LAPORAN PRAKTIKUM RESMI MATERI dan ENERGI UJI GUGUS
FUNGSIONAL
Oleh
NAMA : ANGELIA ASTRIA
NIM : 31160048
ASISTEN : CUCI AYU
THIMOTHY JABIN
PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS BIOTEKNOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGJAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagian besar karbon di alam terdapat pada mahluk hidup. Tumbuhan dan hewan banyak mengandung karbon, karbon dalam mahluk hidup bersenyawa dengan unsur lain, akibatnya ada beberapa jenis senyawa karbon. Senyawa-senyawa tersebut akan kembali menjadi karbon jika karbon dari unsur yang mengikatnya dilepaskan. Karbon-karbon yang saling berikatan akan membentuk senyawa yang disebut gugus fungsi selain itu sering disebut juga sebagai senyawa organik. Pada umumnya, senyawa organik adalah kimia gugus fungsi. Dengan mengetahui faktor ini, kimiawan organik menggolongkan senyawa organik menjadi beberapa kategori sesuai dengan gugus fungsinya.
Senyawa organik dikelompokan berdasarkan gugus fungsi tertentu, yang menjadi gambaran sifat fisik dan sifat kimianya. Perbedaan sifat fisik dan sifat kimia suatu gugus fungsi memberikan respon yang berbeda pada setiap reaktan dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dilakukan praktikum ini untuk mempelajari dan memahami senyawa dari masing-masing golongan senyawa organik seperti alkohol, amina, aldehid, keton, karboksilat dan ester.
B. Tujuan praktikum
1. Memahami senyawa golongan alcohol, amina, aldehid, keton, asam karboksilat dan ester melalui gugus fungsionalnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
Gugus fungsi adalah suatu atom atau kumpulan atom yang melekat pada suatu senyawa dan berperan memberikan sifat yang khas dan berpengaruh pada sifat fisik dan kimia senyawa tersebut. Senyawa organik yang mempunyai gugus fungsional sama akan ditempatkan pada deret homolog yang sama. Ikatan tunggal karbon-karbon dan karbon-karbon-oksigen dalam senyawa organik biasanya tidak reaktif karena mereka non polar. Golongan polar membentuk bagian yang reaktif dalam suatu molekul organik yaitu gugus fungsional tersebut terikat pada karbon ( Prasojo, 2010).
Gugus fungsi tertentu bereaksi hanya dengan pereaksi tertentu dengan memberikan gejala yang khas, karena itu gugus fungsi menjadi ciri suatu kelompok senyawa dan dapat dikenali dengan peraksi pengenalnya. Beberapa pereaksi pengenal gugus fungsi adalah sebagai berikut :
1. Pereaksi Air Brom
Pereaksi ini menunjukkan bahwa senyawa organik sebagai senyawa tak jenuh. Pereaksi ini memberikan tanda yaitu hilangnya warna coklat dari Brom (Br2) apabila
positif mengandung ikatan rangkap pada suatu senyawa organik. Reaksinya yaitu R-HC=CH-R + Br2 → R-BrHC-CHBr-R2.
2. Pereaksi Logam Na
Pereaksi ini penunjuk adanya gugus – OH pada suatu senyawa organik dengan ditandai oleh timbulnya gelembung gas H2. Tanda tersebut berarti senyawa
tidak memiliki gugus – OH. Reaksinya yaitu 2R-OH + 2Na → 2R-Ona + H2.
3. Pereaksi Fehling
Pereaksi ini mengandung ion Cu2+ (berwarna biru transparan), penunjuk
adanya gugus aldehid (-CHO) oleh timbulnya endapan Cu2O berwarna merah bata.
Pada reaksi ini, gugus aldehid mereduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+ (Hoffman, 2004).
gugus fungsional lain di dekatnya. Zat tertentu dapat digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan adanya suatu gugus secara kualitatif. Beberapa contoh gugus fungsional yang sering ditemui adalah alkohol, aldehid, keton, asam karboksilat, ester, dan benzena. Beberapa diantaranya menghasilkan senyawa turunan seperti fenol, amina, dan amida (Pujianto, 2011).
1. Alkohol
Alcohol merupakan nama suatu golongan senyawa organik yang tersusun dari unsur-unsur C,H dan O dengan struktur yang khas. Rumus umum golongan alcohol monohidroksi adalah R-OH atau juga ditulis sebagai CnH(2n+2)O dengan ketentuan
bahwa R dapat berupa gugus alkil, gugus alkil tak jenuh, gugus alkil tersubtitusi dan mungkin pula rantai siklik. Manfaat golongan alkohol dalam sintesis senyawa organik sangat besar, karena dapat digunakan untuk membuat senyawa golongan lain, misalnya aldehida, keton dan asam karboksilat. Sifat-sifat alcohol ditentukan oleh dua unit struktrunya, yaitu R- (gugus alkil) yang bersifat lipofilik dan gugus –OH (hidroksil) yang bersifat hidrofilik. Kedua unit struktur ini mempengaruhi sifat-sifat fisika alcohol, yaitu dalam hal kelarutannya dalam air, titik didih dan viskositasnya. Reaksi pada alcohol dapat dibedakan menjadi, penggantian H dalam gugus –OH oleh atom/gugus, penggantian gugus –OH oleh halogen, perubahan pada gugus -C-OH karena adanya oksidasi, dan dehidrasi (Pujianto, 2011).
Struktur Alkohol (R-OH).
Berdasarkan posisi atom karbon yang mengikat gugus hidroksil dalam senyawa alkohol maka alkohol dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut:
b. Alkohol sekunder (2°) adalah alkohol dengan gugus hidroksil (–OH) terikat pada atom karbon sekunder. Atom karbon sekunder adalah atom karbon yang mengikat dua atom karbon lain.
c. Alkohol tersier (3°) adalah alkohol dengan gugus hidroksil (–OH) terikat pada atom karbon tersier. Atom karbon tersier adalah atom karbon yang mengikat tiga atom karbon lain.
(Fessenden,1991).
Alkohol alifatik merupakan cairan yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh ikatan hidrogen. Dengan bertambah panjangnya rantai, pengaruh gugus hidroksil yang polar terhadap sifat molekul menurun. Sifat molekul yang seperti air berkurang, sebaliknya sifatnya lebih seperti hidrokarbon. Akibatnya alkohol dengan bobot molekul rendah cenderung larut dalam air, sedangkan alkohol berbobot molekul tinggi tidak demikian. Alkohol mendidih pada temperatur yang cukup tinggi. Sebagai suatu kelompok senyawa, fenol memiliki titik didih dan kelarutan yang sangat bervariasi, tergantung pada sifat subtituen yang menempel pada cincin benzena (Petrucci, 1987).
2. Asam Karboksilat
Asam karboksilat adalah karbon yang memiliki gugus fungsional COOH. Rumus umumnya adalah CnH2nO2. Gugus fungsi ini dinamakan karboksil terdiri atas
diantaranya adalaha lemak hewan dan minyak tumbuhan. Secara umum struktur asam karboksilat dituliskan:
(Rasyid,2009)
3. Amina
Amina adalah suatu senyawa turunan amoniak (NH3) , dimana satu arau lebih
atom H dapat diganti atau disubtitusikan oleh gugus alkil (-R). Amina adalah senyawa yang mengandung gugusan amino. Gugusan amino mengandung nitrogen terikat kepada satu sampai tiga atom karbon (tetapi bukan gugusan karbonil) dan sejumlah atom hidrogen (tidak ada, satu atau dua). Apabila salah satu karbon yang terikat pada atom nitorgen adalah karbon karbonil, senyawanya adalah amida, bukan amina. Amina digolongkan menjadi amina primer (RNH2), sekunder (R2NH), atau tersier
(R3N), tergantung kepada jumlah atom karbon yang terikat pada atom nitrogen (bukan
pada atom karbon, seperti pada alkohol). Beberapa (1o) Amin Primer (satu karbon
terikat kepada N), beberapa (2o) Amin Sekunder (dua karbon terikat kepada N) dan
beberapa (3o). Amina Tersier (tiga karbon terikat kepada N). Semua senyawa amina
(primer,sekunder dan tersier) mempunyai rumus:CnH2n+3N
Amina primer Amina sekunder Amina tersier(Fessenden,1982)
4. Keton
mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil. Keton juga dapat dikatakan senyawa organik yang karbon karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lainnya. Keton tidak mengandung atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil . Rumus umum keton:
(Wilbraham, 1992).
5. Aldehid
Aldehida adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Aldehid memiliki sifat lebih reaktif daripada alkohol, dapat mengalami reaksi adisi, dapat mengalami reaksi oksidasi, aldehid dapat dioksidasi menjadi asam, dapat mengalami reaksi poli-merisasi. Karakteristik dari aldehid ini adalah berwujud gas pada suhu kamar dengan bau tidak enak, berwujud cair pada suhu kamar dengan bau sedap, senyawa polar sehinggan titik didihnya tinggi dan tidak berwarna. Struktur aldehid yaitu mengandung unsur C, H, dan O dengan rumus R-CHO, dimana R =adalah alkil dan – CHO adalah Gugus fungsi aldehida. Rumus umum aldehid adalah CnH2No (Acton, 2013).
6. Ester
(essen) yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan tidak lain adalah ester. Pada buah-buahan keharumannya tergantung dari ester yang terkandung di dalamnya. Gugus fungsional asam karboksilat adalah gugus karboksil, yang hidrogennya bersifat asam lemah (Halim, 1990).
Suatu ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus – CO2R dengan R dapat membentuk alkil maupun aril. Suatu ester dapat dibentuk
dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dan suatu alkohol, suatu reaksi yang disebut reaksi esterifikasi. Esterisfikasi berkataliskan asam dan merupakan reaksi yang reversibel.
(Dirjen POM, 1979).
BAB III
METODOLOGI
A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Tabung reaksi
2. Rak tabung reaksi
3. Pipet tetes
4. Pipet ukur
5. Kompor gas
6. Panci
7. Vorteks
8. Penjepit kayu
9. Kertas saring
10.Kertas pH/lakmus
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Larutan metanol 16. Reagen benedict
2. Larutan propanol 17. Larutan asam asetat
4. Larutan etanol 19. Larutan etil asetat
5. Aquades 20. Larutan etil metil keton
6. Larutan NaOH 10% 21. Larutan hidroksilamin-HCl
7. Larutan H2SO4 pekat 22. Larutan etanol 95%
8. Larutan potasium permanganat 23. Larutan FeCl3 10%
9. Larutan C7H6O3(asam salisilat) 24. Larutan formaldehida
10. Larutan asam amina 25. Larutan aceton
11. Larutan aniline 26. Larutan glukosa
12. Larutan pyridine 27. Reagen kromat
13. Larutan HCl
14. Larutan indole
15. Larutan benzaldehida
C. Cara Kerja
1. Alkohol
a. Uji oksidasi alkohol dengan Potasium Permanganat
Dicampur 3 mL metanol dengan 12 mL akuades, kemudian dibagi dalam 3 tabung reaksi masing-masing 5 mL dan di tambahkan akuadest pada tabung ke 4.
b. Pembentukan ester
Divorteks dengan baik dan diamati perubahan yang terjadi dengan digunakan tabung ke 4 sebagai referensi. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk hilangnya warna ungu pada masing-masing tabung.
Dilakukan hal yang sama untuk propanol dan isobutanol
Disiapkan 3 tabung reaksi yang masing-masing berisi :
1. 3 mL etanol, 0,5 mL asam acetat glacial dan 10 tetes asam sulfat 3 M
2. 3 mL isobutanol, 0,5 mL CH3COOH dan 10 tetes asam sulfat pekat
2. Amina
Test kelarutan dan keasaman amina
Dipanaskan ketiga tabung tersebut dengan ditempatkan pada pemanas air selama 3 menit.
Setelah dipanaskan,dipipet beberapa tetes produk yang dihasilkan pada masing-masing tabung dan ditetes pada saring dan secara hati-hati dicium. Di deskripsi aroma yang terbentuk.
Disi 3 tabung reaksi masing-masing dengan 1 mL senyawa amina (1) NH4OH-pekat (2) aniline (3) pyridine, kemudian ke dalam masing-masing tabung ditambah akuades
sebanyak 4 mL dan divorteks. Diamati kelarutan amina dalam air dan dicatat hasil pengamatan.
Uji sifat kelarutan larutan amina dalam air dengan
dicelupkan kertas pH/lakmus pada lapisan air dari campuran tersebut. Dicatat pH larutan/ warna kertas lakmus.
Uji sifat kelarutan larutan amina dalam air dengan
3. Aldehid dan Keton a. Uji Indole
b. Uji kemampuan mereduksi Uji asam kromat
Ditambah 1 mL HCl 6 M pada masing-masing tabung reaksi, kemudian divorteks. Diamati dan dicatat reaksi yang terjadi terkait dengan kelarutan dalam air dan pH masing-masing senyawa amina.
Dilakukan uji blanko( aquadest + reagen indole) . Uji positif ditandai dengan warna merah muda/merah.
Dipanaskan dalam pemanas air mendidih sampai timbul warna. Dimasukan satu tetes larutan yang diuji+ reagen indole 5 tetes.
Larutan yang diuji adalah formaldehida, benzaldehida, aceton, dan glukosa.
Uji Benedict
4. Asam Karboksilat
a. Kelarutan asam karboksilat
b. Reaksi-reaksi asam karboksilat
Ditambah pada masing-masing tabung tetes reagen asam kromat, di amati perubahan yang terjadi dan dicatat waktu yang dibutuhkan untuk perubahan.
Ditambahkan pada masing-masing tabung 4 tetes reagen benedict dan di panaskan 5 – 10 menit, diamati perubahan yang terjadi dan dicatat waktu yang dibutuhkan untuk perubahan.
Dimasukan 5 tetes larutan formaldehida, benzaldehida, aceton, dan glukosa.
Diisi tabung reaksi dengan 1 mL asam asetat kemudian ditambah aquades sebanyak 1 mL. Diamati kelarutan asam asetat dalam air dan di catat pengamatan.
Diuji sifat keasaman larutan asam asetat dalam air dengan menggunakan kertas pH/lakmus
Disi tabung reaksi dengan 1 mL asam asetat kemudian ditambah dengan 1 mL basa kuat ( NaOH)
5. Ester
Diamati dan dicatat reaksi yang terjadi serta senyawa yang terbentuk. Disi tabung reaksi dengan 1 mL asam asetat kemudian ditambah dengan 1 mL alkohol (C2H5OH).
Ditambah 2 tetes larutan etil asetat dan etil metil keton ke dalam 0,5 mL larutan hidroksilamin-HCl 0,5 M dalam etanol 95%
Ditambahkan 2 tetes larutan natrium hidroksida 6 M
Dipanaskan larutan hingga mendidih dan didiamkan sebentar dan ditambahkan 1 mL HCl 1 M
Jika larutan membentuk kabut ditambahkan 1 mL etanol 95%
Ditambah beberapa tetes larutan FeCl3 10%
BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN
1. Alkohol
a. Oksidasi alkohol dengan potasium permanganat
Senyawa Reagen Waktu Perubahan warna
Kalium permanganat merupakan senyawa kimia anorganik dengan rumus KmnO4. Garam yang terdiri dari K+ dan MnO4- ion. Kalium permanganat terurai menjadi:
2 KMnO4(s) → K2MnO4(s) + MnO2(s) + O2(g).
Kalium permanganat (KMnO4) merupakan alkali kaustik yang akan terdisosiasi dalam air membentuk ion permanganat (MnO4-) dan juga mangan oksida (MnO2) bersamaan dengan terbentuknya molekul oksigen elemental. Kalium permaganat termasuk pengoksidasi kuat dalam asam maupun basa dan ketika bereaksi dengan air kalium permanganat tidak berubah (tetap menghasilkan warna ungu). Dalam keadaan basa, oksidasi potasium permanganat dengan alkohol akan terjadi sangat cepat dan menghasilkan warna sesuai dengan jenis alkohol yang digunakan. Dalam keadaan asam, oksidasi potasium permanganat dengan alkohol terjadi agak lambat dan menghasilakan reaksi sesuai dengan jenis alkohol.
menghasilkan warna bening kekuningan dengan waktu 2 menit 43 detik. Reaksi yang terjadi adalah:
5CH3OH(S) + 4KMNO4(S) + 5NaOH(S) → 5HCO2Na(s) + 4MnO(S) + 8H2O(S) + 4KOH(S).
Perubahan warna ketika larutan divorteks disebabkan oleh potasium permanganat bereaksi dengan metanol, reaksi yang terjadi dalam waktu 2 menit 43 detik menandakan dalam keadaan basa potasium permanganat mampu menjadi oksidator yang kuat dan warna bening kekuningan yang dihasilkan menunjukan alkohol yang di uji adalah alkohol primer.
Oksidasi metanol dengan potasium permanganat dalam keadaan asam (ditambahkan H2SO4) menghasilkan warna bening dengan waktu 18 menit 52 detik. Reaksi yang terjadi adalah:
5CH3OH(s) + 6KMnO4(s) + 9H2SO4(s) → 5CO2(g) + 6MnSO4(s) + 3K2SO4(s) + 19H2O(s).
Perubahan warna ketika larutan divorteks disebabkan dalam reaksi metanol dengan potasium permanganat menunjukan bahwa alkohol yang diuji adalah alkohol primer.
Oksidasi propanol dengan potasium permanganat dalam keadaan asam menghasilkan warna bening orange dengan waktu 2 menit 20 detik. Reaksi yang terjadi adalah:
5C3H8O(s) + 2KMnO4(s) + 3H2SO4(s) → 5C3H8O2(s) + 2MnSO4(s)+
K2SO4(s)+ 3H2O(s).
Perubahan warna yang terjadi menunjukan alkohol yang diuji adalah alkohol sekunder.
Oksidasi propanol dengan potasium permanganat dalam keadaan basa menghasil warna hijau muda dengan waktu 52 detik. Reaksi yang terjadi adalah :
C3H8O(s) + KMnO4(s)+ NaOH(s) → C3H8O2(s)+ MnSO4(s)+ K2SO4 (s)+ H2O(s)
Perubahan warna yang terjadi menunjukan alkohol yang diuji adalah alkohol sekunder.
b. Pembentukan ester
Senyawa alkohol Senyawa asam Bau yang dihasilkan
Etanol Asetat glasial Seperti cuka
Isobutanol Asetat Minyak tanah
Metanol Salisilat Balsam
Senyawa alkohol dicampurkan dengan larutan asam, setelah itu diteteskan dengan 10 tetes asam sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai katalis. Penggunaan asam sulfat sebagai pengkatalis tidak menyebabkan reaksi berlangsung secara cepat. Sehingga supaya reaksi berlangsung dengan cepat setiap larutan harus dipanaskan di penangas air.
Pada pencampuran 3 mL etanol dengan 0,5 mL asam asetat glacial kemudian diteteskan 10 tetes asam sulfat 3 M menghasilkan bau seperti cuka. Bau seperti cuka ini disebabkan karena karena campuran larutan tidak menyatu sehingga bau asam asetat glasial lebih dominan.
Pada pencampuran 3 mL isobutanol dengan 0,5 mL CH3COOH kemudian diteteskan 10 tetes asam sulfat 3 M menghasilkan bau seperti minyak tanah. Bau minyak tanah yang dihasilkan disebabkan karena campuran larutan lebih dominan adalah isobutanol.
Senyawa pH Kelarutan
Aniline 4-5 Tidak sempurna
NH4OH 10-11 Sempurna
Pyridine 5-6 Sempurna
Sebelum penambahan HCl, reaksi aniline adalah C6H5NO3 (s)+ H2O(s) → C6H4NO3 (s)+ H3O(s)
Dengan pH 6-7 dan tidak terlarut sempurna dalam air, karena aniline memiliki atom karbon sebanyak 6 buah. Setelah penambahan HCl, aniline bereaksi dengan HCl membentuk garam anila hiroklorida reaksi sebagai berikut:
C6H5NO3(s) + H2O(s) + HCl(s) → C6H5Cl(s) + HNO3(s) + H2O(s)
pH aniline mengalami penurunan menjadi 4-5 karena HCl mempertahankan larutan dalam suasana asam dan aniline tidak terlarut sempurna dalam air karena aniline merupakan amina sekunder.
Sebelum penambahan HCl 6 M, larutan NH4OH memiliki pH 11-12 dan terlarut sempurna dalam air dengan reaksi sebagai berikut:
NH4OH(s) → NH4 (s) + H2O(s)
Setelah penambahan HCl 6 M, pH NH4OH turun menjadi 10-11 dan terlarut sempurna dalam air karena dalam kondisi basa NH4OH terlarut sempurna sehinggga NH4OH merupakan amina primer. Dengan reaksi sebagai berikut:
NH4OH(s) + HCl(s) → NH4Cl(s) + H2O(s)
Sebelum penambahan HCl 6 M, larutan pyridine memiliki pH 7-8 dan larut sempurna dalam air. Dengan reaksi sebagai berikut :
C5H5N(s) + H2O(s) →C5H5NH(s) + OH(s)
Setelah penambahan HCl 6 M, pH larutan pyridine mengalami penurunan menjadi 5-6 dan terlarut sempurna dalam air. Hal ini karena dalam asam larutan pyridine mampu terlarut dengan kondisi asam. Sehingga pyridine merupakan amina primer. Dengan reaksi adalah sebagai berikut:
C5H5N(s) + HCl(s) → C5H12(s) + NH4Cl(s)
a. Uji indole
Larutan uji Warna yang dihasilkan Hasil (+/-)
Formaldehid Cokelat
-Benzaldehid Merah +
Aceton Merah +
Glukosa Cokelat kemerahan
-Uji indole dengan larutan formaldehid dan glukosa menghasilkan warna cokelat karena pada uji mengunakan indole pada kedua larutan tersebut tidak bereaksi secara sempurna sehingga hasilnya adalah (-) yang menunjukan tidak adanya indole. Sedangkan pada uji indole dengan larutan benzaldehid dan aceton menghasilkan warna merah yang menandakan adanya indole. Pada uji indole ini pemanasan yang dilakukan dengan penangas air dilakukan supaya reaksi yang terjadi pada setiap larutan berlangsung dengan cepat.
b. Uji kemampuan mereduksi yang teroksidasi akan muncul perubahan warna dari coklat kemerahan berasal dari Cr6+,berwarna kemerahan. Menjadi hijau karena kromat
yang tereduksi menjadi Cr3+ (warna hijau ) sedangkan pada keton tidak.
sekon. Hal ini karena asam kromat teroksidasi menjadi Cr6+ dengan
reaksi yang sangat cepat. Sedangkan pada larutan uji aceton dengan asam kromat menyebabkan larutan berubah menjadi warna hijua muda dengan waktu 15 sekon. Pada larutan ini asam kromat tereduksi menjadi Cr3+ dan membutuhkan waktu yang lama dari oksidasi.
Larutan uji glukosa dan formaldehid tidak menunjukan reaksi karena reaksi pada larutan terjadi sebagian dengan waktu 17 sekon.
2. Uji benedict
Larutan uji Perubahan warna waktu
Glukosa Cokelat 10 detik
Benzaldehid Biru muda 10 detik Formaldehid Keungu-unguan 10 detik Aceton Biru kehijauan 10 detik
Aldehida alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan pereaksi benedict (kompleks ion Cu(II) sitrat dalam larutan basa). Ion Cu (II) direduksi menjadi Cu2O (endapan berwarna merah bata). Aldehida aromatic dan keton tidak bereaksi dengan pereaksi benedict.
R-CHO + 2 Cu2+ (biru) + 5 OH- à R-COO- + Cu2O (merah bata)+ 3 H2O
a. Kelarutan asam karboksilat
Asam asetat memiliki rumus molekul CH3COOH. Asam asetat ini diuji kelarutannya dengan penambahan H2O. Penambahan air ini menyebabkan asam asetat larut. Hal ini karena berat jenisnya lebih besar dari air yaitu 1,049 g/L. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO- .
CH3COOH + H2O → H+ + CH3COO
-Setelah itu asam asetat yang telah ditambahkan dengan air. diambil beberapa tetes lalu ditetesi pada lakmus merah dan biru. Ternyata lakmus merah berubah jadi biru dan sebaliknya. Karena, asetat dapat dilepaskan sebagai ion H+ (proton), sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah monoprotik dengan nilai pKa=4,8. Basa konjugasinya adalah asetat (CH3COO−). Hal ini menunjukan bahwa asam asetat termasuk
senyawa asam karboksilat BM rendah.
CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O
Asam karboksilat dapat bereaksi dengan basa membentuk garam dan air. Senyawa asam asetat ditambahkan dengan larutan basa (NaOH) menghasilkan garam CH3COONa dan air(H2O). Reaksi yang terjadi adalah reaksi penetralan dimana asam asetat( CH3COO-)
berikatan dengan Na+ dan H+ berikatan dengan OH- dari basa kuat
membentuk air untuk mentralkan larutan.
Senyawa Senyawa Senyawa yang Jenis reaksi
Senyawa Kelarutan pH
asam tambahan terbentuk
CH3COOH C2H5OH CH3COOC2H3+H2
O
Esterifikasi
Reaksi
CH3COOH + C2H5OH→ CH3COOC2H3 + H2O
Asam asetat merupakan asam lemah yang dapat terdisosiasi menjadi H+ . H+ merupakan katalisator reaksi dengan alkohol. Reaksi
asam asetat dengan alkohol akan terbentuk ester sehingga reaksi tersebut disebut reaksi esterifikasi dengan reaksi sebagai berikut: CH3COOH + C2H5OH→ CH3COOC2H3 + H2O.
5. Ester
Uji kualitatif ester
Larutan uji Perubahan warna Hasil (+/-)
Etil asetat Ungu +
Etil metil-keton Cokelat
BAB V
KESIMPULAN
1. Alkohol dapat digolongkan menjadi alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier berdasarkan karbon yang mengikat gugus –OH dan berdasarkan warna yang dihasilkan pada setiap uiji. Amina dapat digolongkan menjadi amina primer, amina sekunder dan amina tersier dengan kelarutan kuat dalam pelarut polar. Aldehid dan keton bereaksi kuat dengan indole, asam kromat dan benedict sehingga dalam uji aldehid dan keton di gunakan larutan-larutan tersebut. Pada uji indole dengan larutan uji benzaldehid dan aceton menghasilkan warna merah yang menandakan larutan adalah aldehid. Aldehid dan keton memiliki
kemampuan mereduksi yang sangat cepat terutama pada larutan uji benzaldehid. Asam karboksilat meiliki kelarutan sempurna dalam air dan dalam reaksi asam karboksilat dengan alkohol menghasilkan garam dan ester melalui reaksi
penetralan dan reaksi esterifikasi. Keberadaan ester dapat diketahui dengan uji etil asetat yaitu menghasilkan warna ungu.
DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkres RI: Jakarta. Fessenden. 1982. Kimia Organik Edisi III. Jakarta:Erlangga
Hallim. 1990. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi I. Jakarta:Erlangga
Acton, Q. A.2013. Issue in food production, processing, and preparation. Scholarly editions. Atlanda, Georgia. ISBN: 978-1-490-10681-6.pp.745. Wilbraham, dkk. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Bandung:ITB Petrucci.1987.Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat Jilid 3.Jakarta: Erlangga.
Rasyid, muhaidah. 2009. Kimia Organik I. Makassar: UNM. Pujianto, sentot. 2011. Gugus Fungsional Senyawa Organik.
(
http://www.zonakimia.web.id/2011/16/Gugus-Fungsional-senyawa-Organik.html) diakses pada tanggal 5 oktober 2016.
Hoffaman, Robert V. 2004. Organik chemistry second edition. America : John wiley and Sons.
LAMPIRAN
Uji kualitatif ester: larutan setelah dipanaskan
Aldehid dan keton, uji indole:larutan setelah dipanaskan