunda Faridah yang menjadi nafas perjuangan untuk saya.

Terima kasih atas doa-doa yang tidak ada hentinya dan bantuan,

(8)

viii dukungan, kasih sayang serta dukungan moral dan material yang telah diberikan untuk ananda selama ini. Engkaulah ibu dan ayah yang sangat luar biasa sejagat raya yang terus mendampingi ananda saat suka maupun duka. Teruntuk saudara(i) dalam satu darah Diansyah Afriandi, Fauziah Nur Aisyah, Muhammad Jufari, dan Nur Fadiah David yang telah menjadi sumber kekuatan dalam kehidupan keluarga, berkat diri mereka pula sehingga penulis terus semangat melanjutkan pendidikan.

Tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada Om Iqra, Om Nasrul, Bang Moed yang selalu mendukung saya dalam hal materil maupun non materil.

Terima kasih juga kepada orang tua saya di dunia kampus Bapak Adnan Nasution, M.Si selaku Penasehat Akademik, Bapak Prof. Muh.

Tahrir Haning, M.Si selaku pembimbing I dan Suryadi Lambali, M.Si selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan dukungan arahan dan bimbingannya selama penyusunan dan penulisan skripsi ini.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada :

1. Ibu Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA selaku Rektor Unhas beserta para Wakil Rektor Universitas Hasanuddin.

2. Bapak Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin beserta para Wakil Dekan dan stafnya.

3. Ibu Dr. Hasniati, M.Si selaku Ketua Departemen dan Bapak Drs.

Nelman Edy, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu

(9)

ix Administrasi Fakultas llmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

4. Para dosen Departemen Ilmu Administrasi Universitas Hasanuddin yang telah memberikan bimbingan selama kurang lebih 3 (tiga) tahun perkuliahan serta para staf Akademik FISIP UNHAS dan seluruh staf Departemen Ilmu Administrasi FISIP UNHAS (kak Ros, pak Revi, ibu Ani dan pak Lili) yang telah membantu dalam pengurusan surat-surat kelengkapan penulis selama kuliah.

5. Terima kasih kepada pihak Rumah Sakit Inco Soroako yang telah banyak membantu selama penelitian.

6. Untuk teman - teman seperjuangan selama perkuliahan dikampus RECORD (Regeneration Colored Of Determiner) 2013 penulis mengucapkan terima kasih.

7. Teman-teman teristimewa GALAPOS’013 yang memberikan informasi-informasi terhangatnya.

8. Terima kasih juga kepada seluruh anggota HUMANIS FISIP UNHAS yang telah memberikan pelajaran dan pengalaman dalam berorganisasi selama ini.

9. Teman-teman LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA (LAW) UNIVERSITAS HASANUDDIN.

10. Teman-teman DEWAN MAHASISWA (DEMA) FISIP UNHAS.

11. Teman-teman CAMPING ADVOKASI

(10)

x 12. Saudara(i)ku dari “BUMI BATARA GURU” IKATAN PELAJAR

MAHASISWA LUWU TIMUR (IPMALUTIM) yang telah membuat saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Yang mengajarkan saya arti tempaan dan solusi kehidupan.

13. Saudara(i)ku di IKATAN PELAJAR MAHASISWA INDONESIA LUWU RAYA UNIVERSITAS HASANUDDIN (IPMIL RAYA UNHAS) yang telah menjadi tempat mengasah keberanian.

14. Saudara-saudariku dan para revolusioner sejati IKATAN PELAJAR MAHASISWA LUWU TIMUR PENGURUS KOMISARIAT NUHA terima kasih karena tetap menjaga semangat berlembaga dan terus memperlihatkan eksistensinya.

15. Teman-teman sependeritaan KKN UNHAS GEL. 93 KELURAHAN KANYUARA KECAMATAN WATANG SIDENRENG SIDRAP

“POSKO KERINDUAN” (Aksa, Fahrul, Charles, Hilda, Diba, Whyna, serta mami posko beserta anak-anak cantiknya) terima kasih atas kebersamaan, kenangan, dan pengalamannya selama kurang lebih 2 bulan.

16. Sahabat – sahabat saya yang menjadi penerang kegelapan di tana rantau (Ridho Arjuna, Haliq Mubarak, Yoelenda Pabatek, Muh.

Aditya Dipura Anthon, Dheby Anggrainy S. dan Adhi Supriadi) penulis ucapkan terima kasih semoga kalian menjadi orang yang sukses dan berguna bagi diri sendiri, bangsa dan negara.

(11)

xi 17. Tidak lupa pula saudari penulis yang telah mendedikasikan dirinya

sampai waktu yang tidak ditentukan, ialah nafas perjuangan setelah ibunda saya, motivator pribadi yang selalu mendampingi, memberikan saya nasihat dan saran, thank you for loving me wanita hebatku yang terkasih, Diana Daud:*.

Serta sahabat dan teman-teman Penulis tanpa terkecuali, yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu, terima kasih atas bantuannya selama ini. Serta semua pihak yang telah banyak membantu dan tidak sempat penulis sebutkan, semoga ALLAH SWT memberikan balasan yang setimpal atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.

Wasalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh

Makassar, 8 Maret 2018

Penulis

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ... iv

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... v

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 5

1.4.2 Manfaat Praktis ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

II.1 Konsep Kebijakan Publik ... 7

II.1.1 Pengertian Kebijakan Publik ... 7

II.1.2 Ciri-Ciri Kebijakan Publik ... 9

II.1.3 Proses Kebijakan Publik ... 11

II.2 Konsep Implementasi Kebijakan ... 12

II.2.1 Pengertian Implementasi Kebijakan ... 12

II.2.2 Implikasi dan Tahap-Tahap Implementasi ... 15

II.2.3 Faktor Penentu Implementasi Kebijakan ... 17

II.2.4 Model Implementasi Kebijakan George C. Edward III . 18 II.3 Konsep Kawasan Tanpa Rokok ... 23

II.3.1 Pengertian Kawasan Tanpa Rokok ... 23

II.3.2 Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok ... 24

II.3.3 Area Kawasan Tanpa Rokok ... 25

II.3.4 Kewajiban dan Larangan tentang KTR ... 27

II.3.5 Sanksi Peraturan Daerah tentang KTR ... 28

II.4 Kerangka Pikir ... 30

(13)

xiii

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

III.1 Pendekatan Penelitian ... 32

III.2 Jenis/Tipe Penelitian ... 33

III.3 Lokasi Penelitian ... 33

III.4 Unit Analisis ... 34

III.5 Fokus Penelitian ... 34

III.6 Informan ... 35

III.7 Jenis Data ... 36

III.8 Teknik Pengumpulan Data ... 37

III.9 Teknik Analisis Data ... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41

IV.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 41

IV.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Luwu Timur ... 41

IV.1.2 Profil Rumah Sakit Inco Soroako ... 42

IV.1.1 Visi dan Misi Rumah Sakit ... 44

IV.1.2 Pelayanan ... 44

IV.1.3 Tata Tertib dan Tata Laksana Pasien ... 47

IV.2 Hasil Penelitian ... 48

IV.2.1 Komunikasi ... 48

IV.2.2 Sumber Daya ... 55

IV.2.3 Disposisi ... 61

IV.2.4 Struktur Birokrasi ... 63

IV.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 66

BAB V PENUTUP……. ... . 80

V.1 Kesimpulan ... 80

V.2 Saran ...…. 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84

LAMPIRAN………… ... 86

(14)

xiv DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

II.1 Kerangka Pikir ... 31

IV.1 Baliho Daerah Kawasan Tanpa Rokok ... …… 51

IV.2 Pengunjung yang merokok……… ... 53

IV.3 Puntung dan bungkus rokok di lingkungan rumah sakt ... 53

IV.4 Pengunjung merokok di dekat tanda larangan... 59

IV.5 Tempat khusus merokok pengunjung ... 59

(15)

xv DAFTAR TABEL

Tabel Halaman II.1 Proses Kebijakan Publik ... 11

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pembangunan suatu bangsa dapat terlihat dari kemajuan suatu daerah. Aspek kesehatan merupakan salah satu indikator keberhasilannya. Karena tanpa kesehatan pelaksanaan pembangunan nasioanal yang menyeluruh tidak akan tewujud. Adapun tujuan pembangunan kesehatan juga menjadi yang tertuang dalam Undang- Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 2 yang berbunyi

“bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setingg-tingginya, sebagai investai bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis”. Cita-cita tersebut tidak akan tercipta tanpa upaya yang terukur dan terarah. Pemerintah selaku penyelenggara Negara berkewajiban untuk menyelenggarakan upaya kesehatan bagi seluruh warga Negara Indonesia. Salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu pengamanan yang mengandung zat adiktif. Rokok merupakan salah satu bahan yang mengandung zat tersebut. Pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif tertuang juga dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 113 yang berbunyi, bahwa “pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak

(17)

2 mengganggu dan membahayakan kesehatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan”. Karena dalam sebatang rokok terdapat empat ribu bahan kimia, empat ratus diantaranya bahan beracun dan empat puluh Karsinogenik.

Setiap tahun frekuensi penderita penyakit kronis akibat rokok semakin meningkat. Meskipun telah terlihat jelas di beberapa tulisan- tulisan bahwa “rokok dapat membunuhmu”, namun para perokok masih saja tak peduli akan dirinya. Ini karena rokok memunculkan rasa kecanduan. Di dalam rokok terkandung zat yang bernama nikotin. Zat inilah yang bisa menimbulkan efek santai dan membuat kebiasaan merokok sulit untuk ditinggalkan. Lebih parah lagi bagi orang yang menghirup asap rokok si perokok, bahaya yang di tanggung bisa tiga kali lipat. Sebanyak 25 % zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke dalam tubuh perokok, sedangkan 75 % beredar di udara bebas yang beresiko masuk ke tubuh orang lain. Tak ada lagi batas aman dari asap rokok. Sehingga sangat perlu untuk menerapkan langkah untuk kawasan tanpa rokok atau yang biasa disingkat KTR.

Perlunya KTR juga menjadi instruksi untuk pemerintah daerah untuk mengeluarkan kebijakan pelarangan merokok di tempat-tempat yang ditentukan. Hal ini termuat dalam Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Pasal 25 yang memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mewujudkan kawasan tanpa rokok. Namun masih sedikit pemerintah daerah yang

(18)

3 menerapkan kawasan tanpa rokok. Padahal pemerintah sudah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk membentuk kawasan tanpa rokok. Ini mengindikasikan belum seriusnya pemerintah daerah di Indonesia dalam mengatasi bahaya rokok.

Salah satu pemerintah daerah di Indonesia yang mulai sadar akan bahaya rokok adalah pemerintah daerah kabupaten luwu timur. Tepat pada tanggal 27 Oktober 2016 ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Nomor 9 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Namun kawasan tanpa rokok masih belum menyeluruh di pahami oleh masayarkat dan masih banyak perokok yang acuh untuk aturan tersebut sehingga masih ada juga yang melaksanakan kebiasaan merokoknya di dalam area KTR. Hal ini merupakan usaha yang harus di lakukan pemerintah daerah dan pihak yang terkait untuk aturan KTR tersebut untuk mengambil langkah agar di Kabupaten Luwu Timur bisa bebas asap rokok, khususnya tempat-tempat yang telah menjadi ketetapan dalam peraturan daerah tentang KTR.

Dalam peraturan daerah tentang kawasan tanpa rokok tersebut, terdapat tempat-tempat yang telah ditetapkan yaitu ; fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum dan kendaraan dinas pemerintah, tempat kerja, tempat umum. Tempat fasilitas pelayanan kesehatan merupakan salah satu yang menjadi pusat perhatian untuk tempat kawasan tanpa rokok.

Tempat terserbut salah satunya adalah rumah sakit.

(19)

4 Di kabupaten luwu timur terdapat rumah sakit yang telah menerapkan kawasan tanpa rokok di area rumah sakit. Rumah sakit ini diberi nama Rumah Sakit Inco Soroako. Wujud penerapan kebijakan tersebut dibuatnya informasi dalam bentuk tanda larangan di beberapa area rumah sakit yang menjelaskan kawasan tanpa rokok. Namun, masih ada saja orang yang merokok di area rumah sakit terserbut. Ini menunjukan bahwa belum ada tindak tegas dari pihak rumah sakit.

Kenyataan yang memperkuat hal tersebut masih terlihatnya puntung rokok yang sudah di isap di area rumah sakit. Hal ini perlu menjadi perhatian untuk lebih di tegaskannya Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No 9 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengkaji bagaimana Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Kabupaten Luwu Timur. Oleh karena itu, judul yang di ambil oleh penulis adalah :

“Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Rumah Sakit Inco Soroako”.

I.2. Rumusan Masalah

Bertolak dari permasalahan di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian, yaitu :

1. Bagaimana komunikasi dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di Rumah Sakit Inco Soroako ?

(20)

5 2. Bagaimana sumberdaya dalam Implementasi Kebijakan Kawasan

Tanpa Rokok (KTR) Di Rumah Sakit Inco Soroako ?

3. Bagaimana disposisi dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di Rumah Sakit Inco Soroako ?

4. Bagaimana struktur birokrasi dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di Rumah Sakit Inco Soroako ? I.3. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai penelitian ini yaitu :

1. Untuk mendeskripsikan proses komunikasi dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako.

2. Untuk mendeskripsikan kemampuan sumber daya dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako.

3. Untuk mendeskripsikan disposisi dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako.

4. Untuk mendeskripsikan struktur birokrasi dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako.

I.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini mengarah kepada :

1. Manfaat akademis

(21)

6 Hasil dari penelitian ini diharapkan memberi sumbangan pemikiran intelektual ke arah pengembangan ilmu pengetahuan sosial khususnya dalam bidang kajian pemerintahan dan sebagai bahan referensi bagi siapapun yang berkeinginan melakukan penelitian lanjutan pada bidang yang sama.

2. Manfaat praktis

Secara praktis, penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumbang saran dan masukan bagi pemerintah, swasta, khususnya masyarakat dalam Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako.

(22)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Konsep Kebijakan Publik

II.1.1 Pengertian Kebijakan Publik

Pengertian kebijakan publik menurut W.I. Jenkins (1978) dalam Abdul Wahab (2012:15):

“Kebijakan publik adalah serangkaian keputusan yang saling berkaitan yang diambil oleh aktor politik atau kelompok aktor, berkenaan dengan tujuan yang dipilih beserta cara-cara untuk mencapainya dalam suatu situasi. Keputusan-keputusan itu pada prinsipnya masih berada dalam batasan kewenagan-kewenangan kekuasaan dari pada aktor tersebut”.

Sedangkan menurut Anderson (1969) dalam Agustino (2016:17) memberikan pengertian atas definisi kebijakan publik sebagai berikut :

“Serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang diikuti atau dilaksanakan oleh seorang aktor atau sekelompok aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan”.

Thomas R. Dye (1992) dalam Islamy (2009: 19) mendefinisikan kebijakan publik sebagai “is whatever government choose to do or not to do” (apapun yang dipilih pemerintah untuk dilakukan atau untuk tidak dilakukan). Definisi ini menekankan bahwa kebijakan publik adalah mengenai perwujudan “tindakan” dan bukan merupakan pernyataan keinginan pemerintah atau pejabat publik semata. Di samping itu pilihan pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu juga merupakan kebijakan

(23)

8 publik karena mempunyai pengaruh (dampak yang sama dengan pilihan pemerintah untuk melakukan sesuatu.

Terdapat beberapa ahli yang mendefiniskan kebijakan publik sebagai tindakan yang diambil oleh pemerintah dalam merespon suatu krisis atau masalah publik. Begitupun dengan Chandler dan Plano (1998) dalam Tangkilisan (2003: 1) yang menyatakan bahwa kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumberdaya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah. Selanjutnya dikatakan bahwa kebijakan publik merupakan suatu bentuk intervensi yang dilakukan secara terus-menerus oleh pemerintah demi kepentingan kelompok yang kurang beruntung dalam masyarakat agar mereka dapat hidup, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan secara luas.

David Easton (1965) dalam Agustino (2016: 19) memberikan definisi kebijakan publik sebagai “the autorative allocation of values for the whole society”. Definisi ini menegaskan bahwa hanya pemilik otoritas dalam sistem politik (pemerintah) yang secara syah dapat berbuat sesuatu pada masyarakatnya dan pilihan pemerintah untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu diwujudkan dalam bentuk pengalokasian nilai-nilai. Hal ini disebabkan karena pemerintah termasuk ke dalam

“authorities in a political system” yaitu para penguasa dalam sistem politik yang terlibat dalam urusan sistem politik sehari-hari dan mempunyai tanggungjawab dalam suatu maslaha tertentu dimana pada suatu titik mereka diminta untuk mengambil keputusan di kemudian hari kelak

(24)

9 diterima serta mengikat sebagian besar anggota masyarakat selama waktu tertentu.

Berdasarkan pendapat berbagai ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah yang berorientasi pada tujuan tertentu guna memecahkan masalah-masalah publik atau demi kepentingan publik. Kebijakan untuk melakukan sesuatu biasanya tertuang dalam ketentuan-ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang dibuat pemerintah sehingga memiliki sifat yang mengikat dan memaksa.

II.1.2 Ciri-Ciri Kebijakan Publik

Menurut Suharno (2010: 22-24), ciri-ciri khusus yang melekat pada kebijakan publik bersumber pada kenyataan bahwa kebijakan itu dirumuskan. Ciri-ciri kebijakan publik antara lain:

1. Kebijakan publik lebih merupakan tindakan yang mengarah pada tujuan daripada sebagai perilaku atau tindakan yang serba acak dan kebetulan. Kebijakan-kebijakan publik dalam system politik modern merupakan suatu tindakan yang direncanakan.

2. Kebijakan pada hakekatnya terdiri atas tindakan-tindakan yang saling berkait dan berpola yang mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintah dan bukan merupakan keputusan yang berdiri sendiri. Kebijakan tidak cukup mencakup keputusan untuk membuat undang-undang dalam bidang tertentu, melainkan diikuti pula dengan keputusan-keputusan yang bersangkut paut dengan implementasi dan pemaksaan pemberlakuan.

3. Kebijakan bersangkut paut dengan apa yang senyatanya dilakukan pemerintah dalam bidang tertentu.

4. Kebijakan publik mungkin berbentuk positif, munkin pula negatif, kemungkinan meliputi keputusan-keputusan pejabat pemerintah untuk tidak bertindak atau tidak melakukan tindakan apapun

(25)

10 dalam masalah-masalah dimana justru campur tangan pemerintah diperlukan.

Menurut Abdul Wahab (2012:20), ciri-ciri kebijakan publik yaitu :

1. Kebijakan Publik lebih merupakan tindakan yang sengaja dilakukan mengarah pada tujuan tertentu, daripada sekedar sebagai bentuk perilaku atau tindakan menyimpang yang serba acak (at randown), asal-asalan, dan serba kebetulan.

2. Kebijakan pada hakikatnya terdiri atas tindakan-tindakan yang saling berkaitan dan berpola, mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintahan, dan bukan keputusan-keputusan yang berdiri sendiri.

3. Kebijakan itu ialah apa yang nyatanya dilakukan pemerintah dalam bidang-bidang tertentu.

4. Kebijakan Publik mungkin berbentuk positif, mungkin pula negatif. Dalam bentuk yang positif, kebijakan publik mungkin mencakup beberapa bentuk tindakan pemerintah yang dimaksudkan untuk mempengaruhi penyelesaian atas masalah tertentu. Sementara dalam bentuknya yang negatif, ia kemungkinan meliputi keputusan-keputusan pejabat-pejabat pemerintah untuk tidak bertindak, atau tidak melakukan tindakan apa pun dalam masalah-masalah dimana campur tangan pemerintah itu sebenarnya justru amat diperlukan.

Sedangkan menurut Anderson (1969) dalam Abidin (2012:22) memberikan pengertian atas definisi kebijakan publik sebagai berikut :

1. Setiap kebijakan harus ada tujuannya, Artinya, pembuatan suatu kebijakan tidak boleh sekedar asal buat atau karena kebetulan ada kesempatan membuatnya. Tanpa ada tujuan tidak perlu ada kebijakan.

2. Suatu kebijakan tidak berdiri sendiri, terpisah dari kebijakan yang lain. Namun, ia berkaitan dengan kebijakan dalam masyarakat, berorientasi pada implementasi, interprestasi, dan penegak hukum.

3. Kebijakan adalah apa yang dilakukan pemerintah, bukan apa yang masih ingin atau dikehendaki untuk dilakukan pemerintah.

4. Kebijakan dapat berbentuk negative atau melarang dan juga dapat berupa pengarahan untuk melaksanakan atau menganjurkan.

5. Kebijaksanaan harus berdasarkan hukum, sehingga mempunyai kewenangan untuk memaksa masyarakat mengikutinya.

(26)

11 II.1.3 Proses Kebijakan Publik

Proses analisis kebijakan publik adalah serangkaian aktivitas intelektual yang dilakukan dalam proses kegiatan yang bersifat politis.

Aktivitas politik tersebut nampak dalam serangkaian kegiatan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan. Sedangkan aktivitas perumusan masalah, forecasting, rekomendasi kebijakan monitoring dan evaluasi kebijakan adalah aktivitas yang lebih bersifat intelektual.

Berikut adalah proses kebijakan publik yang dikemukakan Dunn (2013:24).

Tabel II.1 Proses Kebijakan Publik

Fase Karakteristik Ilustrasi

Penyusunan Agenda

Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik.

Banyak masalah tidak disentuh sama sekali, sementara lainnya ditunda untuk waktu lama.

Legislator Negara dan kosposornya

menyiapkan

rancangan undang- undang mengirimkan ke Komisi Kesehatan dan Kesejahteraan untuk di pelajari dan disetujui. Atau rancangan berhenti dikomite dan tidak terpilih.

Formulasi Kebijakan

Para pejabat merumuskan alternatif kebijakan untuk mengatasi masalah. Alternatif kebijakan melihat perlunya membuat perintah eksekutif, keputusan peradilan dam tindakan legislatif.

Peradilan Negara Bagian

mepertimbangkan pelarangan

penggunaan tes kemampuan standar seperti SAT dengan alasan bahwa tes

(27)

12 tersebut cenderung bias terhadap perempuan dan minoritas.

Adopsi Kebijakan

Alternatif kebijakan yang diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus di antara direktur lembaga atau keputusan peradilan.

Dalam keputusan Mahkamah Agung pada kasus Roe. V.

Wade tercapai keputusan mayoritas bahwa wanita

mempunya hak untuk mengakhiri kehamilan melalui aborsi.

Implementasi Kebijakan

Kebijakan yang telah diambil, dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang

memobilisasikan sumberdaya finansial dan manusia

Bagian Keuangan Kota mengangkat pegawai untuk mendukung peraturan baru tentang penarikan pajak

kepada rumah sakit yang tidak lagi memiliki status pengecualian pajak.

Penilaian Kebijakan

Unit-unit pemeriksaan dan akuntansi dalam pemerintahan menentukan apakah badan- badan eksekutif, legislatif, dan peradilan undang-undang dalam membuat kebijakan dan pencapaian tujuan.

Kantor akuntansi publik memantau program-program kesejahteraan sosisal seperti bantuan untuk keluarga dengan anak tanggungan (AFCD) untuk menentukan luasnya

penyimpangan/korupsi.

Sumber : William N. Dunn (2013;24)

II.2 Konsep Implementasi Kebijakan

II.2.1 Pengertian Implementasi Kebijakan

Secara umum istilah implementasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berati pelaksanaan atau penerapan. Istilah implementasi

(28)

13 biasanya dikaitkan dengan suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu.

“Konsep implementasi berasal dari bahasa inggris yaitu to implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means for carryingout (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu), to give practical effect to (menimbulkan dampak atau akibat terhadap sesuatu). Pengertian tersebut mempunyai arti bahwa untuk mengimplementasikan sesuatu harus disertai sarana yang mendukung yang nantinya akan menimbulkan dampak atau akibat terhadap sesuatu (Abdul Wahab 2012: 67).”

Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap sempurna.

Menurut Nurdin Usman (2002: 70), implementasi bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, implementasi bukan sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan. Guntur Setiawan (2004: 39) berpendapat, implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif.

Dari pengertian diatas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan rencana-rencana tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Tahapan implementasi merupakan tahapan yang krusial, karena

(29)

14 tahapan ini menentukan keberhasilan sebuah kebijakan atau program.

Tahapan implementasi perlu dipersiapkan dengan baik pada tahap perumusan dan pelaksanaannya dilapangan. Seperti yang di kemukakan oleh Suharno (2010:187).

Van Meter dan Van Horn (1974) dalam Agustino (2016:126) mendefinisikan implementasi kebijakan publik sebagai:

“Tindakan-tindakan dalam keputusan-keputusan sebelumnya.

Tindakan-tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha- usaha untuk mencapai perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan yang dilakukan oleh organisasi publik yang diarahkan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan”.

Adapun makna implementasi menurut Mazmanian dan Paul Sabatier (1979) dalam Abdul Wahab (2012: 65), mengatakan bahwa :

“Implementasi adalah memahami ada yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan focus perhatian implementasi kebijaksanaan yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijksanaan Negara yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian”.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi kebjakan tidak akan dimulai sebelum tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran ditetapkan atau didefinisikan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Jadi implementasi merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh berbagai aktor sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil

(30)

15 yang sesuai dengan tujuan-tujuan atau sasarans-sasaran kebijakan itu sendiri.

II.2.2 Implikasi Dan Tahap-Tahap Implementasi

Menurut Luankali (2007) dalam Dewi (2016: 159), implikasi implementasi kebijakan secara ringkas mencakup hal-hal sebagai berikut.

1. Pelaksanaan keputusan dasar, (undang-undang, peraturan pemerintah, atau keputusan eksekutif yang penting), atau keputusan pengadilan

2. Keputusan mengidentifikasi masalah, tujuan, sasaran yang jelas akan dicapai, berbagai cara untuk mengatur proses implementasinya.

3. Implementasi berlangsung dalam proses dengan tahapan tertentu (pengesahan undang-undang menjadi output, keputusan atau aksi).

4. Pelaksanaan keputusan.

5. Kesediaan melaksanakan dari kelompok-kelompok sasaran.

6. Ada dampak yang dipersepsikan oleh badan-badan decision making (pengambilan keputusan).

7. Perbaikan-perbaikan penting yang dilakukan perumus kebijakan.

8. Rekomendasi untuk revisi atau melanjutkan kebijakan tersebut, atau mengubah dalam bentuk suatu kebijakan baru (a new polic).

Sedangkan untuk mengefektifkan implementasi kebijakan yang ditetapkan, maka diperlukan adanya tahap-tahap implementasi kebijakan.

(Islamy 2009:102-106) membagi tahap implementasi dalam 2 bentuk, yaitu:

1. Bersifat self-executing, yang berarti bahwa dengan dirumuskannya dan disahkannya suatu kebijakan maka kebijakan tersebut akan terimplementasikan dengan sendirinya, misalnya pengakuan suatu negara terhadap kedaulatan negara lain.

(31)

16 2. Bersifat non self-executing yang berarti bahwa suatu kebijakan publik perlu diwujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak supaya tujuan pembuatan kebijakan tercapai.

Ahli lain, Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gunn (1978) dalam Abdul Wahab (2012: 36) dalam buku analisis kebijakan: dari formulasi ke implementasi kebijakan negara mengemukakan sejumlah tahap implementasi sebagai berikut:

Tahap I : Terdiri atas kegiatan-kegiatan:

1. Menggambarkan rencana suatu program dengan penetapan tujuan secara jelas

2. Menentukan standar pelaksanaan

3. Menentukan biaya yang akan digunakan beserta waktu pelaksanaan.

Tahap II : Merupakan pelaksanaan program dengan mendayagunakan struktur staf, sumber daya, prosedur, biaya serta metode Tahap III : Merupakan kegiatan-kegiatan:

1. Menentukan jadwal 2. Melakukan pemantauan

3. Mengadakan pengawasan untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program. Dengan demikian jika terdapat penyimpangan atau pelanggaran dapat diambil tindakan yang sesuai dengan segera.

Jadi implementasi kebijakan akan selalu berkaitan dengan perencanaan penetapan waktu dan pengawasan. Mempelajari masalah implementasi kebijakan berarti berusaha untuk memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan.

Yakni peristiwa-peristiwa dan kegiatankegiatan yang terjadi setelah proses pengesahan kebijakan baik yang menyangkut usaha usaha untuk mengadministrasi maupun usaha untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat. Hal ini tidak saja mempengaruhi perilaku lembagalembaga yang bertanggung jawab atas sasaran (target grup)

(32)

17 tetapi memperhatikan berbagai kekuatan politik, ekonomi, sosial yang berpengaruh pada impelementasi kebijakan negara.

II.2.3 Faktor Penentu Implementasi Kebijakan

Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak hanya ditujukan dan dilaksanakan untuk intern pemerintah saja, akan tetapi ditujukan dan harus dilaksanakan pula oleh seluruh masyarakat yang berada di lingkunganny baik itu. Faktor penentu implementasi kebijakan menurut Agustino (2016: 155-162), yaitu sebagai berikut.

1. Respek anggota masyarakat pada otoritas dan keputusan pemerintah

Dalam hal ini, faktor penentu keefektifan pelaksanaan kebijakan didasarkan atas penghormatan dan penghargaan publik pada pemerintah yang legitimat. Apabila publik menghormati pemerintah yang berkuasa oleh karena legitimasinya, maka secara otomatis mereka akan turut memenuhi ajakan pemerintah melalui berbagai bentuk kebijakan.

2. Kesadaran untuk menerima kebijakan

Bermain dalam ranah kesadaran publik merupakan hal yang sulit sebab pemerintah perlu merubah mindset warga.

3. Ada tidaknya sanksi hukum

Faktor penentu lainnya agar implementasi kebijakan dapat berjalan efektif adalah sanksi hukum. Orang akan melaksanakan dan menjauhkan suatu kebijakan (kendati dengan perasaan terpaksa) karena mereka takut terkena sanksi hukum yang dijabarkan oleh kontan suatu kebijakan seperti dinda, kurungan, dan sanksi lainnya.

4. Kepentingan pribadi atau kelompok

Subjek kebijakan (individu atau kelompok) sering memperoleh keuntungan langsung dari suatu kebijakan. Maka tidak heran apabila efektifitas suatu implementasi kebijakan ikut berpengaruh oleh penerimaan dan dukungan subjek kebijakan atas pelaksanaan suatu kebijakan.

5. Bertentangan dengan nilai yang ada

Implementasi kebijakan pun berjalan tidak efektif apabila bertentangan dengan sistem nilai yang ada pada suatu daerah.

(33)

18 6. Keanggotaan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu

organisasi

Kepatuhan atau ketidakpatuhan seseorang atau sekelompok orang pada kebijakan dapat disebabkan oleh bergabung atau tidak bergabungnya subjek kebijakan dalam suatu organisasi tertentu atau tidak.

7. Wujudnya kepatuhan selektif

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua subjek kebijakan patuh atas aturan atau kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini terjadi karena sebagian besar masyarakat yang patuh pada suatu kebijakan tertentu, tetapi tidak pada kebijakan lain.

8. Waktu

Efektif tidaknya suatu implementasi kebijakan sangat dipengaruhi juga oleh faktor waktu, kebijakan yang pada awalnya ditolak dan dianggap controversial bisa menjadi kebijakan yang wajar dan dapat diterima oleh masyarakat.

9. Sosialisasi

Hal berikutnya yang dapat digunakan untuk menilai efektif tidaknya suatu implementasi kebijakan adalah dilaksanakan atau tidaknya sosialisasi. Sosialisasi merupakan salah satu cara untuk mendistribusikan berbagai hal yang akan dilakukan dan ditempuh oleh pemerintah melalui kebijakan yang diformulasikannya. Tanpa sosialisasi yang cukup baik, makan tujuan kebijakan bisa jadi tidak tercapai.

10. Koordinasi antar lembaga atau antar-organisasi

Implentasi kebijakan tidak jarang melibatkan banyak pemangku kebijakan atau stakeholder. Oleh karena itu, koordinasi merupakan hal penting dalam menilai keefektifan suatu implementasi kebijakan.

II.2.4 Model Implementasi Kebijakan George C. Edward III

Implementasi kebijakan merupakan kegiatan yang kompleks dengan begitu banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Dalam mengkaji implementasi kebijakan publik, Edward III mulai dngan mengajukan dua pertanyaan, yakni :

1. What is the precondition for successful policy implementation ?

(34)

19 2. What are the primary obstacles to successful policy

implementation ?

George C. Edwar III berusaha menjawab dua pertanyaan tersebut dengan mengajukan empat faktor atau variabel dari kebijakan.

Sebagaimana yang dimaksud Model implementasi kebijakan George C.

Edward III (1980) dalam Agustino (2016: 136-141) mengajukan empat faktor atau variabel yang berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan. Empat variabel atau faktor yang dimaksud antara lain meliputi :

1. Variabel Komunikasi (communication).

Komunikasi kebijakan berarti merupakan proses penyampaian informasi kebijakan dari pembuat kebijakan (policy maker) kepada pelaksana kebijakan (policy implementor). Menurut Edward III, komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik, implementasi yang efektif terjadi apabila para pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.

Komunikasi kebijakan memliki tiga dimensi, pertama transfromasi (transmission), yang menghendaki agar kebijakan publik dapat ditransformasikan kepada para pelaksana, kelompok sasaran, dan pihak lain yang terkait dengan kebijakan. Kedua adalah dimensi kejelasan (clarity)

(35)

20 menghendaki agar kebijakan yang ditransmisikan kepada pelaksana, target grup, dan pihak lain yang berkepentingan langsung maupun tidak langsung terhadap kebijakan dapat diterima dengan jelas sehingga di antara mereka mengetahui apa yang menjadi maksud, tujuan, dan sasaran serta substansi dari kebijakan publik tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ketiga adalah dimensi konsistensi (consistency) menghendaki agar dalam pelaksanaan kebijakan haruslah konsisten dan jelas (untuk diterapkan dan dijalankan), karena jika perintah yang diberikan berubah-ubah, maka dapat menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana lapangan.

2. Variabel Sumber Daya (Recources)

Edward III mengemukakan bahwa faktor sumber daya ini juga memliki peranan penting dalam implementasi kebijakan.

Dalam implementasi kebijakan, sumber daya terdiri dari empat variabel, yaitu :

a. Sumber daya manusia, merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan pelaksana kebijakan. Edward III menegaskan bahwa

“Probably the most essential recourses in implementing policy is staff”. Sumber daya manusia (staff), harus cukup (jumlah) dan cakap (keahlian). Oleh karena itu, sumberdaya manusia harus ada kegiatan dan kelayakan

(36)

21 antara jumlah staf yang dibutuhkan dan keahlian yang dimiliki sesuai dengan tugas pekerjaan yang ditanganinya.

b. Sumber daya anggaran, yang dimaksud adalah dana (anggaran) yang diperlukan untuk membiayai operasionalisasi pelaksana kebijakan. Sumberdaya keuangan (anggaran) akan mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan kebijakan. Disamping program tidak dapat dilaksanakan dengan optimal, terbatasnya anggaran menyebabkan disposisi para pelaku kebijakan rendah, bahkan akan terjadi goal displacement yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan terhadap pencapaian tujuan.

Maka dari itu, perlu ditetapkan suatu sistem insentif dalam sistem akuntabilitas.

c. Sumber daya peralatan (facility), merupakan sarana yang digunakan untuk operasionalisasi implementasi suatu kebijakan yang meliputi gedung, tanah, dan sarana yang semuanya akan memudahkan dalam memberikan pelayanan dalam implementasi kebijakan.

d. Sumber daya informasi dan kewenangan, yang dimaksud adalah informasi yang relevan dan cukup tentang berkaitan dengan bagaimana cara mengimplementasikan suatu kebijakan. Kewenangan yang dimaksud adalah

(37)

22 kewenangan yang digunakan untuk membuat keputusan sendiri dalam bingkai melaksanakan kebijakan yang menjadi kewenangannya.

3. Varibael Disposisi (Dispotition)

Disposisi merupakan sikap dari pelaksana kebijakan untuk melaksanakan kebijakan secara sungguh-sungguh sehingga tujuan kebijakan dapat diwujudkan. Sikap yang bisa mempengaruhi berupa sikap menerima, acuh tak acuh, atau menolak. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan dari seorang implementor akan kebijakan tersebut mampu menguntungkan organisasi atau dirinya sendiri. Pada akhirnya, intensitas disposisi implementor dapat mempengaruhi pelaksana kebijakan. Kurangnya atau terbatasnya intensitas disposisi ini, akan bisa menyebabkan gagalnya implementasi kebijakan.

4. Variabel Struktur Birokrasi (Bureaucratic Structure)

Menurut Edward III, kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal ini akan menyebabkan sumber-sumber daya yang tidak termotivasi sehingga menghambat jalannya kebijakan. Birokrasi sebagai pelaksana sebuah kebijakan harus dapat mendukung kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan melakukan koordinasi dengan baik.

(38)

23 Dua karakteristik menurut Edward III, yang dapat mendongkrak kinerja struktur birokrasi kinerja struktur birokrasi atau organisasi ke arah yang lebih baik adalah :

a. Membuat standar operating procedure (SOPs) yang lebih fleksibel; SOPs adalah suatu prosedur atau aktivitas terencana rutin yang memungkinkan para pegawai (atau pelaksana kebijakan seperti aparatur, administrator, atau birokrat) untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya pada setiap harinya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

b. Melaksanakan fragmentasi, tujuannya untuk menyebar pelbagai tanggung jawab aktivitas, kegiatan atau program pada beberapa unit kerja yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Dengan fragmentasinya struktur birokrasi, maka implementasi akan lebih efektif karena dilaksankan oleh organisasi yang berkompeten dan kapabel.

II.3 Konsep Kawasan Tanpa Rokok

II.3.1 Pengertian Kawasan Tanpa Rokok

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk melakukan kegiatan produksi, penjualan, iklan, promosi, dan atau penggunaan rokok. Penetapan KTR merupakan upaya

(39)

24 perlindungan untuk masyarakat terhadap risiko ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. Secara umum, penetapan KTR betujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat rokok, dan secara khusus, tujuan penetapan KTR adalah mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, aman dan nyaman, memberikan perlindungan bagi masyarakat bukan perokok, menurunkan angka perokok, mencegah perokok pemula dan melindungi generasi muda dari penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan zat Adiktif (NAPZA).

II.3.1 Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok

Pemerintah Republik Indonesia telah mengatur kebijakan pelarangan merokok melalui Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang dijabarkan dalam UU nomor 36 tahun 2009 dan Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 188/Menkes/PB/I/2011 serta PP Nomor 109 tahun 2013. Di Kabupaten Luwu Timur sudah diterapkan Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Nomor 9 tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Lahirnya Peraturan Daerah tersebut karena bahaya yang ditimbulkan rokok tidak hanya terhadap perokok aktif tetapi juga sangat berbahaya bagi perokok pasif.

Disamping itu KTR dianggap dapat menekan angka perokok, khususnya bagi perokok pemula yang belakangan cenderung meningkat. Selain dampak kesehatan asap rokok orang lain juga akan berdampak terhadap ekonomi individu, keluarga dan masyarakat akibat hilangnya pendapatan

(40)

25 karena sakit dan tidak dapat bekerja, pengeluaran biaya obat dan biaya perawatan. Penetapan KTR di suatu wilayah pada dasarnya adalah kebijakan untuk memberikan perlindungan terhadap perokok pasif dari dampak buruk asap rokok, serta menyediakan udara bersih dan sehat yang merupakan hak asasi manusia.

II.3.2 Area Kawasan Tanpa Rokok

1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Suatu tempat atau alat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan baik secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Faslitias pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Poliklinik, Puskesmas, Balai pengobatan, Laboratorium, Posyandu, Tempat praktek kesehatan swasta.

2. Tempat Proses Belajar Mengajar

Sarana yang digunakan untuk kegiatan belajar, mengajar, pendidikan dan pelatihan. Tempat kegiatan proses belajar mengajar yang di maksud adalah sekolah, perguruan tinggi, balai pendidikan dan pelatihan, balai latihan kerja, bimbingan belajar, dan tempat kursus.

3. Tempat Anak Bermain

Area atau tempat baik terbuka maupun tertutup, yang digunakan untuk kegiatan bermain anak-anak. Tempat anak bermain yang

(41)

26 dimaksud adalah kelompok bermain, penitipan anak, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan taman kanak-kanak.

4. Tempat Ibadah

Bangunan atau ruang tertutup atau terbuka yang memiliki ciri-ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadah bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat ibadah keluarga. Tempat ibadah yang dimaksud adalah pura, masjid atau mushola, gereja, vihara, dan klenteng.

5. Angkutan Umum

Alat trasnportasi bagi masyarakat yang berupa kendaraan darat, air, dan udara biasanya dengan kompensasi. Angkutan umum yang dimaksud adalah bus umum, taxi, angkutan kota termasuk kendaraan wisata, bus angkutan anak sekolah dan bus angkutan karyawan, angkutan antar kota, angkutan pedesaan, angkutan air, dan angkutan udara.

6. Tempat Kerja

Ruang atau lapangan terbuka atau tertutup, bergerak atau tetap dimana tenaga bekerja, atau yang dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber bahaya. Tempat kerja yang dimaksud adalah perkantoran pemerintah baik sipil maupun TNI dan POLRI, perkantoran swasta, industri, dan bengkel.

(42)

27 7. Tempat Umum

Semua tempat terbuka atau tertutup yang dapat diaskses oleh masyarakat umum dan atau tempat yang dapat dimanfaatkan bersama- sama untuk kegiatan masyarakat yang dikelola oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tempat umum yang dimaksud adalah pasar modern, pasar tradisional, tempat wisata, tempat hiburan, hotel, restoran, tempat rekreasi, halte, terminal angkutan umum, terminal angkutan barang, pelabuhan, dan bandara.

8. Tempat Lain yang ditetapkan

Tempat terbuka yang dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan

masyarakat.

II.3.3 Kewajiban dan Larang Tentang Kawasan Tanpa Rokok

Dalam Pasal 8 Setiap Pimpinan atau Penanggung jawab KTR wajib untuk ; melakukan pengawasan internal pada tempat dan/atau lokasi yang menjadi tanggung jawabnya; melarang dan/atau menyingkirkan asbak atau sejenisnya di KTR; menegur setiap orang yang merokok di KTR dan memerintahkan setiap orang yang tidak mengindahkan teguran untuk meninggalkan KTR; memasang tanda dan/atau pengumuman dilarang merokok sesuai persyaratan di setiap pintu masuk utama dan tempat yang dipandang perlu serta mudah terbaca dan/atau didengar dengan baik;

memasang tulisan tanda Bebas Asap Rokok di setiap kendaraan dinas

(43)

28 dan/operasional; dan menyediakan tempat khusus merokok pada kawasan atau tempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf f dan huruf g.

Dalam Pasal 9, setiap orang dilarang merokok pada tempat atau area yang dinyatakan sebagai KTR; setiap orang dilarang mempromosikan, mengiklankan, menjual dan/atau membeli rokok pada tempat atau area yang dinyatakan sebagai KTR; Setiap orang dilarang menjual rokok kepada siswa atau anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun;dan perempuan hamil. Ketentuan lebih lanjut mengenai larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikecualikan untuk tempat umum dan/atau tempat kerja yang ditetapkan dalam Peraturan Bupati.

(Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No. 9 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok)

II.3.4 Sanksi Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok

Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No. 9 tahun 2016 ada pun sanksi yang diberikan untuk yang melanggar ketentuan aturan sebagai berikut ;

1. Saksi Administrasi

Dalam Bab VIII Pasal 18 ayat (1) Setiap orang, lembaga dan/atau badan yang tidak memenuhi kewajiban dan melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 9 dikenakan

(44)

29 sanksi administratif. Saksi administratif sebagaimana di maksud pada ayat (1) berupa ;

a. Peringatan lisan b. Peringatan tertulis

c. Pembekuan dan/ atau pencabutan izin d. Denda administratif

e. Penutupan atau penyegelan kegiatan/usaha

Adapun ayat (3) dalam pasal ini besaran denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d paling sedikit Rp 50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).

2. Tindak Pidana

Untuk ketentuan pidana dalam BAB IX di jelaskan sebagaimana dalam pasal 21 ayat (1) Setiap orang yang merokok dan melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) lanjut ayat (2) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) ayat (3) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9

(45)

30 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No. 9 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok)

II.4 Kerangka Pikir

Rendahnya tingkat kesehatan yang disebabkan dianatranya akibat kecanduan rokok merupakan kenyataan yang harus di hadapi dan memerlukan pemecahan masalah. Itulah tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak dalam rangka terciptanya lingkungan dan sumber daya manusia yang sehat. Tentunya, perlu dilakukan upayah yang serius untuk mencegah hal-hal tersebut.

Amanat Undang-Undang, Peraturan Pemerintah maupun Peraturan Menteri bagi pemerintah daerah untuk membuat kebijakan kawasan tanpa rokok. Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur yang mulai sadar akan hal tersebut telah membuat Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur No.

9 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Terdapat pula di daerah tersebut rumah sakit (Rumah Sakit Inco Soroako) yang menerapkan kawasan tanpa rokok. Dalam implementasi kebijakan ini diharapkan rumah sakit yang menerapkan kawasan tanpa rokok bisa menerapkan sesuai dengan aturan yang berlaku agar tujuan yang di rencanakan bisa tercapai. Untuk itu penulis menggunakan teori George C. Edward III

(46)

31 (1980) dalam Agustino (2016: 136-141) yang mengajukan empat faktor atau variabel yang berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan.

Kerangka pikir yang digunakan adalah sebagai berikut :

Gambar II.1 Kerangka Pikir IPMLEMENTASI

Komunikasi Sumber Daya Disposisi

Struktural Birokrasi

Tujuan Perda No. 9 Tahun 2016

1. Menciptakan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat;

2. Melindungi kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan dari bahan yang mengandung karsinogen dan zat adiktif dalam produk tembakau yang dapat menyebabkan penyakit, kematian dan menurunkan kualitas hidup;

3. Meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya merokok dan manfaat hidup tanpa merokok; dan

4. Melindungi kesehatan masyarakat dari asap rokok orang lain.

PERDA KTR

RUMAH SAKIT INCO SOROAKO

KAWASAN

TANPA ROKOK

(47)

32

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Metode penelitian adalah sebuah alat atau cara ilmiah untuk mendapatkan data dan mencapai tujuan penelitian yang sesuai dan konsisten dengan permasalahan yang diteliti. Metode penelitian tersebut sangat berguna dan penting dalam proses pengumpulan data, yang dalam hal ini adalah data tentang Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako. Oleh karena itu metode penelitian mempunyai peranan yang sangat penting dalam menemukan arah dan kegiatan serta dapat mempermudah dalam pencapaian tujuan.

III.1 Pendekatan Penelitian

Dalam peneitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif.

Dikatakan kualitatif karena data yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa kata-kata tertulis atau lisan. Penggunaan jenis penelitian ini dipandang lebih mendukung dalam memberikan arti dan makna yang berguna dalam menyerap permasalahan yang berkaitan dengan fokus penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai

(48)

33 metode ilmiah (Lexy J, 2008:6). Pendektan kualitatif bertujuan menggambarkan realita empirik dengan yang ada dalam suatu fenomena secara rinci dan mendalam. Adapun penlitian kualitatif dalam penyajian data berupa wawancara, dokumen resmi maupun pribadi, catatan lapangan, dan bukan berupa angka-angka.

III.2 Jenis/Tipe Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Dikatakan penelitian deskriptif menurut Arikunto (2005:234) karena berupaya untuk mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya. Disamping itu penelitian deskriptif tidak hanya terbatas pada pengumpulan data dan penjelasan data saja, tetapi juga menganalisa dan menginterprestasikannya. Penelitian deskriptif menurut Arikunto (2005:234) adalah penelitian yang dimaksud untuk mengumpulkan informasi mengenai status gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan.

III.3 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Inco Soroako Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan lebih mudah untuk jangkauan informasi dan

(49)

34 pengumpulan data, serta dianggap perlu untuk melakukan penilitian mengenai Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok tersebut.

III.4 Unit Analisis

Sehubungan dengan rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini, maka yang menjadi unit analisis adalah Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako. Unit analisis didasarkan pada pertimbangan bagaimana implementasi kawasan tanpa rokok di Kabupaten Luwu Timur Khususnya di Rumah Sakit Inco Soroako.

III.5 Fokus Penelitian

Salah satu faktor penting dalam suatu penelitian adalah menentukan fokus penelitian. Perlunya fokus penelitian ini adalah untuk membatasi masalah dalam penelitian sehingga obyek yang akan diteliti tidak melebar dan terlalu luas. Menurut Lexy J (2008:8), fokus penelitian adalah penempatan masalah yang menjadi pusat perhatian penelitian.

Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antar dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda tanya dan dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari suatu jawaban. Faktor dalam hal ini dapat berupa konsep, data empiris, pengalaman atau unsur lainnya yang apabila keduanya ditempatkan secara berpasangan akan menimbulkan sejumlah tanda tanya atau kesulitan (Lexy J,2008:93). Adapun hal terkait yang ditetapkan dalam fokus penelitian ini adalah :

(50)

35 1. Proses komunikasi dalam implementasi kebijakan kawasan

tanpa rokok di Rumah Sakit Inco Sorowako.

2. Kemampuan sumber daya dalam implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok di rumah Sakit Inco Sorowako.

3. Proses disposisi dalam implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok di Rumah Sakit Inco Sorowako.

4. Kemampuan struktur birokrasi dalam implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok.

III.6 Informan

Informan adalah orang-orang yang paham atau pelaku yang terlibat langsung dengan permasalahan penelitian. Informan yang dipilih adalah yang dianggap relevan dalam memberikan informasi mengenai Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Inco Soroako. Adapun informan dalam penelitian ini adalah :

1. Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular Luwu Timur

2. Kepala Seksi Pengawasan dan Penegakan Peraturan Daerah Luwu Timur

3. Kepala Rumah Sakit Inco Soroako 4. Karyawan Rumah Sakit Inco Soroako 5. Security Rumah Sakit Inco Soroako

6. Pengunjung Rumah Sakit Inco Soroako 5 Orang

(51)

36 III.7 Jenis Data

Dalam penelitian ini, sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah berkaitan dengan sumber-sumber penyedia informasi yang mendukung dan menjadi pusat perhatian bagi peneliti. Menurut Lofland (1984) dalam Lexy J (2008:157) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumentasi dan lain-lain. Hal ini dikarenakan dalam penelitian kualitatif cenderung mengutamakan wawancara (interview) dan pengamatan langsung (observasi) di lapangan dalam memperoleh data yang bersifat tambahan.

Adapun data-data yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu:

1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan atau langsung saat melakukan penelitian. Data primer ini diperoleh langsung dari orang-orang yang terkait langsung dengan permasalahan tanpa melalui perantara.

2. Data sekunder merupakan data yang mendukung data primer, yang diperoleh secara tidak langsung dapat berupa catatan atau informasi yang berupa dokumen atau buku-buku ilmiah, laporan- laporan, situs internet serta informasi yang berkaitan dengan obyek penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Suatu terapi pengobatan yang baik dan benar akan sangat menguntungkan bagi pasien, baik segi kesehatan atau kesembuhan penyakit yang diderita, biaya yang harus dikeluarkan

Kajian ini berkisar komitmen pelajar dan pensyarah di kampus antaranya ialah komitmen pelajar terhadap pemakaian kad matrik universiti, komitmen pensyarah memperuntukkan masa bagi

“Analisis Pngaruh Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar, Inflasi, Jumlah Uang Beredar (M2) Terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK), Serta implikasinya Pada Pembiayaan Mudharabah

Salah satu cara untuk menraik perhatian orang tua calon siswa yaitu dengan cara memberikan citra yang bermutu dan juga memberikan fasilitas yang bagus agar orang tua calon siswa

1) Dipimpin oleh seorang Dokter Gigi Umum atau Dokter Gigi Spesialis yang mempunyai Surat Izin Dokter Spesialis Gigi sebagai penanggung jawab. 2) Dilaksanakan oleh beberapa

Dari ketiga kabuoaten tersebut, Kukar merupakan kabupaten yang memiliki lahan gambut terluas dibandingkan Kutai Barat dan Kutai Timur Secara ekoregional, kawasan

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan pelafalan dalam percakapan bahasa Inggris peserta didik kelas XI SMA

Tinggi setara pelat teori atau HETP dalam kromatografi yang menggunakan kolom (KCKT dan KG) merupakan panjang kolom kromatografi (dalam mm) yang diperlukan sampai terjadinya satu