kyogen

28 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

http://id.wikipedia.org/wiki/Ky%C5%8Dgen http://id.wikipedia.org/wiki/Ky%C5%8Dgen

Kyōgen

Kyōgen

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa Belum Diperiksa Langsung ke:

Langsung ke: navigasinavigasi,, caricari Kyōgen

Kyōgen((狂言狂言??) bisa berarti:) bisa berarti: 1.

1. Teater Teater humor tradisional Jepang yang merupakan perkembangan unsur humor tradisional Jepang yang merupakan perkembangan unsur humor humor  pertunjukan

pertunjukan SarugakuSarugaku. Kyōgen dan. Kyōgen dan NohNoh merupakan seni tradisional Jepang yang sama-merupakan seni tradisional Jepang yang sama-sama berakar dari Sarugaku. Sejak 

sama berakar dari Sarugaku. Sejak zaman Meijizaman Meiji, istilah, istilah NōgakuNōgaku atauatauNohgakuNohgaku((能楽能楽??)) sering digunakan untuk menyebut Noh dan Kyōgen.

sering digunakan untuk menyebut Noh dan Kyōgen. 2.

2. Salah satu jenis pertunjukanSalah satu jenis pertunjukan KabukiKabukiyang disebut Kabuki-kyōgen atau cukup disebutyang disebut Kabuki-kyōgen atau cukup disebut Kyōgen.

Kyōgen. Noh adalah

Noh adalah teater musikalteater musikaldengan menggunakandengan menggunakan topengtopengyang disebutyang disebutomoteomotedalam istilah noh.dalam istilah noh. Dalam noh, abstraksi dan simbolisme diekspresikan secara kuat

Dalam noh, abstraksi dan simbolisme diekspresikan secara kuat melalui unsur gerak melalui unsur gerak taritari,, dengandengan sebagian besar cerita yang bertemakan

sebagian besar cerita yang bertemakan trageditragedi. Sebaliknya, sebagian besar peran dalam kyōgen. Sebaliknya, sebagian besar peran dalam kyōgen tidak diperankan memakai topeng. Kyōgen mengembangkan lebih lanjut unsur-unsur 

tidak diperankan memakai topeng. Kyōgen mengembangkan lebih lanjut unsur-unsur komedikomedi dan seni meniru gerak-gerik (

dan seni meniru gerak-gerik (pantomimpantomim) yang ada pada Sarugaku, termasuk ) yang ada pada Sarugaku, termasuk naskahnaskahdialog dandialog dan penggambaran karakter secara realistik. Sebagian besar cerita yang dipentaskan dalam kyōgen penggambaran karakter secara realistik. Sebagian besar cerita yang dipentaskan dalam kyōgen adalah cerita

adalah cerita satir satir , cerita yang menertawakan kegagalan, dan cerita humor., cerita yang menertawakan kegagalan, dan cerita humor.

Daftar isi

Daftar isi

[[sembunyikansembunyikan]] • • 1 Asal-usul1 Asal-usul •

• 2 Nama peran2 Nama peran •

• 3 Jenis3 Jenis •

• 4 Aliran4 Aliran

○ 4.1 Aliran Ōkura4.1 Aliran Ōkura ○

○ 4.2 Aliran Izumi4.2 Aliran Izumi

• 5 Pranala luar 5 Pranala luar 

[[sunting

sunting] Asal-usul

] Asal-usul

Kyōgen berasal dari "

Kyōgen berasal dari "kyōgen-kigokyōgen-kigo" (" (kyōgen-kigyokyōgen-kigyo) yang merupakan istilah) yang merupakan istilah agama Buddhaagama Buddhauntuk untuk  kata berbunga-bunga atau cerita yang tidak masuk akal. Istilah

kata berbunga-bunga atau cerita yang tidak masuk akal. Istilahkyōgen-kigyokyōgen-kigyosering dipakaisering dipakai kritikus sastra sewaktu mengkritik cerita

kritikus sastra sewaktu mengkritik cerita romanromandandan puisipuisi. Istilah ini kemudian digunakan untuk . Istilah ini kemudian digunakan untuk  salah satu unsur Sarugaku berupa pertunjukan

salah satu unsur Sarugaku berupa pertunjukan monomanemonomane(seni meniru gerak-gerik dan cara(seni meniru gerak-gerik dan cara berbicara secara humor). Sejalan dengan perkembangan Sarugaku, istilah "kyōgen" akhirnya berbicara secara humor). Sejalan dengan perkembangan Sarugaku, istilah "kyōgen" akhirnya dipakai untuk sebagai sebutan untuk teater humor pada pementasan Noh.

(2)

Dalam konteks sehari-hari, istilah "kyōgen" dalam bahasa

Dalam konteks sehari-hari, istilah "kyōgen" dalam bahasa Jepang bisa berarti tindakan untuk Jepang bisa berarti tindakan untuk  menipu orang lain (orang yang pura-pura dirampok disebut

menipu orang lain (orang yang pura-pura dirampok disebutkyōgen-gōtōkyōgen-gōtō), berbohong atau), berbohong atau bercanda, atau tarian yang memancing tawa.

bercanda, atau tarian yang memancing tawa.

[[sunting

sunting] Nama peran

] Nama peran

Sama halnya seperti Noh,

Sama halnya seperti Noh, peran utamaperan utamadalam kyōgen disebut Shite.dalam kyōgen disebut Shite. Peran pembantuPeran pembantu disebutdisebut Ado, berbeda dengan Noh yang menyebutnya sebagai Waki. Jika ada lebih dari 2 peran Ado, Ado, berbeda dengan Noh yang menyebutnya sebagai Waki. Jika ada lebih dari 2 peran Ado, maka peran tersebut disebut Ado 1 dan Ado 2. Selain itu, istilah Ado hanya digunakan untuk  maka peran tersebut disebut Ado 1 dan Ado 2. Selain itu, istilah Ado hanya digunakan untuk  peran pembantu yang paling menonjol, sedangkan selebihnya disebut Tsukgi-ado (sebutan peran pembantu yang paling menonjol, sedangkan selebihnya disebut Tsukgi-ado (sebutan menurut aliran Ōkura) atau Ko-ado (sebutan

menurut aliran Ōkura) atau Ko-ado (sebutan menurut aliran Izumi). Peran pembantu yang naik menurut aliran Izumi). Peran pembantu yang naik  ke panggung secara berkelompok disebut Tachishū, sedangkan pimpinan kelompok peran ke panggung secara berkelompok disebut Tachishū, sedangkan pimpinan kelompok peran pembantu disebut Tachigashira. Sebutan untuk

pembantu disebut Tachigashira. Sebutan untuk peran seperti disebut di atas sebenarnya kurangperan seperti disebut di atas sebenarnya kurang jarang dipakai, kyōgen lebih mengenal sebutan untuk karakter yang tampil dalam cerita,

jarang dipakai, kyōgen lebih mengenal sebutan untuk karakter yang tampil dalam cerita, misalnya: Shu atau Teishu (majikan), Tarōkaja (pesuruh laki-laki), atau Suppa (peran

misalnya: Shu atau Teishu (majikan), Tarōkaja (pesuruh laki-laki), atau Suppa (peran penjahat).penjahat).

[[sunting

sunting] Jenis

] Jenis

Secara garis besar, kyōgen dikelompokkan menjadi 3 jenis: Secara garis besar, kyōgen dikelompokkan menjadi 3 jenis:

• Betsu-kyōgen (Betsu-kyōgen (別狂言別狂言,,kyōgen spesial kyōgen spesial ??))

Penampilan aktor kyōgen yang memainkan karakter Sanbasō dalam pementasan cerita Penampilan aktor kyōgen yang memainkan karakter Sanbasō dalam pementasan cerita noh yang berjudul Okina (

noh yang berjudul Okina (翁翁??).). •

• Hon-kyōgen (Hon-kyōgen (本狂言本狂言,,kyōgen tunggal kyōgen tunggal ??))

Pementasan kyōgen secara tunggal dan bukan merupakan bagian pertunjukan noh, kalau Pementasan kyōgen secara tunggal dan bukan merupakan bagian pertunjukan noh, kalau disebut kyōgen biasanya mengacu pada hon-kyōgen.

disebut kyōgen biasanya mengacu pada hon-kyōgen. •

• Ai-kyōgen (Ai-kyōgen (間狂言間狂言??, kyōgen selingan), kyōgen selingan)

Kyōgen yang dipentaskan sebagai bagian pertunjukan Noh. Kyōgen yang dipentaskan sebagai bagian pertunjukan Noh.

Hon-kyōgen masih dikelompokkan menjadi beberapa jenis yang bisa berbeda-beda menurut Hon-kyōgen masih dikelompokkan menjadi beberapa jenis yang bisa berbeda-beda menurut zaman dan aliran. Di tahun

zaman dan aliran. Di tahun 17921792, Ōkura Torahirobon mengelompokkan hon-kyōgen menjadi:, Ōkura Torahirobon mengelompokkan hon-kyōgen menjadi: •

• Waki-kyōgen (Waki-kyōgen (大名狂言大名狂言??))

Cerita bertemakan kebahagiaan dan keberuntungan. Cerita bertemakan kebahagiaan dan keberuntungan. •

• Daimyō-kyōgen (Daimyō-kyōgen (大名狂言大名狂言??))

Cerita bertemakan tuan dan majikan, daimyō menjadi peran utama dalam cerita. Cerita bertemakan tuan dan majikan, daimyō menjadi peran utama dalam cerita. •

• Shōmyō-kyōgen (Shōmyō-kyōgen (小名狂言小名狂言??, kyōgen pesuruh), kyōgen pesuruh)

Cerita bertemakan tuan dan majikan, pesuruh laki-laki yang disebut

Cerita bertemakan tuan dan majikan, pesuruh laki-laki yang disebuttarōkajatarōkajamenjadimenjadi peran utama.

peran utama. •

• Mukojo-kyōgen (Mukojo-kyōgen (聟聟女女 狂狂言言??, kyōgen wanita dan menantu pria), kyōgen wanita dan menantu pria)

Cerita tentang menantu pria sebagai peran utama yang menumpang di rumah mertua, atau Cerita tentang menantu pria sebagai peran utama yang menumpang di rumah mertua, atau cerita humor kehidupan sehari-hari seperti istri yang mengakali suami atau suami yang cerita humor kehidupan sehari-hari seperti istri yang mengakali suami atau suami yang tidak bisa diandalkan.

tidak bisa diandalkan. •

(3)

Cerita dengan raja kematian Yamarāja atau jin (oni) sebagai peran utama (termasuk cerita jin yang menyamar jadi manusia), dan Yamabushi(pertapa yang berasal dari gunung) sebagai peran utama.

• Shukkezatō-kyōgen (出家座頭狂言?)

Cerita dengan peran utama pendeta, pendeta baru, atauzatō (tunanetra pengembara yang berpakaian mirip pendeta).

• Atsume-kyōgen (集狂言?, kyōgen serbaneka)

Cerita dengan tema yang tidak termasuk ke dalam hon-kyōgen yang lain.

[sunting] Aliran

Sesuai dengan tradisiIemoto, kyōgen sejak zaman Edo terbagi menjadi tiga aliran utama: aliran Ōkura, aliran Izumi, dan aliran Sagi. Sekarang hanya tinggal 2 aliran kyōgen yang tersisa, aliran Ōkura dan aliran Izumi. Di paruh kedua zaman Muromachi hingga awal zaman Edo juga

terdapat aliran Nanto-negi yang berintikan seniman kalangan Jin-nin (Jinin). Pada waktu itu, sebagian besar kuil Shinto memiliki kelompok Sarugaku dan menggaji orang yang disebut Jinin untuk bekerja sebagai seniman sekaligus pesuruh. Menurut catatan sejarah, aliran Nanto-negi tercatat sangat populer di zaman Muromachi, tapi ketenarannya mulai memudar di awalzaman Edo sampai akhirnya terserap ke dalam aliran yang besar. Berbagai aliran kecil yang tidak  terkenal juga ikut punah, dan hanya meninggalkan naskah kyōgen yang sebagian sempat diterbitkan sebagai buku bacaan di zaman Edo.

[sunting] Aliran Ōkura

Aliran Ōkura merupakan satu-satunya aliran penerus tradisi Sarugaku Yamato. Keluarga Ōkura Yaemon Tora Akira yang pentas secara turun temurun di gedung teater Komparu-za mendirikan aliran ini di paruh kedua zaman Muromachi.

Sekarang aliran Ōkura terdiri dari keluarga Yamamoto Tōjirō (berpusat di Tokyo), keluarga Ōkura Yatarō (garis keturunan utama), keluarga Shigeyama Sengorō (berpusat di Kyoto), dan keluarga Shigeyama Chūzaburō (berpusat di Kyoto), kelompok Zenchiku Chūichirō (berpusat di Osaka dan Kobe), dan Zenchiku Jūrō yang berpusat di Tokyo.

[sunting] Aliran Izumi

Aliran Izumi didirikan Yamawaki Izumo no Kami Motonori asal Kyoto di awal zaman Edo. Sekarang aliran Izumi terdiri dari tiga percabangan keluarga: keluarga Nomura Matasaburō (berpusat di Nagoya, disebut juga faksi Nomura), keluarga Nomora Manzō (berpusat di Tokyo, disebut juga faksi Miyake), dan Kyōgenkyōdōsha (berpusat di Nagoya, disebut faksi Nagoya).

[sunting] Pranala luar

• (Inggris)Pengantar Noh dan Kyōgen, berikut klip video • (Jepang)Penjelasan berbagai nama peran dalam Kyōgen Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Ky%C5%8Dgen" Kategori: Budaya Jepang

Peralatan pribadi

• Masuk log / buat akun Ruang nama

(4)

• Halaman • Pembicaraan Varian Tampilan • Baca • Sunting • Versi terdahulu Tindakan • ↑ Cari Top of Form Istimew a:Pencar i Bottom of Form Navigasi • Halaman Utama • Perubahan terbaru • Peristiwa terkini • Halaman sembarang Komunitas • Warung Kopi • Portal komunitas • Bantuan Wikipedia • Tentang Wikipedia • Pancapilar  • Kebijakan • Menyumbang Cetak/ekspor • Buat buku • Unduh sebagai PDF • Versi cetak  Kotak peralatan • Pranala balik  • Perubahan terkait • Halaman istimewa

(5)

• Pranala permanen • Kutip halaman ini

Bahasa lain • Deutsch • Ελληνικά • English • Español • Suomi • Français • Íslenska • 日本語 • 한국어 • Lietuvių  • Nederlands • Polski • Svenska • 中文

• Halaman ini terakhir diubah pada 11:56, 26 Desember 2010.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan

tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan

http://karyasastrajepang.blogspot.com/2011/03/kyogen.htmlskip to main | skip to sidebar

(6)

Senin, 14 Maret 2011

Kyogen

Kyōgen bisa berarti:

1.Teater humor tradisional Jepang yang merupakan perkembangan unsur humor pertunjukan Sarugaku. Kyōgen dan Noh merupakan seni tradisional Jepang yang sama-sama berakar dari Sarugaku. Sejak zaman Meiji, istilah Nōgaku atau Nohgaku (能楽?) sering digunakan untuk menyebut Noh dan Kyōgen.

2.Salah satu jenis pertunjukan Kabuki yang disebut Kabuki-kyōgen atau cukup disebut Kyōgen.

Jika pementasan Noh pada umumnya menggunakan topeng dan bertemakan tragedi. Sebaliknya Kyogen sebagian besar tidak menggunakan topeng. Kyōgen mengembangkan lebih lanjut unsur-unsur komedi dan seni meniru gerak-gerik (pantomim) yang ada pada Sarugaku, termasuk naskah dialog dan penggambaran karakter secara realistik. Sebagian besar cerita yang dipentaskan dalam kyōgen adalah cerita satir, cerita yang menertawakan kegagalan, dan cerita humor. Jas merah (jangan sampai melupakan sejarah)

Kyōgen berasal dari "kyōgen-kigo" (kyōgen-kigyo) yang merupakan istilah agama Buddha untuk kata berbunga-bunga atau cerita yang tidak masuk akal. Istilah kyōgen-kigyo sering dipakai kritikus sastra sewaktu mengkritik cerita roman dan puisi. Istilah ini kemudian digunakan untuk salah satu unsur Sarugaku berupa

pertunjukan monomane (seni meniru gerak-gerik dan cara berbicara secara humor). Sejalan dengan perkembangan Sarugaku, istilah "kyōgen" akhirnya dipakai untuk sebagai sebutan untuk teater humor pada pementasan Noh.

Dalam konteks sehari-hari, istilah "kyōgen" dalam bahasa Jepang bisa berarti

tindakan untuk menipu orang lain (orang yang pura-pura dirampok disebut kyōgen-gōtō), berbohong atau bercanda, atau tarian yang memancing tawa.

Berbagai peran

1. Peran utama dalam kyōgen disebut Shite.

2. Peran pembantu disebut Ado, Jika ada lebih dari 2 peran Ado, maka peran tersebut disebut Ado 1 dan Ado 2. Selain itu, istilah Ado hanya digunakan untuk peran pembantu yang paling menonjol, sedangkan selebihnya disebut Tsukgi-ado (sebutan menurut aliran Ōkura) atau Ko-ado (sebutan menurut aliran Izumi).

3. Peran pembantu yang naik ke panggung secara berkelompok disebut Tachishū, sedangkan pimpinan kelompok peran pembantu disebut Tachigashira.

Sebutan untuk peran seperti disebut di atas sebenarnya jarang dipakai, kyōgen lebih mengenal sebutan untuk karakter yang tampil dalam cerita, misalnya: Shu atau Teishu (majikan), Tarōkaja (pesuruh laki-laki), atau Suppa (peran penjahat). Jenis kyōgen

Secara garis besar, kyōgen dikelompokkan menjadi 3 jenis:

• Betsu-kyōgen (kyōgen spesial) Penampilan aktor kyōgen yang memainkan karakter Sanbasō dalam pementasan cerita noh yang berjudul Okina.

• Hon-kyōgen (kyōgen tunggal) Pementasan kyōgen secara tunggal dan bukan merupakan bagian pertunjukan noh, kalau disebut kyōgen biasanya mengacu pada

(7)

hon-kyōgen.

• Ai-kyōgen (kyōgen selingan) Kyōgen yang dipentaskan sebagai bagian pertunjukan Noh.

Hon-kyōgen masih dikelompokkan menjadi beberapa jenis yang bisa berbeda-beda menurut zaman dan aliran. Di tahun 1792, Ōkura Torahirobon mengelompokkan hon-kyōgen menjadi:

• Waki-kyōgen - Cerita bertemakan kebahagiaan dan keberuntungan.

• Daimyō-kyōgen - Cerita bertemakan tuan dan majikan, daimyō menjadi peran utama dalam cerita.

• Shōmyō-kyōgen (kyōgen pesuruh) - Cerita bertemakan tuan dan majikan, pesuruh laki-laki yang disebut tarōkaja menjadi peran utama.

• Mukojo-kyōgen (kyōgen wanita dan menantu pria) - Cerita tentang menantu pria sebagai peran utama yang menumpang di rumah mertua, atau cerita humor

kehidupan sehari-hari seperti istri yang mengakali suami atau suami yang tidak bisa diandalkan.

• Oniyamabushi-kyōgen (kyōgen jin dan pertapa) - Cerita dengan raja kematian Yamarāja atau jin (oni) sebagai peran utama (termasuk cerita jin yang menyamar jadi manusia), dan Yamabushi (pertapa yang berasal dari gunung) sebagai peran utama.

• Shukkezatō-kyōgen - Cerita dengan peran utama pendeta, pendeta baru, atau zatō (tunanetra pengembara yang berpakaian mirip pendeta).

• Atsume-kyōgen (kyōgen serbaneka) - Cerita dengan tema yang tidak termasuk ke dalam hon-kyōgen yang lain.

Aliran Besar

Aliran Ōkura - Aliran Ōkura merupakan satu-satunya aliran penerus tradisi Sarugaku Yamato. Keluarga Ōkura Yaemon Tora Akira yang pentas secara turun temurun di gedung teater Komparu-za mendirikan aliran ini di paruh kedua zaman Muromachi. Sekarang aliran Ōkura terdiri dari keluarga Yamamoto Tōjirō (berpusat di Tokyo), keluarga Ōkura Yatarō (garis keturunan utama), keluarga Shigeyama Sengorō (berpusat di Kyoto), dan keluarga Shigeyama Chūzaburō (berpusat di Kyoto), kelompok Zenchiku Chūichirō (berpusat di Osaka dan Kobe), dan Zenchiku Jūrō yang berpusat di Tokyo.

Aliran Izumi - Aliran Izumi didirikan Yamawaki Izumo no Kami Motonori asal Kyoto di awal zaman Edo. Sekarang aliran Izumi terdiri dari tiga percabangan keluarga:

keluarga Nomura Matasaburō (berpusat di Nagoya, disebut juga faksi Nomura), keluarga Nomora Manzō (berpusat di Tokyo, disebut juga faksi Miyake), dan Kyōgenkyōdōsha (berpusat di Nagoya, disebut faksi Nagoya).

(Andi Anistahara -Eka Wulandari)

Diposkan oleh Ekbess di 04:00 Label: Seni

(8)

0 komentar:

Poskan Komentar 

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)

Ohisashiburi desu...

Hay...Hay...

Saya memutuskan mem-posting semua tugas-tugasku waktu masih di Sastra Jepang dulu. Menurutku itu ilmu pengetahuan kan berasal dari alam, jadi

semestinya di bagi percuma layaknya alam memberikan kita hasil dari tubuhnya. Terserah kalian mau copy-paste-kumpul kalau ada tugas, mencantumkan atau tidak  dari mana sumbernya, terserah. Toh saya juga dulu kerja semua tugas ini juga

kebanyakan dari internet. Soalnya literatur tentang Jepang berbahasa Indonesia kan masih kurang. Jadi....selamat menikmati

Mengenai Saya

Ekbess

Mahasiswa Sastra Bugis-Makassar yang senang menulis, membuat kerajinan tangan, dan belajar sketsa. Berusaha tuk tidak komsumtif sebab benci pada sampahnya yang menumpuk juga tak suka pada orang-orang yang selalu mengekang kehidupan orang lain.

Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

• ▼ 2011 (7)

○ ▼ Maret (7)

 Damyo

 PENGARUH KONFUSIANISME DI JEPANG  Kyogen

(9)

 Yukio Mihima

 Ososhiki (Upacara Penguburan)

 SHAMISEN ALAT MUSIK TRADISIONAL JEPANG  Masuknya Pengaruh Buddha di Jepang

• ► 2010 (4)

○ ► Desember (4)

 Zaman pra Sejarah Jepang  Kerajaan Yamato

 Kappa

 Lama tak bersua...

Kategori Tulisan

• Kebudayaan (1) • Novel (1) • Profil Sastrawan (1) • Ritual (1) • Sejarah (5) • Seni (2) • Youkoso (1)

Pengikut

Kometrakhir

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en| id&u=http://www2.ntj.jac.go.jp/unesco/noh/en/stage/stage_s.html

(10)

Inner view of the National Noh Theatre

Pandangan batin Nasional Teater Noh Click here to expand Klik di sini un Noh and Kyogen are both

performed upon a very special type of stage known simply as a "Noh stage." Noh dan kyogen keduanya dilakukan terhadap jenis yang sangat khusus tahap hanya dikenal sebagai "panggung Noh."

Looking like a shrine or temple building, it has three sides open around a main stage (hon butai )

that is about 5.5 m on each side. Tampak seperti bangunan candi atau kuil, ia memiliki tiga sisi terbuka di sekitar panggung utama(Sayang butai)yaitu

sekitar 5,5 m di setiap sisi. There are four pillars supporting the roof over the main stage area, each of which has a special name. Ada empat pilar yang mendukung atap di atas area panggung utama, yang masing-masing memiliki nama khusus. Among them, the "sighting pillar" (

(11)

metsuke-bashira) performs an especially

important role in helping the actor to position himself upon the stage. Di antara mereka,

"penampakan pilar" (metsuke-bashira)melakukan peran

penting terutama dalam membantu aktor dengan menempatkan diri di atas

panggung. The wall at the back of  the stage is called the "mirror  board" ( kagami ita), and on it is

painted an ancient pine tree. Dinding di bagian belakang

panggung disebut "cermin papan"

(Kagami ita),dan di atasnya

dilukis sebuah pohon pinus kuno. There is upstage ( ato-za ) area,

where the musicians and stage assistant(s) sit, and the eaves from the roof overhangs the main stage on three sides. Ada dgn kasar (ato-za)daerah, di mana

para musisi dan asisten tahap (s) duduk, dan atap dari atap

overhang panggung utama pada tiga sisi. The "chorus seat" (

jiutai-za) is where the members

of the chorus sit in two rows facing the main stage. The "paduan suara kursi"(jiutai-za)

adalah dimana para anggota paduan suara yang duduk dalam dua baris menghadap panggung utama. The "bridgeway" ( hashi-gakari) serves as the place of 

entrance and exit for the characters, and also plays an important role as part of the performing space, and at the far  end of it, the multicolored curtain ( agemaku) is raised and

lowered. The "bridgeway"

(Hashi-gakari)berfungsi sebagai

tempat masuk dan keluar untuk  karakter, dan juga memainkan peranan penting sebagai bagian dari ruang pertunjukan, dan di

(12)

ujung itu, tirai warna-warni

(agemaku)yang dibangkitkan dan

menurunkan. The green room, or, literally, the "mirror room" (

kagami no ma) is an important

space, because it is there that the performers, when fully dressed, gaze into a mirror to concentrate on their role―there they don their mask and wait to enter the stage. Ruang hijau, atau, secara harfiah, "ruang cermin"(Kagami no ma)adalah ruang penting,

karena itu ada bahwa para pemain, ketika berpakaian

lengkap, menatap cermin untuk  berkonsentrasi pada peran

mereka-mereka tidak ada topeng mereka dan menunggu untuk  masuk panggung. In front of the "bridgeway," three small pines trees are planted, evenly spaced. Di depan "bridgeway," tiga kecil pinus pohon ditanam, merata spasi. In order for the stage floor  to be as appropriate as possible for the "sliding foot" walk of the Noh actors or for the dramatic dancing, it is constructed with thick boards of hinoki cypress

that are polished to a smooth, glassy finish. Agar lantai

panggung harus sesuai mungkin untuk "geser kaki" berjalan dari aktor Noh atau untuk menari dramatis, karena dibangun dengan papan tebal cemara

hinoki yang dipoles ke kaca,

halus. There is no stage

equipment whatsoever, and there is no curtain separating the stage from the audience. Tidak ada peralatan tahap apapun, dan tidak  ada tirai yang memisahkan

(13)

Copyright 2004, by the Japan Arts Council. Copyright 2004, oleh Dewan Kesenian Jepan All rights reserved. All rights reserved.

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&langpair=en|

id&u=http://www.highbeam.com/doc/1G1-153361499.html&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhh_wmTzr7V4eiz8H1AyCyPrktv2Tw Bentuk kyogen Noh dan teater Jepang disempurnakan selama periode Muromachi (1336-1568) dan (digabungkan sebagai Nogaku)mereka terdiri dariteater bangsawan tradisional Jepang masih dilakukan hari ini. Although they evolved alongside each other, sharing various theatrical elements and being performed together on the same stage, they are separate forms. Meskipun mereka berevolusi bersama satu sama lain, unsur berbagi berbagai teater dan sedang dilakukan bersama-sama di panggung yang sama, mereka adalah bentuk terpisah. Their actors' training programs, which usually pass from generation to generation within a family, are different, and actors of one form do not perform the other. pelatihan aktor mereka 'program, yang biasanya lulus dari generasi ke generasi dalam keluarga, berbeda, dan pelaku dari satu bentuk tidak  melakukan yang lain. Noh (literally, "skill or ability"), the lyrical traditional Japanese theater, draws its material from many sources and its form from ritual and folk dances. Noh (harfiah, "keterampilan atau kemampuan"), teater Jepang liris tradisional, menarik materi dari berbagai sumber dan bentuk dari ritual dan tarian rakyat. It is essentially a poetic, quasi-religious musical drama, usually without dramatic conflict. Ini pada dasarnya adalah sebuah drama, puitis musikal kuasi-religius, biasanya tanpa konflik dramatis. Generally, only the main actor wears a mask. Umumnya, hanya aktor utama memakai masker. The performance is accompanied by a chorus (ji utai) of six to ten actors and a musical band (hayashi) comprised of a flautist and two or three drummers. Kinerja disertai dengan paduan suara (ji utai) dari enam sampai sepuluh aktor dan sebuah band musik (Hayashi) terdiri dari pemain suling dan dua atau tiga drumer. The chorus plays a narrative role or may even chant the lines of the main character. paduan suara

memainkan peran narasi atau bahkan mungkin mengucapkan baris karakter utama. The rhythm of the drums and the tension suggested by the flute add an important element of the performance. Irama drum dan ketegangan yang disarankan oleh seruling menambahkan elemen penting

kinerja. The play is acted with very few props, on a raised, resonant, and empty stage. Sandiwara ini bertindak dengan props sangat sedikit, di panggung yang mengangkat, resonansi, dan kosong. The second form, Kyogen (literally, "ecstatic speech") comprises relatively short comic plays that serve as interludes between the serious Noh plays. Bentuk kedua, kyogen (harfiah, "pidato senang") terdiri dari memainkan komik yang relatif pendek yang berfungsi sebagai selingan antara Noh serius bermain. The plots are based in the present, and the texts express a stylized form of the vernacular of the Muromachi period. Plot didasarkan pada saat ini, dan teks-teks mengekspresikan bentuk vernakular bergaya dari periode Muromachi. Kyogen can evoke modes of farce, satire, tragicomedy, or various other genres that deal with the daily life of the lower and middle classes. Kyogen dapat membangkitkan mode lelucon, sindiran, tragikomedi, atau

berbagai genre lainnya yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kelas bawah dan menengah. Relationships between an ordinary man and his wife or lover, or between a master  and his servant, are the most common themes in Kyogen, contrasting with the more serious appearances of ghosts, gods, and demons in Noh. Hubungan antara orang biasa dan istrinya atau kekasih, atau antara master dan hamba-Nya, adalah tema-tema yang paling umum di kyogen, kontras dengan penampilan yang lebih serius dari hantu, dewa, dan setan dalam Noh. An

exploration of the full dramatic meaning and structure of Nogaku as the combination of Noh and Kyogen reveals these as two dichotomous forms that complement each other, with the various

(14)

dramatic elements of each molded in a harmony of contrasts that create balance and dynamism. Eksplorasi arti dramatis penuh dan struktur Nogaku sebagai kombinasi dari Noh dan kyogen mengungkapkan ini sebagai dua bentuk dikotomis yang saling melengkapi, dengan berbagai elemen dramatis dari masing-masing dituangkan dalam suatu harmoni kontras yang menciptakan keseimbangan dan dinamisme.

This harmony of contrasts, which I consider as one of the most important concepts of the

traditional Japanese theater, originated in Chinese philosophy, which teaches that change is the main factor in cosmic existence. Ini harmoni kontras, yang saya anggap sebagai salah satu konsep yang paling penting dari teater tradisional Jepang, berasal dari filsafat Cina, yang mengajarkan bahwa perubahan adalah faktor utama dalam keberadaan kosmik. This notion of  change taking place between two poles led to the concept that seeks to fuse contradictory

elements into a unified harmony. Gagasan perubahan yang terjadi antara dua kutub mengarah ke konsep yang berusaha untuk elemen sekering bertentangan menjadi bersatu harmoni. The

Chinese philosophers termed the two poles of each contrast yin and yang (in and yo in Japanese). Para filsuf Cina disebut dua kutub kontras masing-masing yin dan yang (dalam dan yo dalam bahasa Jepang). While yang represents activity, positivity, masculinity, heat, brightness, and so forth, yin represents the opposite--passivity, negativity, femininity, coldness, darkness, and so forth. Sementara Yang mewakili aktivitas, positif, maskulinitas, panas, kecerahan, dan

sebagainya, yin merupakan kebalikan - pasif, negatif, femininitas, rasa dingin, kegelapan, dan sebagainya. Through the interaction of these opposing principles, all phenomena of the universe are produced. Melalui interaksi prinsip-prinsip yang berlawanan, semua fenomena alam semesta yang dihasilkan. Each contrast possesses two contradictory states: static and dynamic. Setiap kontras memiliki dua negara bagian bertentangan: statis dan dinamis. At all times there is a harmonic balance between the two poles of each contrast, which exist side by side, creating a dynamic interaction that replaces and regenerates the other; and each of them contains a minor  manifestation of the other. Pada setiap saat ada keseimbangan harmonis antara dua kutub masing-masing kontras, yang ada berdampingan, menciptakan interaksi dinamis yang

menggantikan dan melahirkan yang lain, dan masing-masing berisi manifestasi kecil dari yang lain.

The Chinese concept of harmony of contrasts, adopted by the Japanese in the seventh century, was already well established by the eighth century. Konsep Cina harmoni kontras, yang diadopsi oleh Jepang pada abad ketujuh, sudah mapan pada abad ke delapan. (1) The way of life derived from this concept is still evident today in many areas in Japan. (1) Cara hidup berasal dari konsep ini masih hari ini terlihat di berbagai wilayah di Jepang. As was the case in other areas of life, Japanese classical theater too was greatly influenced by this concept, employing not only one pair of Chinese philosophical contrasts but two. Seperti halnya di daerah lain kehidupan, teater  klasik Jepang juga sangat dipengaruhi oleh konsep ini, mempekerjakan tidak hanya satu pasang Cina filosofis kontras tapi dua. In addition to the contrast of in/yo that relates in particular to formative contrasts (dark/light, quiescence/movement, feminine/masculine, weak/strong, bent/straight, and so forth), there is the contrast of kyo (fiction, false, abstract, and empty) and jitsu (reality, real, concrete, and full). Selain kontras dari dalam / yo yang berhubungan

khususnya untuk formatif kontras (gelap / terang, ketenangan / gerakan, feminin / maskulin, lemah / kuat, bengkok / lurus, dan sebagainya), ada kontras kyo (fiksi , palsu, abstrak, dan kosong) dan Jitsu (realitas, penuh nyata, beton, dan). The kyo and jitsu relate to the essence of  the material, and form the basis of the theatrical medium--the coexistence and dynamic

(15)

esensi dari materi, dan bentuk dasar dari medium teater - koeksistensi dan interaksi dinamis dari dua dunia alternatif, fiksi dan kenyataan.

The consolidators of Noh and Kyogen discuss the importance of this aspect in their art. The konsolidator dari Noh dan kyogen membahas pentingnya aspek dalam seni mereka. In Fushi kaden (The Transmission of the Flower of Forms), the first treatise by Zeami Motokiyo (c.1363-1443), this consolidator and most important master in Noh history, emphasizes the importance of  the harmony between in and yo, and provides a concrete example in the contrasts that must be created between the mood of acting and the time of performance or the weather; for example, against the in atmosphere of nighttime or gloomy weather, the actor must play brightly, creating a yo feeling, whereas against the yo atmosphere of daytime or warm weather, the actor must play softly, creating an in feeling. Dalam kaden Fushi (The Transmisi dari Bunga Formulir), risalah pertama dengan Zeami Motokiyo (c.1363-1443), ini konsolidator dan master yang paling penting dalam sejarah Noh, menekankan pentingnya harmoni antara dalam dan yo, dan menyediakan contoh konkret dalam kontras yang harus diciptakan antara mood akting dan waktu kinerja atau cuaca, misalnya, melawan dalam suasana malam hari atau cuaca mendung, aktor harus

memainkan terang, menciptakan yo perasaan, sedangkan terhadap yo suasana cuaca siang hari atau hangat, aktor harus bermain lembut, membuat dalam perasaan. (2) In Shugyoku tokka (To Pick up Gems and Obtain the Flower), he reiterates and strengthens this idea, (3) and in another  chapter of Fushi kaden, he generalizes this concept for all aspects of Noh: "Sometimes when the artist is unable to perform a masterpiece, it can be assumed that the reason for it is the

disharmony between in and yo." (2) Dalam Shugyoku tokka (Untuk Angkat Gems dan Dapatkan Bunga), dia menegaskan kembali dan memperkuat ide ini, (3) dan di lain bab dari kaden Fushi, ia generalizes konsep ini untuk semua aspek Noh: "Kadang-kadang saat artis tidak dapat

melakukan karya, maka dapat diasumsikan bahwa alasan untuk itu adalah ketidakharmonisan antara dan yo. " (4) The Kyogen master Okura Toraakira (1597-1662) includes in his book  Waranbe-gusa ([To My] Young Followers), the first and maybe most important theoretical book  in the history of the Kyogen, an entire chapter addressing the Chinese philosophy of harmony of  contrasts, (5) throughout the book he discusses the possibilities and importance of application of  this concept to the various theatrical elements in Kyogen, such as contrasting locations in the theatrical space (6) and contrasting forces in the stamping of feet. (4) master kyogen Okura Toraakira (1597-1662) termasuk dalam bukunya gusA buku Waranbe-([To My] Young

Followers), yang pertama dan mungkin buku teoritis yang paling penting dalam sejarah kyogen, satu bab mengatasi Cina filsafat harmoni kontras, (5) seluruh buku yang membahas

kemungkinan dan pentingnya penerapan konsep ini ke berbagai elemen teater kyogen, seperti kontras lokasi di ruang teater (6) dan kontras pasukan di cap kaki . (7) In addition to the

dichotomies within Kyogen itself, Okura Toraakira presents it as the

dichotomous/complementary pole of Noh: (7) Selain dikotomi dalam kyogen sendiri, Okura Toraakira menyajikan sebagai tiang / dikotomus pelengkap dari Noh:

Noh turns fiction (kyo) into reality (jitsu). Noh fiksi (kyo) menjadi kenyataan (Jitsu).

Kyogen turns reality into fiction. Kyogen berubah realitas menjadi fiksi. Noh is in front. Noh di depan. Kyogen is backward. Kyogen adalah mundur. (8) (8)

I. Okina: A Ritualistic Prelude I. Okina: A Prelude ritualistik 

The concept of harmony of in and yo and of kyo and jitsu between Noh and Kyogen and within each of them is represented in the unique piece called Okina (The Old Man) or Shiki sanban, the most ancient work in the Nogaku repertoire. Konsep harmoni dan yo dan kyo dan Jitsu antara

(16)

Noh dan kyogen dan dalam masing-masing diwakili di bagian unik yang disebut Okina (Pak  Tua) atau sanban Shiki, pekerjaan yang paling kuno di repertoar Nogaku. Differing completely from any other Noh or Kyogen play in its lack of narrative, identifiable characters, and setting, Okina also features Nogaku's most essential dichotomies--the human/superhuman,

blessing/threat and fiction/reality. Berbeda sekali dari Noh lain atau bermain kyogen dalam kurangnya narasi, karakter diidentifikasi, dan pengaturan, Okina juga dilengkapi dikotomi Nogaku paling penting - dalam / manusia super, berkat / ancaman dan fiksi / realitas. Called "Noh which is not Noh;' the piece originated in an ancient ritual called Shiki sanban and retains religious and ritualistic characteristics intended to win the help of the gods in obtaining peace and prosperity. All its performers must undergo rituals of purification before the performance, and the role of Okina is usually performed by a Noh iemoto (family head), the leader of one of  the five existing Noh schools of performers of main characters. In the old days this piece opened each section of Nogaku performance; it is still performed today in celebration of the New Year  or at the inauguration of a new Noh stage. (9) Disebut "Noh yang tidak Noh, 'benda berasal dari sebuah ritual kuno yang disebut Shiki sanban dan tetap mempertahankan ciri agama dan ritual dimaksudkan untuk memenangkan membantu para dewa dalam memperoleh perdamaian dan kemakmuran Semua pemain yang harus menjalani ritual pemurnian sebelum kinerja. , dan peran Okina biasanya dilakukan oleh iemoto Noh (kepala keluarga), pemimpin salah satu dari lima sekolah Noh ada pelaku karakter utama Di masa lalu bagian ini dibuka setiap bagian dari kinerja Nogaku;. itu masih dilakukan hari ini di perayaan Tahun Baru atau pada peresmian tahap Noh baru. (9)

Okina is divided into two acts, with each act subdivided into two sections. Okina dibagi menjadi dua tindakan, dengan masing-masing bertindak dibagi menjadi dua bagian. The first act is

performed by two Noh actors and the second act by a single Kyogen actor. Tindakan pertama adalah dilakukan oleh dua aktor Noh dan tindakan kedua dengan seorang aktor kyogen tunggal. An unmasked actor performs the first section of each act: a Noh actor performs the dance of a character called Senzai in the first act, and a Kyogen actor performs a dance called momi no dan in the second act. Membuka tabir aktor melakukan bagian pertama dari tindakan masing-masing: aktor Noh melakukan tarian karakter yang disebut Senzai dalam tindakan pertama, dan seorang aktor kyogen melakukan tarian yang disebut tidak Momi dan dalam tindakan kedua. These are the "human" sections. Ini adalah "manusia" bagian. In the second section of each act an actor  affixes a mask to his face on the stage, dances, takes off the mask, and leaves the stage: the Noh actor performs the ceremonial chant and dance of Okina and the Kyogen actor performs the suzu no dan dance of Sanbaso. Dalam bagian kedua dari setiap tindakan aktor afiks masker ke

wajahnya di panggung, tarian, melepas topeng, dan daun panggung: aktor Noh melakukan upacara nyanyian dan tarian Okina dan aktor kyogen melakukan Suzu no dan tarian Sanbaso. These represent the metamorphosis of a human being into a god on the stage in front of the audience. Ini merupakan metamorfosis dari manusia menjadi dewa di atas panggung di depan penonton.

The masks and their use in Okina are based upon the dichotomies of face and mask and between contradictory masks. Topeng dan penggunaannya dalam Okina didasarkan pada dikotomi wajah dan topeng dan antara topeng bertentangan. The two masks used are hakushikijo (white-style old man), the mask of Okina (fig. 1), worn by a Noh actor; and kokushikijo (black-style old man), the mask of Sanbaso (fig. 2), worn by a Kyogen actor. Dua masker digunakan adalah hakushikijo (orang tua putih-style), topeng Okina (gbr. 1), dikenakan oleh seorang aktor Noh, dan

kokushikijo (orang tua hitam-style), topeng Sanbaso (gbr. 2), dikenakan oleh aktor kyogen. Both are almost identically carved and more stylized than any other Noh mask, with the facial

(17)

wrinkles symmetrically arranged around the entire face. Keduanya hampir identik diukir dan lebih bergaya daripada topeng Noh lain, dengan wajah keriput simetris mengelilingi seluruh wajah. The lower part of the mask (the jaw and lower lip) is connected to the upper part by strings; all other Noh masks are made of one piece. Bagian bawah topeng (rahang dan bibir  bawah) dihubungkan ke bagian atas dengan string; semua topeng Noh lainnya terbuat dari satu bagian. Differences between the two masks of Sanbaso and Okina include contrasts in color--black and white, which are the symbols of in/yo; contrasts in the eyebrows--Okina's are like two small balls of soft artificial material, and Sanbaso's are made of fiber and resemble real hair; and contrasts in mustaches--Okina's mustache is painted on, while Sanbaso's is made of fiber.

Perbedaan antara dua topeng Sanbaso dan Okina termasuk kontras dalam warna - hitam dan putih, yang merupakan simbol dari dalam / yo, kontras di alis - Okina adalah seperti dua bola kecil dari bahan buatan yang lembut, dan Sanbaso adalah terbuat dari serat dan mirip dengan rambut asli, dan kontras di kumis - kumis Okina adalah dilukis pada, sementara Sanbaso adalah terbuat dari serat. These differences are an expression of kyo/jitsu, making Okina's mask 

understood as that of a god while Sanbaso's looks more human. Perbedaan-perbedaan ini merupakan ekspresi kyo / Jitsu, membuat topeng Okina's dipahami sebagai bahwa dewa sementara Sanbaso's terlihat lebih manusiawi.

[FIGURES 1-2 OMITTED] [ANGKA 1-2 dihilangkan]

0kura Toraakira notes in Waranbe-gusa the symbolic value of the colors of masks--gods of  Heaven are white and gods of Earth are black, also representing in and yo, and noon and night. 0kura Toraakira catatan di Waranbe-gusA nilai simbolis dari warna topeng - dewa Surga adalah putih dan dewa bumi adalah hitam, juga mewakili dan yo, dan siang dan malam. (10) The

Kyogen actor Nomura Manzo VI, also a carver of Noh masks, follows this interpretation, (11) whereas Gunji Masakatsu sees the colors as representing the dichotomy of a god and a human being; the white mask of Okina has sacred connotations while the black mask of Sanbaso has earthly ones. (10) Aktor kyogen Nomura Manzo VI, juga pengukir topeng Noh, berikut ini interpretasi, (11) sedangkan Gunji Masakatsu melihat warna sebagai mewakili dikotomi dewa dan manusia; topeng putih Okina memiliki konotasi sakral sedangkan topeng hitam Sanbaso telah yang duniawi. Gunji questions whether one of the masks alone would be able to create this meaning without the other. pertanyaan Gunji apakah salah satu masker saja akan mampu

menciptakan makna ini tanpa yang lain. (12) Thus we can either perceive Okina as representing both the metamorphosis of a human being into a heavenly god or of a human being into an earthly god--a demon; or if the two masks in themselves represent the dichotomies of the god and the human being, we can grasp the entire first act (Senzai and Okina) as the part of the god, and the second act (the two dances of Sanbaso: momi no dan without mask and suzu no dan with the black mask) as the human part. (12) Dengan demikian kita bisa melihat Okina sebagai

mewakili baik metamorfosis manusia ke dalam surga dewa atau manusia menjadi dewa duniawi - setan, atau jika kedua masker dalam diri mereka mewakili dikotomi para dewa dan manusia, kita dapat memahami seluruh tindakan pertama (Senzai dan Okina) sebagai bagian dari dewa, dan tindakan kedua (dua tarian Sanbaso: Momi dan tidak tanpa topeng dan Suzu tidak ada dan dengan topeng hitam) sebagai manusia bagian. The masks and the faces of Okina thus manifest god and human, Heaven and Earth, black and white, in and yo and kyo andjitsu, reflecting the dichotomies of Noh and Kyogen as well as the dichotomies within each of them. Topeng dan wajah Okina sehingga nyata dewa dan manusia, Surga dan Bumi, hitam dan putih, dan yo dan andjitsu kyo, mencerminkan dikotomi dari Noh dan kyogen serta dikotomi dalam masing-masing dari mereka.

(18)

The most important literary edition of the Noh plays in the second half of the twentieth century, edited by Yokomichi Mario and Omote Akira, (13) classifies them mainly according to three criteria: 1) the level of reality of the play and its structure; 2) the identity of the main character; and 3) the location of the play in a five-play cycle of a Noh performance. Edisi sastra paling penting dari Noh bermain di paruh kedua abad kedua puluh, disunting oleh Yokomichi Mario dan Omote Akira, (13) mengklasifikasikan mereka terutama berdasarkan tiga kriteria: 1) tingkat realitas bermain dan strukturnya; 2) identitas dari karakter utama, dan 3) lokasi bermain dalam siklus lima-play dari pertunjukan Noh. The first and essential classification divides the plays into Phantasmal Noh (mugen no) or Actual Noh (genzai no), expressing their level of reality.

Klasifikasi pertama dan penting membagi drama ke dalam khayal Noh (Mugen tidak ada) atau Noh Aktual (genzai tidak), menyatakan tingkat realitas. (14) In Phantasmal Noh, the flow of time is usually reversed, the main part takes place in the form of a dream, and the main character is a ghost or superhuman being. (14) Dalam khayal Noh, aliran waktu biasanya terbalik, bagian utama terjadi dalam bentuk mimpi, dan karakter utama adalah hantu atau manusia super sedang. In Actual Noh, the action moves in a natural sequence and the main character is generally a real person. Dalam Noh aktual, tindakan bergerak secara berurutan alam dan karakter utama

umumnya orang sungguhan. (15) (15)

Phantasmal Noh is usually divided into a two-act form (fukushiki), recalling the two-act division and subdivision of Okina. Khayal Noh biasanya dibagi menjadi bentuk dua-tindakan (fukushiki), mengingat divisi dua bertindak dan pembagian Okina. In the first act, mae-ba, the waki ("side"--deuteragonist, secondary), usually a traveler, visits a famous place where he encounters a local inhabitant, the shire ("doer"--protagonist), and asks to be told the story associated with the place. Pada tindakan pertama, mae-ba, yang Waki ("sisi" - deuteragonist, sekunder), biasanya seorang musafir, mengunjungi tempat terkenal di mana ia bertemu dengan penduduk lokal, shire

("pelaku" - protagonis), dan meminta akan menceritakan kisah yang berhubungan dengan tempat itu. At the end of the tale the storyteller declares that he is in fact the incarnation of the hero of  the tale, upon which he disappears. Pada akhir cerita pendongeng menyatakan bahwa ia

sebenarnya inkarnasi dari kisah pahlawan, atas mana ia menghilang. His disappearance is called naka iri, exiting the stage. hilangnya-Nya disebut Naka Iri, keluar panggung. After a short

interlude, ai kyogen, in which another local inhabitant performed by a Kyogen actor retells the story of the play in more colloquial language, the second act (nochi-ba) begins. Setelah selingan singkat, kyogen ai, di mana penduduk setempat lain yang dilakukan oleh seorang aktor kyogen menceritakan kembali kisah bermain dalam bahasa yang lebih sehari-hari, tindakan kedua

(Nochi-ba) dimulai. The main actor, who played the shite in the first act, now returns as the hero in his past form, and recounts his experience through singing and dancing. Aktor utama, yang bermain shite dalam tindakan pertama, sekarang kembali sebagai pahlawan dalam bentuk masa lalu, dan menceritakan pengalamannya melalui menyanyi dan menari. At dawn, he disappears. Di waktu fajar, ia menghilang. The appearance of the shite in the second act is presented as a dream of the waki, and this is the origin of the category's name. Penampilan shite di babak kedua disajikan sebagai mimpi Waki, dan ini adalah asal nama kategori itu. The shite character can be either male or female, young or old, of any social level, and human or superhuman. Karakter  shite dapat berupa laki-laki atau perempuan, muda atau tua, dari setiap tingkat sosial, dan manusia atau manusia super. The meaning of shite, "doer," set against waki, "side" opposes action to inaction, and foreground to background. Yang dimaksud dengan shite, "pelaku," set melawan Waki, "sisi" menentang tindakan untuk tidak bertindak, dan latar depan dengan latar  belakang. In most of the second half of Phantasmal Noh plays, the waki is completely passive, but remains onstage beside the very active shite, thereby embodying in/yo in terms of 

(19)

pasif, tetapi tetap di atas panggung di samping shite sangat aktif, sehingga mewujudkan di / yo dalam hal tidak aktif / aktif.

Phantasmal Noh is not always divided into two acts, and a few plays are structured similarly to a single-act Actual Noh. Khayal Noh tidak selalu dibagi menjadi dua tindakan, dan memainkan sedikit yang terstruktur sama dengan tindakan-tunggal Noh Aktual. For example, the Phantasmal Noh play Kiyotsune comprises only one act, and the shite's single appearance as the ghost

functions as its second act. Misalnya, bermain khayal Noh Kiyotsune hanya terdiri dari satu tindakan, dan penampilan tunggal shite sebagai fungsi hantu sebagai tindakan kedua. In the play, the wife of the defeated warrior Taira no Kiyotsune, who had drowned himself by jumping from his ship, yearns to encounter him, and indeed his ghost appears beside her bed. Dalam drama itu, istri prajurit mengalahkan Taira no Kiyotsune, yang telah tenggelam dirinya dengan melompat dari kapal itu, ingin sekali bertemu dia, dan memang hantu itu muncul di samping tempat tidurnya. She is aware that this might be only a dream but is grateful for the possibility of  "seeing" him again. Dia menyadari bahwa ini mungkin hanya mimpi tetapi bersyukur untuk  kemungkinan "melihat" lagi. He had sent a lock of his hair to her as a memento before his death, but the wife has refused to accept either this memento or his "wilful death" as she calls it. Dia telah mengirimkan segenggam rambut anak itu untuk dia sebagai kenang-kenangan sebelum kematiannya, namun istri menolak untuk menerima kenang-kenangan ini baik atau "kematian disengaja" sebagai dia menyebutnya. Kiyotsune's ghost complains about her rejection and describes his feelings, telling his wife in dance and song about the final moments of his life, which constitutes the end of the play. hantu Kiyotsune's mengeluh tentang penolakan dan menjelaskan perasaannya, mengatakan istrinya dalam tari dan lagu tentang saat-saat akhir  hidupnya, yang merupakan akhir dari bermain. (16) In another example of a single-act Phantasmal Noh--Matsukaze (Pining Wind)--the two main characters are the ghosts of two young fisherwomen, Matsukaze and Murasame, and the whole play is structured like the second act of the two-act pattern. (16) Dalam contoh lain dari tindakan-tunggal khayal Noh - Matsukaze (merindukan Angin) - dua karakter utama adalah hantu dari dua nelayan muda, Matsukaze dan Murasame, dan bermain seluruh terstruktur seperti tindakan kedua dua-pola bertindak. They meet a traveling priest, and cry when they hear him reciting a poem written by Yukihira, a poet who had loved them. Mereka bertemu seorang imam bepergian, dan menangis ketika mereka mendengar dia membaca sebuah puisi yang ditulis oleh Yukihira, seorang penyair yang mencintai mereka. They reveal their identity and proceed to tell the priest about their former  happiness with their beloved Yukihira. Mereka mengungkapkan identitas mereka dan lanjutkan untuk memberitahu imam tentang mantan kebahagiaan mereka dengan mereka Yukihira tercinta. Yet here too there is a suggestion of reincarnation: Matsukaze wears the hat and robe of the poet and dances; she is a ghost manifesting another dead character onstage. Namun di sini juga ada saran dari reinkarnasi: Matsukaze memakai topi dan jubah dari penyair dan tarian, dia adalah hantu mewujudkan karakter lain mati di atas panggung. (17) (17)

The category of Phantasmal Noh consists of several harmonic contrasts. Kategori khayal Noh terdiri dari beberapa harmonik kontras. Life and death are often both presented on the stage, with the shire as a dead character and the waki, as always, as a live one. Hidup dan mati sering

keduanya disajikan di atas panggung, dengan shire sebagai karakter mati dan Waki, seperti biasa, sebagai satu hidup. Human and superhuman are contrasted when the shite is a god or a demon and the waki is a human being. Manusia dan super dikontraskan saat shite adalah dewa atau iblis dan Waki adalah manusia. Contrast between reality and fiction is created between the part of the play that occurs in reality and that which occurs in a dream or the imagination of the waki.

(20)

realitas dan yang terjadi dalam mimpi atau imajinasi Waki tersebut. The appearance of the main character can create a dichotomy of real and unreal: the main character in the first act maybe a real one, jitsu, and unreal, kyo, in the second act, as a manifestation of a dream or imagination. Tampilan karakter utama dapat menciptakan dikotomi nyata dan tak nyata: tokoh utama dalam tindakan pertama mungkin Jitsu nyata, satu,, dan nyata, kyo, di babak kedua, sebagai perwujudan dari mimpi atau imajinasi. Ochiai Kiyohiko argues, however, that the dead character in the

second act can be perceived as having been disguised as alive in the first act. Ochiai Kiyohiko berpendapat, bagaimanapun, bahwa karakter mati dalam tindakan kedua dapat dianggap sebagai telah menyamar sebagai hidup dalam tindakan pertama. (18) According to this perception the main character in the first act is the unreal, while the character in the second act is the real one. (18) Menurut persepsi tokoh utama dalam tindakan pertama adalah nyata, sedangkan karakter di babak kedua adalah yang nyata.

In one quite rare example a complex network of these sorts of dichotomies is featured

simultaneously. Dalam satu contoh yang cukup langka jaringan kompleks dari jenis dikotomi adalah fitur secara bersamaan. In the play Futari Shizuka (The Two Shizukas), a village woman is sent by a priest to pick herbs for a ceremony at the shrine. Dalam bermain Futari Shizuka (Dua Shizukas), seorang wanita desa dikirim oleh seorang imam untuk memilih herbal untuk sebuah upacara di kuil. She meets another woman who asks the villager's help to bring rest to her soul. Dia bertemu seorang wanita yang meminta bantuan warga desa untuk membawa istirahat untuk  jiwanya. She is to do so by getting the priest to make copies of sutras, but without telling him what the stranger has said, otherwise she, the stranger, will take possession of the villager's soul. Dia melakukannya dengan mendapatkan imam untuk membuat salinan dari sutra, tetapi tanpa memberitahu kepadanya apa yang orang asing itu mengatakan, kalau tidak, dia, orang asing itu, akan memiliki jiwa warga desa. The village woman nonetheless tells the priest and becomes possessed by the spirit of Shizuka Gozen, sweetheart of the famous warrior Yoshitsune. Wanita desa tetap memberitahu imam dan menjadi dimiliki oleh semangat Shizuka Gozen, Sayang dari Yoshitsune prajurit terkenal. The priest realizes this and asks the spirit to perform the dance once danced by this historical character, and the possessed village woman dances. Imam menyadari hal ini dan meminta semangat untuk melakukan tarian sekali ditarikan oleh karakter sejarah, dan tarian desa yang dimiliki perempuan. At this moment, the ghost of Shizuka Gozen herself enters the stage and dances along with the woman who is possessed by her spirit. Pada saat ini, hantu Shizuka Gozen dirinya memasuki panggung dan tarian bersama dengan wanita yang dimiliki oleh jiwanya. (19) The spirit of the "real" dead and its mode of incarnation thus appear 

simultaneously on the stage. (19) Semangat mode "nyata" mati dan yang inkarnasi sehingga muncul bersamaan di panggung.

Actual Noh deals with the world of those who inhabit reality. Noh aktual berkaitan dengan dunia orang-orang yang mendiami realitas. These plays are generally not divided into two acts, and the main theme presents a mundane situation, such as a confrontation between characters, as in the play Ataka, in which Benkei confronts the officers at the barrier in Ataka while trying to pass and save the life of his master, Minamoto no Yoshitsune; or Jinen Koji, in which Jinen Koji, a priest, confronts slave traders in order to free a girl who has sold herself into slavery. Ini

memainkan umumnya tidak dibagi menjadi dua tindakan, dan tema utama menyajikan situasi biasa, seperti konfrontasi antara karakter, seperti dalam memainkan Ataka, di mana Benkei menghadapi petugas di penghalang di Ataka ketika mencoba untuk lulus dan menyimpan kehidupan tuannya, Minamoto no Yoshitsune, atau Jinen Koji, di mana Jinen Koji, imam, menghadapi pedagang budak untuk membebaskan seorang gadis yang telah menjual dirinya ke dalam perbudakan. These plays culminate in fulfillment of the main character's mission.

(21)

Memainkan ini berujung pada pemenuhan misi karakter utama. Other plays of this category present a character who goes insane, such as Sumidagawa (The Sumida River), in which a mother loses her stolen child (fig. 3). memainkan lain dari kategori ini menghadirkan karakter  yang pergi gila, seperti Sumidagawa (Sungai Sumida), di mana seorang ibu kehilangan anak nya dicuri (gbr. 3). The contrasts between Actual Noh and Phantasmal Noh can occur on several levels: the whole play occurs in reality, against partial reality as in a dream; all the characters are live people, as opposed to some supernatural characters (dead spirits, gods, and demonic

creatures); time advances consistently, rather than moving from present to past and back; or the play has no division as opposed to having two acts. Kontras antara Noh Aktual dan khayal Noh dapat terjadi pada beberapa tingkatan: bermain secara keseluruhan terjadi dalam realitas,

terhadap realitas parsial seperti dalam mimpi, semua karakter adalah orang-orang hidup, karena bertentangan dengan beberapa karakter gaib (roh orang mati, dewa, dan setan makhluk); uang muka waktu secara konsisten, daripada bergerak dari sekarang ke masa lalu dan kembali, atau memutar tidak memiliki divisi sebagai lawan memiliki dua tindakan.

[FIGURE 3 OMITTED] [GAMBAR 3 dihilangkan]

These two categories feature reciprocal elements that create a dynamic state of harmony and a discernible dramatic tension. Kedua fitur kategori unsur timbal balik yang menciptakan keadaan dinamis harmoni dan ketegangan dramatis yang jelas. Yokomichi and Omote include this aspect in their definition of the plays, outlining two additional subcategories. Yokomichi dan Omote menyertakan aspek dalam definisi mereka memainkan, menguraikan dua subkategori tambahan. Some plays blend these two patterns equally and are classified by them as Actual/Phantasmal Noh (genzai/mugen no). Beberapa memainkan perpaduan kedua pola sama dan digolongkan oleh mereka sebagai Realisasi / khayali Noh (genzai / Mugen tidak). In these, the shite in the first act is a live person as in Actual Noh, while in the second act he returns to the stage as a ghost--a Phantasmal Noh. Dalam hal ini, yang shite dalam tindakan pertama adalah orang hidup seperti pada Noh sebenarnya, sedangkan pada babak kedua ia kembali ke panggung sebagai hantu -sebuah Noh khayali. This is exemplified in the Noh Kinuta (The Fulling Block), (20) in which a woman whose husband has spent three years in the capital hears that he will return at the end of  the year, but is later informed that he is unable to return, leading to her insanity from

disappointment, loneliness, and hatred, and eventually to her death. Hal ini dicontohkan dalam Kinuta Noh (Blok Fulling), (20) di mana seorang wanita yang suaminya telah menghabiskan tiga tahun di ibukota mendengar bahwa dia akan kembali pada akhir tahun, tetapi kemudian

diberitahu bahwa ia tidak mampu kembali, yang mengarah ke kegilaan dia dari kekecewaan, kesepian, dan kebencian, dan akhirnya kematiannya. The husband, upon learning of this, returns and ritually summons her ghost, which appears in an embittered mood and … Sang suami,

setelah belajar dari ini, retur dan ritual panggilan hantu nya, yang muncul dalam suasana hati sakit hati dan ..

(22)

Seni pertunjukan tradisional yang masih berjaya di Jepang dewasa ini adalah

antara lain kabuki, noh, kyogen dan bunraku.

Kabuki adalah sebuah bentuk teater klasik  yang mengalami

evolusi pada awal abad ke-17. Ciri khasnya berupa irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh para aktor, kostum yang super-mewah, make-up yang mencolok (kumadori), serta penggunaan peralatan mekanis untuk mencapai efek-efek  khusus di panggung. Make-up menonjolkan sifat dan suasana hati tokoh yang dibawakan aktor. Kebanyakan lakon mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo, dan semua aktor, sekalipun yang memainkan peranan sebagai wanita, adalah pria.

Noh adalah bentuk teater musikal yang tertua di Jepang. Penceritaan tidak hanya dilakukan dengan dialog tapi juga dengan utai (nyanyian), hayashi (iringan musik), dan tari-tarian. Ciri khas lainnya adalah sang aktor utama yang berpakaian kostum sutera bersulam warna-warni, dan mengenakan topeng kayu berlapis lacquer. Topeng topeng itu menggambarkan tokoh-tokoh seperti orang yang sudah tua, wanita muda atau tua, dewa, hantu, dan anak laki-laki.

Kyogenadalah sebuah bentuk teater klasik lelucon yang dipagelarkan dengan aksi dan dialog yang amat bergaya. Ditampilkan di sela-sela pagelaran noh, meski sekarang terkadang

ditampilkan secara tunggal.

Bunraku, yang menjadi populer sekitar akhir abad ke-16, merupakan jenis teater boneka yang

dimainkan dengan iringan nyanyian bercerita dan musik yang dimainkan dengan shamisen (alat musik petik berdawai tiga). Bunraku dikenal sebagai salah satu bentuk teater boneka yang paling halus di dunia

http://nielpoenya.blogspot.com/

http://nielpoenya.blogspot.com/2010/09/seni-tradisional-jepang.html

Seni Tradisional JEPANG

Jepang termasuk Negara yang memiliki kebudayaan tradisional yang masih bertahan atau tidak lekang oleh waktu. Seni tradisonal yang masih berjaya di Jepang sampai saat ini antara lain Kabuki, Noh, Kyogen, dan Bunraku.

Kabuki, adalah sebuah bentuk teater klasik yang mengalami evolusi pada awal abad ke-17. Ciri khasnya berupa irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh aktor, kostum yang mewah, make-up yang mencolok (kumadori), serta peralatan mekanis

(23)

untuk menciptakan efek-efek dramatis di atas panggung. Make-up menonjolkan sifat dan suasana hati yang dibawakan aktor. Kebanyakan lakon mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo. Semua pemain adalah pria.

Noh, adalah teater musikal tertua di Jepang. Penceritaan tidak hanya dilakukan dengan lakon, tetapi juga dengan utai (nyanyian), hayashi (iringan musik), dan tari-tarian. Ciri khas lainnya adalah sang aktor utama menggunakan pakaian sutera bersulam warna-warni dengan mengenakan topeng kayu berlapis laka. Topeng-topeng itu menggambarkan lakon yang dibawakan, seperti orang tua, anak-anak, hantu, dll.

Kyogen, adalah bentuk teater klasik lelucon. Kyogen dibawakan dengan lakon yang amat bergaya, dan biasanya ditampilkan di sela-sela noh. Namun sekarang terkadang ditampilkan secara tunggal.

Bunraku, yang menjadi populer sekitar abad ke-16, merupakan jenis teater boneka yang dimainkan dengan iringan nyanyian bercerita dan musik yang dimainkan dengan shamisen (alat msuik petik berdawai tiga). Bunraku terkenal sebagai salah satu bentuk  teater boneka terhalus di dunia.

Berbagai seni tradisional lainnya, seperti upacara minum teh, dan Ikebana (seni merangkai bunga), terus hidup sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Upacara minum teh (chado atau shado) adalah tata cara yang diatur sangat halus dan teliti untuk menghidangkan dan meminum teh hijau matcha (dalam bentuk  bubuk). Upacara minum teh ini bukan hanya sekedar ritual membuat dan menyajikan teh, tapi lebih dari itu, upacara ini merupakan rangkaian seni yang mendalam yang membutuhkan pengetahuan luas dan kepekaan yang sangat halus. Sado juga menjajaki tujuan hidup dan mendorong timbulnya apresiasi terhadap alam.

Seni merangkai bunga Jepang (Ikebana), berasal dari sajian bunga Budhis di masa awalnya dan telah mengalami evolusi selama tujuh abad. Seni ini tidak hanya menggunakan bunga untuk dekoratif saja, karena setiap unsur dari sebuah karya Ikebana dipilih secara sangat cermat termasuk bahan tanaman, wadah dimana ranting dan bunga akan ditempatkan, serta keterkaitan ranting-ranting dengan wadahnya dan ruang sekitarnya.

Seni tradisional Jepang di atas adalah seni tradisional yang sudah sangat tua dan masih tetap bertahan sampai sekarang tanpa dipengaruhi oleh modernisasi barat. Oleh

(24)
(25)
(26)
(27)
(28)

Noh and Kyogen are both performed upon a very special type of stage known simply as a "Noh

stage."

Sarankan

terjemahan yang

lebih baik

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :