`
Analisis Teori Pertumbuhan Ekonomi Regional
tahun ke tahun atas seluruh wilayah nasional. Dalam skala yang lebih sempit (skala regional) pertumbuhan ekonomi akan sangat tergantung pada karakteristik serta kemampuan suatu wilayah/region dalam mengelola wilayahnya.Menurut Sjafrizal (2008:86) perhatian terhadap pertumbuhan ekonomi daerah semakin meningkat di daerah otonomi daerah. Hal ini dapat dipahami, karena dalam era otonomi masing-masing daerah berlomba-lomba meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerahnya guna meningkatkan kemakmuran masyarakatnya.
Pengenalan karakteristik suatu wilayah serta penerapan sistem perekonomian yang tepat akan mendorong percepatan pertumbuhan wilayah tersebut. Dalam teorinya, terdapat beberapa teori pembangunandan pertumbuhan ekonomi regional, diantaranya: (1) Teori Basis Ekspor (2) Teori Neoklasik; (3) Model Kumulatif Kausatif dan (4) Model Core Periphery.
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu daerah adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakan indikator untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya yang ada, dan dapat digunakan sebagai perencanaan dan pengambilan keputusan (Juniarsih, 2012).
2012-2014, salah satunya disumbang oleh sektor industri pengolahan.. Ketekunan masyarakat dalam mengembangkan produk akhir di sektor ini, menjadikan produk mereka memiliki keunggulan kualitas dibanding daerah lain. Indikasinya adalah tingkat penerimaan pasar internasional terhadap produk industri pengolahan dari Jepara.
Sebagai sektor utama bagi pembagunan perekonomian Jepara, pengolahan menjadi salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja dengan jumlah terbesar disepanjang tahunnya. Pada tahun 2013, sektor pengolahan masih menjadi sektor penyerap tenaga kerja terbesar dimana jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor ini mencapai 76.126 jiwa, meningkat dibanding tahun 2012 yang berjumlah 54.400 jiwa.
Didominasi industri furniture mebel dan ukir,seni ukir Jepara kini telah dapat berkembang dan bahkan merupakan salah satu bagian dari penggerak perekonomianmasyarakat Jepara. Ukiran adalah kerajinan utama dari kota Jepara. Ukiran dari kayu di Jepara mempunyai banyak tempat produksi sebagai centre of production yaitu di Desa Mulyoharjo untuk pusat kerajinan ukir dan patung. Di kota Jepara hampir di seluruh kecamatan mempunyai mebel dan ukir kayu sesuai dengan keahliannya sendiri-sendiri. Hasil dari kerajinan ukir Jepara bisa bermacam-macam bentuk mulai dari motif patung, motif daun, relief dan lain-lain berbagai produk industry.
Jepara saat ini tercatat telah menembus pasar ekspor di seratus lebih negara di dunia. Di luar industri kayu, Kabupaten Jepara setidaknya memiliki 10 jenis industri lain yang menjadikan
Grafik 1.1
industri pengolahan mampumenjadi penopang ekonomi masyarakat. Hampir seluruh industri ini berskala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Karakter teori basis ekspor akan tepat diterapkan pada wilayah/region yang pertumbuhan ekonominya didorong oleh permintaan akan barang/jasa terhadap wilayah tersebut. Kabupaten Jepara memiliki sistem perekonomian yang cukup terbuka. Hal tersebut dapat diidentfikasi dari kegiatan ekspor dan impor Kabupaten Jepara.
Grafik 1.2
Daftar Isi
2.1.2 Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional...6
2.1.3 Faktor Penentu Pertumbuhan Ekonomi...6
4 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...15
4.1 Pembahasan...15
4.1.1 Gambaran Studi Kasus Kota Jepara...15
4.1.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi Regional Yang Tepat Untuk Kabupaten Jepara : Teori Basis Ekspor 17 4.1.3 Alasan ketidakcocokkan Teori lain dengan kondisi pertumbuhan kota Jepara...26
5 BAB V PENUTUP...28
5.1 Simpulan...28
Daftar Gambar
Gambar 4.1 Peta Kabupaten Jepara...17
Gambar 4.2 Ukir Kayu Jepara...22
Gambar 4.3 Harapan Kita Furniture...23
Daftar Grafik
Grafik 1.1 Jumlah Unit Usaha IKM Jepara...2Grafik 1.2 Negara Tujuan Ekspor Furniture Indonesia...3
Grafik 4.1 Ekspor Meubel Kabupaten Jepara...19
Daftar Tabe
Table 4.1...16Table 4.2 Komoditi Ekspor Kabupaten Jepara...20
Table 4.3 Distribusi jumlah perajin kayu ukir per desa...20
Table 4.4 Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Jepara 2013...24
1.2 Rumusan Masalah
1. Teori pertumbuhan ekonomi regional apa yang paling tepat di aplikasikan sebagai faktor penentu pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jepara ?
2. Mengapa menggunakan teori tersebut , sebagai faktor penentu pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jepara?
3. Bagaimana pengaruh PDRB terhadap ekspor komoditi furniture di Kabupaten Jepara? 4. Bagaimana pengaruh PDRB terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor pengolahan
di Kabupaten Jepara?
1.3 Maksud dan Tujuan
1. Mengidentifikasi teori apa yang tepat untuk di aplikasikan sebagai faktor penentu pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jepara
2. Mengetahui alasan menggunakan teori yang tepat sebagai faktor penentu pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jepara
3. Mengidentifikasi pengaruh PDRB terhadap ekspor komoditi furniture di Kabupaten Jepara
4. Mengidentifikasi pengaruh PDRB terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor pengolahan di Kabupaten Jepara
1.4 Ruang Lingkup
dilakukan dengan tujuan agar hasil penelitian tidak menyimpang dari yang telah ditetapkan
Pertumbuhan ekonomi regional adalah pertumbuhan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi. Pertambahan dari satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya dinyatakan dalam nilai riel, artinya dinyatakan dalam harga konstan.
2.1.2 Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
Pola pertumbuhan ekonomi regional berbeda dengan pertumbuhan ekonomi nasional karena ada beberapa perbedaan didalamnya seperti
a. Pertumbuhan ekonomi regional lebih terbuka sehingga mobilitas sumberdayanya lebih tinggi
b. Analisis pertumbuhan ekonomi regional menekankan pada pentingnya pengaruh perbedaan karakteristik “space” terhadap pertumbuhan ekonomi
2.1.3 Faktor Penentu Pertumbuhan Ekonomi
Todaro (2000) menjelaskan bahwa ada tiga faktor atau komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa, yaitu :
a. Akumulasi Modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik dan sumbersaya manusia.
b. Pertumbuhan penduduk, yang beberapa tahun selanjutnya dengan sendirinya membawa pertumbuhan angkatan kerja
c. Kemajuan teknologi.
Faktor penentu pertumbuhan ekonomi secara regional :
b. Aglomerasi c. Migrasi
d. Lalulintas modal antarwilayah
2.1.4 Kelompok Teori Pertumbuhan Ekonomi Regional a. Export-Base Model (Douglas C.North, 1955)
1) Teori Basis Ekspor (Export Base Theory) dipelopori oleh Douglas C. North (1995) dan kemudian dikembangkan oleh Tiebout (1956). Model ini mendasarkan pandangannya dari sudut lokasi, yang berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi suatu region akan lebih banyak ditentukan oleh jenis keuntungan lokasi dan dapat digunakan oleh daerah tersebut sebagai kekuatan ekspor.Teori ini membagi sektor produksi atau jenis pekerjaan yang terdapat di dalam suatu wilayah menjadi dua jenis:
a) pekerjaan basis (dasar)
Aktivitas ekonomi basis merupakan kegiatan ekonomi yang orientasinyai mengekspor barang dan atau jasa ke luar wilayah yang bersangkutan
b) pekerjaan service (non-basis)
Aktivitas ekonomi non-basis adalah kegiatan yang orientasinya menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang berada di dalam batas wilayah perekonomian yang bersangkutan. Luas lingkup produksi dan pemasarannya adalah bersifat lokal.
2) Beberapa hal penekanan dalam model teori basis ekspor yaitu, antara lain : bila daerah yang bersangkutan memanfaatkan keuntungan komparatif yang dimiliki menjadi kekuatan basis ekspor
daerah.keuntungan lokasi setiap region berbeda, tergantung kondisi geografisnya.
Kesimpulan dari teori ini adalah pertumbuhan ekonomi suatu region ditentukan oleh jenis keuntunganlokasi sebagai kekuatan ekspor dimana keuntungan lokasi setiap region adalah berbeda tergantung kondisi geografisnya.
b. Neo Classic Model (Borts Stein, 1964)
1) Model ini dipelopori oleh Borts Stein (1964) kemudian dikembangkan oleh Roman (1965) dan Siebert (1969). Ada hubungan antara tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan perbedaan kemakmuran antardaerah (disparitas regional).
2) Kebenaran hipotesis neo – klasik ini kemudian diuji secara empiris oleh kebenarannya oleh Jefrey G. Williamson pada tahun 1966 melalui suatu studi tentang ketimpangan pembangunan antar wilayah pada Negara maju dan Negara sedang berkembang dengan menggunakan data time series dan cross – section yang menunjukkan bahwa proses pembangunan suatu Negara tidak otomatis dapat menurunkan ketimpangan pembangunan antar wilayah, tetapi pada tahap permulaan justru terjadi hal yang sebaliknya. Fakta empiric ini selanjutnya menunjukkan pula bahwa peningkatan ketimpangan pembangunan yang terjadi di negara – negara sedang berkembang sebenarnya bukanlah karena kesalahan pemerintah atau masyarakatnya, tetapi hal tersebut terjadi secara alamiah (natural) di semua Negara.
Kesimpulan yang menarik dari model Neo-Klasik ini adalah terdapat hubungan antara tingkat pertumbuhan suatu negara dengan perbedaan kemakmuran daerah (regional disparity) pada negara yang bersangkutan.Berdasarkan fungsi produksinya, faktor-faktor penentupertumbuhanekonomi regional adalah modal, tenagakerja, kemajuanteknologi, migrasi, lalulintas modal
c. Cumulative Causation Model (Myrdal, 1957)
1) Model ini dipelopori oleh Myrdal (1975) dan kemudian diformulasikan lebih lanjut oleh Kaldor. Model ini tidak mempercayai terjadinya kondisi konvergensi walaupun Negara tersebut sudah maju. Setiap Negara akan mengalami apa yang disebut “Verdoorn Effect” yang menyebabkan daerah maju terus berkembang dan daerah miskin akan tumbuh secara lambat.
2) Menurut Myrdal, Pembangunan di negara-negara yang lebih maju akan menyebabkan keadaan yang dapat menimbulkan hambatan yang lebih besar bagi negara-negara yang terbelakang untuk dapat maju dan berkembang. Keadaan yang menghambat ini disebut sebagai backwash effects.
Pola perpindahan penduduk (migrasi) dari negara miskin ke
negara yang lebih maju.
Pola aliran modal yang terjadi, Menurut Myrdal, ada tiga hal
yang menyebabkan suatu negara miskin mengalami kesulitan dalam mengembangkan pasar atas hasil-hasil industrinya, sehhingga memperlambat perkembangan ekonomi di daerah tersebut.
a. Kurangnya ketersediaan modal di negara miskin b. Adanya kecenderungan bahwa modal lebih terjamin
dan mampu menghasilkan pendapatan yng lebih
4) Teori ini berpendapat bahwa peningkatan pemerataan pembengunan antar daerah tidak dapat hanya diserahkan pada kekuatan pasar (market mechanism), tetapi perlu adanya campur tangan pemerintah dalam bentukprogram-program pembangunan regional, terutama untuk daerah-daerah yang relatif masih terbelakang.
Kesimpulannya, pemerataan antardaerah tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar semata, tetapi perlu intervensi pemerintah untuk program-program pembangunan bagi wilayah terbelakang dalam bentuk Regional Planning
d. Core Periphery Model (Friedmann, 1966)
Teori ini mula-mula dikemukakan oleh Fridman. Teori ini menekankan analisanya pada hubungan yang erat dan saling mempengaruhi antara pembangunan kota (core) dan desa (perphery) . Menurut teori ini, gerak langkah pembangunan daerah perkotaan akan lebih banyak ditentukan oleh keadaan desa-desa sekitarnya. Sebaliknya corak pembangunan daerah pedesaan tersebut juga sangat ditentukan oleh arah pembangunan perkotaan. Dengan demikian aspek interaksi antar derah ( spacial interaction) sangat menonjol
menonjolkan interaksi antardaerah (spatial interaction), ketergantungan desa-kota suatu saat dapat terputus bila pembangunan wilayah telah berkembang
3 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah PDRB sebagai variabel dependen. Serta komoditi ekspor dan tenga kerja sebagai variabel independen. Ketiga variabel dalam penelitian ini, memiliki definisi operasional variabel sebagai berikut:
a. Pendapatan Regional yang dihitung melalui PDRB harga konstan (Y)
Secara umum, PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah/ region tertentu dalam kurun waktu tertentu (satu tahun), atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah/ region tertentu dalam kurun waktu tertentu (satu tahun) (BPS, Jawa Tengah).
b. Ekspor (E) dan Impor (M)
mencakup semua pembelian langsung di wilayah Kabupaten Jepara oleh penduduk di luar Kabupaten Jepara
.
c. Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah penduduk dalam usia kerja yang siap melakukan pekerjaan, antara lain mereka yang sudah bekerja, mereka yang sedang mencari pekerjaan, mereka yang bersekolah, dan mereka yang mengurus rumah tangga. (MT Rionga & Yoga Firdaus, 2007:2). Dalam penelitian ini, tenaga kerja yang dimaksud adalah masyarakat Kabupaten Jepara dan sekitarnya yang memasuki usia produktif dan bersedia bekerja.
3.2 Populasi Penelitian
Populasi dalam suatu penelitian merupakan kumpulan individu atau obyek yang merupakan sifat-sifat umum. Menurut Arikunto (2010: 173) menjelaskan bahwa “populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.” Maka dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha – pengusaha furniture kayu di desa Mulyoharjo Kabupaten Jepara.
3.3 Jenis Data yang Diperlukan
3.4 Metode Analisis / Kajian
Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif yang menjelaskan pengaruh PDRB terhadap komoditi ekpor dan pengaruh PDRB terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor pengolahan di Kabupaten Jepara.
Selain itu, dalam menganalisis pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat diatas, digunakan alat analisis ekonometrika yaitu meregresikan variabel-variabel yang ada dengan metode OLS (Ordinary Least Square). OLS merupakan metode regresi yang meminimalkan jumlah kesalahan (error) kuadrat. OLS adalah metode estimasi fungsi regresi yang paling sering digunakan. Pengaruh PDRB terhadap komoditi ekspor dan penyerapan tenaga kerja sektor pengolahan dapat dinyatakan dalam fungsi sebagai berikut:
PDRBP = f (Lp, Xp) (2)
Dengan spesifikasi model:
PDRBP = α + β1Lp + β 2Xp + e (3)
Dimana:
PDRB = PDRB sektor pengolahan Kabupaten Jepara (Milyar Rupiah)
Lp = Jumlah tenaga kerja di sektor pengolahan Kabupaten Jepara (Jiwa)
Xp =Nilai ekspor sektor pengolahan Kabupaten Jepara (Juta Rupiah)
α = Konstanta
β1, β2 = Koefisien regresi
e = error
4 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
4.1.1 Gambaran Studi Kasus Kota Jepara
Menurut Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jepara pada tahun 2015, nilai ekspor nonmigas Jepara mencapai 171,259 juta dollar AS, naik 30,66 persen dari tahun sebelumnya. Nilai ekspor mebel kayu mendominasi dengan persentase mencapai 87,77 persen mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 114,78 juta dollar AS.
Peningkatan juga terlihat pada jumlah negara tujuan ekspor mebel. Pada 2014 tercatat sebanyak 106 negara tujuan ekspor dengan 223 pengekspor. Sementara pada 2015, bertambah menjadi 113 negara dengan 296 eksportir. Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Sistem ini memungkinkan kayu atau produk olahan kayu Jepara dapat diterima dengan baik di Negara Uni Eropa.
Table 4.1
4.1.2 Teori
Pertumbuhan Ekonomi Regional Yang Tepat Untuk Kabupaten Jepara : Teori Basis Ekspor
4.1.2.1 Keuntungan Lokasi a) Dari sisi Wilayah
Secara geografis Kabupaten Jepara terletak pada posisi 110° 9′ 48, 02″ sampai 110° 58′ 37,40″ Bujur Timur, 5° 43′ 20,67″ sampai 6° 47′ 25,83″ Lintang Selatan. Kabupaten ini merupakan daerah paling ujung sebelah utara dari Provinsi Jawa Tengah. Batas barat dan utara Kabupaten Jepara adalah Laut Jawa, batas timur Kabupaten Jepara adalah Kabupaten Pati, serta barat selatannya adalah Kabupaten Demak.. Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yang berada di Laut Jawa. Kabupaten Jepara secara administratif wilayah luas wilayah daratan Kabupaten Jepara 1.004,132 km2 dengan panjang garis pantai 72 km, terdiri atas 14 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 183 desa dan 11 Kelurahan Wilayah tersempit adalah Kecamatan Kalinyamatan (24,179 km2) sedangkan wilayah terluas adalah Kecamatan Keling (231,758 km2). Sebagian besar luas wilayah merupakan tanah kering, sebesar 740,052 km2 (73,70%) sisanya merupakan tanah sawah, sebesar 264,080 km2 (26,30%). Secara Administratif Kabupaten Jepara terbagi dalam 5 wilayah, yaitu:
Jepara Pusat: Jepara, Tahunan
Jepara Utara: Karimunjawa, Mlonggo, Bangsri, Kembang, Donorojo, Keling Jepara Barat: Kedung, Pecangaan
Jepara Timur: Batealit, Mayong, Nalumsari Pakis Aji
b) Dari Sisi Perekonomian
Secara umum Kabupaten Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu ketenarannya hingga ke luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Industri Mebel Ukir Jepara tersebar di semua kecamatan Jepara, kecuali Kecamatan Karimunjawa Struktur perekonomian Kabupaten Jepara pada tahun 2000, 2005, 2010 menunjukan tidak telalu banyak perubahan selama tahun tersebut sektor industri pengolahan menjadi sektor yang paling dominan dan memberikan kontribusi paling tinggi terhadap PDRB Kabupaten Jepara yaitu sebesar 29 % pada tahun 2000,27% tahun 2005 dan 28% tahun 2010,selain sektor industri 142 pengolahan ada 2 sektor lagi yang memberikan kontribusi cukup besar yaitu sektor pertanian dan perdagangan, hotel dan restoran, sedangkan sektor–sektor yang lain hanya memberikan kontribusi yang tidak terlalu besar. Sektor industri pengolahan sendiri tersusun 85 persennya dari Industri barang kayu dan hasil hutan lainnya yang besarnya tidak perubah dari tahun 2000, 2005 dan 2010. Aktivitas perekonomian regional dalam model pertumbuhan basis ekspor digolongkan dalam dua sektor kegiatan yakni aktivitas basis dan non basis. Aktivitas ekonomi basis merupakan kegiatan ekonomi yang orientasinyai mengekspor barang dan atau jasa ke luar wilayah yang bersangkutan. Aktivitas ekonomi non-basis adalah kegiatan yang orientasinya menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang berada di dalam batas wilayah perekonomian yang bersangkutan. Luas lingkup produksi dan pemasarannya adalah bersifat lokal.
Industri kayu ukir jepara ditekuni oleh hampir 75% masyarakat Jepara, setiap desa yang ada di Jepara mayoritas mempunyai usaha dibidang furniture dan mebel Jepara. Industri ini menggunakan bahan baku kayu jati sebagai bahan baku utama, 80% desain mebel merupakan hasil pekerjaan tangan pengrajin (hand made), dan sekitar 20% pengerjaan komponen mempergunakan mesin yang meliputi : pekerjaan pemotongan dan pembelahan, pekerjaan penghalusan permukaan (sanders), dan pekerjaan finishing. Sebagian besar perusahaan membuat satu produk akhir, yang menunjukkan adanya tingkat spesialisasi yang tinggi pada perusahaan di Jepara. Hampir semua (95,5%) merupakan perusahaan keluarga yang dijalankan oleh saudara sendiri. Sedikit perusahaan melibatkan dua (4,3%) atau tiga (0,2%) keluarga atau garis keturunan. Hampir semua perusahaan mempunyai satu atau lebih perusahaan mitra. Singkatnya, perusahaan di Jepara sangat terkait satu sama lain, namun umumnya tidak melalui kepemilikan atau usaha patungan, melainkan dengan cara lain seperti ikatan bisnis murni.
Grafik 4.3
Ekspor Meubel Kabupaten Jepara
sempat mengalami penurunan tetapi dari 2013 sampai 2014 kembali mengalami peningkatan US $ 110.000.000. Tahun 2015 ekspor kembali digalakkan oleh furniture dari kayu yang mendominasi. Tujuan negara mencapai 116 dengan volume 31181784,46 kg dengan nilai ekspor sebesar US$ 1147811464,54.
Table 4.2
Komoditi Ekspor Kabupaten Jepara
Table 4.3
Distribusi jumlah perajin kayu ukir per desa
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, identik dengan mebel dan ukirannya. Perekonomian dan citra daerah di Semenanjung Muria ini benar-benar bertopang pada kayu dan seni mengolah kayu. Sumbangan industri pengolahan terhadap PDRB Jepara juga merupakan yang terbesar, yaitu Rp 5,382,405pada tahun 2012 dan Rp 5,958,009 pada 2013. Dari sisi penyerapan tenaga kerja serta penyerapan devisa, sekitar 30% produk ekspor dan 60% dari volume perdagangan domestik mebel Jawa Tengah berasal dari Jepara. Dapat dikatakan bahwa Industri mebel ini merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat Jepara, sehingga jika industri ini kolaps maka akan berdampak besar pada perekonomian masyarakat Jepara. Ekspor Industri ini juga menyumbang sekitar 80% dari seluruh ekspor Kabupaten Jepara tahun 2012-2014, hal ini dapat dilihat pada tabel.
Produk-produk mebel dan ukiran Jepara tidak hanya diminati pasar lokal dan nasional, tetapi juga pasar internasional. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara mencatat, pada 2012, Jepara mengekspor mebel ukiran Jepara ke 105 negara senilai US $ 102 juta, dan kerajinan kayu dan handicraft senilai US$ 1 juta, menurun dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya yang diakibatkan meningkatnya pangsa pasar China dalam industri ini.
impor dengan konsumsi melebihi 31%. Pangsa pasar mebel di dunia masih dipegang oleh negara pengekspor mebel terkemuka, antara lain: Italia yang menguasai pangsa pasar sebesar 14,18 %, disusul China (13,69%), Jerman (8,43%), Polandia (6,38%), dan Kanada (5,77%). Sedangkan pangsa pasar meubel Indonesia saat ini hanya mencapai 2,9%. Indonesia telah memertahankan pangsa pasarnya lebih-kurang tetap selama lebih dari tiga tahun terakhir pada angka 2,5%, sekalipun terjadi lonjakan tajam pangsa pasar yang direbut oleh China.
Pemerintah telah mengupayakan untuk mengembangkan industri meubel dan menetapkan sektor ini sebagai salah satu dari 10 komoditas unggulan ekspor Tanah Air dimana Jepara menguasai 10% pangsa ekspor nasional. Terdapat beberapa pasar utama diluar negeri, yaitupasar Asia, serta pasar Eropa dan Amerika Serikat. Kontribusi industri mebel terhadap perekonomian kabupaten ini mencapai 27% dengan nilai ekspor 110 juta dolar AS atau lebih dari satu triliun rupiah. Mebel tidak hanya merupakan bagian sangat penting dari ekonomi Jepara, tetapi juga merupakan denyut nadi dan budaya masyarakat Jepara. Mereka meyakini bahwa keahlian dan keterampilan membuat mebel merupakan warisan sejarah yang harus dijaga kelestariannya. Mereka mempunyai tugas mulia untuk tetap menghidupkan mebel Jepara di tengah persaingan dunia. Mebel Jepara dikembangkan dalam sejarah penciptaan Para leluhur mereka mewariskan ketrampilan itu secara turun-temurun dalam suatu sistem pewarisan keterampilan dan proses pembelajaran yang unik. Tak dapat dipungkiri bila industri perabot serta perlengkapan rumah tangga dari kayu ini menjadi jantung kegiatan ekonomi sekunder. Nilai yang dihasilkan pun nyaris separuh (48,45 %) dari nilai total produksi kegiatan industri di Jepara.
Industri ukiran Jepara ini juga memberikan nilai tambah berupa alira tunai yang besar kepada masyarakat Kabupaten Jepara. Daerah (dalam hal ini desa) yang mendapat nilai tambah dari industri ini umumnya berada di sekitar pusat perkotaan dan kota tua Jepara. Menurut penelitian yang dilakukan oleh CIFOR (Center for International Forestry Research), desa-desa di kota Jepara umumnya mendapat nilai tambah sekitar 100 milliar hingga 1 triliun per tahun, dimana akumulasi aliran tunai Jepara adalah Rp 11.971 - 12.255 miliar/tahun), atau sekitar Euro 1 miliar/tahun.Pada tingkat kabupaten, rata-rata aliran tunai relatif adalah Rp 74 juta per pekerja, namun tingkat dispersinya tinggi. Di beberapa desa, nilai tambah per pekerja adalah kurang dari Rp 1 juta/tahun, sedangkan ada yang menghasilkan lebih dari Rp 600 juta/tahun/pekerja.Tidak ada alasan yang jelas untuk perbedaan ini, karena tidak ada hubungan dengan konsentrasiindustri atau konsentrasi spasial yang terlihat jelas. Pola ini barangkali mencerminkan adanya usahaterspesialisasi yang tersebar di wilayah.
Gambar 4.3 Harapan Kita Furniture
ekonomi sekunder. Nilai yang dihasilkan pun nyaris separuh (48,45 %) dari nilai total produksi kegiatan industri di Jepara.
4.1.2.3 Aglomerasi di Kabupaten Jepara
Kabupaten Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat beberapa sentra kerajinan ukiran kayu yang tenar hingga ke luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentra perdagangannya baik furniture atau ukir yang berpusat di desa Mulyoharjo. Banyaknya industri yang muncul di kabupaten Jepara , tepatnya di daerah mulyoharjo di sebabkan karena banyaknya pengarajin ukir kayu yang berdomisili di sana dan memang sudah peninggalan sejarah jika desa Mulyoharjo di jadikan pusat pengrajin ukir kayu
Tingkat kesejahteraan masayarakat di Kab Jepara ini tidak memiliki perbedaan kesejahteraan yang signifikan antar daerah. Karena pada dasarnya Industri pengolahaan ( furniture dan Ukir) menjadi penopang perekeonomian di daerah tersebut dan berdasarkan table di atas ,kebanyakan masyarakat di daerah Kab Jepara bekerja sebagai pengrajin furniture kayu, dimana hampir mendominasi penyerapan distribusi tenaga kerja di Jepara, sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi
4.1.2.4 Migrasi
Table 4.4
Dari data jumlah penduduk diatas telah terjadi pertambahan penduduk mulai 1.153.213 jiwa menjadi 13.766.000 jiwa. Pertambahan penduduk ini juga didorong oleh migrasi yang terjadi di kabupaten jepara. Jika kita hitung selisih dari migrasi masuk dan keluar maka akan didapat angka 1.094.000 jiwa. Hal ini menandakan ada tarikan dari kabupatenn jepara yang membuat penduduknya bertambah.
Penyebab seseorang melakukan migrasi salah satunya adalah pekerjaan. Sementara di kabupaten Jepara industry kayu ukir berkembang sangat pesat dan industri tersebut tidak memerlukan persyaratan khusus seperti tingkat pendidikan. Melainkan membutuhkan keahlian ukir kayu dan jam kerja yang diperhitungkan agar dapat bekerja dengan baik dengan penghasilan yang diinginkan. Keahlian ukir kayu mampu dipelajari seiring mereka mulai bekerja pada industry ukir kayu. Spread effect
Table 4.5
yang terjadi karena adanya aglomerasi ukir kayu dijepara membuat penduduk lain dapat menerima pendapatan atau mendapatkan pekerjaan.
4.1.3 Alasan ketidakcocokkan Teori lain dengan kondisi pertumbuhan kota Jepara a) Pada teori NEoklasik
Karena Neoklasik mengedepankan modal tenaga kerja harus mampu bekerja efektif dan efesien sejalan dengan pertumbuhan modal capital dan adanya pertumbuhan teknologi. Teknologi dapat melekat pada pendidikan pada tenaga kerja untuk membantu proses produksi suatu industry yang akan menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, permaslahan terjadi pada kasus factor input produksi tenaga kerja dalam industry ekspor base di jepara adalah rendahnya tingkat pendidikan para pekerja dan adanya gap pendidikan antar pekerja. Hal ini terjadi dikarenakan industry mebel hanya berfokus pada pengalaman yang telah didapat pekerja dan tidak terlalu berpengaruh pada teknologi dalam bentuk fisik. Sehingga sekalipun modal capital ditambah tidak akan terjadi efesiensi pekerja karena teknikal progress yang ada pada kasus industry mebel tidak terlalu besar.
b) Pada Teori Cumulative Causation Model
Teori ini berpendapat bahwa peningkatan pemerataan pembengunan antar daerah tidak dapat hanya diserahkan pada kekuatan pasar (market mechanism), tetapi perlu adanya campur tangan pemerintah dalam bentuk program-program pembangunan regional, terutama untuk daerah-daerah yang relatif masih terbelakang. Kesimpulannya, pemerataan antar daerah tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar semata, tetapi perlu intervensi pemerintah untuk program-program pembangunan bagi wilayah terbelakang dalam bentuk Regional Planning.
Seperti daerah lainnya, Jepara juga memiliki program-program pembangunan regional dalam Perda No 11 Tahun 2012 Tentang Rencana Jangja Menengah Daerah Kab Jepara Tahun 2012-2017. Disini pmerintah Jepara juga ikut berperan dalam meningkatkan pemerataan pembangunan antar daerah. Seperti dilakukan pelatihan dan memberikan bantuan peralatan kepada sejumlah produsen. Pelatihan tersebut kemudian diikuti dengan penyediaan kredit kepada produsen terpilih. Pemerintah juga menyediakan pelatihan kepada para pedagang maupun produsen bagaimana menembus pasar ekspor untuk menghadapi pasar bebas.
Keadaan kota jepara tidak dapat terlalu menggunakan teori core periphery, karena spread effect yang diterima pleh daerah sekitaran kota Jepara tidak terlalu beasar. Spread effect yang diterima oleh daerah sekitar adalah adanya migrasi tiap penduduk untuk bekerja di jepara karena banyaknya industry yang muncul dan berkembang. Namun, keadaan tersebut tidak mampu menopang perubahan pada daerah sekitar tersebut tapi hanya memberikan jalur pendapatan lain bagi warga daerah sekitar jepara tersebut.
5 BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Jepara.Untuk pemasaran lokal sendirir dengan adanya usaha mebel di Kabupaten Jepara telah mengurangi jumlah pengangguran yang otomatis meningkatkan perekonomian masyarakat Jepara. Hampir 95,5 % usaha mebel di Jepara merupakan usaha keluarga bahkan industri kayu ukir jepara ditekuni oleh hampir 75% masyarakat Jepara dan setiap desa di Jepara mayoritas mempunyai usaha dibidang furniture dan mebel Jepara.
6 DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Robinson. (2005). Ekonomi Regional : Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tersedia: http://edunomic.net/index.php/articles/1-pertumbuhan-ekonomi
USU(2011). 11 Halaman. Tersedia:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25946/4/Chapter%20II.pdf
Eko Wicaksono Pambudi (2013). 76 Halaman. Tersedia: http://www.academia.edu/8320923/ANALISIS_PERTUMBUHAN_EKONOMI_DA
N_FAKTOR-FAKTOR_YANG_MEMPENGARUHI_KABUPATEN_KOTA_DI_PROVINSI_JA WA_TENGAH