• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG PERAN AYAH DENGAN PRESTASI AKADEMIK PADA SISWA SMP. IKE YULITASARI PUTRI Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG PERAN AYAH DENGAN PRESTASI AKADEMIK PADA SISWA SMP. IKE YULITASARI PUTRI Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG PERAN AYAH DENGAN

PRESTASI AKADEMIK PADA SISWA SMP

IKE YULITASARI PUTRI

Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

ABSTRAK

Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan oleh siswa SMP untuk

mencapai hasil belajar dan mencapai prestasi akademik yang baik. Persepsi

tentang peran ayah merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam

mencapai suatu prestasi akademik yang baik, karena dengan mempersepsikan

peran ayah sebagai peran ayah yang terlibat dengan hangat yaitu, mencurahkan

perhatian pada perkembangan anak, memperlakukan anak dengan baik dan kasih

sayang, serta memberikan pujian dan penghargaan terhadap usaha kreatif dan

intelektual anak dalam mendidik, mengasuh, serta membimbing anaknya sesuai

dengan tingkat perkembangan anak, sehingga akan menimbulkan suatu

kepercayaan yang lebih baik bagi siswa, terhadap kemampuan dirinya dan akan

menimbulkan dukungan moril bagi siswa dalam mengembangkan arah minat,

serta mencapai prestasi akademik yang baik disekolahnya. Dengan demikian

jelaslah terdapat hubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi

akademik siswa pada umumnya. Namun apakah ada hubungan antara persepsi

tentang peran ayah dengan prestasi akademik siswa, khususnya pada siswa SMP?

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara persepsi

tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa SMP.

Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMP 16 Jakarta yang masih

aktif kelas 2 dan berusia 12-14 tahun, serta masih memiliki ayah. Pengumpulan

data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur skala persepsi

tentang peran ayah dan dokumen berupa rapor untuk mengukur prestasi

akademik. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan korelasi bivariate, untuk

mengukur keeratan hubungan antar variabel tersebut.

Berdasarkan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan Korelasi

Bivariate diperoleh koefisien korelasi r sebesar 0,925 dengan signifikansi 0,000 (

p<0,01 ).Hal ini berarti ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi

tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa SMP. Hasil tersebut

menunjukan bahwa hipotesis yang berbunyi ada hubungan antara persepsi

tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa SMP adalah diterima.

Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut, maka terdapat hubungan positif yang

signifikan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada

siswa SMP, dimana semakin positif persepsi tentang peran ayah maka semakin

(2)

tinggi prestasi akademiknya, begitu pula sebaliknya semakin negatif persepsi

tentang peran ayah, semakin pula rendah prestasi akademiknya. Hasil tambahan

diketahui bahwa persepsi tentang peran ayah berada pada katagori rata-rata

atau sedang, dengan prestasi akademik tinggi ( 850 ), dilihat dari mean empirik

pada variabel prestasi akademik

Adanya hubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi

akademik pada siswa SMP, nampaknya disebabkan karena banyak siswa SMP

yang mempersepsikan peran ayah sebagai peran ayah yang terlibat dengan

hangat, sehingga sangat berpengaruh terhadap prestasi akademik pada siswa

SMP.

Kata Kunci

: Persepsi tentang peran ayah, Prestasi akademik, siswa SMP.

PENDAHULUAN Latar belakang Masalah

Perkembangan individu sangat ditentukan oleh interaksi dengan orangtua atau pengasuhan dari orangtua. Orangtua itu sendiri terdiri atas ayah dan ibu. Anggapan bahwa pengasuhan anak dalam keluarga menjadi porsi ibu mulai berubah karena sejak tahun 1997 ada dorongan gerakan partisipasi aktif laki-laki atau ayah dalam keluarga (Irwanto dalam Sujayanto, 1999). Di Indonesia sendiri, saat ini tampaknya masyarakat mulai memperhatikan arti pentingnya kehadiran dan peran seorang ayah bagi anaknya, seperti ditemukannya sebuah artikel bertajuk ”Kiat Menjadi Ayah Yang Hangat”, juga diadakannya seminar-seminar yang berhubungan dengan ayah (Intisari, Agustus 1999).

Sosok ayah sangatlah berarti bagi anak. Apakah sang ayah sukses atau tidak di masyarakat bukanlah soal besar, ayah tetaplah pahlawan bagi anak-anaknya. Bagi anak, ayah adalah kombinasi seorang

pahlawan, pembimbing, penasehat, pelindung, guru, dan sekaligus kawan (Sujayanto, 1999). Kontribusi ayah yang unik sebagai pria pertama dan paling penting dalam kehidupan anak akan memberikan konsekuensi jangka panjang dan bermakna. Secara nyata hal ini dinyatakan oleh warga Amerika, berdasarkan hasil yang diperoleh

Gallup Poll pada tahun 1996 dalam National Fatherhood Initiative pada tahun 1998 bahwa 90,3 persen dari warga Amerika setuju bahwa ”ayah membuat kontribusi yang unik dalam kehidupan anak-anaknya.” Kontribusi yang unik tersebut dapat diberikan melalui peran-peran yang dijalankan sebagai seorang ayah, baik itu secara langsung kepada anak maupun tak langsung melalui dukungan, pola hubungan dan pergaulan dengan istrinya, yang dapat membawa pesan tersendiri bagi anak (Dagun, 1990).

Berkaitan dengan persepsi tentang peran orang tua secara tradisional, pengasuhan dalam arti mendidik dan

(3)

membesarkan anak lebih ditekankan kepada ibu. Ibu dipersepsikan sebagai sumber afeksi, kehangatan dan pemberi dukungan emosional yang penting dalam keluarga, terutama pada anaknya (Roger, 1968). Sementara itu persepsi tentang peran ayah secara tradisional, cenderung dikaitkan sebagai pendukung ekonomi keluarga dengan bekerja diluar rumah (Roger, 1968).

Tetapi, dimasa kini sejalan dengan perkembangan jaman, persepsi tentang peran ayah dalam pengasuhan anak pun mengalami perubahan, yaitu peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dalam mengasuh anak. Persepsi tentang peran ayah yang dahulu lebih bersifat ”instrumental”, terbatas pada peran pencari nafkah dan pengambil keputusan dalam keluarga, kini lebih berkaitan dengan peran-peran yang membutuhkan keterampilan dan kemampuan intelektual, serta juga partisipasinya bersama ibu, sebagai faktor pendukung dalam memberikan dorongan dan evaluasi positif bagi ayah, dalam pengasuhan dan pemberian kasih sayang pada anak (Roger, 1968).

Bahkan penelitian lain juga menunjukkan bahwa persepsi tentang peran ayah yang terlibat dalam pengasuhan, dapat berpengaruh terhadap keseluruhan perkembangan sosial, emosional dan prestasi akademik anak (Lamb, 1997). Secara khusus menurut Weinraub (dalam Lamb, 1997) mengatakan bahwa persepsi tentang peran ayah berpengaruh secara signifikan dalam perkembangan jenis kelamin, kemampuan kognitif, dan prestasi akademik anak. Dari

beberapa penelitian yang dilakukan oleh Andayani (2004) terhadap persepsi tentang peran ayah pada anak masa sekolah, terutama siswa SMP yang merupakan remaja, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kehangatan yang diberikan ayah dengan fungsi intelektual dan prestasi akademik anak. Sebaliknya, ayah yang sering melarang anak akan berpengaruh negatif terhadap kemampuan intelektual dan prestasi akademiknya.

Gottman dan De Claire (dalam Andayani, 2004), menekankan pentingnya ayah terlibat langsung pada anak karena gaya laki-laki ayah akan memberi kesempatan pada kecerdasan emosi anak untuk berkembang. Ayah yang terlibat akan mencurahkan perhatian dan pikirannya pada anak. Sebagaimana dikemukakan Lamb (1997), ayah akan mencurahkan perhatian pada perkembangan anak sehingga ada kegiatan perencanaan, pengambilan keputusan, dan mengorganisasi. Ayah ketika berinteraksi dengan anaknya, tidak akan membagi perhatiannya pada hal yang lain. Ketika ayah terlibat dan menerapkan disiplin yang cukup tinggi akan mengurangi kecenderungan anak untuk berperilaku eksternalisasi (marah, bandel, berperilaku menyimpang) terutama pada masa sekolahnya (Duvall & Miller, 1993). Keterlibatan ayah juga akan mengembangkan kemampuan anak untuk berempati, bersikap penuh perhatian, dan kasih sayang, serta hubungan sosial yang lebih baik Andayani (2004). Penelitian juga

(4)

menunjukkan bahwa keterlibatan ayah akan memberikan manfaat yang positif bagi anak dalam mengembangkan kendali diri, penyesuaian sosial remaja laki-laki dan dalam menentukan prestasi akademikl anak (Brooks, 1991).

Menurut Thevenin (1993) bahwa peran ayah ialah sebagai mitra aktif dalam menjalankan peran sebagai orangtua, yang memegang peranan sebagai pendorong utama akan kemandirian, prestasi akademik, dan ambisi. Sesuai dengan karakteristik gendernya yang pokok, peran ayah ialah menekankan pada pengembangan, tantangan, mengendalikan agresivitas, prestasi, mencari posisi yang lebih tinggi, mendorong perkembangan kemandirian, otonomi, dan mengarahkan untuk belajar mengenai kehidupan masyarakat. Menurut Golombok & Susan (1994) bahwa peran ayah ialah lebih membedakan perlakuan antara anak perempuan dan laki-laki dibandingkan ibunya. Peran ayah sangat serius dalam memperkenalkan apa yang menurut mereka tepat sebagai sifat maskulin dan feminim (Golombok & Susan, 1994). Menurut Lamb (1997) mengatakan bahwa peran ayah yang positif dan terlibat hangat dengan anak remajanya terutama pada siswa SMP, dapat mempengaruhi persepsi anak tentang kemampuan prestasi akademik dirinya. Perasaan akan kemampuan diri anak dalam prestasi akademiknya secara positif berhubungan dengan tingkah lakunya sendiri pada waktu bekerja bersama ayahnya dalam mengatasi masalah sulit. Anak yang memiliki keyakinan yang tinggi tentang

kemampuan prestasi akademiknya menunjukkan kemampuan mengendalikan emosi dan lebih percaya diri dalam memecahkan masalah yang sulit (Lamb, 1997). Peran ayah ialah perilaku yang diharapkan sehubungan dengan posisi atau status terberi dimasyarakat sebagai ayah yang mendidik, mengasuh, serta membimbing anaknya sesuai dengan tingkat perkembangan anak. (Dagun, 1990).

Ayah yang memperlakukan anak dengan baik dan kasih sayang dapat mendukung perkembangan bakat anak (Laurence, 1993). Selain itu Duvall & Miller (1993) menyatakan bahwa ayah yang mengasuh, merawat, dan memberikan pujian dan penghargaan terhadap usaha kreatif dan intelektual anak dapat memfasilitasi perkembangan kepribadian dan kognitif anak serta prestasi akademik anak.

SMP adalah suatu lembaga pendidikan formal, ditempat ini kegiatan utama siswa SMP adalah belajar. Siswa SMP banyak memperoleh informasi dan kemampuan yang baru, mengasah kemampuan yang lama, memiliki kecakapan maupun keterampilan yang diproleh di sekolah, dan yang terpenting adalah menentukan pilihan jurusan, yang berguna untuk keberhasilan dirinya dimasa depan. Apa yang akan dicapai oleh siswa SMP pada masa ini menjadi landasan yang kuat untuk menentukan kemungkinan memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut, bahkan secara tidak langsung dapat menjadi prediksi bagi keberhasilan karier individu

(5)

dimasyarakat kelak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencapaian prestasi akademik menjadi hal penting ketika seseorang mengenyam pendidikan formal pada jenjang SMP (Woodworth, 2001).

Siswa SMP adalah individu berusia remaja. Masa remaja merupakan perubahan orientasi, dari orientasi keluarga menjadi orientasi lingkungan pergaulannya (Hurlock, 1980). Remaja dihadapkan pada berbagai peran, dimana remaja berusaha mengeksplorasi banyak hal, mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan dengan berbagai macam aktifitas. Masa remaja juga ditandai dengan perubahan yang cepat, membingungkan, penuh dengan ketidakpastian, dan mengalami kecemasan menghadapi kehidupan yang akan datang, terutama yang berkaitan dengan prestasi akademik disekolahnya (Seligman, 1994).

Oleh karena itu, diperlukan adanya persepsi tentang peran ayah yang positif dalam perkembangan siswa sekolah menengah pertama merupakan remaja yang membutuhkan peran ayah untuk mencapai prestasi akademik tertentu, yaitu peran ayah yang terlibat langsung dalam perkembangan anak, memperlakukan anak dengan baik dan kasih sayang, memberikan pujian dan penghargaan terhadap usaha kreatif dan intelektual anak (Andayani, 2004). Peran ayah yang demikian dipersepsikan oleh siswa SMP yang merupakan remaja sebagai peran ayah yang terlibat dengan hangat dalam mendidik, mengasuh, serta

membimbing anaknya sesuai dengan tingkat perkembangan anak, sehingga akan menimbulkan suatu kepercayaan yang lebih baik bagi anak remajanya, terutama pada siswa SMP, terhadap kemampuan dirinya dan akan menimbulkan dukungan moril bagi si anak dalam mengembangkan arah minat, serta mencapai prestasi akademik yang baik di sekolahnya.

Persepsi itu sendiri adalah penilaian individu dalam pemberian arti secara kognisi terhadap rangsangan yang berasal dari lingkungan fisik maupun berasal dari instrumen lain(Turner, 1983). Dengan demikian persepsi tentang peran ayah merupakan penilaian individu secara kognisi terhadap perilaku yang diharapkan sebagai ayah yang mendidik, mengasuh, serta membimbing anaknya sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Sprinthall & Norman (1990) berpendapat bahwa prestasi akademik sebagian besar merupakan hasil dari kekuatan ego atau orientasi siswa terhadap kenyataan, sangat tergantung pada keyakinan pribadi siswa bahwa ia menguasai nasibnya sendiri, perasaan pribadi siswa bahwa ia memang memiliki kemampuan.

Proses belajar yang dialami oleh seseorang khususnya yang terjadi dalam lingkungan sekolah akan memperoleh hasil yang dapat dievaluasi. Hasil evaluasi dari suatu proses belajar tersebut dikatakan sebagai prestasi akademik, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai rapor (Winkel, 1987). Lagre (dalam Sukadji,

(6)

1988) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan prestasi akademik adalah tingkat kemampuan aktual yang dapat diukur, baik berupa penguasaan ilmu pengetahuan, sikap maupun keterampilan tertentu yang dicapai seseorang sebagai hasil dari apa yang dipelajari seorang anak didik sekolah. Prestasi akademik diperlukan untuk mengetahui perkembangan siswa dalam belajar dan prestasinya terhadap mata pelajaran yang sudah diajarkan, yang perlu diketahui oleh orang tua, siswa itu sendiri, guru yang bersangkutan, dan tenaga kependidikan lainnya (Muhibbin, 2006).

Bloom (dalam Winkel, 1987) berpendapat bahwa prestasi akademik adalah proses yang dialami oleh siswa untuk menghasilkan perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, penerapan, daya analisis, sintesis dan evaluasi. Prestasi akademik menurut Suryabrata (1990) disebut juga sebagai penilaian hasil pendidikan yaitu untuk mengetahui pada waktu dilakukannya penilaian sejauh manakah kemajuan anak didik setelah ia belajar dan berlatih dengan sengaja.

Bagi anak pada masa sekolah, terutama pada siswa SMP persepsi tentang peran ayah lebih ditekankan pada perkembangan intelektual anak dalam kaitannya dengan pencapaian prestasi akademik, karena prestasi pada masa ini merupakan sarana bagi pencapaian rasa industri, yaitu suatu kepercayaan yang mendasar tentang kompetensi diri, bersamaan dengan kecenderungan untuk

melakukan kegiatan, mencari pengalaman belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan (Brooks, 1991). Sebenarnya, baik ayah maupun ibu memiliki tanggung jawab peran dan pengaruh yang sama besarnya dalam pencapaian prestasi akademik anak. Akan tetapi, dengan adanya persepsi tentang peran ayah yang positif dapat membuka kesempatan bagi ayah untuk berinteraksi dengan anak sehingga dapat memperluas wawasan berpikir dan kognitif anak (Brooks, 1991).

Persepsi tentang peran ayah yang terlibat dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan dapat menjadi sumber pengetahuan bagi anak sehingga membantu pertumbuhan kemampuan kognitifnya yang dapat berpengaruh pula terhadap prestasi akademik anak (Dagun, 1990 ).

Dari uraian-uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik anak dipengaruhi oleh peran ayah. Dengan demikian permasalahan yang diajukan adalah: Apakah ada hubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik siswa Sekolah Menengah Pertama?

Berdasarkan uraian diatas maka penulis mencoba melakukan penelitian untuk menguji “apakah ada hubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa SMP?”.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara persepsi tentang

(7)

peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa sekolah menengah pertama.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki dua manfaat, yaitu :

a. Manfaat Teoritis

Berdasarkan hasil analisis diketahui terdapat huubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa sekolah menengah pertama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat terhadap perkembangan ilmu psikologi, khususnya ilmu psikologi pendidikan. Hal ini dilakukan dengan cara memberi tambahan data empiris yang telah teruji secara ilmiah mengenai hubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa sekolah menengah pertama.

b. Manfaat Praktis

Berdasarkan hasil analisis diketahui adanya hubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa sekolah menengah pertama. tentang peran ayah dengan prestasi akademik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai persepsi tentang peran ayah terhadap prestasi akademik pada siswa sekolah menengah pertama, sehingga diharapkan siswa sekolah menengah pertama yang merupakan remaja dapat mempersepsikan peran ayah sebagai peran ayah yang terlibat dengan hangat, sesuai dengan komponen afektif, fisik, dan kognitif, sehingga akan membantu dalam proses pencapaian prestasi akademik yang baik disekolahnya.

TINJAUAN PUSTAKA Persepsi

Menurut Noesyirwan (1981), persepsi merupakan bagaimana proses mempelajari cara-cara individu memberlakukan informasi yang masuk kedalam kognisinya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Turner (1983) bahwa persepsi ialah menunjuk secara harafiah kepada organisasi pemasukan penginderaan pada individu, artinya kepada apa yang dilakukannya, secara psikologis dengan adanya rangsangan-rangsangan yang secara tidak henti-hentinya mengenai alat inderanya.

Gordon (1976) menerangkan bahwa persepsi merupakan suatu proses yag aktif dimana yang memegang peranan bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga sebagai keseluruhan dengan pengalaman-pengalaman motivasinya dari sikap-sikap yang relevan terhadap stimulus tersebut.

Persepsi adalah suatu proses dimulai dari proses biologis terdiri dari urutan dan rintangan peristiwa yang diterima dan diterjemahkan oleh sistem syaraf dengan puncak aktivitas adalah reaksi tingkah laku dari peristiwa-peristiwa tersebut. Setelah melalui sistem syaraf atau indera sensoris, barulah diinterpretasikan kemudian timbul reaksi selanjutnya (Baron, 2003).

Menurut Zimbardo (1977), bahwa persepsi sebagai segala macam hal yang dialami oleh seseorang. Persepsi itu pengalaman yang segera tentang dunia, dan muncul sebagai akibat dari adanya input

(8)

sensoris yang disertai dengan cara memproses informasi sensoris tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses mental mulai dari menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan impuls-impuls dari reseptor-reseptor sensoris yang diterima oleh kelima indera.

Dari definisi-definisi tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan penilaian individu dalam pemberian arti secara kognisi terhadap rangsangan yang berasal dari lingkungan fisik maupun berasal dari instrumen lain. Peran Ayah

Menurut Atwater (1999), peran merupakan perilaku yang diharapkan sehubungan dengan posisi atau status terberi di masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Crow (1986) bahwa:

Role is the behavior that is expected of us because of the particular status we have. Status in the position we occupy in society prestige hirerchy.

Peran adalah perilaku yang diharapkan dari kita oleh karena status tertentu yang kita miliki. Status dalam posisi yang kita duduki dalam gengsi masyarakat secara hirarki. Kata ayah sendiri atau father berasal dari bahasa Latin pater yang oleh Webster didefinisikan sebagai orang tua laki-laki atau orang yang memegang tanggung jawab untuk melindungi, merawat dan

membesarkan.Sejak awal tahun 1980, para ahli dan masyarakat telah memusatkan pada penggunaan kata father yang lebih efektif yaitu untuk melindungi, merawat, dan mengasuh anak (Grossman, 1988).

Daniels and Weingarten (dalam Martin & Colbert, 1997) berpendapat:

The term “fatherhood click” has been used to describe a parenting style in which fathers learn to activity nurture their children with hands-on fathering and attention.

Istilah "kebapakan" telah digunakan untuk menguraikan suatu gaya orangtua dimana para bapak belajar aktivitas memelihara anak-anak mereka dengan menjadi ayah secara langsung dan perhatian.

Seorang ayah yang bertanggung jawab ialah seorang ayah yang terlibat dalam interaksi dengan anak, sebagai seorang ayah, bukan layaknya seorang baby sitter yang menggantikan ibu sementara ibu sedang tidak dapat meninggalkan pekerjaan yang lain (Dagun, 1990).

Peran sebagai ayah efektif dapat dilihat dalam setiap fase, yaitu ketika sang ayah berhadapan dengan anaknya, mendidik, mengasuh, serta membimbing sesuai dengan tingkat perkembangannya (Dagun, 1990). Ayah yang ideal adalah ayah yang antara lain bersama dengan istrinya mengikuti kursus tentang kelahiran, membantu istrinya pada saat bersalin, hadir pada saat bayi lahir,

(9)

dan ikut memberi makan anaknya (Dagun, 1990).

Tingginya peran ayah berhubungan dengan hasil yang positif pada anak, seperti kemampuan intelektual yang meningkat, kemandirian, perasaan kontrol yang lebih besar,, dan sikap yang kurang tradisional mengenai peran pria dan wanita, serta prestasi akademik dan kematangan sosial baik pada laki-laki maupun perempuan (Golombok & Susan, 1994)

Menurut Dagun (1990) mengatakan bahwa seorang ayah mempunyai kemampuan yang baik sekali dalam mengasuh anak bahkan terhadap bayi yang kecil apapun. Ayah dan Ibu mempunyai cara sendiri dalam mempengaruhi anaknya. Ayah cenderung menggunakan pendekatan fisik, dan ibu cenderung menggunakan pendekatan bahasa, lebih halus dan tenang. Bagi anak sendiri perbedaan cara ini membawa manfaat tersendiri. Peran ayah ialah memberikan dorongan, membiarkan anak mengenal lebih banyak, melangkah lebih jauh, menyediakan perlengkapan permainan yang menarik, mengajar mereka membaca, mengajak anak untuk memperhatikan kejadian-kejadian dan hal-hal yang menarik diluar rumah, serta mengajak anak berdiskusi. Semua tindakan ini adalah peran ayah (orangtua) untuk memperkenalkan anak dengan lingkungan hidupnya dan dapat mempengaruhi anak dalam menghadapi perubahan sosial dan membantu perkembangan kognitifnya dan prestasi akademik dikemudian hari.

Menurut Dagun (1990) bahwa perkembangan anak yang tidak mendapatkan asuhan dan perhatian ayah, maka perkembangan anak akan menjadi pincang. Kelompok anak yang kurang mendapat perhatian ayahnya cenderung memiliki kemampuan prestasi akademik menurun aktivitas sosial terhambat, dan interaksi sosial terbatas. Bahkan bagi anak laki-laki, ciri maskulin (ciri-ciri kelakian) bisa menjadi kabur.

Dari definisi-definisi tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa peran ayah merupakan perilaku yang diharapkan sehubungan dengan posisi atau status terberi di masyarakat sebagai orang tua laki-laki yang mendidik, mengasuh, serta membimbing anaknya sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Persepsi Tentang Peran Ayah

Secara klasik, persepsi tentang peran ayah digambarkan sebagai orang yang tidak pernah ikut terlibat langsung dalam pemeliharaan anak. Ketika anaknya lahir, ia hanya berada di luar kamar bersalin. Ia paling enggan menggantikan popok atau menghangatkan botol susu. Seluruh tanggung jawab mulai dari menggendong, membersihkan tempat tidur, dan memberikan makan kepada anak dibebankan kepada isterinya (Dagun, 1990).

Persepsi tentang peran ayah selama ini dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan peran gendernya, adalah sebagai pencari nafkah. Jarang waktu ayah yang

(10)

dihabiskan bersama keluarga dan fokus perhatiannya adalah lebih pada pekerjaan, dan diri sendiri. Ayah memiliki citra keperkasaan dan kekokohan, namun jauh dari anak-anaknya dan seakan melepas tanggung jawab membina kehidupan anak secara langsung (Golombok & Susan, 1994).

Persepsi tentang peran ayah yang muncul dalam pengamatan peneliti adalah ayah menghabiskan waktu di rumahnya untuk beristirahat setelah bekerja seharian, untuk membaca koran, atau tidak jarang pula yang menghabiskan waktunya untuk kegiatan ibadah ataupun untuk bersosialisasi dengan tentangga. Banyak kasus amatan peneliti yang menggambarkan kurang terlibatnya ayah dalam pengasuhan anak. Kurang terlibatnya ayah ini dapat berawal dari diri pribadinya sendiri. Sikap dan keyakinan seseorang tentang pengasuhan anak akan mengarahkan perilaku ayah dalam hal ini. Diduga nilai dan keyakinan tentang pengasuhan bahwa anak adalah urusan ibunyalah yang menyebabkan peran ayah tidak terlibat banyak dalam pengasuhan anak (Watson, 1979).

Tetapi belakangan ini, persepsi tentang peran ayah ini mulai disoroti dan digugat. Bukan karena berkembangnya gerakan feminisme, tetapi karena semakin timbulnya kesadaran baru bahwa betapa pentingnya partisipasi seorang ayah dalam membina pertumbuhan fisik dan psikologis anak. Seandainya seorang ayah tidak ikut aktif memperhatikan perkembangan

anaknya, maka sudah pasti akan terjadi ketimpangan (Dagun, 1990)

Berbagai hasil penelitian mengenai persepsi tentang peran ayah, beberapa tahun belakangan ini, menyimpulkan bahwa peranan ayah ternyata tidak kalah pentingnya dengan peranan ibu dalam mengasuh anak. Perubahan keadaan zaman menyebabkan ayah semakin merasa bertanggung jawab untuk mengasuh anak. Perubahan ini tampak merupakan perubahan yang positif. Anak mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menjalin hubungan dengan ayahnya dan selanjutnya mengalami proses yang kaya dalam perkembangannya karena stimulus ayah dan ibu yang berbeda (Garrison, 1969).

Menurut Andayani (2004) persepsi tentang peran ayah yang bertanggung jawab bahwa dalam proses ini tidak mengesampingkan peran ibu. Ibu mempunyai peran penting sebagai faktor pendukung yang memberikan dorongan, dan evaluasi positif bagi ayah sehingga ayah menjadi percaya diri dan selanjutnya dapat melibatkan diri secara positif dengan anak.

Dari uraian-uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi tentang peran ayah adalah penilaian individu secara kognisi terhadap perilaku yang diharapkan sebagai ayah yang mendidik, mengasuh, serta membimbing anaknya sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

(11)

Komponen-komponen Persepsi tentang Peran Ayah

Menurut Andayani (2004) dalam mereview konsep tentang keterlibatan seorang ayah menunjukkan bahwa konseptualisasi tentang keterlibatan seorang ayah berbagai peneliti mengembangkannya dengan meneliti dalam komponen-komponen yang lebih luas, yaitu :

a. Komponen Afektif

Ketika seorang ayah memanfaatkan sisi emosionalitasnya ia akan terlibat dengan hangat ketika berinteraksi dengan anaknya. Kehangatan sering disebut juga sebagai perilaku nurturan yang ditunjukkan orang tua (ayah) kepada anak yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan emosional anak (Roger, 1968). Pemenuhan kebutuhan emosional ini dapat ditunjukkan melalui kata-kata, tindakan-tindakan, dorongan atau

support dari ayah, menciptakan kondisi yang menyenangkan atau ceria, berbuat sesuatu sehingga suasana menjadi gembira, bersikap terbuka dengan anak, dan

menciptakan komunikasi yang menyenangkan dengan anak, sehingga hubungannya tidak kaku. Bercanda dan keceriaan dalam interaksi merupakan satu hal yang diinginkan oleh anak-anak ketika berinteraksi dengan orangtua mereka (Andayani, 2004). Seorang ayah tidak perlu menjadi pelawak atau humoris tetapi ia tetap dapat memanfaatkan afeksinya sebagai landasan berinteraksi dengan anak. Menurut konsep Four – Fold Fathering, seorang ayah perlu menjadi teman bagi anaknya. Seorang

ayah bukanlah ”Pengawas” yang menurut seorang subjek dalam penelitian Andayani (2004) disebutkan ”selalu mau menang sendiri”

b. Komponen Fisik

Seorang ayah yang terlibat akan melakukan kontak-kontak fisik dengan anaknya baik dalam bentuk sentuhan, bermain bersama, berolahraga bersama, dan melakukan pekerjaan rumah bersama, ataupun dalam memberikan kontrol kepada anak. Robert Winch (dalam Dill, 1978) menyebutkan bahwa kontrol menekankan proses pengasuhan pada otoritas orang tua (ayah) dan tanggung jawab bagi kesejahteraan anak. Kontrol seringkali dilihat sebagai suatu cara untuk mensosialisasikan tingkah laku, dan sikap-sikap yang dipercayai tepat dan penting.

c. Komponen Kognitif

Ayah yang terlibat akan mencurahkan perhatian dan pikirannya pada anak. Sebagaimana dikemukakan Lamb (1997), ayah akan mencurahkan perhatian pada perkembangan anak sehingga ada kegiatan perencanaan, mengorganisasi, mengajak anak berdiskusi dan menanyakan pendapat anak dalam mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak atau menanyakan kesulitan-kesulitan anak dan mengajaknya bertukar informasi,

menanyakan masalah-masalah anak di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pelajaran di sekolahnya serta memberikan nasehat-nasehat pada anak.

(12)

Prestasi Akademik

Menurut Mudjiono (1967) prestasi akademik adalah keberhasilan objektif yang dicapai seorang siswa dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Prestasi akademik menggambarkan penguasaan siswa terhadap hal-hal yang sudah diajarkan, baik meliputi kognitif, sensorik, psikomotorik, dan afektif. Prestasi akademik diperlukan untuk mengetahui perkembangan siswa dalam belajar dan penguasaan terhadap hal-hal yang pernah diajarkan. Selain itu, prestasi akademik juga dapat menjadi pembeda antara siswa yang berhasil, yang ditandai dengan prestasinya yang tinggi, dengan siswa yang kurang berhasil, dimana prestasi yang diraihnya rendah.

Menurut Purwanto (1990) prestasi akademik merupakan evaluasi hasil dari suatu proses belajar atau sejumlah materi pelajaran. Evaluasi atas proses belajar pada kurun waktu tertentu didasarkan pada suatu sistem penilaian tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk laporan tertentu, misalnya nilai rapor atau NEM. Pada rapor tersebut terkandung penilaian maupun pengukuran terhadap sejumlah tingkat kemampuan aktual yang berupa keberhasilan dalam penguasaan terhadap sejumlah ilmu pengetahuan, dan juga perubahan atas sikap dan keterampilan sebagai akibat langsung dari suatu proses belajar (Sarwono, 1989).

Menurut Suryabrata (1990), prestasi akademik adalah hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan

pelajaran yang diajarkan. Prestasi akademik adalah hasil evaluasi pendidikan yang dicapai oleh siswa setelah menjalani proses pendidikan secara formal dalam jangka waktu tertentu dan hasil tersebut berwujud angka-angka (Suryabrata, 1990). Sedangkan menurut Winkel (1987) mendefinisikan bahwa prestasi akademik adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang sebagai hasil belajar sebagaimana dicantumkan di dalam nilai rapornya.

Dari definisi-definisi tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik adalah hasil evaluasi dari kegiatan belajar yang berupa angka-angka yang dicantumkan di dalam nilai rapor atau daftar nilai yang dapat terwujud karena adanya perubahan tingkah laku selama beberapa kurun waktu tertentu yang menunjukkan sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Akademik

Baik atau tidaknya prestasi akademik siswa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor yang mempengaruhi prestasi akademik siswa menurut Suryabrata (1990) secara umum terdapat 2 kelompok besar faktor yang mempengaruhi prestasi akademik siswa, yaitu :

a. Faktor yang ada dalam diri siswa (Endogen) antara lain:

1) Intelegensi

Memegang peranan penting dalam menentukan prestasi

(13)

akademik siswa karena dari siswa yang berkemampuan tinggi diharapkan prestasi akademik yang baik. Meskipun demikian, intelegensi sendiri tidak dapat secara pasti menentukan keberhasilan seseorang, seringkali siswa yang memiliki

kemampuan tinggi, tapi mepunyai prestasi akademik yang kurang baik. Dengan demikian adanya faktor-faktor lain yang ikut berperan.

2) Faktor kepribadian

Konsep ”locus of control” sering dipergunakan untuk menjelaskan faktor ini. Yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana

individu memandang keberhasilan atau kegagalan yang

dialaminya. Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai kecenderungan eksternal, menghubungkan keberhasilan atau kegagalan yang dialaminya dengan hal-hal diluar dirinya, seperti guru. Sebaliknya siswa yang mempunyai kecenderungan internal, melihat prestasi akademiknya sebagai akibat dari hal-hal yang ada dalam dirinya serta mempunyai sikap yang lebih positif terhadap guru maupun sekolah.

3) Minat dan sikap

Minat dan sikap saling berhubungan erat satu sama lain dalam mempengaruhi prestasi akademik. Minat pada dasarnya merupakan sikap yang positif untuk menyukai kegiatan tertentu dan dalam hal ini adalah belajar. Dengan demikian siswa yang mempunyai sikap positif terhadap suatu pelajaran, maka ia akan merasa senang untuk mempelajari hal tersebut, sehingga besar kemungkinan untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Hal lain yang sering berkaitan dengan sikap belajar adalah kebiasaan belajar. Cara-cara belajar seCara-cara efisien dan efektif akan membantu siswa dalam belajar, baik di rumah maupun di sekolah.

4) Motivasi

Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi tercapainya suatu tujuan tertentu. Tentu saja setiap siswa mempunyai tujuan masing-masing mengenai bentuk dan seberapa besar prestasi yang ingin dicapainya. Tujuan inilah yang kemudian akan mendorong

(14)

dan mengarahkan siswa selama belajar. Dan pada akhirnya tujuan ini akan mempengaruhi prestasi akademik yang hendak dicapai siswa.

5) Faktor fisik

Kondisi jasmani seperti kesehatan yang buruk atau adanya kelainan pada alat indera dapat mengganggu kegiatan belajar siswa.

b. Faktor Eksogen (hal-hal yang diluar siswa)

1) Lingkungan keluarga

Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang ”achiever” dan ”underachiever” dalam menilai keluarga mereka. Siswa yang

achiever menggambarkan

keluarganya bersifat mendukung, mempercayai, penuh afeksi, tidak menekan, dan disiplin yang diterapkan tidak kaku (Andayani, 2004)

2) Lingkungan sekolah

Guru merupakan orang yang memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan kegiatan belajar mengajar dan tercapainya tujuan pendidikan. Guru dapat berfungsi untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Karena itu segala ucapan

dan tindakan guru dapat mempengaruhi sikap dan motivasi siswa terhadap sekolah dan belajar. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Purwanto (1990), yang menunjukkan bahwa pemberian umpan balik oleh guru terhadap hasil tes siswanya dapat membangkitkan motivasi siswa yang bersangkutan untuk berprestasi lebih baik.

3) Faktor situasional

Yang dimaksud dengan faktor situasional adalah keadaan yang timbul dan berpengaruh terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas, namun tidak menjadi tanggung jawab langsung dari staf pendidik maupun siswa (Winkel, 1987). Keadaan ini contohnya faktor sosial budaya, ekonomi, politik, keadaan alam dan sebagainya. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi kondisi psikologis dan fisik baik guru

maupun siswa, sehingga dapat mempengaruhi proses belajar mengajar.

Siswa SMP

Siswa SMP adalah siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah pertama, dengan karakteristik usia 12-14 tahun. Dengan karakteristik usia tersebut maka siswa SMP

(15)

tergolong sebagai remaja. Remaja dalam bahasa Inggris adalah ’adolescence’ yang berasal dari bahasa latin ’adolescence’ yang berati tumbuh menuju kematangan (Hurlock, 1980). Masa remaja merupakan masa transisi dimana individu mengalami perubahan baik secara fisik maupun psikologis dari anak-anak menjadi dewasa (Hurlock, 1980). Dengan adanya perubahan pada aspek tersebut remaja dituntut untuk melakukan perubahan besar dalam bagaimana ia bersikap dan berperilaku (Hurlock, 1993). Masa remaja juga ditandai dengan perubahan yang cepat, membingungkan, dan penuh dengan ketidakpastian, serta banyak remaja yang mengalami kecemasan menghadapi kehidupan yang akan datang, terutama yang berkaitan dengan prestasi akademiknya (Seligman, 1994).

Dari definisi-definisi tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa masa remaja merupakan masa transisi dimana individu mengalami perubahan secara fisik maupun psikologis dari anak-anak menuju dewasa, dengan rentang usia 12 sampai 22 tahun.

Hubungan Antara Persepsi Tentang Peran Ayah dengan Prestasi Akademik

Siswa SMP

Sejalan dengan perkembangan zaman, persepsi tentang peran ayah telah berubah dan terus mengalami perkembangan (Dagun, 1990). Bagaimanapun juga ayah dapat turut terlibat dalam pengasuhan anak. Bagi anak usia sekolah, terutama pada siswa SMP yang merupakan remaja, dimana banyak terjadi

perubahan fisik dan tuntutan terhadap peran jenis kelaminnya semakin meningkat, sehingga mereka sangat memperhatikan penampilan dirinya, selain itu mereka juga harus menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan sekolah dan sosial yang baru (Martin & Colbert, 1997). Kemudian apabila dihubungkan dengan prestasi belajar anak di sekolah dapat menyebabkan anak cenderung merasa tidak yakin terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi persoalan yang berhubungan dengan pelajarannya di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan adanya persepsi tentang peran ayah yang terlibat dalam kehidupan anak remaja, terutama pada siswa SMP yakni, dengan memberikan dorongan-dorongan atau support secara emosional dari ayah (orangtua), sehingga akan menimbulkan suatu dukungan moril bagi si anak dalam mengembangkan arah minat, serta mengejar prestasi akademiknya di sekolah.

Adanya suatu persepsi tentang peran ayah yang baik terhadap kemampuan anak, akan menimbulkan suatu kepercayaan yang lebih baik bagi anak terhadap kemampuan dirinya dalam mengembangkan arah minat maupun mengejar prestasi akademiknya di sekolah. Anak setidaknya merasa yakin bahwa adanya pengertian akan menstimulir ayah (orangtua) membimbing dirinya, mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka alami. Sebaliknya apabila anak dalam membina hubungan dengan ayah (orangtua) mengalami kekecewaan di dalam realitasnya maka hal ini tidak jarang akan menyebabkan ”retaknya” semangat anak untuk mengejar

(16)

prestasi akademiknya di sekolah. (Andayani, 2004)

Tujuan sekolah adalah untuk membantu setiap anak untuk meningkatkan prestasi akademiknya, sehingga kelak ia dapat memenuhi kebutuhannya di masa sekarang dan mendatang (Sukadji, 1988). Untuk dapat berhasil di dalam prestasi akademik di sekolah, diperlukan motivasi untuk mencapai tujuan belajar, serta peran ayah mempunyai andil yang cukup besar (Dagun, 1990).

Setiap anak dilahirkan dengan kemampuan, bakat, dan minat yang berbeda, maka perbedaan tersebut harus mendapat perhatian agar anak dapat berkembang seoptimal mungkin, karena hal ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pada siswa. Prestasi akademik selain dipengaruhi oleh intelegensi atau kemampuan intelektual yang bersifat kognitif, tetapi juga oleh faktor non-kognitif seperti emosi, motivasi, kepribadian serta berbagai pengaruh lingkungan termasuk dukungan dan peran ayah (orangtua) (Sprinthall & Norman, 1990). Dukungan dan peran ayah (orangtua) sekecil apapun akan sangat membantu tumbuhnya motivasi dalam diri anak, agar lebih berusaha mencapai prestasi akademik yang tinggi di sekolah (Sprinthall & Norman, 1990)

Dukungan dari persepsi tentang peran ayah yang positif dapat mempengaruhi keamanan emosi, keyakinan dan kemampuan

beradaptasi pada saat bertemu dengan

pengetahuan yang lebih kompleks, tantangan fisik dan sosial. Anak-anak dengan ayah yang aktif, penuh perhatian dan terlibat, biasanya memiliki harga diri yang tinggi dan prestasi akademik yang lebih baik

dibandingkan mereka yang kekurangan perhatian dari ayah (Biller dan Trotter, 1999 dalam Lamb, 1997).

Peran ayah nampak sebagai faktor penting pada kemampuan prestasi akademik anak. Menurut Biller (dalam Lamb, 1997), peran ayah secara positif berkorelasi dengan fungsi intelektual anak, dimana kekurangterlibatan ayah cenderung mengurangi kemampuan kognitif dan prestasi akademik anak. Hatherington dan Parke (1979) juga menemukan bahwa ketidakhadiran ayah mempunyai efek negatif pada fungsi kognisi. Kerugian utama dari ketidakhadiran ayah untuk anak adalah kurangnya perhatian ayah, termasuk sedikitnya kesempatan mencontoh pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang dewasa. Kehadiran contoh peran ayah di dalam rumah merupakan hal yang penting dalam perkembangan kemampuan kognisi dan intelektualnya.

Hipotesis

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, maka dapat ditarik hipotesis, yaitu terdapat hubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa SMP.

(17)

Metodologi Penelitian

Penelitian ini memnggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat hubungan, yaitu menghubungkan antara variabel satu dengan yang lain.

Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 70 subjek. Karakteristik subjek yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah siswa SMP 16 Jakarta yang masih aktif, kelas 2 dan berusia 12-14 tahun. Pengembilan sampel menggunakan teknik

Purposive Sampling.

Pada penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpul data yaitu dengan angket atau kuesioner. Untuk variabel persepsi tentang peran ayah digunakan skala persepsi tentang peran ayah yang berbentuk skala Likert, sedangkan data mengenai prestasi akademik diperoleh melalui data sekunder atau arsip yang berupa buku rapor, khususnya jumlah nilai siswa pada semester 2 (genap).

Pengumpulan data yang digunakan mengukur persepsi tentang peran ayah yaitu dengan menggunkan Skala persepsi tentang peran ayah yang disusun berdasarkan komponen-komponen persepsi tentang peran ayah yaitu : komponen afektif, komponen fisik, dan komponen kognitif. Sedangkan pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur prestasi akademik siswa yaitu dilihat dari nilai

rapor, yang diambil dari jumlah nilai semester 2 siswa kelas 2 SMP 16 Jakarta. Ada 12 mata pelajaran yang tercantum pada rapor (Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani, Matematika, Seni Budaya, Teknologi Informasi dan Komunikasi, PLKJ, Jasa).

Berdasarkan norma pengukuran prestasi akademik, nilai yang digunakan untuk prestasi akademik merupakan jumlah nilai dari mata pelajaran tersebut yang diperoleh siswa, yaitu dengan menjumlahkan nilai keseluruhan mata pelajaran tersebut diatas.

Uji validitas dalam penelitian ini adalah dengan cara mengkorelasikan skor tiap-tiap item dengan skor total dalam skala dan menggunakan analisis product moment dari pearson (Azwar, 1996) sedangkan Uji reliabilitas dalam penelitian ini adalah

Internal Consistensi dengan menggunkan Teknik Alpha Cronbach (Azwar, 1996).

Teknik analisis korelasi bivariate

berdasarkan metode product moment dan pearson, yaitu menganalisis hubungan antara persepsi tentang peran ayah (X1) sebagai predictor dengan prestasi akademik (X2) sebagai kriterium, dan semua perhitungan stastistik dalam pengolahan data ini dilakukan dengan computer menggunakan program Statistical for Social Science

(SPSS) 13.0 for Windows.

(18)

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dengan mempersiapkan alat ukur yaitu penyusunan dan uji coba skala persepsi tentang peran ayah. Selanjutnya peneliti memberikan kuesioner kepada subjek penelitian yang memiliki kriteria yaitu subjek penelitian yang masih memiliki ayah. Pengambilan data dilakukan di SMP 16 Jakarta, pada tanggal 18 juli 2008, peneliti memberikan kuesioner kepada 70 subjek penelitian untuk pengambilan data. Dari 70 subjek penelitian, terdapat 70 subjek yang mengembalikan kuesioner kepeda peneliti. Selanjutnya pada tanggal 21 juli 2008, peneliti meminta fotokopian rapor kepada subjek penelitian

Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Pada skala persepsi tentang peran ayah yang disusun dengan menggunakan Skala Likert, dari 100 item yang digunakan, diperoleh 96 item yang valid, sementara 4 item yang lain dinyatakan gugur. Item valid memiliki nilai korelasi antara 0,318 – 0,735, sedangkan pada uji reliabilitas dilakukan dengan teknik Alpha Cronbach diperoleh dengan nilai alpha sebesar 0,979, pengujian validitas dan reliabilitas ini dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows versi. 13.0.

Pada prestasi akademik diperoleh melalui data sekunder atau arsip yang berupa rapor siswa.

Uji Normalitas

Untuk uji Normalitas digunakan alat bantu program SPSS for Windows versi 13.0

yaitu uji Kolmogorov-Smirnov untuk menguji normalitas sebaran skor.

Berdasarkan pengujian normalitas pada variabel persepsi tentang peran ayah signifikansi sebesar 0,001 (p < 0,05) dan prestasi akademik mempunyai signifikansi sebesar 0,200 (p > 0,05). Secara umum dikatakan bahwa distribusi skor persepsi tentang peran ayah pada sampel yang telah diambil adalah tidak normal, sedangkan skor prestasi akademik sampelnya normal.

Uji Linearitas dan Uji Hipotesis Untuk uji linearitas pada variabel persepsi tentang peran ayah dengan menggunakan analisis regresi dan diperoleh nilai F sebesar 405,683 dengan signifikan = 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan adanya hubungan linear antara variabel persepsi tentang peran ayah terhadap prestasi akademik, sedangkan untuk uji hipotesis digunakan alat bantu program SPSS for Windows versi 13.0 yaitu korelasi bivariate berdasarkan metode product moment pearson, untuk menguji keeratan hubungan antara variabel persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik.

Berdasarkan analisis data yang dilakukan diketahui bahwa koefisien korelasi antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik, hasil r sebesar 0,925 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Dari hasil tersebut, dapat dilihat bahwa ada hubungan yang signifikan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa SMP, dengan

(19)

demikian, hipotesis yang mengatakan ada “hubungan antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik pada siswa SMP” pada penelitian ini diterima.

Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hipotesis penelitian ini diterima. Hal ini berarti ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi tentang peran ayah terhadap prestasi akademik siswa SMP, dimana semakin positif persepsi tentang peran ayah maka prestasi akademiknya semakin tinggi, dan sebaliknya semakin negatif persepsi tentang peran ayah maka prestasi akademiknya semakin rendah. Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Andayani (2004) terhadap persepsi tentang peran ayah pada anak usia sekolah, terutama siswa SMP yang merupakan remaja, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kehangatan yang diberikan ayah dengan fungsi intelektual dan prestasi akademik anak. Sebaliknya, ayah yang kurang terlibat hangat dengan anak, maka akan mengurangi kemampuan kognitif dan prestasi akademik anak. Apabila seorang anak mempersepsikan peran ayah sebagai peran yang positif dan terlibat dengan hangat, yaitu mendidik, mengasuh, membimbing anaknya sesuai dengan tingkat perkembangan anak, memperlakukan anak dengan baik dan kasih sayang, mencurahkan perhatian pada perkembangan anak sehingga ada kegiatan perencanaan dan mengorganisasi, mengajak anak berdiskusi, menanyakan masalah-masalah anak di sekolah terutama yang berkaitan dengan

pelajaran di sekolahnya, menanyakan pendapat anak dalam mengambil keputusan terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak, memberikan pujian dan penghargaan terhadap usaha kreatif dan intelektual anak, menciptakan kondisi atau komunikasi yang menyenangkan dengan anak sehingga hubungannya tidak kaku, peduli apa yang dikerjakan dan situasi anak, serta memberikan dorongan atau support secara emosional atau afektif kepada anak remajanya dalam mengembangkan potensinya, sehingga akan menimbulkan suatu kepercayaan yang lebih baik bagi anak remajanya, terutama pada siswa SMP, terhadap kemampuan dirinya dan akan menimbulkan dukungan moril bagi si anak dalam mengembangkan arah minat, serta mencapai prestasi akademik yang baik di sekolahnya. Anak setidaknya merasa yakin bahwa adanya pengertian akan menstimulir ayah (orangtua) membimbing dirinya, mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka alami. Sebaliknya apabila anak dalam membina hubungan dengan ayah (orangtua) mengalami kekacauan di dalam realitasnya, maka hal ini tidak jarang akan menyebabkan “retaknya” semangat anak untuk mengejar prestasi akademiknya di sekolah.

Dari hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa skor mean empirik persepsi tentang peran ayah sebesar 289,79 lebih tinggi dari skor mean hipotetik yaitu 288 + 1 SD, namun selisihnya tidak lebih dari 1SD. Hal ini berati secara umum subjek penelitian memiliki persepsi tentang peran ayah yang berada dalam kategori rata-rata atau sedang

(20)

atau tidak berbeda jauh dengan remaja pada umumnya. Hal ini dikarenakan sebagian besar subjek penelitian mempunyai ayah yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi atau memiliki pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dari deskripsi subjek berdasarkan pendidikan atau pekerjaan ayah. Hal ini sesuai dengan pendapat Golombok & Susan (1994) yang mengatakan bahwa pendidikan atau pekerjaan ayah merupakan salah satu faktor pendukung identitas seorang ayah. Ayah yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi atau memiliki pekerjaan yang menurutnya cukup, maka akan mempunyai kesejahteraan psikologis yang lebih baik daripada ayah yang memiliki tingkat pendidikan yang tidak tinggi atau memiliki pekerjaan yang menurutnya kurang memuaskan. Hal ini berkaitan dengan persepsi tentang kesuksessan dilingkungan diluar keluarga. Tingkat pendidikan ayah yang cukup tinggi atau memiliki pekerjaan yang menurutnya cukup, maka akan memperkuat identitas peran ayah yang kemudian akan meningkatkan perhatian ayah terhadap anak, atau dengan kata lain meningkatkan kepuasan psikologis tentang pentingnya anak bagi si ayah. Dengan adanya perhatian yang diberikan oleh ayah, maka anak akan mempersepsikan peran ayah sebagai peran ayah yang terlibat hangat dengan anaknya, sehingga akan membantu prestasi akademik anak (Golombok & Susan, 1994). Dan sebaliknya ayah yang memiliki tingkat pendidikan yang tidak tinggi atau memiliki pekerjaan yang menurutnya kurang memuaskan, maka akan

membawa ketegangan psikologis, yang kemudian akan berpengaruh pada interaksi ayah dengan ibu, dan selanjutnya akan berpengaruh pada interaksi ayah dengan anak, sehingga berpengaruh pula pada prestasi akademik anak (Golombok & Susan, 1994).

Dari hasil penelitian diatas, diketahui bahwa (r2) = 0,856 atau 85,6 %. Hal ini berati persepsi tentang peran ayah memberikan sumbangan relatif terhadap prestasi akademik sebesar 85,6 %. Hal ini dikarenakan sebagian besar subjek penelitian mempersepsikan peran ayah sebagai peran ayah yang positif dan terlibat hangat dengan anaknya. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara persepsi tentang peran ayah terhadap prestasi akademik siswa SMP. Hal ini sesuai dengan pendapat Andayani (2004) yang mengatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara siswa “achiever” dan “underachiever” dalam menilai ayah (orang tua) mereka. Siswa yang achiever

menggambarkan ayah (orang tua) bersifat mendukung, mempercayai, penuh afeksi, tidak menekan, dan disiplin yang diterapkan tidak kaku. Dan sebaliknya siswa yang

underachiever menggambarkan ayah (orang tua) bersifat kurang mendukung, kurang mempercayai, kurang penuh afeksi, menekan, dan disiplin yang diterapkan kaku. Sisanya yaitu 14,4 % dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seperti intelegensi, faktor kepribadian, minat dan sikap, motivasi,

(21)

faktor fisik, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan faktor situasional (Suryabrata, 1990). Dengan demikian persepsi tentang peran ayah menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap prestasi akademik, dan bobot sumbangannya sangat besar, sehingga dapat dikatakan persepsi tentang peran ayah berpengaruh terhadap

pencapaian prestasi akademik.

Kelemahan Penelitian

Adapun kelemahan dalam penelitian ini adalah tidak dikontrolnya intelegensi, sehingga kemungkinan turut mempengaruhi hasil penelitian yang diperoleh. Oleh karena bagi pembaca atau peneliti selanjutnya perlu berhati-hati dalam melakukan generalisasi hasil penelitian ini.

Simpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan arah positif antara persepsi tentang peran ayah dengan prestasi akademik siswa SMP, dimana semakin positif persepsi tentang peran ayah seseorang maka prestasi akademik semakin tinggi, dan sebaliknya semakin negatif persepsi tentang peran ayah seseorang maka prestasi akademik semakin rendah. Artinya, persepsi tentang peran ayah mempengaruhi prestasi akademik. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menyebutkan bahwa persepsi tentang peran ayah memberikan sumbangan relatif (kontribusi) sebesar 85,6% terhadap prestasi akademik. Selain itu, skor mean empirik persepsi tentang peran ayah lebih tinggi dari skor mean

hipotetik yang berarti secara umum subjek penelitian memiliki persepsi tentang peran ayah yang berada dalam kategori rata-rata atau sedang. Artinya, subjek mempersepsikan peran ayah, sebagai peran ayah yang terlibat dengan hangat secara afektif, fisik, dan kognitif.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka diajukan beberapa saran, sebagai berikut :

1. Dengan adanya persepsi tentang peran ayah yang positif yang dimiliki oleh siswa SMP yaitu remaja, maka disarankan setiap remaja untuk dapat menerima atau merespon terhadap pendekatan atau peran yang dilakukan oleh ayahnya dalam menciptakan hubungan yang baik dan hangat dengan anak remajanya, sehingga akan membantu dalam proses pencapaian prestasi akademik yang baik disekolahnya.

2. Selain itu disarankan juga untuk ayah, supaya dapat mendidik, mengasuh, membimbing anak sesuai dengan tingkat perkembangan anak, peduli apa yang dikerjakan dan situasi anak, serta memberikan dukungan moril bagi si anak dalam mengembangkan arah minat, serta mencapai prestasi akademik yang baik disekolahnya. 3. Bagi peneliti selanjutnya, penulis

menyarankan pada waktu mengambil data atau menyebar angket, disarankan mengambil sampel atau subjek pada SMP yang berbeda-beda

(22)

atau tidak hanya satu SMP saja, agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi yang lebih luas dan diperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif.

Daftar Pustaka

Anastasi, A. & Urbina, S. (2003). Tes Psikologi. Jakarta : Indeks Gramedia Grup.

Andayani, B. (2004). Peran Ayah Menuju Coparenting. Jakarta : CV Citra Media.

Atwater, E. (1999). Psychology for Living. New Jersey : Englewood Cliffs. Azwar, S. (2001). Dasar-Dasar Psikometri

Cetakan kedua. Yogyakarta : Pustaka pelajar Offset.

Baron, R. A. (2003). Psikologi Sosial. Alih Bahasa : Ratna Djuwita. Jakarta : Erlangga.

Brooks. J. (1991). The Process of Parenting

( 3th ed). USA : Mayfield Publishing Company. Crow, A. (1986). Psychology Human

Development and Learing. New York. McGraw Hill Company, Inc.

Dagun, S. M. (1990). Psikologi Keluarga. Jakarta : PT Rineka Cipta. Dill, J. (1978). Child Psychology in

Contemporery Society. New York : Holbrook Press, Inc.

Drajat, Z. (1975). Problema Remaja di Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.

Duvall, E. M. & Miller, B. C. (1993).

Marriage and Family

Development ( 6th ed ). New York : Harper and Row Publisher.

Edward, W. (1992). Condition dan Proses Belajar Instrumental. Jakarta : CV Rajawali.

Feldman, R. (1998). The Social Psycology Education. New York : McGraw, Inc.

Fitzgerald, H. (1970). Developmental Psychology Studies in Human Developed. New York : The Dorse Press.

Garrison, K. (1969). Psychology of Adolescence ( 7 th ed ). New Jersey : Prentice Hall, Inc. Gender, J. E. (1998). Memahami Gejolak

Masa Remaja. Alih Bahasa : Hadisubrata. Jakarta : Rineka Cipta.

Golombak & Susan. (1994). Gender Development. New york : Cambridge University Press. Gordan, R. (1976). Organizationl Behavior

Diagnostic Approach. New York : McGraw, Inc.

Grinder, R. (1978). Adolesance ( 2th ed ). Canada : John Wiley & Sons, Inc. Grossman, H. (1988). Fathering

Developmental Psychlogy. New York : McGraw, Inc.

Hasan, M. I. (2002). Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Hetherington & Parke. (1979). Child Psychology A Contemporery. New York, Inc.

Hollander, E. (1981). Social Psychology ( 4th ed ). Canada : In ford University Press, Inc.

Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan : Suatu

Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga : Jakarta.

(23)

Lamb, M. E. (1997). The Role of The Father in Child Development ( 2th ed ). Canada : John Wiley & Sons, Inc. Laurence, S. (1993). Adolescence ( 3th ed ).

New York : McGraw-Hill, Inc. Levin, G. (1996). Child Psychology. New

York : McGraw-Hill, Inc. Martin & Colbert. (1997). Parenting : A Life

Span Perpective. New York : McGraw- Hill, Inc.

Mudjiono, D.(1967). Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Muhibbin, S. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Persada Grafindo.

Noesyirwan, J. (1981). Psikologi Social. Bandung : CV DI Ponegoro. Papilla, et.al. (1999). Human Development (

7th ed ). Boston :. The McGraw -Hill Co.

Pikunas, J. (1961). Human Development ( 3th ed ). Koga-Rushala : McGraw - Hill, Inc.

Prabowo, H. & Puspitawati, I. (1997).

Psikologi Pendidikan. Jakarta : Universitas Gunadarma.

Purwanto, N. (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Raja Rosda Karya. Riyanti, D. & Prabowo, H. (1996). Psikologi

Umum 1. Jakarta : Universitas Gunadarma.

Rogers, W. (1968). Fatherhood A sociological Perspective. New York : McGraw-Hill, Inc. Sarwono, S. W. (1989). Psikologi Remaja.

Jakarta : CV Rajawali.

Santrock, J. (1999). Life-Span Development

( 7th ed ). New York : McGraw-Hill, Inc.

Seligman, L. (1994). Education Psychology. New York : McGraw-Hill, Inc. Sprinthall & Norman. (1990). Educational

Psychology A Development Apparoach ( 5th ed ). California : McGraw-Hill, Inc.

Sprinthall & Norman. (1999). Adolescent Psychology : A Development View ( 3th ed ). New York : McGraw-Hill, Inc.

Sujayanto, G. (1999). Kiat Menjadi Ayah Yang Hangat. Dalam Kompas-Edisi 28 Mei 1999. Jakarta : Gratitipers.

Sukadji, R. (1988). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Suryabrata, S. (1990). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pres.

Thevenin, L. (1993). Mathering and Fathering the Gender Diference In Child. New York : McGraw-Hill, Inc.

Turner, R. (1983). Social Psychology. New York : McGraw- Hill, Inc. Watson, J. (1979). Psychology of The Child.

London : John Wiley & Sons, Inc.

Winkel, W. S. (1987). Psikologi

Pengajaran. Jakarta : Gramedia.

Woodworth, C. (2001). Contemporery School of Psychology. New York : McGraw-Hill, Inc.

Woolfolk, A. (1990). Educational

Psychology ( 9th ed ). New York : McGraw-Hill, Inc.

Zimbardo, P. (1977). Sosial Psychology. New York : McGraw-Hill, Inc.

(24)
(25)
(26)
(27)
(28)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara minat terhadap fakultas dengan prestasi akademik mahasiswa, untuk mengetahui peranan minat terhadap

judul penelitian ini dengan nama “ Hubungan antara Minat terhadap Fakultas dengan Prestasi Akademik Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas.

Uji Korelasi Kendal Tau menunjukkan korelasi sebesar r = 0, 174 dengan sig 0,043 (sig&lt;0,05) yang artinya ada hubungan positif antara persepsi peran ayah

Kesimpulan: Terdapat hubungan yang sangat bermakna antara tingkat kecemasan dengan prestasi akademik mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah

Individu dengan kontrol diri tinggi seharusnya dapat mencapai prestasi akademik yang lebih baik dalam jangka panjang karena memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas

Individu dengan kontrol diri tinggi seharusnya dapat mencapai prestasi akademik yang lebih baik dalam jangka panjang karena memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas

Persepsi terhadap peran ayah adalah penilaian anak (dalam penelitian ini merujuk pada siswa menempatkan diri sebagai anak) secara afeksi dan kognisi terhadap perilaku

Hal ini selaras penelitian yang dilakukan oleh Nurvita (2008) yang melaporkan jika adanya hubungan positif antara persepsi terhadap peran pengasuhan ayah dengan