8.1 STATUS LINGKUNGAN PERMUKIMAN
8.1.1 Pertumbuhan Permukiman
Pola Pengembangan Permukiman di Surabaya di Kota Surabaya dan karakteristik dari kawasan dapat di lihat pada tabel 8.1.
Tabel 8.1 karakteristik kawasan di Kota Surabaya
No Kawasan Karakteristik
1 Kawasan tengah kota, dari utara ke selatan
1. Dominasi kegiatan perdagangan dan jasa dapat diamati sejak dari kawasan kota lama (Kembang Jepun dan sekitarnya), koridor Tunjungan, Basuki Rahmat, hingga ke selatan mengikuti pola jaringan jalan.
2. Berkembang di bagian tengah kota menyisakan permukiman lama menjadi kantong-kantong hunian di bagian dalam kawasan. Perkampungan lama tersebut antara lain dijumpai di kawasan Peneleh, Kramat Gantung, dll. Koridor Raya Darmo, yang pada masa lalu dikenal sebagai hunian prestisius, perlahan semakin tergeser aktivitas bisnis.
3. Lahan belum terbangun dijumpai di kawasan Jambangan di sekitar Universitas Merdeka.
2 Di kawasan pantai Timur Surabaya
1. Eksistensi tambak-tambak rakyat dari waktu ke waktu tampak mengalami perubahan gradual oleh perkembangan kegiatan hunian.
2. Pembangunan perumahan berskala besar antara lain perumahan Araya, Bumi Marina Mas, Pakuwon City, dll.
3. Pada bagian selatan berkembang perumahan Gunung Anyar, Penjaringansari, dll
Lahan belum terbangun, antara lain di sekitar Universitas Hang Tuah, Wonorejo, dan kawasan tambak
4. Perkembangan kawasan Surabaya bagian timur juga akibat pengaruh keberadaan perguruan tinggi negeri dan swasta di Sukolilo, AR Hakim, hingga Nginden.
3 Kawasan Barat Surabaya
1. Perkembangan berbagai kegiatan di kawasan Barat Surabaya menunjukkan pola lebih progresif
2. Lahan belum terbangun dijumpai di kawasan Benowo
3. Proporsi lahan yang belum terbangun relatif lebih luas daripada kawasan Timur Surabaya
No. Kawasan Karakteristik
4. Di kawasan Benowo sampai Romokalisari/ Tambak
osowilangon adalah tambak garam milik rakyat meskipun ada konversi peruntukannya menjadi hunian, industri, gudang, dan juga untuk pengembangan LPA Benowo.
5. Di sebelah selatannya, sebaran lahan kosong dan areal pertanian juga masih mendominasi, khususnya lahan di sekitar perbatasan dengan wilayah Kabupaten Gresik
6. Lahan Kosong dan pertanian di hunian Citraland walau mulai berkurang dan di sebelah Selatan jalan Menganti, masih relatif banyak lahan yang belum terbangun
7. Pada blok Menganti Mastrip ini, kegiatan perkotaan yang intensif adalah hunian yang berorientasi ke jalan Mastrip, Menganti, dan Balas Klumprik, serta industri dan gudang yang tersebar di sepanjang jalan Mastrip.
8. Kawasan hunian massal yang menempati kawasan Bukit Lidah, yaitu kelompok Dharmala, Bukit Darmo, kelompok Pakuwon, dan kelompok Citraland.
9. Hunian massal yang sudah ada yaitu kelompok Darmo Permai, kelompok Darmo Satelit, dan lainnya
10. Perkembangan kawasan hunian Perumnas di Balongsari Tandes yang cenderung semakin intensif.
4. Kegiatan perdagangan dan jasa
1. Berkembang di sepanjang koridor Kertajaya-Kertajaya Indah (Galaxy Mall), sekitar Rumah Sakit Haji-Klampis, koridor Mulyosari di bagian timur.
2. Kawasan utara kegiatan perdagangan dan jasa berkembang di koridor Kenjeran
3. Kawasan selatan, perkembangan terlihat di koridor Jagir-Panjangjiwo, koridor Ngagel Jaya Selatan
4. Barat berkembang di koridor Mayjen Sungkono-HR. Muhammad , koridor Wiyung-Menganti, koridor Banyu Urip-Tandes, dan sebagainya.
5. Kegiatan industri 1. Di kawasan industri SIER – Rungkut-Brebek, kawasan dan lokasi industri di Margomulyo
2. Kegiatan industri individual yang cenderung berlokasi dengan pola urban sprawl di seluruh penjuru kota, seperti yang terjadi di sepanjang jalan Mastrip, jalan Kalirungkut, dan di Kenjeran-Bulak.
8.1.2 Jenis Permukiman Di Surabaya
Jenis-jenis permukiman yang ada di Surabaya sangat variatif dari jenis permukiman formal dalam bentuk rumah susun, real estate, hingga jenis perumahan informal dalam bentuk perumahan perkampungan dan rumah-rumah kumuh. Rumah-rumah formal biasanya dibangun oleh pengembang dan ada koordinasi antara pemilik, pengembang dan pemerintah mengenai pembangunannya sehingga lebih tertata. Sedangkan rumah-rumah informal yang berupa perkampungan-perkampungan merupakan tanah legal milik pemerintah yang ditempati warga kota yang dibangun atas hasil swadaya warga kota sehingga masih terkoordinasi pembangunannya dengan pemerintah, walaupun pada kenyataannya ada yang teratur dan tidak sedikit pula yang tidak teratur. Namun, permukiman informal yang berupa rumah -rumah kumuh menjadi suatu dilema bagi Kota Surabaya.
a. Rumah Susun
Penyediaan permukiman berupa rumah susun yang ditujukan bagi konsumen golongan menengah ke bawah menjadi salah satu alternatif yang efisien untuk menyikapi konflik kebutuhan perumahan ditinjau dari nilai lahan Kota Surabaya yang cukup tinggi. Keberadaan lokasi rumah susun pada tabel 8.2
Tabel 8.2 Lokasi Rumah Susun Di Surabaya
No. Kawasan Lokasi
1 kawasan Surabaya Selatan Rusun Menanggal dan Waru gunung 2 kawasan Surabaya Timur Rusun Penjaringansari
3 di pusat kota Rusun Dupak, Sombo, dan Urip Sumoharjo
Hal ini berarti wilayah Surabaya bagian barat dan utara yang belum memiliki rumah susun.
1. Kota Surabaya bagian barat dinilai perkembangannya cukup lambat jika dibandingkan dengan yang di timur, hal ini mengindikasikan bahwa di Surabaya bagian barat masih banyak lahan-lahan hunian yang dapat dimanfaatkan. Pembangunan rusun dapat dijadikan alternatif pemecahan konflik apabila kepadatannya sudah mulai merambah ke wilayah ini.
2. Wilayah Surabaya bagian utara didominasi oleh kawasan industri dan pelabuhan yang seharusnya tersedia rumah susun untuk menampung karyawan atau buruh yang berada di sekitar kawasan industri. Dengan standar tarif yang relatif lebih rendah, pembangunan rumah susun menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan perumahan bagi golongan menengah ke bawah.
b. Real Estate
Penyediaan rumah real estate cenderung dilakukan oleh pengembang swasta yang mayoritas penghuninya adalah golongan menengah ke atas. Pembangunan perumahan
real estate lebih tertata dan di Kota Surabaya sendiri penyediaan rumah real estate penyebarannya ke pinggiran kota sebelah barat, timur dan selatan. Berdasarkan riset dengan Sistem Survey Customer pada pameran perumahan di WTC tahun 2001 lalu didapatkan hasil tipe rumah sederhana dan menengah cenderung lebih diminati. Sebaran hunian real estate cenderung lebih banyak ke arah Surabaya bagian barat di mana lokasi real estate yang paling besar adalah Citraland di Kecamatan Lakarsantri (direncanakan seluas ± 2000 Ha). Sampai pada akhir tahun 2007 jumlah perumahan di Kota Surabaya mencapai 114 dan tersebar di seluruh kota dari tipe rumah sederhana sampai dengan rumah mewah. Di samping rumah-rumah yang dibangun oleh pengembang resmi (anggota REI), ada beberapa komplek permukiman skala kecil yang dibangun oleh perorangan (pribadi). Komplek permukiman ini tersebar, terutama pada daerah-daerah pinggiran. Pada umumnya berasal dari pemecahan sertifikat induk yang dipecah menjadi beberapa kapling kemudian dijual dalam bentuk berupa kapling tanah dan ada yang beserta bangunannya. Pembangunan rumah-rumah seperti ini jika tidak direncanakan dengan baik akan bisa menimbulkan beberapa masalah di kemudian hari.
c. Rumah Kumuh
Rumah kumuh merupakan jenis hunian yang menempati tanah legal milik pemerintah tetapi kondisi fisiknya dapat dikatakan kurang baik yang dalam tata ruang biasa disebut slum dimana hunian ini sebagian besar berada di dekat pusat kegiatan. Berdasarkan studi yang pernah dilakukan oleh Laboratorium Permukiman ITS,
1. Lokasi-lokasi yang lebih banyak ditempati rumah-rumah kumuh adalah sekitar pasar, pertokoan, pabrik/kegiatan industri.
2. Umumnya yang bertempat tinggal di lokasi ini adalah masyarakat yang berpenghasilan rendah bersedia tinggal walaupun kondisi lingkungan fisiknya buruk. Hal ini disebabkan karena lingkungan fisik yang baik belum menjadi kebutuhan prioritas mereka, yang lebih diprioritaskan adalah memperoleh kesempatan di bidang ekonomi untuk mencukupi kebutuhan mereka. Di Kota Surabaya sendiri yang merupakan kota besar akan lebih sering ditemui kawasan-kawasan kumuh dibanding dengan kota-kota lain.
3. Keberadaan rumah-rumah kumuh telah tersebar di seluruh kecamatan. Disimpulkan bahwa di Kota Surabaya sendiri yang paling banyak rumah-rumah kumuhnya adalah di sepanjang pantai dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. 4. Yang paling banyak adalah di wilayah Kenjeran, Kecamatan Benowo sebelah utara
Surabaya yang juga di pesisir pantai. Untuk lebih jelasnya titik penyebaran lokasi kawasan kumuh Kota Surabaya dapat dilihat pada Gambar 8.1
d. Apartemen
Secara definitif, apartemen hampir sama dengan rumah susun tetapi berindikasi untuk golongan menengah ke atas yang merupakan salah satu jenis permukiman yang cocok untuk kawasan berkepadatan tinggi dan dekat dengan lokasi perdagangan (komersial). Di Kota Surabaya sebaran apartemen cenderung berada di pusat kota dan wilayah Surabaya barat di antara bangunan-bangunan komersial.
e. Ruko
Pembangunan ruko merupakan salah satu upaya efisiensi penggunaan lahan terutama dalam mengembangkan kebutuhan warga kota akan perumahan sekaligus sebagai tempat usaha. Sebagian besar berada dekat area perumahan dan yang lain tersebar di pusat-pusat perdagangan. Keberadaan ruko di sekitar Taman Surya yang fungsi sebenarnya adalah pusat pemerintahan Kota Surabaya. Lokasi keberadaan ruko di Kota Surabaya antara lain dapat ditemui di kawasan Bratang, Mulyosari, Mayjend Sungkono, Jl.Raya Jemursari, kawasan Rungkut, Jl.Sumatera, kawasan Klampis, Gunung Anyar, Sinar Galaxy, Taman Bintoro, Jl. Raya Darmo, Jl.Panglima Sudirman, Jl.Embong Malang, Tunjungan dan Jembatan Merah.
f. Perumnas
Berdasarkan data yang bersumber dari Dinas Bangunan diketahui bahwa di Kota Surabaya hanya mempunyai satu lokasi Perumnas yang terdapat di Manukan Kecamatan Tandes, dengan luas 200,72 Ha. Melalui Yayasan Kas Pembangunan (YKP), sejak tahun 1954 Pemerintah Kota Surabaya melakukan pembangunan tipe-tipe menengah dengan berbagai ukuran.
g. Hunian Liar
Hunian liar sebenarnya identik dengan rumah kumuh, yang biasanya dibangun dekat dengan tempat usaha/kerja para penghuninya. Hunian liar merupakan rumah kumuh yang dibangun di atas tanah yang tidak diperuntukkan untuk bangunan (misalnya daerah bantaran sungai).
8.1.3 Perkembangan Kawasan Kumuh
Kawasan kumuh terdiri dari kawasan kumuh legal dan kawasan kumuh ilegal, yaitu : 1. Kawasan kumuh legal (hunian Kumuh)
Yang paling banyak adalah di wilayah Kenjeran dan di sepanjang pantai dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Kecamatan Benowo sebelah utara Surabaya yang juga di pesisir pantai.
Tabel 8.3 Lokasi Hunian Liar
No Skala Lokasi Hunian Liar
1 Bantaran sungai Kalimas dan daerah indutri
1. Daerah Benowo (tambak osowilagon) 2. Kec. Gubeng
3. Kec. Wonokromo (Jagir, Ngagel Rejo)
4. Kec. Sukolilo (Jangkungan dan Medokan Semampir) 5. Kec. Rungkut (Kedung Baruk, Penjaringansari, Wonorejo
dan Kali Rungkut)
6. Kec. Wonocolo (Sidoresmo).
2 dalam skala kecil di tepi rel kereta api, dan tempat-tempat yang peruntukan lahannya bukan untuk bangunan
8.1.4 Ruang Terbuka Hijau
Kota Surabaya mempunyai banyak kegiatan yang sifatnya sangat multikompleks, akibat dari kegiatan ini tentunya akan mengurangi kualitas lingkungan kota. Sehingga penghijauan merupakan salah satu kegiatan yang sangat mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kota Surabaya khususnya, masyarakat pada umumnya. Wujud dari perhatian tersebut adalah pengelolaan ruang terbuka hijau di surabaya dilakukan oleh pemerintah kota dan masyarakat dan luasan tiap-tiap kecamatan yang dapat kita lihat pada tabel 8.4 dan 8.5.
Tabel 8.4 Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Di Surabaya
No Pengelola RTH Area
1 Pemerintah kota 1. Berupa taman/ jalur hijau 2. Lapangan olahraga 3. Makam
4. Kawasan konservasi
2 Masyarakat Sebagian besar berupa taman-taman lingkungan dan lapangan olahraga serta makam dengan luasan tiap taman yang relatif kecil.
Tabel 8.5 Luas ruang terbuka hijau perkecamatan
No Kecamatan Luas (Ha)
1 Sukomanunggal 13.56 2 Tandes 1.35 3 Asemrowo 3.09 4 Benowo 0.25 5 Pakal - 6 Lakarsantri - 7 Sambikerep - 8 Genteng 12.48 9 Tegalsari 10.24 10 Bubutan 3.67 11 Simokerto 0.71 12 Pabean Cantikan 1.43 13 Semampir 1.58 14 Krembangan 4.84 15 Kenjeran 0.25
No Kecamatan Luas (Ha) 16 Bulak - 17 Tambaksari 1.93 18 Gubeng 15.55 19 Rungkut 0.25 20 Tenggilis Mejoyo 7.73 21 Gunung Anyar - 22 Sukolilo - 23 Mulyorejo 4.47 24 Sawahan 1.88 25 Wonokromo 11.47 26 Dukuh Pakis 1.84 27 Karang Pilang - 28 Wiyung 0.79 29 Gayungan 5.75 30 Wonocolo 3.04 31 Jambangan - TOTAL 108.4 8.1.5 Sanitasi Lingkungan
8.1.5.1 Kondisi Umum Sanitasi Berdasarkan Pemukiman Kumuh Dan Tertata Serta Sepanjang Perairan.
Perbedaan kondisi sanitasi setempat dapat ditinjau berdasarkan kondisi permukiman (kumuh dan tertata) dan kondisi zona batas perairan. Perbedaan pemukiman tersebut diharapkan dapat mewakili seluruh wilayah Kota Surabaya dalam menggambarkan kondisi sanitasi berdasarkan kategori pemukiman tersebut karena untuk beberapa aspek wilayah pemukiman kumuh, tertata dan sepanjang perairan tipikal dari perumahan maupun dan kondisi sanitasi dan lingkungan adalah relatif homogen. Adapun kondisi sanitasi dari beberapa kategori pemukiman tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
1. KONDISI UMUM SANITASI BERDASARKAN PEMUKIMAN KUMUH
Kawasan kumuh adalah kawasan dimana rumah dan kondisi hunian masyarakat di kawasan tersebut sangat buruk. Rumah maupun sarana dan prasarana yang ada tidak sesuai dengan standar yang berlaku, baik standar kebutuhan, kepadatan bangunan, persyaratan rumah sehat, kebutuhan sarana air bersih, sanitasi maupun persyaratan kelengkapan prasarana jalan, ruang terbuka, serta kelengkapan fasilitas sosialnya.
Perumahan kumuh tidak layak huni adalah kondisi dimana rumah beserta lingkungannya tidak memenuhi persyaratan yang layak untuk tempat tinggal baik secara fisik, kesehatan maupun sosial, dengan kriteria antara lain :
• Luas lantai perkapita, di kota kurang dari 4 m2
sedangkan untuk di desa kurang dari 10 m2. • Jenis atap rumah terbuat dari daun dan lainnya.
• Jenis dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang belum diproses. • Jenis lantai tanah
Letak persebaran permukiman kumuh beredar hampir merata di seluruh kawasan kota Surabaya. Akan tetapi kawasan utara kota Surabaya teridentifikasi lebih banyak titik-titik kawasan kumuhnya dibandingkan dengan kawasan lainnya. Berdasarkan identifikasi pada RTRW Kota Surabaya Tahun 2005.
Kelurahan-kelurahan yang memiliki kawasan kumuh ada 23 buah yaitu: Ujung, Bulak Banteng, Wonokusumo, Sidotopo Wetan, Tanah Kali Kedinding, Bulak, Gading, Dupak, Bongkaran, Sukolilo, Gebang Putih, Medokan Semampir, Keputih, Gununganyar, Rungkut Menanggal, Wiyung, Waru Gunung, Benowo, Moro Krembangan, Romo Kalisari, Pabean Cantikan, Sememi dan Kandangan. Gambaran beberapa wilayah pemukiman kumuh dan kondisi sanitasinya dapat dilihat pada Gambar 8.2 dan Gambar 8.3 sebagai berikut :
Masih ada masyarakat yang membuang hajat di sungai sangat mencemari badan air.
Selain di sungai lebih parah lagi ada jamban melintang di saluran drainase.
Kondisi rumah yang semi permanen terbuat dari dinding triplek dan atap seng.
Gambar 8.2 Kondisi Lingkungan dan Sanitasi di Wilayah Sukolilo
Kondisi rumah yang saling berdempetan dan semi permanent serta lahan yang sempit memungkinkan terdapatnya kamar mandi dan wc di luar rumah.
`
Gambar 8.3 Kondisi Lingkungan dan Sanitasi di Wilayah Pabean Cantikan
Kondisi rumah di pinggir kali bersifat non permanen memungkinkan terdapatnya kamar mandi dan wc yang pembuangannya langsung ke sungai.
Beberapa kondisi MCk yang sudah tak layak yang dibangun warga di daerah Pabean Cantikan.
Berdasarkan pengamatan lapangan, dapat ditemukan bahwa masyarakat di kawasan kumuh hidup di suatu lingkungan yang kondisi sanitasinya sangat buruk, mereka tidak mempunyai kamar mandi yang memenuhi persyaratan baik dari segi standar perancangan kamar mandi maupun dari segi kesehatan. Kamar mandi yang terletak di lokasi perumahan mereka tidak dapat digunakan untuk membuang air besar, kamar mandi tersebut hanya berfungsi untuk mandi dan cuci saja. Jika mereka ingin membuang air besar, mereka harus membawa air bersih dan menyeberangi kali yang berada di sekitar pemukiman mereka karena di sanalah letak jamban yang dapat digunakan. Di beberapa lokasi memanfaatkan MCK yang dibangun oleh Pemerintah Kota Surabaya, swadaya masyarakat, Dinas Kesehatan dan PU Cipta Karya. Kawasan Kumuh biasanya identik dengan masyarakat yang tinggal di permukiman padat dan memiliki latar belakang masyarakat ekonomi rendah sehingga tidak dapat memenuhi sarana sanitasi yang sehat. Sistem sanitasi dikawasan kumuh di Kota Surabaya ada beberapa memiliki jamban pribadi atau menggunakan fasilitasi MCK. Sistem pembuangan air limbahnya ke tanah atau saluran air hujan (got) sehingga mengakibatkan lingkungan tidak sehat.
8.1.5.2 Kondisi Umum Sanitasi Berdasarkan Pemukiman Tertata
Kawasan tertata adalah dimana bangunan rumah tata letak teratur serta telah memiliki sarana sanitasi. Kawasan tertata ini biasanya berupa kampung tertata atau perumahan yang dibangun oleh pengembang. Di Kota Surabaya sistem sanitasi di kawasan tertata masing-masing rumah sudah memiliki jamban yang dilengkapi septic tank dan saluran pembuangan air limbah meskipun masih dibuang ke saluran air hujan.
Jenis bangunan pelengkap untuk kawasan perumahan berbeda-beda tergantung tipe rumah. Untuk tipe rumah sederhana rata-rata menggunakan 2 cubluk yang dipasang secara seri sedangkan tipe rumah mewah sudah dilengkapi septic tank beton dilengkapi sumur resapan dan airnya dialirkan ke saluran air hujan sedangkan untuk septic tank fiber tidak terdapat resapan langsung dialirkan ke got. Gambaran kondisi lingkungan tertata dapat dilihat pada Gambar 8.4 sebagai berikut :
Contoh lingkungan di Tegalsari yang kondisi lingkungannya sudah tertata dengan penghijauan yang memadai serta kondisi rumah yang permanen memungkinkan sudah memiliki jamban pribadi dilengkapi dengan pengolahan septic tank serta sumur resapan.
Adapun tipikal mengenai sistem pengolahan dari pemukiman tertata dengan menggunakan septick tank maupun cubluk dapat dilihat pada Gambar 8.5 dan Gambar 8.6 sebagai berikut:
Gambar 8.6 Sistem Pengolahan dengan
Menggunakan cubluk
Gambar 8.5 Sistem Pengolahan dengan
Menggunakan Septick tank
8.1.5.3 Kondisi Umum Sanitasi Berdasarkan Pemukiman Sepanjang Perairan
Salah satu tujuan teknis sanitasi adalah penjagaan kualitas perairan dari pencemaran air limbah domestik. Dalam kerangka tujuan tersebut dan keberadaan perairan yang ada di dalam wilayah kota, maka Surabaya dapat dibagi dalam tiga zona batas perairan seperti yang terlihat pada Gambar 8.7
Kondisi umum sanitasi berdasar batas perairan dapat ditinjau atas:
1. Area pengaruh sanitasi, yaitu batasan permukiman sepanjang sungai yang sistem sanitasinya berpotensi mempengaruhi kualitas air sungai. Untuk area permukiman sepanjang sungai yang mempunyai topografi datar (kemiringan =< 1%): area pengaruh sanitasi pada sungai umumnya menjangkau bentang jarak sekitar 200 – 500m dari bantaran sungai. Batasan ini terdapat pada permukiman sepanjang K. Surabaya.
2. Tingkat dampak sanitasi. setempat pada perairan. Sanitasi setempat permukiman sepanjang perairan Kali Surabaya, Kali Wonorejo dan Kali Mas
Gambaran kondisi lingkungan dan sanitasi di wilayah dekat sungai dapat dilihat pada Gambar 8.8 sebagai berikut :
Gambar 8.8 Kondisi sanitasi di lingkungan dekat perairan sungai di Kota Surabaya
Air sungai yang dibuat mandi sangat rentan dalam menimbulkan berbagai penyakit. Hal seperti ini banyak ditemui di daerah sekitar wilayah Genteng.
Air sungai yang dibuat mandi pada gambar diatas pada dasarnya sangat tercemar karena dibuat untuk buang hajat juga oleh masyarakat sekitar.
8.1.5.4 Fasilitas Sanitasi
Limbah domestik, berasal dari berbagai aktifitas rumah tangga berupa tinja dan buangan cair lainnya seperti air bekas cucian harus dilakukan penangan dengan tersedianya fasilitas sanitasi. Berdasarkan jenis air limbahnya, terdapat beberapa fasilitas sanitasi yang digunakan penduduk Kota Surabaya.
8.1.5.4.1 Jamban Keluarga (Jaga)
Fasilitas ini biasanya dimiliki secara pribadi terdiri dari pelat jongkok dan leher angsa yang dilengkapi dengan saluran pembuangan berupa cubluk atau tangki septik. Jumlah Jamban Keluarga (Jaga) yang ada di Kota Surabaya .
Tabel 8.6 Jumlah keluarga yang memiliki jamban Jamban Keluarga No Kecamatan Jumlah Keluarga Yang Ada (KK) Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK memiliki Jumlah Memenuhi Syarat % KK memiliki % memenuhi Syarat 1 Sukomanunggal 24,930 3,592 3,227 3,227 89.84 100.00 2 Tandes 27,560 9,520 7,705 7,705 80.93 100.00 3 Asemrowo 13,386 1,310 877 877 66.95 100.00 4 Benowo 14,107 4,369 3,953 3,953 90.48 100.00 5 Pakal 13,907 180 180 180 100.00 100.00 6 Lakarsantri 16,186 1,458 1,250 1,250 85.73 100.00 7 Sambikerep 14,238 85 55 55 64.71 100.00 8 Genteng 26,439 3,818 2,638 2,638 69.09 100.00 9 Tegalsari 35,355 2,674 1,734 1,734 64.85 100.00 10 Bubutan 34,938 6,977 5,420 5,420 77.68 100.00 11 Simokerto 30,669 17,889 13,998 13,998 78.25 100.00 12 Pabean Cantikan 25,710 1,679 512 512 30.49 100.00 13 Semampir 45,607 2,323 1,758 1,758 75.68 100.00 14 Krembangan 33,293 4,199 3,182 3,182 75.78 100.00 15 Kenjeran 25,905 1,835 1,574 1,574 85.78 100.00 16 Bulak 10,658 1,580 1,235 1,235 78.16 100.00 17 Tambaksari 40,422 6,417 5,226 5,226 81.44 100.00 18 Gubeng 35,923 26,511 7,368 7,368 27.79 100.00 19 Rungkut 51,572 2,412 1,588 1,408 65.84 88.66 20 Tenggilis Mejoyo 18,500 3,681 2,982 2,982 81.01 100.00 21 Gunung Anyar 16,163 1,280 976 976 76.25 100.00 22 Sukolilo 25,275 2,580 2,255 2,255 87.40 100.00 23 Mulyorejo 24,109 24,109 22,195 22,195 92.06 100.00 24 Sawahan 45,855 10,472 7,999 7,999 76.38 100.00 25 Wonokromo 26,708 7,267 6,627 6,627 91.19 100.00 26 Dukuh Pakis 16,229 7,315 5,210 5,210 71.22 100.00 27 Karang Pilang 22,679 1,615 1,514 1,514 93.75 100.00 28 Wiyung 18,834 2,255 2,224 2,224 98.63 100.00 29 Gayungan 15,803 1,730 1,597 1,597 92.31 100.00 30 Wonocolo 23,152 8,598 6,021 6,021 70.03 100.00 31 Jambangan 25,224 7,319 5,425 5,425 74.12 100.00 JUMLAH 799,336 177,049 128,505 128,325 72.58 99.86
8.1.5.4.2 Mandi Cuci Kakus (MCK)
Fasilitas ini merupakan fasilitas yang digunakan bersama yang terdiri dari kamar mandi dan kakus. Pada umumnya pemeliharaan MCK tersebut kurang diperhatikan. Jumlah dan Kondisi sarana MCK di Kota Surabaya dapat dilihat pada Tabel 8.7
Tabel 8.7 Kondisi MCK Kota Surabaya
Kondisi MCK
No Kecamatan Jumlah
MCK Baik Cukup Rusak
1 Sukomanunggal 3 1 2 2 Tandes -3 Asemrowo 4 4 4 Benowo 1 1 5 Pakal 2 1 1 6 Lakarsantri -7 Sambikerep -8 Genteng 53 27 10 13 9 Tegalsari 31 10 15 6 10 Bubutan 18 1 14 8 11 Simokerto 29 7 21 1 12 Pabean Cantikan 8 8 13 Semampir 69 5 61 3 14 Krembangan 20 7 13 15 Kenjeran 5 5 16 Bulak 1 1 17 Tambaksari 53 16 37 18 Gubeng 12 2 10 19 Rungkut 17 16 1 20 Tenggilis Mejoyo 9 7 1 1 21 Gunung Anyar -22 Sukolilo 6 6 23 Mulyorejo 12 4 7 1 24 Sawahan 40 22 12 4 25 Wonokromo 36 18 12 6 26 Dukuh Pakis 2 1 1 27 Karang Pilang 11 2 6 3 28 Wiyung 7 1 1 5 29 Gayungan -30 Wonocolo 6 6 31 Jambangan 12 5 7 JUMLAH 472 164 253 53
8.1.5.4.3 Mandi Kakus (MK)
Fasilitas ini merupakan fasilitas umum yang terdiri dari kamar mandi dan kakus. Pada umumnya terdapat di tempat-tempat umum seperti terminal, stasiun kereta api, sekolah dan lain-lain .
8.1.5.4.4 Tanpa Fasilitas
Sebagian penduduk Kota Surabaya yang belum mempunyai fasilitas sanitasi memanfaatkan sungai atau saluran-saluran drainase sebagai tempat pembuangan air limbahnya.
Seluruh wilayah permukiman Kota Surabaya melakukan pengolahan air limbahnya dengan sistem setempat (on site), yaitu pengolahan air limbah dari suatu unit rumah dengan sistem cubluk atau tangki septik yang ditempatkan pada kapling rumah itu sendiri dan air limbah bekas (dapur, cuci, mandi) dibuang ke saluran pembuang air limbah untuk kemudian dialirkan ke saluran air hujan atau lubang resapan jika saluran air hujan tidak ada. Jenis fasilitas pembuangan limbah Domestik yang ada di Kota Surabaya adalah berdasarkan konstruksi bangunan atas. Data mengenai fasilitas pengolahan air limbah perkecamatan disajikan dalam Tabel 8.8
Tabel 8.8 Sarana Pengolahan Air Limbah Kota Surabaya
Sarana Pengolahan Air Limbah
No Kecamatan Jumlah Keluarga Yang Ada (KK) Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK memiliki Jumlah Memenuhi Syarat % KK memiliki % memenuhi Syarat 1 Sukomanunggal 24,930 3,592 3,077 3,077 79.92 79.92 2 Tandes 27,560 9,520 7,745 7,745 79.04 79.04 3 Asemrowo 13,386 1,310 929 1,007 70.92 76.87 4 Benowo 14,107 4,369 3,938 3,928 90.14 90.14 5 Pakal 13,907 180 179 179 99.44 99.44 6 Lakarsantri 16,186 1,458 1,358 1,358 75.85 75.85 7 Sambikerep 14,238 85 55 55 64.71 64.71 8 Genteng 26,439 3,818 2,645 2,645 72.00 72.00 9 Tegalsari 35,355 2,674 1,541 1,541 56.20 56.20 10 Bubutan 34,938 6,977 5,548 5,548 70.25 70.25 11 Simokerto 30,669 17,889 13,911 13,911 69.99 69.99 12 Pabean Cantikan 25,710 1,679 471 471 28.05 28.05 13 Semampir 45,607 2,323 1,701 1,701 67.99 67.99 14 Krembangan 33,293 4,199 3,017 3,017 70.41 70.41 15 Kenjeran 25,905 1,835 1,504 1,504 74.46 74.46 16 Bulak 10,658 1,580 1,284 1,284 81.27 81.27 17 Tambaksari 40,422 6,417 5,351 5,351 83.73 83.73 18 Gubeng 35,923 26,511 2,647 2,647 38.54 38.54 19 Rungkut 51,572 2,412 1,673 1,478 57.73 45.15 20 Tenggilis Mejoyo 18,500 3,681 2,981 2,981 80.98 80.98 21 Gunung Anyar 16,163 1,280 390 390 30.47 30.47 22 Sukolilo 25,275 2,580 2,395 2,395 92.54 92.54
Sarana Pengolahan Air Limbah No Kecamatan Jumlah Keluarga Yang Ada (KK) Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK memiliki Jumlah Memenuhi Syarat % KK memiliki % memenuhi Syarat 23 Mulyorejo 24,109 22,195 22,195 22,195 100.00 100.00 24 Sawahan 45,855 10,472 7,242 7,242 63.15 63.15 25 Wonokromo 26,708 7,267 6,840 6,840 93.85 93.85 26 Dukuh Pakis 16,229 7,315 5,210 5,210 71.22 71.22 27 Karang Pilang 22,679 1,615 1,520 1,520 94.12 94.12 28 Wiyung 18,834 2,255 2,184 2,184 96.85 96.85 29 Gayungan 15,803 1,730 1,458 1,458 84.28 84.28 30 Wonocolo 23,152 8,598 6,655 6,655 77.51 77.51 31 Jambangan 25,224 7,319 5,535 5,535 75.63 75.63 JUMLAH 799,336 175,135 123,184 121,727 70.34 69.50
Sumber : Bidang P2PHS Dinas Kesehatan Kota Surabaya Tahun 2008
8.1.5.5 Fasilitas Pengolahan Limbah Tinja
Limbah tinja dikumpulkan dari tangki septik dari seluruh Surabaya dengan mobil-mobil tangki yang dioperasikan swasta /jasa pengurasan tinja. Setiap mobil-mobil tangki memiliki daya tampung + 4 m3 dan jumlah rata-rata yang beroperasi tiap harinya 80 unit mobil. Mobil tangki ini membuang limbahnya ke IPLT tetapi ada juga mempergunakan pembuangan ke Kali Wonokromo . Rata-rata 20 unit mobil tangki tiap harinya memanfaatkan pembuangan langsung ini. Atau sekitar 20 m3/hari masih dibuang ke kali Wonorejo, bagian hilir sungai Wonokromo. Tempat pembuangan langsung tidak menyediakan pengolahan lumpur tinja sama sekali. Kapasitas pembuangan diasumsikan sama dengan kapasitas mobil tangki. Pipa menyalurkan limbah secara langsung dan membuangnya ke kali yang kira-kira berjarak 10 m. Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Keputih dioperasikan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, yang mengolah lumpur tinja dari tangki septick rumah tangga di seluruh Surabaya. IPLT yang dimiliki Pemerintah Kota Surabaya sejak tahun 1990 tersebut merupakan suatu teknologi intermediate yang digunakan untuk menyempurnakan sistem pembuangan limbah tinja yang pernah dioperasikan sebelumnya, dimana sistem yang lama belum berorientasi lingkungan. IPLT ini mengunakan sistem biologi dengan kolom oksidasi yang dilengkapi rotor dan mempunyai kapasitas olah maksimum sebesar :
Tahun 1990 : 110 m3 /hari Tahun Anggaran 1995 / 1996 : 200 m3/hari Tahun 1999 : 400 m3/hari
Pengelola : Dinas Kebersihan Kota Surabaya.
Lokasi : Keputih, Surabaya Timur (sampai saat ini IPLT Keputih melayani seluruh kota Surabaya).
Kapasitas IPLT : 150 m3/hari Kapasitas rencana : 400 m3/hari
Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) Keputih yang terletak di Surabaya Timur merupakan kesatuan rangkaian yang teridiri dari :
1. Unit Solid Sparation Chamber (SSC)
Adalah tempat truck tinja membuang limbah tinjanya. Unit ini berfungsi untuk memisahkan kandungan solid (padatan) yang sangat tinggi pada lumpur tinja dengan air (supernatan), sehingga beban pengolahan yang akan diterima oleh oxydation ditch menjadi lebih berkurang.
2. Unit Ekualisasi (Balancing Tank)
Limbah tinja yang telah mengalami proses penyaringan oleh bar screen di awal masuk, penyaringan oleh pasir dan kerikil di dasar unit SSC dan proses pengendapan, kemudian akan mengalir filtratnya menuju ke sump well dan supernatannya melimpah melalui v-notch wei mengalir menuju unit ekualisasi. Unit ekualisasi berfungsi sebagai unit pengolahan awal (pre treatment). Limbah supernatan akan mengalami proses pencampuran dan ekualisasi di unit ekualisasi dengan bantuan blower melalui proses
aerasi.
3. Unit Oxydation Ditch (OD)
Limbah cair yang berasal dari unit ekualisasi dipompakan masuk ke unit oxydation ditch. Unit oxydation ditc merupakan unit pengolahan utam. Proses yang terjadi pada unit ini adalah proses biologis secara aerobik.
Proses biologis secara aerobik adalah proses pengolahan limbah cair yang memanfaatkan mikroorganisme dalam mendekomposisi limbah dengan bantuan oksigen yang disuplai oleh blower/aerator. Unit oxydation ditch menggunakan cage rotor, sebagai alat pensuplai oksigen.
4. Unit Pengendap Akhir (Final Clarifier)
Mixed liquor dari unit oxydation ditch masuk ke unit pengendap akhir (final clarifier). Proses yang terjadi pada unit ini adalah proses fisik yaitu pengendapan (sedimentasi) dari partikerl-partikel solid.
5. Unit Distribusi Box
Lumpur yang mengendap di dasar bak pengendap akhir akan mengalir secara gravitasi menuju unit distribution box. Sebagian lumpur akan disirkulasi secara gravitasi menuju unit distribution box. Sebagian lumpur akan disirkulasi ke unit oxydation ditch dan sebagian akan dibuang ke unit sludge drying bed (SDB) dengan bantuan pompa
6. Unit Polishing Pond
Supernatan dari unit pengendap akhir akan mengalir melalui v-notch weir menuju ke unit
polishing pond. Dalam perjalanan menuju ke unit polishing pon, air harus melalui
beberapa bak kontrol terlebih dahulu.
Air dalam unit polishing pon sebagian akan dialirkan menuju Kali Jagir dengan bantuan pompa sentrifugal dan sebagian akan diresirkulasi ke unit oxydation ditch sebagai air pengencer dengan bantuan pompa submersible
7. Unit Sludge Drying Bed (SDB)
Lumpur buangan dipompakan menuju ke sludge drying bed (SDB), untuk di dewatered. Lumpur kering diambil dari beds oleh pemulung dan digunakan sebagai pupuk kebun 8. Unit Drying Area
Terdapat 2 unit drying area yaitu drying area di sisi timur dan drying area di sisi selatan, yang berfungsi membantu proses pengeringan dari lumpur di unit SSC.
Proses pengolahan yang dilakukan pada IPLT di Kota Surabaya untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 8.9 sebagai berikut :
SSC
Solid Sparation Chamber BALANCING TANK (Equalizer)
OXIDATION DITCH (OD)
SDB Sludge Drying Bed
DISTRIBUTION BOX II DISTRIBUTION BOX I Proses SETTLING TANK (Clarifier) POLISHING POND Produksi air yang berlebih
dialirkan ke sungai Penampungan awal pembuangan dari truk tinja. Dihasilkan juga padatan dikuras dan dialirkan ke
Lumpur disedot dengan pompa menuju OD Dialirkan ke balancing
tank tanpa pompa dan
Dihasilkan padatan
Endapan Lumpur yang tidak pekat diproses
ulang di OD
Sebagai pendistribusi ke clarifier settling
tank.
Hasil endapan yang sudah ing dapat dijadikan pupuk ker
Endapan yang pekat di bawa
Dihasilkan endapan
Lumpur dikembalikan kembalikan ke OD Air jernih di
sebagai Dihasilkan air jernih
(standar baku mutu)
Proses aerasi untuk pengembangbiakan
Gambar 8.9 Proses Pengolahan Limbah Tinja Di IPLT Keputih
8.1.5.6 Banyaknya Penderita Penyakit
Kondisi sanitasi sangat erat kaitannya dengan kondisi kesehatan dan terjangkitnya penyakit di suatu daerah. Data berikut ini menunjukkan data tentang sepuluh penyakit terbanyak pada tahun 2008 seperti yang terlihat pada Tabel 8.9, dimana tercatat di Dinas Kesehatan dari pencatatan puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan. Penyakit diare dan DBD (Demam Berdarah Dengue) merupakan salah satu indikator lingkungan yang buruk. Jumlah penderita diare dan demam berdarah dapat dilihat pada Tabel 8.10 dan Tabel 8.11
Tabel 8.9 Data Sepuluh Penyakit Terbanyak Kota Surabaya Tahun 2007
No. Jenis Penyakit Jumlah Prosentase
1 Infeksi Akut Lain Saluran Pernafasan Bagian Atas 235,725 34.22%
2 Radang sendi termasuk rematik 67,729 9.83%
3 Penyakit Gusi dan Jaringan Periodental 39,656 5.76%
4 Diare 37,870 5.50%
5 Tukak Lambung 37,344 5.42%
6 Penyakit Kulit Alergi 28,295 4.11%
7 Penyakit Pulpa dan Jaringan Peripikal 26,630 3.87% 8 Penyakit Lain Pada Saluran Pernafasan Bagian Atas 26,018 3.78%
9 Penyakit Kulit Efeksi 24,542 3.56%
10 Penyakit Tulang Belakang 18,551 2.69%
Penyakit Lain 146,475 21.26%
Jumlah 688,835 100%
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2007
Tabel 8.10 Jumlah Penderita Diare Per Kecamatan Surabaya Tahun 2007
No. Kecamatan Tahun 2006 Tahun 2007
1 Sukomanunggal 2.628 1.810 2 Tandes 1.427 1.985 3 Asemrowo 1.077 1.240 4 Benowo 932 1.055 5 Pakal 378 620 6 Lakarsantri 1.651 1.249 7 Sambikerep 713 1.298 8 Genteng 2.247 2.596 9 Tegalsari 2.091 2.714 10 Bubutan 2.438 2.149 11 Simokerto 3.405 3.592 12 Pabean Cantikan 1.595 1.460 13 Semampir 5.583 4.285 14 Krembangan 3.379 3.982 15 Kenjeran 2.332 2.002 16 Bulak 498 1.953 17 Tambaksari 3.616 3.876 18 Gubeng 2.084 2.076 19 Rungkut 2.776 2.778 20 Tenggilis Mejoyo 781 581 21 Gunung Anyar 937 969 22 Sukolilo 2.608 2.851 23 Mulyorejo 1.871 1.848 24 Sawahan 5.357 6.677 25 Wonokromo 3.891 2.902 26 Dukuh Pakis 557 744 27 Karang Pilang 1.763 1.876 28 Wiyung 1.412 1.555 29 Gayungan 1.653 1.667 30 Wonocolo 2.562 2.193 31 Jambangan 1.977 2.486 JUMLAH 66219 69069
Tabel 8.11 Jumlah Demam Berdarah Per Kecamatan Kota Surabaya Tahun 2007 No. Kecamatan 2003 2004 2005 2006 2007 1 Sukomanunggal 28 67 86 163 115 2 Tandes 18 20 94 189 164 3 Asemrowo 8 15 35 66 51 4 Benowo 2 6 29 52 62 5 Pakal 1 2 26 27 33 6 Lakarsantri 3 6 29 41 88 7 Sambikerep 0 7 46 71 88 8 Genteng 60 61 134 122 67 9 Tegalsari 43 23 86 128 152 10 Bubutan 36 41 93 150 147 11 Simokerto 30 56 123 118 76 12 Pabean Cantikan 36 30 62 119 90 13 Semampir 27 51 178 181 124 14 Krembangan 52 42 154 235 128 15 Kenjeran 11 37 124 122 129 16 Bulak 4 18 34 53 20 17 Tambaksari 44 123 226 378 236 18 Gubeng 80 114 122 208 146 19 Rungkut 26 19 70 153 147 20 Tenggilis Mejoyo 6 30 40 122 87 21 Gunung Anyar 21 23 58 92 58 22 Sukolilo 35 47 53 147 95 23 Mulyorejo 34 60 57 88 83 24 Sawahan 90 79 199 320 208 25 Wonokromo 42 76 74 232 95 26 Dukuh Pakis 32 35 55 71 100 27 Karang Pilang 13 14 66 85 102 28 Wiyung 40 41 60 122 73 29 Gayungan 24 17 39 108 68 30 Wonocolo 31 43 84 129 101 31 Jambangan 15 20 32 95 8 JUMLAH 892 1223 2568 4187 3214 1
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2007
8.1.6 Akses Terhadap Infrastruktur Permukiman
8.1.6.1 Akses Terhadap Air Bersih
Penduduk Kota Surabaya memanfaatkan air tanah, air PDAM dan air permukaan sebagai sumber air bersih.
1. KONDISI AIR TANAH
Di daerah rawan air, sebagian besar penduduk menggunakan sumber air tanah tetapi dalam jumlah yang kurang mencukupi dan kurang memenuhi syarat kesehatan dan sanitasi lingkungan. Demikian pula dengan kualitas air tanah yang dipakai ternyata kurang memenuhi syarat untuk air bersih atau air minum. Kondisi air tanah yang ada pada umumnya asin kecuali pada daerah di sepanjang Kali Mas dan Kali Surabaya.
A. Kualitas Air Tanah
Tabel 8.12 Parameter Fisik Kimia Air Tanah di wilayah Kecamatan
No Parameter Wilayah Kecamatan
1 Fisik Yang tidak memenuhi syarat parameter fisik 1. kecamatan Tegalsari
2. Kecamatan Lidah kulon 3. Kecamatan Keputih 4. Kecamatan Gubeng
Suhu air tanah normal berkisar 28 – 30 Celcius.
Kimia 1. Parameter sifat kimiawi airtanah yang dianalisis sebanyak 15 parameter, yaitu kadar As, Ba, Fe, F, Ca C03, Cl, Hn, Na, NH3, N, Se, Zn, Cn, deterjen, dan COD. umumnya masih berada di bawah nilai ambang batas standar untuk air minum, kecuali NH3,
2. CL umumnya melebihi batas nilai DHL > 1000 mmhos dan salinitas > 1 adanya gejala intrusi air laut (di wilayah Tegalsari, Lontar, Lidah Kulon, Kejambon, Keputih, Kendangsari dan Gubeng).
Kadar Garam Air tanah di sebagian besar wilayah Surabaya telah tercemar oleh intrusi air laut
B. Potensi Air Tanah
Berdasarkan evaluasi data air tanah bebas dan tertekan serta debit mata air maka potensi air tanah Wilayah Surabaya dapat dibedakan menjadi 5 (lima) potensi air tanah sebagai berikut:
Tabel 8.13 Potensi Air Tanah Pada Wilayah Kecamatan
No Potensi Air Tanah Wilayah
1 Tawar Potensi Sedang
1. Kecamatan Suko Manunggal
2. Kecamatan Sawahan berada di sebelah timur jalan tol menuju Perak 2 Tawar Potensi
Rendah
1. Sebagian daerah Kecamatan Dukuh Pakis sampai ke Perbatasan dengan Kecamatan Sawahan.
2. Sebagian dari Kecamatan Suko Manunggal (sekitar Bundaran Tol daerah Darmo)
3. Kecamatan Wiyung
4. Surabaya Pusat dan Surabaya Selatan, kecuali daerah Wonokromo dan Wonocolo
5. Kecamatan Gayungan, Wonocolo dan Tenggilis.
Di Surabaya Timur tersebar di daerah Rungkut bagian barat,
6. Sukolilo bagian barat, Gubeng bagian barat dan Tambaksari bagian barat
No Potensi Air Tanah Wilayah
3 Agak Payau/Agak Asin Potensi
Sedang
1. Kecamatan Sukomanunggal bagian utara 2. Tandes
3. Sebagian Kecamatan Benowo 4 Agak Payau/Agak
Asin Potensi Rendah
1. Terbesar Surabaya Barat
2. Sebagian besar Surabaya bagian Timur 3. Surabaya Utara
4. Sebagian kecil dari Surabaya bagian Selatan.
5 Payau/Asin 1. Perbatasan antara kecamatan Suko manunggal dengan Tandes bagian utara
2. Di perbatasan antara Tandes dan Kecamatan Benowo,
3. Benowo bagian barat sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Gresik
4. Rungkut bagian timur
2. KONDISI SUMUR GALI
Kondisi sumur gali di Kota Surabaya berdasarkan hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan pada bulan Februari sampai dengan April 2008 menunjukkan bahwa mayoritas tidak memenuhi syarat.
Tabel 8.14. Parameter Biologi Kimia Sumur Gali
No Parameter Wilayah Kecamatan
1 Biologi Yang memenuhi syarat 1. Kecamatan Tegalsari 2. Kecamatan Simokerto 3. Kecamatan Semampir. 2 Kimia Yang tidak memenuhi syarat
1. Kecamatan Sukomanunggal 2. Kecamatan Benowo
3. Kecamatan genteng di Kelurahan Peneleh 4. Kecamatan Pabean Cantikan,
5. Kecamatan Semampir di Kelurahan Pegirian
6. Kecamatan Krembangan di Kelurahan krembangan Selatan
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2008
3. KONDISI AIR PDAM
Saat ini hampir 71 % penduduk Kota Surabaya terlayani sambungan air minum oleh PDAM. Pipa distribusi PDAM sudah menjangkau seluruh wilayah Surabaya kecuali Surabaya Barat, sebagian kecil wilayah Surabaya Timur dan sebagian kecil di Wilayah Surabaya Selatan. Penyediaan air bersih di Kota Surabaya sepenuhnya menjadi tanggung jawab PDAM Kota Surabaya. Air terolah yang akan disalurkan ke konsumen harus telah
memenuhi standar kualitas air minum yang disyaratkan. Sistem distribusi air minum di Surabaya menggunakan sistem looping karena sistem ini lebih menjamin ketersediaan air dalam jaringan. Kondisi topografi Surabaya yang relatif datar, sehingga digunakan pompa untuk pendistribusian air bersih. Surabaya dilayani oleh Instalasi Penjernihan Air Minum yang terdapat di Surabaya yakni IPAM Ngagel I, II, III dan Karang Pilang I, II serta IPAM “intermiten” Kayoon yang baru saja dipindahkan. Masing-masing instalasi pengolahan kapasitas terpasang dan kapasitas produksi dapat dilihat pada Tabel 8.15 dan Tabel 8.16
No Uraian Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007
1 Sumber Air 330 330 330 2 Ngagel I 1.800 1.800 1.800 3 Ngagel II 1.000 1.000 1.000 4 Ngagel III 1.750 1.750 1.750 5 Karangpilang I 1.200 1.450 1.450 6 Karangpilang II 2.500 2.500 2.500 Jumlah 8.580 8.830 8.830
No Uraian Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007
1 Sumber Air 325 318 324 313 2 Ngagel I 1505 1.547 1.503 1.583 3 Ngagel II 882 858 861 783 4 Ngagel III 1446 1.413 1.608 1.792 5 Karangpilang I 1158 1.139 1.136 1.248 6 Karangpilang II 2301 2.444 2.486 2.441 Jumlah 7617 7.719 7.918 8.160
Tabel 8.15 Kapasitas Terpasang Instalasi Penjernihan Air PDAM Kota Surabaya 2007
Sumber : PDAM Kota Surabaya, 2007
Tabel 8.16 Kapasitas Produksi Instalasi Penjernihan Air PDAM Kota Surabaya 2007
Sumber : PDAM Kota Surabaya, 2007
4. KONDISI AIR PERMUKAAN
Di daerah kumuh bangunan liar sepanjang perairan, sebagian besar penduduk menggunakan sumber air permukaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih terutama untuk mandi cuci dan kurang memenuhi syarat kesehatan dan sanitasi lingkungan. Gambaran kondisi hidrologi Kota Surabaya adalah sebagai berikut:
A. Kali Mas
Tabel 8.17 Hasil Kualitas Air Sungai Kali Mas
Sumber : Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Dari tabel diatas menunjukkan untuk kualitas sungai kali mas berdasarkan hasil sampling parameter yang diuji masih menunjukkan angka di atas rata-rata. Seperti halnya bahan berbahaya seperti detergent, minyak dan lemak juga terkandung di dalam badan air sungai kali mas dengan angka yang relatif jauh dari standar. Pertemuan antara air sungai
(tawar) dengan air laut (asin) di Kalimas, sebenarnya berada di Kawasan Kayoon (terdapat pintu air).
B. Kali Surabaya
No Parameter Satuan Hasil Analisa Metode Analisa Standar Baku Mutu Satuan 1 Total Suspended Solid (TSS) mg/L 32,00 Gravimetri 50,00 mg/L
2 BOD mg/L O2 63,70 Winkler 3,00 mg/L O2
3 COD mg/L O2 122,70 Refluks 25,00 mg/L O2
4 Detergent mg/L LAS 0,85 Spektrofotometri 0,20 mg/L LAS
5 Minyak dan Lemak mg/L 2,50 Gravimetri 1,00 mg/L
Tabel 8.18 Hasil Kualitas Air Sungai Kali Surabaya (Karang Pilang)
Sumber : Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Dari Tabel 8.18 mengenai kualitas air sungai kali surabaya yang melintasi kawasan Karang Pilang dimana pada wilayah tersebut air sungai dijadikan sebagai sumber air baku untuk air bersih Kota Surabaya masih terdapat juga parameter-parameter yang melebihi baku mutu air seperti BOD, COD, detergent dan lemak. Untuk TSS masih dibawah standar dan lebih baik daripada kualitas air di kali mas.
C. Kali Jagir
No Parameter Satuan Hasil Analisa Metode Analisa Standar Baku Mutu Satuan
1 Total Suspended Solid (TSS) mg/L 16,00 Gravimetri 50,00 mg/L
2 BOD mg/L O2 5,00 Winkler 3,00 mg/L O2
3 COD mg/L O2 12,00 Refluks 25,00 mg/L O2
4 Detergent mg/L LAS 0,67 Spektrofotometri 0,20 mg/L LAS
5 Minyak dan Lemak mg/L 0,00 Gravimetri 1,00 mg/L
Tabel 8.19 Hasil Kualitas Air Sungai Kali Wonorejo
Sumber : Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Dari tabel diatas menunjukkan kualitas air sungai di kali Wonorejo masih relatif memiliki parameter yang berada di bawah baku mutu seperti halnya di kali wonorejo mempunyai kandungan minyak dan lemak yang cukup minim, kandungan COD dan TSS yang juga masih memenuhi standar, namun kandungan BOD dan detergent masih dominan karena diatas standar baku mutu. Untuk lebih jelas mengenai lokasi titik sampling di sungai Kota Surabaya dapat dilihat pada tabel 8.20
Tabel. 8.20 Pemakai Air PDAM Menurut Pemakaian
S N o U r a ia n T a h u n 2 0 0 6 T a h u n 2 0 0 7 1 P e r u m a h a n 1 1 5 , 7 8 4 , 8 2 0 1 2 2 , 9 9 5 , 6 4 7 2 P e m e r in t a h 6 , 4 2 2 , 0 1 8 6 , 5 6 5 , 8 3 0 3 P e r d a g a n g a n 1 5 , 3 7 4 , 3 1 9 1 6 , 0 8 4 , 9 7 2 4 I n d u s t r i 5 , 2 8 1 , 5 2 0 6 , 0 2 4 , 2 0 1 5 S o s ia l U m u m 6 , 8 2 1 , 0 2 4 6 , 2 6 7 , 9 7 4 6 S o s ia l K h u s u s 1 0 , 3 3 6 , 0 8 2 1 0 , 7 1 1 , 2 9 0 7 P e la b u h a n 5 4 2 , 6 9 3 4 0 8 , 6 2 4 8 P e n j u a la n A ir T a n g k i 1 5 , 8 3 0 1 3 , 4 2 1 9 S w e e p in g 7 8 3 , 4 3 6 6 0 7 , 8 5 0 S u b T o t a l 1 6 1 , 3 6 1 , 7 4 2 1 6 9 , 6 7 9 , 8 0 9 D is t B a r a t 7 4 0 , 7 5 2 6 2 7 , 9 1 2 D is t T im u r 3 2 9 , 8 7 3 4 5 1 , 8 9 7 P M K 1 , 2 2 2 7 , 7 1 5 S u b T o t a l 1 , 0 7 1 , 8 4 7 1 , 0 8 7 , 5 2 4 T o t a l 1 6 2 , 4 3 3 , 5 8 9 1 7 0 , 7 6 7 , 3 3 3 u m b e r : P D A M K o t a S u r a b a y a T a h u n 2 0 0 8
8.1.6.2 Akses Terhadap Listrik
Di Kota Surabaya sistem penerangan atau distribusi listrik sudah menyebar di seluruh wilayah. Sistem penerangan ini didistribusikan PLN dengan pola penyebaran melalui jaringan tiang listrik yang umumnya terdapat di sekitar jalan lokal dan lingkungan dengan tegangan menengah. Supply listrik di Kota Surabaya didistribusikan melalui 3 Area pelayanan yang meliputi :
• Cabang Surabaya Utara meliputi : Indrapura, Ploso, Kenjeran, Tandes, Perak dan Embong Wungu.
• Cabang Surabaya Selatan meliputi : Darmo Permai, Dukuh Kupang, Ngagel, Rungkut, Gedangan.
• Cabang Surabaya Barat meliputi Karang Pilang dan Sepanjang.
Sampai dengan saat ini tidak ada rencana penambahan jaringan listrik dari pihak PLN, difokuskan pada penanganan gardu induk. Penambahan jaringan listrik hanya dilakukan pada kawasan perumahan baru. Sedangkan penanganan gardu induk dilakukan melalui renovasi/memperbaiki gardu induk yang bermasalah (gardu induk yang kelebihan beban) atau bisa juga menambah gardu induk baru bila diperlukan. Selain itu dalam kurun waktu ini PLN lebih memfokuskan pada pada tingkat pelayanan yang efisien dan efektif. Lebih lanjut rencana jaringan listrik disajikan pada Tabel 8.21 dan Tabel 8.22.
Tabel 8.21 Rencana Penanganan Listrik Di kota Surabaya
NO GARDU INDUK RENCANA
1 Gardu Induk Darmo Grand Rencana penambahan penyulang Sangrilla
2 Gardu Induk Sukolilo Gardu Induk kelebihan beban; direncanakan Gardu Induk Wonorejo
3 Gardu Induk Rungkut Direncanakan dihubungkan dengan Gardu Induk Wonorejo S u r a b a y a U t a r a S u r a b a y a B a r a t S u r a b a y a S e l a t a n J u m l a h 1 S o s i a l - S - 2 / T R 2 5 0 V A - 2 0 0 K V A 4 , 2 8 6 2 , 5 9 2 6 , 1 4 4 1 3 , 0 2 2 - S - 3 / T R > 2 0 0 K V A 1 6 2 3 4 5 2 2 R u m a h T a n g g a 0 - S - 1 / T R 2 0 0 V A 2 6 5 5 8 1 - R - 1 / T R 2 5 0 V A - 2 2 0 0 V A 2 0 9 , 8 7 4 1 3 0 , 0 6 6 3 0 0 , 9 7 7 6 4 0 , 9 1 7 - R - 2 / T R 2 2 0 1 V A - 6 6 0 0 V A 1 1 , 6 7 0 1 , 7 3 6 2 4 , 1 4 5 3 7 , 5 5 1 - R - 3 / T R > 6 6 0 0 V A 2 , 3 0 6 6 0 4 , 6 3 6 7 , 0 0 2 3 B i s n i s 0 - B - 1 / T R 2 5 0 V A - 2 2 0 0 V A 1 2 , 8 0 5 5 , 2 9 8 1 6 , 1 7 0 3 4 , 2 7 3 - 2 2 0 - > B - 2 / T R 1 V A - 2 0 0 K V A 1 1 , 0 9 0 1 , 2 7 4 1 0 , 7 3 9 2 3 , 1 0 3 B - 3 / T R 2 0 0 K V A 1 1 6 7 9 6 2 1 9 4 I n d u s t r i 0 - I - 1 / T R 4 5 0 V A - 1 3 , 9 K V A 3 4 3 9 6 3 7 7 8 1 6 - I - 2 / T R 1 4 K V A - 2 0 0 K V A 1 , 0 9 6 6 0 3 9 8 6 2 , 6 8 5 - I - 3 / T M > 2 0 1 K V A 9 1 1 6 4 1 8 9 4 4 4 - I - 4 / T T > 3 0 0 0 K V A 3 2 5 5 G e d u n g P e m e r i n t a h 0 - P - 1 / T R 2 5 0 V A - 2 0 0 K V A 3 8 7 1 0 7 5 3 9 1 , 0 3 3 - P - 2 / T M > 2 0 0 K V A 1 7 1 7 6 P e n e r a n g a n J a la n 0 - P - 3 / T R 2 2 0 V A - 1 9 7 K V A 8 0 2 3 4 6 1 , 4 8 1 2 , 6 2 9 J u m l a h 2 5 4 , 8 8 2 1 4 2 , 3 8 0 3 6 6 , 5 8 7 7 6 3 , 8 4 9 u m b e r : P T . P L N ( P e r s e r o ) U n i t B i s n i s D i s t r i b u s i J a w a T i m u r T a h u n 2 0 0 6 e t e r a n g a n : T R = T e g a n g a n R e n d a h P e l a n g g a n K e l o m p o k N o S K
Sumber : PLN Surabaya Selatan
8.1.7 Pengelolaan Sampah
Teknis operasional pengelolaan sampah di Kota Surabaya dimulai dari penanganan sampah disumbernya, pengumpulan di TPS, pengangkutan sampai TPA dan penimbunan di TPA Benowo.
1. Timbulan Sampah
Timbulan sampah yang dihasilkan di Kota Surabaya berasal dari kawasan perumahan (domestik), industri, kawasan komersil, wisata dan fasilitas umum lainnya. Timbulan sampah yang dikelola adalah timbulan sampah non B – 3 (Bahan Beracun dan Beracun – Hazardous
Waste). Tabel 8.23 ini merupakan umlah timbulan sampah yang dihasilkan warga
masyarakat Kota Surabaya dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya.
Tabel 8.23 Laju Timbulan Sampah Kota Surabaya
Data Timbulan Sampah
No Uraian Satuan
2006 2007 (data bulan April)
Volume liter/org/hari 3,1 3,2
1
Asumsi Timbulan
Sampah Berat gram/org/hari 782.524 1.074,350
2 Pengolahan Mini Incinerator ton/hari 120 (5,508%) 120 (5,512%) 3 Program 3R dan Pengelolaan
Mandiri (Zero Waste) ton/hari 413,7 (18,988%) 532 (24,437%) 4 Sampah Saluran ton/hari 45 (2,065%) 45 (2,067%) 5 Sampah diangkut ke TPA ton/hari 1.600 (0,073%) 1.480 (0.068%) 6 Jumlah Total Timbulan
sampah Ton/hari 2.178.7 2.177
Sumber: Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Surabaya, Pelayanan Bidang Persampahan Kota Surabaya Tahun 2004 – 2007.
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa penanganan sampah Kota Surabaya bukan merupakan hal yang mudah dan seringkali menemui banyak hambatan. Penentuan jumlah timbulan sampah merupakan salah satu bentuk masalah yang seringkali dihadapi di lapangan, baik karena masih banyak tempat yang belum terlayani, adanya sampah yang dibuang di lahan terbuka (illegal dumping) atau dibakar.
Keberhasilan pengolahan sampah mandiri (program 3R dan komposting) sedikit ada kenaikan sebesar 5,54% akan tetapi sampah disaluran tidak mengalami perubahan sehingga sampah yang masuk TPA hanya sedikit penurunan sebesar 0.078%. Apabila hal tersebut tidak segera diperbaiki akan berdampak pada penuhnya TPA Benowo untuk empat tahun kedepan dengan asumsi sampah yang masuk 1200 ton/hari.
Perkiraan umur operasional dilakukan dengan pendekatan perhitungan kapasitas yang tersedia dari TPA Benowo, dengan asumsi desain lahan TPA sesuai dengan Sanitary Landfill dan menggunakan metode penumpukan sampah yang aman yaitu mendesain kemiringan lahan 1:2, ketinggian tiap tumpukan 2,5 m dan ketinggian tumpukan maksimal sebesar 20 m atau banyaknya tumpukan sampah adalah 8 lapis. Umur operasional TPA Benowo dengan beban 1.200 ton per hari akan mampu dioperasionalkan hingga 4 (empat) tahun mendatang.
Gambar 8.10. Lahan TPA Benowo
Tabel 8.24 Jumlah Komposisi dan Karakteristik Sampah di TPA Benowo
TOTAL Material yang Bisa Didaur Ulang
Jenis Sampah
% ton/hari % ton/hari Residu
(ton/hari) Plastik 7,69 92,28 10,00 9,23 83,05 Logam 0,63 7,56 50,00 3,78 3,78 Tekstil 3,00 36,00 0,00 0,00 36,00 Gelas/kaca 0,95 11,40 50,00 5,70 5,70 Kayu/Bambu 9,51 114,12 0,00 0,00 114,12 Kertas 7,58 90,96 10,00 9,10 81,86 Sampah Jalan 12,57 150,84 10,00 15.08 135,76 B3 0,03 0,36 0,00 0,00 0,36 Lain-lain 3,45 41,40 0,00 0,00 41,40
TOTAL ANORGANIK 45,41 544,92 Total Daur Ulang 42,89 502,03
Sisa Makanan 38,03 456,36 0,00 0,00 456,36
Sayuran 16,56 198,72 0,00 0,00 198,72
TOTAL ORGANIK 54,59 654,08 655,08
TOTAL 100.00 1.200,00 42,89 1.157,11
Sumber: Hasil Perhitungan, Data Pemantauan Lapangan, 2007.
Berdasarkan tabel tersebut dapat pula diketahui bahwa penyumbang terbesar sampah Kota Surabaya adalah berasal dari Kawasan Pemukiman, yaitu 29,89%, diikuti dengan Kawasan Pasar (15,76%) dan Penyapuan Jalan (14,77%). Hal lain yang perlu mendapat perhatian serius pemerintah dalam pengelolaan TPA adalah adanya sejumlah sampah yang berasal dari kawasan industri dan rumah sakit, khususnya pada sampah yang mengandung konsentrasi bahan beracun dan berbahaya (sampah B3), dimana saat pengamatan di lapangan ditemukan sebesar 0,65% sampah yang termasuk jenis ini yang berasal dari rumah sakit. Kondisi ini membutuhkan pengelolaan yang serius untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, khususnya pada para pekerja dan masyarakat sekitar TPA Benowo.
Tabel 8.25 Jumlah Komposisi dan Karakteristik Berdasarkan Sumber Timbulan Sampah Sumber Timbulan Sampah
No Jenis
Sampah Permukiman Pasar Sapuan
Jalan Komersial Rumah Sakit Industri Total 1 Kayu 3,91 (2,84%) 3,11 (2,26%) 1,11 (0,81%) 0,19 (0,14%) 0,02 (0,01%) 0,03 (0,02%) 8,37 (6,08%) 2 Plastik 3,15 (2,29%) 1,02 (0,74%) 2,57 (1,87%) 2,71 (1,97%) 1,66 (1,21%) 2,47 (1,79%) 13,58 (9,87%) 3 Logam 0,27 (0,2%) 0,08 (0,06%) 0,17 (0,12%) 0,09 (0,07%) 0,04 (0,03%) 0,19 (0,14%) 0,84 (0,67%) 4 Kertas 2,99 (2,17%) 1,22 (0,89%) 0,31 (0,23%) 4,16 (3,02%) 3,51 (2,55%) 4,45 (3,23%) 16,64 (12,09%) 5 Kaca 0,33 (0,24%) 0,13 (0,09%) 0,07 (0,05%) 1,97 (1,43%) 0,12 (0,09%) 0,21 (0,15%) 2,83 (2,06%) 6 Sayur 6,81 (4,95%) 5,27 (3,83%) 0,43 (0,31%) 2,01 (1,46%) 0 (0%) 0,25 (0,18%) 14,77 (10,73%) 7 Sisa makanan 16,03 (11,65%) 7,34 (5,33%) 5,01 (3,64%) 6,16 (4,48%) 5,9 (4,29%) 4,19 (3,04%) 44,63 (32,43%) 8 Sapuan jalan 4,94 (3,59%) 3,2 (2,33%) 9,16 (6,66%) 1,45 (1,05%) 1,34 (0,97%) 1,64 (1,19%) 21,73 (15,79%) 9 Lainnya 2,025 (1,47%) 0,24 (0,17%) 1,1175 (0,81%) 1,0125 (0,74%) 2,7825 (2,02%) 2,8275 (2,05%) 10,005 (7,27%) 10 B3 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0,89 (0,65%) 0 (0%) 0,89 (0,65%) 11 Kain 0,675 (0,49%) 0,08 (0,06%) 0,3725 (0,27%) 0,3375 (0,25%) 0,9275 (0,67%) 0,9425 (0,68%) 3,335 (2,42%) Total 41,13 (29,89%) 21,69 (15,76%) 20,32 (14,77%) 20,09 (14,6%) 17,19 (12,49%) 17,2 (12,50%) 137,62 (100%)
Sumber: Hasil Analisa Survei 7 (tujuh) hari berturut-turut, April 2007. ( satuan dalam kg (prosentase)
Grafik 8.1 Sumber Timbulan Sampah
2. Pengumpulan sampah di TPS
Fasilitas TPS yang ada di Surabaya berjumlah 103 unit dengan rincian depo (62 unit), landasan (106 unit), container (25 unit).
3. Pengangkutan sampah
Pengangkutan sampah dilakukan oleh pihak ketiga, dengan armada angkutan di Surabaya sebanyak 56 unit truk dengan ritasi 2 kali/hari
8.1.8 Limbah B3 Domestik
Limbah B-3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan timbulan sampah B3 yang di hasilkan oleh kegiatan Rumah Sakit dan medis dapat dilihat pada tabel 8.27
Tabel 8.26 Jumlah Komposisi dan Karakteristik Sampah di TPA Benowo
TOTAL Material yang Bisa Didaur Ulang
Jenis Sampah
% ton/hari % ton/hari Residu (ton/hari)
B3 0,03 0,36 0,00 0,00 0,36
TOTAL SAMPAH 100.00 1.200,00 42,89 1.157,11
Sumber: Hasil Perhitungan, Data Pemantauan Lapangan, 2007.
Tabel 8.27 Jumlah Komposisi dan Karakteristik Berdasarkan Sumber Timbulan Sampah Sumber Timbulan Sampah
Jenis
Sampah Permukiman Pasar Sapuan
Jalan Komersial Rumah Sakit Industri Total B3 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0,89 (0,65%) 0 (0%) 0,89 (0,65%) Total 41,13 (29,89%) 21,69 (15,76%) 20,32 (14,77%) 20,09 (14,6%) 17,19 (12,49%) 17,2 (12,50%) 137,62 (100%)
Sumber: Hasil Analisa Survei 7 (tujuh) hari berturut-turut, April 2007. ( satuan dalam kg (prosentase)
8.1.8.1 Limbah Rumah Tangga
Sumber limbah B3 lainnya adalah rumah tangga. Berbagai jenis buangan yang berasal dari produk yang dipergunakan untuk keperluan rumah tangga bersifat B3. Sebagai contoh adalah kemasan pestisida, cairan pencuci alat rumah tangga, batere, produk elektronik, produk otomotif dan sebagainya. Di negara maju, telah ada peraturan yang diundang-undangkan untuk pengelolaan limbah B3 rumah tangga. Program pendidikan masyarakatpun telah dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang limbah B3, baik cara-cara pengumpulannya maupun pembuangannya.
8.1.8.2 Limbah Medis
Limbah medis merupakan limbah yang dihasilkan dari kegiatan medis seperti rumah sakit dan laboratorium medis. Investigasi dilakukan terhadap 17 rumah sakit dan 10 laboratorium medis seperti yang disajikan pada Tabel 8.28 termasuk juga limbah dan jenis pengolahan yang dilakukan oleh rumah sakit dan laboratorium medis tersebut.
Tabel 8.28 Pengolahan Limbah B3 dari Rumah Sakit dan Laboratorium Medis No. Rumah Sakit /
Laboratorium Medis
Limbah B3 Pengolahan yang dilakukan
Limbah padat medis dari kegiatan instalasi rawat inap dan rawat jalan
Diinsinerasi di RS. Dr. Soetomo 1 RS. Dr. Soetomo
Limbah cair Diolah di IPAL RS. Dr. Soetomo 2 RS. Husada
Utama
Limbah padat dan cair dari kegiatan operasi, instalasi rawat inap dan rawat jalan
Limbah padat diinsinerasi di RS. Haji
Limbah Cair diolah di IPAL RS. Husada Utama
Limbah padat dari kegiatan patologi
Dibakar manual, meskipun sudah memiliki insinerator baru tetapi belum dioperasikan
3 RS. Dr. M. Soewandhie
Limbah cair dari pencucian alat
Diolah di IPAL RS. Dr. M. Soewandhie
Limbah padat dari kegiatan operasi
Diinsinerasi di RS. Dr. Soetomo 4 RS. Gotong
Royong
Limbah cair dari laboratorium Langsung ke sumur resapan 5 RS. Cempaka
Putih Permata
Jarum dan spet Diinsinerasi di RS. Dr. M. Soewandhie
6 RS. Marinir Gunung Sari
Limbah padat dan cair dari kegiatan operasi, laboratorium, perawatan, poli dan radiologi
Langsung dibuang pada bak sampah
Spet, limbah radiologi Diinsinerasi pihak ketiga Botol infus Dijual kembali
7 RS. Sumber Kasih
Limbah cair Langsung ke tangki septic Limbah padat dari kegiatan
medis
Dibakar di lokasi menggunakan tungku pembakaran manual 8 RS. Ibu dan Anak
Darah Langsung ke tangki septic
Spet, botol infus Dijual kembali Foto rontgen Dibakar manual 9 RS. POLDA
Darah Langsung ke tangki septic
Kapas, spet, botol infus, kemasan obat, ampul
Diinsinerasi di RS. Haji 10 RS. Islam
Darah Langsung ke tangki septic
Spet, jarum, pembalut Dibakar di lokasi menggunakan tungku pembakaran manual 11 Rumah Bersalin
dan Poliklinik Gigi
Santa Melania Cucian alat bekas operasi Langsung ke tangki septic Spet, jarum, pembalut Dibakar di lokasi menggunakan
tungku pembakaran manual 12 Rumah Bersalin
Ibu Kartini PT.
KAI Cucian alat bekas operasi Langsung ke tangki septic
Spet, jarum Diinsinerasi di RSAL Dr. Ramelan Kasa, pembalut Dibakar manual
13 RSAL. Dr. Oepomo
Cucian alat bekas operasi Langsung ke tangki septic Jarum suntik, spet, kasa,
pembalut, limbah radiologi, alat bekas operasi
Diinsinerasi di RS. Dr. Soetomo 14 RS. Al-Irsyad
Cucian alat bekas operasi Langsung ke tangki septic Jarum suntik, spet, limbah
radiologi
Diolah pihak ketiga 15 RSAU. Soemitro
Cucian alat bekas operasi Langsung ke tangki septic Spet, jarum, limbah radiologi Diinsinerasi di RS. Haji 16 RS. Pelabuhan
Cucian alat bekas operasi Langsung ke tangki septic 17 Rumah Bersalin
Panti Nirmala
Spet, jarum, kasa, pembalut Ditimbun di lokasi 18 Lab. Klinik Ksatria Spet, jarum, kapas Diolah oleh klinik Medika
No. Rumah Sakit / Laboratorium
Medis
Limbah B3 Pengolahan yang dilakukan
Cucian alat Langsung ke tangki septic
Limbah padat Diinsinerasi di Balai Besar Laboratorium Kesehatan
19 Lab. Bakti Analisa
Limbah cair Langsung ke tangki septic Limbah padat Diinsinerasi di RS. Haji 20 Klinik Diagnostik
Kacapiring Limbah cair Langsung ke tangki septic Spet, jarum Dibakar manual
21 Lab. Medis
Ketupa Limbah cair Langsung ke tangki septic Spet, jarum Diinsinerasi di RS. Dr. Soetomo 22 Lab. IKA
Kapas Dibakar manual
Limbah cair Langsung ke tangki septic
Spet Dibakar RS. Bakti Rahayu
Kapas Dibakar manual
23 Klinik Lab. Fajar
Limbah cair Langsung ke tangki septic Spet, kapas Diinsinerasi di RS. Haji 24 Lab. Larisa
Darah, urine Langsung ke tangki septic 25 Lab. Klinik Biogen Spet, kapas, darah Diinsinerasi di RS. Dr. Soetomo
Slides Ditimbun di lokasi
26 Lab. Kanker
Kapas Dibakar manual
27 Lab dan Klinik Spesialis Optima
Spet Diinsinerasi di RSAL. Dr.
Ramelan
Sumber : Investigasi 2007
Dari hasil investigasi seperti yang tercantum pada Tabel 8.28. diketahui bahwa rumah sakit yang sudah memiliki fasilitas pemusnahan limbah B3 berupa insinerator adalah RS. Dr. Soetomo Rumah sakit dan laboratorium yang belum memiliki fasilitas pemusnahan limbah B3, bekerjasama dengan rumah sakit yang sudah memiliki fasilitas tersebut untuk melakukan pemusnahan / insinerasi limbah B3 seperti RS. Dr. Soetomo, RS. Haji dan RSAL. Dr. Ramelan. Data yang diperoleh dari RS. Dr. Soetomo menyebutkan bahwa rumah sakit dan laboratorium yang sudah bekerjasama dengan RS. Dr. Soetomo untuk pemusnahan limbah B3
8.2 TEKANAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
8.2.1 Umum
Jumlah penduduk merupakan faktor yang paling utama dalam penentuan perencanaan sistem penyaluran air buangan. Jumlah penduduk dapat memperhitungkan kuantitas air buangan di suatu area pelayanan dan pengembangan. Populasi penduduk Kota Surabaya pada tahun 2007 mencapai 2.829.486 jiwa dan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2006 sebesar 2.784.196 jiwa. Jumlah Penduduk per Kecamatan Kota Surabaya pada Tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 8.29
Tabel 8.29 Jumlah Penduduk per Kecamatan Kota Surabaya 2007 Jumlah Penduduk Th 2004 Jumlah Penduduk Th 2005 Jumlah Penduduk Th 2006 Jumlah Penduduk Th 2007
(Jiwa) (Jiwa) (Jiwa) (Jiwa)
1 Surabaya Pusat 1 Tegalsari 113,777 114,867 115,998 117,429
2 Genteng 65,282 65,904 67,015 68,088
3 Bubutan 110,431 111,704 112,781 113,937
4 Simokerto 99,582 100,948 102,549 104,177
2 Surabaya Utara 5 Pabean Cantikan 87,984 89,065 90,397 91,798
6 Semampir 180,158 183,134 185,650 188,696
7 Krembangan 118,256 120,098 121,443 123,036
8 Kenjeran 102,563 105,967 108,771 112,379
9 Bulak 31,479 32,276 33,017 33,691
3 Surabaya Timur 10 Tambaksari 208,935 213,195 216,481 219,215
11 Gubeng 149,095 151,365 152,827 154,520 12 Rungkut 82,497 84,455 86,426 88,447 13 Tenggilis Mejoyo 50,607 51,662 52,653 53,727 14 Gunung Anyar 41,471 42,337 43,403 44,656 15 Sukolilo 91,115 93,041 94,826 96,677 16 Mulyorejo 71,961 73,846 75,440 76,936
4 Surabaya Selatan 17 Sawahan 211,753 214,062 216,636 219,420
18 Wonokromo 179,412 181,381 182,683 183,792 19 Karangpilang 63,937 65,070 66,081 67,281 20 Dukuh Pakis 54,905 56,023 56,972 57,993 21 Wiyung 54,215 55,327 56,573 57,664 22 Wonocolo 75,577 76,927 78,053 78,846 23 Gayungan 41,736 42,407 43,159 43,752 24 Jambangan 38,772 39,773 40,645 41,411
5 Surabaya Barat 25 Tandes 87,484 88,927 90,310 91,813
26 Sukomanunggal 90,686 92,457 93,688 94,981 27 Asemrowo 33,581 34,687 35,602 36,803 28 Benowo 36,752 38,000 39,215 40,321 29 Pakal 32,090 32,984 33,906 34,911 30 Lakarsantri 41,316 42,372 43,523 44,485 31 Sambikerep 45,079 46,229 47,473 48,604 2,692,488 2,740,490 2,784,196 2,829,486 Jumlah
No. Wilayah Kecamatan
Sumber : Dinas kependudukan dan catatan sipil tahun 2007
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk tertinggi berada di Kecamatan Sawahan sebesar 219.420 jiwa dan jumlah penduduk terendah berada pada Kecamatan Bulak sebesar 33.691 jiwa. Secara umum rata-rata pertumbuhan penduduk Kota Surabaya mencapai 45.666 jiwa per tahun atau 1,64% per tahun.
Tabel 8.30 Pertambahan Penduduk Kota Surabaya Per Tahun
2005-2004 2006-2005 2007-2006 Rata-rata
1 Surabaya Pusat 1 Tegalsari 1,090 1,131 1,431 1,217
2 Genteng 622 1,111 1,073 935
3 Bubutan 1,273 1,077 1,156 1,169
4 Simokerto 1,366 1,601 1,628 1,532
2 Surabaya Utara 5 Pabean Cantikan 1,081 1,332 1,401 1,271
6 Semampir 2,976 2,516 3,046 2,846
7 Krembangan 1,842 1,345 1,593 1,593
8 Kenjeran 3,404 2,804 3,608 3,272
9 Bulak 797 741 674 737
3 Surabaya Timur 10 Tambaksari 4,260 3,286 2,734 3,427
11 Gubeng 2,270 1,462 1,693 1,808 12 Rungkut 1,958 1,971 2,021 1,983 13 Tenggilis Mejoyo 1,055 991 1,074 1,040 14 Gunung Anyar 866 1,066 1,253 1,062 15 Sukolilo 1,926 1,785 1,851 1,854 16 Mulyorejo 1,885 1,594 1,496 1,658
4 Surabaya Selatan 17 Sawahan 2,309 2,574 2,784 2,556
18 Wonokromo 1,969 1,302 1,109 1,460 19 Karangpilang 1,133 1,011 1,200 1,115 20 Dukuh Pakis 1,118 949 1,021 1,029 21 Wiyung 1,112 1,246 1,091 1,150 22 Wonocolo 1,350 1,126 793 1,090 23 Gayungan 671 752 593 672 24 Jambangan 1,001 872 766 880
5 Surabaya Barat 25 Tandes 1,443 1,383 1,503 1,443
26 Sukomanunggal 1,771 1,231 1,293 1,432 27 Asemrowo 1,106 915 1,201 1,074 28 Benowo 1,248 1,215 1,106 1,190 29 Pakal 894 922 1,005 940 30 Lakarsantri 1,056 1,151 962 1,056 31 Sambikerep 1,150 1,244 1,131 1,175 48,002 43,706 45,290 45,666 Jumlah
Pertambahan Penduduk (Jiw a)
No. Wilayah Kecamatan
Tabel 8.31 Tingkat Pertumbuhan Kota Surabaya 2004 - 2007
2005-2004 2006-2005 2007-2006
1 Surabaya Pusat 1 Tegalsari 0,95 0,98 1,22
2 Genteng 0,94 1,66 1,58
3 Bubutan 1,14 0,95 1,01
4 Simokerto 1,35 1,56 1,56
2 Surabaya Utara 5 Pabean Cantikan 1,21 1,47 1,53
6 Semampir 1,63 1,36 1,61
7 Krembangan 1,53 1,11 1,29
8 Kenjeran 3,21 2,58 3,21
9 Bulak 2,47 2,24 2,00
3 Surabaya Timur 10 Tambaksari 2,00 1,52 1,25
11 Gubeng 1,50 0,96 1,10 12 Rungkut 2,32 2,28 2,28 13 Tenggilis Mejoyo 2,04 1,88 2,00 14 Gunung Anyar 2,05 2,46 2,81 15 Sukolilo 2,07 1,88 1,91 16 Mulyorejo 2,55 2,11 1,94
4 Surabaya Selatan 17 Sawahan 1,08 1,19 1,27
18 Wonokromo 1,09 0,71 0,60 19 Karangpilang 1,74 1,53 1,78 20 Dukuh Pakis 2,00 1,67 1,76 21 Wiyung 2,01 2,20 1,89 22 Wonocolo 1,75 1,44 1,01 23 Gayungan 1,58 1,74 1,36 24 Jambangan 2,52 2,15 1,85
5 Surabaya Barat 25 Tandes 1,62 1,53 1,64
26 Sukomanunggal 1,92 1,31 1,36 27 Asemrowo 3,19 2,57 3,26 28 Benowo 3,28 3,10 2,74 29 Pakal 2,71 2,72 2,88 30 Lakarsantri 2,49 2,64 2,16 31 Sambikerep 2,49 2,62 2,33 1,75 1,57 1,60 Prosentase Kenaikan (%)
Tingka t Pe rtum buha n (%)
No. Wilayah Kecamatan
Sumber : Dinas Kependudukan dan catatan Sipil Tahun 2007
Grafik perkembangan jumlah penduduk Kota Surabaya dapat dilihat pada Gambar sebagai berikut :
Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Surabaya Tahun 2004 - 2007 2,600,000 2,650,000 2,700,000 2,750,000 2,800,000 2,850,000 2004 2005 2006 2007
Populasi penduduk yang bersifat administratif ini berbeda dengan kondisi yang sesungguhnya. Dalam kenyataannya pada siang hari jumlah penduduk Surabaya diperkirakan bertambah sekitar 30% dari jumlah tersebut. Hal ini disebabkan kota Surabaya menjadi daerah tujuan orang-orang di sekitarnya untuk mencari kehidupan di Surabaya, mengingat Surabaya adalah sebagai pusat perdagangan dan jasa untuk wilayah Indonesia Timur.
Kepadatan penduduk adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah. Kepadatan penduduk tinggi apabila tidak diimbangi dengan peningkatan sarana dan prasarana yang memadai akan menimbulkan kawasan kumuh. Kepadatan Penduduk di Kota Surabaya pada tahun 2007 sebesar 75,94 jiwa/ha. Kepadatan Penduduk Terbesar di Kecamatan Simokerto sebesar 402,23 jiwa/ha sedangkan Kepadatan Penduduk Terendah di Kecamatan Benowo sebesar 8,81 jiwa /ha. Kepadatan Penduduk Kota Surabaya dapat dilihat pada Gambar 8.11 sebagai berikut :