• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Hardiness pada Guru Sekolah Dasar Sekolah Luar Biasa (SDLB)-C di Kota Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Hardiness pada Guru Sekolah Dasar Sekolah Luar Biasa (SDLB)-C di Kota Bandung."

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak

Menjadi guru bagi siswa dengan tuna grahita harus mampu mengajar dengan penuh kesabaran, dikarenakan harus menangani siswa dengan kemampuan intelegensi rendah dan menimbulkan keterbatasan dalam beradaptasi dengan keadaan sekitar termasuk terhadap materi pelajaran. Guru harus membantu serta menolong siswa tuna grahita berkembang menjadi siswa yang mampu mengurus diri, memiliki pengetahuan yang lebih baik, serta mampu melakukan aktivitas seperti individu pada umum nya. Guru di SLB C perlu memiliki Hardiness untuk menghadapi kondisi sulit selama mengajar siswa tuna grahita, agar mampu melawan keadaan sulit saat menjalani peran sebagai guru SD di SLB C.

Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan Hardiness guru sekolah dasar di Sekolah Luar Biasa bagi penyandang tuna grahita ( SLB-C) di Kota Bandung. Penarikan sampel dilakukan dengan cara meminta kesediaan 7 sekolah untuk mewakili keseluruhan SLB C di kota Bandung yang dilakukan selama 14 hari kepada 53 guru di 7 SLB-C di Kota Bandung.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner yang dikontruksi oleh peneliti yang menggunakan teori Maddi (1994,2002). Hardiness terdiri atas “attitude hardy”(commitment, control, dan challenge). Berdasarkan hasil pengolahan data dari 53 guru SD di SLB C di Kota Bandung, diperoleh 13,21% guru SD di SLB-C memiliki hardiness yang tinggi, sedangkan 86,79% guru SD di SLB C memiliki hardiness yang rendah.

(2)

vi Abstract

Being a teacher for students with mentally disabled should be able to teach with patience, because the need to deal with students with low intelligence capabilities and lead to limitations in adapting to circumstances, including the subject matter. Teachers should help the mentally disabled and to help students develop into students who were able to take care of themselves, have a better knowledge, and able to perform activities such as the individual on his general. Teachers in SLB C needs to have the hardiness to face difficult conditions during student teaching mentally disabled, in order to be able to fight the current difficult circumstances take on the role as an elementary school teacher in SLB C.

This study was conducted to describe the hardiness of primary school teachers in the Special School for mentally disabled persons (SLB-C) in Bandung. Mechanical sampling was done by asking the willingness of seven schools to represent the entire SLB C in Bandung for 14 days to 53 teachers.

The method used in this research is descriptive method. Measuring instrument used was a questionnaire constructed by the researcher who uses the theory of Maddi (1994.2002). Hardiness consists of hardy attitude (commitment, control and challenge). Based on the results of data processing of 53 elementary school teachers in SLB C in Bandung, obtained 13.21% of elementary school teachers in SLB-C has a high hardiness, while 86.79% of elementary school teachers in SLB C has a low hardiness.

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……… i

HALAM AN PENGESAHAN………... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN……….. iii

LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN……… iv

ABSTRAK……… v

ABSTRACT………. vi

KATA PENGANTAR……….. vii

DAFTAR ISI……… ix

DAFTAR TABEL………. xiii

DAFTAR SKEMA………... xiv

DAFTAR LAMPIRAN……… xv

BAB I PENDAHULUAN……… 1

1.1.Latar Belakang Masalah………... 1

1.2.Identifikasi Masalah……… 8

1.3.Maksud dan Tujuan……… 8

1.3.1. Maksud………... 8

1.3.2. Tujuan ………... 8

1.4. Kegunaan Penelitian………. 9

1.4.1. Kegunaan Teoritis……… 9

1.4.2. Kegunaan Praktis………. 9

(4)

x

1.6. Asumsi ……….. 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………. 17

2.1. Definisi Hardiness……… 17

2.2. Dimensi Hardiness………... 18

2.2.1. Commitment……….. 18

2.2.2. Control………... 18

2.2.3. Challenge……….. 18

2.3. Pembentukan Hardiness……… 19

2.4. Perkembangan Dewasa………. 20

2.5. Pengertian Sosiodemografi……… 22

2.6. Karakteristik Guru SLB C………. 22

2.7. Peran Guru dalam Proses Pembelajaran……… 23

BAB III METODELOGI PENELITIAN ……… 26

3.1. Rancangan dan Prosedur Penelitian………... 26

3.2. Bagan Prosedur Penelitian………. 27

3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional……… 27

3.3.1. Variabel Penelitian………. 27

3.3.2. Definisi Konseptual……… 27

3.3.3. Definisi Operasional………... 28

3.4. Alat Ukur………... 29

(5)

3.4.2. Sistem Penilaian Alat Ukur………. 30

3.4.3. Sosiodemografi………... 31

3.4.4. Validitas dan Reliabilitas Alat ukur……… 32

3.4.4.1. Validitas Alat Ukur……….. 32

3.4.4.2. Reliabilitas Alat Ukur……….. 33

3.5. Populasi dan Teknik Penarikan Sampel………. 33

3.5. 1. Populasi Sasaran……… 33

3.5.2. Teknik Penarikan Sampel……….. 34

3.6. Analisa Data……….. 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……… 35

4.1. Gambaran Responden……… 35

4.1.1. Usia………. 35

4.1.2. Jenis Kelamin……….. 35

4.1.3. Lama Mengajar………. 36

4.1.4. Pendidikan……….. 36

4.1.5. Status Pernikahan ……….. 36

4.1.6. Pekerjaan Pasangan………. 37

4.2. Hasil Penelitian……….. 37

4.2.1. Gambaran Hardiness Secara Umum……….. 37

4.2.2. Gambaran Masing-masing Dimensi Hardiness………. 37

4.2.3. Profil terhadap 3 Dimensi Hardiness……….. 38

(6)

xii

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………. 43

5.1. Simpulan ……….. 43

5.2. Saran ……… 44

DAFTAR PUSTAKA………. 45

DAFTAR RUJUKAN ……….. 46

(7)

DAFTAR BAGAN

(8)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.4.1. Gambaran Alat Ukur Hardiness……….. 29

Tabel 3.4.2. Sistem Penilaian Alat Ukur……….. 30

Tabel 4.1. Gambaran Usia Responden………. 35

Tabel 4.2. Gambaran Jenis Kelamin Responden………. 35

Tabel 4.3. Gambaran Lama Mengajar Responden………... 36

Tabel 4.4. Gambaran Pendidikan Responden……….. 36

Tabel 4.5. Gambaran Status Menikah……….. 36

Tabel 4.6. Gambaran Pekerjaan Pasangan Responden………. 37

Tabel 4.7. Gambaran Umum Hardiness………... 37

Tabel 4.8. Gambaran Dimensi –Dimensi Hardiness ( 3C)………... 37 Tabel 4.9. Gambaran Profil Untuk Setiap Dimensi (control, commitment, challenge)………

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Manusia tumbuh dan berkembang baik hanya tertuju pada aspek psikologis saja, maupun juga juga aspek biologis. Dalam memelajari perkembangan manusia diperlukan adanya perhatian khusus mengenai proses pematangan, khususnya pematangan kognitif, proses belajar, pembawaan atau bakat. kesemuanya ini membutuhkan pendidikan dan pengajaran yang tepat sasaran dan tepat kegunaan agar perkembangan dan pertumbuhan manusia mengarah pada keadaan maju dan sempurna. Muhibbin Syah (2010).

(10)

2

Universitas Kristen Maranatha diharapkan memiliki kemampuan yang berkualitas tinggi dalam mengajar atau mendidik untuk mewujudkan perkembangan dan pertumbuhan peserta didik yang maksimal dan maju.

Guru memiliki tempat bekerja di sekolah, Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki beberapa bentuk yaitu pendidikan untuk umum seperti, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTS), Sekolah Menengah Atas (SMA), serta sekolah menengah kejuruan (SMK), juga terdapat pendidikan untuk individu yang memiliki disabilitas atau keterbatasan kemampuan, termasuk sekolah untuk anak berkebutuhan khusus yaitu disebut SLB (Sekolah Luar Biasa). Lembaga yang menangani SLB juga dibedakan berdasarkan jenis disabilitas. Bentuk satuan pendidikan / lembaga sesuai dengan kekhususannya di Indonesia dikenal SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.

(11)

kemandirian lainnya. Program ajaran ini membutuhkan ketangguhan guru dalam memberikan materi yang lebih menekankan pada praktek.

Tahun 2004-2005 jumlah siswa yang bersekolah di SLB di Jawa Barat sebanyak 9.787 siswa, ABK yang bersekolah di sekolah umum (inklusi) sebanyak 1.692 siswa. Perkembangan siswa berkebutuhan khusus di Indonesia yang bersekolah pada lima tahun terakhir mencapai 45 % ( Karwati, 2006 : 47). Hal ini merupakan dampak dari perkembangan SLB yang semula berjumlah 165 sekolah pada tahun 2002 menjadi 261 sekolah pada tahun 2003, dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 273 sekolah yang tersebar diseluruh wilayah kabupaten dan kota di Jawa Barat. (http://ineupuspita.wordpress diakses

pada tanggal 23 april 2016). Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dilihat terjadi perkembangan tingkat pembangunan sekolah luar biasa di Jawa Barat dan perkembangan jumlah siswa yang memiliki kebutuhan khusus.

Di kota bandung sendiri terdapat sekitar 36 sekolah luar biasa yang menangani siswa dengan tuna grahita yang dipimpin oleh 7 pengawas.(ako.blog.upi.edu/files/2015/08/daftar-slb, diakses pada 24 november 2015). Dengan semakin banyaknya sekolah bagi siswa berkebutuhan khusus, perlu mempertimbangkan tenaga pendidik, kurikulum, sarana dan prasarana, pengelolaan sekolah, proses belajar mengajar, dana, supervise, monitoring dan hubungan sekolah dengan lingkungan yang akan diperuntukkan bagi Sekolah Luar Biasa agar dapat mewujudkan mutu pembelajaran yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan siswa Tuna Grahita.

(12)

4

Universitas Kristen Maranatha yang berhubungan dengan bidang pendidikan, di mana memiliki tempat bekerja di Sekolah. Kata “guru” bermakna sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal. Khairil dan Sudarwan (2011)

Banyak pembahasan mengenai bagaimana kinerja guru akan berdampak pada pendidikan bermutu, oleh sebab itu kinerja guru dituntut untuk lebih kompeten dalam menjalankan profesi sebagai guru sekolah dasar di Sekolah Luar Biasa. Untuk memperoleh prestasi pada siswa harus dipersiapkan guru SDLB C yang berkualitas dan terlihat dalam aktivitas perilaku guru sehari-hari di sekolah terutama dalam proses pembelajaran.

Siswa SD tuna grahita yang sedang menjalani program pendidikan di SDLB C adalah siswa tuna grahita yang baru memulai pendidikan di sebuah sekolah, siswa tuna grahita memulai adaptasi dengan lingkungan sekolah yaitu seperti adaptasi dengan guru, teman seusia, materi pelajaran, bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan dari sekolah, tes kemampuan akademik dengan kemampuan mental yang berada di bawah rata-rata kemampuan individu normal, sehingga mereka sulit beradaptasi dengan lingkungan baru di sekolah.

(13)

sendiri, misalnya mandi dan berpakaian sendiri, dapat dilatih pekerjaan rumah sederhana misalnya menyapu, mengepel, dan mencuci piring. 3. Imbecile berat adalah penyandang tuna grahita dengan IQ 19-35. Kelompok imbecile berat adalah penyandang tuna grahita dengan IQ 19-35. Kelompok imbecile berat tidak mampu dididik dan dilatih juga tidak mampu merawat dirinya sendiri.

Siswa tuna grahita tidak mampu memikirkan hal yang berbelit-belit dan abastrak, demikian juga pelajaran berhitung, mengarang, dan pelajaran yang bersifat akademik lainnya. Untuk memahami suatu materi pelajaran, siswa tuna grahita membutuhkan waktu yang sangat lama. Cara belajar siswa tuna grahita cenderung tanpa pengertian atau cenderung belajar dengan “membeo”. Anak tuna grahita juga memiliki keterbatasan sosial seperti tidak

mampu mengurus diri sendiri, dan memerlukan bantuan, memiliki kekurangan fungsi dalam mengolah pembendaharaan kata, sehingga membutuhkan kata-kata yang konkrit untuk didengar, mereka membutuhkan petunjuk yang berulang-ulang dalam memahami konsep. Hal yang menurut umum masalah kecil bisa menjadi sangat sulit bagi siswa tuna grahita.

(14)

6

Universitas Kristen Maranatha Berdasarkan hasil observasi dilakukan, peneliti menduga bahwa guru SDLB C perlu memiliki keterampilan khusus dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswa tuna grahita yaitu dengan bahasa yang dapat dimengerti siswa tuna grahita, seperti kalimat sederhana, tidak berbelit-belit. Guru butuh lebih banyak menggunakan praktek langsung dengan objek untuk mengajar dikarenakan siswa tuna grahita tidak dapat berpikir abstrak. Guru SDLB dituntut untuk lebih gigih, tangguh, dan perhatian yang ekstra pada setiap perilaku siswa tuna grahita yang terkadang tidak terduga dan menimbulkan kekacauan di kelas.

Beberapa Guru SDLB C mengatakan bahwa dirinya perlu benar-benar mempertimbangkan materi yang akan diberikan pada siswa tuna grahita sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Selain mengajarkan materi akademik, guru SDLB C juga mengajarkan siswa tuna grahita mengurus diri, seperti mengelap keringat, berpakaian, mandi, makan, toilet training, menyikat gigi, mengikat tali sepatu, membawa tas sendiri, dan bersosialisasi dengan masyarakat.

Menurut guru-guru kondisi diatas berpotensi menimbulkan stress pada guru SDLB C, stress tersebut yaitu kekhawatiran guru SDLB C bila anak didik tidak mampu menyerap

(15)

stress pada guru SDLB C karena siswa tuna grahita tidak melatih kemampuan yang telah

dilatih di sekolah.

Guru SDLB C perlu memiliki ketangguhan dalam menghadapi setiap kondisi sulit selama mengajar siswa tuna grahita sehingga stress yang muncul tidak berdampak negatif terhadap proses pembelajaran. Ketangguhan pada guru SDLB C dapat digambarkan melalui hardiness. Menurut Kobasa ( 1997) Hardiness adalah karakteristik keperibadian yang

mempunyai fungsi sebagai sumber perlawanan pada saat individu menghadapi kondisi stress. Keadaan stress yang dihadapi guru SDLB C adalah pada saat harus menghadapi siswa dengan kondisi tuna grahita, karena menjadi guru bagi siswa tuna grahita akan menghadapi keadaan yang sangat sulit dan membutuhkan kesabaran serta ketabahan sehingga hal ini menimbulkan stress pada guru SDLB C.

(16)

8

Universitas Kristen Maranatha keterampilan mengembangkan kelebihan siswa tuna grahita setiap hari dan berusaha melatih siswa tuna greahita untuk mengingat pelajaran-pelajaran di kelas untuk tetap dimiliki dan dilakukan dalam keseharian seperti mampu mengurus diri sendiri setiap saat.

Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti akan melakukan penelitian hardiness pada guru SDLB-C yang ada di Kota Bandung.

1.2.Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin diketahui bagaimana gambaran hardiness yang dimiliki guru sekolah dasar SLB-C di Kota Bandung beserta komponen yang membentuk hardiness.

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1. Maksud Penelitian

Ingin mengetahui gambaran hardiness yang dimiliki guru sekolah dasar di SLB-C di Kota Bandung

1.3.2. Tujuan Penelitian

(17)

1.4. Kegunaan Penelitian

1.4.1. Kegunaan Teoritis

 Memberikan informasi dan wawasan teoritik bagi bidang pendidikan anak

berkebutuhan khusus mengenai gambaran hardiness pada guru dalam mendidik siswa berkebutuhan khusus terutama bagi siswa penyandang tuna grahita.

 Memberikan masukan pada peneliti lain yang ingin meneliti mengenai

hardiness pada guru Sekolah Luar Biasa dalam menjalani aktivitasnya.

1.4.2. Kegunaan Praktis

 Sebagai sumber informasi bagi pihak guru sekolah luar biasa dalam

mengembangkan ketangguhan untuk mengajar anak yang memiliki keterbatasan itelegensi dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan.

 Sebagai sumber informasi bagi pihak sekolah untuk memperhatikan kualitas

mengajar siswa tuna grahita dan memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru SDLB C.

1.5. Kerangka Pemikiran

(18)

keterampilan-10

Universitas Kristen Maranatha keterampilan pada siswa (Syaiful Bahri,2010). Sebagai guru di SLB-C harus mendidik, mengajar, dan melatih siswa tuna grahita, yaitu dengan ciri-ciri memiliki kemampuan intelegensi di bawah rata-rata, tidak mampu beradaptasi dengan materi pelajaran secara cepat, tidak mampu berpikir abstrak, didapat merawat diri sendiri, tidak waspada terhadap bahaya . Dengan keterbatasan siswa SLB-C maka guru dituntut harus menggunakan strategi pembelajaran yang tepat bagi anak tunagrahita, yaitu strategi pembelajaran yang diindividualisasikan dimana mereka belajar bersama-sama dalam satu kelas, tetapi kedalaman dan keluasan materi, pendekatan, metode maupun teknik berbeda-beda disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap peserta didik. Metode mengajar hendaknya harus dipilih agar anak belajar dengan melakukan, karena dengan praktek rangasangan yang diperoleh melalui motorik akan cepat terserap dan tidak mudah dilupakan.

Menjadi guru SLB-C yang berkualitas harus memiliki kepribadian hardiness karena hardiness adalah karakteristik keperibadian yang mempunyai fungsi sebagai sumber

perlawanan pada saat individu menemui kejadian yang meinmbulkan stress ( Maddi & Khosaba, 2005:13). Dengan memiliki kepribadian hardiness, maka guru SLB-C akan mampu menghadapi setiap kesulitan selama proses pembelajaran. Guru SLB-C dengan kepribadian hardiness juga tidak akan mudah menyerah dan akan lebih bersemangat dan belajar dari

pengalaman untuk menghadapi dan membimbing siswa yang memiliki kebutuhan khusus dan mengalami tuna grahita.

Hardiness akan berkembang dalam diri seseorang seiring dengan pembelajaran yang

(19)

sebagai seorang guru akan menimbulkan kondisi stres. Kondisi stres yang tinggi pada guru akan menimbulkan dampak yang buruk bagi diri seorang guru. Oleh karena itu memiliki kepribadian hardiness sangat membantu para guru SLB-C untuk mampu menghadapi kesulitan-kesulitan dan mengembalikan kondisi mental yang lemah menjadi lebih kuat dan tangguh.

Hardiness ditunjukkan dalam attitudes untuk menghadapi stress yang terjadi yaitu commitmen, control, dan challage. Dalam hal ini, commitment yaitu kecenderungan

seseorang untuk melibatkan diri dengan segala sesuatu yang sedang dikerjakan dan ditemukan ( Khosabha, Maddi, dan Kahn, 1982 dalam Vashishtha dan Joshi, 2015). Guru yang memiliki commitment yang tinggi akan menjalani tugas sebagai guru tanpa mengeluh dan cenderung menyenangi pekerjaan sebagai seorang guru. Sementara guru yang memiliki commitment yang rendah akan memiliki sikap merasa tidak berdaya dan sering mengalami

emosi yang buruk saat menghadapi siswa di kelas.

Control adalah mampu mengambil alih kendali dan tanggung jawab dalam situasi

(20)

12

Universitas Kristen Maranatha Guru membutuhkan sikap Challenge dalam mengajar dimana memiliki arti mampu menerima tantangan dan perubahan hidup sebagai peluang untuk pertumbuhan pribadinya. Guru yang memiliki challenge yang tinggi akan lebih bersemangat menghadapi situasi sulit selama proses pembelajaran dan cenderung terus mencari solusi yang lebih tepat terhadap masalah yang dihadapi dalam mendidik anak SLB-C agar memiliki kemampuan yang lebih handal dan memiliki prestasi kerja yang lebih baik, sementara guru yang memiliki sikap challenge yang rendah akan cenderung memiliki minat yang rendah menjadi guru SLB dan

cenderung mencari pengalaman di bidang lain.

Dengan dimensi-dimensi tersebut maka akan muncul hardiness untuk setiap guru SLB-C dalam menghadapi situasi sulit saat melakukan proses pembelajaran dengan para siswa. Hardiness yang ada dalam diri setiap guru SLB-C juga akan melakukan penyesuaian didasari oleh adversity dan risk yang dihadapi yang dimana merupakan faktor-faktor yang dapat mengganggu kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhannya untuk mengajar dan mencapai hasil yang maksimal untuk membuat para siswa berprestasi dan selain itu dapat menemukan faktor-faktor khusus dari lingkungan yang melindungi individu dari risk seperti pemahaman mengenai siswa dan pengetahuan yang dimiliki dalam mengajar siswa serta informasi dari orang tua siswa mengenai kondisi anaknya. ( Masten and Reed, 2002 : Sandler, 2001 dalam Benard 2004).

(21)

pengalaman hidup yang dialami seseorang, sehingga usia memberikan pengaruh terhadap perkembangan hardiness. Semakin bertambah usia seseorang guru, serta pengalaman dalam mengerjakan tugas dan pekerjaan terutama sebagai seorang guru maka semakin dewasa pula cara berpikir yang dimiliki untuk menghadapi kondisi stress di sekolah, dengan demikian kepribadian hardiness guru pun akan semakin berkembang.

Anak yang berada dalam kondisi tidak beruntung akan memiliki resiko yang bertambah dari perkembangan masa sulit mengasilkan tingkatan yang berbeda dari pendidikan yang tidak berprestasi, tingkah laku bermasalah dan penyesuaian masalah yang akan datang seperti pekerjaaan yang rendah dan kurang sehat ( Duncan and brooks-gunn 1997.,Essen & wedge, 1978, Rutter & madge 1976) sehingga semakin terjamin mutu kehidupan seperti tingkat kesejahteraan seseorang baik mental maupun fisik, maka memungkinkan untuk bisa memiliki adaptasi yang lebih baik dalam kehidupan. Faktor kesejahteraan hidup antara lain adalah faktor pendidikan dan ekonomi, seorang guru dengan faktor pendidikan dan ekonomi sejahtera lebih banyak memiliki kondisi emosional yang stabil sehingga adaptasi terhadap kondisi beraktivitasnya yaitu di dalam kelas pada saat mengajar akan jauh memiliki emosi yang stabil dan lebih resilient.

(22)

14

Universitas Kristen Maranatha lebih rentan terhadap tingkat emosional yang tidak stabil dalam mengahdapi kesulitan selama mengajar dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki.

Guru merupakan suatu profesi atau pekerjaan pada bidang pendidikan, dalam bekerja sebagai seorang guru SLB-C pengalaman kerja dapat membantu guru dalam tingkat kemampuan menghadapi berbagai kondisi sulit saat mengajar. Semakin lama masa kerja seorang guru SLB-C pada sekolah tersebut maka akan semakin terlatih dan terbiasa menghadapi berbagai hambatan dalam mengajar.

(23)
(24)

16

Universitas Kristen Maranatha 1.6.Asumsi Penelitian

Berdasarkan keterangan – keterangan yang telah diuraikan di atas, diajukan asumsi sebagai berikut :

- Dalam menghadapi situasi pembelajaran masing-masing guru menunjukkan tingkat hardiness yang berbeda

- Guru SLB C dikatakan memiliki hardiness yang tinggi jika guru tersebut memiliki commitment, control, dan challenge pada derajat yang tinggi.

- Hardiness yang tinggi bisa membangun kepercayaan guru SLB C bahwa dirinya mampu menghadapi keadaan stress apapun yang dihadapi saat mengajar anak tuna grahita

- Data sosiodemografi dapat mempengaruhi tinggi atau rendah hardiness

- Hardiness mempengaruhi kesehatan dan dan perilaku menghadapi stress saat mengajar siswa tuna grahita.

(25)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Pada bab ini akan dipaparkan simpulan dari hasil penelitian yang dilakukan pada 53 guru SDLB-C di Kota Bandung. Berdasarkan hasil data yang telah diolah dan dibahas dalam bab sebelumnya, maka dinyatakan kesimpulan sebagai berikut:

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden menunjukkan hardiness

rendah. Yang artinya kurang menunjukkan kecenderungan untuk tetap melibatkan diri dalam melaksanakan tugas sebagai guru bagi siswa berkebutuhan khusus, kurang menunjukkan kecenderungan untuk mengatasi beragam keadaan sulit melalui upaya kerja keras , serta kurang memerlihatkan kecenderungan untuk mengubah kesulitan menjadi kesempatan mengembangkan kapabilitas dan kebajikan. Keadaan sebagimana digambarkan di atas pada akhirnya akan mengarahkan responden untuk menjalankan tugas seadannya dan sebatas formalitas memenuhi statusnya sebagai guru SDLB C

Dijumpai pula fakta kombinasi antara control, commitment, tinggi dan challenge

(26)

44

Universitas Kristen Maranatha 5.2. Saran

5.2.1. Saran Teoritis

Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian hardiness pada guru SDLB C dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu dengan menjaring sampel yang lebih banyak dan kajian lokasi yang lebih luas untuk lebih menggambarkan kondisi hardiness pada populasi tertentu secara menyeluruh

5.2.2. Saran Praktis

 Bagi pihak sekolah, hasil penelitian ini bisa menjadi data informasi mengenai

hardiness guru-guru pengajar saat menghadapi kesulitan selama menjalani peran

sebagai guru SDLB C, terutama mengenai guru-guru yang memiliki dimensi Control yang sudah tinggi sehingga harus dipertahankan, serta dimensi challenge yang kebanyakan masih rendah, sehingga perlu mendapat perhatian dan membantu para guru untuk meningkatkannya, seperti memberikan motivasi dalam bentuk meningkatkan kemampuan mengajar siswa tuna grahita dan keyakinan bahwa kondisi stress adalah hal wajar yang bila dilewati akan menjadikan para guru lebih berkembang dan memiliki keahlian lebih.

 Bagi pihak guru SDLB C yang bersangkutan agar menjadi pertimbangan dalam

(27)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI HARDINESS PADA GURU

SEKOLAH DASAR SEKOLAH LUAR BIASA (SDLB)-C

DI KOTA BANDUNG

SKRIPSI

Diajukan Untuk Menempuh Ujian Sarjana Pada Fakultas Psikologi

Universitas Kristen Maranatha Bandung

Oleh :

Nining Ayu Sartika

0830090

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BANDUNG

(28)
(29)
(30)

KATA PENGANTAR

Segala puji, hormat, dan syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan anugrah-Nya yang telah diberikan sehingga peneliti dapat menyelesaikan tugas ini. Penelitian ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi prasyarat kelulusan mata kuliah Usulan Penelitian dengan judul HARDINESS PADA GURU SLB-C “X” DAN GURU SEKOLAH UMUM ”Y” DI KOTA BANDUNG. Rancangan penelitian bebrbentuk studi deferensial yang akna

memberikan banyak informasi dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada penulisan ini. maka dari itu saya meminta kemaklumannya dan saran atau masukan dari rekan sekalian untuk perkembangan penulisan rancangan penelitian berikutnya.

Dalam membuat tugas ini, peneliti menemui banyak kendala, namun karena bantuan berbagai pihak, peneliti dapat menyelesaikan penulisan usulan penelitian ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti hendak mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Irena Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog selaku dekan Fakultas Psikologi Maranatha.

2. Dra. Kuswardhini, M.Psi., Psikolog selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktu dan memberikan semangat, bimbingan, pengarahan , dan masukan yang bermanfaat bagi penyusunan penelitian.

3. Dr. Ria Wardani, M.Si., Psikolog selaku pembimbing pendamping yang telah banyak membantu mengarahkan, membimbing, memberi masukan bermanfaat, memberi dukungan dalam bentuk moril dan materi selama penyusunan penelitian.

4. Beberapa sekolah SLB C yang telah bersedia meluangkan waktu dan menjadi partisipan dalam penelitian ini: SLB “ MURNI” YPKSM KOTA BANDUNG, SLB-C SUMBER SARI, SLB MUHAMMADIYAH, SLB-C SUKAPURA, SLB-C BANDUNG RAYA, SLB-C ADITYA GRAHITA DAN SLB-C KARYA BHAKTI.

(31)

dukungan, ikut membantu menyusun penelitian.

7. Teman-teman angkatan yang telah memberi dukungan dan semangat juga membantu memberi masukan untuk penulisan.

8. Segenap staff dan karyawan TU, terima kasih atas seluruh bantuan untuk kelancaran penulisan.

9. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha yang telah memberikan masukan, semangat, saran, dan ilmu pengetahuan yang berguna dalam penulisan penelitian.

10. Teman-teman di lingkungan rumah terima kasih telah memberi dukungan dan semangat serta masukan yang berguna untuk penulisan.

11. Perpustakaan Kawaluyaan dan Perpustakaan Universitas Kristen Maranatha. Terima kasih atas informasi dan sumber-sumber materi yang sangat berguna bagi penulisan penelitian.

Peneliti berharap agar dengan adanya penelitian ini akan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan terutama di bidang Psikologi dan juga bagi masyarakat umum.

Bandung, Juni 2016

(32)

45

DAFTAR PUSTAKA

Allred,Kenneth D. and Smith,Timothy W. the hardy personality: Cognitive and physiological responses to evaluative threat: the American psychological Association.inc

Bissonnete,Michelle.1998. Journal of Optimism,Hardiness,and Resiliency: A review of the literature.

Benard,Bonnie.2004.Resilence What We Have Learned.WestED

Dr.Mohammad. Efendi ,M.P.d.,M.Kes.2006.Pengantar PsikoPedagogikAnakBerkelainan. Jakarta :PT.BumiAksara.

Drs.DjamarahSyaiful Bahri.,M.Ag.2010. Guru danAnakDidikdalamInteraksi. Jakarta: PT.RinekaCipta.

Dra. Sutjihati,Somantri,T.M.Psi.,Psik.2006.Psikologi AnakLuarBiasa. Bandung :PT.RafikaAditama.

Salvatore R. Maddi.2006. The Journal of Positive Psychology. USA: University of California Singarimbun,Masri.1995.MetodePenelitianSurvai.Jakarta : LP3ES.

S.R.Maddi. Hardiness.SpringerBriefsinPsychology,DOI: 10.1007/978-94-007-5222-1_2, © The Author(s) 2013

(33)

DAFTAR RUJUKAN

Http:// forumgurunusantara.blog.spot.co.id

Iskandar,Dr.MPd.2009.MetodelogiPenelitianKualitatif. Jakarta: GaungPersada (GP Press) Jeanne Brooks-Gunn,Greg J.Duncan.1997. The future of children

Nazir, Mohammad.1998.Metodelogi Penelitian. Jakarta :Graha Indonesia Prof. Dr. Sudarman,Danim, Dr.H. Khairil.2011.Profesi Kependidikan.

Sekolah Dasar.net.2010.Oktober 2015.HTTP://www.sekolahdasar.net/2010/01/peran-guru-dalam-proses-belajar.html

Universitas Kristen Maranatha. FakultasPsikologi.Juli 2015.Pedoman PenulisanSkripsiSarjana.EdisiRevisi.

Referensi

Dokumen terkait

hubungan antara beban kerja mental dengan kecemasan pada guru Sekolah. Luar Biasa (SLB) B-C Bagaskara,

Saran bagi guru honorer sekolah dasar negeri di kota Bandung untuk dapat mengintropeksi dan mengevaluasi pengalaman hidupnya serta mengembangkan kompetensi yang dimiliki

Maka berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa mayoritas kepuasan kerja guru SLB di kota Medan berada pada kategori sedang, artinya individu menilai bahwa pekerjaan

Kegiatan penyuluhan dan diskusi di SLB Wiyata Dharma 2 Sleman dilakukan pada pertengahan bulan Maret 2014 diikuti oleh Kepala Sekolah, guru – guru dan siswa SMP serta SMA

Masih dalam penelitian awal yang sama yang dilakukan pada bulan Maret 2011 diketahui bahwa Guru Sekolah Luar Biasa kategori B dan C tidak mempermasalahkan

Maka berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa mayoritas kepuasan kerja guru SLB di kota Medan berada pada kategori sedang, artinya individu menilai bahwa pekerjaan

Dari data yang telah dipaparkan pada hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi dan wawancara diatas, dapat dijelaskan lebih rinci bahwa guru Sekolah Luar Biasa baik

Manajemen stress guru Sekolah Luar Biasa SLB dapat dilakukan dengan mencoba untuk menerima suatu keadaan, berusaha lebih realistis, perlunya tanggung jawab, melawan rasa takut yang