• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pengetahuan tentang Tuhan dan kesetiaan terhadap aturan-aturan-Nya merupakan dasar bagi tiap agama. Hampir di semua agama menyatakan jika Tuhan itu satu, setiap agama memiliki Tuhan versi mereka masing-masing. Dalam arti yang lebih luas, penafsiran mengenai Tuhan pun akan berbeda antara satu agama dengan agama yang lainnya. Namun kesadaran manusia akan eksistensinya menggiring ia untuk melihat bahwa eksistensinya dipengaruhi oleh tiga sifat; faktisitas, transendensi dan kebutuhan untuk mengerti (Leahy, 1993: 38). Faktisitas berarti, bahwa eksistentsi selalu nampak di depan kesadaran manusia sebagai sesuatu yang sudah ada. Sedangkan transendensi merupakan sifat yang nampak secara langsung dalam kesadaran manusia bahwa ia manusia, bukan hanya sekedar tubuh yang nampak dalam ruang dan waktu. Keberadaan kebutuhan untuk mengerti merupakan modus yang paling jelas karena manusia selalu terdorong untuk mempertanyakan hakikat dirinya dan dunianya.

Persoalan mengenai eksistensi Tuhan sering kali melingkar pada pengulangan kata “ada dan tiada”. Hal ini kemudian menjurus pada keyakinan manusia mengenai ada atau tidaknya Tuhan dalam agama yang bertentangan dengan agama yang dianutnya. Bahkan sering kali, klaim kebenaran mutlak mengenai Tuhan bukan keluar dari pemahaman batin individu tetapi dari ego masing-masing pemeluk agama. Hal ini justru mengaburkan hakekat keberadaan Tuhan dalam kehidupan pemeluk agama.1 Karena sejatinya agama menekankan bahwa dunia ini dipahami sebagai satu kesatuan, sekalipun hal itu tidak ditafsirkan sebagai suatu fakta yang indrawi. 2

_______________

1 https://spocjournal.com/berita/112/-wawancara-khusus-dengan-drsuung-sendana-html 2

(2)

2 Begitu juga dengan konsep Ketuhanan yang sejatinya digunakan sebagai tuntunan pemeluknya agar mencapai pemahaman yang lebih bijak. Sujiwo Tejo adalah salah satu seniman Indonesia yang memiliki perspektif berbeda mengenai Tuhan. Ia sangat aktif menyuarakan pluralisme dan Ketuhanan untuk dikembalikan pada hakekatnya yaitu Tuhan yang absolut dan milik semua makhluk. Bahkan dalam sebuah diskusi, Sujiwo Tejo menyampaikan pemikirannya tentang penghinaan terhadap Tuhan. Menurutnya, bentuk penghinaan terhadap Tuhan bukan dengan cara memainkan tulisan Allah, bukan dengan menginjak kitab suci. Menghina Tuhan adalah bagaimana manusia khawatir esok hari tidak makan dan diliputi rasa ketakutan di dalam hidupnya. Baginya, semua yang diciptakan Tuhan pasti sudah diatur dan disiapkan jalannya.3 Pemikiran yang tidak mudah dimengerti oleh orang kebanyakan karena masyarakat sudah terbiasa terkurung dalam pemahaman mengenai konsep Tuhan yang terkotak-kotak. Lain halnya dengan buku ini yang meski penyampaiannya sangat kental dengan budaya Jawa dan Islam, justru pesan yang disampaikan tidak demikian. Bahkan menurut manajer redaksi Penerbit Imania, Farid Wijdan, seperti dikutip dari cnn-indonesia.com yang menyebutkan jika siapapun dan dari latar belakang agama apapun akan mudah menangkap pemahaman mengenai konsep Tuhan dan akan memandang bahwa keberagaman agama merupakan keniscayaan dan menciptakan harmoni dalam kehidupan.

Tercatat setidaknya 17 buku yang sudah ditulis oleh Sujiwo Tejo, dan dalam penelitian ini akan dibahas salah satu bukunya yang berjudul Tuhan

Maha Asyik. Dalam buku tersebut, Sujiwo Tejo bersama MN Kamba

menguraikan kisah mengenai bagaimana memaknai konsep Tuhan dan agama yang disampaikan dalam bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Kisah-kisah yang ditulis oleh Sujiwo Tejo dan MN Kamba menjelaskan bahwa Tuhan sangat asyik ketika tidak dikurung paksa dalam penamaan dan pemaknaan.

_______________

(3)

3 Seperti dikutip solopos.com, Pemimpin Redaksi Penerbit Imania, Farid Wijdan menyatakan jika buku Tuhan Maha Asyik diterbitkan karena rasa gerah Sujiwo Tejo dengan kondisi sekarang di mana masyarakat Indonesia seperti berkubu-kubu. Dari cerita yang dilihat dari pengalaman anak-anak, buku ini adalah cermin agar manusia percaya sepenuhnya dengan Tuhan. Kearifan itu bisa dilihat dari berbagai sisi/agama.

Dalam buku tersebut, penulis menggunakan enam tokoh anak yang sangat membantu pemahaman pembaca. Setidaknya, 15 dari 29 bab dalam buku ini secara spesifik memuat pesan kritis mengenai pengatasnamaan agama untuk berbagai kepentingan. Misalnya ketika terjadi inkonsistensi oleh pemangku otoritas keagamaan yang mengklaim diri sebagai hakim penentu kesucian setiap produk yang beredar di Indonesia. Dalam bab tersebut, Sujiwo Tejo dan MN Kamba dengan bahasa yang ringan menyebutkan jika otoritas keagamaan itulah yang seharusnya dipertanyakan karena konsepsi halal dan haram sudah tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama tersebut.

Kritik lain mengenai fenomena yang terjadi dalam masyarakat juga diungkapkan di bagian lain buku ini. Yang menjadikannya menarik adalah kritik tersebut diungkapkan secara implisit atau tersirat. Tidak hanya kritik saja, cara penyampaian Sujiwo Tejo menggunakan analogi dan kisah sederhana juga sangat menarik. Mengingat apa yang disampaikan bukan hal yang sederhana. Sehingga untuk mengetahui maksud tulisan tersebut diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai buku Tuhan Maha Asyik. Oleh karena itu penulis bermaksud menganalisisnya menggunakan analisis wacana kritis Norman Fairclough.

(4)

4 1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, penulis akan mengerucutkan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep Ketuhanan yang dibentuk dalam buku Tuhan Maha Asyik karya Sujiwo Tejo dan MN Kamba?

2. Apa makna Ketuhanan yang ingin disampaikan oleh Sujiwo Tejo dan MN Kamba dalam buku Tuhan Maha Asyik?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan konsep Ketuhanan yang dibentuk dalam buku Tuhan

Maha Asyik karya Sujiwo Tejo dan MN Kamba.

2. Mendeskripsikan makna Ketuhanan yang ingin disampaikan oleh Sujiwo Tejo dan MN Kamba dalam buku Tuhan Maha Asyik.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberi penjelasan pesan yang disampaikan dalam buku Tuhan Maha Asyik serta menjelaskan bagaimana pesan tersebut disampaikan dalam bingkai analis wacana kritis Norman Fairclough.

1.4.2. Manfaat Praktis

Selain itu, penelitian ini juga diharapkan mampu memperkaya wawasan serta masukan bagi mahasiswa dalam memahami pembentukan pesan dalam sebuah buku. Tulisan ini juga diharapkan bisa menjadi referensi untuk penelitian lain yang sejenis.

(5)

5 1.5. Konsep-konsep yang Digunakan

Dalam penelitian ini, penulis membatasi penelitian dalam buku Tuhan

Maha Asyik karya Sujiwo Tejo menjadi tiga konsep yaitu konsep wacana,

analis wacana kritis dan ideologi Ketuhanan. Untuk menghindari penafsiran yang berbeda-beda, maka dalam penelitian ini akan dilakukan pembatasan sebagai berikut:

1.5.1. Wacana

Wacana adalah sebuah bentuk tindakan komunikasi interaktif yang dapat dilakukan baik secara lisan atau tertulis. Wacana selalu melibatkan dua pihak yaitu penyampai dan penerima pesan. Wacana merupakan organisasi bahasa tertinggi yang lebih besar atau di atas kalimat. Wacana dapat terwujud dalam bentuk kalimat-kalimat yang banyak dan panjang, namun juga dapat sangat pendek berupa kalimat tunggal yang memiliki makna dan konteks. Wacana sangat berkaitan dengan konteks yang melingkupinya. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan wacana adalah komunikasi tertulis Sujiwo Tejo dan MN Kamba kepada khalayak melalui media buku berjudul

Tuhan Maha Asyik. Wacana tersebut akan dijelaskan sesuai dengan konteks

dalam buku.

1.5.2. Analis Wacana Kritis

Pendekatan analis wacana kritis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Norman Fairclough yang menyatakan jika wacana merupakan bentuk penting praktik sosial yang mereproduksi dan merubah pengetahuan, identitas, hingga hubungan sosial yang melingkupi hubungan kekuasaan yang sekaligus dibentuk oleh struktur dan praktik sosial yang lain. Karena wacana dalam buku Tuhan Maha Asyik karya Sujiwo Tejo dan MN Kamba tidak dipahami semata-mata sebagai studi bahasa saja, tetapi dihubungkan dengan konteks tertentu. Yaitu pendekatan secara politik yang ditujukan agar timbul perubahan sosial dalam masyarakat Indonesia.

(6)

6 1.5.3. Ideologi Ketuhanan

Ideologi Ketuhanan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ideologi Pancasila, yaitu sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Pancasila sebagai suatu sistem nilai negara yang disusun berdasarkan urutan logis keberadaan unsur-unsurnya. Sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang ditempatkan pada urutan teratas akan menjadi dasar ideologi Ketuhanan yang akan dikaji dalam penelitian ini.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari isi paper ini adalah untuk menganalisa unjuk kerja sistem kompresi citra grayscale asli, apakah informasi data citra hasil rekonstruksi benar-benar dapat

Berbagi linkmelalui note dapat dilakukan oleh guru Anda, kawan-kawan Anda, maupun Anda sendiri. Apabila Anda ingin berdiskusi atau menanyakan sesuatu melalui

Pada Ruang Baca Pascasarjan perlu dilakukan pemebersihan debu baik pada koleksi yang sering dipakai pengguna maupun

Pada pertemuan siklus kedua ini terjadi pula pada hasil penilaian dari pembelajaran yang dilaksanakan, dan hasilnya juga sesuai dengan yang diharapkan oleh

Orientasi diri seseorang akan baik jika individu tersebut cukup mengenal dengan baik dirinya, hal-hal yang dapat dipakai untuk melakukan orientasi diri adalah

Berdasarkan paparan di atas, dapat diungkapkan bahwa studi kasus adalah sebuah eksplorasi dari “suatu sistem yang terikat” atau “suatu kasus/beragam kasus” yang dari

tentang Akuntansi pertanggung jawaban merupakan system akuntansi yang mengakui berbagai pusat pertanggungjawaban pada keseluruhan perusahaan yang mencerminkan rencana

• Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek