PERBEDAAN DAYA HAMBAT BEBERAPA JENIS PASTA
GIGI MENGANDUNG BAHAN HERBAL TERHADAP
PERTUMBUHAN Streptococcus mutans
SKRIPSI
UNIVERSITAS ANDALAS
Oleh:
NIDIA SALI PRATIWI
1010342011
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ANDALAS
vii FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS ANDALAS
Skripsi, Maret 2014 NIDIA SALI PRATIWI
PERBEDAAN DAYA HAMBAT BEBERAPA JENIS PASTA GIGI MENGANDUNG BAHAN HERBAL TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans
Isi + 57 halaman + 19 gambar + 5 tabel + 6 lampiran
ABSTRAK
Pencegahan karies dan penyakit periodontal dapat dilakukan dengan pengontrolan plak secara teratur. Penggunaan pasta gigi dapat memberikan efek kimiawi terhadap pengontrolan plak. Pasta gigi herbal merupakan pasta gigi yang mengandung bahan tumbuh-tumbuhan yang diharapkan dapat menekan jumlah
Streptococcus mutans. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan
daya hambat beberapa jenis pasta gigi herbal terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Laboratorium Kesehatan Propinsi Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan jumlah sampel masing-masing perlakuan terdapat 10 cakram yang direndam dan ditanam pada media Blood agar yang mengandung
Streptococcus mutans. Penelitian ini menggunakan tiga jenis pasta gigi yang
mengandung bahan herbal yaitu siwak, daun sirih, dan cengkeh. Hasil pengujian daya hambat pasta gigi herbal ini menggunakan metode difusi agar.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata zona hambat yang paling efektif menghambat pertumbuhan bakteri adalah pasta gigi herbal cengkeh. Hasil uji One
way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna diameter zona
hambat antara tiga jenis pasta gigi terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans
(p<0.05).
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pasta gigi herbal terbukti memiliki efek antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Pasta gigi herbal cengkeh memiliki rata-rata zona hambat paling besar yaitu 16,075 mm dalam menghambat perumbuhan Streptococcus mutans.
Kepustakaan : 50 (2002-2013)
viii DENTISTRY FACULTY OF ANDALAS UNIVERSITY
Script, Maret 2014
NIDIA SALI PRATIWI
THE DIFFERENCE OF ZONE INHIBITION SEVERAL HERBAL TOOTHPASTE TOWARD THE GROWTH OF Streptococcus mutans
Contents + 57 pages + 19 images + 5 tables + 6 appendixes
ABSTRACT
Prevention of dental caries and periodontal disease can be eliminated by plaque controls regularly. Plaque controls can be done mechanically and chemically. The usage of herbal toothpaste is able to give chemical effect toward plaque control. Herbal toothpaste is a toothpaste containing herbal material that is expected to reduce the number of Streptococcus mutans. The aim of this study is to investigate the difference of zone inhibition several herbal toothpaste toward the growth of Streptococcus mutans.
This study was finished in Microbiology Laboratory of Laboratorium Kesehatan Daerah Sumatera Barat.This study was experimental research using 10 samples of each discs that immersed and planted in Blood agar medium that contain Streptococcus mutans. This study used three types of herbal toothpastes such as siwak, piper beetles leaves, and clove herbal toothpaste. Zone inhibitions result of herbal toothpaste used agar diffusion method.
The result showed the average of zone inhibition that the most effective was clove herbal toothpaste. One way ANOVA test result showed there is a difference of several herbal toothpaste with the growth of Streptococcus mutans (p<0.05).
The conclution of this study is herbal toothpaste have antibacterial effect toward the growth of Streptococcus mutans. Herbal toothpaste containing clove has the widest inhibition zone 16 mm in inhibit the growth of Streptococcus mutans.
References : 50 (2002-2013)
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karies merupakan hasil interaksi dari bakteri, plak atau biofilm, dan diet
yang difermentasikan oleh bakteri plak menjadi asam. Karies adalah penyakit
infeksi yang disebabkan pembentukan plak kariogenik pada permukaan gigi yang
menyebabkan demineralisasi gigi (Putri M.H et al, 2009). Pada rongga mulut
terdapat lebih dari 300 spesies bakteri, hanya beberapa bakteri yang ditemukan
plak, salah satunya Streptococcus mutans yang merupakan organisme utama
penyebab karies. Beberapa studi mengenai karies menyatakan bahwa patogenitas
dari plak berhubungan dengan jumlah Streptococcus mutans (McDonald et al,
2004).
Permasalahan kesehatan rongga mulut yang banyak ditemukan pada
masyarakat di Indonesia adalah karies gigi dan penyakit periodontal. Data Survei
Kesehatan Rumah Tangga tahun 2004 menyatakan bahwa, prevalensi karies di
Indonesia mencapai 90,06%. Berdasarkan laporan nasional riset kesehatan dasar
tahun 2007 bahwa indeks DMF-T untuk daerah Sumatera Barat adalah 5.25, yang
berarti telah melebihi indeks DMF-T yang telah ditetapkan WHO, yaitu 3.
Meningkatnya risiko karies di Indonesia salah satunya disebabkan karena cara
penyikatan gigi yang tidak benar. Persentase penduduk Indonesia yang
berperilaku benar dalam menggosok gigi masih sangat rendah, yaitu 7,3%
2 Studi klinis menunjukkan bahwa karies gigi adalah salah satu penyakit
manusia yang utama disebabkan oleh mikroba rongga mulut (Marsh,
1994 di dalam He et al, 2009). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh J.
Clarke tahun 1924, Streptococcus mutans telah terbukti menjadi salah satu
mikroba yang paling kompleks dalam tubuh manusia (He et al, 2009).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Keyes tahun 1960, memperlihatkan
bahwa plak yang didominasi oleh Streptococcus mutans dan Lactobacillus
menyebabkan terbentuknya karies. Streptococcus mutans dan Lactobacilus
merupakan bakteri kariogenik karena mampu segera membentuk asam dari
karbohidrat yang dapat difermentasikan. Bakteri tersebut dapat tumbuh dalam
suasana asam dan melekat pada permukaan gigi karena kemampuannya membuat
polisakarida ekstrasel. Polisakarida ini terdiri dari polimer glukosa yang
menyebabkan matriks plak gigi mempunyai konsistensi seperti gelatin, akibatnya
bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada permukaan gigi (Kidd, 2012).
Plak memegang peranan penting dalam etiologi karies dan penyakit
periodontal. Pencegahan karies dan penyakit periodontal dengan meningkatkan
kesehatan gigi dan mulut menjadi tujuan utama dalam ilmu pencegahan
kedokteran gigi. Pencegahan karies dan penyakit periodontal dapat dilakukan
dengan mencegah pembentukan plak dan pembersihan plak secara teratur. Usaha
pengontrolan plak harus diarahkan pada dua tujuan yaitu membatasi jumlah
Streptococcus mutans untuk pencegahan karies serta memelihara kesehatan
gingiva dengan eliminasi plak pada area subgingiva secara mekanis maupun
3 Pengontrolan plak secara kimiawi dengan menggunakan klorheksidin
dapat menghambat pembentukan plak dan menekan flora rongga mulut.
Klorheksidin merupakan senyawa kimiawi yang paling efektif untuk mengontrol
plak, tetapi penggunaannya dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan
ketidakseimbangan flora rongga mulut, perubahan warna gigi, dan deskuamasi
gingiva (Kidd, 2005).
Pengontrolan plak secara mekanis dapat dilakukan dengan penyikatan gigi
secara teratur. Pasta gigi merupakan bahan pembantu sikat gigi dalam
menghambat pertumbuhan plak secara kimiawi (Putra, 2002 dalam Utami, 2012).
Penggunaan pasta gigi sebagai bahan abrasif berfungsi untuk membersihkan dan
menghaluskan permukaan gigi. Bahan antibakteri yang terdapat pada pasta gigi
memberikan efek teraupetik sehingga dapat menekan Streptococcus mutans
sebagai penyebab terbentuknya karies (Darby et al, 2010).
Pasta gigi yang mengandung fluorida sebagai salah satu bahan kimia
dalam pasta gigi dapat meningkatkan ion fluor pada permukaan gigi. Ion fluor
tersebut akan menghambat kolonisasi bakteri (Manson,2012). Beberapa penelitian
menemukan bahwa penggunaan fluorida dalam jangka waktu yang lama dapat
menyebabkan fluorosis dan apabila tertelan menyebabkan gangguan pencernaan
(Singh, 2007).
Penggunaan bahan ekstrak tumbuh-tumbuhan (herbal) merupakan salah
satu pilihan sebagai antibakteri dalam pasta gigi yang aman untuk digunakan. Saat
ini, berbagai produk kesehatan terutama untuk kesehatan rongga mulut cenderung
bahan-4 bahan kimia. Penelitian serta pemanfaatan tanaman obat asli Indonesia telah
banyak dilaksanakan oleh peneliti-peneliti. Obat-obat tradisional asli Indonesia
dapat berperan dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat karena selain
murah dan mudah didapat, obat tradisional yang berasal dari tumbuhan relatif
tidak menimbulkan efek samping (Kusuma, 2010).
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai
produsen pasta gigi membuat inovasi untuk menambahkan zat lain yang
bermanfaat bagi kesehatan gigi. Penambahan zat lain pada pasta gigi harus aman
dan efektif, serta pemakaiannya telah disetujui oleh American Dental Association
(McDonald et al, 2004). Penambahan herbal pada pasta gigi diharapkan dapat
menghambat pertumbuhan plak, hal tersebut berkaitan dengan kemampuan
beberapa jenis herbal yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba dan bahan
tersebut aman untuk digunakan. Pasta gigi yang mengandung herbal saat ini
banyak ditemukan dipasaran. Pasta gigi tersebut dalam kemasannya tercantum
mengandung berbagai jenis ekstrak tumbuh-tumbuhan antara lain jeruk nipis,
daun sirih, siwak dan cengkeh yang bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan
bakteri plak (Sasmita et al, 2007).
Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat efek antibakteri dari
siwak terhadap bakteri penyebab karies dan penyakit periodontal serta
menghambat pembentukan plak. Siwak (Salvadora persica) mengandung bahan
antiseptik, asam tanat, dan minyak atsiri yang meningkatkan kesehatan mulut
5 Pasta gigi yang mengandung ekstrak daun sirih efektif dalam mengurangi
plak dan gingivitis. Kandungan kimianya bersifat antiseptik karena daun sirih
mengandung minyak atsiri. Daya antibakteri minyak atisiri daun sirih disebabkan
kandungan senyawa fenol dan turunannya yang dapat mendenaturasi protein sel
bakteri (Kusuma, 2010). Ekstrak daun sirih memiliki minyak esensial yang terdiri
dari senyawa fenol seperti kavikol, kavibetol, karvakrol, betlefenol, eugenol dan
alkilpirokatekol. Fenol efektif menghambat pertumbuhan bakteri dan sebagian
besar fungi dengan cara merusak spora. Fenol memiliki efek antibakteri sehingga
dapat mengurangi bakteri Streptococcus mutans pada permukaan gigi (Tyasrini et
al, 2004).
Minyak atsiri dari daun cengkeh (Syzygium aromaticum L.) memiliki
aktivitas antibakteri dan antibiofilm. Kandungan aktif yang berperan sebagai
antibakteri pada minyak atsiri cengkeh yaitu senyawa eugenol (Ardani et al,
2010). Berdasarkan penelitian Taufik et al menyatakan bahwa kemampuan
penghambatan minyak cengkeh terhadap bakteri gram positif lebih baik dibanding
bakteri gram negatif.
Mengingat daya antibakteri dari siwak, daun sirih, dan cengkeh yang
digunakan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan pasta gigi herbal, maka
peneliti bermaksud melakukan penelitian mengenai perbedaan daya hambat pada
pasta gigi herbal siwak, daun sirih, dan cengkeh terhadap pertumbuhan bakteri
6 1.2 Rumusan Masalah
Apakah terdapat perbedaan daya hambat beberapa jenis pasta gigi
mengandung bahan herbal terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui perbedaan daya hambat beberapa jenis pasta gigi mengandung
bahan herbal terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Mengetahui daya hambat pasta gigi herbal siwak terhadap pertumbuhan
Streptococcus mutans.
b. Mengetahui daya hambat pasta gigi herbal daun sirih terhadap
pertumbuhan Streptococcus mutans.
c. Mengetahui daya hambat pasta gigi herbal cengkeh terhadap pertumbuhan
Streptococcus mutans.
d. Mengetahui daya hambat pasta gigi herbal siwak, daun sirih dan cengkeh
terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.
1.4 Manfaat Penelitian a. Masyarakat
Memberi alternatif pilihan pasta gigi yang mengandung herbal kepada
7 b. Klinisi
Mengetahui pasta gigi herbal yang paling efektif untuk pasien dalam
menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dalam upaya pencegahan
karies.
c. Peneliti
Mengetahui perbedaan daya hambat beberapa jenis pasta gigi mengandung
bahan herbal terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari 2014 bertempat di
Balai Laboratorium Kesehatan Daerah Propinsi Sumatera Barat. Penelitian ini
membahas tentang perbedaan daya hambat beberapa jenis pasta gigi herbal
terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Bakteri yang digunakan dalam
penelitian adalah biakan bakteri Streptococcus mutans dari Laboratorium