• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERANAN PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG DALAM"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG DALAM PEMBERDAYAAN

USAHA MIKRO, KECIL DAN MENEGAH Oleh:

A. AKIUN, SH,MH NPM.21208017 ABSTRAK

This thesis is studies of the problem of the Role of Singkawang Local Government to empowering micro, small and middle business. By the legal research method. Obtainet conclution that though policy of the Local Goverment to empowering micro, small and middle business in Singkawang City have been arranged into the people aconomic program plan to increase middle small indutry bases on cluster, but at its implementation level still experiencing legal and technical problem. So gets negative response from as big of UMKM. In consequence is recommended that Central and Local Goverment is obliged to act pro active in forming regulation of execution about empowering UMKM, and increases its the role in enableness of UMKM from aspect: financing, facilites and basic facilities, imformation business, partnership, business premit, oppoortunity of business, promotion trade, and institutional support on sustainable development.

Keyword : The Role of Singkawang Local Goverment, empowering micro, small and middle business A. LATAR BELAKANG MASALAH

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah merupakan kegiatan usaha yang dijamin eksistensi dan kehidupannya bedarsarkan pasal 33 Undang-undang Dasar 1945, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia Nomor XVI/MPR-RI/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi, Usaha Mikro, Kecil dan Menegah. Kemudian diundangkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menegah sebagai ganti UU no. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil.

Sebagaimana dipahami, bahwa Usaha Mikro , Kecil dan menengah adalah salah satu pilar utama ekonomi nasional yang harus memperoleh kesempatan utama, dukungan, perlindungan dan pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud keberpihakan yang tegas kepada kelompok usaha ekonomi rakyat, tanpa mengabaikan peranan Usaha Besar dan Badan Usaha Milik Negara.

Meskispun usaha mikro, kecil dan menegah telah menujunkkan peranannya dalam perekonomian nasional, namun masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala, baik yang bersifat internal maupun eksternal , dalam hal produksi dan pengolahan, pemasalan, sumber daya manusia, desain dan teknologi, permodalan, serta iklim usaha.

Sehubungan dengan itu usaha mikro, kecil dan menegah perlu diberdayakan dengan cara: a. Penumbuhan iklim usaha yang mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan b. Pengembangan dan pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan peran serta kelembagaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam perekonomian nasional, maka pemberdayaan tersebut perlu dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah berkesinambungan.

Berkenaan dengan pemberdayaan UMKN di Kota Singkawang, Pemerintah Kota Singkawang yang dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 12 tahun 2001

tentang pembentukan Kota Singkawang, telah berupaya menyusun kebijakannya , sebagaimana tercermin dalam Visi dan Misi Pemerintah Kota Singkawang 2008-2012, yaitu: 1.

VISI :

Singkawang sebagai Sentra Perkembagan Ekonomi Kalbar yang Terpercaya, Aman, Kooperatif, Unik, memiliki layanan publik yang prima dan berorientasi kepada kepentingan pengembangan Ekonomi Rakyat.

SINGKAWANG SPEKTAKULER 2012 PENJELASAN MAKNA VISI:

 Sebagai pusat bisnis berbasis ekonomi kerakyatan mengandung makna menjadikan Kota Singkawang sebagai sastra pengembangan ekonomi yang terdepan di KALBAR, sebagai kota pilihan utama dalam berbasis dan berinvestasi. Selain itu berkembangnya industri rumah tangga, pengembangan perdagangan rakyat yang lebih luas, serta berkembangnya aktivitas pertanian, perkebunan, pariwisata dan jasa masyarakatnya.

(2)

 Adapun masyarakat maju mengandung pengertian meningkatnya kualitas sumber daya manusia, yang menyangkut kualitas pendidikan dan ilmu pengetahuan, serta : kualitas atau derajat kesehatannya. Sedangkan masyarakat sejahtera mengandung makna masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, interaksi sosial secara harmonis dan menjujung tinggi supremasi hukum serta terjamin kesejahteraan sosial dasarnya.

MISI :

Dalam rangka mewujudkan Visi yang telah di tetapkan, maka di susunlah misi pembangunan daerah sebagai berikut:

 Menerapkan ekonomi rakyat yang berbasis pengembangan agrobisnis, agroindusti, dan pariwisata yang kompetitif dan berorientasi pasar serta memberikan ruang kepada kesempatan kerja.

 Percepatan pembangunan ekonomi.

 Menumbuhkembangkan kepercayaan sosial ( social trust ), kemandirian, kreativitas dan inovasi masyarakat.

 Mempercepat pelaksanaan tata pemerintahan yang baik.

Menurut Walikota Singkawang “ Peluang pengembangan ekonomi yang dapat dilakukan di Kota Singkawang berdasarkan potensi unggulan daerah yang ada cukup variatif, melipiti sektor : Pertanian, Perkebunan, Industri, Perdagangan, Pariwisata, Perhotelan dan lain lain. Karena itu diperlukan upaya mengembangkan infrastruktur Kota yang lebih aksesif seperti Prasarana jalan, Telekomunikasi dan Perhubungan(Bandara udara dan Pelabuhan laut )

Pengembangan berbagai potensi unggulan tersebut perlu di lakukan secara harmonis agar benar-benar terwujud “motto” Kota singkawang sebagai: “ Kota Spektakuler” ialah menjadi Sentra Perkembangan Ekonomi Kalbar yang Terpecaya, Aman, Koorperatif, Unik, memiliki layanan publik yang prima dan berorientasi kepada kepentingan pengembangan ekonomi rakyat

Hal itu, hanya dapat di wujudkan jika terjalin kesatuan persepsi, gerak pelaksanaan dan tata laksana penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan oleh lembaga eksekutif, legislatif dan segenap komponen masyarakat Kota Singkawang berdasarkan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di tingkat Pusat maupun Daerah.

Selain itu, upaya-upaya terobosan dalam bentuk menjalin kemitraan dengan pihak swasta dalam dan luar negeri, serta warga Kota Singkawang yang sudah sukses namun berdomisili di luar Kota Singkawang/Kalimantan Barat layak di lakukan agar pengembangan kegiatan usaha di kota Singkawang dapat semakin akseleratif.

Karena itu, pada pameran MTQ XXll 25 s.d 31 mei 2008, telah di jadikan “Ajang Memperkenalkan Produk Produk dan Potensi Usaha Mikro Kecil an Menengah “. Walikota Singkawang Hasan Karman, SH.MM, dalam laporannya sebagai ketua umum MTQ XXII pada acara pembukaan Pameran MTQ XXII adalah sebagai sarana memperkenalkan produk dan potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM ) serta budaya Islam kepada masyarakat luas. Sekaligus memperluas jaringan pemasaran sebagai langkah antisipasi pasar global dalam persaingan bebas, wadah bagi pelaku usaha/UMKM dalam meningkatkan mutu produksi, tolak ukur masyarakat terhadap produk UMKM menuju pasar yang lebih luas, serta sebagai sarana pembelajaran agar produknya dikenal masyarakat luas.

Sedangkan tujuan pameran adalah : “Pemberdayaan UMKM agar mampu bersaing di pasar lokal, regional dan internasional serta memupuk bersaing di pasar lokal, dan internasional serta memupuk kecintaan, kepercayaan serta kebanggan masyarakat terhadap produk lokal yang bernuansa Islam”.

Hasil yang di harapkan dari pameran tersebut adalah “ meningkatnya kualitas dan kuantitas produk UMKM sehingga dapat bersaing di pasar yang lebih luas, tumbuhya rasa kecintaan dan kebanggaan masyarakat terhadap produk lokal dan Islami serta makin luasnya jaringan pemasaran produk UMKM.

(3)

1) Menumbuhkan iklim usaha yang kondusif pada aspek: pendanaan, persaingan, prasarana, informasi, pemasaran, perizinan dan perlindungan usaha;

2) Pembinaan bidang: produksi, pemasaran, sumber daya manusia dan teknologi;

3) Penyedian Pembiayaan dalam bentuk: kredit perbankan, pemberian pinjaman dari lembaga keuangan bukan bank, model ventura, pemberian pinjaman dari dana penyisihan sebagai laba badan usaha milik Negara ( BUMN ), pemberian hibah dan pembiayaan lainnya;

Kenyataan tersebut dikarenakan :

1) Pembangunan UKM masih bersifat top down walaupun sudah otonom;

2) Kurangnya koordinasi antar pembina sehingga di lapangan ada beberapa kegiatan yang tumpang tindih; 3) Program pemerintah Kota Singkawang masih berjalan secara parsial, kurang memberikan arti bagi

pembangunan UKM;

2. Sumber DEPERINDAG, KOPERASI DAN UKM: Data Base UMKM Di Kota Singkawang Per 31 Desember 2008

Dari fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa program pemberdayaan Pemerintah Kota Singkawang terhadap usaha mikro, kecil dan menengah masih belum berdayaguna dan berhasilguna.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana wujud kebijakan Pemerintah Kota Singkawang dalam pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Kota Singkawang?

2. Apakah kendala dominan yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Singkawang dalam melakukan pembinaan terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Kota Singkawang?

3. Apa yang yuridis dan teknis yang seharusnya di lakukan untuk meningkatkan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Kota Singkawang?

C. Kerangka Pemikiran Teoritik

Untuk mendekati, memahami, menjelaskan dan menganalisis masalah penelitian ini, diperlukan kerangka pemikiran teoretik yang di bangun atas dasar konsep-konsep hukum yang dianggap relevan dan fungsional dengan topik dan masalah penelitian, yaitu: Teori Negara Hukum, Konsep Hukum sebagai sarana Pembangunan Ekonomi, Konsep Otonomi Daerah, dan peranan Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, sebagaimana terpolakan pada bagan di bawah ini:

KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIK

Konsep Hukum Sebagai

Sarana Pembangunan

Konsep

Pembangunan nasional

(4)

D. Pembahasan

1) Wujud Kebijakan pemerintah Kota Singkawang dalam pemberdayaan usaha Mikro, Kecil dam Menengah di Kota Singkawang

Berdasarkan pasal 4 s.d Pasal 15 undang-undang Nomor 20 tahun 2008 tentang UMKM, Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban menetapkan kebijakan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, terutama dari aspek : a. Pendanaan; b. Sarana dan prasarana; c. Informasi usaha; d. Kemitraan; e. Perizinan usaha; f. Kesempatan usaha; g. Promosi dagang; dan h. Dukungan kelembagaan {Pasal 7 Ayat 1}

Karena itu, untuk mengetahui bagaimana wujud kebijakan tersebut dalam pemberdayaan UMKM di wilayahnya, maka peneliti telah melakukan studi dokumen dan wawancara dengan responden penelitian ini. Hasilnya dapat dideskripsikan sebagai berikut :

a. Penyusunan Rencana Strategi Pembangunan UMKM

Dari hasil penelitian (studi dokumen ) terhadap RPJMD kota Singkawang tahun 2008-2012, menunjukkan wujud kebijakan Pemerintah Kota singkawang dalam pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di kota Singkawang, secara normatif (Makro) memang sudah di rumuskan seperti tercantum dalam Tabel : 1 di bawah ini.

Tabel : 1

Rencana Pelaksanaan Program Bidang Ekonomi Kerakyatan 2008-2012

1. Strategi/Kebijakan :

Meningkatkan Industri Kecil Menengah (lKM) berbasis klaster 2

2. 1. Program peningkatan Kapasitas IPTEK Sistem Produksi dengan kegiatan pokok : a. Pengembangan insfrastrukrur Kelembagaan Standarisasi;

b. Pengembangan sistem inovasi teknologi industri; c. Penguatan kemampuan industri berbasis teknologi;

2. Pengembangan Industri kecil dan menengah dengan kegiatan pokok:

a. Fasilitas bagi industri kecil dan menengah terhadap pemanfaatan sumber daya; b. Pembinaan Industri kecil dan menengah dalam memperkuat jaringan Klaster industri; c. Pemberian kemudahan izin usaha industri kecil dan menengah;

d. Pemberian fasilitas kemudahan akses perbankan bagi industri kecil dan menengah;

3. Sasaran :

1. Terwujudnya keterpaduan pengembangan perekonomian rakyat khususnya pada sektor industri kecil dan menengah.

2. Terwujudnya sarana dan prasarana pendukung bidang industri kecil dan menengah.

Sumber : RPJMD Kota Singkawang 2008-2012, Bab VII Penutup, Halaman 178

Peranan Hukum Dalam

Pembangunan Ekonomi

Konsep

Otonomi Daerah

Peranan Pemerintah Daerah

(5)

Berdasarkan data Tabel : 1 di atas menunjukkan wujud kebijakan Pemerintah Kota Singkawang dalam pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah masih sangat umum dan hanya terbatas pada skala prioritas kegiatan industri kecil dan menengah.

Padahal berdasakan data base Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kota singkawang tahun 2008 terdapat keanekaragaman jenis UMKM di Kota Singkawang, yaitu sebanyak 3.643 Unit dengan komposisi : a. Usaha Mikro 21 unit, b. Usaha Kecil 3.431 unit, c. Usaha Menengah 191 unit. Untuk Koperasi sebanyak 143 unit, Koperasi Pegawai Negeri : 19 unit, Koperasi Unit Desa : 6 unit, Koperasi Karyawan : 11 unit, Koperasi Serba Usaha : 28 Unit, Koperasi Tani : 10 unit, Koperasi Pondok Pesantren : 4 Unit, Koperasi Wiredatama : 4 unit, Koperasi Primkopabri dan Polri : 6 unit, Koperasi lain-lain : 36 unit.

b. Pelaksanaan program Pemberdayaan UMKM

Kemudian dari hasil wawancara penelitian dengan 10 unit usaha mikro, 35 Unit usaha mikro, 35 unit usaha kecil dan 25 unit usaha menengah (N=60) diperoleh data, bahwa penjabaran prinsip pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang diamanatkan Pasal 4 UU NO. Tahun 2008 tentang UMKM ke dalam RPJMP Pemerintah Kota singkawang dan RKP Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM di nilai oleh sebagian besar responden masih belum optimal untuk :

a. Menumbuhkan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah guna berkarya dengan prakarya sendiri;

b. Mewujudkan kebijakan publik yang transparan, akuntabel dan berkeadilan;

c. Mengembangkan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah;

Dimana:

1) Rata-rata 70% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum optimal, hanya 30% yang menyatakan sudah optimal, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah kota singkawang lebih ditingkatkan ke depan. 2) Rata-rata 80% Golongan Usaha Kecil menyatakan belum optimal, hanya 20% yang menyatakan sudah optimal, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih di tingkatkan ke depan.

3) Rata-rata 67% Golongan Usaha Menengah Menyatakan belum optimal, hanya 33% yang menyatakan sudah optimal, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih di tingkatkan ke depan.

c. Pemberdayaan dari aspek pendanaan

Dalam upaya penumbuhan iklim usaha yang kondusif dari aspek pendanaan oleh Pemerintah Daerah sebagaimana di wajibkan Pasal 7 ayat 1 huruf a Jo Pasal 8 UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM juga mendapatkan penilaian yang diperoleh dari N = 60 dan diolah menunjukkan belum terjabarkan ke dalam Peraturan Daerah untuk:

a. Memperluas sumber pendanaan dan memfasilitasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah untuk dapat mengaskes kredit perbankan dan lembaga keuangan bukan Bank.

b. Untuk memperbanyak lembaga pembiayaan dan memperluas jaringannya sehingga dapat di akses oleh usaha mikro kecil dan menengah.

c. Memberikan kemudahan dalam memperoleh pendanaan secara cepat, murah dan tidak diskriminatif dalam pelayanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dimana:

1. Rata-rata 100% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum di atur dan belum di laksanakan secara konkret di lapangan.

2. Rata-rata 100% Golongan Usaha kecil menyatakan belum di atur dan belum di laksanakan secara konkret di lapangan.

3. Rata-rata 100% Golongan Usaha Menengah menyatakan belum di atur dan belum di laksanakan secara konkret di lapangan.

d. Pemberdayaan dari Aspek Penyiapan Sarana dan Prasarana

(6)

a. Mengadakan prasarana umum yang dapat mendorong dan mengembangkan pertumbuhan Usaha Mikro dan Kecil; dan

b. Memberikan keringanan tarif prasarana tertentu bagi Usaha Mikro dan Kecil Dimana:

1. Rata-rata 70% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum kondusif dan hanya 30% yang menyatakan sudah kondusif, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih di tingkatkan ke depan.

2. Rata-rata 80% Golongan usaha Kecil menyatakan belum kondusif dan hanya 20% yang menyatakan sudah kondusif, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih di tingkatkan ke depan.

3. Rata-rata 67% Golongan usaha Menengah menyatakan belum kondusif dan hanya 33% yang menyatakan sudah kondusif, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih di tingkatkan ke depan.

e. Pemberdayaan Dari Aspek Informasi Usaha

Dalam upaya pertumbuhan iklim usaha yang kondusif dari aspek informasi Usaha sebagaimana diwajibkan Pasal 7 ayat 1 huruf c Jo Pasal 10 UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM juga mendapatkan penilaian yang negatif dari sebagian besar responden.

Dari data yang diperoleh dari negara = 60 dan diolah menunjukkan belum terjabarkan ke dalam Peraturan Daerah untuk :

a. Membentuk dan mempermudah pemanfaatan bank data dan jaringan informasi bisnis;

b. Mengadakan dan menyebarluaskan informasi mengenai pasar, sumber pembiayaan, komoditas, penjaminan, desain dan teknologi, dan mutu; dan

c. Memberikan jaminan tranparasi dan akses yang sama bagi semua pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atas segala informasi usaha.

Dimana:

1. Rata-rata 70% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 30% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

2. Rata-rata 80% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 20% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

3. Rata-rata 67% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 33% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan.

f. Pemberdayaan dari aspek kemitraan

Dalam daya penumbuhan iklim usaha yang kondusif dari aspek kemitraan yang harmonis oleh Pemerintah Daerah sebagaimana di wajibkan pasal 7 Ayat 1 huruf d Jo Pasal 11 UU No. Yang negatif dari responden. Dari data yang diperoleh dari negara = 60 dan diolah menunjukkan belum terjabarkan ke dalam Peraturan Daerah untuk :

a. Mewujudkan kemitraan antara Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha besar;

b. Mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antara Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha besar;

c. Mendorong terbentuknya struktur pasar yang menjamin tumbuhnya persaingan usaha yang sehat dan melindungi konsumen; dan

d. Mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh orang perseorangan atau sekelompok tertentu yang merugikan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Dimana :

1. Rata-rata 70% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 30% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

(7)

3. Rata-rata 67% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 33% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan.

g. Pemberdayaan dari Aspek Perizinan

Dalam upaya penumbuhan iklim usaha yang kondusif dari aspek Perizinan oleh pemerintah Daerah sebagaimana di wajibkan Pasal 7 Ayat 1 huruf e Jo pasal 12 UU No. Tahun 2008 tentang UMKM, ternyata juga mendapatkan penilaian yang negatif dari Negara = 60 dan responden. Dari data yang diperoeh dari Negara = 60 dan diolah menunjukkan belum terjabarkan kedalam peraturan Daerah untuk :

a. Menyederhanakan tata dan jenis perizinan usaha dengan sistem pelayanan terpadu satu pintu ; dan b. Membebaskan biaya perizinan bagi usaha mikro dan memberikan keringanan biaya perizinan bagi Usaha

Kecil. Dimana:

1. Rata-rata 70% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 30% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

2. Rata-rata 80% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 20% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

3. Rata-rata 67% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 33% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan.

h. Pemberdayaan dari aspek Kesempatan Berusaha

Dalam upaya penumbuhan iklim usaha yang kondusif dari aspek berusaha oleh pemerintah Daerah sebagaimana di wajibkan Pasal 7 Ayat 1 huruf e Jo pasal 13 UU No.20 Tahun 2008 tentang UMKM, ternyata juga mendapatkan penilaian yang negatif dari Negara = 60 dan responden. Dari data yang diperoleh dari Negara = 60 dan diolah menunjukkan belum terjabarkan kedalam peraturan Daerah untuk antara lain :

a. Menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokohan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat , lokasi pertambangan rakyat, lokasi wajar bagi pedagang kaki lima, serta lokasi lainnya.

b. Menetapkan alokasi waktu Usaha Mikro dan Kecil di subsektor perdagangan reatil;

c. Mencabangkan bidang dan jenis kegiatan usaha yang memiliki kekhususan proses, bersifat padat karya, mempunyai warisan budaya yang bersifat khusus dan turun-menurun;

Dimana:

1. Rata-rata 70% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 30% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

2. Rata-rata 80% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 20% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

3. Rata-rata 67% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 33% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan.

i. Pemberdayaan dari aspek promosi pedagang

Berikutnya mengenai upaya penumbuhan iklim usaha yang kondusif dari aspek promosi dagang oleh pemerintah Daerah sebagaimana di wajibkan Pasal 7 Ayat 1 huruf e Jo pasal 14 UU No.20 Tahun 2008 tentang UMKM, ternyata juga mendapatkan penilaian yang negatif dari Negara = 60 dan responden. Dari data yang diperoleh dari Negara = 60 dan diolah menunjukkan belum terjabarkan kedalam peraturan Daerah untuk antara lain :

a. Meningkatkan promosi produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di dalam dan di luar negeri.

b. Memperluaskan sumber pendanaan untuk promosi produk Usaha Mikro, Kecil, Mengengah di dalam dan di luar negeri.

Dimana :

(8)

2. Rata-rata 80% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 20% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

3. Rata-rata 67% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 33% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan.

j. Pemberdayaan dari aspek dukungan kelembagaan

Berikutnya mengenai upaya penumbuhan iklim usaha yang kondusif dari aspek dukungan kelembagaan oleh pemerintah Daerah sebagaimana di wajibkan Pasal 7 Ayat 1 huruf e Jo pasal 15 UU No.20 Tahun 2008 tentang UMKM, ternyata juga mendapatkan penilaian yang negatif dari Negara = 60 dan responden. Dari data yang diperoleh dari Negara = 60 dan diolah menunjukkan belum terjabarkan kedalam peraturan Daerah untuk : mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator, lembaga layanan pengembangan usaha, konsultan keuangan mitra bank, lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Dimana : Rata-rata 70% Golongan Usaha Mikro menyatakan belum memadai , hanya 30% yang menyatakan sudah memadai, namun tetap menuntut agar kebijakan Pemerintah Kota Singkawang lebih ditingkatkan lagi ke depan

2. Kendala dominan yang dihadapi oleh pemerintah Kota Singkawang dalam melakukan Pembinaan terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Kota Singkawang.

Pada dasarnya ada dua macam kendala dominan yang di hadapi oleh pemerintah Kota Singkawang dalam melaksanakan pembinaan terhadap UMKM di wilayahnya :

A. Pertama kendala yuridis

Kendala yuridis ini terkait dengan perusahaan Undang-undang UMKM dari yang lama di ganti dengan yang baru, sehingga memerlukan perubahan terhadap peraturan di tingkat daaerah. Sementara peraturan pelaksanaan Undang-undang yang baru dalam bentuk Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri belum diterbitkan.

Akibatnya, untuk memprogram pembentukan Peraturan Daerah atas inisiatif Walikota maupun DPRD kota Singkawang mengalami hambatan karena belum ada peraturan pelaksanaan yang dapat dipedomani B. Kendala teknis terhadap Pembinaan UMKM di Kota Singkawang.

Kendala teknis sebenarnya sangat variatif dan cukup kompleks, namun jika diabstraksikan dari keluhan UMKM intinya mencakup permasalahan antara lain :

a. Kesulitan permodalan, sehingga UMKM kurang mampu mengembangkan usahanya . Sementara upaya mendapatkan kredit dari bank maupun lembaga keuangan non bank masih sangat birokratis dan dengan persyaratan yang cukup komplek serta perlunya anggunan. Dalam hal ini sekalipun menurut bunyi normanya peraturan perundang-undangan sudah berpihak kepada UMKM, namun pada tataran pelaksanaannya tetap bersifat membelenggu.

b. Kesulitan dalam informasi dan pemasaran ( domestik dan ekspor ). Disebabkan belum tersedianya sistem informasi yang canggih, cepat, dan murah. Sekalipun ada tetapi sangat sulit diakses dan diaplikasikan oleh UMKM yang kemampuan SDM dan lingkup usahanya belum profesional.

c. Rendahnya kualitas SDM UMKM menyebabkan kurang berkembangnya kewirausahaan, rendahnya produktivita, dan daya saing, sehingga sangat berpengaruh dalam menciptakan dan memanfaatkan peluang usaha, agresifitas mengakses pasar ( terutama ekspor ), dan akses terhadap sumber-sumber permodalan.

d. Keterbatasan dalam teknis produksi dan manajemen. Ini merupakan kelemahan mendasar dari UMKM yang ada di kota Singkawang. Hanya sebagian kecil saja yang memiliki kemampuan teknis poduksi dan manajemen profesional.

e. Keterbatasan sarana dan infrastruktur, terutama sektor transportasi telekomunikasi, pasokan air bersih dan listrik.

f. Masih terbatasnya penggunaan teknologi informasi (seperti internet). sehingga jangkuan pasar menjadi terbatas dan efesiensi usaha rendah.

3. Dari hasil wawancara peneliti dengan responden dan informasi sekunder lainnya yang terkait.

(9)

a. Bahwa sebelum otonomi daerah era UU 22 Tahun 1999 terhadap UMKM cukup mudah karena koordinasi antara pemerintah Kabupaten/Kota dengan pemerintah Provinsi sangat baik. Tetapi pada era otonomi sekarang ini,

koordinasinya menjadi kurang bagus. Disamping itu , pejabat yang mengenai masalah UMKM banyak tidak mengetahui persoalan UMKM.

b. Dalam upaya meningkatkan kesempatan dan kemajuan UMKM perlu dilakukan regulasi yang memberikan kepastian dan perlindungan hukum terhadap UMKM.

c. Selain itu perlu ditingkatkan pembinaan teknis terhadap UMKM yang meliputi :

1. Pembinaan produksi dengan cara pengembangan unit pendampingan langsung kepada UMKM dan pembinaan terpadu dengan menggunakan strategi kluser. Sistem ini menjadi penting karena akan memudahkan untuk pengembangannya dan akan memudahkan untuk membentuk network dimana itu berguna bagi kelangsungan suatu produksi

2. Pembinaan pemasaran (terutama untuk tujuan ekspor) dengan meniadakan berbagai hambatan kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh tiap-tiap negara tujuan yang terlalu tinggi, dan dengan mutu produk serta desain kemasan yang distandarisasi.

3. Dalam pembinaan kemampuan manajerial SDM UMKM, Pemerintah Daerah melalui Dinas Penindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM, melaksanakan secara terkoordinasi dengan instansi-instansi dan pihak terkait lainnya. Sehingga dapat dihindari munculnya duplikasi dan pengulangan pelaksanaan kegiatan / program pembinaan

4. Dalam pembinaan permodalan, seharusnya Pemerintah Daerah melakukan secara intensif dengan perbankkan dan bisa menanggung beban pembinaan permodalan minimal sebesar 35% dari APBD. Sebab, jika di lihat dari sisi penganggaran, maka sebenarnya anggaran pembinaan yang di lakukan oleh Pemerintah Daerah adalah dasarnya bersumber dari pusat melalui anggaran dekonsentrasi (APBN). Sementara anggaran dari Daerah (APBN) lebih banyak ditujukan untuk pelatihan.

5. Demikian pula terhadap pembinaan koperasi, tetap harus di lakukan secara berkesinambungan untuk mewujudkan sokoguru perekonomian nasional sebagaimana diamanahkan oleh UUD 1945.

Seperti di amanahkan UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban memberdayakan UMKM di daerahnya , untuk menumbuhkan iklim usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kewajiban yang meliputi aspek : pendanaan, sarana dan prasarana, informasi usaha, kemitraan, perizinan usaha, kesempatan berusaha, promosi dagang dan dukungan kelembagaan.

Karena itu, perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian dalam menyusun rencana strategi dan rencana program pemberdayaan UMKM. Di mana Dinas Penindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM menjadi institusi pelaksana Pembina terdepan di Daerah. Otonomi Daerah yang bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi pelayanan kepada masyarakat. Akan memberikan mandat sangat besar kepada stakeholder ini. Pada saat sekarang dinas tidak bisa lagi bertumpu pada petunjuk dari instansi diatasnya. Segala sesuatunya tergantung kepada inovasi dan kreativitas masing-masing dinas di Daerah.

3. Asep Ahmad Saefuloh, Kebijakan Pemerintah Dalam Pembinaan Pengusaha Kecil dan Menengah, Makalah ini merupakan ringkasan dari laporan penelitian tentang”Pengembangan UKM di Indonesia” yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Pelayanan Data dan Informasi Sekretariat Jendral DPR RI Tahun 2007. Penulis adalah Peneliti Muda Bidang Kebijakan Publik pada Pusat Pengkajian Pelayanan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jendral DPR RI.

Menurut Asep Ahmad Soefuloh, secara empirik studi terhadap peran Pemerintah terhadap UMKM dapat merujuk pada studi yang di lakukan oleh : 4.

1. Tambunan bersama PEP-LIPI 65 responden di mana menunjukkan bahwa sebagian besar responden ( 47%) melakukan kegiatan ekspor atas inisiatif sendiri, sedangkan bantuan dari Pemerintah hanya 3,7 persen.

2. Kemudian berdasarkan studi Sanusi (2006) dari temuan lapangan terlihat bahwa peran ideal yang seharusnya dilakukan dari masing-masing stakeholder terhadap UKM juga koperasi belum berjalan secara optimal dalam suatu tatanan koordinasi yang sinergis. Bahkan fakta di lapangan masih banyak di temukan adanya tarik lulur kepentingan antara Dinas Koperasi dan Dekopin , sebagai stakeholder dominan dalam implementasi kebijakan pengembangan SDM UKM termasuk koperasi . Bahkan di beberapa tempat di temukan Konflik yang cukup tajam antara Dewan Koperasi Nasional (Dekopin) dengan Dinas Koperasi, terutama dalam bidang teknis, seperti pengembangan pendidikan dan pelatihan, penyaluran subsidi, dan lainnya. Akibat muncul banyak duplikasi pengulangan kegiatan program.

(10)

Bahwa berdasarkan UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM, sebenarnya pengaturan pemberdayaan terhadap UMKM dapat dikatakan sudah sangat kuat dan memberikan nilai kepastian hukum, akan tetapi, pada tataran operasionalnya memang mengalami beberapa kendala yuridis aplikatif yang disebabkan oleh belum tertibnya peraturan pelaksanaan yang lebih operasional untuk dijadikan pedoman pengaturan di tingkat daerah. Sehingga rencana strategis dan progam pembangunan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada pemberdayaan UMKM belum dapat diwujudkan secara optimal.

Karena itu, Pemeritah Pusat seharusnya bersikap pro aktif dalam membentuk peraturan pelaksanaan yang dapat dijabarkan ke dalam Peraturan Daerah dan Kebijakan kepada Daerah.

Sebab, pemberdayaan UMKM memang menjadi sangat strategis dalam menggerakan kegiatan ekonomi masyarakat, sekaligus menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraannya.

Menurut Riana Pangabean, terdapat beberapa alasan mengapa UMKM perlu diberdayakan dalam sistem perekonomian nasional terutama melalui kerjasama Bank, koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM), yaitu karena: 5.

a. Sebanyak 92% UMKM belum bisa mengakses permodalan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa : (1) Bank hanya menjangkau 4 juta dari 48 juta bisnis unit UMKM pada lebih kurang 10.000 desa dari total desa di Indonesia : (2) Jumlah dana perkuatan usaha selama periode 2000-2006 diberikan kepada 10.593 unit koperasi dengan nilai dukungan perkuatan sebesar Rp 2.41 Triliun atau sebesar Rp 227.7 juta per koperasi dan (3) Jumlah perkuatan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui lembaga non koperasi selama periode 2002-2006 diberikan kepada 14.131 unit dengan nilai dukungan perkuatan sebesar Rp 347.5 Milyar atau sebesar Rp 24,7 Juta per unit lembaga non koperasi.

b. Menurut BPS (2006), jika pengusaha UMKM tidak diberdayakan menyebaban kemiskinan makin besar dan menjadi beban seluruh bangsa.

c. Menurut hasil penelitian umumnnya usaha mikro yang mendapat pelayanan keuangan pendapatannya meningkat per bulan rata-rata 87,34% dan alasan yang kelima faktor pendanaan menjadi daya dorong bagi usaha mikro untuk naik kelas menjadi usaha menengah dan usaha mikro ini mempunyai potensi untuk dikembangkan secara cepat.

Selain keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan permodalan, UMKM juga masih memiliki keterbatasan dalam pemasaran, kompetensi berusaha yang masih lemah dan kurang memiliki usaha baik antar UMKM dan pengusaha besar untuk mengembangkan usahanya. Faktor ini juga menjadi faktor penentu untuk berkembangnya suatu usaha. Jika hanya faktor modal yang diatasi sedangkan faktor lain ditinggalkan maka modal tersebut akan kurang bermanfaat bagi UMKM. Oleh sebab itu disamping kerjasama untuk memenuhi permodalan, faktor yang telah disebutkan diatas juga harus digarap secara utuh.

Lantas bagaimanakah Pola Kerjasama Bank, Koperasi, dan LKM dapat diwujudkan? Jawabannya menurut Riana Pangabean, adalah dengan mengefektifkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang ada, antara lain sebagai berikut : 6.

1. Dasar Kerjasama Antar Bank Dengan Koperasi dan LKM

a. Salah satu bukti adanya kerjasama antara Bank dan Lembaga Keuangan Mikro yang termasuk pada

4. Ibid

5. Riana Pangabean, Kerjasama Bank,Koperasi dan Lembaga Kuangan Mikro (LKM) Mendukung Pemberdayaan Usaha Mikro,Kecil dan Menengah,Artikel,Jakarta,2007.

6. Ibid

lembaga keuangan formal dapat dijelaskan dalam kasus pendanaan usaha UMKM yang bersumber dari dana Surat Utang Pemerintah (SUP). Sedangkan solusi untuk mengatasi kurang aksesnya UMKM pada permodalan dan kepada lembaga keuangan khususnya Perbankan, maka pemerintah menerbitkan Surat Utang Pemerintah (SUP) Nomor SU-005/MK/1999 tanggal 29 Desember Tahun 1999. Pelaksanaan pelayanan permodalan ini mengacu kepada 7 (tujuh) ketentuan-ketentuan hukum antara lain : (1) UU RI No. 24 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, (2) UU RI No. 24 tentang Surat Utang Negara, (3) Keputusan Menteri Negara Koperasi No. 21/Kep/M.KUKM/II/2003 Tanggal 23 Februari 2003 Tentang Pedoman Pemberian Rekomendasi Penunjukan Badan Usaha Milik Negara dan Lembaga Keuangan Pelaksana Kredit Usaha Mikro dan Kecil, dan (4) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 12/KMK/06/2005 Tanggal 14 Februari 2005 (Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Negara KUKM, 2007).

(11)

Rakyat/Bank Perkreditan Simpan Pinjam Koperasi, Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) dan lembaga-lembaga perkreditan yang diberikan status sebagai Bank Perkreditan Rakyat.

c. BUMN yang sudah terlibat dalam pemberdayaan UMKM mulai tahun 2003 adalah (1) BUMN meliputi PT. Bank Mandiri dan PT. PNM sedangkan (2) LKP yang terlibat terdiri dari : BRI , BNI, BTN, Bukopin, Perum Pegadaian dan 24 BPD di Indonesia.

2. Pola Kerjasama Bank Mendukung Pemberdayaan UMKM

a. Identifikasi hubungan Bank, Koperasi dan LKM dapat dilihat dari program dan pelaksanaan kegiatan pelayanan perkreditan kepada UMKM untuk masing-masing lembaga keuangan.Menurut Bank Indonesia pada tahun 2001 ada 14 Bank Umum yang merencanakan plafon kredit kepada KUKM sebesar Rp 24,4 Triliun realisasi kredit kepada KUKM sampai bulan Agustus sebesar 88,4%, jumlah kredit tersebut meliputi 1,4 juta rekening. Ke 14 Bank tersebut adalah (1) PT. Bank Mandiri, (2) PT. Bank Negara Indonesia (persero), (3) Bank Negara (persero), (4) PT. Bank Rakyat Indonesia (persero), (5) PT. Bank Central Asia Tbk, (6) PT. Bank Danamon Indonesia (persero) (7) PT. Bank Internasional Tbk, (8) PT. Bank Universal Tbk, (9) PT. Bank Lippo, (10) PT. Bank Bali Tbk, (11) PT. Bank Niaga, (12) PT. Bank Bukopin, (13) PT. Pan Indonesia dan (14) PT. Bank Buana.

Realisasi kredit sebesar 30,4% adalah merupakan kredit Mikro sebesar 32,1%, kredit untuk mikro dan sebagian besar atau 37,6% merupakan kredit menengah. Dari sisi penggunaan, sebagian besar kredit menengah digunakan untuk kredit modal kerja. Jangkauan pemberian kredit usaha mikro meliputi usaha miskin atau mendekati miskin dengan pendapatan sekitar Rp 500 rb per rumah tangga.

b. Contoh kasus pertama adalah Bank Rakyat Idonesia (BRI). Sebagaimana di ketahui bahwa BRI masih mempunyai komitmen untuk melayani UMKM walaupun Bank tersebut sudah menjdi Bank umum. Sampai saat ini pasar utama BRI adalah UMKM karena UMKM telah terbukti mampu bertahan pada masa kritis dan terbukti UMKM disiplin mengembalikan kredit. Persyaratan kredit pada BRI tidak berdasarkan sektor tetapi berdasarkan kemampuan nasabah membayar kembali pinjamannya dan peluang bisnis. Pertumbuhan kredit UMKM pada bank didominasi oleh sektor pertanian dan industri. Ada pun jumlah rencana dan realisasi kredit bagi UMKM Tahun 2003, Rp 40.609 triliun atau 85,31% dari total kredit yang disalurkan sebesar Rp 47,599 triliun. Tahun 2004, Rp 50,93 triliun atau 86,67% dari rencana total kredit sebesar 58,763 triliun.

c. Contoh kasus kedua Bank Mandiri. Sampai tanggal 26 Oktober 2007 jumlah kredit yang direncanakan untuk UMKM sampai triwulan ketiga, mencapai Rp 16 triliun dan kredit baru untuk UKM mencapai Rp 3 triliun. Pertumbuhan kredit UMKM didomonasi oleh sektor perdagangan.

3. Kerjasama Koperasi Mendukung Pemberdayaan UMKM

a. Lembaga Keuangan Mikro (LMK) di Indonesia menurut Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia Memiliki ciri (1) Menyediakan beragam jenis pelayanan keuangan yang relevan atau sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat : (2) Melayani kelompok masyarakat berpenghasilan rendah : (3) Menggunakan prosedur dan mekanisme yang kontektual dan fleksibel agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat miskin yang membutuhkan.

b. Selama ini LKM merupakan lembaga yang mampu untuk memenuhi modal UMKM karena LKM mampu menyesuaikan pelayanan dengan karakter UMKM yang cenderung dianggap tidak bankable oleh sekttor perbankan komersial. Selain itu LKM mampu memberikan kredit dalam skala besar tanpa jaminan, tanpa aturan yang ketat. LKM juga dapat menjadi perpanjangan tangan dari lembaga keuangan formal. 4. Kerjasama Koperasi Mendukung Pemberdayaan UMKM

a. Koperasi yang dikembangkan Pemerintah untuk memberikan pelayanan keuangan kepada UMKM adalah koperasi simpan pinjam. Koperasi simpan pinjam terdiri dari (1) Koperasi simpam pinjam disebut KSP adalah koperasi yang melaksanakan kegiatan usahanya hanya usaha simpan dan (2) unit usaha simpan pinjam disebut USP adalah usaha yang dibentuk dalam suatu koperasi sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi melakukan kegiatan usaha simpan pinjam.

b. Selain koperasi tersebut terdapat pula Koperasi Kredit (Credit Union) telah masuk di Indonesia sejak tahun 1950. Koperasi kredit dimaksud dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu, bersepakat untuk menabungkan uang mereka. Terciptalah modal bersama yang dipinjamkan diantara sesama mereka dengan tujuan produktif dan kesejahteraan berarti bahwa pinjaman hanya diberikan untuk kebutuhan anggota bagi usaha-usaha yang biasa meningkatkan penghasilan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. Artinya pinjaman tidak bisa diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif.

(12)

(6) Modal penyertaan Rp 6.640,94 juta; (7) Simpanan yang diterima Rp 325.270,95 juta; (8) SHU yang belum di bagi Rp 107.364,73 juta; (9) Total aset Rp 1.393.932,55 juta ; dan (10) Pinjaman yang di berikan Rp 1.154.815,88 juta. Demikian juga perkembangan USP pada tahun yang sama cukup menonjol yaitu : (1) Jumlah USP Koperasi sebanyak 36.485 unit; (2) Jumlah anggota sebanyak 4.987.783 orang; (3) Jumlah nasabah 10.524.908 orang; (4) Modal pinjaman Rp 1.557.374,67 juta; (5) Modal sendiri Rp 4.054.858,83 juta; (6) Modal penyertaan Rp 200.000 juta: (7) Simpanan yang diterima Rp 1.545.578,36 juta; (8) SHU yang belum di bagi Rp 1.864.693.91; (9) Total aset Rp 7.524.063.62 juta; (10) Pinjaman yang diberikan Rp 13.495.662 juta.

5. Strategi Kerjasama Bank, Koperasi dan LKM

a. Secara umum tujuan pemberdayaan UMKM adalah (1) Memberikan Kontribusi bagi pembentukan PDB; (2) Menyediakan kesempatan kerja atau mengurangi penggangguran; (3) Meningkatkan ekspor untuk meningkatkan devisa negara; (4) Pemerataan pendapatan; (5) Memperkuat struktur ekonomi. Dalam tulisan ini fokus pemberdayaan diarahkan kepada usaha mikro bertujuan untuk (1) Memperkuat permodalan UMKM; (2) Pemberdayaan usaha mikro;(3) Memperluaskan kesempatan kerja dan (4) mengurangi kemiskinan. Melalui usaha yang dilaksanakan, maka tujuan ini akan tercapai bila semua pihak yang terlibat khususnya bank, koperasi dan LKM membangun kerjasama. Agar kerjasama tersebut terlaksana dan diimplementasikan dilapangan perlu mengoptimalkan peran masing masing. b. Beberapa hal yang menjadi alasan di perlukannya kerjasama antara Bank, Koperasi dan LKM, adalah: 1. Bahwa Bank hanya menjangkau 4 juta dari 48 juta bisnis unit UMKM pada lebih kurang 10.000 desa dari total desa di Indonesia. Artinya masih terdapat 44 juta unit usaha bisnis UMKM yang belum terjangkau. Dari jumlah ini belum diketahui apakah berapa UMKM yang di layani oleh koperasi dan LKM atau lembaga lain yang berfungsi sebagai penyalur kredit.

2. Dilihat dari pesan BABK sesuai dengan payung hukum. Bank tidak didesain untuk melayani UMKM yang tidak mempunyai kolateral dan persyaratan lainnya. Dengan aturan ini maka Bank tidak mungkin dapat menjangkau semua UMKM yang ada di desa. Oleh sebab itu peran Bank dalam kerjasama ini mungkin hanya sebagai channeling dan jika ada kesempatan bisa sebagai executing.

3. Koperasi simpan pinjam/Unit Simpan serta koperasi kredit maasih bekerja sendiri-sendiri. Disatu pihak perkembangan KSP/USP cukup pesat namun dilain pihak belum diketahui seberapa banyak KSP/USP telah melaksanakan fungsinya sebagai koperasi sejati dalam memberikan layanan kepada UMKM. Ada opini yang berkembang di masyarakat bahwa ada beberapa KSP/USP yang menjalankan usahanya seperti rentenir. Perilaku ini perlu diluruskan oleh pihak yang berwenang khususnya pemuda Kabupaten dan Kodya.

d. Dari keterbatasan-keterbatasan yang memiliki oleh masing-masing pelaku tersebut diatas, maka untuk mendukung pemberdayaan UMKM diperlukan strategi sebagai berikut: (1) Melakukan kerjasama seperti yang telah dilakukan selama ini di mana Bank berfungsi sebagai executing atau channeling; (2) Perlu adanya wadah lembaga keuangan mikro untuk mengkoordinasikan semua lembaga keuangan mikro yang sudah beroperasi selama ini. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk membangun kerja sama antar Bank, koperasi dan LKM yaitu :

1). Adanya data yang jelas tentang UMKM di masing-masing Kabupaten/Kota;

2). Adanya Peta dimana Koperasi dan LKM mengadakan kegiatan pemberdayaan UMKM;

3). Adanya suatu sosialisasi dari pemerintah kepada Bank, Koperasi dan LKM anggota masyarakat yang akan dilayani untuk melaksanakan kerjasama ini;

4). Adanya koordinasi secara nasional dari pemerintah untuk melaksanakan kerjasama ini dan perlu kesinambungan.

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan umum, bahwa Bank belum berfungsi sebagai agen pembangunan dalam hal pemberdayaan UMKM di semua Kabupaten, Kota maupun Kecamatan di Indonesia. Kerjasama Bank, Koperasi dan LKM mendukung pemberdayaan UMKM sudah ada diberbagai tempat, namun belum jelas dimana lokasi dan beberapa jumlah UMKM yang sudah dilayani oleh ketiga lembaga keuangan tersebut.

Baik Bank, Koperasi dan LKM sebagian besar bekerja secara sendiri-sendiri memberdayakan UMKM. Pelayanan seperti ini menunjukan kurangnya koordinasi dan komitmen dari semua pihak meberdayakan LKM lainnya adalah pola executing dan channeling. Pada umumnya pelayanan kredit kepada UMKM dilaksanakan secara sendiri dan mengikuti payung hukum masing-masing. Belum tercipta koordinasi antar pelaku pelayanan kredit dalam pemberdayaan UMKM.

E. Rekomendasi

(13)

berdasarkan atas hukum demi terwujudnya nilai keadilan, kesejahteraan, dan kepastian hukum bagi segenap rakyat Indonesia.

Dalam upaya meningkatkan permodalan UMKM perlu dilakukan peningkatan kerjasama antara Bank dengan koperasi, UMKM dan LKM, dengan cara: (a) membangun komitmen untuk melaksanakan kerjasama secara sungguh-sungguh dalam dan berkesinambungan; (b) membuat konsep kerjasama sesuai sasaran pelayanan; (c) sosialisasi kepada semua pihak yang terkait terutama Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Untuk menunjang terlaksananya kerjasama tersebut diperlukan :

1) Adanya UMKM di masing-masing Kabupaten/Kota;

2) Adanya peta dimana LKM mengadakan kegiatan pemberdayaan UMKM; 3) Adanya informasi mengenai UMKM belum mendapat pelayaan permodalan;

4) Adanya sosialisasi dari pemerintah kepada Bank , Koperasi dan LKM, dan anggota masyarakat yang akan dilayani untuk melaksanakan kejasama;

5) Adanya koordinasi ditingkat Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat dalam pelaksanaan kerjasama;

6) Adanya komitmen secara nasional dari pemerintah untuk melaksanakan kerjasama secara kesinambungan. Demikian rekomendasi yang dapat dikemukakan melalui penelitian tesis ini.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku

Agus Yuda Hernoko, 2001. Kebebasan berkontrak dalam kontrak standar (pengembangan Konsep Win-Win Solution Sebagai Alternatif Baru Dalam Kontrak Bisnis dalam Puspa Ragam Informasi dan Problematika Hukum, diaditoleh sarwini dan L. Budi Kagramanto, Surabaya; karya abditama.

Amrah Muslimin, 1978. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah 1903-1978, Bandung; Alumni.

Aniza Nur Madyanti, 2005. Analisis Pengaruh Peraktek Good Goverment Terhadap Kualitas Pelayanan Kemahasiswaan Di Akademi Pimpinan Perusahaan, Tesis, Jakarta, Universitas Indonesia.

Bagir Manan, 1990. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut Azas Desentralisasi Berdasarkan UUD 1945, Disertai, Bandung : UNPAD.

Carolie Bryant dan Loise G. White, 1989. Manajemen Pembangunan Untuk Negara Berkembang, Jakarta : LP3ES. C.F. Strong, 1966. Modern Politikal Constitutional, London, ELBS and Singwick & Jakson Limited.

Erman Rajagukguk, 1997. Peranan Hukum dalam Pembangunan pada Era Globalisasi: Implikasinya bagi Pendidikan Hukum di Indonesia. Pidato Pengukuhan Guru Besar di Ucapkan pada Upacara penerimaan guru besar bidang Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta 4 Januari 1997.

Gunarto Suhardi, 2002. Peranan Hukum Dalam Pengembangan Ekonomi, Yogyakarta: Universitas Atmajaya. Hikmaharto Juwana, 2002. Bunga Rampai Hukum Ekonomi dan Hukum Internasional, Jakarta: Lentera Hati. Irawan Soejito, 1984, Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Jakarta: Bina Aksara.

Jan Michiel Otto, 2003. Kepastian Hukum di Negara Berkembang (Reele Rechtszekerheid in ontwikkelingslanden), diterjemahkan oleh Tristam Moeliono, Jakarta: Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia.

Joko Widodo, 2001. Good Govermance, Telaah dart Dimensi: Alcuntabilitas dan Kontrol Birokrasi Surabaya: Insan Cendekia. M. Mahfud MD, 2000. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta.

M. Tahir Azhary, 1995. Negara Hukum Indonesia, Jakarta: UI Press.

Mardiasno, 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Yogyakarta: Andi.

Mochtar Kusumaatmadja, 1986. Hukum, Masyarakat Daerah dan Pembinaan Hukum Nasional, Bandung: Binacipta.

Mansaur fakil, Tradisi dan Pembangunan Suatu Tinjauan Kritis, Dimuat dalam Majalah CSIS, Tahun XXIV, No.6, 1985, Jakarta. R. Tresna, tt. Bertamasya Kemudian Taman Ketatanegaraan, Bandung: Dibya.

Ryas Rasyid, 1998. Desentralisasi dalam menunjang Pembangunan Daerah dan Pembangunan Administrasi di Indonesia, Jakarta: PT. Pusaka LP3ES.

Satjipto Rahardjo, 2000. Ilmu Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti Cetakan kemudian-V.

S.F Marbun Hartono, 2000. Pembinaan Cita Hukum dan Asas-asas Hukum Nasional (ditinjau dari aspek Hukum dagang dan ekonomi) dalam Kapita Selekta Hukum Ekonomi, diedit oleh Husni Syawali dan Neni Sri Imaniyati, Bandung: Mandar Maju.

(14)

Sumantoro, 1986. Hukum Ekonomi, Jakata: UI Press.

B. Peraturan Perundang-undangan

Undang-undang Dasar 1945

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVI/MPR-RI/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

C. Makalah dan Dokumen Resmi

A.F.K. Organski, 1998. Dalam Wallace Mendelson, “ Law and the Developments of Nations”. The Journal of Politics, Vol.32. Andang Setyobudi, Makalah disampaikan dalam seminar tentang perd dan UMKM pada 29 maret 2007 di Bank Indonesia. Asep Ahmad Saefuloh, Kebijakan Pemerintah dalam Pembinaan Pengusaha Kecil dan Menengah, Makalah ini merupakan

ringkasan dari laporan penelitian tentang “ Pengembangan UKM di Indonesia” yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Pelayanan Data dan Informasi Sekretariat Jendral DPR RI Tahun 2007. Penulis adalah Peneliti Muda Bidang Kebijakan Publik pada Pusat Pengkajian Pelayanan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jendral DPR RI.

Autonomious, 1994. Reconseptualising Governance (discussion paper 2), Management and Governance Division, Bereau for Policy and Programme Support, New York: UNDP.

Faisal H. Basri, Makalah Disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII Tema Penegakan Hukum Dalam Era Pembangunan Berkelanjutan, Diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Denpasar, 14-18 Juli 2003.

Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (2000), Akuntabilitas dan Good Governance, Jakarta: LAN & BPKP, 2000.

Noer Soetrisno, Pengembangan UKM Ekonomi Rakyat dan Penanggulangan Kemiskinan, serta Posisi dan Peran Koperasi dalam Perkonomian Indonesia Proyeksi Menyongsong Era Otonomi dan Perdagangan Bebas, Makalah yang Disampaikan dalam Seminar memperingati Hari Ulang Tahun Koperasi Kemudian 53 di Jawa Timur, 2000. Riana Pangabean, Kerjasama Bank, Koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Mendukung Pemberdayaan Usaha Mikro,

Kecil dan Menengah, Artikel, Jakarta, 2007.

Sofian Efendi, Membangun Good Governance Tugas Kita Bersama. Artikel, Jogyakarta, 2005. Naskah Rencana Strategis Pembangunan UMKM 2004-2009.

Naskah RPJM, Kota Singkawang Tahun 2008-2012

CURRICULUM VITAE :

Nama

: A. AKIUN, SH.MH.

Tempat/Tanggal Lahir

: Pakato/Karangan, 18 Juni 1956

Alamat

: Jl.Kridasana Gg.Karya I/Jl.Pelita Gg. Batu Pati

No.15 RT. 52 RW.XI. Kel. Pasiran Kecamatan

Singkawang Barat.

Pekerjaan

: Dosen PNS Dpk. Pada STIH S.M.Tsjafioeddin

Singkawang. (1987s/d Sekarang)

Pendidikan

: S.I, Sarjana Hukum Universitas Tanjung Pura

Pontianak, 1985.

(15)

Gambar

Tabel : 1

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarakan hasil penelitian, dapat disumpulkan bahwa Kandungan formalin pada tahu di pasar tradisional kota Makassar di 8 pasar sebagai sampel, dari 15 sampel (100%)

Metode analisi data untuk mengetahui tingkat penerimaan orang tua yang memiliki anak tunagrahita dan agresivitas orang tua terhadap anak tunagrahita berada pada kategori

Penulis sengaja memilih lagu-lagu Betawi sekaligus sebagai ajang promosi pelestaian budaya Betawi yang juga cocok diberikan dalam bidang kurikulum muatan local (mulok) DKI Jakarta

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penilaian guru terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada 10 SMP di

Hubungan antara Asertivitas dengan Kontrol Diri terhadap Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja Putri ... Metode Penelitian

Pembaruan diri gereja adalah keharusan, dan kita bisa membarui diri ketika kita mampu menemukan makna hidup beriman yang relevan dan positif di tengah pengalaman

Pengolahan data angin dilakukan secara statistik sebagai input hitungan peramalan metode SMB dan selanjutnya dilakukan simulasi numerik dengan program MIKE 21/3

Berdasarkan nilai absorbansi kurva dan tiga sampel yang diukur pada λ = 265 nm, hanya dipakai dua absorbansi sampel, yaitu yang pertama dan kedua karena sampel ketiga menunjukkan