Paradigma ilmu Hukum Profetik. docx

12  10  Download (1)

Teks penuh

(1)

Paradigma (ilmu) Hukum Profetik

Istilah Hukum Positif, yang kemudian populer sebagai hukum yang berlaku pada masa sekarang dan untuk sebuah wilayah hukum tertentu, acapkali dituduh terpengaruh Positivisme Ilmu yang berjaya pada beberapa abad yang lalu.Dengan mendasarkan kepada paradigm sains Cartesian-Newtonian, positivisme mewarnai langgam keilmuan beberapa abad yang lalu. Termasuk Ilmu Hukum yang ikut terpengaruh.

Namun, dengan Runtuhnya sains modern yang memunculkan teori kuantum modern, kemudian munculnya Teori Relatviitas dan teori chaos, membuat pergesaran dalam perjalanan ilmu pengetahuan. Teori diatas dipercayai sebagai penyangga Postomdernisme yang disebut sebagai antitesa dari Modernisme.1 Dengan munculnya Postmodernisme,

mungkinkah ia melahirkanilmuhukum yang “khas” Postmodern. Sepertipadamasa Modern yang melahirkan Positivisme Ilmu. Lalu apa yang dimaksud dengan Ilmu Hukum Profetik, mungkinkah istilah ini merupakan derivasi dari Pemikiran Ilmu Ilmu Profetik yang sedang gencar diteliti.

Mengenal(ilmu) Hukum Modern

Istilah Positivisme pertama kali dipergunakan oleh Saint Simon (1760-1825) dari Perancis sebagai metode sekaligus merupakan perkembangan aras pemikiran Filsafat. Positivime kemudian digunakan oleh empat orang juris senior yang ditunjuk Napoleon untuk mereformasi Hukum Perancis, agar tak lagi tampil dengan wajah “sok moralis” dan serba metafisis. Positivisme lahir dari huru hara pada masa Revolusi Borjuis Perancis yang menghasilkan para Aristokrat dan Gereja sebagai musuh utama.

Gereja yang sebelumnya, memegang kendali atas produksi keilmuan, pada akhirnya ditentang dan hasil tafsirnya mulai dipertanyakan para saintis. Pengetahuan yang sebelumnya bercirikan dogmatis, liturgis, dan msitis, pada akhirnya disingkirkan oleh kemajuan pengetahuan tentang alam yang memberikan jaminan kepastian dan dapat diprediksikan. Pada akhirnya, Eksekusi Galileo, menandakan permusuhan Gereja dengan para saintis, membuat sifat ilmu bergeser, yang awalnya teosentris kemudian berubah bersifat antroposentris.2

Melalui Augusto Comte, yang sering disebut sebagai bapak Positivism, ia menyerukan gerakan pendekatan yang murni ilmiah kepada sejarah dan masyarakat. Ia menyebut istilah ini sebagai sistem Positivisme, yang memercayai sebuah sistem pengetahuan bertumpu kepada pengetahuan pasti yang berasal dari fakta-fakta yang diamati sehingga dapat diverifikasi secara empiris.3

1 Sungguhpun begitu, isitilah Postmodernisme cenderung terbuka lebar untukdidefinisiakan ulang. Hal ini disebakan, ia memayungi berbagai arus pemikiran yang antara satu sama lain yang tidak saling berkaitan. Bambang Sugiharto, 1996, Postomdernisme; tantangan bagi filsafat, Jogjakarta: Pustaka Filsafat, hlm 16.

2Absori dkk, 2015, Paradigma Hukum Profetik; kritik terhadap asumsi asumsi dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik, Jogja: Genta Publishing, hlm 76.

(2)

Comte ingin menegaskan bahwa setiap pengetahuan tidak boleh melebihi fakta, memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang eksis dan sebagai objek yang harus dilepaskan dari segala macam prakonsepsi metafisis dan subjektif sifatnya. Positivisme menolak pertanggungjawaban pengetahuan yang berasal dari luar batas empiris dan hukum hukum ilmu pengetahuan. Positivisme secara tidak langsung, terbawa oleh arus ilmu empiris, yang dimotori oleh Francis Bacon.4

Logika empirik ini pada awalnya berasal dari Metode penemuan Ilmiah pada ilmu alam yang menemukan kejayaanya pada kemajuan teknologi. Kemajuan ilmu ilmu alam yang mencoba meninggalkan pendekatan Teokratis dan moralis, coba ditawarkan kepada ilmu ilmu sosial, termasuk terhadap Ilmu Hukum. Melalui Kongres Wina pada tahun 1928, para ilmuwan sepakat menyusun satu metode ilmu pengetahuan, yaitu Metode Imiah-saintifik, penemuan tentang kebenaran haruslah melalui metode yang dipertanggung jawabkan atas kebenaran empiris.5

Positivismeadalah anak kandung dari epistemologi Modern yang dirintis olehh Descartes-newton atau dikenal sebagai Cartesian Newtonian, naman ini dinisbatkan kepada dua ilmuwan terkenal abad pertengahan, Rene Descartes (1596-1650) dan Sir Isssac Newton ( 1642-1762). Metode Universal Descartes dan Universalisme abad pencerahan pada masa Immanuel Kant mengkritsal menjadi unified science kaum positivis.

Dari Rene Descartes, kita mengenal ungkapan Cogito Ergo Sum (Aku berfikir, maka aku ada), yang sebenarnya merupakan sebuah metode kesangsian (metode keraguan) dalam mencapai kebenaran. Descartes, kemudian tertarik untuk mematematisasi alam, yang berujung pandangan bahwa alam semesta adalah mesin raksasa, yang disusun dari hukum sebab –akibat.6

Upaya Mematematikasi Alam, mencapai puncaknya di tangan Jenius Sir Issac Newton. Dalam Principia, ia menentukan pemahamam tentang tatanan alam tidak hanya terjadi dalam ranah sains, tetapi berlangsung pula dalam aras sosial kebudayaan. Newton, dianggap mensintesakan, pemikiran para pendahulunya. Ia memadukan mimpi visioner Descartes dan Empirisme Bacon agar dapat ditramsformasi dalam kehidupan nyata melalui peletakan dasar-dasar mekanika.7

4Absori, Op Cit, hlm 79. Comte kemudian memberikan definis tentang Istilah “Positif”, sebagai tanda pensifatan sesuatu yang nyata, bukan sebuah penafsiran yang sifatnya khayal. Sementara Harun Hadiwijoyono menyebut positivisme berasal dari kata “positif” yang berarti diketahui, yang faktual dan positif. Segala uraian dan persoalan diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan. Amsal Bachtiar dalam Idzan Fautanu, 2012, Filsafat Ilmu, Jakarta; Referensi, hlm

5Soetandyo Wignjosoebroto, 2013, Pergeseran Paradigma dalam Kajian Kajian Sosial dan Hukum, Malang: Setara Press, hlm 106.

6Husain Heriyanto, 2003, Paradigma Holistik, Dialog Filsafat, Sains, dan kehidupan menurut Shadra dan Whitehead, Bandung: Teraju, hlm 34.

(3)

Sebagai pengikut Cartesian, Newton mereduksi semua fenomena fisik menjadi gerak partikel benda, yang disebabkan oleh kekuatan tarik menarik, yaitu kekuatan gravitasi. Pengaruh kekuatan ini pada partikel atau objek benda lain digambarkan secara matematis oleh persamaan gerak Newton yang menjadi dasar mekanika klasik. Newton diduga terpengaruh teori gravitasinya, ia mendapat inspirasi dari sebuah apel yang jatuh ditarik ke arah bumi. Kemudian dia menggunakan metode matematikanya untuk merumuskan hukum gerak yang pasti bagi semua benda di bawah pengaruh gravitasi.8

Husain Heriyanto kemudian meringkas asumsi dasar9 Paradigam Cartesian

Newtonian, yaitu, a) Subjektivisme –antroposentrik, b) dualisme, c) Mekanistik-deterministik, d) Reduksionistik-atomistik, e) instrumentalisme , dan f) Materialisme-saintisme.10 Asumsi Asumsi inilah yang kemudian menjadi dalil penyangga Sains Modern,

yang pada akhirnya berkembang pula kedalam ranah ilmu sosial, termasuk ilmu Hukum. Sebagai contoh, asumsi mekanistik-deterministikyang berpadu dengan asumsi reduksionis atomistik, telah melahirkan pandangan bahwa Alam semesta adalah sebuah mesin raksasa, yang telah mati dan bergerak statis. Ia kemudian direduksir, untuk dibersihkan dari nilai nilai estetis dan etis, dimiskinkan dari nilai simbolik dan kualitatif. Alam menjadi entitas yang bebas nilai, dan tunduk kepada hukum hukum logis.

Hal serupa bisa dijumpai dalam Pure Theory of Law dari kelsen, yang mencoba memurnikan hukum dari anasir anasir non yuridik, semisal Ekonomi, Politik, maupun agama. Secara ringkas, Kelsen berupaya melakukan “purify” (pemurnian) terhadap tiga hal, yaitu : a) Pemurnian terhadap objek teori hukum, b) pemurnian tujuan dan ruang lingkup teori, dan c) pemurnian terhadap metodologi teori hukum.11

Implementasi Teori Hukum Murni menjadikan Hukum lepas dari aras moral dan nilai nilai Agama. Misal Putusan vonis penjara terhadap nenek tua pencuri buah kakao adalah benar sesuai logika hukum, karena tindakanya memenuhi unsur unsur pidana, meskipun nurani kita berontak, untuk mengatakan tidak. Fenomena ini menunjukan hukum tidak memberi ruang kepada moralitasmaupunnilaimetafisis, yang dianggapnya sebagai unsur non yuridis.

Infiltrasi Positivisme terhadap Ilmu Hukum, tidak hanya terilhami dari Saintism semata. Namun karena adanya persamaan tahapan epistemologi antara Positivisme Comtean

8Anton F Susanto, 2010, Paradigma Ilmu Hukum Non-Sistematik; Fondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia, Genta Publishing: Jogjakarta, hlm 48.

9Asumsi Dasar adalah pandangan-pandangan mengenai suatu hal (bisa benda, ilmu pengetahuan, tujuan sebuah disiplin, dan sebagainya), yang tidak dipertanykan lagi kebenarananya atau sudah diterima kebenaranya.Ahimsa menyebut Asumsi Dasar biasanya sengaja tidak ditampilkan, dan tersembunyi sebagaimana pondasi sebuah bangunan. Basis Asumsi merupakan unsur terpenting dari Unsur yang membentuk paradigma lainya. Heddi Shri Ahimsa, Paradigma Profetik; mungkinkah, perlukah?, makalah disampaikan dalam “Sarasehan Profetik 2011” diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UGM. Di Yogayakarta 2011.

10Husain Heriyanto, hlm 83.

11Khudzaifah Dimyati dan Kelik Wardiono, 2015, Paradigma Rasional dalam Ilmu

(4)

dan Hukum Kodrat (salah satu Madzab Hukum). Perjalanan mencari kebenaran melalui tiga tahapan ala Comte,12 dialami pula dalam sejarah perjalanan pencarian kebenaran dalam

Hukum. Terutama terkait antara antinomi antara matra manusia dan tuhan, sebagai primasi pembentuk norma hukum.

Absori dengan runtut menceritakan awal perkembangan Hukum Kodrat. Pandangan pertama, diawali gagasan kehadiran kuasa tuhan yang diwakilkan kepada Gereja, sehingga membentuk prinsip Teokrasi Mutlak, implimentasinya adalah kekuasaan raja haruslah tunduk kepada gereja. Gagasan ini bisa ditemukan pada paradigma hukum kodrat Thomas Aquinas. Namun pada era John Sallisbury, kesewenang wenangan raja terhadap rakyat, membuat Hukum Kodrat lebih terejawantahkan kedalam kekuasaan gereja dan raja yang duduk berdampingan. Bahkan bisa dibilang saling melengkapi.13

Selanjutnya muncul Dante Aligheri dan Pierre Dubois, menganggap kekuasaan Tuhan telah terwakilkan dalam diri manusia atau raja, bahkan mereka dapat melakukan membuat keputusan Politik, tanpa campur tangan gereja. Pada akhirnya, munculah Marcilius Padua dan William Occam. Mereka juga menuntut partisipasi rakyat, baik dalam menjalankan kekuasaan maupun keputusan politis lainya. Kekuasaan Gereja yang sebelumnya menjadi penasihat kerajaan, kehilangan fungsinya, digantikan oleh setumpuk peraturan yang dibentuk dari sebuah keputusan Politis.14

Tahap Positif dalam Logika comte, menyebutkan bahan kebenaran dihasilkan dari observasi dan rasio, dan mencoba menetapkan relasi relasi dalam Ilmu Hukum Modern, sebagai sebuah kebenaran yang sifatnya dogmatik.

Progressif atau Profetik (?)

Implementasi Hukum Positiv dengan mengggunakan Asumi Modern, pada akhirnya melahirkan praktik hukum yang nir keadilan. Berangkat dari Epistemologi yang serupa dengan Positivisme Ilmu, Hukum direduksir menjadi mesin yang dibersihkan dari norma dan nilai nilai keilahian. Sebagai Mesin, yang tidak mengenal kebaikan dan keburukan, Hukum menjadi kaku, danserba hitam putih dalam memandang realitas.

Kegagalan Hukum Modern dalam sejarah perjalananya, telah melahirkan banyak kritik. Diantaranya Hukum Porgressif, yang digagas Satjipto Rahardjo. Hukum Progressif

12Ketiga zaman yang dimaksud oleh Comte adalah :

a. Zaman Teologis, manusia percaya pada zaman belakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gejala gerak tersebut. Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki kuasa dan kehendak seperti manusia, tetapi orang bahkan percaya mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi daripada makhlu-makhluk insani yang biasa.

b. Zaman Metafisis, kuasa kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip abstrak seperti misalnya, “kodrat” dan “penyebab”. Metafisika dijunjung tinggi pada masa ini

c. Akhirnya dalam zaman positif tidak lagi diusahakan untukmencari penyebab-penyebab yang terdapat di belakang fakta fakta yang disajikan kepadanya. Absori dkk, Op Cit, hlm79

(5)

menjadi tawaran alternatif, dari penegakan hukum yang beku, dan berjalan lamban, sertatidak menghasilkan suatu keadilan yang hakiki.

HukumProgressifmengkampanyekanpenegakan hukum yang keluardarijalurbiasanya, agar hukumkemudianberpihakkepada keadilan. Hal ini tidak lepas dari asumsi, bahwa hukum pada dasarnya diabdikan kepada manusia, bukan sebaliknya. Satjipto mengkritik penegakan Hukum melihatnya teks perundangan saja.

Selama ini Hukum dianggap ketinggalan dengan realitas dan perkembangan zaman, dengan demikian Hukum sebagai ide dalam wilayah abstrak selalu dideterminasi oleh realitas.Denganselalutertitnggaldarikenyataan,

memanghukumharuslahmengikutiperkembangankenyataan.

NamunlogikadalamHukum, menunjukansebaliknya. Hukum sebagai wilayah Ide selalu memandang “realitas” yang tersusun dalam teks perundangan semata. Sehingga dalam aras penegakan hukum, realitas harus ditundukan dengan “realitas” dalam norma peraturan perundangan.

Hukum Progessif menggunakan pendekatan dekonstruksi dengan metode pembalikan hierarkis (The Riversal of hierarchi), norma hukum yang selama ini disimbolkan kepada birokrasi negara yang kaku dan tidak responsif terhadap peruabahan dalam masyarakat, ditempatkan di belakang masyarakat yang dinamis sebagai perlambang dari realitas. Hal ini diimplikasikan, kepentingan masyarakat hendaknya didahulukan daripada kepentingan negara.15

Kelahiran Hukum Progressif oleh Satjipto Rahardjo, kemudian dikembangkan oleh salah satu muridnya, Anton F Susanto dengan disertasinya berjudul, yaitu Ilmu Hukum Non-Sistematik; Fondasi filsafat pengetahuan Ilmu Hukum di Indonesia. Paradigma Ilmu Hukum Non-Sistematik, menggunakan metode hermeneutik sebagai sebagai pendekatan filsafat, menurut Anton, kemunculan Hermeneutik Modern tekait dengan penolakan / perlawana terhadap positivisme.16

Anton menggunakan pemikiran Charles Sampord tentang bangunan Hukum yang bersifat chaos, yang digunakan sebagai penggambaran realitas hukum yang selalu bersifat cair (melee) dan dinamik. Sebab, hukum bukanlah sebuah realitas yang mekanistik dan simplifistik.17

Teori Chaos termasuk dalam teori yang baru, dan berkembang sekitar 70-80an, dan termasuk sedikit ahli hukum yang mengkajinya. Buku karangan Sampord yang berjudul Theory Disorder of Law A Critique of Legal Theory menurut Satjipto Rahardjo menolak ide keteraturan dalam Hukum Positif, sebagaimana yang dipegang oleh kaum positivistik.

15Firman Mutaqo, meretas jalan bagi pembangunan melalui pemahaman tehadap peranan madzab Hukum Positivis dan non Positivis dalam kehidupan berhukum di Indonesia dalam Satjipto Rahadjo, 2007, Membedah Hukum Progressif, Jakarta: Kompas, hlm 191

(6)

Sebaliknya, teori Chaos secara konsisten membaca Hukum sebagai sesuatu yang tidak beraturan.18

Anton memercayai keruntuhan Paradigma Cartesian-Newtonian, yang otomatis diikuti ilmu Hukum Modern yangakan bergeser kepada paradigma Hukum Nonsistemik. Dengan mengutip apa yang dimaksud dengan Kuhn (1997) sebagai perkembangan ilmu pengetahuan, teori chaos masih dianggap sebagai anomali dalam perkembangan ilmu hukum yang kemudian akan bergerak menuju ke arahnormal.19

Pembacaan cair/ chaos dapat memberikan alternatif terhadap analisa hukum, yaitu desain analisis yang lebih terbuka, sehingga dimungkinkan dikembangkan pendekatan yang lebih utuh, namun tetap memberikan pluralistas.20Sampord menggunakan istilah Legal

Meleeuntuk menjelaskan Fenomena hukum yang chaos, istilah ini berasal dari social melee, yang berarti Hukum itu kompleks dan cair, cenderung bersifat asimetris dan berasal dari masyarkat yang kompleks dan cair pula.21

Fenomena Chaos pada awalnya ditemukan oleh Edwared Lorentz, seorang ahli metereologi dan prakiraan cuaca. Melalui temuanya berupa prakiraan cuaca yang non prediktif dan cenderung random, ia mengemukakan bahwasanya alam adalah non-determinsitik. Ia mengkritik asumsi cartesian-newtonian yang mengganggap alam semesta adalah suatu mesin raksasa yang bergerak teratur.22

Pembacaan cair terhadap Hukum, didasarkan pada pembacaan kontemporer terhadap Hukum itu sendiri yang cukup positivistik. Pembacaan ini tidak memberikan ruang dialog kepada pembacaan alternatif. Mengutip Ali Harb, pembacaan yang cenderung Positivistik mengakibatkan penafsiran hukum yang lebih berorientasi kepada penafsiran yang kaku dan memaksakan bentuk bentuknya.23

Anton menawarkan dekonstruksi terhadap pembacaaan Pancasila. Dengan Dekonstruksi, diperolehlah identitas yang plural, pembiasan arti serta keberagaman makna. Anton sendiri menuliskan mencabut dan mengeliminir makna sakralitas pancasila. Sebab, dengan pembacaan secara harfiah dan tekstualis, hal ini mengurangi keberagaman makna yang terkandung di belakang teks.24

Melalui Dekonstruksi, Pancasila bisa ditafsirkan dalam beragam makna. Pemahaman ini tidak lepas dari Legal Melee yang menghasilkan posisi asimetris secara radikal antara teks, penafsir, dan realitas. Dalam usaha penafsiran teks Hukum, tidak ada otoritas yang dianggap paling shahihhasiltafsirnya. Karenasemuaentitasdalamteks (teks, penafisr, dan realitas) tidak berada dalam posisi determinan satu sama lain, namun dalam posisi sejajar.

18Satijpto Rahardjo dalam Anton, ibid hlm 98 19Anton F Susanto, Ilmu Hukum, Op Cit, hlm 100

20Anton F Susanto, 2010, Dekonstruksi Hukum; Eksplorasi Teks dan model pembacaan, (Jogjakarta: Genta Publishing), hlm 44.

21Anton F Susanto, Ilmu Hukum, Op Cit, hlm 106

22Kelik Wardiono, Chaos Teory : Sebuah ancangan dalam memahami Hukum, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 15, No. 2 Sepetember 2012.

(7)

Dengan posisi yang relative sejajar, keadilan tidak hanya diterjemahkan melalui proses peradilan yang formal, namun proses diluar peradilan pun dianggap bisa menghasilkan nilai nilai keadilan. Keadilan menjadi berhamburan karena menjadi kehendak setiap penafsir, entah penegak hukum, maupun masyarakat luas.

Hal ini menuai kritik dari Absori, yang menyatakan bahwa dalil dalil penyangga yang digunakan Anton adalah dalil penyangga Postmodern yang mendasarkan kepada relativisme. Dengan jalan demikian, pembacaan suatu teks akan berhamburan ke segala penjuru arah. Seharusnya penafsiran tetaplah dipandu wahyu, pelimpahan tuhan dan praanggapan metafisik.25

Munculnya teori chaos bersamaan dengan munculnya teori kuantum modern, yang mengubah pandangan manusia modern yang dulunya beranggapan bahwa sesuatu (alam) bersifat jelas dan pasti kemudian mengalami dekonstruksi,baik dalam tataran fisik, realitas, maupun simbolik. Pemikiran yang kritis (bahkan memberontak) atas pemikiran Modernisme diaktegorikan sebagai pemikira postmodernisme.

Disisilain, terjadi keruntuhan terhadap paradigma Cartesian-Newtonian, yang dimulai dari munculnya teori relativitas oleh Albert Enstein. Einstein memandang waktu sebaga sesuatu yang absolut, namun kedudukanya sama dengan ruang yang relatif. Artinya besaran waktu bergantung kepada acuan atau konteks, dengan demikian penulisan yang tepat adalah ruang-waktu, bukan raung dan waktu.26

Tentunya hal ini menggoyahkan kemapanan asumsi kosmologi Cartesian-Newtonian, yang menagnut dualism, yang membagi dua hal tersebut secara tegas. Namun tantangan terbesar Cartesian-Newtonian justru datang dari Teori Kuantum, atau Interpretasi Kopenhagen yang dirumuskan oleh Niels Bohr, Heisenberg, dan Max Born yang didukung oleh de broglie dam Paul Dirac.

Salah satu prinsip dalam Teori Kuantum adalah prinsip ketidakpastian. Prinsip ini menyatakan bahwa kita tidak akan pernah dapat mengetahui dengan pasti kondisi suatu sistem kuantum, sehingga kita tidak dapat memprediksi perangai sistem tersebut. Hal ini jauh berbeda dengan mekanika klasik Cartesian-Newtonian yang memandang alam semesta bersifat prediktif, karena tidak lebih dari sebuah seonggok benda mati. Artinya, Teori Kuantum, benar benar menjungkirbalikan asumsi Cartesian-Newtonian.27

Dari hal inilah, Anton memercayai keruntuhan paradigma sains cartesian-newtonian, yang kemudian beranjak kepada Teori Relativitas dan mekanika kuantum berimbas kepada paradigma Hukum, yang berawal dari peralihan normatif, menuju positif, kemudian menjadi non sistemik.

25Praanggapan Metafisik adalah istilah yang digunakan Mehdi Gholsani berupa pandangan dunia tertentu, untuk menuntun dalam Lompatan Epistemologi. Lompatan Epistemologi ini dimaksudkan sebagai upaya menemukan kebedaraan Tuhan dengan metode sains. MainunSyamsudin, 2012, Integrasi Multidimensi; Agama &Sains, Jogjakarta: Divapress, hlm 308.

(8)

Terlebih dengan kehadiran dekonstruksi, hukum non sistematik masih terbawa arus Cartesian yang mengedepankan keragu raguan sebagai metode menemukan kebenaran. Dalam Dekonstruksi, mendekati suatu teks maka kita haruslah skeptis dan maksud penulis teks tidak perlu diutamakan, yang ada hanyalah kesempatan untuk menafsirkan atau mengomentari teks tanpa ada batasan. Ciri ini kemudian lekat dengan Postomodern, yang memiliki doktrin relativisme dan nihilisme.28

Peran Wahyu yang nihil dalam perkembangan Ilmumodern, nyatanyatetap berlanjut pada era postmodern. Pada Masa Modern, kelahiran metode Ilmiah meninggalkan wahyu sebagai sumber ilmu bersifat dogmatis, subjektif, dan metafisis. Sedang pada masa Postmodern, meskipun mengangakat hal yang sifatnya irrasional (emosi, perasaaan, intuisi, spekulasi), moral, maupun spiritual, namun hanya didudukan sebatas sejajar dengan produk manusia lainya, bukan sebagai otoritas (dari tuhan) dalam ilmu pengetahuan.

Padahal, Hamid mencatat, perkembangan ilmu dalam Islam justru dikembangkan dari istilah kunci dalam wahyu. Yang kemudian ditafsirkan ke dalam berbagai bidang kehidupan dan berakumasi menjadi peradaban yang kokoh. Beliau mencatat Ashab As Suffahsebagai komunitas Intelektual pertama dalam Islam. Dengan mengakji Ayat Qur’an dan Hadist nabi, Ashab As Suffah melahirkan ilmuwan Hadist yang cerdas, semacam Abu hurairah, Salman Al Farisi, maupun Abdullah ibn Mas’ud.29

Posisi wahyu amat penting dalam pengembangan ilmu Pengetahuan. Reduksi peran wahyu dalam periode Hukum Modern maupun Postmodern yang melahirkan paradigma ilmu hukum nonsistematik, coba diatasi Ilmu Hukum Profetik yang menempatkan wahyu sebagai sumber Ilmu Pengetahuan.30

Padadasarnya, Ilmu Hukum Profetik berawal dari Ilmu Sosial Profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo. Ilmu Sosial Profetik bermaksud tidak sekedar mengubah demi perubahan, namun mengubah berdasarkan suatu cita cita profetik. Citacitainiterkandungdalam Qs Ali Imran 104, kemudian diderivasi menjadi humanisasi, liberasi dan transendensi, yang menjadi unsur dari Ilmu Sosial Profetik itu sendiri.31

Ilmu Sosial Profetik kembali menempatkan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, caranya dengan melakukan reorientasi Epistemologi terhadap mode of thougt (cara berfikir) dan mode of inquiry (caramenyadari) yang kemudian mengahasilkan mode of knowing (cara mengetahui).32

Wahyu merupakan pengetahuan apriori yang menempati posisi sebagai pembentuk realitas, memberikan pedoman dalam berfikir sebagai salah satu pembentuk tindakan muslim.

28Hamid Fahmi Zarkasyi, 2013, Misykat; refleksi tentang westernisasi, liberalisasi, dan Islam, Jakarta: Insists, hlm 208-210.

29Hamid Fahmi Zarkasyi, Membangun Peradaban Islam dengan Ilmu Pengetahuan, Makalah tidak dipublikasikan, hlm 5-6,

30Absori, Ibid, hlm 374. 31Ibid, hlm 288.

(9)

Dengan demikian, wahyu diharapkan mnjadi unsur konstitutif paradigma islam dalam memenuhi misi profetiknya, yakni membangun peradaban / rahmat bagi sekalian Alam.33

Kunto sendiri, membagi dua bagian dalam Qur’an yan berupa ideal thype yang berisi konsep konsep abstrak, doktrin etik, maupun aturan aturan legal, yang berfungsi memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai ajaran-ajaran Islam. Sedang pada bagin kedua berupa arche type, yang berisi kisah kisah sejarah, yang harus bisa ditangkap pesan pesan moralnya.34

Melalui metode sintetik analitik, Kuntowijoyo hendak merumuskan Paradigma Al-Qur’an dengan tujuan membangun persepktif tentang realitas berbasis wahyu. Melalui metode sintesis, ayat ayat yang berisi kisah kisah, ditarik pesan moralnya untuk membangun subjektivikasi terhadap ajaran ajaran keagamaan. Dalam hal ini kisah kisah dimaksudkan untuk membentuk kepribadian islam melalui Hikmah (perenungan).35

Dikhwatirkan terlalu subjektif, Kunto menawarkan pendekatan analitik sebagai jalan mengkonstuksi wahyu yang normatif untuk dioperasionalkan kedalam konsep yang objektif dan empiris. Dalam hal ini Alqur’an harus dirumuskan dalam bentuk konstruk konstruk yang terotitis.36

Pembentukan teori ini penting, diakrenakan ummat sudah sampai maqam periode ilmu, setelah sebelumnya Islam berada dalam Periode mitos dan Periode Ideologis. Pada periode mitos yang ditandai dengan catra berfikir pra logis, bersifat lokal dengan latar belakang agraris. dan kepemimpinan kharismatis. Musuh mereka adalah pemerintah kolonial, dengan mengandalkan kharisma tokoh dan strategi pemberontakan. Periode ini usai dengan lahirnya SI sebagai kelahiran periode ideologi.37

Periode Ideologi yang ditandai dengan cara berfikir non logis, persatuan nasional yang tersentral, dan kepemimpinan intlektual. Namun, kekalahan SI dalam merebut simpati massa dengan PKI, pembubaran Masyumi, sampai munculnya ideoligisasi Pancasila, tidak membuat perjuangan Ummat telah usai. Justru hal ini dianggap Kunto sebagai blessing in disguisse (berkah yang tersembunyi), dengan masuknya Ummat kepada periode ilmu. Dalam periode Ilmu inilah Kunto menawarkan jalan objektivikasi. 38

Objektivikasi

33Ibid, hlm 300

34Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam; interpretasiuntukaksi, Bandung: Mizan, hlm 328-329

35Ali Sariati memandang Hikmah adalah semacam Pengetahuan tentang petunjuk yang benar. ia sejenis pengetahuan dan wawasan yang luar biasa tajamnya, yang disampaikan kepada manusia melalui Rasulullah. Ia adalah Nur yang memancar dalam diri Muhammad SAW, yang tidak bisa dibaca dengan cara yang lazim, karena menurut Sariati. Allah hanya akan menyalakan Cahaya (Nur), kepada setiap orang yang dikehendakinya. Ali Sariati, 2003,Menjadi Manusia Haji; panduan memahami makna sosial dan fisafat aksi di balik ritus-ritus Haji, Jogjakarta: Mujadalah, hlm 121.

36Absori, Op Cit, hlm 330

37Kuntowijoyo, 2001, Muslim tanpa masjid, esai-esai dalam bingkai Strukturalisme-Transendental, Bandung: Mizan, hlm 306.

(10)

Setelah Wahyu menjadi unsur terpenting dalam Ilmu Sosial Profetik. Lalu dengna jalan apakah dan bagaimanakah, Ilmu Hukum Profetik diterjemahkan dalam ranah operasioal hukum. Apakah dengan dinyatakanya Wahyu sebagai sumber ilmu, dengan sendirinya ia akan menjadi sebuah Sumber Hukum. Bagaimana kemudian, Wahyu yang disebut Kunto bersifat kosntitutif bisa diterima oleh masyarakat yang plural.

Dalam hal ini, Kunto menawarkan metode objektivikasi. Objektivikasi adalah penerjemahan nilai-nilai internal ke dalam kategori-kategori objektif, objektifikasi adalah konkretisasi dari keyakinan internal, suatu perbuatan disebut objektif adalah jika perbuatan itu sekalipun dilakukan non muslim tidak dianggap lagi perbuatan yang beragama,namun sesuatu yang natural,meskipun dari sisi muslim tetap menganggapnya perbuatanyang berhubungan dengan keagamaan, termasuk amal.39

Objektivikasi dimaksudkan untuk menghindarkan Sekularisasi dan dominasi secara bersamaan. Sekularisasi terjadi akibat adanya interpretasi subjektif yang menganggap bahwa semua peristiwa terjadi apabila ada konsekuensi logis dari gejala objektif. Penerimaan nilai nilai oleh pemeluk agama lain, dibutuhkan untuk menghindarkan dominasi ummat atas pemeluk agama lain. Hal ini dilakukan dengan jalan Objektvikasi.

Dalam pembentukan norma Hukum, Objektivikasi tetap menganggap wahyu sebagai sumber hukum. Namun dia harus disepakati terdahulu menjadi sumber hukum negara, yaitu hukum positif. Dengan demikian, syariat islam tidak langsung menjadi hukum negara, namun terlebih dahulu melalui proses objektivikasi.40

Kunto menawarkan jalan Radikalisasi Pancasila.41Kunto menganggap Pancasila

adalah salah satu objektivikasi dari umat Islam. Sebagai sejarawan, ia melihat jejak rekam Pancasila yang awalnya dipandang dengan pendekatan mitos. Di masa berikutnya, Pancasila lebih dipandang dengan pendekatan Ideologi, seperti yang terjadi pada praktik perpolitikan Orde Baru. Dan, Titik temu anatara keduanya adalah, perlunya pendekatan Ilmiah terhadap Pancasila maupun Islam.42

Kunto kemudian menderivasikan kelima Sila menjadi, pertama Pluralisme Postif, kedua, kebebasan yang beradab, ketiga, demokrasi budaya, keempat, negara objektif , dan kelima¸ nasionalisme sosiologis. Dari Pluralisme Positif, kebebasan yang beradab, dan demokrasi budaya lahirlah keadilan hukum yang bersifat intersubjektif. Hukum dirumuskan dan berlaku kepada masing masing kelompok.43

Islam mengahrgai setiap perbedaan, dengan mengutip Kunto, Absori melihat masuknya Islam di Nusantara yang cukup elastis. Ia

39Kuntowijoyo, 1997, Identitas Politik Umat Islam, Bandung: Mizan, hlm 66 40Ibid, hlm 69.

41Radikalisasi dalam hal ini dimaksudkan sebagai Revolusi gagasan. Radikalisasi berarti membuat Pancasila tegar, efektif, dan jadi petunjuk bagaimana negara ini diorganisir. Kuntowijoyo dalam Absori, Ibid, hlm 310.

(11)

mencontohkan beberapa masjid pertama dengan bentuk arstiektur lokal. Berbeda dengan Kristen yang membuat gereja dengan arsitektur barat atau candi Budha dengan ciri stupanya.44

Bahkan Arif Wibowo melihat Islam sebagai pembentuk peradaban Jawa. Hal ini bisa dilihat keberadaan pendidikan pesantren yang menyebabkan islamisasi jawa secara besar besaran. Kedatangan Orientalisme yang mengkaji sejarah jawa secara sepotong, menjadikan Jawa kembali disimbolkan kepada watak elitis Hindu dan Budha, dan menutup peran dari Islam yang justru lebih merakyat.45

Wujud keadilan hukum dari pluralisme positif ialah bersifat intersubjektif. Artinya setiap kelompok dengan langgam hukumnya diterapkan terhadap kelompoknya sendiri. Bagi ummat Islam berlaku Syariat Islam, begitupun Hukum Kristen untuk pemeluk Kristen, dan seterusnya. Termasuk terhadap kelompok kelompok adat, berlaku pula hukum mereka untuk mereka sendiri.

Terhadap perkara yang muncul antar kelompok suku maupun agama. Maka diperlukanlah Objektivikasi melalui musywarah. Apabila diterima secara luas oleh masyarakat, maka dapat diberlakukan secara luas. Keadilan semacam demikian, hampir bergerak dalam domain intersubjektif dan interobjektif, kemudian kembali kepada keadilan intersubjektif. Hal inilah yang menjadi tujuan dari Hukum Profetik.46

Keadilan semacam inilah dapat ditegakan dengan partisapasi aktif tokoh adat, pemuka agama, maupun keluarga korban. Mereka perlu dilibatkan dalam keputusan hukum, disamping saksi ahli. Mereka dilibatkan sebagai wujud eksplore terhadap kesepakatan antar golongan, maupun terhadap hukum hukum yang diterapkan secara internal untuk berkembang.

44Loc Cit.

45www.pspi-solo.com, Arif Wibowo, Peran Islam dalam memberadabkan jawa, 24 September 2015, diakses pada 29 Februari 2016.

(12)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...