•• I l j
Menimbang
Mengingat
BUPATI MUSI BANYUASIN
PROVINSI SUMATERA SELATAN
PERATURANBUPATI MUSI BANYUASINNOMOR
gl
TAHUN 2020TENTANG
PENGELOLAANAMBULANSDESA
DENGAN RAHMATTUHANYANG MAHAESA BUPATI MUSI BANYUASIN,
a. bahwa setiap orang mempunyai hak yang sarna dalam memperoleh akses atas sumber daya dibidang kesehatan
sesmu dengan amanat Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 5 ayat (1);
b. bahwa dalam rangka tertibnya pengelolaan ambulans Desa yang diperoleh Pemerintah Desa baik bantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan sumbangan dari pihak ketiga serta yang dianggarkan dalam APBDesa, yang secara khusus dipergunakan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat desa setempat;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pengelolaan Ambulans Desa.
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 ten tang
Pembentukan Daerah Tingkat II dan Kotapraja di Sumatera Se1atan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1821);
..
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang
Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor4436);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri
Kesehatan Nomor 34 Tahun 2005 dan Nomor
1138/Menkes/PB/Vlll/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2015 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1045);
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor I Tahun 2016 ten tang Pengelolaan Aset Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 53);
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 2016 tentang Kewenangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1037);
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 2016 tentang Administras Pemerintahan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1100);
Menetapkan
10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 611);
11. Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang
Pedoman Penyusunan Tata Cara Pengadaan
Barang/Jasa di Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 1455);
12. Peraturan Bupati Nomor 88 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2018 Nomor 88);
13. Peraturan Bupati Nomor 55 Tahun 2020 tentang Pengelolaan dan Kodefikasi Aset Desa (Berita Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2020 Nomor 55);
MEMUTUSKAN:
PERATURAN BUPATI MUSI BANYUASIN TENTANG
PENGELOLAANAMBULANSDESA.
BAB I
KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu
Pengertian, Definisi dan Singkatan Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Kabupaten adalah Kabupaten Musi Banyuasin;
2. Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin;
3. Bupati adalah Bupati Musi Banyuasin;
4. Pemerintah Daerah adalah adalah Bupati dan Perangkat daerah sebagai unsur Penyelenggara Pemerintahan Daerah. 5. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa adalah Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Musi Banyuasin;
6. Dinas Kesehatan adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin;
,
.
7. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai Perangkat Daerah Kabupaten Musi Banyuasin;
8. Desa adalah Desa dan Desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
9. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 10. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut
dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa;
11. Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain, adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis;
12. Anggaran Pendapatan Belanja Desa yang selanjutnya disingkat APBDesa adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan desa;
13. Aset Desa adalah barang milik Desa yang berasal dari kekayaan asli milik Desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa) atau perolehan Hak lainnya yang sah;
14. Pengelolaan Aset Desa merupakan rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan, pemeliharaan, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pelaporan, penilaian, pembinaan, pengawasan dan pengendalian aset Desa;
15. Perencanaan adalah tahapan kegiatan secara sistematis untuk merumuskan berbagai rincian kebutuhan barang milik Desa;
4
'.
16. Pengadaan adalah kegiatan untuk me1akukan pemenuhan kebutuhan barang dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Desa;
17. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pengguna Barang dalam menggunakan aset Desa yang sesuai dengan tugas dan fungsi;
18. Pemanfaatan adalah pendayagunaan aset Desa secara tidak 1angsung dipergunakan dalam rangka penyelenggaraan tugas Pemerintahan Desa dan tidak mengubah status kepemilikan;
19. Pinjam pakai adalah pemanfaatan aset Desa oleh Pemerintah Desa yang diperoleh dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan;
20. Pemeliharaan adalah kegiatan yang dilakukan agar semua aset Desa selalu dalam keadaan baik dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Desa;
21. Penatausahaan adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan aset Desa sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
22. Pelaporan adalah penyajian keterangan berupa informasi terkait dengan keadaan objektif aset Desa;
23. lnventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pe1aporan hasil pendataan aset Desa;
24. Petugas Kesehatan di desa adalah petugas yang ditempatkan serta bertugas melayani masyarakat di desa baik di Puskesmas Pembantu (Pustu) dan di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes);
25. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis;
26. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perseorangan tingkat pertarna, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk meneapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah keIjanya;
27. Gawat Darurat/ Emergency adalah suatu keadaan gangguan kesehatan yang harus mendapat tindakan segera dan
apabila terlambat keadaan menjadi memburuk,
menyebabkan keeelakaan atau meninggal yang dilayani di unit gawat darurat;
28. Ambulans Desa adalah kendaraan ambulans milik pemerintah desa yang dilengkapi dengan peralatan medis untuk mengangkut orang sakit atau korban keeelakaan yang disiapkan atau disiagakan di desa;
29. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang selanjutnya disingkat FKTP adalah fasilitas kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat non spesialistik untuk keperluan observasi, promotif, preventif, diagnosis, perawatan, pengobatan dan atau pelayanan kesehatan lainnya;
30. Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut yang selanjutnya disingkat FKRTL adalah fasilitas kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat spesialistik atau sub spesialistik yang meliputi rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap tingkat lanjutan dan rawat inap di ruang perawatan khusus.
Bagian Kedua Tujuan dan Fungsi
Pasal2
Tujuan penyediaan Ambulans Desa ini adalah mendekatkan akses masyarakat ke FKTPdan FKRTL.
Pasal3
Fungsi Ambulans Desa adalah :
a. sarana transportasi untuk merujuk pasien dari desa ke Puskesmas dan atau FKTPlainnya;
b. sarana transportasi untuk merujuk pasien dari desa ke Rumah Sakit dan/atau FKRTL lainnya untuk kasus-kasus tertentu;
c. sarana penunjang pelayanan kesehatan di desa; dan
d. saran a transportasi bagi masyarakat ke Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
BAB II
PENGELOLAAN
Pasal4
(I) Ambulans Desa yang diterima Pemerintah Desa dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat, penyerahannya bersifat pinjam pakai tidak dicatat sebagai Aset Desa;
(2) Ambulans Desa dapat dicatat sebagai Aset Desa apabila dalam Berita Acara Penyerahan menyebutkan bahwa Ambulans tersebut diserahkan langsung ke Pemerintah Desa untuk dikelola secara penuh dan menjadi milik Pemerintah Desa dengan dilampirkan berupa Dokumen Surat Administrasi Kendaraan;
(3) Kepala Desa wajib melaporkan Ambulans Desa yang diperoleh Pemerintah Desa baik bantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat ke Bupati melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa;
(4) Pengelolaan ambulans Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dibentuk Tim Penge10laAmbulans Desa dengan Kepala Desa sebagai Penanggung Jawab;
(5) Tim pengelola ambulans desa dibentuk berdasarkan hasil musyawarah Desa dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa terdiri dari Penanggung Jawab, Kepala Puskesdes dan atau Puskesmas Pembantu sebagai Ketua, Sekretaris Desa sebagai Sekretaris, Kepala Urusan Keuangan sebagai
Bendahara, Kasi Pelayanan dan atau Kasi Kesejahteraan sebagai Pelaksana Kegiatan dalam APB Desa dan sopir sebagai anggota dan penanggung jawab operasional Ambulans Desa maksimal 3 (tiga) orang anggota;
(6) Kalau Keuangan Desa tidak mencukupi maka Honor Tim Pengelola Ambulans Desa hanya dianggarkan untuk sopir Ambulans Desa dalam APB Desa dan dibayarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pasal 5
Tim Pengelola Ambulans Desa mempunyai tugas dan fungsi untuk memelihara, menjaga dan mengatur operasional pemakaian Ambulans Desa.
Pasal6
Petugas kesehatan di Desa bertanggung jawab mendampingi rujukan pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan.
BAB III
PENGANGGARANDANPEMBlAYAAN Pasal 7
(1) Pengadaan Ambulans Desa dapat dianggarkan dalam APBDesa berdasarkan pagu anggaran yang diterima oleh Pemerintah Desa dari Bantuan Keuangan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten sesuai kebutuhan Desa dan aturan yang berlaku;
(2) Pengadaan Ambulans Desa yang dianggarkan dalam APBDesa wajib dibahas dalam Musyawarah Desa dan dimasukkan dalam RKP Desa sebelum ditetapkan dalam Peraturan Desa tentang APB Desa.
Pasa! 8
(1) Ambulans Desa yang tercatat sebagai Aset Desa, maka biaya untuk Pemanfaatan dan Pemeliharaan dialokasikan dalam APB Desa sesuai dengan ketentuan yang ber1aku;
(2) Apabila Pemerintah Desa menerima dana dari pihak lain yang sifatnya tidak mengikat untuk Pemanfaatan dan Pemeliharaan Ambulans Desa, maka dana tersebut wajib disetor ke Rekening Desa dan dimasukkan APB Desa;
(3) Ambulans Desa yang belum tercatat sebagai Aset Desa yang sifatnya pinjam pakai, dana untuk Pemanfaatan dan Pemeliharaannya dapat diajukan dan berkoordinasi dengan Pihak Yang Menyerahkan agar tidak teIjadi tumpang tindih anggaran, apabila tidak dianggarkan oleh Pihak Yang Menyerahkan maka Pemerintah Desa dapat menganggarkan dalam APB Desa.
Pasa!9
Ketentuan lebih lanjut yang belum diatur diatur dalam Peraturan Bupati ini dengan Peraturan Desa
BAB 1lI
PEMBINAANDANPENGAWASAN Pasal 10
(1) Pembinaan terhadap pelaksanaan operasional ambulans
Desa dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa;
(2) Monitoring dan pengawasan terhadap penggunaan ambulans Desa dilakukan oleh Camat.
BAB IV PENUTUP Pasal 11
Peraturan Bupati ini mulai berIaku pada tanggaI di undangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Musi Banyuasin.
Ditetapkan di Sekayu
pada tanggal I ~ Okwb...r
~fO
j
BUPATI MUSI BANYUASIN'f ~\
'H. DOD! REZA ALEX NOERD!N Diundangkan di Sekayu
pada tanggaI ,,,
aHa
b"r 2020 TARIS DAERAHATEN MUSI BANYUASIN,