1.1 Latar Belakang Penelitian
Lingkungan bisnis dewasa ini yang tumbuh dan berkembang secara dinamis, memerlukan sistem manajemen yang efektif artinya dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan dapat mengakomodasikan setiap perubahan baik yang sedang dan telah terjadi dengan cepat ,tepat dan terarah serta biaya yang murah. Sehingga organisasi sudah tidak lagi dipandang sebagai sistem tertutup (closed – system) tetapi organisasi merupakan sistem terbuka ( open – system ) yang harus dapat meresponds berbagai perubahan eksternal dengan cepat dan efisien.
Munculnya kompetitor yang mulai berkembang dan memperkuat kualitas organisasi mereka serta menyediakan barang dan jasa yang bersaing membuat banyak organisasi profit (perusahaan) mengurangi problem dan mencari solusi permasalahaan yang efektif. Komunikasi merupakan hal penting dalam sistem pengendalian manajemen yang merupakan alat untuk mengarahkan, memotivasi, memonitor atau mengamati serta evaluasi pelaksanaan manajemen perusahaan yang mencoba mengarahkan pada tujuan organisasi dalam perusahaan agar kinerja yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan dapat berjalan lebih efesien dan lancar, yang dimonitor atau yang diatur dalam sistem pengendalian manajemen adalah kinerja dari perilaku manajer di dalam mengelola perusahaan.
Orientasi perilaku berhubungan dalam lingkungan pengendalian manajemen, perilaku berpengaruh dalam desain system pengendalian manajemen untuk membantu, mengendalikan, memotivasi manajemen dalam mengambil keputusan dan memonitor perilaku yang dapat mengendalikan aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam sebuah organisasi. Sistem pengendalian manajemen adalah sejumlah struktur komunikasi yang saling berhubungan yang mengklasifikasikan proses informasi yang dapat membantu manajer dalam mengkoordinasi bagiannya untuk mengubah perilaku dalam pencapaian tujuan organisasi yang diharapkan pada dasar yang berkesinambungan. Untuk membentuk suatu kerja sama yang baik jelas perlu adanya komunikasi yang baik antara unsur-unsur yang ada di dalam organisasi tersebut.
Komunikasi yang baik akan menimbulkan saling pengertian dan kenyamanan dalam bekerja. Komunikasi merupakan sebuah pentransferan makna maupun pemahaman makna kepada orang lain dalam bentuk lambang – lambang , symbol, atau bahasa – bahasa tertentu sehingga orang lain dapat memahami maksud dari informasi tersebut .
Komunikasi organisasi 1adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi.Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi.lsinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi.
Organisasi terdiri dari berbagai macam komponen yang berbeda dan saling memiliki ketergantungan dalam proses kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Perbedaan dalam organisasi tentu menjadi penyebab terjadinya konflik. Perbedaan yang terdapat dalam organisasi sering kali menyebabkan terjadinya ketidakcocokan yang akhirnya menimbulkan konflik.
Hal ini disebabkan karena pada dasarnya ketika terbentuk suatu organisasi, maka sesungguhnya terdapat banyak kemungkinan timbulnya konflik. Konflik dapat menjadi masalah yang serius dalam setiap organisasi, tanpa peduli apapun bentuk dan tingkat kompleksitas organisasi tersebut, jika konflik tersebut dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Karena itu keahlian untuk mengelola konflik sangat diperlukan bagi lingkungan organisasi.
Konflik tidak selamanya berkonotasi buruk, tapi bisa menjadi sumber pengalaman positif Hal ini dimaksudkan bahwa konflik dapat menjadi sarana pembelajaran dalam memanajemen suatu kelompok atau organisasi. Konflik tidak selamanya membawa dampak buruk, tetapi juga memberikan pelajaran dan hikmah di balik adanya perseteruan pihak – pihak yang terkait. Pelajaran itu dapat berupa bagaimana cara menghindari konflik yang sama supaya tidak terulang kembali di masa yang akan datang dan bagaimana cara mengatasi konflik yang sama apabila sewaktu – waktu terjadi kembali.
Penelitian ini dilakukan pada PT.Graha Sumber Prima Elektronik (GSPE) Jakarta. PT.Graha Sumber Prima Elektronik bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa untuk operator telepon selular di Indonesia, berlokasi di Jl.Meruya Ilir 14 Intercon Plaza Bl D/7 Jakarta Barat 11630.
PT. Graha Sumber Prima Elektronik (GSPE) didirikan pada tahun 2000, oleh Bapak Yanto Liem, yang menyediakan peralatan berkualitas tinggi sistem seperti Energy dan Power System, Power Supply/Power Conventer dan Elektronika, Listrik dan Mechanical Components, Tes dan pengukuran untuk Industri Manufaktur, Telekomunikasi dan Aplikasi umum.
PT.Graha Sumber Prima Elektronik sudah sejak lama bekerjasama dan menjadi vendor tunggal PT.XL.Axiata Tbk. Beberapa perusahaan yang pernah dan sampai sekarang masih bekerjasama dengan PT.Graha Sumber Prima Elektronik (GSPE) adalah PT.Indosat Tbk, PT.Telkomsel Tbk, PT.Axis, PT.Eriscson.
PT.Graha Sumber Prima Elektronik (GSPE) memiliki jumlah karyawan sekitar 400 orang yang terdiri dari 150 orang berada di Jl.Meruya Ilir 14 Intercon Plaza kebun jeruk dan 250 orang berada di Gudang Taman Tekno Serpong. Jumlah karyawan yang cukup banyak ini menggambarkan banyaknya project serta tender yang diraih, oleh sebab itu membutuhkan kerjasama dan koordinasi yang terarah diantara masing – masing karyawan.
Mekanisme aktifitas pekerjaan pada PT. Graha Sumber Prima Elektronik (GSPE) sangat membutuhkan koordinasi yang jelas antara masing- masing Divisi, sebab apabila terjadi miss communication di antara sesama karyawan maka perusahaan akan mengalami kerugian yang cukup besar. Kesalahpahaman dalam berkomunikasi juga menimbulkan konflik antar kelompok antara masing-masing divisi dan karyawan. Penelitian ini menggunakan studi kasus Project XL rectifier Backbone, peneliti mangamati konflik yang timbul sepanjang project tersebut
berlangsung serta melihat bagaimana manajemen melakukan pengelolaan konflik yang terjadi. Berikut ini adalah bagan konflik pada studi kasus Project XL rectifier backbone PT.GSPE :
Masalah yang muncul di PT. Graha Sumber Prima Elektronik (GSPE) yang pertama adalah ketidaksiapan shelter oleh customer tetapi saat dilakukan survey oleh team RFS (Ready For Survey) info dari PIC XL bahwa shelter ready.Apabila dilakukan pengiriman barang padahal ternyata shelter belum siap maka PT.Graha Sumber Prima Elektronik akan menyewa gudang untuk menempatkan rectifier yang telah sampai pada tempat tujuan. Hal itu akan menambah biaya sewa gudang yang sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi.
SALES
PROJECT
PROJECT
ACCOUNTING INSTALLASI ADMINT PROJECT SUBCONT LOGISTICMasalah kedua adalah keterlambatan barang tiba di lokasi tujuan (shelter). Hal ini menyebabkan PT.GSPE tidak bisa memenuhi deadline ke customer yang berakbibat pada PT.GSPE dikenakan finalty oleh customer. Masalah ketiga yaitu keterlambatan permit (surat ijin) dan kesulitan dalam akses pengambilan kunci shelter installasi yang diberikan oleh PIC (Supervisior Customer) yang berakibat barang sudah dikirim dan installer sudah sampai lokasi tetapi tidak dapat masuk ke shelter sehingga material ditarik balik dan installer juga menunda melakukan installasi. Hal ini pastinya akan memperlambat waktu installasi dari deadline yang ditentukan.
Masalah eksternal yang sering terjadi dan menyebabkan konflik internal di PT.GSPE yaitu konflik Community Case yaitu adanya ormas-ormas seperti Pemuda Pancasila, FBR (Forum Betawi Rembuk) yang meminta uang saat dilakukan penempatan dan installasi material. Apabila jumlah uang yang diminta terlalu besar maka PT.GSPE akan melakukan lobilisasi kepada ormas agar menurunkan permintaanya, tetapi apabila hal itu tidak terlaksana maka mau tidak mau PT.GSPE harus menarik kembali barang atau meterial yang sudah sampai dan meminta solusi kepada customer untuk kelanjutan installasinya apakah tetap dilakukan installasi dengan syarat mau menaggung uang permintaan ormas atau dilakukan relokasi (pemindahan) material ke site (shelter) lain.
Masalah eksternal Community Case terkait PT.GSPE dengan warga (community) juga melibatkan pihak PT.XL Axiata Tbk merupakan masalah yang cukup complicated. Hal ini akan sangat mudah menimbulkan konflik internal yang terjadi pada pihak internal PT.GSPE karena terdapat perbedaan persepsi dan
tujuan serta terdapat berbagai kepentingan antara masing-masing divisi dalam menyelesaikan pekerjaan sehingga membutuhkan pengelolaan konflik internal pada PT.Graha Sumber Prima Elektronik (GSPE).
PT.Graha Sumber Prima Elektronik (GSPE) merupakan perusahaan besar dan merupakan kompetitor tinggi dalam bidang distributor Energi dan Power System di Indonesia serta telah bertahan menjadi vendor tunggal PT.XL Axiata Tbk. sejak tahun 2002 serta menjadi vendor perusahaan telekomunikasi lainnya. Berdasarkan alasan diatas maka peniliti tertarik untuk meneliti pengelolaan dinamika konflik yang terjadi di PT.GSPE terkait dengan community.
1.2 Fokus Penelitian
Bagaimana pengelolaan konflik strategi kolaborasi mulai dari mengelola hinga mengevaluasi hal-hal yang terkait dengan unsur, sember, jenis, pengelolaan dan penyelesaian konflik dalam memecahkan konflik antar kelompok pada studi kasus Project XL rectifier Backbone di Jawa Timur tahun 2014 ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah untuk melihat pengelolaan konflik strategi kolaborasi dengan community mulai dari unsur, sumber, jenis, pengelolaan dan penyelesaian konflik.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis / Akademis
Hasil penelitian ini memberikan informasi bagi pihak – pihak yang berkepentingan dalam dunia kerja tentang pengaruh komunikasi organisasi dalam pemecahan masalah di dunia kerja .
2. Manfaat Praktis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada manajemen PT.Graha Sumber Prima Elektronika (GSPE) dalam pengambilan keputusan penyelesaian konflik serta dapat meningkatkan sense of belonging karyawan terhadap perusahaan.