• Tidak ada hasil yang ditemukan

penelitian kualitatif UD. Jaya Abadi Fur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "penelitian kualitatif UD. Jaya Abadi Fur"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI RENCANA STRATEGIS PADA USAHA MIKRO

KECIL DAN MENENGAH MENGHADAPI ERA PASAR BEBAS

ASEAN DAN ACFTA (Asian China Free Trade Area)

Studi Kasus Pada UD. Jaya Abadi Furniture, Panarukan, Situbondo.

PENELITIAN

disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Kebijakan Bisnis

oleh

Ningrum Suryadinata NIM 140910202038

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS JURUSAN ILMU ADMINISTRASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS JEMBER

(2)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Implementasi Rencana Strategis Pada Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Menghadapi Era Pasar Bebas Asean Dan Acfta (Asian China Free Trade Area). Studi Kasus Pada UD. Jaya Abadi Furniture, Panarukan, Situbondo” Penelitian ini ini disusun untuk memenuhi tugas pada Matakuliah Kebijakan Bisnis.

Penyusunanan penelitian ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,penulis menyampaikan terima kasih kepada.

1. Dosen pembimbing Matakuliah Kebijakan Bisnis, yang banyak memberikan materi pendukung kepada peneliti;

2. Bapak Muhammad Hafifi selaku pemilik usaha mikro UD. Jaya Abadi Furniture;

3. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan materi untuk terselesaikannya penelitian ini;

4. Ricky Fakhrusy Isyraq yang turut membantu penelitian ini.

Peneliti juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan penelitian ini. Akhirnya penulis berharap, semoga penelitian ini dapat bermanfaat kepada kita sekalian.

(3)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perekonomian Indonesia semakin lama semakin berkembang di berbagai sektor. Seperti yang sudah dilaporkan dalam Badan Pusat Statistik tahun 2016, “Kondisi Bisnis Triwulan III-2016

 Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan III-2016 sebesar 107,89, berarti

kondisi bisnis meningkat dari triwulan sebelumnya. Namun tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan II-2016 (nilai ITB sebesar 110,24).

 Peningkatan kondisi bisnis pada triwulan III-2016 terjadi pada semua lapangan

usaha. Peningkatan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Konstruksi dengan nilai ITB sebesar 111,74. Sementara itu, peningkatan kondisi bisnis terendah terjadi pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian dengan nilai ITB sebesar 102,26.

 Kondisi bisnis pada triwulan III-2016 meningkat karena adanya peningkatan pendapatan usaha dengan nilai indeks sebesar 110,35, kapasitas produksi/usaha dengan nilai indeks sebesar 108,37, dan rata-rata jumlah jam kerja dengan nilai indeks sebesar 105,35.”

Sumber : data Statistik_BPS_November 2016

Bisnis semakin banyak berkembang di Indonesia dengan banyaknya peluang kebutuhan yang bisa dijadikan sebagai lahan berwirausaha. Dalam hal usaha, di Indonesia sendiri perusahaan besar sudah mulai meningkat, seiring meningkatnya sebuah perusahaan besar memicu usaha kecil untuk tumbuh. Di era pemerintahan Jokowi-JK sekarang ini, mendukung peningkatan usaha-usaha yang ada di masyarakat untuk lebih berkembang.

(4)

dan munculnya usaha baru menjadi lebih terlihat di era sekarang ini. Tidak hanya bisnis dalam negeri yang akan dipasarkan, namun juga bisnis luar negeri akan masuk ke Indonesia dan menjadi peluang kompetisi bagi pengusaha Indonesia. Maka dari itu, tingkat persaingan akan semakin tinggi, dan menjadi lebih kompetitif. Sebagai negara berkembang yang perekonomiannya masih terbilang dalam masa pembangunan, maka perlu adanya peningkatan pada sektor sumber pendapatan negara itu sendiri. Kondisi ekonomi Indonesia memicu pemerintah untuk lebih menciptakan peluang kerja. Untuk itu, perlu menggalakkan usaha-usaha baru yang akan membuka peluang usaha. Jenis usaha yang mulai bermunculan adalah jenis usaha mikro, kecil, dan menengah.

Menurut Bank Indonesia (2015:5), Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting dalam perekonomian di Indonesia. Bentuk usaha ini, memiliki proporsi sebesar 99,99 persen dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia atau sebanyak 56,54 juta unit. Usaha Mikro Kecil dan Menengah mampu menunjukkan eksistensinya dalam perekonomian di Indonesia di tahun 1998, usaha berskala kecil dan menengah yang relatif mampu bertahan dibandingkan perusahaan besar. Hal ini terjadi karena mayoritas usaha berskala kecil tidak terlalu bergantung pada modal besar atau pinjaman dari luar.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah memberikan peluang bagi masyarakat untuk membuka lapangan kerja baru. Pemerintah saat ini banyak memberikan dukungan atas usaha-usaha yang terbangun. “sektor ini mampu menyerap tenaga kerja cukup besar dan memberi peluang bagi UMKM untuk berkembang dan bersaing dengan perusahaan yang lebih cenderung menggunakan modal besar”, (Sudaryanto, Ragimun, dan Rahma Rina Wijayanti: hal.2). Selain modal yang dibutuhkan oleh UMKM tidak terlalu besar, juga UMKM menggunakan kinerja yang terbilang sederhana namun dapat menyerap tenaga kerja. Sehingga dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi di bidang UMKM, maka akan semakin banyak pula menyerap tenaga kerja. Perlu adanya rencana kedepan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui Usaha Mikro Kecil Menengah.

(5)

sukses yang mempengaruhi kinerja organisasi (Bokor. D. W, 1995; Ferdinand, 2002). Sebuah organisasi dalam bentuk bisnis yang dijalankan seperti UMKM, bentuk strategi yang dilakukan agar produk yang dihasilkan mampu mencapai apa yang menjadi tujuan perusahaan. Perencanaan perlu secara strategis untuk mewujudkannya, perlu adanya bentuk implementasi dari rencana yang telah dibuat. Strategi merupakan rencana keseluruhan yang menjelaskan posisi daya saing suatu perusahaan (Montzberg dan uin, 1990).

(6)

lebih mahal oleh pihak ketiga dibandingkan dengan pihak produsen yang menjual. Ini telah menjadi masalah sekaligus tantangan bagi UMKM Indonesia dalam era Pasar Bebas Asean dan ACFTA (Asian China Free Trade Area) yang akses impor akan lebih mudah namun masih tidak mampu menaklukkan pasar internasional secara mandiri. Sehingga kurang kompeten dalam melakukan impor di era ini.

Seperti yang terjadi pada Usaha Mikro Kecil Menengah UD. Jaya Abadi Furniture yang terletak di Jalan Tembus Paowan, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo yang telah melakukan impor ke Jepang namun sayangnya kegiatan ini tidak dilakukan secara langsung, melainkan dikirim ke Bali terlebih dahulu, kemudian dijual dengan harga jual 3 (tiga) kali lebih murah dari harga jual impornya meskipun ada rencana untuk menjual produk ke luar negeri secara impor, tetapi rencana tersebut tidak di implementasikan secara pribadi dikarenakan masih kurangnya pemahaman terhadap pengetahuan di era Pasar Bebas Asean dan ACFTA (Asian China Free Trade Area) seperti tekhnologi dan kemitraan terkait investor. Kinerja perusahaan yang masih sederhana dilihat dari kegiatan produksi dengan alat dan sistem keuangan yang terbilang masih manual. Dengan ini maka perlu adanya perencanaan strategis yang mampu membuat daya saingnya menjadi lebih kompetitif dan lebih mandiri.

1.2 Rumusan Masalah

(7)

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.3.1 Tujuan

Penelitian ini memiliki tujuan berdasarkan rumusan masalah diatas adalah menganalisis implementasi rencana yang strategis dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah UD. Jaya Abadi Furniture di Panarukan, Situbondo dalam menghadapi era Pasar Bebas Asean dan ACFTA (Asian China Free Trade Area).

1.3.2 Manfaat

Penelitian ini dilakukan dengan memberi manfaat, yaitu: 1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan wawasan, informasi, dan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan implementasi rencana yang strategis bagi UMKM.

2. Secara Praktis

(8)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritik

2.1.1 Konsep Strategi

Dalam membangn sebuah usaha bisnis, konsep bisnis menjadi sangat penting terkait dengan bisnis apa yang akan diproduksi. Dalam buku Manajemen, strategi adalah rencana mengenai bagaimana sebuah organisasi akan melakukan sesuatu yang harus dikerjakan dalam bisnis, Stephen P. Robbins (2010, h.213). Melakukan sesuatu dalam sebuah organisasi berarti membuat sesuatu yang akan menjadi tujuan dilakukannya sesuatu tersebut. Membuat sebuah rencana merupakan cara untuk menentukan apa yang akan dilakukan oleh anggota dala organisasi tersebut. Dalam hal ini berarti sebuah rencana merupakan landasan organisasi tersebut untuk digerakkan. Pengertian strategi menurut Chandler (1962) dalam Rangkuti (2007, h.3), strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut serta prioritas alokasi sumber daya. Sebuah kegiatan yang dilakukan oleh anggota dalam suatu unit bisnis akan menjadi penggerak sesuai dengan rencana yang dibuat dan stratregi menjadi hal penting bagi unit bisnis untuk menjalankan kinerja bisnis yang baik sehingga hal yang menjadi tujuan dapat di implementasikan.

(9)

keputusan dari seorang atasan yang akan dilaksanakan oleh anggota dari unit bisnis. Rencana strategis yang dilakukan menjadi visi dan misi dalam unit bisnis untuk jangka waktu tertentu. Manajeman strategi menurut Nawawi (2005. h.149) adalah perencanaan berskala besar (disebut perencanaan strategik) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (disebut VISI), dan ditetapkan sebagai keputusan manajeman puncak (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipi), agar memungkinkan organisasi secara efektif (disebut MISI), dalam usaha menghasilkan sesuatu (Perencanaan Operasional untuk menghasilkan barang dan/atau jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dan diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut Tujuan Strategik) dan berbagai sasaran (Tujuan Operasional) organisasi.

Tipe dan jenis strategi menurut Nawawi (2005, h.176-177), strategi dalam suatu organisasi dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Strategi Agresif, dilakukan dengan membuat program-program dan mengatur langkah-langkah atau tindakan (action) mendobrak penghalang, rintangan, atau ancaman untuk mencapai keunggulan atau prestasi yang ditargetkan.

b. Strategi Konserpatif, dilakukan dengan membuat program-program dan mengatur langkah-langkah atau tindakan (action) dengan cara yang sangat berhati-hati disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku.

c. Strategi Difensif, dilakukan dengan membuat program-program dan mengatur langkah-langkah atau tindakan (action) untuk mempertahankan kondisi keunggulan atau prestasi yang sudah dicapai.

(10)

e. Strategi Preventif, dilakukan dengan membuat program-program dan mengatur langkah-langkah atau tindakan (action) untuk mengoreksi dan memperbaiki kekeliruan, baik yang dilakukan oleh organisasi sendiri maupun yang diperintahkan organisasi atasan.

f. Strategi Ofensif, dalam program-program dan mengatur langkah-langkah atau tindakan (action) selalu berusaha memanfaatkan semua dan setiap peluang, baik sesuai maupun tidak sesuai dengan pengarahan, petunjuk, pedoman, peraturan dari organisasi atasan, bahkan dengan perundang-undangan yang berlaku bagi semua organisasi-organisasi non-profit bidang pemerintahan.

g. Strategi Kontijensi, dilakukan dengan membuat program-program dan mengatur langkah-langkah atau tindakan (action) sebagai pemecahan masalah, dengan memilih alternatif yang paling menguntungkan atau terbaik di antara berbagai alternatif sesuai dengan petunjuk, pengarahan, dan pedoman dari organisasi atasan bahkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

h. Strategi Pasif, dilakukan dengan membuat program-program dan mengatur langkah-langkah atau tindakan (action) mengikuti perintah, petunjuk, pengarahan, pedoman dan perundang-undangan yang berlaku dan lebih dominan pada pelaksanaan pekerjaan rutin yang sudah berlangsung lancar.

(11)

ketika membangun sebuah perencanaan dengan membangun tujuan-tujuan yang hendak dicapai sehingga menigkatkan dan mengembangkan unit bisnis yang dijalankan.

2.1.2 Implementasi Strategi

Menurut Riyadi-Bratakusumah (2004) Bruton dan Hildreth (2000), menyatakan: “the origins of strategic planning can be traced to military organizations. In a war an army must determine its strengths and weakness.. from this information it then determines its advantages over its and thus at what poin to attack that adversary.” Sebuah perencanaan yang dibuat akan mempengaruhi bagaimana organisasi itu berjalan. Dengan adanya implementasi, maka suatu strategi tidak mempunyai arti apa-apa. Implementasi strategi merupakan satu proses tersendiri dan sering tidak dipandang sebagai bagian integral dari pengambilan ke-putusan.

Implementasi adalah operasionalisasi dari berbagai aktivitas guna mencapai suatu sasaran tertentu. Higgins (dalam, Salusu 1996, h.409), menyatakan bahwa implementasi adalah rangkuman dari berbagai kegiatan yang didalamnya sumber daya manusia menggunakan sumber daya lain untuk mencapai sasaran dari strategi. Kegiatan implementasi strategi disini berarti bahwa bentuk kegiatan yang dilakukan selama berproses untuk mencapai tujuan. Kegiatan tersebut menyetuh semua jajaran manajemen mulai manajemen puncak sampai pada karyawan lini paling bawah. Alexander (dalam, Salusa 1996, h.431) mengungkapkan, beberapa masalah yang sering dijumpai dalam melaksanakan suatu strategi:

a. Jangka waktu pelaksanaan.

(12)

apalagi banyak karyawan yang tidak me-miliki ketrampilan yang memadai untuk melaksanakan kewajiaban.

b. Pelaksanaan analisis SWOT.

Saat analisis SWOT dilakukan, masalah yang berkaitan dengan faktor eksternal telah banyak dibicarakan. Namun pada saat pelaksanaannya, faktor-faktor itu banyak sekali dilupakan dan kurang terkontrol. Akibatnya adalah aktivitas organisasi kadang-kadang terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal yang tidak terkendali itu sehingga hasil yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan.

c. Kualitas kepemimpinan.

Kualitas kepemimpinan yang kurang memadai, pengarahan dari para pimpinan unit bisnis yang sering kali kurang tepat juga, semuanya merupakan sumber rintangan dalam mensukses implementasi strategi. Instruksi-instruksi kepada karyawan bawah sangat tidak mencukupi dan bahkan pelatihan yang disyaratkan jarang dilakukan. Cara penyampaian yang dilakukan oleh pihak atasan menentukan kinerja para bawahan. Sehingga pemimpin yang kurang memiliki pengalaman dan kualitas memimpin yang buruk akan berdampak pada kinerja jajaran bawah yang bekerja secara tidak maksimal.

Hal ini melemahkan posisi karyawan terdepan karena ada interpretasi ter-hadap tugas yang harus diemban sering berbeda dari yang sebenar-nya. Selain itu, monitoring atas pelaksanaan tugas sangat lemah. Dari keseluruhan penjelasan komponen-komponen implementasi strategi di atas yang lebih penting adalah kemauan politik dari pimpinan puncak atau manajemen puncak dalam mengelola organisasi. Thompson dan

(13)

2.1.3 Pengendalian Implementasi Strategi

Perencanaan yang telah dibuat, dilakukan oleh para anggota unit bisnis, selama berjalannya sebuah kinerja dalam unit bisnis tersebut tentu akan dampak yang dihasilkan dari kegiatan perencanaan bisnis tersebut. Dari hal ini maka perlu adanya evaluasi kerja untuk mengawasi kinerja dan menjaga kestabilan rencana yang telah dibuat dan meminimalisir adanya kegagalan dari pencapaian tujuan. Dari hasil-hasil evaluasi inidapat dilakukan perbaikan terhadap peren-canaan selanjutnya atau penyesuain akan dilakukan (pelaksanaan) perencanaan itu sendiri (Tjokroamidjoo, 1987, h.57-60). Evaluasi ini membantu kegiatan pengawasan, dalam hal ini dilakukan suatu evaluasi tentang situasi sebe-lum rencana dimulai dan evaluasi tentang pelaksanaan rencana sebelumnya.

Dalam pengembangan konsep strategi, pengendalian strategi adalah merupakan bagian akhir dalam siklus manajemen strategik. Tujuan sistem pengendalian strategi adalah untuk memonitor dan mengevaluasi kemajuan pencapaian sasaran-sasaran strategik.area kegiatan organisasi terdiri dari individu-individu dan sub unit perusahaan, yang semuanya mempunyai persepsi yang berbeda-beda dengan apa yang harus dilakukan untuk pencapaian tujuan unit, pribadi, dan organisasi. Agar pelaksanaan kerja dapat dilakukan dengan tepat, maka implementasi strategi yang efektif membutuhkan sistem pengendalian yang mampu memonitor, mengevaluasi, dan pada akhirnya menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi yang dihadapi.

(14)

(1) Untuk dapat mengembangkan UKM perlu dipelajari terlebih dahulu ten-tang ciri-ciri kelemahan serta potensi-potensi yang tersedia serta perundang-undangan.

(2) Diperlukan bantuan manajerial agar tumbuh inovasi-inovasi mengelola UKM berdampingan dengan usaha-usaha besar.

(3) Secara vertikal dalam sistem gugus usaha, UKM bisa menjadikan diri komplemen-komplemen usaha bagi industri perusahaan produsen utama. Maka diperlukan suatu strategi UKM menjalin kerja komplementer dengan usaha-usaha besar

Melakukan pengendalian secara efektif merupakan hal yang sangat penting mengingat bahwa kendala-kendala yang dihadapi oleh UMKM sendiri perlu diminimalkan. Kontrol atau pengendalian yan efektif memainkan peranan yang vital untuk mewujudkan apa yang telah direncanakan oleh sekasama oleh manajer. (James AF. Stoner, h.315). menurut James bahwa pengendalian yang efektif adalah perlu adanya kesinambungan antara informasi yang akurat, tepat waktu, dan lengkap.

2.1.4 Pengertian Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Dalam perekonomian Indonesia UMKM merupakan kelompok usaha yang memiliki jumlah paling besar dan terbukti tahan terhadap berbagai macam goncangan krisis ekonomi. Kriteria usaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah telah diatur dalam payung hukum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ada beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan pengertian dan kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

(15)

1994. Definisi UKM yang disampaikan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Menurut Kementrian Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), bahwa yang dimaksud dengan Usaha Kecil (UK), termasuk Usaha Mikro (UMI), adalah entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Sementara itu, Usaha Menengah (UM) merupakan entitas usaha milik warga negara Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 s.d. Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan.

Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UMKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, usaha kecil didefinisikan sebagai perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan/usaha yang mempunyai penjualan/omset per tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.000 atau aset/aktiva setinggisetinggi-tingginya Rp 600.000.000 (di luar tanah dan bangunan yang ditempati) terdiri dari : (1) badang usaha (Fa, CV, PT, dan koperasi) dan (2) perorangan (pengrajin/industri rumah 7 tangga, petani, peternak, nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang barang dan jasa).

(16)

dari perusahaan dalam industri bersangkutan lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan lainnya dalam bidang usaha yang sama.

a) Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Kriteria Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) menurut UU Nomor 20 Tahun 2008 digolongkan berdasarkan jumlah aset dan omset yang dimiliki oleh sebuah usaha.

Tabel 2.1. Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Asset

Omzet

1

Mikro

Maks. 50 juta

Mkas. 300 juta

2

Kecil

> 50 juta -500 juta >300 juta - 2,5 M

3

Menengah > 500 juta - 10 M

> 2,5 M - 50 M

No

Usaha

Kriteria

Sumber : Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, 2012

a. Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Berdasar Perkembangan,

selain berdasar Undang-undang tersebut, dari sudut pandang perkembangannya Rahmana (2008) mengelompokkan UMKM dalam beberapa kriteria, yaitu:

1) Livelihood Activities, merupakan Usaha Kecil Menengah yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima.

2) Micro Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.

3) Small Dynamic Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor

(17)

Kriteria diperlukan untuk mengidentifikasi UMKM tersebut masuk dalam kriteria yang mana. Sehingga dapat dilakukan identifikasi serta analisis terhadap UMKM yang diteliti.

2.1.5 Konsep Perusahaan

Istilah perusahaan untuk pertama kalinya terdapat di dalam pasal 6 KUH Dagang yang mengatur mengenai penyelenggaran pencatatan yang wajib dilakukan oleh setiap orang menjalankan perusahaan. Menurut Molengraaff, perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak ke luar untuk memperoleh penghasilan, dengan cara memperdagangkan atau menyerahkan barang atau mengadakan perjanjian perdagangan. Suatu usaha untuk dapat dimasukkan dalam pengertian perusahaan harus mengadakan pembukuan, yaitu perhitungan mengenai laba dan rugi.

Kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan menghasilkan produk kemudian menjualnya sehingga ada pendapatan yang didapat dan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi kembali.

2.1.6 Pasar Bebas Asean dan ACFTA (Asean Free Trade Area)

(18)

ACFTA. Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa hanya sebagian kecil saja publik Indonesia yang mengetahui atau pernah mendengar kesepakatan/perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China yang mulai berlaku pada 1 Januari 2010, terdapat 26,7 persen publik yang pernah mendengar mengenai kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China. Dari mereka yang pernah mendengar mengenai kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China, mayoritas publik (51,9 persen) mengatakan tidak setuju dengan kesepakatan perdagangan bebas.

Ternyata temuan survei LSI tersebut menunjukkan bahwa publik cenderung mempersepsikan berlakunya ACFTA secara negatif. Publik menilai adanya perdagangan bebas ASEAN-China justru dapat membahayakan pasar dalam negeri dan ini jelas dapat merugikan neraca perdagangan Indonesia. Artinya China yang justru diuntungkan dengan adanya perdagangan bebas dan bukan Indonesia. Hal penting berikutnya terkait dengan kesiapan atau strategi besar pemerintah Indonesia menghadapi ACFTA. Dalam hal ini tampak bahwa pemerintah Indonesia sama sekali tidak mempersiapkan dirinya secara matang. Sebagaimana diakui oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat yang mengatakan bahwa pemerintah tidak mempunyai strategi besar dalam menghadapi Kesepakatan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA).

Dalam kegiatan pasar bebas ini tentunya akan memberikan dampak dalam persiangan dan adanya produk-produk yang dapat meningkatkan inovasi.

2.1.7 Tinjauan Penelitian Terdahulu

(19)

yang dilakukan orang lain. Peneliti telah menganalisis penelitian terdahulu yang berkaitan dengan bahasan di dalam penelitian ini. Berikut merupakan penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang dilakukan.

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

(20)

tersebut akan meningkatkan kerja UKM di Kota Malang belum dapat berjalan dengan baik.

(21)

sehingga pemasaran secara online masih dilakukan oleh pihak ketiga yang menjual harga tiga kali lebih besar dari pemilik UD. Jaya Abadi Furniture.

Dari uraian diatas, maka akan diketahui faktor apa yang menjadi hambatan usaha UD. Jaya Abadi untuk berkembang dan bagaimana seharusnya rencana tersebut dirancang strategis. Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam tahap observasi dan implementasi kinerja dari berbagai aspek usaha ini yang berkaitan dengan pengumpulan dokumen tertulis yang akan digunakan dalam penelitian ini. Secara garis besar kerangka pemikiran peneliti dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian

Kondisi UMKM UD. Jaya Abadi Furniture UMKM UD. Jaya Abadi

Furniture

Identifikasi aktivitas UMKM UD. Jaya Abadi

Furniture

(22)

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

3.1.1 Pendekatan Penelitian

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, tipe penelitian yang sesuai dengan penelitian ini adalah penelitian kualitatif, menurut Moleong (2013:6) merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian dengan cara deskriptif, pada suatu konsep khusus yang alami dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Menurut Arikunto (2006:12) penelitian kualitatif bersifat naturalistik dengan menunjukkan bahwa pelaksanaan penelitian terjadi secara alamiah, apa adanya, dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya.

Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada objek yang alamiah di mana peneliti adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan dan hasil penelitian ini lebih ditekankan pada makna. Penelitian kualitatif tidak dipandu olrh teori dalam pengumpulan data. Metode ini digunakan untuk mendapat data yang mendalam.

3.2 Tempat dan Waktu

(23)

a) UD. Jaya Abadi Furniture memiliki omset penjualan yang menjanjiakan yaitu sampai Rp 100.000.000,- per bulan dan jika menerapkan implementasi yang strategis maka akan mampu mengembangkan usaha tersebut.

b) UD. Jaya Abadi Furniture telah melakukan pengiriman produk pesanan ke berbagai daerah lokal di seperti Yogyakarta, Bali, dan Solo. Serta melakuakn ekspor ke negara Jepang melalui pihak ketiga di Bali.

c) UD. Jaya Abadi Furniture memiliki kemauan besar untuk meningkatkan usaha ekspornya dengan ditangani sendiri namun masih minim pengetahuan tekhnologi sehingga peneitian ini mampu memberikan dorongan agar mampu mengimplementasikan rencana strategis.

3.3 Situasi Sosial

Lokasi Penelitian merupakan tempat di mana peneliti melakukan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitiannya. Lokasi penelitian ditentukan oleh keianginan peneliti untuk meneliti mengenai implementasi rencana strategis dalam mengahdapi era Pasar Bebas ASEAN dan ACFTA. UUD. Jaya Abadi Furniture merupaka UMKM yag bergerak di bidang furniture. Usaha ini didirikan oleh Bapak Muhammad Hafifi yang berada di Panarukan, Situbondo. Aktivitas yang terjadi adalah aktivitas produksi barang setengah jadi untuk furniture berbahan baku dari akar kayu jati.

Dalam penelitian kualitatif peran informan sangat penting karena informan merupakan penyedia informasi yang diperlukan peneliti dalam melakukan penelitian. Menurut Moleong (2012:286) informan adalah seseorang ayg dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. peneliti memilih pemilik usaha karena pemilik memiliki tanggungjawab atas kegiatan operasional usahanya.

(24)

operasional pada usaha, agar memperoleh informasi yang sesuai dalam penelitian ini. Key informan dalam penelitian ini adalah:

nama : Bapak M. Hafifi

jabatan : Pemilik UD. Jaya Abadi Furniture

topik wawanara :Operasional perusahaan mulai dari rencana perusahaan, pembukuan, produksi, dan pemasaran

3.4 Teknik dan Alat Perolehan Data

Tenik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan:

a. Observasi

Menurut nasution (dalam Sugiyono, 2016:64), observasi adalah dasar dari semua ilmu pengetahuan. Peneliti dalam pengumpulan data menyatakan terus terang kepaa sumber data. Bahwa peneliti sedang melakukan penelitian dan terlibat langsung dengan orang-orang yang diteliti.

b. Wawancara

Moleong (2012:186) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua belah pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Alasan peneliti dalam melakukan wawancara adalah untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih mendalam terhadap informan dan informasi yang di dapar lebih terbuka dan meluas terkait dengan tema penelitian yaitu implementasi rencana yang strategi dalam menghadapi era pasar ASEAN.

c. Dokumentasi

(25)

Jenis data yang dibutuhkan dalam penunjang penelitian ini yaitu data kualitatif berupa penjelasan yang berhubungan dengan keadaan perusahaan dan faktor pendukung dalam lingkungan dan tiak berbentuk angka. Dalam penelitian ini, data kualitatif yang diperlukan adalah:

a. Gambaran umum UMKM UD. Jaya Abadi Furniture

b. Jenis-jenis produk yang dihasilkan UMKM UD. Jaya Abadi Furniture.

(26)

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Implementasi Rencana keuangan UMKM UD. Jaya Abadi Furniture

Implementasi rencana strategis dalam sebuah unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah merupakan hal yang perlu dilakukan, mengingat bahwa rencana merupakan hal-hal yang dibuat untuk melakukan segala sesuatu kedepannya. Dalam hal ini, perencanaan strategis memliki beberapa komponen terkait kesuksesan yang dapat dicapai. Hal tersebut mencakup: 1) Hasil Penelitian Mokwa. M. P dan Noble. C. H (! 999) menyatakan bahwa kesuksesan implementasi strategi mencakup faktor – faktor; komitmen organisasi, involment, role performance, dan role autonomy. Hasil penelitian menunjukkan komitmen organisasi tidak berpengaruh pada kesuksesan implementasi strategi. Hal ini bertentangan dengan penelitian Johnson et al. (1999); Deery.S.J dan Deery and Iverson. (2005) bahwa komitmen organisasi mempunyai pengaruh dan kinerja organisasi. Hasil studi Michallisin et al (1997). Gobel, DJ (2004) studi berkaitan dengan implementasi strategi menyimpulkan bahwa kualitas komunikasi berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Namun demikian studi Menon et al (1999) kualitas komunikasi tidak berpengaruh pada kinerja.

(27)

Dalam hal ini, keuangan diatur dalam sistem keuangan yang sederhana menggunakan sistem manual yaitu pencatatan sederhana. Padahal untuk mengatur keuangan yang baik maka perlu dibuat sistem yang baik juga. Menurut Agus Harjito dan Martono (2010:4), manajemen keuangan adalah segala aktivitas perusahaan berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana, dan mengelola aset sesuai tujuan perusahaan secara keseluruhan. UD. Jaya Abadi disini masih menggunakan sistem keuangan yang sederhana, hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara peneliti dengan pemilik usaha.

Berdasarkan kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah menurut UU Nomor 20 Tahun 2008, asset yang dimiliki tidak lebih dari Rp 50.000.000,- dilihat dari tanah yang dimiliki masih sewa dibayar per tahun sebesar Rp 30.000.000,- per tahunnya dan rumah yang ditempati adalah rumah milik sendiri, sedangkan omset yang di dapat tidak lebih dari Rp 300.000.000,- maka UD. Jaya Abadi Furniture ini masuk dalam kriteria usaha mikro. Total pendapatan yang diperoleh setiap bulannya sampai Rp 100.000.000.-namun pendapatan ini tidak menentu dikarenakan untuk usaha ini terbilang musiman. Pekerjaan yang bergantung pada pesanan ini, mempengaruhi sistem upah yang diberikan kepada karyawan. Upah karyawan yang diberikan berdasarkan upah harian dan banyaknya pesanan yang dibuat. Setiap karyawan mendapaya upah yang berbeda yaitu bergantung pada departemen yang dilakukan oleh karyawan dari barang yang dihasilkan, upah karyawan tukang serkel berbeda dengan tukang pada departemen penghalusan dan dihitung dari banyaknya produk yang dihasilkan.

4.2 Implementasi Rencana Produksi UMKM UD. Jaya Abadi Furniture

(28)

6-8 orang untuk menghaluskan. Sisanya berada dirumah masing-masing yaitu pemotong kayu yang biasanya di daerah lereng Gunung Agung, dusun Kukusan Kecamatan Klatakan, Situbondo.

Kegiatan produksi yang dilakukan membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk pesanan sekitar satu truck besar. Pesanan tersebut banyak dikirim ke daerah Solo, Yogyakarta, dan Bali hingga ekspor Jepang. Produk yang dihasilkan bisanya adalah produk setengah jadi yang belum di finishing. Tetapi jika ada pesanan untuk di finishing

juga dilayani. Pesanan yang palin banyak diminati adalah produk kursi per item dan selanjutnya kursi per set. Untuk menghasilkan 1 buah kursi, membutuhkan 3-4 buah akar jati. Kemudian untuk meja, memerlukan 4-6 akar jati ukuran besar. Dalam satu hari produksi bisa menghasilkan smapai 30 unit kursi dan seminggu bisa menghasilkan satu truckuPemilik memilih akar jati untuk dijadikan bahan baku dikarenakan akar jati merupakan bagian terkuat dari pohon jati. Jadi tidak heran jika produk yangn dihasilkan bobotnya sekitar 5kg untuk satu kursi. Alat yang digunakan masih sangat sederhana yaitu alat serkel dan menggunakan jasa manusia secara manual seperti pemotongan kayu, penghalusan dengan ampelas.

Hasil produksi setengan jadi tersebut dikirim ke berbagai daerah dengan menggunakan truck dan di finishing di daerah yang di kirim.

(29)

Gambar 4.2 Kursi

(30)

4.3 Implementasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No.27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Dalam penyelenggaraan sebuah unit usaha, tentunya perlu diperhatikan terkait dengan dampak usaha yang dibuat terhadap lingkungannya. Limbah yang dihasilkan dari sebuah usaha perlu diolah sehingga tidak dibiarkan dan menggangu kelangsungan lingkungannya. Dari usaha UD. Jaya Abadi Furniture ini belum ada analisis terhadap lingkungannya, dari usaha ini dihasilkan ampas dari kayu jati. Ampas ini dibiarkan menggunung dan tidak diolah. Rencana kedepannya, pemilik akan mengolah ampas tersebut menjadi kerajinan yang digunakan sebagai bahan pelengkap furniturenya tetapi masih kurangnya tenaga dan pemesanan untuk membuat produk dengan ampas tersebut sehingga ampas itu belum diolah secara maksimal. Selain itu, penggunaan bahan baku kayu jati belum ada kegiatan untuk mengurangi dampak berkurangnya pohon jati. Hanya saja, pihak perusahaan membeli dari daerah yang memang menanam pohon jati secara dan melestarikannya. Namun dari pihak perusahaan sendiri masih belum memiliki rencana untuk melestarikan keberadaan kayu jati tersebut. tentunya hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian alam dan mempertahankan keberadaan populasi tumbuhan jati sehingga mampu mempertahankan bisnis yang dijalankan.

4.4 Implementasi Rencana Pemasaran UMKM UD. Jaya Abadi Furniture

(31)

UMKM ini, yaitu kegiatan ekspor tersebut tidak dilakukan secara pribadi melainkan dilakukan oleh pihak ketiga dan harga yang dijual tiga kali lipat lebih besar. Dalam kegiatan promosi yang dilakukan masih menggunakan penjualan via online namun pada media sosial whatsup saja. Pengakuan Bpk M. Hafifi adalah beliau belum tahu cara menggunakan media sosial lain seperti facebook, dll sehingga agak kesusahan dalam memasarkan produknya. Padahal, pihak ketiga khususnya di daerah Bali menjualkan produknya melalui facebook dengan harga tiga kali lebih besar dari penjualan Bpk M. Hafifi. Hal ini merupakan penghambat dari berkembangnya usaha milik beliau mengingat kedepannya, ada rencana untuk membuka outlet di depan rumahnya namun terhambat oleh modal.

(32)

4.5 Hasil Pembahasan

4.2.1 Implementasi Perencanaan UD. Jaya Abadi Furniture

Perencanaan dibuat atas dasar keputusan seorang atasan dalam hal ingin mencapai apa yang di inginkan atau memiliki visi dan misi. Proses pembuatan keputusna oleh atasan dalam bukui manajemen, Stephen P. Robbins (2010:160) memiliki langkah-langkah, yaitu:

1. Mengidentifikasi suatu masalah, 2. Mengidentifikasi kriteria keputusan, 3. Mengalokasikan bobot pada kriteria, 4. Mengembangkan alternatif,

5. Menganalisis alternatif, 6. Memilih alternatif,

7. Mengimplementasikan alternatif, 8. Mengevaluasi efektivitas keputusan.

Bpk M. Hafifi memiliki masalah setelah mengalami kebangkrutan membangun usaha kerajinan dari kerang laut. Kemudian mulai merintis rencana membuka unit usaha berbahan akar jati. Masalah selanjutny adalah keuangan yang belum diatur berdasarkan pencatatan yang benar dengan menggunakan mencatatan sederhana. Kemudian permasalah terkait dengan produksi yang masih menggunakan alat sederhana sampai pada tekhnologi yang digunakan serta pengetahuan yang dimiliki masih minim sehingga menimbulkan masalah dalam penjualannya dan mempengaruhi tingkat penjualan dan pendapatannya.

(33)

pelaksanaannya yaitu kurangnya koordinasi dengan para karyawan sehingga rencana yang dibuat tidak di implementasikan secara maksimal. Kurangnya menganalisis suatu keadaan produk, pasar, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perlu adanya analisis SWOT yaitu

strength, weakness, opportunity, and threatened.

Keunikan produk ini adalah memiliki nilai klasik yang berasal dari bahan kayu jati. Banyak diminati oleh masyarakat menengah atas karena kualitas yang dimiliki bagus melihat bahan kayu jati memang sangat berkualitas. Kelemahan yang dimiliki oleh unit usaha ini adalah kurang memahami terhadapa perkembangantekhnologi saat ini sehingga ketertinggalan untuk mengembangkan usaha melalui dunia internet terbilang jauh Padahal peluang menjadi lebih berkembang sangat besar dan akan mampu melakukan kegiatan ekspor secara pribadi. Selain itu, manajemen keuangan yang dilakukan masih sangat sederhana sehingga tidak mampu mengatur keuangan hasil usaha dengan maksimal. Ancaman yang dihadapi yaitu pesaing yang mulai bermunculan di daerah Situbondo dan sekitarnya, pihak ketiga yang melakukan bisnis dapat menjadi ancaman saat melakukan permainan harga dengan konsumen jika tidak adanya pengendalian terhadap produk tersebut. Sehingga untuk mengatasi permasalah yang timbul, maka perlu menganalisis menggunakan analisis SWOT.

4.2.2 Manajemen Strategis

(34)

menggunakan strategis pasif dalam tipe yang dibuat oleh Nawawi (2007, h.6) dan kegiatan bisnis yang hanya dilakukan atas dasar mencari penghasilan maka, unit bisnis ini tergolong tipe kedua dari pernyataan Rangkuti (2007, h.6) yaitu semua kegiatan mulai dari produksi, pemasaran, distribusi berhubungna dengan keuangan. Dalam kriteria UMKM maka unit bisnis ini termasuk dalam small dynamic enterprise

(35)

BAB 5. KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu:

1. Unit usaha UD. Jaya Abadi Furiture yang bergerak pada bidang furniture

berbahan dasar akar kayu jati tergolong dalam usaha mikro. Usaha ini memiliki rencana usaha untuk maju namun belum strategis dikarenakan minimnya kinerja perusahaan dan perkembangan pengetahuan saat ini sehingga menghambat perkembangan usahanya.

2. Unit usaha UD. Jaya Abadi Furniture sudah mampu memasuki pasar ASEAN sehingga hal ini menjadikan usaha mikro ini memiliki akses ke luar negeri meskipun melalui pihak ketiga. Akses ini merupakan peluang utama untuk memperluas pasar penjualan produk ini.

3. Minimnya pengetahuan akan pencatatan keuangan, perkembangan tekhnologi, dan perkembangan era modern yang mana hal tersebut sangat berpengaruh pada kemajuan usahanya.

(36)

LAMPIRAN

Foto bersama Bpk M. Hafifi :

(37)
(38)
(39)

BUKU TEKS

Robbins P,Stephen dan Coulter Mary. 2010. Manajemen. edisi kesepuluh. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Stoner, James A.F. 1992. Manajemen.edisi kedua. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.

Harmono. 2011. Manajemen Keuangan Berbasis Balanced Scorecard Pendekatan Teori, Kasus, dan Riset Bisnis. Edisi 1. Jakarta: Bumi Aksara.

Moleong, L. J. 2012. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Moleong, L.J. 2012. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Subanar, H. 2001. Manajemen Usaha Kecil. Yogyakarta: BPFE.

Sugiyono. 2012. Metode Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

BUKU TERBITAN LEMBAGA

Bank Indonesia dan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia. 2015. Profil Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Jakarta: Kerjasama LPPI dengan Bank Indonesia.

Universitas Jember. 2016. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jember: UPT Penerbitan Universitas Jember.

PERATURAN PEMERINTAH

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008. Usaha Mikr, Kecil, dan Menengah.4 Juli 2008. Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 93. Jakarta.

(40)

Sudaryanto, Ragimun, Rahma. 2011. Strategi Pemberdayaan UMKM Menghadapi Pasar Bebas Asean.

Widodo. 2009. Pengembangan Implementasi Strategi (Penelitian atas Pola Kerja Cerdas dan Koordinasi untuk Meningkatkan Kinerja Organisasi).

Subekti, Lianda., Suryono, Agus., dan Hadi Minto. 2013. Implementasi Strategi Pembinaan dan Pengembangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Studi pada Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang).

Mukmin Saiful, Ariem Tsulus., Suryono, Agus., Said Abdullah. 2013.

Implementasi Rencana Strategi Pemerintah Dalam Pengembangan Usaha Batik Tulis Tenun Gedog. (Studi Di Dinas Perekonomian Dan Pariwisata Kabupaten Tuban Dan Di Usaha Batik Tulis Tenun Gedog Di Desa Kedungrejo Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban)

ARTIKEL DARI INTERNET

Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/brs/view/1258. [Diakses pada 11 Desember 2016].

Gambar

Tabel 2.1. Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
Gambar 4.1 Alat Produksi, mesin serkel.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kebanyakan usaha mikro, kecil dan menengah yang berada di Desa Kenongorejo merupakan unit usaha keluarga yang mempunyai jaringan usaha yang terbatas dan kemampuan

Kemudian dari hasil wawancara penelitian dengan 10 unit usaha mikro, 35 Unit usaha mikro, 35 unit usaha kecil dan 25 unit usaha menengah (N=60) diperoleh data, bahwa penjabaran

Pengembangan Koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan langkah yang strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan

Penyusunan Rencana Strategis ( Renstra) tahun 2016 -2021 adalah sebagai upaya untuk membina, meningkatkan, mengembangkan, menumbuhkan Sektor koperasi serta usaha mikro kecil menengah,

Berdasarkan hal ini, penting untuk dijelaskan usaha-usaha apa saja yang termasuk ke dalam Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).. 1) Usaha Mikro adalah

Untuk hal yang membantu kelancaran dari usaha, beliau menjelaskan bahwa dengan adanya program yang khusus diberikan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah tersebut sangat

Penyusunan Rencana Strategis Renstra tahun 2016 -2021 adalah sebagai upaya untuk membina, meningkatkan, mengembangkan, menumbuhkan Sektor koperasi serta usaha mikro kecil menengah, ,

Analisis Tingkat Pemahaman dan Kesiapan Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah UMKM Dalam Implementasi Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil dan Menengah SAK EMKM Studi pada UMKM