• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of ADMINISTRASI PENDIDIKAN MADRASAH DINIYAH DALAM PERSPEKTIF SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL: STUDI TENTANG KELEMBAGAAN, KURIKULUM, DAN PENDIDIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of ADMINISTRASI PENDIDIKAN MADRASAH DINIYAH DALAM PERSPEKTIF SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL: STUDI TENTANG KELEMBAGAAN, KURIKULUM, DAN PENDIDIK"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

ADMINISTRASI PENDIDIKAN MADRASAH DINIYAH DALAM PERSPEKTIF SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL:

STUDI TENTANG KELEMBAGAAN, KURIKULUM, DAN PENDIDIK

Article details:

Received: 5 Nov 2019 Revision: 15 Nov 2019 Accepted: 5 Des 2019 Published: 31 Des 2019

After the promulgation of the Law of the Republic of Indonesia No. 18 of 2019 concerning Pesantren (Pesantren Law) dated October 16, 2019 it became very interesting because this Law was passed but its implementation still requires legal instruments. Many writings about this publication have graced scientific journals, books, and other works publications. Of course the reasons for the interest are very diverse, but at least there is something that unites from that diversity, namely the Administration of madrasa diniyah which is quite significant in the arena of national education struggle. That is, talking about the history of Indonesian education becomes tasteless without talking about madrasa diniyah including talking about madrasa diniyyah

administration. Without trying to exaggerate, the madrasa can be called diniyah is the pillar and pulse of Indonesian education.

The focus of this research is on the Administration of Madrasah Diniyah in the Perspective of the National Education System. Specifically, it will discuss two aspects, namely:

organization, curriculum (content standards), educators (educator standards).

This research, including the type of qualitative research is literature study. Data collection is done through documentary methods. Data analysis was performed with descriptive qualitative analysis with reflective thinking techniques, namely:

a combination of inductive and deductive ways of thinking.

Finally, it is concluded that: if it is examined from the perspective of the national education system, then the administration of madrasah diniyah institutions, the existence of the madrasah diniyah curriculum, the existence of madrasa diniyah educators, have not met the standards set in the national education system, and discussed about the legal umbrella accessed by madrasah diniyah increasingly influence, especially after the promulgation of Law No. 20 of 2003 and PP No. 55 of 2007.

Keywords : Educational administration, madrasah diniyah, national education system, Institutional, Curriculum, Educators

Hamdanah [email protected]

Dosen tetap Universitas Islam Jember

(2)

A. Latar Belakang Masalah

Pasca diundangkannya Undang undang Republik Indonesia no 18 tahun 2019 tentang Pesantren ( UU Pesantren ) pada tanggal 16 Oktober 2019 menjadi sangat menarik karena meskipun Undang undang ini sudah disyahkan namun implementasinya masih membutuhkan perangkat peraturan oprasional. Wacana seputar madrasah diniyah bukanlah sesuatu yang asing bagi peneliti pendidikan Islam. Banyak tulisan tentang persoalan ini telah ditemukan dalam jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku, dan publikasi karya lainnya di negeri ini. Banyak peneliti, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, tak henti-hentinya melakukan observasi- observasi untuk mempelajarinya secara lebih mendalam tentang persoalan madrasah diniyah. Wacana madrasah diniyah seolah menjadi magnit yang selalu menarik bagi para peneliti untuk diteliti dan dikaji. Meski terus dikaji, selalu saja ada sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan dan ditelusuri lebih lanjut.

Tentu saja alasan ketertarikan para peneliti itu amat beragam, namun paling tidak ada sesuatu yang menyatukan dari keberagaman itu, yaitu kedudukan madrasah diniyah yang cuknifikan dalam kancah pergulatan pendidikan nasional.

Artinya, berbicara tentang sejarah pendidikan Indonesia menjadi begitu hambar tanpa menyertakan madrasah diniyah. Tanpa berusaha melebih-lebihkan, bisa dibilang madrasah diniyah adalah sokoguru dan nadi pendidikan Indonesia.

Dalam sejarahnya, madrasah diniyah lahir dari rahim pondok pesantren, dengan cirinya yang khusus berbasis pengetahuan agama. Tidak heran jika pada masa pemerintahan kolonial, madrasah diniyah menjadi salah satu obyek yang terus diselidiki. kolonialisme memang mampu merubah sistem pendidikan Indonesia kearah sistem pendidikan “modern”, namun hal tersebut tidak mampu merubah madrasah sebagai fenomena budaya pendidikan Indonesia. Hal ini terlihat dengan eksisnya pendidikan madrasah dan madrasah diniyah sampai sekarang, yang bahkan secara kualitas dan kuantitas mampu bersaing dengan lembaga pendidikan umum. Fenomena tersebut patut direnungkan bersama,

(3)

bahwa keberadaan madrasah diniyah sebagai suatu sistem pendidikan berbasis pendidikan agama dan keagamaan adalah suatu yang menjadi identitas kependidikan bangsa.

Hal ini diperkuat, misalnya dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3): “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. Atas dasar amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahan Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20/2003, ps 31). Dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa strategi pertama dalam melaksanakan sistem pendidikan nasional adalah “pelaksanaan pendidikan agama dan akhlak mulia”.

Dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan dijelaskan, bahwa pendidikan keagamaan pada umumnya diselenggarakan oleh masyarakat sebagai perwujudan pendidikan yang berasal dari, oleh, dan untuk masyarakat. Jauh sebelum Indonesia merdeka, perguruan-perguruan keagamaan sudah lebih dulu berkembang. Selain menjadi akar budaya bangsa, agama disadari merupakan bagian tak

terpisahkan dalam pendidikan.

Pendidikan keagamaan juga berkembang akibat mata pelajaran/kuliah pendidikan agama yang dinilai menghadapi berbagai keterbatasan. Sebagian masyarakat mengatasinya dengan tambahan pendidikan agama di rumah, rumah

(4)

ibadah, atau di perkumpulan-perkumpulan yang kemudian berkembang menjadi satuan atau program pendidikan keagamaan formal, nonformal atau informal.

Pada pasal 3 Undang undang Pesantren ditegaskan 3 ( tiga ) tujuan penyelenggaraan Pesantren yakni.

1. Membentuk individu yang unggul diberbagai bidang yang memahami dan dan mengamalkan nilai ajran agamanya dan / atau menjadi ilmu agama yang beriman , bertaqwa, berakhlak mulya , berilmu, mandiri, tolong menolong , seimbang dan moderat.

2. Membentuk pemahaman agama dan keberagamaan yang moderat dan cinta tanah air sertamembentuk prilaku yang mendorong terciptanya kerukunan hidup beragama, dan

3. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang berdaya dan memenuhi kentuhan pendidikan warga Negara dan kesejahteraan sosial.

Madrasah diniyah perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan dalam adminstrasi dan diberi kesempatan untuk berkembang Selain itu, karena madrasah diniyah dinilai sebagai lembaga untuk melakukan pendalaman ilmu- ilmu keagamaan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur‟an surah At-Taubah ayat 122 sebagai berikut:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS. At-Taubah/9: 122).

Dengan perkembangan zaman yang telah merubah tuntutan kebutuhan masyarakat akan dunia pendidikan, maka menjadi tugas para praktisi madrasah diniyah untuk merumuskan ulang tentang konsep pendidikan yang selama ini dilaksanakan. Ditambah lagi munculnya model-model pendidikan baru yang menjadi pesaing yang cukup berat bagi madrasah diniyah.. jika madrasah diniyah

(5)

hanya terpaku pada sistem lama, tidak memperhatikan masalah Administrasi dalam pengertian luas, maka secara perlahan madrasah diniyah akan kehilangan peminat dan ditinggalkan oleh masyarakat, orang tua dan anak anak tidak akan tertari lagi terhadap madrsah diniyyah. Oleh karen itu sudah semestinya para praktisi membuat model administrasi madrasah diniyyah, untuk lebih menonjolkan kekhasan madrasah diniyah dari model pendidikan lain.

Disahkan dan diundangkannya beberapa ketentuan perundang-undangan tentang pendidikan, seperti UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, sungguh telah memposisikan madrasah diniyah sudah saatnya segera memberikan respons dan melakukan reformulasi sistem penyelenggaraan pendidikannya, terutama pembenahan terhadap administrasi dan methode pembelajarannya , karena adanya kesenjangan antara penyelenggaraan madrasah diniyah jika dilihat dari ketentuan perundang-undangan sebagaimana dimaksud.

B. Permasalahan

Berdasarkan PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, ada 8 standar penyelenggaraan satuan pendidikan dalam perspektif sistem pendidikan nasional, yakni: (1) Standar Isi, (2) Standar Proses, (3) Standar Kompetensi Lulusan, (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (5) Standar Sarana dan Prasarana, (6) Standar Pengelolaan, (7) Standar Pembiayaan, dan (8) Standar Penilaian.

Penelitian tentang Administrasi Madrasah Diniyah Dalam Perspektif Sistem Pendidikan Nasional secara spesifik akan dibatasi pada aspek kelembagaan, kurikulum (standar isi), pendidik (standar pendidik), sehingga fokus penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Bagaimana Administrasi madrasah diniyah dalam perspektif sistem pendidikan nasional?

(6)

C. Kajian Teori; Sistem Pendidikan Nasional

Menurut Suparlan (2008: 108) Sistem Pendidikan Nasional, dapat dijelaskan dengan dua jalan, yaitu menurut fungsi dan strukturnya. Sesuai dengan fungsinya, pendidikan nasional merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan oleh negara, dalam rangka mewujudkan hak menentukan eksistensi nasional bangsanya dalam bidang pendidikan (right of self-determination on education). Sedangkan menurut strukturnya, pendidikan nasional sebagai sistem adalah keseluruhan satuan kegiatan pendidikan yang direncanakan, dilaksanakan dan dikendalikan dalam rangka menunjang tercapainya tujuan nasional suatu negara. Dengan demikian, maka, setiap negara, dalam hal penyelenggaraan pendidikan nasional mempunyai sistem yang berbeda-beda.

Ketentuan tentang Administrasi madrasah diniyah dalam sistem pendidikan nasional, dilihat dari ketentuan yang termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

1. Tentang Status Kelembagaan Madrasah Diniyah a. Sejarah Madrasah Diniyah

Madrasah di dunia Islam merupakan tahapan ketiga dari perkembangan lembaga pendidikan. Bosworth dan kawan-kawan (1986:

1123) menjelaskan: The Madrasa is the product of three steges in the development of the college in Islam. The mosque or masjid, partuculary in its designation as the non conggregational mosque, was the first stage, and it functional in this as an instructional centre. The second stage was the masdjid-khan complex, in which the khan or hostclly served as a lodging for out-of-town student. The third stage was the madrasa proper, in which the functions of both masjid and khan were combined in an instituon based on a single wakf deed.

Dari kutipan tersebut tampak bahwa masjid merupakan tahapan pertama lembaga pendidikan Islam. Ia tidak saja berfungsi sebagai pusat

(7)

ibadah (dalam artian sempit) tetapi juga sebagai pusat pengajaran dan pendidikan. Tahapan kedua adalah masjid-khan, di mana khan merupakan asrama yang berfungsi sebagai pondokan bagi peserta didik yang berasal dari luar kota. Dan madrasah, sebagaimana telah disebut, merupakan tahapan ketiga yang memadukan fungsi masjid dan khan dalam satu lembaga pendidikan.

Madrasah di Indonesia merupakan pendidikan lanjutan bagi peserta didik yang telah menguasai studi pendahuluan di masjid atau langgar.

Masjid atau langgar merupakan lembaga pendidikan pertama bagi orang Islam di Indonesia, Abdul Hafidz Dasuki menjelaskan:

Indeed, the masdjid and the langgar are the first institutions of Indonesian Muslim learning. Instruction in the elementary from is in Qur'anic recitation, given on the basis of the booklet in which Arabic characters are printed with and without the vowels and other symbols . . . Teaching is carried out on individual basis. The guru ngaji teaches the pupils who are by one the floor around him in a circle. Each pupil waits for his turn to see the guru ngaji and receive instruction.Those who want to go deeper into study of Islamic teaching should go to a madrasa. Some of them go to a pondok-pesantren (1974: 26,29-30).

Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa melalui masjid dan langgar kebanyakan Umat Islam Indonesia belajar membaca AI-Quran dengan bantuan seorang guru ngaji. Proses belajar-mengajarnya berlangsung secara individual. Abdul Hafidz Dasuki (1974: 27-28) menambahkan bahwa secara tradisional yang diajarkan di masjid atau langgar tidak semata membaca Al-Qur‟an, tetapi juga pendidikan agama yang mencakup pengajaran wudhu, salat berikut prakteknya, akhlak dan prakteknya, serta sejarah kehidupan Nabi. Dari penguasaan studi pendahuluan itu, mereka yang ingin memperdalam studi

Madrasah tumbuh di Indonesia pada permulaan abad keduapuluh (Pijper, 1984: 92), pada masa merosotnya perkembangan sistem pendidikan

(8)

madrasah di dunia Islam, sementara itu dunia Islam sendiri berinteraksi secara aktif dengan dunia barat dengan rasa sebagai negeri jajahan yang subordinate dan karena itu berkecenderungan meniru. Keadaan ini telah mendorong upaya perencanaan lembaga pendidikan baru model Barat di satu pihak, dan upaya reformasi terhadap sistem pendidikan yang ada di pihak lain.

Pada parohan pertama abad keduapuluh, madrasah diniyah telah tumbuh dengan pesat di Indonesia. Statistik Jawatan Pendidikan Agama, Kementrian Agama RI tahun 1954 menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia waktu itu ada 13.849 madrasah (Mahmud Yunus, 1979: 394).

Peningkatan segi kuantitatif dari madrasah itu ternyata tidak diimbangi oleh peningkatan segi kualitatifnya, terbukti dari keanekaragaman (heteroginitas) kurikulumnya, pendidik dan sistem penilaiannya, kecuali madrasah-madrasah yang berada dalam satu organisasi, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad dan sebagainya.

Setelah Indonesia merdeka, dan setelah berdirinya Departemen Agama, penyelenggaraan madrasah mendapat subsidi dan bimbingan dari Departemen Agama. Tetapi karena pendirian madrasah diniyah mempunyai latar belakang tersendiri, dan kebanyakan didirikan atas usaha perorangan yang semata-mata untuk ibadah, maka system yang digunakan tergantung kepada latar belakang pendiri dan pengasuhnya, sehingga pertumbuhan madrasah diniyah di Indonesia mengalami demikian banyak ragam dan coraknya (Dirjen Binbaga Islam, 1983: 13).

b. Tipologi Madrasah Diniyah

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya (Bab Satu), bahwa secara historis, madrasah diniyah, khususnya madrasah diniyah salafiyah lahir dari rahim pondok pesantren, dengan cirinya yang

(9)

khusus berbasis pengetahuan agama. Tidak heran jika pada masa pemerintahan kolonial, madrasah diniyah menjadi salah satu obyek yang terus diselidiki. Pada masa itu, hadirnya sekolah yang diusung dari kolonialisme memang mampu merubah sistem pendidikan Indonesia kearah sistem pendidikan “modern”, namun hal tersebut tidak mampu merubah madrasah sebagai fenomena budaya pendidikan Indonesia. Hal ini terlihat dengan eksisnya pendidikan madrasah dan madrasah diniyah sampai sekarang, yang bahkan secara kualitas dan kuantitas mampu bersaing dengan lembaga pendidikan umum. Fenomena tersebut patut direnungkan bersama, bahwa keberadaan madrasah diniyah sebagai suatu sistem pendidikan berbasis pendidikan agama dan keagamaan adalah suatu yang menjadi identitas kependidikan bangsa.

Dalam ketentuan umum Permenag No. 3 Tahun 1983 ini dijelaskan lebih lanjut, bahwa hakikat madrasah diniyah adalah sebagai berikut: (1) Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tentang pengetahuan agama Islam yang diberikan secara klasikal, (2) Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan formal, dan (3) Madrasah Diniyah mempunyai 3 tingkatan, yaitu Tingkat Awaliyah, Tingkat Wustha, dan Tingkat „Ulya ((Dirjen Binbaga Islam, 1983:

13).

Kriteria madrasah diniyah salafiyah: (1) sistem pembelajaran madrasah diniyah dengan sistem klasikal dan berjenjang, (2) setiap kelas berjumlah minimal 15 murid; (3) kurikulum mata pelajaran keislaman menggunakan kitab kuning yang muktabaroh; (4) tenaga guru memiliki kompetensi profesional, yakni menguasai kitab kuning yang muktabaroh sesuai dengan satuan pendidikannya. Kriteria madrasah diniyah takmiliyah:

(1) sistem pembelajaran madrasah diniyah dengan sistem klasikal dan berjenjang, (2) setiap kelas berjumlah minimal 15 murid; (3) kurikulum mata

(10)

pelajaran pendidikan agama islam menggunakan buku-buku (kepustakaan) yang digunakan pada satuan pendidikan umum; (4) tenaga guru memiliki kompetensi profesional, yakni menguasai mata pelajaran pendidikan agama islam (LPPD Jatim, 2010).

2. Kajian Teori Tentang Kurikulum Pendidikan

Pengertian Tentang kurikulum selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, Ada dua persepsi ketika istilah kurikulum disebut. Pertama,

kurikulum dalam pengertian yang sempit sebagai konten . pelajaran, dan dikenal pula sebagai kurikulum dalam pengertian tradisional.

Dengan pengertian tersebut diasumsikan mampu mencapai tujuan pendidikan sebagaimana telah dirumuskan sebelumnya, baik tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, dan kedua, kurikulum dalam pengertiannya yang luas, sebagai pengalaman belajar peserta didik yang diorganisir sekolah, baik didalam kelas maupun diluar kelas dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Jadi yang tercakup dalam pengertian ini disamping seperangkat kurikulum juga seperangkat komponen yang secara sengaja turut mengorganisir tercapainya tujua pendidikan (Soebahar, 1993: 1).

Ronald C. Doll dalam Curriculum Improvement, Decision Making and Process (1974: 22) menyatakan, kurikulum secara tradisional sebagai isi dari pada suatu mata pelajaran atau hal-hal yang dipelajari atau daftar dari mata pelajaran (content of sources of study and lists of subject and sources), sedang dalam pengertiannya yang modern, adalah semua pengalaman yang diberikan kepada peserta didik dibawah bantuan atau pengarahan dari sekolah (the curriculum is all the experiences which are of fered to learners under the auspices or direction of the school).

Betapapun ragamnya pengertian tentang kurikulum, namun dalam satu hal mereka sepakat, bahwa kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan (Soebahar, 1993: 3). Karena fungsi kurikulum

sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka kurikulum harus selalu ditinjau ulang, harus ada inovasi kurikulum agar kurikulum relevan dengan

(11)

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar kurikulum relevan dengan tuntutan masyarakat, dan agar kurikulum relevan dengan tuntutan kebijakan.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum pendidikan diniyah salafiyah ataupun takmiliyah yang berlaku sekarang ini adalah Kurikulum Madrasah Diniyah berdasarkan Permenag No. 3 Tahun 1983, yang diadaptasi dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sebagaimana kurikulum yang diberlakukan secara nasional di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia (Yusuf, 2010: 15).

Kurikulum Diniyah disusun sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada, yaitu: (1) Kurikulum Madrasah Diniyah Awaliyah dengan masa belajar 4 tahun dari kelas 1 sampai dengan kelas 4 dengan jumlah jam belajar masing-masing minimal 18 jam pelajaran dalam seminggu, (2) Kurikulum Madrasah Diniyah Wustha dengan masa belajar 2 tahun dari kelas 1 sampai dengan kelas 2 dengan jumlah jam belajar masing-masing minimal 18 jam pelajaran dalam seminggu, dan Kurikulum Madrasah Diniyah ‟Ulya dengan masa belajar 2 tahun dari kelas 1 sampai dengan kelas 2 dengan jumlah jam belajar

masing-masing minimal 18 jam pelajaran dalam seminggu (Permenag No.

3/1983).

Udin Saefudin Sa‟ud (2008: 87) menyatakan, bahwa pemahaman mengenai inovasi kurikulum akan sangat membantu penerapan kaidah-kaidah pembelajaran pendidikan dasar. Masalahnya inovasi kurikulum tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan dalam pendidikan. Maju mundurnya pendidikan tergantung sejauhmana pemahaman guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah, termasuk pemahaman terhadap kurikulum. Karena itu, sifatnya mutlak bagi guru dalam membelajarkan siswa memahami strategi inovasi kurikulum,

(12)

tanpa guru melakukan inovasi kurikulum rasanya sulit diketahui secara pasti bagaimana kemajuan pendidikan dapat diketahui secara pasti.

Standarisasi pendidikan madrasah diniyah jelas merupakan salah satu solusi dan alternatif yang harus dilakukan. Namun demikian, apapun jenis, bentuk, dan jenjang pendidikan madrasah diniyah yang akan diberlakukan harus tetap memperhatikan tiga pilar utama, yakni pilar filosofis, pilar sosiologis, dan pilar yuridis.

Pilar filosofis, merupakan pilar yang harus dijadikan pijakan bahwa Madrasah Diniyah adalah Fardlu „Ain untuk dipertahankan sebagai lembaga pendidikan “tafaqquh fiddîn” melalui sumber pembelajaran pada kitab-kitab

kuning yang merupakan ide. cita-cita dan simbul keagungan dari pondok pesantren. Pilar sosiologis, adalah pilar yang dijadikan dasar pemikiran bahwa

madrasah diniyah tidak berada dalam ruang kosong (vacuum space), tetapi ia bagian dari sistem sosial yang lebih luas untuk memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan masyarakatnya. Pilar ini memerlukan refleksi secara mendalam agar eksistensi madrasah diniyah tidak sekedar sebagai pelengkap (supplement), tetapi diharapkan menjadi pilihan utama (primer) masyarakat. Pilar yuridis, merupakan pilar yang harus mendapat perhatian bahwa pendidikan di Indonesia berlaku sistem pendidikan nasional. Artinya, jenis, bentuk, dan satuan pendidikan apapun harus menyesuaikan dengan regulasi pendidikan yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan pendidikan. PP 55 Tahun 2007 jelas merupakan salah satu pijakan yuridis yang mengatur tentang keberadaan pendidikan madrasah diniyah formal dan pondok pesantren.

3. Kajian Teori tentang Pendidik

Pendidik pada madrasah diniyah salafiyah maupun madrasah diniyah takmiliyah sama-sama dipersyaratkan memenuhi kriteria sebagaimana ditetapkan dalam UU No. 20 Tahun 2003, PP No. 19 Tahun 2005, dan PP No. 55 Tahun 2007. Dalam UU No. 20 Tahun 2003, dinyatakan, bahwa Pendidik adalah

(13)

tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam

menyelenggarakan pendidikan (UU No. 20/2003, ps 1 ayat (5). Selanjutnya, pada pasal 39 ayat (2) dikemukakan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi” (UU No. 20/2003, ps 39 ayat (2)..

Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 mengatur tentang standar pendidik, secara runtut ditetapkan sebagai berikut:.

a. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

b. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

a. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: Kompetensi pedagogik; Kompetensi kepribadian; Kompetensi profesional; dan Kompetensi social (PP No. 19/2005, ps. 28 ayat (1-3)..

Pertama, kompetensi pedagogik, adalah kompetensi yang nantinya menjadi ciri khas seorang guru. Sangat mungkin tiga kompetensi yang lain, yaitu kepribadian, profesional, dan sosial juga merupakan syarat bagi profesi lain, namun tidak demikian halnya kompetensi pedagogik.

(14)

Kompetensi pedagogik hanya dituntut pada profesi guru. Ujung akhir dari kompetensi pedagogik adalah kemampuan dalam mengelola pembelajaran yang mendidik. Namun untuk mencapai kemampuan itu seseorang harus memahami karakteristik peserta didik, karakteristik materi yang diajarkan, dan juga arah pendidikan yang sedang dilaksanakan.

Kedua, mengacu pada deskripsi tersebut, maka kompetensi kepribadian diarahkan sebagai modal bagi guru, khususnya dalam perilaku keseharian.

Subkompetensi “menjadi teladan bagi peserta didik” merupakan puncak dari sub-subkompetensi sebelumnya, karena secara umum seorang akan menjadi teladan bagi orang lain jika yang bersangkutan memiliki kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa. Begitu juga bagi guru akan menjadi teladan bagi anak didiknya jika yang bersangkutan memiliki kepribadian yang mantap, stabil, arif, berakhlak mulia, dan berwibawa.

Ketiga, kompetensi sosial, dalam konteks ini diarahkan untuk memberikan bekal guru sebagai “warga sosial”, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat sekitar. Dimensi kompetensi ini menuntut guru harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerjasama secara baik dengan peserta didik, rekan sejawat, maupun masyarakat lainnya. Tentu kita semua tidak akan ada keraguan sedikitpun akan pentingnya kompetensi sosial bagi

guru. Mengapa? Guru sebagai agen pembelajaran di sekolah juga dituntut sebagai warga masyarakat, baik masyarakat sekolah maupun masyarakat umum

di mana guru yang bersangkutan tinggal.

Keempat, kompetensi profesional. Penggunaan istilah ini banyak mengundang kritik para ahli. Bukankah penguasaan kompetensi guru secara utuh menunjukkan bahwa yang bersangkutan merupakan guru profesional?

Dengan demikian, istilah kompetensi profesional lebih cocok digunakan untuk kompetensi guru ideal secara utuh, sebagai “payung” yang selanjutnya dirinci menjadi sub-subkompetensi yang lebih kecil. Kekurang tepatan penggunaan

(15)

istilah kompetensi profesional sebagai dimensi dari kompetensi guru menjadi lebih mencolok ketika kita cermati pada penjelasan Pasal 28 ayat (3) PP 19/2005 yang menegaskan bahwa kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam‟ yang memungkinkan guru dapat membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Jadi apa yang dimaksud kompetensi profesional dalam UUGD adalah apa yang selama ini disebut dengan penguasaan bidang studi/sumber bahan ajar (disciplinary content) atau juga sering disebut penguasaan bidang studi keahlian (PP Np. 19/2005, ps 28 ayat (3).

Akhir-akhir ini, banyak disusun standar kompetensi untuk guru.

Utamanya di berbagai negara atau lembaga yang sudah maju yang tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing. Misalnya di Queensland Australia, telah ditetapkan ada 12 standar kompetensi, meliputi:

(1) Structure flexible and innovative learning experiences for individual and groups, (2) contribute to language, literacy and numeracy development, (3) construct intellectuality challenging learning experiences, (4) construct relevan learning experiences that connect the world beyond school, (5) construct inclusive and participatory learning experiences, (6) integrate ICT to enhance student learning, (7) support the social development and participation of young people, (8) support the social development and participation of young people, (9) create safe and supportive learning environment, (10) build relationship with wider community, (11) contribute to profesional tim, dan (12) commit to profesional practice.

Sementara itu, salah satu lembaga yang telah mengembangkan kompetensi guru adalah Interstate New Teacher Assessment and Support Consortium (INTASC). Menurut INTASC guru yang profesional dituntut memiliki kompetensi yang mencakup: (1) content knowledge, (2) human development and learning, (3) diversity, (4) planning for instruction, (5) learning environment, (6)

(16)

instructional delivery, (7) communication, (8) assessment, (9) collaborative relationship, (10) reflection and profesional growth, dan (11) profesional conduct.

Jika ditelaah secara mendalam dan seksama, apa yang dijadikan sebagai standar kompetensi guru di Queensland Australia adalah jabaran dari kompetensi profesional yang meliputi komponen melaksanakan pembelajaran

yang mendidik sesuai dengan filosofi dan kondisi latar di sana. Tentu saja, untuk mampu mewujudkan kompetensi tersebut, guru harus memahami

karakteristik peserta didik dan juga harus memahami secara luas dan mendalam materi ajar yang dibinanya.

4. Kelembagaan Madrasah Diniyah Dalam Perspektif Sistem Pendidikan Nasional

Dalam sistem pendidikan nasional Indonesia, madrasah diniyah termasuk sub sistem dalam sistem pendidikan nasional. Sebagai sub sistem, maka akomodasi sistem pendidikan nasional terhadap keberadaan madrasah diniyah seharusnya sejalan dengan dinamika perkembangan sistem pendidikan nasional. Bagaimana realitasnya bagaimana keberadaan madrasah diniyyah yang ada saat ini ?, berikut dikemukakan beberapa data yang akan dianalisis lebih lanjut dalam uraian-uraian berikut:

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya (Bab I), bahwa satu-satunya payung hukum yang mengatur penyelenggaraan Madrasah Diniyah dan berlaku sampai sekarang adalah Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah, yang berlaku sejak 9 Maret 1983.

Pada tanggal 23 Pebruari 2012 pernah diundangkan Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pendidikan Keagamaan Islam yang mengatur penyelenggaraan Madrasah Diniyah. Namun permenag tersebut tidak berlangsung lama, belum sempat diimplementasikan karena menuai protes dari berbagai pihak, Permenag tersebut akhirnya dicabut kembali melalui Permenag Nomor 9 Tahun 2012, dan sampai sekarang belum ada permenag baru yang mengatur penyelenggaraan Madrasah Diniyah, padahal Permenag

(17)

Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah sudah perlu penyesuaian dengan kebijakan penyelenggaraan sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Dalam Permenag Nomor 3 Tahun 1983 tersebut, khususnya pada bab I pasal 1, yang dimaksud Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar anak-anaknya lebih banyak mendapat Pendidikan Agama Islam (Permenag No. 3/1983, pasal 1, huruf a). Dalam Peraturan yang mengatur tentang Madrasah Diniyah tersebut, juga dijelaskan perjenjangan Madrasah Diniyah, yang terdiri dari Madrasah Diniyah Awaliyah, Madrasah Diniyah Wustha, dan Madrasah Diniyah „Ulya.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, madrasah diniyah termasuk jenis pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, sedang dalam PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, madrasah diniyah adalah termasuk jenis pendidikan keagamaan, khususnya pendidikan keagamaan Islam yang berbentuk pendidikan diniyah formal. Ke depan, status hukum madrasah diniyah akan semakin kuat jika sudah ada permenag yang mengatur penyelenggara madrasah diniyah. Inilah yang menjadi harapan para pakar pendidikan agama Islam.

Dengan demikian dapat dikemukakan, bahwa jika dilihat dari ketentuan sistem pendidikan nasional, khususnya UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 55 Tahun 2007, maka Administrasi kelembagaan madrasah diniyah masih belum memenuhi standar, secara sederhana dapat dilihat dari sistem dan masa belajar pada setiap jenjang kelembagaannya, karena hal tersebut sangat berpengaruh, khususnya terhadap kurikulum, pendidik, dan penilaian pendidikannya.

5. Administrasi Kurikulum Madrasah Diniyah Dalam Perspektif Sistem Pendidikan Nasional

(18)

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu” (UU No. 20/2003, ps. 1 ayat 19).

Selama ini, payung hukum yang menjadi landasan dan kekuatan eksistensi kurikulum madrasah diniyah adalah kurikulum yang berdasarkan Permenag Nomor 13 Tahun 1964, setelah itu kurikulum yang berdasarkan Permenag Nomor 3 Tahun 1983. Payung hukum yang berupa Peraturan Menteri Agama tersebut dirasa sangat lemah bagi pengembangan Administrasi kurikulum madrasah diniyah ke depan.

Madrasah diniyah dimaksudkan sebagai institusi yang yang awalnya disediakan bagi peserta didik yang pada waktu pagi belajar di sekolah umum, dan pada sore hari ingin mendapatkan pelajaran agama. Madrasah jenis ini terbagi dalam tiga jenjang, yakni: madrasah diniyah awwaliyah/ula (4 tahun);

madrasah diniyah wustha (3 tahun); dan madrasah diniyah „ulya (3 tahun).

Madrasah yang dibentuk dengan keputusan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 ini hampir tidak memiliki efek sosial, sehingga hanya sedikit peserta didik yang meminta ijazah formal dari institusi pendidikan ini.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, madrasah diniyah termasuk jenis pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, sedang dalam PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, madrasah diniyah adalah termasuk jenis pendidikan keagamaan, khususnya pendidikan keagamaan Islam yang berbentuk pendidikan diniyah formal. Namun demikian, di lapangan pengembangan madrasah diniyah masih dilematik, karena belum ada regulasi

dari PP No. 55 Tahun 2007 yang berupa Peraturan Menteri Agama.

dengan demikian dapat dikemukakan, bahwa jika dilihat dari ketentuan sistem pendidikan nasional, khususnya UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 55 Tahun

(19)

2007, maka eksistensi kurikulum madrasah diniyah masih belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam sistem pendidikan nasional, secara sederhana dapat dilihat dari: kerangka dasar dan struktur program, beban belajar, KTSP, dan Kalender Pendidikan/Akademik.

6. Administrasi Pendidik Madrasah Diniyah Dalam Perspektif Sistem Pendidikan Nasional

Dalam institusi pendidkan , keberadaan pendidik sangatlah strategis, khususnya di madrasah diniyah. Karena pendidiklah yang mendampingi, memberikan ilmu, membimbing, melatih dan melakukan evaluasi terhadap perkembangan murid dari waktu ke waktu. Di madrasah diniyah, pendidik adalah sosok yang digugu dan ditiru. Sebagian pendidik di madrasah diniyah, pendidik madrasah diniyah adalah orang yang ahli di bidangnya, akan tetap realitasnyai sebagian besar dari mereka tidak memiliki ijasah pendidikan tinggi, dan tidak memiliki penguasaan terhadap teori-teori pembelajaran yang dikaji di lembaga pendidikan tinggi kependidikan. Oleh karena itu, jika dilihat dari perspektif sistem pendidikan nasional, maka eksistensi pendidik di madrasah diniyah sebagian besar belum memenuhi syarat. Para pendidik madrasah diniyyah masih banyak yang belum memenuhi 4 kompetensi dasar sebagai syarat seorang pendidik terkait dengan kewenangan melaksanakan tugasnya , berdasarkan undang undang nomor 14 tahun 2005 tentang dan dosen, pada pasal 10 ayat satu menyatakan bahwa kompetensi guru sebagaimana dimaksud ayat 8 yang sudah ditetpkan dalam standart nasional pendidikan yakni a. Kompetensi pedagogik. B. Kompetensi kepribadian.

C.kompetensi profesional d. Kompetesi sosial.

Dalam UU Sisdiknas, pasal 1 ayat 6, dinyatakan, bahwa Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (UU No. 20/2003, pasal 1: 5). (2) Pada pasal 39

(20)

ayat (2) dikemukakan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada

perguruan tinggi” (UU No. 20/2003, pasal 39: 2). . Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.

Dengan demikian dapat dikemukakan, bahwa jika dilihat dari ketentuan sistem pendidikan nasional, khususnya UU No. 20 Tahun 2003, UU No. 14 Tahun 2005, PP No. 19 Tahun 2005, dan PP No. 55 Tahun 2007, maka eksistensi pendidik madrasah diniyah sebagian besar masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam sistem pendidikan nasional, khususnya dari segi kualifikasi akademik pendidik, kompetensi pendidik, dan kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Di lingkungan guru madrasah diniyah, seperti di Jawa Timur, sebagian dari guru-guru madrasah diniyah baru ada semangat untuk belajar sejak era reformasi yang membuka kran politik politik di birokrasi dan legislatif yang mempersyaratkan harus berijasah. Dan, semangat itu lebih menggelora ketika Pemerintah Propinsi Jawa Timur memberikan beasiswa secara kompetitif bagi guru-guru madrasah diniyah untuk studi S1. Ini sebagai bukti jika guru-guru madrasah diniyah belum memenuhi syarat minimal sebagai pendidik di madrasah diniyah.

(21)

D. Diskusi Data /Temuan Penelitian

1. Administrasi Kelembagaan Madrasah Diniyah Dalam Perspektif Sistem Pendidikan Nasional

Berikut dikemukakan beberapa data yang akan dianalisis lebih lanjut dalam uraian-uraian berikut:

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya (Bab I), bahwa satu-satunya payung hukum yang mengatur penyelenggaraan Madrasah Diniyah dan berlaku sampai sekarang adalah Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah, yang berlaku sejak 9 Maret 1983.

Pada tanggal 23 Pebruari 2012 pernah diundangkan Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pendidikan Keagamaan Islam yang mengatur penyelenggaraan Madrasah Diniyah. Namun permenag tersebut tidak berlangsung lama, belum sempat diimplementasikan karena menuai protes dari berbagai pihak, Permenag tersebut akhirnya dicabut kembali melalui Permenag Nomor 9 Tahun 2012, dan sampai sekarang belum ada permenag baru yang mengatur penyelenggaraan Madrasah Diniyah, padahal Permenag Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah sudah perlu penyesuaian dengan kebijakan penyelenggaraan sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Dalam Permenag Nomor 3 Tahun 1983 tersebut, khususnya pada bab I pasal 1, yang dimaksud Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar anak-anaknya lebih banyak mendapat Pendidikan Agama Islam (Permenag No. 3/1983, pasal 1, huruf a). Dalam Peraturan yang mengatur tentang Madrasah Diniyah tersebut, juga dijelaskan perjenjangan Madrasah Diniyah, yang terdiri dari Madrasah Diniyah Awaliyah, Madrasah Diniyah Wustha, dan Madrasah Diniyah „Ulya.

Madrasah Diniyah Awaliyah ialah Madrasah Diniyah tingkat permulaan dengan masa belajar 4 (empat) tahun dari kelas I sampai dengan IV dengan

(22)

jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Madrasah Diniyah Wustha ialah Madrasah Diniyah Tingkat Menengah Pertama dengan masa belajar 2 (dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Madrasah Diniyah „Ulya ialah Madrasah Diniyah Tingkat Menengah Atas dengan masa belajar 2 (dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu (Permenag No. 3/1983, pasal 1, huruf b, c, d.).

Bagaimana Administras Madrasah Diniyah Dalam Perspektif Sistem Pendidikan Nasional?. Yang dimaksud Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (UU No. 20/2003, bab 1, pasal 1, ayat 3).

Dalam Sistem Pendidikan Nasional, eksistensi Madrasah Diniyah dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, madrasah diniyah adalah jenis pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, eksistensi Madrasah Diniyah termasuk secara implisit dalam ketentuan Bab VI yang membahas tentang Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan. Pada bagian Kesembilan dari Bab VI tersebut diatur tentang pendidikan keagamaan pada pasal 30 yang memuat 5 (lima) ayat sebagai berikut:

(1) Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

(23)

(3) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

(4) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

(5) Ketentuan mengenai pendidikan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa madrasah diniyah dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bisa termasuk jenis pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah.

b. Dalam PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, madrasah diniyah adalah jenis pendidikan keagamaan, khususnya pendidikan keagamaan Islam berbentuk pendidikan diniyah formal

Dalam PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, eksistensi Madrasah Diniyah diatur secara eksplisit dalam ketentuan Bab III tentang Pendidikan Keagamaan pada pasal 8, khusus pasal 14 dalam bab tersebut memuat 3 (tiga) ayat membahas tentang Pendidikan Keagamaan Islam. Selanjutnya, pada pasal 15 dan 16 diatur ketentuan tentang Pendidikan Diniyah Formal.

Selengkapnya dapat dikemukakan sebagai berikut:

Pada bab III tentang Pendidikan Keagamaan, terdapat pada pasal 8 yang memuat 2 (dua) ayat yang mengatur pendidikan keagamaan sebagai berikut:

1) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai- nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

2) Pendidikan keagamaan bertujuan untuk terbentuknya peserta didik

(24)

yang memahami dan mengamalkan nilai- nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas,

kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia (PP No. 55/2007, pasal 8 ayat (1) dan (2).

Pada pasal 14 diatur ketentuan tentang tentang Pendidikan Keagamaan Islam dalam 3 (tiga) ayat sebagai berikut:

1) Pendidikan keagamaan Islam berbentuk pendidikan diniyah dan pesantren.

2) Pendidikan diniyah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan pada jalur formal non formal dan informal.

3) Pesantren dapat menyelenggarakan 1 (satu) atau berbagai satuan dan/atau program pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal (PP No. 55/2007, pasal 14 ayat (1), (2) dan (3).

Selanjutnya, pada pasal 15 dan 16 diatur ketentuan tentang Pendidikan Diniyah Formal sebagai berikut:

Pendidikan diniyah formal menyelenggarakan pendidikan ilmu-ilmu yang bersumber dari ajaran agama Islam pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (PP No. 55/2007, pasal 15).

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, madrasah diniyah termasuk jenis pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, sedang dalam PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, madrasah diniyah adalah termasuk jenis pendidikan keagamaan, khususnya pendidikan keagamaan Islam yang berbentuk pendidikan diniyah formal. Ke depan, status hukum madrasah diniyah akan semakin kuat jika sudah ada permenag yang mengatur penyelenggaraan madrasah diniyah.

(25)

Dengan demikian dapat dikemukakan, bahwa jika dilihat dari ketentuan sistem pendidikan nasional, khususnya UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 55 Tahun 2007, maka administrasi kelembagaan madrasah diniyah masih belum memenuhi standar, secara sederhana dapat dilihat dari sistem dan masa belajar pada setiap jenjang kelembagaannya, karena hal tersebut sangat berpengaruh, khususnya terhadap kurikulum, pendidik, dan penilaian pendidikannya.

2. Administrasi Kurikulum Madrasah Diniyah Dalam Perspektif Sistem Pendidikan Nasional

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu” (UU No. 20/2003, ps. 1 ayat 19). Selama ini, payung hukum yang menjadi landasar dan kekuatan eksistensi kurikulum madrasah diniyah adalah kurikulum yang berdasarkan Permenag Nomor 13 Tahun 1964, setelah itu kurikulum yang berdasarkan Permenag Nomor 3 Tahun 1983. Payung hukum yang berupa Peraturan Menteri Agama tersebut dirasa sangat lemah bagi pengembangan eksistensi kurikulum madrasah diniyah ke depan.

Madrasah diniyah dimaksudkan sebagai institusi yang yang awalnya disediakan bagi peserta didik yang pada waktu pagi belajar di sekolah umum, dan pada sore hari ingin mendapatkan pelajaran agama. Madrasah jenis ini terbagi dalam tiga jenjang, yakni: madrasah diniyah awwaliyah/ula (4 tahun);

madrasah diniyah wustha (3 tahun); dan madrasah diniyah „ulya (3 tahun).

Madrasah yang dibentuk dengan keputusan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 ini hampir tidak memiliki efek sosial, sehingga hanya sedikit peserta didik yang meminta ijazah formal dari institusi pendidikan ini.

Sebagai acuan operasional penyelenggaraan madrasah diniyah, pemerintah telah mengundangkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan yang disahkan 5

(26)

Oktober 2007. Ketentuan tentang kurikulum madrasah diniyah diatur di pasal 18 sebagai berikut:

1) Kurikulum pendidikan diniyah dasar formal wajib memasukkan muatan pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika dan ilmu pengetahuan alam dalam rangka pelaksanaan program wajib belajar.

2) Kurikulum pendidikan diniyah menengah formal wajib memasukkan muatan pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan seni dan budaya (PP No. 55/2007, ps 18)..

Sama seperti Administrasi kelembagaan madrasah diniyah sebagai bahasan sebelumnya (bab IV Sub Bab A). Dari tabel tersebut dapat dikemukakan, bahwa sebelum diundangkannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka payung hukum madrasah diniyah dirasakan sangat lemah, karena hanya diatur melalui Permenag Nomor 13 Tahun 1964, dan kemudian diatur melalui Permenag Nomor 3 Tahun 1983.

Belum pernah dalam sejarah bahwa madrasah diniyah diatur dalam undang- undang (UU No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah dan UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Madrasah Diniyah baru memiliki payung hukum yang kuat setelah diundangkannya UU No. 20 Tahun 2003 yang secara operasional diperkuat melalui PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, madrasah diniyah termasuk jenis pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, sedang dalam PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, madrasah diniyah adalah termasuk jenis pendidikan keagamaan, khususnya pendidikan keagamaan Islam yang berbentuk pendidikan diniyah formal. Namun demikian, di lapangan

(27)

pengembangan madrasah diniyah masih dilematik, karena belum ada regulasi dari PP No. 55 Tahun 2007 yang berupa Peraturan Menteri Agama.

Dengan demikian dapat dikemukakan, bahwa jika dilihat dari ketentuan sistem pendidikan nasional, khususnya UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 55 Tahun 2007, maka eksistensi kurikulum madrasah diniyah masih belum memenuhi standar yang ditetapkan dalam sistem pendidikan nasional, secara sederhana dapat dilihat dari: kerangka dasar dan struktur program, beban belajar, KTSP, dan Kalender Pendidikan/Akademik.

3. Administrasi Pendidik Madrasah Diniyah Dalam Perspektif Sistem Pendidikan Nasional

Dalam institusi manapun, keberadaan pendidik sangatlah strategis, khususnya di madrasah diniyah. Karena pendidiklah yang mengajar, membimbing, melatih dan melakukan evaluasi terhadap perkembangan murid dari waktu ke waktu. Di madrasah diniyah, pendidik adalah sosok yang digugu dan ditiru. Sebagian pendidik di madrasah diniyah, pendidik madrasah diniyah adalah orang yang ahli di bidangnya, tetapi sebagian besar dari mereka tidak memiliki ijasah pendidikan tinggi, dan tidak memiliki penguasaan terhadap teori-teori pembelajaran yang dikaji di lembaga pendidikan tinggi kependidikan. Oleh karena itu, jika dilihat dari perspektif sistem pendidikan nasional, maka eksistensi pendidik di madrasah diniyah sebagian besar tidak memenuhi syarat.

Dalam UU Sisdiknas, pasal 1 ayat 6, dinyatakan, bahwa Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (UU No. 20/2003, pasal 1: 5). (2) Pada pasal 39 ayat (2) dikemukakan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan

(28)

penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi” (UU No. 20/2003, pasal 39: 2). Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada bab IV pasal 28-33 tentang standar pendidik,

Berdasarkan uraian tentang pendidik madrasah diniyah dan sistem pendidikan nasional tersebut, maka jelas sekali bahwa posisi pendidik dalam institusi pendidikan sangat strategis. Posisi strategis eksistensi pendidik madrasah diniyah dapat dilihat dari perspektif sistem pendidikan nasional dan secara mudah dapat dipahami melalui tabel berikut:

E. Kesimpulan

1. Payung hukum penyelenggaraan madrasah diniyah selama ini sangat lemah, karena hanya diatur melalui Permenag Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah (sebelumnya diatur melalui Permenag Nomor 13 Tahun 1964). Belum pernah dalam sejarah penyelenggaraan madrasah diniyah diatur melalui Undang Undang atau Peraturan Pemerintah. Sehingga, diundangkannya UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 55 Tahun 2007 telah memperkuat payung hukum penyelenggaraan madrasah diniyah. Namun demikian, jika kelembagaan madrasah diniyah dilihat dari perspektif sistem pendidikan nasional, maka eksistensi kelembagaan madrasah diniyah masih belum memenuhi standar, karena jenjang kelembagaan dan lama belajar masing-masing jenjang pendidikan sebagian besar belum memenuhi ketentuan PP No. 19 Tahun 2005.

2. Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan dan pengajaran Agama Islam, yang berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar anak-anaknya lebih banyak mendapat Pendidikan Agama Islam, sehingga kurikulum madrasah diniyah disusun sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada, yaitu:

(1) Kurikulum Madrasah Diniyah Awaliyah dengan masa belajar 4 tahun dari kelas 1 sampai dengan kelas 4 dengan jumlah jam belajar masing-masing

(29)

minimal 18 jam pelajaran dalam seminggu, (2) Kurikulum Madrasah Diniyah Wustha dengan masa belajar 2 tahun dari kelas 1 sampai dengan kelas 2 dengan jumlah jam belajar masing-masing minimal 18 jam pelajaran dalam seminggu, dan Kurikulum Madrasah Diniyah ‟Ulya dengan masa belajar 2 tahun dari kelas 1 sampai dengan kelas 2 dengan jumlah jam belajar masing- masing minimal 18 jam pelajaran dalam seminggu. Namun demikian, jika dilihat dari perspektif sistem pendidikan nasional, khususnya PP No. 19 Tahun 2005, maka eksistensi kurikulum madrasah diniyah masih belum memenuhi standar minimal yang ditetapkan, yang menyangkut kerangka dasar dan struktur program, beban belajar, KTSP, dan Kalender Pendidikan/Akademik.

3. Keberadaan pendidik, khususnya guru, di institusi manapun sangat penting, karena pendidiklah yang mengajar, membimbing, melatih dan melakukan evaluasi terhadap perkembangan peserta didik yang disebut murid, siswa, santri dari waktu ke waktu. Di madrasah diniyah, pendidik adalah sosok yang digugu dan ditiru. Namun demikian, jika dilihat dari perspektif sistem pendidikan nasional, eksistensi pendidik di madrasah diniyah, sebagian belum memenuhi syarat minimal yang ditetapkan, khususnya kualifikasi akademik dan kompetensi (khususnya kompetensi pedagogik dan profesional), sehingga di beberapa daerah banyak yang memberikan beasiswa agar guru-guru madrasah diniyah dapat memenuhi syarat pendidikan minimal Strata Satu.

DAFTAR PUSTAKA

Al Barry, M. Dahlan, 1994, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola.

An-Nahidl, Nunu Ahmad, et.al, 2010, Spektrum Baru Pendidikan Madrasah, Jakarta:

Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Depag RI., 1964, Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah.

(30)

Depag RI., 1983, Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah.

Depag RI., 1989, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Surabaya; C.V. Jaya Sakti.

Depag RI., 2001, Visi dan Misi, Serta Program Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.

Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI, 1986, Kurikulum Madrasah Diniyah Awaliyah, Jakarta.

Dhofier, Zamakhsyari, 1982, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES.

Hadi, Sutrisno, 1993, Metodologi Research I dan II, Yogyakarta: Andi Ofset.

Maliki, Zainuddin, 2004, Agama Priyayi: Makna Agama di Tangan Elit Penguasa, Yogyakarta: Pustaka Marwa

Mas‟udi, Masdar F., 1986, Direktori Pesantren I, Jakarta: P3M.

Moleong, Lexy J., 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah (LPPD) Propinsi Jawa Timur, 2010, Draft Standar Pendidikan Diniyah, Surabaya: LPPD Jawa Timur.

Saridjo, Marwan, dkk., 1980, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Jakarta: Dharma Bhakti.

Sa‟ud, Udin Saefudin, 2008, Inovasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta.

Sekretariat Negara RI, 2003, Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Sekretariat Negara RI, 2005, Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Sekretariat Negara RI, 2007, Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

Sekretariat Negara RI, 2003, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: 8 Juli.

(31)

Sekretaris Negara RI Undang undang Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren

Siregar, Imam, dan Umul Hidayati, ed., 2007, Problematika Madrasah Era Otonomi Daerah, Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.

Soebahar, Abd. Halim, 2009, Pendidikan Islam dan Trend Masa Depan, Jember: Pena Salsabila.

Soebahar, Abd. Halim, 1993, Bagaimana Memahami Kurikulum, Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Steenbrink, Karel A., 1986, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES.

Wahid, Abdurrahman, 1984, Bunga Rampai Pesantren, Jakarta: CV. Dharma Bhakti.

Referensi

Dokumen terkait

8ML UHOLDELOLWDV GDSDW GLOLKDW GDUL QLODL &URQEDFK¶V $SOKD GDUL PDVLQJ-masing variabel baik variabel bebas serta variabel terikat sebesar : 1 = 0,896; : 2 = 0,739; :

morfologi berupa variasi bentuk daun dan motif daun yang dihasilkan dari induksi mutasi pada bagian vegetatif tanaman, untuk mengetahui dosis radiasi sinar gamma yang optimal

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada anak usia prasekolah saat hospitalisasi di ruang Melati RSU RA Kartini Jepara diperoleh hasil anak usia prasekolah memiliki nilai

Mengingat luasnya permasalahan dan agar pembahasan yang akan dilakukan dalam laporan akhir ini tidak menyimpang dari permasalah yang dibahas, maka penulis akan membatasi

Pemohon informasi ke PPID pada bulan Juni 2019 hanya 1 orang yang disampaikan melalui alamat surat elektronik (email) PPID dengan informasi yang diminta berjumlah 1

Sejalan dengan masalah yang dibahas serta berdasarkan analisis yang telah diungkapkan pada bab-bab sebelumnya, maka dapatlah ditarik simpulan sebagai berikut. 1)

Abang tidak gemar akan makanan yang pahit seperti peria.. Menurut abang, dia tidak gemar akan rasa pahit

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi layanan pendidikan yang kinerjanya belum dapat memuaskan siswa dan merekomendasikan perbaikan layanan dengan menggunakan dimensi