• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNOLOGI UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTA. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TEKNOLOGI UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTA. doc "

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNOLOGI UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

PENDAHULUAN

Pada bagian pertama tulisan ini, akan dipaparkan terlebih dahulu bagian yang mempunyai arti yang luas dan bersifat makro, yaitu tentang persoalan yang dihadapi oleh manusia di planet bumi ini, dan kemudian memberikan landasan mengapa pembangunan berkelanjutan (sustainable development) perlu diwujudkan. Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa teknologi untuk pembangunan berkelanjutan akan memiliki peran yang penting dalam mewujudkan hal tersebut. Di samping itu, pengertian tentang teknologi tersebut akan dipaparkan secara singkat.

Selanjutnya, pada bagain akhir makalah, disampaikan aplikasi teknologi untuk pembangunan. Diskusi tentang teknologi tersebut dibatasi hanya pada tiga hal, yaitu perubahan pada sumber energi primer, perubahan bahan baku dan menghindari terjadinya produk samping dan emisi.

PEMBAHASAN

Bagaimana Masa Depan Kehidupan Manusia di Bumi Ini ?

Carbon Dioxide Levels Rise Mercury Climbs Oceans Warm Glaciers Melt Sea

Level Rises Sea Ice Thins Permafrost Thaws Wildfires Increase Lakes Shrink Lakes

Freeze Up Later Ice Shelves Collapse Drought Linger Precipitation Increases Mountain

Stream Run Dry Winter Losses Its Bites Spring Arrives Earlier Autumn Comes Later

Plants Flower Sooner Migration Times Vary Habitat Change Birds Nest Earlier Diseases

Spread Coral Reefs Bleach Snow packs Decline Exotic Species Invade Amphibian

Disappears Coastlines Erode Cloud Forests Dry Temperatures Spike at High Latitudes.

(What in the World Is Going On? National Geographic, September 2004)

(2)

Meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk dunia telah menyebabkan tekanan terhadap sumber daya alam termasuk udara, air, tanah, dan keanekaragaman hayati. Kehidupan modern dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) hingga saat ini pada umumnya masih mengeksploitasi sumber daya alam secara maksimal terutama untuk keperluan bahan baku industri, termasuk industri kimia, yang juga menghasilkan limbah yang mengotori bumi. Dan apabila proses eksploitasi ini tidak dikendalikan dan limbah yang dihasilkan belum ditangani secara serius, maka akan menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Pembangunan saat ini pun belum memuat pertimbangan lingkungan yang memadai. Namun, upaya pencegahan sudah mulai dilakukan melalui berbagai aturan perundangan mengenai lingkungan. Di samping itu, kemiskinan di selatan dan kemapanan di utara cenderung merusak lingkungan hidup dan memboroskan sumber daya alam. Dengan demikian, memahami bumi dan proses yang terjadi di dalamnya adalah mutlak agar manusia dapat bertindak bijaksana. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menjaga kapasitas lingkungan agar dapat melakukan fungsi-fungsinya dengan baik.

Manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan di bumi sudah sepatutnya melakukan hal-hal yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan bumi. Populasi manusia di bumi telah melampaui 6 miliar jiwa pada tahun 2000 dan diperkirakan akan mencapai 8 miliar jiwa pada tahun 2020. Untuk mendukung jumlah manusia sebanyak itu, beban bumi akan semakin berat, terutama dalam penyediaan sumber daya alam dan untuk memberikan lingkungan yang berkualitas layak.

Sepanjang menyangkut lingkungan hidup dan/atau sumber daya alam (SDA), manusia sebenarnya dihadapkan pada suatu tantangan berat. Tantangan adalah suatu keadaan atau kondisi yang menghadapkan manusia pada suatu masalah, tetapi pemecahannya memerlukan suatu kemampuan baru (yang masih harus dicari dan dikembangkan). Tiga tantangan yang paling menonjol yang digarisbawahi dalam KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Bumi 1992 di Rio de Janeiro adalah :

1. Pesatnya laju pertumbuhan populasi manusia di bumi.

(3)

Gambar 1. Pertumbuhan dan proyeksi penduduk dunia, 1950 – 2050

Sumber : Population Division of the Department of Economic and Social Affairs of the United Nations Secretariat (2004), http://esa.un.org/unpp

2. Bumi telah terbelah menjadi dua dunia yaitu :

 Dunia Utara sebagai negara industri maju yang jumlah penduduknya relatif sedikit, kurang dari 20% penduduk bumi seluruhnya. Namun, konsumsi sumber daya alam secara umum dapat mencapai 40 kali dari dunia selatan.

 Dunia Selatan yang terdiri atas negara sedang berkembang. Mereka masih dicengkeram oleh kemiskinan dan keterbelakangan sedemikian rupa sehingga kehidupan bagi mereka adalah suatu perjuangan untuk mempertahankan keberadaan atau eksistensi belaka. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila mereka tidak memperdulikan persoalan lingkungan.

3. Perkembangan Iptek yang secara umum masih berciri eksploitatif, menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi, dan tidak hemat energi. Hal tersebut memberikan tekanan yang tinggi terhadap ekosistem di bumi.

(4)

1. Bumi akan mengalami krisis untuk memperoleh air bersih, dalam arti tidak hanya kuantitas namun juga kualitas.

2. Berkurangnya lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan keperluan hidup lainnya. Hal ini disebabkan oleh pengalihan pemanfaatan lahan pertanian menjadi lahan untuk non-pertanian dan meluasnya pembentukan lahan kritis sebagai akibat pemanfaatan lahan pertanian yang tidak memerhatikan upaya pemeliharaan kesuburan tanah. Hal-hal tersebut berakibat pada penggurunan, pengikisan, dan pelongsoran.

3. Menipisnya luas kawasan hutan secara global karena tuntutan akan kebutuhan lahan non hutan. Yang dikhawatirkan adalah menurunnya keanekaragaman hayati secara besar-besaran, baik dalam bentuk jenis tumbuhan dan satwa liar maupun juga ekosistem dan plasma nutfah.

4. Terjadinya pencemaran dan perusakan ekosistem pantai dan laut sebagai akibat penangkapan ikan yang berlebihan (over-fishing), perusakan habitat satwa laut dan terumbu karang, dan pencemaran oleh limbah dan sampah yang terbawa aliran muara sungai dari kegiatan manusia di darat.

5. Peningkatan beban pencemaran ke udara atau atmosfer juga memberikan ancaman terhadap penurunan kualitas udara sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan iklim secara global (akibat menipisnya ozon dan meningkatnya gas rumah kaca), dan hujan asam. Di samping itu, jumlah dan jenis limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) meningkat yang keseluruhannya dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

Lima belas tahun berlalu sejak pertemuan di Rio de Janeiro dan serangkaian negosiasi internasional yang melibatkan banyak negara dan para ahli, termasuk di antaranya yang paling terkenal adalah Protokol Kyoto. Apakah lingkungan bumi kita makin membaik? Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa keadaannya justru makin memburuk. Konsentrasi gas-gas rumah kaca (antara lain gas CO2, CH4, N2O, dan HFC) di atmosfer terus meningkat, yang

mengakibatkan perubahan iklim global. Perubahan iklim tersebut dipicu oleh meningkatnya temperatur rata-rata secara global yang sejak tahun 1880 hingga tahun 2002 hampir sekitar 0,6 OC (1 OF), seperti terlihat pada Gambar 2. Bagaimana prediksi temperatur bumi di masa

(5)

Gambar 2. Perubahan temperatur rata-rata tahunan secara global

Sumber : Mader (2007)

Pembangunan Berkelanjutan

Sustainable development: "Development that meets the needs of present without compromising the ability of future generations to meet their own needs." The World Commission on Environment and Development, Brundtland Commission, 1987

Pola pertumbuhan perkembangan ekonomi atau parameter lainnya, seperti populasi, dapat dilukiskan seperti pada Gambar 3. Memperhatikan pola pertumbuhan pada gambar tersebut, keadaan dunia saat ini berada pada garis hitam-penuh yang sedang menanjak, terutama dari segi pertumbuhan populasi dan ekonomi. Sampai kapankah pertumbuhan ini akan terus berlanjut?

Dengan memerhatikan tanda-tanda yang terjadi di bumi ini dan tantangan yang telah dikemukakan pada KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992, tampaknya tidak mudah diatasi oleh umat manusia, yang terjadi adalah masa depan yang buruk bagi kehidupan manusia. Prediksi yang terjadi adalah seperti yang digambarkan oleh garis merah-penuh pada Gambar 3. Yaitu, terjadinya bencana yang menimpa umat manusia. Keadaan seperti ini haruslah dihindari dengan berbagai cara dan usaha.

(6)

masyarakat yang berusaha menciptakan kondisi seperti itu disebut sebagai “Masyarakat yang Berkelanjutan” (Sustainable Society).

Gambar 3. Pola pertumbuhan pembangunan secara umum

Sumber: Suzuki (2006)

(7)

Gambar 4. Kriteria dalam pembangunan yang berkelanjutan

Sumber : DSM (2005)

Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berkelanjutan, peranan teknologi tidaklah dapat diabaikan dan dikesampingkan, akan tetapi dengan tantangan yang besar. Mulder (2006) mengungkapkan bahwa dalam rangka mendukung pembangunan yang berkelanjutan, efisiensi lingkungan produksi dan konsumsi suatu teknologi atau produk rata rata harus mencapai faktor 32,4. Dalam perhitungan tersebut diasumsikan dampak lingkungan dari produksi dan konsumsi pada tahun 2050 adalah separuh dari tahun 2000, jumlah penduduk dunia sebesar 1,5 kali lipat pada tahun 2050 dibandingkan 2000 dan negara miskin mengejar kemakmuran seperti di negara negara maju, yang berakibat pada pemanfaatan sumber daya alam sebesar 10,8 kali lipat pada tahun 2050.

Dengan melihat angka yang diprediksi tersebut, maka para industrialis, ilmuwan dan insinyur harus memikirkan perubahan teknologi dengan cara lompatan, tidak cukup hanya perubahan yang marjinal. Sejarah mencatat perubahan perubahan teknologi marjinal yang telah dilakukan manusia:

 Pada saat awal manusia menghadapi persoalan lingkungan adalah dengan cara yang paling mudah, yaitu membuangnya di lahan kosong dan berjauhan dengan kegiatan manusia; atau mengencerkannya ke sungai atau udara.

 Setelah pencemaran makin meningkat, kemudian diperkenalkan teknologi pengolahan limbah untuk mengurangi dampak dari limbah yang dihasilkan, dengan tidak mengubah proses produksi. Sebagian besar indusri di Indonesia masih pada tahap ini.

(8)

Namun, teknologi untuk pembangunan yang berkelanjutan–selanjutnya disebut sebagai teknologi berkelanjutan—tidaklah cukup dengan perubahan teknologi yang bertujuan memproduksi barang dan jasa dengan meminimalkan limbah saja, teknologi yang diperlukan adalah teknologi dengan tujuan yang jauh lebih luas. Hal ini untuk memungkinkan kita untuk memenuhi kebutuhan umat manusia dengan tanpa melebihi kapasitas daya dukung dan daya tampung ekologi planet bumi ini dan mempromosikan kesetaraan kebutuhan manusia.

Teknologi Berkelanjutan mempunyai paling tidak tiga karakterisitik, yaitu: memenuhi kebutuhan umat manusia, mempertimbangkan pengaruh global dan memberikan penyelesaian jangka panjang (Mulder, 2006). Beberapa contoh yang memperlihatkan teknologi yang tidak berkelanjutan, antara lain:

 Penggunaan pupuk kimia, yang pada awalnya dapat meningkatkan kebutuhan pangan, akan tetapi pada jangka panjang menimbulkan kerusakan tanah pertanian lokal.

 Obat antibiotika telah dirasakan penting bagi peningkatan kesehatan manusia, tetapi penggunaannya yang sangat luas menyebabkan munculnya bakteri yang tahan terhadap obat antibiotika. Pada jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan resiko kesehatan yang luas.

Kata kunci dari teknologi berkelanjutan adalah adanya inovasi sistem yang mengubah struktur sistem teknologi. Pengertian sistem di sini bukan saja pada skala mikro akan tetapi mencakup inovasi sistem dalam skala besar yang melibatkan unsur unsur yang berkontribusi dalam menghasilkan produk dan jasa bagi konsumen. Inovasi sistem ada kalanya membutuhkan biaya investasi yang besar dan sering pula diiringi dengan kehancuran keseluruhan sistem yang digantikannya. Sebagai contoh, sistem telegraf yang dihancurkan oleh teleks, yang kemudian kedua teknologi tersebut disapu oleh mesin faks. Saat ini, kita sedang mengamati menghilangnya mesin faks yang digantikan oleh pengiriman dokumen melalui surat elektronik (e-mail).

Aplikasi Teknologi untuk Pembangunan yang Berkelanjutan

(9)

Berikut ini disampaikan tiga buah contoh inovasi sistem yang lebih rinci dalam rangka teknologi untuk pembangunan yang berkelanjutan (Mulder, 2006). Tiga contoh tersebut adalah

 Mengubah penggunaan sumber energi primer dan peningkatan efisiensi energi dalam sistem produksi

 Mengubah sumber bahan baku dan penggunaan kembali produk yang tak-termanfaatkan.

 Menghindari terjadinya produk samping (by-products) dan emisi.

Mengubah Penggunaan Sumber Energi Primer dan Peningkatan Efisiensi Energi dalam Sistem Produksi

Pada saat ini, sumber energi primer untuk industri dan kegiatan manusia adalah bahan bakar fosil (minyak bumi, gas dan batubara). Energi primer adalah energi penggerak utama yang langsung digunakan untuk suatu kegiatan. Misalnya, penggunaan bensin atau solar untuk kendaraan bermotor, penggunaan batubara/gas/minyak untuk menghasilkan uap panas (steam) untuk menjalankan mesin, memanaskan alat alat di pabrik pabrik atau untuk menghasilkan listrik dari suatu pabrik.

Dalam dekade mendatang, kita akan melihat perubahan yang besar dalam penggunaan sumber energi primer di negara industri, yaitu dengan beralih pada listrik sebagai energi primer. Beberapa negara maju mendorong lebih jauh penggunaan kendaraan bertenaga listrik yang saat ini banyak dikritik sebagai ‘kendaraan dengan emisi di tempat lain’ bukan sebagai ‘kendaraan dengan emisi nol’. Maksudnya adalah untuk menghasilkan listrik tersebut, saat ini masih dihasilkan emisi, walapun bukan pada kendaraan tersebut, tetapi terjadi di tempat pembangkit tenaga listriknya. Demikian pula proses produksi di industri beralih dengan pemakaian listrik sebagai sumber energi primer. Akan tetapi pertanyaannya adalah apakah penggunaan listrik sebagai sumber energi primer merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dalam menunjang teknologi berkelanjutan?

(10)

 Pembangkit listrik secara umum menggunakan bahan bakar lebih efisien daripada penggunaan bahan bakar langsung di proses industri lainnya. Namun, sebagian energi (3-15%) hilang dalam jaringan transmisi dan distribusi melalui jaringan listrik (grids).

 Dengan pengembangan jaringan listrik (grids) yang lebih sempurna akan meningkatkan kesempatan bagi penghasil energi dari bahan bakar yang terbarukan (renewable resources) untuk dapat menjual energi listriknya.

 Polusi dari satu cerobong pembangkit listrik jauh lebih mudah dikendalikan daripada emisi dari cerobong yang banyak dari berbagai industri.

 Pemakaian energi seringkali menimbulkan pencemaran udara yang berbahaya bagi kesehatan, terutama di daerah perkotaan. Pembangkit listrik dimungkinkan di tempatkan di luar daerah perkotaan, sehingga dampak pencemaran udara dapat diminimalkan.

 Sumber sumber energi listrik terbarukan tersedia dalam jumlah yang cukup bagi daerah tertentu dan dapat di eksplorasi lebih jauh. Misalnya limbah biomassa, seperti di Lampung, Riau dan daerah lainya. Sumber panas bumi yang tersedia di banyak tempat di Indonesia yang sangat dimungkinkan untuk dijadikan sumber listrik.

 Sumber listrik yang terbarukan lainnya memiliki potensi yang besar bila didorong dengan kebijakan yang tepat dan insentif yang memadai. Contohnya adalah tenaga surya, angin, gelombang dan lain lain.

Efisiensi pembangkit listrik dapat ditingkatkan lebih tinggi dengan mengkombinasikan panas dan energi (CHP – cogeneration of heat and power). Dalam waktu dekat, di banyak tempat di dunia termasuk di Indonesia, akan terjadi revolusi jaringan listrik (grids) di mana setiap orang bisa menghasilkan listrik (produsen) dan juga sebagai pengguna (konsumen). Untuk mencapai hal tersebut perlu penyelesaian permasalah teknis dan regulasi terlebih dahulu, agar kita semua dapat menjadi produsen dan konsumen listrik dan energi secara bersamaan.

(11)

Mengubah Sumber Bahan Baku dan Penggunaan Kembali Produk yang Tak-termanfaatkan

Bahan baku utama dalam industri kimia dan proses pada saat ini masih tergantung sangat kuat terhadap bahan baku berbasis minyak bumi dan gas atau bahan yang berasal dari fosil. Penggunaan bahan baku tersebut perlu menjadi pertimbangan matang di masa mendatang.

Laporan EuropaBio tahun 2003 memuat studi yang dilakukan oleh McKinsey and Company, Oeko Institute bersama-sama dengan sebuah dewan penasehat terhadap sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang industri bioteknologi dalam rangka memberikan penilaian terhadap potensi industri bioteknologi di masa depan

Laporan tersebut memberikan indikasi bahwa pangsa pasar industri bioteknologi akan meningkat dengan tajam di seluruh bidang pada tahun 2010, terutama dalam produksi bahan kimia adi (fine chemicals). Diperkirakan, pada tahun 2010, antara 30 hingga 60% bahan kimia adi, dan antara 6 hingga 12% polimer dan bahan kimia curah (bulk chemicals) akan diproduksi dengan cara bioproses dengan bahan baku biomassa. Pada saat laporan tersebut ditulis, tahun 2003, penetrasi industri bioteknologi terhadap seluruh industri kimia sekitar 5%, diperkirakan penetrasi tersebut akan meningkat antara 10 - 20% pada tahun 2010, dan bahkan akan meningkat dengan tajam pada tahun-tahun berikutnya. Laju penetrasi tersebut bergantung pada beberapa faktor, antara lain yang akan sangat mempengaruhi adalah harga minyak mentah, harga bahan baku pertanian (biomassa), kemauan politik dari banyak pemerintahan, dan struktur dari teknologi baru ini (Bachman, 2003).

(12)

Gambar 5. Harga rata-rata bulanan minyak mentah Brent Sumber: Oilenergy.com (2010)

Produksi biomassa di bumi ini diperkirakan sekitar 170 miliar ton per tahun yang terdiri dari 75% karbohidrat, 20% lignin, dan 5% senyawa lainnya, seperti minyak dan lemak, protein, alkaloid, dan lain sebagainya. Dari nilai produksi biomassa tersebut, hanya sekitar 3,5% (6 miliar ton) saat ini digunakan untuk kebutuhan manusia, dengan rincian sebagai berikut (Soetaert dan Vandamme, 2006) :

 3,2 miliar ton (62%) untuk kebutuhan pangan manusia, antara lain melalui peternakan hewan dan pertanian.

 2 miliar ton (33%) untuk energi, kertas, dan kebutuhan konstruksi.

 300 juta ton (5%) untuk memenuhi kebutuhan manusia non-pangan, seperti untuk bahan baku pembuatan pakaian, deterjen, bahan kimia, dan lain sebagainya.

Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa masih terdapat ruang yang cukup lebar untuk memanfaatkan biomassa sebagai sumber daya alam yang terbarukan (renewable resources) untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pemanfaatan biomassa tersebut merupakan tantangan yang terbesar bagi teknologi berkelanjutan untuk menjawabnya.

(13)

industri yang memanfaatkan Teknologi Berkelanjutan akan mendorong terwujudnya Masyarakat yang Berkelanjutan (Sustainable Society).

Dari pembahasan di atas tampak bahwa mengubah bahan baku utama pada proses industri dapat membantu mengurangi limbah, pencemaran dan penipisan dari sumber bahan baku yang tidak terbaharui secara nyata. Bila melihat pada industri konvensional, industri secara umum menghasilkan bermacam-macam limbah, yang secara prinsip limbah tersebut dapat dimanfaatkan kembali atau didaur ulang, akan tetapi seringkali limbah tersebut tidak termanfaatkan karena alasan alasan teknis dan ekonomi, misalnya tidak tersedianya proses yang efektif untuk memanfaatkan limbah tersebut.

Proses daur ulang yang tersedia saat ini dapat menjadi efektif secara biaya (cost effective), apabila terjadi perubahan peraturan (undang-undang) atau kenaikan harga bahan baku. Ketidaktersediaan teknologi daur ulang yang efektif secara biaya jarang sekali terjadi hanya disebabkan oleh faktor teknis, akan tetapi banyak dipengaruhi pula oleh faktor sosial. Biaya sesungguhnya dari limbah suatu proses produksi (termasuk konsumsinya) seringkali tidak dibayar oleh perusahaan yang menghasilkan produk tersebut. Sebagai contoh, kemasan suatu produk (katakanlah kemasan kotak dari produk susu) akan menjadi limbah domestik setelah produk tersebut dikonsumsi oleh pembeli. Lalu limbah kemasan menjadi beban masyarakat atau pemerintah daerah. Hal tersebut menjadi berbeda apabila biaya pengolahan limbah kemasan menjadi tanggung jawab produsen, seperti yang diatur dalam Undang Undang Sampah No. 18 tahun 2008

Dengan adanya undang undang tersebut produsen akan mempertimbangkan apakah akan menggunakan kemasan yang sama (kemasan kotak yang sulit dihancurkan dan sulit dimanfaatkan kembali) atau kemasan yang berbeda. Produsen akan terdorong dan berpikir lebih jauh untuk mengurangi penggunaan kemasan atau mengubah kemasan atau mengubah rancangan produk untuk mengurangi limbah domestik secara nyata.

Pengurangan, pemanfaatan kembali dan daur ulang produk dan atau bahan baku, dikenal sebagai 3R (reduce, reuse and recycle) adalah hal yang sangat penting dilakukan di industri dan masyarakat. Banyak sekali contoh yang dapat dilaksanakan untuk hal tersebut, yang pada intinya adalah bagaimana melakukan siklus material (material cycle) yang tertutup sejauh hal tersebut dapat dilaksanakan dan diupayakan.

(14)

exchange), dan lain sebagainya. Dengan demikian, sekelompok industri merupakan sistem simbiosis antara satu industri dengan industri yang lain. Contoh yang terkenal mengenai ekologi industri ini adalah di kawasan industri Kalundborg, Denmark (www.indigodev.com/ Kal.html)

Menghindari Terjadinya Produk Samping dan Emisi

Menghindari terjadinya produk samping dan emisi merupakan hal teknis dan seringkali menjadi sesuatu yang terlalu detil untuk dipahami oleh masyarakat umum. Namun, hal ini menjadi bagian yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para insinyur kimia dan ahli proses di industri dan menjadi tantangan besar di kemudian hari dalam rangka mewujudkan Teknologi Berkelanjutan.

Beberapa contoh berikut ini dikemukakan dalam Mulder (2006). Contoh pertama adalah produk isomer. Produk dari proses kimia seringkali dihasilkan beberapa isomer, yaitu senyawa dengan rumus molekul yang sama, akan tetapi memiliki stuktur molekul yang berbeda atau kedudukan suatu unsur (atau senyawa) berbeda dalam struktur ruangnya. Yang menyulitkan adalah produk yang berguna hanyalah suatu isomer tertentu, sedangkan isomer isomer lainnya merupakan produk limbah (by-products) yang tidak dapat dimanfaatkan.

Contoh dari produk isomer adalah para-phenylene-diamine (PPD) yang merupakan senyawa antara untuk menghasilkan serat aramid-kinerja-tinggi. Dalam proses produksi PPD dihasilkan senyawa isomernya dengan kuantitas yang sama (1:1) yaitu ortho-phenylene-diamine (OPD). Isomer OPD ini tidak memiliki kegunaan yang berarti, sehingga menjadi limbah yang harus ditangani. Pada tahun 1980-an, kebutuhan akan serat aramid makin meningkat, akan tetapi terhambat oleh produk samping yang harus ditangani dengan seksama. Hal ini mendorong industri penghasil serat aramid, AKZO-Nobel untuk mengembangkan proses yang secara selektif hanya menghasilkan isomer PPD. Kunci dari penelitian tersebut adalah memilih kondisi operasi dan katalis yang tepat untuk menghasilkan PPD tanpa membentuk OPD.

(15)

dipecahkan menjadi fraksi ringan, sehingga meningkatkan keekonomian industri pengilangan minyak bumi. Bahkan, sulfur yang terkandung dalam fraksi berat dapat diambil kembali menjadi produk belerang (S) yang bermanfaat bagi industri kimia lainnya. Perubahan-perubahan seperti ini telah dan sedang dilakukan oleh industri pengilangan minyak di Indonesia, walaupun perubahan yang lebih besar lagi perlu ditingkatkan agar industri pengilangan minyak Indonesia mampu menerapkan teknologi yang mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Banyak contoh contoh lain yang berkaitan dengan menghindari produk samping dan emisi disajikan di berbagai buku rujukan, antara lain, dalam Mulder (2006). Pada intinya adalah peningkatan teknologi pengendalian proses, teknologi katalis dan perbaikan sistem manajemen lingkungan akan mampu meningkatkan efisiensi konversi bahan baku–yang langka—menjadi produk akhir yang bermanfaat dan mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Bachman, R. 2003. “Industrial Biotechnology – New Value – Creation Opportunities”, McKinsey and Co., presentasi pada The Bio-Conference, New York.

DSM. 2005. “Industrial (White) Technology: An Effective Route to Increase EU Innovation and Sustainable Growth”.

EuropaBio. 2003. White Biotechnology Gateway to a More Sustainable Future, Brussels, April.

Mader, S.S. 2007. Biology, Ed. 9, McGraw Hill Int. Edition, New York.

Marshall, R. 2006. “Broader Horizons for Biomass”, Chemical Engineering, Vol. 113, No. 10, pp. 21--25.

Mulder, K. Editor. 2006. “Sustainable Development for Engineers”, Greenleaf Publishing Ltd., Sheffield.

Setiadi, T. 2007. “Peranan Teknik Bioproses dalam mewujudkan Masyarakat Berkelanjutan’, Majelis Guru Besar, ITB, Bandung.

Soetaert, W. and Vandamme, E. 2006. “The Impact of Industrial Biotechnology”.

Biotechnology J., 1, pp. 756--769

Gambar

Gambar 1.  Pertumbuhan dan proyeksi penduduk dunia, 1950 – 2050
Gambar 2. Perubahan temperatur rata-rata tahunan secara global
Gambar 3. Pola pertumbuhan pembangunan secara umum
Gambar 5. Harga rata-rata bulanan minyak mentah Brent

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Bambang Riyanto (2012:327), Laporan Finansiil (Financial Statement), memberikan ikhtisar mengenai keadaan finansiil suatu perusahaan, dimana Neraca (Balance

Puji syukur senantiasa terpanjatkan atas ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahNya sehingga penyusunan skripsi yang berjudul “Penerapan Pembelajaran

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pembiayaan mudharabah pada bank umum syariah di Indonesia, tetapi dalam penelitian ini dibatasi pada faktor Net Performing

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan, bahwa 1) Pemberian kompos berbahan baku daun lamtoro ( Leucaena leucocephala ) dan daun angsana ( Pterocarpus indicus )

Kegiatan perencanaan karakter disiplin siswa di SMAN 1 Krueng Barona Jaya Aceh Besar diterapkan dengan berbagai kegiatan yang sistematis. seperti kegiatan

Secara normative Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Maluku Utara Tahun 2014-2019, mengacu kepada RPJMN, Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2008

Hasil dari penelitian ini dapat melengkapi kajian terdahulu mengenai hubungan variabel kegiatan promosi, ekuitas merek, loyalitas pelanggan dan pengaruhnya terhadap adopsi

kegiatan perekonomian yang diusahakan pemerintah, dan rakyat pun berhak ikut menikmati hasil-hasil pembangunan negara sesuai dengan darma baktinya kepada negara.