• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINAS"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINASI BUATAN

IN VITRO FERTILIZATION, TRANSFER EMBRIO DAN SPLITTING EMBRIO

Disusun oleh :

Abednego Prasetyo Adi (115130100111022)

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

1. Ceritakan tentang proes fertilisai in vivo ? Jawab :

In Vivo adalah bahasa Latin untuk “dalam organisme hidup”. Fertilisasi in vivo merupakan proses fertilisasi yang terjadi di dalam suatu tubuh organisme hidup. Fertilisasi adalah suatu proses penyatuan antara sel mani /sperma dengan sel telur. Fertilisasi dapat terjadi pada rentang masa birahi dari induk. Proses fertilisasi dimulai dengan masuknya sperma yang diejakulasikan ke dalam vagina. Sperma tersebut bergerak masuk ke dalam kavum uteri dan tuba sampai akhirnya bertemu dengan ovum di ampula / infundibulum tuba. Selama perjalanan menuju ovum, sperma mengalami reaksi kapasitasi dan reaksi akrosom.

Pada saat sperma mencapai oosit, terjadi : a. Raeksi zona / reaksi kortikal

b. Oosit menjadi pronukleus betina

c. Inti sperma membentuk pronukleus jantan d. Ekor sel sperma terlepas dan berdegenerasi

e. Pronukleus jantan dan betina bersatu dan membentuk zygot yang memiliki jumlah DNA genap atau diploid.

Hasil utama pembuahan :

a. Penggenapan kembali jumlah kromosom b. Penentuan jenis kelamin

c. Permulaan embriogenesis

Zygot mengalami mengalami proses pembelahan mitosis beberapa kali, sampai terbentuk 16 sel yang akan menjadi morula pada hari ke 3-4 setelah fertilisasi dan berlanjut terus sampai terbentuk trofoblast.

Kira – kira pada hari ke 5 sampai ke 6, terjadi implantasi zigot dalamcavum uteri.

2. Apa yang anda ketahui tentang IVF dan Splitting Embrio ? Jawab :

 IVF (In Vitro Fertlization / Fertilisasi In Vitro) adalah suatu proses fertilisasi (pembuahan) buatan dalam suatu media yang dilakukan oleh manusia dengan memanfaatkan spermatozoa dan ovum diluar tubuh

 Splitting Embrio merupakan salah satu bentuk mikromanipulasi embrio yang dapat dijadikan metode alternatif untuk memperbanyak jumlah embrio yang dapat ditransfer dengan kualitas yang seragam (kembar identik). Dengan meningkatnya kuantitas embrio yang memiliki kualitas baik pada akhirnya akan meningkatkan persentase kebuntingan lebih dari 100%.

3. Apa yang kamu ketahui tenatng Transfer Embrio, Jelaskan ? Jawab :

(3)

superovulasi ini akan dibuahi oleh spermatozoa unggul melalui teknik IB sehingga terbentuk embrio yang unggul. Embrio yang diperoleh dari donor dikoleksi dan dievaluasi, kemudian ditransfer ke induk resipien sampai terjadi kelahiran. TE memungkinkan induk betina unggul memproduksi anak dalam jumlah banyak tanpa harus bunting dan melahirkan. TE dapat mengoptimalkan bukan hanya potensi dari jantan saja tetapi potensi betinaberkualitas unggul juga dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada proses reproduksialamiah, kemampuan betina untuk bunting hanya sekali dalam 1 tahun (9 bulan buntingditambah persiapan untuk bunting berikutnya) dan hanya mampu menghasilkan 1 atau 2anak bila terjadi kembar. Menggunakan teknologi TE, betina unggul tidak perlu buntingtetapi hanya berfungsi menghasilkan embrio yang untuk selanjutnya bisa ditransfer(dititipkan) pada induk titipan (resipien) dengan kualitas genetik rata-rata tetapi mempunyai kemampuan untuk bunting.

PROSES TRANSFER EMBRIO :

Teknologi transfer embrio merupakan aplikasi bioteknologi reproduksi ternak melalui teknik Multiple Ovulation Embrio Transfer (MOET) serta rekayasa genetic untuk meningkatkan mutu genetik dalam waktu yang lebih singkat dan jumlah yang lebih banyak. Teknik produksi embrio dapat dilaksanakan dengan beberapa cara seperti cara konvensional atau invivo dan metode invitro serta Oocyt Pick Up (OPU). Produksi embrio dengan cara invivo ialah salah satu teknik produksi embrio dimana pembentukan embrio berlangsung di dalam alat reproduki betina sedangkan metode invitro adalah sebaliknya yaitu proses pembentukan embrionya berlangsung di luar alat reproduksi. Dan untuk pengembangan dan peningkatan produksi dalam rangka penekanan biaya produksi dapat diterapkan teknik kloning Embrio. Embrio yang digunakan untuk transfer embrio dapat berupa embrio segar atau embrio beku (freezing embrio). Embrio beku efisien untuk dipakai karena dapat disimpan lama sebagai stock dan dapat dibawa ke daerah-daerah yang membutuhkan.Sedangkan embrio segar hanya dapat di transfer pada saat produksi dilokasi yang berdekatan dengan donor.

Peningkatan mutu genetik dengan ketersediaan anak keturunan yang banyak maka diarahkan kepada :

1. Transfer Embrio Jenis Sapi Potong.

Untuk menghasilkan bibit yang akan menghasilkan bibit dasar dengan pertambahan bobot badan > 1,5 kg/hari dan mencapai berat > 400 kg pada umur 1,5 tahun. Yang telah di produksi antara lain Simenthal, Limousin, Brangus, Brahman, Angus dan Crossing Simenthal dan Brahman

2. Transfer Embrio Sapi Perah.

Untuk menghasilkan bibit dasar (Fondation stock) dengan kriteria dari induk produksi susu > 7000 kg laktasi dan untuk pejantan mewariskan produksi susu > 10.000 kg laktasi. Bangsa yang telah di produksi adalah FH.

(4)

1. Pengadaan Sapi Donor dan Sapi Resipien

Seleksi dilakukan dengan tujuan agar hewan yang dijadikan sebagai donor maupun resipien merupakan hewan yang layak mendapat perlakuan terhadap teknologi transfer embrio. Calon donor yang akan dipakai harus diseleksi dengan kriteria sbb:

a. Memiliki genetik yang unggul (Genetik Superiority)

b. Mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi (High Reproductivity), sehat secara serologis bebas dari penyakit hewan menular terutama penyakit-penyakit reproduksi

c. Memiliki nilai pasar tinggi.

d. Sejarah reproduksi diketahui, mempunyai siklus birahi normal dan kemampuan fertilitas tinggi

Pada calon resipient diberikan persyaratan berikut :

a. Minimal sudah beranak atau dara yang mempunyai performans yang baik mempunyai berat badan minimal 300 kg

b. Bebas penyakit menular terutama penyakit reproduksi.

c. Sejarah reproduksi tidak menunjukkan gejala infertil, mempunyai siklus normal, tanda birahi terlihat jelas, intensitas lendir birahi normal dan transparan dan mempunyai interval birahi antara l8 -24 hari.

d. Sapi resipien tidak harus mempunyai mutu genetik yang baik dan berasal dari bangsa yang sama, tetapi harus mempunyai organ dan siklus reproduksi normal, tidak pernah mengalami kesulitan melahirkan (distokia).

2. Super Ovulasi

Sapi merupakan ternak uniparous, dimana sel telur yang terovulasi setiap siklus berahi biasanya hanya satu buah. Dalam program TE, untuk merangsang terjadinya ovulasi ganda, maka diberikan hormon superovulasi sehingga diperoleh ovulasi sel telur dalam jumlah besar. Hormon yang banyak digunakan untuk rekayasa superovulasi adalah hormon gonadotropin seperti Pregnant Mare’s Serum Gonadotripin (PMSG) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH). Penyuntikan hormon gonadotropin akan meningkatkan perkembangan folikel pada ovarium (folikulogenesis) dan pematangan folikel sehingga diperoleh ovulasi sel telur yang lebih banyak. Hormon FSH mempunyai waktu paruh hidup dalam induk sapi antara 2-5 jam. Pemberian FSH dilakukan sehari dua kali yaitu pada pagi dan sore hari selama 4 hari dengan dosis 28 – 50 mg (tergantung berat badan). Perlakuan superovulasi dilakukan pada hari ke sembilan sampai hari ke 14 setelah berahi.

3. Penyerentakan Berahi

Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha yang bertujuan untuk mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan resipien. Sinkronisasi estrus umumnya menggunakan hormon prostaglandin F2a (PGF2a ) atau kombinasi hormon progesteron dengan PGF2a . Prosedur yang digunakan adalah:

(5)

b. Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2a dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari.

Penyuntikan PGF2a pada ternak resipien harus dilakukan satu hari lebih awal daripada donor. Keadaan ini disebabkan karena pada ternak donor yang telah diberi hormon gonadotropin, berahi biasanya lebih cepat yaitu 36 – 60 jam setelah penyuntikan PGF2a, sedangkan pada resipien berahi biasanya timbul 48 – 96 jam setelah penyuntikan PGF2a

4. Inseminasi Buatan

IB yang baik dilaksanakan 6 sampai 24 jam setelah timbulnya berahi. Berahi pada sapi ditandai oleh alat kelamin luar (vagina) berwarna merah, bengkak dan keluarnya lendir jernih serta tingkah laku sapi yang menaiki sapi lain atau diam apabila dinaiki sapi lain. Pada program TE, IB dilakukan dengan dosis ganda dimana satu straw semen beku biasanya mengandung 30 juta spermatozoa unggul.

5. Koleksi Embrio

Koleksi embrio pada sapi donor dilakukan pada hari ke 7 sampai 8 setelah berahi. Sebelum dilakukan panen embrio, bagian vulva dan vagina dibersihkan dan disterilkan dengan menggunakan kapas yang mengandung alkohol 70%. Koleksi embrio dilakukan dengan menggunakan foley kateter dua jalur 16-20G steril (tergantung ukuran serviks). Pembilasan dilakukan dengan memasukkan medium flushing Modified Dulbecco Phosphate Buffered Saline (M-PBS) yang telah dihangatkan di dalam waterbath 37°C. Embrio yang didapat dari pembilasan bisa langsung di transfer ke dalam sapi resipien atau dibekukan untuk disimpan dan di transfer pada waktu lain.

6. Transfer Embrio

Terdapat dua metode TE yang digunakan yaitu metode pembedahan dan metode tanpa pembedahan. Metode pembedahan dilakukan dengan jalan membuatan sayatan di daerah perut (laparotomi) baik sayatan sisi (flank incici) atau sayatan pada garis tengah perut (midle incici). Metode tanpa pembedahan dilakukan dengan memasukkan embrio kedalam straw kemudian ditransfer kedalam uterus resipien dengan menggunakan cassoue gun insemination.

Tiga (3) Faktor penting yang harus diperhatikan guna keberhasilan pelaksanaan transfer embrio adalah :

1. Kualitas embrio yang akan di transfer; umur,kwalitas, jenis embrio (bela/segar) metode pembekuan adanyakontaminasi atau infeksi pada embrio.

2. Tingkat keterampilan petugas dalam mentranfer antara lain kemampuan mendeposisikan embrio secara tepat (sepertiga apexcornua uteri) dan cepat, tidak terjadi luka pada uterus, dan sapi tenang/tidak stres.

(6)

MANFAAT DAN KEUNGGULAN TRANSFER EMBRIO

Adapun manfaat teknologi transfer embrio adalah: 1. Meningkatkan mutu genetik ternak.

2. Mempercepat peningkatan populasi ternak.

3. Berpotensi mencegah berjangkitnya penyakit hewan menular yang ditularkan lewat saluran kelamin.

4. Mempercepat pengenalan material genetik baru lewat ekspor embrio beku. 5. Meningkatkan penyediaan sumber bibit unggul.

6. Memanfaatkan sapi lokal yang kurang unggul untuk menghasilkan keturunan yang unggul.

7. Meningkatkan pendapatan masyarakat

Keunggulan teknologi transfer embrio dibandingkan inseminasi buatan adalah:

1. Perbaikan mutu genetik pada IB hanya berasal dari pejantan unggul sedangkan dengan teknologi TE, sifat unggul dapat berasal dari pejantan dan induk yang unggul

2. Waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh derajat kemurnian genetik yang tinggi (purebred) dengan TE jauh lebih cepat dibandingkan IB dan kawin alam. 3. Dengan teknik TE, seekor betina unggul mampu menghasilkan lebih dari 20 –

30 ekor pedet unggul per tahun, sedangkan dengan IB, hanya dapat menghasilkan satu pedet per tahun.

Referensi

Dokumen terkait

2) Anjuran untuk ikhlas (dalam beramal), karena Allah tidak akan menerima sebuah amalan kecuali jika dibangun di atas dasar muta’ba’ah dan ikhlas. Oleh karena itu, banyak

Dengan adanya sistem pendukung keputusan menggunakan metode TOPSIS, maka diharapkan dapat membantu siswa dalam pemilihan Lembaga Bimbingan Belajar yang

Hanya saja kami perkirakan kenaikan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder akan dibatasi oleh rencana lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan diadakan oleh pemerintah

Kinerja adalah kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja individu maupun kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami atau kemampuan

Pada penelitian ini dilakukan ekstrak terhadap bahan alam kulit jeruk dan mangga sebagai penghambat laju korosi pada baja karbon API 5L Gr B dalam media air laut buatan.. Latar

Penggunaan metode Simplex Lattice Design diharapkan dapat memperoleh formula yang optimum dari gel antiseptik tangan fraksi etil asetat daun kesum ( Polygonum minus Huds

Indikator pada domain sumber daya ikan menunjukkan tren CPUE menurun sebesar 7,80% per tahun, tren ukuran ikan relatif tetap, proporsi ikan yuwana (juvenil) yang

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan terhadap seluruh data yang diperoleh, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Terbukti bahwa kemanfaatan