• Tidak ada hasil yang ditemukan

this PDF file MENCARI MODEL EVALUASI DENGAN PENDEKATAN YANG SESUAI UNTUK PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL | N D K Indrayana | Nirmana DKV02040208

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "this PDF file MENCARI MODEL EVALUASI DENGAN PENDEKATAN YANG SESUAI UNTUK PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL | N D K Indrayana | Nirmana DKV02040208"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MENCARI MODEL EVALUASI DENGAN PENDEKATAN

YANG SESUAI UNTUK PENDIDIKAN DESAIN

KOMUNIKASI VISUAL

Maria N D K Indrayana

Dosen Jurusan Desain Komunikasi Visual Fakulitas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra

ABSTRAK

Prospek desain komunikasi visual pada tahun-tahun mendatang tampak lebih cerah dengan fenomena kenaikan belanja iklan tiga tahun terakhir dan kebebasan pers yang memicu kelahiran banyak media cetak dan media elektronik baru. Sehingga profesi ini akan semakin berperan penting. Di pihak lain ada kenyataan ditariknya sejumlah iklan yang tengah ditayangkan karena kritik yang diterimanya, sehingga desainer sebagai pengolah kreatif dianggap turut bertanggung jawab .

Dengan berbagai latar belakang itulah institusi pendidikan Desain Komunikasi Visual di Indonesia sebagai wadah penggodokan calon desainer dituntut untuk melahirkan desainer dengan kualitas terbaik. Maka proses studi menjadi penting. Untuk itu diperlukan model evaluasi dengan pendekatan yang sekiranya sesuai untuk pendidikan desain komunikasi visual, dewasa ini.

Kata kunci : model evaluasi, pendidikan desain komunikasi visual.

ABSTRACT

Visual communication design in coming years seem getting better. It can be seen by the growth of commercial advertisment in the last three years and the pers freedom make the printing media and new electronic media exist. It would make the Visual communication design proffesion is became important. In the other side, there is a fact that many of advertisement have been canceled because of many public critical. Because of this, the designer as a creatif person has to be responsible.

Because of this fenomena, education of visual communication design in Indonesia as an institution has to make the best quality designer. The process of study is become very important. Because of that reason, the evaluation model with suitable approach is needed for education of visual communication design.

Keywords : evaluation model, education of visual communication design.

PENDAHULUAN

Seorang seniman ketika menuangkan idenya ke dalam bentuk visual sesungguhnya

sedang melakukan penataan elemen-elemen estetis seperti garis, bentuk, ukuran, warna,

(2)

bentukan-bentukan tersebut. Sementara bagi pengamat, melalui pengamatan dan

perenungan karya tersebut kemudian dinilai sebagai sebuah keindahan atau malah dinilai

sebaliknya, oleh sekelompok pengamat berlatar belakang pengalaman yang lebih kurang

sama dan berdasarkan prinsip estetis yang dianut. Pendapat ini sejalan dengan apa yang

dikemukakan oleh Clive Bell, bahwa keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang

dalam dirinya memiliki pengalaman yang bisa mengenali wujud bermakna dalam suatu

benda karya seni.1 Kemampuan untuk merasakan dan menikmati hal-hal indah adalah anugerah Tuhan dan kesadaran akan ini baru diketahui dan dipelajari oleh ilmuan Yunani,

dan selanjutnya dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumargen (1714-1762) sebagai

Aesthetica’ dan yang dikenal kemudian dengan istilah ‘Estetika’. Berdasarkan pengertian

kamus Webster istilah estetika ini dapat digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah

yang berkaitan dengan keindahan.2

Proses menikmati dan pemberian makna atas karya seni/desain adalah proses wajar

dimana setiap orang bisa berfungsi sebagai penikmat atau pengamat sekaligus interpreter.

Fakta aktual adalah sebagaimana yang terjadi atas kasus ditariknya beberapa iklan yang

tengah ditayangkan. Contoh iklan rokok Sampurna - A Mild versi animasi kartun yang

kemudian ditarik dari peredaran karena kritik dan penilaian dari berbagai pihak

pengamat, baik itu target konsumen langsung, maupun oleh lingkungan sosialnya. Iklan

yang menampilkan tokoh-tokoh kartun yang cenderung digemari oleh anak-anak ini,

kemudian ditafsirkan oleh ahli psikologi secara langsung atau tidak mempengaruhi

anak-anak dan dianggap sejak dini memperkenalkan rokok kepada mereka.3

Belajar dari sini kita sadari penuh bahwa nilai-menilai atau evaluasi erat sekali

kaitannya dengan bidang seni. Khusus disiplin desain komunikasi visual sebagai salah

satu karya seni terapan, menurut Mudji Sutrisno dalam bukunya “Estetika, Filsafat

Keindahan” seharusnya berciri transformatif selain involutif – pengabdian kepada

kepentingan sendiri – yakni menampilkan kepedulian terhadap masyarakat ke arah

perbaikan kualitas hidup. Sehingga pro-kontra yang kemudian ditimbulkan oleh karya

1

Sutrisno, Mudji & Verhaak, Christ, Estetika Filsafat Keindahan, Kanisius, Yogyakarta, 1993, hal.82. 2

Lihat pengertian ini pada Kusmiati R., Artini, Teori Dasar Desain Komunikasi Visual, Jakarta, Djambatan, 1999, hal.1.

3

(3)

seni tersebut akan bermuara pada kehidupan penuh dinamika yang bermanfaat bagi hidup

berbangsa. 4

Oleh karena itu penulis mencoba mencari model evaluasi dengan pendekatan yang

sesuai untuk pendidikan Desain Komunikasi Visual, dengan kerangka pengertian seperti

dijabarkan di bawah ini.

PENGERTIAN DAN BATASAN JUDUL

1. Kata ‘model’. Menurut Kamus besar (1998) secara umum model diartikan sebagai

pola, contoh, acuan dari sesuatu yang akan dibuat.5

2. Kata ‘pendekatan’. Diartikan sebagai bentuk usaha dalam rangka aktivitas penelitian

untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti atau metode-metode untuk

mencapai pangertian tentang masalah penelitian.6 Secara lebih rinci Rencana Induk Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta (RIP PTS) (1985) mengartikan sebagai

cara-cara yang ditempuh dalam usaha pengembangan PTS atau dalam pemecahan dan

penanggulangan masalah yang dihadapi.7

3. Kata ‘evaluasi’. Berarti penilaian.8 Sedangkan menurut Feasley (1980), evaluasi merupakan penilaian (judgment) terhadap kebaikan dan keburukan ataupun dampak

suatu program atau prosedur sekaligus penilaian terhadap proses terhadap pemberian

judgment itu sendiri.9

4. Kata ‘pendidikan’. Diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang

atau sekelompok orang dalam usaha pendewasaan melalui upaya pengajaran dan

latihan; proses; perbuatan; cara mendidik.10

5. Istilah ‘desain komunikasi visual’ atau disingkat ‘deskomvis’, adalah merupakan

perluasan dari istilah desain grafis yang lebih dulu populer. Bidang cakupannya antara

lain adalah pekerjaan mendesain, seperti penataan tipografi dan ilustrasi, periklanan,

4

Sutrisno,FX.Mudji & Verhaak, Christ, Estetika Filsafat Keindahan, Kanisius, Yogyakarta, 1993, hal.147-150

5

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia ,Kamus Besar Bahasa Indonesia , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Perum Balai Pustaka, Jakarta, 1998, hal. 5891.

6

Ibid, hal.129

7

Hadikoemoro, Soekismo & Sukma, A. Kosasih.,Rencana Induk Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1985, hal 39

8

Tim Penyusun Kamus besar Bahasa Indonesia, op.cit, hal.238

9

(4)

produksi buku dan majalah, pembuatan Corporate Identity, yang meluas ke

komunikasi melalui fotografi, film dan televisi.11

Penggunaan istilah ‘desain grafis’ dalam tulisan ini dipakai untuk penyebutan profesi

dan penjelasan sejarah perkembangannya.

Secara khusus pendalaman bidang studi Deskomvis diperoleh pada mata kuliah

Desain Komunikasi Visual 1, 2, 3 dan 4. Bahasan ini lebih disempitkan untuk evaluasi

pada aplikasi corpeorate identity dan promosi produk lewat iklan (media cetak, media

elektronik) yang merupakan produk Deskomvis yang secara tidak langsung

membutuhkan tanggapan masyarakat.

Maka pengertian judul tulisan ini adalah sebuah upaya menemukan pola atau acuan

yang dapat dijadikan dasar evaluasi berdasarkan pola hubungan yang terjadi dalam

institusi pendidikan khususnya pendidikan desain komunikasi visual.

PENDEKATAN DAN MODEL EVALUASI

Memperhatikan hubungan Deskomvis dengan lingkungan kerja nantinya dan

proses pendidikan yang harus dilalui sebelumnya, maka ada hubungan interaktif antara

dosen-mahasiswa-institusi-lingkungannya yang akan ikut mempengaruhi proses evaluasi

itu sendiri sehingga beberapa model pendekatan belajar akan dijadikan dasar untuk

menemukan model evaluasi, dengan terlebih dahulu mengadakan peninjauan terhadap

beberapa pilihan model interaktif yang dicatat oleh Dr. Taliziduhu Ndraha (1988),12 sebagai berikut :

- Model belajar-mengajar

Merepresentasikan hubungan interaktif antara Mahasiswa dengan Dosennya. Perilaku

mahasiswa bergantung pada cara atau teknik mengajar yang dipergunakan Dosen.

Sebaliknya, teknik mengajar dapat dipengaruhi oleh sikap Mahasiswa.

- Model instruksional

Model ini berkaitan dengan fungsi dosen sebagai instruktor. Dosen memberi instruksi

dan mahasiswa mentaatinya.

- Model Challenge and Response

10

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, op.cit. hal.204.

11

Lihat Limandoko, Bagus, Desain Komunikasi Visual dan Perilaku Konsumen, Nirmana, Vol.2,Juli 2000,hal.85.

12

(5)

Lebih menitik beratkan kepada mahasiswa dituntut ‘learning from experience

- Model otoritas dan tanggung jawab

Pertanggung jawaban institusi sangat dituntut oleh lingkungan karena perguruan tinggi

dianggap sebagai pemegang kepemimpinan intelektual (ilmiah) yang didasarkan atas

otoritas ilmiah. Model ini menggambarkan interaktif antara perguruan tinggi

(termasuk dosen dan mahasiswa) yang melayani lingkungan dengan otoritas

intelektualnya.

Dari model-model hubungan tersebut tampak bahwa pendidikan Deskomvis

khususnya dalam mata kuliah mayor aplikasi Deskomvis yaitu Desain Komunikasi Visual

1 - 4, bila ditinjau dari keistimewaan ilmu ini dan dihubungkan dengan tujuan kesenian

secara umum ternyata bahwa untuk pendekatan evaluasi ini lebih dekat kepada model

otoritas dan tanggung jawab, dimana pendidikan Deskomvis yang adalah ilmu terapan

lebih berorientasi pada lingkungan. Sehingga penulis menggunakan pendekatan ini untuk

mengusulkan model evaluasi, tanpa bermaksud mengatakan bahwa model lain tidak

berlaku.

Proses evaluasi Deskomvis ini sebagaimana pengertian judulnya dibatasi pada

proses evaluasi atas karya desain aplikatif yang didalami pada Mata kuliah Desain

Komunikasi Visual 1, 2, 3, 4.

Berdasarkan pendapat Feasley (1980) ada beberapa kegiatan evaluasi yang dapat

dilakukan, 13 antara lain:

- mengadakan analisa dan interpretasi

- menentukan kriteria keberhasilan

- menentukan tingkat keberhasilan atau kegagalan

Sehingga diperlukan dasar teori model evaluasi yang cocok untuk karya desain

termasuk didalamnya karya iklan. Untuk itu ada 2 model pendekatan evaluasi yang coba

diajukan yaitu 1) Model teori evaluasi estetika 14 dan 2) Model Kritik Seni Holistik.

13

Hadikoemoro,Soekismo & Sukma, A.Kosasih, op.cit, hal.41.

14

Sukarata, Made, Estetika Kamasutra, Surabaya 2001, hal. 26-28. Merupakan rangkuman dari empat buak Encyclopedia

(6)

ALASAN PEMILIHAN MODEL EVALUASI

Model teori Evaluasi Estetika dianggap dapat mewadahi karya desain sebagai

bagian dari karya seni secara umum yang adalah wilayah Estetika, oleh karena itu dipilih

sebagai salah satu alternatif model evaluasi dalam tulisan ini.

Teori Kritik Seni Holistik dipilih karena beberapa dasar pemikiran ilmuan,

sebagaimana ditulis oleh Heribertus Sutopo dalam tulisannya ‘Kritik Seni Holistik

Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif’. Antara lain pemikiran Eliot Eisner

(1979;1983) yang menekankan perlunya penelitian dan evaluasi dengan menggunakan

bahasa kritik seni, karena kritik seni dipandang merupakan pendekatan yang sangat

membantu dan melengkapi kegiatan penelitian karena kekuatannya yang mampu

menyajikan deskripsi dan interpretasi yang kaya dengan nilai kehidupan manusia. Eisner

menemukan bahwa kritik mampu menyajikan 3 aspek pokok dalam evaluasi, yaitu 1)

aspek deskriptif, 2) aspek interpretatif, 3) aspek evaluatif. Juga dikatakan bahwa aktivitas

kritik seni tidak bertujuan membuktikan suatu prediksi tetapi adalah upaya pemahaman

untuk menemukan makna konteks. Stolnitz (1996) menyatakan bahwa kritik seharusnya

berupa aktivitas evaluasi yang memandang seni sebagai objek untuk pengalaman estetik.

Pengalaman tersebut sejalan dengan Flaccus (1981) yang merumuskan kritik sebagai

studi rinci dan apresiatif tentang karya seni. Dalam pidato tersebut juga dikemukakan

bahwa penggunaan kritik seni sebagai strategi evaluasi sudah diterima dalam posisinya

sebagai salah satu alternatif dalam evaluasi kualitatif (Patton,1980). 15

DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DALAM HUBUNGANNYA DENGAN ASPEK FUNGSI DAN NON FUNGSIONAL

Desain grafis mulai melebarkan sayapnya sekitar tahun 1960-an, dengan

pengenalan micro computer.16 Ketika itu desainer dikatakan telah menguasai proses pra

cetak. Akibatnya muncul bermacam-macam gaya desain yang mengkombinasikan ide,

kreativitas dan penguasaan teknis, sehingga desainnya dapat diwujudkan dan berguna

untuk khalayak.

15

Sutopo, Heribertus, Kritik Seni Holistik Sebagai Pendekatan Penelitian Kualitatif, Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Budaya Pada Jurusan Seni Rupa, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret, Sebelas Maret University Press, Surakarta, 1995, hal. 3-8

16

(7)

Lingkup kerja profesi desainer komunikasi visual pada dasarnya ialah berhubungan

dan berkomunikasi dengan pengamat yang meliputi konsumen dan lingkungan sosialnya.

Bentuk hubungan timbal balik ini mempertemukan desainer sebagai pembawa pesan

mewakili klien atau produsen berupa karya desain dengan konsumen, yakni pihak yang

jadi target pasar atau pengamat pada umumnya. Lingkaran kerja demikian menjadi inti

pembedaan terhadap penilaian kualitas karya seni pada umumnya dengan karya terapan

semacam ini.

Jadi dalam hubungannya dengan aspek fungsi, desainer adalah seniman kreatif yang memberikan solusi pemecahan masalah terhadap permasalahan yang disodorkan

oleh klien (pengiklan, dll.) dan kemudian karya desain akan disuguhkan kepada

konsumen. Dalam konteks tersebut Deskomvis menjalankan beberapa fungsinya yaitu

informatif, persuasif, edukatif, mengingatkan, menyadarkan, menghibur, dan menjual

dalam rangka pencapaian tujuan pengiklan.

Hasilnya adalah terjadinya proses interpretasi oleh masyarakat yang diartikan

sebagai proses pemaknaan (signified) terhadap bentuk atau tanda (signifier) yang dalam

hal ini tingkat keberhasilannya diukur melalui kenaikan omset. Namun desainer hanya

bertanggung jawab pada aspek informatif, komunikatif tidak pada aspek ekonomi.

Karya Deskomvis juga memiliki aspek non fungsional atau aspek keindahan. Pada sisi ini desainernya dianggap sebagai pihak yang paling memahami arti dan makna dari

desain yang dibuatnya dan ialah yang dianggap bertanggung jawab. Bagaimana desainer

berperan memilih dan mengkomposisikan elemen-elemen desain untuk menyatakan suatu

ide atau konsep kreatif dalam konteks (tema) tertentu.

Untuk memahami kedua aspek ini perlu disimak beberapa pendangan semiotik

seperti diangkat Yasraf Amir Piliang (1998) . Dalam pandangan semiotik seluruh praktek

sosial (termasuk kegiatan beriklan, fashion, arsitek , dll) dianggap sebagai fenomena

bahasa, maka semuanya juga dapat dianggap sebagai tanda (sign). Tanda menurut

linguistik Saussurean merupakan 2 kesatuan tak terpisahkan yaitu penanda (signifier) atau

bentuk dan petanda (signified) atau makna.17

Pada kerangka kelembagaan pendidikan dalam wadah fakultas seni dan desain

sebagai bagian dari aktivitas berkesenian maka pembahasan akan lebih kental pada aspek

17

(8)

non fungsional dengan dasar pemikiran semiotik, dimana terjadi permainan penggunaan

tanda dan petanda untuk menyampaikan pesan-pesan. Berarti aspek fungsi yang

tersentuh bukan pada segi komersial yang diharapkan pengiklan tetapi hanya pada aspek

keberlangsungan komunikasi melalui penggunaan tanda/petanda berdasarkan

prinsip-prinsip desain.

Pada sisi lain nampak prospek cerah industri periklanan seperti dilansir Majalah

Cakram mengutip AC Nielsen bahwa belanja iklan terus naik dari tahun ke tahun pasca

krisis ekonomi 1997-1998.18 Pula kebebasan pers melahirkan banyak media cetak dan beberapa stasiun televisi baru dan perkembangan dunia periklanan Indonesia dengan

masuknya perusahaan periklanan asing yang berafiliasi dengan perusahaan multi

nasional. Hal-hal tersebut mengindikasikan tuntutan pasar akan kualitas profesi ini juga

meningkat sekaligus membuka luas bidang kerja desainer komunikasi visual.

Kenyataan seperti adanya iklan-iklan yang ditarik dari peredarannya karena

kritik-kritik yang diterima pun menunjukkan masyarakat yang makin kritis terhadap suguhan

desain periklanan.

Maka dianggap penting menguatkan dasar-dasar evaluasi pada masa studi. Karena

proses studi adalah proses trial – error sehingga dapat menjadi salah satu bentuk

pengujian terhadap kualitas desain yang dihasilkan sebelum sebuah karya desain

dilemparkan kepada masyarakat konsumen. Padahal model pendekatan yang digunakan

untuk mengevaluasi akan ikut menentukan kualitas desain yang dihasilkan.

TINJAUAN TEORITIS

Sejauh mana sebuah karya dianggap baik dan bermanfaat bahkan dinilai indah

memang bergantung pada tingkatan mana karya ini berada. Apakah dalam proses kreatif

misalnya pada proses studi atau setelah karya tersebut mencapai sasarannya di

masyarakat. Namun di manapun karya tersebut berada, aspek fungsionalnya tetap

menjadi acuan, sehingga proses kritik yang diberlakukan bisa menjadi umpan balik

disamping sasaran dipenuhinya prinsip estetika yang wajar. Dan bahwa ada polemik atas

proses tersebut kemudian dapat dianggap sebagai wacana pembelajaran bagi semua pihak

terkait dalam rangka mencapai tujuannya. Bahkan harus juga memenuhi kaidah normatif

18

(9)

yang dianut masyarakat.19 Karena bila dilanggar maka yang terjadi adalah tuaian kritik yang kemudian berbuntut pada ditariknya iklan yang tengah ditayangkan.

Untuk itu penting adanya alat kontrol seperti Tata Krama dan Tata Cara Periklanan

Indonesia atau badan sensor atas karya periklanan,20 karena dapat menjadi salah satu sarana pengukur layak tidaknya sebuah desain dilempar ke masyarakat sehingga dapat

menjadi pedoman kritisi.

Kritik seni sendiri berfungsi untuk memperkaya wawasan seseorang, dan banyak

tokoh estetika berpendapat bahwa fungsi kritik bukan untuk meloloskan atau menjegal

suatu karya seni ke jenjang yang lebih tinggi, melainkan untuk menolong orang awam

supaya gamblang terhadap kualitas seni yang sebelumnya tidak terpikirkan.21 Dengan demikian dapat diketahui sejauh mana karya seni/desain memberikan sumbangsihnya

dalam memperkaya khasanah kehidupan manusia.

Dua pendekatan yang diangkat untuk mengevaluasi sebuah karya desain adalah

sebagai berikut :

1. Model Teori Evaluasi22

Made Sukarata dalam bukunya Estetika Kamasutra merangkum 4 teori evaluasi

kontemporer, yaitu :

1. Teori Intuisionis

Teori Intuisionis adalah model evaluasi yang sangat dipengaruhi oleh intuisi karena

harus memberi penilaian atas kualitas obyek non empiris. Dianggap sebagai cara

untuk mengenal suatu obyek yang sulit dipahami oleh persepsi awam.

2. Teori Subyektif

Berdasarkan teori ini evaluasi bergantung pada subyek penilai pada kalangan

terbatas. Misalnya berdasarkan orang-orang yang memiliki apresiasi tertentu atau

yang dianggap cukup berbudaya.

19

Menurut Mudji Sutrisno (1993), kebebasan berkreasi sejalan dengan tanggung jawab berkesenian. Selalu ada titik kritis manakala subyektifitas desainer sebagai seniman berbenturan dengan nilai normatif yang dianut oleh masyarakat atau nilai-nilai lain yang dideskripsikan. Lihat Sutrisno, F.X. Mudji & Verhaak Christ, Estetika Filsafat Keindahan, Kanisius, Yogyakarta, 1993, hal.151. Sebagaimana salah satu konsensus untuk tidak mengiklankan rokok, dan alkohol secara ‘bebas’yang tercantum pada Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia, yaitu antara lain iklan harus jujur, bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, tidak boleh menyinggung perasaan dan merendahkan martabat negara, agama, susila, adat, budaya, suku, dan golongan serta harus dijiwai asas persaingan sehat. Lihat Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia Yang Disempurnakan, Komisi Periklanan Indonesia, 1996.

20

RTS Masli (ketua P3I) & Bachtiar Ali (pakar komunikasi) dalam diskusi periklanan (Metro TV awal April 2002), menegaskan perlunya integrasi terhadap berbagai Undang-Undang yang sifatnya mengatur dan menyensor sehingga ada satu payung untuk mengatasi berbagai persoalan yang timbul.

21

Sukarata, Made, Estetika Kamasutra, Surabaya, 2001, hal.26-28.

22

(10)

3. Teori Emosifis

Evaluasi baik atau buruk adalah pernyataan ekspresi atau penalaran rasa dari si

pemakainya yang mengaitkan faktor emosi dan subyektif.

4. Teori Instrumentalis

Teori instrumentalis mengelak masalah pembatasan tolak ukur evaluasi yang

digunakan dalam ketentuan estetis (aesthetic judgment). Pemberian karakter karya

baik adalah suatu produk pemirsa yang memiliki pengalaman estetis yang baik dan

bermutu.

2. Kritik Seni Holistik23

Model kritik seni holistik seperti yang dikemukakan oleh Heribertus Sutopo sebagai

pendekatan penelitian kualitatif, yakni :

1. Seniman sebagai sumber informasi genetik

Kritik ini melihat kepada seniman atau desainer sebagai sumber informasi

genetika, karena setiap karya seni selalu mencerminkan kecondongan suatu

kultural lewat seniman yang menciptakan karya .

2. Karya seni sebagai sumber informasi obyektif

Kondisi obyektif dari karya seni itu sendiri yang menjadi dasar penelitian. Standar

yang dipandang pantas adalah yang mempersyaratkan karya itu sendiri, bukan dari

luar karya tersebut.

3. Penghayat sebagai sumber informasi afektif

Penghayat sebagai sumber informasi afektif yaitu informasi yang berupa dampak

emosional pada diri penghayat. Dampak ini timbul setelah menghayati karya

dengan beragam tafsir makna nilai akibat melakukan interaksi dalam proses

penghayatan.

Ketiga komponen tersebut tidak dipakai sebagai standar nilai, melainkan sebagai

sumber informasi dalam aktivitas evaluasi dan menjadi faktor tak terpisahkan dalam

kesatuan nilai karya.

23

(11)

Pandangan lain yang dikemukakan oleh Mudji Sutrisno yaitu bahwa titik tolak

berkesenian adalah (salah satu) ekspresi proses kebudayaan manusia. Dan kebudayan di

satu pihak adalah proses ‘pemerdekaan diri’. Dilain pihak kebudayaan juga berciri

fungsional yakni untuk melangsungkan hidup, maka ukuran atau nilai sebuah kebudayaan

tidak hanya manfaat atau guna, fungsional-efisien, tetapi juga pemerdekaan, membuat

orang lebih menjadi orang dan menjadi lebih manusiawi.24 Dengan demikian ada dua dimensi berkesenian menurutnya :

1. Dimensi budaya (pemerdekaan) : pemanusiaan

2. Dimensi fungsional : kegunaan, efisiensi, teknik, laku keras

Contoh pemerdekaan antara lain : tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, belajar

berenang agar merdeka dari tenggelam.

Pandangan Mudji Sutrisno ini nampaknya sejalan dengan nafas desain komunikasi

visual, dimana sebuah karya seni/desain tidak mungkin lepas dari dimensi budaya dimana

karya tersebut muncul. Berkenaan dengan pendangan modern yang menolak ‘l art pour

art’(seni untuk seni) sehingga terlebih dalam bidang komunikasi visual, karya desain

yang adalah seni terapan tidak mungkin melepaskan diri dari dimensi budaya dan dimensi

fungsinya.

Dalam kerangka evaluasi karya seni/desain pantaslah tulisan dari M. Dwi Marianto

dapat menjadi dasar pemahaman, ia mengemukakan sebagai berikut 25 :

1. Pentingnya karakter visual sebagai signifier. Bahwa signifier membantu pemirsa

untuk menyusun suatu pemahaman atau konsep dari tampilan karya bersangkutan.

Tujuannya adalah menangkal kecendrungan membaca karya seni yang hanya

mengutamakan ide atau hakekat saja sehingga mengabaikan tampilan luar fisiknya.

Dalam hal ini signifier sebagai ciri fisik yang dapat dikenal dalam elemen-elemen

desain termasuk huruf, gambar/ simbol juga idiom bahasa 26 2. Makna sesuatu tak pernah beku.

Bahwa tanda bahasa bersifat ‘multi accentual’, yang selalu menggemakan

makna-makna lain. Tidak saja mengekspresikan pikiran yang paling dalam dan orisinal, tetapi

24

Sutrisno, Mudji &Verhaak, Christ, op.cit,hal. 6.

25

Marianto, M.Dwi, Menginterpretasi Secara Produktif, Nirmana, vol.4, Januari 2002, hal. 24-37.

26

(12)

sekaligus mengungkap makna-makna yang telah mengendap dalam sistem bahasa dan

budaya.

Pernyataan ini dikaitkan dengan proses interpretasi seperti kritik atau evaluasi ketika

memaknai karya seni/ desain, bahwa tidak ada harga mati untuk sebuah karya seni.

3. Interpretasi.

Karya seni/ desain senantiasa mengandung makna atau menyatakan sesuatu sehingga

dibutuhkan interpretasi untuk memaknainya. Sebuah interpreatasi baik bila didahului

deskripsi. Dalam deskripsi dapat muncul pendapat atau pernyataan yang sama, namun

dalam interpretasi dan mengevaluasi dapat saja muncul perbedaan yang diakibatkan

oleh perbedaan sudut pandang atau paradigma.

Sehingga beberapa prinsip Terry Barrett (dalam Marianto, 2002) tentang

interpretasi penting dipahami seperti ditulis M. Dwi Marianto antara lain sebagai

berikut27:

- Interpretasi harus masuk akal

- Pentingnya obyektifitas di atas subyektifitas

- Dapat terjadi interpretasi-interpretasi yang berlainan, bersaingan, bahkan bertentangan

satu sama lain atas satu karya.

- Interpretasi sering didasarkan pada pandangan dunia seperti interpretasi atas dasar

studi psikoanalisis atau filsafat.

- Interpretasi dapat berbeda dari maksud penciptanya

- Interpretasi harus mengemukakan keadaan terbaik dari karya seni bukan keadaan

terburuknya, sebagai penghargaan atas hak intelekual seniman.

- Semua karya seni mengandung sesuatu yang berkenaan dengan dunia atau keadaan

dimana karya itu muncul. Ini menunjuk pada faktor budaya yang selalu membentuk

cara pandang seniman atas dunianya.

Sebagian teori Holistik yang telah dipaparkan sejalan dengan teori Deconstruction

dari Jacques Derrida dalam “Of Grammatologi”(1967). Derrida berpendapat bahwa

sebuah kritik harus selalu memperhitungkan dua sisi berlawanan dari sebuah obyek

sebagai sebuah nilai sendiri-sendiri. Tidak membenarkan sisi yang satu dan menyalahkan

27

(13)

sisi yang lain –sebagaimana dianut kaum intelektual di Barat cukup lama – misalkan

faktor inside/outside, reality/representasi, original/copy, mind/body. Salah satu fokus

Deconstruction adalah sistem institusi yang membatasi pelahiran karya dan berkembang

dalam sistem kelembagaan sosial dimana terjadi aktivitas kritik atas karya seni/ desain. 28 Dengan demikian, teori ini meneguhkan fakta tentang keterkaitan sebuah karya

seni dengan kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya tempat dilahirkannya karya seni

tersebut sebagaimana fenomena yang di catat di awal tulisan ini. Maka kritik atau

evaluasi harus didasarkan pada banyak faktor baik subyektif maupun obyektif, dari sisi

karya seni maupun dari sisi pengamat dan dilihat dalam kerangka seluruh sistem

sosialnya.

Keindahan, yang meninjau karya seni/desain sebagai obyek, mensyaratkan

pentingnya elemen estetis dan prinsip-prinsip desain bagi desainer komunikasi visual.

Karena desain komunikasi visual tidak akan ada artinya bila hanya mementingkan aspek

fungsi tanpa memperhatikan unsur-unsur keindahan yang menjadikan desain lebih

menarik (Artini Kusmiati, 1999:1-15)

Batas minimal sebuah desain dikatakan baik adalah terpenuhinya prinsip-prinsip

desain melalui komposisi elemen-elemen estetis, seperti keseimbangan, keserasian,

proporsi, ukuran dan irama. Keberhasilan pencapaian prinsip desain ditentukan pula oleh

penataan elemen desain yang menyangkut pemilihan dan penataan tipografi, pada

penyusunan teks atau head line, pemilihan dan penataan foto/ ilustrasi.

ANALISA DAN CONTOH KASUS

Berdasarkan pendekatan teori dan pandangan lain yang telah dibahas di atas, dapat

disepakati nilai sebuah karya seni/ desain pada umumnya. Dalam proses pemaknaan atas

karya seni/desain perlulah memperhatikan aspek-aspek yang melatar belakangi

kemunculan suatu karya dimana faktor budayalah yang membentuk wawasan atau cara

pandang seseorang akan dunianya.

Beberapa simpulan sederhana dapat ditarik berlandaskan berbagai tinjauan teori

diatas, sebagai berikut :

28

(14)

1. Model teori Evaluasi dapat saja dipakai sebagai dasar evaluasi bagi pendidikan desain

komunikasi visual tetapi lebih cenderung untuk perkuliahan yang mengarah pada

pengasahan skill penggunaan peralatan teknis dalam merepresentasi obyek atau

memvisualkan ide. Tidak tepat diterapkan pada mata kuliah Desain Komunikasi

Visual 1 - 4 yang menekankan desain aplikatif.

Pada model ini pengamat yang bertindak sebagai evaluator dapat dipengaruhi oleh

intuisi atau kulitas obyek non empiris, faktor subyektifitas, faktor emosi yang

melandasi bentuk pernyataan ‘baik’atau ‘buruk’. Nilai ‘baik’ yang muncul dianggap

sebagai salah satu produk pengalaman estetis pengamat yang baik, tanpa melihat tolak

ukur evaluasi.

Menurut model evaluasi ini, seorang evaluator dapat saja menjatuhkan penilaian atas

dasar otoritas yang dimilikinya. Pertimbangan estetis menjadi dasar bagi penilaian

yang diberikan.

2. Berdasarkan kritik seni holistik. Sebagai model pendekatan penelitian kualitatif yang

bersifat holistik yang selalu memperhitungkan sisi seniman sebagai pencipta karya

seni, melihat karya seni sebagai sumber informasi obyektif yang akan dievaluasi dan

mempertimbangan pengamat atau dalam dunia desain komunikasi visual ia berfungsi

sebagai konsumen sekaligus interpreter sebagai sumber informasi afektif, dipandang

lebih mewadahi evaluasi yang dilakukan atas karya-karya desain aplikatif, termasuk

iklan.

Macam-macam karya desain komunikasi visual merupakan karya seni aplikatif,

sehingga aspek komunikasi menjadi tolak ukur utama bagi keberhasilan sebuah karya

desain yang dicapai melalui penataan elemen desain (signifier) berdasarkan

pemenuhan prinsip dasar desain.

Berikut di bawah ini contoh kasus pendidikan Jurusan Deskomvis UK Petra.

Sebagai contoh pertama, pembuatan corporate identity pada mata kuliah Desain

Komunikasi Visual 2, yang melingkupi pembuatan logo, logo type, dan aplikasi

praktisnya. Di sini perancang akan berkreasi mengolah ide ke dalam ikon-ikon yang

mewakili idiom budaya jamannya. Dengan begitu pilihan-pilihan desain yang dibuat

dapat dikenali oleh masyarakat pada umumnya dan tidak terkesan aneh. Terlebih lagi

(15)

bersangkutan dengan mempertimbangkan penerimaan orang atas bentuk identitas yang

diperkenalkan, maka kemudian ‘syarat logo yang baik’, antara lain harus sesuai

dengan kebudayaan, unik, artistik, simple, menarik, mudah diingat atau dikenali

menjadi pertimbangan.29

Contoh kedua, pemahaman dan kemampuan merancang yang di asah pada Desain Komunikasi Visual 3 dan 4 dimana mahasiswa dituntut mampu membuat paket desain

promosi sebuah produk barang atau jasa melalui media cetak dan media elektronik

(Below The Line dan Above the Line)-.

Pada studi mayor lanjut ini mahasiswa dituntut untuk mampu mempertanggung

jawabkan desain yang dibuat, melalui sebuah bentuk presentasi. Presentasi menjadi

semacam pengujian atas karya desain. Di sana mahasiswa dihadapkan pada

penguji-penguji yang menjadi evaluator.

Berdasarkan pengamatan penulis, dasar evaluasi yang dipakai selalu meliputi 3

komponen holistik, sebagai berikut :

a. Evaluasi menyangkut perancang - pencetus ide kreatif dalam mengolah signifier

budayanya - dan yang bertanggung jawab atas tampilan fisik desain mereka.

b. Nilai kreativitas rancangan (sebagai obyek bermakna) dalam memanfaatkan

elemen-elemen desain - signified.

c. Tingkat penerimaan audiens, berdasarkan macam-macam interpretasi penguji.

Berarti model evaluasi berdasarkan kritik holistik dipandang sesuai karena dapat

mengakomodasi kebutuhan pendidikan Desain Komunikasi Visual.

Kesimpulan lain yang dapat ditarik :

- Bahwa karya-karya desain desain komunikasi visual yang bermunculan sadar atau

tidak, benar-benar dipengaruhi oleh iklim sosial budaya, sosial ekonomi dan

politik. Sehingga makna sebuah desain yang mengalami evaluasi akan semakin

diperkokoh oleh pengujian-pengujian atas kreativitas mengolah ikon jaman dalam

menjalankan fungsinya dan melalui interpretasi pengamat yang kritis.

- Bagi sebuah karya desain komunikasi visual evaluasinya tidak berhenti pada

jenjang pendidikan saja tetapi akan terus mengalami evaluasi seiring tugasnya di

29

(16)

masyarakat. Sehingga evaluasi yang berlaku selama pendidikan dapat dianggap

sebagai cerminan dunia desain komunikasi visual sesungguhnya.

- Dilain pihak pemahaman akan model evaluasi holistik ini berguna bagi siswa untuk

memahami posisinya selama proses evaluasi studi dan macam-macam interpretasi

dikemukakan oleh Terry Barret, memberi wawasan akan keberagaman interpretasi

yang mungkin di terima oleh sebuah karya desain.

KEPUSTAKAAN

Hadikoemoro, Soekismo & Soekma, A. Kosasih., Rencana Induk Perguruan Tinggi Swasta : Pokok-pokok penyusunan dan Evaluasi, Direktorat Jendral Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1985.

Hollis, Richard, Graphic Design, A Concise History, Thames and Hudson Ltd., London, 1994.

Istanto, Freddy H., Rajutan Semiotika Untuk Sebuah Iklan, Studi Kasus Iklan Long Beach, Jurnal Nirmana, Vol.2, No.2, Desain Komunikasi Visual Univ.Kristen Petra, 2000.

Kusmiati, Artini & Pudjiastuti, Sri & Suptandar, Pamudji, Teori Dasar Disain Komunikasi Visual, Djambatan, Jakarta, 1999.

Limandoko, Bagus, Desain Komunikasi Visual & Perilaku Konsumen, Jurnal Nirmana, Vol.2, No.2, Desain Komunikasi Visual, FSD, Univ.Kristen Petra, 2000.

Lupton, Ellen & Miller, Abbott, Design Writing Research – Writing on Graphic Design, Phaidon, London, 1996.

Majalah Cakram Komunikasi, edisi Januari 2002.

Majalah Cakram Komunikasi, edisi Februari 2002.

Marianto, M.Dwi, Menginterpretasi Secara Produktif, Jurnal Nirmana, Vol. 4 No. 1, Desain Komunikasi Visual, FSD, UK Petra, 2002.

Ndraha, Taliziduhu.,Manajemen Perguruan Tinggi, Bina Aksara, Jakarta, 1988.

Piliang, Yasraf Amir.,Sebuah Dunia Yang Dilipat, Mizan, Bandung, 1998.

(17)

Sutopo, Heribertus, Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif, Pidato pengukuhan Guru Besar Ilmu Budaya pada jurusan Senirupa, Fak. Sastra Universitas Sebelas Maret, Sebelas Maret University Press, Surakarta ,1995.

Sutrisno, Mudji & Verhaak, Christ, Estetika Filsafat Keindahan, Kanisius, Yogyakarta, 1993.

Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia Yang Disempurnakan, Komisi

Periklanan Indonesia, Jakarta, 1996

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1998.

Wong, Wucius, Principles of Form and Design, Van Nostrand Reinhold, New York, 1993.

Referensi

Dokumen terkait

PUSAT PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL MODERN DI YOGYAKARTA 132 Pada ruang loby, diaplikasikan instalasi-instalasi media untuk. memamerkan karya-karya desain mahasiswa

Dalam desain interior, tata cahaya merupakan salah satu unsur utama untuk menciptakan suasana sebuah ruang dengan memanfaatkan cahaya alam dan cahaya buatan.. Kata kunci :

13 Rancangan pada sebuah situs web adalah sebuah desain komunikasi visual yang ditayangkan melalui layar monitor yang dapat dihadirkan pada suatu waktu tertentu3. Layar

Kendala ini akan lebih kompleks lagi apabila suatu produk dengan desain kemasannya ingin dipasarkan ke manca negara, yang berarti ada komunikasi visual antar budaya yang

Awal retro pada psychedelic art adalah dengan meretrospeksi Art Deco and Art Nouveau menjadi bentuk yang retrogesif atau bersifat mundur, karena pemaknaan pada. desain

Untuk menciptakan iklan yang efektif diperlukan riset perilaku konsumen yang didasarkan pada faktor budaya, sosial, pribadi serta psikologis.. Kata kunci: periklanan,

Dewasa ini perkembangan periklanan di Indo- nesia sudah semakin maju, terlihat dari semakin banyaknya iklan Indonesia yang sudah mulai berani keluar dari batasan-batasan

Dalam desain garis dapat digunakan untuk mengatur informasi, memberi tekanan pada suatu kata, menghubung- kan informasi, membuat outline pada foto untuk memisahkannya dari