Caption describing picture or graphic.
Tim Redaksi : Pelindung :
Ir. M. Tassim Billah, MSc Penasehat :
Agus Sunarya, SE, MM Ir. Budi Waryanto, MSi Ir. Bayu Mulyana, MM
Ir. Dewa Ngakan Cakrabawa, MM Penanggung Jawab :
A. Prasetyanto Wibowo, SH Redaksi :
Dedi Triyono Editor :
Eko Nugroho, S.Kom, MM Dra. P.Hanny Muliany, MM Dra. Laelatul Hasanah, Msi Dian Prasetyorini, SE Redaktur Pelaksana :
Evita Wahyu Puspitasari, S.Kom Sekretariat :
Marwati Agus Suparmi
Redaksi menerima tulisan maupun saran dan kritik untuk
Newsletter Pusdatin
Kirimkan ke alamat redaksi : Pusat Data dan Sistem Informasi
Pertanian Jl. Harsono RM No. 3
Gd. D Lantai IV Pasar Minggu – Jakarta 12550
Telp : 021-7805305, 7816384 Fax : 021-7822638 e-mail : [email protected] Daftar Isi :
▪
Pelatihan Webmaster Untuk Petugas Pengelola Web….…(1)▪
Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan Di Pontianak - Kalimantan Barat...(3)▪
Penunjukkan Langsung Yang Lebih Aman Menggunakan e-Purchasing…...(7)▪
Kegiatan Survei PenggunaJagung Tahun 2014…..(10)
Open Government Indonesia (OGI) dan Paramadina Public Policy Institute bekerja sama dalam menyelenggarakan acara Pelatihan Web Master “Menampilkan Transparasi Kinerja dan Anggaran melalui situs web K/L dalam Penerapan UU KIP” yang mengundang 47 Kementerian atau Lembaga yang salah satunya adalah Kementerian Pertanian.
Pada kesempatan ini, Kementerian Pertanian mengutus dua orang staff untuk hadir dalam acara pelatihan ini yang diselenggarakan pada tanggal 04 - 06 Juni 2014 di The Mirah Hotel Bogor. Staff yang ditugaskan adalah Staff Aplikasi Multimedia yang diwakilkan oleh Hani Hanifah Rahmani dan Cahyani Wartianingsih.
Keterbukaan Informasi Publik adalah sebuah gerakan lama yang kembali muncul
sejak UU No. 14 tahun 2008 disahkan. Meskipun masih banyak kekurangan disana sini dalam penerapan UU KIP tersebut, akan tetapi semangat dan kemajuan keterbukaan informasinya cukup terasa sejak tahun 2010 sampai sekarang.
Penempatan petugas IT atau Webmaster yang cakap dan memahami filosofi UU KIP merupakan suatu hal yang cukup penting agar penyediaan informasi melalui situs web dalam rangka memenuhi harapan masyarakat dan undang - undang.
Ketersediaan data dan inforamasi dalam kementerian dan lembaga tidak lepas dari hasil kerjasama erat antara penyedia data (Bagian - bagian K/L), pengumpul dan pemberi data (Humas) dan petugas pengelola situs web (IT/Webmaster).
Pembagian tugasnya sudah cukup
B U L A N A G U S T U S 2 0 1 4 V O L U M E 1 1 N O 1 1 5
Newsletter
PELATIHAN WEBMASTER
UNTUK PETUGAS PENGELOLA WEB
Para Petugas Pengelola Web (IT/Webmaster) dari 47 Kementerian atau Lembaga
jelas, IT/Web membuat tampilan yang baik menampilkan informasi sesuai UU KIP datanya berasal dari humas atau PPID, Humas atau PPID mengumpulkan, berkoordinasi dengan satker lain agar penyediaan informasi bisa mutakhir dan berkesinambungan.
Kegiatan pelatihan untuk petugas pengelola situs web (IT/Webmaster) ini dilaksanakan untuk berbagi, belajar dan memahami lebih mendalam aturan-aturan baku pembuatan dan pengelolaan situs K/L agar lebih menarik, aman, akuntable, responsif estetis, dan informatif sesuai dengan UU KIP.
Materi yang diberikan diawali dengan Pemaparan dari Bapak Abdul Rahman Ma’mun (Direktur PPPI) dengan materi :
Lanjutan Berita Pelatihan Webmaster...
1. UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik: Filosofi, substansi, dampak positifnya bagi peningkatan kinerja Kementerian/ lembaga dan Peringkat Open Budget Index. 2. Tugas, kewenangan, dan tanggung jawab Humas
dalam menerapkan Standar Layanan Infromasi publik di Kementerian/lembaga.
3. Pengelolaan Informasi Publik : Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan khususnya menyangkut data yang terkait keuangan dan penganggaran mengacu pada UU KIP.
Setelah pemaparan diadakan diskusi kelompok untuk mereview beberapa situs website Kementarian yang dijadikan contoh untuk menganalisa aplikasi website dan content website yang ada didalamnya. Pada diskusi ini, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing kelompok me-review satu website Kementerian.
Setelah melaksanakan diskusi, masing-masing mempresentasikan hasil review website terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan website yang harus lebih dikembangkan.
Pada pelatihan ini peserta pun diberikan materi-materi Website sebagai peningkatan kualitas SDM Pengelola website di Kementerian/lembaga. Materi-materi yang berikan adalah sebagai berikut : Bapak Abdul Rahman Ma’mun Selaku
Direktur PPPI sedang memberikan materi
Judul Materi Detail Materi
Web User Experience 1. Pengenalan Web User Experience 2. Konsep dalam web user experience
3. Desain web yang sesuai dengan user experience yang baik
4. Penerapan User Experience yang baik dalam pembuatan web
Fundamentals of Web Security 1. Pengenalan aspek keamanan dalam web 2. Penanganan dini terhadap risiko keamanan
3. Penerapan aspek keamanan dalam pembuatan web Fundamentals of Web Analytics 1. Pengenalan web analitik
2. Penggunaan web analitik untuk meningkatkan performa web
Web Content Creation 1. Konsep konten web
2. Panduan dalam membuatn konten web Introduction to Web 2.0 1. Pengenalan konsep web dan media social
2. Peran media social dalam web pemerintahan 3. Penerapan media social di web pemerintahan Javascrip for User Interface/Experience
memperbaiki kekurangan - kekurangan yang ada pada masing - masing website kementerian/lembaga agar menjadi media yang lebih informatif lagi bagi masyarakat luas. (
Hani)Pelaporan melalui media elektronik (e-Form) sangat cocok untuk diimplementasikan di Indonesia yang wilayahnya sangat luas dan berpulau - pulau. e-Form akan mempercepat sampainya pelaporan dari Sabang sampai Merauke ke Provinsi maupun Pusat tanpa hambatan transportasi.
Pelaporan melalui e-Form di subsektor peternakan telah dikembangkan sejak tahun 2007. Beberapa kendala yang dijumpai pada implementasi e-Form ini diantaranya keterbatasan SDM, bentuk kelembagaan pengelola data peternakan yang bervariasi antar daerah dan lemahnya dukungan kebijakan. Selain itu beberapa kebijakan seperti telah terbitnya Peraturan pemerintah No. 41 tahun 2007, menyebabkan bentuk kelembagaan khusus yang menangani data satistik peternakan di daerah tidak tersedia, sehingga manajemen penanganan
data cenderung mengalami hambatan.
Tujuan dari pelaksanaan sosialisasi ini adalah melakukan bimbingan lanjut petunjuk teknis dan e-Form peternakan kepada petugas pengelola data di Provinsi Kalimantan Barat dengan memberikan pemahaman yang sama kepada petugas pengelola data peternakan di semua tingkatan mengenai petunjuk teknis pengumpulan data peternakan dan operasional aplikasi e-Form peternakan. Adapun sasaran yang akan dicapai adalah terlatihnya petugas pengelola data peternakan di Provinsi Kalimantan Barat di tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi sebanyak 11 petugas, meningkatnya pemahaman petugas pengelola data peternakan mengenai pedoman pengumpulan data peternakan dan aplikasi e-Form Peternakan dan terupdatenya data populasi ternak, pemotongan ternak, pemasukan dan Materi - materi tersebut diberikan dengan
metode pemaparan, praktek dan diskusi. Pelatihan ini memberikan motivasi tersendiri bagi para pengelola website Kementerian/lembaga untuk
Lanjutan Berita Pelatihan Webmaster...
Salah satu kelompok diskusi Pelatihan Webmaster
SOSIALISASI DAN ADVOKASI E-FORM PETERNAKAN
DI PONTIANAK - KALIMANTAN BARAT
Narasumber sedang memberikan pengarahan sekaligus membuka acara Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan Di Pontianak
Instruktur dan Peserta sedang mendengarkan pengarahan dari Narasumber
provinsi dan kabupaten/kota dalam pelaksanaan Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan tahun 2014 adalah sebagai berikut :
1. Penjelasan Buku Pedoman Pengumpulan Data Peternakan, materi yang disampaikan meliputi : Pengorganisasian Pengumpulan Data (Tingkat
Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota).
Metodologi (Konsep dan Definisi, Data yang dikumpulkan, Metode Pengumpulan Data Reguler).
Penjelasan Tata Cara Pengisian Formulir Pengumpulan Data (Form NAK 01 – NAK 04 dan Form Input Parameter).
Pengolahan dan Rekapitulasi Data (rekap formulir tingkat Kabupaten/Kota, rekap formulir tingkat Provinsi, rekap formulir tingkat Nasional).
Pelaporan dan Penyajian Data.
2. Aplikasi e-Form Peternakan, materi yang disampaikan meliputi :
Pendahuluan → Penjelasan apa itu elektronik Form Peternakan (e-Form Nak), kegunaan dan manfaat penggunaan e-Form Nak.
Tata Cara Installasi Aplikasi e-Form Peternakan.
Penjelasan Entri Data Form NAK 01 – NAK 04 dan Form Input Parameter.
Utility → Manajemen User, Manajemen Komoditas, Manajemen Wilayah, Manajemen Server, Gabung Data, Backup Data, Restore Data, Kirim Data (secara offline dan online). Output/Rekap hasil entri data Form NAK 01 –
NAK 04 dan Form Input Parameter (Rekap Populasi, Rekap Pemotongan, Rekap Ternak Masuk, Rekap Ternak Keluar, Rekap Populasi Daging, Rekap Produksi Telur, Rekap Produksi Susu).
Bantuan → Penjelasan Fasilitas menu BANTUAN ini merupakan panduan untuk memudahkan petugas Kabupaten/Kota dalam mengoperasikan e-Form Peternakan.
3. Pre test dan post test, para peserta sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan tahun 2014 diminta
Lanjutan Berita Sosialisasi dan Advokasi e-Form...
pengeluaran ternak di wilayah Provinsi Kalimantan Barat.
Jumlah peserta pelatihan Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan di Provinsi Kalimantan Barat sebanyak 11 orang yang terdiri dari petugas pengelola data peternakan tingkat Provinsi 3 (tiga) orang, tingkat Kabupaten/Kota 8 orang. Nama-nama peserta dan asal instansi secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Peserta Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan Di Pontianak
Instruktur dalam pelaksanaan Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan di Provinsi Kalimantan Barat berasal dari Pusdatin sebanyak 1 (satu) orang dibantu oleh 1 (satu) orang asisten dengan kualifikasi menguasai Pedoman Metode Pengumpulan Data Peternakan, menguasai komputer dan teknologi informasi serta aplikasi e-Form Peternakan, mampu menilai kemajuan hasil berlatih para peserta pada akhir kegiatan. Para instruktur pada waktu memberikan materi dibantu oleh asisten di dalam kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Nama instruktur dan asisten yang terlibat dalam kegiatan ini Ir. Roch Widaningsih, Msi dan Suyati, S.Kom. Narasumber yang memberikan pengarahan dan sekaligus membuka acara pelaksanaan Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan di Provinsi Kalimantan Barat adalah Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat yaitu Drh. H. Manaf Mustafa dan dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Ir. Budi Waryanto, MSi.
Materi yang disampaikan kepada peserta
NO NAMA PROVINSI/KABUPATEN
1 Sri hartini Provinsi Kalbar 2 Merry Provinsi Kalbar 3 Eka Syawalia Provinsi Kalbar 4 Sofia Febriyanita Kota Pontianak 5 Sumiyanto Pontianak 6 Fenansius Kecung Sekadau 7 Okta Abdillah, SPt Singkawang 8 Oni Purwoko Melawi 9 Yuveralis Viktor Landak 10 Finny Widiyanti Sanggau 11 Eka Martini Sambas
Lanjutan Berita Sosialisasi dan Advokasi e-Form...
untuk mengisi pre test dan post test sebagaiparameter tingkat kesiapan pemahaman materi. Pre test diberikan sebelum sosialisasi dilaksanakan dan post test setelah selesai materi sosialisasi disampaikan. Nilai rata - rata pre test adalah 8.33 dan nilai post test menjadi 9.23.
Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi dan Advokasi e-Form Peternakan diawali dengan pembacaan pointer oleh Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Barat yaitu Drh. Erinaldi, Setelah pembacaan pointer berakhir dilanjutkan dengan pembukaan, dalam pembukaan ini
narasumber dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Ir. Dyah Riniarsi, MSi) memberikan penekanan akan pentingnya data yang akurat dan tepat waktu.
Berdasarkan hasil evaluasi terhadap peserta pelatihan, peserta sangat aktif dalam forum tanya jawab. Keaktifan peserta tercermin dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, baik pertanyaan yang berkaitan dengan pedoman pengumpulan data peternakan maupun dengan Aplikasi e-Form Peternakan. Berikut pertanyaan yang diajukan oleh peserta beserta tanggapannya tersaji dalam Tabel 2.
Tabel 2. Rangkuman Daftar Diskusi antara Peserta dan Instrukturyang berhubungan dengan materi yang disajikan pada Sosialisasi e-Form Peternakan
NO PERTANYAAN TANGGAPAN
1 Kabupaten Sekadau (P Fenansius):
Batasan populasi komoditas peternakan, apa hanya untuk 15 komoditas ternak tersebut di form nak-01 atau bisa ditambah komoditas lain. Sebaliknya jika dari 1 s.d 15 tidak ada di suatu kecamatan apa dihapus apa populasi sama dengan 0 (nol)? Dulu populasi dihitung pakai rumus,
bagaimana dalam hal ini?
Populasi apakah pada akhirnya bermuara ke penghitungan Suplai-Demand?
Populasi mencakup 15 komoditas sebagaimana tersaji pada form nak - 01, namun apabila ada komoditas ternak yang dominan di Kalbar tetapi tidak dicakup dalam 15 komoditas tersebut, e-Form memfasilitasi penambahan komoditas di menu Utility. Kode ditambahkan dan dilaporkan ke BPS, namun demikian komoditas tambahan hanya tersaji di laporan kabupaten/kota, sedang yang ke Pusat tetap hanya mencakup 15 komoditas sebagaimana tersaji pada form nak - 01. Populasi dientri ke fasilitas e-Form melalui
input data, populasi tidak dihitung pakai rumus lagi.
Populasi yang dientri di e-Form ini bisa diedit oleh adminnya (petugas Kabupaten/ Kota) apabila ada perubahan populasi setelah adanya verval atau yang lainnya. Populasi setelah melalui mekanisma verval yang digunakan untuk perhitungan Suplai-Demand.
2 SARAN/PERMINTAAN :
Petugas yang bertugas mengumpulkan data peternakan. Perlu diberikan formulir pengumpulan datanya (Nak01, Nak02, Nak 03 dan Nak04) seperti di Tanaman Pangan.
Permintaan akan diteruskan ke instansi yang bertugas mendistribusikan Formulir tersebut (Ditjen PKH atau BPS).
Lanjutan Berita Sosialisasi dan Advokasi e-Form...
(
Roch/Hanny)Tabel 2. Lanjutan
NO PERTANYAAN TANGGAPAN
3 Kota Singkawang (Pak Okta) : Data populasi ternak dulunya dihitung keadaan per tanggal 31 Desember tahun berjalan sebagai P0 tahun berikutnya, kemudian harus menyesuaikan per Mei 2011 berlangsungnya PSPK, kemudian karena adanya ST 2013 populasi ternak mengikuti pelaksanaan ST per Juni 2013, Apakah seterusnya populasi dihitung per Juni tahun berjalan untuk semua jenis ternak?
Iya sampai nanti ada pendataan yang bersifat nasional lagi.
4 Kab. Landak (Pak Yuvenalis)
Bagaimana mengisi formulir nak - 03 kalau sapi yang masuk ke Kabupaten Landak berasal dari Madura tetapi melewati dulu Kabupaten Kubu Raya apakah pemasukan antar Kabupaten atau antar provinsi?
Kalau di Kabupaten Kubu Raya dicatat sebagai pemasukan antar provinsi, maka setelah dikirim lagi ke Kabupaten Landak (jadi dicatat lagi di Kubu Raya sebagai pengeluaran antar kabupaten) maka di Kabupaten Landak dicatat sebagai pemasukan antar kabpaten. Tetapi kalau pencatatan hanya di kabupaten Landak (karena sudah diorder) dan di Kubu Raya tidak dicatat maka dicatat sebagai pemasukan antar provinsi.
5 Kab. Pontianak (Pak Sumiyanto) : Bagaimana mengisi formulir Nak03 &
Nak04 kalau sapi yang masuk dan keluar tidak dibedakan jenis kelamin? Bagaimana mengisi formulir Nak01
kalau catatan populasi sapi selama ini belum membedakan umur?
Isilah menggunakan parameter yang ada di kabupaten atau provinsi.
Isilah dengan memproporsikan dengan menggunakan parameter yang ada di kabupaten atau provinsi.
6 Kab. Pontianak (Pak Sumiyanto) : Paling sulit adalah memperoleh data masuk dan keluar ternak karena tidak setiap ternak yang masuk/keluar melalui pos pencatatan, bagaimana mengatasi hal ini?
Bisa didekati dengan mengecek ternak di pasar hewan.
7 PERMASALAHAN :
a. Tidak ada dinas peternakan dan kesehatan hewan yang berdiri sendiri di tingkat kabupaten/kota di Kalimantan Barat, bahkan ada yang hanya berdiri sebagai satu seksi di dinas yang membidangi pertanian, dan yang menangani pun kadang tidak paham tentang peternakan.
b. Otonomi daerah menyebabkan provinsi tidak mempunyai kepanjangan tangan di kabupaten/kota, sehingga program-program tidak berjalan.
Narasumber sedang menjelaskan materi Buku Pedoman Teknis Pengumpulan Data Peternakan (Roch) dan e-Form Peternakan (Suyati)
Pada gambar proses bisnis e-Purchasing, e-Purchasing berada pada ranah panitia K/L/D/I. Panitia dapat melakukan negosiasi harga atau langsung menyetujui harga yang ditawarkan kontrak payung kemudian langsung membuat kontrak pengadaan bila semua persyaratan sudah sesuai.
tinggi, banyak tersedia di pasar, pasar kompetitif, barang/jasa sederhana, dan jenis barang/jasa didominasi dengan barang pabrikan, dan jasa standar. Proses pengadaan melalui e-Purchasing berkaitan dengan e-Catalog yang memuat informasi mengenai barang/jasa yang akan diproses melalui aplikasi e-Purchasing.
Proses bisnis e-Purchasing
Aplikasi e-Purchasing memiliki proses bisnis antara Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), penyedia barang/jasa, dan K/L/D/I. Proses antara LKPP dan penyedia barang/ jasa berada pada proses memasukkan data barang/ jasa yang akan dimasukkan di dalam e-Catalogue. LKKP akan mengadakan proses verifikasi untuk menentukan kontrak payung dari penyedia barang/ jasa yang akan diumumkan melalui e-Catalogue dan digunakan oleh panitia K/L/D/I melalui aplikasi e-Purchasing.
Proses pemilihan penyedia barang/jasa lainnya diatur melalui Peraturan presiden Nomor 70 Tahun 2012 pada pasal 35 yaitu dengan cara pelelangan yang terdiri pelelangan umum dan sederhana, penunjukkan langsung, pengadaan langsung atau kontes/sayembara. Peraturan Presiden ini pun diperkuat dengan Peraturan Kepala LKPP Nomor 17 Tahun 2012 tentang e-Purchasing pada pasal 1 ayat 5 yaitu e-Purchasing adalah tata cara pembelian barang/jasa melalui sistem katalog elektronik.
Trend pengadaan ke depannya nantinya tidak hanya dilaksanakan melalui proses lelang atau tender. Karena tender biasanya merupakan barang dengan volume dengan kebutuhan rendah, belum tersedia di pasar, pasar kompetitif, barang/jasa yang cukup kompleks, kemudian jenis barang/jasa didominasi dengan rekayasa, jasa, design, dan inovasi. Sedangkan penunjukkan langsung merupakan barang dengan volume kebutuhan
PENUNJUKKAN LANGSUNG YANG LEBIH AMAN
MENGGUNAKAN E-PURCHASING
Gambar 1. Proses Bisnis e-Purchasing
Alur melakukan proses pembelian melalui e-Purchasing
Alur proses pembelian melalui aplikasi e-Purchasing melalui tiga tahapan. Tahapan pertama berada di sisi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Lanjutan Berita Penunjukkan Langsung...
Gambar 3. Alur Proses Pembelian Melalui e-Purchasing Dari Sisi Pokja ULP
Gambar 4. Alur Proses Pembelian Melalui e-Purchasing Dari Sisi Penyedia
e-Purchasing.
Selanjutnya pokja ULP yang akan memproses login sebagai panitia ke dalam aplikasi SPSE dan memilih masuk ke aplikasi e-procurement lainnya untuk membuat paket dan kirim permintaan pembelian.
Gambar 2. Alur Proses Pembelian Melalui e-Purchasing Dari Sisi PPK
PPK melihat melalui e-Catalogue spesifikasi yang dibutuhkan serta harga yang sesuai. Kemudian PPK menyusun rencana pelaksanaan pengadaan yang akan dilaksanakan kemudian rencana pelaksanaan pengadaan tersebut disampaikan ke Pokja/ULP yang akan melaksanakan proses penunjukkan langsung menggunakan aplikasi
pembelian yang diajukan oleh pokja ULP bila memang penyedia menyanggupi permintaan pokja ULP.
Selain PPK dan pokja ULP, penyedia barang/ jasa juga ikut mengakses aplikasi SPSE untuk melihat notifikasi yang dikirimkan dan menyetujui
Lanjutan Berita Penunjukkan Langsung...
dalam aplikasi Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) karena aplikasi ini menempel di dalam aplikasi SPSE.
Gambar 5. Halaman Aplikasi e-procurement lainnya
Aplikasi e-Purchasing
Aplikasi ini dapat diakses setiap PPK, panitia pengadaan barang/jasa dan penyedia/rekanan barang/jasa yang sudah memiliki hak akses ke
Gambar 6. Halaman Aplikasi e-Purchasing
Setelah panitia login ke dalam aplikasi SPSE, panitia dapat mengaksesnya melalui menu Aplikasi e-procurement lainnya kemudian pilih aplikasi e-Purchasing yang panitia barang/jasa inginkan. Di dalam aplikasi e-procurement lainnya ini terdapat
beberapa aplikasi e-Purchasing seperti aplikasi e-Purchasing obat, alat kesehatan, PP sheet, mesin pertanian, hotmix, readymix, kendaraan bermotor, Internet Service Provider (ISP), dan alat berat.
Lanjutan Berita Penunjukkan Langsung...
Gambar 6. Lanjutan
Sementara jagung untuk pangan diantaranya diolah menjadi berbagai macam produk makanan turunan seperti sereal, minyak jagung, tepung jagung, dan lain - lain.
Berdasar tabel input output tahun 2005 (BPS), penggunaan jagung untuk industri pakan ternak sekitar 21,85%, kopi giling dan kupasan sebesar 8,91%, tepung jagung sebesar 7,18%, bibit
melalui aplikasi e-Purchasing maka panitia barang/ jasa dapat mulai memproses kontrak pengadaan.
Penggunaan aplikasi e-Purchasing ini relatif lebih aman untuk panitia pengadaan barang/jasa karena harga yang ditawarkan oleh penyedia/ rekanan barang/jasa sudah masuk ke dalam kontrak payung antara LKPP dengan penyedia. Selain itu, pembelian barang yang dapat langsung memilih se-suai dengan kebutuhan panitia barang/jasa sese-suai dengan jenis serta merk barang/jasa yang mereka butuhkan. (
Lilik)Panitia cukup menekan menu aplikasi e-Purchasing yang panitia barang/jasa butuhkan kemudian tekan tombol Masuk Versi Production untuk mulai mengerjakan penunjukkan langsung menggunakan e-Purchasing. Setelah menekan tombol tersebut panitia barang/jasa mulai dapat membuat paket dan mengisi formulir yang tampil pada aplikasi. Sebelum menginputkan data barang/ jasa yang dibutuhkan oleh panitia, panita harus melihat kebutuhan barang/jasa pada aplikasi e-Catalogue. Bila data sudah diinputkan dan PPK sudah menyetujui proses pembelian barang/jasa
KEGIATAN SURVEI PENGGUNA JAGUNG
TAHUN 2014
Jagung merupakan komoditas strategis dilihat dari perannya sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras dan juga sebagai bahan baku pakan ternak. Penggunaan jagung dalam negeri didominasi oleh industri pakan ternak. Komposisi jagung dalam pakan unggas berkisar 50 %, sehingga diperkirakan industri pakan ternak nasional setiap tahunnya membutuhkan sekitar 6 - 7 juta ton jagung.
sebesar 5,31% , minyak jagung sebesar 3,23% dan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 51,37%. Sementara itu, data penggunaan jagung yang diolah untuk industri makanan dan non makanan dalam perhitungan Neraca Bahan Makanan (NBM) cenderung under estimate. Untuk itu perlu informasi yang lebih akurat tentang penggunaan jagung oleh industri pakan dan penggunaan lainnya. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian pada tahun 2014 akan melakukan Survei Penggunaan Jagung di beberapa provinsi sampel.
Tujuan dari kegiatan ini adalah (a) melakukan survei untuk mengumpulkan data dan informasi tentang penggunaan jagung untuk industri makanan dan non makanan di wilayah sampel, dan (b) Melakukan analisis hasil survei penggunaan jagung untuk industri makan dan non makanan. Pada tahun 2014 ini survei akan dilakukan di 5 (lima) provinsi sentra jagung dan lokasi industri berbahan baku jagung dengan total sampel sebanyak 250 sampel. Obyek survei meliputi Industri pakan, industri pangan, petani, pedagang dan peternak ayam petelur/ayam buras/itik. Wilayah sampel adalah Provinsi Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Alokasi sampel secara rinci tersaji pada Bab III Metodologi. Survei akan dilaksanakan pada bulan Juni 2014, dengan cakupan data yang dikumpulkan selama setahun terakhir (Juni 2013 s/d Mei 2014).
Tahapan kegiatan survei, petugas, dokumen yang digunakan serta jadwal pelaksanaan survei adalah sebagai berikut :
Alur Pengumpulan Data
Pelaksanaan Survei Penggunaan Jagung secara garis besar ada 2 (dua) alur, yaitu untuk industri dan non industri. Responden untuk industri adalah perusahaan/industri pakan dan industri pangan yang berbahan baku jagung. Sementara responden untuk non industri adalah petani, pedagang dan peternak.
Secara rinci alur dokumen survei dan pengumpulan data disajikan pada bagan berikut :
Gambar 1. Alur survei untuk industri
Keterangan : Koordinasi
Pengumpulan Data
Gambar 2. Alur survei untuk non industri (petani, pedagang dan peternak)
Pemilihan Sampel
Survei pengunaan jagung yang akan dilakukan mencakup 5 (lima) pelaku pada rantai tata niaga jagung yakni mulai dari tingkat produsen hingga penggunaannya oleh peternak, industri pakan, dan industri pangan yang berbahan baku jagung. Oleh karena itu, responden dari survei ini meliputi : 1. Petani
2. Pedagang
Lanjutan Berita Kegiatan Survei Pengguna Jagung...
Pusdatin/Tim GPMT / KADIN Industri SPJ2014.PAKAN SPJ2014.PANGAN SPJ2014.PAKAN SPJ2014.PANGAN Pusdatin/Tim Provinsi, Kabupaten Petani, Pedagang, Peternak SPJ2014.TANI SPJ2014.DAG SPJ2014.NAK
Lanjutan Berita Survei Karkas Unggas...
3. Peternak ayam petelur/ayam buras/itik4. Industri pakan 5. Industri pangan
Pelaku pada mata rantai tata niaga jagung yang menjadi target pada survei ini digambarkan pada skema berikut :
Gambar 3. Skema pelaku pada rantai tata niaga jagung yang menjadi target survei
Pemilihan provinsi sampel dilakukan berdasarkan provinsi sentra produksi jagung pipilan kering serta banyaknya industri/usaha/unit pengolahan jagung untuk pakan dan pangan. Dasar pemilihan ini berasal dari data produksi jagung pipilan kering per provinsi yang bersumber dari BPS, data industri pakan ternak dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta data usaha/unit industri besar/sedang dan mikro/kecil yang bersumber dari BPS. Berdasarkan atas besarnya produksi jagung dan lokasi pabrik pakan, maka terpilih 5 (lima) provinsi seperti tersaji pada tabel. Sementara pemilihan kabupaten di provinsi terpilih dilakukan berdasarkan kabupaten yang memiliki produksi jagung pipilan kering relatif tinggi serta banyaknya industri/usaha/unit pengolahan jagung untuk pakan dan pangan. Provinsi dan kabupaten terpilih adalah sebagai berikut :
Alokasi sampel petani dan pedagang dipilih pada tiap-tiap kabupaten sampel dilakukan secara proporsional berdasarkan besarnya daerah sentra produksi jagung. Sementara alokasi sampel peternak ayam petelur/ayam buras/itik dipilih pada
tiap - tiap kabupaten sampel dilakukan secara proporsional berdasarkan besarnya daerah sentra produksi jagung dan juga banyaknya peternak ayam petelur/ayam buras/itik yang mencampur sendiri jagung sebagai pakannya. Sampel perusahaan/usaha industri pakan dipilih pada tiap - tiap provinsi sampel berdasarkan data dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Asosiasi/Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Alokasi sampel perusahaan/usaha industri pangan dipilih pada tiap-tiap kabupaten sampel dilakukan secara proporsional berdasarkan besarnya daerah sentra produksi jagung dan jumlah industri berbahan baku jagung berdasarkan data BPS.
Alokasi jumlah sampel survei penggunaan jagung menurut jenis responden di 5 (lima) provinsi adalah sebagai berikut :
Responden yang akan diwawancarai diupayakan dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Petani
Telah melakukan usaha tani jagung dalam waktu yang relatif lama
Bentuk hasil produksinya jagung pipilan ker-ing
Sebagian atau seluruh produksi jagungnya untuk dijual
Melakukan transaksi penjualan jagung pada periode survei
2. Peternak ayam ras petelur/ayam buras/itik Beternak ayam ras petelur/ayam buras/itik Menggunakan pakan jagung yang dicampur
sendiri 3. Pedagang
Berdagang jagung pipilan kering dan atau wujud lainnya
Memiliki lokasi usaha yang jelas Mudah diwawancarai (