JUDUL PROGRAM
INDUSTRY MICROALGAE VERTICULTURE SEBAGAI SOLUSI PENURUNAN EMISI KARBON DAN KONSEP INDUSTRI MASA DEPAN
DI INDONESIA
BIDANG KEGIATAN: PKM–GT
Diusulkan oleh :
Irene Dian Kinasih NIM. 12 250 0020 (Angkatan 2012) Achmad Zaimul Khaqqi Pamuji NIM. 13 250 0030 (Angkatan 2013) Mohammad Shoffi Al-Baihaqi NIM. 13 250 0013 (Angkatan 2013)
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
iii Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga karya tulis ini dapat tersusun.
Karya tulis ini disusun dalam rangka mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT). Melalui kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Tatang Sopandi, M.P, yang bersedia sebagai dosen pembimbing utama karya tulis ini,
2. Orang tua dan saudara-saudara kami yang telah merestui dan mendoakan langkah-langkah kami dalam menyusun karya tulis ini,
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini belum sempurna, meskipun demikian penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan, Insya Allah.
Surabaya, 08 Maret 2014
iv DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR TABEL... v
RINGKASAN ... vi
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 2
Manfaat ... 2
GAGASAN ... 2
Mikroalga Sebagai Penurunan Emisi Karbon ... 2
Bio-Diesel dan Bio-Ethanol Berbasis Mikroalga ... 3
Mikroalga Sebagai Produk Pangan dan Pakan ... 4
Konsep Dana Modal Penerapan Mikroalga ... 6
Solusi yang Pernah Ditawarkan ... 6
Gagasan Baru yang Ditawarkan... 7
Pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan... 8
Langkah-Langkah Strategis Implementasi Gagasan... 9
KESIMPULAN ... 10
Inti Gagasan ... 10
Teknik Implementasi Gagasan... 10
Prediksi Keberhasilan Gagasan... 11
DAFTAR PUSTAKA ... 12
v
Tabel Halaman
TabeL 1. Komposisi umum sumber makanan manusia dan mikroalga yang berbeda... 4 Tabel 2. Kandungan minyak dari beberapa spesies mikroalga ... 4 Tabel 3. Identifikasi pelaksana, sumber dana dan program industry
microalgae verticulture... 8 Tabel 4. Peranan instansi terkait dalam pengembangan industry
vi RINGKASAN
Pada tahun 2013 diperkirakan jumlah penduduk Indonesia bertambah menjadi 250 juta jiwa. Hal ini harus diiringi dengan pemenuhan kebutuhan lapangan kerja. Jumlah industri besar dan sedang di Indonesia pada tahun 2012 sekitar 23.257 unit (BPS, 2012). Sedangkan perkembangan UKM hingga kini telah mencapai 55,2 juta. (Redaksi Nasional Inilah, 2013). Industri memiliki kontribusi besar dalam kerusakan lingkungan. Penggunaan bahan bakar fosil yang terlampau luas menyebabkan perubahan iklim global, pencemaran lingkungan, dan masalah kesehatan (Chen et al., 2011). Pada tahun 2000 tercatat emisi CO2di Indonesia sebesar 1.720 juta ton CO2 ekivalen (Kementrian Perindustrian, 2010). Selama ini salah satu cara untuk mereduksi CO2 adalah mengurangi emisi karbon dan membangun RTH (Dahlan, 1992). Namun tuntutan tempat tinggal membuat peralihan fungsi lahan RTH menjadi kawasan perumahan.
Karya tulis ini bertujuan merumuskan konsep penerapan mikroalga pada sektor industri di Indonesia berdasarkan kemampuan mikroalga dalam menurunkan emisi karbon, produk energi alternatif dan terbarukan berbasis mikroalga berupa biodiesel dan bioethanol, produk pangan dan pakan dari mikroalga lokal dan penyusunan kebijakan pemerintah yang menunjang keberlangsungan program. Gagasan ini ditulis dengan dengan analisis dari beberapa permasalahan yang terjadi pada sektor industri di Indonesia yang dikombinasi dengan solusi logis berdasarkan tinjauan pustaka yang ada.
Penerapan mikroalga dalam menurunkan emisi karbon dilakukan secara vertikultur sebagai solusi penyempitan lahan. Emisi karbon dari cerobong asap akan disalurkan ke kolam mikroalga. Gas CO2 akan larut dalam air dan dimanfaatkan mikroalga pada proses fotosintesis. Setelah pemanenan, mikroalga akan dipisahkan antara bersaing dengan pangan dan tidak bersaing dengan pangan. Instansi dan organisasi yang dapat berperan dalam pelaksanaan dan pengembangan program ini antara lain pemerintah, industri dan kalangan akademisi. Sedangkan pendanaan bagi UKM dapat diperoleh dari dana pemerintah melalui program PNPM Mandiri serta KUR sebagai program berkelanjutan. Adanya penerapan mikroalga diharapkan dapat menurunkan emisi karbon pada sektor industri, sumber energi alternatif terbarukan dan bentuk usaha baru yang potensial berupa produk mikroalga lokal serta menjadikan Indonesia lebih hijau.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada tahun 2013 menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), diperkirakan jumlah penduduk Indonesia bertambah menjadi 250 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun (Redaksi Republika, 2013). Laju pertumbuhan penduduk yang cepat harus diiringi dengan pemenuhan kebutuhan lapangan kerja, pangan dan tempat tinggal yang cukup dan layak. Tuntutan lapangan pekerjaan membuat perkembangan industri di Indonesia semakin pesat. Jumlah industri besar dan sedang di Indonesia pada tahun 2012 sekitar 23.257 unit (Badan Pusat Statistik, 2012). Sedangkan perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) hingga kini telah mencapai 55,2 juta. (Redaksi Nasional Inilah, 2013).
Industri memiliki kontribusi besar dalam kerusakan lingkungan. Saat ini, 80% kebutuhan energi global dihasilkan dari bahan bakar fosil, namun penggunaan yang terlampau luas menyebabkan perubahan iklim global, pencemaran lingkungan dan masalah kesehatan (Chen et al., 2011). Emisi CO2 dari industri bisa mencapai 1,25 metrik ton per kapita (Luken, et al., 2002). Pada tahun 2000 tercatat emisi CO2 di Indonesia sebesar 1.720 juta ton CO2 ekivalen, jika tidak ada aksi pengurangan emisi, maka pada tahun 2020 akan menjadi 2.950 juta ton CO2 ekivalen (Kementrian Perindustrian, 2010). Emisi CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat menyebabkan global warming. Jika gas rumah kaca di bumi semakin menebal maka sinar UV yang masuk ke bumi dan dibiaskan oleh bumi akan dipantulkan kembali oleh lapisan gas rumah kaca. Akibatnya bumi semakin panas, sehingga mengakibatkan naiknya permukaan laut karena mencairnya es di kutub utara dan selatan (Triana, 2008). Karena itulah dibutuhkan solusi teknologi untuk mengurangi tingginya emisi CO2.
2
diatas solusi yang ditawarkan berupa penerapan mikroalga dengan metode vertikultur sebagai pereduksi emisi gas CO2. Kelebihan metode ini adalah hemat tempat, hemat biaya serta dapat diterapkan oleh semua kalangan industri maupun masyarakat. Mikroalga tersebut selanjutnya akan dimanfaatkan sebagai energi alternatif dan terbarukan berupa Biodiesel dan Bioethanol. Selain itu juga dimanfaatkan sebagai produk pangan dan pakan. Indonesia sebagai negara tropis, memiliki temperatur dan komposisi kadar garam tinggi sehingga sangat sesuai untuk pertumbuhan mikroalga. Berdasarkan beberapa kelebihan inilah yang membuat mikroalga layak diaplikasikan sebagai solusi penurunan emisi gas buang dan konsep industri masa depan di Indonesia.
Tujuan
Karya tulis ini bertujuan merumuskan konsep pengembangan mikroalga yang implementatif, efektif dan efisien dalam menurunkan emisi gas buang industri serta mampu menjadi konsep industri mandiri masa depan di Indonesia.
Manfaat
Manfaat karya tulis ini adalah menambah pengetahuan dan menggugah Pemerintah dan sektor industri untuk menerapkan mikroalga sebagai solusi penurunan emisi gas buang, penggunaan energi alternatif terbarukan dan bentuk usaha baru yang potensial berupa produk mikroalga lokal.
GAGASAN
Mikroalga Sebagai Penurunan Emisi Karbon
telah melakukan uji coba kultur fitoplankton air tawar dan air laut dalam sebuah FBR airlift sistem batch. Pada uji coba tersebut telah dihasilkan penurunan gas CO2secara meyakinkan, yakni konsentrasi CO2sekitas 12% pada awal percobaan dapat diturunkan menjadi mendekati 0% dalam waktu sekitar 7 hari oleh spesies Chlorella sp. dan sekitar 13 hari oleh spesies Chaetoceros sp. (Santoso, 2009).
Bio-Diesel dan Bio-Ethanol Berbasis Mikroalga
Biodiesel terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani yang mengandung trigliserida. Trigliserida terdiri dari tiga rantai asam lemak yang digabungkan oleh molekul gliserol. Proses pembuatan biodiesel atau transesterifikasi merupakan proses penggantian molekul gliserol dengan methanol yang kemudian membentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang disebut biodiesel. Proses pembuatan
biodiesel harus memenuhi beberapa parameter seperti kontinuitas bahan baku harus terjaga, ongkos produksi harus lebih rendah dari produksi minyak bumi, produk yang dihasilkan harus memenuhi standar bahan bakar (John et al., 2011).
Berdasarkan parameter tersebut, mikroalga merupakan biomassa yang potensial untuk digunakan sebagai bahan baku produksi biodiesel karena tingkat pertumbuhannya sangat tinggi serta memiliki fraksi lipid yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Banyak teknologi yang diteliti untuk mengekstraksi minyak (lipid) dari mikroalga, namun hanya beberapa teknologi yang umum digunakan. Teknologi tersebut antara lain: expeller/ pengepresan minyak, ekstraksi cair-cair dengan menggunakan solven, Supercritical Fluid Extraction (SFE) dan teknik ultrasound (John et al., 2011).
4
Kelebihan dari penggunaan mikroalga sebagai bahan baku produksi bioethanol antara lain: proses fermentasi memerlukan energi yang lebih sedikit dibandingkan dengan proses produksi biodiesel, selain itu produk samping yang berupa karbon dioksida dapat digunakan kembali sebagai sumber karbon dalam proses kultivasi mikroalga (John et al., 2011).
Mikroalga Sebagai Produk Pangan dan Pakan
Mikroalga merupakan sumber biomassa yang mengandung beberapa komponen penting diantaranya karbohidrat, protein, asam lemak dll. Komposisi umum sumber makanan dan mikroalga ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Komposisi umum sumber makanan manusia dan mikroalga yang berbeda
Komoditas Protein Karbohidrat Lemak
Daging 43 1 34
Kedelai 37 30 20
Chlorella vulgaris 51–58 12–17 14–22
Dunaliella salina 57 32 6
Porphyridium cruentum 28–39 40–57 9–14 Scenedesmus obliquus 50–56 10–17 12–14
Spirulina maxima 60–71 13–16 6–7
Synechococcus sp. 63 15 11
(Sumber : Spolaore et al., 2006)
Selain itu, mikroalga juga mempunyai kandungan minyak yang ditunjukan pada tabel 2.
Tabel 2. Kandungan minyak dari beberapa spesies mikroalga
Mikroalga Kandungan minyak (% berat kering) Botryococcus braunii 25–75
Dunaliella primolecta 23
Nannochloropsis sp. 31–68
Neochloris oleoabundans 35–54
Schizochytrium sp. 50–77
(Sumber: John et al., 2011; Mata et al., 2010)
Mikroalga secara alami mengandung asam lemak omega 3 yang dapat diekstrak dan dipurifikasi untuk dijadikan produk nutrisi yang bermanfaat bagi manusia. Asam lemak omega-3 (PUFA n-3) merupakan asam lemak tak jenuh ganda yang terdapat dalam makanan sebagai α -linolenat acid (ALA, C18:3, n-3) (Chew et al., 2008; Kalogeropoulos et al., 2010). ALA merupakan rantai terpendek dari n-3 dan banyak terkandung dalam minyak nabati dan kacang-kacangan. Eicosapentaenoic acid (EPA, C20:5, n-3) dan docosahexaenoic acid (DHA, C22:6, n-3) merupakan produk turunan dari n-3 yang banyak terdapat dalam ikan dan mikroorganisme lain seperti mikroalga dan bakteri (Kalogeropoulos et al., 2010; Medina et al., 1999).
ALA dapat dikonversi menjadi EPA dan DHA dalam tubuh, namun konversinya sangat terbatas dan tidak efisien, oleh karena itu n-3 harus disediakan dalam bentuk suplemen makanan. Apabila dibandingkan dengan minyak omega 3 dari ikan, mikroalga memproduksi sendiri minyak omega 3 dalam tubuhnya dan membuat proses produksinya lebih sederhana dan ekonomis. Mikroalga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi dan kosmetika. Yuan dan Walsh (2006) menjelaskan bahwa konsumsi alga laut berkorelasi menurunkan tingkat penderita kanker payudara di Asia Timur. Talyshinsky et al. (2002) menjelaskan bahwa dekstran sulfat dan polisakarida yang dihasilkan mikroalga berpotensi menghambat HIV tipe 1 dan 2 dengan cara menghambat induksi sitopatogenetik dan ekspresi antigen dari virus HIV.
6
dicerna oleh ternak (Chen et al., 2011; Thajuddin & Subramanian, 2005). Mikroalga terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan berat badan pada ikan, dan babi, selain itu mikroalga yang dijadikan pakan ayam dapat menurunkan kandungan kolesterol dalam telur yang dihasilkan serta warna dari telur menjadi lebih gelap akibat pertambahan kandungan pigmen karoten (Chen et al., 2011).
Konsep Dana Modal Penerapan Mikroalga
Penerapan mikroalga pada sektor industri memerlukan pendanaan yang didapatkan dari dana industri tersebut dan dana pemerintah yang didapatkan dari beberapa sumber antara lain :
1. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM Mandiri) menggunakan konsep pemberdayaan masyarakat (community development) sebagai pendekatan operasionalnya untuk meningkatkan
efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, 2014).
2. Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan fasilitas penjaminan kredit dari Pemerintah melalui PT. Askrindo dan Perum Sarana Pengembangan Usaha. Program ini merupakan fasilitas pembiayaan yang dapat diakses oleh UMKM dan Koperasi terutama yang memiliki prospek bisnis yang baik dan memiliki kemampuan untuk mengembalikan (Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha, 2007).
Solusi yang Pernah Ditawarkan
membuat peralihan fungsi lahan menjadi perumahan sehingga pembuatan RTH seringkali terabaikan.
Gagasan Baru yang Ditawarkan
Berdasarkan fakta empiris yang ada dan solusi yang pernah ditawarkan pada industri serta kondisi saat ini, maka upaya terobosan untuk mengatasi permasalahan gas buang industri dapat dilakukan melalui penerapan mikroalga. Penerapan ini dengan metode vertikultur sebagai solusi penyempitan lahan di Indonesia. Pipa cerobong asap akan disalurkan ke dalam kolam mikroalga vertikultur. Gas CO2 akan terlarut dalam air dan dimanfaatkan mikroalga pada proses fotosintesis sekaligus menghambat gas CO2menuju atmosfer.
Pada selanjutnya mikroalga akan dipanen secara bertahap. Teknik yang banyak diaplikasikan untuk proses pemanenan mikroalga adalah flokulasi, sentrifugasi dan filtrasi. Kinerja teknik pemanenan secara kuantitatif dapat dievaluasi menggunakan beberapa parameter antara lain: laju pemisahan air, kandungan padatan pada lumpur mikroalga dan yield dari proses. Mikroalga yang tidak bersaing dengan pangan akan dijadikan sebagai energi alternatif dan terbarukan berupa biodiesel dan bioethanol pada industri tersebut maupun peluang ekspor ke luar negeri. Mikroalga yang memiliki kandungan nutrisi tinggi akan dijadikan produk pangan, pakan serta bidang kesehatan.
8
Pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan
Gagasan ini dapat terwujud melalui partisipasi aktif pihak-pihak sebagai berikut :
Tabel 3. Identifikasi pelaksana, sumber dana dan program industry microalgae verticulture
Pelaksana Sumber dana Program yang
diterapkan
Dinas Lingkingan Hidup dan Dinas
Perindustrian
Alokasi dana APBN dan APBD pemerintah
Pelatihan dan pelaksanaan pembuatan microalgae verticulture
pada industri secara menyeluruh
Dinas Perikanan dan Kelautan dan Dinas
Pariwisata
Pengajuan usulan sebagai program PNPM Mandiri
bagi UKM Pelatihan dan pelaksanaan pembuatan Biodiesel dan Bioethanol berbasis mikroalga sebagai energi alternatif industri
tersebut, masyarakat maupun peluang untuk
ekspor ke luar negeri Kalangan akademisi
(mahasiswa/Perguruan Tinggi)
Pengajuan usulan melalui program KUR sebagai modal berkelanjutan bagi
UKM
Pelatihan dan pelaksanaan pembuatan
produk pangan dan pakan dari mikroalga
Tabel 4. Peranan instansi terkait dalam pengembangan industry microalgae verticulture berkelanjutan
Instansi Peranan
Lembaga penelitian
Melakukan riset mikroalga yang menghasilkan output berkualitas
Melakukan riset metode penerapan mikroalga pada industri dengan mudah dan ekonomis
Universitas / Institut perikanan dan kelautan
Melakukan riset metode pembuatan Biodiesel dan Bioethanol yang mudah sesuai dengan karakteristik mikroalga, serta riset mengenai potensi pasar dan rencana bisnis
Pemerintah
Kebijakan dan arahan untuk konversi lahan sempit di industri menjadi microalgae farming dengan metode vertikultur
Memberikan kemudahan dalam mengalokasikan dana melalui program PNPM Mandiri dan KUR bagi UKM
Langkah-Langkah Strategis Implementasi Gagasan
Gagasan penerapan akuaponik ini dapat diimplementasikan dengan baik apabila didukung oleh hal-hal strategis sebagai berikut :
1. Adanya riset berkelanjutan dalam pengembangan mikroalga sebagai pereduksi emisi gas buang, energi alternatif, produk pangan dan pakan. 2. Pemerintah mensosialisasikan penerapan mikroalga di setiap industri
secara menyeluruh.
3. Penegasan kembali aturan dalam UU tentang upaya penurunan emisi gas buang industri.
10
5. Komitmen antara pemerintah, industri dan masyarakat untuk menjadikan Indonesia lebih hijau dan berpartisipasi dalam mengatasi pemanasan global.
6. Diperlukan riset untuk memperjelas tujuan, manfaat, biaya dan dampak dari strategi penerapan mikroalga agar dapat meyakinkan industri dalam melihat peluang ini.
KESIMPULAN
Inti Gagasan
Gagasan industry microalgae verticulture dan konsep industri masa depan ini pada dasarnya meliputi membantu upaya pemerintah dalam menurunkan emisi gas buang dari sektor industri, upaya penggunaan energi alternatif dan terbarukan berupa biodiesel dan bioethanol berbasis mikroalga dengan konsep green industry, meningkatkan kesejahteraan melalui produk mikroalga lokal karya anak
bangsa, penyusunan kebijakan pemerintah dalam menunjang keberlangsungan program, dan analisis potensi dan prospek penjualan mikroalga Indonesia sebagai peluang ekspor melalui sektor pariwisata.
Teknik Implementasi Gagasan
Langkah-langkah implementasi untuk mewujudkan gagasan akuaponik berbasis kemandirian ini adalah :
1. Identifikasi potensi pengembangan mikroalga sesuai dengan kondisi tiap daerah.
2. Melakukan pendekatan secara gradual (bertahap) kepada industri, UKM maupun pemilik modal sebagai awal pelaksanaan kerjasama.
3. Sosialisasi dan penyuluhan penerapan mikroalga yang akan dilaksanakan oleh kalangan akademisi melalui program pengabdian masyarakat.
5. Penanaman kepercayaan kepada industri, UKM maupun pemilik modal akan menjadi lebih baik jika dilakukan penerapan mikroalga.
6. Mobilisasi untuk melaksanakan program yang di sepakati bersama.
7. Melakukan pengajuan usulan dana melalui program PNPM Mandiri dengan konsep pemberdayaan masyarakat mandiri dan kredit murah melalui program KUR sebagai modal berkelanjutan untuk UKM.
8. Montoring dan pembimbingan penerapan mikroalga pada setiap industri. 9. Melakukan mekanisme evaluasi secara periodik dan professional.
Prediksi Keberhasilan Gagasan
12
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2012. Jumlah perusahaan industri besar sedang menurut subsektor, 2000-2012. dilihat 03 Februari 2014. <www.bps .go.id>.
Chen CY, Yeh KL, Aisyah R, Lee DJ, Chang JS. 2011. Cultivation, photobioreactor design and harvesting of microalgae for biodiesel production: A critical review. Bioresource Technology. 102: 71–81. Chew YL, Lim YY, Omar M, Khoo KS. 2008. Antioxidant activity of three edible
seaweeds from two areas in South East Asia. LWT. 41: 1067–1072. Dahlan EN. 1992. Hutan Kota: untuk pengelolaan dan peningkatan kualitas
lingkungan hidup. Jakarta: Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia.
Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha. 2007. Kredit Usaha Rakyat. dilihat 10 Februari 2014. <http://www.depkop.go.id/>.
John RP, Anisha GS, Nampoothiri KM, Pandey A. 2011. Micro and macroalgal biomass: A renewable source for bioethanol. Bioresource Technology. 102: 186–193.
Kalogeropoulos N, Chiou A, gavala E, Christea M, Andrilkopoulos NK. 2010. Nutritional evaluation and bioactive microconstituents (carotenoids, tocopherols, sterols andsqualene) of raw and roasted chicken fed on DHA-rich microalgae. Food Research International. 43: 2006–2013. Kementrian Perindustrian. 2010. Kemenperin luncurkan program pengurangan
emisi CO2 di sektor industri. dilihat 10 Februari 2014. <http://www.kemenperin.go.id/>.
Lihua C, Lin Z, Huanlin C, Congjie G. 2006. Carbon dioxide removal from air by microalgae cultured in a membrane-photobioreactors. Separation and Purification Tecnology Journal. 50(3): 324-329.
Luken R, Alvarez J, Hesp P. 2002.Developing Country’s Industrial Source Book.
Vienna: United Nation Industrial Development Organization.
Medina AR, Cerda´n LE, Gime´nez AG, Pa´ez BC, Gonza´lez MJI, Grima EM. 1999. Lipase-catalyzed esterification of glycerol and polyunsaturated fatty acids from fish and microalgae oils. Journal of Biotechnology. 70: 379–391.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. 2014. Tentang PNPM. dilihat 10 Februari 2014. <http://www.pnpm-mandiri.org/>.
Redaksi Nasional Inilah. 2013. Jumlah UKM di indonesia capai 55,2 juta. dilihat 10 Februari 2014. <http://nasional.inilah.com/>.
Redaksi Republika. 2013. Penduduk indonesia diperkirakan 250 juta jiwa. dilihat 05 Februari 2014. <http://www.republika.co.id/>.
Santoso AD. 2009. Technical Report Analisa data dan hasil uji coba kemampuan serapan CO2oleh kultur mikroalga pada fotobioreaktor. Pusat Teknologi
Lingkungan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Spolaore P, Joannis-Cassan C, Duran E, Isambert A. 2006. Commercial Applications of Microalgae. Journal of Bioscience and Bioengineering. 101: 87-96.
Talyshinsky M, Souprun Y, Huleihel M. 2002. Anti-viral activity of red microalgal polysaccharide againts retroviruses. Cancer Cell International. 2(8): 1-7
Thajuddin N, Subramanian G. 2005. Cyanobacterial biodiversity and potential applications in biotechnology. Current Science. 89: 47–57.
Triana V. 2008. Pemanasan Global. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2(02).
Undang-Undang Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007. Tentang Penataan Ruang.
Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas
No Nama / NIM Program Studi Alokasi Waktu (jam/ minggu) Uraian Tugas 1
Irene Dian K. 122500020 Ketua kelompok
Biologi 6 jam per minggu
- Koordinasi kerja kelompok
- Pengusul ide gagasan
2 Ach. Zaimul Khaqqi P. 132500030 Anggota Biologi
6 jam per minggu
- Editing proposal - Pengkaji materi dengan
dosen pembimbing 3 Mohammad Shoffi Al-baihaqi 132500013 Anggota Biologi
6 jam per minggu