285 DOI: https://doi org/10 21776/ub arenahukum 2022 01502 4
DINAMIKA PERKEMBANGAN BATAS USIA PERKAWINAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF
Muhammad Jazil Rifqi
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya Jl Ahmad Yani No 117 Surabaya
Email: muhammadjazilrifqi@uinsby ac id Disubmit: 05-02-2020 | Diterima: 03-06-2022
Abstract
This article aims to explore the development of the minimum age for marriage in Indonesian legislation and analyze it with progressive law. To explain the transformation of law, this literature research uses a social history approach. This study found that the embryonic age limit for marriage had actually been seen in legal pluralism before the enactment of the 1974 Marriage Law. The marriage age in the Marriage Law Number 1 of 1974 was stated to be 16 years for women and 19 years for men. Unfortunately, the regulation was not in line with the development of society, so it was tested in the Constitutional Court. In 2017, article 7 paragraph (1) was examined where the Constitutional Court granted the request by equating the marriage age to 19 years for men and women. The House of Representatives then amended the Marriage Law as contained in Law Number 16 of 2019. This reform illustrates that the law is not final and absolute, under certain conditions as long as it provides benefits for humans, it is necessary to revise the law. Not vice versa, allowing people to enter into legal schemes that have a negative impact on health, education, economy and so on, but laws that must be studied and corrected.
Key Words: Law of progressive; Marriage age; Modernization.
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi perkembangan hukum batas usia minimum perkawinan dalam peraturan perundang-undangan Indonesia dan menganalisisnya menggunakan hukum progresif Untuk menjelaskan transformasi hukum, penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah sosial Studi ini menemukan bahwa embrio batas umur perkawinan sebenarnya sudah terlihat pada pluralisme hukum sebelum lahirnya UU Perkawinan 1974, di mana usia perkawinan dinyatakan 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk pria Tetapi, aturan tersebut tidak sejalan dengan perkembangan masyarakat sehingga diujikan di Mahkamah Konstitusi Pada tahun 2017, Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan terhadap pasal 7 ayat 1 dengan menyamakan usia perkawinan 19 tahun untuk pria dan wanita DPR lalu mengamandemen UU Perkawinan yang termuat dalam UU Nomor 16 tahun 2019 Bagi hukum progresif, reformasi ini mengilustrasikan hukum bukan suatu yang final dan mutlak, namun dalam kondisi tertentu selama memberikan kebaikan bagi manusia terobosan merevisi hukum perlu dilakukan Bukan sebaliknya, membiarkan masyarakat untuk masuk dalam skema pasal hukum yang berdampak negatif pada kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya, tetapi hukum yang harus ditelaah dan diperbaiki
Kata Kunci: Hukum progresif; Pembaruan; Usia nikah
Pendahuluan
Indonesia memiliki beragam golongan, agama dan kepercayaan yang tersebar di beberapa daerah Regulasi perkawinan pun, sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disingkat UUP), menggenggam perbedaan syarat pernikahan baik antar agama maupun adat istiadat Sebagai pengejawentah Pasal 28B UUD 1945, pelaksanaan perkawinan selama tidak bertolak belakang dengan hukum negara dan hukum agama siapapun boleh menjalankannya Tetapi Indonesia memiliki hukum positif yang berlaku secara universal memberlakukan batas usia perkawinan, yang terkandung dalam UUP 1974, adalah 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun pria Regulasi Pasal 7 ayat (1) UU 1/1974 adalah realita ketidaksetaraan status hukum bagi pria dan wanita dalam usia pernikahan Usia minimum nikah bagi laki-laki adalah 19 tahun, sementara bagi perempuan, ketentuan diperbolehkannya melakukan perkawinan di usia 16 tahun Di samping itu, usia minimal perempuan tersebut di bawah standard usia anak pada beberapa Undang-Undang lain yang berlaku, yakni antara usia 18-19 tahun Perbedaan perlakuan gender sebagai salah satu tanda ketimpangan pada usia nikah ini tentu dapat memperlebar jarak tertinggalnya wanita karena hak-hak yang melekat padanya tidak terpenuhi Paling tidak diskriminasi terlihat di mana laki-laki
1 Philippe Nonet and Philip Selznick, Law and Society in Transition: Toward Responsive Law, Terj. Raisul Muttaqien (Bandung: Nusa Media, 2018), hlm 90
2 Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif: Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Cet 1 (Yogyakarta: Genta Pub, 2009), 6
3 Ibid, hlm 5
memperoleh hak dan kesempatan yang lebih besar daripada perempuan pada pendidikan dan kesehatan Nilai-nilai tersirat ini terkandung dalam regulasi, yang oleh hukum responsif diartikulasikan dan didorong untuk membentuk peraturan baru 1
Terlihat bahwa dalam sejarahnya Idealitas hukum belum terangkat paska orde baru 1998, alih-alih banyak menimbulkan efek negatif yang tidak kunjung membaik, tetapi semakin memburuk 2 Padahal hipotesis pokok diciptakannya sebuah hukum adalah untuk manusia, bukan kebalikannya, manusia untuk hukum Oleh karenanya pada saat terdapat problematika dalam dan dengan hukum, bukan manusia yang dipaksa untuk dimasukkan dalam skema hukum, melainkan hukumlah yang harus ditinjau dan diperbaiki, sebab hukum bukanlah institusi yang absolut dan final 3 Oleh karenanya perlu penguatan hak asasi manusia dengan mengagendakan pembaruan atau penyesuaian regulasi masa lalu yang sudah tidak sejalan dengan kehidupan masa sekarang, in casu 45 tahun lebih UU 1/1974 telah berlaku Sehingga baru muncul amandemen Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan UUP 1/1974 dalam penyamaan batas usia nikah perkawinan antara laki-laki dan perempuan, yaitu usia 19 tahun Penolakan status quo untuk mewujudkan idealitas hukum yang sudah diimplementasikan pada peraturan
perkawinan tersebut merupakan semangat pembebasan dalam gagasan hukum progresif 4
Literatur terdahulu mengenai tema perubahan batas Usia Nikah memang telah banyak dikaji oleh para peneliti Misalnya, Muhammad Nurul Fahmi5 menelaah kesesuaian konsep Siyasah Syar’iyyah dengan ketetapan batas usia nikah di Indonesia Menurut Fahmi, berlakunya minimal umur perkawinan tidak selaras dalam pandangan Siyasah Syar’iyyah, sebab terdapat kontradiksi hukum yang berlawanan dengan apa yang telah ditentukan dalam dalil-dalil syariat, di antaranya, diperbolehkannya melakukan perkawinan di bawah usia yang telah ditetapkan dalam UUP dan syariat juga menganjurkan agar mempercepat pernikahan bagi yang mampu Berbeda dengan Fahmi, Muhammad Habibi Miftakhul Marwa6
4 Rahardjo, Hukum Progresif, hlm 4
5 Muhammad Nurul Fahmi, “Tinjauan Siyasah Syar’iyah Terhadap Penetapan Batas Usia Nikah (Studi Kritis Terhadap Penetapan Usia Nikah Di Indonesia),” Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah vol. 8, no. 1, (November 20, 2020): hlm 87–122 the presence of a state to regulate people’s affairs is highly emphasized in Islam, both relating to religious issues and world problems This is what is known as siyasah shar’iyah ‘good governance in Islam’ However, the determination of the age limit for marriage needs to be studied further from the perspective of siyasah shar’iyah This study aims to determine the general concept of siyasah shar’iyah, the stipulation of the age of marriage in Islam, the age limit for marriage in Indonesia, and the conformity of these rules to the concept of siyasah shar’iyah This research is a library research that uses a qualitative approach The results of this study indicate that the general concept of siyasah shar’iyah is the authority of the leader to regulate matters that have not been determined by sharia arguments, as well as things in sharia that are not permanent or have many legal points of view As for the age limit for marriage, it is not specified in Islam However, a guardian (father
6 Muhammad Habibi Miftakhul Marwa, “Pengaturan Batas Usia Perkawinan Perspektif Keluarga Sakinah Muhammadiyah,” JUSTISI vol. 7, no. 1, (January 3, 2021): 1–13
7 Nur Ihdatul Musyarrafa and Subehan Khalik, “Batas Usia Pernikahan Dalam Islam Analisis Ulama Mazhab Terhadap Batas Usia Nikah,” Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab dan Hukum vol. 1, no. 3, (2020)
8 Abdul Aziz, “Batas Usia Perkawinan Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019: Analisis Psikologi Dan Maslahah Mursalah,” Tasyri’: Journal of Islamic Law vol. 1, no. 1, (January 11, 2022): 25–43
9 Moch Nurcholis, “Usia Nikah Perspektif Maqashid Perkawinan: Telaah Syarat Usia Minimum Perkawinan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor :22/PUU-XV/2017,” Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman vol. 8, no. 1, (June 1, 2020): hlm 1–18 which is not regulated in classical fiqh The main issues to be examined are concerning: (1
10 Asman Asman, “Dinamika Usia Dewasa dan Relevansinya terhadap Batas Usia Perkawinan di Indonesia:
Perspektif Yuridis-Normatif,” JIL: Journal of Islamic Law vol. 2, no. 1, (February 27, 2021): 119–38 both from the perspective of national law and the perspective of Islamic law Legal experts have mixed responses to the requirements of the age of women and men and become pros and cons in marriage This is because the age
yang mengkaji usia perkawinan menurut konsep keluarga sakinah Muhammadiyah, Nur Uhdatul Musyarrrafa dan Subehan Khalik7 membahas batas usia pernikahan dengan menganalisis pendapat para mazhab terkemuka, Abdul Aziz8 mengkajinya dengan perspektif Maslahah Mursalah dan Moch Nurcholis9 menganalisisnya dengan Maqashid Perkawinan menyimpulkan bahwa konsep dewasa pada usia perkawinan yang sesuai dengan asas persamaan (al-Musawah) tidak hanya mempertimbangkan aspek religi semata, tetapi juga berdasarkan sosiologis, psikologis, fisiologis, ekonomi, pendidikan dan biologis yang korelasi positifnya pada konteks saat ini untuk mewujudkan keluarga bahagia Kesetaraan usia nikah 19 tahun bagi pria dan wanita tersebut, bagi Asman10, harus benar-benar ditegakkan dalam ranah eksekutif
untuk mereduksi terjadinya perkawinan anak Terlebih, menurut Aristoni11, perubahan regulasi dengan menyamakan usia nikah tersebut memberikan keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum, terutama bagi wanita
Pelbagai studi di atas, meskipun menunjukkan tema yang sama, tetapi artikel ini menelaah dengan pendekatan sejarah sosial12 tentang awal mula hingga akhir diberlakukannya batas usia perkawinan dalam peraturan di Indonesia yang kemudian ditinjau dengan Hukum Progresif Untuk itu, tulisan ini hendak menelusuri pertanyaan (1) bagaimana perkembangan hukum batas minimum usia perkawinan dalam perundang-undangan di Indonesia? (2) bagaimana analisis hukum progresif terhadap perkembangan batas usia perkawinan dalam perundang-undangan di Indonesia? Oleh karenanya, artikel ini adalah penelitian pustaka dengan menggunakan data berupa putusan Mahkamah Konstitusi, undang-undang perkawinan, dan buku atau
limit for marriage in Islam is very different, whereas, in Indonesian regulations, it stipulates 19 years for men and women This article aims to examine the dynamics of adulthood and its relevance to the age limit of marriage in Indonesia This research method takes the type of literature research with a normative-juridical approach In this paper, researchers look for sources of Islamic law and national law based on literature from books, laws, and references that support the author’s argument There are three results in this article First, it is crucial to realize the equal age of marriage in the marriage law based on equality Second, there are differences in determining the age of adulthood in several laws and regulations in Indonesia, including the Marriage Law, which causes dynamics in implementing the age limit for marriage Third, the provision of the marriage age of 19 for men and women must be adequately enforced The Office of Religious Affairs does not serve marriages where the prospective partner is under 19 These three ideas follow the principles of benefit, which are the references for regulations in the Islamic world (maqāshid al-syarī’ah
11 Aristoni Aristoni, “Kebijakan Hukum Perubahan Batasan Minimal Umur Pernikahan Perspektif Hukum Islam,”
JURNAL USM LAW REVIEW vol. 4, no. 1, (June 30, 2021): 393–413
12 Ada tiga tahapan sejarah sosial menurut Akh Minhaji, (1) Otoritas Epistem, yaitu adanya produk hukum atau pemikiran yang diikuti oleh masyarakat dalam kurun waktu tertentu; (2) Kontinuitas, yaitu di mana Otoritas Epistem dianggap menimbulkan kemudaratan atau ketidaknyamanan; (3) Perubahan, artinya terjadinya kolaborasi antara pemikiran yang lama dengan pemikiran baru sehingga memunculkan produk hukum/
pemikiran baru Lihat Akh Minhaji, Sejarah Sosial Dalam Studi Islam: Teori, Metodologi Dan Implementasi (Yogyakarta: Suka-Press, 2013), hlm 55
13 Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif: Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Cet 1 (Yogyakarta: Genta Pub, 2009), hlm 5
artikel terkait lainnya Dokumentasi data yang disajikan kemudian dianalisis dengan hukum progresif, yang asumsi dasarnya adalah pokok diciptakannya sebuah hukum adalah untuk manusia, bukan kebalikannya, manusia untuk hukum Oleh karenanya pada saat terdapat problematika dalam dan dengan hukum, bukan manusia yang dipaksa untuk dimasukkan dalam skema hukum, melainkan hukumlah yang harus ditinjau dan diperbaiki, sebab hukum bukanlah institusi yang absolut dan final 13
PEMBAHASAN
A. Usia Perkawinan dalam Sejarah Perundang-undangan Indonesia Minimal usia perkawinan, menurut Tholabie, dalam literatur fikih konvensional tidak ditemukan redaksinya Meski demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa berbagai regulasi di negara-negara muslim tidak
mengimplementasikan hal-hal yang berkaitan hukum perkawinan 14 Berlakunya hukum di negara muslim tersebut ada beberapa metode yang dapat digunakan Menurut Hallaq, salah satu metode paling efektif di mana hukum positif baru diciptakan dari penyebaran virtual-restrukturisasi hukum Syariah, terdiri dari pendekatan eklektik yang beroperasi pada dua tingkat: Takhayyur (seleksi) dan Talfiq (Amalgamasi) Yang pertama melibatkan adopsi sebagai hukum tidak hanya dari pendapat lemah salah satu mazhab, tetapi juga opini yang dianut oleh mazhab lain Jadi, Takhayyur menuntut adanya pengumpulan pendapat, untuk satu regulasi, dari berbagai mazhab Sementara, Talfiq melibatkan teknik yang menggabungkan unsur-unsur satu pendapat dari berbagai penjuru di dalam dan di luar mazhab Metode lainnya adalah apa yang disebut neo-ijtihad, pendekatan interpretatif yang sebagian besar bebas dari interpretasi hukum tradisional Dalam arti tertentu, perangkat takhayyur-cum-talfiq bersandar pada pendekatan umum ini, karena tindakan menggabungkan elemen-elemen
14 Kharlie Ahmad Tholabie, Hukum Keluarga Indonesia, 1st ed (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hlm 200
15 Wael B Hallaq, An Introduction to Islamic Law (Cambridge; New York: Cambridge University Press, 2009), hlm 117
16 Menurut Wahbah al-Zuhayli sebagaimana dikutip Nurcholis bahwa indikasi seseorang dikatakan dewasa dengan ditemukannya faktor alamiah yang mendukung dan faktor usia Faktor alamiah ini dikeluarkannya sperma dan menstruasi Sedangkan faktor usia menurut mayoritas mazhab mengungkapkan laki-laki maupun perempuan telah dianggap dewasa ketika umur 15 tahun, sementara mazhab Hanafi laki-laki dianggap dewasa ketika umur 18 tahun dan wanita berumur 17 tahun Lihat Nurcholis, “Usia Nikah Perspektif Maqashid Perkawinan”, hlm 9 which is not regulated in classical fiqh The main issues to be examined are concerning: (1
17 Hukum adat umumnya tidak menetapkan batas umur untuk kawin hingga demikian perkawinan kanak- kanak diperbolehkan, meskipun dalam hal itu kedua mempelai biasanya baru hidup bersama sebagai suami istri setelah dikategorikan baligh Lihat Nani Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Dan Masyarakat, 4th ed (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm 42–43
18 Dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Indonesia Kristen Jawa, Minahasa, dan Ambon disebutkan bahwa Pemuda yang belum cukup berumur delapan belas tahun dan pemudi yang belum cukup berumur 15 tahun tidak boleh kawin Lihat Djaren Saragih, Himpunan Peraturan-Peraturan Dan Perundang-Undangan Di Bidang Perkawinan Indonesia (Bandung: Tarsito, 1980), hlm 50
yang berbeda, jika tidak divergen, dari satu pendapat memerlukan ukuran kebebasan interpretatif 15
Indonesia, yang merupakan negara muslim, memiliki peraturan hukum yang mengatur perkawinan Sebelum tahun 1975, hukum perkawinan memiliki sifat yang pluralisme, artinya ada beberapa hukum perkawinan yang berlaku untuk pelbagai golongan penduduk di Indonesia Hal itu diakibatkan karena berdasarkan hukum positif yang berlaku di Hindia Belanda dahulu, penduduk Indonesia dibagi atas golongan penduduk, yaitu golongan Eropa, golongan Bumiputera, golongan Timur Asing Tionghoa, dan golongan Timur Asing lainnya Masing-masing golongan tersebut memiliki regulasinya tersendiri, antara lain : (a) penduduk Indonesia asli yang beragama Islam16 berlaku hukum agama Islam tetapi harus diresepsi hukum adat; (b) penduduk Indonesia asli yang bukan beragama Islam berlaku hukum adat;17 (c) penduduk Indonesia asli yang beragama Kristen berlaku Huwelijksordonantie Christen Indonesia (S 1933 No 74)18; (d) penduduk Timur
Asing Tionghoa dan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa berlaku ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dengan sedikit perubahan; (e) penduduk Timur Asing lainnya dan penduduk Indonesia keturunan Timur asing lainnya berlaku hukum adat mereka; (f) penduduk Indonesia keturunan Eropa dan yang disamakan dengan mereka berlaku kitab Undang-Undang Hukum Perdata 19 Jadi, beberapa hukum yang mengatur minimal umur perkawinan di atas harus memenuhi usia 18 tahun bagi laki-laki dan usia 15 tahun wanita
Pada awal 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda telah dibuat sebuah rencana pendahuluan Ordanansi perkawinan yang tercatat. Di dalamnya memuat pokok-pokok perkawinan, perceraian, nafkah, hadhanah, pembagian harta bersama, dan sama sekali tidak mengatur umur perkawinan 20 Tetapi rencana pendahuluan itu ditolak karena dianggap kontra dengan hukum Islam saat didiskusikan oleh pemerintah dengan berbagai organisasi Pemerintah mengundangkan UU No 22/1946 mengenai Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk (selanjutnya NTR) beserta Instruksi Menteri Agama No 4/1947 untuk pegawai pencatat Nikah Di antara arahan yang diberikan untuk tidak menikahkan anak yang masih di bawah umur sebagai langkah preventif perkawinan
19 Dalam pasal 29 Bab I Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dijelaskan bahwa Seorang jejaka yang belum mencapai umur genap 18 tahun, seperti pun seorang gadis yang belum mencapai umur genap 15 tahun, tak diperbolehkan mengikat dirinya dalam perkawinan Sementara itu, dalam hal adanya alasan-alasan yang penting, Presiden berkuasa meniadakan larangan ini dengan memberikan dispensasi Lihat Saragih, Himpunan Peraturan-Peraturan hlm 1
20 Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Dan Masyarakat, hlm 83–84 21 Ibid , hlm 85
22 Maria Ulfa Soebadio, Perjuangan Untuk Mencapai Undang-Undang Perkawinan (Suatu Pengalaman) (Jakarta:
Yayasan Idayu, 1981), hlm 15
anak 21 Agustus 1950 Pemerintah membentuk Panitia Penyelidik Peraturan Hukum NTR, yang tugasnya mengevaluasi berbagai hukum sekaligus dan menyusun RUU Perkawinan sesuai dengan masanya Panitia ini dibentuk oleh Menteri Agama dan terdiri dari orang- orang ahli hukum agama Islam, Kristen, dan berbagai aliran, termasuk berbagai tokoh pergerakan wanita Panitia ini diketuai oleh Mr Teuku Mohammad Hasan Maria Ulfa duduk dalam panitia tersebut bersama Mr Nani Soewondo, Mr Toeti Harahap (Protestan), Ibu Mahmudah Mawardi (Islam), Ibu Kwari Sosrosoemarto (Katolik) Panitia mengumpulkan bahan-bahan baik dari kalangan wanita maupun dari kalangan lain Ternyata bahwa semua menghendaki perbaikan regulasi perkawinan 22
Kembali kepada masalah Undang- Undang Perkawinan, ternyata Panitia NTR memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyusun RUU Perkawinan Pada 1952 Panitia tersebut akhirnya selesai membuat dua RUUP, RUU Perkawinan Umum dan RUU Perkawinan khusus Yang pertama diperuntukkan untuk semua golongan, dan yang kedua untuk masing-masing agama Tepat pada 1 Desember 1952 Panitia menyampaikan RUUP kepada seluruh organisasi untuk diminta pendapatnya Ketentuan dari RUUP
tersebut antara lain bahwa diselenggarakannya perkawinan atas dasar kemauan kedua pengantin sebagai upaya proteksi kawin paksa Juga, RUUP menetapkan batasan umur pernikahan 18 tahun untuk laki-laki dan 15 tahun untuk perempuan sebagai upaya proteksi perkawinan anak 23 Sayangnya, RUUP tersebut di tolak oleh sebagian besar organisasi dalam acara konferensi yang diadakan di Jakarta pada tanggal 24-26 Februari 1953 24
Pada tanggal 24 April 1953 diadakan hearing oleh Panitia NTR dengan berbagai organisasi lainnya Misalnya, pengurus Bhayangkari, Wanita Demokrat, Pemuda Putri Indonesia, Perwari Persatuan Istri Tentara, Wakil Katholik, Perkumpulan Wanita Kristen Indonesia, Partai Katholik, Pemuda Katholik Indonesia, Dewan Gereja Indonesia, Perkumpulan Sosial Katholik Indonesia, Lembaga Katholik Indonesia, dan Sekretariat Vicatiaat Indonesia Setelah mendengar pendapat, Panitia NTR dalam rapatnya bulan Mei 1953 memutuskan akan menyusun tiga RUUP, yaitu RUUP yang berlaku umum (universal), RUUP yang berlaku untuk masing-masing agama (Islam, Katolik, Protestan, Budha dan sebagainya) serta RUUP bagi golongan netral yang bukan dari dua
23 Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Dan Masyarakat, hlm 92
24 Mereka memutuskan sebagai berikut: (1) Memberi penghargaan kepada pemerintah, khususnya kepada Panitia NTR yang telah berusaha memenuhi kehendak masyarakat, yang menginginkan adanya Undang-undang Perkawinan Negara; (2) Belum dapat menerima rencana undang-undang bagian umum dari Panitia NTR dalam bentuk dan susunan sekarang ini; (3) Tidak dapat menerima dasar-dasar yang dipakai oleh Panitia NTR di dalam menyusun bentuk rencana undang-undang tersebut; (4) Berusaha terus terlaksananya suatu undang- undang perkawinan yang sesuai dengan hukum-hukum Islam sebagai Undang-undang Perkawinan Republik Indonesia dengan tidak mengurangi akan hak-hak golongan yang sah, menurut agamanya masing-masing; (5) Menghasilkan suatu rencana Undang-undang Perkawinan bagi bangsa Indonesia yang akan diteruskan oleh seluruh pengikut konperensi kepada organisasi-organisasinya masing-masing untuk ditinjau lebih dalam Lihat Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Dan Masyarakat, hlm 94
25 Ibid , hlm 95
kriteria sebelumnya 25 Lalu RUUP umat Islam yang selesai, dengan mengusahakan aturan yang dapat menyelesaikan problematika perkawinan seperti ditetapkannya batas umur perkawinan, adanya persetujuan kedua calon pengantin dalam perkawinan, perceraian, dan poligami, ditinjau oleh Menteri Agama beserta para ahli dengan mendapat kritik yang tidak mudah diterima oleh Panitia NTR Namun demikian, perbaikan sesuai saran pemerintah telah diselesaikan dan disampaikan pada bulan Oktober 1954
Beberapa tahun setelahnya, berbagai organisasi wanita melakukan demonstrasi untuk mendorong pemerintah agar secepatnya mengeluarkan undang-undang perkawinan sekaligus menghapus PP No 19 tahun 1952 Akhirnya, bulan September 1957 Menteri Agama menjelaskan bahwa RUU Perkawinan umat Islam telah disampaikan kepada kabinet, namun ada beberapa amandemen yang akan disusulkan Ternyata, tidak ada kabar sama sekali mengenai perkembangan RUU Perkawinan hingga awal tahun 1958 Setelah pergantian parlemen, pada Maret 1958 RUU Perkawinan Umum dan RUU Perkawinan Umat Islam diajukan kembali, tetapi pembicaraan dalam DPR tidak kunjung dimulai Setelah
berkali-kali didesak oleh organisasi-organisasi wanita, berbagai pembicaraan dalam Sidang Umum DPR tentang UU Perkawinan mulai digelar pada 6 Februari 1959 Dalam RUU Perkawinan Umum dan RUU Perkawinan umat Islam, memiliki kesamaan umur bagi pihak pria sekurang-kurangnya 18 tahun dan bagi wanita sekurang-kurangnya 15 tahun Selanjutnya sampai permulaan tahun 1960 DPR dibekukan, belum ada juga usaha-usaha yang tampak dari pemerintah atau DPR dalam menyelesaikan soal UU Perkawinan itu 26
Meskipun pada tahun 1962 Departemen Agama menyelenggarakan Konferensi Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Peceraian (BP4 Pusat), dan LPHN beserta PERSAHI mengadakan Seminar Hukum Nasional dalam rangka membahas RUU Perkawinan baru, akan tetapi tidak berdampak apapun 27 Baru di era Orde Baru, tepatnya antara tahun 1967 sampai dengan 1971 DPRGR kembali membahas Rencana Undang-undang Perkawinan yang pada masa sebelumnya terhenti dan tidak selesai Pembahasan RUU Perkawinan Umat Islam disampaikan kepada DPRGR oleh Departemen Agama pada Mei 1967 Sementara Pembahasan RUU Perkawinan Umum disampaikan kepada DPRGR oleh Departemen Kehakiman pada September 1968 Lagi-lagi, pembahasan kedua RUU Perkawinan tersebut mengalami kemacetan hingga masa bakti DPRGR berakhir di tahun
26 Ibid , hlm 96–101
27 Rusdi Malik, Undang-Undang Perkawinan, 2nd ed (Jakarta: Universitas Trisakti, 2003), hlm 13–15 28 Amak F Z , Proses Undang-Undang Perkawinan, 1st ed (Bandung: PT Alma’rif, 1976), hlm 30
1971 Kemacetan pembahasan RUUP tersebut lebih disebabkan dominasi politik ketimbang memperhatikan kebutuhan masyarakat
Bulan Juli 1973, meski mendapat kritik negatif, pemerintah kembali mengajukan RUUP ke DPR RUUP tersebut juga diterima oleh DPR setelah berunding dengan beberapa fraksi, seperti (a) Fraksi Demokrasi Pembangunan (Partai Katholik Indonesia, Partai Kristen Indonesia, Partai Nasional Indonesia); (b) Fraksi Persatuan Pembangunan (Partai Serikat Islam Indonesia;
Partai Nahdatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia dan Partai Perti); dan (c) Fraksi Karya Pembangunan (Golongan Karya-Non ABRI) dan Fraksi ABRI Sebagai hasil kompromi di antara fraksi-fraksi tersebut, ada 73 pasal dalam Rancangan Undang-undang Republik Indonesia tahun 1973 yang dianggap bertentangan dengan Islam Mengenai usia perkawinan terdapat pada Pasal 7 ayat (1) dinyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 21 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 18 tahun Hal ini dikarenakan dalam hukum Islam tidak ditentukan secara pasti mengenai batas umur, tetapi yang dijadikan tolok ukur adalah aqil balighnya seseorang 28
Menurut Malia Ulfa, minimal usia perkawinan yang ditetapkannya tersebut juga mengingat akan kepentingan nasional, yaitu Keluarga Berencana dan bagi pria sudah dianggap mampu secara individu dalam hal
mencari nafkah 29 Selain itu, unsur sosiologis juga berperan, yakni masalah demografis (kependudukan) dalam artian mengurangi laju pertumbuhan penduduk,30 serta melindungi kesehatan suami, istri beserta keturunannya 31 Selanjutnya Menteri Mukti Ali menilai, mengenai batas umur yang termuat dalam Rancangan Undang-undang perkawinan, bahwa di antara anggota DPR terdapat persamaan dasar perlunya pembatasan tersebut meskipun rumusannya berbeda-beda Meskipun agama Islam tidak menetapkan batas umur, namun juga tidak dilarang menetapkan batas umur minimum 32 Musyawarah lebih lanjut menghasilkan berbagai perubahan, mengenai umur perkawinan, minimum usia perkawinan yang awalnya bagi perempuan 18 tahun dan bagi laki-laki 21 tahun diturunkan dengan ketentuan 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki Jadi, semangat di lahirnya UUP ini antara lain membatasi, terlebih menghapus terjadinya perkawinan anak 33 Akhirnya DPR dapat mengesahkan Undang-undang Perkawinan (UUP) pada akhir tahun 1973 (Hari Ibu) yang pada gilirannya diundangkan menjadi UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 34
B. Pembacaan Hukum Progresif
29 Soebadio, Perjuangan Untuk Mencapai Undang-Undang Perkawinan (Suatu Pengalaman), hlm 17 30 Malik, Undang-Undang Perkawinan, hlm 28
31 Ibid , hlm 31 32 Ibid , hlm 65
33 Wazni Azwar, “Latar Belakang Lahirnya Undang-Undang Perkawinan Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 (UUP),”
Hukum Islam vol. 21, no. 1, (January 3, 2022): 133
34 Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Dan Masyarakat, hlm 103–5
35 Satjipto Rahardjo, Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Di Indonesia (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003), hlm 95 36 Rahardjo, Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Di Indonesia, hlm 103
37 Ibid , hlm 120
terhadap Batas Usia Perkawinan Hukum dan undang-undang itu tidaklah sama, yang kedua tidak sepenuhnya otonom dan memiliki otoritas absolut Jika hanya menggunakan tolok ukur atau dengan membaca undang-undang untuk menyoroti kehidupan hukum suatu bangsa, niscaya hasil yang diperoleh tidak memuaskan, melainkan potret kenyataan hukum dalam perilaku dan praktik sehari-hari diperlukan Hukum dapat saja dikatakan begini atau begitu, sementara perilaku menunjukkan hal yang berbeda Sehingga diharapkan gambaran tentang keadaan hukum yang senyatanya tampil melalui perilaku hukum, bukan pasal undang-undang 35 Adapun yang menjadi keprihatinannya tidak lain, agar hukum itu pada akhirnya memang bisa melindungi dan membahagiakan masyarakat bukan justru sebaliknya 36 Terlebih, gagasan idenya bermula dari konsep bahwa hukum diperuntukkan bagi manusia.37
Hukum progresif muncul dari kerisauan atas kurang berhasilnya cara berhukum untuk memecahkan problematika bangsa dan negara Sebenarnya, penegakan hukum telah diimplementasikan, namun belum mampu menuntaskan masalah sosial seutuhnya,
karena masih menggunakan metode konvensional yang hanya mengandalkan regulasi masa lalu, padahal sudah waktunya untuk ditinjau kembali 38 Hal ini dapat dilihat dalam permohonan dalam Putusan Nomor 30-74/PUU-XII/2014 yang ditolak secara keseluruhan, Mahkamah Konstitusi telah menguji ketentuan dalam Pasal 7 ayat (1) UUP pada frasa “16 (enam belas) tahun”
yang secara a contrario tidak seragam dengan beberapa pasal yang berlaku dalam perundang-undangan Indonesia Dasar pengujian dilakukan dengan menggunakan Pasal 28A39; Pasal 28B ayat (1) dan (2)40; Pasal 28C ayat (1)41; Pasal 28D ayat (1)42; Pasal 28G ayat (1)43; Pasal 28H ayat (1), dan
38 Rahardjo, Hukum Progresif, hlm 115
39 Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya ”
40 Ayat (1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah; ayat (2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi ”
41 “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia ”
42 Ayat (1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum
43 Ayat (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi
44 Ayat (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan; (2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan
45 Ayat (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun; (2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu ”
46 Putusan MK 30-74/PUU-XII/2014, hlm 6–7
47 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum: Pencarian, Pembebasan dan Pencerahan (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2004), hlm 4
48 Lawrence M Friedman, The Legal System: A Social Science Perspective (New York: Russell Sage Foundation, 1975), 14
49 Putusan MK 30-74/PUU-XII/2014, hlm 80–85
50 Belum dewasa dalam KUHP adalah “belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun, dan tidak lebih dahulu telah kawin ”
(2)44; serta Pasal 28I ayat (1) dan (2)45 UUD 1945 46 Pengujian tersebut dapat terlihat dalam dunia hukum yang dikenal dengan ajaran (het recht hintk achter de feiten) hukum itu berjalan tertatih-tatih mengikuti kenyataan 47 Oleh karenanya, kondisi semacam ini, bagi M Friedman, pembangunan dan perubahan sosial harus dikendalikan oleh pemerintah untuk menjaga eksistensi undang-undang agar tidak tertinggal dengan kejadian-kejadian yang bermunculan di masyarakat 48
Tidak hanya bertentangan dengan beberapa Pasal dalam UUD 1945, Pasal 7 ayat (1) UUP juga inkonsistensi dengan peraturan undang-undang lainnya,49Misalnya Pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,50
Pasal 1 angka 26 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,51 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak,52 Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan,
53 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak,54 Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,55 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,56 Pasal 2 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga,57 Pasal 39
51 “Anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun ”
52 “Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin ” 53 “Anak Didik Pemasyarakatan adalah: (a) anak Pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan
menjalani pidana di LAPAS Anak paling lama sampai berumur 18 tahun; (b) Anak Negara yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan pada negara untuk dididik dan ditempatkan di LAPAS Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun; (c) Anak Sipil yaitu anak yang atas permintaan orang tua atau walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk dididik di LAPAS Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun
54 “Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin ”
55 “Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya
56 “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan ”
57 “Yang dimaksud dengan Anak dalam ketentuan ini termasuk anak angkat atau anak tiri ”
58 “Penghadap harus memenuhi syarat sebagai sebagai berikut: (1) Paling sedikit berusia 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah
59 “Hak ahli waris atas manfaat pensiun anak berakhir apabila anak tersebut menikah, bekerja tetap, atau mencapai umur 23 (dua puluh tiga) tahun
60 “Warga Negara Indonesia adalah: anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin ”
61 “Anak adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan ”
62 “Anak adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan beas) tahun”
63 (2) ada tiga kategori anak yang berhadapan dengan hukum: (a) anak yang berkonflik dengan hukum, (b) anak yang menjadi korban tindak pidana, dan (c) anak yang menjadi saksi tindak pidana; (3) Anak yang memiliki konflik dengan hukum kemudian disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana; (4) Anak yang menjadi Korban Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana; (5) Anak yang menjadi Saksi Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Saksi adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/
ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris,58 Pasal 41 ayat (6) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial,59 Pasal 4 huruf h Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia,60 Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang,61 Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi,62 Pasal 1 angka 2 sampai dengan angka 5 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak,63 Pasal 1 angka 3 Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M 02-IZ 01 10
Tahun 1995 tentang Visa, Visa Kunjungan, Visa Tinggal Terbatas, Izin Masuk dan Izin Keimigrasian,64 Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1949 tentang Pemberian Pensiun kepada Janda (Anak-anaknya) Pegawai Negeri yang Meninggal Dunia,65 dan Pasal 1 Keputusan Presiden Nomor 56 Tahun 1996 tentang Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia 66
Ketika sebuah hukum mempunyai karakter formal, potret institusi dalam menjaga status quo agak lebar dengan payung legalitas atau kepastian hukum Padahal membiarkan status quo tersebut memiliki resiko besar untuk menghambat dinamika produksi hukum di masyarakat Dengan mengembalikan bahwa hukum untuk manusia, bukan sebaliknya, meski terjadi benturan antara legalitas dan kemanfaatan, maka hambatan untuk menyalurkan dinamika masyarakat senantiasa terus berjalan Jika masyarakat diabadikan dalam hukum berstatus quo yang berkepanjangan, niscaya kemacetan akan terjadi dalam dinamika masyarakat Senada dengan developmental model dari Philippe Nonet dan Philip Selznick, bahwa hukum itu seharusnya merefleksikan kuatnya dinamika korelasi yang terjadi pada aspek setiap
atau dialaminya sendiri
64 “Anak adalah anak yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun, dan belum kawin ”
65 “Anak yang dapat ditunjuk sebagai yang berhak menerima tunjangan ialah anak yang dilahirkan sebelum dan sesudahnya peraturan ini dijalankan dan belum mencapai umur 21 tahun penuh ”
66 “Istri dan anak yang belum di bawah delapan belas tahun dari seseorang yang memperoleh kewarganegaraan RI melalui proses pewarganegaraan, langsung ikut serta menjadi warga negara RI mengikuti kewarganegaraan suami/ayahnya tersebut ”
67 Satjipto Rahardjo, Biarkan Hukum Mengalir: Catatan Kritis Tentang Pergulatan Manusia Dan Hukum (Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, 2007), hlm 47–48
68 Satjipto Rahardjo, Pemanfaatan ilmu-ilmu sosial bagi pengembangan ilmu hukum (Yogyakarta: Genta, 2010), hlm 105
masyarakat Oleh karenanya, suatu hukum sangat tidak dianjurkan untuk tetap bertahan dan memaksa konstruksi hukum yang kontradiktif dengan pergerakan masyarakat 67 Meski suatu hal yang tidak mudah bagi hukum untuk selalu siap sedia menghadapi dan melayani perubahan-perubahan atau kepincangan-kepincangan yang akan banyak dijumpai sebagai tanda ciri dari masyarakat yang tengah dalam masa transisi,68 tetap harus diwujudkan untuk kemaslahatan rakyat
Uraian di atas menunjukkan perkembangan sebuah aturan mengenai minimum umur perkawinan dalam rangka melindungi hak-hak anak, terutama perempuan, yang tampak jelas terlihat sudah tidak sesuai lagi dengan batas usia wanita untuk menikah di masa sekarang Indonesia, yang berparadigma sebagai negara hukum (rechstaat), memiliki cita hukum (Idee des Rechts) yang menurut Gustav Radbruch ada 3 prinsip utama, yaitu kemanfaatan (zweckmassigkeit- purposiveness), keadilan (gerechtigkeit-justice), dan kepastian hukum (rechtssicherheit- legal certainty) Lon L Fuller, pemikir hukum alam generasi terakhir, mengharuskan kepastian harus memenuhi empat prinsip berikut: (1) hukum harus jelas dan mudah dipahami; (2) hukum tidak
diperbolehkan berlawanan antara yang satu dengan yang lainnya; (3) hukum memiliki karakter yang pasti dan tegas; (4) adanya hubungan antara hukum yang satu dengan yang lainnya 69
Inkonsistensi Pasal 7 ayat (1) UUP dengan sistem norma hukum beberapa Pasal Konstitusi dan beberapa Pasal dalam undang-undang juga merupakan dasar hukum dibenarkannya atas praktik perkawinan anak Perkawinan anak dapat diartikan perkawinan yang dilaksanakan pada usia kurang dari 18 tahun Definisi ini diperkuat dengan dibukanya peluang tidak hanya diperbolehkannya pernikahan bagi perempuan ketika mencapai usia 16 tahun, tetapi bahkan regulasi dispensasi nikah, yang lebih membuka ruang lebar pernikahan sebelum usia 16 tahun mampu ini merampas hak-hak anak perempuan untuk tumbuh dan berkembang, serta mendapatkan pendidikan, sehingga bertolakbelakang dengan Pasal 28B ayat (2) dan Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 Jadi, regulasi a quo tersebut mengancam kesehatan dan pendidikan bagi perempuan saat menikah di bawah usia anak
Hukum progresif adalah sarana perbaikan bagi lemahnya modernitas sistim hukum dengan kerumitan prosedur dan birokrasinya, yang memiliki potensi mencederai keadilan dan kebenaran 70 Di antara keunggulan hukum progresif terletak pada karakternya sebagai hukum yang mampu membebaskan
69 Putusan MK 30-74/PUU-XII/2014, hlm 78 70 Rahardjo, Hukum Progresif, hlm 10
71 Satjipto Rahardjo, Lapisan-lapisan dalam studi hukum (Malang: Bayumedia publishing, 2009), hlm 82 72 Satjipto Rahardjo, Sosiologi Hukum: Perkembangan, Metode dan Pilihan Masalah (Surakarta: Muhammadiyah
University Press, 2002), hlm 110
kejumudan regulasi 71 Kegagalan hukum dapat diteropong menggunakan kerangka berpikir hukum progresif dengan mengoperasikan skema-skema hukum (rules and logic) dalam masyarakat agar berjalan dengan baik Usia perkawinan yang terlalu muda justru menjauh dari pola tujuan perkawinan dalam Undang- Undang Perkawinan, yakni terjadinya perceraian Kelabilan dan emosional menjadi akar dari ketidakharmonisan keluarga muda bisa jadi disebabkan psikologis yang belum matang atau ketidakcocokan hubungan dengan orang tua (mertua) Tidak jarang orang tua berharap atau menjodohkan anaknya untuk dinikahkan pada usia dini guna melepas beban ekonomi, tetapi hasilnya adalah sebaliknya, setelah terjadi perceraian keluarga masing- masingnya akan menjadi beban keluarga lagi Hambatan dan ancaman atas eksistensi pasal a quo bagi perempuan dapat tidak terpenuhinya hak-hak konstitusional seperti hak pendidikan dan kesehatan Mempertahankan status quo ini mempunyai risiko yang mampu menahan dinamika peristiwa hukum di tengah masyarakat Penegakan hukum, yang diibaratkan menarik garis lurus antara titik peraturan dan titik kejadian, harus ada campur tangan dari masyarakat 72 Diskriminasi atau pembedaan atas ketentuan usia nikah hukum bahwa perempuan lebih mengalami kerentanan terhadap masalah kesehatan dibanding laki-
laki, baik dalam proses hubungan suami istri, proses kehamilan dan melahirkan Selain itu, semakin muda umur anak perempuan menikah, semakin rendah pula anak perempuan tersebut menempuh tingkat pendidikan Tentu saja dapat diuraikan bahwa anak yang menikah di bawah usia 19 tahun cenderung memperoleh pendidikan yang lebih rendah dibanding anak yang menikah di atas 19 tahun 73 Pembangunan sumber daya manusia yang belum sebanding ini dapat menuai pembebasan dengan merujuk referensi primer berupa kenyataan, agar tidak terjebak atau menjadi tawanan cara berhukum konvensional 74
C. Transformasi Regulasi Batas Usia Perkawinan
Gugatan pasal 7 ayat (1) UUP yang ditolak Mahkamah Agung pada tahun 2014, menginisiasi hukum progresif yang melihat hukum sebagai suatu produk belum final, melainkan ia melihat hukum sebagai proses atau terus menerus dibangun (law in the making), berbasis optik sosiologis, bukan sekedar menggunakan kacamata hukum Apabila melalui hukum, maka tidak akan ada perubahan yang berarti 75 Putusan Mahkamah Agung Nomor 22/PUU-XV- 2017 yang diajukan kembali oleh 3 pemohon 20 April 2017, paling tidak permohonan pemohon dapat tergambar sebagai berikut Ketiga pemohon pada dasarnya dinikahkan
73 Putusan MK 22/PUU-XV/2017, hlm 24 74 Rahardjo, Ilmu hukum, hlm 12
75 Rahardjo, Hukum Progresif, hlm 21
dikarenakan kondisi pada keluarganya dikategorikan keluarga miskin dan hidupnya serba kekurangan Pemohon I dan pemohon II (berusia 14 tahun) berhenti melanjutkan sekolahnya untuk merawat anak dan mengurus rumah tangganya Sementara, orang tua dari pemohon III juga menikahkan anaknya pada usia 13 tahun (tamat Sekolah Dasar) dengan pria berusia 25 tahun Sebab terjadinya pernikahan tersebut, pemohon I, pemohon II, dan pemohon III tidak bisa lagi menyelesaikan wajib belajarnya 12 tahun Anggapan bahwa dengan melepas masa belajar (sekolah) untuk melanjutkan ke pernikahan dapat menyelesaikan masalah perekonomian yang dihadapi dalam keluarga, padahal hal tersebut, sebagaimana yang dialami para pemohon, justru menghadapi masalah finansial yang sulit dalam keluarganya Kondisi tersebut semakin memburuk karena para pemohon tidak melanjutkan studinya, yang secara otomatis tidak memperoleh ijazah tingkat lanjut, pada gilirannya ia tidak mendapatkan pekerjaan untuk membantu keuangan keluarganya Selain hilangnya hak pendidikan, saat dinikahkan pemohon juga mengalami kesehatan yang cukup serius Hubungan seksual yang dilakukan pada usia anak mengakibatkannya terinfeksi pada organ reproduksi, bahkan terjadi keguguran karena ketidaksiapan untuk mengandung bayi Jelas uraian di atas yang telah dialami para pemohon melanggar hak pendidikan kesehatan, dan
hak tumbuh-berkembang sebagaimana yang termuat dalam UUD 1945 76
Di tahun 2014, Pasal 7 ayat (1)77 pernah diuji dihadapan Mahkamah Konstitusi dengan materi muatan yang terkandung dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat (3), Pasal 28A, Pasal 28B ayat (1), Pasal 28B ayat (2), Pasal 28C ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28G ayat (1), Pasal 28H ayat (1), Pasal 28H ayat (2), Pasal 28I ayat (1) dan Pasal 28I ayat (2), namun ditolak secara keseluruhan 78 Kemudian pada tahun 2017 Pasal 7 ayat (1) dimohon untuk diperiksa dan diadili kembali dengan dasar konstitusional UUD 1945 Pasal 27 ayat (1) berbunyi “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya” Meluruskan argumentasi karena tidak terlindungi dan terpenuhinya hak asasi anak, terutama berbedanya kedudukan hukum (inequality before the law) pada dasarnya frasa 16 tahun Pasal 7 ayat (1) melanggar prinsip UUD 1945 ayat 27 ayat (1) Sehingga, berbedanya aturan usia tersebut antara laki-laki dan perempuan adalah salah satu bentuk diskriminasi karena adanya perampasan berbagai hak anak yang semestinya masih melekat padanya 79
Diskriminasi tersebut dapat dilihat dari segi kesehatan, pendidikan serta resiko
76 Putusan MK 22/PUU-XV/2017, hlm 5–10
77 “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun”
78 Putusan MK 22/PUU-XV/2017, hlm 13 79 Ibid , hlm 17
80 Rahardjo, Lapisan-lapisan dalam studi hukum, hlm 18 81 Ibid , hlm 37
82 “Putusan MK 22/PUU-XV/2017,” 19
terjadinya KDRT Di sini terlihat bahwa hukum tidak lagi tampil sebagai skema-skema abstrak, melainkan realitas,80 karena hukum bukan suatu artifisial, tetapi refleksi dari masyarakat sekitar 81 Dalam hal kesehatan, perkawinan yang dilangsungkan oleh perempuan berusia 16 tahun memiliki resiko terhadap kesehatannya, baik sejak mulai berhubungan seksual sampai melahirkan 82 Dalam hal pendidikan, UUD 1945 Pasal 28C ayat (1) telah mengamanatkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berhak diperoleh siapapun Namun, pasal a quo mengakibatkan amanat UUD tersebut tidak dapat diwujudkan oleh sebagian besar masyarakat yang mana semakin rendah usia perempuan menikah, semakin rendah pula pendidikan diperolehnya Tanggung jawab baru sebagai istri atau sebagai ibu merupakan sebab penerapan wajib belajar selama 12 tahun sebagai sistem pendidikan nasional tidak terpenuhi, ketika usia minimal perkawinan 16 tahun masih berlaku bagi perempuan Kondisi ini tentu berbeda dari pria yang usia minimal menikahnya diregulasikan 19 tahun sehingga ia memperoleh hak wajib belajar 12 tahun Dengan demikian, diskriminasi negara telah nyata dimana laki-laki mendapat kesempatan berpendidikan dibanding perempuan
Dalam hal resiko eksploitasi anak Pasal 26 ayat (1) UU Nomor 23 tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak menyebutkan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk (a) mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak; (b) menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; (c) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak Pasal ini jelas inkonsistensi dengan Pasal 7 ayat (1) yang membuka ruang eksploitasi anak 83 Secara tradisional, meskipun perkawinan di bawah usia dewasa dipahami untuk menghindari hubungan seks bebas, problem mendasarnya terjadi tatkala anak dinikahkan dengan pria yang lebih tua karena faktor ekonomi oleh orang tuanya, padahal tindakan hukum tersebut bukan sepenuhnya persetujuan anak tersebut, sehingga pernikahan seperti ini membuka peluang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga 84
Jelas bahwa keadaan tersebut menunjukkan keinginan yang diharapkan ternyata harus berhadapan dengan kenyataan yang berlawanan Dengan kata lain, jika hukum diminta untuk memberikan perlakuan yang sama kepada seluruh masyarakat, pada waktu yang sama pula justru hukum dengan sendirinya akan berlainan mengikuti kondisi yang berbeda 85 Usia 16 tahun yang diperuntukkan bagi perempuan sebagai batas minimum usia nikah berimplikasi menghadirkan ketidakadilan bagi perempuan
83 Ibid , hlm 25 84 Ibid , hlm 26
85 Satjipto Rahardjo, Penegakan hukum: suatu tinjauan sosiologis (Yogyakarta: Genta Publishing, 2009), hlm 62 86 Putusan MK 22/PUU-XV/2017, hlm 35
87 Ibid , hlm 28
88 Rahardjo, Biarkan Hukum Mengalir, hlm 63
di depan hukum 86 Padahal berbagai negara telah menyetarakan usia perkawinan dapat dilihat sebagai berikut: Persamaan usia 19 tahun baik laki-laki maupun perempuan adalah negara Algeria Untuk usia 18 tahun bagi pria dan wanita adalah Albania, Azerbaijan, Antigua, Barbuda, Belarus, Bahamas, Etiopia, Irak, Kenya, Korea, Mesir, Malawi Maroko, Nigeria, Oman, Tunisia, Uni Emirate Arab dan Yordania 87
Tidak benar jika berpendapat bahwa hanya ada satu cara saja dalam berhukum, sebab setiap bangsa memiliki cara berhukum sendiri Walaupun tidak berbeda dalam menobatkan dirinya menjadi negara hukum, namun tidak mungkin memiliki kesamaan dalam menjalankan hukumnya bagi tiap-tiap negara, di mana hal ini tentu saja tidak terlepas dari akar sosio-kulturnya masing-masing Model implementasi hukum tersebut bukan berarti suatu yang masinal dan mekanistis, melainkan suatu karakteristik kehidupan sosial suatu teritorial tertentu (a peculiar form of social life).88 Memahami keterkaitan antara hukum dengan ilmu-ilmu sosial untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sebagai sarana untuk memperoleh masukan yang berharga dalam rangka penggunaan hukum sebagai perubahan sosial sangat diperlukan, bukan kehidupan masyarakat yang harus menyesuaikan kepada sistem, konsep, doktrin
atau hukum yang sudah tidak layak 89
Pengujian materi dihadapan Mahkamah Konstitusi tidak lain adalah bentuk sarana rekayasa sosial dalam upaya memperbaiki budaya hukum dan tradisi perkawinan anak yang berlangsung di masyarakat 90 Di mana meskipun petitum yang diajukan untuk mengubah Pasal 7 ayat (1) “usia 16 tahun”
menjadi frasa “usia 19 tahun”, MK hanya mengadili Pasal 7 ayat (1) yang tidak memiliki kekuatan hukum mengikat 91 Pertimbangan MK atas pasal 7 ayat (1) UUP terkait usia perkawinan sudah tidak relevan lagi dengan kondisi di masa saat ini Oleh karenanya, minimum usia perkawinan bagi perempuan harus ditingkatkan Meskipun Putusan MK No 22/PUU-XV/2017 tidak secara dapat menjadi pedoman, tetapi setidaknya putusan tersebut sebagai angin segar dalam pembaharuan hukum perkawinnan untuk mencegah terjadinya perkawinan anak Di mana putusan tersebut diserahkan kepada pembuat undang-undang (DPR) paling lama berjarak 3 tahun setelah adanya putusan MK dalam prinsip open legal policy (kebijakan hukum terbuka).92
Modernisasi memiliki hubungan yang tidak berbeda dengan melakukan Social Engineering,93 yang memiliki postulat-
89 Satjipto Rahardjo, Membangun Dan Merombak Hukum Indonesia: Sebuah Pendekatan Lintas Disiplin, Cet 1 (Yogyakarta: Genta Pub, 2009), hlm 139
90 Putusan MK 22/PUU-XV/2017, hlm 34 91 Putusan MK 22/PUU-XV/2017, hlm 30
92 Xavier Nugraha, Risdiana Izzaty, and Annida Aqiila Putri, “Rekonstruksi Batas Usia Minimal Perkawinan Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan (Analisa Putusan MK No 22/Puu-Xv/2017),” Lex Scientia Law Review vol. 3, no. 1, (June 10, 2019): hlm 42
93 Ibid , 220; Lihat juga Rahardjo, Sosiologi Hukum: Perkembangan, Metode dan Pilihan Masalah, hlm 87 94 Rahardjo, Hukum Dan Perubahan Sosial, hlm 206–7
95 Rahardjo, Hukum Progresif, hlm 32
postulat (1) melindungi dan memajukan hak Individu, dan (2) membangun masyarakat yang dicita-citakan 94 Prinsip “hukum adalah untuk manusia” menegaskan setiap kali terdapat problematika di dalam dan dengan hukum, maka hukum-lah yang harus ditelaah lebih lanjut kemudian diamandemen, bukan manusia yang dipaksa untuk dimasukkan dalam skema hukum 95 Putusan Mahkamah Konstitusi kemudian mendapat persetujuan dalam Rapat Paripurna ke-8 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Masa Persidangan I Tahun Sidang 2019-2020, dimana Pasal 7 dalam Undang-Undang Perkawinan yang disahkan pada tanggal 16 September 2019 dengan mempertimbangkan bahwa (a) Pasal 28B Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa negara menjamin hak warga negara untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah, menjamin hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi;
(b) Bahwa dampak negatif yang timbul pada perkawinan usia anak mengakibatkan hak dasar anak tidak terpenuhi, seperti hak pendidikan, hak kesehatan, hak sipil anak serta hak perlindungan atas kekerasan dan diskriminasi;
(c) Bahwa sebagai bentuk implementasi atas
putusan MK No 22/PUU-XV/2017 perlu dilaksanakannya perubahan atas Pasal 7 UUP/1974 Perubahan atas Pasal 7 ayat (1) UUP berbunyi: “Perkawinan hanya diizinkan jika pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun”
Membuat rumusan tertulis memang tidak sama dengan memindahkan realitas secara sempurna,96 namun perubahan norma dalam Pasal 7 UUP ini setidaknya dapat memperbaiki keadaan sebelumnya Pembaruan usia nikah secara sederhana dapat diungkapkan bahwa batas umur pria dan wanita adalah sama, yakni 19 tahun Setidaknya, usia ini di masa sekarang, merupakan standar kepatutan yang mana seseorang telah memiliki kematangan jiwa dan raganya sehingga tujuan perkawinan dapat terwujud dan dikarunia keturunan yang sehat, tanpa berakhir pada perceraian serta resiko kematian ibu dan anak dapat menurun 97 Tujuan perubahan sosial ini tidak lain adalah untuk kemaslahatan bersama, mengingat keaslian watak progresif bahwa hukum tidak pernah berhenti, stagnan dan tidak final, melainkan terus tumbuh, berubah dan berkembang Hukum memang perlu berubah, supaya tidak sekedar menjadi monumen sejarah yang pada akhirnya gagal mengatur dengan ekfektif 98 Setiap langkah dalam perjalanan hukum merupakan sebuah
96 Rahardjo, Penegakan Hukum Progresif, hlm 8
97 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, hlm 2–6 98 Rahardjo, Hukum Progresif, hlm 58
99 Ibid , hlm 12
100 Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat (Bandung: CV Angkasa Bandung, 1980), hlm 95 101 Rahardjo, Penegakan Hukum Progresif, hlm 140–41
102 Siti Qomariatul Waqiah, “Diskursus Perlindungan Anak Perempuan Di Bawah Umur Pasca Perubahan Undang-Undang Perkawinan,” An-Nawazil: Jurnal Hukum Dan Syariah Kontemporer vol. 1, no. 2, (2019):
keputusan yang diciptakan untuk menggapai hukum yang ideal dengan karakter terminal menuju keputusan-keputusan selanjutnya yang lebih ideal, baik dibuat oleh legislatif, yudikatif maupun eksekutif 99
Bagaimanapun perubahan pasti dialami masyarakat, meski tampak atau tidak, cepat atau lambat, bahkan masalah fundamental atau masalah kecil saja 100 Demikian pula dengan hukum yang tidak hanya menerapkan rule making (membuat dan menjalankan), namun terkadang dalam kondisi tertentu juga menjalankan rule breaking (terobosan) Langkah-langkah hukum progresif juga perlu diambil dan diterapkan agar tidak terbelenggu dengan hukum Artinya, hukum memang dibutuhkan, tetapi jangan sampai hukum justru memenjara masyarakat sendiri 101 Amandemen pasal 7 ayat (1) tersebut tentu memiliki implikasi yuridis dalam pergumulan masyarakat, terutama dan paling utama bagi anak yang melangsungkan perkawinan, sebab dalam peraturan lama yang mengatur batas usia perkawinan adalah 16 tahun untuk wanita dan 19 untuk pria masih banyak dijumpai nikah di bawah usia tersebut, terlebih batas usia perkawinan bagi wanita disetarakan dengan laki-laki menjadi 19 tahun, sehingga pembaruan substansi pasal tersebut bisa jadi akan memperbanyak perkawinan anak 102
Problematika tersebut menjadikan dispensasi nikah tetap diberikan ruang dengan alasan-alasan tertentu, sebab mengeliminasi kemudaratan lebih diprioritaskan daripada menuai kemaslahatan Intinya, penerapan dispensasi nikah tidak hanya didasarkan pada logika peraturan, namun logika lain seperti keadilan dan kepatutan sosial (social reasonableness) juga dibutuhkan 103 Perlunya dispensasi perkawinan tetap diberlakukan sebagai prinsip penyelesaian terbaik bagi anak dengan situasi tertentu dengan prosedur hukum yang tepat karena melihat kompleksitas pergumulan kehidupan di masyarakat yang tidak dapat dihindarkan Dengan demikian, hukum progresif membuka tangan untuk selalu mengatakan bahwa produk hukum bukanlah suatu yang final dan mutlak, akan tetapi dalam kondisi tertentu dapat membuat terobosan-terobosan selama dalam memberikan kemaslahatan bagi manusia Progresivisme bukan bermaksud menjadikan sebuah hukum berbentuk teknologi yang sama sekali tidak memiliki nurani, tetapi sesuatu yang bermoral kemanusiaan Sehingga hukum progresif tidak pernah berhenti menyoroti kelemahan hukum dan menemukan jalan untuk memperbaikinya guna kebahagiaan dan kesejahteraan manusia 104
Simpulan
Sebelum lahirnya UU Perkawinan, Indonesia memiliki pluralisme regulasi
66–67
103 Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresif (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006), hlm 67 104 Rahardjo, Hukum Progresif, hlm vi
yang diperuntukkan bagi setiap masing- masing golongan penduduk pada saat itu, seperti hukum Islam, hukum adat, Hukum agama Kristen, serta Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pelbagai hukum tersebut menggambarkan mengenai aturan umur perkawinan harus memenuhi usia 18 tahun bagi laki-laki dan usia 15 tahun wanita Pada masa pembentukan UUP, dalam RUUP yang paling akhir, berkaitan usia perkawinan terdapat pada Pasal 7 ayat (1) yang dinyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 21 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 18 tahun, tapi kemudian diturunkan dengan ketentuan 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki Seiring berjalannya waktu, ketentuan tersebut tidak sejalan dengan keseimbangan tatanan masyarakat sehingga menimbulkan potensi ketidakadilan Hal ini terlihat dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No 30-74/
PUU-XII/2014 yang pada intinya berlawanan dengan beberapa pasal UUD 1945 dan UU lainnya yang berlaku terkait hak anak Akan tetapi, MK dalam putusan tersebut menolak gugatan yang diajukan, yang kemudian di tahun 2017 pasal 7 ayat (1) kembali digugat dengan postulat hak kesetaraan di depan hukum Dalam putusan No 22/PUU-XV/2017 MK mengabulkan permohonan tersebut dengan menyamakan kedudukan dalam usia perkawinan, yakni 19 tahun untuk pria dan wanita DPR pun menyeleraskan putusan MK
dengan mengamandemen UU Perkawinan sebagaimana termuat dalam UU No 16 tahun 2019
Perubahan demi perubahan yang terus terjadi pada batas usia perkawinan dari masa-ke masa tersebut menggambarkan bahwa hukum bukan suatu yang bersifat final, mutlak dan selalu diciptakan untuk menggapai idealitas hukum Dengan demikian, hukum progresif membuka tangan untuk selalu mengatakan bahwa produk hukum bukanlah suatu yang final dan mutlak, akan tetapi dalam kondisi tertentu dapat membuat terobosan-terobosan
selama dalam memberikan kemaslahatan bagi manusia karena hukum diciptakan untuk manusia, bukan sebaliknya Prinsip
“hukum adalah untuk manusia” menegaskan setiap kali terdapat problematika di dalam dan dengan hukum, misalnya rendahnya usia perkawinan ini memberikan dampak negatif terhadap kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya, maka hukum-lah yang harus ditelaah lebih lanjut kemudian diamandemen, bukan manusia yang dipaksa untuk dimasukkan dalam skema hukum
DAFTAR PUSTAKA Buku
Ahmad Tholabie, Kharlie Hukum Keluarga Indonesia 1st ed Jakarta: Sinar Grafika, 2013
F Z , Amak Proses Undang-Undang Perkawinan 1st ed Bandung: PT Alma’rif, 1976
Hallaq, Wael B An Introduction to Islamic Law Cambridge; New York: Cambridge University Press, 2009
M Friedman, Lawrence The Legal System: A Social Science Perspective New York:
Russell Sage Foundation, 1975
Malik, Rusdi Undang-Undang Perkawinan 2nd ed Jakarta: Universitas Trisakti, 2003
Minhaji, Akh Sejarah Sosial Dalam Studi Islam: Teori, Metodologi Dan Implementasi Yogyakarta: Suka-Press, 2013
Nonet, Philippe, and Philip Selznick Law and Society in Transition: Toward Responsive Law, Terj. Raisul Muttaqien Bandung: Nusa Media, 2018
Rahardjo, Satjipto Biarkan Hukum Mengalir:
Catatan Kritis Tentang Pergulatan Manusia Dan Hukum Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007
——— Hukum dan Masyarakat Bandung:
CV Angkasa Bandung, 1980
——— Hukum Dan Perubahan Sosial: Suatu Tinjauan Teoretis Serta Pengalaman- Pengalaman Di Indonesia Cet 3 Yogyakarta: Genta Pub, 2009
——— Hukum Progresif: Sebuah Sintesa Hukum Indonesia Cet 1 Yogyakarta:
Genta Pub, 2009
——— Hukum Progresif: Sebuah Sintesa Hukum Indonesia Cet 1 Yogyakarta:
Genta Pub, 2009
——— Ilmu Hukum: Pencarian, Pembebasan dan Pencerahan Surakarta:
Muhammadiyah University Press, 2004
——— Lapisan-lapisan dalam studi hukum Malang: Bayumedia publishing, 2009
——— Membangun Dan Merombak Hukum Indonesia: Sebuah Pendekatan Lintas Disiplin Cet 1 Yogyakarta: Genta Pub, 2009
——— Membedah Hukum Progresif Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, 2006
——— Pemanfaatan ilmu-ilmu sosial bagi pengembangan ilmu hukum Yogyakarta: Genta, 2010
——— Penegakan Hukum Progresif Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, 2010
——— Penegakan hukum: suatu tinjauan sosiologis Yogyakarta: Genta Publishing, 2009
——— Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Di Indonesia Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003
——— Sosiologi Hukum: Perkembangan, Metode dan Pilihan Masalah Surakarta:
Muhammadiyah University Press, 2002 Saragih, Djaren Himpunan Peraturan- Peraturan Dan Perundang-Undangan Di Bidang Perkawinan Indonesia Bandung: Tarsito, 1980
Soebadio, Maria Ulfa Perjuangan Untuk Mencapai Undang-Undang Perkawinan (Suatu Pengalaman) Jakarta: Yayasan Idayu, 1981
Soewondo, Nani Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Dan Masyarakat 4th ed
Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984
Jurnal
Aristoni, Aristoni “Kebijakan Hukum Perubahan Batasan Minimal Umur Pernikahan Perspektif Hukum Islam ” JURNAL USM LAW REVIEW vol. 4, no. 1, (June 30, 2021): 393–413
Asman, Asman “Dinamika Usia Dewasa dan Relevansinya terhadap Batas Usia Perkawinan di Indonesia: Perspektif Yuridis-Normatif ” JIL: Journal of Islamic Law vol. 2, no. 1, (February 27, 2021): 119–38
Aziz, Abdul “Batas Usia Perkawinan Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019: Analisis Psikologi Dan Maslahah Mursalah ” Tasyri’ : Journal of Islamic Law vol. 1, no. 1, (January 11, 2022):
25–43
Azwar, Wazni “Laar Belakang Lahirnya Undang-Undang Perkawinan Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 (UUP) ” Hukum Islam vol. 21, no. 1, (January 3, 2022):
133–51
Fahmi, Muhammad Nurul “Tinjauan Siyasah Syar’iyah Terhadap Penetapan Batas Usia Nikah (Studi Kritis Terhadap Penetapan Usia Nikah Di Indonesia) ” Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah vol. 8, no. 1, (November 20, 2020):
87–122
Marwa, Muhammad Habibi Miftakhul
“Pengaturan Batas Usia Perkawinan Perspektif Keluarga Sakinah