• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-Nilai Politik dalam Al-Qur’an dan Implementasinya (Studi Analisis Tafsir Maqashidi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Nilai-Nilai Politik dalam Al-Qur’an dan Implementasinya (Studi Analisis Tafsir Maqashidi)"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI POLITIK DALAM AL-QUR’AN DAN

IMPLEMENTASINYA (STUDI ANALISIS TAFSȊR MAQÂSHIDÎ)

“Disertasi”

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Doktor (Dr.) Dalam Bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Oleh:

Muhammad Rahman NIM: 317440031

Promotor:

Prof. Dr. KH Said Agil Husin Al-Munawwar, MA Dr. H. Arrazy Hasyim, MA. Hum

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR (IAT) PROGRAM PASCASARJANA DOKTOR (S3)

INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA 1443 H / 2022 M

(2)
(3)

LEMBAR PENGESAHAN DISERTASI

Disertasi dengan judul “Nilai-Nilai Politik Dalam Al-Qur’an Dan Implementasinya (Studi Analisis Tafsir Maqâshidî)” yang disusun oleh Muhammad Rahman dengan Nomor Induk Mahasiswa 317440031 telah diujikan di sidang Promosi Doktor Program Pascasarjana Institut Ilmu Al- Qur’an (IIQ) Jakarta pada tanggal 19 Januari 2023. Dan telah diperbaiki sesuai arahan dari tim penguji.

No. Tim Penguji Jabatan dalam Tim Tanda Tangan

1 Dr. Nadjematul Faizah,

SH., M.Hum. Ketua Sidang

2 Dr. H. Muhammad

Azizan Fitriana, MA.

Sekretaris Sidang

3 Prof. Dr. KH. Hamdani

Anwar,MA Penguji I 4 Prof. Dr. KH. Artani

Hasbi, MA Penguji II

5 Dr. Hj. Romlah

Widayati, M.Ag. Penguji III

6 Prof. Dr. KH. Said Agil

Husin Al-Munawar, MA. Penguji IV/Promotor

7 Dr. H. Arrazy Hasyim,

MA. Hum.

Penguji V/Co- Promotor

Jakarta, 26 Jumadil Akhir 1444 H 19 Januari 2023 M

Mengetahui,

Direktur Pasca Sarjana IIQ Jakarta

Dr. Muhammad Azizan Fitriana, MA.

(4)
(5)

Pernyataan Penulis

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Rahman

NIM : 317440031

Tempat / Tanggal lahir : Sumenep, 22 Agustus 1983 Program Studi : Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Menyatakan bahwa Disetasi dengan judul “Nilai-Nilai Politik Dalam Al- Qur’an Dan Implementasinya (Studi Analisis Tafsir Maqâshidî)” yang disusun oleh Muhammad Rahman dengan Nomor Induk Mahasiswa 317440031 ini benar-benar karya saya sendiri, kecuali kutipan-kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan di dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Depok, 1 Shafar 1444 H

29 Agustus 2022 M

Yang membuat pernyataan

(6)
(7)

Pernyataan Persetujuan Publikasi Disertasi Untuk Kepentingan Akademis

Sebagai civitas akademik Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Rahman

NIM : 317440031

Program Studi : Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non-exclusive Royalty FreeRight) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Nilai-Nilai Politik Dalam Al-Qur’an Dan Implementasinya (Studi AnalisisTafsir Maqâshidî)

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti ini Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),merawat, dan mempublikasikan Disertasi saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok

Pada tanggal : _____________

Yang menyatakan,

mt

(8)
(9)

Abstrak

Nilai-Nilai Politik Dalam Al-Qur’an Dan Implementasinya (Studi Analisis Tafsir Maqâshidî)

Muhammad Rahman, 317440031

Disertasi ini bertujuan menggali dan merekontruksi nilai-nilai politik dari Al-Qur’an dengan perspektif tafsir maqashidi sebagai acuan yang akan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya yang terkait dengan nilai dan prinsip politik Al-Qur’an di dalam menjalankan roda pemerintahan, baik di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Disertasi ini ada persamaan dengan penelitian Mursyidah Thahir dalam konteks analisis ayat-ayat dengan pendekatan tafsir maqashidi, namun terdapat diferensiasi dari sisi obyek kajian, di mana obyek penelitian dalam disertasi tersebut berkaitan dengan ayat-ayat makanan halal, sementara obyek penelitian penulis terkait ayat-ayat politik.

Penelitian ini menggunakan metode jenis deskriptif yang bersifat kualitatif, dan mempergunakan analisis deduktif yaitu memaparkan nilai-nilai politik dalam Al-Qur’an dengan cara mengkombinasikan ayat-ayat yang relevan dengan penelitian serta mencari korelasi antar ayat, guna mendapatkan paradigma yang utuh dan komprehensip. Kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tafsir maqashidi.

Adapun konklusinya, bahwa nilai-nilai politik dalam Al-Qur’an yang harus menjadi acuan para pemegang kebijakan ada dua katagori. Pertama;

membangun nilai-nilai konstruktif politik yaitu: prinsip musyawarah, menegakkan keadilan, kebebasan, persamaan (egaliter) dan ketaatan kepada pemimpin. Kedua: Membangun nilai-nilai performa politik yaitu: kewajiban mengembalikan segala perkara kepada Allah dan Rasul-Nya, kebebasan Beragama, larangan manipulasi dan gratifikasi, berorientasi pada pelayanan rakyat dan kebebasan berfikir serta menyampaikan pendapat.

Kata kunci: Nilai, Politik, Al-Qur’an, Tafsir Maqashidi.

(10)
(11)

صخلملا

اهتاقيبطت و ميركلا نآرقلا يف ةيسايسلا ميقلا (

لا ريسفتلل ةيليلحت ةسارد يدصاقم

)

نامحر دمحم 317440031

و فاشكتسا ىلإ )ةاروتكدلا( ةلاسرلا هذه فدهت ىلع ميركلا نآرقلا نم ةيسايسلا ميقلا ءانب ةداعإ

ئدابملا و ميقلا اميس لاو ، ةلودلاو ةملأا ةايح يف اذيفنتو اعجرم نوكيل يدصاقم ريسفت ءوض ةطلسلا يف مكحلا تلاجع ةرادإب ةقلعتملا ةينآرقلا ةيسايسلا ةيذيفنتلا

ةيئاضقلاو ةيعيرشتلاو

ةمدختسملا تايلآا ليلحت قايس يف رهاط ةدشرم هتبتك يذلا ثحب عم هبشلا تاذ ةلاسرلا هذه نوكي ثيح، ةساردلا عوضوم ثيح نم زيمتي ثحبلا كلذ هنأ ىلع ، يدصاقملا ريسفتلا جهنمب فلؤملا فلاخب للاحلا ماعطلا لوح تايلآا نع ثحبت ةلاسرلا كلت يف ثحبلا عوضوم ا

يذل

ةيسايسلا تايلآا لوح ةساردلا عوضوم زكري .

يذلا يجاتنتسلاا ليلحتلا مدختستو ، يعونلا يفصولا راطيإب عونلا بولسأ مدختست ةساردلا هذه هفصو متي تايلآا نع ثحب و عوضوملاب ةقلعتملا تايلآا عمجب نآرقلا يف ةيسايسلا ميقلا

ةلماشو ةلماك ةروص ىلع لوصحلل ةطبارتملا .

ت مث يدصاقم ريسفت جهنمب مادختساب اهليلح .

ناتميقلا ناتاه و نيمسق ىلإ مسقنت نآرقلا يف ةيسايسلا ميقلا نأب يه ثحبلا اذه ةصلاخ امأ ، ةيسايسلا ميقلا ءانبب ىمسي ام :لاوأ .ةسايسلا ىف نيعجرم امهلعجي نأ دبلا رارقلا باحصأ ىلع اسملاو ، ةيرحلاو ، ةلادعلاو ، يروشلا أدبم :يهو ايناث .رملأا يلولأ ةعاطلاو ،ةاو

: ءادلأا ميق ءانب

سانلا ةمدخل زيكرتلا و ةوشرلاو لولغلا عنم و نيدتلا ةيرح و هلوسرو هللا ىلإ ةدوعلا :يهو يسايسلا ريبعتلاو ريكفتلا ةيرح و .

ةيحاتفم تاملك يدصاقم ريسفت ، نآرقلا ، ةسايسلا ، ميقلا :

.

(12)
(13)

Abstract

Political Values in the Qur'an and Their Implementation (Analytic Study of Maqâshidî Interpretation)

Muhammad Rahman, 317440031

This dissertation aims to explore and reconstruct the political values of the Qur'an with the perspective of maqashidi interpretation as a reference that will be implemented in the life of the nation and state, especially those related to the values and political principles of the Qur'an in running the wheels of government, in the executive, legislative and judicial institutions.

This dissertation has similarities with Mursyidah Thahir's research in the context of analyzing verses with a maqashidi interpretation approach, but there is a differentiation in terms of the object of study, where the object of research in the dissertation is related to halal food verses, while the object of the author's research is related to verses political.

This research uses a qualitative descriptive type method, and uses a deductive analysis that is to describe political values in the Qur'an by combining relevant verses with research and looking for correlations between verses, in order to get a complete and comprehensive paradigm. Then analyzed using the maqashidi interpretation approach.

The conclusion is that there are two categories of political values in the Qur'an which should be a reference for policy holders. First; building constructive political values, namely: the principle of deliberation, upholding justice, freedom, equality (egalitarian) and obedience to the leader. Second:

Building the values of political performance, namely: the obligation to return everything cases to Allah and His Messenger, freedom of religion, prohibition of manipulation and gratification, oriented to the service of the people and freedom of thought and expression.

Keywords: Values, Politics, Al-Qur'an, Maqashidi interpretation.

(14)
(15)

Lembar Persembahan

Bismillâhirrahmânirrahîm Dengan Rahmat dan Ridha Ilâhi Rabbî

Ku persembahkan Disertasi ini untuk:

Ibunda al-marhumah Salamah binti Ishaq, terimakasih atas limpahan doa dan kasih sayang yang tak terhingga dan selalu memberikan motivasi pada ananda untuk menuntut ilmu sedalam dan setinggi mungkin. Doa engkaulah yang menembus pintu arsy di langit, di saat ananda mengalami masa-masa sulit. Doa ananda selalu saya panjatkan untuk ibunda allâhumma ighfir lahâ wa irhamhâ wa’fu ‘anhâ dan semoga kelak kita dipertemukan kembali di jannah-Nya.

Ayahanda Dar’ie bin Muhammad Thaha, terimakasih atas limpahan kasih sayang, doa, motivasi, pengorbanan dalam mencari nafkah, dan selalu memberikan yang terbaik bagi ananda demi tercapainya cita-cita ananda, sukses dunia akhirat.

Istriku tercinta, Nadhilah Shahnas binti Lukman Sugiharto al-marhum, yang telah memberikan dukungan, doa dan cinta kasihnya. Terimakasih sayang, atas pengertian, pengorbanan, dan support yang selalu engkau berikan.

Engkau telah memancarkan energi positif di saat aku kehabisan semangat untuk merampungkan penelitian disertasi ini.

Ketiga putra/putriku, Abdut Tawwab , Basmah Syahidah dan Raidah Syahidah, kalian adalah permata hati abî. Waktu abî untuk kalian tersita demi penyelesaian penelitian ini. Pedih rasanya, nak, tapi itulah kehidupan. Ada hal yang harus dikorbankan sementara waktu, demi menggapai kebahagian selanjutnya. Namun, percayalah wahai anak-anakku, dari relung hati paling dalam, abî selalu berdoa untuk kalian, semoga apa yang abî lakukan ini dapat memacu kalian untuk menimba ilmu sedalam dan setinggi mungkin.

Saya haturkan penghargaanku atas kalian,.

Muhammad Rahman

(16)
(17)

Kata Pengantar

Alhamdulillah puji serta syukur kehadirat Allah subhânahû wa ta’âlâ senantiasa penulis panjatkan, atas segala karunia-Nya dan keridhaan-Nya serta petunjuk-Nyalah penulis bisa menyelesaikan upaya penelitian disertasi dengan judul “Nilai-Nilai Politik Dalam Al-Qur’an Dan Implementasinya (Studi Analisis Tafsir Maqâshidî)”Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Penulisan disertasi ini tidak lepas dari hambatan dan kesulitan, namun berkat bimbingan, bantuan, nasihat, arahan, dan saran serta kerjasama dari berbagai pihak, khususnya pembimbing, segala hambatan tersebut akhirnya bisa diatasi dengan baik.

Selesainya penelitian ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa bantuan materiil atau pun non materiil. Oleh karena itu, perlu kiranya penulis haturkan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Hj. Khuzaemah Tahido Yanggo, MA al-marhumah selaku Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an periode 2014-2021

2. Dr. Nadjematul Faizah, SH, M.Hum selaku Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an.

3. Dr. Muhammad Azizan Fitriana, MA selaku Direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

4. Dr. Ahmad Syukron, M.A., sebagai Ketua Program Studi S3 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

5. Prof. Dr. KH. Said Agil Husen Al-Munawar, MA selaku promotor dan Dr.

Arrazy Hasyim, MA.Hum selaku co-promotor yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan dan inspirasi sehingga dapat sampai ke tahap penyelesaian disertasi ini.

6. Seluruh dosen Program Pascasarjana Doktoral (S3), Program Studi Ilmu Al- Qur’an dan Tafsir, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.Terkhusus untuk bapak Prof. Dr. KH. Said Agil Husen Al-Munawar MA, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA dan Dr. KH. Ahmad Fathoni, Lc.MA terimakasih atas ilmu yang luar biasa, motivasi dan inspirasi keteladanan ‘ilman wa khuluqan yang selalu bapak-bapak berikan sehingga saya dapat menyelesaikan studi ini.

7. Seluruh guru-guru saya di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas al- Azhar Kairo, terkhusus fadhilah as-Syaikh Prof. Dr. Umar Hasyim yang telah mengajarkan ilmu musthalah hadis secara mendalam dan berkesan, Syaikh Prof. Dr Athiyyah Abdul Maujud yang telah mengajarkan fikih, secara khusus fikih mazhab syafi’I dan juga Prof. Dr. Ra’fat Utsman yang telah mengajarkan fikih perbandingan, sehingga saya bisa menambah cakrawala berfikir yang

(18)

luas, tidak fanatik, kritis, progresif dan moderat jauh dari sikap ifrath dan tafrith.

8. Seluruh staf karyawan IIQ terkhusus bapak Rahmat yang telah membantu dalam kelancaran proses studi.

9. Pimpinan serta staf perpustakaan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dan The Future Institute Patra Jakarta Selatan, karena dengan tersedianya buku- buku di sanalah memudahkan penulis untuk menyelesaikan penelitian ini.

10. Ibunda Salamah al-marhumah, ayahanda Dar’ie, ibu mertua Nelty, bapak mertua Lukman Sugiharto (alm), pamanda H. Nasruan Ihaq, S.Pd.I, kakek Ali Amran (alm), ustadzah Herlini Amran, MA, gurunda H. Mohammad Rana, S.Pd, serta ananda Abdut Tawwab, Basmah Syahidah dan Raidah Syahidah yang selalu memberikan bantuan yang sungguh tak terhingga baik secara materiil maupun non materiil. Wa bil khusus istri tercinta Nadhilah Shahnas, A.Md. yang selalu setia menemani dan memberikan dukungan, doa dan cinta kasihnya. Terimakasih zaujatî al-habîbah atas pengertian, pengorbanan, dan support yang selalu engkau berikan. Engkau telah memancarkan energi positif di saat aku kehabisan semangat untuk merampungkan penelitian tesis ini.

Terimakasih atas doa-doa kalian.

11. Seluruh teman-teman seangkatan seperjuangan Program Studi Ilmu Al- Qur’an dan Tafsir, pascasarjana S3 IIQ angkatan 2017. Saya ucapkan innî uhibbukum fillâh wa jazâkumullâhu khairan atas persahabatan dan ukhuwah yang penuh kehangatan serta motivasi dari kalian semua.

12. Dr. (Cand) Ibu Siti Sofiyah, MA., selaku Kabag TU Program Pascasarjana dan Mbak Dafika Andiani, M.Ag sebagai staff Bidang Akademik S3 IIQ Jakarta, yang selalu memotivasi, berdedikasi membantu proses administrasi penyelesain disertasi ini, dengan penuh sabar beserta seluruh jajarannya.

Semoga Allah subhânahû wa ta’âlâ membalas dengan balasan yang terbaik di dunia dan akhirat.

13. Seluruh pengurus Yayasan Visi Global Indonesia Jakarta dan teman diskusi rabu malam Patra, wa bil khusus Dr. Abdur Rochim, MA, dkk yang sering menjadi teman diskusi dan sharing keilmuan terkait diskursus issu-issu aktual dan kontemporer. Sharing keilmuan dengan kalian semua, sungguh menjadi salah satu inspirasi dalam merampungkan penelitian ini. Jazâkumullâh khairan.

Depok, 1 Shafar 1444 H 29 Agustus 2022 M

Penulis

(19)
(20)
(21)

TRANSLITERASI

Transliterasi kata-kata arab yang dipakai dalam penulisan disertasi ini berpedoman pada Buku Pedoman Akademik Program Pascasarjana konsentrasi Ulumul Qur’an dan Hadist, Ilmu Syari’ah dan Ilmu Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur’an tahun 2021.

1. Konsonan Tunggal Huruf

Arab Nama Huruf Latin Keterangan

أ

Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

ب

Bā’ b -

ت

Tā’ t -

ث

Śā’ ś s (dengan titik di atas)

ج

Jim j -

ح

Hā’ ḥa’ h (dengan titik di bawah)

خ

Khā’ kh -

د

Dal d -

ذ

Źal ź z (dengan titik di atas)

ر

Rā’ r -

ز

Zai z -

س

Sīn s -

ش

Syīn sy -

(22)

ص

Şād ş s (dengan titik di bawah)

ض

Dād d (dengan titik di bawah)

ط

Tā’ ţ t (dengan titik di bawah)

ظ

Zā’ z (dengan titik di bawah)

ع

‘ Ayn Koma terbalik ke atas

غ

Gain g -

ف

Fā’ f -

ق

Qāf q -

ك

Kāf k -

ل

Lām l -

م

Mīm m -

ن

Nūn n -

و

Waw w -

ه

Hā’ h -

ء

Hamz ah Apostrof

ي

y -

2. Konsonan rangkap karena tasydīd ditulis rangkap:

ةدد ّ عتم

Ditulis muta‘addidah

ةد ّ ع

Ditulis ‘iddah

3. Tā’ marbūtah di akhir kata.

a. Bila dimatikan, ditulis h:

(23)

ةمكح

Ditulis hikmah

ةيزج

Ditulis jizyah

(Ketentuan ini tidak diperlukan terhadap katakata Arab yang sudah terserap ke dalam bahasa

Indonesia seperti zakat, shalat dan sebagainya, kecuali dikehendaki lafal aslinya).

b. Bila Ta’ Marbūtah diikuti dengan kata sandang

“al” serta bacaan kedua itu terpisah, maka ditulis dengan h

ءايلولأا ةمارك

Ditulis karāmah al-auliyā’

c. Bila Ta’ Marbūtah hidup atau dengan harakat, fathah, kasrah dan dammah ditulis t

يرطفلا ةاكز

Ditulis zākat al-fitr

4. Vokal Pendek

َ

fathah ditulis A

َ

kasrah ditulis I

َ

dammah ditulis U

5. Vokal Panjang

1. Faţḥah + alif ditulis Ā

ةيلهاج

ditulis jāhiliyyah

2. Faţḥah + ya’ mati ditulis Ā

يسنت

ditulis Tansā

3. Kasrah + ya’ mati ditulis Ī

ميرك

ditulis Karīm

4. ḍammah + wawu mati ditulis Ū

ضورف

ditulis Furūd

6. Vokal Rangkap

(24)

1. Faţḥah + ya’ mati ditulis Ai

مكنيب

ditulis bainakum

2. Faţḥah + wawu mati ditulis Au

لوق

ditulis Qaul

7. Vokal Pendek yang berurutan dalam satu kata, dipisahkan dengan apostrof

متناا

Ditulis a'antum

تدعا

Ditulis u'iddat

متركش نئل

Ditulis la'in syakartum

8. Kata sandang Alif + Lām a. Bila diikuti huruf Qamariyyah

نارقلا

ditulis al-Qur'ān

سايقلا

ditulis al-Qiyās

b. Bila diikuti huruf Syamsiyyah, ditulis dengan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya serta

menghilangkan huruf l (el)-nya.

ءامسلا

ditulis as-samā'

سمشلا

ditulis asy-syams

9. Penulisan kata-kata dalam rangkaian Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya

ضورفلا ىوذ

ditulis zawi al-furūd

لها

ةنسلا

ditulis ahl al-sunnah

(25)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di berbagai belahan dunia, umat Islam mengalami berbagai krisis multi dimensi yang tidak kunjung selesai, hal itu semuanya bermula dari dekadensi seorang pemegang kebijakan tertinggi yaitu pemimpin negara (raîs ad- daulah), hal itu akan berpengaruh dan berimplikasi pada kerusakan dan kebobrokan etika dan moral rakyat (Fasâd khuluq ra’iyyah). Oleh karenanya, bukan sesuatu yang mengherankan dan mengagetkan apabila ada sebuah bangsa menghadapi krisis multi dimensi yang berlarut, sehingga mengakibatkan ditemukannya berbagai macam penyimpangan dan kejahatan yang terjadi baik berupa ekploitasi sumber daya alam, illegal logging, pembunuhan, perampokan, korupsi kolektif bahkan sampai kepada tindakan- tindakan asusila.

Begitu juga, Akhir-akhir ini Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim mendapatkan sorotan internasional. Walaupun semua elemen anak bangsa bertanggung jawab terhadap problamatika bangsa ini, namun menurut Din Syamsudin (Ketua PP Muhammadiyah 2005-2015) bahwa umat Islam yang paling bertanggung jawab, karena menurutnya, maju mundurnya bangsa Indonesia tergantung kepada umat Islam sebagai penduduk mayoritas.1

1https://www.tribunnews.com/nasional/2012/08/19/kemajuan-indonesia-tergantung- dari-peranan-umat-islam, diakses pada tanggal 11 Mei 2020.

(26)

Bangsa yang sudah merdeka 77 tahun ini tidak kunjung selesai dari berbagai masalah, lebih ironis lagi adalah bangsa yang mayoritas penduduknya muslim ini, prilaku dan budaya koruptif masih menjadi bisa dijumpai di berbagai sektor. Bahkan menurut laporan Transparancy Internasional tentang indeks persepsi korupsi Indonesia 2021, Negara Indonesia menduduki peringkat yang ke-96 dari 180 negara yang disurvei. Dalam survei tersebut hasilnya sangat mencengangkan karena Indonesia memperoleh skor 38 pada rentang 0-100 (0 artinya sangat korup dan 100 berarti sangat bersih).2

Di antara faktor dan pemicu utama meningkatnya kehancuran dan dekadensi moral, etika dan nilai pada sebuah masyarakat dan bangsa yaitu karena pemeluk agama belum menginternalisasikan,menerapkan, mengamalkan, merealisasikan, mengaplikasikan, mengimplimentasikan dan membumikan risalah agamanya dengan benar. Sebab, prinsipnya semua agama di muka bumi men-daras-kan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran universal. Oleh karenanya, kehancuran, kerusakan dan dekadensi moral, nilai dan etika suatu masyarakat bahkan bangsa dan negara tidak diperbolehkan menvonis sebagai kesalahan agama, sebab pada hakekatnya ajaran agama menjadi instrumen yang sangat urgen dan faktor utama dalam menjaga eksistensi moral bangsa. Hingga seorang tokoh bangsa Syafii Maarif salah seorang cebdikiawan muslim Indonesia menyoroti kondisi bangsa ini dengan ungkapan sarkasme, masihkah kaum muslimin sebagai penduduk dan penghuni mayoritas di Negara ini memiliki kelayakan sebagai (khairu ummah) umat yang terbaik3?.

Hanya saja, agama tidak bisa dipersalahkan hanya karena pemeluknya tidak mengamalkan dan mengimplimentasikan ajaran agama dengan baik, Sebab agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran universal, dan agama tersebut memancarkan nilai-nilai keyakinan dan keimanan (al-qiyam al-îmâniyyah), dengan eksistensi keimanan yang terpatri dan tertancap pada semua pemeluk sebuah agama, maka secara mandiri akan terbentuk akhlak, nilai, etika, moral dan perangai yang mulia dan terpuji. Sebab, keperibadian seseorang yang dihiasi dengan nilai-nilai agama, akan menjadi bekal, modal dan fondasi utama bagi seorang pemimpin, para aparatur, pepegang kebijakan, dan pemerintah selalu berkomitmen mengkontruksi bangsa dan negara dengan dilandasi moral dan kinerja sesuai tugas, wewenang, amanah, job dan profesi masing -masing.

2Situs resmi Transparancy Internasional https://riset.ti.or.id/wp- content/uploads/2022/01/CPI2021_Mapindex_EN.jpg diakses pada tanggal 28 Agustus 2022 pukul 11.20 WIB.

3 Ahmad Syafii Maarif, Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam, (Yogyakarta:

Penerbit Bunyan PT Bentang Pustaka, 2018), cet. 1, h. 5.

(27)

Berdasarkan laporan KPK tahun 2018 tindak pidana korupsi berdasarkan instansi mengalami peningkatan dari pada tahun sebelumnya. Di mana tahun 2018 terjadi beberapa kasus tindak pidana korupsi berdasarkan instansi yaitu yang dilakukan oleh pemerintah provinsi ada 29 kasus, tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Kementerian ada 47 kasus, BUMN dan BUMD ada 5 kasus, pemerintah Kabupaten atau kota di seluruh Indonesia itu ada 114 kasus dan data kejahatan korupsi dari anggota DPR dan DPRD ada 4.4

Sementara pelanggaran tindak pidana yang dilakukan oleh rakyat biasa, berdasarkan laporan resmi dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim pada tahun 2022 per-januari sampai Mei ada 126.161 kasus. Kasus yang paling banyak adalah pencurian dengan pemberatan ada 13.570 kasus, narkotika ada 13.057 kasus, penipuan atau perbuatan curang 12.553 kasus, pencurian biasa 12.553 kasus, penganiayaan 11. 769 kasus, penggelapan ada 7.046 kasus, curanmor R-2 5.200 kasus, pelanggaran ketertiban umum sebanyak 3.974, pengeroyokan 2.840 dan pencurian dengan kekerasan sejumlah 1.6465.

Membahas tentang problematika dan krisis bangsa yang berlarut, sejumlah pihak yang berpandangan bahwa problematika terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia terletak pada krisis nilai dan moral yang jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an. Implikasi dari krisis ini menyebabkan berbagai kerusakan yang multidimensi di segala lini kehidupan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya informasi baik di media sosial maupun media mainstream tentang perkelahian antar pelajar, peredaran narkotika dan obat- obatan terlarang, pembunuhan, kejahatan seksual, ketidak adilan hukum hingga kasus korupsi kolektif dari tingkat elite penguasa hingga tingkatan yang paling bawah sekalipun. Realita yang demikian menjadi alasan utama tentang urgensi dan reaktulisasi nilai-nilai Islam dalam rangka penguatan karakter bangsa dan meminimalisir dan menangkal dekadensi moral bangsa yang sudah sangat memprihatinkan, jika tidak ingin dikatakan bangsa ini sudah di ujung menuju kehancuran.6

Tentu yang paling diminta bertanggung jawab dari semua problematika ini adalah para pemegang kebijakan (pemerintah) dari hirarki yang paling atas

4Situs resmi KPK https://acch.kpk.go.id/id/statistik/tindak-pidana-korupsi/tpk- berdasarkan-instansi diakses pada tanggal 28 Agustus 2022 jam 16.00 WIB.

5Situs resmi Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim, https://pusiknas.polri.go.id/data_kejahatan diakses pada tanggal 28 Agustus 2022 jam 17.00 WIB.

6Farid Wajdi, Nilai-Nilai Karakter dalam Al-Qur’an https://babel.kemenag.go.id/id/opini/574/Nilai-nilai-Karakter-Dalam-Al-Quran, diakses pada tanggal 11 Mei 2020.

(28)

sampai lapisan terbawah. Oleh karenanya penguasa, pemegang kebijakan atau pemerintah harus selalu terikat dengan sebuah kaidah:

7

ِةَحَلْصَمْلاِب ٌطْوُ نَم ِةَّيِعَّرلا ىَلَع مِاَملإا ُفُّرَصَت

Artinya: “Tindakan pemimpin terhadap rakyatnya harus dikaitkan dengan kemaslahatan.”

Kapasitas, kapabilitas dan integritas para stakeholder (ashab al-qarar) sungguh sangat urgen karena menentukan baik dan buruknya dalam kehidupan masyarakat, rusaknya rakyat karena rusaknya penguasa dan rusak penguasa karena rusak ulamanya. Hal-hal tersebut menjadi penguat dan penegas dari sebuah konklusi bahwa penguasa atau pemerintah merupakan suri teladan, sehingga keteladan yang baik akan berimplikasi pada hasil yang baik dan begitu pula sebaliknya. Oleh sebab itu Imam Al-Ghazali (450-505 H)8, menegaskan bahwa ulama harus komitmen menjaga peran dan fungsinya sebagai pemegang amanah Allah, pewaris para Nabi (waratsah al-anbiyâ’) dan

7 Kaidah ini berasal dari fatwa Imam Asy-Syafi’i:

ِمْيِتَيْلا َنِم ِِّىِلَوْلا ُةَلِزْنَم ِةِِّيِعَّرلا َنِم ِماَمِلاْا ُةَلِزْنَم

“Kedudukan imam terhadap rakyat adalah seperti kedudukan wali terhadap anak yatim”.

Menurut beliau, fatwa beliau adalah berasal dari fatwa Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansyur dari Abu Ahwash dari Abi Ishaq dari Barra’ bin Azib.

ِِّني

ِا

ْلَزْ نَا ِمْيِتَيْلا ِِّىِلَو َةَلِزْنَم ِهللا ِلاَم ْنِم ىِسْفَ ن ُت ِإ ِن

ُتْجَتْحا اَذِاَو ُهْنِم ُتْذَخ أ

اَذِاَو ُهُتْدَدَر ُتْرَسْي أ

ُتْفَفْعَ تْسِا ُتْيَ نْغَ تْسا

“Sungguh aku menempatkan diriku terhadap harta Allah seperti kedudukan wali terhadap anakyatim, jika aku membutuhkan, aku mengambil dari padanya, dan apabila ada sisa aku kembalikan. Dan apabila aku tidak membutuhkan, aku menjauhinya (menahan diri padanya)”. Abdul Mudjib, Kaidah-kaidah Ilmu Fiqh, (Surabaya: Kalam Mulia, 1999), h. 61- 62

Terkait korelasi rusaknya masyarakat karena rusaknya pemimpin, dan rusaknya pemimpin karena rusaknya ulama, ia mengatakan dalam kitab Ihya’ Juz 2 halaman 357:

ِلَام ْلا ِِّبُح ِءلاْيِتْساِب ِءَاملُعلا ُدَاسَف و ِءَامَلُعلا ِدَاسفِب ِكْوُلُملا ُدَاسف َو ِكْوُلملا ِدَاسَفِب َايَاعِّرلا ُدَاسَفَ ف ِرِبَاكَلأا َو ِكْوُلُمْلا ىلع َفْيَكَف ِلِذَارَلأا ىلع ِةَبْسِحْلا ىلع ْرِدْقَ ي ْمَل َايْنُّدلا ِّبُح هيلع ىَلْوَ تْسا ْنَم و ِهَاجْلا و لاَح ِِّلُك ىلع ُنَاعَتْسُمْلا هللا َو

Artinya: "Maka kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Dan rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan. Sesiapa yang terpedaya akan kecintaan terhadap dunia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal kecil, bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar? Semoga Allah menolong kita dalam semua hal." Abû al-Hamîd al-Gazâli, Ihyâ’ Ûlûm ad-Dîn, (Kairo: Darus Salam, t.t.).

(29)

penegak politik keadilan (siyâsah ‘adâliyyah). Para ulama cerdik cendikia harus bersikap wara’ (bersikap waspada dan hati-hati) dan jangan sampai berkontribusi dan memposisikan diri bersama kebijakan kezaliman (siyasah az-dzulm), lalim terhadap kehormatan dan hak asasi manusia, zalim terhadap harta benda rakyat, dan zalim terhadap jiwa rakyat, bahkan jika dianggap perlu harus mengambil sikap mengjaga jarak (uzlah) dan bersikap independen dari politik dan kekuasaan. Ajaran Islam telah banyak membarikan rambu-rambu (dhawabith) yang mengatur etika dan akhkak kepemimpinan, yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadis serta konsensus (ijma’) para ulama. seluruh nilai-nilai Islam yang terkait dengan akhlak, etika dan value dalam tataran personal (fardi), keluarga (usrah), sosial kemasyarakatan (ijtima’i), berbangsa dan bernegara adalah merupakan rambu-rambu (dhawabith) yang mengatur dan mengikat perilaku dan akhlak kepemimpinan, intisari dari hal-hal tersebut yaitu bersikap amanah (adâ’ al-amânah) dan menegakkan keadilan (iqâmah al-adl), rambu-rambu dan prinsip-prindip tersebut ditegaskan oleh Allah swt yaitu pada QS. An-Nahl [16]:90:

َّو ِرَّ

كْن ُمْ

لا َّو ِءۤا َّش ْحفَّْ

لا ِنَّع ى ّٰهْنَّيَّو ىّٰب ْرُقْلا ىِذ ِئۤاَّتْيِاَّو ِنا َّس ْح ِاْ

لا َّو ِلْد َّعْلاِب ُرُمْ أَّي َّهّٰ

للا َّ

ن ِا ۞﴿

ِيْغَّبْلا

َّن ْو ُرَّ

كَّ

ذَّت ْمُ كَّ

ل َّعَّ

ل ْمُ ك ُظ ِعَّي ٠٩

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.(QS. An-Nahl [16]:90(.

Menegakkan keadilan (iqamah al-‘adl) pada konteks ayat tersebut bahwa saat merumuskan dan membuat keputusan hukum suatu perkara haruslah obyektif (tidak boleh tebang pilih dan berat sebelah). Sebab, keadilan itu harus dirasakan dan dinikmati setiap orang apapun latar belakang agama dan sukunya, muslim maupun non muslim, pejabat maupun rakyat jelata, kaya maupun miskin, memiliki hubungan kekerabatan atau bukan, hendaknya putusan yang diberikan kepada mereka harus obyektif dan berkeadilan sesuai dengan ketetapan rambu-rambu hukum dan bukan berdasarkan subyektifitas dan kedzaliman. Di samping pemerintah, para elit9 bangsa dan para politisi

9Di dalam dalam alQur’an terminologi elit memiliki derivasi kata ( ْلاملا) al-mala’, terminology mala’ atau elit disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 30 kali dan ditemukan pada 12 surat, 29 kali disebutkan dalam bentuk ma’rifat dan dalam bentuk ism nakirah hanya 1 kali. Secara general terminologi elit (almala’) dalam Al-Qur’an ditujukan kepada manusia, hanya dua kali saja penyebutannya ditujukan untuk Malaikat yakni surat as-Shaffat ayat 8 (QS.

[37]:8) dan surat Shad ayat 69 (QS. [38]: 69). Karakteristik dan tabiat elit (al-mala’) ada tiga, yaitu pertama, kelompok elit yang menghalangi dan menentang dakwah para Nabi Rasul.

Kedua, kelompok elit yang mendukung dakwah rasul. Ketiga, kelompok elit yang opurtunis dan abu-abu (munafik) sikapnya tergantung kalkulasi untung rugi. Kemudian terminologi al-

(30)

yang ada di eksekutif, yudikatif dan legeslatif juga bertanggung jawab dalam mencari solusi dari semua problematika.

Kapasitas, kapabilitas dan integritas leadership saat ini merupakan fondasi dan faktor atau sendi utama dalam menuju masyarakat, bangsa dan negara yang beradab. Kejahatan yang sistematis dan terstruktur merupakan implikasi dari politik kekuasaan yang sewenang-wenang. Implementasi wewenang kekuasaan yang dijalankan tidak berdasarkan prinsip dan akhlak dalam politik, hanya untuk melanggengkan dan mendominasi oligarki kekuasaan. Maka muncullah berbagai macam justifikasi dan pembenaran yang mengorbankan tujuan utama politik ( tegaknya prinsip kebenaran, keadilan dan sejahteraan dan kebahagiaan bersama)10. Nilai-nilai etika dan moral kepemimpinan adalah hal sangat penting dalam kemimpinan manapun, hal itu sangat dipengaruhi dan bergantung pada pemimpin dan penguasa.11 Oleh karena itu, yang menginginkan sebuah pemerintahan yang adil dan bijaksana dan dilandasi dengan value dan moral maka harus banyak membaca dari kenyataan yang terjadi,sebagaimana moral atau akhlak pemimpin yang telah dirumuskan oleh pengkaji etika politik seperti: Etika Politik dalam Sistem politik madani bisa disimpulkan sejalan dengan adab (etika) politik Islam dan demokrasi jika lembaga Negara bisa berjalan sebagaina peran dan fungsinya:

Pertama, Legislatif benar berfungsi sebagai pemikir dan perumus aturan dan undang-undang yang berorientasi pada kemaslahatan rakyat serta berusaha secara maksimal untuk mewujudkan keamanan, ketertiban, ketenraman dan kesejahteraan dalam masyarakat. Kedua, Yudikatif yang memiliki integritas, jujur, adil, terpercaya dan mampu membuat atau menjatuhkan hukuman yang adil terhadap siapapun tanpa pandang bulu. Ketiga, eksekutif yang fungsional, bersih, jujur dalam melaksanakan mandat rakyat dan jauh dari prilaku KKN.

Keempat, Masyarakat harus jujur, bersifat kritis, berani menyampaikan kebenaran dan tuntutan serta mematuhi berbagai peraturan dan perundang-

mala’ juga mempunya hubungat erat atau relasi dengan kubara’ (ءاربك) dan sâdah (ةذاش) yang mencerminkan bangunan sosial masyarakatnya. Di antaara konklusi dari hasil kajian dan elaborasi antropologis terhadap perilaku kelompok al-mala’ yang dikisahkan Al-Qur’an adalah memberikan sebuah pelajaran yang sangat urgen dan berharga tentang peranan dan posisi al-mala’ dalam tatanan peradaban, menjelaskan kecenderungan umum dari afiliasi mereka serta urgensi melakukan kaderisasi dan leaderasisi al-mala’ secara baik dan kontinyu dengan memperkuat keyakinan, keimanan (Tauhid dan aqidah) sebab mereka mempunya kiprah, peran, kiprah yang vital dan menentukan bagi progresifitas & hancurnya hadharah (peradaban). Muhamad Ali Mustofa Kamal, Masyarakat Elite dalam Al-Qur’an: (Sebuah Pendekatan Antropologi Al-Qur’an atas Term al-Mala’), Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 15, No.1, h. 70.

10 Haryatmoko, Etika Politik dan Kekuasaan, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2003 ), cet. 1, h.11

11 Haryatmoko, Etika Politik dan Kekuasaan, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2003), cet. 1, h.11. lihat pula: M. Thahir Maloko, Etika Politik Islam, dalam Jurnal al-Daulah, Vol.1, no. 2 Juli 2013, h.54

(31)

undangan demi terealisasinya keamanan, kedamaian dan kesejahteraan masyarakat.

Sebuah pemerintahan (penguasa)12 jika sudah melakukan hal-hal deskruktif serta jauh dari nilai-nilai akhlak dan etika, maka sudah menjadi hal yang aksiomatik negara tersebut akan mengalami krisis yang berlarut seperti dekadensi moral, kehancuran, tidak mampu melindungi dan mengayomi kepentingan rakyat, sehingga pada akhirnya rakyat yang menjadi korban.

Mereka bersikap masa bodoh dan tidak peduli kondisi masyarakat sera tidak memilki kemampuan merawat dan melestarikan kesatuan dan persatuan.

Padahal, menjadi hal yang niscaya bahwa mengayomi rakyat dan membuat kebijakan terbaik bagi mereka menjadi fondasi utama kekuatan moral dan etika yang luhur pada ajaran agama Islam, itulah yang membuat sosok pemimpin bangsa dan negara (rais ad-daulah) sebagai pelayan atau khadim rakyat utama, yang peran dan fungsinya diapresiasi dan dihargai. Namun kebijakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, membenci rakyat dengan cara membuat keputusan-keputusan yang membuat mereka (rakyat) miskin struktural, dan menjaga jarak dengan rakyat serta mempraktekkan sikap egoisme dan sombong. Itu semua akan menjadi indikator akhlak dan etika yang tercela sehingga menyebabkan seorang pemimpin tidak disukai oleh rakyat.13

12 Imam Abû al-Hamîd al-Gazâli mengatakan dalam kitab Ihyâ’ Ûlûm ad-Dîn:

ِءَامَلُعْلا ِدَاسَفِب َّلاإ ُكْوُلُمْلا ِتَدَسَف َام َو ،ِكْوُلُمْلا ِدَاسفِب َّلاِإ ُةَّيِعَّرلا ِتَدَسَف َام

Artinya: "Tidaklah terjadi kerusakan rakyat itu kecuali dengan kerusakan penguasa, dan tidaklah rusak para penguasa kecuali dengan kerusakan para ulama." Abû al-Hamîd al- Gazâli, Ihyâ’ Ûlûm ad-Dîn, (Kairo: Darus Salam, t.th.), jld. 2 h. 238.

13 M. Thahir Maloko, Etika Politik Islam, dalam Jurnal al-Daulah, Vol.1, no. 2 Juli 2013, h. 51.

(32)

Berdasarkan laporan terbaru dari Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 2022 nilai kerugian negara akibat prilaku korupsi trennya semakin meningkat secara signifikan, hal itu bisa terlihat dalam grafik berikut:

Dari data grafik dari ICW di atas, dalam jangka waktu 5 tahun (2017- 2021) terlihat fluktuatif angka pada jumlah kasus dan jumlah tersangka yang ditangani oleh penegak hukum. Sementara itu nilai kerugian negara akibat prilaku korupsi trennya semakin meningkat secara signifikan. Hal ini menjadi indikasi perlunya peningkatan kinerja pemerintah dalam tata kelola dan pengawasan.14

Menghadapi problematika bangsa yang tidak kunjung selesai ini, banyak pihak termasuk para tokoh bangsa yang berusaha mencari solusi dan jalan keluar. Hanya saja solusi yang mereka tawarkan cendrung parsial, sesuai dengan kecendrungan dan spesiliasasi yang dimilikinya. Ahli hukum seperti Mahfud MD (Ketua MK 2008-2013) ini misalnya berpendapat bahwa solusinya dari bangsa ini adalah perbaikan hukum secara komprehenship, Mahfud menambahkan bahwa “penegakan hukum harus menjadi panglima dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa, karena berbagai penyimpangan

14 Dicky Anandiya dkk, Laporan PemantauanTren Penindakan Kasus Korupsi Tahun 2021, (Jakarta: Indonesia Corruption Watch 2022), h. 17.

Gambar 1.1 Nilai kerugian negara akibat prilaku korupsi menurut ICW 2022

(33)

yang terjadi, muaranya pada pelanggaran hukum15. Semenntara ahli ekonomi berpendapat solusinya adalah kestabilan dan pertumbuhan ekonomi. Di sisi yang lain para budayawan berpendapat solusi problematika bangsa adalah perbaikan budaya bangsa yang mulai terkikis. Dalam konteks inilah bangsa yang menghadapi krisis multidimensi dan berlarut ini, menurut penulis membutuhkan solusi langit dengan cara menggali, merekontruksi nilai-nilai Al-Qur’an serta mengamalkannya nilai-nilainya yang universal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya rambu-rambu dan nilai-nilai Al-Qur’an yang terkait dengan bagaimana menjalankan kebijakan politik dan amanah pemerintahan16.

Berdasarkan realita faktual tersebut lahir dan timbul sebuah ide, gagasan, narasi tentang urgensi pendidikan akhlak, moral dan karakter (tarbiyyah khuluqiyyah) yang bersumber dari Al-Qur’an sebagai solusi menjawab dan mengatasi permasalahan bangsa, karena moral inilah yang menjadi pertanda eksistensinya sebuah bangsa17. Pendidikan karakter dan internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an merupakan bagian dari pendidikan nilai (values education) akan menjadi solusi dari kemelut bangsa.

Sebagai agama yang paripurna dan komprehensip, Islam sudah memiliki aturan yang jelas tentang nilai-nilai dalam berpolitik. Al-Qur’an sebagai kitab suci paripurna dan berfungsi sebagai hudan li an-nâs petunjuk untuk semua manusia akan ditemukan di dalamnya prinsip-prinsip yang membahas dan membicarakan nilai-nilai utama yang harus jadi pegangan,

15Mahfud MD, Supremasi Hukum Solusi Krisis Bangsa, https:

//republika.co.id/berita/mrbaff/mahfud-md-supremasi-hukum-solusi-krisis-bangsa, diakses pada tanggal 13 Mei 2020.

16 Hadis Nabi saw yang menjelaskan bahwa sebuah umat atau bangsa akan selalu menghadapi berbagai macam problematika dan krisis sampai mereka kembali kepada sumber ajaran Islam utama yaitu Al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Rasulullah saw.

َّللا َطَّلَس َداَهِجْلا ُمُتْكَرَ تَو ِعْرَّزلاِب ْمُتيِضَرَو ِرَقَ بْلا َباَنْذَأ ْمُتْذَخَأَو ِةَنيِعْلاِب ْمُتْعَ ياَبَ ت اَذِإ ىَّتَح ُهُعِزْنَ ي َلا ًّ لاُذ ْمُكْيَلَع ُه

ىَلِإ اوُعِجْرَ ت ْمُكِنيِد

Artinya: “Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, disibukkan mengambil ekor sapi, ridha dengan pertanian serta meninggalkan jihad, niscaya Allah swt akan menimpakan kalian kehinaan, Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian’. HR. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Kitâb al-Buyû’, Bâb “an-Nahyi ‘ani al-‘Ȋnah (Kairo: Darul Hadis,), no. 3003 dan Lihat: Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, juz 2, h. 28.

17 Dalam sebuah syair Arab dikatakan majunya sebuah bangsa tergantung kepada akhlaknyan:

ْنِإَف ،ْتَيِقَب اَم ُقَلاْخَلأا ُمَمُلأا اَمَّنِإ ُمُه

اْو اْوُ بَهَذ ْمُهُ قَلاْخَأ ْتَبَهَذ

Artinya: “Sesungguhnya suatu umat itu dianggap ada dikarenakan akhlaknya. Jika akhlak sudah hilang maka itu artinya umat itu telah musnah”. Abdul Hadi Muhammad, al- Akhlaq Fi Syi’r Ahmad Syauqi, ( Biskra Algeria: Universitas Muhammad Khidhir, 2009)10

(34)

acuan dan sandaran para pemegang kebijakan dan politisi. Seperti perintah untuk melakukan kebajikan (ihsân), menepati janji (al-wafâ), berlaku jujur (as-shidq), bersabar (as-shabr), takut kepada Allah (al-khauf), berbuat baik (al-birr), bersedekah (as-shadaqah) dan berinfak di jalan Allah, berbuat adil (taqsith), persaudaraan (al-ukhuwwah), persamaan hak (al-musawah), pemaaf (al-‘afw) ditemukan dalam banyak ayat di dalam al-Quran. Kesuluruhannya adalah bagian penting dari pokok-pokok dan value karakter terpuji yang harus diinternalisasi oleh setiap invidu muslim khususnya para pemimpin di berbagai levelnya. Oleh karenanya ungkapan yang mengatakan bahwa Al-Islâmu syarîatu zamân wal makân18 ungkapan inilah “mungkin” yang paling relevan dijadikan sebagai inti dan konklusi risalah Islam. karena sesuai dengan misi utamanya nya “rahmatan lil ‘alamin” oleh karenanya –menjadi keniscayaan dan aksiomatik- ia pasti bisa menjawab berbagai macam problematika yang selalu update sesuai dinamika perubahan dan perkembangan zaman.

Ajaran Islam yang bersumber utamanya Al-Qur’an dan Hadis satu sistem universal yang komprehensip serta mencakup semua lini kehidupan manusia. Ia merupakan negara (daulah) pemerintahan (hukumah), tanah air (wathan) ataupun dan rakyat. Ia juga kombinasi akhlak dan kekuatan, keadilan dan rahmat. Ia merupakan kebudayaan (tsaqafah) dan aturan dan perundang- undangan (qanun), kombinasi antara pengetahuan (al-‘ilm) serta kehakiman (qadha’). Sebagaimana Islam juga adalah materi (maddah) dan harta benda, usaha dan kekayaan. Ia juga perjuangan (al-jihâd) dan ajakan (ad-da’wah) ataupun kemiliteran dan fikrah. Sebagaimana juga ia adalah keyakinan (al- Aqîdah) kokoh dan tegak lurus serta pengabdian (al-ibâdah) yang shahih, seluruhnya sama atau satu kesatuan yang tidak terpisahkan19.

Kitab Al-Qur’an yang paripurna akan senantiasa menjadi petunjuk dan pembimbing manusia baik di masyriq dan maghrib, di kutub utara maupun selatan, karena tidak satupun masalah yang luput dari petunjuk Al-Qur’an (QS. 16: 89) termasuk di dalamnya pembahasan tentang nilai (value), prinsip, konsep, dan etika pada konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena pada Al-Quran ditemukan pembahasan dan pembicaraan tentang hukum-hukum (ahkâm) yang mencakup tiga katagori;20 pertama, hukum-hukum tentang teologi, ushul ad-din, tauhid, keyakinan atau Aqidah ahkâm i’tiqadiyah tema utamanya membahas tentang prinsip dan pokok

18 ‘Abdullâh Nâshih ‘Ulwân, Al-Islâm syarîah Az-zamân wal makân, (Kairo: Dârus Salâm, 1424H/2003M), cet. VII, h. 1

19 Yusuf al-Qaradhawi, Min Fiqh ad-Daulah Fî al-Islâm (Kairo: Darus Syuruq, 2000), h. 123. Dan Ismail Turki dan Jum’ah Amin Abdul Aziz, Min Turâtsi al-Imâm al-Bannâ Majmûah Rasâili al-Imâm al-Bannâ, ( Kairo: Dâru at-Tauzî’ wa an-Nasyr al-Islâmiyyah, 1427 H-2006 M ), cet.1, h.275.

20Abdul Wahhâb Khalâf, Ilmu Ushûl al-Fiqh ( Kairo: Dârul Hadîst, 1423 H,2003 M ), h.35

(35)

keimanan kepada Allah, beriman kepada Malaikat, Kitab, Rasul, hari akhir dan takdir, tegasnya ayat-ayat seputar hukum i’tiqâdiyyah ada pada bidang disiplin ilmu kalam, tauhid, atau ilmu aqidah, kedua, ahkâm khuluqiyah atau wijdâniyyah seperti pembahasan tasawuf, zuhud, ridha terhadap taqdir, sabar, khusyu’ dan menghadirkan hati dalam shalat dan ketiga, ahkâm amaliyah (fiqhiyah) Seperti shalat, zakat, puasa, jual beli dan lain sebagainya.21

Al-Qur’an al-Karîm telah mendeklarasikan dirinya sebagai kitab suci yang tidak mengandung keraguan dan kesalahan sedikitpun

هيف بير لا

(QS. al-

Baqarah [2]: 2), di sisi lain, Al-Qur’an juga menyatakan dirinya sebagai kitâb (QS. al-A’raf [7]:2), hudan atau petunjuk bagi semua manusia dan petunjuk orang bertaqwa secara khusus (QS. al-Baqarah [2]:185), furqân (diferensiasi antara haq dan batil, antara yang wâqi’î (nyata) dengan khayâli (imajinatif) dan antara relative dangan absolut) (QS. al-Furqan [25]: 1), rahmat (QS. al-A’raf [7]:52), syifâ’ (obat penawar, khususnya hati yang resah dan gelisah) (QS.

Yunus [10]: 57), mau’idzah (petuah, wejangan dan nasehat) (QS. Ali Imran [3]: 138), dzikr Li al-‘âlamîn, peringatan bagi seluruh alam (QS. Shad [38]:

87), tafshîl kulli syai’ (perincian bagi segala sesuatu), penjelas dari segala susuatu (tibyânan li kulli syai’) (QS. An-Nahl [16]: 89), namun tidak semua semua permasalahan dibahas secara rinci tapi mayoritas kebanyakan Al- Qur’an memotretnya secara global. Oleh karena itulah, pada koteks inilah memerlukan dan membutuhkan upaya pemahaman, pendalaman, implementasi, aplikasi dan realisasi kandungan Al-Qur’an membutuhkan penjelasan lebih lanjut.22 Menurut penulis, hal Ini seluruhnya, mengarahkan

21 Wahbah az-Zuhailî, Ushûl al-Fiqh al-Islamî, ( Bairut: Darul fikr, 1406 H,1986 M ), jld.1, Cet.I, h.19

22 Dalam kitab “al-Milal wa al-Nihal” Imam Al-Syihristani (w. 548 h) mengatakan bahwa:

َهاَنَ تَ ي َلا اَمَو ةَيِهاَنَ تُم َرْ يَغ ُعِئاَقَوْلاَو ًةَيِهاَنَ تُم ْتَناَك اَذِإ ُصوُصُّنلا ُهُطَبْضَي َلا ا

َّنَا ًاعْطَق َمِلُع ىَهاَنَ تَ ي اَم

ٌداَهِتْجِإ ةَثِداَح ِِّلُك ِدَدَصِب َنوُكَي ىَّتَح راَبِتْعِْلاا ُبِجاَو َساَيِقْلاَو َداَهِتْج ِلاْا

“Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan masyarakat adalah hal-hal yang tidak dapat dihitung. Adalah pasti bahwa tidak setiap kejadian selalu ada teks (nash). Jika teks-teks adalah terbatas sementara peristiwa kehidupan tidak terbatas, dan yang terbatas tidak mungkin menampung yang tak terbatas, maka upaya-upaya kreatif intelektual (ijtihad) dan analogi adalah niscaya adanya, sehingga setiap peristiwa ada keputusan hukum yang jelas”. “Jauh sebelumya, ungkapan bahwa sumber teks-teks sudah final dan terbatas, sementara problematika tiada berhenti dan selalu update, diungkapkan oleh seorang besar yang bernama Abû al-Ma’âlî Imâm al-Haramain (w. 478 H), Ia mengatakan:

(36)

dan menunjukkan kepada kita urgensi untuk mengimplementasikan dan membumikan ijtihâd dan pembaharuan (tajdîd) dan reinterpretasi terhadap Al- Qur’an yang terus menerus, karena Ijtihad baik dalam bidang fikih dan tafsir23 adalah keniscayaan pada setiap periode sejarah manusia. Penjelasan–

penjelasan mengenai alqur’an itulah dalam terminologi ilmu Al-Qur’an disebut dengan tafsir. 24

Dalam konteks inilah menurut penulis sebagai sebuah sumbangsih pemikiran buat bangsa dan negara dalam mengatasi berbagai macam masalah yang berlarut, perlu sebuah terobosan baru. Terobosan baru yang penulis maksud adalah urgensi internalisasi nilai-nilai dalam Al-Qur’an dengan pendekatan tafsir maqashidi. Karena menggali nilai-nilai politik Al-Qur’an dengan tafsir maqashidi bisa dijadikan instrument untuk keluar dari berbagai problematika bangsa dan jembatan menuju moderasi beragama. Dengan internalisasi dan implementasi nilai-nilai politik berbasis tafsir maqashidi bisa menjadi determinasi solusi dari berbagai macam problematika bangsa.

Secara faktual, disiplin ilmu tafsir Al-Qur’an dari zaman ke zaman mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dan progresif, Perkembangan itu mencakup mufassir (ahli tafsir), metodologi dan warna (corak) penafsiran (interpretasi). Mufassir pertama adalah Allah sendiri melalui wasilah ayat-

َاتَفْلا َو ِةَّيِضْقَْلأا َىلِإ ِةَفَاضلإِاب ًارِهَاظ َو ًّ اصَن ِمَاكْحَْلأا ىلع ُةَلِمَتْشُمْلا ُرَابْخَْلأا َو ُتَاي ْلآا َو رْحَب ْنِم ةَفْرُغَك ىَو

َل ْنِإَف...ُفِزْنَ ي َلا ِيْأِّْرلا َىلِإ اْوُعَجَر َو ْاوُرْوَ تْشا َاهْوُدِجَي ْم

Artinya: “Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-hadits Nabi yang membicarakan hukum- hukum praktis, baik dalam bentuk tegas (nash) maupun yang jelas (zhahir) dibanding dengan kasus-kasus dan fatwa-fatwa, bagaikan satu gayung dari air samudra yang tak pernah kering….. Jika mereka tidak menemukannya, mereka berdiskusi dan kembali kepada nalar”.

Al-Syihristani, Al-Milal wa al-Nihal, (Bairut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, t.t.), Lihat: Ibn Hazm, Al-Fishal Fî al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal, (Emirat: Maktabah al-Salam al-‘Alamiyyah, t.t.), jld. II, h. 32 dan Abû al-Ma’âlî Imâm al-Haramain (w. 478 H), Al-Burhân, jld, h.765.

23 Kata tafsir serara eksplisit disebutkan dalam surat al-Furqan ayat 33:

اًريِسْفَ ت َنَسْحَأَو ِِّقَحْلاِب َكاَنْ ئِج لاِإ لَثَمِب َكَنوُتْأَي لاَو

Artinya: (”Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik”). Terma tafsir sangat familiar biasa didengar dan diucapkan oleh umat, bahkan non muslim memahaminya. Dan oleh karena itu bisa seseorang mengucapkan tafsir, pengucap dan pendengar seakan telah memaknai maksudnya. Secara etimologis, terminologi tafsir adalah bentuk mashdar dari kata رسفي-رسف yang berpola taf’il (ليعفت), yaitu tsulatsi mazid satu huruf dari akar kata ارسف-رسفي-رسف , al-Fasr (رسفلا) antara lain bermakna al-Bayan (penjelasan), atau al-Ibanah wa al-Kasyfu wa Idzhar al-ma’na al-ma’qul (menjelaskan dan mengungkap arti yang rasional). Selain makna hal itu, tafsir juga dapat diartikan syarh. Adapun makna yang diungkap tersebut, selain makna rasional juga makna yang tertutup (ىطغملا). Ibnu Mandzûr, Lisân al-‘Arab, (Bairut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, 1992), cet. Ke-2, jld. 10, h. 261.

(37)

ayat-Nya dalam Al-Qur’an, mengingat sebagian ayat al-Quran berfungsi menafsirkan ayat lain. Mufassir kedua adalah Rasul, karena amanah dan tugas Allah swt kepadanya untuk memberikan penjelasan (bayân) kepada manusia tentang kitab yang diturunkan kepada mereka (QS. al-Nahl [16]: 44). Setelah Allah dan Rasul-Nya, mufassir yang ketiga adalah manusia biasa, mulai dari shahabat, tâbi'în, tâbi' tâbi'în, dan para ulama dari zaman ke zaman sampai kini25. Namun demikian, interpretasi dan penafsiran oleh manusia biasa dibatasi dengan sesuai dengan kapasitas kemampuan manusia (bi qadr al- thâqah al-basyariyyah) seperti dikemukakan al-Zarqani26.

Oleh sebab itu, seorang mufassir harus menyadari keterbatasan kemampuannya itu, sekaligus manyadarkannya bahwa apa yang ditafsirkannya itu bukanlah sesuatu yang final dan paling benar. Tingkat keabsahannya paling tinggi adalah zhanniy. Karena itu, masih terbuka peluang baginya atau oleh mufassir lain untuk mengkaji ulang. Berangkat dari itulah agaknya para ulama menetapkan seperangkat persyaratan bagi orang-orang yang ingin menafsirkan Al-Qur’an, antara lain prioritas untuk mengutmakan penafsiran ayat dengan ayat lain, ayat dengan hadis Rasul, ayat dengan atsar sahabat (ketiganya disebut dengan tafsir bi al-ma’tsur), sedangkan untuk penafsiran berdasarkan ijtihad27 setelah harus terpenuhi persyaratan-persyaratan yang cukup ketat28.

25 Rusydi AM, Etika Perdagangan Dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 2001), h. 13.

26 Abdul Adzîm az-Zarqânî, Manâhil al-‘Irfân Fî ‘Ulûm al-Qur’ân, (Kairo: Isa al- Bab al-Halabi, tt), cet. 2, h. 471, Abdul Adzîm az-Zarqânî, Manâhil al-‘Irfân Fî ‘Ulûm al- Qur’ân (Kairo: Darusslam,1436/2015M), Lihat pula: Muhammad Quraisy Syihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), cet. Ke 4, h.75.

27 Dalam perspektif jumhur ulama Ushul Fiqh ijtihad seringkali didefinisikan dengan

“Megerahkan semaksimal mungkin kemampuan (at-thaqah) seorang faqih demi memperolreh pemahaman tingkat dzanni terhadap yurisprudensi syari’at”. Dari pengertian dtersebut dapat diambil sebuah kongklusi mengenai subyek, dan hadaf (tujuan dan sasaran) capaian ijtihad adalah: pertama, subyek ijtihad adalah seorang yang faqih (ahli fikih), bukan yang lain.

Kedua, target yang ingin didapatkan oleh ijtihad adalah ahkam amaliah/hukum-hukum praktis (furu’iyah) yaitu setiap hukum yang berkolerasi dengan fi’lul mukallafin (perbuatan orang-orang mukallaf). Ketiga, yurisprudensi (hukum) syar’i yang menjadi konklusi dari sebuah ijtihad hasilnya berstatus dzanni. Yusuf al-Qaradhawi, al-Ijtihâd Fî as-Syarî’ah al- Islâmiyyah, (Kuwait: Darul Qalam, 1417H/1996M), h.11 dan Ali Muhyiddin al-Qurrah Dhagi, al-Ijtihâd Wa al-Fatwâ, (Bairut: Darul Basyair al-Islamiyyah, 1438H/2017M), 13.

28 Mengenai syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, para ulama berbeda pendapat. As Suyuti misalnya, menyebutkan lima belas macam ilmu yang harus dimiliki oleh seorang mufassir. Namun secara umum dan pokok dapat disimpulkan senagai berikut: a) pemahaman terkait Bahasa Arab dalam berbagai bidangnya; b) pengetahuan tentang ulumul qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an), asbabun nuzul-nya, Sunnah-sunnah Nabi, dan ushul fiqh; c) pemahaman dan kedalaman pengetahuan tentang ushul ad-din (perkara prinsip- prinsip dalam Agama); d) pemahaman dan pengetahuan tentang disiplin ilmu yang menjadi materi bahasan ayat. Lihat M. Quraish Shihab, Membumikan al Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan (Bandung: Mizan, 1999), cet.-9, h. 79.

(38)

Perkembangan dalam metode penafsiran juga cukup pesat. Hal itu terlihat dengan ditemukannya berbagai metode tafsir untuk menafsirkan Al- Qur’an antara lain metode tafsir maqashidi. Metodologi tafsir maqashidi memiliki beberapa prinsip29 yaitu: Pertama, Menghargai teks dan memahami tujuan (Ihtirâm al-nushûs). Kedua, Memahami maqashid berbasis teori maslahat (Jalb al-mashâlih wa dar al-mafâsid). Ketiga, berpegang kepada prinsip tsawâbit dan mengembangkan mutaghayyirât. Keempat, Membedakan mana yang ushul dan mana furu’. Kelima, Membedakan antara aspek wasilah dan aspek ghayah (tujuan). Keenam, Membedakan ma’quliyyat ma`na dan ghair ma’quliyyat ma’na.30

Dalam prakteknya, tafsir maqashidi bukanlah hal baru. Bila berangkat dari pengertiannya di mana pada dasarnya tafsir maqashidi sebagaimana dijelaskan oleh Washfî ‘Ȃsyur Ab Zaid dalam bukunya31 yang sangat terkenal yaitu:“salah satu model pendekatan penafsiran Al-Qur’an yang menitikberatkan pada upaya penggalian maksud-maksud Al-Qur’an (baik maqashid partikular maupun universal) dari Al-Qur’an sehingga nilai-nilai ajaran Al-Qur’an benar-benar mampu merealisasikan kemashlahatan manusia”. Definisi dari Washfî ‘Ȃsyur ini juga diamini oleh Abdul Mustaqim32 yang mendefinisikan tafsir maqashid adalah: salah satu model pendekatan penafsiran Al-Qur’an yang menitikberatkan pada upaya penggalian maksud-maksud Al-Qur’an (baik maqashid partikular maupun universal) dengan mendasarkan pada teori Maqashid Al-Qur’an dan Maqashid al-Syari’ah, sehingga nilai-nilai ajaran Al-Qur’an benar-benar

29 Menurut Washfi ‘Asyur Abu Zaid, ada limprinsip atau standar (dhawabith) yang harus ada dalam kajian tafsir maqashidi yaitu; pertama, obyeknya adalah ayat-ayat yang ada kemungkinan untuk digali maksud dan tujuannya. Kedua, realisasi tafsir maqashidi harus sesuai dengan perangkat-perangkat tafsir. Ketiga, lebih mendahulukan maksud-maksud tujuan Al-Qur’an yang eskplisit dari ayat-ayat yang makna implisit, keempat, maksud-maksud dan tujuan Al-Qur’an (maqashid Al-Qur’an) yang bersifat umum harus menjadi patokan. Kelima, antara kata, ayat dan surat dalam Al-Qur’an harus memiliki ketersambungandan relevansi antara satu dengan yang lain. Nahwa Tafsîr Maqâshidî Li al-Qur’ân al-Karîm Ru’yah Ta’sîsiyyah Li Manhaj Jadîd Fî Tafsîr al-Qur’ân, (Kairo: Mufakkirûn Ad-Dauliyyah Li an- Nasyr Wa at-Tauzî’ 1440 H/2019 M), cet. 1 h. 75-85

30 Abdul Mustaqim, Pendekatan Tafsir Maqashidi dalam Studi Al-Qur’an, disampaikan pada acara kuliah umum IIQ Jakarta, pada tanggal 17 April 2020.

31 Buku yang dimaksud adalah berjudul Nahwa Tafsîr Maqâshidî Li al-Qur’ân al- Karîm Ru’yah Ta’sîsiyyah Li Manhaj Jadîd Fî Tafsîr al-Qur’ân.

32Abdul Mustaqim adalah Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FUPI UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang mendapatkat gelar Profesor, di mana Pidato Pengukuran Guru Besarnya berjudul Argumentasi Keniscayaan Tafsir Maqashidi sebagai BasisiModerasi Islam pada Tanggal 16 Des 2019.

Referensi

Dokumen terkait

Konsep kreatif adalah tentang bagaimana cara yang kita pakai untuk memberikan sentuhan kesan lebih atau nilai tambah dalam menyampaikan informasi. Dalam

Penerapan teori humanistik dalam pembelajaran dapat dimodifikasi secara lentur oleh guru, hal ini lebih memberikan ruang kreatifitas yang tidak terbatas pada

Penerimaan Calon Bintara TNI AD merupakan bagian dari kegiatan Penyediaan Tenaga (Diaga) prajurit sebagai bagian dari pembinaan prajurit TNI AD pada

Topologi jaringan penyiaran televisi digital pada umumnya dijelaskan pada gambar 3, sinyal televisi yang dipancarkan dari antena pemancar akan diterima oleh antena

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode peramalan yang lebih baik, berdasarkan perhitungan total ramalan produksi produk Bateeq per bulan dengan

Korelasi langsung diantara sifat-sifat geofisika (misal kecepatan Resistivitas) dan sifat-sifat geokimia (misal modulus deformasi) dapat dihubungkan dengan problem yang sama

125 informasi ngeunaan tugasna nu geus dilaksanakeun sarta jadi bahan obsérvasi pikeun mikanyaho kahontal henteuna tujuan atikan katut pangajaran anu geus

Untuk itu Kemudian peneliti mengambil konseling kelompok sebagai alternatif untuk membantun memperbaiki sikap dan kebiasaan siswa pecandu blackberry,karena menurut