A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial yang hidup ditengah-tengah masyarakat menjadikan manusia akan selalu membutuhkan bantuan antara individu satu dengan individu lainnya. Hal yang seperti itu akan menjadikan setiap individu perlu berinteraksi dengan sesamanya. Proses interaksi yang terjadi dalam pembelajaran di sekolah tentu didasari dengan beberapa nilai sosial agar inteaksi berjalan dengan baik. Nilai sosial akan menjadi pedoman setiap individu untuk bersikap ketika berinteraksi dengan individu lainnya.
Saat ini, pendidikan di Indonesia sedang menerapkan kurikulum 2013. Pengajaran mengenai penerapan nilai-nilai sosial telah terangkum dalam Kurikulum 2013. Terutama di sekolah dasar, bagi peserta didik, pendidik diharapkan mampu memberi teladan untuk bersikap positifdan mampu membiasakan peserta didik untuk bertindak tidak menyimpang dari nilai melalui kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan Kompetensi Dasar pada Kurikulum 2013. Namun pada prakteknya, terdapat masalah penyimpangan nilai-nilai sosial dalam pembelajaran yang melibatkan peserta didik maupun guru.
akan tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi masalah-masalah tersebut. Maka dari itu diperlukan upaya-upaya pemecahan dan pencegahan agar masalah tersebut tidak terlulang kembali di sekolah terkait dan sekolah lain.
2. Rumusan Masalah
a. Nilai apa saja yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Kurikulum 2013?
b. Bagaimana upaya implementasi nilai-nilai sosial dalam pembelajaran Kurikulum 2013?
c. Bagaimana implementasi nilai-nilai sosial pembelajaran kurikulum 2013 terhadap sikap peserta didik dikehidupan sehari-hari?
3. Tujuan
a. Untuk mengetahui nilai apa saja yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran kurikulum 2013.
b. Untuk mengetahui upaya implementasi nilai-nilai sosial dalam pembelajaran kurikulum 2013
c. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kurikulum 2013 terhadap sikap peserta didik dikehidupan sehari-hari
4. Manfaat
a. Dapat mengetahui nilai apa saja yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran kurikulum 2013.
b. Dapat mengetahui implementasi nilai-nilai sosial dalam pembelajaran kurikulum 2013.
B. PEMBAHASAN 1. Pengertian Nilai
Karena bervariasinya pengertian nilai, sulit untuk mencari kesimpulan yang komprehensif agar mewakili setiap kepentingan dan berbagai sudut pandang, tetapi ada hal yang disepakati dari semua pengertian nilai tersebut, bahwa nilai berhubungan dengan manusia, dan selanjutnya nilai itu penting. Untuk melihat sejauh mana variasi pengertian nilai tersebut, terutama bagaimana hubungan antara setiap pengertian itu dengan pendidikan, di bawah ini akan dikemukakan sebelas definisi yang diharapkan mewakili berbagai sudut pandang.
a. Menurut Cheng (1955): nilai merupakan sesuatu yang potensial dalam arti terdapatnya hubungan yang harmonis dan kreatif, sehingga berfungsi untuk menyempurnakan manusia, sedangkan kualitas merupakan atribut atau sifat yang seharusnya dimiliki. (dalam Lasyo, 1999:1)
b. Menurut Dictionary of Sociologi and Related Science: Value……., the belived capacity of any object to satisfy human desire, the quality of any object to satisfy human desire, the quality of any object which causes it to be of interest to an individual oe a group. (Nilai adalah kemampuan yang diyakini terdapat pada suatu objek untuk memuakan hasrat manusia, yaitu kualitas objek yang menyebabkan tertariknya individu atau kelompok). (dalam Kaelan, 2002:174) c. Menurut Frankena: Nilai dalam filsafat dipakai untuk menunjuk kata benda
abstrak yang artinya “keberhargaan” (worth) atau ”kebaikan” (goodness) dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penelitian. (dalam Kaelan, 2002:174)
d. Menurut Lasyo (1999:9) sebagai berikut: nilai bagi manusia merupakan landasan atau motivasi dalam segala tingkah laku atau perbuatannya.
f. Menurut Jack R. Fraenkel (1977:6): A Value is an idea- a concept- about what someone thinks is important in life. (Nilai adalah gagasan-konsep-tentang sesuatu yang dipandang penting oleh seseorang dalam hidup).
g. Menurut Charles R. Knikker (1977:3): Value is a cluster of attitude which generate either an action or decision to deliberately avoid an action. (Nilai adalah sekelompok sikap yang menggerakkan perbuatan atau keputusan yang dengan sengaja menolak perbuatan).
h. Menurut Herbert Larry Winecoff (1987:1) Value a set of attitude (scheme) which generate or couse a judgement which guide action or in action (a lack of action) and which provide a standard or a set of principles.
i. Menurut Dardji Darmodiharjo (1986:36): nilai adalah yang berguna bagi kehidupan manusia jasmani dan rohani.
j. Menurut John Dewey dalam Dardji, D., (1986:36): Value is object of sosial interest.
Dari beberapa definisi para tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan kualitas atau sifat yang terdapat pada suatu objek sebagai garis pembimbing perilaku yang akan dipilih untuk dicapai.
2. Jenis-Jenis Nilai Sosial
Nilai sosial merupakan segala sesuatu yang dianggap sangat berharga oleh masyarakat. Masyarakat beranggapan tentang sesuatu yang diharapkan, indah, dan benar.
Pendekatan penenaman nilai adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri peserta didik. Pendekatan nilai nilai sosial perlu ditanamkan kepada peserta didik karena nilai sosial berfungsi sebgai acuan bertingkah laku dan berinteraksi dengan sesama sehingga keberadaannya diterima dimasyarakat.
a. love (kasih sayang) yang terdiri atas pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaan, dan kepedulian.
b. responsibility (tanggung jawab) yang terdiri atas nilai rasa memiliki, disiplin dan empati
c. life harmony (keserasian hidup) yang terdiri atas nilai keadilan, toleransi, kerjasama, dan demokrasi. (Zubaedi, 2009: 12-13)
Ada tiga jenis nilai sosial menurut Prof Dr Notonagoro yaitu:
1. Nilai Material adalah nilai yang meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
2. Nilai Vital adalah nilai yang meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanak berbagai aktivitas. 3. Nilai Kerohanian adalah nilai yang meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan
dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia. Nilai kerohanian dibedakan menjadi empat amacam yaitu:
a) Nilai kebenaran (kenyataan) yang bersumber dari unsur akal manusia (ratio, budi, cipta).
b) Nilai keindahan yang bersumber dari unsur rasa manusia (perasaan, estetis). c) Nilai moral (kebaikan) yang bersumber dari unsur kehendak atau kemauan
(karsa, etika).
d) Nilai kerohanian yang merupakan nilai ketuhanan, kerohanian yang tinggi dan mutlak.
Sedangkan nilai yang dapat ditanamkan pada peserta didik menurut Deni Damayanti (2014: 43-46) sebagai berikut.
a. Nilai kejujuran adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik diri dan pihak lain.
c. Nilai ketangguhan adalah sikap dan perilaku pantang menyerah atau tidak mudah putus asa ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehingga mampu mengatasi kesulitan dalam mencapau tujuan.
d. Nilai demokratis adalah cara berpiki, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
e. Nilai kepedulian adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan manusia, alam, dan tatanan disekitar dirinya.
f. Nilai kemandirian adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
g. Nilai berpikir adalah berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki.
h. Nilai keberanian mengambil resiko adalah kesiapan menerima resiko atau akibat yang mungkin timbul dari tindakan yang dilakukan.
i. Nilai berorientasi pada tindakan adalah kemampuan untuk mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata.
j. Nilai berjiwa kepemimpinan adalah kemampuan mengarahkan dan mengajak individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dengan berpeganng pada asas-asas kepemimpinan yang berbudaya.
k. Nilai kerja keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas, baik tugas belajar maupun tugas pekerjaan, dengan sebaik-baiknya.
m. Nilai gaya hidup sehat adalah segala uapaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaaan buruk yang dapat menggangu kesehatan.
n. Nilai kedisiplinan adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
o. Nilai percaya diri adalah sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.
p. Nilai keingintahuan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mrngrtahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan dengar.
q. Nilai cinta ilmu adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan. r. Nilai kesadarn akan hak dan kewajiban diri dan orang lain adalh sikap tahu dan
mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.
s. Nilai kepatuhan terhadap aturan-aturan sosial adalah sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. t. Nilai penghargaan pada karya dan prestasi orang lain adalah sikap dan tindakan
yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
u. Nilai kesantunan adalah sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kesemua orang.
3. Upaya Implementasi Nilai-Nilai Sosial dalam Pembelajaran Kurikulum 2013
Masalah penyimpangan nilai dalam pembelajaran dapat terjadi karena berbagai faktor penyebab. Salah satu faktor penyebab tersebut adalah pendidikan di sekolah yang kurang atau bahkan sama sekali tidak melakukan upaya penerapan nilai-nilai sosial dalam pembelajaran. Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam hal ini pendidik atau guru antara lain melalui: a) penerapan kompetensi inti 1 dan 2 kurikulum 2013; b) model pembelajaran kooperatif jigsaw; dan c) guru sebagai teladan yang baik.
a. Penerapan Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 Kurikulum 2013
Pada bab sebelumnya telah dijabarkan nilai-nilai sosial yang dapat diterapkan pada pembelajaran, diantaranya ada nilai kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan religius. Implementasi nilai-nilai sosial tersebut secara tersirat maupun tersurat dapat dilihat dari Kompetensi Inti (KI) dan dijabarkan di Kompetensi Dasar (KD) pembelajaran Kurikulum 2013.
Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 mencakup tentang aspek afektif. Aspek afektif adalah aspek yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. pelaksanaan. Pendidik dapat menerapkannya pada proses pembelajaran sesuai dengan Kompetensi Dasar yang ada dalam Kurikulum. Berikut contoh Kompetensi Inti 1 dan 2 Mata Pelajaran IPS:
Kelas IV
1.1 Menerima karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala perubahannya
1.2 Menjalankan ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat
1.3 Menerima karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
1.1 Menerima karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala perubahannya
1.2 Menjalankan ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat
1.3 Menghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
Kelas VI
1.1 Menerima karunia Tuhan YME yang telah memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik
1.2 Menerimaadanya kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat yang mengatur kehidupan manusia dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia
1.3 Menghargai karunia dan rahmat Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
Dari kompetensi dasar di atas dapat diambil nilai sosial yang dapat diimplementasikan yaitu nilai religius. Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya, nilai religius mencakup hubungan manusia dengan Tuhan. Bentuk implementasinya dalam pembelajaran di kelas adalah berdoa sebelum dan sesudah pelajaran dimulai. Guru selalu mengingatkan peserta didik untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang diberikan.
Kelas IV
2.1. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli, santun dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pada masa Hindu Buddha dan Islam dalam kehidupannya sekarang 2.2. Menunjukkan perilaku rasa ingin tahu, peduli, menghargai, dan
bertanggungjawab terhadap kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik
2.3. Menunjukkan perilaku santun, toleran dan peduli dalam interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya
Kelas V
penjajahan dan gerakan kebangsaan dalam menumbuhkan rasa kebangsaan
2.2 Menunjukkan perilaku jujur, sopan, estetikadan memiliki motivasi internal ketika berhubungan dengan lembaga sosial, budaya, ekonomi dan politik
2.3 Menunjukkan perilaku peduli, gotongroyong, tanggungjawab dalam berpartisipasi penanggulanganpermasalahan lingkungan hidup Kelas VI
2.1 Menunjukkan perilaku cinta tanah air dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai perwujudan rasa nasionalisme
2.2 Memiliki kepedulian dan penghargaan terhadap lembaga sosial, budaya, ekonomi dan politik
2.3 Menunjukkan perilaku tanggung jawab, peduli, percaya diri dalam mengembangkan pola hidup sehat, kelestarian lingkungan fisik, budaya, dan peninggalan berharga di masyarakat
Kompetensi dasar diatas mencakup nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Nilai kejujuran dapat diimplementasikan dengan membiasakan peserta didik mengerjakan soal ujian dengan jujur. Nilai kedisiplinan yang diterapkan oleh guru mulai sebelum masuk sekolah. guru memberi teladan dengan masuk sekolah jauh sebelum pukul bel masuk, sehingga peserta didik akan mencontoh gurunya dengan datang sebelum bel masuk. Jika peserta didik terlambat masuk sekolah, maka peserta didik tersebut harus meminta ijin kepada guru piket. Nilai tanggung jawab dapat diimplementasikan dengan pemberian tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik di rumah maupun pada saat proses belajar di kelas. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta didik betul-betul terlatih tanggung jawab baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Selain dengan tugas, guru juda dapat meminta kepada peserta didiknya untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan kelasnya. Jenis kegiatannya bisa berupa pembentukan regu piket, peserta didik wajib membersihkan kelas sesuai dengan jadwal piket yang berlaku.
didik ingin keluar kelas peserta didik harus meminta ijin dengan sopan kepada guru. Kemudian, dari KD tersebut terdapat nilai toleransi. Nilai toleransi ini dapat diimplementasikan ketika diskusi di kelas. Peserta didik dibiasakan menghormati pendapat temannya, memberi kesempatan teman untuk bertanya, dan tidak memotong pembicaraan.
baik bukan hanya semangat dan simpati dari temannya, tetapi Tuhan meruapan kunci yang memberikan kesembuhan atau keadaan yang lebih baik.
b. Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw
Pembelajaran kooperatif adalah starategi pembelajaran yang melibatkan partisispasi siswa dalam suatu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. (Nurhayati, 2002 : 25). Dalam sistem belajar yang kooperatif siwa belajar bekerjasama dengan anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri, dan membantu sesama anggota untuk belajar. Siswa dapat belajar dalam kelompok kecil dan dapat melalukanya seseorang diri.
Pembelajaran kooperatif mewadahi bagaimana siswa dapat berkerjasama dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama, situasi kooperatif merupakan bagian dari siswa untuk mencapai tujuan kelompok, siswa harus merasakan bahwa meraka akan mencapai tujuan kelompok, siswa harus merasakan bahwa mereka akan mencapai tujuan maka siswa lain dalam kelompoknya memiliki kebersamaan, artinya tiap anggota kelompok bersikap kooperatif dengan sesamnya anggota kelompoknya.
c. Guru sebagai Teladan Peserta Didik
Salah satu faktor pendidikan dan yang paling utama adalah pendidik. Pendidik atau guru merupakan ujung tombak pendidikan bangsa, karena orang yang menyampaikan materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan yang paling dekat dengan siswa ketika di sekolah adalah guru. Guru berperan sebagi model yang bisa diteladani oleh anak-anak. Banyak model yang dilihat oleh anak-anak di luar sekolah. Namun di sekolahlah yang diharapkan model itu bisa ditemukan oleh anak. Maka dari itu, guru harus memberikan contoh atau teladan yang baik bagi peserta didik. Hal tersebut wajib dilakukan sebagai upaya implementasi nilai-nilai sosial. Guru dapat memberikan contoh dalam menegakkan disiplin dan tata tertib, misalnya hadir tepat waktu di kelas dalam kegiatan pembelajaran dan berpenampilan rapi. Untuk menerapkan nilai toleransi, guru dapat membantu peserta didik dalam mengatasi kesulitan belajar tanpa membedakan status sosial, ekonomi, dan keadaan fisik peserta didik.
4. Pengaruh Implementasi Nilai Sosial dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 Terhadap Kehidupan Sehari-Hari
Berbica tentang pertilaku, perilaku merupakan sebuah kebiasan yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari dimanapun kapanpun dan dengan siapapunyang dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Dalam masyarakat perilaku merupakan sebuah hal yang penting bagi keharmonisan dalam bermasyarakat. Perilaku sneidiri terdiri dari dua yatiu perilaku baik dan perilaku buruk. Perilaku baik merupakan perilaku yang di idam idamkan oleh masyarakt agar dapat bersatu padu dalam bermasyarakat. Dengan berperilaku baik dapat dipastikan bahwa kita akan diterima didalam masyarakat luas. Karena perilaku baik mencerminkan bagaimana diri kita. Sebaliknya jika kita berperilaku buruk maka kita akan sulit diterima oleh masyarakat. Karena dengan berperilaku buruk, kita akan dapat merusak dari sistem nilai norma yang berlaku dalam masyarakat.
Perilaku baik merupakan perilaku yang diidam-idamkan oleh orang tua anak. Bahkan orang tua akan melakukan berbagai cara untuk mendidikan anak agar berperilaku baik. Orang tua juga pasti ingin anaknya lebih baik dari keduanya agar anaknya dapat hidup nyaman. Namun karena terbatasnya kemampuan orang tua dalm mendidik anak untuk memberikan penanaman nilai yang baik, akhirnya orang tua menyerahkan anak kepada lembaga pedidikan agar mendapatkan penanaman nilai yang baik. Selain itu orang tua juga berharap agar lembaga pendidikan tersebut dapat mendidik anaknya seperti anaknya sendiri sehingga dalam pemberian ilmu pengetahuan dan penanaman nilai baik dapat ditangkap secara maksimal oleh anak.
Pengaruh nilai-nilai diatas dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari sebagi berikut yaitu:
1. Nilai kedisiplinan
Disiplin merupakan suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Dispilin memiliki tujuan untuk memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, mendorong peserta didik melakukan yang baik dan benar, membantu anak memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah, dan anak belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya. Dengan disiplin anak akan menjadi lebih tertib dan teratur dalam menjalankan kehidupannya, serta anak juga dapat mengerti bahwa kedisiplinan itu amat sangat penting bagi masa depannya kelak, karena dapat membangun kepribadian anak yang kokoh dan bisa diharapkan berguna bagi semua pihak. Contohnya yaitu selalu mengerjakan tugas sekolah tepat waktu, beribadah tepat waktu, menepati janjinya dan lain-lain.
2. Nilai tanggung jawab
Tanggung jawab ialah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Dengan tanggung jawab anak akan memiliki rasa memiliki dan dimiliki sehingga anak akan selalu berusaha akan menepati atau menyelesaikan tugas-tugasnya dengan semaksimal mungkin. Anak akan berperilaku tanggung jawab karena takut mendapatkan hukuman.Selain itu juga membuat anak memiliki rasa bangga terhadap dirinya karena merasa dirinya dipercaya oleh orang lain.Contohnya ketika diberi amanah untuk menyapu rumah dilakukan sendiri tidak berganti menyuruh adik atau kakaknya.
Religius adalah sistem yang mengatur hubungan manusia, alam semesta dan penciptanya. Pengaruh nilai religius terhadap kehiupan sehari-hari yaitu anak akan selalu ingat kepada sang pencipta. Dengan demikian anak selalu menjalankan apa yang diperintahkan agamnya dan akann meninggalkan apa yang dilarang oleh agamanya. Contohnya yaitu yang agama islam yaitu menjalankan sholat tepat waktu dan tidak minun-minuman keras, sedangkan yang budha yaitu selalu beribadah setiap menjang matahari terbit dan sebelum matahari terbit dan tidak memakan hewan. Dan dengan penanaman nilai religius anak akan selalu berperilaku berhati-hati karena takut akan mendpatkan ganjaran atas apa yang dilakukan.
4. Nilai kejujuran
Jujur merupakan perilaku yang tertanam dalam diri manusia antara menyampaikan dengan kenyataan itu sama tanpa ada tambahan atau kurang satu patah kata pun. Pengaruh penanaman nilai kejujuran pada anak diantaranya yaitu membuat anak hati tenang karena tidak takut akan diketahui kebohongannya. Akan selalu berbica jujur karena takut mendapatkan dosa. Dengan disiplin juga akan menimbulakan sikap kemandirian karena anak memiliki rasa percaya diri. Anak akan memiliki rasa bangga terhapat dirinya karena jerih payahnya dihargai orang lain. Anak akan selalu berperilaku jujur karena jujur itu menyenangkan jujur itu mujur. Selain itu, berkikap jujur tentunya Tuhan akan member balasan yang tak terkira oleh kita. Contohnya tidak menyontek saat ulangan.
5. Nilai toleransi
orang lain menghargai dirinya begitu juga sebaliknya. Contohnya yaitu tidak menyindir agama lain, menghargai pendapat teman jika sedang berdiskusi.
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa penanaman nilai sangatlah penting. Apalagi jika penanaman nilai tersebut dilakukan pada saat anak masih dalam usia muda. Karena pada saat itu anak mudah sekali menagkap apa yang diberikan oleh orang tua maupun guru bahkan masyarakat utnuk ditiru dan dicontoh dalam keseharianya. Oleh sebab itu mari kita sebagai orang yang lebih dewasa baik sebagai orang tua, guru, kakak, masyarakat atau siapaun, marikita tanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak kecil supaya anak tersebut dapat tumbuh berkembang menjadi anak yang berperilaku baik, berintelektual tinggi yang bisa membangun bangsa ini. Dengan berperilaku baik juga akan membuat hidup kita kan menjadi nyaman, harmonis, tentram, dan damai.
C. PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Deni Damayanti. 2014. Panduan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Araska.
Setiadi, Elly M. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana
Zubaedi. 2009. Pendidikan Berbasis Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Fathurrohman. Implementasi Pendidikan Nilai dalam Proses Pembelajaran di SD
Muhammadiyah 3 Wirobrajan Kota Yogyakarta.
http://www.staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Fathurrohman,
%20S.Pd.,M.Pd/PendidikanNilai.pdf (diakses tanggal 28 September 2014, pukul 19.32)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Kurikulum 2013, Kompetensi Dasar Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI). http://www.pendidikan-
diy.go.id/file/mendiknas/kurikulum-2013-kompetensi-dasar-sd-ver-3-3-2013.pdf (diakses tanggal 29 September 2014, pukul 15.00)