Informasi Dokumen
- Penulis:
- M.E.Winarno
- Sekolah: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang
- Mata Pelajaran: Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
- Topik: Belajar Motorik
- Tipe: modul
- Tahun: 1994/1995
- Kota: Malang
Ringkasan Dokumen
I. TEORI-TEORI BELAJAR
Bagian ini membahas berbagai teori yang mendasari proses belajar motorik, dengan fokus pada konsep dasar, tahap-tahap, dan klasifikasi respon motorik. Teori-teori ini penting untuk memahami bagaimana individu belajar keterampilan motorik dan bagaimana proses tersebut dapat dioptimalkan dalam konteks pendidikan olahraga.
1.1. Konsep dasar Belajar Motorik
Belajar motorik didefinisikan sebagai perubahan perilaku motorik yang terjadi akibat latihan dan pengalaman. Berbagai definisi dari para ahli menunjukkan bahwa belajar motorik tidak hanya melibatkan aspek fisik, tetapi juga kognitif dan afektif. Proses ini melibatkan akumulasi pengetahuan dan keterampilan yang dapat diamati dan diukur, serta memiliki dampak jangka panjang pada kemampuan individu.
1.2. Tahap-tahap Belajar Motorik
Tahap belajar motorik dibagi menjadi tiga fase: kognitif, asosiatif, dan otomatisasi. Fase kognitif merupakan tahap awal di mana individu memahami gerakan yang akan dipelajari. Fase asosiatif adalah saat individu mulai mengaitkan gerakan dengan hasil, sedangkan fase otomatisasi adalah ketika gerakan dapat dilakukan secara otomatis tanpa memerlukan pemikiran sadar. Pemahaman tentang tahap-tahap ini membantu pendidik merancang kurikulum yang sesuai.
1.3. Teori Belajar Motorik
Teori Adams dan teori skema adalah dua pendekatan utama dalam memahami belajar motorik. Teori Adams menekankan pentingnya umpan balik dalam proses belajar, sedangkan teori skema menyoroti peran memori dalam pengolahan informasi gerakan. Kedua teori ini memberikan wawasan berharga bagi pendidik dalam merancang metode pengajaran yang efektif.
1.4. Klasifikasi Respons Motorik
Klasifikasi respons motorik dapat dilakukan berdasarkan kecermatan gerak, titik awal dan akhir gerak, serta stabilitas lingkungan. Keterampilan motorik dibedakan menjadi keterampilan kasar dan halus, diskrit, serial, dan kontinyu. Memahami klasifikasi ini penting untuk merancang latihan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
II. PROSES BELAJAR MOTORIK
Bagian ini menjelaskan proses belajar motorik yang meliputi pemrosesan informasi, kontrol motorik, dan umpan balik. Proses ini sangat penting untuk memahami bagaimana individu dapat menguasai keterampilan motorik melalui latihan yang terstruktur.
2.1. Pemrosesan Informasi
Pemrosesan informasi melibatkan bagaimana individu menerima, mengolah, dan menggunakan informasi untuk melakukan gerakan. Proses ini mencakup penerimaan informasi sensorik, interpretasi, dan pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Pendidik perlu memahami proses ini untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan motorik secara efektif.
2.2. Kontrol Motorik
Kontrol motorik berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengatur gerakan tubuhnya dengan tepat. Ini melibatkan koordinasi antara otak dan otot serta pengaturan waktu yang tepat dalam melakukan gerakan. Memahami kontrol motorik membantu pendidik dalam merancang latihan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa.
2.3. Umpan Balik dan Pengetahuan tentang Hasil
Umpan balik adalah informasi yang diberikan kepada individu tentang performa mereka setelah melakukan gerakan. Pengetahuan tentang hasil membantu individu untuk menilai dan memperbaiki keterampilan mereka. Pendidik harus memberikan umpan balik yang konstruktif untuk memfasilitasi proses belajar.
III. METODE LATIHAN DAN TRANSFER KETERAMPILAN
Bagian ini membahas berbagai metode latihan yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan motorik dan bagaimana keterampilan tersebut dapat ditransfer ke situasi lain. Pemilihan metode yang tepat sangat penting dalam pendidikan olahraga.
3.1. Metode Latihan Bagian
Metode latihan bagian melibatkan pengajaran keterampilan dengan membagi gerakan menjadi bagian-bagian kecil. Hal ini memudahkan siswa untuk memahami dan menguasai setiap bagian sebelum menggabungkannya menjadi keseluruhan. Pendidik harus memilih bagian yang tepat untuk diajarkan berdasarkan kemampuan siswa.
3.2. Metode Latihan Keseluruhan
Metode latihan keseluruhan mengajarkan keterampilan dalam bentuk utuh tanpa membagi-bagi gerakan. Pendekatan ini bermanfaat untuk keterampilan yang harus dilakukan secara simultan. Pendidik perlu mempertimbangkan tingkat kesiapan siswa sebelum menerapkan metode ini.
3.3. Massed Practice
Massed practice adalah metode latihan yang melibatkan sesi latihan yang panjang tanpa istirahat. Metode ini dapat efektif untuk keterampilan yang memerlukan pengulangan, tetapi dapat menyebabkan kelelahan. Pendidik harus memonitor tingkat kelelahan siswa dan mengatur waktu latihan dengan bijaksana.
3.4. Distributed Practice
Distributed practice adalah metode latihan yang melibatkan sesi latihan yang lebih pendek dengan istirahat di antara sesi. Metode ini cenderung lebih efektif dalam meningkatkan retensi keterampilan jangka panjang. Pendidik harus mempertimbangkan penggunaan metode ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
3.5. Latihan Mental
Latihan mental melibatkan visualisasi gerakan tanpa melakukan gerakan fisik. Metode ini dapat membantu meningkatkan keterampilan motorik dengan meningkatkan pemahaman dan kepercayaan diri siswa. Pendidik dapat mengintegrasikan latihan mental ke dalam program latihan untuk hasil yang lebih baik.
3.6. Transfer Keterampilan
Transfer keterampilan adalah kemampuan untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari dalam satu konteks ke konteks lain. Memahami transfer keterampilan penting bagi pendidik untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan yang dapat digunakan di berbagai situasi.
Referensi Dokumen
- Latihan Mental ( Oxendine )
- Latihan Mental ( Schmidt )
- Latihan Mental ( Drowatzky )
- Latihan Mental ( Reuben )
- Latihan Mental ( Ostrander, et al. )
- Latihan Mental ( Carron )
- Transfer of Learning ( Schmidt )
- Transfer of Learning ( Drowatzky )
- Transfer of Learning ( Magill )