• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH DIAMETER STEK BATANG TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT PADA EMPAT SPESIES TANAMAN MURBEI (Morus sp.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH DIAMETER STEK BATANG TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT PADA EMPAT SPESIES TANAMAN MURBEI (Morus sp.)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH DIAMETER STEK BATANG TERHADAP

PERTUMBUHAN BIBIT PADA EMPAT SPESIES

TANAMAN MURBEI (

Morus

sp.)

(Effect of Diameter Stem Cutting on Growth

of Four Species of Mulberry (Morus sp.))

Rijanto Hutasoit, Tarigan A, Ginting SP

Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, PO Box 1. Galang, Sumatera Utara

ABSTRACT

Mulberry (Morus sp) is one of forage that can be used as animal feed. Lack of seeds that are available and of high quality as well as appropriate methods of mulberry cultivation is still a problem. This activity aims was determine the effect of diameter stem cuttings growth in four species of mulberry (Morus sp) on zeadling. Research designed was Randomized complete block designpattern, consisting of two factors and three replications. The first factor was diameter stem cuttings: (D1 = Diameter of 1 cm, D2 = Diameter 2 cm and D3 = Diameter 3 cm). The second factor was species used: (M1 = Morus alba var Kanva, M2 = Morus

nigra, M3 = Morus cathayana and M4 = Morus multicaulis). The results shows that the seedling height and number of buds (P<0.05) influenced by the diameter of the stem cuttings, which in a ranged of 22.6-51.7 cm and number of bud between 1.40-3.0 stem buds. Mulberry species only affected the number of shoots, the highest number was found in Morus alba var Kanva and Morus multicaulis in a ranged of 2.40-2.53 stem buds. It was concluded that the diameter of the stem cuttings affected height growth of shoots and number of shoots. Which were 2 cm and 3 cm stem diameter. The higher number of shoots obtained on Morus alba and

Morus multicaulis var kanva.

Key Words: Mulberry (Morus sp), Cutting Diameter, Height of Buds, Number of Buds

ABSTRAK

Murbei (Morus sp) merupakan salah satu keragaman hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak. Kurangnya bibit yg tersedia dan berkualitas tinggi serta metode yang tepat tentang budidaya tanaman murbei masih merupakan kendala introduksi tanaman murbei sebagai sumber pakan ternak. Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal diperlukan perbaikan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman murbei. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi diameter stek batang terhadap pertumbuhan tinggi tunas, jumlah tunas, besar batang tunas dan persentase tumbuh stek. Penelitian dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok pola faktoria, terdiri atas dua faktor dan tiga ulangan. Faktor yang pertama adalah Besar diameter stek batang yang terdiri atas 3 perlakuan yaitu : D1 = Diameter 1 cm, D2 = Diameter 2 cm dan D3 = Diameter 3 cm. Faktor yang kedua adalah faktor spesies yang digunakan adalah : M1 = Morus alba var kanva, M2 =

Morus nigra, M3 = Morus cathayana dan M4 = Morus multicaulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tunas dan jumlah tunas (P<0,05) dipengaruhi oleh diameter stek batang, yaitu berturut-turut berkisar antara 22,6-51,7 cm dan antara 1,40-3,0 batang tunas. Spesies murbei hanya berpengaruh terhadap jumlah tunas, jumlah tertinggi terdapat pada Morus alba var kanva dan Morus multicaulis. berkisar antara 2,40-2,53 batang tunas. Disimpulkan bahwa besar diameter stek batang mempengaruhi pertumbuhan tinggi tunas dan jumlah tunas tanaman yaitu terdapat pada perlakuan 2 cm dan 3 cm. Jumlah tunas lebih tinggi diperoleh pada

Morus alba var kanva dan Morus multicaulis.

Kata Kunci: Murbei (Morus sp.), Diameter Stek, Tinggi Tunas, Jumlah Tunas, Batang Tunas

PENDAHULUAN

Ketersediaan hijauan yang berkualitas dalam rangka pengembangan ternak khususnya

ternak ruminansia di Indonesia sangat perlu didukung oleh introduksi hijauan yang baik kualitas maupun kuantitasnya, mengingat sebahagian besar hijauan pakan yang diberikan

(2)

kepada ternak ruminansia adalah rumput lokal yang berkualitas rendah, sementara keragaman hijauan pakan yang ada di Indonesia sangat besar, baik didaerah iklim basah maupun daerah beriklim kering.

Salah satu keragaman hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak adalah tanaman murbei (Morus sp), potensial sebagai sumber protein untuk ternak ruminansia (Sanchez 2001; Miller et al. 2005). Menurut

Y

ulistiani (2008) dari segi kandungan protein dan kecernaan tanaman murbei dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan ternak sapi perah, lebih lanjut disebutkan bahwa sebagai suplemen hijauan murbei dapat digunakan sebagai pengganti ransum konsentrat sampai 75% tanpa mempengaruhi produksi susu dan kualitas susu.

S

addul et al.

(2004), melaporkan pada interval pemotongan hijauan murbei 5 minggu sekali mempunyai kandungan protein kasar 24,9%, dengan

demikian memiliki potensi yang tinggi sebagai suplemen dengan kecernaan 75-85% (Xuan et al.2003).

Pohon murbei termasuk ke dalam genus Morus, family Moraceae. Ordo Klas Dicotyledonae. Diperkirakan ada 68 spesies dari genus Morus yang tersebar di Asia (Datta 2001), dan di Cina ada lebih dari 1000 varietas ditanam. Umumnya tanaman murbei dimanfaatkan sebagai pakan ulat sutera spesies

Bombyx mori. Usaha budidaya tanaman murbei telah berkembang dengan baik di masyarakat mendukung keberhasilan persuteraan alam dalam jumlah yang cukup dapat menjamin kontinuitas produksi pertekstilan sutra di Indonesia (Santoso, 2000). Spesies yang paling umum digunakan adalah M. alba (murbei putih), M. nigra (murbei hitam), M. catayana

dan M. multicaulis, M. rubra (murbei merah) dan M. indica, telah menyebar dan beradaptasi baik di daerah tropik maupun daerah sub tropik mulai dari ketinggian 0-4000 m dpl.

Metode budidaya tanaman murbei sebagai pakan ternak harus dipertimbangkan untuk meningkatkan produksi dan kualitas tanaman murbei. Kurangnya bibit yang tersedia yang berkualitas tinggi dan metode yang tepat tentang budidaya tanaman murbei masih merupakan kendala introduksi tanaman murbei sebagai sumber pakan ternak. Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal

diperlukan perbaikan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman murbei. Dalam budidaya murbei ketersediaan bibit yang baik sangat penting diperhatikan untuk mendukung sistem produksi setelah bibit ditanam dilapangan. Adinugraha et al. (2002) melaporkan perbanyakan tanaman murbei yaitu secara vegetatif (stek batang), perbanyakan dengan biji belum banyak dilakukan. Ukuran diameter stek batang mempengaruhi pertumbuhan tanaman murbei, umumnya petani yang menanam murbei sebagai pakan ulat sutra menggunakan diameter stek batang bervariasi antara 0,5-3 cm. Raza-Ul-Haq (1992), penggunaan stek batang adalah salah satu metode perbanyakan vegetatif paling mudah, ukuran penanaman stek batang penting untuk hidup awal dan pertumbuhan stek, secara fisiologis berperan penting dalam penentuan keberhasilan perakaran.

Pentingnya metode pembibitan yang tepat penggunaan stek batang pada tanaman murbei, menurut (Guo et al. 2007) disamping keseragaman tanaman, saat produksi tanaman asal stek lebih awal dan lebih tinggi. Untuk memperoleh pertumbuhan pembibitan yang optimal sebagai sumber pakan, beberapa langkah awal penting yang akan dilaksanakan adalah melakukan uji diameter stek batang terhadap beberapa spesies murbei yang potensial untuk digunakan sebagai pakan ternak.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh besar diameter stek batang terhadap pertumbuhan bibit pada empat spesies tanaman murbei (Morus sp).

MATERI DAN METODE

Penelitian dilakukan di lapangan percobaan Loka Penelitian Kambing Potong Sungei Putih Sumatera Utara pada Bulan Januari sampai April 2012. Lokasi ini terletak pada ketinggian ±50 m dari permukaan laut dengan jenis tanah pod solid (merah berpasir) dengan rata-rata curah hujan sebanyak 1800 mm/thn. Bahan dasar yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah berupa cabang atau stek batang empat spesies murbei terdiri atas: (1) M. alba var

Kanva; (2) M. nigra; (3) M. cathayana; (4) M. multicaulis, sebanyak 360 stek batang bibit yang berasal dari kebun koleksi Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih.

(3)

Kegiatan ini diawali dengan persiapan polybag yang digunakan berukuran 25  20 cm. Media tanah dan kompos yang digunakan dicampur dengan perbandingan 1 bagian kompos dan 3 bagian tanah. Persiapan pembibitan stek batang diambil dari setiap pohon induk murbei yang sudah cukup tua dengan tinggi pemotongan 0,5 meter dari permukaan tanah, potongan stek cabang panjangnya masing-masing 15-20 cm atau memiliki 3 mata tunas dengan diameter 1, 2 dan 3 cm dipilih stek yang baik dan sehat untuk digunakan, antara lain: batang mengkilat, tidak rusak (cacat), tidak busuk dan terhindar dari penyakit penggerek batang. Sebelum di tanam pangkal stek dicelupkan rootone F (20%) selanjutnya ditanam kepolybag dan diletakkan dalam naungan paranet dengan intensitas naungan 50%. Pemberian naungan dilakukan pada dua minggu pertama setelah penyetekan. Setelah tanaman cukup kuat kemudian naungan dibuka. pemeliharaan stek dilakukan dengan penyiram setiap hari sampai umur 3 (tiga) bulan.

Variabel pengamatan

Tinggi tunas. Diukur dengan menggunakan alat pengukur/meteran. Tinggi tunas diukur mulai pangkal tunas sampai ujung/pucuk tunas. Jumlah tunas. Dihitung seluruh jumlah tunas yang tumbuh dari tiap-tiap diameter batang stek.

Besar batang tunas. Diameter tunas yang diukur meliputi pangkal tunas, pertengahan batang tunas dan ujung tunas. Diukur dengan cara melingkarkan seutas benang ke batang tersebut lalu panjang benang yang dilingkarkan diukur dengan alat pengukur/meteran.

Persentase tumbuh stek batang. Diperoleh dengan cara menghitung seluruh jumlah stek yang tumbuh dibagi jumlah stek yang dibibitkan dikali seratus. Dengan rumus sebagai berikut:

Jumlah stek yang tumbuh

x 100 Jumlah stek yang dibibitkan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial yang terdiri aras dua faktor. Faktor yang pertama yaitu diameter stek batang yang terdiri atas 3 perlakuan yaitu: 1.D1 = Diameter 1 cm

2.D2 = Diameter 2 cm 3.D3 = Diameter 3 cm

Faktor yang kedua adalah perlakuan spesies murbei yang terdiri dar 4 spesies yaitu:

1.M1= Morus alba var Kanva 2.M2 = Morus nigra

3.M3 = Morus cathayana 4.M4 = Morus multicaulis

Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan sehingga terdapat 45 satuan percobaan. Satuan percobaan terdiri atas sepuluh tanaman sehingga jumlah seluruhnya 360 tanaman. Analisis data dengan ANOVA, bila terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) dilanjutkan dengan uji jarak berganda DUNCAN.

HASIL PEMBAHASAN Tinggi tunas

Karakter pertumbuhan tinggi tunas dipengaruhi oleh bibit tanaman yang akan digunakan, salah satunya yaitu besarnya diameter stek batang pada saat melakukan pembibitan tanaman murbei (Pudjiono, 2005). Tinggi tunas bibit yang tumbuh pada beberapa spesies tanaman murbei dengan perlakuan besar diameter stek batang pada penelitian ini rata-rata 37,5 cm, lebih tinggi daripada hasil penelitian Aris et al (2007), rata-rata tinggi tunas yang diperoleh 33,4 cm. Hasil yang diperoleh tiap-tiap perlakuan Tabel 1, berkisar antara 22,6 cm (M1) -51,7 cm (M3). Pada perlakuan diameter stek batang 2 cm adalah tunas tertinggi yang diperoleh (41,8 cm) sedangkan pada spesies murbei tunas tertinggi pada M3 (44,8 cm).

Dari hasil analisis varian yang di peroleh menunjukkan bahwa perlakuan besar diameter stek batang berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan tinggi tunas, perlakuan D2 (41,8 cm) dan D3 (40,9 cm) lebih tinggi hasilnya dari pada perlakuan stek batang D1 (29,7 cm). Besarnya stek batang bibit mempengaruhi tinggi tunas tanaman murbei. Tinggi tunas dengan stek batang berdiameter 2 cm jauh lebih tinggi tunasnya dari yang berdiameter 1 cm (D1). Walaupun D2 tidak berbeda nyata dengan D3, namun secara numerik tinggi tunas yang diperoleh pada D2 masih lebih tinggi 0,9 cm dibandingkan dengan D3. Pada perlakuan beberapa spesies murbei dari Tabel 1 tersebut diatas hasil yang diperoleh relatif sama dari hasil analisis variansi tidak

(4)

Tabel 1. Rataan tinggi tunas bibit pada beberapa spesies tanaman murbei

Spesies Diameter stek (cm) Rata-rata

1 2 3 M. Alfa cv. Kanva 22,6 27,2 41,6 30,5a M. nirgra 33,5 46,8 40,7 40,3a M. catayana 34,6 48,2 51,7 44,8a M. multicaulis 28,0 44,9 29,6 34,2a Rata-rata 29,7a 41,8b 40,9b 37,5

Superskrip yang berbeda dalam satu lajur atau baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

berbeda nyata, tunas tertinggi diperoleh pada perlakuan multicaulis (M3) sebesar 44,8 cm.

Jumlah tunas

Diameter stek batang mempengaruhi pertumbuhan batang tunas tanaman murbei. Banyaknya jumlah tunas bibit yang diperoleh akan memberikan respon yang positif terhadap peningkatan produksi dan kandungan bahan organik, mencerminkan tanaman semakin berkualitas (Whitehead dan Tinsley 2006).

Jumlah tunas yang dihasilkan dari besarnya diameter stek batang terhadap beberapa spesies tanaman murbei yang dihasilkan pada penelitian ini rata–rata 2,25 batang tunas. Hasil yang diperoleh tiap-tiap perlakuan bervariasi, berkisar antara 1,40 batang tunas (M3D1) - 3,0 batang tunas (M1D3 dan M4D3). Pada besar diameter stek batang 3 cm adalah hasil rata-rata tertinggi 2,80 batang tunas. Sedangkan pada spesies murbei, jumlah batang tunas terbanyak terdapat pada spesies multicaulis

(M4) sebanyak 2,53 batang tunas Tabel 2. Dari hasil analisis variansi yang di peroleh menunjukkan bahwa perlakuan besar diameter stek batang pada beberapa spesies tanaman murbei berpengaruh nyata (P<0,05). Dari tabel

tersebut diatas menunjukkan bahwa semakin besar diameter stek batang yang digunakan jumlah tunas akan semakin banyak. Kunjuvillai Vijayan (2010) menjelaskan efek dari besarnya diameter tunas sebagai bibit memperoleh hasil yang maksimal terhadap jumlah tunas tanaman murbei, ukuran diameter stek batang dapat meningkatkan jumlah tunas tanaman murbei secara nyata. Pada perlakuan beberapa spesies murbei jumlah tunas terbanyak diperoleh pada spesies Kanva (M1) dan multicaulis (M4) jumlah tunas berkisar antara 2,40-2,53 batang. Sementara hasil yang diperoleh pada spesies nigra (M2) dan

catayana (M3) lebih rendah berkisar antara 1,87-2,20 batang tunas.

Besar batang tunas

Pemilihan batang tunas pada bibit tanaman murbei menurut DOOS (2000), senantiasa dianggap sebagai salah satu kriteria penting yang harus diperhatian perbanyakan melalui cara vegetatif. Semakin besar batang tunas maka akan semakin kokoh pertumbuhan tanaman. Hal ini berguna pada saat pemindahan bibit tanaman ke areal penanaman

Tabel 2. Rataan jumlah tunas bibit pada beberapa spesies tanaman murbei

Spesies Diameter stek (cm) Rata-rata

1 2 3 M. Alfa cv. Kanva 1,80 2,40 3,00 2,40b M. nirgra 1,80 1,80 2,00 1,87a M. catayana 1,40 2,00 3,20 2,20a M. multicaulis 2,60 2,00 3,00 2,53b 1,90a 2,05a 2,80b

(5)

yang baru. Batang tunas tanaman sebaiknya dipilih yang besar agar tidak mudah goyah untuk menghindari patahnya tunas akibat air hujan yang deras maupun tiupan angin yang kencang serta akibat sentuhan manusia maupun binatang liar seperti burung yang yang hinggap pada tunas yang masih muda.

Rata–rata besar batang tunas bibit tanaman murbei dengan perlakuan diameter stek batang pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3. Rataan batang tunas murbei terbesar adalah 3,3 cm terdapat pada perlakuan diameter stek 3 cm (D3). Sedangkan pada perlakuan spesies tanaman murbei, rataan terbesar 3,0 diperoleh pada spesies multicaulis. Hal tersebut sesuai dengan yang dilaporan oleh Samsijah (1992), bahwa pertumbuhan batang tunas terbaik terdapat pada spesies multicaulis.

Hasil analisis variansi yang diperoleh menunujkkan bahwa perlakuan besar diameter stek batang terhadap beberapa spesies tanaman murbei serta interaksinya tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Dari tabel tersebut diatas terlihat peningkatan batang tunas pada perlakuan diameter stek batang 1, 2 dan 3 cm. Meskipun tidak berpengaruh nyata secara numerik terlihat bahwa semakin besar stek batang yang digunakan untuk bibit, maka semakin besar pula batang tunas yang tumbuh. Hal ini mengidikasikan bahwa semakin besar batang stek yang ditanam menjamin tersedianya pasokan nutrisi yang lebih banyak, cadangan makanan (karbohidrat) cukup untuk pertumbuhan tunas dicerminkan dengan semakin besar batang tunas yang tumbuh.

Persentase tumbuh stek

Pertumbuhan stek bibit tanaman merupakan modal awal yang perlu diperhatikan untuk menentukan kualitas pertumbuhan tanaman. Keberhasilan fase pembibitan akan menentukan keberhasilan sistem produksi selanjutnya dalam pengembangan tanaman. Tingginya persentase tumbuh tanaman akan memberikan respon yang positif terhadap peningkatan produksi dan kandungan bahan organik karena akan semakin banyak yang termanfaatkan oleh ternak.

Persentase tumbuh yang dihasilkan dengan perlakuan diameter stek batang pada beberapa spesies tanaman murbei serta interaksinya pada penelitian ini rata-rata 99,6%. Hasil tersebut lebih tinggi dari penelitian Aris et al. (2007) menyatakan bahwa persentase hidup stek batang murbei yang tertinggi 81,6%. Selanjutnya menurut Atmosoedardjo et al. (2000), persentase hidup pada perlakuan stek yang diamati hanya 71,2%, masih lebih rendah dibandingkan dengan penelitian ini.

Dari hasil rataan Tabel 4 yang diperoleh pada perlakuan spesies tanaman murbei relatif tinggi dan tidak begitu bervariasi, berkisar antara 99,3% (M1) - 99,7% (M2, M3, M4). Sedangkan pertumbuhan pada tiap-tiap perlakuan diameter stek batang tanaman murbei berkisar antara 99,5% (D1) - 99,8% (M2) yang merupakan hasil tertinggi yang diperoleh.

Hasil analisis varian yang di peroleh menunjukkan bahwa perlakuan besar diameter

Tabel 3. Rataan besar batang tunas bibit pada beberapa spesies tanaman murbei

Spesies Diameter stek (cm) Rata-rata 1 2 3 cm M. Alfa cv. Kanva 2,0 3,0 3,4 2,8a M. nirgra 2,5 2,9 3,1 2,8a M. catayana 1,4 2,0 3,2 2,2a M. multicaulis 2,3 3,1 3,6 3,0a 2,1a 2,8a 3,3a

(6)

Tabel 4. Rataan presentase tumbuh bibit pada beberapa spesies tanaman murbei Spesies Diameter stek (cm) Rata-rata 1 2 3 % M. Alfa cv. Kanva 99 100 99 99,3a M. nirgra 100 99 100 99,7a M. catayana 100 99 100 99,7a M. multicaulis 99 100 100 99,7a 99,5a 99,5a 99,8a

Superskrip yang berbeda dalam satu lajur atau baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

stek batang pada beberapa spesies tanaman murbei dan interaksinya tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase tumbuh stek. Meskipun hasilnya sedikit lebih tinggi pada perlakuan diameter stek batang dengan menggunakan diameter 3 cm (D3).

Tingginya persentase tumbuh bibit tanaman murbei diharapkan akan dapat melakukan proses pertumbuhannya secara optimal. Menurut Latiha et al. (2013), pertumbuhan pada fase penyemaian merupakan fase penting untuk mendapatkan tanaman yang produktiv, dengan demikian seleksi tanaman yang sehat dan tumbuh dengan baik mutlak dilakukan. kondisi semai secara keseluruhan, baik kondisi fisik maupun fisiologis relatif lebih baik dan lebih siap untuk disapih ke dalam media yang baru, sehingga semai lebih mampu beradaptasi dan dapat menyerap unsur hara yang terdapat dalam media sapih.

KESIMPULAN

Besar diameter stek batang mempengaruhi pertumbuhan tinggi tunas dan jumlah tunas tanaman murbei. Stek batang berdiameter 2-3 cm adalah merupakan yang terbaik terhadap tinggi tunas, sedangkan pada jumlah tunas yang terbaik adalah berdiameter 3 cm. Spesies murbei hanya berpengaruh terhadap jumlah tunas. Jumlah tertinggi terdapat pada Morus alba var kanva dan Morus multicaulis.

DAFTAR PUSTAKA

Adinugraha AH, Sugeng, Hidayat P, Mahfud. 2002. Studi variansi pertumbuhan stek beberapa jenis murbei (Morus sp.). Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon. 6 no 1.

Aris S, Pudjiono S, Na’iem M. 2007. Pengaruh jumlah mata tunas terhadap kemampuan hidup dan pertumbuhan stek empat jenis hibrid murbei. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. J Pemuliaan Tanaman Hutan. 1.

Atmosoedardjo S, Kartasubrata J, Kaomini M, Saleh W, Moerdoko W. 2000. Sutera alam Indonesia, Yayasan sarana wana jaya. Jakatra. hlm. 337. Datta RK. 2001. Mulberry Cultivation and

Utilization in India http://.fao. org/waicent /faoinfo/agricult/agap/frg/mulbe/Datta.tx. Doss SG, Vijayan, Rahman K, Das MS, Chakraborti

KK, Roy BN. 2000. Effect of plant density on growth, yield and leaf quality in triploid mulberry. Sericologia. 40:175-180.

Guo ZW, Tingting C, Yonghua Y, Le P. 2007. A preliminary analysis of a sexual genetic variability in mulberry as revealed by ISSR markers. Int J Agri Biol. 9:928-930.

Latiha N, Kiho S, Banerjee R, Chattopadhyay S, Saha AK, Bindroo BB. 2013. High frequncy multiple shoot intuduction in vitro regeneration of mulburry. Int J adv Res.1:22-26.

Miller D, McDonald D, Asiedu FH. 2005. The effect of mulberry leaf meal on the growth performance of weaner goats in Jamaica.

(7)

Pudjiono. 2005. Pertumbuhan beberapa tanaman murbei hibrid hasil persilangan terkendali J Penelitian Hutan Tanaman. 2:74-79.

Raza U. 1992. Effect of light and weed competition on the survival and growth of Abies pindrows seedlings of various ages in different soils media in the moist temperate forests of Pakistan. Pak J Forest. 42:148-162.

Saddul D. Jelan ZA, Liang JB, Halim. 2004. Mulberry (Morus alba): Apromising forage supplement for ruminants. In New Dimensions and Challenges.

Samsijah. 1992. Pengaruh Panjang Stek Terhadap Kemampuan Hidup dan Pertumbuhan Morus multicaulis. Laporan No 178, Lembaga Penelitian Hutan, Bogor.

Sanchez MD. 2001. World distribution and utilization of mulberry and its potential for animal feeding In Mulberry for animal production p 1-9. Sanchez MD (ed). FAO Anim Prod Health. 147.

Santoso B. 2000. Produksi dan Kandungan Nutrisi Daun Beberapa Varietas Murbei. Bulletin Penelitian Kehutanan Ujung Pandang 6. (2). Vijayan K. 2010. The emerging role of genomic

tools in mulberry (Morus) genetic improvement. Tree genetics and Genomes. 6: 613-625.

Whitehead DC, Tinsley J. 2006. The biochemistry of humus formation. J Sci Food Agric.

14:849-857.

Xuan BAN, Giang VD, Ngoan LD. 2003. Ensiling of mulberry foliage (Morus alba) and the nutritive value of mulberry foliage silage for goats in central Vietnam Hue University of Agriculture and Forestry Hue, Vietnam

[email protected].

Yuliastiani D. 2008. Hijauan murbei untuk supleymentasi protein pakan sapi perah. Semi loka nasional prospek industri sapi perah menuju perdagangan bebas 2020. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan dan STEKPI. p. 119-123.

Gambar

Tabel 1. Rataan tinggi tunas bibit pada beberapa spesies tanaman murbei
Tabel 3. Rataan besar batang tunas bibit pada beberapa spesies tanaman murbei
Tabel 4. Rataan presentase tumbuh bibit pada beberapa spesies tanaman murbei  Spesies  Diameter stek (cm)  Rata-rata  1  2  3  %  M

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian dan analisis statistik menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan macam batang stek untuk batang pangkal dan posisi tanam 90o (A3B3) memberikan pertumbuhan stek

Jenis media tanam yang paling mendukung pertumbuhan akar, tunas dan tinggi tanaman stek batang sirih merah adalah media tanam arang sekam6. Kata kunci: Media tanam, Sirih merah,

Pemberian ZPT Hantu dengan konsentrasi 3 ml 1 -1 air (h3) menghasilkan pertumbuhan stek batang tanaman buah naga daging super merah yang paling baik, pengaruh

Pemberian ZPT Hantu dengan konsentrasi 3 ml 1 -1 air (h3) menghasilkan pertumbuhan stek batang tanaman buah naga daging super merah yang paling baik, pengaruh

Berapakah konsentrasi larutan kulit bawang merah ( Allium cepa L. ) yang optimal untuk pertumbuhan stek sirih merah ( Piper crocatum ). Untuk mengetahui pengaruh larutan kulit

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai zat pengatur tumbuh alami dan asal stek batang terhadap pertumbuhan vegetatif bibit melati putih. Penelitian

Semua jenis media tanam yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan stek batang tanaman jarak pagar, akan tetapi perlakuan campuran tanah

Interaksi antara pemberian ekstrak bawang merah dan bagian bahan stek batang berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan bibit mawar pada panjang tunas 30 HST, 45 HST, 60 HST, jumlah