• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA POLITIK TUAN GURU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DINAMIKA POLITIK TUAN GURU"

Copied!
240
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

© Dr. Nazar Naamy, 2016 Judul:

Politik Tuan Guru

Antara Idealitas dan Pragmatisme Politik Penulis:

Dr. Nazar Naamy Editor:

Ishak Hariyanto & Agus Dedi P Layout:

Sanabil Creative Desain Cover:

Sanabil Creative All rights reserved

Hak Cipta dilindungi Undang Undang

DIlarang memperbanyak sebagian atau keseluruhan isi buku baik dengan media cetak ataupun digital tanpa izin dari penulis

Cetakan 1:

April 2016 ISBN:

978-602-6223-05-0 Sanabil Puri Bunga Amanah Jl. Kerajinan I Blok C/13 Mataram Email: [email protected] Telp./SMS: 0370-7505946/081805311362

(3)

Buku ini merupakan kajian yang cukup lama dari Disertasi penulis pada Program Studi Ilmu Sosial Program Pascasarjana Universitas Merdeka Malang (2013) yang berjudul: Perilaku Politik Tuan Guru dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Studi Perilaku Politik Tuan Guru dalam Dinamika Politik Lokal di Kabupaten Lombok Barat. Diterbitkan pertama kali oleh SABDA Institute Creative dengan judul; Poligami Politik Tuan Guru “Kajian Sosiologi Politik dalam Dinamika Politik Lokal”. Akan tetapi setelah mengalami berkali-kali revisi guna memenuhi kebutuhan keilmuan sosiologi politik kontemporer sejak berbentuk Disertasi hingga menjelang penerbitannya, disertasi ini pun mengalami perubahan judul untuk diterbitkan ke dua kalinya menjadi Politik Tuan Guru

“Antara Idealitas Moral dan Pragmatisme Politik” sebagai edisi revisi atas judul yang pertama.

Dorongan untuk menerbitkan buku ini datangnya dari bapak Prof. Dr. H. Agus Sholahuddin, MS, dan Dr. Kridawati Sadhana, MS, untuk itu kepada beliau berdua penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas semua dukungan dan bimbingannya. Rasa terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. H. Zaini Arony Bupati Lombok Barat, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, Dr. H. Nashuddin, M.Pd dan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Dr. H. Subhan Abdullah Acim, MA. beserta teman-teman Dosen dan seluruh staf administrasi yang tiada bosan-bosannya bertanya kapan selesai studinya dan terus mendorong penulis agar segera menyelesaikannya.

(4)

Kepada seluruh Dosen Program Studi Doktor Ilmu Sosial Program Pascasarjana Universitas Merdeka Malang : Prof. Dr. H. Budi Siswanto, M.Si. Prof. Dr. Bonaventura Ng. MS. Prof. Dr. I Made Weni, SH. MS. Prof. Dr. Sebastian Koto, Prof. Dr. H. Kasuwi Saiban, M.Ag., M.Si. Dr. H.

Zainur Rozikin, MM. Dr. Hj. Sri Hartini Jatmikowati, M.Si.

dan dosen-dosen yang lain yang telah banyak mengajarkan dan membimbing dengan keihlasan dan ketulusannya.

Kepada seluruh narasumber (Informan) penelitian, terutama TGH. Muharar Mahfudz, BA., Drs. TGH. Munajib Kholid Muhyidin dan TGH. Khudori Ibrahim, Lc. dan informan yang lainnya, ditengah-tengah kesibukannya yang luar biasa masih bersedia menyempatkan diri berdiskusi dan saling tukar informasi dengan peneliti.

Secara khusus kepada Istriku tercinta Hj. Zuhaeranah, S.Ag. dengan beban yang ditanggungnya walaupun akhir- akhir ini sudah merasa lelah, namun tetap setia dan bersabar.

Penulis hanya terus berharap kekuatan do’anya. Anak-anaku tersayang yang selalu membangkitkan semangatku : Ahmad Irfan Ghifary (2003), Luna Febriana Safira (2008) yang selalu di tinggalkan dan selalu bertanya : kapan bapak pulang..?, Muhammad Nizar Fatria (2014). Karena mereka merasa waktu bersama ayahnya sangat kurang untuk menemaninya.

Ibunda tercinta Hj. Zuhriyah (almr. 2000) Ayahanda H.

Muh. Saleh (almr. 2008) yang telah banyak mengajarkan penulis filosofi hidup mandiri dan sederhana, Ibunda Hj.

Nurhidayah yang terus mengingatkan dan menyemangati.

Dan Bapak Mertua, H. Mashuri Rahman (almr. 2012) yang paling semangat mendorong dengan pengorbanannya dan Ibunda Hj. Sukmawati, yang telah banyak membantu dan mempermudah, serta berkorban dalam kelancaran

(5)

pendidikan Program Doktor ini, mudah-mudahan Allah SWT. membalasnya dan mencatatnya sebagai amal ibadah.

Harapan terbesar penulis kepada semua yang saya sebutkan di atas semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat dan karuniaNya, dan atas segala bantuan, bimbingan dan perhatian, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini, Amin Ya Rabbal Alamin.

Akhirnya, penulis sangat mengharapkan agar apa yang tersirat di balik fenomena Politik Tuan Guru “Antara Idealitas Moral dan Pragmatisme Politik” yang menjadi tema dari buku ini dapat ditarik suatu benang merah untuk dijadikan bahan renungan bagi pemerhati dan yang peduli terhadap kehidupan politik lokal.

Mataram, 2016

Penulis

(6)
(7)

D I

Pengantar Penulis ~ iv

BAB I Dimensi Kajian sosiologi PolitiK ~ 1

A. Sejarahnya Dimensi Kajian Sosiologi Politik ~ 1 B. Teori-Teori dalam Sosiologi Politik ~ 16

C. Perspektif Kekuasaan ~ 42 D. Konstruksi Elite Kekuasaan ~ 46 BAB II Desentralisasi gooD governance

Dan DemoKrasi loKal ~ 59

A. Demokrasi Lokal dan Pemilu Langsung ~ 59 B. Islam Politik dan Rezim Orde Baru ~ 70 BAB III tuan guru Dan Keterlibatannya

Dalam arena PerPolitiKan ~ 81

A. Arena Perpolitikan Tuan Guru ~ 81 B. Realitas Sosial Tuan Guru ~ 94 C. Eksistensi Pondok Pesantren ~ 103 BAB IV DinamiKa PolitiK tuan guru ~ 115

A. Tuan Guru Dalam Kajian Akademik ~ 115 B. Perilaku Politik ~ 128

C. Perilaku Politik Tuan Guru Sebelum Reformasi ~ 132

(8)

BAB V tiPologi PolitiK tuan guru ~ 159

A. Profile Tuan Guru dan Pondok Pesantren ~ 159 B. Preferensi Politik Tuan Guru ~ 169

BAB VI ePilog ~ 211 Daftar PustaKa ~ 219

(9)

DIMENSI KAJIAN SOSIOLOGI POLITIK

A. Sejarahnya Dimensi Kajian Sosiologi Politik

Pemikiran politik yang berkembang selama ini pada dasarnya tidak bisa lepas dari pemikiran sosiologi klasik seperti Durkheim, Weber maupun Marx. Durkheim yang mengembangkan pemikiran perspektif yang mengedepankan uniformitas dan regularitas yang muncul dari kalangan para penganut teori fungsional, yang memiliki pandangan bahwa masyarakat sebagai kesatuan sistem yang dipelihara keberlangsungannya oleh hubungan timbal balik antara elemen-elemen atau sub-sub sistem yang ada di dalamnya serta oleh tata nilai yang dikembangkannya. Menurut para penganut perspektif fungsional, bahwa politik adalah sebuah sistem, yang mencakup input, proses maupun output yang masing-masing memiliki sub sistem, dan sub sistemlah yang paling banyak berperan memberikan kontribusi terhadap eksistensi keseluruhan sistem politik yang ada. Dalam pandangan Durkheim di semua masyarakat yang ada hingga saat ini selalu ada solidaritas mekanik dan solidaritas organik.

(Maliki, 2010 : xiv).

Sebagian besar karya Durkheim lebih ditunjukan kepada minat terhadap tatanan sosial. Menurutnya kekacauan sosial

(10)

bukan bukanlah bagian dari dunia modern, kekacauan sosial dapat dikurangi dengan reformasi sosial bukan revolusi sosial sebagaimana diusung oleh Karl Marx. Dalam “The Roles of Sociological Method” menjelaskan betapa pentingnya mengkaji tentang apa yang ia sebut sebagai fakta sosial, menurutnya; fakta sosial adalah sebuah kekuatan dan struktur yang ada di luar diri, namun memiliki daya paksa terhadap individu. Dalam konteks ini ia mengilustrasikan fakta sosial sebagai suatu hukum yang terlembaga serta militansi terhadap keyakinan moral (adat, agama, negara dan lain-lain) yang dipegang bersama. Menurutnya ada dua jenis fakta sosial, material dan non material. Fakta sosial material semisal: birokrasi hukum, sedangkan fakta sosial non-material: kebudayaan, institusi sosial. (Ritzer, 2009:

18).

Berbeda dengan Durkheim, Weber lebih cenderung pada pembahasan otoritas. Gambaran yang paling umum digunakan untuk mengetahui hakikat kekuasaan, tiga tipe kekuasaan murni itu meliputi; otoritas karismatik, otoritas tradisional dan otoritas legal-rasional. Gagasan Weber dianggap relevan, oleh karenanya dikaitkan dengan bentuk, aksi dan hubungan sosial yang melekat pada setiap masyarakat.

“Namun yang perlu perjelas dalam pembahasan ini sebagaimana April Carter dalam tulisannya “otoritas dan demokrasi” menekankan terminologi Weber yang biasa dikenal dengan sebutan Herrschaft, Talcott Parson menerjemahkannya dengan “kekuasaan”, Reinhard Bendix dan Raymon Aron menafsirkan “dominasi yang sah”. (Agus Dedi, 2015: 38)

Weber menyakini bahwa sumber kekuasaan itu berasal dari tiga legitimate. Pertama, karisma; Istilah “karisma”

(11)

sesungguhnya adalah semacam kualitas kepribadian individu berdasarkan daya tarik tertentu, oleh sebab itu mampu menciptakan/menjamin stabilitas di mana ia berada atau berperan. Terpisah dari orang-orang kebanyakan dan diperlakukan sebagai mahluk special seolah dikaruniai ilmu supranatural, pahlawan, manusia luar biasa, manusia super atau setidaknya kekuasaan khusus. (Max Weber, 1968: 48). Weber mengatakan bahwa “karisma” bertumpu atas pengakuan (pemberian legitimasi) dari para pengikut/

volunteer terdekat. Lebih lanjut, terdapat dua tipe karisma;

karisma asli (pure) dan karisma rutin (rutinisasi).

“Para pendiri agama, para nabi maupun para pahlawan militer dan politik adalah model awal pemimpin karismatik.

Mukjizat dan wahyu, prestasi keberanian heroik dan keberhasilan mencengangkan adalah ciri khas keutamaan mereka. Kegagalan adalah kehancuran mereka.” (Agus Dedi, 2015: 38)

Otoritas tradisional menurut Weber ialah orde sosial standar yang berlaku pada kebiasaan-kebiasaan kuno yang mana status dan hak-hak para pemimpin sangat ditentukan oleh adat kebiasaan. Singkatnya, otoritas tradisional berasal dari sistem kepercayaan di zaman kuno. Seorang memiliki wewenang untuk pemimpin/ berkuasa karena garis keluarga atau sukunya selalu merupakan pemimpin kelompok secara turun temurun. Sedangkan otoritas legal-rasional adalah otoritas yang bertumpu pada aturan-aturan tertulis sebagai pedoman pelaksanaan kekuasaan. Seseorang hanya dapat berkuasa karena mentaati aturan-aturan tertulis atas kesepakatan warga masyarakat berupa undang-undang.

Awalnya otoritas legal-rasional hanya dapat berkembang

(12)

dalam masyarakat Barat modern. (George Rizer, 2004: 37- 39)

Sedangkan Karl Max memfokuskan dirinya pada isu tentang “kelas”, dalil yang sangat popular diutarakan oleh para pengikut Marx ialah “sejarah dari semua masyarakat yang eksis sampai sekarang adalah sejarah tentang perjuangan kelas”. Didukung oleh Engels, dengan argumentasi bahwa pembagian kelas (dalam arti ekonomi tertentu) dapat dilihat sebagai landasan fundamental dari kepentingan (interest), kesempatan hidup (opportunity life) serta bentuk-bentuk kesadaran orang (think) dan juga menyebabkan konflik sosial.

Meskipun pandangannya bertentangan dengan Durkheim tentang kekacauan sosial sebagaimana sudah pernah dibahas di atas, karena Marx meyakini kekacauan sosial adalah bagian dari dunia modern (industry), atas pemikiran ini, pada awal teori sosial klasik berkembang pandangan marxisme meredup kemudian mulai menemukan masanya ketika sosiologi politik menampakan dirinya.

Dalam semua masyarakat, sebagaimana Pandangan Marx terdapat kelas-kelas dasar yang ditentukan oleh memiliki atau tidak memiliki alat-alat produksi, kemudian relasi property tersebut merupakan dasar dari relasi kelas dalam pasar modal dan tenaga kerja. Oleh karenanya, dalam relasi kelas terdapat kerangka hukum yang menghubungkan antara alat dan pekerjaan antara pemilik modal dan bukan pemilik modal. (John Scott, 2011: 46).

Kajian sosiologi kontemporer yang diwakili oleh Michel Foucault memberikan warna baru dalam dimensi kajian sosiologi politik ke depan. Foucault tidak menolak cara pandang layaknya Weber maupun Karl Max, namun cara

(13)

itu tidak cukup untuk memahami praktik penundukan yang tidak terlihat. Melalui “knowledge is power”, kekuasaan menurutnya bekerja melampaui cara-cara hegemonik yang mana disebutnya sebagai governmentality.

Kekuasaan dalam pandangan Foucault tidak dipahami secara negatif seperti layaknya para Marxian, tidak dipahami dalam sebuah hubungan kepemilikan properti, prolehan, atau hak istimewa yang dapat digenggam sekelompok kecil masyarakat layaknya pemahaman Weberian. Selanjutnya Kekuasaan bukan merupakan fungsi dominasi dari suatu kelas atas dasar pengusaan ekonomi atau manipulasi ideology (Marx), kekuasaan juga bukan dimiliki berkat adanya suatu karisma (Weber), akan tetapi kekuasaan tersebut produktif dan reproduktif, ia tidak terpusat tetapi menyebar (omnipresent) dan mengalir kemudian dinormalisasikan dalam praktik pendisiplinan. Menurut Foucault kekuasaan sebenarnya merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut situasi kompleks dalam masyarakat. (Abdil Mughis Mudhoffir,2013: 77)

Dalam sejarahnya sosiologi politik tidak terlepas dari para tokoh-tokoh yang mengitarinya, karena dalam sejarahnya bahwa sosiologi politik dalam tradisi ilmu sosial, sosiologi politik sangat konsern pada masalah kekuasaan.

Kekuasaan ditafsir sebagai kesanggupan individu atau suatu kelompok sosial guna melanjutkan bentuk tindakan (membuat dan melaksanakan agenda keputusan). Pada awalnya sosiologi politik dipandang sebagai ilmu tentang negara dan ilmu tentang kekuasaan. Dari dasar teori umum di atas, selanjutnya Karl Marx mengembangkan ke teori khusus, antara lain :

(14)

1. Teori konflik material (ekonomi) yang saling berhubungan, bahkan seringkali yang satu disandarkan sebagai penghancur yang lainnya

2. Teori nilai lebih dan eksploitasi terhadap kerja.

3. Teori perjuangan kelas (borjuis = pemilik modal, proletar = bukan pemilik modal).

4. Teori alienasi (pengasingan); bagi kelas proletar dari lingkungan masyarakatnya.

Walaupun teori yang dikembangkan Marx banyak mendapat kritikan, namun lebih dari itu yang terpenting, Marx telah memberikan sumbangan bagi muncul dan berkembangnya sosiologi politik yang tercermin pada teori umumnya tentang dialektika materialisme dan teori-teori khususnya mengenai perjuangan kelas, alienasi dan sebagainya; yang dapat merangsang timbulnya karya-karya lain dalam bidang sama yang mendapatkan pengembangan di sana-sini.

Di samping memberikan sumbangan teori umum dan khusus, sosiologi di bawah pengaruh Marx mendapatkan pengayaan dalam bidang metodologi. Hal ini cukup berarti bagi pengakuan karya Marx dalam sosiologi politik, bahwa ia tidak sekedar mendasari karyanya lewat deskripsi-deskripsi hampa, melainkan selalu memberikan kerangka dasar dan cara kerja terhadap teori-teorinya dengan jalan memunculkan pembuktian dan cara pengujiannya secara sistematis dan terkesan amat jeli dan teliti.

Kendati pada sisi-sisi lain, hadirnya Max Weber merupakan kritik terhadap Marx, tetapi patut diakui terdapat sejumlah upaya pengembangan yang dilakukannya yang sangat berarti bagi perkembangan sosiologi politik. Max Weber mendasari teori sosiologi politiknya pada status atau posisi

(15)

individual di tengah masyarakat; yang saling berganti dan kadang tumpang tindih. Bagi Weber, antara status, posisi dan struktur sosial satu sisi dapat dipisah-pisahkan, namun pada sisi lain terkadang merupakan suatu system yang sulit diidentifikasikan.

Hal tersebut dapat diamati melalui metodologinya dalam sosiologi politik ini. Dalam metodologinya, Weber menyatakan politik atau perjuangan bersama-sama berintikan melaksanakan politik atau perjuangan untuk pendistribusian kekuasaan di dalam suatu kekuasaan besar (negara) maupun kekuasaan kecil (kelompok-kelompok).

Barangkali sumbangan Weber dalam sosiologi politik begitu mencolok ketika ia mengemukakan konsep mengenai legitimasi. Menurutnya, ada tiga legitimasi yang dapat dipahami sebagai pemetaan sosiologi politik, yakni:

1. Dominasi Tradisional

Dominasi tradisional adalah legitimasi berdasarkan suatu kewibawaan yang dapat diperoleh melalui adat-istiadat atau kebisaan yang karenanya seseorang mendapatkan pengakuan untuk melaksanakan penyesuaian diri. Dominasi semacam ini tidak menimbulkan banyak pertanyaan di tengah-tengah masyarakat, karena dengan dalih untuk mempertahankan tradisi leluhur dan adat istiadat serta budaya. Apabila dominasi semacam ini yang terjadi maka seseorang yang berkuasa akan dikukuhkan menjadi penerus tradisi nenek moyang menjadi; kepala suku, raja, dan lain sebagainya.

2. Dominasi Karismatik

Dominasi diri adalah legitimasi berdasarkan kewibawaan yang diperoleh lewat keanggunan pribadi yang luar biasa hingga mencapai adi-manusiawi dan adi-kodrati, dan

(16)

ketaatan serta kepercayaan kepada wahyu yang bersifat mutlak. Dalam anti, lewat keluarbisaan ini seseorang individu mendapatkan legitimasi dalam proses kekuasaan di tengah masyarakat inilah yang disebut sebagai kharisma.

Karisma terbagi menjadi dua yaitu karisma murni

“pure charisma” dan karisma rutinisasi “rutine charisma”.

Gambaran tentang karisma di atas menunjukan seuatu kecenderungan bahwa charisma bersifat individual.

Waber menjelaskan, ada kekhawatiran baik dari tokoh karismatik, anggota keluarga maupun masyarakat sebagai pengikut akan keterbatasan umur sang pemilik karisma.

Maka masyarakat/pengikut beranggapan bahwa akan ada penerus karisma, karisma dianggap menurun atau pewarisan karisma bahkan pelembagaan karisma (kerajaan, suku, organisasi dan lain-lain). Inilah yang disebut dengan rutinisasi karisma. Semakin sering dan terbiasa penurunan atas otoritas, tidak menutup kemungkinan menjadi otoritas tradisional.

3. Dominasi Legalitas Rasional

Legitimasi akan diperoleh oleh seseorang apabila ia menyandarkan diri pada kepatuhan akan undang-undang atau peraturan-peraturan yang dibuat secara rasional.

Tanpa adanya keabsahan melalui undang-undang dan seperangkat aturan maka seseorang sulit akan memperoleh legitimasi kekuasaan di tengah masyaraktnya.

Perkembangan itu segera menemukan bentuknya setelah pemikiran politik memperlakukan hubungan antara civil society dengan negara dalam cara yang berbeda. Pencetus awalnya adalah Tacqueville. Pandangan Tacqueville difokuskan pada masalah pembangunan demokrasi dan pembentukan masyarakat modern di Perancis, Inggris, dan Amerika.

(17)

Gerakan demokrasi (suatu fenomena gerakan politik modern), menurutnya ditunjukkan untuk menghasilkan pembedaan persamaan sosial dengan cara menghasilkan pembedaan kedudukan karma keturunan, penghargaan dan penghormatan yang melekat pada setiap anggota masyarakat. Disinilah barangkali Tacqueville telah masuk dalam perkembangan sosiologi modern (Bottomore, 1992).

Letak kemodernannya pada upayanva amok menghindarkan pengelompokan masyarakat politik secara diskriminatif seperti secara eksplisit maupun implisit- dijumpai pada Marx maupun Weber, juga pemikiran demokrasi nyatanya merupakan pemikiran yang paling laris di panggung politik, pada tataran global, regional, maupun nasional. Sebuah percobaan, dilaksanakan dan direncanakan, nampak lebih banyak ingin diupayakan oleh negara-negara modern, ketimbang menantang secara ekstrem ide demokrasi (Martino, 2008).

Perkembangan berikutnya sosiologi politik dapat diamati pada beberapa ilmuwan beserta pemikirannya sebagai berikut.

1. Goentano Mosca

Mosca ingin menekankan pentingnya independensi.

Independensi yang diinginkan Mosca ini menunjukkan pemikiran Marx yang menjelaskan sistem perlawanan dan berkelas-kelas. Jelasnya, kendati realitas masyarakat politik menunjukkan pelapisan-pelapisan yang cenderung diskriminatif, namun menurut Mosca semua dapat dilaksanakannya dengan cara membangun perimbangan kekuatan dan kekuasaan.

(18)

2. Karl Popper

Secara ekstrim, Popper menyebut teori Marxis tentang masyarakat politik dianggap menunjukkan

“inpotensi semua politik”, selama sistem politik dan trasformasinya masih ditentukan oleh kekuatan-kekuatan non politis. Jelasnya Popper ingin melihat persoalan politik adalah politik yang hanya bisa ditafsirkan lewat kesamaan umum dalani realitas sosial masyarakat politik.

3. Vilfredo Pareto

Pareto ingin menyatakan bahwa betapa pentingnya adanya suatu elite dalam kekuasaan. Karena elite politik mampu diwujudkan sebagai suatu fakta kehidupan sosial yang universal, tidak berbeda, dan tidak dapat berubah yang eksistensinya tergantung pada perbedaan-perbedaan psikologis antar individu.

Dalam pemikiran Pareto tercermin bahwa kekuasaan politik dalam masyarakat akan terwujud apabila ditegakkan melalui konsep “pemimpin” dan “dipimpin”; sebagai unsur dominan mekanisme politik dalam masyarakat yang tidak semata berguna bagi efektivitas mesin politik, melainkan suatu jawaban adanya tertib politik dalam masyarakat.

Gagasannya yang terkenal mengenai teori skala 20-80, di mana dua puluh persen elite menguasai sumberdaya baik ekonomi, budaya sosial maupun politik, sedangkan sisianya delapan puluh persen diperebutkan masyarakat biasa, masyarakat miskin yang di pimpin.

4. Michel Foucault

Foucault lahir di Poitier, Prancis 1926, menghabiskan waktunya memperhatikan masalah kekuasaan, karya- karyanya memperlihatkan bahwa persoalan hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan menjadi tema sentral

(19)

dalam studinya. Ia terkenal sebagai seorang filsuf, sejarawan, serta komentator bahasa yang ulung. Pemikirannya mempengaruhi, terutama perkembangan ilmu sosial kemanusiaan, kemudian menjadi tantangan di dunia antropologi dan sosiologi politik serta kajian kebudayaan.

Berbeda dengan pendahulunya, Weber dan Marx, ia tidak hanya melihat siapa yang memiliki kekuasaan, atau dari mana sumber kekuasaan itu berasal, justeru menyodorkan pertanyaan bagaimana kekuasaan beroperasi atau dengan cara apa kekuasaan itu dioperasikan. Konsep kekuasaan dalam masyarakat modern bukan sovereign power tetapi disciplinary power. (Abdil Mughis Mudhoffir, 2013: 79).

Tampaknya telah terjadi pergeseran terhadap fokus analisa tentang kekuasaan, sovereign power itu negatif dalam arti, Foucault menyebut penundukan individu atas kepatuhannya terhadap hukum.

Berbeda dengan sovereign power, disciplinary power menurutnya adalah hal yang produktif, dengan argumentasi bahwa penundukan individu melalui mekanisme pengawasan yang terinternalisasikan sebagai proses normalisasi beroperasinya kekuasaan terhadap tubuh. Itu sebabnya menurut Foucault individu modern sebagai kendaraan bagi kekuasaan dan objek bagi pengetahuan.

Perkembangan terakhir sosiologi politik jelas menunjukkan beragamnya teori, metodologis dan beragamnya paradigma. Cara menelaahnya, ditunjukkan oleh Bottomore (1992), yakni bahwa semuanya itu merupakan masalah dan jalan keluar yang membentuk suatu lapangan bagi penyelidikan ilmiah. Tugas para penstudi sosiologi politik adalah mengkonfrontif sernua perkembangan itu dengan memandangnya dalam kerangka proses sejarah perubahan secara terus-menerus sebagai pertanda

(20)

kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya dalam sosiologi politik. Melalui perkembangan itu pula, akan diketahui betapa luasnya cakupan sosiologi politik itu.

Dalam kajian sosiologi politik, terdapat aliran-aliran pemikiran yang begitu luas. Meskipun demikian, setidaknya sampai saat ini para ilmuwan sosiologi politik - seperti Maurice Duverger, Michael Rush, Phillip Althoff maupun Tom Bottomore - belum meringkas secara rinci dan sistematis tentang apa yang disebut aliran pemikiran sosiologi politik. Kendati demikian, sejak permulaan tumbuh sampai perkembangannya, setidak-tidaknya dapat diidentifikasikan beberapa aliran yang meliputi positivisme, marxisme, empirisme dan struktualisme. Walaupun mungkin pembaca acapkali kabur membedakannya, penulis ingin menerangkan pembatas itu dan sedapat mungkin mencari benang merah pembedaannya.

a. Positivisme

Akar positivisme berangkat dari pemikiran bahwa tidak ada perbedaan-perbedaan penting antara ilmu sosial dan ilmu alam, karenanya aliran ini bermaksud menyajikan suatu hubungan kausal terhadap peristiwa-peristiwa sosial.

Positivisme memandang bahwa studi tentang masyarakat manusia merupakan upaya pemahaman tentang pengertian tindakan yang diatur dengan hukum dan dilakukan dengan sengaja. Namun demikian, sepanjang perkembangannya, dalam teori politik itu sendiri terjadi perdebatan yang cukup mendalam dan sistematis seperti dalam karya Poulantzas dan sejumlah tokoh lainnya mengenai negara dan dalam pembahasan Habermas tentang legitimasi.

(21)

Positivisme sering dituding telah melahirkan reorientasi radikal ilmu politik, careen ia cenderung mengarah pada sudut pandang ilmu alam. Rumusannya yang mesti mendapatkan perhatian terhadap perilaku politik dibandingkan dengan struktur formal dari lembaga-lembaga, dapat diikuti dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan apakah perilaku dipandang sebagai aktivitas fisik yang dapat diamati dan yang dapat dijelaskan secara kasuistis, ataukah sebagai tindakan sengaja. Disinilah positivisme mendapatkan ruang bagi perdebatan.

b. Empirisme

Empirisme menyatakan pandangannya bahwa pengetahuan ilmiah haruslah didasarkan pada pengujian dan pengamatan melalui pengumpulan fakta tertentu yang terdapat secara pasti dalam ilmu-ilmu sosial. Hal ini yang ditandaskan dalam empirisme adalah bahwa suatu ilmu pengetahuan bukanlah berkembang melalui pengumpulan fakta-fakta yang dapat diobservasi secara langsung, tetapi melalui elaborasi konsepkonsep yang merumuskan fakta dan menentukan kedudukannya.

Dalam empirisme, aktivitas teoritis akan mencakup penemuan dan analisa terhadap suatu realitas di luar apa yang diterima dengan segera. Seperti dikatakan Maurice Godelier (1974), bahwa perbedaan tegas antara pandangan kaum strukturalis dengan empiris terletak pada struktur sosialnya.

Pendapat tersebut nampak relevan dengan empirisme.

Berbagai usaha berikutnya telah dilakukan, terutama yang dibahas dalam Lakatos dan Musgrave dalam karyanya

“Criticism and Growt of Knowledge” untuk merumuskan berbagai versi pengertian testabilitas empiris yang lebih jitu.

(22)

c. Strukturalisme

Strukturalisme seringkali menempatkan dirinya dalam sosok yang berlainan dengan empirisme. Permasalahannya tidak berkaitan dengan perbedaan di antara ilmu-ilmu yang bersifat umum dan yang bersifat khusus, yakni suatu perbedaan yang terfokus pada ilmu alam dengan ilmu sosial, lebih dari itu dapat diamati pada sifat ilmu pengetahuan umum tentang masyarakat.

Perbedaan itu nampak pada perumusan pernyataan universal tentang struktur-struktur sosial dan unsur-unsurnya (misalnya; tentang struktur kekerabatan, hubungan- hubungan politis dan struktur-struktur dalam sistem politik yang berbeda), juga perbedaan itu terletak pada kultural codes (ciri kultural). Atau sebaliknya, bahwa untuk merumuskan prinsip-prinsip evolusi sejarah sebagaimana banyak ditelaah kaum evolusionis sosial.

Pada strukturalisme, sumber-sumber utamanya dalam hal struktur antropologi dan linguistik; yang dapat ditelusuri dalam doktrin epistimologis Perancis, khususnya dalam karya Bachelard.

d. Marxisme

Kendati Marxisme harus disebut sebagai aliran awal sosiologi politik, namun yang ingin ditekankan di sini bahwa aliran sebelumnya (positivisme, empirisme dan strukturalisme) sebagaimana ditempatkan oleh Tom Bottomore (1992) dipandang sebagai kritik terhadap Marxisme.

Sebab harus diakui bahwa Marxisme merupakan inti pusat konsep-konsep dan proposisi-proposisi teoritis. Namun hal ini tidak berarti akan mampu menyelesaikan permasalahan secara utuh. Sehingga pada tingkat yang lebih umum dapat dibedakan secara keseluruhan dengan semua aliran di luar

(23)

Marxis. Terlebih aliran Marxis dengan non Marxis tidak selalu jelas dan tidak dapat ditegaskan batasan-batasannya - kalau memang harus disebut masih terkait.

Selama Marxisme dapat dibedaksn sebagai sebuah paradigma umum yang bersifat saling berbeda dengan paradigma Iainnya, maka mau tidak mau akan melibatkan dua karakteristik khusus yang tidak semata-mata bersifat teoritis atau metodologis. Pertama, hubungan Marxis dengan kehidupan sosial praktis. Kedua, terletak pada orientasi idieologisnya. Karena itu, perbedaan antara Marxisme dengan aliran pemikiran lainnya bukanlah dalam satu kasus hubungan antara teori dengan praktek, karma hubungan semacam ini terdapat dalam semua pemikiran sosial walaupun dalam tingkat kejelasan yang berbeda- beda.

Menanggapi Marxisme sebagaimana ditandaskan oleh Lukacs (1968), bahwa Marxisme pada hakekatnya tidak lebih dari sekedar ekspresi pemikiran tentang proses revolusi. Hal yang berguna dari Marxisme, bahwa Marxisme memberikan kerangka fundamental terhadap bentuk-bentuk masyarakat, menguatnya segala keyakinan, memunculkan jenis masyarakat baru sehingga jelas-jelas mengarahkan kepada adanya tindakan politik dalam masyarakat.

Lebih dari itu, Marxisme patut dicatat sebagai aliran pemikiran sosiologi politik, menurut Rush & Althoff (1995), yang memberikan sumbangan di bidang metodologi.

Usaha pengembangannya mengenai “sosialisasi ilmiah”

memberikan standar keilmuan dan metode-metode yang menjadi rujukan bagi ilmuwan-ilmuwan berikutnya.

Marxisme tergolong aliran pemikiran yang kokoh teori- teorinya dengan ciri kemampuannya menyajikan sejumlah

(24)

pembuktian dan mengujinya dengan cara yang sistematis dan teliti.

B. Teori-Teori dalam Sosiologi Politik 1. Teori perilaku sosial

Teori perilaku sosial dibangun dalam rangka menerapkan prinsip-prinsip psikologi perilaku kedalam sosiologi. Teori ini memusatkan perhatian kepada hubungan antara akibat dari tingkahlaku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkahlaku aktor. Akibat-akibat tingkahlaku diperlakukan sebagai variabel independen, artinya teori ini berusaha menerangkan tingkahlaku yang terjadi melalui akibat-akibat yang mengikutinya kemudian (Ritzer, 1985 : 86).

Behaviorisme sangat terkenal dalam psikologi, sehingga berpengaruh langsung terhadap perilaku sosial (Bushell dan Burgess, 1969, dan Baldwin dan Baldwin, 1986) dan berpengaruh secara tidak langsung terhadap teori pertukaran. Perilaku sosial memusatkan perhatian pada hubungan antara pengaruh perilaku seorang aktor terhadap lingkungan dan dampak lingkungan terhadap perilaku aktor (Ritzer, 2005 : 356).

Hubungan aktor dengan lingkungan ini menjadi dasar bagi pengondisian pelaku atau merupakan proses belajar ketika perilaku dimodifikasi oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkannya (Baldwin dan Baldwin, 1986 : 6).

Mungkin kebanyakan orang menganggap perilaku ini paling tidak pada masa awal anak-anak, sebagai perilaku acak. Lingkungan tempat adanya perilaku tersebut, apakah lingkungan fisik atau lingkungan sosial dipengaruhi oleh perilaku dan kemudian “memantulkannya” balik dengan berbagai cara. Reaksi negatif, positif atau netral akan sangat mempengaruhi aktor. Jika reaksi tersebut menguntungkan

(25)

aktor, perilaku yang sama cenderung dilakukan di situasi yang mirip di masa depan. Jika reaksi tersebut menyakitkan atau membebani, maka perilaku tersebut cenderung tidak dilakukan lagi di masa depan (Ritzer, 2008 : 448).

Teori perilaku sosial tertarik pada hubungan antara sejarah reaksi lingkungan atau konsekuensi dengan sifat perilaku yang saat ini dilakukan. Konsekuensi-konsekuensi di masa lalu dari perilaku tertentu membentuk keadaan sekarang. Dengan mengetahui apa yang menimbulkan perilaku tertentu di masa lalu, kita dapat memprediksi apakah seorang aktor akan menjalankan perilaku yang sama saat ini.

Yang sangat menarik perhatian kalangan behavioralism adalah imbalan (atau dorongan) dan ongkos (hukuman).

Imbalan didifinisikan oleh kemampuannya memperkuat (yaitu, mendorong) perilaku, sementara itu ongkos mengurangi kecendrungan dilakukannya suatu perilaku. Konsep dan gagasan tentang imbalan dan ongkos inilah yang berdampak besar pada teori pertukaran (Ritzer, 2008 : 448).

Dengan demikian perilaku politik dan preferensi politik Tuan Guru Pondok Pesantren dalam pemilu kepala daerah di Kabupaten Lombok Barat dengan mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati, bukan merupakan perilaku atau preferensi yang tiba-tiba muncul, namun perilaku politik dan preferensi politik Tuan Guru tersebut dirintis dari sejak awal dan berangkat ketidak puasan terhadap realitas sosial masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu, hal tersebut dapat di jelaskan menggunakan analisis teori sosiologi perilaku ini.

(26)

2. Teori Perilaku Rasional

Weber menyatakan bahwa tindakan sosial seseorang menurut kadar rasionalitas yang dikandungnya (the degree of rationality) dipengaruhi oleh empat factor (Johnson, 1994: 220-222). Pertama, tindakan rasional instrumental (Zweck rational); tindakan sosial yang mendasarkan pada pertimbangan-pertimbangan manusia yang rasional di dalam merespon kondisi eksternalnya (termasuk tanggapan terhadap orang lain di luar dirinya dalam upaya mencapai tujuan maksimal dengan pengorbanan seminimal mungkin).

Dalam pemilihan kepala daerah misalnya, berbagai calon bermunculan. Karena individu dipandang memiliki bermacam-macam tujuan yang mungkin diinginkan, dan atas dasar suatu kriterium menentukan satu pilihan diantara tujuan-tujuan yang saling bersaingan tersebut, maka individu lalu menilai calon kepala daerah yang mungkin dapat menyalurkan aspirasinya.

Kedua, tindakan rasional yang berorientsi nilai (Wert rational); adalah tindakan yang mendasarkan diri pada keyakian akan nilai-nilai obsolut tertentu, seperti nilai keagamaan, etika dan estetika atau nilai lainnya yang diyakini.

Dalam komunitas NU misalnya, terdapat kepercayaan tentang bagaimana mengemukakan pendapat di depan seorang kiai atau bersalaman dengan kiai. Bila seseorang mengungkapkan pendapatnya menyalahi pendapat kiai atau bersalaman tanpa mencium tangan kiai, maka orang tersebut akan mendapatkan predikat “tidak sopan” (su’ul adab) atau “merendahkan kiai”. Karena itu, pendapat kiai merupakan pendapat yang benar dan kiai adalah sosok sakral yang bertuah. Begitu juga mentaati dan menghormati kiai --tanpa reserve sekalipun-- cepat atau lambat akan memperoleh berkah dalam hidupnya.

(27)

Ketiga, tindakan afektif (Affectual); tindakan sosial yang lahir dari adanya dorongan atau motivasi yang bersifat emosional yang dipengaruhi dan didominasi perasaan, nafsu, kebutuhan-kebutuhan psikologis atau kondisi-kondisi emosional tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Termasuk tipe tindakan ini adalah kekerasan fisik merusak benda-benda kelompok lain, tindakan-tindakan seksual, dorongan rasa marah terhadap seseorang dengan menghujat kelompok lain atau atau tindakan yang didasari oleh rasa cinta, kasih sayang dan sejenisnya.

Keempat, tindakan tradisional; tindakan sosisal yang berhubungan dengan orientasi atau dorongan tradisi --suatu kebiasaan bertindak yang berkembang di-- masa lampau berdasrkan pada hukum-hukum normatif yang menjadi kesepakatan masyarakat. Termasuk dalam tindakan ini misalnya bersalaman dengan kiai dengan mencium tangannya, patuh dengan fatwa kiai. Atau dengan bahasa yang berbeda, fatwa kiai tentang pemilihan kepala daerah harus diikuti, karena kedudukannya sebagai pewaris para Nabi (waratsat al anbiya’i).

Menurut Weber, keempat tindakan sosial seperti di atas itulah yang dapat mempengaruhi pola-pola hubungan sosial didalam struktur masyarakat. inti pemikiran Weber tersebut selanjutnya menjadi dasar bagi pengembangan teori teori pilihan rasional yang lahir kemudian.

Pendiri teori pilihan rasional adalah, James S. Colleman, ia meraih gelar Bachelor of Science dari Universitas of Purdue pada tahun 1949 dan bekerja sebagai ahli kimia untuk Easman Kodak sebelum masuk kedepartemen sosiologi Universitas Columbia pada tahun 1951, sehingga mendapatkan gelar Ph.D. dari Universitas Columbia pada tahun 1955, dan setahun kemudian ia memulai karir akademiknya

(28)

menjadi asisten profesor di Universitas Chicago, dan pada tahun 1973 ia kembali ke Universitas Chicago setelah 14 tahun menetap di Universitas Hopkins, dan melanjutkan karirnya di Chicago sampai akhir hayatnya. Ditahun yang sama ketika kembali ke Chicago, Coleman menjadi penulis junior (bersama S. M. Lipset dan Martin A. Trow) salah satu tulisannya yang menonjol dalam sejarah sosiologi industri, berjudul Union Democracy (merupakan disertasi Colleman di Universitas Columbia, yang dibimbing oleh Lipset. Colleman mengalihkan perhatiannya ke studi tentang pemuda dan pendidikan, hasil puncak dari karya Coleman berupa laporan kepada pemeritah federal (yang dikenal secara luas : Colleman Report), yang membantu pemerintah federal melahirkan kebijakan yang sangat kontroversial mengenai pengangkutan anak sekolah, dengan bus sebagai metode untuk mencapai persamaan hak menurut ras disekolah- sekolah Amerika (Ritzer, 2006 : 362).

Meskipun dipengaruhi oleh perkembangan teori pertukaran, teori pilihan rasional umumnya berada pada pinggiran aliran utama teori sosiologi (Hechter dan Kanazawa, 1997). Melalui upaya James Colleman, teori pilihan rasional menjadi salah satu teori hebat dalam teori sosiologi saat ini (chriss, 1995, Lindenberg, 2000, Tilly, 1997).

Dikatakan demikian karena pada tahun 1989, Colleman mendirikan jurnal Rationality and Society yang bertujuan menyebarkan pemikiran yang berasal dari perspektif pilihan rasional.

Karya-karya dari Colleman (Ritzer, 2006 : 363) antara lain adalah Union Democracy (disertasi, 1955) Colleman mendapat pengalaman praktis yang jauh lebih besar dari pada pengalaman sosiolog Amerika lainnya. Selanjutnya ia mengalihkan perhatiannya dari kehidupan praktis kesuasana

(29)

murni sosiologi matematika dengan hasil karyanya, Introduction to Mathematical Sociology yang terbit tahun 1964 dan The Mathematics of Collective Action terbit tahun 1973.

Social Theory – Social Research and a Theory of Action pada tahun 1986. Microfoundations and Macrosocial Behavior pada tahun 1987. Rasional and Soceity, pada tahun 1989. Beberapa tahun kemudian Colleman berpindah/beralih kepada teori sosiologi terutama teori pilihan rasional, dalam sebuah buku hasil karyanya yang berjudul Fundation of Social Theory pada tahun 1990. The Desaign of Organiazatin and the Right to Act, diterbitkan pada tahun 1993a. The Rasional Reconstruction of Soceity, pada tahun 1993b. Dan karyanya yang terakhir adalah A Vision of Sociology, pada tahun 1994.

Model teori pilihan rasional menjadi sangat berharga dalam analisis sosiologi (Wirawan, 2006 : 15) karena menyediakan aturan berdasarkan pengalaman dan praktek atau petunjuk praktis (rule of thumb) tentang bagaimana mekanisme suatu tindakan itu dipilih. Akan tetapi karena teori pilihan rasional memerlukan banyak faktor seperti pilihan yang diambil, maka unutk penjelasannya harus dibantu dengan model-model yang lain. Model pilhan rasional sangat penting untuk dipakai menjelaskan pertukaran sosial, dalam arti pemilihan tindakan pada situasi interaktif yang sangat dipengaruhi oleh upaya pemaksimalan menurut tujuan.

Dan model pilihan rasional merupakan mekanisme yang membutuhkan fakta-fakta eksternal tertentu (seperti tujuan dan makna tindakan) dalam hubungan ini, sedangkan teori- teori yang lain dibutuhkan untuk menjelaskan tujuan dan pengertian yang mempengaruhi situasi tertentu (Adipitoyo, 2003 : 26).

Prinsip dasar teori pilihan rational berasal dari teori ekonomi neoklasik (termasuk juga utilitarianisme dan teori

(30)

permainan, Levi et.al, 1990, Lindenberg 2001). Teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor. Aktor dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud. Artinya aktor mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan. Aktorpun dipandang mempunyai pilihan (atau nilai, keperluan). Teori pilihan rasional tidak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa yang menjadi sumber pilihan aktor. Yang penting adalah kenyataan bahwa tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan tingkatan pilihan actor (Ritzer, 2006 : 394).

Colleman dengan yakin mengatakan dengan pendekatan operasional yang dimulai dari dasar metodologi individualisme dan dengan menggunakan teori pilihan rasional sebagai landasan tingkat mikro untuk menjelaskan fenomena tingkat makro, fenomena makro itu harus dijelaskan oleh faktor internalnya sendiri, khususnya oleh faktor individual.

Adapun alasan Colleman menyukai bekerja pada tingkat individual karena data biasanya dikumpulkan ditingkat individual dan kemudian disusun untuk menghasilkan data ditingkat sistem sosial, dan alasan yang lain adalah karena intervensi dilakukan untuk menciptakan perubahan sosial.

Inti dari perspektif Colleman adalah gagasan bahwa teori sosial tidak hanya merupakan latihan akademis, akan tetapi harus dapat mempengaruhi kehidupan sosial melalui intervensi tersebut. Dengan demikian teori pilihan rasional Colleman (1990 :13) tampak jelas dalam gagasan dasarnya bahwa tindakan perseorangan mengarah pada suatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi).

Ada dua unsur dalam teori ini, yaitu aktor dan sumberdaya. Sumber daya adalah sesuatu yang menarik

(31)

perhatian dan yang dapat dikontrol oleh aktor. Colleman menjelaskan terjadinya interaksi antara aktor dan sumber daya secara rinci menuju tingkat sistem sosial : bahwa basis minimal untuk sistem sosial tindakan adalah dua orang aktor, masing-masing mengendalikan sumber daya yang menarik perhatian pihak lain. Perhatian satu orang terhadap sumber daya yang dikendalikan orang lain itulah yang menyebabkan keduanya terlibat dalam tindakan saling membutuhkan.

Terlibat dalam sistem tindakan; selaku aktor mempunyai tujuan, masing-masing bertujuan untuk memaksimalkan perwujudan kepentingan yang memberikan ciri saling tergantung atau ciri sistemik terhadap tindakan mereka (Ritzer, 2006 : 394).

Sementara itu, para teoritisi sosiologi pilihan rasional seperti : Colleman, Emerson, Cook, M. Blau dan Von Mises, menyatakan pandangan yang sama, bahwa model pilihan rasional ingin berupaya menunjukkan, bahwa : 1) dasar fenomena sosial itu nyata. 2) para aktor bertindak untuk tujuan mengejar kepentingan secara rasional. 3) kecanggihan individualisme metodologis. 4) fokus analisis lebih pada aktor dan strateginya dari pada sistem secara keseluruhan dan. 5) penggunaan logika deduksi untuk menjelaskan fenomena (Mozelis, 1995, dalam Wirawan, 2006 : 16).

Sedikitnya ada tiga proposisi Colleman, yang mampu menggambarkan bentuk ideal penjelasan peristiwa, yaitu sebagai berikut:

1. Proposisi makro ke mikro, yang mengungkapkan pengaruh faktor tingkat masyarakat terhadap individu.

2. Proposisi mikro ke makro, yang menggambarkan proses- proses pada tingkatan mikro.

(32)

3. Proposisi mikro ke makro, yang menunjukan bagaimana sejumlah peristiwa pada tingkat individu akan menghasilakan perubahan-perubahan pada tingkat masyarakat (Mozelis, 2006 : 16).

Penekanan perhatian Colleman pada tindakan rational individu terletak pada hubungan mikro – makro atau bagaimana gabungan tindakan individual menimbulkan prilaku sistem sosial. Meski ia memperioritaskan masalah ini, Colleman juga memperhatikan hubungan makro- mikro, atau bagaimana sistem bisa memaksa orientasi aktor.

Walaupun demikian, meski memperhatikan kesimbangan antara mikro dan makro, terdapat tiga kelemahan dari pendekatan Colleman ini : Pertama, ia memberikan perioritas perhatian yang berlebihan terhadap masalah hubungan mikro dan makro dan dengan demikian memberikan sedikit perhatian terhadap hubungan lain. Kedua, ia mengabaikan masalah hubungan makro dan makro. Ketiga, hubungan sebab akibat hanya menunjuk pada satu arah; dengan kata lain ia mengabaikan hubungan dialektika dikalangan dan diantara fenomena mikro-makro (Ritzer, 2006 : 395).

Teori pilihan rasional sering pula disebut sebagai teori tindakan rasional, teori ini pada awalnya berpengaruh kuat pada analisis-analisis ekonomi, tetapi kemudian diadopsi pula oleh sosiologi, psikologi dan ilmu politik bahkan ilmu humaniora. Meskipun teori pilihan rasional ini awalnya berakar pada sosiologi Max Weber, tetapi didalam sosiologi populer sekitar tahun 1990-an, mulai masuk kedalam Asosiasi Sosiologi Amerika setelah munculnya penerbitan jurnal Rationality and Society pada tahun 1989 dan berdirinya seksi pilihan rasional pada tahun 1994 dinegara tersebut (Wirawan, 2006 : 25).

(33)

Teori pilihan rasional dalam penelitian ini akan dipergunakan sebagai dasar untuk menganalisa perilaku politik Tuan Guru Pondok Pesantren mengapa Tuan Guru Pondok Pesantren Mundur dari dunia politik ketika pada masa Orde Baru, mengapa sebagian Tuan Guru Juga melakukan kompromi-kompromi politik. Dan ketika orde reformasi bergulir mengapa Tuan Guru mengambil keputusan kembali kedalam dunia politik praktis baik di level legislatif maupun di level eksekutif.

3. Teori pertukaran sosial

Inti teori pertukaran Homans terletak pada sekumpulan proposisi fundamental. Meski beberapa proposisinya menerangkan setidaknya dua individu yang berinteraksi, namun ia dengan hati-hati menunjukkan bahwa proposisi itu berdasarkan prinsip psikologis. Menurut Homans proposisi itu bersifat psikologis karena dua alasan. Pertama, proposisi itu biasanya dinyatakan dan diuji secara empiris oleh orang yang menyebut dirinya sendiri psikolog. Kedua, dan yang lebih penting, proposisi itu bersifat psikologis karena menerangkan fenomena individu dalam masyarakat. Atas dasar pemikirannya ini, Homans mengakui telah menjadi seorang reduksionis psikologi. Reduksionisme menurut Homans adalah proses yang menunjukkan bagaimana proposisi yang disebut satu ilmu logikanya berasal dari proposisi yang lebih umum yang disebut ilmu lain (Ritzer, 2008 : 450).

Walau Homans membahas prinsip psikologis, namun ia tak membayangkan individu dalam keadaan terisolasi.

Ia mengakui bahwa manusia adalah makhluk sosial dan menggunakan sebagian besar waktu mereka berinteraksi dengan manusia lain. Ia mencoba menerangkan perilaku sosial dengan prinsip-prinsip psikologi. Homans tidak

(34)

menolak pendirian Durkheim yang menyatakan bahwa ciri- ciri yang baru muncul itu dapat dijelaskan dengan prinsip psikologi. Untuk menjelaskan fakta sosial tak diperlukan proposisi sosiologi yang baru.

Dalam sejumlah publikasi Homans merinci program untuk mengembalikan orang ke dalam sosiologi, tetapi ia pun mencoba mengembangkan sebuah teori yang memusatkan perhatian pada psikologi, manusia dan bentuk- bentuk mendasar kehidupan sosial. Menurut Homans, teori ini membayangkan perilaku sosial sebagai pertukaran aktivitas, nyata atau tak nyata, dan kurang lebih sebagai pertukaran hadiah atau biaya, sekurang-kurangnya antara dua orang. Dalam Social behaviour: Its Elementary Forms, Homans menyatakan bahwa teori pertukarannya berasal dari psikologi perilaku dan ilmu ekonomi dasar (teori pilihan rasional). Sebenarnya Homans menyesal menamakan teorinya “teori pertukaran” karena ia melihatnya sebagai penerapan psikologi perilaku pada situasi khusus (Ritzer, 2008 : 452).

Homans memulai dengan membahas paradigma perilaku B.F. Skinner, khususnya tentang studi burung merpati skinner.

Dia tertarik pada contoh perilaku merpati ini; Homans memperhatikan perilaku manusia. Menurut Homans, merpati Skinner tidak terlibat dalam hubungan pertukaran yang sebenarnya dengan psikolog yang menelitinya. Merpati itu hanya terlihat dalam hubungan pertukaran satu pihak, sedangkan pertukaran manusia sekurangnya melibatkan dua pihak. Merpati diperkuat oleh biji, sedangkan psikolog sebenarnya tidak diperkuat oleh patukan merpati. Merpati melanjutkan hubungan dengan lingkungan fisik. Karena tak ada hubungan timbal balik, Homans mendefinisikan hubungan demikian sebagai perilaku individual. Homans

(35)

menyerahkan studi perilaku seperti itu kepada psikolog, dan ia mendesak agar sosiolog harus mempelajari perilaku sosial

“di mana aktivitas pihak lain dan dengan demikian saling mempengaruhi. Menurut Homans, yang penting adalah bahwa tak diperlukan proposisi baru untuk mejelaskan perbedaan perilaku sosial dan perilaku individual. Hukum perilaku individual seperti yang dikembangkan Skinner dalam studinya tentang merpati akan menerangkan perilaku sosial selama kita memperhatikan komplikasi penguatan mutualnya. Homans mengakui bahwa dengan berat hati akhirnya ia terpaksa meninggalkan prinsip yang berasal dari Skinner (Ritzer, 2008 : 453).

Dalam karya teoritisnya, Homans membatasi diri pada interaksi kehidupan sehari-hari. Namun, jelas ia yakin bahwa sosiologi yang dibangun berdasarkan prinsip yang dikembangkannya akhirnya akan mampu menerangkan semua perilaku sosial. Dalam hal ini Homans menggunakan contoh jenis hubungan pertukaran yang menjadi sasaran perhatiannya. Berdasarkan dari pemikirannya terhadap Skinner, Homans mengambangkan beberapa proposisi antara lain adalah:

Proposisi Sukses. Ada beberapa hal yang ditetapkan Homans mengenai proposisi sukses. Pertama, meski umumnya benar bahwa makin sering hadiah diterima menyebabkan makin sering tindakan dilakukan, namun pembahasan ini tak dapat berlangsung tanpa batas. Di saat individu benar-benar tak dapat bertindak seperti itu sesering mungkin. Kedua, makin pendek jarak waktu antara perilkau dan hadiah, makin besar kemungkinan orang mengulangi perilaku, dan begitu pual sebaliknya. Ketiga, menurut Homans, pemberian hadiah secara intermiten lebih besar kemungkinannya menimbulkan perulangan perilaku

(36)

ketimbang menimbulkan hadiah yang teratur. Hadiah yang teratur menimbulkan kejenuhan dan kebosanan, sedangkan hadiah yang diterima dalam jarak waktu yang tidak teratur sangat mungkin menimbulkan perulangan perilaku.

Proposisi Stimulus. Homans tertarik pada proses generalisasi dalam arti kecenderungan memperluas perilaku keadaan yang serupa. Aktor mungkin hanya akan melakukan sesuatu dalam keadaan khusus yang terbukti sukses di masa lalu. Bila kondisi yang menghasilkan kesuksesan itu terjadi terlalu ruwet maka kondisi serupa mungkin tidak akan menstimulasi perilaku. Bila stimuli krusial muncul terlalu lama sebelum perilaku diperlukan maka stimuli itu benar-benar tak dapat merangsang perilaku. Aktor dapat menjadi terlalu sensitif terhadap stimuli terutama jika stimuli itu sangat bernilai bagi aktor. Kenyataannya aktor dapat menanggapi stimuli yang tak berkaitan, setidaknya hingga situasi diperbaiki melalui kegagalan berulang kali.

Semuanya ini dipengaruhi oleh kewaspadaan atau derajat perhatian individu terhadap stimuli.

Proposisi Nilai. Disini Homans memperkenalkan konsep hadiah dan hukuman. hadiah adalah tindakan dengan nilai positif; makin tinggi nilai hadiah, makin besar kemungkinan mendatangkan perilaku yang diinginkan. Hukuman adalah tindakan dengan nilai negatif; makin tinggi nilai hukuman berarti main kecil kemungkinan aktor mewujudkan perilaku yang tak diinginkan. Homans menemukan bahwa hukuman merupakan alat yang tak efisien untuk membujuk orang mengubah perilaku mereka karena orang dapat bereaksi terhadap hukuman menurut cara yang tak diinginkan. Sebenarnya lebih baik tak memberikan hadiah terhadap perilaku yang tak diinginkan; perilaku demikian akhirnya akan dihentikan. Hadiah jelas lebih disukai,

(37)

tetapi persediaannya mungkin sangat terbatas. Homans menjelaskan bahwa teorinya sebenarnya bukanlah teori hedonistis; hadiah dapat berupa amateri atau altruistis.

Proposisi Agresi dan Pujian. Dalam hal ini Homans mendefinisikan dua hal penting lainnya: biaya dan keuntungan. Biaya tiap perilaku didefinisikan sebagai hadiah yang hilang karena tidak jadi melakukan sederetan tindakan yang direncanakan. Keuntungan dalam pertukaran sosial dilihat sebagai sejumlah hadiah yang lebih besar yang diperoleh atas biaya yang dikeluarkan. Yang terakhir ini menyebabkan Homans menyusun kembali proposisi kerugian-kejemuan sebagai berikut : makin besar keuntungan yang diterima seseorang sebagai hasil tindakannya, makin besar kemungkinan ia melaksanakan tindakan itu.

Kita akan kaget menemukan konsep frustasi dan marah dalam karya Homans karena konsep itu rupanya mengacu pada keadaan mental. Homans menambahkan, bila seseorang tak mendapatkan apa yang ia harapkan, ia dikatakan menjadi kecewa, frustasi. Pengamat behaviorisme yang mempertahankan kemurnian bahasa, sama sekali takkan mengacu pada keadaan mental. Homans lalu menyatakan bahwa frustasi terhadap harapan seperti itu, tak selalu hanya mengacu pada keadaan internal. Kekecewaan dapat pula mengacu pada seluruh kejadian eksternal, yang tak hanya dapat diamati oleh Person saja tetapi juga oleh orang lain.

Proposisi Rasionalitas. Homans menghubungkan proposisi rasionalitas dengan proposisi kesuksesan, dorongan, dan nilai. Proposisi rasionalitas menerangkan kepada kita bahwa apakah orang akan melakukan tindakan atau tidak tergantung pada persepsi mereka mengenai peluang dan sukses. Tetapi, apa yang menentukan persepsi ini? Homans menyatakan persepsi mengenai apakah peluang sukses

(38)

tinggi atau rendah ditentukan oleh kesuksesan di masa lalu dan kesamaan situasi kini dengan situasi kesuksesan di masa lalu. Proposisi rasionalitas juga tak menjelaskan kepada kita mengapa seorang aktor menilai satu hadiah tertentu lebih daripada hadiah yang lain, Homans menghubungkan prinsip rasionalnya dengan proposisi behavioristiknya (Ritzer, 2008 : 453-457).

Dalam peneltian ini, teori pertukaran akan dipergunakan untuk membidik dan menganlisa perilaku dan preferensi politik Tuan Guru Pondok Pesantren, ketika mereka melakukan sosialisasi dan mengkonsolidasi dukungan masyarakat, apakah dukungan masyarakat yang diharapkan oleh Tuan Guru Pondok Pesantren itu dianggap sebagai sebuah pertukaran jasa dari kegiatan pembinaan dan pengayoman Tuan Guru Pondok Pesantren terhadap masyarakat selama ini.

4. Teori Perubahan Sosial

Perubahan sosial dapat terjadi baik direncanakan maupun tidak direncanakan, dan bisa terjadi secara cepat maupun lambat, sangat tergantung faktor-faktor dan lingkungan yang mempengaruhinya. Perubahan sosial dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan manusia. Ruang gerak perubahan itupun juga berlapis-lapis, dimulai dari kelompok terkecil atau dimulai dari tingkat individu, keluarga hingga tingkat dunia (Karisi, 2005 : 136).

Launer juga mengatakan bahwa tingkat analisis perubahan sosial yang terkecil adalah individu, kemudian ditambah dengan tingkat interaksi, organisasi, institusi, komunitas, masyarakat, kebudayaan, peradaban dan pada tingkat dunia (global). Perubahan sosial dapat dipelajari pada suatu tingkat tertentu dengan menggunakan

(39)

berbagai kawasan study dan berbagai satuan analisis (Luaner, 1993 : 73). Ada beberapa sosiolog memberikan beberapa definisi perubahan sosial yang dapat membantu kita untuk lebih mudah memahami apa sebenarnya perubahan sosial tersebut, adalah sebagai berikut :

1. William F.Ogburn mengemukakan bahwa ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.

2. Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

3. MacIver mengatakan perubahan-perubahan sosial merupakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.

4. JL.Gillin dan JP.Gillin mengatakan perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

5. Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjukkan pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.

6. Selo Soemardjan, Rumusannya adalah segala perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan

(40)

pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian perubahan sosial adalah perubahan perubahan yang terjadi pada masyarakat yang mencakup perubahan dalam aspek- aspek struktur dari suatu masyarakat, ataupun karena terjadinya perubahan dari faktor lingkungan, karena berubahnya komposisi penduduk, keadaan geografis, serta berubahnya sistem hubungan sosial, maupun perubahan pada lembaga kemasyarakatannya (Luaner, 1993 : 97).

Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat, pada umumnya disebut dengan revolusi. Hal yang pokok dari revolusi adalah terdapatnya perubahan yang terjadi dengan cepat, di samping itu perubahan tersebut menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok dari kehidupan manusia.

Perubahan yang terjadi secara revolusi dapat direncanakan terlebih dahulu ataupun tidak direncanakan.

Perubahan yang terjadi secara revolusi, sebenarnya kecepatan berlangsungnya perubahan adalah relatif, dikarenakan ada suatu revolusi yang berlangsung lama. Misal, Revolusi Industri di Inggris yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dari proses produksi tanpa mesin, hingga proses produksi menggunakan mesin. Perubahan seperti ini dianggap perubahan yang cepat, karena mengubah sendi- sendi pokok kehidupan masyarakat, yaitu adanya sistem hubungan antara buruh dan majikan.

Dapat dikatakan telah terjadi suatu revolusi, bila telah memenuhi beberapa syarat yang meliputi:

1. Harus ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan. Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan, dan harus ada suatu

(41)

keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.

2. Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.

3. Pemimpin mana dapat menampung keinginan- keinginan masyarakat untuk kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas tadi menjadi program dan arah gerakan.

4. Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat. Artinya adalah bahwa tujuan tersebut terutama sifatnya kongkrit dan dapat dilihat oleh masyarakat. Di samping itu diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak, misalnya perumusan suatu ideologi tertentu.

5. Harus ada momentum, yaitu saat di mana segala keadaan dan faktor sudah tepat dan baik untuk memulai suatu gerakan. Apabila momentum keliru maka revolusi dapat gagal, contoh, Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan revolusi yang momentumnya amat tepat (Karisi, 2005 : 149).

Sedangkan perubahan-perubahan sosial yang berlangsung lama, dan merupakan serangkaian perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat, hal ini dinamakan dengan evolusi. Perubahan yang terjadi secara lambat atau evolusi, biasanya terjadi tanpa adanya rencana dulu. Evolusi pada umumnya terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kepentingan-kepentingan, keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru yang tumbuh seiring dengan pertumbuhan masyarakat. Rangkaian perubahan-perubahan itu tidak perlu sejalan dengan serangkaian peristiwa-peristiwa pada sejarah masyarakat yang bersangkutan.

(42)

Perubahan sosial yang besar pada umumnya adalah perubahan yang akan membawa pengaruh yang besar pada masyarakat. Misalnya terjadinya proses industrialisasi pada masyarakat yang masih agraris. Di sini lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terkena pengaruhnya, yakni hubungan kerja, sistem pemilikan tanah, klasifikasi masyarakat, dan yang lainnya (Karisi, 2005 : 161).

Sedangkan perubahan sosial yang kecil adalah perubahan- perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa akibat yang langsung pada masyarakat.

Misalnya, perubahan bentuk potongan rambut, tidak akan membawa pengaruhi yang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan tidak akan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Perubahan sosial yang direncanakan adalah, perubahan yang terjadi didalam masyarakat, dan hal ini terjadi karena telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang menginginkan adanya perubahan. Pihak yang menginginkan adanya perubahan itu disebut: dengan agent of change atau agen pembaharu. Agent of change, adalah seorang atau sekelompok orang yang memimpin masyarakat dalam merubah sistem sosial yang ada. Tentunya agent of change ini sudah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk memimpin adanya suatu perubahan. Agent of change selalu mengawasi jalannya perubahan yang dikehendaki atau direncanakan itu.

Sedangkan perubahan sosial yang tidak direncanakan adalah terjadinya perubahan-perubahan yang tidak direncanakan atau dikehendaki, dan terjadi diluar pengawasan masyarakat dan dapat menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Misalnya, terjadinya musim kemarau

(43)

yang berkepanjangan dan berakibat sulitnya mendapatkan penghasilan yang cukup hingga membuat banyak anggota masyarakat nekat melakukan tindakan-tindakan kriminal, hanya agar dapat memenuhi kelangsungan hidupnya (Luaner, 1993 : 103).

Perubahan yang dikehendaki dapat timbul sebagai suatu reaksi terhadap perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi pada waktu sebelumnya, baik itu merupakan perubahan yang direncanakan ataupun tidak direncanakan. Terjadinya suatu perubahan yang direncanakan, maka perubahan berikutnya merupakan perkembangan selanjutnya, hingga merupakan suatu proses. Tetapi, bila sebelumnya telah terjadi perubahan- perubahan yang tidak dikehendaki, maka perubahan yang dikehendaki dapat dianggap sebagai pengakuan terhadap perubahan-perubahan sebelumnya, hingga dapat diterima oleh masyarakat luas.

Dalam penelitian ini, keputusan Tuan Guru Pondok Pesantren kembali dalam politik praktis, ketika mulai bergulirnya reformasi dengan terjadinya perubahan sistem ketatanegaraan maka peneliti mencoba mendasari analisisnya dengan menggunakan teori perubahan sosial demikian halnya dengan pergeseran dan perluasan peran politik dari hanya sebagai aktor politik pada level legislatif kemudian menjadi aktor politik pada level eksekutif.

5. Teori Interkasi sosial

Pengertian interaksi sosial menunjuk pada hubungan- hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok, maupun antara orang perorangan dengan kelompok. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu.

(44)

Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi.

Interaksi sosial tidak selalu ditandai dengan mengadakan kontak muka atau berbicara, tetapi interaksi sosial bisa terjadi manakala masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan orang- orang yang bersangkutan, yang disebabkan misalnya karena bau minyak wangi. Hal itu bisa menimbulkan kesan di dalam fikiran seseorang, yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya.

Interaksi sosial menurut menurut Shaw (Ali, 2004 : 87) merupakan suatu pertukaran antarpribadi yang masing- masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka dan masing- masing perilaku mempengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini, tindakan yang dilakukan seseorang dalam suatu interaksi merupakan stimulus bagi individu lain yang menjadi pasangannya.

Interaksi Sosial dalam Perspektif Teori Interaksionisme Simbolik, bahwa dalam mempelajari interaksi sosial digunakan pendekatan tertentu, yang dikenal dengan nama interactionist perspektive. Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, dijumpai pendekatan yang dikenal dengan nama symbolic interactionism (interaksionisme simbolik). Pendekatan ini bersumber pada pemikiran George Herbert Mead. Dari kata interaksionisme tampak bahwa sasaran pendekatan ini adalah interaksi sosial; sementara kata simbolik mengacu pada penggunaan simbol-simbol dalam interaksi.

Simbol menurut Leslie White didefinisikan sebagai “a thing the value or meaning of which is bestowed upon by those who use it”. Jadi simbol merupakan sesuatu yang nilai atau

(45)

maknanya diberikan kepadanya oleh seseorang (mereka) yang mempergunakannya. Menurut White makna atau nilai tersebut tidak berasal dari atau ditentukan oleh sifat- sifat yang secara instrinsik terdapat di dalam bentuk fisiknya.

Makna suatu simbol, menurut White hanya dapat ditangkap melalui cara-cara non sensoris; melalui cara-cara simbolis.

Misalnya: makna suatu warna tergantung mereka yang mempergunakannya. Warna merah, misalnya dapat berarti berani (dalam bendera kita merah berarti berani, putih suci); namun dapat pula berarti komunis (kaum merah);

dapat pula berarti tempat pelacuran (daerah lampu merah).

Warna putih berarti suci; dapat pula berarti berkabung;

dapat pula berarti menyerah.

Makna-makna tersebut tidak dapat ditangkap dengan panca indera; sebagaimana dikemukakan oleh White bahwa makna-makna tersebut tidak ada kaitannya dengan sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat pada warna. Hal yang sama misalnya, air atau benda lain yang dianggap suci.

Kesucian hewan tertentu (misalnya sapi bagi orang India), atau benda lain (seperti air, patung) tergantung pada makna yang diberikan oleh pihak yang menggunakannya. Jadi kesucian suatu benda tidak ada hubungannya dengan sifat- sifat intrinsik yang melekat pada benda tersebut.

Herbert Blumer salah seorang penganut pemikiran Mead, berusaha menjabarkan pemikiran Mead mengenai interaksionisme simbolis. Menurut Blumer pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga:

1. Bagi Blumer manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. Dengan demikian tindakan (act) seorang penganut agama Hindu di India terhadap seekor sapi (thing) akan berbeda dengan tindakan

(46)

seseorang penganut agama Islam di Pakistan, karena masing-masing orang tersebut – memiliki makna (meaning) yang berlainan terhadap sapi.

2. Blumer mengemukakan bahwa makna yang dipunyai sesuatu tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya. Mengapa dalam masyarakat kita warna merah bermakna berani, dan putih suci? Mengapa orang yang ideologinya radikal sering disebut kiri? Makna yang diberikan orang pada konsep-konsep merah, putih, kanan, kiri ini muncul dari interkasi sosial, Keberanian tidak melekat pada warna merah (sebagai telah disebutkan, dalam konteks warna merah dapat pula diartikan sebagai komunisme atau tempat pelacuran) dan pandangan ideologis pun tidak ada kaitannya dengan arah kiri atau kanan.

3. Blumer mengemukakan bahwa makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative process), yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Yang hendak ditekankan Blumer di sini ialah bahwa makna yang muncul dari interaksi tersebut tidak begitu saja diterima oleh seseorang melainkan ditafsirkan terlebih dahulu.

Apakah seseorang akan menanggapi dengan baik ucapan

“selamat pagi” atau assalamualaikum, tergantung pada penafsirannya apakah si pemberi salam tersebut beritikad baik ataukah beritikad buruk (Ali, 2004 : 90-99).

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), pertentangan (conflict). Secara rinci menurut Park dan Burgess bentuk- bentuk interaksi sosial adalah sebagai berikut :

Referensi

Dokumen terkait

Sikap Pesantren dalam pengelolaan lingkungan hidup pada pondok pesantren di Kabupaten Lombok Barat berdasarkan nilai rerata dari 4 (empat) pondok pesantren tercantum

Pergeseran dan perubahan pemahaman wakaf tuan guru di Lombok terjadi karena memiliki latar belakang sangat beragam, yakni: Pertama, para tuan guru di Lombok memiliki

Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui perilaku dan partisipasi politik kiai di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak dalam Pemilihan Bupati

Pergeseran dan perubahan pemahaman wakaf tuan guru di Lombok terjadi karena memiliki latar belakang sangat beragam, yakni: Pertama, para tuan guru di Lombok memiliki

Literasi Media Digital Kandidat Presiden untuk Pemilu 2014 Sebelum melakukan studi literasi tentang Strategi Komunikasi Politik dan calon presiden melalui kegiatan pencitraan politik

Buku ini merupakan hasil penelitian kajian komprehensif tentang seorang ulama besar tuan guru pertama yang berasal dari Lombok, terlahir dari rahim sejarah peradaban masyarakat Islam di

5 Melihat kedudukan dan peran Tuan Guru yang mulia tersebut yang dianggap sebagai guru bangsa dalam masyarakat Lombok dan senantiasa mengajar umat sepanjang hidupnya tanpa mengharap

Peran Tuan Guru Di Bidang Pendidikan Peran Tuan Guru di dalam dunia pendidikan sangat berperan sekali sebab selain sebagai seorang pimpinan pondok pesantrennya Tuan Guru juga secara