C. Kali Jagir
IV. MODUL IPAL KREMBANGAN SELATAN
3. Tempat Pembuangan Akhir
a. Meminimalisasi dampak TPA
• Lindi, untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh lindi maka perlu pembangunan IPAL yang layak (O & M yang sesuai dengan kemampuan anggaran).
• Bau, salah satu cara untuk meminimalkan bau akibat tumpukan sampah yaitu dengan penyemprotan EM4 plus.
• Kebakaran, pengambilan gas methan merupakan upaya untuk menghindari bahaya kebakaran.
b. Perencanaan Operasional Sanitary Landfill dan Alternatif Pengelolaan Sampah
dan Perencanaan Area Penimbunan
Langkah awal untuk melakukan proses penimbunan pada TPA Benowo saat ini adalah dengan melakukan penataan timbunan sampah pada area penimbunan sampah seluas 14 Ha yang ada dan penuh dengan timbunan sampah saat ini, kemudian ditutup dengan lapisan tanah penutup (cover soil) setinggi 50 cm. Proses kegiatan penimbunan sampah baru dilakukan diatas timbunan sampah lama dengan arah timbunan dari timur ke barat.
Gambar 8.26 Rencana Arah Timbunan Sampah TPA Benowo
Setelah sampah diturunkan dari truk pengangkut, kemudian diratakan dan dipadatkan. Pada saat proses penimbunan truk naik ke timbunan sampah lama dengan jalan yang telah dibuat naik yang mempunyai kemiringan 0.5 atau berketinggian 2.5 m untuk setiap panjang 5 m. Direncanakan truk pengangkut sampah akan menurunkan muatan pada lokasi sebelah timur dan diratakan kemudian dilanjutkan sampai ke barat.
Gambar 8.27 Rencana Penataan Sel dan Timbunan Sampah di TPA Benowo Arah
Timbunan
POLA PENGUMPUL GAS
sel sel
sel
sel sel sel sel
Perencanaan Sel Harian
Setelah sampah yang lama diratakan pada lahan seluas 14 Ha, kemudian dipadatkan dan ditutup dengan lapisan tanah penutup (cover-soil). Perencanaan berikutnya adalah menata sampah yang baru dengan dibuat per sel dengan arah dari timur ke barat. Secara bertahap, setiap terbentuk sel pertama timbunan sampah kemudian dilakukan pemadatan timbunan sampah dan langsung ditutup dengan lapisan tanah penutup. Hal yang sama dilakukan untuk sel berikutnya dan pola ini berlanjut untuk pengelolaan sel-sel berikutnya. Setiap sel direncanakan mempunyai dimensi lebar 20 m dan penjang mengikuti bentuk lahan TPA dengan ketinggian 2,5 m, sesuai dengan beban sampah Kota Surabaya yang dikelola oleh TPA Benowo setiap harinya. Panjang timbunan mengikuti bentuk lahan TPA dan pola penimbunan dilakukan dengan desain semakin ke atas semakin mengecil, seperti bentuk candi Borobudur, untuk memberikan ruang gerak yang cukup bagi kendaraan truk yang membongkar muatan sampahnya di TPA. Gambar berikut ini merupakan bentuk lapisan 10 m pertama dari pengelolaan timbunan sampah di TPA Benowo yang akan dilakukan.
Gambar 8.28 Rencana Lokasi Sel Penimbunan Sampah di TPA Benowo
Perencanaan Pengelolaan Gas
Desain TPA untuk perencanaan pengelolaan gas dilakukan dengan mengunakan pipa pengumpul gas arah vertikal dan horizontal. Pipa arah vertikal dipasang pada saat timbunan mencapai 4 lapisan dengan ketinggian 10 m dengan cara penanaman pada timbunan sampah melalui proses pengeboran. Hal ini dilakukan karena jika menanam pipa dahulu maka kesulitan dalam pengisian sampah ke sel dan memadatkan sampah sebelum ditutup dengan lapisan tanah penutup. Prosedur penanaman pipa vertikal dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1) Membuat lubang pengambilan gas pada sel timbunan sampah dengan jarak 20 m per lubang,
2) Membuat pipa ukuran diameter 3 – 4 inch diberi lubang dengan diameter 1 cm dan jarak antar lubang 10 cm,
3) Memasukkan pipa berlubang ke dalam sel timbunan sampah, kemudian di sekeliling pipa diberi kerikil yang berguna sebagai pembatas sampah agar tidak menutupi lubang pipa yang fungsinya sebagai masuknya gas methan.
1
2
Selanjutnya, pipa horizontal (flexible pipe) dipasangkan pada pipa vertikal yang berada diatas permukaan cover soil yang langsung disalurkan menuju bangunan mesin pembangkit listrik berkekuatan gas, setelah sebelumnya dilewatkan fasilitas pengukur tekanan gas untuk mengetahui besarnya tekanan dalam pipa. Hal ini dilakukan untuk pengambilan tindakan yang diperlukan jika tekanan dalam pipa penyalur tersebut sangat besar, yaitu dengan menyalurkannya pada fasilitas pembakar gas. Penanaman pipa vertikal diletakkan pada setiap jarak 20 m, sedangkan pipa horizontal adalah pipa yang menghubungkan dari pipa vertikal pada setiap sel dapat dilihat pada Gambar berikut :
Keterangan: 1 = pipa vertikal 2 = pipa horisontal
Gambar 8.29 Rencana Peletakan Pipa Vertikal dan Horisontal TPA Benowo
Gambar 8.30 Rencana Pemasangan Perpipaan Gas dari Sumur ke Pipa Header dengan Menggunakan Pipa Fleksibel
Sumber : Owies dan Khera (1998)
Pipa berlubang 2/3 bagian
Bahan penutup dari PVC atau HDPE min 0.75 m
Lubang dengan bukaan area 1cm. kemiringan tiap lubang 90o berjarak 0,1-0,2 m
Diameter kerikil antara 0,02-0,075 m Bahan lapisan penutup adalah
Bahan lapisan kedap air Tanah
Bahan penutup dari PVC atau HDPE min 0.150 m
bahan pipa dari PVC atau HDPE min 0.150 m
Kedalaman 75% dari lapisan TPA
Lebar penanaman pipa vent 0.6 m 1,2 1,5 m 0,6 0,3 1,0
Gambar 8.31 Pemasangan Pipa Ventilasi Gas Vertikal
Perencanaan Pengelolaan Lindi
Perencanaan pengelolaan lindi pada TPA Benowo saat ini sudah berjalan dengan baik, dimana hal ini terlihat dari sudah dialirkannya air lindi sampah melalui saluran lindi yang ada. Pada saat ini, di TPA Benowo terdapat beberapa kolam penampungan lindi yang bermuara ke kolam penampungan pusat. Kondisi lahan antara kolam penampungan lindi yang satu dengan yang lainnya tidak datar atau naik turun mengikuti kontur yang ada, sehingga dibutuhkan pompa untuk membantu menyalurkan lindi ke kolam pusat. Saluran lindi yang ada di TPA Benowo dapat ditemukan di antara zona I.A, I.C, II.A dan II.B, tetapi guna penerapan Sanitary Landfill maka lahan seluas 14 Ha termasuk saluran aliran lindi tersebut akan diratakan dan didesain ulang. Agar penyaluran lindi berjalan dengan teratur, maka sebaiknya aliran tersebut tidak ditutup atau ditimbun, melainkan dibuatkan saluran tertutup dengan menggunakan box-culvert. Aliran lindi menuju ke kolam penampungan lindi seharusnya dipisahkan dari saluran drainase untuk penampunan air hujan untuk meringankan beban instalasi pengolahan air lindi yang ada.
Perbaikan cara pengumpulan lindi sampah di TPA Benowo dilakukan dengan penanaman pipa manifold lindi yang berlubang dengan kedalaman 2 m dari bawah timbunan sampah yang direncanakan setinggi 10 m atau terdapat sebanyak 4 lapisan sampah. Pola penanaman pipa ini diberi lapisan kerikil pada sekeliling pipa untuk memudahkan mengalirnya lindi ke dalam pipa dan mencegah tersumbatnya pipa karena sampah, sedangkan arah aliran pipa ini langsung menuju ke bak penampungan air lindi.
Perencanaan Saluran Drainase
Perencanaan saluran drainase untuk pengumpulan limpasan air hujan pada TPA Benowo diletakkan di tiap sisi mengelilingi lahan timbunan sampah yang direncanakan agar pada saat hujan tiba maka aliran air hujan yang jatuh pada timbunan sampah akan tertampung pada saluran drainase dan tidak tercampur dengan saluran pengumpul lindi yang diletakkan setelah saluran drainase. Arah aliran pada saluran drainase ini menuju ke Kali Lamong. Pembuatan saluran drainase ini berbatasan langsung dengan dinding penahan timbunan sampah, berbentuk segi empat dengan kemiringan tertentu untuk memperoleh aliran air secara gravitasi, dibuat dengan pasangan batu kali, dan berdampingan dengan saluran pengumpul lindi. sedangkan rencana penempatan saluran drainase pada TPA Benowo dapat dilihat pada Gambar berikut ini. Perencanaan saluran drainase dalam landfill diperlukan guna mencegah aliran run off masuk ke dalam landfill.
Gambar 8.32 Rencana Penempatan Saluran Drainase
Saluran Drainase
Perencanaan Lapisan Pengisi (Liner) dan Lapisan Penutup Akhir
(Cover)
Penyediaan tanah penutup TPA merupakan kegiatan yang sangat menentukan efisiensi dan keamanan TPA. Penyediaan yang dilakukan secara terencana baik akan sangat mendukung kegiatan operasi penutupan sampah. Berdasarkan penggunaannya, tanah penutup dibedakan menjadi: 1. Tanah penutup harian (daily cover)
Penutupan sampah harian merupakan kegiatan menutup sebuah sel harian sampah yang telah diratakan dan dipadatkan. Penutupan harian lebih dimaksudkan untuk memutus daur hidup lalat sehingga tidak terjadi ledakan populasi lalat yang dapat mengganggu kesehatan maupun estetika lingkungan. Tujuan lain dari penutupan harian adalah untuk mengurangi bau dan rembesan air hujan. Setiap akhir hari operasi, sampah yang telah dipadatkan secara berlapis-lapis ditutup dengan berlapis-lapisan tanah yang dipadatkan dengan ketebalan 30 cm, atau bergantung pada material penutup yang tersedia di area,
2. Tanah penutup antara (intermediate cover)
Penutupan antara lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kepadatan dan stabilitas tumpukan sampah, terutama pada penumpukan sel yang berlapis-lapis.
Bila timbunan sel ditumpuk secara berlapis-lapis, maka biasanya setiap lapis sel atau setidaknya 2 atau 3 lapis sel sampah perlu diberikan lapisan tanah antara semaksimal mungkin digunakan tanah sekitar, dengan perbandingan volume sampah dengan material cover adalah 5:1 – 10:1,
3. Tanah penutup akhir (final cover)
Lapisan penutup akhir diberikan setelah suatu TPA dinyatakan penuh dan pengoperasiannya akan dihentikan. Lapisan ini sangat penting artinya dalam peningkatan estetika landfill paska operasi, yaitu dengan memberikan lapisan sebagai media tanam tanaman. Menurut Tchobanoglous, Theisen, dan Vigil (1993), lapisan tanah penutup akhir terdiri dari :
- Lapisan kedap, berfungsi untuk mencegah resapan air hujan atau air permukaan lainnya. Terdiri dari tanah lempung dengan persyaratan sama seperti lapisan dasar landfill. Ketebalan lapisan ini direncanakan 60 cm,
- Lapisan drainase, mencegah akumulasi air yang masuk (mengalirkan air). Terdiri dari pasir atau kerikil dengan permeabilitas minimum 10-2 m/dtk. Ketebalan lapisan ini direncanakan setinggi 30 cm,
- Lapisan penutup atau tanah media tanam, berfungsi untuk menunjang perkembangan tumbuhan penutup bukit landfill. Menggunakan jenis tanah dengan prosentase perbandingan lempung, lanau dan pasir yang hampir sama dan cocok untuk media tanam. Tebal lapisan ini direncanakan 60 cm.
Tanah yang digunakan untuk lapisan penutup dalam dan akhir penutupan harus dalam kondisi basah dengan air dengan kadar 50% yang fungsinya untuk memampatkan lapisan. Akhir penutupan tanah lapisan bawah adalah lapisan geotextil yang mempunyai kemiringan 2-3% untuk menghindari lamanya lindi dalam pipa yang mengakibatkan pendeknya umur pipa akibat korosi. Dan pada permukaan landfill harus bersifat impermeable, yaitu bahan yang digunakan adalah tanah liat dengan nilai koefisien permeabilitasnya tidak lebih dari 1x 10-7 cm/sec dan dengan air sedikitnya terletak 2 meter di bawah dasar dari tanah liat. Menurut spesifikasi ukuran yang di sarankan untuk Sanitary Landfill adalah ketebalannya 900 mm
padatan/mampatan dari tanah liat dengan nilai permeabilitas 1x 10-7 /detik. Lapisan pendukung ini merupakan lapisan pada dasar landfill yang dapat membantu dalam kontrol terhadap lindi dan perlindungan terhadap sistem penyalur dan pengumpul lindi. Lapisan ini terdiri dari Liner dasar (lapisan kedap berupa geomembran dan lempung), yang terdiri dari :
Lapisan drainase, berupa lapisan kerikil dengan ukuran minimum 3 cm setebal minimum 30 cm atau 2 kali diameter luar pipa,
Lapisan geotekstil untuk menyangga partikel kecil diatasnya tidak bercampur dengan di bawahnya (minimal dapat menyaring butiran D50),
Lapisan lapisan tanah penutup, menggunakan tanah urug setebal 30 cm.
Kebutuhan Tanah Penutup
Kebutuhan tanah penutup setidaknya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tanah penutup harian dan cadangan yang cukup untuk kebutuhan selama sebulan. Setiap hari sel timbunan sampah harus ditutup dengan ketebalan antara 30 cm hingga 1 m, tergantung dari kualitas tanah penutup. Jika diperhitungkan beban sampah yang dikelola TPA Benowo setiap harinya sekitar 1.200 ton/hari atau setara dengan 1.600 m3/hari dengan faktor densitas sampah diasumsikan 0,75 gram/cm3 dan dengan mengambil rencana desain sel timbunan yang mempunyai dimensi lebar 20 m dan panjang mengikuti bentuk lahan TPA dengan ketinggian 2,5 m, maka dapat diperkirakan kebutuhan tanah penutup setiap harinya adalah sekitar: 192 m3/hari hingga 640 m3/hari. Kebutuhan tanah penutup ini dapat dipasok dari penggunaan timbunan sampah yang telah menjadi kompos atau dapat pula didatangkan dari daerah sekitar TPA Benowo, tentunya dengan mempertimbangkan kebutuhan angkutan, ketersediaan pasokan, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan tanah penutup tersebut.
8.3.5 Limbah B3
Adanya larangan pada Perda No. 4 Tahun 2000 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/ Kebersihan pada pemakai persil sebagai tempat usaha, pabrik, industri, bengkel, rumah sakit, dan lainnya yang membuang sampah atau limbah yang berbahaya dan beracun ke lokasi pembuangan sampah akhir sebelum dilakukan netralisir terlebih dahulu/ dihilangkan sifat karakteristik B3-nya.
Limbah B3 yang bersumber dari rumah sakit, laboratorium klinik, puskesmas bersifat infeksius yang belum mampu memusnahkan sendiri diperbolehkan bekerjasama dengan rumah sakit yang telah memiliki incinerator yang emisinya telah memenuhi standard emisi udara dan residu. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun
1999 efisiensi pembakaran minimal yang harus dicapai adalah sebesar 99,99 %, efisiensi penghancuran dan penghilangan yang harus dicapai untuk POHCs adalah 99,99 %, sedangkan untuk PCBs, furan dan dioxin adalah 99,9999 %. Efisiensi minimal yang harus dicapai tersebut dimaksudkan supaya hasil pembakaran dapat memenuhi standar emisi udara. Residu dari kegiatan pembakaran berupa abu dan cairan juga wajib dikelola dengan mengikuti ketentuan tentang pengelolaan limbah B3.
Limbah B3 dari sumber lainnya diwajibkan untuk mengelola limbahnya sesuai dengan peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah B3 mulai dari peraturan pemerintah sampai peraturan menteri. Pengelolaan yang disyaratkan sebagai berikut:
1. Pengemasan dan Penyimpanan Limbah B3
Pengemasan yang ditetapkan untuk limbah B3, wajib diberi simbol dan label yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3. Pemberian label dan simbol ini sudah diatur pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan Label Bahan Berbahaya dan Beracun, bahwa setiap kemasan atau tempat untuk penyimpanan, pengolahan, pengumpulan, pemanfaatan limbah B3 wajib diberi simbol dan label yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3.
Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 01/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3, kemasan yang digunakan untuk limbah B3 adalah drum, tong atau bak kontainer. Masing – masing jenis kemasan tersebut harus berada dalam kondisi baik, tidak bocor, berkarat atau rusak serta bersesuaian dengan limbah yang disimpan. Kemasan juga harus terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah B3 yang akan disimpan dan mampu mengamankan limbah yang disimpan didalamnya, serta memiliki penutup yang kuat untuk mencegah terjadinya tumpahan saat dilakukan pemindahan atau pengangkutan.
2. Pengolahan Limbah B3
Jenis pengolahan limbah B3 yang dilakukan oleh kegiatan usaha antara lain penimbunan limbah B3 di lokasi industri, insinerasi limbah B3 di lokasi industri, pemanfaatan limbah B3 di lokasi industri, serta pengolahan / pemanfaatan limbah B3 oleh pihak ketiga yang telah memperoleh ijin dari Kementrian Lingkungan Hidup.